Tinggalkan komentar

Sejarah Mazhab Wahabi

Mazhab Wahabi
Wahabi sebenarnya kurang tepat disebut sebagai mazhab teologi, melainkan lebih tepat sebagai mazhab politik. Karena, munculnya tak lepas dari upaya Inggris untuk menguasai dunia Islam, melalui pemecahbelahan Muslim dari dalam. Hal ini terlihat jelas dalam laporan pengakuan Hempher, seorang agen rahasia Inggris yang berperan dalam membentuk Wahabisme.
Dalam bukunya, Hempher menyebutkan bahwa ia berangkat ke Istanbul pada 1710 M, dan tinggal di sana selama dua tahun. Kemudian ia kembali ke London, menikah, dan tinggal di sana selama enam bulan. Kemudian ia memperoleh tugas ke Irak. Setelah menempuh perjalanan selama enam bulan, ia sampai di kota Basrah (Irak). Di kota inilah ia bertemu dengan seorang anak muda bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. [Confessions of A British Spy, part 2-4].

Hempher juga menyebutkan bahwa ia menyusul MAW yang pulang ke daerahnya. Ia lalu tinggal di rumah MAW selama dua tahun. Mereka pun merancang program untuk mengumumkan seruan (ajaran) MAW. Akhirnya, ia berhasil menggerakkan keinginan kuat MAW itu pada 1143 H (1730 M). Namun, dakwah MAW ini masih dilakukan secara diam-diam pada kalangan dekat saja, yang kemudian secara bertahap meluas. [Confessions of A British Spy, part 7]

Syaikh Ibn Baz juga menguatkan, “Ketika ayahnya menjadi hakim di Uyainah, perselisihan muncul antara pangeran Uyainah dengan ayahnya. Karenanya, ayahnya kemudian meninggalkan Uyainah menuju Huraimilah pada 1139 H (1726 M). Itulah mengapa Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) tinggal di Huraimilah. Beliau datang ke sana sekitar 1140 H (1727 M). Di sana beliau melanjutkan aktivitasnya dalam bentuk pengajaran dan khutbah, hingga ayahnya wafat pada 1153 H (1740 M).” [Syaikh Ibn Baz, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab]

Peran Hempher terhadap MAW ini telah diberitakan pula dalam sebuah kitab berjudul “Mir’at al-Haramain”, yang terbit kurang lebih 120 tahun yang lalu. Dalam buku ini diberitakan bahwa pada 1125 H (1713 M) MAW bertemu Hempher, seorang mata-mata Inggris, di Basrah. Kemudian terjalinlah persahabatan di antara keduanya. Peran Hempher sangat besar dan menentukan dalam gerakan MAW tersebut. Dan seterusnya. [Ayyub Sabri Pasya, Mir’at al-Haramain, Istanbul, terbit tahun 1888 M]

Buku Hempher ini awalnya diterbitkan secara berseri oleh surat kabar Jerman Spiegel. Lalu diterbitkan pula oleh sebuah surat kabar terkemuka Prancis. Lalu seorang Doktor dari Libanon menerjemahkan dokumen itu ke dalam bahasa Arab. Dari sinilah kemudian dokumen tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya. Penerbit Waqf Ikhlas lalu menerbitkankannya dalam bahasa Inggris dengan judul “Confessions of A British Spy”.

MAW menulis bukunya “Kitab at-Tauhid” sekitar tahun 1736 M. Inilah yang menjadi tonggak munculnya Wahabisme. Kaum Wahabi memang menganggap faham di luar mereka itu kafir dan sesat, sehingga layak dibasmi dengan senjata. Hal ini terlihat dalam Kitab at-Tauhid karya MAW tersebut. Di dalam syarh kitab tersebut dijelaskan bahwa kaum Musyrik hanya memiliki dua pilihan: (1) Memeluk Islam, atau (2) Diperangi. Sedangkan kaum Ahlul Kitab memiliki tiga pilihan: (1) Memeluk Islam, atau (2) Membayar jizyah, atau (3) Diperangi. [Syaikh Muhammad al-Qar’awi, Al-Jadid: Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 79]
Karena itulah, MAW melakukan dakwahnya dengan pedang, agresi, dan pembantaian. Anehnya,  model dakwah seperti ini dibanggakan oleh Syaikh Ibn Baz yang berkata, “Kemudian pada tahun 1158 H (1745 M) dimulailah jihad dengan pedang. Sebagaimana yang diketahui, senjata dan kekuatan itu penting dalam mendukung keefektifan penyebaran dakwah, menundukkan lawan dan kepalsuan, serta mendukung kebenaran.” [Syaikh Ibn Baz, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab]

Akibatnya, terjadilah Agresi Tha’if pada 1215 H (1801 M). Orang-orang Wahabi, di bawah pimpinan Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud, menyerbu kota Tha’if. Mereka membunuh siapa saja yang terlihat, termasuk wanita dan anak-anak. Bahkan bayi yang masih menyusu pun tak luput dari pembantaian mereka. Mereka juga membunuh sekelompok orang yang sedang mengkaji Al-Quran. Termasuk orang-orang yang berada rumah-rumah, di jalan, di toko, dan di masjid. [Jamil Effendi az-Zahawi, Fajr ash-Shadiq; Ahmad ibn Zaini Dahlan, Khulasat al-Kalam; dan lain-lain]

Selain itu, Agresi Karbala pada 1802 M. Orang-orang Wahabi dengan beringas menyerbu kota ini. Mereka membantai penduduk yang berada di pasar-pasar dan rumah-rumah. Mereka juga menjarah harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Tak ketinggalan, mereka juga menghancurkan makam al-Husein as, dan menjarah barang berharga yang ada di kubahnya. Makam Fadhl Abbas as juga mereka rusak. Korban tewas mencapai ribuan orang (termasuk di dalamnya para ulama); sebagian mengatakan sekitar 2000 jiwa, sebagian lagi mengatakan 4000 jiwa, dan sebagian lainnya mengatakan 5000 jiwa. [Utsman bin Abdullah bin Bisyr, ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, jil. 1, hal. 121-122; Alexei Vassiliev, History of Saudi Arabia, hal. 117; Majazir al-Wahabiyin fil ‘Iraq, http://www.muhajr.com/; dan lain-lain]

Teror keji kembali terjadi. Orang-orang Wahabi menyerang dan menjarah para peziarah haji, dan beberapa kota penting di Hijaz (termasuk Mekah dan Madinah). Di Mekah mereka melarang jamaah haji masuk ke kota ini. Sementara, di Madinah mereka menyerang dan menghinakan Masjid Nabawi, lalu menjarah dan menjual peninggalan dan perhiasan yang ada di makam Rasulullah saaw. [Prof. Abdullah Mohammad Sindi, Britain and The Rise of Wahhabism and The House of Saud] Sekadar info, Prof. Abdullah adalah salah seorang pengajar di Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Saudi Arabia.

Kenyataan bahwa Wahabi adalah gerakan yang dibentuk dan dimanfaatkan oleh Inggris (melalui agen rahasianya yang bernama Hempher) tidak dapat dipungkiri. Inggris memang terkenal kerap menciptakan sekte-sekte yang bertentangan dengan keyakinan mayoritas, demi menjalankan politik “pecah belah dan taklukkan” (divide and conquer), sebagaimana halnya kelompok Ahmadiyah di India-Pakistan pada abad ke-19 M. Sehingga, dengan membentuk gerakan Wahabi, Inggris dapat mengadu domba Muslimin Arab dengan Turki. Caranya, dengan mencari “lubang” di dalam tubuh Muslimin, yang bisa digunakan sebagai alat untuk mencap pemerintah Turki sebagai kafir dan murtad. Dengan demikian, kekuasaan Turki Utsmani dapat diruntuhkan dan diduduki.

Sekaitan dengan hal ini, sejarahwan Alexei Vassiliev menyatakan, “Setelah melancarkan teror kepada penduduk Sunni Hijaz, Ibn Sa’ud menduduki Mekah melalui dukungan rahasia Inggris.” (A History of Saudi Arabia, hal. 264)

Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud pada 1791 M mendeklarasikan perang melawan Amir Mekah, Syarif Ghalib Effendi (yang ditunjuk resmi oleh pemerintah Turki Utsmani). Pertempuran demi pertempuran terjadi. Hingga akhirnya orang-orang Wahabi berhasil menguasai Mekah pada 1803 M. Hal ini dikarenakan pembelotan para pengikut Syarif Ghalib, rasa takut penduduk Mekah yang trauma dengan peristiwa Agresi Tha’if, dan ketika itu Syarif Ghalib sedang berada di Jeddah untuk menyusun kekuatan. Mereka (orang-orang Wahabi) segera mengumumkan bahwa mereka akan membunuh siapa saja yang berziarah kubur, atau pergi ke Madinah untuk memohon syafa’at di depan makam Rasulullah saaw.

Tak lama berselang, Syarif Ghalib berhasil menguasai Mekah kembali. Namun, pada 1805 M, Mekah dikepung oleh orang-orang Wahabi selama berbulan-bulan. Akibatnya, penduduk menjadi menderita dan kelaparan. Melihat ini, tidak ada pilihan lain bagi Syarif Ghalib kecuali menyerah. Mereka (orang-orang Wahabi) lalu kembali ke Dar’iyah setelah menunjuk gubernur (untuk kota ini), yang bernama Mubarak bin Maghyan. Sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya bahwa mereka telah menghinakan kota Mekah dan Madinah. Termasuk melarang jamaah haji masuk ke kota Mekah, yang berlangsung selama tujuh tahun. Pada 1807 M, mereka menyerbu Madinah. Mayoritas desa-desa di sekeliling Madinah dibakar dan dihancurkan. Penduduknya dibunuh dan dijarah. Akhirnya, sisa-sisa yang masih hidup terpaksa menerima keyakinan Wahabi.

Melihat semua ini, pemerintah Turki memerintahkan gubernurnya di Mesir, Muhammad Ali Pasya, untuk menghukum orang-orang Wahabi tersebut. Dengan kekuatan pasukan, persenjataan, dan kecerdikannya, ia berhasil menguasai kota Mekah pada 1812 M. Sementara, orang-orang Wahabi, yang mendengar akan datangnya pasukan Turki, segera melarikan diri ke gunung-gunung. Sementara, Sa’ud bin Abdul Aziz kembali ke Dar’iyah.

Kemudian Muhammad Ali Pasya mengirim puteranya, Ibrahim Pasya, untuk membersihkan orang-orang Wahabi di Dar’iyah. Setelah melalui pertempuran panjang, akhirnya ia berhasil mengalahkan mereka pada 1818 M. Abdullah bin Sa’ud (pengganti Sa’ud bin Abdul Aziz) ditangkap dan bersama para anteknya dihukum mati di Istanbul.

Muhammad Finati, seorang mualaf Italia yang ikut dalam pasukan Utsmani, yang mengalahkan kaum Wahabi, menulis, “Sebagian dari kami yang tertangkap hidup-hidup di tangan musuh yang kejam dan fanatik itu, kaki dan tangan mereka dipotong-potong secara zalim dan dibiarkan dalam keadaan demikian. Sebagian dari mereka aku saksikan sendiri dengan mata kepala, tatkala kami sedang mundur. Mereka yang teraniaya ini hanya memohon agar kami berbelas kasih untuk segera mengakhiri hidup mereka.” (Narrative of the Life and Adventures of Giovanni Finati, jil. 1, hal. 287)

Meskipun telah dihancurkan, Wahabi segera bangkit kembali berkat bantuan kolonialisme Inggris. Saat Inggris berhasil menjajah Bahrain pada 1820 M dan mulai mencari jalan untuk mengkolonialisasi daerah sekitar, Wahabi memandangnya sebagai kesempatan besar untuk memperoleh perlindungan dan bantuan dari Inggris.

Pada 1843 M, Faisal bin Tarki as-Sa’ud (pemimpin Wahabi saat itu) berhasil melarikan diri dari tahanannya di Kairo (Mesir), dan menuju Najd (Riyadh). Ia lalu menghubungi pihak Inggris, dan memohon agar Inggris mendukung perwakilannya di Oman. Pada 1851 M, ia kembali memohon bantuan kepada pihak Inggris. Akhirnya, pada 1865 M, Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk membuat pakta dengan pihak Wahabi. Pada 1866 M, Wahabi menandatangani pakta persahabatan dengan Inggris. Sebagai bentuk balas jasa atas bantuan uang dan senjata dari Inggris, Wahabi setuju untuk berkolaborasi dengan otoritas kolonial Inggris di daerah tersebut.

Semua ini memancing kemarahan Muslimin dan bangsa Arab. Di antara mereka terdapat orang dalam Wahabi sendiri, yaitu Muhammad bin ar-Rasyid, yang dengan dukungan Turki menyerang Riyadh dan berhasil mengalahkan klan Wahabi al-Sa’ud pada 1888 M. Sejak itu terjadilah perseteruan panjang dan perebutan kekuasaan antara klan al-Sa’ud dengan klan ar-Rasyid.

Abdurahman bin Faisal as-Sa’ud dan puteranya (Abdul Aziz bin Abdurahman) berhasil melarikan diri ke Kuwait dan meminta perlindungan Inggris. Selama di sana, mereka memohon bantuan uang dan senjata kepada Inggris untuk menguasai Riyadh. Akhirnya, Abdul Aziz bin Abdurahman berhasil menguasai Riyadh kembali pada 1901 M. Dan pada 1918 M, atas desakan Inggris, Abdul Aziz mengumumkan bahwa Syarif Husain Pasya (Amir Mekah saat itu) dan orang-orangnya kafir, sehingga ia (Abdul Aziz) akan melakukan jihad melawan mereka.

Pasukan Inggris kemudian berhasil menangkap Syarif Husain dan membawanya ke Cyprus pada 1924 M. Dan pada tahun yang sama Abdul Aziz dengan mudah menyerang dan menguasai Mekah dan Tha’if. Sehingga, terjadilah Pembantaian Tha’if II. Pasukan Wahabi menjarah harta benda penduduk kota ini. Dengan biadab, mereka membunuh anak-anak dan orang tua, dan para wanita pun diperkosa. Lebih dari 400 jiwa tak berdosa terbantai dalam tragedi kemanusiaan ini.

Sejarahwan Ibn Hizlul melaporkan, “Pada tahun 1924, pasukan Wahabi memasuki kota Tha’if dan menjarah isinya selama tiga hari. Para Qadhi dan ulama ditarik keluar dari rumah-rumah mereka dan dibantai. Sementara itu, ratusan warga sipil lainnya juga dibunuh.” (Tarikh Muluk as-Su‘ud, hal.151-1533)

Fakta ini membuktikan bahwa Inggris memang sangat berperan dalam membentuk dan mendukung gerakan Wahabi, demi meruntuhkan kekuasaan Khilafah Turki Utsmani (yang saat itu menjadi simbol kekuatan Muslimin) dan menegakkan negara boneka Saudi Arabia.

Wassalam,

Muh. Anis
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.973 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: