1 Komentar

PENELITIAN CANDI RAJEGWESI DI KABUPATEN CIAMIS

15 januari, 2009

PENELITIAN CANDI RAJEGWESI DI KABUPATEN CIAMIS

Rekonstruksi Bentuk dan Hubungannya Dengan Tinggalan Arkeologis di Sekitarnya

  Nanang Saptono

PENDAHULUAN

Di daerah Kabupaten Ciamis sekarang, pada masa lalu pernah berdiri kerajaan Sunda Galuh dan Kawali. MenurutCarita Parahyangan kerajaan Galuh mula-mula diperintah oleh Raja Sěna. Pada suatu ketika Galuh diserang oleh Rahyang Purbasora. Ketika Sanjaya dewasa dapat merebut kembali dan berkuasa di Galuh (Sumadio, 1990: 357-358). Sedangkan keterangan mengenai kerajaan Kawali terdapat di dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dan beberapa prasasti yang terdapat di situs Astanagede. Prasati Kawali yang ditemukan hingga saat ini berjumlah enam yang semuanya dipahatkan pada batu alam. Keenam prasasti tersebut ditulis dengan aksara dan huruf Sunda Kuna. Berdasarkan paleografisnya diperkirakan berasal dari abad XIV M (Nastiti, 1996). Dari semua prasasti yang ada di situs Astanagede dapat diperoleh keterangan bahwa Prabu Raja Wastu yang bertahta di kota Kawali dengan kratonnya bernama Surawisesa, telah membuat selokan di sekeliling kraton. Di samping itu juga mendirikan desa-desa dan mengharapkan agar masyarakat pendatang juga berbuat kebajikan agar hidup lama dan berbahagia di dunia (Sumadio, 1990: 365).

Latar belakang keagamaan kerajaan Sunda menurut Carita Parahyangan jelas sekali menunjukkan semangat kehinduan. Pada naskah Sewakadarma yang juga disebutSerat Dewabuda pun terdapat nama-nama dewa agama Hindu seperti Brahma, Wisnu, Maheswara, Rudra, Sadasiwa, Yama, Baruna, Kuwera, Indra, Besrawaka, dan lain-lain. Pada naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesiansemangat kehinduan masih jelas tetapi pada waktu itu antara Hindu, Buddha, dan unsur asli sudah luluh menjadi agama baru. Dengan demikian kehidupan keagamaan masyarakat Sunda bercorak Hindu Buddha yang telah berbaur dengan unsur agama leluhur (Sumadio, 1990: 391-392).

Pada masa itu bangunan-bangunan suci sebagai sarana peribadatan dikenal dengan istilah kabuyutan. Dalam Carita Parahyangan terdapat kalimat … nu ngajadikeun parakabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan … Kabuyutan merupakan persemayaman para leluhur yang telah meninggal dunia (hyang). Istilah kabuyutan dalam masyarakat Sunda Kuna mengacu pada tempat atau struktur bangunan tertentu yang berbeda dengan bangunan-bangunan suci pada umumnya masyarakat Jawa Kuna (Munandar, 1992). Pada hakekatnya bangunan kabuyutan dapat disejajarkan dengan candi yang umum dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Komplek kabuyutan di Jawa Barat misalnya dapat dijumpai di situs Astanagede, Kawali dan komplek Karangkamulyan.

Secara fisik konsep kabuyutan dilatari sistem religi pada masa itu. Pada awalnya, keagamaan yang melatari kerajaan Sunda adalah Hindu. Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul. Sistem religi yang demikian itu, dalam ekspresi bangunan suci dimunculkan dalam bentuk bangunan berundak yang juga diwarnai ciri-ciri klasik seperti adanya lingga, yoni, nandi, serta arca dewa.

Meskipun bangunan kabuyutan lebih akrab dengan masa klasik Jawa Barat tetapi tidak berarti bangunan candi sebagaimana di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak dijumpai di Jawa Barat. Penelitian yang pernah dilakukan di kawasan timur Jawa Barat telah menemukan bangunan candi. Pada tahun 1977 dan dilanjutkan tahun 1983 Bidang Arkeologi Klasik Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengadakan ekskavasi di situs Candi Ronggeng, Desa Sukajaya, Kec. Pamarican. Hasil ekskavasi menunjukkan adanya struktur bangunan candi pada kedalaman sekitar 60 – 140 cm. Candi tersebut terbuat dari bahan batu. Secara religius berlatarkan Hinduistis (Tim Penelitian Arkeologi, 1983: 18 – 22). Selain itu Puslit Arkenas juga pernah melakukan ekskavasi di situs Batu Kalde, Semenanjung Pangandaran. Dalam ekskavasi itu berhasil menemukan indikator bangunan candi berupa yoni, balok-balok batu, bingkai padma, batu-batu bulat, batu berpelipit, dan arca nandi (Ferdinandus, 1990).

Peninjauan yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada bulan Juni 1997 di Dusun Pananjung, Kec. Pataruman, Kab. Ciamis menjumpai adanya lokasi pada tepi S. Citanduy yang oleh masyarakat setempat disebut Rajegwesi. Lokasi tersebut berupa gundukan tanah yang pada beberapa tempat dijumpai adanya serakan bata kuna. Tidak jauh dari lokasi itu terdapat fragmen yoni. Adanya tinggalan arkeologis tersebut diduga dahulu merupakan bangunan candi yang bahannya bata. Untuk sementara objek ini disebut candi Rajegwesi. (Djubiantono dkk, 1997/1998). Pada bulan April-Mei 1998 yang lalu Puslit Arkenas juga telah mengadakan peninjauan yoni tersebut (Ferdinandus, 1998).

Tidak jauh dari lokasi candi Rajegwesi yaitu di Dusun Cipadung, Desa Purwaraharja, Kec. Cisaga pada tanggal 31 Juli 1982 dilaporkan adanya penemuan prasasti. Pada saat sekarang prasasti tersebut disimpan di Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” (Tim Penelitian Arkeologi, 1983: 17). Inventarisasi tinggalan arkeologis yang dilakukan Krom (1915) di daerah ini mencatat beberapa objek arkeologis antara lain di kampung Warung Buah, Banjar yaitu di tepi jalan yang menghubungkan Manonjaya dengan Banjar terdapat patung gajah. Di puncak G. Indaraja, Ciparay terdapat yoni, lingga, dan ganesa. Dari beberapa tinggalan yang pernah dilaporkan menunjukkan bahwa pengaruh Hindu pernah berlangsung di daerah tersebut.

Beberapa sumber yang ada menunjukkan bahwa bangunan suci masa klasik di daerah Ciamis kebanyakan berupa kabuyutan. Bangunan kabuyutan biasanya berbentuk seperti bangunan megalitik dan bahannya dari batu tanpa pengerjaan. Kasus di Pananjung, desa Mulyasari memperlihatkan bahwa bangunan candi Rajegwesi dari bahan bata. Perbedaan bahan bangunan memberi gambaran pula mengenai adanya perbedaan bentuk bangunan. Oleh karena itu penelitian yang dilakukan berusaha mengungkap bentuk bangunan. Bentuk bangunan dimaksud meliputi denah, arah hadap, dan kemungkinan rekonstruksi bentuk utuh bangunan. Mengingat antara lokasi situs Rajegwesi berdekatan dengan lokasi penemuan prasasti, dalam penelitian ini juga akan dicari kemungkinan adanya hubungan antara candi dengan prasasti.

Untuk mencapai tujuan sebagaimana tersebut di atas, akan diterapkan tipe penelitian deskrip­tif dengan mengikuti pola penalaran induktif. Tahapan penelitian meliputi observasi, deskripsi, dan interpretasi (Deetz, 1967). Pada tahap observasi, pengumpulan data dilaksanakan melalui survei permukaan dan ekskavasi. Survei permukaan dimaksudkan untuk mengumpulkan data secara horisontal, sedangkan ekskavasi untuk mencari data secara vertikal (Renfrew & Bahn, 1991). Survei dan ekskavasi itu diikuti dengan pendeskripsian data. Dari hasil pendeskripsian kemudian dilakukan analisis baik artefaktual maupun non artefaktual. Berdasarkan gambaran hasil pendeskripsian dan analisis data kemudian dilakukan interpretasi.

PROSES DAN HASIL PENELITIAN

Proses Penelitian

Penelitian situs Rajegwesi dilaksanakan dalam bentuk survei dan ekskavasi. Survei dilakukan di sekitar lokasi candi Rajegwesi dengan tujuan untuk menentukan lokasi yang mengandung data baik arkeologis maupun non arkeologis yang berpotensi bagi pengembangan penelitian lebih lanjut. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap data/benda arkeologis yang berhubungan atau diduga berhubungan dengan candi Rajegwesi. Objek yang dimaksud yaitu frgamen yoni yang ditemukan penduduk dan prasasti dari Cisaga yang sekarang disimpan di Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga”.

Dalam kegiatan survei dilakukan pengamatan dan pendeskripsian langsung terhadap objek arkeologis yang ada. Selain itu juga dilakukan pencarian penjelasan mengenai lokasi penemuan dan proses penemuannya. Untuk melengkapi data dilakukan wawancara dengan masyarakat setempat yang mengetahui latar belakang daerah tersebut. Wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan data etno-histori.

Ekskavasi dimaksudkan untuk mendapatkan data secara vertikal. Melalui ekskavasi dapat diperoleh data yang terdapat di dalam tanah. Dalam kegiatan ini telah dilakukan pembukaan tiga kotak gali. Penentuan posisi kotak gali selain dari hasil pengamatan intensif di lokasi bangunan candi juga berdasarkan gejala yang ada pada kotak gali terdahulu.

Masing-masing kotak gali dibuat dengan ukuran 2 X 2 m. Pembukaan kotak dilakukan dengan teknik spit berinterval 20 cm. Khusus untuk spit 1 dengan kedalaman 20 cm dari titik terendah. Titik nol (datum point) ditentukan dengan menambahkan 15 cm pada salah satu titik sudut atau sisi.

Ekskavasi dimulai dengan membuka kotak LU I. Kotak ini terletak di sisi timur runtuhan bangunan. Lokasi ini dipilih karena berdasarkan pengamatan diduga masih ada runtuhan bangunan yang tersimpan di bawah permukaan. Dengan membuka kotak ini diharapkan dapat ditemukan sisi timur bangunan. Berdasarkan gejala yang terdapat di kotak LU I kemudian dilanjutkan dengan membuka kotak LU II. Kotak ini berada di sebelah utara kotak LU I berselang 2 m. Tujuan pembukaan kotak untuk mendapatkan sudut timur laut bangunan. Selanjutnya dibuka kotak LU III yang berada di sebelah baratdaya kotak LU I. Dari pembukaan kotak ini diharapkan dapat ditemukan sudut tenggara bangunan.

Hasil Penelitian

Gambaran Umum LokasiSitus Rajegwesi secara administratif termasuk di dalam wilayah Dusun Pananjung, Desa Mulyasari, Kec. Pataruman, Kotif Banjar, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Lokasi berada pada areal perkebunan milik PTP Nusantara VIII, Kebun Batulawang, Afdeeling Mandalareh. Secara geografis berada pada posisi 108°35’28” BT dan 7°20’54” LS (berdasarkan peta topografi daerah Banjar lembar 4720-IV).

Bekas bangunan candi berada di sebuah gundukan tanah pada kelokan sungai sebelah selatan Citanduy. Gundukan tanah ini tingginya sekitar 7 m dari lahan sekitar dengan diameter sekitar 70 m. Di sebelah barat candi Rajegwesi berjarak lurus 1500 m, merupakan pertemuan antara sungai Cijulang dan Citanduy. Sekitar lokasi situs berupa lahan perkebunan karet dan kebun palawija.

Geomorfologi kawasan situs secara umum merupakan pedataran bergelombang dengan ketinggian antara 10 hingga 100 m di atas permukaan laut. Beberapa bukit dengan ketinggian sekitar 100 m terdapat di daerah ini. Bukit-bukit tersebut antara lain pasir Lanang, pasir Gede, pasir Pangrampogan, pasir Panenjoan, pasir Cicangkorek, pasir Peuteuy, pasir Mandalare,dan pasir Panji. Di antara perbukitan tersebut Citanduy mengalir (berdasarkan peta topografi daerah Banjar lembar 4720-IV).

Kondisi lingkungan Candi Rajegwesi

Deskripsi Hasil Survei

a. Situs Rajegwesi

Puncak bukit di mana terdapat runtuhan bangunan candi ditumbuhi beberapa pohon besar antara lain beringin, serut, dan kopo (semacam jambu air). Berdasarkan pengamatan secara megaskopis, kondisi geologis bukit di mana candi Rajegwesi berada merupakan intrusi (terobosan) batuan beku. Candi itu sendiri tepat pada puncak intrusi. Singkapan batuan beku juga kedapatan di tepi Citanduy dan pada lahan perkebunan yang terdapat di sebelah barat candi.

Pengamatan terhadap data arkeologis yang dilakukan, menunjukkan adanya sebaran bata yang sudah tidak terstruktur karena terangkat akar pohon. Bata tersebut terpusat pada puncak bukit dengan radius 8 m. Hampir semua bata dalam keadaan tidak utuh. Satu-satunya bata utuh yang ditemukan berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm, dan tebal 7 cm. Selain bata juga terdapat batu andesitik dan tufa. Keadaan yang ada sekarang di tengah sebaran bata tersebut terdapat kumpulan batu dan bata yang bentuknya seperti jirat makam dengan orientasi utara-selatan. “Makam” tersebut berukuran panjang 170 cm, lebar 90 cm, dan tinggi 40 cm. Di sebelah timur “makam” pada sisi talud terdapat dua buah batu datar yang disusun seperti altar. Pengamatan pada permukaan tanah sekitarnya tidak ditemukan adanya artefak lainnya.

Mengenai nama Rajegwesi menurut keterangan penduduk dahulu di lokasi tersebut terdapat besi berjajar yang tertancap di tepi sungai. Asal-usul besi tersebut secara pasti tidak diketahui. Ada yang mengatakan sebagai penahan erosi, tetapi ada juga yang menceritakan bekas perahu yang tenggelam. Besi-besi tersebut sekarang sudah tidak tersisa lagi. Menurut penuturan salah seorang penduduk, pada sekitar tahun 1945-an bukit tersebut belum ditumbuhi pohon besar. Dahulu hanya ada batu panjang yang tertancap dan bata-bata besar seperti yang ada sekarang tidak tampak. Pada tahun 1960-an sudah ada pohon dan bata bata besar mulai terlihat. Batu panjang yang dahulu tertancap sudah tidak ada.

Keterangan yang diberikan oleh Bp. Marto yang sekarang mengurus lokasi tersebut (juru kunci), pada sekitar tahun 1960-an yang terlihat hanya bata-bata besar. Karena banyak yang datang untuk berziarah kemudian batu dan bata yang ada dibentuk menyerupai jirat makam. Akhirnya masyarakat menyebut bahwa lokasi itu sebagai makam Prabu Songsong.

b. Yoni

Pada komplek makam di dekat pemukiman peduduk terdapat fragmen yoni. Menurut keterangan, pada tahun 1955 hari Jumat Kliwon sekitar pukul 08.00 (tanggal dan bulannya sudah tidak dapat dipastikan) Bp. Wijatna, selaku juru kunci Rajeg Wesi ketika itu, dengan dibantu tiga orang anaknya menggali bukit “Gunung Leutik” yang berada di sebelah selatan Rajeg Wesi. Pada kedalaman sekitar 0,5 m menemukan 4 buah batu yang dianggap sebagai 3 buah kursi batu dan sebuah meja batu. Masyarakat mempercayai bahwa tinggalan tersebut merupakan bekas milik Ibu Ratu Galuh. Tinggalan tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang (Idjam, 1991). Berdasarkan ciri-ciri yang ada benda tersebut adalah fragmen yoni.

Fragmen yoni yang berasal dari Gunung Leutik

Yoni terbuat dari bahan batu tufa berwarna putih. Fragmen yang ada merupakan bagian atas dengan ukuran panjang 96 cm, lebar 86 cm, dan tebal 15 cm. Lubang tempat kedudukan lingga berbentuk bujur sangkar dengan sisi 25 cm. Bagian atas ini pada salah satu sudutnya sudah pecah. Bagian cerat berukuran panjang 20 cm, lebar pangkal 20 cm, dan lebar ujung 16 cm. Selain itu juga terdapat bagian berbentuk kubus dengan ukuran 43 X 43 cm dan tebal 40 cm. Bagian ini kemungkinan merupakan bagian tubuh yoni. Di lokasi runtuhan candi juga terdapat batu tufa. Batu tersebut mungkin juga merupakan bagian yoni.

c. Prasasti

Prasasti yang ditemukan di Dusun Cipadung, Desa Purwaraharja, Kec. Cisaga sekarang disimpan di Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga”. Tim dari Puslit Arkenas yang pernah meninjau lokasi penemuan tidak menjumpai kekunaan lainnya (Tim Penelitian Arkeologi, 1983: 17).

Prasasti terbuat dari batu andesitik berbentuk panjang. Pada bagian atas ada yang patah. Secara keseluruhan ukuran batu dengan panjang 70 cm, lebar antara 14 hingga 26 cm, dan tebal antara 5 hingga 10 cm. Tulisan terdiri lima baris menggunakan huruf Jawa Kuna dan bahasa Jawa Kuna. Berdasarkan isinya, prasasti ini kemudian disebut Prasasti Mandiwuna. Pembacaan yang dilakukan oleh Richadiana Kartakusuma, peneliti dari Puslit Arkenas, prasasti tersebut berisi sebagai berikut:

Transkripsi:

mâsa krsna pa(k)sa

nawami haryaŋ

pon wrhaspati wâ

ra tatkâla sîma ri

mandiwuna ……


Terjemahan:

bulan parogelap

(tanggal) 9, (paringkelan) Haryang

(pasaran) Pon, hari Kamis,

ketika itulah daerah perdikan di

Mandiwuna ……

Deskripsi Hasil Ekskavasi

a. Kotak LU I

Kotak LU I dibuka hingga akhir spit 3. Keadaan permukaan miring ke arah timur. Sebelum dibersihkan tertutup rumput. Pada awal penggalian ketinggian titik t1 (sudut baratlaut) -16,5 cm, t2 (sudut timurlaut) -43 cm, t3 (sudut tenggara) -45 cm, t4 (sudut baratdaya) -22 cm, titik a (tengah-tengah sisi utara) -17 cm, titik b (tengah-tengah sisi timur) -41 cm, titik c (tengah-tengah sisi selatan) -29 cm, titik d (tengah-tengah sisi barat) -18,5 cm, dan titik e (tengah-tengah kotak) -26 cm.[1] Datum Point ditentukan di dekat titik t1. Pada permukaan tidak ditemukan adanya artefak.

Pembukaan spit 1 keadaan tanah berupa pelapukan batuan beku berwarna coklat kekuningan bertekstur halus sampai sedang, banyak dijumpai akar. Pada spit ini terdapat konsentrasi fragmen bata di sisi barat kotak gali.Pada spit 2 pelapukan batuan beku berwarna coklat kekuningan terus berlanjut. Sebaran fragmen bata terdapat di seluruh kotak, dengan konsentrasi di sisi barat. Akar-akar terlihat di antara fragmen bata. Spit 2 diakhiri hingga kedalaman t1 43 cm, t261 cm, t3 62 cm, t4 33 cm, a 40 cm, b 58 cm, c 54 cm, d 29 cm, dan e 59 cm.

Penggalian dilanjutkan pada spit 3 dengan membongkar sebaran fragmen bata. Di bawah lapisan sebaran fragmen bata tersebut, pada sudut baratdaya terdapat tatanan fragmen bata sebanyak satu lapis menyerupai lantai. Pada bagian lain keadaan tanah berupa cadas (bad rock). Bagian sisi timur masih dijumpai beberapa pecahan bata. Pada pertengahan spit 3 penggalian dilanjutkan setengah kotak yaitu pada sisi timur. Keadaan tanah berwarna coklat kehitaman bertekstur halus. Penggalian pada bagian ini sudah tidak ditemukan lagi benda arkeologis. Penggalian kotak LU I diakhiri hingga kedalaman t1 78 cm, t2 80 cm, t375 cm, t4 35 cm, a 80 cm, b 79 cm, c 74 cm, d 61 cm, dan e 78 cm.

Sebaran fragmen bata pada kotak LU I spit 2

b. Kotak LU II

Kotak LU II dibuka hanya pada spit 1. Keadaan permukaan miring ke arah timurlaut. Pada sudut tenggara kotak gali dijumpai adanya singkapan batuan beku. Sebelum dibersihkan kotak ini tertutup rumput dan sampah daun-daun kering. Datum Point ditentukan di dekat titik t4. Pada permukaan tidak ditemukan adanya artefak.

Pada awal penggalian ketinggian titik t1 (sudut baratlaut) -36 cm, t2 (sudut timurlaut) -50 cm, t3 (sudut tenggara) -35 cm, t4(sudut baratdaya) -17 cm, titik a (tengah-tengah sisi utara) -42 cm, titik b (tengah-tengah sisi timur) -40 cm, titik c (tengah-tengah sisi selatan) -28 cm, titik d (tengah-tengah sisi barat) -27 cm, dan titik e (tengah-tengah kotak) -34 cm.

Pembukaan spit 1 dilakukan hanya setengah kotak yaitu pada sisi barat.[2] Keadaan tanah berupa pelapukan batuan beku berwarna coklat kehitaman bertekstur halus sampai sedang, banyak dijumpai akar. Beberapa fragmen bata ditemukan terkonsentrasi pada sudut baratdaya. Pada bagian lain tidak ditemukan artefak dan benda arkeologis lainnya. Menjelang akhir spit 1 sudah dijumpai lapisan tanah cadas (bad rock). Penggalian diakhiri hingga kedalaman t144 cm, t4 25 cm, a 48 cm, c 44 cm, d 41 cm, dan e 46 cm.

c. Kotak LU III

Kotak LU III dibuka hingga akhir spit 2. Keadaan permukaan miring ke arah tenggara. Keadaan permukaan sebelum dibersihkan tertutup rumput dan sampah daun-daun kering. Di sudut timurlaut kotak gali terdapat tumpukan batu dan bata bekas perapian yang dibuat masyarakat.

Pada awal penggalian ketinggian titik t1 (sudut baratlaut) -22 cm, t2 (sudut timurlaut) -74 cm, t3 (sudut tenggara) -81 cm, t4(sudut baratdaya) -75 cm, titik a (tengah-tengah sisi utara) -60 cm, titik b (tengah-tengah sisi timur) -76 cm, titik c (tengah-tengah sisi selatan) -75 cm, titik d (tengah-tengah sisi barat) -54 cm, dan titik e (tengah-tengah kotak) -70 cm.Datum Point ditentukan di dekat titik t1. Pada permukaan tidak ditemukan adanya artefak. Penggalian dilakukan setengah kotak gali yaitu di bagian selatan.

Pembukaan spit 1 banyak menemukan sebaran fragmen bata dan beberapa batu polos. Keadaan tanah bagian atas berupa humus bercampur kerikil dengan ketebalan 3 cm hingga 5 cm. Di bawah lapisan humus berupa tanah lapukan batuan beku berwarna coklat kemerahan bertekstur halus sampai kasar. Artefak dan benda arkeologis lainnya tidak ditemukan. Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman t3 95 cm, t4 80 cm, b 90 cm, c 93 cm, d 62 cm, dan e 84 cm.

Penggalian dilanjutkan pada spit 2 dengan membongkar sebaran fragmen bata dan beberapa batu. Di bawah sebaran fragmen bata masih dijumpai fragmen bata secara sporadis terutama di sisi utara. Pada sisi selatan sudah dijumpai lapisan permukaan batuan beku. Keadaan tanah berupa lapisan pelapukan batuan beku berwarna coklat kemerahan yang masih dijumpai akar. Penggalian diakhiri hingga kedalaman t3 97 cm, t4 95 cm, b 92 cm, c 101 cm, d 74 cm, dan e 59 cm. Pada spit ini juga tidak dijumpai artefak lainnya.

PEMBAHASAN

Rekonstruksi Bentuk

Gejala awal yang terlihat pada situs Rajegwesi menunjukkan kesamaan dengan situs-situs di daerah Batujaya dan Cibuaya, Karawang. Situs Batujaya berada pada area yang cukup luas meliputi dua desa yaitu Desa Segaran dan Telagajaya. Indikasi temuan arkeologi adalah berupa sejumlah gundukan-gundukan tanah yang dalam istilah setempat disebut unur. Di desa Segaran unur tersebut berjumlah 9, sedangkan di desa Telagajaya berjumlah 12. Berdasarkan hasil ekskavasi, unur-unur tersebut adalah merupakan bentukan tanah sedimentasi alami yang menutup struktur reruntuhan bangunan candi (Falah, 1995: 15). Di situs Cibuaya juga terdapat beberapa gundukan anah pada areal persawahan. Berdasarkan ekskavasi terlihat bahwa gundukan tanah tersebut merupakan runtuhan bangunan dari bata. Hingga tahun 1994 telah ditampakkan 6 runtuhan bangunan yaitu bangunan sektor 1 hingga 6. Bangunan sektor 2 oleh masyarakat setempat disebut Lemah Duwur Wadon, dan bangunan sektor 3 disebut Lemah Duwur Lanang (Falah, 1996). Dari gejala awal yang sama dengan unur di Batujaya dan Cibuaya tersebut diduga bukit kecil yang terdapat di situs Rajegwesi juga merupakan runtuhan bangunan. Dugaan ini juga didasari adanya sebaran bata kuna.

Berdasarkan survei permukaan secara cermat serta didukung pelaksanaan ekskavasi, bukit kecil di Rajegwesi mempunyai struktur yang berbeda dengan yang ada di Batujaya. Bukit kecil di Rajegwesi bukan terjadi karena proses sedimentasi tetapi merupakan puncak intrusi batuan beku. Dengan demikian bila di Batujaya semula ada bangunan kemudian runtuh dan tertutup tanah, kalau di Rajegwesi semula memang sudah ada bukit kecil sebagai hasil intrusi batuan beku, baru kemudian dibangun candi pada puncak bukit itu.

Dari hasil ekskavasi menunjukkan sebaran bata yang ada sudah tidak terstruktur lagi. Kerusakan ini terjadi karena terangkat oleh akar-akar pohon yang tumbuh pada lokasi itu. Di samping itu transformasi yang dilakukan manusia ketika menyusun kembali bata untuk dibentuk menjadi semacam jirat makam Prabu Songsong menambah parah tingkat kerusakan. Tiga kotak gali yang telah dibuka tidak menemukan sisi atau sudut bangunan. Sebaran bata yang terlihat dari hasil ekskavasi menunjukkan sudah parahnya tingkat kerusakan. Dengan demikian bentuk denah dan ukurannya sudah tidak dapat direkonstruksi kembali secara tepat. Namun berdasarkan radius sebaran, ukuran bangunan diperkirakan sekitar 6 X 6 m.

Secara vertikal sebaran bata juga tidak menunjukkan adanya struktur bertingkat. Sisa tinggalan komponen bangunan yang terdapat di situs Rajegwesi hanya menunjukkan bagian batur. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa yoni yang ditemukan masyarakat di Gunung Leutik (jarak sekitar 100 m sebelah selatan situs Rajegwesi) dahulunya adalah objek pemujaan yang terdapat di atas batur Candi Rajegwesi. Asumsi ini juga didasarkan pada keterangan masyarakat setempat bahwa pada sekitar tahun 1945 terlihat adanya batu panjang yang tertancap. Kemudian pada tahun 1955 ditemukan yoni. Dengan demikian batu yang tertancap tersebut kemungkinan besar adalah lingga. Dahulu kemungkinan objek pemujaan tersebut dilindungi bangunan yang terbuat dari bahan yang mudah rusak.

Di daerah Pangandaran, Ciamis terdapat runtuhan bangunan candi yang disebut Candi Pananjung. Hasil ekskavasi yang dilakukan Puslit Arkenas menunjukkan bahwa bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 12 X 12 m. Struktur batu hanya terdiri 3 lapis demikian hanya berupa batur. Bagian atas (tubuh dan atap) bangunan kemungkinan dibuat dari bahan yang mudah rusak seperti misalnya tiang kayu atau bambu, dengan penutup atap dari ijuk atau daun-daunan (Ferdinandus, 1990; Munandar, 1992). Bila dibandingkan dengan Candi Pananjung, Candi Rajegwesi mempunyai bentuk dasar yang sama yaitu bagian permanen hanya pada batur.

Bentuk candi berupa batur dengan objek pemujaan juga dijumpai di situs Cibuaya, Karawang. Bangunan sektor 3 yang oleh masyarakat setempat dinamakan Lemah Duwur Lanang merupakan bangunan berbentuk batur berukuran 9 X 9,6 m dari bahan bata terdiri 31 lapisan. Pada puncak bangunan terdapat lingga setinggi 1,11 m dari bahan batuan andesitik. Pada sisi barat laut terdapat tangga masuk yang sekarang telah hancur (Falah, 1996: 91).

Bentuk candi berupa batur tunggal sebagaimana Candi Rajegwesi, juga dijumpai pada beberapa candi di Jawa Timur misalnya Candi Kedaton (1370 M) yang berada di lereng barat Gunung Hyang. Candi tersebut juga berupa batur tunggal yang di atasnya terdapat altar persajian. Bentuk semacam ini juga dijumpai di Candi Kotes, Blitar dan beberapa tempat persajian di Gunung Penanggungan (Kempers, 1959: 97). Para arkeolog banyak yang menghubungkan Candi Kedaton dengan mandala(lingkungan suci) Mula-Sagara yang disebutkan dalam berbagai sumber tertulis. Nagarakrtagama pupuh 78:7 menyebutkan bahwa mandala Sagara dan Kukub merupakan tempat suci bagi para rsi. Di dalam Tantu Panggelaran nama mandala Sagara disebutkan berkali-kali, dan dianggap sebagai salah satu mandala awal yang didirikan langsung oleh dewa (Munandar, 1992).

Mengenai arah hadap candi pada masa awal klasik di Indonesia, candi menghadap ke utara atau selatan – mengikuti orientasi kosmis – namun pada masa akhir Majapahit terjadi perubahan yaitu menghadap ke unsur alam seperti misalnya gunung (orientasi ktonis). Meskipun bangunan tersebut berlatarkan Hindu namun ungkapan arsitekturnya mencerminkan ciri-ciri bangunan megalitik, punden berundak. Menurut Sri Soejatmi Satari, pada masa ini telah terjadi perkembangan kultus yaitu pemujaan kepada sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Oleh para penganutnya kekuatan itu dipakai sebagai lambang untuk memperoleh kesuburan maupun kesempurnaan hidup. Kultus ini tumbuh di suatu daerah yang berada jauh dari pusat kerajaan. Pandangan Stutterheim pada masa itu terdapat juga kultus Bhima. Bhima muncul sebagai tokoh yang dikultuskan karena selalu berhasil menyelamatkan sesuatu dari malapetaka dan dipandang sebagai tokoh yang mempunyai sifat mistis-magis. Kehadiran tokoh Bhima berkaitan dengan tampilnya konsepsi tentang pemujaan gunung. Tokoh Bhima mempunyai kedudukan penting pada situs-situs yang ditemukan di gunung-gunung (Tjahjono, 1992; Satari, 1975; Stutterheim, 1956).

Arah hadap Candi Rajegwesi sangat susah ditentukan. Hal ini antara lain karena tidak dijumpai adanya tangga. Mengingat bentuknya berupa batur tunggal dengan objek pemujaan di atasnya serta dengan ketinggian yang tidak begitu tinggi, dapat diasumsikan bahwa kegiatan ritual ketika itu tidak berada pada atas batur tetapi pada halaman di sekitar batur. Dengan demikian arah hadap candi tidak dipastikan dari tangga naik/masuk tetapi dari posisi objek pemujaanya. Bila diperbandingkan dengan candi-candi masa akhir Majapahit yang berorientasi ktonis, lingkungan sekitar Candi Rajegwesi memang bergunung-gunung. Gunung tertinggi di sekitar lokasi berada di sebelah utara situs yaitu pasir Pangrampogan. Namun demikian antara Candi Rajegwesi dengan pasir Pangrampogan terdapat Sungai Citanduy, maka konsep orientasi ktonis tampaknya tidak berlaku. Dengan demikian untuk memastikan arah hadap Candi Rajegwesi masih perlu data yang lebih kuat lagi.

Hubungan Dengan Tinggalan Arkeologis Lainnya

Tinggalan arkeologis disekitar situs Rajegwesi yang berlatarkan klasik hanya prasasti Mandiwuŋa. Selama penelitian berlangsung tidak ditemukan data baru. Prasasti Mandiwuŋa merupakan satu-satunya prasasti penetapan sîma yang ditemukan di Jawa Barat. Penetapan suatu daerah menjadi sîma merupakan peristiwa penting karena menyangkut perubahan status sebidang tanah dan beberapa hak istimewa yang tidak dimiliki daerah-daerah lainnya. Daerah yang ditetapkanenjadi sîma mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Di dalam prasasti Waringin Pitu (1447 M) hak bagi pemilik tanah sima antara lain tidak boleh didatangi oleh petugas pajak. Dengan kata lain tanah tersebut terbebas dari pajak yang membebaninya. Di samping itu pemilik tanah sîma mempunyai kewajiban melakukan upacara korban (Indradjaja, 1998; Boechari, 1980; Dwijanto, 1992; Suhadi, 1994). Suatu lahan yang sudah ditetapkan menjadi sîma bukan berarti terbebas sama sekali dari kewajiban mengeluarkan pajak, tetapi berkewajiban mengeluarkan biaya bagi pelaksanaan ritual dan pemeliharaan bagi bangunan suci tertentu.

Berkaitan dengan prasasti Mandiwuŋa, prasasti tersebut juga menyatakan penetapan daerah Mandiwuŋa sebagai sima. Daerah yang dijadikan sima bisa berdekatan dengan bangunan suci yang dimaksud, tetapi juga bisa berjauhan. Berdasarkan perbandingan toponim di sekitar situs Rajegwesi tidak dijumpai adanya lokasi bernama Mandiwunga. Dirman Surachmat menghubungkan Mandiwunga dengan Pulau Handiwung yang terdapat di rawa Onom desa Purwaraharja. Mungkin jaman dahulu rawa itu sebagai kawasan yang ada kaitannya dengan sumber kehidupan masyarakat dariperiode yang lebih tua lagi (Surachmat, 1985). Antara rawa Onom dengan lokasi situs Rajegwesi memang tidak begitu jauh. Melalui jalan sungai bisa melewati Sungai Citapen yang bermuara di Sungai Citanduy. Namun apakah benar bahwa Mandiwunga adalah Pulau Handiwung belum dapat dipastikan. Di samping itu apakah sima di Mandiwunga dimaksudkan untuk keperluan Candi Rajegwesi juga belum dapat dipastikan. Dengan demikian untuk melihat hubungan antara Candi Rajegwesi dengan prasasti Mandiwunga masih perlu data yang lebih akurat.

KESIMPULAN

Penelitian di situs Rajegwesi berhasil mendapatkan beberapa data arkeologis yang sangat penting. Namun demikian dari data yang berhasil diperoleh belum dapat mengungkapkan permasalahan yang muncul. Hal ini disebabkan karena faktor kondisi yang ada. Arsitektur candi Rajegwesi yang terungkap dari data yang ada menunjukkan bahwa candi tersebut berlatarkan Hinduistis. Adanya yoni yang ditemukan masyarakat setempat di dekat lokasi tersebut merupakan indikator kuat yang menunjukkan latar belakang keagamaannya.

Bentuk bangunan diperkirakan berupa batur tunggal dari bahan permanen (bata) sedangkan tubuh dan atap candi dari bahan yang mudah rusak seperti bambu atau kayu. Candi dengan rancang bangun demikian juga ditemukan di situs Batujaya dan Cibuaya, Karawang serta beberapa candi dari masa Majapahit akhir. Secara konstruktif candi Rajegwesi tidak dibangun di atas fondasi tetapi langsung di atas tanah. Keadaan geologis setempat yang merupakan puncak intrusi batuan beku sangat memungkinkan pendirian dengan teknik demikian. Karena sudut-sudut bangunan tidak ditemukan maka denah candi belum dapat diketahui. Melihat persebaran runtuhan yang ada mungkin denah candi berbentuk segi empat dengan ukuran sekitar 6 X 6 m.

Arah hadap candi belum dapat dipastikan. Secara umum arah hadap candi baik Hindu maupun Buddha ke timur atau barat sesuai dengan konsep kosmis (matahari terbit dan tenggelam). Pada masa Majapahit akhir ¾ dan masa klasik akhir di Jawa pada umumnya ¾ di mana unsur agama asli Indonesia “membalut kuat” ajaran agama Hindu/Buddha, konsep ktonis yaitu konsep mengenai tempat-tempat suci seperti gunung, ikut mewarnai perencanaan pembangunan candi. Gejala demikian juga terlihat pada masa klasik Jawa Barat. Namun dilihat dari keletakannya, tampak konsep tersebut tidak diterapkan. Sehingga karena tidak ditemukan sisa-sisa jalan masuk dan kepastian konsep yang melatarbelakanginya, maka masih sulit untukmenentukan arah hadap candi.

Prasasti Mandiwuŋa yang ditemukan di Dusun Cipadung, Desa Purwaraharja, Kec. Cisaga berkaitan dengan penetapan sima atau daerah perdikan. Keberadaan prasasti tersebut menunjukkan bahwa di sekitar daerah tersebut terdapat bangunan suci. Penetapan daerah menjadi simadimaksudkan bahwa daerah tersebut dibebaskan dari pajak dengan harapan hasilnya untuk kepentingan mengurus bangunan suci. Sima yang dimaksudkan dalam prasasti adalah daerah yang bernama Mandiwuŋa. Berdasarkan telaah toponimi, belum ditemukan adanya kampung atau desa yang namanya mengacu pada Mandiwuŋa. Dengan demikian untuk memastikan apakah ada hubungan antara prasasti Mandiwuŋa dengan candi Rajegwesi masih diperlukan penelaahan yang lebih mendalam lagi.

KEPUSTAKAAN

Boechari. 1980. “Candi dan Lingkungannya”. Makalah padaPertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Deetz, James. 1967, Invitation to Archaeology. New York: The Natural History Press.

Djafar, Hasan. 1991. “Prasasti-prasasti dari Masa Kerajaan-kerajaan Sunda”. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Bogor 11 – 13 November (belum diterbitkan).

Djubiantono, Tony; W. Anwar Falah, Agus. 1997/1998.Laporan Hasil Penelitian Arkeologi: Penanggulangan Kasus Kepurbakalaan Di Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Balai Arkeologi Bandung.

Dwijanto, Djoko. 1992. “Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa Pada Abad IX – XV Masehi”. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Falah, W Anwar. 1995. “Kaki Candi SED.V (Unur Blandongan) Di Situs Batujaya Karawang: Satu Tafsir Penjajagan Konteks Arkeologi Kesejarahan”. DalamJurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 2/November/1995. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

—–, 1996 “Penelitian (Awal) Kronologi Budaya Situs Cibuaya Karawang Jawa Barat”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 4/November/1996. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Ferdinandus, Pieter E.J. 1990. “Situs Batu Kalde di Pangandaran, Jawa Barat”. Dalam Monumen. Depok: Fakutas Sastra Universitas Indonesia.

—–, 1998 Laporan Penelitian Arkeologi Kabupaten Ciamis (Karangkamulyan, Banjar, Kawali, dan Pamarican).Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (tidak diterbitkan).

Idjam. 1991. “Patilasan Sanghiyang Ibu Ratu Galuh”. (catatan tidak diterbitkan).

Indradjaja, Agustijanto. 1998. “Beberapa Masalah Perubahan Status Tanah di Jawa Barat Menurut Sumber Prasasti”. Dalam Dinamika Budaya Asia Tenggara-Pasifik Dalam Perjalanan Sejarah.Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Kempers, A.J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art.Amsterdam: Harvard University Press.

Krom, N.J. 1915. Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914. Batavia: Albrecht & Co.

Munandar, Agus Aris. 1992. “Bangunan Suci Pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis”. Makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Batu, Malang: 26-30 Juli 1992. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Nastiti, Titi Surti. 1996. “Prasasti Kawali”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 4/November/1996.

Renfrew, Colin; Paul Bahn. 1991. Archaeology: Theories, Methods, and Practice. London: Thames and Hudson.

Satari, Sri Soejatmi. 1975. “Seni Rupa dan Arsitektur Zaman Klasik di Indonesia”. Dalam Kalpataru. Jakarta: Puslit Arkenas.

Stutterheim, W.F. 1956. An Ancient Javanese Bhima Cult.Studies in Indonesian Archaeology. The Hague: Martinus Nijhoff.

Suhadi, Machi. 1994. “Hak dan Kewajiban Kepada Tanah Sima Dalam Masa Majapahit”. Dalam Berkala Arkeologi Th. XIV. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Sumadio, Bambang (ed.). 1992. “Jaman Kuna”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka.

Surachmat, Dirman. 1985. “Prasasti Cisaga”. Makalah dalam Seminar Sejarah Nasional IV. Yogyakarta 16 – 19 Desember 1985. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

Tim Penelitian Arkeologi. 1983. Laporan Sementara Penelitian Arkeologi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (tidak diterbitkan).


[1] Kode titik pada kotak lainnya tetap seperti pada kotak LU 1. Pengukuran ketinggian/kedalaman berpatokan pada Datum Point (DP) dengan posisi 0 di dekat titik tertentu + 15 cm.

[2] Akhir spit 1 ditetapkan pada kedalaman titik terendah bagian yang digali + 20 cm yaitu pada kedalaman 60 cm.

CATATAN: Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Cakrawala Arkeologi”. hlm. 46 – 60. Editor: Dr. Fachroel Aziz dan Dra. Etty Saringendyanti W, M. Hum. Penerbit: Ikatan Arkeologi Indonesia, Bandung: 2000.

diposkan oleh arkeologi sunda pada 00:22 0 komentar

13 januari, 2009

Harta Karun Yang Muncul di Bandung Timur

CANDI BOJONGMENJE
Oleh: Nanang Saptono
Kunjungan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ke lokasi Candi Bojongmenje

Pendahuluan

Yang namanya “harta karun” mungkin merupakan sesuatu yang sangat didambakan oleh banyak manusia karena dapat menjadikan kaya. Dari cerita sebelum bobo yang penuh khayalan, hingga kehidupan nyata sehari-hari yang realistis, banyak menjadikan harta karun sebagai tema dalam berfikir. Bulan Agustus 2002 yang lalu, masyarakat Jawa Barat dan Sunda pada umumnya, mendapat sajian realitas kehidupan menyangkut harta karun. Situs Batutulis di Bogor, dibantai dicari harta karunnya karena adanya petunjuk gaib. Pola pikir mayoritas masyarakat Sunda yang realistis, menentang aktifitas penggalian tanpa kaidah ekskavasi arkeologis tersebut. Masyarakat Sunda sangat menyayangkan bila titilar karuhunnya diacak-acak. Namun, kegundahan masyarakat seakan-akan mendapat obat mujarab ataupun jamu manjur mendengar berita penemuan candi di Kampung Bojongmenje, Kabupaten Bandung sekitar 30 km sebelah timur kota Bandung.
Surat kabar Galamedia yang terbit di Bandung, pada tanggal 20 Agustus 2002 menurunkan berita penemuan tersebut. Bermula dari Bapak Ahmad Muhammad, bersama rekan-rekannya, pada sore tanggal 18 Agustus 2002 bermaksud meratakan gundukan tanah yang terdapat di lahan kuburan. Tiba-tiba cangkul Bapak Rochman mengenai benda keras. Setelah diperhatikan ternyata batu yang bersusun. Keesokan harinya penggalian dilanjutkan oleh Bapak Ahmad dan rekan-rekan yang semuanya berjumlah duabelas orang. Penggalian dilanjutkan hingga kedalaman 120 cm lebar 1,5 m dan panjang 6 m. Bagian yang tampak merupakan susunan batu sebanyak 9 lapis. Melihat pemandangan ini mereka lalu melaporkan penemuannya ke berbagai pihak di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat dan Balai Arkeologi Bandung. Setelah dilakukan peninjauan singkat oleh kedua instansi tersebut disimpulkan bahwa temuan itu adalah benar suatu runtuhan bangunan candi bagian kaki. Hal yang sangat menarik profil kaki menunjukkan adanya bagian yang disebut pelipit, ojief (sisi genta), dan bingkai persegi. Menindaklanjuti temuan itu akhirnya diputuskan segera dilakukan ekskavasi penyelamatan.

Gambaran Umum Lokasi

Situs Bojongmenje secara administratif termasuk di dalam wilayah Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat. Secara geografis berada pada posisi 650’47” LS dan 10748’02” BT (berdasarkan peta topografi daerah Sumedang lembar 4522-II). Di kawasan Rancaekek selama ini belum ada laporan atau temuan mengenai adanya objek purbakala.Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914 (Laporan Dinas Purbakala Hindia-Belanda tahun 1914) yang disusun oleh N.J. Krom belum memuat adanya objek purbakala di sekitar Rancaekek. Dalam laporan itu dimuat adanya runtuhan candi di Tenjolaya, Cicalengka. Unsur bangunan candi yang dilaporkan antara lain patung bergaya Polinesia, kala, patung Durga, dan beberapa balok-balok batu. Selain itu di daerah Cibodas pernah juga dilaporkan adanya temuan patung Çiva-Mahãdewa. Di Cibeeut ditemukan patung Ganeça. Pleyte pada tahun 1909 pernah melaporkan bahwa di Desa Citaman, 200 m sebelah utara Stasiun KA Nagreg, terdapat objek purbakala yang oleh masyarakat setempat disebut pamujan. Di situs ini pernah ditemukan patung Durga.Geomorfologi kawasan situs Bojongmenje secara umum merupakan pedataran bergelombang dengan ketinggian antara 620 hingga 1700 m di atas permukaan laut. Situs Bojongmenje berada pada ketinggian sekitar 675 m di atas permukaan laut. Dataran rendah berada di bagian selatan dan barat, sedangkan bagian utara dan timur merupakan perbukitan. Bukit-bukit tersebut antara lain G. Bukitjarian (1282 m), G. Iwiriwir, Pr. Sumbul (949 m), G. Kareumbi, G. Kerenceng (1736 m), G. Pangukusan (1165 m), Pr. Sodok, Pr. Panglimanan, Pr. Dangusmelati, Pr. Serewen (1278 m), G. Buyung, dan beberapa puncak lainnya (berdasarkan peta topografi daerah Sumedang lembar 4522-II).Dataran rendah di mana situs berada dialiri beberapa sungai. Sungai-sungai tersebut bermata air dari kawasan pegunungan di sebelah utara dan timur. Di kawasan paling barat mengalir Sungai Cikeruh. Ke arah timur berturut-turut terdapat aliran sungai Cikijing, Cimande, dan Citarik. Sungai Cikijing dan Cimande bersatu dengan Citarik. Sungai Cimande yang mengalir di dekat situs, di sebelah timur situs bermula dari arah selatan ke utara kemudian berbelok ke arah barat. Di sebelah barat laut situs sungai ini kemudian berbelok lagi ke arah selatan.Lokasi berada pada lahan kuburan yang dikelilingi areal pabrik, di sebelah selatan jalan raya Bandung – Tasikmalaya. Untuk menuju situs hanya dapat melalui lorong di antara padatnya perumahan penduduk dan tembok pagar pabrik. Panjang lorong dari jalan raya hingga lokasi situs sekitar 125 m. Lahan kuburan di mana terdapat bangunan candi, berada pada sebelah selatan kelokan sungai Cimande berjarak sekitar 75 m.Runtuhan candi berada di bagian sudut barat laut lahan kuburan, pada tanah yang menggunduk. Gundukan tanah ini tingginya sekitar 1 m dari lahan sekitar. Pada bagian puncak gundukan ditumbuhi pohon bungur. Menurut cerita masyarakat, candi ini memang sudah lama diketahui. Dahulu di lokasi ini pernah terdapat arca batu menggambarkan sosok wanita menimang bayi. Arca tersebut dahulu sering untuk main-main dan seringkali dilemparkan ke sungai. Berdasarkan keberadaan arca ini masyarakat menamakannya Candi Orok. Di sebelah timur candi ini dahulu juga terdapat candi dan beberapa arca yang berjajar. Masyarakat menamakannya Candi Wayang. Selain di sebelah timur, di sebelah barat juga terdapat bangunan candi.

Hasil Ekskavasi

Dalam ekskavasi di situs Bojongmenje, pembukaan kotak dilakukan dengan teknik spit, yaitu menggali tanah secara arbitrer dengan interval ketebalan 20 cm. Ekskavasi yang telah dilakukan berhasil membuka 21 kotak gali dan sebuah lubang uji. Pembukaan kotak gali, pada umumnya mencapai kedalaman sekitar 150 cm. Ekskavasi pada 21 kotak gali tersebut telah menampakkan sisa struktur candi bagian kaki. Struktur kaki candi sisi barat (sebagian telah digali masyarakat setempat) yang tersisa terdiri 5 hingga 7 lapis batu. Bagian sudut barat daya terlihat melesak.
Struktur kaki candi sisi barat

Struktur kaki sisi utara tidak dapat ditampakkan secara keseluruhan karena berada dekat sekali dengan tembok pabrik. Beberapa batu runtuhan berada di bawah pondasi pagar tembok pabrik. Sudut timur laut tidak dapat ditampakkan sama sekali karena berada tepat di bawah pagar tembok pabrik.

Struktur sisi timur ditemukan dalam keadaan tidak lengkap. Beberapa batu ditemukan dalam keadaan terpotong akibat aktivitas penduduk membuat lubang galian kuburan. Sudut tenggara dapat ditampakkan secara penuh. Beberapa batu bagian ini juga rusak akibat galian kuburan. Struktur sisi selatan keadaannya relatif utuh dalam arti tidak rusak akibat penggalian untuk kuburan.

Struktur kaki sisi timur yang rusak karena aktifitas pemakaman

Secara umum ekskavasi telah menampakkan denah candi berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 6 X 6 m, bila diukur pada bagian ojief (bingkai padma, sisi genta) dan sekitar 7,5 X 7,5 m bila diukur pada batu paling bawah. Bahan utama yang dipergunakan adalah batuan volkanik, meskipun pada beberapa kotak gali ditemukan bata. Batu kulit hanya terdiri satu lapis. Batu isian berupa batu-batu polos tidak dibentuk. Kebanyakan batu isian berbentuk panjang disusun secara melintang (berpotongan dengan struktur sisi).

Bata ditemukan dibeberapa kotak gali. Ukuran bata berkisar antara tebal 9 cm, lebar 20 cm, dan panjang 40 cm. Pada akhir spit, yaitu dimana terdapat batu pondasi bangunan candi, tanah di sekitarnya diperkeras dengan pecahan bata dan kerikil.

Pada setiap kotak gali, penggalian pada kedalaman sekitar 1 m terganggu oleh resapan air tanah yang cukup deras. Sehingga pada setiap penggalian harus selalu berpacu dengan cepatnya genangan air.

Temuan Penting

Temuan penting antara lain berupa sejenis wadah berbentuk kotak dari bahan batuan tufa. Wadah tersebut berukuran 12 X 11 cm dengan ketebalan 5,5 cm. Pada bagian penampang datar terdapat lubang berbentuk segi empat berukuran 8 X 8,5 cm. Benda ini ditemukan di sisi timur. Di tempat ini pula ditemukan batu bagian ojief yang menyudut. Batu tersebut merupakan suatu indikator bagian tangga/pintu masuk. Dengan demikian wadah berbentuk kotak, posisinya berada di bawah jalan/tangga masuk.
Pada sisi timur bagian utara, di kedalaman sekitar 105 cm ditemukan batu berhias medalion. Secara keseluruhan berukuran panjang 50 cm, lebar 39 cm, dan tebal 12 cm. Pada sisi selatan, terdapat batu struktur yang sudah terlepas. Pada sisi batu tersebut terdapat profil bingkai padma dalam ukuran kecil. Diperkirakan batu ini merupakan unsur bagian atas bangunan candi. Di sisi barat, pada kedalaman sekitar 100 cm ditemukan batu yang salah satu sisinya terdapat cekungan sebanyak dua buah berjajar, berbentuk setengah lingkaran. Batu tersebut berukuran panjang 75 cm, lebar 28 cm, tebal 18 cm, diameter pahatan 21 cm dan 22 cm.Temuan lain yang hampir ditemukan pada setiap kotak gali adalah fragmen tembikar dan tatal obsidian. Fragmen tembikar ada yang berhias ada yang polos. Pola hias tembikar antara lain garis-garis dan jala. Arang sebagai materi yang dapat di-dating juga ditemukan di beberapa kotak gali.
fragmen tatal obsidian (atas) dan fragmen tembikar (bawah)

Temuan penting juga ditemukan ketika dilakukan penggalian fondasi pagar pengaman. Pada sisi timur berjarak sekitar 3 m dari sisi timur candi, di kedalaman sekitar 75 cm ditemukan fragmen yoni dan batu kemuncak. Fragmen yoni dalam keadaan pecah sedikit bagian atas. Bagian cerat tidak ditemukan lagi karena patah. Batu kemuncak pada bagian atas persegi delapan, bagian bawah cembung. Fragmen yoni dan batu kemuncak dari bahan batu tufaan sedikit rapuh.

batu bagian kemuncak candi

Dilihat dari pola stratigrafi, bagian candi telah beberapa kali mengalami penimbunan karena proses sedimentasi. Dari kotak gali yang berada di sudut barat laut terlihat bahwa lapisan tanah paling atas merupakan tanah urug berwarna coklat kemerahan banyak mengandung akar. Di bawah lapisan ini terdapat lapisan tanah berwarna coklat kemerahan dengan tekstur halus sampai kasar padu, akar sedikit berkurang. Pada lapisan ini sampah modern seperti plastik dijumpai secara selaras. Di bawahnya terdapat lapisan tanah tipis berwarna kehitaman sedikit akar. Pada lapisan ini sampah modern masih dijumpai. Di bawah lapisan ini tanah berwarna kecoklatan banyak diselingi material candi. Lapisan paling bawah sedikit mengandung pasir/kerikil atau pecahan bata. Lapisan paling bawah merupakan permukaan tanah pada waktu candi masih dipergunakan.

Di kotak gali pada sudut barat daya keadaannya sedikit berbeda. Kotak ini dapat dijadikan sampel stratigrafi bagian selatan. Lapisan paling atas berupa tanah coklat kemerahan banyak mengandung akar. Di bawahnya adalah lempung kehitaman masih mengandung akar. Selanjutnya lempung hitam kecoklatan yang menyambung dengan tanah mengandung pasir/kerikil atau pecahan bata. Stratigrafi yang terlihat, menunjukkan bahwa tertimbunnya bangunan candi di situs Bojongmenje belum berlangsung lama. Sampah modern banyak yang ditemukan berada di bawah level batu candi (bagian ojief).

Simpulan Hasil Ekskavasi

Berdasarkan hasil ekskavasi dapat dicatat beberapa hal. Pertama kondisi candi yang tersisa hanya bagian kaki. Pada beberapa bagian mengalami kerusakan berupa kondisi melesak, terutama di sudut barat daya. Karena bagian batu kulit hanya terdiri satu lapis, tampaknya tidak kuat menahan volume candi sehingga terjadi perenggangan struktur secara horisontal. Kondisi ini kemungkinan juga disebabkan gangguan pohon bungur yang tumbuh di atas bangunan candi. Dengan demikian selain faktor internal, yaitu struktur bangunan, faktor eksternal juga mempengaruhi kerusakan bangunan.Faktor eksternal antara lain resapan air tanah yang begitu besar. Kondisi ini bisa menyebabkan daya dukung tanah berkurang sehingga bangunan melesak. Faktor eksternal besar yang menyebabkan rusaknya candi, terutama di sisi timur, adalah akibat aktivitas manusia dalam rangka membuat lubang kuburan. Beberapa fitur bekas lubang kuburan terlihat memotong batuan secara paksa dan beberapa batuan yang ada diangkatnya. Sehingga struktur sisi timur selain terpotong juga ada yang hilang.Gaya bangunan, dilihat dari profil kakinya menunjukkan dari sekitar abad ke-7 atau ke-8. Denah bangunan bujur sangkar berukuran 6 X 6 meter. Indikator tangga yang ditemukan pada bagian ojief (bingkai padma, sisi genta) di sisi timur, menunjukkan candi menghadap ke timur. Bahan utama yang dipergunakan adalah batuan volkanik. Unsur bata yang ditemukan belum dapat dipastikan apakah sebagai salah satu unsur struktur candi atau bagian lainnya. Hal ini karena jumlahnya yang sangat sedikit. Unsur bata juga dijumpai pada lantai/halaman asli dalam bentuk pecahan yang berfungsi untuk pengerasan.Indikator kuat latar keagamaan yang ditemukan berupa fragmen yoni. Dengan perbandingan di kawasan sekitar, tercatat terdapat beberapa kepurbakalaan yang berlatarkan pada Hinduisme. Di Tenjolaya terdapat unsur Hindu berupa arca Durga. Di Cibodas pernah dilaporkan adanya temuan arca Siwa Mahadewa. Di Cibeeut pernah ditemukan Ganesa. Di Citaman terdapat arca Durga. Berdasarkan indikator kuat serta kondisi budaya masa lalu di sekitar situs Bojongmenje, dapat dipastikan Candi Bojongmenje berlatarkan Çivaistis.

Emosi Kultural Masyarakat

Penemuan Candi Bojongmenje seakan menyegarkan kembali ingatan masyarakat. Kini para sepuh Kampung Bojongmenje ingat kembali masa remajanya. Dahulu di Kampung Bojongmenje ada Candi Kukuk, Candi Wayang, dan Candi Orok. Candi Orok yang mereka maksudkan adalah “Candi Bojongmenje” yang sekarang ditemukan (kembali). Selain itu masyarakat juga diingatkan kembali bahwa di daerahnya selain candi juga ada beberapa makam karuhun antara lain makam Embah Raksa Dipa, makam Embah Raksa Praja, makam Embah Jaya Raya yang ketiganya berasal dari Cirebon dan menurunkan masyarakat Bojongmenje sekarang. Di mana tepatnya makam-makam tersebut, kini mereka tidak lagi mengenalinya. Lahan tempat bermain mereka di masa remaja, kini merupakan lahan kosong atau bangunan pabrik yang tertutup pagar tembok. Candi Bojongmenje juga mengingatkan kembali masyarakat akan semacam ramalan para sepuh yang disebut uga. Isi ramalan tersebut adalah bahwa kelak dikemudian hari di Bojongmenje akan ditemukan candi yang menyebabkan Bojongmenje akan banyak didatangi orang. Pengakuan bahwa mereka dahulu sering bermain di candi, dikuatkan pula dengan adanya temuan sampah modern seperti bateray, plastik, dan bungkus permen dalam ekskavasi yang kedalamannya sejajar dengan struktur candi. Meskipun secara fisik Candi Bojongmenje kurang menarik bila dibandingkan dengan Candi Prambanan atau Borobudur, namun makna yang dikandungnya merupakan harta karun yang tak ternilai harganya.
*****Temuan data baru ketika dilakukan kegiatan prapemugaran

Catatan:

Ketika dilakukan kegiatan prapemugaran ditemukan beberapa data baru antara lain struktur bata yang terdapat di sebelah timur candi, fragmen arca nandi, dan antefik. Dengan adanya data ini menunjukkan bahwa di depan candi induk terdapat unit bangunan yang berbahan bata. Bagian kemuncak terdapat hiasan antefik (motif berbentuk segitiga) sebagaimana yang terdapat di Candi Cangkuang, Garut. Hinduistis sebagai motif keagamaan diperkuat dengan adanya temuan fragmen arca nandi.
(Versi bahasa Inggris tulisan ini diterbitkan dalam bentuk leaflet oleh Proyek Peningkatan Media Budaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Tahun 2003)

diposkan oleh arkeologi sunda pada 00:28 1 komentar

10 januari, 2009

Memaksimalkan sumberdaya arkeologi pada aspek nilai ekonomik

STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KAWASAN SITUS TALUN, KABUPATEN SUBANG

Nanang Saptono

Sari

Kawasan situs Talun mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki meliputi sektor tinggalan budaya dan keadaan alam. Peluang pengembangan wisata dapat dilakukan secara terpadu antara wisata budaya dan wisata hiburan. Dalam pengembangannya perlu skenario dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.


Abstract

The site area of Talun has potential for developed as tourism destination. That potential comprises cultural remain and landscape. Opportunity to develop of tourism to do integrated between cultural tourism and comfort tourism. To develop must have scenario with consider strength, weaknesses, opportunities, and threats.

Kata kunci: pengembangan, wisata, budaya, telaga, kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman

Pendahuluan

Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang berada di daerah pantai utara. Wilayah Kabupaten Subang luasnya 2.051,76 km² terbentang pada posisi 6° 1” – 6° 49” LS dan 107° 31” – 107° 54” BT. Kondisi geografis terdiri dari dua wilayah yaitu di utara merupakan pedataran rendah yang langsung mengarah ke Laut Jawa dan wilayah selatan merupakan pedataran tinggi bergunung. Wilayah utara cenderung merupakan kawasan sentra perdagangan. Hal ini karena wilayah itu dilintasi jalur panturayang merupakan salah satu jalur paling sibuk di Pulau Jawa. Di wilayah ini terdapat dua kota kecamatan yaitu Ciasemdan Pamanukan. Wilayah selatan merupakan sentra perekonomian yang berbasis pada sektor agraris. Subang wilayah selatan banyak terdapat area perkebunan seperti karet dan teh. Di samping itu Subang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil buah nenas yang dikenal dengan nama nenas madu. Nenas madu dapat ditemui di sepanjang Jalancagak yang merupakan persimpangan antara Wanayasa – Bandung – Sumedang dan Kota Subang sendiri.

Wilayah selatan Subang juga merupakan kawasan wisata khususnya wisata alam yang didukung dengan wisata agro. Di antara perkebunan teh di daerah Ciater, terdapat objek wisata sumber mata air panas. Selain itu juga terdapat wisata alam air terjun Curug Cijalu yang terletak di daerah Sagalaherang dan Curug Cileat di Kecamatan Cisalak (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang). Potensi wisata di wilayah selatan ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan mengembangkan objek wisata budaya. Salah satu objek wisata budaya yang sudah cukup dikenal adalah wisata ziarah makam Arya Wangsa Goparana. Tokoh ini dipercaya sebagai putra Sunan Wanaperi, raja Kerajaan Talaga, yang menjadi penyebar Islam di Sagalaherang. Makam Arya Wangsa Goparana terdapat di Blok Karang Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang (Munandar, 2007: 107 – 109; Kusma 2007: 21 – 22).

Selain makam Arya Wangsa Goparana, beberapa objek arkeologi telah ditemukan di wilayah Sagalaherang. N.J. Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914 mencatat adanya tinggalan arkeologis antara lain berupa mangkuk, piring, pinggan, dan baki perunggu yang ditemukan di Cijengkol. Di Desa Batu Kapur pernah juga ditemukan benda arkeologis berupa arca Maitreya dari perak. Di Sindangsari pernah ditemukan senjata upacara dari perunggu (Krom, 1915: 36 – 37). Di Museum Sri Baduga Bandung terdapat koleksi arca nandi berasal dari Dusun Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang. Pada bulan Oktober 2006 yang lalu telah ditemukan benda perunggu yang sangat langka. Benda itu ditemukan di Kampung Tangkil, Desa Cintamekar, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya, benda sejenis ini ditemukan hanya dua, yaitu di Kerinci dan di Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti periuk berleher panjang tetapi tipis. Di bagian tepi terdapat tonjolan yang di tengahnya berlobang, mungkin sebagai tempat tali untuk mengikat sebagaimana tempat ikan dari anyaman bambu yang diikatkan di pinggang (Munandar, 2007: 104; Kusma 2007: 10).

Banyaknya data arkeologis yang ditemukan di wilayah Subang selatan, menunjukkan bahwa wilayah tersebut menyimpan informasi sejarah budaya yang sangat menarik untuk diketahui. Keberadaan benda-benda tersebut mungkin ada kaitannya dengan situs Talun di Desa Talagasari yang juga termasuk di wilayah Kecamatan Sagalaherang. Situs Talun dan data pendukung yang menyediakan informasi masa lampau daerah Sagalaherang ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata khususnya wisata budaya di wilayah tersebut. Agar hasilnya dapat maksimal maka perlu strategi pengembangan melalui analisis potensi dan masalah yang ada.

Konsep Dasar Pengembangan Wisata

Peluang pengembangan wisata di Kampung Talun pada umumnya berbasis pada wisata terpadu dengan memanfaatkan tinggalan budaya dan potensi alam. Budaya dan alam merupakan dua hal yang selalu mengusik rasa keingintahuan manusia. Rasa ingin tahu ini mendorong seseorang untuk mengadakan perjalanan (Pendit, 1994: 217 – 218). Perjalanan yang dilakukan seseorang apabila tidak disertai dengan perasaan ingin tahu maka akan tidak memberi arti kepada dirinya sendiri. Pada hakekatnya perjalanan adalah alat untuk mencapai emansipasi diri, intelegensia, dan jiwa pada seseorang. Emansipasi pribadi yang menyangkut tiga hal itu lazim disebut personal cultureatau subjective culture. Personal culture dihasilkan dari dan oleh pengetahuan serta pengalamannya dalam melakukan perjalanan. Pemikiran inilah yang melandasi pengembangan kepariwisataan yaitu bertujuan untuk peningkatan emansipasi wisatawan, sehingga wisatawan harus mendapatkan gambaran yang baik dan lengkap tentang apa yang dilihat, dikunjungi, dan dinikmatinya untuk mencapai emansipasi diri.

Ada beberapa hal yang ingin diketahui wisatawan. Berdasarkan hasil pooling yang dilakukan Pacific Area Travel Association (PATA) terhadap wisatawan Amerika Utara menunjukkan sektor kebudayaan merupakan yang paling ingin diketahui. Lebih dari setengah wisatawan yang mengadakan kunjungan ke Asia dan kawasan Pacific tertarik pada pengetahuan tentang adat istiadat, kesenian, sejarah, bangunan kuna, dan peninggalan-peninggalan purbakala lain (Pendit, 1994: 219). Keingintahuan manusia terhadap peninggalan purbakala memang sangat beralasan. Pada peninggalan purbakala terdapat informasi mengenai identitas budaya. Suatu unsur penting identitas budaya adalah kesadaran sejarah yang dimiliki bersama suatu bangsa. Kesadaran sejarah itu akan membawakan ingatan akan asal-usul budaya, peristiwa yang telah dialami, dan harapan di masa depan (Sedyawati, 1992/1993: 23). Oleh karena itu pengetahuan tentang masa lampau sangat menjadi kebutuhan manusia berbudaya, sehingga mengetahui masa lampau merupakan salah satu hak asasi manusia yang dalam (Mc Gimsey, 1972: 5). Berdasarkan pemikiran tersebut, konsep pengembangan pariwisata sangat perlu menyertakan sektor budaya, demikian juga dalam konsep pengembangan pariwisata di situs Talun.

Lokasi situs Talun

(modifikasi dari peta Provinsi Jawa Barat. Penerbit: C.V. Indo Prima Sarana, Surabaya, tanpa tahun)


Objek Arkeologis di Situs Talun

Kampung Talun di mana terdapat situs Talun berada agak jauh dari jalan utama. Lokasi ini dapat ditempuh dari kota Subang melalui jalan raya arah Bandung, hingga Jalancagak. Dari sini kemudian melalui jalan alternatif menuju Wanayasa dengan melewati Sagalaherang. Pada perkebunan teh di sebelah barat Sagalaherang, selanjutnya ke arah utara dengan melewati jalan desa yang sudah beraspal hingga Kampung Talun.

Situs Talun berada pada suatu dataran bergelombang dengan ketinggian antara 200-650 m dari permukaan laut. Situs berada di ujung selatan kampung, atausekitar 200 m di sebelah barat jalan desa, tepatnya pada posisi 06º 38’ 02,3” LS dan 107º 37’ 32,7” BT dengan ketinggian lokasi sekitar 454 m dpl. Secara Geografis kawasan Kampung Talun dikelilingi oleh beberapa bukit (pasir), yaitu di sebelah tenggara kampung terdapat Pasir Cibadakpasea (475 m), dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Nyomot (640 m).

Situs Talun pertama kali mendapat perhatian dunia arkeologi pada sekitar bulan November 1993. Penelitian secara sistematis baru dilaksanakan pada tahun 2006 oleh Balai Arkeologi Bandung dan pada tahun 2007 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang. Rangkaian penelitian ini merupakan suatu perhatian terhadap aktivitas kelompok masyarakat yang menaruh perhatian pada peninggalan purbakala dan melakukan penggalian di situs tersebut. Penggalian itu telah menampakkan struktur bata membujur arah utara-selatan terdiri dua lajur sepanjang 6,80 m. Ujung utara dan selatan merupakan bagian sudut yang bersambung dengan struktur melintang arah timur-barat. Struktur melintang di bagian utara dan selatan masing-masing juga terdiri dua lajur. Pada struktur bagian utara terlihat terdiri lima lapis bata, sedang bagian selatan belum seluruhnya terlihat.

Penelitian yang dilakukan Balar Bandung dalam bentuk ekskavasi dengan mengacu pada struktur bata yang telah tersingkap. Ekskavasi dilakukan di sebelah timur struktur bata, hingga mencapai kedalaman sekitar 1,5 m. Hasil ekskavasi telah menampakkan sisa struktur bata pada kedalaman 1,30 m terdiri dua unit. Unit pertama berada di sisi barat merupakan fondasi (batur) bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 7 x 7 m dengan struktur lantainya. Unit kedua ditemukan di sebelah timur unit pertama berupa struktur bata rolak yang belum ditampakkan secara keseluruhan.

Struktur bata yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2006
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Struktur lantai yang terlihat jelas terdiri tiga lapis. Lapisan paling atas, bata disusunan memanjang barat-timur, lapisan di bawahnya disusun memanjang utara-selatan, dan lapisan bata paling bawah disusun memanjang barat-timur. Teknik penyusunan bata tidak terlihat menggunakan lapisan perekat. Jarak antar bata (nat) sangat sempit. Perekat antar bata diperkirakan berupa tanah liat halus. Permukaan bata dibuat secara halus sehingga memungkinkan penyusunan secara sempurna. Struktur bata dalam posisi tegak (rolak) juga disusun dengan jarak sangat sempit. Lapisan perekat antar bata tidak terlihat secara tegas.

Selain struktur bata juga ditemukan artefak penting lain berupa fragmen keramik putih biru yang ditemukan di bawah konsentrasi fragmen bata pada kedalaman sekitar 60 cm. Fragmen tersebut merupakan pecahan mangkuk dari Cina masa dinasti Ming (abad ke-14 – 17). Fragmen keramik lainnya ditemukan pada kedalaman 77 cm, yang merupakan fragmen bagian badan berwarna putih. Fragmen keramik ini berasal dari Cina masa dinasti T’ang (abad ke-7 – 10) dari bentuk buli-buli (Saptono, 2007: 20 – 23).

Sturktur bata sisi selatan yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2007
(Dok. Nanang Saptono)


Penelitian 2007 oleh Disbudpar Kabupaten Subang pada dasarnya melanjutkan hasil penelitian Balar Bandung. Penelitian dalam bentuk ekskavasi ini dilakukan dalam upaya menampakkan struktur bata rolak yang telah tersingkap pada waktu penelitian 2006. Secara umum ekskavasi 2007 berhasil menampakkan struktur bata sisi timur dan selatan (Tim Penelitian, 2007). Struktur bata sisi timur berupa susunan bata rolak terdiri dua lajur dalam orientasi utara – selatan. Bata disusun tanpa menggunakan lapisan spesi, namun di antara bata terdapat celah tipis. Kondisi demikian memungkinkan penggunaan lapisan perekat seperti misalnya tanah liat. Ujung selatan struktur tersebut bertemu dengan struktur sisi selatan yang berorientasi timur – barat. Bagian sisi ini susunan bata terdiri tiga lajur dengan orientasi timur – barat agak miring ke arah utara. Ujung barat struktur bata tersebut terputus dengan demikian belum dapat dipastikan bahwa struktur berakhir pada titik tersebut. Dengan memperbandingkan jarak antara struktur lantai hasil ekskavasi Balar Bandung 2006 terhadap sudut tenggara struktur, dapat diduga bahwa ujung barat sisi selatan bangunan yang juga merupakan sudut baratdaya berada di titik tersebut.

Ekskavasi 2007 juga menemukan fragmen keramik asing bagian tepian dari bentuk mangkuk. Secara utuh, diameter mangkuk 21 cm. Ciri fisik yang terlihat terbuat dari bahan stoneware. Hiasan berwarna hitam di bawah glasir. Motif hias berupa garis-garis sejajar membentuk pola tumpal dan floral. Ciri semacam ini menunjukkan berasal dari Sukotai, Thailand. Keramik demikian diproduksi pada sekitar abad ke-14 – 15 M (Adhyatman, 1990: 75).

Struktur bata yang terdapat di situs Talun, secara keseluruhan terdiri dua jenis. Penelitian 2006 menemukan struktur lantai, demikian juga struktur yang tersingkap akibat aktivitas penggalian masyarakat juga dapat diduga sebagai lantai. Pada penelitian 2007 telah ditemukan struktur bata dalam susunan rolak berada di sebelah selatan struktur lantai. Struktur bata dalam susunan rolak tersebut merupakan sisi selatan dan timur bangunan. Sementara ini sisi barat dan utara belum ditemukan. Memperhatikan kondisi lahan di sekitar temuan, kemungkinan besar struktur sisi barat dan utara sudah rusak total.

Bentuk bangunan secara utuh belum dapat digambarkan. Berdasarkan data yang sudah ada, terlihat adanya struktur lantai berukuran sekitar 7 x 7 m dikelilingi struktur dalam susunan rolak. Biasanya struktur rolak diterapkan pada bagian fondasi bangunan. Lebar susunan yang mencapai lebih dari 60 cm meragukan bahwa bagian tersebut merupakan fondasi. Kemungkinan bagian susunan bata rolak adalah semacam jalan yang mengelilingi ruangan berlantai bata, atau batas luar ruangan berlantai bata. Secara keseluruhan unit bangunan tersebut berukuran sekitar 13 x 13 m. Mengingat bata yang ditemukan dalam jumlah yang sedikit, dapat diduga bagian atas bangunan (tubuh dan atap) terbuat dari bahan yang mudah rusak (kayu). Bentuk bangunan mungkin merupakan semacam pendapa terbuka tanpa dinding. Bangunan dengan bentuk semacam ini misalnya terdapat di komplek Siti Hinggil Keraton Kasepuhan, Cirebon. Di kompleks tersebut terdapat bangunan yang disebut Semar Kinandu. Bangunan ini terbuka tanpa dinding dengan fondasi ditinggikan. Atap empat persegi pada puncaknya berbentuk limas. Atap disangga empat tiang. Fungsi bangunan sebagai tempat penghulu keraton jika ada audiensi di Siti Hinggil (Ambary, 1982: 77; Nur, 2006: 7).

Potensi dan Permasalahan Situs Talun

Situs Talun merupakan objek arkeologi yang sangat langka yang ditemukan di Subang selatan. Kawasan Subang selatan selama ini banyak mempunyai objek wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Situs Talun mungkin dapat dikembangkan sebagai objek wisata khususnya wisata budaya. Untuk mengetahui potensi yang disandang situs tersebut perlu dilakukan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats) terhadap situs Talun. Model analisis SWOT pernah diujicobakan Muhammad Chawari terhadap pemanfaatan bangunan tradisional Jawa di Kampung Kauman, Yogyakarta bagi pengembangan pariwisata (Chawari, 2004: 112 – 127). Analisis SWOT mengkaji potensi berdasarkan dua faktor utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi keluaran kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Sedangkan faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Analisis SWOT dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang kemampuan objek dalam rangka pengembangan kepariwisataan. Melalui analisis ini akan dihasilkan skenario pengembangan pariwisata di situs Talun.

Telaga di Kampung Talun. Potensi wisata yang belum dikembangkan
(Dok. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang)

Kekuatan (strength) yang disandang situs Talun diantaranya adalah objek tinggalan berupa struktur bata yang ada hubungannya dengan sejarah Kerajaan Taruma atau Kerajaan Sunda. Informasi tentang masa lampau ini ditunjang pula dengan beberapa tinggalan yang pernah ditemukan di wilayah itu, dengan demikian situs Talun akan dapat memberikan banyak informasi tentang masa lampau Jawa Barat khususnya Subang. Selain itu posisi situs yang berada di pinggir jalan juga merupakan faktor positif bagi situs Talun. Akses menuju situs Talun sangat mudah ditempuh dari Kota Subang. Kondisi jalan pada saat ini sudah beraspal meskipun belum berkualitas hotmix. Prasarana transportasi ini akan memudahkan orang untuk mengunjunginya. Daya tarik daerah juga didukung adanya telaga yang dijadikan ikon nama desa yaitu Talagasari. Di talaga ini pada waktu-waktu tertentu diadakan wisata hiburan khususnya memancing. Kaitannya dengan daya tarik kunjungan juga ada dua lokasi makam yang dikeramatkan yaitu Sanghyang Teteg yang berada di tepi telaga dan makam Ratna Inten Sari.

Kelemahan (weaknesses) situs Talun yaitu objek utama belum dapat dinikmati. Struktur bata yang dapat dijadikan andalan objek masih dalam tahap penelitian. Informasi akademik tentang masa lampau yang disandang situs Talun masih sebatas pada kalangan tertentu terutama para pendidik dan peneliti. Publikasi yang sudah dilakukan belum menyentuh masyarakat luas, meskipun bagi masyarakat Subang sendiri situs Talun sudah cukup didengar, dikenal, dan diketahui. Daya tarik wisata pendukung seperti wisata hiburan memancing belum dikelola serta diselenggarakan secara rutin dan sering.

Peluang (opportunities) pengembangan situs menjadi objek wisata sangat besar. Kawasan Subang selatan merupakan daerah tujuan wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Promosi wisata ke situs Talun dapat dengan mudah disertakan pada promosi wisata yang sudah ada. Pengembangan situs Talun sendiri sebaiknya dikemas menjadi satu paket dengan objek wisata yang ada. Dalam hal ini wisata di talaga dan beberapa tempat ziarah. Dengan demikian paket wisata yang ada meliputi wisata budaya, wisata alam, wisata agro, dan wisata hiburan.

Ancaman (threats) yang dihadapi pengembangan objek dapat dikatakan relatif kecil. Objek yang ada merupakan aset desa yang secara kecil-kecilan sudah dikelola. Kecuali lahan situs Talun masih merupakan milik penduduk setempat.

Kajian potensi dan permasalahan situs Talun melalui paparan analisis SWOT tersebut dapat disusun beberapa skenario sebagaimana matriks berikut.


Strength

Weaknesess

Opportunities pengembangan konsolidasi internal
Threats pengembangan program introspeksi

Apabila kekuatan (S) dipertemukan dengan peluang (O) yang terlihat adalah skenario pengembangan, maka objek wisata di Talun berpeluang untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan karena lokasinya dapat dijangkau. Pengembangan ini tentunya harus disertai pula dengan konsolidasi internal. Skenario konsolidasi internal ini diperoleh dengan jalan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan peluang (O). Memperhatikan hal ini perlu dilakukan persiapan pengembangan antara lain melalui pengungkapan struktur bata secara lebih dalam lagi dan perencanaan event atraksi budaya yang dapat diselenggarakan. Selain itu faktor aksesbiltas juga perlu diperhatikan dengan jalan peningkatan mutu prasarana transportasi. Dengan demikian paket wisata yang ditawarkan akan lebih lengkap dan dapat dengan mudah dinikmati semua lapisan masyarakat. Kekuatan (S) yang ada bila dipertemukan dengan ancaman (T) akan muncul skenario penguatan pengembangan program. Salah satu penyelesaian masalah yang dihadapi situs Talun dalam skenario penguatan adalah dilakukannya pengalihan hak atas lahan dari masyarakat menjadi milik negara. Skenario selanjutnya adalah dengan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan ancaman (T). Skenario ini akan melahirkan introspeksi untuk konsolidasi terhadap kebijakan program yang mendesak diwujudkan.

Kristalisasi Gagasan Pengembangan

Kawasan situs Talun mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki berupa tinggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda, makam keramat, serta kondisi alam terutama telaga. Potensi yang ada tersebut agar mempunyai nilai lebih perlu dilakukan beberapa peningkatan melalui penelitian, pengkajian, dan penataan terhadap tinggalan yang ada serta peningkatan penyelenggaraan event wisata yang dengan memanfaatkan kondisi alam yaitu telaga. Dalam hal peningkatan mutu tinggalan arkeologi terdapat kendala yang perlu diatasi yaitu masalah kepemilikan lahan. Oleh karena itu perlu pengalihan hak atas lahan. Beberapa hal tersebut, perlu dilakukan skala prioritas dalam pelaksanaannya sehingga pada akhirnya akan terwujud Kampung Talun sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Subang selatan.

Daftar Pustaka

Adhyatman, Sumarah. 1990. Antique Ceramics Found in Indonesia. Jakarta: The Ceramic Society of Indonesia.

Ambary, Hasan Muarif. 1982. Historical Monuments. DalamCerbon. Jakarta: Yayasan Mitra Budaya – Penerbit Sinar Harapan.

Chawari, Muhammad. 2004. Model Pemanfaatan Bangunan Tradisional Jawa Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya (Kasus di Kampung Kauman Yogyakarta. DalamBerkala Arkeologi Tahun XXIV No. 1/Mei 2004, hlm. 112 – 128.

Kabupaten Subang. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang

Krom, N.J. 1915. Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914. Uitgegeven door het Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht & Co.

Kusma, et al. 2007. Sejarah Kabupaten Subang. Subang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.

Mc Gimsey, Charles R. 1972. Public Archaeology. New York: Seminar Press.

Munandar, Agus Aris (ed.). 2007. Profil Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jawa Barat Dalam Khasanah Sejarah dan Budaya. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat.

Nur, Adin Imaduddin (peny.). 2006. Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.

Pendit, Nyoman S. 1994. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita.

Saptono, Nanang. 2007. Struktur Bata di Situs Talun: Data Permukiman di Kawasan Subang. Dalam Sumijati Atmosudiro (ed.) Selisik Masa Lalu, hlm. 17 – 26. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sedyawati, Edi. 1992/1993. Arkeologi dan Jatidiri Bangsa. PadaPertemuan Ilmiah Arkeologi VI, hlm. 23 – 36. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian. 2007. Laporan Hasil Penelitian Situs Talun Desa Talagasari, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.

Catatan: tulisan ini dimuat di buku berjudul “Penelitian dan Pemanfaatan Sumberdaya Budaya”, hlm. 133 – 142. Editor: Dr. Supratikno Rahardjo. Penerbit: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Jawa Barat – Banten. Bandung, 2008.
About these ads

One comment on “PENELITIAN CANDI RAJEGWESI DI KABUPATEN CIAMIS

  1. [...] Yanuana Samantho http://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/03/10/penelitian-candi-rajegwesi-di-kabupaten-ciamis/ PENELITIAN CANDI RAJEGWESI DI [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.959 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: