Tinggalkan komentar

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, The Largest Tropical Rain Forest In Java

Senin, 23 Januari 2012 0

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, The Largest Tropical Rain Forest In Java

Posted by Cumi Kriting on 14:34

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) The Largest Mountainous Tropical Rain Forest  In Java Island Peta Wilayah TNGHS Perizinan : Jl. Raya Cipanas – Kec. Kabandungan Sukabumi Telephone: +62-266-621256 Situs : http://www.tnhalimun.go.id Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan hutan hujan tropis terluas di pulau Jawa. Sesuai dengan Surat Kementerian Kehutanab No. 175/Kpts-II/2003, Taman Nasional ini memiliki luas 113.357 hentar.

Nama Gunung Halimun-Salak berasal dari Bahasa Sunda yaitu ‘halimun’ dan ‘salak’. ‘Halimun’ berarti kabut dan ‘salak’ merupakan buah salak yang biasa kita jumpai. Keberadaan TN Gunung Halimun-Salak sangat penting dalam mengatur ketersediaan air tanah dan mengatur kestabilan cuaca di sekitar Taman Nasional.

Selain itu, Taman nasional Gunung Halimun-Salak berperan penting menjaga ekosistem makhluk hidup, baik flora maupun fauna endemik yang masih tersisa. Dengan adanya ekowisata ke TNGHS ini, diharapkan dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap keberlangsungan menjaga ekosistem bukan malah menjadi ajang eksploitasi alam berkedok ekowisata.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau lebih enak disingkat TNGHS, termasuk ke dalam tiga wilayah kabupaten dan dua provinsi, yaitu Kab. Bogor, Kab. Sukabumi – Provinsi Jawa Barat dan Kab. Lebak, Provinsi Banten. Alam TNGHS sangat memanjakan mata para pengunjungnya. Pepohonan yang tinggi menjulang dan perkebunan teh yang terhampar luas menjadi pemandangan yang umum dijumpai di TNGHS. Kicauan burung berbagai jenis dan macam-macam warnanya saling bersahutan menyempurnakan pemandangan di TNGHS. Sungguh menyajikan pemandangan yang eksotis, dimana semua elemen dalam hutan TNGHS dapat dilihat secara dekat dan hidup beriringan satu sama lain.    Banyak hal yang dapat Anda nikmati ketika mengunjungi TNGHS. Beberapa di antaranya adalah Akses jalannya cukup menantang apalagi bila dilakukan dengan bersepeda, berinteraksi langsung dengan masyarakat di desa citalahab, melihat beberapa air terjun, trekking di hutan dan pesona hamparan hijau perkebunan teh Nirmala. Dan yang paling terkenal di tempat ini adalah Glowing Mushrooms atau jamur yang menyala pada waktu malam hari.

Cerita di bawah ini merupakan pengalaman saya ketika berkunjung bersama teman-teman ke Taman Nasional Gunung Halimun. Informasi lainnya saya peroleh melalui internet rekan blogger lain.  Namun sayangnya, foto-foto yang ditampilkan di sini bukan foto koleksi pribadi.Saya meng-copy foto-foto tersebut dari beberapa situs tentang TNGHS.

Sebelum memasuki kawasan Taman Nasional, para pengunjung diharuskan untuk melaporkan diri terlebih dahulu di Kantor balai TNGHS di Kabandungan, Kab. Sukabumi. Kantor Balai TNGHS dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan darat.

Perjalanan dari Jakarta menempuh kurang lebih waktu 3-5 jam dengan jarak 125 km melalui rute perjalanan Jakarta-Bogor-Parungkuda-Kabandungan. Sedangkan dari Bandung, Balai TNGHS dapat ditempuh dalam kurang lebih 4-8 jam dengan jarak 152 km melalui rute perjalanan Bandung-Sukabumi-Parungkuda-Kabandungan.

Rute pertama Anda dapat menaiki bus jurusan Jakarta – Sukabumi dan turun di Parung Kuda (pasar). Setelah tiba di Pasar dan terminal Parung Kuda, Anda harus berpindah kendaraan dengan menaiki mobil elf  mini bus (jurusan Parung Kuda – Cipeuteuy) untuk menuju pos pendaftaran TNGHS di Kabandung. Setelah melalui perjalanan selama satu setengah jam, Anda akan tiba di pos TNGHS Kabandungan untuk melakukan pendaftaran. Sambil menunggu proses pendaftaran, kami diberikan arahan serta peraturan apa saja yang harus dijaga selama berkunjung ke TNGHS. Selain itu, petugas balai juga menyajikan slide dan film singkat mengenai Taman Nasional gunung Halimun-Salak.  Setelah selesai, Anda dapat melanjutkan perjalanan ke stasiun penelitian TNGHS di Cikaniki. Untuk mencapai stasiun penelitian TNGHS di Cikaniki yang masih berjarak 20 km, Anda dapat menggunakan elf (carter), ojek atau kalau mau lebih irit dapat jalan kaki dengan waktu kurang lebih 4 – 5 jam perjalanan. Jika anda datang berkelompok, lebih baik Anda menyewa kendaraan bak terbuka menuju stasiun penelitian Cikaniki atau Citalahab karena akses menuju kesana lumayan sulit dan jalanannya berbatu.

Apabila Anda datang dalam kelompok kecil, menyewa ojek menuju home stay di TNGH dapat menjadi pilihan terbaik. Sun Rise In TNGHS Dengan menggunakan ojek, waktu yang ditempuh menuju stasiun Cikaniki sekitar dua jam. Apabila ditempuh menggunakan mobil truk atau bak terbuka lainnya, akan lebih lama lagi. Waktu itu Kami menggunakan truk karena peserta yang ikut banyak sekali jumlahnya. Pengalaman menarik di dalam Truk yang bergoyang-goyang menapaki terjalnya jalan berbatu bersama teman-teman merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan (It’s so memorable guys!).

Persinggahan pertama kami terhenti di stasiun penelitian Cikaniki. Di stasiun penelitian TNGHS Cikaniki ini terdapat beberapa penginapan yang dapat Anda sewa (milik taman nasional). Disana akan dilakukan proses pendataan. Fasilitas yang ada di stasiun Cikaniki terbilang cukup bagus dan terawat, macam vila-vila di Puncak Bogor. Namun karena kocek kami tak cukup tebal, Kami memilih menginap di Citalahab Home stay.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan dari Cikaniki, finally We’ve come in Citalahab Village. Desa ini berada di kecamatan Manggung – Kab. Bogor. Lokasi desa ini berada di tengah-tengah perkebunan teh (perkebunan teh Nirmala), dengan mayoritas kegiatan para penduduknya sebagai petani teh di perkebunan tersebut. Kurang lebih hanya terdapat 17 rumah saja yang ada di desa ini Citalahab home stay.

Citalahab Home Stay Apabila Anda ingin mencapai lokasi-lokasi di kawasan TNGHS, seperti Cikaniki, Citalahab, hutan Koridor, Ciptagelar atau lokasi lainya, lebih baik mempelajari dahulu peta jalur lokasi yang akan dituju karena jalan masuk ke dalam kawasan umumnya masih jalan berbatu yang akan lebih baik apabila menggunakan mobil jeep, sepeda motor atau mungkin harus berjalan kaki. Setelah tiba di desa Citalahab kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk tinggal di rumah-rumah panggung penduduk. Sebenarnya di Citalahab ini terdapat bumi perkemahan. Akan lebih natural kalau kami tinggal berkemah. Namun karena saat itu sedang  musim hujan,  maka kami memilih tinggal di rumah-rumah penduduk. Pada malam hari Anda dapat mengunjungi canopy trail untuk melihat jamur menyala (Glowing Mushroom). Namun, sekali lagi, karena hujan turun maka Anda tidak dapat melihat jamur menyala.

Bumi Perkemahan Citalahab

Bermalam selama tiga hari sebenarnya tidak cukup bagi kami. Pemandangan matahari terbit  di perkebunan teh Nirmala terbilang cukup memukau. Apalagi jika cuacanya cerah, Anda dapat melihat gunung Salak, Gede dan Pangrango berjajar dengan kokoh.  Samar-samar terlihat juga jajaran bangunan semacam mall di seberang perkebunan teh, namun kami tidak mengetahui bangunan apa itu sebenarnya. Setelah agak siang, Kami melanjutkan perjalanan menuju curug Macan dengan lama perjalanan 1 jam. Lokasi curug Macan ini sebenarnya lebih dekat dari stasiun penelitian TNGHS di Cikaniki, curug Macan ini tidak tinggi paling hanya sekitar 8 meter saja. Curug macan berada tepat di samping sungai yang airnya dingin dan sangat dingin. Handphone dan kamera kami titipkan pada salah seorang teman yang tidak ikut bermain air.

Kegembiraan saat itu sangatlah berkesan (Once more, It’s so memorable). Setelah selesai bermain air dan dipijat oleh aliran  airdi curug Macan (alirannya tidak terlalu deras),  kami kembali pulang ke Citalahab home stay dengan berjalan kaki. Jaraknya lumayan jauh, namun tidak terasa karena pemandangan kebun teh, dan hutan yang masih perawan selalu mengiringi setiap langkah kami (So Romantic’ and peaceful, Really!).  Keesokan harinya Kami melanjutkan perjalanan sejauh 10 km melalui hutan-hutan di sebelah utara Citalahab. Ada banyak pilihan treking (Tracking in English). Untuk saya pribadi sebenarnya perjalanan ini terlalu singkat karena terdapat pilihan tracking yang lebih panjang menuju curug yang lebih indah (I forgot what’s the name of waterfall) Saat melakukan tracking, Anda dapat menjumpai berbagai macam jenis burung dan spesies tanaman langka yaitu beberapa buah Anggrek liar yang berada di batang batang pohon besar.

Jika beruntung,  Anda dapat menjumpai seekor Lutung yang bergelantungan di pepohonan. Sebetulnya kami ingin melihat Owa Jawa, namun karena berada di tengah-tengah hutan (bukan dekat jalur) maka kami hanya mendengar suaranya saja di kejauhan. Lutung-lutung itu pun kadang bermain di sekitaran home stay Citalahab. I think, It’s funny and horrible a bit when see Lutung play over the tree. Owa Jawa Sepanjang perjalanan Anda dapat menemui tumbuhan khas seperti Puspa (Schima wallichii), Tangkur gunung (Lophatherum gracile) – umbinya dapat dimanfaatkan untuk obat kuat menurut masyarakat setempat, Rasamala (Altingia excelsa), Begonia sp – batang nya yang berair dapat dikonsumsi, merupakan salah satu jenis tumbuhan untuk survival, Tepus, beberapa jenis anggrek Bulbophylum sp dan Dendrobium sp ditemukan juga di TNGHS. Untuk keperluan riset, Anda dapat melakukan pengamatan Macan Tutul (Phantera pardus) secara tidak langsung, yaitu melalui jejak, cakar (marking) atau bekas makan macan. Pada kesempatan tersebut, kemungkinan Anda akan menemukan cakar macan tutul dan bekas makannya. Cakar ini sebagai marking (penandaan daerah kekuasaan) yang lazim dilakukan oleh kelompok Felidae.

Kemudian, ditemukan pula bekas makan macan yang diduga adalah seekor landak (dapat dilihat dari duri-duri landak yang tersisa). Hal ini menunjukkan bahwa daerah yang kami lalui adalah jalur yang dilalui oleh macan tutul dan juga mengindikasikan keberadaan macan di daerah tersebut. Jangan lupa juga untuk mengamati glowing mushroom yang terkenal dan letaknya tidak jauh dari Stasiun Riset Cikaniki. Hanya berjarak kurang lebih 200 m dari Stasiun Riset, Anda akan sampai di tempat glowing mushroom. Pengamatan glowing mushroom dilakukan ketika waktu maghrib. Sungguh menakjubkan bisa melihat glowing mushroom yang unik ini. Cahaya hijau nya berpendar di kegelapan. Ukuran jamur ini sendiri bisa dibilang sangat kecil. Jamur ini memiliki kemampuan bioluminescent akibat adanya reaksi kimia sehingga mampu berwarna hijau menyala di kegelapan.

Glowing Mushroom/ Jamur Yang berkilau Saat Malam Hari

Glowing Mushroom Diambil dari situs resmi TNGHS, berikut ini rincian tempat wisata alam dan budaya di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang memiliki luas sekitar 113.357 hektar : Air Terjun (Curug) Keindahan air terjun merupakan salah satu daya tarik yang banyak diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada umumnya air terjun terbentuk karena terjadinya patahan kulit bumi sehingga aliran air terpotong membentuk loncatan air sesuai prinsip aliran air dari ketinggian ke tempat yang lebih rendah. TNGHS mempunyai banyak air terjun, seperti : Curug Cimantaja dan Curug Cipamulan, terletak di desa Cikiray, kecamatan Cikidang dan Kabupaten Sukabumi Curug Piit (Curug Cihanjawar), Curug Walet dan Curug Cikudapaeh, terdapat di sekitar Perkebunan Teh Nirmala Curug Citangkolo, terletak di desa Mekarjaya, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi Curug Ciberang dan Curug Cileungsing, terletak di sekitar kampung Leuwijamang Curug Ciarnisah, terletak di sekitar kampung Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Kebun Teh Nirmala Di Gunung Salak terdapat beberapa curug diantaranya Curug Cangkuang (Cidahu); Curug Pilung (Girijaya); Curug Cibadak (Cijeruk); Curug Citiis (Ciapus); Curug Nangka (Taman Sari); Curug Ciputri (Tenjolaya); Curug Cihurang, Cirug Cigamea, Curug Ngumpet dan Curug Seribu (Pamijahan), Curug Cibereum (Jayanegara). Puncak Gunung TNGHS memiliki beberapa puncak gunung dengan ketinggian antara 1.700 – 2.211 m dpl. Secara resmi beberapa jalur pendakian ke puncak gunung di TNGHS belum dibuka dan ditata secara khusus.

Tetapi beberapa puncak gunung dan hutan yang relatif masih lebat telah menarik didaki dan dikunjungi oleh berbagai kelompok pecinta alam, dengan memenuhi syarat pendakian : seperti membuat ijin pendakian, mempelajari peta jalur pendakian, pendakian didampingi petugas / orang yang sudah mengetahui jalur pendakian, mempersiapkan diri secara fisik dan perbekalan makanan yang cukup. Beberapa puncak gunung yang menarik didaki : Gunung Halimun Utara (1.929 m dpl.) Gunung Botol (1.720 m dpl.) Gunung Sanggabuana (1.919 m dpl.) Gunung Kendeng Selatan (1.680 m dpl.) Gunung Halimun Selatan (1758 m dpl.) Gunung Puncak Salak 1 (2211 m dpl.) Gunung Puncak Salak 2 (2190 m dpl.) Hutan – Perkebunan Teh di TNGHS Di antara puncak-puncak yang umum dan menarik didaki di TNGHS adalah Puncak Gunung Salak 1 karena paling tinggi. Adapun jalur pendakian ke puncak Gunung Salak sudah diketahui dan dirintis oleh para pendaki gunung melalui beberapa jalur masuk. Saat ini untuk mendaki Puncak Gunung Salak 1, harus dapat memenuhi persyaratan pendakian gunung dan mengurus ijin pendakian di Kantor BTNGHS di Kabandungan, Sukabumi. Adapun jalur pendakian yang relatif aman dan umum digunakan adalah melalui jalur Javana Spa/Cangkuang, Cidahu –Simpang Kawah Ratu–Puncak Salak. Atau Pasir Reungit, Gunung Bunder–Kawah Ratu–Simpang Kawah/ Puncak Salak 1 – Puncak Salak 1 Bumi Perkemahan Salah satu kegiatan yang dapat dikembangkan di TNGHS adalah berkemah di bumi perkemahan yang sudah tersedia sumber air dan kamar mandi. Lokasinya antara lain di Cangkuang, Sukamantri dan Gunung Bunder.

Candi Cibedug (Lebak Banten) Candi Cibedug terletak sekitar 10 km sebelah Barat desa Citorek yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3 jam. Situs Candi yang berukuran kecil ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan di Jawa Barat beberapa ratus tahun yang lalu. Situs ini banyak dikunjungi orang dari luar daerah untuk berziarah. Lebak Sibedug adalah nama sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keterkenalan kampung ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan sisa peninggalan zaman megalitik berupa menhir dan punden berundak yang berada dalam satu kompleks yang kini diisolasi dan dinamai situs Lebak Cibedug.

Meskipun berada di wilayah Kecamatan Cibeber, namun rute menuju Cibedug ternyata lebih nyaman ditempuh melalui jalur Pandeglang – Rangkasbitung – Cipanas – Citorek – Cibedug, dibanding menempuh jalur Pandeglang – Bayah – Cibeber – Citorek – Cibedug. Jika dibandingkan dalam hitungan jarak dari Pandeglang, maka rute pertama ini berjarak ± 80 Km sedangkan rute kedua berjarak 2 kali lipatnya. Menghadapi pilihan ini tentu saja Anda akan memilih rute pertama. Jalanan mulai terasa tidak nyaman ketika Anda mulai masuk ke rute perbukitan Cipanas – Citorek. Namun rerimbunan hutan yang tampak hijau yang kadang diselingi oleh areal persawahan luas dalam suasana pedesaan di sepanjang jalanan menuju Cipanas akan membawa Anda pada nuansa yang tidak akan diperoleh jika berada di kota.

Setelah hampir tiga jam berada di mobil, Anda akan tiba di Desa Citorek Barat. Setelah menitipkan mobil pada penduduk dan mengambil beberapa stock shot , Anda akan menyeberangi jembatan gantung pertanda dimulainya rute terberat menuju Cibedug. Situs Purbakala Cibedug Jarak dari Citorek ke Cibedug sebenarnya dekat, sekitar 9 Km. Namun karena Cibedug berada di balik perbukitan, maka rute jalan kaki ini akan terasa berat.  Anda akan melewati kebun kebun tradisional, menyusur pematang sawah dan menerobos hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Setelah menempuh kurang lebih dua pertiga perjalanan,  Anda  akhirnya akan sampai di puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon besar. Tak jauh dari situ terdapat sebuah situ (danau). Danau di puncak bukit? Nyatanya memang ada. Andai saja danau itu ditata rapi dan tidak dipenuhi gulma, tentu danau itu akan menjadi pesona tersendiri pengobat kelelahan selama perjalanan. Jalur yang akan Anda tempuh setelah danau itu adalah jalan setapak yang menurun. Beberapa saat kemudian Anda akan menemukan candi Cibedug seperti gambar yang terlihat di atas. Gunung Batu dan Cadas Belang Di dalam kawasan TNGHS juga terdapat lokasi-lokasi yang dipercayai mempunyai kekuatan spiritual, sehingga beberapa pengunjung datang untuk maksud berziarah. Seperti di Gunung Batu terdiri dari dinding batu yang terletak pada puncak bukit, sering digunakan untuk tempat penziarahan. Lokasi ini terletak di desa Mekarjaya dapat dicapai dengan jalan kaki sekitar 2 jam dari kampung Cigadog.

Stasiun Penelitian Cikaniki

Stasiun Penelitian Cikaniki Lokasinya terdapat di dalam hutan Cikaniki dekat kampung Citalahab. Saat ini Stasiun Penelitian selain dapat digunakan untuk kegiatan penelitian juga dapat digunakan untuk kunjungan ekowisata. Jalur Interpretasi (Loop Trail) dan Homestay di Citalahab Jalan setapak Cikaniki – Citalahab sepanjang 3,8 km dibuat pada tahun 1997, jalur ini telah dilengkapi dengan pal hekto meter (HM), papan petunjuk dan shelter. Setelah HM 15, pada jalur ini terdapat dua alternalif jalan yaitu yang langsung ke kampung Citalahab Sentral dimana terdapat homestay yang dikelola masyarakat lokal atau yang berputar ke perkebunan teh Nirmala blok Citalahab Bedeng sekitar 3,8 km. Sepanjang jalur ini dapat menikmati berbagai flora fauna menarik yang akan memberi pengalaman baru bagi pengunjung berjalan di dalam hutan tropis.

Jembatan Tajuk (Canopy Trail) Canopy Trail (Jembatan di Atas Pohon) Jembatan gantung yang menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, lebar 0,6 m dengan ketinggian 20–25 m dari atas tanah dilengkapi dengan tangga naik. Jembatan ini terletak sekitar 200 m dari Stasiun Penelitian Cikaniki. Digunakan sebagai pendukung kegiatan penelitian. Sumber Air Panas Di TNGHS terdapat beberapa sumber air panas yang masih alami seperti di Cisukarame dan di Gunung Menir, maupun yang sudah dibuka sebagai tempat rekreasi, seperti di Gunung Salak Endah, Cisolok dan Cipanas. Perkebunan Perkebunan di sekitar TNGHS termasuk pemandangan alam yang menarik dan banyak dijumpai dalam perjalanan menuju kawasan TNGHS. Umumnya di wilayah kabupaten Sukabumi dan Bogor terdapat beberapa perkebunan teh yaitu perkebunan teh Jayanegara, Cianten, Pasir Madang dan Parakansalak. Bahkan jauh sebelum TNGHS ditetapkan, di tengah taman nasional juga terdapat enclave perkebunan teh Nirmala yang luasnya sekitar 997 ha. Selain perkebunan teh saat ini disekitar TNGHS juga terdapat perkebunan kelapa sawit, seperti di Kelapa Nunggal, Cikidang, Cisolok dan juga sepanjang jalan dari Cigudeg di kabupaten Bogor menuju kota Rangkasbitung, kabupaten Lebak. Arung Jeram dan Pantai Selatan Perjalanan dari Sukabumi atau Cibadak menuju Pelabuhanratu dan terus ke Bayah selain menyusuri bagian tenggara atau selatan TNGHS juga akan melintasi jalur wisata arung jeram (sungai Citarik dan sungai Cicatih) serta pantai selatan yang indah seperti pantai Karang Hawu, Karang Taraje dan Sawarna. Seren Taun Masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul yang tinggal di sekitar TNGHS sampai saat ini masih mempunyai karakteristik budaya yang khas. Dimana setiap tahun setelah panen padi mereka mengadakan kegiatan adat yang disebut seren taun sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan dalam pertanian khususnya padi yang merupakan makanan pokok masyarakat. Kegiatan seren taun selain untuk warga kasepuhan juga dapat disaksikan oleh masyarakat umum lainnya termasuk untuk kunjungan wisata budaya karena banyak kegiatan menarik yang dapat dilihat. Jadwal pelaksanaannya antara bulan Juni – Desember setiap tahun, tergantung perhitungan waktu masing-masing kelompok kasepuhan. Beberapa seren taun yang menarik untuk dikunjungi dan dilihat adalah seren taun di kasepuhan Ciptagelar, Sirnaresmi, Ciptamulya, Cicarucub, Cisitu, Cisungsang, Citorek dan Urug. Kuburan Keramat dan situs-situs masa lampau Selain situs Candi Cibedug dan Gunung Batu di TNGHS juga terdapat beberapa kuburan keramat dan situs-situs lainnya yang belum terungkap, bahkan ada yang berbentuk “batu berundak” seperti peninggalan masa-masa kerajaan dahulu. Walaupun terdapat di lokasi yang cukup sulit, sering orang berkunjung untuk berziarah seperti ke kuburan keramat di puncak Gunung Salak 1 dan ke lereng puncak Halimun Selatan. Beberapa lokasi situs lainnya seperti situs Genterbumi di kampung Pangguyangan, situs Ciawitali di Gunung Bodas dan situs Ciarca di kecamatan Cikakak, situs Girijaya di kecamatan Cidahu, Sukabumi, situs Cibalay di kecamatan Tenjolaya, situs Batu Kipas, Lewijamang di kecamatan Sukajaya, Bogor dan situs Gunung Bedil di kecamatan Cibeber, Lebak. Jika Anda ingin kembali ke Jakarta Anda dapat melalui jalur semula seperti hendak berangkat yaitu melalui Kabandungan-Parungkuda-Bogor-Jakarta atau melalui jalur menuju Leuwi liang yaitu Cibeber-Leuwi liang- Kota Bogor-Jakarta. Rutenya dari Citalahab menuju Cibeber, kembali kami menggunakan  jasa ojek. Jalur yang dilalui merupakan jalur off road dan sedikit jalan beraspal. Setelah tiba di Cibeber, Anda dapat menaiki angkot (angkutan kota)  menuju ke Leuwiliang – Bogor dan turun di pasar Leuwi Liang. Setelah tiba di sana, Anda kembali menyambung dengan menggunakan angkot 05 menuju ke terminal Bubulak. Setiba dari terminal Bubulak Anda harus menaiki angkot 03 jurusan Baranang siang – Bogor. Dari sini Anda dapat naik bus atau pun kereta menuju Jakarta.

Sumber : http://www.tnhalimun.go.id http://bicons.wordpress.com http://georgiatale.blogspot.com/2008/10/night-at-citalahab-village.html http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/taman-nasional-gunung-halimun-salak dan berbagai sumber lainnya. You might also like: SUKABUMI, The Next Tourism Destination Part 2 Pesantren Darussalam Gontor SUKABUMI, The Next Tourism Destination Part 1 LinkWithin

Read more at: http://cumikriting.blogspot.com/2012/01/taman-nasional-gunung-halimun-salak.html
Copyright cumikriting.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution

Sebuah Catatan Perjalanan ke : SITUS LEBAK SIBEDUG

http://humaspdg.wordpress.com/2010/04/16/lebak-sibedug-sebuah-catatan-perjalanan/


PANDEGLANG, Berawal dari sebuah obrolan kecil, saat menghadiri Pekan Seni dan Budaya di Bale Budaya Pandeglang, dengan seorang sahabat dari Komunitas Budaya Pandeglang dan Banten Heritage (Ajie Queen), pembicaraan berlanjut membahas pengalaman perjalanan dirinya bersama-sama kawan-kawannya saat membuat  Film Dokumenter tentang keberadaan Situs Lebak Sibedug di Kabupaten Lebak. Dengan penuh “Semangat 45”.. hehe.. ia menunjukan photo-photo dokumentasi perjalanannya ke Lembah Sibedug, saya pun terpancing dan penasaran ada apa gerangan di tempat tersebut.

Akhirnya, saya coba hubungi kawan lain (Mang Anyunk) yang kebetulan satu rekan tim dengan Kang Ajie, berharap catatan perjalanannya masih tersimpan. Dan “great” ternyata catatan perjalanannya masih tersimpan walau sudah berbentuk file Bulletin Digital. Berikut ini adalah catatan perjalanan Tim ini menuju kawasan Lebak Sibedug.

Lebak Cibedug : Sebuah Catatan Perjalanan

Sejumlah orang yang penulis tanya mengenai Cibedug hampir semua balik bertanya dimanakah Cibedug?

Lebak Sibedug adalah nama sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keterkenalan kampung ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan sisa peninggalan zaman megalitik berupa menhir dan punden berundak yang berada dalam satu kompleks yang kini diisolasi dan dinamai situs Lebak Cibedug.

Kesempatan untuk berkunjung ke sana akhirnya datang saat penulis meliput kegiatan pembuatan film dokumenter tentang situs tersebut. Meskipun berada di wilayah Kecamatan Cibeber, namun rute menuju Cibedug ternyata lebih enak ditempuh melalui jalur Pandeglang – Rangkasbitung – Cipanas – Citorek – Cibedug, dibanding menempuh jalur Pandeglang – Bayah – Cibeber – Citorek – Cibedug. Jika dibandingkan dalam hitungan jarak dari Pandeglang, maka rute pertama ini berjarak ± 80 Km sedangkan rute kedua berjarak 2 kali lipatnya. Menghadapi pilihan ini tentu saja kami memilih rute pertama.

Menggunakan 2 buah mobil, kami berangkat kala mentari baru saja menyembul di ufuk timur. Udara pagi Pandeglang yang dingin bersih menerobos masuk jendela pintu mobil yang kami buka lebar. Segar. Begitu pun yang kami rasakan ketika mobil telah berada di rute menuju Cipanas.

Jalanan mulai terasa tidak nyaman ketika kami mulai masuk ke rute perbukitan Cipanas – Citorek. Namun rerimbunan hutan yang tampak hijau yang kadang diselingi oleh areal persawahan luas dalam suasana pedesaan di sepanjang jalanan menuju Cipanas membawa kami pada nuansa yang tidak akan kami peroleh jika berada di kota.

Setelah hampir tiga jam berada di mobil, kami tiba di Desa Citorek Barat. Kami berhenti dan mulai menurunkan ransel serta barang bawaan lainnya. Setelah menitipkan mobil pada penduduk dan mengambil beberapa stock shot kami mulai menyeberangi jembatan gantung pertanda dimulainya rute terberat menuju Cibedug.

Jarak dari Citorek ke Cibedug sebenarnya dekat, sekitar 9 Km. Namun karena Cibedug berada di balik perbukitan, maka rute jalan kaki ini kami rasakan berat. Melewati kebun kebun tradisional , menyusur pematang sawah, dan menerobos hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun kami terseok-seok memanggul barang-barang. Sesekali kami mengaso sambil menikmati pemandangan dari atas bukit, menikmati suara kolecer, menyapa penduduk yang berpapasan, memandangi gagahnya elang yang terbang berkeliling mencari mangsa sambil mereguk nira segar yang kami peroleh dari petani yang baru saja memanennya.

Setelah menempuh kurang lebih dua pertiga perjalanan, kami akhirnya sampai di puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon besar. Tak jauh dari situ terdapat sebuah situ (danau). Danau di puncak bukit? Nyatanya memang ada.Andai saja d anau itu ditata rapi dan tidak dipenuhi gulma, tentu danau itu akan menjadi pesona tersendiri pengobat kelelahan yang kami rasakan. Namun kami tetap dapat menikmati keeksotikannya, terlebih saat serangga hutan dan binatang lain yang saling bersahutan terdengar bagaikan alunan ragam instrumen orkestra yang harmonis. Di tempat itu kami kembali mengambil beberapa adegan.

Jalur yang kami tempuh setelah danau itu adalah jalan setapak yang menurun. Gerimis yang turun ketika kami beranjak dari danau membuat kami harus menghadapi licinnya jalan setapak menuju Cibedug. Tinggal beberapa saat lagi, namun karena kami tidak ingin terpeleset, sekali lagi kami harus berjalan lambat.

Ketika lamat-lamat kami dengar suara anak kecil dikejauhan rombongan pun tersenyum karena akhirnya kami sampai di Cibedug. Lingkungan situs Lebak Cibedug menjadi gerbang pertama ke perkampungan. Terletak di sisi sebelah kiri jalan, situs itu tampak asri dan cukup terawat. Umar, kontak kami, yang datang menyongsong segera menyilakan kami beristirahat di pondoknya. Keramahan yang ditawarkannya membuat kami nyaman beristirahat.

Umar yang telah paham maksud kedatangan kami rupanya telah mengagendakan pertemuan kami dengan kasepuhan yang menjadi pemimpin disana. Selepas magrib, kami pun berkesempatan bertatap muka dengan kasepuhan dimaksud. Rupanya beliau sekeluarga telah bersiap menyambut sehingga ketika kami masuk ke pondoknya, mereka telah tampak berkumpul dan segera menyilakan kami untuk duduk. Kopi panas yang diberi pemanis gula kawung sedikit mengobati dinginnya udara yang kami rasakan. Pak Umar ter senyum mengerti dan membuka percakapan. Kami sampaikan maksud kedatangan kami padanya dengan tak lupa memperkenalkan masing-masing anggota rombongan.

Esok harinya, dengan dipandu langsung oleh Kasepuhan, kami memulai aktivitas utama kami di lokasi situs. Situs yang menjadi obyek film kami memang menakjubkan. Situs ini secara geografis terletak di lereng Pasir Manggu dengan luas areal sekitar 2 hektar. Secara garis besar situs memperlihatkan suatu kompleks bangunan yang terdiri atas 3 bagian halaman, dengan pembagian halaman yang semakin meninggi dari sisi sebelah timur ke barat. Halaman pertama merupakan bagian sebelah timur dan merupakan bagian ruang yang paling rendah dibandingkan dengan halaman kedua dan ketiga. Halaman kedua terletak di bagian tengah, dan halaman ketiga yang merupakan bagian inti terletak di bagian paling barat dan merupakan bagian halaman yang paling tinggi.

Pintu masuk menuju kompleks bangunan ini terletak di sebelah barat, bersisian langsung dengan aliran Kali Cibedug. Jalan masuk ke situs Lebak Cibedug melalui tangga yang terbuat dari susunan batu andesit dan bongkahan batu lempung yang terdiri dari 33 anak tangga. Pada bagian tengah pintu masuk terdapat menhir dengan ukuran besar dalam posisi tegak. Menhir ini adalah satu-satunya menhir terbesar dibandingkan dengan beberapa temuan menhir lainnya yang terdapat di situs ini. Ukuran tinggi menhir adalah 236 sentimeter dengan diameter 336 sentimeter.

Berdasarkan pengamatan bentuk bangunan secara keseluruhan, tampak bahwa kompleks megalitik Lebak Cibeduk merupakan perpaduan bentuk bangun batur-batur punden yang kadangkala dilengkapi dengan menhir, batu datar, dan batu kursi dengan punden berundak sebagai bagian yang paling sacral.

Berdasarkan informasi pustaka disebutkan bahwa tinggalan bangunan megalitik yang tersebar di kawasan Lebak Cibeduk secara lokasional semua tinggalan didirikan tidak jauh dari aliran sungai. Bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun bangunan megalitik baik berupa bangunan berundak atau batur punden yang disebut masyarakat lokal dengan isitilah batu tukuh yang hampir semuanya menggunakan dua jenis batuan yaitu batu andesit dan tufa yang berbentuk bongkahan. Kedua jenis bahan batuan itu terdapat pada aliran sungai yang berada tidak jauh dari situs. Para peneliti menarik kesimpulan bahwa bahan untuk pendirian bangunan-bangunan megalitik yang banyak ditemukan di kawasan Lebak Cibeduk diperoleh dari bongkahan-bongkahan yang tersingkap di aliran-aliran sungai yang ada disekitar situs.

Hari-hari kami habiskan di Cibedug tanpa sinyal ponsel. Pun jangan berharap dapat santai menonton acara di stasiun televisi karena meskipun terdapat aliran listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tradisional, alirannya tak dapat memasok listrik yang dibutuhkan peralatan besar seperti televisi. Walau begitu, kami sangat menikmati suasana di sana. (*)

——————————————-

PROFIL LEBAK SIBEDUG

Berikut ini adalah Profil Situs Lebak Sibedug yang saya kutip dari :wisatalebak.awardspace.com dan http://www.bantenculturetourism.com.Mari kita lestarikan kekayaan Budaya Banten….

Secara geografis Desa Citorek Kecamatan Cibeber di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Muncang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bayah, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Panggarangan dan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Sedangkan, lokasi Situs Lebak Sibedug menempati areal seluas kurang lebih 2 Ha terletak di lereng Gunung Pasir Manggu dengan orientasi Situs Timur – Barat yang berbatasan di sebelah Utara dengan Kali Cibedug, di sebelah Timur dengan Gunung Pasir Manggu, di sebelah Selatan dengan Kali Cibedug dan di sebelah Barat dengan Kali Cibedug dan Dusun Cibedug

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu :

  • Rangkasbitung – Citorek melalui Kec. Cipanas – Ciparasi Kec. Muncang kurang lebih 50 km dan berjalan kaki sekitar 12 km.
  • Rangkasbitung – Cikotok – Warungbanten – Citorek Kec. Cibeber melalui Malingping – Bayah sekitar 170 km dan berjalan kaki sekitar 12 km.

Secara umum dilingkungan Situs tersebut beriklim tropis penghujan dengan curah hujan rata – rata 4.000 – 6.000 mm / tahun dengan suhu berkisar 18º Celcius.

Masyarakat Dusun Sibedug Desa Citorek Kec. Cibeber mayoritas beragama Islam, namun adat istiadat yang berhubungan dengan religi dari zaman Pra Islam masih nampak melalui pemujaan berkaitan dengan masalah bercocok tanam.

Dalam kaitannya dengan kepercayaan atau mitos masyarakat sekarang, komplek bangunan di Situs Lebak Sibedug deanggap sebagai suatu bangunan kuno peninggalan nenek moyang yang sangat dikeramatkan, khususnya yang berkaitan dengan masalah kesuburan dalam bercocok tanam dan pelepasan nadar (permohonan sesuatu).

Masyarakat setempat masih memegang teguh memegang adat istiadat yang diwariskan leluhur mereka dan diyakini bahwa arwah leluhur sebagai penghunu alam gaib yang mengendalikan kehidupan. Hal ini terlihat dari tata cara mereka memonon restu kepada leluhur sebelum penanaman padi dilaksanakan agar diberikan hasil panen yang melimpah atau dijauhkan dari hama penyakit.

Pelepasan nadar (permohonan sesuatu) yang berhubungan dengan nasib dan keberuntungan dilakukan oleh masyarakat melalui suatu upacara kecil (selamatan) yang dilaksanakan didalam salah satu halaman komplek bangunan Situs pada bagian susunan kelompok menhir yang diberi pagar dan atap.

Komplek bangunan Situs merupakan salah satu Monumen Tradisi Megalitik (Mega = besar, lithos = batu) dari masa Pra Hindu. Kompek bangunan pemujaan (keagamaan) ini dilihat secara umum berbentuk Punden Berundak (bangunan utama) dengan disertai beberapa menhir dan dolmen dalam pola mengelompok maupun tunggal.

Jenis bahan dasar Situs Lebak Sibedug menggunakan batuan Andesit yang cukup banyak dijumpai disekitar Situs yang terjadi sebagai akibat dari magma yang keluar dari perut bumi ketika terjadinya letusan gunung api yang menghasilkan 3 jenis batuan, yakni :

  • Krekel Silika (Bom) tersiri dari Obsidian, Opal dan Panitik
  • Tufa Andesit (debu gunung)
  • Flow Andesit / Andesit leleh (lahar) yang kemudian menjadi batuan Andesit setelah membeku (batuan beku)

Jalan masuk menuju Situs dari arah Barat melewati Trap (tangga masuk) sebanyak 33 tingkatan, pada bagian pintu masuk terdapat sebuah menhir berukuran besar dalam posisi tegak berdiri dan merupakan menhir yang terbesar dengan ukuran tinggi 235 cm dan berdiameter 336 cm.

Dilihat dari fungsi letak menhir ini, kemungkinan dimaksudkan sebagai penjaga / pelindung dimana bagian dalam Situs dibagi atas 3 bagian, yaitu :

Bagian Depan

  • Bagian depan bebentuk persegi panjang dengan menggunakan batuan Andesit sebagai bahan utamanya. Penataannya hanya menggunakan 2 lapis susunan batu dengan ukuran panjang 582 cm dengan lebar 395 cm.
  • Bagian depan ini, terdapat semacam teras yang menyatu dengan ruang utama bagian depan berukuran panjang 105 cm, lebar 104 cm terletak ke Utara sebelah kiri tangga masuk dan dibagian ini pula terdapat menhir roboh.

Bagian Tengah

  • Antara bagian depan dan bagian tengah dibatasi oleh gundukan tanah memanjang dari Utara ke Selatan dengan ukuran panjang 19,5 m dan tinggi gundukan tanah 1,30 m.
  • Untuk masuk kebagian ini melewati trap bersusun 3 dengan lebar 140 cm memotong gundukan tanah, sebelah kiri dan kanan bagian atas trap terdapat 2 menhir dalam posisi roboh.
  • Menhir sebelah kanan trap (tangga) panjangnya 118 cm berdiameter 117 cm dan menhir sebelah kiri trap (tangga) panjangnya 135 cm dan berdiameter 112 cm.

Dalam bagian tengah ini terdapat susunan batuan Andesit berbentuk segi empat dapat dibagi dalam 2 bagian :

  • Merupakan susunan batuan Andesit yang belum dipahat membentuk persegi empat, tersusun satu tingkat dengan ukuran panjang 382 cm dan lebar 380 cm.
  • Merupakan susunan batuan Andesit yang belum dibentuk oleh tangan manusia berbentuk persegi empat panjang, terdiri dari 3 tingkatan dengan ukuran :
    • Undakan I : Panjang = 1.445 cm ; Lebar = 864 cm
    • Undakan II : Panjang = 1.157 cm ; Lebar = 597 cm
    • Undakan III : Panjang = 171 cm ; Lebar = 161 cm

Bagian sisi kiri arah Selatan, terdapat susunan batu berbentu segi empat dimana setiap sisinya terdapat 4 buah menhir. Oleh masyarakat setempat dianggap keramat sehingga atas inisiatif mereka dibuatkan cungkup dan pagar pengaman terutam menhir yang terletak dibagian depan sisi kiri.

Keempat menhir tersebut, 3 diantaranya berbentuk bulat dalam posisi berdiri tegak sedangkan lainnya berbentuk persegi empat dalam posisi miring kearah barat.

Bagian Inti

Terletak dibagian belakang kearah Tenggara berbatasan dengan Kali Sibedug tersiri atas 3 bagian, yaitu :

Bagian depan (pelataran) merupakan susunan batu Andesit berbentuk persegi panjang dan memiliki 5 undakan. Dibagian kiri terdapat 5 buah menhir, 4 buah dalam posisi berdiri dan satu lainnya dalam posisi roboh.

Dibagian tengah sebelah Barat terdapat trap jalan menuju kepuncak berukuran 180 cm. Undakan berbentuk persegi empat berukuran panjang 11 m dan lebar 33,1 m.

Bagian tengah punden, terdiri dari 5 tingkatan (undak). Jalan menuju kebagian atas bangunan undakan tengah dapat dilalui dari 2 arah yaitu arah Barat dan arah Utara.

Dipuncak bangunan bagian tengah terdapat 3 buah menhir, 2 diantaranya roboh dan 1 berdiri dalam posisi agak miring ke Utara dan dolmen berjumlah 2 buah. 1 buah dolmen terletak ditengah dalam susunan batu yang berbentuk persegi empat panjang dan 1 buah dolmen terletak didepan menhir.

Tiap undakan memiliki :

  • Undakan I : Panjang = 43,6 m ; Lebar = 33,1 m
  • Undakan II : Panjang = 41,3 m ; Lebar = 30,8 m
  • Undakan III : Panjang = 34 m ; Lebar = 28,5 m
  • Undakan IV : Panjang = 34 m ; Lebar = 23,5 m
  • Undakan V : Panjang = 10 m ; Lebar = 23,5 m

Bagian atas (inti) merupakan susunan batu Andesit berbentuk persegi panjang memiliki 7 undakan, tiap undakan memiliki ukuran :

  • Undakan I : Panjang = 18 m ; Lebar = 18,3 m
  • Undakan II : Panjang = 16,3 m ; Lebar = 15,3 m
  • Undakan III : Panjang = 14 m ; Lebar = 13 m
  • Undakan IV : Panjang = 12 m ; Lebar = 11 m
  • Undakan V : Panjang = 9,5 m ; Lebar = 9 m
  • Undakan VI : Panjang = 7,4 m ; Lebar = 6,5 m
  • Undakan VII : Panjang = 5,3 m; Lebar = 4,4 m
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.978 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: