5 Komentar

Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan

Upaya Mensejajarkan Ilmu dan Agama di PTAI

Resensi Buku
Oleh: Moh. Yasin *)

integrasi-agama-ilmu.jpgJudul Buku : Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi
Editor : Zainal Abidin Bagir dkk.
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : 270 halaman

KIRANYA sudah sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnya pun kerap kali mengancam eksistensi agama. Dengan berlandaskan pada metafisika yang bertentangan dengan agama, teori-teori ilmiah sains cenderung menyudutkan agama, seperti teori penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya.

Fenomena ini mencapai titik puncaknya tatkala Charles Darwin mempopulerkan teori evolusi, lewat karyanya “The Origin of Species”. Sebuah penemuan baru yang banyak mendapatkan cekaman dan penuh kontroversial, namun mampu meruntuhkan doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama mengenai misteri kemunculan manusia. Gagasan ini kemudian diikuti oleh pandangan para Darwinisme mengenai fenomena alam, yang keberadaannya dianggap hanya faktor kebetulan belaka, dan tidak ada agen atau kreator yang menciptakannya (termasuk Tuhan).

Keradikalan sains modern dengan coraknya yang ateistik-materialistik itu dianggap oleh kaum agamawan sebagai sesuatu yang membahayakan. Dari kaum agamawan, paling tidak ada tiga corak dalam merespon atau menanggapi keradikalan paradigma sains modern yang ateistik-materialistik ini. Pertama, kelompok agamawan yang berusaha mempertahankan doktrin dan kepercayaannya dengan tidak memperdulikan penemuan sains modern (mereka mengisolasi diri dari dunia sains modern), kedua, meninggalkan tradisi dan mencoba mencari titik temunya dengan sains modern, dan ketiga berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah dan kontemporer.

Selanjutnya isu tentang perdebatan atau perjumpaan antara sains dan agama adalah turunan dari permasalahan ini, dan menjadi genre tersendiri di dunia keilmuan. Di tangan para teolog/agamawan dari Barat, perdebatan antara sains dan agama menghasilkan gagasan “sains teistik”, yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam konteks Kristen kontemporer, Ian Barbour mendasarkan pendekatan “integrasi” (integrasi teologis) dalam upayanya mempertemukan sains dan agama dengan empat tipologinya yaitu; konflik, independensi, dialog dan integrasi. Juga John F. Haught yang menggunakan pendekatan konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi.

Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai “sains Islami” atau “Islamisasi sains” merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. “Sains Islami” ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar, Ismail al-Faruqi, al-Attas dan akhir-akhir ini Mehdi Golshani. Di mana pemikiran mereka kerap kali dilabeli dengan “islamisasi ilmu”. Meskipun gagasan mereka berebeda, semuanya bergerak pada lapangan dan tingkat yang sama yaitu tingkat epistemologi dan sedikit menyentuh aspek metafisika.

Di tengah terjadinya tarik ulur antara kelompok yang mengusung “islamisasi lmu” dengan kelompok yang membiarkan ilmu pengetahuan untuk memenuhi kodratnya sendiri. Di Indonesia perbincangan mengenai pertemuan antara sains dan agama kembali mencuat, seiring dengan terjadinya metamorfosis atau konversi PTAI menjadi UIN, yang diikuti dengan berbagai perombakan struktural menyangkut penambahan ranah keilmuan baru yang semula dianggap tidak Islami dan sekular, yaitu membuka prodi-prodi baru yang selama ini tidak menjadi bagian struktur-struktur baku ilmu-ilmu keislaman seperti ekonomi, sosiologi, politik, psikologi, sains tekh, MIPA dan sebagainya.

Ringkasnya, dalam konteks Indonesia, upaya memberikan suatu warna keagamaan dalam pendidikan perguruan tinggi, saat ini telah menjadi perhatian perguruan-perguruan tinggi yang berbasiskan keagamaan. Dan buku ini bermaksud mengulas masalah ini dengan menspesifikasikan pada permasalahan mengenai konversi atau transformasi PTAI menjadi UIN sebagai konteks terdekatnya.

Pada bab pertama, buku ini mengulas tentang latar belakang isu “integrasi ilmu dan agama di perguruan tinggi”, yaitu menjawab mengenai persoalan mengapa ilmu dan agama perlu dipertemukan, terkhusus dalam konteks perguruan tinggi. Dua bab berikutnya mengungkap tentang bagaimana cara pandang terhadap ilmu dan agama dalam perspektif kontemporer, yaitu melihat cara pandang ilmu dan agama melalui gagasan pergeseran paradigmanya Thomas Kuhn dan gagasan perubahan paradigma dalam teologinya Hans Kung serta melihat ilmu dan agama lewat kaca mata perspektif kritis Jurgen Habermas.

Dan pada bab terakhir membahas tentang landasan teoritis dan dasar konseptual mengenai transformasi PTAI/IAIN menjadi UIN serta model pengembangan UIN di masa mendatang. Tema ini ditulis oleh ketiga Rektor UIN di Indonesia yaitu: Amin Abdullah (UIN Yogyakarta), Azyumardi Azra (UIN Jakarta) dan Imam Suprayogo (UIN Malang).

Meski lebih menitik beratkan pada permasalahan tentang konversi PTAI menuju UIN dengan melihat dari tingkat ontologis, epistemologis dan aksiloginya, perbincangan mengenai integrasi ilmu dan agama dari berbagai sudut pandang baik yang bercorak filosofis maupun wacana yang diusung dari sudut pandang berbagai agama dan multi disiplin keilmuan menjadikan perbincangan mengenai sans dan agama dalam kontek konversi PTAI menuju UIN dalam buku ini menjadi semakin kaya.

Penggunaan istilah “integrasi ilmu dan agama” yang secara aksinya (di dunia pendidikan) dimanifestasikan dalam konversi PTAI menuju UIN, dengan meletakkan al-Qur’an dan hadis sebagai sember utama. Bagi penulis, bukanlah istilah yang tepat, dalam bentuk ini, dan upaya mempertemukan ilmu dan agama dalam bentuk ini hanya sebatas upaya mensejajarkan ilmu dan agama saja. Karena landasan teoritis dari wacana konversi PTAI menuju UIN hanya mencoba memberikan porsi yang sama antara sains atau ilmu dengan agama dengan berlandaskan nilai-nilai universalitas Islam, yaitu bersumber pada al-Qur’an dan hadis. Hal ini juga mirip dengan wacana yang diusung oleh Mehdi Golshani dalam upayanya mensejajarkan sains Islam dengan sains teistik yang didasarkan pada al-Qur’an dan hadis. Dan hal ini jelas berbeda dengan integrasi, karena mengintegrasikan ilmu dan agama berarti membangun kemitraan yang lebih sistematis dan ekstensif antara ilmu dan agama dan mencoba mencari titik temu diantara keduanya.

5 comments on “Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan

  1. Maaf saya ambil bagian dari permasalahan ini karena sedikit banyak saya adalah aktor dari konversi IAIN Jakarta ke UIN Jakarta.
    Berbekal ilmu yang bisa dikatakan dari “barat” yang saya dapat dari salah satu perguruan tinggi umum Negeri di Indonesia, saya merasa ada yang kurang dari ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah sehingga saya mencari pelampiasan dari lembaga lain di luar institusi pendidikan (baca : HMI). Nah dari lembaga inilah saya mengenal dunia intelektual Islam yang”hidup”. Namun kok saya merasa dunia intelektual itu tak ada bedanya dengan yang saya dapat dari PT. Tetap term-term, world view yang dibawa sedikit banyak masih tercampur dengan term-term barat untuk tidak dibilang sama sama sekali dengan barat. Rasa gelisah ini yang membawa saya untuk terjun langsung dalam proses konversi IAIN ke UIN Jakarta.Tapi sayangnya juga tak saya temukan perpaduan indah yang ada dalam angan-angan saya dimana Agama dikaji secara Rational ( bukan dalam pengertian konvensional ilmiah) dan Sains dikaji secara Holistik (melibatkan pula sebab-sebab yang “Unseen”). Alih-alih mendapatkan yang saya inginkan, proses konversi ini juga mendepak saya dari Institusi ini karena tidak mampu berkompromi dengan sistem yang berlaku secara turun menurun berlaku di Institusi ini.Yang akhirnya membawa saya kedunia yang memang sudah jalur nya untuk saya mengabdi bagi Negara dan Bangsa ini.
    Akhirnya yang saya ingin katakan adalah jika proses konversi ini ingin berhasil membawa citra Islam dari setiap ilmu “profan” dan citra ilmiah dari ilmu “sakral” kita harus kembali memahami world view dari Islam itu sendiri bukan hanya dari AlQuran dan Sunah (yang sering disebut-sebut tempat kita kembali walaupun sang penganjur juga tidak memahami AlQuran dan Sunah sebagaimana adanya?) tapi juga mempelajari sejarah pemikiran manusia yang menghasilkan peradaban itu mulai dari peradaban kuno Yunani, Hindu, Islam, Kristen Helenistik, Romawi, Persia, China, Mongol, Eropa Kontinental, Analitik Inggris etc. Agar bangsa ini bukan hanya sekedar imitator dari semua peradaban besar itu tapi juga menjadi produsen pemikiran? Wallahu bi ‘alam bi sawab…….

  2. Integrasi (ilmu) agama dan umum tidak sekedar mensejajarkan ilmu agama dan ilmu umum melainkan sebuah integrasi yang dibangun di atas dasar worldview (ontologis), epistemologis dan aksiologi yang mapan dan sesuai dengan ajaran Islam. Jika tidak, yang tampil hanya labelisasi ayat atau agama tetapi bukan integrasi.

  3. urang yang nampak allah taala dari segala arah berpandukan kitab suci al quran dan kitab hadis ,rasanya tak perlu di kuatiri yang ianya sesat ,cuma yang di kuatiri salah pemahaman,sebab punca semua masaalah ialah salah pemahaman,yang menentukan sesat seseorang ,tak lain dan tak bukan ,selain allah taala dan rasulnya nabi muhammad s a w , adenko sabana nyo adenko belajar dengan kitab suci al quran dan kitab hadis ,seterusnya dengan alim ulama pewaris nabi ,seterusnya menjadikan alam takambang dijadikan guru , jadi dari sudut mana sekali pun kaji selidik di lakukan asal raja dan kerajaan di wilayah nusantara / antara nusa ini /antara bangsa ,ianya tetap menuju ke arah ,pagaruyung batu sangka yang meletakan mana mana raja, di dalam wilayah nusantara ini termasuklah ,raja dan kerajaan pasai di acheh, perkataan, pasai, dalam bahasa minang kabau artinya kemewahan yang melimpah ,itulah buktinya mana mana raja dan kerajaan yang ada di wilayah nusantara ini ,di asaskan oleh raja dan kerajaan pagaruyung, jadi mana mana raja dan kerajaan yang di asaskan raja dan kerajaan pagaruyung ,cuba mau mengajar raja dan kerajaan yang asal, yang meletakannya sebagai raja disitu dari belahan dirinya sendiri ,sudah tak betul dan tak kena pada tempatnya ,seperti se orang anak yang mendurhaka kepada kedua ibu bapanya yang melahirkanya , berkenaan tarikh serta masa ,saya sendiri cuba memastikan tarikh dan tahun kedatangan nabi adam di hantar kedunia ini ,sampai sekarang ,masih belum dapat dipastikan ,kecuali ,tarikh dan masa berkaitan ,nabi muhammad s a w,berdasrkan tahun hijrah seperti tarikh kelahiran /tarikh kerasulan nabi muhammad s a w . dan tarikh masa kelahiran nabi isa alaihissalam ,itupun berpandukan tarikh dan tahun hijrah dan tahun masehi /tahun kelahiran nabi isa , dan tarikh nabi nabi yang lain yang pernah di utus allah subhanahuataala kepada umat manusia .cuma sekadar kira kira /anggaran ,saja ,tarikh dan masanya, begitu juga tarikh dan masanya raja dan kerajaan pagaruyung batu sangka , cuma yang dapat di kesan serta dipastikan ialah ,selain dari wilayah asalnya raja /kerajaan pagaruyung batu sangka .tampeik basarang ula nago duduak tamanuang tiok sabanta takana juo ,oi oi ayam den lapeh . pengrtianya di atas pertambahan penduduk ,di atas dunia ini ,setiap dari suku kaum atau masyarakat ,bila sudah ada 4 dari suku kaun yang berlainan ,pada suatu penempatan baru maka di situ /dikawasan itu di letakan sa orang raja dengan tajuk negeri diberi berpenghulu dan rantau diberi beraja ,untuk memimpin masyarakat /penduduk kawasan itu , sama ada di wilayah /kepulauan sumtra /jawa/ sulawesi /kalimantan ,di kamboja /malaysia ,muangthai selatan,pilipina jadi adakah wilayah acheh di luar dari kepulauan sumatra /lebih jauh dari itu cubalah fikir fikir kan , sedangkan istana raja china dan istana raja jepun juga mengambil rupa dan bentuk bumbunya juga menyerupai istana raja minang kabau ,jadi adakah itu suatu kebetulan atau mereka juga sebagai keluarga asalnya minang kabau atau pagaruyung ,falsafah awalnya alam takambang dijadikan guru

  4. allahu qulliruhumin amri rabbi wama uutii tuminal ilmi illa qalila ,
    artinya .mereka bertanya kepada engkau ya muhammad ,hal keadaan ruh , katakanlah ruh itu ,urusan tuhanku , kamu tidak diberi ,pengetahuan hal berkaitan ruh , melainkan sedikit saja ,
    pengertianya sedikit bagi allah , sama dengan segala galanya bagi manusia . jangan lupa tanya pak ustaz ya

  5. […] Source: Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: