1 Komentar

Pendidikan Agama melalui Pelajaran Umum, Infiltrasi Sekularisme Lutfi Syaukani

Pendidikan Agama Melalui Pelajaran Umum

By Luthfi Assyaukanie

 

 

Source: Kompas, 15 March 2003

 

 

 

 

Dalam tulisannya (Kompas, 28/2), Haidar Bagir mengungkap kegetirannya tentang pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia yang secara umum dianggap gagal. Bukti kegagalan itu tidak perlu ditunjukkan lewat survei atau penelitian serius karena kita bisa melihatnya dengan gamblang, di sekeliling kita, di jalan, dan di pemerintahan.

Seperti kata Haidar, tidak ada korelasi antara pendidikan agama di sekolah dengan berbagai pelanggaran, tindak kriminal, hingga kesemrawutan di berbagai level kehidupan. Meminjam standar penilaian resmi lembaga internasional, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar. Namun, Indonesia juga dinilai paling kotor, paling korup, penuh tindak kriminal dan kekerasan.

 

 

Haidar mengemukakan dua hal yang menjadi sebab utama gagalnya pendidikan agama di Indonesia. Pertama, karena pengajaran agama selama ini dilakukan secara simbolik-ritualistik. Agama diperlakukan sebagai kumpulan simbol-simbol yang harus diajarkan kepada anak didik dan diulang-ulang, tanpa memikirkan korelasi antara simbol-simbol ini dengan kenyataan dan aktivitas kehidupan di sekeliling mereka. Dalam hal pemikiran, para siswa/siswi kerap dibombardir dengan serangkaian norma legalistik berdasarkan aturan-aturan fikih yang telah kehilangan ruh moralnya.

 

Kedua, pendidikan agama di Indonesia dinilai gagal karena mengabaikan syarat-syarat dasar pendidikan yang mencakup tiga komponen: intelektual, emosional, dan psikomotorik. Menurut Haidar, pendidikan agama tidak berimbang dalam menerapkan tiga syarat dasar ini.

 

Saya melihat ada persoalan lebih serius dalam dunia pendidikan kita ketimbang dua sebab yang disebutkan Haidar. Saya meyakini, persoalan ini bukan semata-mata terkait hal-hal teknis pedagogis, tetapi menyangkut pandangan dunia (world view) masyarakat kita terhadap agama secara umum.

 

Masyarakat kita masih meyakini, agama adalah sumber-bahkan mungkin satu-satunya sumber-bagi moralitas dan kebajikan. Nilai-nilai kebaikan dan keteraturan hanya bisa diperoleh dari lembaga-lembaga agama. Sementara lembaga-lembaga non-agama atau sekular, dianggap kurang kredibel dalam mengurusi persoalan moralitas dan kebajikan.

 

Oleh karena itu, jika ada sesuatu yang salah dalam kehidupan bermasyarakat kita, dan jika hal itu harus dikaitkan dengan pendidikan, maka yang pertama harus disalahkan adalah pendidikan agama. Pendidikan agama diposisikan begitu sentral sehingga seolah ia dapat memberi jalan keluar bagi problem moralitas dan perilaku kehidupan masyarakat.

 

Kebanyakan masyarakat kita masih berpandangan, agama adalah sumber segala kebaikan dan keteraturan yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan moral. Kehidupan ini amat bergantung kepada agama sehingga jika tidak ada agama, seolah sistem kehidupan serta-merta hancur dan porak-poranda.

 

Dalam dunia pendidikan, keyakinan seperti itu direfleksikan dengan mengampanyekan pentingnya pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama diusahakan untuk mendapat porsi penting dan perhatian lebih. Bahkan, secara lebih radikal, keyakinan atas pendidikan agama diwujudkan dalam bentuk pendirian dua sistem pendidikan menjadi sistem pendidikan agama (di bawah Departemen Agama) dan sistem pendidikan umum (di bawah Departemen Pendidikan).

 

Adanya dualisme pendidikan semacam itu, amat ironis, karena sementara sebagian besar masyarakat menolak keras gagasan sekularisasi, tetapi diam-diam mereka mempraktikkannya secara amat sempurna di bidang pendidikan.

 

Kekeliruan utama mengandalkan pendidikan agama secara berlebihan adalah kenyataan bahwa pelajaran agama mendapat porsi amat kecil di sekolah (khususnya sekolah umum). Dengan hanya satu mata pelajaran tiap minggu, berhadapan dengan puluhan mata pelajaran lain, daya jangkau pesan agama menjadi amat terbatas. Adalah tidak fair meletakkan semua beban ajaran moral dan kebajikan pada pelajaran agama, sementara pelajaran-pelajaran lain yang lebih intensif dilepaskan tanggung jawabnya dari pesan-pesan moral.

 

Saya kira, problem pendidikan agama di Indonesia sudah seharusnya dilihat tidak hanya dari soal-soal cara dan metode pengajarannya per se, tetapi harus dilihat secara lebih mendasar, misalnya, dengan melihat dan memperbarui kembali filosofi dan tujuan pendidikan kita secara menyeluruh. Jika hal ini dilakukan secara serius, mungkin pelajaran-pelajaran agama malah tak perlu diberikan di sekolah-sekolah.

 

Ada baiknya kita mengaca kepada pengalaman yang jelas-jelas sudah berhasil dalam masalah ini, yakni sistem edukasi yang dilakukan sekolah-sekolah di Barat. Di negara-negara di mana sekularisme menjadi salah satu ruh kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sumber moralitas dan kebajikan tidak dibatasi hanya pada agama. Tetapi, ia inheren ada pada semua lembaga sosial dan keilmuan non-agama.

 

Dengan kondisi seperti itu, agama menempati posisi pinggiran dalam dunia pendidikan, toh, secara umum, masyarakat Barat hidup dengan amat teratur, bersih, tidak korup, dan amat menghargai sesama. Setidaknya jauh lebih baik jika dibanding negara-negara Muslim yang mengklaim menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tetapi hampir semua aspek kehidupan yang dijalaninya bertentangan dengan nilai-nilai itu.

 

Dalam masyarakat Barat yang sekular, moralitas dan etika diajarkan dalam setiap mata pelajaran, bukan hanya pada pelajaran agama saja. Pelajaran agama hanya memuat masalah-masalah spiritualitas individual yang bersifat teknik ritual. Seluruh mata pelajaran dan aktivitas sekolah diarahkan sebagai sumber moralitas dan kebaikan bagi anak-didik. Sementara pelajaran agama menjadi mata pelajaran pilihan yang boleh diambil boleh tidak.

 

Saya punya pengalaman pribadi bagaimana para pelajar di Melbourne, Australia, diajarkan sejak dini mencintai lingkungan dan pentingnya manusia menjaga lingkungan. Karena disampaikan lewat cara-cara yang efektif dan menyenangkan, masalah itu merasuk dalam jiwa dan kehidupan anak-anak, baik di sekolah maupun luar sekolah. Cara-cara seperti ini, menurut saya, jauh lebih efektif ketimbang menyuruh anak-anak menghapal atau menulis sepuluh baris kata-kata al-nadzafatu minal imaan (kebersihan sebagian dari iman) dalam pelajaran agama mereka seperti dilakukan beberapa sekolah di Indonesia.

 

Tentu saja, lingkungan hanya contoh kecil dari berbagai persoalan yang diajarkan sekolah-sekolah di Australia. Tetapi dari contoh kecil ini kita bisa mengambil pelajaran berharga, moralitas lingkungan tidak perlu diajarkan lewat kata-kata mutiara atau hadis Nabi, tetapi lewat contoh-contoh-baik dalam buku maupun aktivitas sekolah lainnya-yang menunjukkan bagaimana ekosistem bekerja dan bagaimana akibat yang akan terjadi jika ekosistem itu dilanggar.

 

Pesan-pesan agama mungkin sudah seharusnya ditransformasikan dalam bahasa sekolah dan langsung menyentuh kehidupan siswa. Kian komunikatif artikulasi pesan agama, kian luas medium penyampai yang bisa digunakan. Dengan demikian, pesan-pesan inti agama tidak harus lagi diandalkan pengajarannya lewat pelajaran khusus agama, tetapi bisa lewat pelajaran-pelajaran umum seperti biologi, fisika, dan ekonomi.

 

Saya meyakini, moralitas dan etika bisa dibangun berdasar fondasi non-agama. Jika yang kita persoalkan selama ini adalah moralitas sosial, yakni persoalan-persoalan yang berkait langsung dengan etika kemasyarakatan (kebersihan, kejujuran, kesantunan), maka fondasi moralitas sekularlah yang seharusnya diperkuat, bukan perbaikan pelajaran agama. Dalam bentuk teknis, moralitas sekular terletak pada seluruh mata pelajaran dan aktivitas sekolah.

Memikir ulang sistem pendidikan kita secara lebih mendasar memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi daripada kerja dua kali, dengan mengutak-atik pelajaran agama yang belum pasti hasilnya, lebih baik memperbaiki yang lebih menyentuh inti persoalan sebenarnya. Dan membangun moralitas sekular (moralitas non-agama) sejak dini adalah langkah pertama yang harus dimulai.

 

 

Tanggapan dan Kritik Ahmad Samantho

 

 

Salam,

 

 

 

Dari awal tulisan sampai sebelum 2 paragraf terakhir saya setuju dan sepakat dengan Saudara Syaukani, tentang perlunya pendidikan moralitas yang tersebar dalam seluruh mata pelajaran sekolah. Memang perlu adanya perubahan paradigma dalam hal ini.

 

 

Namun ternyata, Syaukani tiba-tiba meloncat kepada sebuah kesimpulan yang yang menurut saya kurang logis dan kurang argumentatif ketika Syaukani merekomendasikan untuk meninggalkan agama dan mengembangkan moralitas sekular, dengan melihat contoh apa yang terjadi di dunia Barat.

 

 

Sekularisme yang dianjurkan Syaukani sebagai sumber moralitas patut dipertanyakan lebih lanjut. Apa benar sekularisme dapat menjadi sumber moralitas. Alih-alih menghasilkan perilaku bermoral, sekularisme malah menghasilkan amoralitas dan krisis eksistensial pada humanisme Barat.

Hal-hal positif yang masih menyelamatkan kehidupan di Barat, adalah rasionalitas (logika dan akal sehat, serta ilmu pengetahuan).Hal-hal yang baik pada perilaku masyarakat Barat tersebut, tak mungkin terlepas dari pandangan dunianya yang masih terpengaruh oleh moralitas agama (Kristen Protestan, Katolik, maupun Yahudi, serta pengaruh Rasionalitas warisan Peradaban Islam Abad Pertengahan). Jadi janganlah membelokkan thesisnya Mas Haidar Bagir untuk kemudian menjustifikasi dan promosi Sekularisme-Liberalisme ala Postmo yang menolak segala warisan tradisi dan pandangan dunia ilahiyah-transendental-theistik.

One comment on “Pendidikan Agama melalui Pelajaran Umum, Infiltrasi Sekularisme Lutfi Syaukani

  1. it’s so good for me to hear a news again about Islamic college

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: