Tinggalkan komentar

Kebudayaan, Ideologi dan Estetika: Sebuah Analisis dan Evaluasi Kandungan Media

Terjemahan Ahmad Yanuana Samantho, MA, M.Ud

Hasil gambar untuk media

Tidak satupun kajian media dapat melewatkan pertanyaan yang sulit dan rumit yang dimiliki oleh kandungan isi media, oleh bentuk-bentuk simbolik yang mereka ciptakan dan edarkan. Efek-efek mereka, baik agensi maupun struktur, adalah bekerja, tanpa dapat dihindarkan melalui simbol-simbol. Inilah salah satu hal yang membuat mode persuasi berbeda dari mode produksi lainnya atau pemaksaan. Di sini bujukan dan hukuman yang dengannya kekuasaan bekerja adalah dan hanya bersifat simbolik.

Problem Simbolik

Kebudayaan Barat, mungkin juga semua kebudayaan, telah diganggu oleh simbol-simbol – apakah status dan fungsi dari keanehan ini, entitas ajaib yang berdiri untuk realitas material lain dan menyebabkan tindakan dari jarak jauh?

Hasil gambar untuk media

Tradisi agama-agama semitik Barat –Yahudi, Kristen dan Islam— menempatkan penekanan sentral ini mengenai problem penafsiran kata-kata Tuhan dalam al-Kitab, sebuah tradisi yang mencangkup bahaya-bahaya ilmu pengetahuan yang dinyatakan dalam mitos Kejatuhan (Adam) karena memakan buah pohon ilmu pengetahuan, dan yang telah membangun sebuah tradisi Hermeneutik dan Iconography (ilmu tentang arca/patung/lambang-lambang) di sekitar ‘apa yang sekarang kamu lihat sekarang kamu tidak lihat’, yang menjerat, yang menarik, yang mempesonakan, tapi mempunyai sifat alami yang sukar dipahami tentang penurunan wahyu/firman ketuhanan yang dihadirkan kepada mata manusia, sebagaimana seharusnya, secara tidak langsung – karena pandangan langsung dapat membutakan — melalui selubung bahasa.

Ambivalensi tentang status bentuk-bentuk simbolik adalah secara indah ditangkap dalam jejak-jejak (traceries) arsitektur keramik Islam di mana jejaring laba-laba, yang juga merupakan selubung yang telah menyelamatkan Nabi Muhammad (SAW) dari para pengejarnya, karena ia tersembunyi di dalam sebuah gua, dan kaligrafi yang menghadirkan kembali kata-kata Tuhan, yang saling bercampur baur untuk memberikan efek mempesonakan dan memusingkan.

Tradisi ini dalam perjalanannya telah mengilhami salah satu mata rantai utama dari filsafat Barat, yang diberi masukan, via Thomisme, di satu sisi kepada metode ilmiah moderen itu sendiri, dan di sisi lain kepada problem umum hermeneutik dalam ilmu pengetahuan (sciences) umat manusia.

Pada saat yang sama tradisi metafisika yang berakar dari filsafat Yunani, dengan pemikiran Parmenides yang sederhana tentang keberadaan (being) konseptual dan rasional, dari yang inderawi, tetap terganggu oleh hubungan di antara keduanya.

Hasil gambar untuk media

Keraguan Plato tentang kekuatan puisi dan kekuatan seni yang potensial merusak, dalam urusannya dengan indera dan emosi, merupakan nyanyian sirene yang mengacaukan manusia dari pencarian kebenaran, yang tersembunyi dalam bayang-bayang persepsi dan pengalaman langsung, dimasukan melalui ketakutan Kant tentang efek distorsi dari fantasiSchwarmerei  tentang disiplin yang diperlukan dari nalar-akal-otonom dalam rute perjalanannya dari intuisi kepada pemahaman atau penilaian, dari perasaan kepada kewajiban perintah-perintah moral.

Problem dan ketakutan ini kemudian dalam perputarannya telah memotivasi dan menstrukturkan ‘Kritik tentang Penilaian’ (Critique of Judgement) Kant, yang darinya masih mengalir banyak analisis kebudayaan dan estetika kontemporer, terdapat di balik perdebatan yang masih terus berlanjut tentang manfaat relatif dari jenis-jenis (genre) media seperti berita atau hiburan, ketakukan tentang pembisuan atau kemerosotan standar-standar pendidikan, dan kepanikan moral yang telah siap membandingkan efek-efek media seperti sebuah narkoba atau minuman keras (drug). Sesungguhnya seluruh perdebatan antara kaum modernis dan post-modernis adalah telah menuliskan tentang, dan sepanjang, pembedaan dan ketakutan ini, masing-masing sisi membalikkan term-term evaluatif dari perdebatan, kaum modernis mendukung akal-nalar dan kebenaran berlawanan dengan emosi dan estetika, kaum post-modernis membuat bualan tentang hal yang sensual (hawa nafsu inderawi), yang partikular (khusus), yang estetis (indah) melawan apa yang mereka lihat sebagai kendali generalisasi, abstraksi dari akal/nalar konseptual.

Di dalam Bab ini oleh karena itu saya ingin melihat perdebatan mutakhir tentang bagaimana kita berpikir tentang tingkatan simbolik dari kehidupan sosial dan implikasinya untuk bagaimana kita menganalisa dan mengevaluai bentuk-bentuk simbolik yang dihasilkan dan diedarkan oleh media.

Namun teori tentang simbolik, atau, sebagaimana mereka secara umum sebut, teori tentang perwakilan (representation), juga memiliki implikasi sentral bagi teori sosial secara umum, persis karena begitu banyaknya teori sosial kontemporer tentang diskusi lepas yang luas, hermeneutik, tipe post-modern, tidak hanya mengejar apa yang juga disebut perputaran kebahasaan (linguistic turn) dengan antusiasme, tapi dalam apa yang dimiliki secara umum tersirat secara sederhana mengasumsikan bahwa perputaran ini adalah antara diinginkan dan didirikan dengan baik, tanpa argumen.

Sesungguhnya, sebagaimana dapat dilihat pada kebanyakan literatur yang relevan, walaupun ini mungkin diklaim sebagai anti-foundationalis dan menolak klaim kebenaran sebagai sekedar usaha untuk memaksakan satu permainan bahasa khusus terhadap yang lainnya, ini kenyataannya menerima kebenaran yang tak dipertanyakan dari bahasa khusus dan model-model filosofis yang menjadi dasar perputaran tersebut, dan menyebarkannya sebagai fundasi yang tak dipertanyakan bagi argumentasi teoritis dan untuk setiap praktek sosial atau politik yang mungkin muncul darinya. Saya ingin, dalam Bab ini, untuk mempertanyakan asumsi yang menyenangkan ini, mengalir apa adanya dari kedalaman teori-teori yang bercacat tentang kebudayaan maupun bahasa.

Konsep Kebudayaan

Penggunaan konsep kebudayaan telah dirancang untuk menekankan dua hal.

Pertama, kecerdasan (the intelligence) agen manusia; kenyataan bahwa semua tindakan manusia adalah diberkati dan dimotivasi oleh makna (walaupun, sebagaimana saya telah tekankan, hal ini cenderung mengabaikan problem kebiasaan dan sumber mata air bawah-sadar tindakan manusia).

Kedua, peranan sistem kepercayaan yang dibagi bersama (shared), mode persuasi, ketimbang mode produksi sebagai fundasi masyarakat. Itu telah dimobilisasi sebagai sebuah tantangan di satu sisi kepada satu versi teori ideologi, kepada apa yang terlihat sebagai sangat deterministik, pertimbangan materialis tentang struktur dan proses sosial — khususnya yang yang juga disebut Marxisme ekonomistik di dalam dasarnya/bentuk suprastruktur – dan pada sisi lain kepada penafsiran kaum functionalist dan behaviourist, dalam pengertian tentang efek-efek, tentang hubungan antara simbol dan aksi.

Sebagaimana Gellner catat beberapa tahun yang lalu dalam sebuah diskusi tentang pengaruh Wittgenstein, Konsep sosiologis tentang kebudayaan (kesepadanan yang terdekat dalam bahasa publik kepada gagasan pribadi Wittgenstein tentang ‘bentuk kehidupan’) adalah sejenis proto-concept (konsep dasar/asli/sumber) yang cukup bermanfaat sebagai sebuah indikasi tulisan cepat tentang cluster tertentu dari fenomena, tetapi tidak dalam cara yang cukup persis untuk mengangkat, ketika menggunakan miliknya, suatu jenis penjelasan yang serius tentang sesuatu. Ini dapat meliput apa pun dari asumsi yang dibagi bersama dari sebuah serikat pekerja kecil kepada asumsi-asumsi yang dibagi bersama dari semua manusia (kelonggaran dan kelembutan dari konsep penjelasan kunci ini tentang keseluruhan sistem adalah tidak terkait dengan popularitasnya). (Gellner 1985: 178)

Singkatnya, problem penggunaan kebudayaan sebagai sebuah konsep analisis sebagaimana ini telah berkembang di dalam kajian kebudayaan dan media adalah bahwa hal ini menjadi sama sekali kosong.

Jika hal ini merujuk kepada alam yang diberkati makna tentang semua tindakan manusia dan semua struktur sosial, kemudian hal ini tidak dapat digunakan secara analitis untuk membedakan antara rangkaian tindakan atau struktur, contohnya antara sebuah program televisi dan sebuah keadaan yang ada pada pasar tenaga kerja, atau antara simbol-simbol dan simbol-simbol apa yang digunakan untuk mengemukakan atau menghadirkan.

Kebudayaan kemudian menunjuk setiap hal dan lalu tidak satu pun. Sebagaimana Stuart Hall telah nyatakan posisi ini, ‘kebudayaan adalah terlibat dalam semua praktek tersebut … yang membawa makna dan nilai bagi kita, yang membutuhkan untuk ditafsirkan secara bermakna oleh orang lain, atau yang tergantung pada makna bagi operasi efektif mereka. Kebudayaan, dalam pengertian ini, menyerap semua kemasyarakatan’ (Hall 1997: 3).

Di dalam bentuk antropologis ini konsep kebudayaan telah dikembangkan untuk mengkaji kebudayaan-kebudayaan lain – untuk mengkaji masyarakat yang bukan milik kita dari sisi luar.

Maka jika hanya tersirat, konsep pada kenyataannya telah mempunyai sebuah gagasan tentang pembedaan analisis yang built-in sejak dari awalnya, perbedaan antara kita dan mereka. Sementara pembedaan ini mungkin telah digunakan, lagi-lagi lebih sering secara tersirat (implisit) ketimbang tersurat (eksplisit), untuk maksud evaluatif – kebudayaan ‘primitif’ mereka adalah dinilai dari perspektif ‘kemajuan kita’ atau kebudayaan ‘yang telah berkembang’ – tujuan utamanya adalah menggambarkan dan menjelaskan –apa yang sebenarnya merupakan sistem norma-norma dan praktek budaya yang membedakan kelompok sosial ini sebagai kelompok sosial yang berbeda, dan mengapa caranya seperti ini ketimbang yang lainnya?

Dan juga mungkin, apakah bentuk kebudayaan yang khusus ini cocok untuk sebuah taksonomi yang lebih luas tentang organisasi kebudayaan manusia? Juga penting, pandangan antropologis yang secara umum diarahkan pada -dan dikembangkan untuk keperluan analisa- formasi sosial yang belum pernah mengalami pembagian tenaga kerja sosial dalam sebuah bentuk yang sangat berkembang dan kompleks – khususnya penciptaan sebuah dunia sosial yang terspesialisasi untuk produksi kebudayaan dan peredarannya dalam bentuknya yang moderen.

Singkatnya, dengan menggunakan terminologi Durkheim, ini telah dikembangkan  dan cocok untuk analisis tentang solidaritas mekanik di mana ini membuat beberapa hal untuk dipikirkan dalam pengertian masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu yang berjalan dalam waktu yang bersamaan sebagai sebuah satu bentuk tunggal kehidupan.

Maka ini adalah sebuah konsep yang kurang cocok untuk analisis kebudayaan dari dalam, di mana analisis merupakan suatu partisipan di dalam permainan bahasa dan di mana masalahnya adalah bukan salah satu analisis tentang sebuah kebudayaan yang telah didefinisikan sebelumnya sebagai sebuah keseluruhan masyarakat, tetapi tentang hubungan antara kelompok sosial yang berbeda dan bentuk-bentuk kebudayaan di dalam sebuah formasi sosial yang terpecah-pecah yang di dalamnya eksistensi dan keinginan dari sebuah kebudayaan yang lazim adalah dalam pertanyaan dan sesungguhnya, di mana keberlangsungan hidup dari bentuk sosial itu sendiri tidak dapat diasumsikan.

Dalam membuat sebuah analisis kritis tentang kemasyarakatan tersebut yang darinya kita perlu dapat membuat dua pembedaan krusial.

Pertama, semua dorongan pembebasan dalam proyek Pencerahan dan apapun ilmu sosial yang berharga, namanya tergantung pada menjadi dapat membuat sebuah pembedaan antara sebuah praktek sosial dan maknanya ini untuk partisipan, seperti penjelasan tentang bahwa praktek tersebut tidak habis terpakai (kehabisan tenaga) oleh pertimbangan aktor partisipan dari praktek tersebut.

Hal ini sering kali merupakan kasus bahwa kita mengetahui mengapa kita melakukan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang sebenarnya kita lakukan. Oleh karena itu kita perlu memiliki sebuah alat konseptual yang memampukan kita untuk membedakan struktur sosial dan tindakan di satu sisi dan makna-makna yang mereka punyai di sisi lain.

Tapi, yang kedua, kita juga perlu untuk dapat membedakan antara makna-makna yang tertanam di dalam dan dilahirkan oleh praktek-praktek tapi yang tidak terkodekan, di satu sisi, makna-makna yang terkodekan ke dalam bentuk-bentuk simbolik dan diciptakan dan diedarkan dalam bentuk tersebut di sisi lain. Keduanya adalah terliputi oleh istilah/pengertian kebudayaan tapi perbedaan di antara mereka adalah krusial.

Pendek kata, kita perlu membedakan antara kebudayaan sebagai penggambaran serangkaian makna-makna dan nilai-nilai yang diedarkan di dalam sebuah masyarakat, dalam hubungan dan proses sosial lainnya,yang dengannya mereka dapat dilibatkan namun yang darinya mereka dapat dibedakan.

Kita juga perlu untuk dapat membedakan antara rangkaian-rangkaian praktek sosial khusus yang berbeda yang melibatkan penggunaan bentuk-bentuk simbolik untuk tujuan mempertanyakan mengapa dan bagaimana manusia menggunakan bentuk-benruk simbolik, untuk tujuan apa dan dengan efek apa.

Konsep kebudayaan yang telah mendominasi kebanyakan sains sosial dan kemanusiaan juga tidak melakukan apa-apa. Ini juga adalah kasus di mana konsep ini sering digunakan, seperti di dalam cara di mana kesenian telah digunakan, untuk menyelundupkan dalam sebuah penilaian evaluasi, sesuatu yang di mana penggunaan istilah ‘kebudayaan’ ini adalah menurut dugaan mungkin dirancang untuk menggantikan. Ini ingin mengatakan, untuk menggunakan istilah kebudayaan adalah juga terlalu sering membuat pengakuan untuk superioritas etika, politik dan kemanusiaan dari pendekatan ini sebagai berlawanan dengan mereka yang mempelajari, katakanlah, ekonomi atau struktur sosial.

Teori Kebahasaan

Di dalam apa yang disebut kebahasaan (linguistik) berjalan sebuah model khusus bahasa yang telah digunakan dalam cara yang sama dan dengan efek yang sama. Karena sistem inter-subjektif dari komunikasi atau media, khususnya bahasa, adalah alat yang sangat diperlukan untuk perenungan, ini adalah sangat mengherankan jika mempersoalkan tentang sifat dan fungsi sistem komunikasi tersebut sebagai kebohongan pada jantung ilmu-ilmu sosial dan tentang perdebatan antara modernitas yang makin mendominasi bidang penyelidikan ilntelektual itu.

Saya akan mengambil salah satu contoh muthakhir yang sangat berpengaruh untuk memberi ilustrasi cara-cara di mana penggunaan teori bahasa yang sangat parsial dan bercacat memblokir kemungkinan sebuah, sesungguhnya usaha untuk menyumbang tidak sah, sebuah rentang evaluasi yang diperlukan. Namun saya pikir contohnya adalah perwakilan dari sebuah ortodoksi yang menyebar luas di dalam kajian media dan kebudayaan.

Dalam Theories of Repsentation (1997), Hall memulai dengan menganjurkan bahwa kita punya tiga pendekatan yang mungkin untuk menganalisis peranan bentuk-bentuk simbolik atau bahasa – yang bersifat perenungan (the reflective), kesengajaan (the intentional) atau yang terkonstruksi secara sosial.

Dia kemudian membuktikan, atas dasar model Saussurean tentang bahasa, bahwa bahasa adalah penengah (arbitrary) dalam hubungan kepada apa yang diwakili, dan pada saat yang sama terbentuk/terkonstruksi secara sosial dan menentukan atas penguna bahasa individual, karena anda tidak dapat memiliki sebuah bahasa pribadi dan karena bahasa yang kita gunakan ada lebih dahulu daripada kita.

Ini telah terbentuk sebelumnya dan telah dibagi bersama (di-share) oleh masyarakat para pengguna bahasa terdahulu sampai kita lahir atau yang kemudian kita bergerak dengan mempelajari bahasa tersebut. Tetapi Hall kemudian membuktikan bahwa hal ini berarti teori perenungan dan teori kesengajaan tentang bahasa adalah tidak dapat dipertahankan. Problemnya adalah hal ini adalah tidak benar.

Marilah pertama-tama kita ambil pertanyaan tentang kesewenang-wenangan/keberubah-ubahan (arbitrariness). Sementara ini adalah kasus yang jelas, sebagaimana dapat dengan mudah ditunjukkan dengan membandingkan dua bahasa, bahwa setiap kata dalam sebuah bahasa mempunyai hubungan yang secara murni berubah-ubah terhadap rujukannya, dalam pengertian bahasa dalam penggunaan sosial hubungannya tidak semua beruba-ubah.

Jika saya menunjuk kepada sebuah pohon kayu yang merupakan objek berdaun lebat yang tumbuh di sebuah ladang dan saya mengatakannya “sepatu’, maka setiap pembicara berbahasa Inggris yang rendah hati dan kompeten mengetahui bahwa saya salah dan bahwa saya tidak membawa makna yang dimaksud. Sesungguhnya hal ini persis untuk alasan ini bahwa Wittgenstein membantah bahwa makna terletak pada pemakaian sosial. Lalu kekuatan peniruan dari sistem simbol adalah telah mapan dan secara konstan berlabuh dalam pemakaian secara sosial.

Sebuah sistem simbol dapat berupa peniruan (mimetic) sepanjang itu terus-menerus bekerja secara meniru-niru, dan kemudian pertanyaan dalam sebuah komunitas bahasa yang ada sebagai apakah sebuah wacana yang ada mewakili kebenaran, paling tidak menurut kriteria kebenaran dalam peniruannya, pengertian reflektif yang dimapankan oleh komunitas tersebut, adalah sesuatu yang tepat sempurna dan dapat dijawab secara sosial. Apakah kebenaran ini dapat diterjemahkan di antara bahasa-bahasa dan komunitas bahasa adalah sebuah pertanyaan berbeda dan lebih sulit, tetapi salah satu yang dalam pandangan saya juga merupakan subjek untuk sebuah jawaban yang membenarkan. Maka salah satu fungsi yang terkonstruksi secara sosial dari bahasa adalah untuk merefleksikan representasi yang benar dari realitas lain.

Sebagaimana Habermas mengatakan hal ini dalam kritiknya terhadap Derrida, ‘proses-proses yang termediasi secara kebahasaan seperti perolehan ilmu pengetahuan, transmisi kebudayaan, pembentukan identitas personal, dan sosialisasi dan integrasi sosial, melibatkan penguasaan problem-problem yang dimiliki dunia: kemerdekaan proses pembelajaran yang Derrida tidak mengakui adalah terkait dengan logika independen dari problem tersebut dan medium kebahasaan yang disesuaikan dengan mereka (Habermas 1987: 295).

Sesungguhnya tidak mungkin ini tidak hanya sekedar menjadi dapat diterjemahkannya antara permainan bahasa yang akan menjadi pada issue tapi yang paling mungkin dari komunikasi interpersonal dan kemudian bentuk-bentuk yang dibangun dari interaksi sosial yang dikoordinasi dan dikolaborasi yang kita sebut sebagi masyarakat.

Ketika kita berbicara dengan orang lain, atau berkomunikasi dengan mereka melalui sistem simbol lain, kita menganggap, dengan jaminan yang baik dalam mengakumulasi pengalaman budaya manusia, bahwa kita adalah mentransfer sebuah makna dengan ketepatan yang relatif seperti itu kita dapat berbagi bersama hal itu. Tanpa kemampuan itu kita akan terjebak di dalam dunia pribadi kita. Hal ini bagi saya adalah bayangan neraka, dan secara pasti tidak ada resep untuk setiap kehidupan sosial yang bertahan, tapi ini muncul dalam kebanyakan tulisan post-moderen, dengan penyembahannya terhadap keluhuran (yang maha mulia) yang tidak dapat dinyatakan dan perbedaan, sebagai khayalan (utopia) yang dicari secara aktif dibalik ‘kekuasaan’.

Bagaimana pun juga, problem utama dengan teori reflektif bahasa yang muncul dalam situasi, yang lazim meningkat, di mana ‘realitas’ itu sendiri adalah terkonstruksi secara tak bersambung satu sama lain – maka tidak ada realitas eksternal yang tersedia untuk ditunjuk sebagai sebuah test (dalam istilah Kant, tidak ada institusi di luar sistem simbolik), atau, ‘realitas’ yang dirujuk adalah tidak terbuka untuk penyaksian indipenden dari penerima pertukran bahasa atau pesan. Jika saya belum pernah melihat dan tidak pernah dapat melihat sebuah pohon saya jelas tidak mempunyai alat untuk mengetahui apakah efek peniruan adalah benar atau salah.

Namun meskipun demikian kita secara sosial telah dapat menerima dan tentu saja telah menerima test untuk memutuskan secara memadai apakah mengatakan sebuah item berita secara memadai mereprentasikan kebenaran yang menjadi pokok isinya untuk dihadirkan.

Lebih dari itu, berita sebagai sebuah bentuk dapat berhenti mengada jika tidak ada kasus. Sekali saja anda menolak dalam prinsip kemungkinan bahasa secara khusus dan sistem simbol secara lebih umum, merefleksikan atau secara tepat menggambarkan sebuah realitas eksternal kepada sistem simbol itu sendiri, anda secara cepat membawa kepada posisi dari sebuah teori media seperti Baudrillard, yang berpendapat bahwa tidak ada lagi sesuatu sebagai realitas dan maka kita tidak dapat mengatakan bahwa Perang Teluk benar-benar ada (mengambil tempat).

Yang kita hadapi di sini, tentu saja, dengan sebuah point epistemologis yang lebih umum yang diterapkan kepada semua klaim kebenaran, apakah dalam fisika atau sosiologi.

Peraturan yang mapan secara sosial untuk penerimaan sosial tentang jaminan kebenaran akan berbeda dalam masing-masing sub-bidang, atau ‘permainan’ jika seseorang memilih untuk menggunakan perbendaharaan kata tersebut, tapi dalam pengertian evolusi sosial, permainan hanya akan berlanjut dimainkan, dalam kasus di mana jaminan tersebut adalah penting, sepanjang hal itu terus bekerja, sekedar sebagai teori-teori ilmiah dapat dikatakan menjadi benar selama seperti pesawat terbang terus terbang dan pemancar radio mengirimkan pesan-pesan.

Maka bahasa dapat dan melakukan pekerjaan secara meniru-niru selama hal ini secara sosial diperlukan bagi mereka. Maka teori refleksi dan dan konstruksi sosial tentang kebahasaan adalah tidak secara timbal balik tidak cocok, sebagaimana Hall dan yang lainnya terlihat memikirkan, karena peniruan itu sendiri diciptakan oleh dan berlatar praktek-praktek sosial.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang kesengajaan (intentionality). Di sini kita perlu membedakan dua issue. Ada dua latar untuk menyerang tentang kesengajaan. Di satu sisi kegagalan dari kesengajaan adalah terlihat sebagai berakar dari sumber wacana, di sisi lain hal ini adalah dicari di dalam alam wacana itu sendiri dan hubungannya yang tidak ditentukan terhadap apa ini mewakili dan bagaimana hal ini ditafsirkan.

Jika wacana adalah secara sosial dikonstruksi, bukankan bahwa hal itu berarti bahwa mereka mengatakan subjek mereka dan bahwa kemudian tidak ada ruang untuk kesengajaan (niatan) penulis/pengarang?

Apakah pengalaman fenomenologis kita tentang kesengajaan sekedfar sebuah khayalan, karena apa yang kita dapat pikirkan dan katakan adalah dalam sebuah pengertian yang secara kuat ditentukan oleh tatanan wacana, atau apa yang Foucault sebut sebagai rezim kebenaran, yang di dalamnya kita menemukan diri kita sendiri? Maka apakah masayakat ini yang berbicara melalui kita, bukan apa yang ditemukan oleh cogito Cartesian yang berbicara menggunakan bahasa sebagai sebuah alat? Apakah kegagalan kesengajaan bertempat pada sumber ungkapan (kata-kata)? Hal ini adalah secara mutlak sangat penting karena Kant, dan maka seluruh tradisi politik dan teoritis yang berakar darinya, mendasarkan idea tentang nalar-akal otonom, yang didefinisikan sebagai rasionalitas yang berguna, atau batasan, bagaimana pun kecilnya untuk penerapan kehendak bebas, dan lalu pembebasan (emancipation) di atas latar pengalaman fenomenologis tentang kesengajaan di dalam kesadaran diri sendiri (lihat Bowie 1990).

Maka kemudian pandangan kita tentang alam dan pencapaian yang mungkin tentang kesengajaan akan menyisakan dalam bagian tentang teori kita tentang sifat-sifat/alam dari subjek individual – sebuah problem yang terbungkus dalam pengertian identitas. Kemudian satu serangan yang berbeda terhadap kesengajaan muncul dari sebuah serangan terhadap subjek koheren (yang masuk akal) sebagai sebuah sumber wacana, ketimbang sebagai sesuatu yang terbentuk secara terus-menerus dab dibentuk ulang di dalam dan di antara wacana (diskursus). Saya ingin membuktikan bahwa setiap teori tentang agensi manusia yang diharapkan untuk menghindari determinasi total harus memelihara sebuah ruang untuk kesengajaan, bahwa di sana adalah sebuah subjek, yang cukup stabil sepanjang waktu dan secara internal disatukan, untuk melayani sebagai fundasi dasar untuk hubungan kesadaran relatif dengan dunia dan wacana, dan maka dapat membentuk wacana dengan kesengajaan (niat): (a) membawa satu makna ketimbang yang lainnya, dan (b) mempunyai efek khusus sebagai sebuah hasil wacana tersebut. Dan sebagaimana peniruan (mimesis), eksistensi dan kesuksesan kesengajaan adalah ditunjukkan dalam praktek. Hal ini tidak berarti bahwa semua wacana adalah disengaja (diniatkan) atau bahwa semua yang diniatkan adalah terealisir. Hal ini tidak berarti bahwa ketika bahasa, atau bentuk-bentuk wacana lainnya, digunakan secara sengaja bahwa niatan adalah terealisasikan secara cukup sering untuk konfirmasi sosial kemungkinan komunikasi yang disengaja. Tentu saja jika tidak ada kasus, hal ini sekali lagi akan menjadi sulit untuk menerangkan bagaimana agen intelligent mempertahankan semua tindakan-tindakan kolaboratif secara sosial. Hal ini tentu saja menjadi sulit untuk menerangkan mengapa mereka yang mengontrol atau bekerja di dalam media melakukan apa yang mereka lakukan ketimbang hal yang lainnya. Ini akan tidak mungkin untuk mengkritisi tindakan-tindakan mereka, tidak ada pertanggungjawaban tanpa kesengajaan.

Di sisi lain, kegagalan, ketidakmungkinan tentang kesengajaan dapat ditempatkan di dalam keraguan yang diperlukan, ketidak-lengkapan, hubungan yang terus-menerus tertidur antara bahasa dan makna sehingga apa yang kita dapat pikirkan secara beragam tentang penerimaan, penerjemahan kode (decoding) atau penafsiran adalah secara radikal berubah-ubah. Apapun makna yang kita maksudkan untuk membawa adalah tidak terhindarkan begitu memutarbalikkan perkataan dalam transmisi yang sedikit dipikulnya atau tidak ada hubungan dengan makna yang sebenarnya dibawa.

Lag-lagi tidak ada sistem mediasi yang benar-benar transparan. Hal ini jelas. Ini juga jelas bahwa setiap wacana yang kita kerjakan adalah sebuah proses sosial yang terus-menerus dalam pembangunannya. Kita tentunya dilahirkan di dalam kondisi budaya yang sudah ada sebelumnya, skema konseptual dan seterusnya. Sebagaimana di dalam dunia lainnya kita membangun wacana kita, tetapi tidak berada dalam kondisi yang tidak kita buat sendiri. Bagaimanapun juga, kesepakatan tersebut adalah sumber-sumber di luar dari yang kita bangun faktor yang berubah-ubah (variability) yang tidak terbatas tentang pembebasan bersyarat (paroles). Hal ini mempunyai dua implikasi. Pertama, struktur tidak menentukan kekhususan individual dari masing-masing ungkapan/ucapan, dan kecukupan hubungan antara makna yang dimaksud yang ditransmisikan dan makna yang secara aktual diterima adalah secara konstan teruji dan telah disesuaikan di dalam proses komunikasi kebahasaan itu sendiri seperti bahwa manusia dapat sepakat bahwa mereka saling berbagi bersama, jika tidak secara mutlak setidaknya secara memadai, sebuah makna, kesepakatan ini selalu bersifat sementara waktu, karena makna adalah selalu terbuka untuk revisi dalam sinaran ungkapan-ungkapan berikutnya. Yang kedua, masing-masing penggunaan bahasa mempunyai potensi untuk merubah konvensi (kesepakatan) di antara mereka sendiri. Tentu saja bahwa apa yang banyak teori katakan adalah salah satu fungsi dan efek dari penggunaan ‘artistik’ dari bahasa.

Jauh dari saya untuk membesar-besarkan atau melebih-lebihkan peranan kesengajaan (niat) individual dalam penciptaan dan peredaran makna-makna di dalam masyarakat. Tapi kita harus mencatat dalam berlalunya bahwa adalah sulit mendamaikan sebuah teori pembebasan tentang perbedaan dengan sebuah posisi determinis secara sosial tersebut, dan bahwa teori-teori kebudayaan post-modern berusaha untuk menggabungkan dua hal yang bertentangan – sebuah teori refleksi tentang identitas bahwa identitas tersebut dan lalu kesengajaan adalah tidak pernah terbentuk atau dimantapkan di dalam proses percerminan tanpa akhir dari penanda, dan sebuah teori tentang vitalisme yang ditarik dari Schopenhaur melaui Nietzsche, di mana ini adalah sifat Dionysian, dan kehendak terhadap kekuasaan yang dikeluarkannya, yang mendorong dan menjelaskan identitas manusia sebagai sebuah proyeksi, sebuah dorongan yang tidak pernah dapat ditangkap atau dipagari di dalam bahasa atau tentu saja dalam pemikiran konseptual.

Perdebatan ini penting karena ini adalah di atas landasan teori-teori kebudayaan ini bahwa teori kontemporer tentang tipe post-modern menjaga tantangannya. Pertanyaan tentang penilaian evalustif dalam hubungannya dengan kebenaran, keadilan atau keindahan dari bentuk-entuk simbolik adalah semuanya menyumbang bukan-pertanyaan dengan sebuah gelombang tentang tongkat sihir post-modern. Pada khususnya perputaran kebahasaan dan kebudayaan yang diambil oleh teori sosial strukturalis dan post-strukturalis memiliki tantangan relatifis untuk mengevaluasi yang sekarang terdapat pada jantung perdebatan tentang fungsi sosial dan efek-efek kekuasaan dari simbolik.

Evaluasi dan Fungsi

Usaha untuk membedakan antara kebaikan, keburukan dan kerja yang acuh tak acuh dalam praktek-praktek khusus adalah, ketika dibuat dalam keseriusan penuh dan tanpa kesombongan tentang kelas-kelas dan kebiasaan istimewa, sebuah elemen yang diperlukan dari proses sentral dari produksi kesadaran manusia (Raymond William, dikutip di dalam Hoggart 1995: 83)

Di dalam iklim intelektual, politik dan kebudayaan yang dominan, pandangan seperti itu, di mana William adalah sangat ketinggalan zaman, sebagaimana pendirian yang dia ekspresikan dalam buku The Long Revolution dan dipegang sepanjang hidupnya yang mewarisi tradisi artistik (kesenimanan), apa yang kadang-kadang dirujuk padanya, biasanya sekarang secara menghina, sebagai undang-uandang (canon) atau warisan, adalah perbendaharaan kebijakan manusia yang kita tidak ketahui pada bahaya kita. Karya-karya tersebut tidak mudah dihilangkan atas dasar bahwa mereka adalah produk ideologi dari sebuah kelas dominan atau gender atau ras, apresiasi mereka juga tidak dapat dihilangkan sebagai pasti elitis, patriarchal, atau etnosentris. Tentu saja usaha William di sepanjang kariernya adalah untuk melebarkan ketimbang untuk mempersempit rentang pekerjaan yang harus dievalusi dan akses sosial kepada karya tersebut dan proses evaluasi tersebut.

Bab ini adalah, oleh karena itu, secara sentral tentang problem evaluasi estetik. Hal ini memfokuskan pada pertanyaan tentang apakah kita dapat membuat penilaian evaluatif tentang isi kandungan media yang lebih dari sekedar ekspresi selera pribadi kita. Di dalam iklim intelektual individualis dan relatifis mutakhir ada ketidaknyamanan yang menyebar luas dengan penilaian evaluatif tersebut apakah sebagai kebenaran atau kepalsuan, benar dan salah, atau keindahan dan kejelekan. Pertanyaan yang kita hadapi, mengikuti perputaran moderen dan post-modern di dalam ilmu sosial dan kemanusiaan, adalah apakah penilaian tersebut dapat menjadi sesuatu selain daripada ekspresi yang ditentukan dan dikonstruksi secara kesejarahan tentang sebuah posisi sosial atau sebuah cara hidup yang tertentu.

Dalam prakteknya, penggunaan penilaian evaluatif adalah tidak dapat dihindarkan. Kita membuat penilaian tersebut setiap hari di dalam peran-peran yang beragam yang kita isi. Konsumen budaya membuat penilaian di antara bentuk-bentuk simbolik sebagai basis kehadiran mereka dan pilihan masa depan. Produser membuat penilaian karena mereka berhadapan dengan pilihan-pilihan yang terlibat dalam memutuskan apa yang dibuat dan bagaimana membuatnya.Para pembuat keputusan/kebijakan, para politisi, dan para warga negara membuat penilaian dalam perkiraan mereka tentang penampilan kinerja institusi media. Akademisi membuat penilaianketika memutuskan buku apa yang direkomendasikan kepada siswanya. Pasa siswa membuat penilaian ketika memutuskan apa, di mana, dan dengan siapa ia belajar. Pertanyaannya, oleh karena itu, adalah bukan apakah kita harus atau membuat penilaian evaluatif tersebut, tetapi kriteria yang melaluinyapenilaian-penilaian tersebut dibuat dan disahkan. Ketika kita mengatakan tentang program televisi, sebuah rekaman musik, sebuah buku, atau lukisan itu baik atau buruk, atau lebih baik atau lebih buruk ketimbang contoh yang lain, apa yang kita maksud, dan untuk perluasan apa kriteria dan penilaian tersebut dapat dipaksakan untuk siapapun selain diri kita sendiri? Di atas semua itu, saat ii pertanyaan ini muncul dalam pengertian nilai-nilai relatif yang juga disebut high culture (budaya adiluhung/budaya tinggi) sebagai lawan dari budaya populer, dalam pengertian tentang elitisme yang diduga terlibat dalam melewatkan setiap penilaian kritis intelektual terhadap selera budaya atau aktifitas dari orang lain dan dalam pengertian tentang etnosentrisme tentang evaluasi-evaluasi lintas-kebudayaan. Hal ini menemukan ekspresi dalam membedakan pendekatan-pendekatan terhadap media, kebudayaan dan kebijakan (policy) pendidikan. Contohnya, issue penilaian nilai budaya telah menjadi sentral untuk perdebatan di Amerika Serikat tentang kebenaran politis dan isi-kandungan kurikulum. Ini juga adalah lahan bagi perdebatan seputar legitimasi dan masa depan perkembangan kajian media dan kebudayaan di dalam pendidikan tinggi di Inggris, di mana para politisi, para jurnalis dan sekutu mereka dalam akademia, banyak dari mereka yang harus dan mungkin mengetahui lebih baik, berpendapat bahwa novel Jane Austen adalah sebuah objek yang paling pantas utuk kajian universitas, sementara opera sabun tidak.

Semua evaluasi bersandar pada sebuah definisi yang terdahulu tentang fungsi. Bagaimana baiknya kita menilai sesuatu adalah telah dilakukan tergantung pada apa yang kita pikirkan telah dilakukan. Untuk menilai sebuah novel berhadapan dengan standar yang sama tentang kebenaran atau kepalsuan sebagai sebuah cerita berita atau untuk menerapkan standar yang sama dari penilaian etika terhadap sebuah tindakan dan terhadap sebuah pernyataan tentang sebuah tindakan adalah melakukan apa yang oleh para filosof sebut sebuah category error (kesalahan kategori). Hal ini kemudian sebuah kesalahan untuk mencari sebuah fungsi tunggal, apakah kita menyebutnya sebagai seni atau komunikasi, atau sebuah standar tunggal dari evaluasi. Bentuk-bentuk yang berbeda dari komunikasi mungkin telah diberkati dengan niat manusia yang berbeda-beda atau fungsi-fungsi yang berbeda, apakah disengaja atau tidak. Contohnya, mereka dapat dirancang untuk mengatakan kepada orang lainnnya tentang sebuah keadaan dunia., untuk membawa sebuah kebenaran. Mereka mungkin dirancang secara instrumental – untuk mencapai sebuah tindakan yang ada dari jarak jauh – sebuah keteraturan atau instruksi. Mereka mungkin dirancang untuk menciptakan dan/atau memperkuat sebuah identitas kelompok, yaitu fungsi mereka mungkin secara primer phatic. Mereka mungkin dirancang dan digunakan untuk ekspresi diri – untuk membawa kebenaran batin tapi pada saat yang sama untuk menolong orang memahami dengan memproyeksikan siapakah mereka itu. Mereka mungkin dirancang untuk kesenangan. Di dalam masing-masing kasus cara-cara di mana mereka bekerja dan penilaian tentang bagaiman baiknya atau buruknya mereka bekerja akan berbeda, Contohnya, hanya karena bentuk-bentuk simbolik atau pesan-pesan mungkin didistribusikan pada sistem media yang sama – dengan penyiaran televisi contohnya – tidak berarti bahwa mereka mempunyai fungsi yang sama dan dapat dinilai dengan standar yang sama. Dari perspektif jenis (genre) ini memaikan peran yang penting dalam proses evaluatif; berita adalah tidak sama dengan drama, pendidikan adalah tidak sama dengan hiburan. Argumen evaluatif adalah seringkali pada kenyataannya pertanyaan tentang genre kebingungan. Dapatkah film ‘dokumenter-opera sabun’ dinilai, dan apakah mereka dalam kenyataannya dinilai oleh para pemirsanya, dengan standart kebenaran dokumenter atau standar naratif dan dramatik dari fiksi dramatik? Apakah surat kabar secara primer mengisi sebuah fungsi politik ataukah fungsi hiburan? Argumentasi tentang tabloidisasi atau ‘pembisuan’ berputar di sekitar issu definisional ini.

Dalam hubungan terhadap semua tipe yang mungkin ini tentang penilaian evaluatif dua pertanyaan berikutnya telah muncul. Pertama, untuk perluasan apakah penilaian-penilaian ini terkonstruksi secara sosial; yaitu dapatkan kita menerangkan kesamaan dan keragaman antara penilaian tersebutdalam pengertian tentang faktor sosial lain seperti kelas, dan jika begitu apakah hal itu pada kenyataannya berarti bahwa penilaian evaluatif adalah sekedar ekspresi dari, atau post hoc rasionalisasi dari, sebuah pola yang ada dari konsumsi kebudayaan dan kesenangan atau manfaat lain yang diturunkan darinya? Ini adalah versi sosiologis dari de gustibus non disputandum est. Yang kedua adalah penilaian evaluatif, dan setiap usaha untuk membenarkan mereka sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar selera pribadi, benar-benar ekspresi dari kepentingan sosial dan penggunaan dari apa yang Bordieu sebut sebagai kekerasan simbolik, yaitu mobilisasi kekuasaan evaluatif di dalam sebuah perjuangan hegemonik yang lebih luas antara kepentingan sosial kelompok-kelompok? Di sini ada sebuah issue krusial, sebagaimana kita lihat di dalam Bab 5, apakah sejenis penggunaan dalam apa yang saya terikat di dalam Bab ini, tentu saja dalam buku ini, dapat menjadi lebih secara umum dan secara sosial dan filosofis terlegitimasi atau sekedar sebuah usaha dari seorang intelektual untuk mengeksploitasi dan pada saat yang sama memperkuat keuntungan yang diperoleh dari keanggotaannya dari sebuah kelompok sosial yang memiliki level tinggi dari modal kultural dan kekuasaan untuk memaksakan evaluasi mereka kepada yang lainnya.

Sosiologi Kesenian

Akar dari sosiologi kontemporer, pendekatan konstruktifis sosial terhadap kesenian dan kritiknya tentang evaluasi dapat ditelusuri jejaknya kembali kepada ktitik Hegel tentang apa yang ia lihat sebagai individualist Kant secara berlebih-lebihan dan konsepsi asosial tentang subjek yang dinilai. Hal ini membawa Hegel untuk menekankan kemampuan sosial pada pengorbanan dari yang bukan/tidak-sosial, dan untuk memfokuskan pada problem apa yang dia sebut Sittlichkeit, bahwa serangkaian norma-norma sosial atau kebisaan yang dibuat, dia berpendapat, kemungkinan sosial. Problem di dalam teori praxis Hegelian, dari sebuah sudut pandang problem yang Hegel ambil alih dari Kant tentang penciptaan komunitas manusia yang dapat hidup terus di luar subjek refleksif rasional, itu adalah bentuk-bentuk proyeksi kreatif dan objektifikasi yang filsafat praxis tempatkan tidak dapat dijamim untuk menghasilkan kesatuan sosial. Untuk alasan inilah bahwa beberapa telah melihat pemikiran Hegel pada masa akhir hayatnya sebagai makin menjadi konservatif secara sosial. Dalam merespon untuk problem ini dia menekankan cara-cara di mana struktur umum pemikiran dan objektifikasi mereka dalam simbol-simbol dan bentuk-bentuk institusional yang diekspresikan dan oleh karena itu pada saat yang sama menciptakan rasionalitas sosial yang lebih besar, atau lebih merupakan konkordansi dari sosial dengan rasional. Di dalam garis pemikiran ini, Hegel melihat kesenian sebagai agama baru, atau menjadi sebagai apa yang secara umum dikenal di dalam tradisi filsafat ini, “mitologi baru’. Tidak ada tempat di sini untuk pergi kepada perdebatan rumit di dalam wacana filosofis modernitas tentang kebutuhan atau kemungkinan dari penciptaan mitologi baru atau sebuah agama baru sebagai medium yang diperlukan untuk pengikatan sosial keluar dari kutukan dari sebuah doxa yang telah menghancurkan dan prinsip penolakan teologi dogmatis; hubungannya dengan analisis kesenian dan mitologi dari Yunani Klasik dan mobilisasi yang dihasilkannya, sangat terkenal di dalam karya Nietzsche, tentang kontras antara Dionysus dan Apollo. Hal ini telah dilakukan dengan baik oleh Bowie dan Hawthorn di antara yang lain, dan adalah sebuah subjek untuk sebuah tesis dalam haknya sendiri. Cukup dikatakan di sini bahwa argumentasi yang post-Moderen pikir begitu novel kembali kepada masa paling awal dari pemikiran Pencerahan moderen, dan problem yang dimunculkannya adalah asli sulit baik secara filosofis maupun secara sosiologis dan tidak dapat dipecahkan dengan pemberian kuasa dari pencelaan ‘subjektifikasi wujud’ atau logosentrisme, sebagaimana banyak ahli teori kebudayaan kontemporer kelihatannya memikirkan. Apa yang dapat dikatakan adalah bahwa ini menyingkap sebuah hubungan yang komplek terhadap pertanyaan tentang tradisi dan nilai-nilainya dan bahwa, walaupun pada akhirnya Hegel menyatakan kematian kesenian dalam menghadapi kekuasaan yang lebih besar dari filsafat, estetikanya adalah merupakan fundasi-dasar dan tetap menjadi sumber dari semua sosiologi kesenian. Dalam perkembangan sosialnya, teori dia tentang kesenian sebagai sebuah ekspresi dari masyarakat dan perkembangannya telah dikombinasikan pertama dengan teorisasi Herder tentang kebudayaan, dan secara khusus bentuk-bentuk simbolik dari bahasa, sebagai ekspresi dari orang tertentu atau rakyat (volk) dan cara-cara hidupnya, dan kemudian dengan pengembangan Durkheim tentang gagasan Kant tentang kategori a priori dari pemikiran, sebagai basis untuk pemikiran seperti itu, menjadi sebuah konsep kategori a priori sebagai ekspresi simbolik dari ikatan sosial yang telah ada sebelumnya yang ditransmisikan tidak secara eksplisit tetapi melalui penguatan ritual. Di sini kesadaran kolektif yang menjamin koordinasi sosial dan kemampuan reproduksi dari suatu keseluruhan sosial yang dapat terus hidup adalah bukan hasil dari interaksi yang bermanfaat, juga ini bukan proyeksi struktur sosial itu sendiri. Dari perspektif tersebut semua pertimbangan nilai adalah internal terhadap kategori pemikiran dari budaya yang ada atau masyarakat, dan oleh karena itu tidak dapat dikritisi baik dari dalam maupun dari luar. Kebenaran dan kepalsuan atau setiap pertanyaan tentang hubungan variabel antara bentuk-bentuk simbolik dan struktur-struktur kekuasaan politik di dalam masyarakat adalah menurut definisi diatur diluar dari pengadilan. Mereka tidak dapat dipikirkan di dalam paradigma ini. Inilah problem dan paradigma yang sekarang mendasari kebanyakan jalan lintas untuk teori kebudayaan dan adalah salah jaminan bagi penerbangan dari evaluasi. Ketegangan dan kesulitan, tentu saja di dalam akhir problem-problem yang tak dapat diatasi, yang muncul dari usaha untuk menggabungkan posisi ini dengan sebuah kritik ideologi yang diturunkan dari pengembangan Marxisme tentang teori praxis Hegelian, sebagaimana dalam cara-cara mereka yang beragam, banyak teoritisi post-Modern sekarang berusaha untuk melakukan, dengan mengkombinasikan sebuah kritik ideologi yang jelas tentang praktek-praktek yang menandakan atau wacana di dalam pelayanan kekuasaan, sementara pada saat yang sama berpendapat dari sebuah teori Durkheimian, Herderian tentang kebudayaan dan kesadaran kolektif sebagai ditentukan secara sosial dan menentukan, adalah jelas dalam karya Bourdieu, mungkin yang paling heroik, cerdas dan secara teoritis peduli berusaha untuk menggabungkan dua tradisi. Ini adalah ketegangan dan kesukaran yang secara terus-menerus dalam permainan di dalam analisis kontemporer dan evaluasi tentang bentuk-bentuk yang dihasilkan dan diedarkan oleh media.


Modernitas dan Spesialisasi Ruang Estetika

Pertanyaan bahwa analisis bentuk-bentuk simbolik masih kita miliki adalah diturunkan kepada kita dari Pencerahan dalam dua cara. Pertama, proses modernisasi, sebagaimana Weber dan Crassier kemukakan, secara institusional perpecahan antara dunia kesenian dengan praktek-prakter sosial lainnya sebagai bagian dari proses umum spesialisasi sosial. Kedua, dalam kesejajaran dengan perkembangan sosial ini, filsafat Pencerahan, khususnya dalam karya Kant, telah menciptakan estetika sebagai sebuah mode khusus dari kognisi (mengetahui) dan evaluasi. Spesialisasi adalah telah dicerminkan oleh oleh spesialisasi epistemologis. Kemudian telah menciptakan serangkaian problem dalam sosiologi dan estetika yang dengannya kita masih berhubungan, dan pada saat yang sama rangkaian alat-alat konseptual untuk memikirkan tentang problem-problem tersebut, termasuk konsep utama kesenian dan estetika, yang dengannya, bagaimana pun tidak mudah sebagaimana saya akan tunjukkan, kita sekarang bekerja. Ini adalah pergerakan ganda yang, untuk kasus Inggris, William memeriksanya dalam buku-buku: Culture and Society dan The Long Revolution: “usaha untuk membedakan kesenian dari yang lainnya, sering terkait erat dengan praktek-praktek adalah sebuah proses sosial dan historis yang sangat luar biasa pentingnya. Usaha untuk membedakan “estetika” dari jenis perhatian dan respon lainnya adalah, sebagai sebuah proses sosial dan historis, mungkin bahkan lebih penting’ (Williams 1981: 126).

Proses spesialisasi kemudian dalam perjalanannya menciptakan sebuah kelompok sosial spesialis dan institusi yang terkait – artis, kritikus, galeri, museum,dll. – yang pekerjaannya dan kepentingannya adalah, sebagaimana sosiolog seperti Becker (1982)dan Bourdieu (1984, 1993, 1996) telah menganalisa, untuk menciptakan dunia praktek-praktek dan nilai-nilai yang lestari dengan sendirinya, dan sebuah publik yang tergabung yang Becker sebut “dunia kesenian” (art worlds), dan Bourdieu sebut “lapangan kesenian” (artistic fields). Hal ini dalam perjalanannya telah membawa pada keseluruhan tradisi sosiologi kesenian yang berusaha untuk menerangkan penciptaan dan evaluasi kesenian di dalam pengertian (istilah-istilah) sosial dan historis. Ini adalah tradisi konstruktifis sosial dan historicist dari sosiologi yang telah mendominasi pemikiran mutakhir tentang simbolik, dan yang secara terus-menerus terpanggil kepada pertanyaan proses evaluasi. Ilmu pengetahuan yang karya ini telah hasilkan adalah nyata dan bermanfaat dan tantangannya untuk mengevaluasi harus dihadapi. Kemudian, apa yang menjadi pernyataan utamanya? Di sini saya akan mengambil karya Bourdieu sebagai jenis kasus, walaupun dengan tanpa maksud semua sosiolog kesenian akan mendukung semua bagian dari teorinya.

Semua sosiologi adalah sebuah proses demistifikasi, penyingkapan ‘kebenaran’ di balik hal-hal yang‘taken for granted’ dari eksistensi sosial sehari-hari. Sejarah sosiologi kesenian kemudian terdemistifikasi dan dengan demikian cenderung untuk merelatifkan evaluasi di atas empat latar. Pertama ini menunjukkan bagaimana pembedaan antara dunia (alam) produksi simbolik, konsumsi dan rezim nilai-nilai yang terkait mereka telah secara historis dan secara sosial menciptakan pembedaan evaluatif tersebut yang secara luas digunakan dalam masyarakat kita dan yang menyokong, dalam suatu cara yang ‘taken for granted’, banyak perdebatan evaluatif, antara kesenian dan sains, antara seni yang tinggi dan seni populer, antara seni dan kerajinan (art and craft), antara kesusastraan dan bentuk-bentuk tulisan yang lainnya, dan seterusnya, dapat ditunjukkan kepada secara historis dan lintas budaya. Ini kemudian menantang idea, sentral untuk sebuah rentang evaluasi kebudayaan, tentang otonomi estetika, bahwa ada dunia khusus dari kesenian yang merupakan tempat penyimpanan dari nilai-nilai kemanusiaan yang superior atau universal, yang terhadapnya berbagai praktek budaya dan sosial yang beragam dapat dinilai. Adalah penting untuk menekankan bahwa tantangan ini dapat bekerja dalam dua cara. Hal ini menantang idea tidak sekedar kekhususan dan otonomi dari sains dan maka meletakkan latar untuk tantangan post-modern bahwa semua hubungan kita dengan dunia dalam beberapa pengertian adalah estetika, dan pengetahuan kita dalam beberapa pengertian adalah fiksi.

Kedua, ini menunjukkan bagaimana di dalam masing-masing bidang yang khusus para produser dan konsumen kesenian (atau tentu saja sains) adalah terlibat dalam penciptaan secara persis dengan apa yang Bourdieu sebut ‘fields’ (bidang/lapangan), ini ingin mengatakan serangkaian ikatan sosial dari relasi kekuasaan yang merupakan komunitas interpretatif dan tergabung dengan rezim nilai. Point krusial di sini adalah bahwa lapangan tersebut adalah secara historis dan sosial adalah tergantung (sementara) dan merupakan faktor yang berubah-ubah. Sentral di sini adalah demonstrasi tentang cara-cara di mana pembagian antara Seni yang Tinggi (High Art) dan Budaya Populer (Popular Culture), sebagai sebuah pembagian tentang publik dan siapa yang memproduksi untuk mereka dan sebuah pembagian rezim nilai, adalah diciptakan dan tentang peranan yang dimainkan dalam pembagian ini dan evaluasi relatif ini tentang hubungannya dengan ekonomi. Hal ini lalu mengaku untuk menunjukkan bahwa kriteria untuk evaluasi adalah diproduksi secara sosial dan secara sosial faktor-fakror yang berubah-ubah dan atas dasar itulah cenderung untuk berpendapat bahwa mereka oleh karena itu adalah berubah-ubah (arbitrary). Itulah semua yang dapat dikatakan orang tentang sebuah evaluasi adalah bahwa ini adalah sebuah evaluasi yang tepat untuk rezim nilai tersebut dan bahwa produk, pemirsa dan penilaian adalah dihasilkan oleh sebuah proses penguatan yang saling timbal balik di dalam lapangan. Sebagaimana saya akan coba tunjukkan, hal ini adalah bukan, dalam pandangan saya, sebuah konsekuensi yang dibutuhkan.

Ketiga, hal ini menunjukkan fakta historis yang sudah tentu (pasti) tentang peralihan selera bahkan di dalam lapangan tersebut. Ini juga dapatberusaha dan menerangkan peralihan tersebut, apakah dalam pengertian dinamika internal dari lapangan melalui sebuah perjuangan yang terus-menerus untuk pembedaan dan lalu sebuah kebutuhan dan proses yang terus-menerus dari diferensiasi atau dalam pengertian tentang determinan sosial eksternal.

Keempat, di dalam beberapa versi, di mana Bourdieu adalah contoh tokoh terkemuka, ini kemudian mengemukakan pendapat bahwa masyarakat itu sendiri dapat dilihat sebagai sebuah lapangan dan sebuah rezim nilai yang di dalamnya praktek pekerjaan evaluasi selalu dan secara eksklusif bersifat ideologis. Kriteria untuk evaluasi relatif tentang produk budaya dan praktek konsumsi dari kelas-kelas yang berbeda, khususnya dalam kasus Bourdieu kriteria estetika berakar dari Kant tentang budaya tinggi sebagai khazanah dari nilai-nilai superior, khususnya mereka yang tidak berkepentingan dalam menghormati kepentingan sosial-ekonomi orang lain dan tentang pemisahan dari kepuasan yang kasar/kotor, segera dan berjangka waktu pendek dan kesenangan terhadap daging, bekerja pada saat yang sama untuk memperkuat inferioritas (rasa rendah diri) sosial dari kelas yang terdominasi denganmenyalahkan selera dan praktek-praktek budaya mereka sebagai produk kelemahan kecerdasan mereka,kepekaan inderawi, bahkankebaikan moral, sementara pada saat yang sama mempertahankan keistimewaan kaum intelektual sebagai pemegang monopoli evaluasi-evaluasi yang sah tersebut.

Sekarang tidak ada pertanyaan dalam pandangan saya bahwa pendekatan umum ini memberi kita ilmu pengetahuan yang nyata dan bahwa setiap pertahanan tentang kriteria evaluatif sebagai sesuatu selain daripada ekspresi dari sebuah selera pribadi yang sementara dan berubah-ubah atau ekspresi ideologis dari sebuah posisi sosial dan kepentingan harus menemui tantangannya.

Hal ini dapat dilakukan di atas latar-latar berikut. Pendekatan konstruktifis sosial cenderung untuk meruntuhkan kesenian dan evaluasinya secara terlalu mudah menjadi ideologi dalam tiga cara. Pertama, dengan menggabungkan dirinya sendiri dengan pendekatan linguistik struktural, ini mengabaikan fungsi peniruan dari bentuk-bentuk simbolik dan lalu evaluasi mereka pada basis tersebut. Salah satu fungsi yang kesenian mungkin telah bekerja adalah untuk memberitahu kita ‘kebenaran’ tentang dunia, bahkan jika kebenaran tersebut adalah dibawa dalam bentuk ‘fiksi’. Maka kita mungkin ingin mempertahankan sebuah evaluasi yang mengkritisi sebuah karya atas dasar dari ketepatan (accuracy) dari gambarannya tentang beberapa aspek atau kehidupan yang lain. Dan hal ini benar bukan sekadar tentang jenis (genre) faktual pada lahirnya seperti berita atau dokumenter tetapi tentang sebuah cerita fiksi yang ini mungkin dengan sempurna tepat untuk mengevaluasi atas dasar realisme atau kelemahan realisme dari penggambarannya tentang karakter lainnya, lingkungan sosial, pola-pola motivasi, alur keluaran, dan seterusnya. Point krusial adalah bahwa kita membuat penilaian tersebut setiap waktu dan kriterianya adalah secara sosial tidak berubah-ubah dan tidak murni internal untuk komunitas interpretatif, tanpa komunitas tersebut didefinisikan sebagai semua umat manusia. Pengakuan diuji dengan bukti-bukti dari luar lapangan khusus dari kesenian. Tentu saja problem yang terus berlanjut bahwa aspek non-peniruan (non-mimetic) dari kesenian yang telah muncul tidak akan eksis tanpa kita dapat membuat dan mengoperasikan pembedaan ini.

Yang kedua, dengan memfokuskan pada peralihan selera dan rezim nilai-nilai ini menghindarkan pertanyaan tentang apa yang membuat jenis-jenis bentuk-bentuk simbolik atau praktek budaya menjadi spesial dan mengapa manusia menginvestasikan waktu dan usahanya baik dalam produksi maupun konsumsi. Dalam menggambarkan proses historis spesialisasi ruang dan peralihan selera (cita rasa), ini tidak menerangkan mengapa di sepanjang proses sejarah ini manusia terus memproduksi sebuah rentang bentuk-bentuk dan jenis-jenis, lukisan, ukiran, drama, gaya arsitektural, dan seterusnya, yang tidak punya kejelasan dan keperluan sosial yang segera, tapi yang berlangsung lama sepanjang catatan sejarah dan kebudayaan. Sebagaimana Henion mengatakannya dalam sebuah diskusi tentang karya Haskel tentang evaluasi peralihan dari seni ukiran klasik, ‘stabilisasi objek adalah sebagai sama sulitnya untuk menerangkan variasi kategori dari apresiasi mereka (1995: 254). Maka ini mungkin bahwa praktek dan ciriteria evaluasi di sini adalah lebih konstan di dalam rekaman sosial dan historis ketimbang yang diijinkan oleh konstruktifisme sosial. Di sana mungkin ada jenis-jenis, objek-objek, dan mode-mode evaluasi yang dalam kata-kata Hume telah menyelamatkan semua perubahan pikiran dengan tiba-tiba tentang mode dan fashion, semua kesalahan tentang kebodohan dan iri hati.

Ketiga, dengan melihat selera dan evaluasinya sebagai berubah-ubah dan sebagai hasil yang terkonstruksi secara sosial dari perjuangan simbolik ini gagal menerangkan apa yang memotivasi proses ini dan lalu mengabaikan pertanyaan krusial tentang kesenangan estetika. Sebagaimana telah kita lihat, pendekatan kulturalis melihat semua kehidupan sosial dari perspektif sebuah perjuangan seputar makna. Dalam kasus Bourdieu dan mereka yang menjadi pengikutnya, bahkan seperti Frow, yang mengkritik dia untuk kasih sayangnya yang berlanjut terhadap kelas sebagai konsep pengorganisasi utama yang di sekitarnya perjuangan itu adalah diupah, hal ini adalah dikombinasikan dengan sebuah posisi persaingan status Weberian dan sebuah posisi Durkheimian di mana perjuangan adalah bukan seputar makna-makna khusus, tetapi, seputar sistem dari kategori dasar dari pemikiranyang menentukan pembedaan yang, dalam perjalanannya, adalah dimobilisasi untuk melegitimasi stratifikasi (pelapisan) sosial. Dalam kasus Bourdieu lokasi sosial adalah ditentukan dalam pengertian bahwa ini adalah melalui kebiasaan sehingga kategori-kategori itu ter-internalisasi dalam hubungannya dengan penempatan dan kompetensi yang mengatur cara-cara di mana kategori-kategori ini beroperasi. Sekarang, apa yang dilakukan sebuah pendekatan tersebut, dan yang harus dilakukan menurut definisi, adalah meninggalkan pertimbangan setiap kekhususan kongkrit untuk praktek sosial itu sendiri, karena mereka hanya digunakan sebagai penanda diferensiasi sosial yang berubah-ubah yang diperlukan di dalam keseluruhan sistem kategori yang dihasilkan secara sosial. Di dalam skema analisis tersebut setiap praktek adalah sama baiknya seperti yang lainnya untuk keperluan ideologis yang membawa karya dari klasifikasi sosial dan bertindak sebagai sebuah lapangan untuk persaingan status. Kemidia ini dapat menerangkan bagaimana praktek-praktek, dalam kasus di bawah pertimbangan kesenian dan skema evaluatif, dalam kasus ini estetika Kantian, digunakan, tapi bukan mengapa mereka menjadi eksistensi dalam bentuk aktual yang mereka lakukan dalam tempat awal, juga tidak mengapa praktek-praktek khusus dan skema evaluasi telah digunakan ketimbang yang lainnya. Atau terlebih dalam Bourdieu hal ini persisnya karena kesenian memiliki hubungan yang sangat berubah-ubah terhadap ‘realitas’ bahwa ini adalah begitu kuat dalam penggunaan ideologisnya. Apa yang tidak satu pun dari hal ini ijinkan adalah fakta yang jelas bahwa orang mendapat keuntungan kesenangan yang khusus, atau bagaimana anda ingin menggambarkan nilai manfaat dari konsumsi estetika, tentang beberapa jenis atau yang lainnya dari estetika atau dari bentuk-bentuk simbolik yang berbeda dari yang mereka dapatkan untung dari bentuk-bentuk lain praktek-praktek sosial. Kesukaran dalam kenyataan dari mempertahankan perspektif sosiologis Bourdieu tentang kesewenang-wenangan (berubah-ubahnya) pembedaan kultural adalah ditunjukkan dalam karyanya, di mana sesuatu yang tersirat, tapi begitu kuat dan jelas, evaluasi positif tentang selera populer dan sebuah evaluasi negatif yang terhubung tentang selera kaum borjuis adalah terus-menerus diminta.

Keberatan yang mungkin itu terhadap posisi Bourdieu mengijinkan kita untuk beralih kembali kepada Kant dengan maksud untuk memeriksa argumentasi-argumentasi tidak hanya sekedar untuk otonomi kesenian dan tentang penilaian estetika tapi untuk nilai sosial positif dari otonomi tersebut.

Nilai Estetika

‘Sosiologi kesenian dalam beberapa cara telah melampaui laporan singkatnya, sejauh karena ini gagal untuk mempertimbangkan “estetika”. Tentu saja tema sentral dari buku ini adalah tidak dapat dikuranginya “nilai-nilai estetika” untuk koordinasi sosial, politik atau ideologis (Wolff 1993: 11). Sebagaimana wolff buktikan analisisnya yang ringkas dan penuh ilham tentang lapangan, sosiologi kesenian gagal untuk menerangkan ‘mengapa teks ideologis khusus akan menghasilkan kepuasan estetika. ‘Kritik tentang kesenian sebagaimana ideologi terlihat dihasilkan dalam hilangnya kesenian sebagai apa saja selain ideologi dan ada banyak alasan mengapa hal ini tidak akan melakukannya’ (1993: 23)

Salah satu cara menolak pengurangan estetika ini kepada sosial dan tentang penilaian estetika terhadap ideologi adalah untuk kembali kepada argumentasi Kantian untuk otonomi estetika dan untuk evaluasi politik dan moral positifdari keseniansebagai sebuah mode mengetahui dan sebuah praktek yang berakar darinya. Perhatian Kant dengan estetikaberakar dari perhatiannya terhadap imajinasi. (Di dalam seksi berikutnya saya berhutangkepada Bowie.) Problemnya adalah bahwa akal manusia dan kesadaran moral adalah berdasarkan atas fakultas imajinasi. Ini adalah imajinasi yang telah menciptakan sebuah pendahuluan memesan keluar kekacauan tentang kesan-kesan segera (immediate impresion) dari panca indera yang dengannya akal kemudian dapat bekerja, dan yang telah menciptakan, sebagai bagian dari kesengajaan yang menjadi dasar bagi moral umat manusia, dunia yang belum eksis. Maka kemudian imajinasi adalah esensi dari fakultas kemanusiaan, tapi, sebagaimana kemungkinan kesengajaan moral dan proyeksi tentang masa depan alternatif jalan tindakan ini juga menciptakan bahaya fantasi yang menyesatkan. Kategori tentang otonomi, ‘seni yang tak berkepentingan’ adalah diciptakan untuk menghadapi problem ini. Kesenian adalah penggunaan imajinasi ‘bebas’. Hal ini mempunyai dua implikasi yang bertentangan. Di satu sisi ini adalah mode (cara) mengetahui yang menjembatani sisi rasional dan inderawi manusia. Maka ini adalah sebuah aktifitas yang di dalamnya seseorang dapat memperoleh akses kepada, dan lalu menyatakan atau memproduksi ilmu pengetahuan tentang, sisi-sisi kesadaran diri tersebut yang menjadi basis untuk, dan pada saat yang sama tidak dapat diakses untuk, akal. Di sisi lain ini adalah juga merupakan sebuah aktifitas yang memampukan manusia melarikan diri dari rintangan-rintangan dari dunia kebutuhan dan kepentingan yang diturunkan darinya dan untuk mewujudkan dunial moral alternatif yang di dalamnya perintah-perintah kategoris dapat diberi bebas tali kendali, dan kebahagiaan dan kebaikan dapat dikombinasikan. Sebagaimana Schiller tulis, ”Hanya komunikasi tentang keindahan yang menyatukan masyarakat, karena hal ini terkait dengan apa yang lazim bagi mereka semua.” (dikutip dalam Bowie 1990: 13)

Dari posisi ini di sana kemudian dikembangkan dua teori yang berbeda tentang nilai otonomi kesenian. Pertama, melalui Romantisisme Jerman, memperdebatkan nilai kesenian di atas dasar penolakannya terhadap rasuonalitas dankemudian sebagai sebuah tempat perlindungan terhadapefek-efek mengecewakan dari Dialektika Pencerahan. Menekankan hubungan antara kesenangan estetika dan inderawi (sensual), kesenian terlihat sebagai sebuah ekspresi dari kekhususan ketimbang universalitas dari pemikiran ilmiah dan sebagaisebuah ekspresi dari pluralitas kreatif yang tidak dapat dikontrol selamanya dari bentuk-bentuk kehidupan. Untaian pemikiran itu kemudian dibangun menjadi vitalisme dari kehendak Nietzsche untuk kekuasaan, di mana semua aktifitas manusiadapat dinilai dengan standar estetika.

Di sisi lain, kita menggabungkan, dengan praxis-nya Hegel, teori proyeksi tentang formasi subjektifitas manusia, dan pencarian mitologi baru, kesenian telah dilihat sebagai dunia pendidikan moral dan sebagai sebuah dunia yang di dalamnya kemungkinan pembebasan manusia dapat dialami dan kemudian dibuka, jika hanya sebagai sebuah kemungkinan utopian. Hegel berpendapat bahwa subjek manusia menjadi mengetahui dirinya sendiri dan alam serta dunia sosial melalui interaksi yang bertujuan (bermanfaat) dengan dunia-dunia tersebut – proses yang datang, di dalam pengembangan Marx terhadap pemikiran Hegel, yang dikenal sebagai buruh. Di dalam teori praxis ini bentuk-bentuk simbolik adalah dilihat sebagai sebuah objektifikasi dan proyeksi dari interaksi ini antara subjek dan dunia alami danmanusia-manusia lainnya, sebuah interaksi yang di dalamnya individu dan masyarakat menjadi mengetahui diri mereka sendiri dengan menciptakan diri mereka sendiri dansebuah realitas sosial yang perlu dibagi bersama (shared). Inilah sebuah pandangan yang menginformasikan, contohnya, analisis estetika dari Lukacs. Untuk keperluan kita seperti sebuah teori yang kemudian terkait dengan teori tentang kepentingan sosial dan perjuangan untuk pengembangan di dalam tradisi Marxist, sebuah teori tentang ideologi yang berbasis pada pengasingan (alienation) buruh, seperti bahwa manusia tidak dapat lagi mengenali dirinya sendiri dan oleh karena itu kepentingan mereka dalam objektifikasi simbolik yang mereka hasilkan. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori tentang kesenian, yang paling terkenal dengan Mazhab Frankfurt dan khususnya Adorno, yang menggabungkan pendekatan praxis dengan penolakan terhadap kekecewaan dan rasionalitas instrumental dari Romanticisme. Mazhab Frankfurt berpendapat bahwa nilai dari kebenaran terletak di dalam kondisi yang tidak terasing dari produksi, dan oleh karena itu di dalam kemungkinannya sebagai sebuah kebenaran dan objetifikasi khayalan dan nonreified (bukan pembendaan) dari kemungkinan manusia. Ini telah mengembangkan sebuah kritik terhadap industri budaya dan produknya sebagai ideologis karena menghasilkan kesenian dan pembentukan yang terasing, melalui objektifikasi ini, manusia yang terasing tidak menyadari kemungkinan terbaiknya sendiri. Point yang saya akan harapkan untuk ditekankan di sini adalah ahwa ini adalah di samping point untuk mengkritik pendekatan ini, sebagaimana sekarang adalah ortodoks dalam teori media dan budaya, sebagai elitis. Ini adalah kritik yang berdasarkan atas sebuah teori tentang pemujaan (pemberhalaan) komoditi (commodity fetishism) dan secara mudah tidak mempunyai apapun untuk dilakukan, satu cara atau lainnya, dengan elitisme dan kesenian berbasis kelas. Sebagaimana Bowie telah menganalisa secara mengagumkan, ini adalah sebuah posisi yang mendasarkan argumentasinya untuk keperluan bagi kesenian yang otonom atas sebuah perdebatan filosofis berlatar sejarah bukan tentang kelas, tapi tentang sifat-sifat kesadaran-diri, kesadaran-diri yang wajib menjadi latar (ground) untuk aksi rasional otonom. Berdasarkan atas analisis Kant tentang keluhuran/kemahamuliaan (sublime) sebagai sebuah ekspresi dari ‘Yang tak dapat dikatakan’, atau kebenaran dari kekhususan inderawi (sensual particularity) dari pengalaman kita sendiri dan alam yang tidak dapat ditangkap dalam generalisasi dan abstraksi yang bergerak dari pemikiran konseptual dan kategorinya, dan atas perkembangan terakhir dari idealis Jerman dan Romantic yang keluar darinya, hal ini menyarankan perlunya produksi estetika otonom sebagai penolakan dan perlawanan setiap keruntuhan sempurna dari individual ke dalam sosial, atau yang khusus kepada yang umum, atau yang inderawi kepada yang rasional, dan kemudian secara dialektik, menjaga terbukanya kemungkinan, jika hanya sebagai harapan khayal, dari sesuatu yang dapat hidup terus, komunitas non-dominative dari kebebasan, otonomi, pribadi yang rasional. Walaupun Bourdieu berusaha untuk mengurangi keseluruhan tradisi pemikiran estetika ini menjadi status ideologi, kasus yang dibuatnya untuk peranan kesenian dan tentang kesenangan/kenikmatan estetika sebagai tidak dapat dikurangi menjadi ideologis, dan tentang kekhususan mereka dan otonomi sebagai bukan selubung kekuasaan, tetapi membawa kemungkinan pembebasan yang menggabungkan kebahagiaan (pembentukan identitas), dan kebaikan (sebuah dunia sosial yang dapat diterima secara moral), perlu diambil secara serius.

Ini adalah posisi umum, yang menyokong sebuah pendekatan etika untuk pengesahan bentuk-bentuk simbolik, kepada yang sekarang saya jalankan.

Kesenian sebagai Pendidikan Moral

Sebuah pendekatan tersebut telah dekat tertarik dengan pendekatan lain yang sangat tidak mengikuti mode/zaman untuk mengevaluasi bentuk-bentuk simbolik sebagai sebuah tempat pendidikan moral. Kant telah menulis tentang kesenian ‘sebagai ekspresi yang dapat dilihat dari ide-ide moral’ dan Hegel bahwa manusia (sic)’menikmati bentuk dari barang-barang sebagai realisasi eksternal dari dirinya sendiri’. Itu adalah sebuah pendekatan yang asalnya diturunkan dari Yunani, tapi telah diekspresikan dengan sangat kuat dalam era moderen oleh Schiller, yang berpendapat bahwa karya-karya seni menyediakan sebuah tempat untuk manusia bermain. Gagasannya tentang permainan adalah sangat serius. Apa yang dia maksud adalah bahwa pemisahan kesenian dari kehidupan, tapi pada saat yang sama kemampuannya untuk menghasilkan fiksi seperti/mirip kehidupan, memampukan manusia untuk menggunakan kesenian sebagai sebuah alat untuk bekerja di luar eksperimen kehidupan. ‘Kesenian telah memunculkan sebuah watak pertengahan, yang di dalamnya alam kita adalah tidak terhambat baik secara fisikal maupun secara moral dan bahkan aktif pada kedua cara tersebut’ (dikutip dalam Habermas 1987: 48). ‘Pada pertengahan dunia yang dahsyat tentang kekuasaan dan tentang dunia hukum yang sakral, gerak hati kreatif estetika adalah bangunan bawah sadar sebuah dunia kegembiraan ketiga dari permainan dan tentang penampilan, yang di dalamnya ini melepaskan manusia dari semua belenggu suasana lingkungan dan membebaskannya dari setiap hal yang mungkin disebut rintangan, apakah secara fisikal ataupun moral’ (dikutip dalam habermas 19987: 137-138).

Sebuah pandangan tentang kesenian tersebut tentu saja terkait dengan sebuah interaksionist, pandangan pragmatis tentang pembentukan identitas manusia dan masyarakat, tentang kehidupan sebagai sebuah proyek yang melaluinya kita hanya mengetahui alam (sifat-sifat) kita sendiri dan realitas eksternal ketika hal ini dieksternalisasi, diobjektifikasi dan direfleksikan kembali kepada kita dalam tindakan.Bagi Schiller, dan mereka yang berfikir seperti dia, konstruksi simbolik yang telah kita sebut sebagai kesenian adalah sebuah bentuk istimewa khusus dari proses kemanusiaan secara umum tentang eksternalisasi dan objektifikasi secara persis, karena, sebagaimana Kant katakan, mereka tidak punya tujuan. Karena tindakan moral adalah tidak langsung pada pokok yang dapat kita adakan untuk mengambil resiko eksperimental yangakan tidak dapat diterima dalam ‘kehidupan yang nyata’. Kita menemukan sebuah pandangan yang sama dinyatakan dalam analisis Ang tentangpemirsa Dallas, di mana dia dia berpendapat: ‘memproduksi dan mengkonsumsi fantasi membiarkan kita untuk bermain-main dengan realitas, yang dapat dirasakan sebagai “pembebasan” karena ini adalah fiksi (khayalan), tidak nyata. Dalam bermain dengan fantasi kita mengadopsi posisi dan “mencoba (try out)” posisi tersebut, tanpa khawatir terhadap nilai-nilai realitas mereka’ (Ang, 1985: 130). Kita dapat menemukan argumentasi yang sama untuk sebuah konsep tentang kualitas televisi dalam Mepham (1990), di mana dia berpendapat bahwa ini adalah kewajiban televisi untuk mensuplai cerita-cerita yang dapat membantu kita menghidupkan (menjalani) kehidupan kita, sebuah hal yang sepenuhnya perhatian tentang etika ketimbang estetika. Pandangan tentang nilai dari literatur (kesusastraan) ini dan kebutuhan untuk membuat penilaian-penilaian sastrawi diskriminatif juga menyokong semua usaha kritis Leavis. Formulasi mutakhir yang paling canggih dari posisi ini adalah yang dinyatakan oleh Nusbaum dalam karyanya Love’s Knowledge (1990). Di sini dari sebuah posisi neo-Aritotelian yang mengharapkan untuk mengedepankan superioritas penalaran praktis Aristotelian di atas perintah-perintah moral kategoris Kantian di dalam etika, dia berpendapat, menggunakan sebuah pemilihan novel-novel sebagai contoh, bahwa novel-novel menyediakan kita dengan contoh-contoh istimewa dari penalaran moral praktis pengalaman yang memperbaiki, atau paling tidak memberi kita sumber-sumber untuk memperbaiki, nalar-akal moral kita. Lagi-lagi ini terlihat oleh saya sebuah posisi yang perlu kita ambil serius dan tidak sekedar menyingkirkan tangan dari posisi sosiologis atau posisi dekonstruksionist.

Filsafat Antopologi Kesenian

Kita juga perlu tetap terbuka untuk pendekatan lain terhadap problem nilai estetika dan universalitasnya, yaitu sebuah filsafat antropologi kesenian. Sebuah pendekatan terlepas-lepas terhadap standar budaya yang umum/lazim, singkatnya, tidak membuang kemungkinan bahwa fungsi-fungsi estetika tertentu dan standar yang oleh karena itu kita terapkan untuk menilai mereka terkait dengan sifat-sifat dan problem-problem universal manusia yang lazim. Kecenderungan mutakhir yang menekankan sifat berubah-ubah dari discursive (wacana lepas) dan sebuah relativisme kultural yang berdasar atasnya, adalah tinggal dengan sebuah individualisme yang berlebih-lebihan tentang selera, sebagai standar satu-satunya, dari penilaian atau dengan sebuah konstruktifisme sosial dogmatik yang, dalam kemundurannya dari materialisme, membuat sifat manusia dan kehidupan manusia secara berlebihan dapat ditundukkan dan menyingkirkan secara a priori setiap penjelasan tentang praktek kebudayaan atau penilaian estetik dalam pengertian sifat manusia atau karakteristik yang tidak berubah secara relatif dari kondisi manusia. Ironisnya bahwa pemikiran mazhab post-modern yang menekankan otonomi konsumsi dan sentralitas kesenangan/kenikmatan dalam pengalaman tentang bentuk-bentuk kebudayaan yang menggunakan sebuah model konsumsi, pencarian kenikmatan individual yang menanggung beban kesamaan yang luar biasa terhadap maksimalisi manfaat yang akrab dengan kaum Utilitarian dan pemikiran neo-klasik. Dalam pandangan tersebut semua kesenangan/kenikmatan adalah sama dan mereka adalah berasal dari luar (eksogenous) terhadap proses konsumsi itu sendiri. Namun dalam mempertimbangkan apakah fungsi estetika dan standar-standar terkait mereka secara potensial atau aktual adalah atau tidak universal, kita perlu ambil serius untaian argumentasi estetika tersebut yang terkait dengan kesenangan estetik dan menilai bentuk-bentuk estetik dalam pengertian tentang sebuah seruan terhadap sifat-sifat dasar manusia dan sebuah respon terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia tertentu yang lintas-budaya. Sebagaimana William telah katakan hal ini di dalam ‘gaya orang kate secara karateristik’-nya, ‘saya katakan ini adalah seluruh kebutuhan untuk menolak gagasan tentang estetika sebagai bidang kewenangan khusus dari suatu respon jenis tertentu, tapi kita tidak dapat menyingkirkan kemungkinan dari menemukan konfigurasi permanen tertentu tentang sebuah jenis teoritis yang dapat menjawabnya’ (William 1979: 325).

Apa yang dia maksud dengan hal ini? Sebagaimana dia membuat jelas di dalam Politics and Letters, dia sangat terpengaruh oleh Marxisme materialis dari Timparano, yang, dalam sebuah kritik berentang-luas tentang Marxisme strukturalis dan teori bahasa Saussurean yang di atasnya hal ini berdasar, berpendapat bahwa :

tugas untuk membangun sebuah ‘teori tentang kebutuhan’ yang tidak dikurangi (direduksi) menjadi sebuah kompromi antara Marx dan Freud, tapi yang berkonfrontasi di atas sebuah basis yang lebih luas problem hubungan antara alam dan masyarakat. Tuduhan dari “biologisme” atau “materialisme vulgar” adalah, pada point ini, sangat jelas dan dapat diramalkan … Jika apa yang dimaksud adalah penolakkan kondisi di mana alam terus berkhidmat kepada manusia; pengasingan karateristik biologis manusia menjadi sejenis prolog prasejarah terhadap kemanusiaan; menolak untuk mengetahui relevansi yang data-data bilogis tertentu ada dalam hubungan dengan permintaan/kebutuhan untuk kebahagiaan (sebuah permintaan yang tetap fundamental untuk perjuangan bagi komunisme); kemudian halaman-halaman ini adalah dengan sengaja ‘materialist yang vulgar’.

Dia ingin menyebutkan kembali sebagai dimensi konstan dari pengalaman manusia ‘insting seksual, kelemahan tenaga yang dihasilkan oleh usia (dengan reaksi-akibat psikologisnya), ketakutan seseorang terhadap kematiannya dan dukacita pada kematian orang lain.’ (Timpanaro 1975: 10, dikutp dalam Wolff 1993: 96). Sebagaimana Wolff mengatakan hal itu, ‘dia tidak mengakui bahwa hal ini adalah abadi (eternal), atau bahwa mereka mempunyai suatu status metafisikal atau meta-historical, tapi bahwa mereka adalah lestari (long-lasting), dan mempunyai stabilitas yang lebih besar ketimbang lembaga-lembaga sosial atau historis’ (1993: 97). Hal yang konstan itu ditemukan dalam biologi yang William tunjuk dalam kata-katanya sebagai ‘konfigurasi permanen’. Sebagaimana dia tulis dalam Politics and Letters, ‘di sana ada sebuah ikatan material yang sangat dalam antara bahasa dan tubuh, di mana teori komunikasi berkonsentrasi tentang melewatkan pesan-pesan dan informasi yang secara tipikal salah tanggap: banyak puisi, banyak jenis tulisan, tentu saja banyak pembicaraan sehari-hari, mengkomunikasikan apa yang ada dalam efek-efek sebuah irama kehidupan’ (William 1979: 340).

Peter Fuller, kritikus lain yang terpengaruh oleh Timpanaro maupun Williams, ketika mengkritik apa yang dia lihat sebagaipenafsiran ideologis yang dibesar-besarkan dari John Berger tentang lukisan, terkait dengan ‘kekhususan lukisan’ kepada ‘realitas konstan yang mendasari kondisi manusia’, dan dia berpendapat bahwa:

Estetika menyusun sebuah penstrukturan spesifik secara historis tentang yang relatif konstan, atau elemen yang lestari dari pengalaman yang mempengaruhi … basis material dari ‘spiritualitas’ tentang karya seni adalah tidak begitu mudah dibubarkan. Saya pikir bahwa ini mungkin terletak dalam kapasitas mereka untuk menyatakan ‘konstan relatif‘ dari pengalaman psiko-biologis, yang bagaimana pun juga mereka mungkin distrukturkan secara kultural, mempunyai akar-akar di bawah lapisan ideologis (Fuller 1980: 29-30, dikutip dalam Wolff 1993: 99)

Pendekatan tersebut menggambarkan tentang konsepsi Kant tentang keindahan sebagai persepsi tentang hubungan harmonis antara penilaian imajinatif manusia, irama dan struktur dari alam, dan tentang keluhuran sebagai sebuah akses kepada sebuah level dari realitas di balik pemahaman pikiran rasional. Pendekatan tersebut dapat diterapkan kepada bentuk-bentuk kesenian – kepada irama, proporsi, warna dan seterusnya – dan dapat ditemukan dalam filsafat estetika, contohnya, dari Suzanne Langer, yang berpendapat bahwa kesenangan kita dalam musik terkait dengan cara-cara itu mengekspresikan hubungan kita dengan irama dari tubuh kita sendiri. Atau ini dapat diterapkan kepada sebuah penilaian tentang kesenian sebagai sebuah kendaraan bagi sharing kebenaran emosional universal manusia dan untuk evaluasi berdasarkan ketulusan hati dan kedalaman yang dengannya realitas emosional adalah tertangani dan perluasan kepada apa – teori katarsis tentang kesenian — yang menolong kita untuk menangani rintangan-rintangan yang tidak dapat dielakkan dari kehidupan manusia dengan mengobjektifikasi mereka.

Sebagaimana Marcuse katakan dalam karya terakhirnya, ‘dengan kebaikan dari kebenaran universal lintas-sejarahnya, kesenian tertarik kepada sebuah kesadaran yang tidak hanya milik kelas-kelas khusus, tetapi bahwa umat manusia sebagai “spesies wujud”, membangun fakultas yang mempertinggi kehidupannya’ (1978: 29).

Ketepatan dan keabsahan penilaian tersebut telah diuji dalam ruang publik tentang kritisisme, tapi hal ini membuka kemungkinan kesenangan estetik yang lintas-waktu dan lintas-budaya dan penilaian yang adalah lebih dari ekspresi dari sebuah selerapribadi, apakah terkonstruksi secara sosial dan budaya atau tidak. Kesenangan mungkin dapat formal, seperti seseorang dapat alami tidak hanya kesenangan formal dari katerdal Kristen, mesjid Islam, atautaman kuil Zen-Budhisme, tetapi juga bahkan sebagai, seorang atheis, cara-cara yang berbeda di mana sarana formal menciptakan sebuah sikap kontemplatif tertentu sebagai bagian dari sebuah pengalaman budaya umat manusia yang tersedia secara universal, atau mereka mungkin berupa emosional dan kognitif dan terkait dengan sharing dilema kemanusiaan dan pengalaman yang lazim. Kedua point kemungkinan kepada sebuah undang-undang (canon) yang telah bertahan hidup, tidak hanya terhentinya waktu yang mungkin aksidental dalam efek-efeknya, tapi pengujian dari pengalaman dunia kehidupan selama satu periode waktu dan di bawah perbedaan kondisi sosial. Dari perspektif budaya ini dan menyelamatkan artefak dan teks yang merupakan produknya, dapat dibenarkan menjadi pemikiran sebagai sebuah sumber pembelajaran manusia, sebagaimana dalam kata-kata terkenal Arnold, ‘yang terbaik yang telah dipikirkan dan dikatakan’ sebuah sumber apapun asal sumber sosialnya – apakah kuil, pengadilan, borjuis atau karnafal populer – itu adalah secara potensial terbuka untuk semua jenis manusia. Tantangan sosial kemudian adalah sebagai bagian dari konstruksi dari kebudayaan yang umum untuk menjamin akses potensial tersebut menjadi aktual – modal kultural itu dalam pengertian tersebut adalah secara sama didistribusikan. Di sini jelas bahwa pendidikan adalah sebuah bagian besar dari jawaban, tapi media laiun juga memikul beban tanggung jawab yang berat. Singkatnya, kita tidak mengijinkan sebuah relativisme budaya yang salah tempat dengan penolakkannya tentang nilai-nilai dan sebuah keraguan ideologis tentang cara-cara di mana kelompok elit memobilisasi budaya tinggi untuk keuntungan sosial mereka sendiri untuk menahan kemungkinan a priori dari sebuah demokrasi budaya yang benar dan kesempatan untuk pembelajaran dan kepuasan estetik membutukan akses yang lebih luas kepada warisan artistik dunia yang ditawarkan.

Evaluasi, Komunitas Interpretatif, dan Ruang Publik

Penilaian tentang nilai dan kebenaran adalah relatif terhadap sebuah posisi sosial dari pengucapan dan kepada serangkaian kondisi dari pengucapan ….’lebih baik’ dan ‘lebih buruk’ akan menjadi istilah yang sangat bermakna kepada perluasan bahwa sebuah kerangka kerja dari penilaian adalah disepakati, dan bahwa otoritas pembicara diterima, setidaknya untuk sementara waktu di dalamnya. (Frow 1995: 153)

Apakah hal ini benar, atau merupakan implikasi yang lebih luas dari itu menjadi benar, tergantung pada bagimana kita mendefinisikan ‘sosial’ dan ‘kondisi’ dan tentang di mana kita menggambarkan perbatasan dari komunitas yang dinilai atau rezim nilai yang di dalamnya kerangka-kerja disepakati dan otoritas diterima. Kecenderungannya adalah untuk menggambarkan mereka secara sempit, dan tentu saja dalam kasus Frow untuk mengadopsi sebuah pendirian kelas yang sangat determinis tentang pertanyaan posisi sosial, dan perspektifalisme yang diturunkan darinya. Kemudian bagi Frow menurut definisi orang-orang atau yang populer adalah sesuatu buram yang lain terhadap kaum intelektual. Hal ini menciptakan bagi Frow apa yang secara total palsu dan secara politis dilema yang merusak:

Peribahasa penting yang saya lihat bagi kajian budaya dalam menghadapi pertanyaan tentang nilai itu, ketidakmungkinan dari mendukung, dalam cara yang sederhana, norma-norma dari budaya tinggi sejauh hal ini menghadirkan kembali penggunaan pembedaan itu yang bekerja untuk mengeluarkan mereka yang tidak memiliki modal budaya; atau di sisi lain, tentang mendukung dalam cara yang sederhana, norma-norma dari budaya’populer’ kepada perluasan yang hal ini terlibat, untuk pemroses kapasitas budaya, sebuah fantasi tentang orang lain dan sebuah keraguan kehendak politis untuk mengatakan atas nama orang lain. (Frow 1995: 158-159).

Keuntungan yang besar dari menghadapi (melawan) pandangan Kantian kepada perspektifalisme ini adalah bahwa itu memampukan kita untuk, setidaknya, menempatkan manusia sebagai posisi sosial yang lebih tepat dari pengucapan – evalusi yang ditawarkan untuk konfirmasi dalam sebuah sensus communist (pemahaman bersama) dan kemudian berdasarkan pada kebutuhan, aspirasi, dan potensialitas dari kemanusiaan yang lazim – ketimbang penyangkalan hal ini secara a priori; dan untuk melihat kondisi dari pengucapan sebagai salah satu dari sebuah ruang publik yang di dalamnya penilaian adalah dikonfirmasikan, dimodifikasi atau dijungkirbalikkan di dalam sebuah etika umum tentang wacana, otoritas wujud penilaian yaitu komunitas manusia itu. Tidak satupun dari hal ini untuk mengingkari rintangan akses tersebut kepada modal budaya atau menggunakan berbagai bentuk kekuasaan yang dapat menempatkan pada pencapaian penilaian yang dibagi ini. Tapi ini untuk menawarkan sebuah analisis yang membuat mereka dapat diperbaiki, jika hanya sebagai sebuah harapan dari sebuah kebudayaan yang lazim. Hal ini juga adalah untuk mengingkari bahwa norma-norma budaya tinggi dan budaya populer dapat dengan begitu mudah dikontraskan. Sesungguhnya ini adalah untuk menyangkal bahwa ini adalah pembedaan yang relevan untuk keperluan ini.

Ini adalah sentral (penting) bagi argumentasi saya bahwa, bertentangan dengan kebanyakan teori budaya kontemporer, kita perlu mengambil dengan serius kemungkinan standar yang lebih dari sekedar ekspresi sah temporer dari selera pribadi maupun sebuah posisi dari kekuasaan ideologis, tapi standar tersebut hanya dapat diturunkan dan disahkan di dalam wacana etika yang lebih luas yang mendasari pendekatan buku ini. Ini adalah mengatakan, pergerakan dari kritisisme dan evaluasi adalah tidak pernah suatu yang ‘hal ini adalah begitu’ tapi, sebagaimana Leavis selalu mengaku untuk kritisisme kesusastraan, suatu yang ‘hal ini adalah begitu bukan?’standar selera tersebut dapat menjadi sampai secara komunal pada, sebagaimana Kant katakan mereka harus menjadi, di dalamsuatu sensus communis (pemahaman bersama). Hal ini kemudian memiliki problem tentang standar di dalam media moderen dalam sebuah cara berbeda.

Sekarang problemnya adalah diciptakan oleh struktuir kelembagaan dari komunikasi massa dan perpecahan yang makin lebar secara historis antara pencipta dan konsumen, dan di antara para konsumen itu sendiri, itu ruang wacana bagi penciptaan standar-standar, atau untuk menemukan apa sesungguhnya standar-standar itu,yang eksis hanya dalam bentuknya yang mungkin paling lemah. Hal ini, tentu saja mengembalikan kita kepada pertanyaan tentang hubungan dari para intelektual dengan proyek pembebasan, dan dalam tempat khusus kritisisme pada jantung problem tentang standar.

Kemudian problem tentang evaluasi dari bentuk-bentuk simbolik adalah itu sendiri sebuah bagian dari problem yang lebih umum tentang penciptaan komunitas yang dapat hidup terus untuk agen-agen otonom di bawah kondisi modernitas. Modernitas memiliki tiga kemungkinan efek atas komunitas interpretatif dan lalu atas kemungkinan tentang standar yang umum. Pertama, ini telah memecahkan doxa (kidung pujian) kultural dari tradisi, dan dengan demikian disebut universalitas atau sharing standar-standar ke dalam pertanyaan-pertanyaan; kedua, ini telah diciptakan di dalam pembagian pekerjaan sosial yang meningkatkan perbedaan kelas sosial atau kelompok-kelompok status masing-masing dengan sumber-sumber kultural yang berbeda dan menyusun diri mereka sendiri sebagai komunitas yang dapat menafsirkan (interpretatif) atau kebudayaan kelas – lalu stratifikasi sosial dan penilaian selera menjadi melebur secara parsial; ketiga, ini telah memperlebar jarak di dalam kebanyakan komunitas interpretatif antara para produser dan para konsumen (hal di atas ini semuanya telah menjadi efek dari pertumbuhan industri budaya), kemudian keduanya menciptakan ketidakpastian sebagai fungsi dan standar evaluatif dan membuat kebutuhan untuk evaluasi eksplisit sebagai sebuah pedoman untuk produksi dan konsumsi lebih diperlukan dan pada saat yang sama lebih sulit.

Ini adalah perkembangan historis yang telah menghasilkan krisis nilai dan setidaknya hal yang masuk akal dari seorang ahli sejarah dan relatifisme konstruktifis sosial. Pertanyaannya adalah apakah hal ini menyingkirkan semua kemungkinan tentang sebuah kebudayaan yang umum sebagai sebuah proyek untuk satu komunitas yang dapat hidup terus berdasarkan pada pembangunan pemahaman bersama (sensus communiss).

Kita dapat sepakat dengan para ahli sejarah, tradisi konstruktifis sosial bahwa standar evalusi adalah diciptakan dan diterapkan di dalam komunitas interpretatif yang yang dikonstruksi secara sosial. Mereka tergantung pada serangkaian praktek-praktek yang sah dan dibagi bersama secara sosial dan wacana yang di dalamnya serangkaian pembedaan dan evaluasi terkait membuat pengertian. Ini adalah bahwa semuaistilah tradisi post-Herder sebuah budaya atau cara hidup. Tapi hal ini bukanlah akhir dari argumentasi, hanya permulaannya. Untuk kita kemudian perlu mempertanyakan apa yang menjadi perbatasan dari komunitas interpretatif ini dan apakah di sana dapat menjadi komunikasi di antara mereka seperti untuk sampai pada serangkaian umum dari pembedaan dan evaluasi. Problem dengan post-modern yang lebih luas,perspektifal, posisi nilai-relatif adalah bahwa ini menemukan kesulitan untuk menunjukkan bahwa komunitas monadic, atau identitas yang di atasnya relatifisme budaya harus berdasar mempunyai sebuah eksistensi empiris aktual. Rezim diskursif tentang nilai yang, dengan sifat alami mereka, adalah terbuka untuk argumentasi, adalah meragukan masyarakat konkrit para pelaku yang dengan sifat-sifat mereka apakah eksis atau tidak eksis.

Sebagaimana Frith telah katakan dengan sangat berguna, dengan cerdik dan dengan cocok, dalam menghormati argumentasi budaya tinggi dan budaya rendah,apa yang kita temukan dalam faktanya adalah tidak membedakan komunitas interpretatif tetapi sebuah rentang dari apa yang dia sebut wacana tentang nilai yang tidak memetakan kepada kelompok konkrit dan dibedakan secara sosial, praktek-praktek atau, jenis-jenis bentuk-bentuk simbolik. Hal ini membawa dia pada tiga kesimpulan. Pertama, bahwa sementara kita mungkin secara sosiologis dapat mengenali dan menerangkan sebuah hubungan antara kelompok sosial tertentu dan pola-pola tertentu dari konsumsi budaya, oleh karena itu, pembedaan seorang pemirsa opera dari seorang pemirsa musik rock, pada saat yang sama, bertentangan dengan Bourdieu, kedua rangkaian pemirsa adalah menerapkan rangkaian yang sama dari pertimbangan nilai hierarkis terhadap bentuk pilihan mereka. Kedua, bahwa banyak hubungan antara pembedaan dan penilaian estetika yang Bourdieu identifikasi sebagai beroperasi di semua masyarakat. Dan di atas semuanya di sekitar pembagian kesenian tinggi dan kesenian populer, secara aktual beroperasi di dalam apa yang disebut selera publik, di dalam praktek-praktek kebudayaan yangberagam dan formasi pemirsa yang tergabung dari budaya populer itu sendiri. Ketiga, bahwa pembedaan antara wacana tentang nilai, praktek budaya, dan publik yang mengkonsumsi, ini memampukan seseorang untuk terus menggunakan standar evaluasi budaya yang meluas seperti, contohnya, dalam kasus dia, sebagaimana saya, akan berharap untuk mempertahankan praktek budaya yang memperluas potensi manusia dan menahan sebuah harapan khayali sebagai berlawanan dengan mereka yang tidak melakukannya. (Frith 1996). Dari perspektif ini kegagalan besar dari sebuah pendekatan seperti Frow, yang, dari posisi perspektifal-nya, kembali membangkitkan pembedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah dalam pengertian tentang sebuah sebuah rintangan yang tak dapat diatasi antara posisi pengucapan dan lalu wacana evaluatif tentang kaum intelektual dan bahwa ‘orang awam’ adalah, secara ironis memberikan wacananya berdasarkan posisi post-moderen yang luas, bahwa ini bekerja dengan teori determinist yang sangat kuat tentang posisi sosial. Dalam efek posisi kelas dari para intelektual menentukan secara mutlak posisi evaluatif mereka, dan posisi evaluatif ini dapat tidak punya apa-apa secara umum dengan mereka dari posisi sosial lain, juga tidak terbuka untuk modifikasi transitif dalam sinaran sebuah ruang publik yang dibagi bersama tentang argumentasi atas nilai-nilai. Apa yang argumentasi Frith lakukan, saya pikir, adalah menggerakkan kita dari sebuah posisi di mana evaluasi estetika adalah secara dibutuhkan bersifat ideologis dan di mana komunitas penafsir, bagaimana pun juga didefinisikan secara sosial, adalah monads budaya Leibnizian, tidak sekedar penolakan, tetapi tidak mempan terhadap pengaruh budaya eksternal dan perubahan, sebagai sebuah hasil dari pertukaran dengan komunitas penafsir lainnya dan perdebatan sepanjang rezim-rezim nilai, dan ke arah sebuah posisi di mana di mana problem tentang nilai-nilai estetik adalah tidak lagi menjadi salah satu dari hubungan kekuasaan antara rezim nilai yang tidak dapat dibandingkan—apakah dibaca sebagai penolakan atau dominasi – tetapi dari evaluasi sebagai sebuah pengalaman belajar sosial dan tentang perkembangan nilai-nilai umum di dalam sebuah ruang publik dari perdebatan kritis. Ke arah perkembangan dari sebuah kebudayaan yang umum dan sebuah penghormatan bagi perbedaan budaya itu, namun hanya perbedaan budaya itu yang telah diuji dalam perbandingan dan perdebatan dengan penafsiran alternatif dan evaluasi. Di dalam proses tersebut media itu sendiri adalah sangat penting krusial sebagai ruang publik yang di dalamnya sendirian seperti sebuah pemahaman bersama (sensus communis) dapat diciptakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: