4 Komentar

Pandangan Muthahhari tentang Kebangkitan Pemikiran Keagamaan

Dr. Seyyed Mohsen Miri

( Rektor ICAS-Paramadina Jakarta )

picture-021.jpg

Ketika kita akan mendiskusikan kebangkitan kembali dan pembentukan baru sesuatu, ini berarti bahwa ada beberapa prinsip tertentu, yaitu:

1.

 

Sesuatu itu telah pernah hidup di masa lampau. Sebaliknya kebangkitan kembali sesuatu yang tidak hidup sebelumnya adalah tidak mungkin dapat diketahui.

2. Sesuatu yang tadinya hidup tersebut telah mati dikarenakan beberapa faktor internal maupun eksternal atau mengalami kerusakan sehingga tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan dan aktifitas kehidupannya tidak dapat lagi dilihat dan diamati.

3. Pada orang yang membangkitkan kembali, ada beberapa alat yang digunakan untuk menghidupkan kembali sesuatu itu dengan suatu cara tertentu sehingga sesuatu itu dapat memulai kembali aktifitasnya.

Sekarang, dapat dikatakan bahwa Islam muncul sebagai sesuatu yang hidup, aktif dan menjadi eksistensi yang dinamis melalui sebuah revolusi budaya dan evolusi sosial yang tercipta sejak 14 abad yang lalu dan secara tak terbantahkan telah mempengaruhi seluruh dunia secara mendalam. Kehidupan yang kreatif dan dinamis tersebut dapat dilihat bahkan setelah beberapa abad setelah kemunculan Islam dan memainkan peran sebagai pemimpin dalam pengembangan ilmu pengetahuan, budaya dan aksi; namun kobaran api yang bercahaya tersebut kemudian redup, lalu budaya Islam dan peradabannya ketinggalan kereta dalam gerak pemikiran dan ilmu pengetahuan. Sayangnya, takdir menyedihkan tersebut masih menimpa Islam. Beberapa pemikir, khususnya dalam dua abad belakangan, telah melakukan beberapa upaya untuk mencari apa yang menjadi penyebab kemerosotan keagungan dan kebesaran Islam, dan menawarkan beberapa solusi terhadap hal ini. Secara alami, mereka telah menyajikan beberapa teori tentang hal tersebut. Antara lain, dapat kita sebutkan Seyyed Jamal al-Din Asad-Abadi (dikenal sebagai al-Afghani), Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Iqbal Lahore, Ali Shariati, dan Muthahhari. Mereka semua percaya bahwa sejak kehidupan awal Islam telah menghadapi beberapa ancaman dari berbagai faktor yang telah menyebabkan kelemahan dan kemerosotan dalam masyarakat Muslim, sehingga kita harus menghidupkan kembali Islam melalui metode-metode dan instrumen-instrumen tertentu.

Dalam paper ini, kami berharap dapat menyajikan beberapa sudut pandang (perspektif) Muthahari berkenaan dengan hal ini. Di sini kita perlu mencatat beberapa hal:

Pertama, apa yang kita maksud dengan kehidupan? Muthahhari mengatakan bahwa pemikiran Islam adalah seperti organisme yang hidup dan dinamis, yang sebagaimana semua makhluk hidup, terpengaruh oleh grafitasi, penolakkan, gerakan, kerja sama dan simpati, dan juga kebermanfaatannya; maka, jika masyarakat Islam menerima pemikiran ini, ia akan menjadi sesuatu yang hidup, dinamis dan kreatif yang disokong oleh wawasan, kemampuan dan ilmu pengetahuannya sendiri dan orang lain: Dengan cara yang sama, beragam bagian dari sebuah sistem secara mendalam terhubung satu dengan lainnya, para anggota masyarakat Islam juga adalah sama – sebagaimana terlihat pada abad pertama Islam.

Kedua, apa yang dimaksud dengan “Islam”, yang harus dibangkitkan kembali? Ambiguitas dalam konsep ini telah menyebabkan beberapa keraguan dan kontradiksi yang nyata, yang dengan membuangnya maka akan mengarah pada persetujuan saling menguntungkan tinimbang kontradiksi.

Nampaknya bahwa ‘Islam’ biasanya digunakan dalam salah satu di antara dua kasus berikut:

1. Islam dan pemikiran Islam, sebagaimana wahyu, diturunkan kepada Nabi yang suci, yang konsep-konsepnya disajikan dalam kitab suci al Qur’an dan Sunnah Nabi (dan Sunnah Ahul Bait menurut Syiah). Dalam hal ini, Islam adalah sangat ideal, Islam yang asli, yang barang siapa mendapatkannya akan membimbing kebangkitan kembali Muslim, sebagaimana al-Qur’an al-Karim katakan :

یا ایها الذین آمنوا استجیبوا لله و للرسول اذا دعاکم لما یحییکم:

“Hai orang-orang beriman, kabulkan ajakan Allah dan Rasul-Nya kepada sesuatu yang menghidupkan kalian.”

(QS. )

Meninggalkan perintah Islam ini, akan menyebabkan kemunduran dan kemerosotan di dunia Islam. Dalam hal ini, Islam itu sendiri adalah penyebab kebangkitan kembali umat, dan karena kehidupan (Islam) adalah elemen esensial baginya, ini adalah non-inderawi untuk membangkitkan kembali. Namun masalahnya adalah bahwa pemikiran Islam ini tidak sepenuhnya diketemukan di antara kaum Muslimin. Tentu saja, jika dengan kebangkitkan kembali ini berarti bahwa kita harus mengetahui Islam yang menghidupkan ini, dan memasukkan kembali Islam ke dalam masyarakat untuk menghidupkannya, ini dapat diperlakukan sebagai pernyataan yang benar.

2. Makna kedua dari Islam adalah menurut pemahaman para ulama Islam terhadap al Qur’an al-Karim dan Sunnah yang tersebar di banyak buku. Secara alami, pemahaman atau penafsiran para ulama Islam kadang-kadang melakukan kesalahan atau tersesat jalan. Perbedaan nyata yang ditemukan pada sekte-sekte (mazhab-mazhab) Islam dapat dengan jelas membuktikan hal itu. Sebagai contoh, pada beberapa kasus, ada dua pandangan yang mutlak kontradiktif, salah satunya selayaknya dipastikan salah. Menurut Muthahhari, dan para ulama Islam lainnya, arena ini adalah suatu kasus yang sangat penting, di mana koreksi (perbaikan) dan reformasi harus diperlakukan sebagai prioritas dalam proyek rekonstruksi keagamaan.

3. Makna lain dari Islam, mungkin, al-Qur’an yang ada sebagaimana juga tradisi (Sunnah) kenabian ( atau Sunnah nabi dan Ahlul Bait menurut Syiah). Karena, menurut kepercayaan otentik tertentu dari semua Muslim, al-Qur’an yang ada sekarang adalah persis sama dengan al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi yang Suci, tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun. Semua reformis (pembaharu), termasuk Muthahhari percaya bahwa tidak ada koreksi terhadap al-Qur’an. Namun, sebagaimana kita semua ketahui, ada banyak Sunnah yang terlupakan pada koleksi (kumpulan hadits) yang ada saat ini. Maka, koreksi pada hadist Nabi, dapat dipahami untuk mengenali dan membedakan antara yang benar dan yang salah – sebuah misi utama yang harus dilakukan oleh para reformis, yang begitu ditekankan oleh Muthahhari.

4. Makna lain dari Islam adalah budaya masyarakat Islam sejak masa awal sampai sekarang. Secara alami, budaya tersebut sangat terpengaruh oleh penafsiran para ulama Islam (yaitu: makna yang kedua), walaupun budaya-budaya endemik sebagaimana juga kondisi historis, pemerintahan dan beberapa faktor lainnya juga telah berpengaruh dalam membentuk perilaku dan budaya tersebut. Menurut Muthahhari, kebangkitan kembali juga berlaku dalam arena ini.

* * *

Point lain berkenaan dengan pertanyaan kebangkitan kembali adalah untuk menemukan apa saja karakteristik Islam sebagai wujud yang hidup yang memungkinkannya membangkitkan kembali masyarakat?

Muthahhari mengatakan bahwa dalam pemikiran asli Islam, ada beberapa elemen fundamental yang dipertimbangkan sangat diperlukan (wajib) dalam setiap mazhab (ajaran) yang hidup. Alasan mengapa Ummat Islam telah begitu hidup dan dinamis pada masa awal Islam adalah adanya elemen-elemen ini, dan alasan mengapa umat tidak hidup adalah karena lemahnya atau kekurangan elemen-elemen tersebut.

Elemen-elemen tersebut adalah:

1. Sensasional (menggemparkan), menarik dan menyenangkan; namun sebuah sensansi dan kegembiraan berdasarkan suatu program secara sadar (dengan kesadaran), sebuah tujuan yang telah ditentukan, dan sebuah cara aktual untuk mencapainya, sambil mewujudkan konformitas dengan insting dan sifat-sifat kemanusiaan. Sensasi tersebut dan kegembiraan mewujud di antara kedua aspek material dan spiritual dari dakwah Islam. Sebagai contoh, al-Qur’an al-Karim percaya bahwa alam semesta tegak berdiri di atas kebenaran dan keadilan; setiap orang selayaknya secara pasti menerima pahala (reward) dan hukuman atas amal perbuatannya; alam semesta adalah bermakna dan dalam pencaharian menuju Tuhan, bukan suatu kebetulan belaka, bukan sesuatu yang sia-sia, manusia adalah khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi yang diserahi amanah yang tak satupun makhluk lain mampu menanggungnya; manusia disokong dengan kebesaran Ilahiah, kemerdekaan dan kehendak bebas; manusia bertanggung jawab untuk mengoreksi korupsi (kemerosotan) dan mengubah dunia yang ada menjadi sesuatu yang diinginkan; dan watak manusia adalah murni (fitrah) dan Ilahiyah. Dengan kata lain, hal ini menciptakan kegembiraan material bagi umat manusia, sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an:

و لقد کتبنا فی الزبور من بعد الذکر ان الارض یورثها من یشاء من عباده الصالحین

“Telah kami tentukan dalam al-Kitab Zabur setelahperingatan ini bahwa sesungguhnya bumi ini akan kami wariskan kepada siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba-Ku yang shalih.”

(QS. )

Ayat tersebut, yang kadang-kadang muncul sebagai janji surgawi dan fasilitas material, menyebabkan gairah kegembiraan, kreatifitas dan pergerakan pada umat manusia dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Bertentangan dengan dengan aliran ini, ada aliran lain yang menimbulkan kekecewaan dan depresi dalam masyarakat Islam melalui propaganda pernyataaan berikut: “bahwa semua gerakan perubahan akan gagal”, pencaharian kebenaran tidak dapat berlangsung, dan seterusnya.

2. Realistik pada pandangannya berkenaan dengan Tuhan, Kasih sayang-Nya dan Kemurkaannya, manusia dan alam ada dalam perlawanan terhadap idea imajiner dari perspektif idealistik. Sebagai contoh: apa yang Islam deklarasikan tentang beriman kepada Tuhan dan asceticism (kepertapaan/Zuhud) adalah ada di antara kegembiraan (harap) dan cemas (realistik), tapi Muslim awam (orang kebanyakan) mewujudkan dua konsep ini dalam sebuah kontradiksi dengan hal itu.

3. Sederhana, jelas dan lengkap menyeluruh bagi semua orang – suatu kondisi yang sangat penting bagi setiap ajaran untuk tetap hidup dan dapat diatur (terkelola/administrative). Dalam banyak kasus jika konsep dan dugaan digambarkan secara tepat dan jelas, mereka tidak akan melakukan misinya dengan cara terbaik, namun jika hal-hal itu diterangkan dengan cara yang meragukan dan rumit, hal itu tidak akan bermanfaat. Muthahhari percaya bahwa para filosof Islam, para theolog dan fuqoha (hakim) telah memainkan peran yang layak dicatat dalam memperumit konsep-konsep Islam, ilmu pengetahuan dan hukum, padahal Rasulullah telah mengatakan; “Aku dibangkitkan dengan syariah yang sederhana dan mudah.” Muthahhari mengatakan bahwa hal ini adalah mukjizat Islam bahawa pada saat yang sama Islam begitu jelas dan mendalam. Tentu saja ilmu-ilmu pengetahuan Islam mempunyai level yang berbeda-beda. Level yang paling sederhana adalah untuk orang awam (orang biasa) sementara level yang dalam dan yang lebih dalam lagi adalah untuk para pemikir dan para sufi (mystics) Islam.

4. Terbuka dan berwawasan luas; hal ini mencakup sekte-sekte/mazhab dalam Islam maupun dengan non-Muslim. Satu faktor dalam pengembangan peradaban Islam adalah toleransinya dan ko-eksistensinya dengan agama-agama lain dan mazhab lain. Muthahhari percaya bahwa pola pikir yang sempit dalam Islam, adalah membatasi kemurahan Tuhan hanya sekelompok tertentu, dan menyebut selain dari Muslim sebagai kafir, musyrik dan atheis – sebagaimana terjadi dalam kasus Khawarij dan kaum formalis di masa lalu dan pada kasus-kasus beberapa kelompok pada saat ini – yang telah menyebabkan kerusakan dan kemerosotan Islam. Apa yang menyebabkan wawasan yang luas dalam Islam? Muthahhari menjawab, bahwa pertama-tama, Islam mempertimbangkan kondisi temporal dan spasial dan kebutuhan-kebutuhan, dan kedua, hal ini menuntut perlunya perhatian yang serius pada intelek dan posisinya.

5. Menurut Islam, manusia disokong dengan kemerdekaan, kehendak bebas dan kemampuan membuat keputusan. Dialah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan :

ان الله لایغیر ما بقوم حتی یغیروا ما بانفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri.”

(QS )

Bagaimanapun juga, tak ada ruang untuk menghubungkan problem-problem, kesukaran dan bencana kepada dunia luar daripada faktor manusia dan kehendak manusia dan pernyataan berikut: “adalah takdir Muslim untuk tetap ketinggalan.” dan seterusnya, adalah nonsens.

6. Kemerdekaan berfikir dan penolakan terhadap imitasi peniruan membuta (taqlid) dan larangan mengikuti orang lain tanpa pikir adalah karakteristik lain dari pemikiran Islam. Dalam pendapat Muthahhari, kemerdekaan sosial, ekonomi dan politik adalah tak berguna tanpa adanya kemerdekaan dalam pemikiran dan budaya. Ketergantungan pemikiran menyebabkan peniadaan kepribadian (personality) individu dan masyarakat yang akan mengarah pada sejenis pencederaan masyarakat. Mengikuti leluhur seseorang dan kebiasaan tradisional tanpa suatu penyelidikan dan hanya sekedar mengikuti mayoritas hanya karena mereka lebih berkuasa dan bukan karena nilai-nilai mereka, adalah beberapa contoh ketergantungan dalam pemikiran yang akhirnya akan membawa kerusakan pada masyarakat Islam. Sekarang kita banyak mendengar tentang globalisasi yang dihadirkan ke dunia ketiga dan khususnya masyarakat Islam – sesuatu yang akan menghasilkan pengrusakan kepribadian masyarakat tersebut.

Faktor-faktor Pencemar dan Kemerosotan

Menurut Muthahhari, pada awalnya Islam telah memancarkan air yang jernih yang dapat memuaskan dahaga akan kebenaran. Namun seperti yang terjadi pada sungai-sungai, bahwa mereka secara bertahap tercemari dan menjadi kotor karena berbagai faktor, hal yang sama terjadi pada semua agama secara umum dan Islam pada khususnya, sehingga agama-agama itu harus disaring dan disucikan kembali. Di dalam penelitian sejarahnya, Muthahhari menyajikan beberapa contoh dari pencemaran tersebut dan faktor-faktor destruktifnya.

Salah satu daripadanya adalah merebaknya kaum formallis, yang karakteristiknya adalah: kaku, menakutkan, harfiah (literalis), formalisme yang meluas, dan penolakan terhadap semua jenis penalaran akal dalam dunia keagamaan, dan, itu sayangnya didukung oleh banyak kaum Muslim. Kelompok-kelolmpok ini telah memainkan peran yang merusak dalam arti menghalangi Islam dari kedinamisan hidup yang vital yang pada gilirannya menyebabkan kelemahan dan kemerosotan di dalam Islam. Menurut Muthahhari, mereka telah sangat lebih melukai Islam dibanding kaum Mongol, karena orang-orang Mongol nyata-nyata adalah musuh, tapi kaum literalis tersebut adalah mereka yang mencederai Islam atas nama agama dan kesucian. Muthahhari menghitung beberapa aliran yang menjadi perwakilan dari metode pemikiran tersebut yaitu: kaum khawarij, formalis (Ahl al-Dhahir) dan kaum Akhbari.

Perspektif kedua adalah sebuah penentangan mutlak terhadap perspektif yang pertama yang beranggapan bahwa kita harus sepenuhnya menyesuaikan diri dengan zaman, transformasi dan pencapaian intelektual manusia, dan atas dasar pencapaian itulah kita mesti me-review (memahami ulang) Islam, sekalipun hal itu mungkin meninggalkan banyak konsep-konsep religius dan elemen-elemen Islam yang ditemukan dalam Qur’an dan Sunnah. Menurut perspektif ini, Islam akhirnya akan menjadi lebih berupa kepercayaan batiniah, sebuah hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan, dan berupa ritual formal. Di sini wahyu ilahiah ditundukan oleh nalar. Nalar macam apa? Nalar yang meraba-raba dan tidak stabil yang dapat digantikan oleh hal yang lainnya dengan cepat dan bukan penalaran akal yang matang. Orang-orang ini mengikuti satu prinsip yang mengatakan bahwa setiap perubahan dalam nilai-nilai kemanusiaan, kepercayaan, dan budaya yang secara umum diterima oleh semua orang atau bebera orang, harus diterima juga oleh setiap orang dan mereka harus mengubah prinsip-prinsip agama mereka berdasarkan perubahan tersebut.

Faktor pencemaran lain dan penyimpangan adalah pemaksaan beberapa tradisi atau kesalahpahaman terhadap mereka. Hal ini secara pasti diterima dan sejarah Islam bahwa Sunnah tidaklah disampaikan kepada kita secara lengkap, dengan cara yang sempurna. Hal ini mungkin disebabkan beberapa faktor berbeda. Sebagai contoh, beberapa musuh memaksakan beberapa tradisi dari luar ke dalam Sunnah Islam, atau beberapa periwayat mentransfer/meriwayatkan beberapa tradisi dengan cara yang tidak lengkap yang mengubah makna sesungguhnya, atau periwayat hadits dengan tidak sengaja menceritakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh Rasulullah, atau beberapa tradisi (sunnah) lain yang dapat menjadikan situasinya clear belum kita jangkau, atau sebuah tradisi mengenai situasi khusus diperlakukan sebagai aturan umum. Anyway, ada banyak sunnah/tradisi yang disampaikan kepada kita oleh orang-orang anti-Islam, anti-Qur’an, dan anti doktrin-intelektual – suatu faktor yang sangat penting dalam menghancurkan kebudayaan Islam.

Menurut Muthahhari, distorsi, kemunafikan, pertemanan tak masuk akal atau buatan musuh-musuh, dan misisue tentang Islam oleh beberapa kekuatan politik sepanjang sejarah Islam, semuanya telah mempengaruhi pencemaran (polusi) tersebut.

Dapatkah Pencemaran Ilmu disaring dan disucikan?

Muthahhari mengatakan bahwa Islam sendiri dapat menyaring dan mensucikan pencemaran tersebut melalui hal-hal berikut: 1. Al Qur’an al-Karim, 2. tradisi (Sunnah/Hadits) tertentu yang otentik dari Sunnah Nabi (dan Ahlul Bayt menurut Syiah), dan 3. intelek manusia yang begitu direkomendasikan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Muthahhari percaya bahwa kita dapat membangkitkan kembali dan kembali kepada Islam yang genuine (asli) melalui 3 faktor tersebut – sebuah perkara yang perlu penjelasan lebih lanjut dalam topik berikutnya.

Mekanisme Reformasi

Mekanisme reformasi dan kebangkitan pemikiran Islam adalah sebagai berikut:

Mekanisme Pertama, Muthahhari mengatakan bahwa Islam sebagai sebagai agama yang kekal mempunyai prinsip-prinsip yang tetap dan hal-hal yang dapat berubah. Islam mempunyai dua jenis unsur: unsur yang stabil (tetap) yang diperlakukan sebagai fundasi dasar Islam yang tak berubah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tetap, dan unsur-unsur yang dapat berubah, yang tak memiliki bentuk spesifik, seiring dengan dengan perubahan kondisi ruang dan waktu yang dihadapi manusia. Oleh karena itu, jika setiap perubahan terjadi pada jenis unsur kedua, itu tidak berarti sebuah pelanggaran dan pembatalan atau penghapusan keabadian Islam.

Muthahhari percaya bahwa penalaran dan intelek memainkan peran yang sangat penting dalam mengenali prinsip-prinsip agama yang kokoh, sebagaimana adaptasi mereka terhadap kasus-kasus yang dapat berubah, dan ijtihad dapat memperkenalkan agama yang abadi sebagai pedoman bagi zaman moderen melalui pemanfaatan sumber-sumber tersebut.

Dia menekankan peraturan tersebut, bahwa “apapun yang ditetapkan oleh akal adalah juga ditetapkan oleh syariah” sehingga Islam mempertimbangkan bahwa spirit (semangat) dan konteks dari sebuah urusan adalah lebih penting daripada bentuknya dan kemunculannya, maka itulah mengapa Islam tidaklah bertentangan dengan fenomena moderen. Sebagai contoh, dalam ayat al Qur’an berikut: “Bersiaplah untuk menghadapi mereka (yaitu dalam peperangan dengan musuh) semampu kalian…” Prinsip kesiapan mati syahid untuk mempertahankan diri, membela bangsa, dan agama melawan musuh adalah begitu dipentingkan. Ini adalah prinsip Islam yang mapan dan tetap/kokoh (stabil), berdasarkan pasda kebutuhan yang tetap bagi manusia. Namun peralatan dan instrumen untuk pertahanan, adalah tergantung pada zamanmnya, dan kita tidak perlu hanya bertahan pada penggunaan kuda dan panah, sebab itu hanyalah kasus yang terjadi pada zaman awal Islam.

Mekanisme kedua dalam pandangan Muthahhari adalah perkara kenabian. Dia mengatakan bahwa Rasulullah memiliki tiga posisi Ilahiyah:

1. Posisi sebagai Rasulullah, dan menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah dari Tuhan kepada umat manusia. Al-Qur’an mengatakan berkenaan dengan hal ini : “Tidak ada kewajiban bagi nabi kecuali menyampaikannya.”

2. Posisi sebagai hakim (judge). Rasulullah telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi hakim atas perselihian yang terjadi di masyarakat. Al-Qur’an mengatakan:

فلا و ربک لیحکمونک فیما شجر بینهم ثم لایجدوا فی صدورهم حاجه مما قضیت و یسلموا تسلیما

Maka tidak, demi Tuhan-mu, pastilah Aku akan menghakimimu terhadap apa-apa yang mereka perselisihkan, kemudian tidak kamu dapati dalam dada mereka keberatan terhadap apa yang telah aku putuskan dan mereka berserah diri sepenuhnya.”

(QS )

3. Posisi sebagai pemerintahan bagi masyarakat. Dari perspektif ini, Rasulullah telah ditunjuk oleh Tuhan sebagai manajer masyarakat yang berkepentingan dengan urusan sosial dan politik. Al-Qur’an mengatakan : “Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah…” (QS An-Nissa, 4 : 59)

Secara alami, posisi pertama tidak dapat dialihkan kepada orang lain, karena ia adalah nabi terakhir. Tapi posisi kedua dan ketiga dapat dialihkan. (Tentu saja, kepada siapa tugas atau posisi ini dapat dialihkan/diserahkan, telah menjadi perdebatan antara Sunni dan Syiah, tapi ini bukan perhatian kita saat ini)

Maka, ada beberapa Sunnah Rasulullah berkaitan dengan posisi kedua dan ketiga tersebut yang tidak wajib dianggap tak dapat berubah dan permanen. Namun berbeda dengan elemen-elemen tersebut, ada beberapa prinsip yang stabil dan tak berubah, yaitu: “Apa yang dihalalkan oleh Nabi Muhammad, adalah tetap halal sampai hari kiamat dan hari pengadilan nanti, dan apa yang diharamkan olehnya maka akan tetap haram sampai hari kiamat nanti.”

Mekanisme ketiga adalah untuk membedakan sunnah yang dipaksakan daripada sunnah yang asli, sebagai hasil dari begitu banyaknya perkara yang tak benar yang dapat dibedakan dari perkara yang benar.

Mekanisme ke-empat adalah hukum yang mengatakan: “Apa saja yang ditentukan baik oleh akal sehat (intelek) maka juga dianggap baik oleh Syariah.” Muthahhari percaya bahwa intelek manusia dapat menemukan mana yang baik dan mana yang buruk tanpa terlalu tergantung kepada keputusan syariah yang berkaitan dengannya. Maka, ketika intelek menemukan bahwa keadilan adalah baik dan kezaliman adalah buruk, hal itu pasti yang pertama (keadilan) adalah tidak haram dan yang kedua (kezaliman) adalah haram.

Waktu saya habis. Maka mungkin saya belum dapat menyebutkan beberapa point lainnya. Saya harap saya dapat menjelaskan beberapa perspektif Muthahhari berkenaan dengan hal ini.***


§ Makalah yang disajikan dalam Seminar Pemikiran Murthada Muthahhari, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lintas Agama dan Budaya, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta, pada hari Sabtu, 15 Mei 2004. Makalah ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ahmad Y. Samantho, S.IP, mahasiswa pascasarjana Program Filsafat Islam di Islamic College for Advanced Studies (ICAS)-Paramadina Jakarta.

4 comments on “Pandangan Muthahhari tentang Kebangkitan Pemikiran Keagamaan

  1. hola soy de venezuela quisiera saber que significa ahlult bait, y cuando habra informacion sobre esa cumbre que se reralizo en agosto de este año…..

  2. Asslm…..

    Info yang bagus

    http://kemanusiaan.wordpress.com
    Bagaimana menurut anda isinya?

    Wasslm…

  3. semoga islam lebih berkembang. dan kebenarn Islam terungkap dengan kemajuan teknologi http://mukjizatdiislam.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: