1 Komentar

Kearifan Timur:Pemikiran Meng Tze

mengtzeTerimakasih pula, karena meluangkan waktu membaca catatan kuliah yang saya sampaikan kepada mahasiswa Universitas Paramadina dalam mata kuliah Filsafat Timur. Kearifan yang membawa pemahaman dan pencerahan bisa lahir di mana-mana di dunia ini, terutama di kalangan bangsa-bangsa yang memiliki sejarah peradaban tua yang bertahan lama seperti Cina, India, Persia, Arab, dan lain sebagainya. Semua itu memberikan bukti bahwa ada banyak peradaban dan kebudayaan yang unggul, bukan hanya peradaban dan kebudayaan Eropa. Bahkan yang terakhir ini, yang dianggap sebagai cikal bakal peradabaan dan kearifan modern, memadukan dalam dirinya pengaruh-pengaruh dari kebudayaan lain seperti India, Persia, Arab, Mesir, Babylonia, dan dari peradaban Yahudi, Kristen dan Islam yang lahir di Asia. Bukan semata-mata karena suntikan kebudayaan Yunani dan Romawi.

Bersama ini saya kirim catatan tentang Meng Tze, yang berguna sebagai penjelasan lanjut tentang catatan terdahulu. Sudilah download dan simak copy filenya.

Salam

Abdul Hadi WM

Kuliah Filsafat Cina (IV)

Universitas Paramadina

PEMIKIRAN MENG TZE

Abdul Hadi W. M.

Filosof Cina yang dianggap besar setelah Kon Fu Tze adalah Meng Tze, yang di Barat dikenal sebagai Mencius. Walaupun dia adalah seorang pengikut Konfuniasme, namun mengembangkan pemikiran yang berbeda dari pemikiran Konfucius dan pengikut Konfucianisme yang lain. Dia lahir pada tahun 372 SM, lebih seabad setelah Konfucius meninggal dunia. Berbeda dengan Hun Tzu yang berpendapat bahwa kodrat manusia itu buruk, Meng tze justru mengatakan bahwa kodrat manusia itu baik. Seseorang yang berbuat baik, menurutnya, didorong oleh kesadarannya yang terdalam terhadap kodratnya. Sebaliknya orang yang tidak berbuat baik, tidak menyadari kodratnya alias lupa hakekat dirinya yang sesungguhnya.

Menurut Meng Tze ada empat dorongan dasar yang membuat manusia melakukan perbuatan baik: (1) Rasa kemanusiaan; (2) Kecenderungan terhadap kebenaran; (3) Kesopanan; (4) Kearifan. Dorongan-dorongan ini tumbuh dari kesadaran terhadap kodrat bawaannya sebagai manusia, dan dapat dikembangkan lebih jauh dalam kehidupan sosial. Karena gagasannya itu Meng Tze dipandang sebagai pembentuk undang-undang dalam sejarah intelektual Cina.

Falsafah politik Meng Tze tumbuh dari pandangannya bahwa kodrat manusia itu baik. Dia memulai pembicaraan falsafahnya tentang negara dengan mengajukan pertanyaan: (1) Bagaimana seharusnya suatu negara itu diperintah; (2) Kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat dimiliki negara berdasarkan potensi atau sumber daya manusianya.

Sebagai seorang idealis ia menginginkan sebuah negara yang benar- benar menghargai kemanusiaan, nilai-nilai egaliter dan demokrasi. Idealismenya tampak dalam pembahasannya atas konsep haojan chih ch’i. Secara harfiah semboyan ini diartikan sebagai ‘semangat ekspansif’. Tujuan negara didirikan ialah bagaimana masyarakat dapat mengembangkan semangat ekspansif dan memeliharanya. Yang dimaksud semangat ekspansif ialah semangat yang dilandasi kehangatan hati, sama seperti ketika kita masih kanak-kanak. Kanak-kanak melakukan perbuatan baik secara ikhlas dan hangat baik dalam persahabatan dan kekeluargaan, maupun dalam kekerabatan dan persaudaraan.

Prinsip Demokrasi

Menurut Meng Tze ada tujuh prinsip demokrasi yang mesti ditegakkan oleh negara yang bercita-cita mengembangkan kemanusiaan dan persatuan. Pertama ialah memandang semua orang setara dalam hukum, hak-hak sosial dan politik. Kedua, negara mesti dibangun terdasarkan tiga unsure sesuai hirarkinya – Rakyat paling penting, undang-undang penting dan penguasa kurang penting. Ketiga, pengangkatan pegawai dan pemberian hukuman terhadap seseorang tidak boleh didasarkan atas pendapat pegawai pemerintah melainkan atas permintaan rakyat. Keempat, pemerintah harus meningkatkan kesejahteraan rakyat dan raja harus mau berbagi kesenangan dengan rakyat; Kelim, hubungan penguasa dan rakyat tidak boleh bersifat sepihak, harus merupakan hubungan timbal balik. Keenam, ada hak menentang penguasa yang tidak adil dan zalim, dan membuat rakyat sengsara. Raja yang demikian sama dengan pembunuh. Ketujuh, pemerintahan yang baik ialah pemerintahan yang mengemban amanat rakyat, memperhitungkan suara rakyat banyak dan berusaha nmenyelaraskan diri dengan kodrat manusia yang pada dasarnya baik.

Apa yang dikemukakannya itu merupakan teori pemerintahan yang didasarkan atas jen (kemanusiaan) dan dikembangkan berdasar gagasan Kon Fu Tze tentang “pemeirntahan yang didasarkan kebajikan”. Dalam pemerintahan seperti itu penguasa menjalankan kekuasaan berdasarkan dorongan-dorongan kemanusiaan yang ada dalam dirinya, bukan berdasarkan tekanan-tekanan dari luar. Dengan demikian seorang raja atau gubernur harus membiarkan dorongan-dorongan kemanusiaan bekerja dalam dirinya dan berperan sesuai kodratnya. Bahkan dia juga harus menyebarkan kemanusiaan secara meluas kepada penduduk negerii. Tentu saja perhatian utama harus diberikan terhadap kebutuhan dasar dan utama rakyat, secara material dan spiritual. Jika terjadi pertentangan antara kepentingan pejabat birokrasi dan rakyat, maka kepentingan rakyatlah yang harus diutamakan.

Kelak gagasannya ini dipandang sebagai kunci dasar falsafah Cina. Menurutnya ada dua jenis pemerintahan, yaitu pemerintahan yang dapat memberebut hati rakyat dan pemerintahan yang diperoleh melalui jalan kekerasan. Pemerintahan yang pertama bisa dibangun apabila didasarkan pada sistem beraja, yaitu apabila raja dipilih oleh rakyat. Sedangkan yang kedua cenderung ke sistem diktator, yang memerintah melakui tekanan-tekanan yang membatasi kebebasan dan gerak hidup masyarakat.

Walaupun gagasan Meng Tze tentang pemerintahan dan undang-undang sebelumnya telah sering dikemukakan oleh Kon Fu Tze, namun Meng Tze lah yang dipandang sebagai ‘pembangun undang-undang’ yang sebenarnya dalam sejarah pemikiran Cina. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa dialah yang merumuskan secara rinci dan luas dasar-dasar pemikiran yang telah diletakkan oleh Kon Fu Tze. Khususnya yang berkaitan dengan cara-cara terbaik menjalankan pemerintahan yang didasarkan atas kebajikan dan kemanusiaan (jen). Dia juga memberikan usulan kongkrit berkaitan dengan cara-cara bagaimana seharusnya sebuah negara diperintah, dasar-dasar kebajikan apa yang harus diperhatikan dan kemungkinan apa yang bisa dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi dan sumber daya, serta kekayaan budaya dari penduduknya.

Menurut pemikirannya, sebuah pemerintahan yang baik mesti memiliki standar kebajikan dari mana semua kebijaksanaan dan program pembangunan negara bersumber. Program politik Meng Tze sangat sederhana: Hanya dengan berdasar kebajikan suatu pemerintahan akan berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kisah: Suatu ketika penguasa negeri Liang mengatakan bahwa dahulu negaranya kuat, namun selama ia pemerintah berulang kali mendapat serangan musuh dan beberapa bagian dari wilayahnya pula berhasil diserbut oleh negara tetangganya. Putra raja sendiri gugur dalam sebuah peperangan. Ia ingin menuntut balas atas kekalahannya. Meng Tze ditanyai pendapatnya, dan menjawab: Sebenarnya sebuah wilayah yang kecil dapat dijadikan modal awal untuk menguasai seluruh negeri Cina yang luas. Syaratnya ialah, “Apabila Baginda mau menjalankan pemerintahan yang dipenuhi cinta kasih kepada rakyat, meringankan hukuman badan dan denda, mengurangi pajak, menganjurkan lahan-lahan pertanian dibajak dalam-dalam dan disiangi secara cermat, dan menganjurkan mereka yang bertubuh kuat menggunakan waktu senggang mereka untuk memupuk sikap penuh pengabdian, menghormati saudara sendiri, tulus ikhlas dan setia dalam bekerja, sehinggga di rumah mereka mberbakti kepada orang tua dan saudara mereka yang lebih tua, dan di luar rumah mereka berbakti kepada orang-orang yang lebih tua serta atasan mereka — maka rakyat yang Baginda pimpin akan dapat memukul mundur tentara musuh hanya dengan tongkat-tongkat mereka, sekalipun tentara musuh menggunakan baju zirah yang kuatdan dilengkapi senjata-senjata tajam.”

Dalam jawabannya itu Meng Tze ingin mengatakan bahwa semangat sebuah pasukan tentara jauh lebih penting dibanding sekedar persenjataan yang dimiliki. Sekalipun demikian Meng Tze menentang peperangan yang tujuannya semata-mata peperangan, seperti misalnya menuntut balas kekalahan yang sebelumnya diderita oleh sebuah negara disebabkan serangan negara lain. Peperangan bisa dimaklumi jika dimaksudkan untuk membebaskan rakyat suatu negara yang diperangi dari penderitaan disebabkan kezaliman penguasanya, serta peperangan itu dimaksud untuk menyebarkan sistem pemerintahan yang didasarkan atas kebajikan.

Meng Tze mengatakan bahwa orang-orang yang hanya menyukai ketrampilan dan profesi serta kepakaran dalam ilmu siasat dan peperangan, tidak lebih adalah penjahat besar. Apalagi memuja ilmunya itu. Perang yang harus dibela adalah perang yang adil dan ketrampilan bertempur seharusnya digunakan hanya untuk menjalankan peperangan yang adil. .Menurutnya lagi penguasa tak dipercaya rakyat tidak akan dapat mengandalkan rakyat bertempur di pihaknya dalam sebuah peperangan. Sebaliknya seorang raja yang telah memperlakukan rakyatnya dengan baik, akan didukung oleh mereka dengan setia. Negeri yang pemimpinnya seperti itu tidak akan mudah ditaklukkan musuh.

Pemikiran Meng Tze tentang pemerintahan yang masih relevan hingga kini ialah ialah mengenai tahta atau kekuasaan. Menurutnya tahta kerajaan tidak boleh begitu saja diserahkan kepada keturunan raja tanpa persetujuan rakyat. Pemerintahan yang benar harus merupakan pemberian rakyat yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Meng Tze berpendirian bahwa apabila seorang penguasa gagal memberi kesejahteraan kepada rakyat sudah selayaknya ia diganti, dan apabila tidak mau diganti maka rakyat harus berontak dan memilih raja yang baru. (Contoh raja yang demikian ialah kaisart Yao, Shun dan Yu – Creel hal. 88).

Meng Tze juga merupakan filosof klasik di Cina yang paling banyak memberi perhatian terhadap masalah ekonomi. Sebuah pemerintahan yang baik, katanya, akan memulai kebijakannya dengan mengukur kembali tanah-tanah yang dikuasai dan menetapkan lahan-lahan pertanian dengan baik. Di antara pemikirannya tentang ini ialah mengenai pembagian tanah secara adil dan rata. Sebidang tanah yang luas dibagi menjadi sembilan petak. Masing-masing dari delapan perak diberikan kepada sebuah keluarga untuk digarap, sedangkan yang satu petak lagi digarap bersama-sama. Hasil dari petak yang kesembilan diserahkan kepada negara sebagai pajak yang harus dibayar. Sementara delapan keluarga yang mengerjakan delapan petak tanah harus merupakan persekutuan dengan ikatan yang erat dan saling membantu.

Pemikiran Meng Tze di bidang ekonomi bercorak sosialis dan mendahului zamannya. Misalnuya ia menganjurkan agar dikembangkan aneka pertanian. Masing-masing petani menanam pohon sutra agar mereka dapat memelihara ulat sutra, serta memelihara lima ekor ayam ternak dan dua ekor babi. Dia juga menganjurkan pengembangan sektor perikanan dan pemeliharaan hutan. Bagi Meng Tze ekonomi berkaitan dengan etika. Rakyat yang lapar, menurutnya, tidak akan dapat diharapkan menjunjung etika dan bermoral. Sekalipun demikian ia tidak hanya melihat dunia semata-mata dalam hubungannya dengan ekonomi.

Baginya yang sangat penting dalam sebuah negara ialah pengajaran dan pendidikan. Tujuan pendidikan tidak hanya membuat generasi muda cerdas secara intelektual dan menguasai ilmu pengetahuan serta berbagai kecakapan (profesi), tetapi juga membuat mereka sebagai anggota masyarakat yang menjunjung etika dan bermoral. Majunya tingkat kecerdasan dan moral suatu masyarakat, menurut Meng Tze, berkaitan dengan kemakmuran dan kesejahteraan di bidang ekonomi. Masyarakat yang cerdas dan bermoral senantiasa menuntut keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran, serta mengusahakannya sepenuh tenaga dengan solidaritas yang tinggi.

Sejarah, menurut Meng Tze, merupakan pelajaran yang sangat penting di samping bahasa, etika dan falsafah. Begitu juga dalam menjalankan pemerintahan. Sebabnya ialah karena setiap pemerintahan memerlukan teladan dari masa lampau. Dalam hubungan ini Meng Tze sering mengemukakan konsep wang tao (jalan sejati seorang raja), yaitu tindakan-tindakan yang diambil raja-raja arif dahulu kala yang harus dipakai selama-lamanya oleh raja-raja yang kemudian.

Mo Tze, filosof sebelum Meng Tze, pernah mengatakan bahwa perbuatan seseorang itu hendaknya didasarkan atas kegunaan dan keadaan yang menguntungkan. Meng Tze menolak utilitarianisme Mo Tze. Penolakan itu dikemukakan dalam kitabnya. Di situ dia mulai dengan mengatakan bahwa apabila seorang raja bertindak semata-mata demi keuntungan dan kegunaan, ia akan senantiasa dihadapkan pada ancaman dan bahaya, karena kekuasaanya akan direbut oleh bawahannya yang menghendaki keuntungan yang sama. Raja yang baik harus memerintah dengan sikap pemurah dan adil, tanpa pamrih.

Sekalipun demikian, para pengulas ada berpendapat bahwa Meng Tze benarnya juga seorang penganut utilitarianisme. Tetapi pengertian kegunaan atau utility yang dimaksud Meng Tze berbeda dengan yang dimaksud Mo Tze. Kegunaan yang dimaksud Meng Tze tersirat dalam anjurannya agar seorang raja memerintah secara adil dan bersikap pemurah. Seorang raja yang memerintah secara adil dan pemurah akan memperoleh keuntungan spiritual dan material, yaitu dalam jangka panjang. Ia dapat meredam kegelisahan rakyat dan meredam kekacauan.

Jadi utilitarianisme Meng Tze tidak didasarkan pada apa yang disebut Kant sebagai ‘kategori imperatif’, tetapi atas dasar pertimbangan moral dan ekonomi yang disebut sebagai “kepentingan diri yang telah memperoleh pencerahan”.

Falsafah Manusia dan Psikologi

Telah kita ketahui bahwa Meng Tze percaya bahwa kodrat manusia itu pada dasarnya baik. Mengenai kebaikan ia sependapat dengan Kon Fu Tze. Bagi kedua fiolosof ini kebaikan ialah sesuatu yang sepenuhnya sesuai dengan kodrat manusia. Dalam menerangkan kebaikan itu, Meng Tze selalu berpedoman pada kenyataan kodrat yang ada pada sesuatu. Makan yang membuat perut sakit, tidak baik. Jerami merupakan makanan yang baik bagi sapi, tetapi tidak bagi manusia, karena makanan itu tidak sesuai dengan kodrat manusia. Menurut Meng Tze , mulut, telinga dan mata manusia sama, memiliki rasa suka dan tidak suka yang sama pula terhadap sesuatu. Seharusnya demikian pula pikiran manusia terhadap asas-asas moral yang sama, memiliki rasa yang sama itu menyukai yang baik dan membenci yang tidak baik.

Falsafah Meng Tze tentang manusia berakar dalam teori psikologinya yang membedakan antara jiwa dan badan. Pada masanya pandangan dualis seperti itu belum muncul di Cina. Dalam menjelaskan kodrat manusia, Meng Tze mendasarkan pada pandangan dualistisnya itu. Mengikuti pembedaan tbuh dan jiwa, Meng Tze membedakan antara ‘kodrat emosional’ dan ‘kemampuan rasional’ manusia. Dalam keduanya, menurut Meng Tze, tidak ada yang baik maupun buruuk. Tetapi manusia akan bahagia apabila mampu mengendalikan sikap dan tindakannya, yaitu kodrat emosionalnya itu, dengan kemampuan rasional atau intelektualnya. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, apabila kemampuan-kemampuan rasional saling berhubungan danbersatu, maka kekuatan tersebut akan dapat mengendalikan kotrat emosional. Kedua, apabila kodrat atau pembawaan emosional bersaty, ia akan dapat mengambil alih peranan kemampuan rasional. Ketiga, kodrat emosional harus dikendalikan, tetapi tidak dapat ditindas. Semestinya pembawaan emosional ini disalurkan secara baik dan layak, sehingga tidak menjelma kekuatan amoral dan sebaliknya akan menjelma kekuatan moral. Dengan kata lain, kekuatan emosional perlu dididik sehingga cerdas. Bagaimana agar kemampuan rasional dapat bekerja? Jawabnya apabila seseorang tidak memiliki keinginan terlalu banyak dan hasrat berlebihan terhadap sesuatu.

Apa yang dikemukakan Meng Tze tampak dalam percakapannya dengan raja Liang. Menurutnya seseorang yang memiliki terlampau banyak maksud dan cita-cita dalam hidupnya, bukan hanya meresahkan jiwanya sendiri, tetapi mungkin juga tidak akan dapat mencapainya sedikit pun.

Raja Liang berkata, “Kalau begitu ia tidak bisa menjadi pengikut ajaran Kon Fu Tze dengan baik, sebab ia memiliki kesenangan berlebihan terhadap keberanian, musik, kekayaan dan seks.’ Meng Tze menjawab, “Tetapi semua itu tidak buruk dan kodrati. Masalahnya bagaimana bertoleransi terhadap sesama manusia dan mengizinkan rakyat dan diri sendiri dapat memanfaatkan kesenangan-kesenangan tersebut bersama-sama.”

Pertama, keberanian dipupuk dengan tujuan untuk membela negara dan rakyat. Kedua, raja harus berusaha agar rakyat mampu menikmati musik yang baik seperti dirinya, yaitu dengan memberi peluang berkembangnya seni musik di negerinya. Ketiga, raja berusaha memperbaiki ekonomi rakyat dan meningkatkan ekonomi rakyat sehingga seperti raja dapat pula menikmati kekayaan dan kesejahteraan. Keempat, memberi kemungkinan kepada rakyatt agar dapat kawin dengan mudah dan dengan demikian dapat menikmati seks yang baik pada usia dewasa.

Menurut Meng Tze, jika emosi diarahkan secara layak akan menjamin tumbuhnya tindakan moral. Yang diperlukakan ialah bagaimana seseorang itu bertindak berdasarkan prinsip li, di samping melakukan latihan untuk menumbuhkan kecerdasan akal. Berdasarkan ini ia mengatakan bahwa, “Hanya manusia yang cerdas dan berpendidikan yang dapat diandalkan tetap bersikap saleh dan menguasai diri apabila terjadi krisis ekonomi dan politik.” Meelalui pernyataan itulah Meng Tze meletakkan pendidikan di tempat utama, di samping kesejahteraan dan kesehatan.

Pendidikan, dalam pengertian Meng Tze, adalah tempat memupuk nilai-nilai moral dengan tujuan memelihara kodrat bawaan manusia yang pada dasarnya baik. Tujuan lain dari pendidikan ialah sebagai tem,pat latuhan untuk meningkatkan kecerdasan akal dan emosi. Hanya pemerintahan yang adil dan bermoral, yang dapat menyelenggarakan pendidikan seperti itu.

Menurut Meng Tze manusia yang agung itu ialah seseorang tidak kehilangan hati kanak-kanaknya sekalipun ia telah beranjak tua. Dia bertindak beradasaran pertimbangan-pertimbangan moral dan apa yang dilakukannya selalu berikaitan dengan watak dan kepribadiannya sendiri, bukan atas dasar pertimbangan untung rugi dan atas desakan dari luar. Pendidikan harus diarahkan untuk membina manusia seperti itu. Lebih jauh Meng Tze berpendapat bahwa manusia menjadi baik atau buruk terutama disebabkan oleh lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya. “Jika Anda ingin memupuk kebajikan, sebaiknya Anda bergaul dengan orang-orang yang berkebajikan” katanya. Tugas pemerintahan ialah membina lingkungan yang memungkinkan kebajikan berkembang.

One comment on “Kearifan Timur:Pemikiran Meng Tze

  1. 92 MENG-TSE (MENCIUS) ± 371 SM – ± 289 SM

    Filosof Cina Meng-Tse (Mencius) adalah pengganti Kong Hu-Cu. Ajaran-ajarannya, seperti apa yang dibentangkan dalam buku Book of Mencius, sangat dihargai di Tiongkok selama berabad-abad. Dia sering dijuluki “The Second Sage,” manusia bijak kedua, yaitu kebijakannya jatuh nomor dua sesudah Kong Hu-Cu yang berjangka selisih dengannya sekitar 2000 tahun.

    Meng-Tse dilahirkan sekitar tahun 371 SM di negeri kecil Tsou, yang kini berada di provinsi Shantung. Masa ia dilahirkan, babak akhir dinasti Chou, disebut oleh orang Cina dengan julukan “Masa perang antar negeri,” berhubung Cina secara politis waktu itu terpecah belah. Meng-Tse, meskipun dia berada di belakang tradisi Kong Hu-Cu dan senantiasa jadi pendukung gigih teori-teori dan gagasan Kong Hu-Cu, akhimya dihormati selaku cerdik pandai dan filosof atas daya kreasi dan karya pikirnya sendiri.

    Meng-tse menghabiskan banyak masa dewasanya melakukan perjalanan di seputar dalam negeri Cina dan menawarkan nasihatnya kepada pelbagai penguasa. Beberapa penguasa mendengarkan dengan penuh hormat kepadanya, dan untuk beberapa saat dia menjadi pejabat pemerintah Ch’i; tetapi secara pukul rata dia tidak punya posisi permanen ataupun pembuat keputusan. Di tahun 312 SM, saat umurnya sekitar lima puluh sembilan tahun, dia kembali ke kampungnya di negeri Tsou dan tinggal menetap di situ sampai mati. Kapan dia mati tidak jelas, mungkin sekitar tahun 289 SM.

    Meng-tse mengumpulkan pengikut-pengikut selama masa hidupnya, tetapi pengaruhnya atas Cina sebagian terpokok karena Book of Menciusnya, di mana tertera ajaran-ajarannya. Meskipun buku itu bisa jadi sudah mengalami pelbagai perbaikan oleh pengikut-pengikutnya, kecil sekali keraguan bahwa pokok-pokoknya mencerminkan ide-ide Meng-tse sendiri.

    Citra Book of Mencius berwarna idealistis dan optimis, memantulkan keyakinan teguh Meng-tse bahwa sifat manusia itu pada dasarnya baik: dalam banyak hal, ide politiknya serupa dengan Kong Hu-Cu; khususnya, Meng-tse percaya benar bahwa seorang raja harus memerintah pertama-tama lewat contoh moral daripada dengan kekuatan. Tetapi, Meng-tse lebih mendekati “orang milik umum” daripada Kong Hu-Cu. “Langit melihat seperti rakyat melihat, langit mendengar seperti rakyat mendengar,” adalah salah satu pernyataannya yang terbaik.

    Meng-tse menekankan bahwa komponen paling penting dari tiap negara adalah rakyat, dan bukannya penguasa. Adalah kewajiban penguasa memajukan kesejahteraan rakyat; khususnya dia harus memberikan rakyat itu penuntun moral dan dengan kondisi yang layak untuk hidupnya. Diantara politik pemerintahan dia menganjurkan: perdagangan bebas; pajak ringan; pelestarian sumber alam; pemerataan kekayaan yang sama daripada keadaan sekarang; dan persediaan pemerintah buat kesejahteraan orang-orang tua jompo dan orang miskin. Meng-tse percaya bahwa kekuasaan seorang Raja berasal dari langit; tetapi seorang Raja yang mengabaikan kesejahteraan rakyat akan kehilangan “mandat dari langit,” dan akan sepantasnya ditumbangkan. Berhubung bagian terakhir dari kalimat itu mengikis bagian pertama, Meng-tse pada dasarnya menekankan (jauh sebelum John Locke), bahwa rakyat punya hak memberontak melawan penguasa yang tidak adil. Ini merupakan ide yang diterima secara luas di Cina.

    Kini bicara secara umum, sepanjang hampir sepanjang sejarah, jenis politik yang dianjurkan Meng-tse lebih populer di kalangan rakyat ketimbang di kalangan penguasa. Karena itu janganlah heran bilamana usul Meng-tse tidak diterima oleh penguasa-penguasa Cina pada masanya. Tetapi dalam perjalanan sang waktu, pandangan-pandangannya menjadi semakin populer di kalangan sarjana-sarjana Kong Hu-Cu dan di kalangan rakyat Cina. Reputasi Meng-tse, yang sudah tinggi, bahkan menjadi lebih besar di Cina disertai dengan bangkitnya neo-Confucianisme di abad ke-11 dan ke-12.

    Di Barat, tentu saja, Meng-tse tak punya pengaruh yang berarti. Ini disebabkan sebagian dari kenyataan bahwa dia menulis dalam bahasa Cina. Tao Te Ching oleh Lao Tze yang ditulis dalam bahasa Cina yang boleh dibilang bersamaan waktunya dengan Book of Mencius, telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa Eropa berulang kali hanya karena banyak orang menemukan ide yang dipaparkan di buku itu memancing rasa ingin tahu. Tetapi relatif sedikit orang Barat telah menemukan Book of Mencius, khusus yang orisinal- atau yang terpotong.

    Mungkin kedengarannya menarik buat pemerintahan melibatkan dirinya dalam hal kesejahteraan orang-orang jompo dan miskin dan cacad; juga kedengarannya menarik untuk peroleh keringanan pajak. Tetapi, seorang politikus Amerika yang mengumumkan bahwa dia mendukung kedua politik itu tanpa penjelasan yang lebih spesifik tampaknya tidak akan peroleh dukungan kepercayaan baik oleh pihak liberal maupun konservatif. Sama halnya, Meng-tse menunjukkan di satu pihak dia berpihak pada pemerataan kekayaan dan di lain pihak menunjukkan persetujuannya terhadap perdagangan bebas dan pajak rendah tanpa sampai pada pemecahan masalah seberapa jauh kemungkinan berjalannya pertentangan diantara kedua politik itu. Ini mungkin kedengarannya sedikit tidak jujur bagi Meng-tse yang bagaimanapun tidak menjadi calon untuk parlemen. Ini boleh dikemukakan oleh seorang filosof yang menyuguhkan serentetan usul kebajikan (meskipun sebagiannya tidak konsisten) secara umum, bahkan jika dia tidak secara khusus menunjukkan bagaimana pertentangan antara kedua prinsip itu dipecahkan. Bagaimanapun, dalam jangka panjang, seorang filosof seperti Machiavelli, yang mengutarakan pilihan jelas ketimbang Meng-tse punya pengaruh lebih besar di pikiran manusia.

    Tetapi, tulisan-tulisan Meng-tse telah betul-betul mempengaruhi orang Cina. Meskipun arti pentingnya terhadap Confucianisme tidaklah mendekati kebesaran seperti St. Paul terhadap Kekristenan (dalam satu hal Meng-tse kekurangan kesanggupan membujuk yang sungguh luar biasa yang ada pada St. Paul untuk menarik orang menganut pahamnya), dia tak diragukan lagi seorang penulis yang punya pengaruh mendalam. Selama kasarnya dua puluh dua abad, ide-idenya dipelajari di seluruh daerah yang berpenduduk lebih dari 20% jumlah penduduk dunia. Hanya sedikit filosof di mana pun punya pengaruh yang begitu besamya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: