Tinggalkan komentar

KULIAH V: APA ITU SAINS? (BAGIAN KEDUA)

KULIAH V Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara:

APA ITU SAINS? (BAGIAN KEDUA)

2. Pespektif Islam

B. Karakteristik Sains Islam

1. Sains Islam, sains Yang Terbuka Dibentuk sebagai bagian tak terpisah dari sistem keilmuan holistik, sains Islam, yang dipahami sebagai ilmu-ilmu alam (al-‘ulum al-thabi’iyyah), bersifat terbuka pada wilayah-wilayah ilmiah lain yang bersifat non-empiris. Dengan mengenal wilayahnya sendiri yang bersifat fisik-empiris, sains Islam membuka hubungan dengan wilayah matematik dan metafisik.

Ini tentunya berbeda dengan sains modern yang dengan ketat membatasi dirinya pada wilayah empiris saja dan menyingkirkan wilayah-wilayah lain sebagai tidak saintifik dan karena itu dipandang berada di luar arena saintifik.

Sifat terbuka ini menjadikan sains Islam menerima doktrin-doktrin metafisik sebagai dasar filosofisnya, sehingga terlihat perpaduan dan jalinan mesra antara fisika dan metafisika. Dengan kata lain sains Islam adalah bagian dari filsafat yang lebih holistik, dan harus dipahami sebagai filsafat alam. Barangkali berguna untuk memperlihatkan bagan keilmuan Islam secara holistik dan melihat di mana posisi sains (ilmu-ilmu kealaman) di dalamnya. Dalam kitabnya, al-Syifa’, Ibn Sina (w. 1037 M.) membagi filsafat, sebagai induk dari ilmu-ilmu, ke dalam empat bagian besar: logika, fisika, matematika dan metafisika. Logika, dipandang lebih sebagai alat metodologis (karena itu Aristoteles menyebutnya Organon), sedangkan fisika (yang dalam konteks ini kita sebut sebagai sains) dibagi ke dalam beberapa cabang: astrofisika (al-sama’ wal-‘alam), meteorlogi (atsar ‘uluwwi), fisika dasar (al-kawn wal-fasad), mineralogi (fi al-ma’adin), botani (fi al-nabat), zoologi (fi al-hayawan), anatomi (al-tasyrih) dan Psikologi (fi al-nafs). Sedangkan matematik dibagi kepada: aritmetik (‘ilm al-hisab), geometri (al-handasah), astronomi (‘il al-hay’ah) dan musik (al-musiqa), dan terakhir metafisik dibagi kepada dua divisi utama, tentang prinsip (al-mabda’) dan Eskatologi (al-ma’ad). Dengan demikian kita menyadari bahwa yang kita sebut sains (dalam tradisi ilmiah Islam) hanyalah satu bagian dari keseluruhan system keilmuan Islam, di mana satu bagian dengan bagian yang lainnya bisa saling interaksi. Mislanya saja kajian tentang jiwa manusia. Selama jiwa itu berada dalam tubuh manusia, maka di dikaji di wilayah (termasuk kajian fisika), tetapi sekali ia terpisah dengan tubuhnya, jiwa dibahas dalam salah satu cabang ilmu metafisika, yang disebut eskatologi. Demikan juga, ketika Ikhwan al-Shafa berbicata alam sebagai Manusia Agung (al-Insan al-Kabir), maka dipercaya bahwa alam fisik, yang masuk ke dalam objek sains) memiliki jiwa, yang disebut jiwa universal (al-nafs al-kulliyyah), yang mana alam semesta fisik adalah tubuhnya. Dan mereka yakin bahwa, sebagaimana tubuh manusia tidak akan bergerak kalau tidak digerakkan oleh jiwa, demikian juga tidak akan ada gerak dalam alam semesta, kalau tidak digerakkan oleh jiwa universal ini. Jalinan yang timbal balik (mutual relationship) inilah yang menjadi salah satu ciri khas (karakter) sains Islam, yang tentunya akan sangat berbeda dengan sains modern yang telah menutup diri pada setiap hubungan dengan dunia non-empiris (ghaib). 2. Membaca Alam sebagai Ayat Allah. Karakteristik sains Islam yang lain adalah pembacaannya terhadap alam sebagai ayat Allah (ayat kauwniyyah, di samping al-Qur’an, sebagai ayat qawliyyah). Sayyed Hossen Nasr, dalam bukunya The Islamic Science: an Illustrated Study, menyatakan bahwa tidak ada seorang ilmuwan Muslim yang mengkaji alam hanya sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu saja, tetapi mereka mengkaji alam sebagai upaya mencari jejak-jeka ilahi (Vestigia Dei). Demikian juga, al-Jahiz, pengarang buku zoology, Kitab al-Hayawan, menyatakan dalam pendahuluannya bahwa ‘zoologi (ilmu hewan) baginya adalah cabang ilmu agama, karena, sambungnya, tidak ada maksud lain yang lebih mulia dari pengarangnya (dalam hal ini diri al-Jahiz sendiri), daripada menunjukkan kebesaran ilahi yang terdapat pada hewan-hewan tersebut.’ Hal serupa dinyatakan oleh Ikhwan al-Shafa’, kelompok pemikir Muslim abad kesepuluh, yang dalam kitab zoologinya menyatakan, bahwa ‘hewan tertentu (cacing bawah tanah, misalnya) tidak memiliki mata. Dan itu terjadi atas dasar kearifan Tuhan. Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka Ia pun tidak menciptakan mata bagi hewan seperti itu, karena kalau diciptakan juga, bukan saja mata itu tidak berguna (tidak dimanfaatkan), tetapi juga hanya akan memberi mudarat bagi hewan tersebut (misalnya kelilipan). Demikian juga ketika Allah tidak memberi rasa sakit pada tumbuhan (misalanya ketika disengat matahari), rasa sakit pada hewan dan manusia adalah karunia dari Allah. Karena seandainya kita tidak punya rasa sakit, maka ketika lilin, menggunakan contoh mereka sendiri, membakar kaki kita yang terjuntai dari tempat tidur, ia tidak akan menyebabkan kita menarik kaki kita dari sang lilin, akibatnya kaki kita bisa hangus terbakar tanpa kita merasakannya. Dan banyak tentunya contoh-contoh di mana ilmuwan Muslim memperlihatkan,dalam penjelasan ilmiah mereka, tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada objek-objek fisik yang mereka teliti. Allah swt. sendiri dalam beberapa ayat al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa “pada penciptaan langit dan bumi dan bergantinya siang dan malam terdaapat tanda-tanda kebesaran Allah, bagi mereka yang berakal.” Juga dikatakan “akan Kami perlihatkan tanda-tanda Kami di seantero jagat (afak) dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga mereka tahu bahwa al-Qur’an benar-benar dari Allah.” Ayat-ayat semacam ini tentunya menyadarkan kita bahwa alam semesta bukanlah realitas independen yang tidak punya kaitan apapun dengan Realitas yang lebih tinggi, sebagai mana diklaim oleh saintis-saintis sekuler, melainkan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dengan ini diharapkan bahwa pengkajian ilmuwan terhadap alam yang menjadi objek penelitiannya, tidak akan berhenti pada tanda-tanda saja tetapi terus menelusuri sehingga menemukan apa yang ditandai. Karakter ini tentu saja bertentangan dengan karakter sains modern yang justru mengharamkan dibawanya Tuhan dalam penjelasan saintifik. Dengan karakter seperti inilah menurut saya sains Islam dapat mengenal Allah, sang Pencipta, dan memperkuat keimanan kita kepada pencipta alam, bukan sebaliknya, seperti yang terjadi pada para saintis Barat, yang justru meninggalkan Tuhan mereka. (maaf saya tidak bisa memasukkan bagan keilmuan Islam dalam posting ini)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.954 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: