2 Komentar

solusi menghadapi konflik mazhab”

Empat Solusi Menghadapi Usaha Penyebaran Konflik Mazhab”

oleh: Ayatullah M. Ali Taskhiri:

konfrensi-bogor.jpgPada tanggal 1 Maret kemarin, Ayatullah Taskhiri dalam seminar “Strategi Syiah dalam Menghadapi Penyebaran Isu Konflik Mazhab” tampil sebagai pembicara tunggal yang setelah diikuti dengan diskusi panel yang menghadirkan tiga pembicara. Seminar ini diadakan oleh Akademi Ilmu dan Budaya Islam Qom.

Ayatullah Taskhiri menyebutkan bahwa sebelum Islam, hubungan masyarakat dalam kondisi yang tidak rasional. Ini dapat ditelusuri dalam sejarah sebelum munculnya Islam. Ketika Islam muncul hubungan antar masyarakat menjadi lebih rasional. Beliau mencontohkan hubungan baik dan rasional antara Imam Malik, pemimpin mazhab Maliki dengan Imam Ja’far Ash-Shadiq AS.

untitled-1.jpg

Kepercayaan Imam Malik terhadap Imam Ja’far Ash-Shadiq AS dapat dibaca dalam buku Al-Khishal karya Syaikh Shaduq. Betapa menceritakan bagaimana hubungan baik dan kecintaan Imam Malik terhadap Imam Ja’far Ash-Shadiq AS. Kecintaan para Imam Ahlus Sunnah terhadap Imam Ash-Shadiq AS, menunjukkan hubungan rasional yang memang dibangun di atas peadaban Islam.

Sejarah juga mencatat bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq memiliki 4000 murid. Disebutkan bahwa sekitar 3000 dari para muridnya itu bukan dari mazhab Syiah. Masa itu menunjukkan bahwa hubungan antara mazhab sangat rasional.

Dalam buku Shawa’iq Al-Muhriqah ketika berbicara tentang hadis “Silsilah Dzahab”, hadis dari Imam Ar-Ridha AS yang diucapkannya kemudian oleh ulama baik Syiah maupun Sunni menuliskan silsilah perawi hadis ini yang sebagian menuliskan silsilah hadis ini dengan air emas, Ahmad ibn Hambal menyebutkan: “Bila hadis ini diketahui oleh orang gila, niscaya ia akan sembuh”.

Dalam pembicaraannya, Ayatullah Taskhiri menyebutkan ada empat kendala yang merintangi pendekatan mazhab dan persatuan kaum muslimin. Menurutnya, keempat kendala itu sebagai berikut:

1. Usaha musuh Islam dari luar negara dan umat Islam. Sebagian lain adalah musuh dalam selimut yang khawatir akan kepentingannya. Dan yang paling tahu cara memorak-porandakan kaum Muslimin adalah Inggris. Dalam konferensi kemarin yang diadakan di Doha, sekitar 250 dari utusan ulama Ahlus Sunnah terlihat kompak. Mereka sejak awal telah menyepakati agar setiap orang menanyakan sebuah masalah kepada kami. Ahmad Tayyib dari Al-Azhar berkata: “Selama ini, Syiah yang paling banyak mengambil untung dari adanya organisasi dan usaha pendekatan antarmazhab”. Di sisi lain, Yusuf Qaradhawi menagih bagian Ahlus Sunnah dari pendekatan antarmazhab yang selama ini didominasi oleh Syiah. Katanya: “Mahmud Syaltut dalam fatwanya membolehkan seorang Sunni untuk beramal dengan fikih Syiah. Sekarang, apa yang diberikan oleh Syiah kepada Ahlus Sunnah?”

Dalam menjawab pertanyaan mereka, dengan terheran-heran Ayatullah Taskhiri menjawab: “Bagaimana mungkin kalian dengan ide seperti ini ingin membahas tentang Islam. Apakah kalian mengira ini masalah daging kurban sehingga kita harus berbicara siapa dapat apa dan siapa dapat lebih banyak?” Ayatullah Taskhiri menambahkan: “Kami tidak punya masalah bila seseorang dari Syiah menyeberang ke Ahlus Sunnah atau sebaliknya. Masalah ini bukan lagi bagian dari sebuah masalah fatwa. Ini masalah keyakinan setiap individu. Masalah sebenarnya adalah cara pandang yang cepat mengkafirkan golongan lain. Fatwa Syaltut waktu itu dalam rangka mengebiri cara pandang takfiri, Wahabi. Dan dalam hal ini, Syiah selalu menang selangkah dalam masalah menentang cara pandang takfiri”.

Dalam konferensi Doha kemarin, untuk pertama kalinya pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak pada tempatnya di tanyakan dalam pertemuan yang seperti itu dipertanyakan.

2. Kasus-kasus yang dapat membangkitkan fitnah. Ada beberapa kasus-kasus yang dapat menimbulkan konflik antar kedua belah pihak. Seperti puasa pada hari Asyura, jenis berpakaian pada hari Asyura, memperingati setahun kematian atau kelahiran, tidak adanya perhatian kedua belah pihak bagaimana dalam buku-buku hadis Syiah tidak terdapat hadis Ahlus Sunnah, laknat terhadap sahabat, maslah Ibnu Muljam dan Abu Lu’lu dan lain-lain.

Menurut Ayatullah Taskhiri masalah ini muncul karena kesalahpahaman saja. Seperti contoh pelaknatan. Yang ada pada hakikatnya adalah sebuah kritikan terhadap perilaku para sahabat. Dalam kasus Aisyah, Syiah tidak melaknatnya. Bahkan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Quran, Syiah tetap menganggap Aisyah sebagai Ummul Mukminin. Dalam perang Jamal pun, Imam Ali AS setelah mengalahkan pasukan Jamal, mengutus wanita-wanita terhormat Quraisy untuk mengiringi Aisyah. Segalanya dilakukan dengan penghormatan. Yang ada adalah kritikan terhadap situasi politik dan sejarah.

3. Gerakan politik yang diberi warna mazhab. Apa yang terjadi di Lebanon dan Irak sebagai kasus yang paling krisis, sebenarnya adalah masalah politik. Ketika penjajah dan kepentingan mereka terancam, untuk menutupi itu mereka membuat konflik itu seakan-akan konflik sektarian antarmazhab. Umat Islam harus segera menyadari bahwa bila kondisi di Irak tidak dapat dihentikan bahkan berlarut-larut, bakal terjadi pembantaian massal. Dan bila ini terjadi, maka dampaknya bakal sampai berabad-abad yang akan datang.

4. Masalah-masalah yang masih rancu. Salah satu penghambat terjadinya pendekatan antarmazhab dan persatuan umat Islam masih adanya masalah-masalah yang belum jelas bagi pihak-pihak lain. Masih dengan contoh dari konferensi Doha, Ayatullah Taskhiri menyebutkan bahwa masih saja ada yang belum jelas masalah iman dan kafir. Bahkan salah satu dari peserta menyebutkan bahwa barang siapa yang ragu akan kekafiran Syiah, maka dia juga kafir. Ayatullah Taskhiri memberikan penjelasan tentang Ushuluddin. Apa yang dimaksud dengan Ushuluddin. Ushuluddin adalah lingkaran yang membuat siapa saja masuk di dalamnya disebut sebagai Muslim. Itulah mengapa ketika disebutkan ijtihad adalah sebagai sebuah keharusan untuk menjamin keberlangsungan Islam. Tapi tidak ada ijtihad di luar ushuluddin. Namun, di dalam ushuluddin siapa saja punya kesempatan untuk berijtihad.

Satu masalah lain yang masih mengganjal selama ini menurut Ayatullah Taskhiri adalah mengenai tahrif Quran. Menurut beliau, masalah ini sudah tidak perlu lagi dibicarakan dalam forum konferensi persatuan Islam. Karena sebagaimana Ahlus Sunnah dengan bersandarkan pada hadis-hadis Syiah yang diriwayatkan oleh sebagian ahli hadis, Syiah juga punya pendapat yang sama dengan bersandarkan pada hadis-hadis Ahlus Sunnah. Bahwa Ahlus Sunnah juga sama mengakui adanya tahrif dalam Al-Quran. Semestinya ini sudah tidak perlu dibicarakan. Apa lagi, hampir seluruh ulama besar Syiah maupun Ahlus Sunnah berpendapat tidak ada tahrif dalam Al-Quran.

Di samping ada empat kendala di atas yang senantiasa menghalangi persatuan kaum Muslimin, Ayatullah Taskhiri menyebutkan juga empat strategi Syiah untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin. Keempat strategi itu adalah:

1. Senantiasa menjadi yang paling terdepan dalam mengusung bendera persatuan Islam.

2. Pencerahan atas kerancuan terkait dengan masalah-masalah tertentu.

3. Menghapus kasus-kasus yang dapat membuat berkobarnya fitnah ulama.

4. Menghapus kasus-kasus yang dapat membuat berkobarnya fitnah oleh pemerintah Islam.

Sekaitan dengan strategi nomor keempat, pemerintah Iran secara aktif lewat garis diplomatik melakukan hubungan yang lebih baik dengan Arab Saudi. Dalam bulan-bulan ini, kunjungan diplomatik antara kedua negara cukup padat. Keikutsertaan Iran dalam pertemuan negara-negara tetangga Irak, sekalipun dengan kehadiran Amerika, merupakan salah satu kebijakan Iran untuk meredam konflik sektarian yang ada. Di samping kebijakan yang selama ini dilaksanakan dengan menghormati keinginan rakyat dan pemerintah Irak dengan tidak ikut campur tangan dalam masalah dalam negeri Irak.

Menutupi pembicaraannya, Ayatullah Taskhiri mengatakan: “Dengan mengusung persatuan umat Islam, selama mengikuti sekitar 500 konferensi internasional tentang persatuan, Allah senantiasa membantu saya mampu menjawab dan mematahkan argumen yang menolak konsep persatuan Islam”. (Sumber:  http://www.infosyiah. wordpress.com, http://www.yapibangil.org)

2 comments on “solusi menghadapi konflik mazhab”

  1. Salam,

    Mas Samanto, kalau bisa rujukannya langsung saja. Karena yang Antum ambil dari Yapi Bangil itu ngambil dari blog lain dan sumber aslinya adalah Info Syiah.

    Begitu saja, dan terus berkarya…

  2. salam
    Mas Samantho salam kenal dari kami, era al-quran. kalau butuh artikel tentang quran silahkan kunjungi kami di Eraalquran.wordpress.com, dijamin halal dan hak ciptanya hanya miliki Allah semata….
    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: