7 Komentar

KONTROVERSI SEPUTAR SYEH SITI JENAR

KONTROVERSI SEPUTAR SYEH SITI JENAR

by Richadiana Kartakusuma on Sunday, March 18, 2012 at 11:22pm ·

Syekh Siti Jenar

Makam Syekh Siti Jenar di Demak – Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain SitibritLemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.

Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Konsep dan ajaran =  Kenetralan sebagian atau keseluruhan artikel ini dipertentangkan.

Silakan melihat pembicaraan di halaman diskusi artikel ini. Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, salat, puasa, zakat dan haji.

Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu.

Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;

1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt salat, zakat dll);

2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;

3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan

4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.

Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan.

Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh.

Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti – Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi bersatu dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72).

Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Pengertian Zadhab – Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.

Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada Al Quran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.

Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

Hamamayu Hayuning Bawana – Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

Kontroversi – Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

Kisah pada saat pasca kematian – Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayam kan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan dimakam kan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebo Kenanga dan Ki Ageng Tingkir.

by : wikipedia

Nama besar Syeh Siti Jenar berkumandang keseluruh wilayah Majapahit dan Pajajaran. Bukan hanya penganut Islam, para pemeluk agama Hindhu dan Buddha-pun sangat menghormati beliau. Sunan Kalijaga sering bertandang ke Pesantren Krendhasawa. Kedua tokoh ini, ibarat kakak adik yang tidak bisa dipisahkan.

Kedekatan dua tokoh besar yang sangat disegani oleh seluruh masyarakat Majapahit, sangat merisaukan Dewan Wali Sangha. Apalagi ketika dua tokoh itu, mengumandangkan ajaran Islam yang mengakui segala persamaan dengan agama lain, Dewan Wali sedikit berang. Dewan Wali Sangha masih menganggap Islam adalah segala-galanya, tidak bisa disamakan dengan agama lain.

Dan ketika Sunan Giri mendengar Syeh Siti Jenar mengajarkan esensi Islam yang sesungguhnya tidak berbeda dengan esensi agama lain, maka diutuslah duta untuk memanggil beliau agar menghadap ke Giri Kedhaton.

Syeh Siti Jenar sengaja mengeluarkan ucapan yang sangat dalam, ucapan esensial kepada kedua utusan Sunan Giri, untuk mencoba mereka, apakah mereka juga telah mendapatkan wejangan serupa dari Sunan Giri? Ternyata, kedua utusan masih mentah. Masih bengong dan kebingungan. Jelas sudah, Dewan Wali Sangha hanya mengajarkan kulit luar Islam. Kulit luar yang akan memicu perpecahan, memicu ego spiritual, memicu sikap eksklusifisme, karena bagaimanapun juga, pada tataran ‘kulit’, pastilah akan tampak perbedaan yang mencolok.Jika tidak didalami, jika tidak ditingkatkan lagi, mereka akan terjebak, terjebak pada kulit semata. Ini bisa menyesatkan. Namun, malahan Syeh Siti Jenar yang dianggap sesat. Menggelikan.

Mendengar Syeh Siti Jenar mengucapkan kata-kata yang sangat tinggi kepada kedua ulama utusan Sunan Giri, Sunan Kalijaga segera bertandang ke Cirebon. Beliau menanyakan kebenaran berita itu. Dan Syeh Siti Jenar membenarkannya. Sunan Kalijaga menasehati, agar berhati-hati mengeluarkan ucapan, karena para pengikut PUTIHAN, banyak yang masih terjebak kulit. Mereka tidak memahami esensi Islam. Dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah bagi diri Sang Syeh. Namun Syeh Siti Jenar menjawab itu semua memang beliau sengaja untuk menyentil Sunan Giri. Syeh Siti Jenar tahu, Sunan Giri paham akan ucapan beliau, dan Syeh Siti Jenar ingin melihat reaksi pemimpin Dewan Wali Sangha itu.

Kedua utusan Sunan Giri telah sampai di Giri Kedhaton. Keduanya menghadap Sunan Giri dan kisahpun berlanjut seperti dibawah ini :

Kinanthi.

Makaten wiraosipun,

Heh sira dhuta kekalih,

Ingsun mengko tinimbalan,

Ing ngarsa Jeng Sunan Giri,

Matura yen ora ana,

Kang ana Pangeran Jati.

Sakala kawula rengu,

Paran kang dados pamanggih,

Dene ngaken Pangeran,

Ulun nunten den wangsuli,

Sira iku mung saderma,

Ngaturake ala becik.

Wau sapamyarsanipun,

Legeg Jeng Susuhunan Giri,

Jaja bang mawinga-winga,

Kadya age den tedhaki,

Rinapa pra auliya,

Dhuh Sang Ambeg Wali Mukmin.

Den sabar penggalihipun

Inggih katandha rumiyin,

Kekencengane ing tekad,

Gampil pinanggih ing wingking,

Yen sampun kantenan dosa,

Kados boten makalahi.

Leleh ing penggalihipun,

Myarsa sabdaning Pra Wali,

Jeng Sunan Ing Giri Gajah,

Dhuta kinen wangsul malih,

Animbali Syeh Lemah Bang,

Ujare kinen nuruti.

Jangji seba ngarsaningsun,

Ujare ywa mindho kardi,

Dhuta lajeng nembah mesat,

Sampun prapta ing Siti Brit,

Panggih lawan Syeh Lemah Bang,

Nandukken dennya tinuding.

Mring Sunan Giri Kedhatun,

Pangeran dipun timbali,

Sarenga salampah kula,

Pangeran Siti Jenar angling,

Mengko Pangeran tan ana,

Kang ana Syeh Siti Brit.

Dhuta tan sawaleng wuwus,

Sarehning sampun wineling,

Inggih mangkya Syeh Lemah Bang,

Kang wonten dipun timbali,

Ngandika Syeh Siti Jenar,

Pangeran tan amarengi.

Awit Syeh Lemah Bang iku,

Wajahing Pangeran Jati,

Nadyan sira ngaturana,

Ing Pangeran Kang Sejati,

Lamun Syeh Lemah Bang ora,

Masa kalakona yekti.

Dhuta ngungun lajeng matur,

Inggih kang dipun aturi,

Pangeran lan Syeh Lemah Bang,

Rawuha dhateng ing Giri,

Sageda musyawaratan,

Lan sagunging Para Wali.

Pangran Siti Jenar nurut,

Lajeng kering dhuta kalih,

Praptane ing Giri Gajah,

Pepekan kang Para Wali,

Pangeran Ing Siti Jenar,

Anjujug Jeng Sunan Giri.

Lajeng ingandika arum,

Bageya Pangeran kang prapti,

Rawuhe ing ngarsaningwang,

Pangeran Siti Jenar angling,

Dhuh Pukulun sama,

Sama tumeka suka basuki.

Jeng Sunan ngandika arum,

Marma sanak sun aturi,

Kasok karoban ing warta,

Yen andika teki-teki,

Makiki nangkar Ilmu Khaq,

Dadi paguron sabumi.

Ngasoraken Wali Wolu,

Mandar bawa Imam Suci,

Datan asuci Jumungah,

Saestu ngong anjurungi,

Pira-pira sira bias,

Alim ngelem Para Wali.

Pangeran Siti Jenar matur,

Nggen amba purun mbawani,

Medhar Gaibing Pangeran,

Awit Allah sipat Asih,

Asih samining tumitah,

Saben titah angranggoni.

Nganggowa ugering ilmu,

Kang abuntas den atitis,

Sampun ngantos selang sebat,

Mindhak abebingung piker,

Amet ansar dadi sasar,

Karana kurang baresih.

Pedah punapa mbebingung,

Ngangelaken ulah ilmi,

Jeng Sunan Giri ngandika,

Bener kang kaya sireki,

Nanging luwih kaluputan,

Wong wadeh ambuka wadi.

Telenge bae pinulung,

Pulunge tanpa ling-aling,

Kurang waskhitha ing cipta,

Lunturing Ilmu Sejati,

Sayekti kanthi nugraha,

Tan saben wong anampeni.

Pangran Siti Jenar matur,

Paduka amindho kardi,

Ndadak amerangi tatal,

Tetelane ing dumadi,

Dadine saking nugraha,

Punapa boten ngalami.

Sunan Giri ngandika rum,

Yen kaya wuwusireki,

Tan kena den nggo rerasan,

Yen ngebreh amedhar wadi,

Pangeran ora Kuwasa,

Anane tanpa ling-aling.

Endi kang ingaran Luhur,

Endi kang ingaran Gaib,

Endi kang ingaran Purba,

Endi kang ingaran Bathin,

Endi kang ingaran Baqa’,

Endi kang ingaran Lathif.

Endi kang ingaran Besus,

Endi ingaran Birahi,

Yen Baqa’ mbabar walaka,

Bakal bubur tanpa bibit,

Mangka Pangeran Kang Nyata,

Ora kena den rasani.

Pan Ora kena dinumuk,

Anane wahana Gaib,

Matur Pangran Siti Jenar,

Sedya purun amabeni,

Bantahan masalah rasa,

Sinapih kang Para Wali.

Dhuh sanak sekalihipun,

Ywa tansah aben prang sabil,

Prayogi kanyatakena,

Wonten ing nggon kang asepi,

Samun sepen sepi hawa,

Sarahsa saged anunggil.

Wonten kawekasanipun,

Yen mukid yekti karadin,

Jeng Sunan Ing Giri Gajah,

Wrin kedhaping sambaing liring,

Sabdaning Pra Auliya’,

Lajeng angandika aris.

Heh Syeh Lemah Bang,

Sireku aja pijer madoni,

Besuk ing ari Jumungah,

Padha musyawaratan batin,

Yekti katandha kanyata,

Lelere asmareng ilmi.

Terjemahan :

(Kata sang duta), Begini jawaban beliau,

Hai kalian para duta berdua,

Aku dipanggil menghadap,

Dihadapan Sunan Giri,

Katakan bahwasanya aku tidak ada,

Yang ada PANGERAN JATI (TUHAN YANG SESUNGGUHNYA).

Seketika hamba berdua terkejut,

Bagaimana bias berpikiran demikian,

Mengaku sebagai PANGERAN (TUHAN),

Hamba lantas diberi jawaban,

Kalian berdua hanya sekedar utusan,

Kewajibannya hanya menyampaikan saja.

Setelah mendengar hal tersebut,

Tertegun Jeng Susuhunan Giri,

Dada bergemuruh membara,

Tidak sabar ingin menemui Syeh Siti Jenar sendiri,

Para Auliya (Wali) menyabarkan,

Duh yang menjabat sebagai Wali Mukmin ( Wakil para orang-orang beriman ).

Mohon sabarkan hati,

Seyogyanya dibuktikan dulu,

Apa maksud Syeh Siti Jenar berkata demikian,

Gampang memberikan keputusan hukuman kelak,

Apabila sudah jelas dosa (kesalahan)-nya,

(Dan jika memang sudah terbukti ) tidak menjadi soal lagi untuk menjatuhkan sangsi.

Reda kemarahan (Sunan Giri),

Mendengar sabda Para Wali,

(Oleh) Jeng Sunan Giri Gajah,

Utusan disuruh kembali lagi,

Memanggil Syeh Lemah Bang,

Apapun yang dikatakan supaya dituruti.

Asalkan bias menghadap kepadaku (Sunan Giri),

Jangan sampai mengulang kegagalan,

Utusan lantas menghaturkan sembah dan berangkat,

(Telah) sampai di Siti Brit,

Bertemu dengan Syeh Lemah Bang,

(Lantas) menghaturkan maksud mereka diutus kembali.

Oleh Sunan Giri Kedhaton,

PANGERAN (TUHAN) dipanggil menghadap,

Berangkatlah bersama kami,

Pangeran Siti Brit menjawab,

Saat ini PANGERAN tidak ada,

Yang ada Syeh Siti Brit.

Para utusan tidak membantah perkataan lagi,

Karena sudah diwanti-wanti (oleh Sunan Giri),

Jikalau sekarang yang ada Syeh Lemah Bang,

Syeh Lemah Bang dipanggil menghadap,

Berkata Syeh Siti Jenar,

PANGERAN (TUHAN) tidak membolehkan.

Sebab Syeh Lemah Bang itu,

Wajah Tuhan Yang Sesungguhnya,

Walaupun engkau memohon,

Kepada Tuhan Yang Sesungguhnya,

Namun apabila tidak memohon kepada Syeh Lemah Bang,

Sungguh tidak akan terlaksana.

Para utusan terheran-heran lantas berkata,

Sesungguhnya yang diharapkan,

PANGERAN (TUHAN) dan Syeh Lemah Bang,

Bertandang ke Giri,

Untuk bermusyawarah dengan segenap Para Wali.

Pangeran Siti Jenar menurut,

Dengan diiringi kedua utusan beliau berangkat,

Sesampainya di Giri Gajah,

Para Wali sudah menanti,

Pangeran Siti Jenar,

Menghadap Jeng Sunan Giri.

Lantas ( Sunan Giri ) menyambut dengan berkata ramah,

Semoga senantiasa sejahtera kepada Pangeran (Siti Jenar),

Yang tengah datang dihadapan kami ini,

Pangeran Siti Jenar menjawab,

Duh yang hamba hormati sama-sama,

Sama-sama semoga mendapatkan kebahagian dan keselamatan.

Jeng Sunan (Giri) berkata manis,

Sebab mengapa saudaraku aku undang kemari,

(Sebab) sangat santer terdengar,

Apabila saudaraku tengah ber-olah batin,

Mengajarkan Ilmu Khaq ( Ilmu Sejati ),

Mendirikan sebuah perguruan (yang sangat terkenal) dimuka bumi.

Mengalahkan Para Wali yang lain,

Memegang jabatan sebagai Imam Suci,

Kesucian hari Jum’at-pun seolah tertandingi,

Benar-benar kami mendukung,

Apa saja yang saudaraku kerjakan,

Para Wali menyanjung-nyanjung.

Pangeran Siti Jenar berkata,

Sebab mengapa hamba berani,

Membuka Gaib Tuhan,

Sebab Allah bersifat KASIH,

KASIH kepada semua makhluk,

Setiap makhluk mendapatkannya.

(Hamba hanya ingin) mengajarkan ilmu sesuai dengan ketentuan,

Secara lengkap dan gamblang,

Jangan sampai asal-asalan,

(Sehingga) membuat kebingungan para murid,

Memakai ‘kulit’ (syari’at) berlebihan malah akan menyesatkan,

Sebab apa yang diajarkan kurang jelas.

Apa untungnya membuat bingung,

Mempersulit mereka yang menimba ilmu (Sejati),

Jeng Sunan Giri berkata,

Benar apa yang kamu katakan,

Akan tetapi sangat-sangat dipersalahkan,

Manusia yang sembrono membuka rahasia.

Hanya mengambil inti sari,

Inti sari diambil tanpa memakai ‘kulit’ apapun,

(Hal) itu akan membuat kurang tajam kecerdasan para murid,

Turunnya Ilmu Sejati,

Sungguh harus disertai anugerah,

Tidak setiap orang boleh menerima.

Pangeran Siti Jenar menjawab,

Perkatan paduka bertolak belakang (inkonsisten),

Seperti hendak menghitung serpihan-serpihan kayu sisa digergaji (artinya : merepotkan),

Bukankah sesungguhnya seluruh makhluk,

Tercipta karena anugerah,

Apakah tidak menyadari?

Sunan Giri berkata manis,

Apa yang kamu ucapkan (kepada kedua utusan),

Tidak boleh dibuat percakapan,

Apabila lancang membuka rahasia,

(Maka seolah-olah) Tuhan tidak Maha Kuasa,

Keberadaan-Nya seolah-olah tidak rahasia.

Maka seakan-akan tidak ada lagi konsep Keluhuran,

Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Gaib,

Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Berkuasa,

Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Rahasia,

Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Kekal,

Seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Halus.

Maka seakan-akan tidak ada lagi konsep Maha Cerdas,

Ujung-ujungnya etika moral juga akan rusak,

Apabila Maha Kekal ( Al-Baqa’: Bhs. Arab) menjadi Walaka ( Bhs. Sanskerta, yang artinya umum, lumrah, remeh. ),

Bakalan bubar tanpa benih,

Padahal Tuhan Yang Sesungguhnya,

Tidak bisa dibuat percakapan.

Tidak bisa diraba dengan tangan kasar,

Keberadaannya berada diranah Gaib,

Berkata Syeh Siti Jenar,

Hendak berniat berdebat tentang Ilmu Rasa ( Ilmu Sejati),

(Namun) dilerai oleh Para Wali.

Duh kedua saudaraku,

Jangan terus-terusan berdebat,

Seyogyanya dinyatakan sendiri ( Hakikat Tuhan itu ),

Ditempat yang sepi,

Yaitu maksudnya sepinya diri dari hawa nafsu,

Dalam kondisi seperti itu pasti akan nyata kesatuan-Nya dengan kita.

Hal ini bisa dicapai,

Apabila kita benar-benar telah berpasrah total,

Jeng Sunan Giri Gajah,

Melihat isyarat leraian,

Melalui ucapan Para Auliya’,

Lantas berkata lirih.

Heh Syeh Lemah Bang,

Jangan hanya bisa membantah,

Nanti pada hari Jum’at,

Datanglah lagi untuk bermusyawarah tentang Ilmu Bathin,

Pasti akan kelihatan nyata,

Siapa yang benar-benar memahami Ilmu Sejati.

Unlike ·  · Share

About these ads

7 comments on “KONTROVERSI SEPUTAR SYEH SITI JENAR

  1. dari dulu sampai sekarang islam sudah di politisir,yang sudah terlanjur jadi,sulit nanti untuk di benahi…yang kurang itu seharusnya diperbaiki(ditambah isinya) jangan dibiarkan hampa..tanpa dasar kebenaran pastilah terjadi perpecahan.ketakutan akan ketidak percayaan kepada para sufi

  2. buat orang kejawen ajaran syech siti djenar dibenarkan..tapi buat yang memegang teguh syariat islam, ya tidak benar.
    wallahu alam.

  3. Benarkah begitu yang di ajarkan syehk Siti Jenar? Saya kok ragu. Banyak kisah yang selip soal beliau. Coba cari referensi lain mungkin bisa membantu, tapi sulit. Semua hanya berdasarkan kisah.

  4. Bismilaahhirrohmaanirrohiim,

    Semua ajaran dan amalan islam siapapun yang membawanya seharusnya selalu dirujuk kepada Alqur’an dan Hadits dan selalu dipertanyakan Pernahkah Muhammad Rosulullooh menyuruh dan melakukan amalan atau ajaran itu?.. kalau tidak pernah mengapa kita harus melaksanakan ajaran itu?.. sedangkan kita semua sudah tahu kalau agama Islam sudah disempurnakan melalui Rosulullooh, apa mungkin ada amalan yang memang dipandang baik dan benar sedangkan Rosulullooh dan para Sahabat Rosul tidak tahu?.

    Semua amalan sudah di ajarkan dan dicontohkan oleh Rosulullooh, alangkah lebih aman kalau kita menjalankan dan melaksanakan apa-apa yang sudah dicontohkan dan diajarkan oleh Rosululloh.

    Ada yg berpendapat kalau kita semua sebenanya tidak tahu hakikat yg sesungguhnya jadi jangan menyalahkan suatu amalan atau ajaran tertentu, … kalau begitu pertanyaannya ialah kalau kita semua tidak tahu hakikat yg sebenarnya mengapa kita tidak mengambil aja dari Rosulullooh yg dijamin kebenarannya, bukankah Beliau yg seharusnya kita jadikan contoh.

    Jangan kita memandang sesuatu ajaran atau amalan itu baik dan benar hanya karena ADA KEBERADAANYA dan BISA TERJADI KEJADIANNYA
    1. ADA KEBERADAANYA “ada orang yg melakukan suatu amalan akan bisa begini-begitu dan memang ada orangnya”
    2. BISA TERJADI KEJADIANNYA “sungguh-sungguh terjadi kejadiannya misal suatu amalan kalau di amalkan bisa menjadikan air teh untuk digunakan pengganti bahan bakar dan memang bisa terjadi”.
    Apakah kalau ADA KEBERADAANYA dan BISA TERJADI KEJADIAANYA lalu kita vonis berarti ajaran atau amalan itu benar?, megapa Rosul dan para Sahabat tidak memberi contoh dan mengamalkanya kalau memang amalan itu baik dan benar?, padahal ada ajaran dan amalan yg diluar Islam bisa juga seperti itu, apakah bisa kita vonis baik dan benar?.

    Saya tidak menyalahkan ajaran ini dan ajaran itu, tetapi alangkah lebih aman kalau kita menjalankan apa2 yg sudah Rosul contohkan dan ajarkan.

    Sesungghanya hanya ALLOOH yang MAHA BENAR dan tempat kita berlindung.

  5. Saya … adalah salah seorang yang paling sependapat dengan ajarannya syeikh siti jenar …. padahal wali songo pun mengetahui pelajaran tersebut .. tetapi belum dapat disampaikan kepada masyarakat jawa pada masa tersebut saya mencintai semua wali yang ada didunia … semoga ALLAH SWT … mengangkat para wali – wali yang ada didunia keharibaannya … dan saya mempunyai keyakinan bahwa para wali tersebut tidak mati … dikarenakan disetiap didaerah yang ada walinya ALLAH akan lindungi daerah itu dari segala musibah dan bencana dikarenakan ada wali didaerah tersebut … wali jangan disamakan dengan ustadz, …. ustadz belum tentu seorang wali … tetapi wali sudah tentu ustadz .. mungkin yang saya maksud ada berkah disekeliling wali … bisa kita ambil contoh pada jaman sekarang … contoh di Ampel tempat makamnya Sunan Ampel … sekarang perekonomian bergeliat sangat pesat untuk masyarakat disekitar tersebut dari orang berjualan kelontongan, fashion ( pakaian ) sampai dengan perhotelan berkembang pesat … itu semua menurut saya karena adanya seorang WALIYULLAH ada didaerah tersebut padahal kalau saya pikir beliau sudah tiada secara zhahir … apalagi kalau beliau masih hidup …. sungguh saya tidak bisa bayangkan … semoga ALLAH ampuni prasangka kita yang tidak baik kepada setiap makhluk ALLAH …. Amien … Ya Rabbal Alamien ….

  6. Menurut saya..
    Ilmu islam yang diturunkan Allah melalui Al-Quran, merupakan ilmu yang besar. Jika yang berusaha memahaminya tak mampu mengemban ilmu tersebut, bisa jadi malah melenceng..
    Yang pasti saya sendiri tidak mau percaya apa yang diajarkan para syekh syekh atau santri tentang ilmu2 selain yg diajarkan nabi kita Muhammad SAW..
    Karena saya takut jika itu salah malah menyesatkan..
    Jadi saya rasa alangkah baiknya menjalani hidup sebagaimana mestinya yang diperintahkan Allah yang diturunkan melalui jibril ke Rasulullah kita..
    Apa yang diajarkan Rasul kita lah yang harus kita kerjakan sebaik2nya hidup ini..
    Yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya..
    Beserta rukun iman dan rukun islamnya..
    Jangan terlalu percaya apa yang kau lihat dengan 5 Indramu.. Karna sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Benar..
    Maksud saya disini bukan bearti menolak mentah2.. Melainkan cukup diterima bahwa hal itu adalah pendapat orang lain..
    Karena sesungguhnya dunia ini sudah penuh dengan hal2 yang bisa menyesatkan orang lain..
    Hal2 seperti ini terkadang sudah membuat kita bingung untuk percaya atau tidak karna takut termakan fitnah dan malah keluar ajaran islam..
    Apalagi sesatnya pembawa fitnah akhir zaman “Dajjal”

    maaf kalau kata2 saya kurang berkenan, saya hanya manusia biasa yang masih miskin Ilmu tentang islam, yang wanti2 takut akan kesalahan..

    Salam kenal

  7. Semuanya tidak ada yang salah, semua kejadian sudah menjadi kehendakNya, sudah menjadi ceritaNya, apapun kejadiannya seyogyanya dijadikan sebagai ukuran dari keimanan kita… sampai sejauh mana kita mengimaniNya. Allah yang tahu segala urusanNya, kita sebagai makhlukNya hanya sebatas menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

    Beraneka ragam kejadian di alam ini adalah sebagian dari TujuanNya, hukum keseimbanganNya terus akan terjaga selamanya, sebagai mahlukNya kita akan disudutkan dengan satu pilihan, melakukan “Kebaikan” atau melakukan “Keburukan” dan keduanya ada konsekuensinya. Setiap kejadian pasti diberikan izin oleh Allah, tanpa izinNya semua akan terdiam tanpa ada sesuatu kejadian.

    Allah memerintahkan mahlukNya untuk melakukan kebajikan di muka bumi ini harus berlaku benar tanpa pandang bulu, sangatlah sulit untuk menilai kebenaran dan kesalahan dari seorang Syeh Siti Jenar yang kontroversial tanpa didasari oleh keimanan dan ilmu yang cukup.

    Mempelajari Islam tidak cukup dengan kata-nya.. kata-nya.. tapi harus diyakini oleh diri kita bukan hanya sebatas kata-nya, Islam tidak hanya mempelajari dan menjalankan syariat tapi harus juga mempelajari dan menjalankan tareqat, haqeqat dan makrifat. setelah kita mempelajari dan menjalankan tersebut barulah kita bisa menilai dan tahu akan ajaran SYEH SITI JENAR.

    wassalam,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.964 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: