Tinggalkan komentar

LINTASAN SEJARAH ISLAM (10): SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

LINTASAN SEJARAH ISLAM (10)

 SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

 Abdul Hadi W. M.

Telah kita ketahui bahwa sastra Arab telah berkembang sebelum datangnya agama Islam. Namun dengan datangnya Islam terjadi perubahan mendasar. Sebelum Islam sastra Arab berkembang mengikuti tradisi lisan dan sedangkan sesudahnya sastra tulis yang berkembang, kendati tidak dengan senirnya sastra lisan mati..  Pada zaman pra-Islam penyar menyampaikan syair yang mereka karang secara lisan,  Hanya beberapa penyair tertentu yang karya-karyanya direkam dalam bentuk tulisan. Syair-syair itu biasanya ditulis atas kulit domba dan unta serta daun papirus yang sudah dikeringkan. Syair-syair yang dituliskan itu pada umumnya merupakan karya penyair besar dan diletakkan di dinding Ka’bah. Sebagian besar syair yang ditulis itu pula tidak lengkap melainkan hanya potongan yang terdiri dari beberapa baris atau bait. Syair-syair yang dituliskan ini disebut mu`allaqat, artinya sajak-sajak yang ditaruh pada dinding Ka’bah.

Penyair-penyair mu`allaqat yang terkenal antara lain ialah Imr al-Qays, Zuhair bin Abu Sulma, Nabiqah al-Zuhyani, Tarafah bin al-`Abd, `Amr bin Kulam, Labid bin Rabi`ah dan Antarah. Beberapa di antara mereka memeluk agama Islam pada masa hidup Rasulullah. Misalnya, yang paling terkenal, ialah Labid bin Rabi`ah. Setelah memeluk Islam, Labid menjadi pembela Islam yang gigih melalui syair-syairnya.

Para penyair Arab sebelum Islam  tidak hanya  menulis mu`allaqat, tetapi juga bentuk pengucapan sastra lain seperti khotbah, peribahasa, legenda dan dongeng yang tidak kalah indahnya dari mu`alllaqat.  Khaliah al-rasyidin pada umumnya menyampaikan pandangannya melalui khotbah atau peribahasa, serta aforisma yang indah. Di antara empat khalifah yang ucapannya sangat indah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Siddiq.

Ciri-ciri karya sebelum Islam itu umumnya seragam. Selain syair-syair kepahlawanan suku, penyair-penyair Arab jahiliyah gemar sekali menulis syair-syair berisi ungkapan kebanggan terhadap kabilahnya dan garis keturunan mereka. Bentuk pengucapan sastra lain yang digemari ialah marasin (elegi),ghazal (sajak-sajak cinta, khususnya cinta berahi), sajak-sajak pemujaan terhadap anggur (khamriyah) dan ungkapan dendam kesumat kepada kabilah musuh.

Mu`allaqat adalah untaian syair panjang dan indah dengan sistem persajakan yang rumit. Yang paling terkenal sebagai penulis mu`allaqat sepanjang sejarah ialah Imr al-Qays. Sajak-sajaknya masih digemari orang Arab sampai saat ini dan dibawakan melalui nyanyian, sebuah tradisi yang tetap hidup sampai kini.

Bentuk syair lain yang digemari ialah qasidah, sajak-sajak pujian yang dinyanyikan. Yang disajikan dalam qasidah pada umumnya ialah pujian terhadap pahlawan suku dan orang yang dicintai seperti pemimpin dan gadis cantik. Jenis sajak cinta juga digemari, antara lain yang disebut nasib.Penulis-penulis Arab masih melanjutkan kegemarannya menulis sajak-sajak warisan lama ini setelah agama Islam datang.  Hanya saja tema dan isinya sudah berubah serta diperluas.  Pada abad ke-12 M bentuk puisi iini dikembangkan oleh penyair Mesir Syekh al-Busiri menjadi puji-pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w (al-mada`ih al-nabawiya). Karya Syekh al-Busiri yang masyhur hingga kini dan dibacakan hampir dalam setiap perayaan maulid di berbagai pelosok Dunia Islam ialah Qasidah al-Burdah.

 

Puisi Masa Awal

Penerimaan terhadap agama Islam di kalangan bangsa Arab pada mulanya memang tidak banyak membawa perubahan terhadap perkembangan sastra Arab, juga tidak banyak memberi perubahan terhadap sifat-sifat, watak dan tabiat bangsa Arab.  Lagi pula pada masa awal sejarah Islam, kesusastraan berkembang agak lambat. Hal ini terjadi karena banyaknya peperangan yang dihadapi kaum Muslimin yang begitu menguras tenaga kaum Muslimin sehingga tidak memberi peluang bagi kaum terpelajarnya, termasuk penyair, untuk memikirkan masalah-masalah kesenian dan kesusastraan. Pada awal abad ke-7 M, setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinannya diganti oleh khalifah yang empat, satu-satunya bentuk kegiatan penulisan yang berkembang ialah penyusunan dan penulisan mushaf al-Qur’an.

Kendati demikian sebenarnya pada masa ini telah muncul beberapa penyair yang kreatif. Di antaranya ialah penyair-penyair yang disebut golongan mukhdramain, artinya penyair yang hidup dalam dua zaman, yaitu zaman Jahiliyah dan zaman Islam. Di antara mereka telah terdapat penyair yang menulis karya-karya yang dipengaruhi ajaran dan sejarah perkembangan Islam. Syair-syair yang mereka tulis kebanyakannya merupakan rekaman sejarah awal perkembangan agama Islam, khususnya perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Walaupun sikap hidup penyairmukhdramain ini secara umum tidak berubah setelah memeluk agama Islam, namun karangan mereka cukup penting karena nilai sejarah yang dikandungnya.

Di antara penyair mukhdramain itu terdapat orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Hasan bin Tsabit, Ka`aab bin Zubair, Ka`ab bin Malik dan Labid bin Rabi`ah. Hasan bin Tsabit misalnya sering mendampingi Nabi dan tampil dalam perdebatan dengan para penyair yang gemar merendahkan dan mengejek agama Islam. Bersama-sama Labid bin Rabi`ah, Hasan bin Tsabit dianggap sebagai perintis penulisan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad.

Perubahan besar dalam perkembangan sastra Arab terjadi setelah munculnya penulisan mushaf al-Qur’an, yaitu pada masa kepemimpinan khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kegiatan penulisan mushaf al-Qur’an ternyata memberi pengaruh besar dan bermakna bagi perkembangan sastra Arab. Pengaruh langsung dari kegiatan tersebut ialah berkembangnya kajian terhadap teks kitab suci, terutama dari segi bahasa dan sastra. Semenjak itu orang Arab juga mulai giat mengumpulkan puisi lama dan cerita lisan warisan nenekmoyang mereka. Gaya bahasa dan puitika al-Qur’an kemudian semakin menarik perhatian para penyair Arab yang pada gilirannya kelak mempengaruhi corak penulisan puisi dan karangan prosa mereka.

Dalam tradisi Arab, puisi disebut manzun, yaitu komposisi (nazm) yang bahasanya terikat pada pola rima dan sajak. Prosa disebut mantsur, yaitu gubahan yang bahasanya longgar, tidak terikat pada pola rima dan aturan persajakan tertentu. Dari segi tema, amanat dan coraknya sastra Arab baru ini pun berbeda dari sastra Arab lama. Pada masa ini para sastrawan mulai mengaitkan sastra dengan adab, bahkan menyebut sastra sebagai adab, yaitu sikap dan perbuatan yang didasarkan pada akhlaq dan sopan santun. Adab juga dihubungkan dengan tingginya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dicapai oleh seorang penulis, serta kedewasaan dan kematangan pandangan hidup mereka. Berdasar pandangan ini maka sastra tidak hanya berisi ungkapan perasaan dan pengalaman hidup biasa sebagaimana kerap diartikan orang, begitu pula sekarang ini. Sastra lebih dari itu. Ia juga merupakan karangan yang menyajikan kearifan dan gagasan-gagasan penting kehidupan termasuk moral, al-hikmah dan spiritualitas.

Perubahan itu juga tampak dalam bahasa yang digunakan. Kaya-karya baru yang dihasilkan oleh penulis Muslim ini lebih halus, sedangkan isinya lebih universal. Puisi karya penyair zaman pra-Islam biasanya kasar dan nadanya sombong. Isinya pun tidak mendalam, sering hanya berkaitan dengan masalah-masalah sensual. Bahkan terdapat syair-syair zaman pra-Islam yang ditulis untuk mengejek kabilah musuh. Biasanya sajak-sajak seperti itu bisa menyulut sengketa dan permusuhan antar kabilah. Beberapa syair sengaja ditulis untuk menghina kabilah musuh. Untuk keperluan itu maka setiap kabilah mesti memiliki penyair andalan, yang setiap diharapkan dapat menulis syair-syair berisi jawaban terhadap syair ejekan dari kabilah lain.

 

Ali bin Abi Thalib

Apabila pada masa sebelumnya prosa tidak berkembang, karena kecintaan pada puisi yang mendalam, maka setelah agama Islam datang, prosa mulai bertunas dan memainkan peranan yang tidak kecil dalam adab dibanding syair. Tokoh yang dipandang sebagai penulis prosa paling awal dalam sejarah sastra Arab ialah Ali bin Abi Thalib (600-601 M). Dalam sejarah Islam, tokoh Ali bin Abi Thalib merupakan pemuda Arab pertama yang memeluk agama Islam. Dia adalah menanti Nabi dan terkenal sebagai orang yang berani membela Islam dan sangat terpelajar pula.  Ketika Rasulullah masih hidup, dia pernah diberi tugas menjadi pengumpul wahyu yang diterima Nabi. Ali bin Abi Thalib menguasai bahasa Arab dengan baiknya, khususnya dialek Hejaz yang dianggap sebagai dialek bahasa Arab yang terindah pada zaman itu. Karya Ali bin Abi Thalib yang masyhur sebagai karangan prosa pertama yang indah dalam sastra Arab ialah Nahj al-Balaghah (Jalan Terang). Kitab ini merupakan kumpulan khotbah, peribahasa, kata-kata mutiara dan surat-surat bernilai sastra. Dia menggantikan Usman bin Affan sebagai khalifah al-rasyidin keempat dan sekaligus khalifah terakhir. Sebuah syairnya dituliskan pada banyak batu nisan makam raja-raja Pasai dan Malaka pada abad ke-14 dan 15 M.

Pada zaman Ali bin Abi Thalib inilah muncul dua penyair wanita terkemuka, yaitu Tumadir bin Amr (lebih dikenal sebagai al-Khansa’) dan Layla al-Akhyaliyal. Keduanya penulis nasarin, yaitu elegi atau sajak-sajak sedih. Kesedihan yang sering mengilhami syairnya biasanya ialah kematian orang yang dekat dengan penyair. Nasarin memang merupakan bentuk syair yang digemari oleh para penyair Arab zaman permulaan. Banyaknya peperangan yang terjadi dalam sejarah awal perkembangan Islam, mendorong lahirnya banyak syair seperti ini.

Ali bin Abi Thalib sendiri menulis sejumlah syair religius yang indah. Salah satu di antaranya ialah yang dipahatkan pada batu nisan makam raja Samudra Paasai di Aceh abad ke-13 M:

 

Dunia ini fana, tiada kekal

Bagaikan sarang laba-laba

O kau yang menuntut terlalu banyak

Cukupkanlah yang kauperoleh selama ini

 

Ada orang yang berumur pendek

Namun namanya dikenang selamanya

Ada yang berusia panjang

Namun dilupa sesudah matinya

 

Dunia ini hanya bayang-bayang

Yang cepat berlalu

Seorang tamu di malam hari

Mimpi seorang yang tidur nyenyak

Dan sekilat cahaya yang bersinar

Di cakrawla harapan

 

Jenis syair lain yang berkembang pada masa ini ialah syair-syair zuhudyah, yang kaitannya dengan ajaran Islam lebih jelas dibanding banyak jenis syair Arab yang lain. Syar-syair zuhudiyah ditulis oleh penyair yang menyukai tafakkur, ibadah dan amalan yang menjunjung tinggi akhla serta adab. Penyair-penyair zuhudiyah lebih suka memilih hidup dalam kesalehan dan tafakur sebagai bentuk kekecewaan meeka terhadap meluasnya gejala hidup serba mewah di lingkungan masyarakat Muslim. Di antara penyair zuhudiyah yang awal ialah Abul Aswab al-Du`ali (w. 681 M). Dia adalah seorang ulama besar, pakar Hadis dan hukum Islam. Al-Du`ali juga dikenal sebagai orang terpelajar pertama yang menciptakan tanda-tanda baca dan titik dalam al-Qur’an untukk membedakan harakatnya dan memudahkan pembacaannya. Syair-syair al-Du`ali kebanyakan bertemakan ketawakkalan dan kesalehan. Dia sering menyeru pembacanya agar supaya ingat mati dan hari akhirat.  Syair-syair jenis lain yang ditulis olehnya terutama ialah hija’ (satire) dan madah, yaitu syair-syair berirama indah yang dibuat untuk dinyanyikan.

Pada akhir abad ke-7 M muncul pula penyair Arab terkemuka yang membawa pembaruan cukup berarti, yaitu Umar bin Abi Rabi`ah (643-712). Dia hidup pada zaman gemilang pemerintahan Daulah Umayyah di Damaskus. Umar bin Abi Rabi`ah berasal dari kabilah Quraysh ban Makhzun. Ayahnya pernah diberi tugas oleh Nabi untuk menyebarkan agama Islam di Yaman. Menjelang akhir hayatnya dia banyak menulis syair-syair zuhudiyah. Gaya bahasanya sangat halus dan ekspresif.

Pada awal abad ke-8 M,  sebuah tradisi baru dalam penulisan syair muncul, yaitu penulisan syair-syair untuk dinyanyikan, tetapi berbeda dari madah. Jenis syair baru ini disebut al-sy`r al-ghina(syair pelipur lara). Di antara tema-tema yang digemari oleh para penulis syair al-ghina’ ialah tema-tema erotis dan sensual, serta mujun, yaitu tema-tema yang menyimpang dari ajaran agama dan moral. Pada masa ini pulalah mulai muncul penyair-penyair yang gemar mengembara untuk berdakwah dengan cara membacakan dan menyanyikan syair-syair mereka. Syair yang didakwahkan itu dinyanyikan sehingga menarik perhatian bagi pendengarnya.

Jenis syair lain yang juga digemari dan muncul pada zaman ini ialah al-ghazal al`uzri, yaitu sajak-sajak percintaan muni. Penyair terkenal yang melahirkan banyak jenis syair ini ialah Qays alias Majnun bin Amir. Kisah cintanya yang mendalam kepada seorang gadis bernama Layla, menarik perhatian masyarakat Arab dan diabadikan dalam kisah yang sangat terkenal Layla wa Majnun. Temaghazal a-uzri ialah cinta murni yang didasarkan atas ajaran Islam. Cinta sepertiitu menuntut ketulusan, pengurbanan dan kesucian.

Bentuk syair yang disebut hija’ (sindiran) juga digemari. Melalui hija’ mereka melontarkan kritik atau kecaman terhadap ketimpangan yang berlaku dalam masyarakat seperti ketidakadilan penguasa, penyelewenganyang dilakukan pejabat, pemimpin agama dan politisi.

Biasanya hija’ ditulis untuk mengecam orang-orang yang perilakunya menyimpang dari ajaran agama. Di antara penulis hija’ yang terkenal ialah Farazdaq (w. 728 M).  Contohnya ialah  syair yang dikarang penyair Khawarij untuk mengejek pengikut Mu’awiyah:

 

Kau membanggakan dua ribu orang beriman

Berada di belakangmu bukan?

Tak malu, sedangkan mereka itu tewas tersungkur

Di tangan empat puluh perajurit kami di Asak

Kau bohong, mereka pengecut

Tak seperti yang kaubanggakan

 

Sastra Arab mulai memperlihatkan perkembangan pesat pada zaman Daulah Umayyah.

 

 

 

Madina, kota awal pusat peradaban Islam

Like ·  · Share

    • Madiana Havidz sip! Saya hadir Prof. Contohnya kurang banyak Prof. Terutama syair2 jaman jahiliyah yg sampai sekarang masi populer.
      Syair2 sayyidina Ali saya sering menemukan sepenggal-sepenggal, indah dan cerdas. Cerdas secara intelektual dan spiritual. Tapi ya maklumlah, namanya juga sayyidina Ali, pemegang kunci pintu ilmu rosululloh.

      March 7 at 10:42pm · Like ·  5
    • Supa Atha’na

      Karena kalimat di bawah ini aku menjadi bahagia:” Ali bin Abi Thalib menguasai bahasa Arab dengan baiknya, khususnya dialek Hejaz yang dianggap sebagai dialek bahasa Arab yang terindah pada zaman itu. Karya Ali bin Abi Thalib yang masyhur s…See More
      March 7 at 10:45pm · Like ·  4
    • Supa Atha’na

      Hmmmmm, syair ini cukup lumayan dan juga berani: ” Kau membanggakan dua ribu orang beriman

      Berada di belakangmu bukan?
      See More

      March 7 at 10:46pm · Like ·  1
    • Supa Atha’na Madiana Havidz; ini juga kalimat mulia: ” sayyidina Ali, pemegang kunci pintu ilmu rosululloh”…

    • Madiana Havidz Supa Atha’na, sepertinya itu sebuah hadist. Tks.

    • Supa Atha’na jika hadist, bagaimana validitasnya? daif, sahih, mutawatir…dan siapa yang meriwayatkan?

    • Mas Bowie Braggi saya tak berkomentar kali ini, prof’… kecuali kekaguman’ :))

      salam hangat dari saya juga buat mbak Atiek ya, prof’ :D

      March 7 at 11:00pm · Like ·  1
    • Madiana Havidz Supa Atha’ana, Rasulullah saw pernah bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”. Pokoknya sepertinya yah kayak gitu. Tadi seenaknya saya ganti ” sayyidina Ali, pemegang kunci pintu ilmu rosululloh”. saya juga bingung dgn komen saya. pokoknya pingin komen yg pertama.

      March 7 at 11:17pm · Like ·  3
    • Supa Atha’na emangnya, ada apa kalo jadi yang pertama? dapat hadiah? jadi terkenal? lebih paham? lebih berkesan? lebih…atau lebih gaul gitu?….heeeeeheeee….sory yah kalo candax dianggap berlebihan hanya skadar ..apa yah……pokoknya …niatnya cuma canda aja….

      March 7 at 11:24pm · Like ·  2
    • Madiana Havidz Artinya, semalam ini saya blom tidur. he he.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Madiana Havidz : Memang bagian ini contoh sedikit. Belum sempat menerjemahkan syair-syair Arab kuna.

      March 8 at 1:30am · Like ·  2
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Spa : Memang, Ali pemegang kunci ilmu.

      March 8 at 1:31am · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Mas Bowie : Terimkasih hadir. Salam.

      March 8 at 1:31am · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Madiana : Besok saya harus menjadi pemakalah. Jawaban ditunda dulu. Agak capek.

      March 8 at 1:32am · Like ·  2
    • Evie Novita makin ga sabar nunggu jadi buku nih Prof…

    • Zaini Lc prof. maaf seblumnya. sebelum islam, berkmbanglah sastra lisan, kmudian apakah al-Quran trmasuk sastra lisan/tradisi lisan dan kalau tdk, berarti al-Quran lebih dlu mu’alaqot. atau bgaimana prof.

      March 8 at 7:09am · Like ·  1
    • Frans. Nadeak Terima kasih Pak Abdul Hadi, yang amat berbobot yang saya baca pagi ini, dan mungkin hari ini.
      :)

    • Arief Machmudy Syaidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah? Sungguh tak dsangsikan lagi kemuliaan hidupnya. Beliau mgk dilahirkan u/menjadi pemimpinnya para penyair, meski selama hidupnya tak mengaku seorang penyair… Wallahu’alam. Terima kasih om

    • Quito Riantori Mantabs, Om…terima kasih banyak atas ilmu2 segarnya…salam takzim selalu…

    • Regina Motinggo Tartila makasih ya om… ilmu yg amat bermanfaat… :) have a nice day om … ^^V

    • Billy Joe Hernandez Terima kasih prof :)
      Saya sangat menyukai “NAHJUL BALAGHAH” dan saat ini masih membacanya :)
      Bagi saya karya itu sungguh luar biasa :)

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Evie : Ya, sebentar lagi akan diunggah sambungannya.

      March 8 at 5:46pm · Like ·  2
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Zaini Lc Ayat-ayat al-Qur;an begitu diterima dihafal kemudian ditulis. Baru pada zaman Usman bin Affan dikodifikasi. Sedangkan pengumpulannya mulai dilakukanpada zaman Umar bin Khattab.

      March 8 at 5:48pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Disebut muallaqat karena digantung di dinding Ka’bah. Ayat al-Qur’an tak digantung di di dinding Ka’bah. Sastra lisan penuturannya bagus, tetapi isinya itu-itu saja. Sastra tulis, gayab bahasanya anekaragam pun isnya kaya. Al-Qur’n termasuk atau merangkum keduanya.

      March 8 at 5:50pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Frans Nadeak : Terimakasih. Salam.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Quito : Salam juga. Semoga bisa menkmati bagian-bagian berikutnya.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Regina : Terimakasih juga. udi menyimak.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Eh sudi menyimak.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Billy : Nahj al-Balaghah termasuk khitabah. wl perkembangan prosa Arab dimulai dengan seni khitabah.

      March 8 at 5:52pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Arief Machmudy : Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib tergolong sebagai adib atau sastrawan yang sangat berbakat. Karangan-karangan atau khutbahnya ditulis dalam bahasa indah.

      March 8 at 5:54pm · Like ·  2
    • Beryl C. Syamwil Saya cermati tulisan2 Prof. ini. Yang baru adalah lengkapnya keterangan tentang IRAN. Mungkin dulu di sekolah-sekolah umum guru agama “sungkan”, hanya menceritakan sejarah Islam ala kadarnya,sejarah Islam minus PERSIA…. karena Syiah-nya. Sudah terkumpul 42 halaman folio ini Prof. Bisa 60 halaman dengan ditambahi gambar-gambar yang mendukung….

      March 8 at 5:56pm · Like ·  2
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Madiana : Di antara 4 khalifah memang Ali bin Abi Thalib yang paling menonjol penguasaan ilmunya. Pada zaman pemerintahan Utsman dan Ali, Madnah jadi pusat peradaban dan inteektual yg berkembang, disusul Kufa dan Damaskus.

      March 8 at 5:56pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Supa Atha’na : Salam. Terimakasih untuk diskusi anda dengn Madiana Havidz. Menambah marak perbincangan ini.

      March 8 at 5:57pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Beryl C. Syamwil : Insya Allah. Bahkan nanti akan dilengkapi keterangan dan contoh-contoh p[uisi./prosa. Yg beum semapt saya bahas adalah perkembangan seni rupa dan musik, yg sebenarnya juga penting.

      March 8 at 5:58pm · Like ·  2
    • Beryl C. Syamwil

      Terutama bagaimana unsur-unsur seluruh seni-rupa sejagat bisa terkombinasi dan menyatu dalam ke-Islaman, ini luar biasa menarik…. Ada yang disebut “Islamic Ornament”, ada yang disebut “Islamic Art” secara khusus dalam buku-buku sejarah se…See More
      March 8 at 6:10pm · Like ·  4
    • Abdul Hadi Wm Beryl : Ada Maghribi, Andalusia, Mesir, Turki, Persia, India Muhal, Melayu Nusantara, Jawa, dan lain-lain.

    • Beryl C. Syamwil Wow…wow… itu yang kata Sayed Husin Nasr : bagai hamparan permadani….

      March 8 at 6:16pm · Like ·  1
    • Madiana Havidz Jangan lupa juga oleh2 makalah dari seminar di UIN hari ini Prof.

      March 8 at 6:25pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Beryl : Ya. Kebhinekaan dalam keekaan. Pengikatnya Tauhid.

      March 8 at 7:08pm · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Madiana Havidz : aya tak mengikuti semuanya. Makalahnya belum dibaca semua. Tetapi ada pemakalah dai Iran berbicara tentang Seni Rupa. Bagus makalahnya. Saya hanya bicara sastraa Melayu dan Persiaa.

      March 8 at 7:10pm · Like ·  3
    • Dewi Djakse Prof ..senang kirimannya eyang dan ibu serta kel besar kami Muslim (yogyakarta) tapi ayah saya dari Bali serta kel besar dr Puri Mengwi Bali tp kita akrab dan saling menghargai trims ya , tambah wawasan tg Pengetahuan Islam great ..!!

    • Syam S. Tamoe

      luar biasa,saya sangat terhibur Prof.
      …sejak Hassan bin Thabit yang disebut PENYAIR NABI hingga kini, menyadari betul akan kepentingan puisi dalam menyibarkan islam. pun demikian dalam pengembangan budaya islam juga mengambil kesempatan …See More
      March 9 at 8:29am · Like ·  1
    • Abdul Hadi Wm ‎@ Tati Voice : Terimakasih,

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Dewi Djakse : Alhamdulillah. Bermanfaat. Salam ya mbak.

    • Abdul Hadi Wm ‎@ Syam Tamoe : Tetapi para pengarang itu jarang mengatakan sastra sebagai mdia dakwah. Sebab sudah dengan sendirinya yang disampaikan melalui karangannya itu adalah seuatu yang bermanfaat dan mengandung hikmah/pelajaran.

      March 10 at 8:43pm · Like ·  1

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: