Tinggalkan komentar

WAWACAN JAKA ULA JAKA ULI SEBAGAI KARYA SASTRA TASAWUF SUNDA

LAPORAN PENELITIAN WAWACAN JAKA ULA JAKA ULI SEBAGAI KARYA SASTRA TASAWUF SUNDA

Oleh : Kalsum I

by David Riksa Buana on Thursday, February 2, 2012 at 7:21pm

PRAKATA

Wawacan Jaka Ula Jaka Uli sebagai Karya Sastra Tasawuf Sunda.

Wawacan inimerupakan judul mula yang kemudian dalam perjalanan transmisi   ( penyalinan ) berjudul Wawacan Jasadiah, Wawacan Muslimin Muslimat, Layang Muslimin Muslimat yang sudah dicetak.

Tentu dalam perjalanannya mengalami perombakan besar – besaran, tentu sangat perlu memunculkan bagaimana isi dalam tipe mula, karena dalam perjalanan keagamaan terjadi pelesapan hal – hal yang penting, umpamanya mengenai Sifat Dua Puluh Tuhan.

Makalah ini relatif membahas secara keseluruhan yang bersumber dari teks tipe mula.

Tulisan ini diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan Sunda Dangiang yang didukung oleh The Japan Foundation pada judul Lonceng Kematian Bahasa Sunda Edisi H I / 2002.

Bandung, 10 Agustus 2008

Wawacan Jaka Ula Jaka Ul iSebagai Karya Sastra Tasawuf Sunda

Kalsum

PENGANUT agama Islam yang hidup beberapa abad setelah masuknya Islam ke Nusantara mungkin tak dapat membayangkan bagaimana keberadaan Islam di Nusantara, awal Islamisasi, dan perkembangannya kemudian sampai ke zaman yang dapat kita saksikan sekarang ini.

Dalam rentang yang cukup panjang tersebut ada sejumlah nilai keagamaan yang hilang, dan tidak mustahil pula muncul nilai – nilai baru.

Naskah merupakan dokumentasi yang penting dalam rangka penelusuran hal ini, dan merupakan jendela untuk melihat serpihan – serpihan masa lampau.

“ Pada hakikatnya tidak ada peninggalan suatu bangsa yang lebih memadai untuk keperluan peneliti sejarah dan kebudayaan daripada kesaksian tertulis, terutama bila kesaksian tangan pertama, yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan dalam masa hidupnya sendiri ”  ( Soebadio, 1991:1 ).

Agama Islam yang masuk ke Nusantara pada awal Islamisasi mengandung tasawuf ( Baried,1985; Kartodirjo, IW2 : 35 ; Saksono, 1996 :1 ).

Karya – karya snstrn Insnwvif tcrschar I mis di Nusan Uira ( Uarusupr.ipta, dkk.; 1990; [ Jimrd, 19H5 ; Hadi, 1995 ; Hederanie, t.t.: 45; Lubis,1996; Zahari ( ed. ), 1997 ; Bruinessen, 1995; Yunus, 1995 ).

Wawacan Jaka Ula Jaka Uli ( kemudian disingkat WJU ) adalah sebuah karya sastra tasawuf Sunda yang tertulis. Setelah mengalami transmission ( penyalinan / penurunan ) teksberulang – ulang, kemudian judul naskah pun mengalami modifikasi menjadi Wawacan Muslimin Muslimat ( disingkat WMM ), judul yang dikenal oleh masyarakat. Kemudian muncul lagi dengan judul Layang Muslimin Muslimat ( disingkat LMM ) dalam bentuk cetakan, dengan tertera “ nama pengarang ” Asep Martawidjaja, penduduk Pataruman Garut yang meninggal pada 1930.

Ternyata WUJ, WMM dan LMM merupakan varian teks yang berasal dari naskah otograf ( naskah asli yang ditulis oleh pengarang ) yang sama.

Teks yangmemiliki bentuk muka, yaitu teks yang tertulis dalam naskah yang berjudul WJU.

Naskah WJU dan WMM ditemukan di daerah seputar Kabupaten Bandung.

Menurut berita, naskah WMM terdapat pula di daerah Ciamis dan Cirebon.

LMM penyebarannya lebih luas lagi.

Dalam buku LMM terdapat keterangan bahwa buku tersebut digunakan untuk pegangan ikhwan tarekat Hakmaliyah.

WJU merupakan sastra kitab yang sepenuhnya menyajikan ajaran.

Adanya unsur cerita dalam WJU hanyalah sarana untuk menyajikan ajaran.

Intisari cerita WJU adalah

sebagai berikut :

Tersebutlah sebuah negara bernama Raga taya.

Pemegang tahta kerajaanbernama Raden Howasul Howas dengan permaisuri bernama Nyi Raden Sareat, Nyi Raden Tarikaton, Nyi Raden Hakekat, dan Nyi Raden Maripat.

Patihnya bernama Raden Batara Suria Katon dan Raden Wulanyata.

Kedua patih tersebut masih saudara raja.

Raja memilikidua orang putra yang sangat tampan bernama Raden Jaka Ula dan Raden Jaka Uli ( dalam WMM dan LMM bernama Raden Muslimin dan Raden Muslimat ).

Raden Jaka Ula dan Raden Jaka Uli inilah yang bertanya jawab tentang ajaran.

Teknik tanya jawab inilah yang merupakan ciri dari karya sastra tasawuf Nusantara ( Pigeaud dalam Darusuprapto, dkk.; 1990; 2 ).

Judul – judul karya tasawuf lainnya yang menggunakan teknik tanya jawab dalam khasanah kesusastraan Sunda antara lain Wawacan Buana Wisesa, Wawacan Pulan Palin, WawacanGanda Sari dan Wawacan Dua Pandita / Pandita Sawang.

Nama – nama yang digunakan dalam WJU dimuati makna – makna pendukung terhadapajaran.

Misalnya Nagri Raga Taya berasal dari kata raga, yang berarti ‘raga / badan’ dan taya berarti ‘tidak ada’.

Raga Taya dalam konteks ini mengandung makna bahwa “ raga yang tampak “ ini pada hakikatnya bersifat tidak ada tak berwujud / fana / ada hawadis ( memiliki sifat baru / ciptaan Tuhan ).

WJU membahas wujud / ada hakiki yang bersifat kekal dan gaib dan wujud / ada – hawadis yang fana.

Jadi Raga Taya dalam pengertian yang lebih luas lagi yaitu bahwa dunia yang tampak / yang dapat diindra ini merupakan “ada hawadis” yang keberadaannya tidak kekal dan sesungguhnya tidak ada.

Nama Raden Howasul Howas ( dalam WMM dan LMM bernama Raden Prebu Jasadiah ) pengertian Jasadiah senada dengan pengertian raga taya ) berasal dari khawwashul khawwas yang memiliki makna manusia paling istimewa yang memiliki tingkatan keimanan yang tinggi.

Secara keseluruhan WJU menyajikan pembahasan tentang insan kamil ( manusia yangsempurna ) dan fa mil mufamil ( manusia paling sempurna ).

Jadi, nama Howasul Howas berfungsi sebagai foreshadowing untuk mengantar ke arah pembahasan masalah tentang manusia sempurna.

Nama Nyi Raden Ratna Atiyah berasal dari kata ratna, istilah dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘permata’.

Sedangkan Atiyah dari kata ati, yang berarti ‘hati’.

Penambahan ‘yah’ terhadap kata ‘ati’ menimbulkan efek istilah bahasa Sunda, dan merupakan kela – ziman penamaan dalam konvensi masyarakat Sunda.

Hati merupakan objek yang paling penting dalam tasawuf ( Al – Ghazzali dalam Musthofa ( ed.), tt : 3 Kalabazdi, 1980 :1; Aboebakar Aceh, 1995:15 ).

Nama – nama pengiring permaisuri yaitu Sareat, Hakekat,Tarikaton dan Marifat, merupakan arahan kepada istilah sareat, hakikat, tarikat dan marifat, yang merupakan peringkat peribadatan dalam agama Islam yang selalu disebut – sebut dalampembahasan karya – karya tasawuf.

Nama Ula dan Uli rupanya bernuansa Sunda.

Pada masa lampau penggunaan julukan / nama masih menggunakan nama – nama Nusantara.

Sebagai contoh pemeluk Islam pertama pada abad ke – 14 adalah Haji Purwa.

Julukan kepada Susuhunan Gunung Jati pada abad ke – 15, adalah Ratu Pandita ( Kosoh, 1979: Bab IV ).

Hal semacam ini terdapat pula pada Wawacan Gandasari yang diperkirakan digubah orang pada awal Islamisasi karena terdapat perilaku Islam yang paling mendasar, sebagaimana tersampaikan lewat ungkapan dasar kudu nyaho kana sahadat ( harus tahu sahadat ).

Di dalamnya terdapat nama Kiai Sabda Laksana.

Begitu pula istilah – istilah keagamaan banyak menggunakan istilah lokal seperti dalam WJU.

Adapun kata ‘ ula ’ dalam bahasa Sunda masa kini masih ada pada kata kaula / kawula ( pronomina persona pertama ). Dikaulaan / dikawulaan berarti dilayani, pangawulaan berarti orang yang diabdi / dilayani.

‘ Dilayani ’ bersinonim dongan ‘ diabdi’.

Ground penanda persona pertama dalam bahasa Nusantara memiliki makna ‘ abdi ’, semisal ‘kaula’, ‘abdi’ ( bahasa Sunda halus ).

‘hamba’, ‘saya’ / ’sahaya’, ‘nghulun’ ( bahasa Jawa Kuna, masih digunakandalam bahasa Banjarmasin ‘ulun’ ). Dalam bahasa Sunda, kata ‘ulun’ terdapat dalam cranberry morphem ‘ulun kumawula’ yang berarti ‘mengabdi’.

Kata ‘ulun’ kemungkinan besar memiliki makna yang selaras dengan ‘kumawula’ yang berarti mengabdi seperti halnya pengertian selaras pada struktur makna cranberry morphem lainnya, ‘mere maweh’ yang berarti memberi ( ‘mere’ berati memberi, ‘maweh’ ( bahasa Jawa Kuna ) dari morfem dasar‘weh’ yang berarti memberi ), ‘sabar darana’ ( dharana Sanskerta berarti ke ( sabar ) an ).

Jika dianalogikan dengan keterangan tersebut, kata ‘ula’ kemungkinan besar bermakna ‘abdi’ atau ‘hamba’.

Dalam WJU Jaka Ula adalah figur insan kamil ( manusia sempurna ) dalam menghamba Tuhan.

Jadi, ula secara tersirat bermakna ‘abdi Tulum’.

Sedangkan ‘uli’ hanyalah Variasi vokal dari ‘ula’.

Hal seperti itu terdapat pula dalam wawacan tasawuf lainnya antara lain Wawacan Pulan Palin.

Tokoh wawacan ini kakak beradik bernama Raden Pulan dan Raden Palin, Pulan diperkirakan dari bahasa Arab fulan, untuk menyebut seseorang.

Raden Muslimin dan Raden Muslimat sebagai nama tokoh dalam WMM dan LMM menampakkan kerancuan.

Kata ‘muslimin’ dan ‘muslimat’ dalam bahasa Arab, yaitu muslimin ( jenis maskulin jamak ) berarti para muslim ( pria ) dan muslimat ( jenis feminim jamak ) berarti para muslimah ( wanita ).

Aneh – nya, dalam karya tersebut, Raden Muslimat seorang laki – laki bukan perempuan, seperti terdapat pada naskah WMM : Sarta eta Kanjeng Gusti, geus kagungan duwa putra, pameget sami karasep, kacatur jenenganana, Raden Muslimin cikalnya ari jenengan nu bungsu nelah Raden Muslimat ( Dan Sang Raja, memiliki putra dua orang, keduanya pria tampan, putra sulung Raden Muslimin dan nama putrabungsunya, Raden Muslimat ).

Jadi, judul teks yang pertama muncul adalah Wawacan Jaka Ula Jaka Uli yang sesuai dengan nama tokoh.

Setelah nilai – nilai keagamaan makin mantap dirasakan oleh masyarakat, judul tersebut tidak cocok lagi, dan kemudian muncul Wawacan Muslimin Muslimat serta nama tokoh dalam teks diubah pula walaupun di antara petanda penanda terjadi kerancuan.

Ajaran dalam WJU sekarang ini tidak diketahui lagi oleh masyarakat Sunda secara luas.

Buktinya, pemahaman masyarakat terhadap ajaran yang terdapat dalam WJU hanya sebagian saja ( tidak lengkap ). Contohnya, “sifat dua puluh” Tuhan pada tahun 1950 – an masih diajarkan di madrasah – madrasah, namun tidak diterangkan bahwa “sifat dua puluh” itu diemanasi juga pada manusia selaku khalifah Allah.

WJU dan naskah – naskah tasawuf lainnya secara umum sangat sulit dipahami.

Ada tiga hal yang menyebabkan kesulitan pemahaman.

Pertama, materi yang disajikan cukuprumit : karya – karya tasawuf menyajikan realitas ke – Tuhan – an sehingga untuk memahaminya perlu mempersiapkan diri dengan karya – karya tasawuf Sunda lainnya, tasawuf Nusantara dan tasawuf dunia.

Karya tasawuf mengemukakan aspek batiniah yang sering kali tidak cukup terutarakan dalam bahasa verbal, seperti yang dikemukakan juga oleh penyair Rusia Tyutcev bahwa “pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan” ( Zoest, 1990:1 ).

Kedua, bahasadalam karya tasawuf menggunakan istilah – istilah khusus.

Ketiga, kesenjangan antara penulisan dan pemahaman terlalu jauh.

Oleh karena itu, ajaran tasawuf ini sekarang tidak dipahami lagi oleh masyarakat luas dan hal yang bersifat keseharian dari zamannya tidak diterangkan secara panjang lebar.

Selain itu hal yang bersifat keseharian pada zaman karya ini digunakan sekarang sudah banyak ditinggalkan.

Karya Seni dan Tasawuf

Secara inherent WJU memiliki dua dimensi yang sifatnya berlawanan.

Di satu pihak terdapat dimensi seni yang bercirikan kreativitas bebas.

Di pihak lain terdapat ajaran yangbersifat ketat dan pasti.

Wawacan terkait pada dua buah bentuk seni : seni sastra dan seni suara.

Karena wadah yang dipilihnya berbentuk seni, walaupun merupakan sebuah ajaran WJU dikemas dalam bahasa artificial, tunduk kepada stilistika yang berada dalam wilayah seni.

Pada zaman lampau kehidupan beragama dengan kehidupan kesenian berjalan secaraber dampingan.

Gejala ini bukan hanya berkembang di daerah Sunda melainkan juga meratadi seluruh Nusantara.

Islam sangat berperan menentukan corak kesusastraan Melayu selama periode abad ke – 17 hingga abad ke – 19 ( Braginsky, 1993 : Chapter 1 ) sebagaimana yang terlihat dari syair – syair gubahan Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri hidup pada pertengahan abad ke – 16 ( Abdul Hadi : 1995 ).

Gubahan nilai – nilai keislaman juga terdapat dalam bentuk gurindam karya Raja AH Haji atau Saraba Ampat gubahan Datuk Sanggul dari Kalimantan pada abad ke – 18 ( Haderanie: t.t. ).

Begitu eratnya hubungan antara agama dan seni pada masalampau sehingga sulit menenrukan apakah yang kita hadapi adalah ajaran agama yang disajikan dalam bentuk kesenian, ataukah kesenian yang dimuali oleh ajaran agama.

Sisa – sisa masa lampau seperti itu yang masih tampak pada masa kini antara lain berupa lantunan ‘pupujian’ di mesjid -mesjid ketika menanti tibanya saat sembahyang fardu dan kesenian nyalawat / nidat.

Pada zaman modern pun muncul kreativitas untuk menggelar ajaran Islam dalam bentuk tembang, seperti yang diprakarsai oleh R. Hidayat Suryalaga yang mengubah saritilawah Al – Quran dalam bentuk tembang Sunda.

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi masyarakat masa lampau mengaitkan seni sastra dengan agama atau sebaliknya.

Sebelum periode Islam, di Nusantara telah berkembang sastra kekawin, bentuk puisi tertulis Nusantara yang tertua. Penulisan kekawin dimotivasi oleh kegiatan agama.

Menurul Zoetmulder ( dalam Partini, 1984: 8 ), seorang kawi adalah aservant of beauty ( abdi keindahan ).

Dan bukan sembarang keindahan, melainkan keindahan dalam arti yang agung dan dalam, yang dihubungkan dan terjalin dengan kehidupan keagamaan.

Perkembangan sejarah sastra, seperti aliran air, ada di antara ketegangan antara konvensi dan inovasi ( Teeuw, 1983 ). Jadi, bagaimanapun kondisi karya sastra pada zaman tertentu tidak terlepas dari karya – karya sastra sebelumnya. Dengan demikian dapat dimengerti jika ditilik dari latar belakang sejarahnya karya keagamaan Islam lahir dalam bentuk seni sastra.

Di daerah Jawa Barat, bentuk kekawin tidak ditemukan.

Karya ajaran dalam bentuk sastra sebelum Islam adalah naskah – naskah Ciburuy semisal Sewaka Darma ( Partini, dkk.; 1987 ).

Ada golongan Islam yang memberi kelonggaran terhadap kegiatan kesenian, antara lain Imam Al – Ghazali dan Imam Abu Daud Azh – Zhahiri.

Imam Al – Ghazali mengemukakan dalil tentang diperbolehkannya menyanyi, yang antara lain bersumber dari firman Allah Ta’ala “… dan lunakkanlah suaramu.

Sesungguhnya seburuk – buruk suara adalah bunyi keledai ” ( Luqman: 19 ).

Selain itu ada hadis – hadis yang membolehkan tarik suara, seni musik dan tarian ( Abdurrahman Al – Baghdadi, 1955:33-38 ).

Di wilayah Arab, ada tradisi penulisan ilmu tasawuf dalam puisi seperti yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi, penyair tasawuf yang lahir tahun 1207 di Balkh ( Nicholson, 1993 ).

Dengan gambaran tersebut, tradisi, hukum Islam dan inovasi ( dalam hal ini yaitu Islamisasi ) memberikan keleluasaan untuk menghadirkan ajaran Islam dalam bentuk gubahan sastra.

Popularitas bentuk wawacan pada masanya terbukti dari jumlahnya yang sangat banyak.

Wawacan merupakan pengaruh karya sastra Jawa yang masuk ke daerah Sunda mclalui alim ulama dan para bangsawan.

Periode perkembangan wawacan memberikan peluang bagi perkembangan karya sastra tulis Sunda untuk maju pesat, karena perkembangan wawacan bersamaan dengan perkembangan Islam.

Pada waktu penyebaran Islam, kegiatan keberaksaraan maju secara pesat.

Situasi ini ditunjang pula oleh lingkungan masyarakat p’enyebarnya yakni para bangsawan dan alim ulama.

“Pada masa penyebaran Islam,golongan bangsawan dan alim ulama merupakan masyarakat elit yang berpengaruh” ( Kosoh,dkk.; 1979 :98 ).

Kegiatan keberaksaraan, kegiatan bersastra dan proses Islamisasi tak bisadipisahkan satu sama lainnya, saling mendukung, sehingga perkembangan karya sastra tulis Sunda maju dengan pesat serta menghasilkan naskah – naskah wawacan berisi ajaran Islam,wawacan – wawacan bernafaskan Islam dan cerita – cerita wawacan yang dilatarbelakangi Islam.

Pada masa lampau rupanya pesantren menjadi pusat penciptaan dan pusat penyebaran wawacan.

Sisa – sisanya, sebagai contoh, terdapat di Bojonggenggong, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, tempat ditemukannya Wawacan Sejarah Nabi gubahan Ajengan Sukamiskin milik Pak Usah.

Menurut Ajengan Pesantren Al – Fatah dari Gunung Halu, Ajengan Ako dari Cijambu Gunung Halu selalu menyenandungkan wawacan tasawuf.

Dengan demikian, pada masa lain para ajengan mewarnai sendi kehidupan seni dengan keislaman dan menyampaikan ajaran Islam dengan kegiatan bersastra.

Kreativitas seni sastra di pesantren kini telah lenyap.

Pengurus Pesantren Sukamiskin pun ( tahun 1998 ) ketika ditemui tidak tahu – menahu lagi mengenai karya – karya yang telah dihasilkan oleh para pendahulunya.

Begitu pula keadaan di wilayah Pesantren Cileunyi, Cicalengka, Rancaekek yang memiliki sangat banyak pesantren.

Jadi, di antara periode WJU yang memadukan agama dengan seni dan kreativitas seni sekarang ini, seperti kreativitas R.Hidayat Suryalaga, telah terjadi kesenjangan ; sekarang ini adalah periode yang mengkotak – kotakkan secara ketat perilaku Islam dan seni.

Penyajian karya – karya tasawuf di Nusantara rupanya sangat berhati – hati dalam menggubah kembali suatu topik bahasan, secara cermat mereka menyadurnya seperti yang terdapat pada number penelitian ini.

Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara WJU dankarya lainnya.

1) Terdapat unsur kesamaan dengan Syair Saraba Ampat dari Kalimantan:

Allah jadikan saraba ampat Syariat Tharikat Hakikat Makrifat, Menjadi satu dalam khalwat Rasa nyamannya tiada tersurat

Dalam WJU, istilah peringkat perilaku peribadatan dalam agama tersebut diselipkan pada nama tokoh.

Rencangna anu kawarta

‘Pengiring yang termashur’

kapiasih aya opat

‘tercinta, ada empat’

hiji Nyi Raden Sareat

‘pertama Nyi Raden Sareat’

dua Nyi Raden Tarikatan

‘kedua Nyi Raden Tarikatan’

tilu Nyi Raden Harikat

‘ketiga Nyi Raden Harikat’

nu ka opatna kakocap

‘keempat tersebutlah’

Nyi Raden Ma’ripat

‘Nyi Raden Mari’pat

leuwih lucu

‘lebih lucu’( Catatan : Secara menyeluruh WJU tidak menaati patokan guru wilangan atau jumlah sukukata dalam setiap bait. Rupanya WMM dan LMM merupakan penyimpangan dari patokan guru wilangan ).

Dalam Saraba Ampat :

Api bayu tanah dan hawa itulah dia alam dunia menjadi awak berupa – rupa tulang sumsum daging dan darah

dalam WJU X 534 :

Asupna oge opat deui / ‘Masuk pun empat pula’

ka jerona tangtu opat / ‘ke dalam pun tentu empat’

enya jadi buktina oge / ‘begitulah buktinya

anu asal seuneu tea / ‘asal api’

nya hana getih beureum jadina / ‘ya, ada darah merah’

anu asal angin tangtu / ‘asal angin pun tentu’

nya getih koneng jadina / ‘ya darah kuning muncul

’Ari anu asalna bumi / ‘Adapun asal bumi’

nya getih hideung / jadina ‘darah hitam jadinya’

ari anu asal cai eta teh / ‘yang asalnya air’

nya getih bodas jadina / ‘itulah darah putih’

2) Dengan syair karya Hamzah Fansuri.

Dalam syair karya Hamzah Fansuri, di antaranya ada tamsil burung yang digunakan untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh di dalam mencapai kehakikian seperti contoh di bawah ini :

Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bait Allah akan sangkurannya Menghadap Tuhan dengan sopannya.

Dalam WJU, tamsil burung ( dengan istilah paks i) diguna – kan pula dalam rangka menggambarkan Munajat dan Tubadil / Tajalli, yang makna atau maksud sama dengan syair Hamzah Fansuri.

Minangkana mun manuk tea mah / ‘seumpamanya burung’

jangjangna baris diicis / ‘sayapnya akan direntangkan (?)’

ngarenggebeng duanana / ‘merentanglah keduanya’

dibeberkeun duanana samasakali / ‘dibeberkan keduanya sekaligus’

ngan lianteu dikiplik-kiplik / ‘hanya tidak digerakan’

eta ete lir ibarat kitu / ‘seperti itulah’

ari perkara Miroj / ‘adapun perkara Miroj’

geus gulung atina garuda paksi / ‘sudah bulat hati burung garuda’

istu buleud hanteu kagigir hanteu katukang

‘sungguh bulat tidaklah ke pinggi rataupun ke belakang

 

WJU/WMM / LMM membahas tentang ‘ada’. Pembahasan tentang ‘ada’ dimulai dengan pembahasan alam ( lihat uraian selanjutnya ).

Pembahasan tentang alam ini memperlihatkan kesamaan dengan karya – karya tasawuf Melayu, dengan istilah ‘martabat tujuh’.

‘Martabat tujuh’ dibahas pula pada kitab yang disusun Sayid Abdul Karim Ibnu Ibrohim al – Jaelani.

Insan Kamil dan Kami! Mukamil yang merupakan topik dari WJU dibahas pula oleh Abdul Karim al – Jili dengan judul Al -Insan al – Kamil. ( Burckhardt,19984:20 ; Haderanie, tt ).

Dalam tanya jawab “Jalan Kama’rifatan ka Allah Taala” ( yang terdapat pada uraian LMM ) dinyatakan bahwa ilmu itu berasal dari Nabi Muhammad SAW, Menurut Burckhadt ( 1984:17 ) para guru sufi memiliki mata rantai atau silsilah yang tidak terputus mulai dari Nabi Muhammad SAW.

Dengan bukti – bukti dan keterangan – keterangan yang dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa ajaran yang disampaikan dalam WJU tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki mata rantai dengan karya – karya ajaran tasawuf Sunda lainnya, karya – karya tasawuf Nusantara lainnya, dan ajaran tasawuf dunia

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.967 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: