Tinggalkan komentar

Ayat-ayat tentang Hikmah dalam al-Qur’an

20 Ayat al-Qur’an tentang HIKMAH:

I. Ayat yang terkait dengan makna Hikmah = “al-Kitab” sebagai ilmu pengetahuan yang dibawa oleh para Nabi Allah :

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}(البقرة/129).

“Manusia merupakan ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, manusia memiliki fitrah tauhid yang perlu dibina oleh para pendidik. QS. Al-Baqarah ayat 129 menjelaskan tentang tugas pendidik dalam membina akidah manusia agar fitrah yang ada sesuai dengan ajaran Allah SWT.”

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pendapat para mufasir tentang tugas Rasul saw dalam QS. Al-Baqarah 129; (2) untuk mengetahui esensi yang terkandung pada QS. Al-Baqarah 129; (3) untuk mengetahui  pendapat para ahli pendidikan tentang tugas pendidik terhadap upaya pembinaan akidah; (4) untuk mengetahui implikasi pendidikan dari QS. Al-Baqarah 129 tentang tugas pendidik terhadap upaya pembinaan aqidah; Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi kepustakaan yakni mengkaji koleksi bahan pustaka yang mengandung informasi yang bertautan yang relevan dengan pokok masalah peneliti.

Hasil dari penelitian ini adalah

(1) Tugas Rasul dalam do’a yang dipanjatkan Nabi Ibrahim as yakni: Membacakan isi Al-Qur’an yang mengandung bukti-bukti keesaan Allah SWT, mengajarkan isi Al-Qur’an yang mengandung, hukum-hukum yang syara’ yang dapat menyempurnakan jiwa, Mengajarkan Hikmah berupa sunah-sunah Rasul saw, Mensucikan mereka. Maksudnya taat kepada Allah SWT dan memurnikan penghambaan kepada-Nya, mensucikan dari kemusyrikan.

(2) Esensi QS Al-Baqarah ayat 129:

1.Menyampaikan ajaran Allah SWT sehingga manusia memiliki aqidah yang kuat.

2.Membina manusia dengan Ta’lim Al-Qur’an dan Al-Hikmah sehingga manusia menjalankan sunah Rasul saw sebagai amal saleh.

3.Mensucikan jiwa manusia dari kemusyrikan serta kemaksiatan yang dapat mengotori jiwa. Menurut ahli pendidikan: pendidik memiliki tugas dan peran penting dalam membina akidah anak didik. Implikasi pendidikan dari Qs Al-Baqarah ayat 129 yaitu: pendidik sebagai penerus Rasul SAW memilki tugas dalam membina akidah anak didik. Adapun upaya yang dilakukan pendidik: (1)Senantiasa membacakan kalimat tauhid serta membina anak-anak.

(2)Membina anak beribadah semenjak umur 7 tahun.(3)Membina anak menanamkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul SAW serta menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangannya.(4)Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak untuk cinta membaca Al-Qur’an.(5)Memperkenalkan sejak awal tentang hukum halal dan haram. (6)Pembinaan melalui muhasabah dan introspeksi diri.

{كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ}(البقرة/151).

Artinya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan menyucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.”

Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman akan nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka, berupa pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul kepada mereka yang membacakan ayat-ayat Allah Ta’ala kepada mereka secara jelas dan menyucikan mereka dari berbagai keburukan akhlak, kotoran jiwa, segala perbuatan kaum Jahiliyah, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju dunia yang terang benderang, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), dan mengajarkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui. Sedangkan sebelumnya mereka hidup dalam kebodohan (Jahiliyah) dan tidak mempunyai tata karma dalam berbicara. Berkat risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berhasil pindah ke derajat para wali dan tingkat para ulama. Dan akhirnya mereka menjadi orang yang berilmu sangat mendalam, memiliki hati amat suci, berpenampilan apa adanya dan berkata paling jujur.

Firman-Nya (كما أرسلنا فيكم رسولا منكم), Mujahid mengatakan, “Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana telah Aku perbuat, maka ingatlah kalian kepada-Ku.” Abdullah bin Wahab mengemukakan, sesungguhnya Musa ‘alaihi as-salam pernah bertanya, “Ya Rabbku, bagaimana aku harus bersyukur kepada-Mu?” Maka Allah Ta’ala berkata kepadanya, “Hendaklah kamu mengingat-Ku dan tidak melupakan-Ku. Jika kamu ingat kepada-Ku berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku. Dan jika kamu melupakan-Ku, berarti kamu telah kufur kepada-Ku.” Al-Hasan Al-Bashri, Abu Al-Aliyah, As-Suddi dan Rabi’ bin Anas mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengingat orang yang mengingat-Nya, memberikan tambahan nikmat kepada orang yang bersyukur kepada-Nya, dan memberikan siksa kepada orang yang kufur kepada-Nya.” Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imrah ayat 102 yang artinya: “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.” Sebagian ulama salaf mengatakan: “Yaitu hendaklah Allah Ta’ala ditaati dan tidak diduhakai; diingat dan tidak dilupakan; disyukuri dan tidak diingkari.”

{وَإِذَا طَلَّقْتُمْ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}(البقرة/231).

Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddah-nya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemadharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telab berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu al-Kitab dan al Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”

Asbabun Nuzul ayat ini adalah: “Ada seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian merujuknya sebelum habis masa iddahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkan dan mengikat istrinya agar tidak bisa kawin dengan yang lain.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas)

Asbabun Nuzul riwayat lainnya adalah: “Bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Tsabit bin Yasar Al-Anshari yang menalak istrinya. Tetapi setelah hampir habis iddahnya, ia merujuknya lagi, lalu menceraikannya lagi, dengan maksud menyakiti istrinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari As-Suddi)

Asbabun Nuzul riwayat lainnya adalah: “Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian berkata: “Sebenarnya aku hanya main-main saja.” Kemudian ia memerdekan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata: “Aku hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat ini sebagai teguran atas perbuatan itu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Umar di dalam Musnadnya dan Ibnu Marwadaih, yang bersumber dari Abu Ad-Darda’. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Al-Mundzir yang bersumber dari Ubadah bin Ash-Shamit. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawaih yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Al-Hasan, yang hadisnya mursal)

Firman-Nya (وإذا طلقتم النساء فبلغن أجلهن فأمسكوهن بمعروف) ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada kaum laki-laki jika ia menceraikan salah seorang dari istrinya dengan talak raj’i, maka ia (si suami) harus menyelesaikan urusan ini dengan baik, yaitu pada saat ia (si istri) sudah menyelesaikan masa iddahnya dan yang tinggal hanyalah sisa waktu yang memungkinkan baginya untuk merujuknya, maka ketika itu ia (suami) boleh menahannya, yaitu mengembalikan si istri ke dalam ikatan pernikahannya dengan cara yang ma’ruf. Maksudnya, dia harus mempersaksikan rujuknya itu kepada orang lain dan berniat menggaulinya dengan baik.

Firman-Nya (أو سرحوهن بمعروف) atau ia boleh menceraikannya. Yaitu membiarkannya hingga iddahnya selesai dan mengeluarkannya dari rumahnya dengan cara yang baik, tanpa adanya pertikaian, perkelahian dan saling mencaci maki.

Firman-Nya (ولا تمسكهن ضرارا لتعتدوا ومن يفعل ذلك فقد ظلم نفسه) yaitu janganlah merujuki mereka dengan melanggar perintah Allah Ta’ala.

Firman-Nya (ولا تتخذوا آيات الله هزوا) Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Atha’Al-Khurasani, Rabi’ bin Anas, dan Muqatil bin Hayyan mengatakan, “Yaitu seorang suami yang menceraikan istrinya seraya berucap: “Aku hanya main-main.” Atau memerdekakan budak atau menikah dengan mengatakan, “Aku hanya main-main”. Maka Allah Ta’ala pun menurunkan firman-Nya ini, maka dengan demikian Allah Ta’ala memastikan hal tersebut (hal di atas tadi dinyatakan sah). Ibnu Mardawaih meriwayatkan, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, “Ada seseorang yang menceraikan istrinya dengan main-main dan tidak bermaksud talak yang sebenamya, maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya ini. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan talak baginya.” (Sanadnya dhaif)

Berkenaan dengan hal ini, ada sebuah hadis yang sangat masyhur diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, ia menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ، وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالرَّجْعَةُ”

Artinya: “Ada tiga perkara yang bersungguh-sungguhnya dianggap sungguh-sungguh dan main-mainnya pun dianggap sungguh-sungguh, yaitu nikah, talak dan rujuk.” (Menurut At-Tirmidzi hadis tersebut hasan gharib)

Firman-Nya (واذكروا نعمت الله عليكم) yaitu berupa pengutusan Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan penjelasan kepada kalian.

Firman-Nya (وما أنزل عليكم من الكتاب والحكمة) “al-hikmah” yaitu sunnah.

Firman-Nya (يعظكم به) maksudnya, Dia telah menurunkan perintah dan larangan serta memberikan ancaman kepada kalian atas perbuatan dosa.

Firman-Nya (واتقوا لله) maksudnya dengan menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Firman-Nya (واعلموا أن الله بكل شيئ عليم) maksudnya sampai tidak ada suatu perkara pun yang tersembunyi dari-Nya dari seluruh urusan kalian baik yang rahasia ataupun yang terang-terangan. Dan Allah Ta’ala akan memberikan balasan kepada kalian atas semua itu.

{وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ}(آل عمران/48).

(Dia akan mengajarkan kepadanya) ada yang membaca dengan nun dan ada pula dengan ya (Alkitab) menulis (hikmah, Taurat dan Injil) (Tafsir Jallalayn)

Bayi yang baru lahir itu diajar menulis oleh Allah, diberi pengetahuan yang benar dan bermanfaat, kitab Tawrât (kitab suci Nabi Mûsâ) dan Injîl yang diwahyukan kepadanya. (tafsir KH Quraiy Shihab)

Kitab di sini ada yang mengartikan dengan “menulis”, hal itu, karena menulis merupakan nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, oleh karena itu Allah memberi nikmat kepada mereka dengan mengajarkan dengan pena sebagaimana yang disebutkan dalam surat yang pertama turun, yaitu surat Al ‘Alaq, “Alladziy ‘allama bil qalam” (Yang mengajarkan (manusia) dengan pena). Ada pula yang mengartikannya dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya selain Taurat dan Injil.

Hikmah artinya mengetahui rahasia syara’ dan mampu memposisikan sesuiatu pada tempatnya. Hal ini merupakan nikmat Allah kepada Nabi Isa ‘alaihis salam dengan diajarakan-Nya menulis, ilmu dan hikmah, di mana semua ini merupakan kesempurnaan pada diri seseorang. Pada ayat selanjutnya disebutkan lagi kelebihan lainnya yang diberikan Allah kepadanya.

{مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ}
(آل عمران/79).

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Makna tarbiyah dijelaskan dalam surat al-Isra’ ayat 24 Sayid Qutub mengunakan teori munasabah antar kalimat dalam satu ayat yakni “rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan”
sebuah ungkapan lembut yang mampu menembus inti hati nurani yaitu, rasa kasih sayang yang penuh kelembutan hingga sang anak merasa hina di hadapan kedua orang tuanya sehingga tidak mampu mengangkat pandangan atau menolak perintah di hadapan keduannya. ”ucapkanlah: “wahai tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” Sebuah kenangan masa lalu yang penuh kelembutan, dan masa kanak-kanak yang masih lemah dibawah asuhan kedua orang tua. Kini mereka berdua (orang tua) seperti pada masa kanak-kanak itu, perlu perhatian dan rasa kasih sayang. Setidaknya dengan kesediaan sang anak untuk menengadahkan doa kepada Allah SWT agar Allah berkenan memberi kasih sayangnya kepada keduannya, karena kasih sayang Allah SWT lebih luas dan perhatian beserta perlindungannya lebih besar. Karena itu, dia lebih mampu memberikan balasan kepada kedua orang tua atas segala pengorbanan darah, keringat, dan air mata, yang tak mungkin dapat ditebus oleh sang anak. Serta menggunakan teori bala>ghatul qur’an dalam Kata “jannaha dulli” sayap kerendahan, seolah mengisyaratkan bahwa sikap hina ini mempunyai sayap yang bisa dikepakkan merendah sebagai tanda tunduk dan patuh kepada kedua orang tua. 4

Demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua tidak perlu lagi diingatkan akan anaknya. Tetapi anaklah yang memberikan dorongan kuat terhadap kesadaran hati nuraninya agar selalu ingat terhadap kewajiban terhadap kedua orang tuanya yang telah mendidik jasmani serta rohaninya dan mengorbankan seluruh tenagan demi anaknya. Dari sini timbul perintah berbuat baik kepada kedua orang tua .

Kemudian makna tarbiyah dilanjutkan kembali dengan surat asSyu’ara ayat 18 Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dalam menafsirkan ayat ini mengunakan munasabah antar ayat. Ayat 18 dalam surat as-Syu’ara berhubungan dengan ayat 19 dan sebelumnya yakni menyatakan bahwa Firaun mengingatkan pada Musa tentang peristiwa pembunuhan pemuda Qibti yang menurutnya perbuatan keji.

Apakah itu balasannya atas pendidikan dan kemuliaan yang telah kamu dapatkan dari kami ketika kamu masih anak-anak? Lalu sekarang kamu datang dengan membawa agama yang berbeda dengan agama kami?
Kemudian kamu memberontak pada raja dimana kamu tumbuh diistanahnya dan kamu menyembanh tuhan lain selainya. Lalu kenapa kamu tidakmenyinggung perkataan ini selama bertahun-tahun hidup bersama kami, kemudian sekarang kamu baru mengakuinya? Kamu tidak pernah
menyinggung pengantar perkara yang dasyat ini sebelumnya.5

Kemudian penafsian Quraish Shihab mengunakan teori qishasul qur’an yakni menceritakan kisah pada zaman dahulu. Adapun penafsirannya Fir’aun tidak menanggapi perintah Allah yang disampaikan oleh NabiMusa. Firaun Berkata mengingatkan Nabi Musa tentang masa lalunya sertaapa yang dianggap olehnya sebagai jasa. Katanya: bukankah kami dengan segala kebesaran dan fasilitas yang dimiliki telah mengasuhmu di antara keluarga kami, waktu engkau masih bayi yakni baru lahir dan engkau tinggal bersama kami saja tidak bersama keluarga lain menghabiskan beberapa tahun lamanya dari umurmu. Mestinya jasa itu engkau balas dengan baik, bukan lamanya dari umurmu. Mestinya jasa itu engkau balas dengan baik, bukan seperti apa yang engkau lakukan sekarang.6

Selanjutnya Fir’aun mengingatkan “jasa” keluarganya, diamengingatkan Nabi Musa tentang kesalahannya yang mestinya telah mengakibatkan nyawanya melayang. Fir’aun berkata: dan di samping itu, engkau juga telah berbuat suatu perbuatan yang telah engkau lakukan itu yakni membunuh orang mesir dan engkau termasuk kelompok orang-orang yang tidak membalas budi atas kebaikan kami memeliharamu lalu engkau
membunuh salah seorang bangsa kami. Atau tidak membalas budi bahwa kami membelamu dan tidak mengejar dan menangkapmu.” Thabathaba’i memahami ucapan Firaun, mengandung bantahan terhadap kerasulannya.

Seakan-akan Firaun berkata: “Engkau aku pelihara sejak kecil, engkaupun
tinggal sekian tahun bersama kami. Kami mengenal namamu dan sifatsifatmu tidak ada yang kami lupakan, maka berapa mungkin kamu
memperoleh kerasulan itu padahal kami mengenalmu.7
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah pengasuhan
yang dilakukan Firaun hanya sebatas jasmani saja bukan pada rohaninya.
Oleh sebab itu pemahaman agama yang dianut Firaun dan Nabi Musa
berbeda.

Makna tarbiyah terdapat juga dalam surat ali Imran ayat 79 penafsiran Sayid Quthb mengunakan teori munasabah antar kalimat dalam satu ayat yakni dari peryataan yang mengkritik tidak wajar seorang nabi
menyuruh umatnya beribadah kepadanya, kemudian terdaptlah sebuah nasehat untuk menjadi kaum Rabbani. Penafsiranya yaitu Seorang Nabi menyakini bahwa dia adalah seorang hamba dan hanya Allah sebagai tujuan dalam pengabdian dan ibadah semua mkhluknya. Karenanya tidak mungkin baginya mendakwahkan sifat ketuhanan yang menuntut manusia untuk beribadah kepadanya. Seorang Nabi tidak mungkin berkata kepada manusia “Hendaklah kamu menjadi penyembahku, bukan penyembah Allah SWT”
akan tetapi yang dikatakan Nabi kepada mereka adalah “hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani” dengan menisbatkan diri kepada rabb Tuhan Allah, sebagai hamba dan pengabdi kepadanya. Menghadap dan beribadahlah hanya kepadanya sehingga menjadi seorang yang tulus kepada Allah SWT, sehingga kamu menjadi orang yang Rabbani yakni seorangyang mempelajari al-kitab sehingga mendapatkan pengetahuan darinya.8

Sedangkan dalam penafsiran Quraish Shihab mengunakan bayanriwayat yang mengambil sebuah cerita masa dahulu adapun penafsirannya.Sekelompok pemuda agama Yahudi dan Nasrani menemui Rasul SAW.
Mereka bertanya: wahai Muhammad, apakah engkau ingin kami menyembahmu?” salah seorang di antara mereka bernama Rais mempertegas, apakah untuk itu engkau mengajak kami? Nabi Muhammad
SAW. Menjawab: “aku berlindung kepada Allah SWT dari penyembahankepada selain Allah atau menyuruh yang demikian. Allah SWT sama sekali tidak menyuruh aku demikian. Allah SWT sama sekali tidak menyuruh
demikian, tidak pula mengutus aku untuk itu.” Demikian jawaban rasul SAW. Yang diperkuat dengan turunnya ayat ini.9

Kemudian dilanjutkan mengunakan teori balaghatul qur’an dari segi kebahasaanya yakni terdapat pada kata رباني Rabbani terambil dari kata رب rabb yang memiliki aneka makna, antara lain pendidik dan pelindung.
Jika kata ini berdiri sendiri, maka yang dimaksud tidak lain kecuali AllahSWT.10

Selanjutnya mengunakan teori bayan bil ra’yi dalam memahamikaum rabbani yaitu penafsiranya mereka yang dianugerahi kitab, hikmah dan kenabian menganjurkan semua orang menjadi rabbani dalam arti semua aktifitas, gerak, langkah, niat dan ucapan kesemuanya sejalan dengan nilai-nilai yang dipesankan oleh Allah SWT yang maha pemelihara dan pendidik itu. Bahwa seorang rabbani harus terus menerus mengajar, karean manusia tak pernah luput dari kekurangan. seorang tidak boleh berhenti belajar, meneliti dan membahas, baik objeknya alam raya maupun kitab suci. Yang ditemukan dalam bahasan dan penelitian hendaknya diajarkan pula, sehingga bertemu antara mengajar dan meneliti dalam satu lingakaran yang
tidak terputus kecuali dengan putusnya lingkaran, yakni dengan kematian seseorang. Bukanlah pesan agama “belajarlah dari buaian hingga liang lahad” dan bukanlah Alquran menegasakn kerugian orang-orang yang tidak saling wasiat mewasiati tentang kebenaran dan ketabahan, yakni saling ajar mengajar tentang ilmu dan petunjuk serta saling ingat mengingatkan tentang perlunya ketabahan dalam hidup ini.11

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seorang Nabi utusan Allah SWT tidak mungkin melakukan kemusyrikan justru beliaulah yang menganjurkan menjadi orang-orang rabbani yang selalu terus menerus
belajar melakukan segala sesuatunya sesuai ajaran Allah SWT yang maha pemelihara dan pendidik .

Dapat disimpulkan makna Tarbiyah dari beberapa penafsiran diatas yakni sebuah proses menumbuh kembangkan suatu kebaikan berupa tingkahlaku atau sikap pada pribadi seseorang melalui proses pengajaran baik dalam segi jasmani maupun rohani dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah SWT bukan kerusakan atau sesuatu yang mendatangkan kebatilan yang orientasinya untuk mendapatkan kebahagiaan didunia dan di akhirat. Seperti halnya selalu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan
menghormati serta menyayanginya.    (http://digilib.uinsby.ac.id/16870/4/Bab%203.pdf)

{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنْ الشَّاهِدِينَ}(آل عمران/81).

{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ} (آل عمران/164).

{أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمْ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ

مُلْكًا عَظِيمًا}(النساء/54).

{وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا}(النساء/113).

{إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنْ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُبِينٌ}(المائدة/110).

{وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنْ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ}(لقمان/12).

{وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا} (الأحزاب/34).

{وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَِلأَبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ}(الزخرف/63).

{وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ الأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ}(القمر/4).
{حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ}(القمر/5).

II. Hikmah yang berupa pengetahuan ilahiyah (al-Kitab) yang dibawa para nabi tersebut digabungkan dengan kekuasaan (politik) sebagai kualifikasi kepemimpinan atas umat manusia :

{فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلاَ دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتْ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ}(البقرة/251)

{وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ}(ص/20)..

III. Hikmah adalah hukum-hukum Tuhan Allah SWT yang merupakan prinsip-prinsip normative yg harus mengatur kehidupan manusia:

{يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا الأَلْبَابِ}
(البقرة/269).

{وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنْ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ} (لقمان/12).

{ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}(النحل/125).

{ذَلِكَ مِمَّا أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ وَلاَ تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا} (الإسراء/39).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: