SAMPURASUN
Seperti yang telah dilakukan oleh Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, menyatakan akan menggugat hak atas kepemilikan Candi Borobudur. Hal tersebut patut diapresiasi secara damai dan cerdas dalam ruang antar argumen (ilmiah) yang sehat, bermoral dan terhormat.Tentu saja KH. Fahmi Basya tidak asal bicara dan beliau mempunyai data-data logis-rasional yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah… dan itu merupakan HAK (bahkan kewajiban) bagi setiap kaum intelek, dengan demikian hipotesa KH. Fahmi Basya itu patut dihormati dan dihargai. ….. http://ruangberita.com/candi-borobudur-akan-digugat-ke-mahkamah-konstitusi/
Maka demikian pula pendapat para pecinta negeri, putra-putri IBU PERTIWI – Indonesia Raya patut dihormati dan dihargai sebagai hipotesa cerdas yang sepadan dengan yang dilakukan oleh Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya.
Tulisan di bawah ini merupakan paparan dari saudara TSP yang telah saya sunting. Argumentasi logis yang layak untuk diapresiasi oleh kita semua sebagai bangsa NUSANTARA yang BERADAB, CERDAS DAN BERBUDAYA.
Ka’bah atau Kaba dibangun oleh Ibrahim (Abraham / Brahma) yaitu yang “menurunkan” bangsa Arab, merupakan ‘rumah Allah’ kemudian diyakini serta dijadikan pusat arah ritual shalat dan diputari tujuh kali dalam ritual tahunan sampai-sampai ada keyakinan bahwa mencium batu hitam dan mengusap dinding kaba akan mendapatkan tempat di surga.
Dikeluarkanlah uang jutaan Rupiah untuk datang dalam setahun sekali atau sekali dalam seumur hidup untuk berkumpul bersama mengelilingi Kaba dan melempari tonggak batu dan berkumpul di lapangan pasir tandus juga berlari hilir mudik di antara dua tempat, hal ini mirip ritual paganisme. Mengelilingi kaba itu adalah tradisi dan budaya Qurais kuno sebelum kelahiran Muhammad juga ‘lari-lari kecil’ mondar-mandir antara dua tempat dan yang lainnya.
Allah berasal dari kata Lah (sesuatu, seseorang) kemudian ada ‘ilah’ (sesembahan) meminjam dari kalimat ‘ilahinaas‘. Kemudian ‘ilah’dikawinkan denga ‘al’ (alif lam) sebagai perubahan predikat pelengkap keterangan menjadi ‘subjek, kemudian menjadi kata Allah dengan artian ‘Tuhan’ (Tuha / Tua / Tao / Theo / Theis / Toa / Tau / Tho (yang artinya “sesepuh atau kokolot”).
Pada waktu itu kaba di Mekah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari 59:843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Kaba sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.
Abu Hurairah mengatakan: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh rasulullah sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Kaba dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di kaba dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” ( Shahih Bukhari 8: 365 , 26:689)
Darimanakah ritual tawaf qudum ini berasal? Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara puncak dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan oleh nenek moyangnya Muhammad menjadi 7 kali). Mengingat “Makha” atau Mekah itu artinya API. Ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan Dewa Api.
Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian umat Hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.
Para muslim yang terdahulu sebenarnya enggan berlari antara Shafa dan Marwah seperti kaum pemuja berhala lakukan; tapi Muhammad mengancam mereka untuk tetap melakukan ritual tersebut dengan menurunkan QS 2 : 158. (Sahih Bukhari 26: 706,710)
QS 2 : 158 Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
Mengenai Arab : Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan, asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sang-Sakerta, huruf “V” diganti jadi huruf “B” seperti pada kata devata menjadi debatakemudiana menjadi dewata.
Arva dalam bahasa Sangsakerta berarti “kuda”. Arvasthan berarti “Tanah Kuda”, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sangsakerta. Kata Makha dalam bahasa Sangsakerta berarti “api persembahan”. Karena penyembahan terhadap “Api Veda” dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, dengan demikianMakha itu merupakan tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.
Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Jazirah Arab, jauh sebelum masa Islam, adalah jajahan dari Kerajaan India kuno. Menurut sejarah, para Maharaja Chandragupta (58 S.M. – 415 M.) atau Maharaja dinasti Bulan (Chandra) telah memperluas Kerajaan Hindu yang mencakup India, hingga jauh sampai keseluruh Teluk Arabia. Para Maharaja ini adalah pengikut setia dewa-dewi Hindu khususnya DewaShiva (dewa bulan-Allat) dan istrinya Dewi Dhurga (dewi bulan = Allah).
Para Maharaja mempersembahkan kepada dewa-dewa mereka bangunan-bangunan kuil diseluruh wilayah kerajaan mereka (di Saudi Arabia saja sedikitnya ada 7 kuil peninggalan mereka, termasuk Kaba yang dibangun dimasa Raja Vikramaditya masih berdiri sampai saat ini).
Bahkan setelah kerajaan Hindu ini runtuh, penduduk Arab masih percaya dan menyembah dewa-dewa itu dan mengagungkan kuil-kuil yang ada sampai datangnya masa Muhammad.
Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan di dalam Kaba di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India dimasa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Dewa Shiva lalu membangun kuil Shivayang bernama Kaba. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kaba di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul’ yang disimpan di perpustakaan Makhtabe-Sultania di Istanbul, Turki.
Inilah tulisan Arabnya dalam huruf latin:
“Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem. Yundan… blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa- rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum”. (Page 315 Sayar-ul-okul).
Terjemahan bahasa Indonesianya adalah:
Beruntunglah mereka yang lahir dan hidup di masa kekuasaan Raja Vikram. Dia adalah orang yang berbudi, pemimpin yang murah hati, berbakti pada kemakmuran rakyatnya. Tapi pada saat itu kami bangsa Arab tidak mempedulikan Tuhan dan memuaskan kenikmatan berahi. Kejahatan dan penyiksaan terjadi di mana2. Kekelaman dosa melanda negeri kami. Seperti domba berjuang mempertahankan nyawa dari cakaran kejam serigala, kami bangsa Arab terperangkap dalam dosa. Seluruh negeri dibungkus kegelapan begitu pekat seperti malam bulan baru. Tapi fajar saat ini dan sinar mentari penuh ajaran yang menyejukkan adalah hasil kebaikan sang Raja mulia Vikramaditya yang pimpinan bijaksananya tidak melupakan kami yang adalah orang2 asing. Dia menyebarkan agamanya yang suci diantara kami dan mengirim ahli2 yang cemerlang bersinar bagaikan matahari dari negerinya kepada kami. Para ahli dan pengajar ini datang ke negeri kami untuk berkhotbah tentang agama mereka dan menyampaikan pendidikan atas nama Raja Vikramaditya. Mereka menyampaikan bimbingan sehingga kami sadar kembali akan kehadiran Tuhan, diperkenalkan kepada keberadaanNya yang suci dan ditempatkan di jalan yang Benar.”
Istilah Kaba sendiri berasal dari kata Sangsakerta, Gabha (Garbha + Graha) yg berarti Sanctum (tempat suci). Kitab suci Weda Harihareswar Mahatmya menyebut bahwa jejak kaki Dewa Wisnu disucikan di Mekah. Bukti akan fakta ini adalah bahwa Muslimmenyebut kuil ini Harram yang merupakan penyesuaian dari kata Sangsakerta, Hariyam, yaitu tempat Dewa Hari alias Dewa Vishnu. Jejak kaki Vishnu disucikan di tiga tempat suci: Gaya, Mekah dan Shukla Teertha. Mengukir jejak kaki macam itu merupakan adatWeda yang dicontek Muslim. Muslim menganggap bahwa ukiran jejak kaki ini disejumlah mesjid dan tempat2 suci Muslim diseputar dunia adalah jejak kaki Muhammad ! Di luar kuil hindu, biasanya juga terdapat singgasana Dewa Brahma, oleh karenanya di Mekah, singgasana Brahma itu dianggap sebagai makam Ibrahim (Abraham / Brahma).
Tradisi Hindu lainnya yang masih berhubungan dengan Kaba adalah sungai Gangga, menurut tradisi Hindu, Gangga tidak dapat dipisahkan dari lambang Dewa Shiva sebagai bulan Sabit, dimanapun lambang Shiva (bulan sabit) disitu pasti juga terdapat Gangga, fakta dari persatuan tersebut terdapat di dekat Kaba. Airnya dianggap keramat karena secara tradisional sudah dianggap sebagai Gangga sebelum Islam (yaitu Zam-zam). Bahkan hingga hari ini, para peziarah Muslim yang menyaksikan Kaba untuk haji memandangZam-zam ini dengan penghormatan hingga menaruhnya kedalam botol sebagai Air keramat bagi mereka, sama seperti yang dilakukan umat Hindu India terhadap kesucian sungai Gangga.
PENUTUP
Yang harus dikritisi sekarang dari sisi Islam di Nusantara adalah sikap fundamentalisme yang salah kaprah mendirikan syariat Islam di bumi NKRI, pemaksaan kehendak dengan dalil ‘jihad’ guna mendapatkan tempat di surga, dengan iming iming 72 bidadari. Seharusnya kesadaran Islam sebagai ‘rahmat lil alamin’ jangan dirusak dengan penistaan kemanusiaan mengumbar sesat-murtad-kafir dan merusak tatanan sosial setempat (adat dan budaya), HARMONI IN PROGRESIO.
Damai selalu… Nusantara Agung – Indonesia Raya
Rahayu… Rahayu… Rahayu…!
KOMENTAR PEMRED BAYT AL-HIKAMH INSTITUTE (Ahmad Yanuana Samantho).
” Hal di atas bisa jadi bahan renungan dan memotivasi kita bangsa Nusantara untuk lebih giat meneliti dan mengungkap sejarah peradaban bangsa Nusantara secara lebih intensif, komprehensif dan holistik-integral. Masih banyak rahasia dan misteri yang belum terungkap.
Selain KH Fahmi Basya yang mengatakan bahwa Borobudur dan Ratu Boqo/Ratu Bilqis ada kaitannya dengan Nabi Sulaeman, ada juga referensi lain yang malah lebih dahsyat lagi tentang Warisan Emas Nabi-Raja Sulaeman dan Ratu Bilqis serta Kekayaan Para Sul;tan Nusantara yang dirampok oleh para Bankir pendiri World Bank dan IMF.. Berikut file Pdfnya ttg Sejaran Uang dan Bank di Dunia: banking-and-money

Reblogged this on Reinventing Atlantis Ancient Sunda Land Civilization.
yg ngejelasin candinya mana?
kok cuma gambar ya?
Daerah kekuasaan Dharmasraya =yang berada di sawah lunto sijunjung ,sumatra barat /minang kabau indonesia
Dalam naskah berjudul Zhufan Zhi (諸蕃志) karya Zhao Rugua tahun 1225[3] disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Che-lan (Kamboja), Kia-lo-hi (Grahi, Ch’ai-ya atau Chaiya selatan Thailand sekarang), Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), Ki-lan-tan (Kelantan), Ji-lo-t’ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya), Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-an (muara sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t’a (Sungai Paka, pantai timur semenanjung malaya), Pong-fong (Pahang), Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang), Kien-pi (Jambi), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), dan dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Kamboja, Semenanjung Malaya, Sumatera sampai Sunda.sebab apa sampai selat sunda saja ,sebabnya keseluruhan pulau jawa masih tenggelam di dalam air lagi / belum timbul , falsafah awalnya alam takambang di jadikan guru / berguru dengan alam yang terbentang …….
ENgga nyambung antara judul dengan isinya.
Truz.. isinya kebanyakan salah kaprah….
Yang membangun Ka’bah adalah nabi Ibrahim. Begitu jelas dan terangnya tercantum di dalam Al-Qu’ran.
Kalau anda seorang muslim, segera minta ampunlah kepada Allah SWT. Kalau anda bukan muslim, sebaiknya anda urus agama anda. Jangan memutar balikkan fakta…
Terima kasih.
iya ini banyak keliru2lah…kalo begini……kerajaan san fo si….menurut saya itu hanya klaim sepihak kalaitu yg mereka masukkan dalam catatan sejarah mereka…hehehehehehehe…
Tulisan yang menarik, tapi kalau melihat bukti-bukti fisik sepertinya tidak tepat, Borobudur dibangun sekitar abad 8 – 9 Masehi, oleh Dinasti / Wangsa Syailendra….
Sedangkan Kisah Nabi Sulaiman / King Solomon Ribuan tahun sebelum masehi…(Islam eksis abad ke 6 Masehi, lebih tua jika di bandingkan dengan Borobudur),
Kesimpulan nya : terlalu mengada-ngada….
Masya Allah,,, lagi-lagi sejarah… Ok, saya mau meneliti sebagian besar sejarah di Indonesia “Dari Mana” dan “Dari Siapa” serta “Dari Apa” juga bukannya “Dari Tadi” melainkan “Dari Dulu”.
Namun, terlalu mengaitkan yang lebih jauh justru membuat saya ragu. Karena Al-Qur’an itu sendiri telah secara gamblang menjelaskan semuanya meski banyak sekali tafsiran Al-Qur’an sebenarnya yang saya masih tidak tahu.
Ada benarnya juga yang komen diatas saya. Saya agak kurang setuju jika pengertian arab terlalu dikaitkan dengan bahasa lain. Karena mungkin bisa berakibat yang tidak baik bahkan fatal.
Tapi jika anda cuma sharing tulisan saja, ya bomat, teruslah berkarya…
tulisan ini terlalu di paksakan dan sangat jauh sekali dari kebenaran, islam itu memiliki riwayat yang bisa di pertanggung jawbkan sedang hindu tak ada sanad, dan amat jauh dari kebenaran tak ada riwayat yang do’if apa lagi shahih sebagaimana riwayat hadis di dalam sunnah bangsa arab konon mengikuti agama nabi Ibrahim dan anak keturunannya namun lama kelamaan mulai pudar namun ciri-cirinya masih ada hingga sampai sekarang seperti batu bekas pijakan nabi Ibrahim, penulis ini tidak mengetahui atau tidak paham bahwa batu itu hanya bekas pijakan nabi Ibrahim ketika membuat bangunan ka’bah.bukam singgahsana nabi Ibrahim apalagi di kaitkan dengan singgahsana brahmana darimana datangnya mengait-ngaitkan ini, sungguh ini adalah bentuk kebodohan dalam sejarah islam. satu misal contoh yang lain, terjadiny pemujaan bansa arab terhadap berhala-berhala, karena bekas jajahan raja dari India ini terlalu sangat jauh dari sejarah islam, terjadinya kesyirikan orang2 bangsa arab, terjadi berasal dari patung2 orang sholeh kaum nabi Nuh, yang terseret air bah sehingga terdampar di syam kemudian seorang dukun dari arab dan juga di tokohkan bernama amer bin luhay mendapat bisikan dari syaiton agar mengambil harta karun yang terpendam yang ternyata adalah berhala, kemudian beerhala2 itu di bawa ke makkah dan di suruh untuk memuja, kaumnya pun menerima dan kemudian memuja hingga menyebarlah di seluruh bangsa arab hingga di utusnya Nabi Muhammad soloullohu ‘alaihi wasallam. hingga saat ini. kenapa penulis ini tidak mengambil sejarah yang berasal dari islam? yang tentunya lebih kuat sumbernya di bandingkan sumber dari orang-orang kafir, perlu di ketahui sejarah islam ini tidak boleh di kotori terlebih di kait-kaitkan dengan agama lain atau dengan istilah pada bahasa-bahasa lain bakal merusak islam. jadi ada dua kemungkinan penulis ini berusaha mengaburkan sejarah islam dan mengangkat agama hindu jika demikian ini adalah perbuatan nusuh islam, atau kalau tidak ada kemungkinan agar hindu di akui keberadaanya oleh orang-orang islam.karena islam hanya mengakui agama-agama yang diturunkan dari langit. tak ada istilah-dewa di dalam islam.
Cerita diatas hanya fiktif belaka bila ada kesamaan tokoh itu hanya rekayasa penulis
heran kenapa selalu ada orang-orang macam ini yang tidak henti-hentinya berpikir untuk menghancurkan sejarah islam yang benar. Untuk pak ahmad tidak ada ancaman dalam melakukan lari antara shafa dan marwah, padahal anda sudah mengutip ayatnya dan diayat tersebut sudah jelas tidak ada kata-kata paksaan atau ancaman. jelas anda ngada-ngada dalam pengungkapan sejarah. lebih baik anda mengungkapkan sejarah anda sendiri, kenapa anda bisa berpikir seperti saat ini…. dan jangan lupa bertobat bro….
teori K.H Fahmi Basya memang perlu kajian mendalam.,
tp, buat penulis di blog ini, kalau mau memaparkan sesuatu, sebaiknya tidak asal-asalan.,
Hahahaha….ilmu gatuk. Gak nyambung dan kurang kerjaan. Gak masuk akal. Borobudur berdiri 824 masehi, Nabi Sulaeman ribuan tahun SM. Islam eksis ke Indonesia abad ke-6 Masehi. Buktikan Prof. dan jelaskan dgn detail makna relief2 Borobudur itu. . Knp sih ngotot dan pengen gugugat and ambil borobudur? Puluhuhan ribu judul ttg Borobudur oleh para peneliiti dari berbagai negara dan berberbagai bahasa mau diapakan?
Rasanya aneh dan mengada2, bikin orang bingung…
Kajian Ilmiah yang dilakukan oleh KH Fahmi Basya tentang Borobudur dalam tinjauan Islam merupakan karya profesional seorang hamba Tuhan. Siapapun harus menghormati sebuah karya ilmiah tersebut karena merupakan upaya untuk menemukan sejatinya hidup / kehidupan yang memang masih banyak sekali mysteri. Jadi kita semua mahluk Tuhan baik Muslim maupun yang bukan Muslim wajib membuka pikiran dan mengembara dalam koridor keakhlakan yang mulia, agar bisa ditemukan satu titik pertemuan dari banyaknya simpangan yang membentang saat ini. Saya yakin suatu saat akan ketemu bahwa kita mahluk Tuhan semuanya adalah satu.
Selamat menjadi pengembara dalam keakhlakan mulia…..