5 Komentar

KEJAWEN ….. Kapitayan = Kepercayaan ASLI Manusia Jawa

Deddy Endarto

KEJAWEN ….. Kapitayan = Kepercayaan ASLI Manusia Jawa. Karena leluhur kita ini SUDAH SADAR DIRI, jauh sebelum ajaran agama samawi hadir di Nusantara. Para beliau merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIPERCAYA dan DILAKUKAN ajarannya, dan bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya.

Itulah alasan kenapa ajaran KEJAWEN tidak perlu di deklarasikan menjadi AGAMA. Masyarakat Jawa yang cair (ramah dan santun), juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Budha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung MONOTHEISME (Tuhan yang satu). Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran banyak memilih basis dakwahnya dari tanah Jawa.

Ironisnya KEJAWEN sebagai tuan rumah pernah di tekan hebat oleh para tamunya …. ketika jaman Kerajaan Kadhiri …. agama HINDU yang mampu merangkul penguasa menekan golongan Kejawen harus naik ke atas2 gunung Klothok dan gunung Wilis (artefak peninggalan KEJAWEN banyak tersebar disana sebagian di bawa kaum penjajah ke Leiden dan berkembang menjadi aliran kepercayaan HASOKO JOWO yang justru bermarkas di Leiden sana). Jaman Tumapel … kejadiannya sama, agama HINDU-BUDHA menekan hebat kelompok ini hingga mengungsi ke pesisir selatan tanah Jawa. Jaman Demak, agama ISLAM yang melakukan penetrasi bahkan hingga sekarang. Jaman Kolonoial, agama NASRANI mendapat tempat elite di sosial kemasyarakatan dan lainnya. Jika anda mau tanya seberapa ramah dan besarnya pengorbanan suatu peradaban menerima perobahan …. Itu hanya milik peradaban JAWA di Nusantara.

Andai saja mereka bersikokoh pada yakinnya dan mengabaikan nilai universal yang dipahaminya, saya amat yakin bahwa TIDAK AKAN PERNAH ADA AJARAN AGAMA IMPORT SEDEMIKIAN MUDAHNYA MASUK DI TANAH JAWA INI. Justru yang belum yakin …. itulah yang bertanya …. dan kearifan tanah ini menjawab dengan bahasa semesta. Ketika BUDHA dipahami dari sudut pandang Jawa, kita memiliki Borobudur yang dikagumi seluruh dunia dan dijadikan tempat pendidikan kelas dunia di eranya, hal yang sama terjadi dengan HINDU dengan candi Prambanan dan masyarakat Balinya. ISLAM dengan pendekatan kebudayaan telah menjadikan Walisongo sebagai ulama Asia Tenggara dan lainnya. Namun ketika semua dijalankan kaku harus seperti aslinya dimana agama samawi itu turun, maka terjadilah benturan yang nyata.

Karena ada ORANG yang menganggap adalah SEMPURNA bila agama dijalankan senafas dengan adat dimana diturunkan. JAWABANNYA ADALAH SALAH BESAR, karena tata nilai agama bersifat universal, sedangkan adat dianugrahkan pada suatu komunitas dan kekhususan lokasi.

Jadi jangan mimpi untuk membawa adat INDIA atau TIMUR TENGAH diatas tanah adat bernama JAWA ini, sebab getaran semestanya akan melawan dengan hebat. Karena TUHAN bisa disembah dengan berjuta cara dan berjuta bahasa, mengapa KALIAN MAHLUKNYA BERANI MENGKERDILKAN KEPERKASAANNYA DENGAN MENGATAKAN TUHAN HANYA PAHAM BAHASA DAN CARAMU SAJA ???

Unlike ·  · Follow Post · September 29 at 12:59am

  • 10 of 143
    View previous comments
  • Citra Cepu kok indu dewi dan indrakila dan majapahit ini bukan gagrak anyar tengahan to yayi,..yg awal dari tahun 230 SM..Yayi tau apa tdk yayi.
  • Ayu SriMulyani Kromodidjojo kejadian sunan kuning solo, mulai ada fase intrik penyelewengan sejarah babad Jawa… jika anda melihat garis keturunan dari Brawijaya I, dari Raden Wijaya/Vijaya, trah Bhre Lasem, akami dari trah Krama Vijaya (dari RAy.Kromowidjojo, garwa dari Arung Binang I) dan dari trah lain, tersingkir dari amangkuratan surakarta, sebagian dimakamkan di daerah Gunung sari (di kaki bukit candi Gunung sari) – Mungkid, Magelang. Jadi jangan bangga dulu jika memiliki kaitan sebagai generasi wiwaltikta, harus jelas dulu, dari garis para abdi ahulapala atau para penghianat nagari wiwaltikta (meskipun dari wangsa narendra). Banyak orang mengaku keturunan Majapahit, bahkan sekalipun benar mereka adalah keturunan majapahit dan memiliki serat kekancingan atau carangan kekuncen, mereka bukanlah apa-apa jika hanya cukup bangga. Keturunan majapahit sejati, disumpah tidak memiliki gelar tetapi memiliki derajat sifat dari kepemimpinannya, dan harus rela ada bersama rakyatnya, jika perlu menjadi bagian dari rakyat biasa. Intinya, keturunan majapahit bukan dari golongan PEMIMPIN YANG MINTA DILAYANI, tetapi justru karakter PEMIMPIN YANG MELAYANI rakyatnya. Salam.
  • Citra Cepu yayi sri mulyani@ kangmas mundut marang yayi sri mulyani ndamel makalah ing wikipedia,.kati judul JAWA INDUK NEGERI. atau bisa juga di Wikipedia damel makalah TANJUNG PUTRI KERAJAAN TERTUA DI ASIA TENGGARA..kinten2 saget menopo mboten yayi.
  • Ayu SriMulyani Kromodidjojo hahaha, saged sih saged kangmas, hananging kawula sanes astakriya/shastrakriya kadospunika, kula mangertos larah2anipun hananging upami badhe nyerat malah lajeng bingung.
  • Citra Cepu aku soyo bingung karo awakmu kok yayi,.di takoni ngerti babad tanjung putri kang kawitan tahun 230 SM opo to ora,.? kok malah teko sunan kuning amangkurat mas po barang,.he.he.he
  • Ayu SriMulyani Kromodidjojo nek dijabarkan panjang lebar njih tekan2e mriku nika pungkasane
  • Ayu SriMulyani Kromodidjojo sbenarnya kebangkitan jawa bukan dari ratusan halam kitab untuk bangkit, tapi dari rasa kepemilikannya kangmas, ada kode etik juga untuk tidak membuka seluruh sejarah trah di depan publik, karena mungkin menyangkut beberapa hal yang ‘riskan’ dan (mungkin) bisa menyulut kembali perpecahan masa silam. cJika masih penasaran ari “Historical of Ancient Java” diperpustakaan kraton Surakarta. semua babad kawitan ada di sana. Tapi sebagian sejarah Jawa lain, diboyong oleh belanda, sekarang ada di Leiden Library – Belanda, termasuk lontar asli kitab Negara Krtagama dan Suranggama. Nuwun.
  • Citra Cepu lha terus kepiye iki yayi,..? lha mongko ing umum bade nguningani,ngaweruhi leluhure cikal bakale negeri jowo kang kawitan,purwakane kondo duk nalikane kuno budho duk jaman semono yayi,.? yayi sri mulyani kangmas mundut marang jeneng kito yo yayi,enggal kaserat ing wikipedia pambabaripun dattu sen dang ing tan jung putri ing pu chang su lao yayi,.
  • Ayu SriMulyani Kromodidjojo saya usahakan seleksi kisah yang seperlunya bs utk publik … sepulang dari India kangmas, saya ada study di India akhir bulan, sekalian ngiras-irus saya mau tanya untuk teman2 dari tamilnadu untuk menerjemahkan prasasti di candi sukuh dan dari “Padmaganda” (tempat duduk Arca Buddha) dari Borobudur yang masih memakai aksara Brahmic …
  • Citra Cepu wah bombong manahipun kakang yayi,..? wis titi mangsane jowo antuk pangayoman koyo wong2 kang peduli koyo awakmu yayi…? mugo2 enggal antuk gawe yo yayi,..

5 comments on “KEJAWEN ….. Kapitayan = Kepercayaan ASLI Manusia Jawa

  1. Maap saya tidak bisa bahasa jawa.tapi TK tau kenapa sy sedikit paham dengan pembicaraan kalian. Saya asli Jawa. Dan saya tidak tau kenapa setiap ktmu orang2 yg suka tirakat selalu bicara ndi yo wes tuo ndang tangi ndang mlaku. Sesampai Sy seperti Bs melihat yg akan datang. Sesampai Sy melihat gunung Semeru di Jawa timur itu meledak, mengeluarkan lava dengan ular warna kuning bermata hijau, kalaupun itu mimpi kenapa di saat sy bener2 sadar dan melek. Sesampai di sana Sy bertemu orang penjaga pura bilang” panjang enam pun di rantosi yang meru” yg di tunggu juga para rojo tanah jowo? Mohon bimbinganya karena Sy bingung apa arti semua ini.
    Aro.sick@yahoo.com

  2. Sang Hyang Taya yang berarti Kosong, Hampa, Suwung dan seterusnya yang berarti ‘tan kena kinoyo ngopo’ bermakna bahwasannya Pencipta & Pengusa Alam Semesta tersebut tidak bisa dijangkau, tidak bisa terindera, tidak bisa dicapai, tidak terlintas dalam benak, tidak bisa diangan-angan, tidak bisa diapa-apakan, pokoke mutlak / absolut. Makanya pencapaian filsafat, filosofi hidup, dan sastra orang-orang Jawa Kuno / Nuswantara seperti dhandang gula, sinom, dsb adalah pencapaian puncak peradaban tertinggi manusia yang tinggal sedikit lagi sampai pada apa yang disebut oleh orang modern sekarang sebagai agama.Dimana kalau dicermati dan diobjektifikasi maka ia sebangun dan sejalan dengan Tauhid itu sendiri bahkan itulah Tauhid yang sejati sebagaimana yang kita kenal sekarang, karena mengakui Pencipta dan Penguasa Alam Semesta ini adalah Sang Hyang TUnggal yang berarti Sang Hyang Widi atau Sang Hyang Esa. Pencapaian filsafat, filosofi, sastra, dan pencarian akan Penguasa Alam Semesta oleh orang-orang Jawa Kuno / Nuswantara tinggal sedikit lagi sampai pada apa yang disebut sebagai Sang Hyang Taya yang tidak lain adalah Penguasa & Pencipta Alam Semesta itu sendiri. Namun Sang Hyang Taya ini karena tdak bisa dicapai dan dijangkau oleh apapun kecuali Dirinya Sendiri Yang Berkehendak mau mengahampiri dan menampakkan dirinya pada ciptaannya. Maka dari itulah Sang Hyang Taya mewujud menjadi yang dalam bahasa Jawa-Jawa Kuno digambarkan sebagai seutas tali yang turun dari bulatan cahaya langit yang disebut sebagai TU atau dalam versi lain sebagai Big Bang. Dari situlah tercipta awal mula alam semesta raya ini. Yang lalu Dia mengenalkan dan mengilhamkan Dirinya pada nenek moyang Nuswantara sebagai Sang Hyang TUnggal. Dari perwujudan inilah tercipta segala sesuatu dualisme sebagai perwujudan dari Sang Hyang Tunggal yaitu TUhan (yang diasosiakan oleh capaian pemikiran orang-orang Jawa Kuno tersebut sebagai hal-hal yang bersifat baik) dan hanTu (yang diasosikan oelh capaian pemikiran orang-orang Jawa Kuno tsb sebagai hal-hal yang bersifat buruk). Muncullah selanjutnya segala hal yang berpasang-pasangan : hitam putih, terang gelap,satu nol (biner), baik buruk, positif negatif, proton elektron, proton antiproton, elektron antielektron, nuetron antineutron, materi antimateri, timur barat, utara selatan, laki-laki perempuan, tomboi banci, dst

    Itulah yang menjelaskan kenapa bangsa Nuswantara sekarang merupakan bangsa Islam terbesar di dunia karena dari akar historisnya merupakan bangsa yang bertauhid sebagaimana tauhid yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasulullah semenjak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan samapai kepada khatamul anbiya Rasulullah SAW jauh sebelum agama-agama Hindu, Budha, Kristen, dan Islam datang ke Nuswantara sejatinya bangsa Nuswantara, kakek-moyang kita sudah sampai pada pencapaian Tauhid sebagaimana Islam dan Islam itu sendiri. Namun karena kolonialisem Eropa yang tidak mempunyai perangkat lunak keilmuan yang memadai mereka bangsa-bangsa Eropa menyebut agama Kapitayan / agama kuno ini adalah animisme dan dinamisme, karena disimplifikasi memberikan sesajen pada segala sesuatu yang ada Tu nya seperti BaTU, TUban, TUlung, dsb. Padahal kaum Muslimin yang mengerti pencapaian Tauhid sejati juga sampai pada pemahaman kiblat papat lima pancer yang merupakan ungkapan Jawa Kuno, dimana kiblat di Makkah terdapat baTu Hajar Aswad (sekali lagi baTU, ada elemen TU nya)yang diturunkan dari langit dulu sebenarnya berwarna putih bersinar,tapi karena menyerap energi-energi dosa-dosa makhluk bumi dan manusia maka baTU tersebut berubah menjadi hitam. Bahkan Rasulullah SAW sewaktu fathul makkah dengan 10.000 mujahidin Muslim menyuruh mengeluarkan seluruh berhala dari dalam Kakbah dan Makkah itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan perkataan orang-orang Jawa Kuno sebagai kiblat papat lima pancer, kiblat papat berarti arah utama mata angin (utara, selatan, timur, barat) dan arah mata angin turunannya (timur laut, tenggara, barat laut, barat daya) yang direpresentasikan dengan sisi-sisi kubus Kakbah.Lalu ‘lima pancer itu apa?’. Lima pancer adalah elemen kelima dari sisi-sisi Kakbah yaitu bagian dalamnya yang kosong, hening, sunyi, hampa, suwung. Sang Hyang Taya. Bukankah ini mata rantai Tauhid sebagaimana Tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul?

    Lalu kenapa Allah atau Sang Hyang Taya atau Sang Hyang Widi atau Sang Hyang Esa tidak menurunkan utusanNya sebagaimana para Nabi dan para Rasul itu diutus dan diturunkan di Jazirah Arab? Jawabannya adalah dulu Penguasa & Pencipta Alam Semesta Raya ini memberikan jaminan usia yang panjang agar manusia dengan usaha kerasnya sendiri mampu berijtihad dan menemukan Kesejatian / Tauhid. Karena semakin lama semakin mendekati akhir zaman kualitas spiritualitas manusia menurun dan menjadi bahan tertawaan seluruh makhluk alam semesta, makanya Sang Hyang Taya atau Allah itu sendiri, berkehendak menurunkan syariat-syariat berupa Suhuf-Shhuf Ibrahim, Zabur,Taurat, Injil dan terakhir Al Quran. Dan karena kemudahan inilah bangsa manusia tidak perlu sulit-sulit mencari Tauhid dan Kesejatian dengan rentang waktu sampai ribuan tahun sebagaimana usia-usia orang-orang kuno dahulu. itulah penjelasannya kenapa bangsa manusia sekarang berumur pendek, karena sudah lebih dimudahkan dalam mencari Yang sejati berupa bantuan manual book. Karena bangsa Nuswantara/bangsa Jawa Kuno, kakek-nenek moyang kita sudah mampu dengan ijtihad dan laku-laku spiritual mereka sedemikian sehingga mampu mencapai dan mengenali Sang Hyang Taya atau Allah itu sendiri, maka Allah tidak menurunkan dan mengutus utusannya kepada kakek-nenek moyang kita. Tapi bagi bangsa manusia yang sangat bandel, rewel, dan tidak bersunggung-sungguh mencari Yang Sejati / Sang Hyang Taya/Allah itu sendiri maka Allah mengutus para Nabi dan Rasulnya pada bangsa-bangsa tersebut. Analoginya jika para Nabi dan Rasul itu bagaikan lampu, maka logika yang paling waras adalah meletakkan lampu pada tempat yang paling gelap. Untuk tempat-tempat yang sudah terang atau sudah mampu membat lampu-lampu penerang maka tidak perlu dipasang lampu di tempat tersebut. Jauh sebelum Islam datang ke Nuswantara, kakek-moyang kita, orang-orang Jawa kuno/Nuswantara telah mengenal Jabarala, Makahala, dst yang padanannya adalah para malaikat dalam Islam Jibril, Mikail, dst. Coba lihat bukankah ada mata rantai antara agama-agama kuno kakek-nenek moyang kita dahulu dengan apa yang sekarang kita kenal dengan Islam, sama-sama Tauhid. Itulah yan menjelaskan ada peradaban Atlantis yang sangat superior yang sekarang dikenali sebagai wilayah Nuswantara karena level spiritualitas yang begitu tinggi di zaman tsb. Coba lihat cara ibadah agama kuno kapitayan yang sangat mirip dengan gerakan sholat sekarang. Bukankah ini mata rantai Tauhid dan agama yang sama yang tentunya bersumber dari sumber Yang Tunggal yaitu Sang Hyang Taya alias Sang Hyang Widi alias Sang Hyang Esa alias Allah SWT itu sendiri.

    Tema-tema seperti ini sering didiskusikan oleh Cak Nun dan Jamaah Maiyah di Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Bang-Bang Wetan, Gambang Syafaat, Padhang Mbulan, dan forum-forum kebersamaan lainnya

  3. Kula estu kasengesem kalian seratan punika :
    Ayu SriMulyani Kromodidjojo kejadian sunan kuning solo, mulai ada fase intrik penyelewengan sejarah babad Jawa… jika anda melihat garis keturunan dari Brawijaya I, dari Raden Wijaya/Vijaya, trah Bhre Lasem, akami dari trah Krama Vijaya (dari RAy.Kromowidjojo, garwa dari Arung Binang I) dan dari trah lain, tersingkir dari amangkuratan surakarta, sebagian dimakamkan di daerah Gunung sari (di kaki bukit candi Gunung sari) – Mungkid, Magelang. Jadi jangan bangga dulu jika memiliki kaitan sebagai generasi wiwaltikta, harus jelas dulu, dari garis para abdi ahulapala atau para penghianat nagari wiwaltikta (meskipun dari wangsa narendra). Banyak orang mengaku keturunan Majapahit, bahkan sekalipun benar mereka adalah keturunan majapahit dan memiliki serat kekancingan atau carangan kekuncen, mereka bukanlah apa-apa jika hanya cukup bangga. Keturunan majapahit sejati, disumpah tidak memiliki gelar tetapi memiliki derajat sifat dari kepemimpinannya, dan harus rela ada bersama rakyatnya, jika perlu menjadi bagian dari rakyat biasa. Intinya, keturunan majapahit bukan dari golongan PEMIMPIN YANG MINTA DILAYANI, tetapi justru karakter PEMIMPIN YANG MELAYANI rakyatnya. Salam.
    PANYUWUNAN, MBOK BILIH KAGUNGAN, KAWULA NYUWUN KAKINTUN MENGGAH CARIYOSIPUN PARA PEPUNDEN INGKANG KASAREKAKEN ING GUNUNGSARI MUNTILAN. LAN UGI PARA PEPUNDEN INGKANG KASAREKAKEN ING BEDOGAN, GONDOWANGI SAWANGAN. Mugi kepareng kakintun ing alamat kawula : hardo_evan@yahoo.co.id . Estu paringipun priksa dados damar tumrap para ahli waris. maturnuwun.

  4. maaf,ini hanya saran loh…..!!

    saya sarankan buka google dahana mubal nguyak uyak janma dan ilmu kasampurnan maharesi pamungkas.___
    beliau tau banyak,beliau sang guru besar.sang guru agung_______

    paus paulus,kepala suku dayak,sarwo edi,megawati dan hampir semua pejabat tertinggi beberapa negara mendatangi beliau____salam,tiyang sudra ing gunung sewu____

  5. assalamualaikum
    menyikapi artikel panjenegan tadi ada sedikit kekeliruan bahwa ibadah itu taufiqiyah (hukumnya haram jika tidak diperintahkan), maka ibadah harus tanpa merubah(cont: sholat jika basa arab ya basa arab)
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.973 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: