2 Komentar

Sampai Kapan Kita Membiarkan Media Mainstream (Kompas dkk) Menghegemoni Persepsi Publik?

  Sampai Kapan Kita Membiarkan Media Mainstream (Kompas dkk) Menghegemoni Persepsi Publik?
Media massa nasional, terutama media cetak, telah menafikan KTT Non-Blok ke-16 lalu di Teheran. Ini sungguh ironis dan sangat sulit dimengerti; bagaimana mungkin sebuah acara yang diikuti 120 negara -yg merupakan 2/3 anggota PBB- dengan melibatkan 35 kepala negara (presiden/raja), puluhan perdana menteri, puluhan utusan khusus, dan puluhan menlu serta kehadiran seorang Sekjen PBB, bisa dianggap sepele oleh media massa di Indonesia, yg notabene adalah salah satu pendiri Gerakan Non-Blok?
 
Kompas dkk secara mencolok menampakkan sikapnya yang bias, sektarian, dan sangat memihak (pro-Barat, anti-Republik Islam, anti-Islam). Hampir seminggu agenda Non-Blok digelar, yi 26 -31 Agustus, dengan membahas isu-isu regional dan internasional yg urgen dan sangat penting seperti perdamaian dunia atas dasar prinsip keadilan dan martabat bangsa, pelucutuan senjata nuklir, isu Suriah, reformasi struktural PBB, dan isu abadi tentang Palestina. Akan tetapi, tak satupun isu aktual dan penting ini dimuat dan diulas secara memadai.
Sebaliknya, Kompas meliput dan mengulas panjang lebar kunjungan kanselir Jerman Angel Merkel ke China, tepat pada hari pembukaan KTT Non-Blok, yg sama sekali tidak diberitakan kecuali satu hari sesudahnya, itupun fokus pada pernyataan kontroversial Presiden Mesir M. Mursi.  Jadi, bagi Kompas dkk, agenda seorang Merkel lebih berharga daripada agenda ratusan pimpinan negara bersama Sekjen PBB yg tengah membahas isu-isu penting dunia!
(Ini juga bisa dilihat bagaimana bagaimana Kompas sejak kemarin hingga hari ini mengelu-elukan kunjungan seorang Hillary Clinton).
Telah terjadi pemboikotan terencana dan sistematis. Berdasarkan investigasi, saya tak pernah menemukan satu foto pun tentang KTT tampil di Kompas.  Jangankan pidato pembukaan KTT oleh Pemimpin Spiritual Ayatollah Seyyed Ali Khamenei atau pernyataan Presiden Ahmadinejad selaku tuan rumah atau apresiasi Sekjen PBB Ban Ki-Moon terhadap penyelenggaraan KTT maha penting ini atau hasil rekomendasi KTT, bahkan pidato Wapres RI Boediono berikut agenda beliau selama di Teheran pun sama sekali tidak diliput alias diboikot. Tapi, anehnya, Kompas mengutip kecaman Presiden Mursi terhadap pemerintah Suriah dengan mengulasnya panjang lebar, misalnya disebutkan bahwa kasus ini mempermalukan tuan rumah Iran yg mendukung Suriah. Koran terbesar di Indonesia ini ternyata juga amat provokatif terhadap isu-isu tertentu.
Sikap bias dan sektarian Kompas memang sudah lama diketahui. Selain dalam liputan berita, harian ini juga sangat sektarian dalam menerima tulisan/opini. Ia menolak setiap tulisan yg dianggap tak sejalan dengan kepentingan ideologi aliran yg dianutnya, dan sebaliknya ia mudah menerima tulisan -sesederhana dan sedangkal apapun- kalau menyuarakan isu-isu liberalisme, sekulerisme dan semacamnya. Menyangkut opini, memang itu wilayah prerogatifnya atau selera redaksinya yg menentukan. Kita tak terlalu mempersoalkan. Hanya saja, dalam peliputan berita, ia semestinya memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik seperti keseimbangan berita, fairness, dan sikap tak memihak.
Saya sangat concern dengan peliputan media massa karena efeknya yg luar biasa.  Media massa sangat berpengaruh terhadap persepsi dan struktur kognitif pembaca/publik yang kemudian bermuara kepada pembentukan sikap dan perilaku mereka. Mungkin inilah alasannya mengapa Barat dan Zionis mengerahkan segenap potensi dan usahanya untuk menguasai dunia pers; yg terbukti sangat berhasil membentuk persepsi, pola pikir dan pola laku masyarakat Barat atau yang terbaratkan di seluruh dunia.
Banyak kasus konflik dan kekerasan dipicu oleh pemberitaan dan ulasan media massa yg bias, provokatif, dan penyebar kebohongan dan fitnah. Dan sebaliknya, sesuai dengan motto “No media, no idea”, kita tidak punya saluran untuk menyuarakan pemikiran dan opini kita yang berdampak massif kepada masyarakat. Untuk sebuah tragedi Sampang saja, kita sulit menyalurkan pendapat karena artikel-artikel kita tidak dimuat. Dalam kasus-kasus tertentu, press release dan konperensi pers yg dilakukan ormas seperti ABI berhasil menarik perhatian jurnalis untuk meliputnya, tetapi sebagian besar hanya hadir dalam media online/internet; jarang sekali dimuat dalam media cetak. Meski, pada saat yg sama, kita perlu apresiasi Tempo yang mewawancarai Kang Jalal. Tapi, saya tidak tahu apakah Ustadz Jalaluddin Rakhmat lebih puas mengemukakan gagasan melalui wawancara atau kolom khusus.

Sampai hari ini media mainstream masih mendominasi isi kepala publik kita. Sekalipun dominasi tunggal ini mulai berkurang setelah kemunculan media online – yg sangat beragam -, peran media cetak masih sangat besar. Lagipula, isi liputan media online juga dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan berita,  yg umumnya diproduksi oleh media mainstream atau taipan media mainstream tersebut dengan outlet/merk media yg lain. Kita juga jangan menyamakan sebagian besar publik dengan kita, yg mungkin punya akses ke berbagai media di luar yg mainstream tadi. Sepengamatan saya, jangankan publik awam, anggota parlemen saja atau para dosen umumnya cuma membaca Kompas atau Republika/Media Indonesia/Tempo. Publik yang akses internet pun lebih banyak meluangkan waktunya untuk ngobrol di facebook dan sejenisnya alih-alih baca berita, jendela realita.

Terima kasih

Husain Heriyanto
– catt.: bagi ikhwan/akhwat yg mau baca artikel saya “Kekerasan Ganda Tragedi Sampang” bisa konfirmasi via japri.

About these ads

2 comments on “Sampai Kapan Kita Membiarkan Media Mainstream (Kompas dkk) Menghegemoni Persepsi Publik?

  1. kalau begitu adanya,berarti ada pembohongan dan pembodohan publik dong,berarti ga seimbang dalam pemberitaan,kenapa diijinkan?….terus yg memberi izin jurnalistik dll memantau/mengawasi ga ya sampai terjadi hal-hal tersebut

  2. [...] hery on Sampai Kapan Kita Membiarkan M… [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.964 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: