WAWACAN BATARA RAMA : KAJIAN INTERTEKSTUALITAS
Oleh : Dr. Kalsum, M.Hum.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam masyarakat Sunda, kata ‘ Ramayana ’ telah disebut dalam naskah kuno Sanghiyang Siksa Kandang Karesian yang bertiti mangsa 1518 M, dalam penyebutan kisah – kisah yang beredar pada waktu itu.
Disebutnya kata ‘ Ramayana ’ pada naskah itu merupakan bukti bahwa ‘ Ramayana ’ dan sejumlah ceritera lainnya telah dikenal oleh orang Sunda pada kurun waktu tersebut
( Noorduyn, 1971 ).
Kisah Rama atau Ramayana pada tradisi tulis terdapat pada Pantun Ramayana
( selanjutnya disingkat PR ), PR merupakan sebutan dari Noorduyn, sehubungan bacaan bagian awal baik isi maupun bentuk bahasa menyerupai ceritera pantun.
Ceritera pantun adalah sastra lisan yang berkisah seputar kerajaan Galuh – Pakuan – Pajajaran tentang keluarga Prabu Siliwangi yang memiliki susunan pengisahan khusus.
Naskah PR tertulis pada lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna.
Salah satu keunikan dari PR yakni nama salah satu istri Dasamuka adalah Manondari yang mirip dengan Mandudari dalam Hikayat Seri Rama yang beredar di wilayah Melayu.
Kendati tradisi kisah Rama dalam PR terhenti, dalam beberapa folklore berbagai jenis musik Sunda yang beredar masa kini, nama Banondari ( Manondari dalam PR ) dikenali cukup akrab walau hanya kenangan namanya.
Diperkirakan kisah Rama PR dikenal baik oleh masyarakat Sunda Kuno.
Namun RAA Martanagara menggubah WBR ( Wawacan Batara Rama ) 33 bersumber pada Serat Rama
( kemudian disingkat SR ) berbahasa Jawa seperti dikemukakan di dalam kolofon WBR.
Ada hal menarik yang memunculkan pertanyaan, mengapa RAA Martanagara menggubah WBR dari SR tidak dari PR yang terdapat dalam khasanah pernaskahan Sunda.
Apabila dilihat dari sudut pandang beliau sebagai pengarang dan sikap hidup RAA Martanagara yang penuh perhatian terhadap ilmu pengetahuan ( Lihat Martanagara, 1922 ) kecil kemungkinannya tidak mengetahui hal – ikhwal PR.
Di dalam kolofon WBR ( Lihat edisi WBR nomor pada XM / 35 / 3026 ) dikemukakan bahwa kisah Sri Rama sangat terkenal di Pulau Jawa.
Keterangan itu merujuk pada pengertian bahwa pengarang mengetahui banyak tentang kisah Sri Rama.
Adapun RAA Martanagara menggubah kisah ini dari SR, diperkirakan keteladanannya – lah yang ingin dikedepankan dalam gubahannya ( Lihat nomor pada XM / 36 / 3027 ).
SR sebagai sumber gubahan WBR yang asal usulnya dari KR.
( Kekawin Ramayana ) secara mentradisi menyajikan ajaran ( Lihat keterangan selanjutnya ).
KR satu – satunya kakawin yang ditemukan di Jawa Tengah, karena kemudian tradisi penggubahan kakawin berpindah ke Jawa Timur ( Pradotokusumo, 1984: 2 ). KR ditulis orang kurang lebih abad ke – 9 ( Poerbatjaraka, 1952: 2; bdk Pigeaud, 1967: 176; Ikram, 1980: 2; bdk. Pradotokusumo, 2005 ).
Pada tahun 1934 Himansu Bhusan Sarkar menunjukkan kemiripan pada sebuah pupuh tertentu antara KR dengan Ravanavadha ( kematian Rahwana ) karangan Bhatti yang ditulis pada abad ke – 6 atau ke – 7 M yang dikenal sebagai Bhatti – Kavya.
Manomohan Gosh, meneruskan penelusuran ini, menunjukkan adanya kemiripan antara 34 keduanya sebanyak delapan bait ( Poerbatjaraka, 1952: 3; bdk Noorduyn, 1971: 151; Zoetmulder, edisi terjemahan 1983: 289 ).
Walaupun KR menunjukkan ada bagian yang mirip dengan Ramayana Bhatti – Kavya, namun dengan Ramayana Walmiki memiliki kesejajaran ceritera ( lihat Stutterheim, 1989: 3-15; lihat pula Lal, 1995 ).
KR kemudian mendapat sambutan dari masa ke masa.
Pada pergantian abad ke – 18 ke abad 19, Yasadipura menggubah kembali KR ke dalam Serat Rama Jarwa ( Teuuw, 1984: 216; Sudewa, 1989: 9 –10 ).
Karena adanya tradisi penyalinan, “pada khasanah naskah Jawa terdapat sejumlah judul yang mengisahkan tokoh Rama
( Girardet., Cs, 1983; bdk Hadisutjipto, 1985; Behrend ( ed ),1990: 382 – 396; Behrend & Titik Pudjiastuti, 1997: 287 – 292 ).
Melihat rentang waktu yang sangat jauh antara penggubahan KR dengan penjarwaannya pada abad ke – 18 – 19 sangat kecil kemungkinannya, Yasadipura menggubah Serat Rama ( kemudian disingkat SR ) dari KR.
Salah satu di antara SR yang digubah pada masa ini, ditinjau dari penggunaan pupuh termasuk Jarwa Macapat, oleh RAA Martanagara dijadikan sumber penggubahan WBR.
Seperti dikemukakan Stutterheim, bahwa Ramayana di Nusantara kemudian mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.
Begitu pula kisah Rama dari KR kemudian muncul SR yang dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, jarak waktu kurang lebih 10 abad, jarak jenis sastra, jarak bahasa, dan jarak budaya, sudah tentu mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.
Perubahan ini pula, menurut Poerbatjaraka ( 1952: 2-5 ) “ disebabkan karena penulis tidak begitu memahami lagi bahasanya, namun begitu, petransmisian alur dari kisah 35 Rama dari dalam KR ke SR tidak berubah.
” Selain itu tradisinya pun masih ada yang dipertahankan.
Kemudian dari sumber SR, digubah WBR yang jarak waktu penggubahan dan penciptaan kembali tidak begitu jauh yakni kurang lebih dua abad.
Namun tentu saja antara penciptaan dan pembacaan oleh RAA Martanagara tersebut berada dalam lingkungan yang berbeda.
RAA Martanagara ( 1845 – 1926 ), seorang menak – bangsawan ternama, keturunan Sumedang yang menjadi bupati Bandung ( 1893 – 1918 ).
Beliau seorang terpelajar pada masanya, mampu berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa
( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 52 – 54 ).
Awal penulisan WBR diperkirakan ketika pengarang diangkat menjadi bupati Bandung, pengangkatannya sebagai bupati Bandung pada tanggal 29 Juni tahun 1893, adapun WBR selesai ditulis pada tanggal 4 Oktober tahun 1897.
Sebagai bupati Bandung, RAA Martanagara mendapat sebutan Dalem Panyelang ‘ Dalem Penyelang ’ karena bukan keturunan dari para bupati Bandung.
RAA Martanagara dengan para pejabat Belanda direncanakan akan dibunuh oleh kelompok lawannya yang menginginkan jabatan bupati tersebut, namun pembunuhan itu gagal ( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 60 – 79 ).
Menjelang penulisan WBR selesai, pengarang mendapat cobaan lagi, yaitu istrinya Raden Ajeng Sangkaningrat wafat pada tanggal 5 bulan Juni tahun 1897.
Apakah pengalaman kehidupan pengarang yang cukup berat tersebut yang menggugah kesadaran hatinya untuk menggubah sebuah karya yang sarat dengan keteladanan bagi pemimpin dan peletakan pandangan hidup yang mantap bagi seluruh umat manusia, sulit dipastikan.
Dalam kolofon yang terselip di dalam 36 kisahan, ada ungkapan demikian :
” reh maksudna nyundakeun Sri Rama, pakeun ngalolongsong hate, nyegah napsu ka batur, mamrih kana ka budi manis, sabab carita Rama, eta leuwih alus, rea keur baris tuladan, lalampahan nu murka reujeung nu adil, kabeh bukti “,
jadinya ‘ maksud penggubahan kisah Sri Rama dalam bahasa Sunda, untuk meringankan beban hati, mencegah timbul nafsu amarah kepada orang lain, supaya ( nafsu yang menyimpang ) berubah menjadi budi manis, sebab kisah Rama, sangat bagus, banyak keteladanannya, perilaku murka dan benar, semua terbukti adanya pembalasannya.
’ Demikianlah ungkapan itu seolah – olah ada kaitan dengan jalan hidup pengarang.
Pada waktu WBR ditulis yaitu pada akhir abad ke-19, para bangsawan Sunda dalam keadaan sulit, keadaan ini dirasakan pula oleh pengarang ( lihat uraian selanjutnya ) dan dalam masyarakat Sunda tengah berlangsung perubahan perubahan.
“ Pada awalnya kekuasaan para bupati di wilayah Priangan lebih besar daripada kekuasaan para bupati di wilayah lainnya di Pulau Jawa.
Sejak tanggal 1 Juni tahun 1871 dikeluarkan Preanger Reorganisatie atau Peraturan Baru Tanah Priangan.
Sejak itu, kedudukan para bupati dan para pejabat pribumi di wilayah Priangan, sama seperti rekan – rekannya di wilayah lain di Pulau Jawa, dianggap sebagai pegawai pemerintah, bekerja untuk kepentingan pemerintah, dan digaji oleh pemerintah kolonial ( Ekajati, 1982: 260 – 261; bdk Martanagara, 1921: 20 -25 ).
Di lain pihak, tengah terjadi semangat revitalisasi bahasa dan kebudayaan Sunda yang sebelumnya didominasi oleh kebudayaan Jawa.
Pelopor revitalisasi tersebut adalah KF Holle ( 1822 – 1896 ) dan Raden Haji Moehamad Moesa ( 1822 – 1886 ),
( Lubis a, 2000: 114 – 120; bdk Moriyama, 2005; Ekadjati, 2004: 29 -3732 ).
Pada akhir abad ke – 19 Belanda tengah mengembangkan pendidikan formal untuk kalangan anak – anak bumiputera
( Lubis a, 2000: 49; 2002: 30 ). Pada situasi sosial politik yang cukup berarti ( significant ) itulah, WBR digubah oleh pengarangnya.
WBR tergolong wawacan mite, sifat mitis dieksplisitkan pada judul dengan disebutnya kata batara, dari segi isi sifat mitis ini sangat pekat, Sri Rama sebagai tokoh utama dan tokoh sentral adalah titisan Wisnu ( titis – an Dewa Wisnu ) yang membawa dirinya ke dalam pengembaraan yang panjang dalam rangka menghancurkan kezaliman dan kemurkaan yang ditokohi oleh Raja Dasamuka.
WBR termasuk juga ke dalam jenis wawacan wayang karena Ramayana adalah salah satu kisah besar yang sangat terkenal dalam kesenian pertunjukan wayang ( performance art ) dengan kisah besar lainnya Mahabarata terutama wayang golek.
Namun pembicaraan difokuskan pada WBR sebagai karya sastra dalam tulisan.
Sebagai kisah yang diwarnai oleh sifat mite, kisah yang berasal dari India ini sudah tentu dilatarbelakangi oleh agama atau keagamaan pra-Islam Hindu Budha.
Adapun WBR diciptakan oleh RAA Martanagara pada akhir abad ke – 19, pada waktu itu masyarakat Sunda sudah memeluk agama Islam selama kurang lebih 3 abad sejak abad ke – 16, dan bentuk wawacan itu sendiri, sebuah genre -produk sastra zaman Islam.
Kisah Rama dalam WBR ini bisa dikatakan, transmisi KR yang lahir pada abad ke – 9 dengan latar belakang agama Hindu Budha, berbahasa Jawa Kuno, yang hidup dari masa ke masa, kemudian mendapat sambutan pembaca pemeluk Islam suatu zaman.
Pengarang WBR adalah pembaca - penyambut kisah Rama yang 38 dilihat dari segi individu, memiliki bakat, pengalaman, dan pengetahuan yang berada dalam ikatan budaya ( Kultur gebundenheit ) dan jiwa zaman ( Zeitgeist ).
Identitas individual maupun kolektif berupa budaya dan jiwa zaman turut dalam rekonstruksi kisah Rama ketika proses membaca yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks WBR secara utuh.
Teks WBR bisa dilihat dari berbagai jalinan struktur serta jalinan berbagai ide, yang berbeda dengan sumber penggubahannya karena “ sebuah teks ( dalam hal ini kisah Rama yang menjadi sumber penggubahan WBR ) tidak dapat dipandang sebagai produk tertutup dan mandiri ” ( Cavallaro, 2001, dalam edisi terjemahan 2004: 91 ).
WBR sebagai wawacan, dibangun oleh sejumlah runtuyan pada dari jenisjenis pupuh
( untaian bait-bait dari berjenis pupuh ).
Pupuh adalah bentuk puisi yang kebahasaan dan isinya dibatasi oleh matra pupuh ( dangding ).
Adanya matra pupuh ini menimbulkan ketidakleluasaan pemilihan diksi dalam penyajian ceritera, sehingga bahasa karya -karya dalam bentuk wawacan pada umumnya terasa kaku.
Bahasa WBR tidak demikian adanya, ceritera berlangsung dengan lancar tanpa terasa pemaksaan dangding.
Kiranya kelancaran pengungkapan bahasa ini akibat pengungkapan kisah dengan bahasa yang tidak dipaksakan, yaitu dengan teknis penggalan atau enjambement, baik enjambement antarpadalisan maupun enjambement antarpada, yakni kebulatan atau kepaduan pengertian tidak dipaksakan harus dalam satu padalisan atau satu pada melainkan dipenggal, kemudian dilanjutkan ke padalisan atau pada berikutnya.
Gaya seperti ini, jarang ditemukan dalam wawacan Sunda, jadi terasa lebih indah dari bahasa wawacan pada umumnya. Inilah salah satu keunggulan WBR.
Dangding sebagai dasar 39 penggubahan wawacan, tidak hanya merupakan ikatan dari segi kebahasaan berupa guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra, namun merupakan wahana yang mengusung perilaku dan karakter emosi.
Dengan demikian, WBR mengemas sejumlah perilaku dan sejumlah emosi tertentu.
Walaupun WBR sudah sangat jauh jaraknya dengan kakawin dilihat dari berbagai hal, jarak matra puisi, jarak waktu, jarak bahasa, jarak agama, jarak lingkungan sosial, dan jarak antar etnis, namun paparan naratif WBR masih menampakkan paparan kakawin meliputi “ lukisan ”, ajaran, dan perang.
Dengan adanya penggarapan “ lukisan ” secara meluas dan mendalam, terekam antara lain lingkungan alam, budaya, adat, keagamaan, dan seni, yang kini tersisihkan dari kehidupan.
Ajaran dalam WBR digarap secara meluas, disediakan dalam lahan yang lebar, terutama ajaran bagi penguasa / raja dan ajaran pokok bagi seluruh manusia secara umum.
Itulah sebabnya ajaran ini, meskipun tidak menjadi titik focus analisis WBR, ditambahkan secara proporsional dalam kajian interteks.
formal Perang dalam WBR merupakan titik sentral yang kait – mengait ke segala arah untuk melenyapkan tokoh antagonis yang menjadi sumber kekacauan dunia ‘ reregeding bumi ’ oleh tokoh protagonis, sehingga dengan perang, menyandangkan gelar ‘ Pemimpin Kekuatan Dunia ’ Ratu Pakuning Bumi pada dirinya.
Pada paparan lukisan, ajaran, dan perang inilah terletak salah satu artistik keindahan WBR yang membangkitkan daya estetik imaji pembaca.
Gambaran artistik fisik dunia merangsang daya estetik imajinasi atas penikmatan alam, gambaran artistik pencapaian religius dan artistik moral merangsang estetik 40 penataan hati, mendorong penghayatan diri, mengatur perilaku untuk pengejaran kebahagiaan lahir batin dalam mengarungi kehidupan.
Adanya paparan naratif WBR yang mirip dengan struktur naratif kakawin merupakan sambutan atas sebuah ciri dari karya sastra kuno yang telah menjalani perjalanan rentang waktu yang sangat jauh oleh individu pengarang yang mewakili kolektif dari hamparan sebuah zaman yang bahasa dan sarana perwujudan karyanya jauh berbeda.
Hal ini mengisaratkan bahwa sebuah karya sastra ada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.
Begitu pun WBR, karya ini berdiri kokoh di atas ketegangan konvensi dan inovasi, menampakkan identitas dirinya yang khas, yang berbeda dengan kisah Rama lainnya, walaupun WBR digubah dari Serat Rama berbahasa Jawa.
Kisah Rama itu sendiri boleh statis karena sebuah mite yang validitasnya ditentukan oleh legitimasi dari sebuah konvensi budaya, namun ide – ide yang mewarnai dirinya berubah.
Jadi WBR adalah WBR, keberadaannya tidak serta merta ada, dan KR yang kuno itu ciri – cirinya tidak hilang dengan serta merta, namun melalui proses.
Demikian gambaran mula WBR, sebuah karya luhur yang menggugah manfaat dan nikmat.
Penelitian terhadap WBR yang memuat sejumlah nilai – nilai mulia dari kehidupan, yang masih sangat segar untuk konsumsi masyarakat masa kini, sangat penting dilakukan.
Seyogyanyalah potensi dari karya sastra ini turut membangun mental moral bangsa, guna menepis pengaruh luar yang menyesatkan.
Bangsa Indonesia yang tengah tertatih – tatih menyongsong masa depan yang lebih baik,tergilas keserakahan penghuni zaman yang orientasinya sekedar pencapaian urusan dunia semata yaitu meraih kenikmatan sesaat yang bersifat semu, dengan 41 memutar – mutarkan masalah, memutar – balik, atau membelokkan, serta menghalalkan segala cara.
Keadaan seperti ini tidak boleh berlangsung berkepanjangan.
Hal – hal yang menimbulkan kemudaratan harus segera dihentikan dari berbagai segi.
WBR sebagai sebuah karya sastra Nusantara, menyajikan pijakan hidup yang kokoh, mengingatkan kehakikian kehidupan, yakni pati ‘ ajal ’.
Ajal adalah sebuah lorong yang pasti dilalui oleh perjalanan manusia, siapa pun adanya baik manusia pada umumnya maupun manusia eksklusif yaitu para pemimpin ( raja ).
Adapun ajal menurut WBR, ada pati mulya, pati sinelir, mulya ning pati, pati luhung ‘ ajal mulia, ajal terpilih ’ yang dipertentangkan dengan ‘ pati murka dursila, pati hina ‘ ajal dalam kemunkaran, ajal hina.
’ Dalam karya ini manusia diingatkan, untuk menginginkan ajal mulia guna memperoleh Sawarga Mulya yang kebahagiaan dan kenikmatannya panjang, kekal, tiada akhir.
Untuk mencapai ajal mulia, harus berdiri di tempat yang benar lahir dan batin semasa menjalani kehidupan dunia, karena Penyedia lahan kembali yang bahagia dalam kehidupan kekal di Alam Kalanggengan ‘ Alam Keabadian ’ alam kelak setelah kematian adalah Yang Maha Benar.
Keteladanan, baik keteladanan tersurat maupun tersirat dalam WBR sangat berlimpah.
Nilai – nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seyogyanya lah berada kembali dalam alam pikiran pemiliknya, mengakar pada budaya bangsa, guna menepis pengaruh yang menyesatkan.
Penggalian nilai – nilai kehidupan luhur yang terkandung di dalam WBR ini, dengan melalui pengkajian sastra.
Setiap karya sastra, termasuk juga WBR, “ pada dasarnya bersifat umum sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi : individual dan umum ” ( Wellek & Austin Warren, 1962 dari seri terjemahan: 1989: 9 ).
WBR dilihat dari sudut pandang teks yang bersifat individual, merupakan sebuah kisah Rama yang khas, memiliki struktur naratif tersendiri, memiliki perbedaan dengan sumber penciptaannya sekecil apa pun, yang dipengaruhi oleh identitas pengarang, budaya, dan zaman yang sedang berlangsung.
Di samping WBR memiliki sifat individual, kisah Rama yang menjadi dasar penggubahan WBR berada dalam alur sejarah, dalam arti ceritera tidak berdiri sendiri.
Dengan demikian, WBR berada dalam alur sejarah yang panjang.
RAA Martanagara adalah seorang penyambut kisah Rama melalui SR berbahasa Jawa, kemudian menuliskannya kembali menjadi WBR.
Dengan kenyataan seperti dikemukakan sebelumnya, pengkajian sastra terhadap WBR yang relatif “ utuh ”, hendaknya ditinjau dari sudut WBR sebagai karya sastra yang khas, dan WBR sebagai karya sastra yang berada dalam alur sejarah. Penelitian ini meliputi kedua sudut pandang tersebut.
Penelitian WBR sebagai sebuah karya sastra berada pada aliran sejarah akan menggunakan pendekatan intertekstualitas.
Pendekatan intertekstualitas yaitu menelusuri hipogram dari sebuah karya, hipogram yaitu teks – teks yang kemudian turut dalam rekonstruksi sebuah karya.
1.2 Rumusan Masalah
Keberadaan teks WBR yang dikemukakan dalam identifikasi, memunculkan sejumlah masalah, yang perumusannya sebagai berikut.
1. Teks WBR digubah pada masa masyarakat sudah menganut agama Islam, bermula dari mite KR yang berlatar Agama Hindu – Budha.
Adakah pemelukan agama ini mempengaruhi WBR ?
2. Penulisan WBR dipengaruhi oleh teks – teks sebelum dan sezaman, bagaimana penerapan hipogram teks – teks sebelum dan sezaman tersebut dalam hal keagamaan.
3. Bagaimanakah makna WBR secara relatif ” penuh ”, yakni makna WBR hasil rekonstruksi RAA Martanagara dari SR yang berbahasa Jawa yang dipengaruhi oleh teks – teks lebih dahulu atau sezaman dalam hal keagamaan.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengungkapkan pemikiran – pemikiran Keislaman yang tersurat di dalam WBR.
2. Mengungkapkan hipogram teks WBR dan fungsi semiotik dari hipogram tersebut keagamaan.
2. Mengungkapkan makna penuh dari WBR.
1.4 Kerangka Pemikiran
Kajian sastra terhadap teks WBR bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan dan berbagai sudut pandang.
Penelitian ini meliputi pendekatan intertekstualitas dengan pertimbangan pendekatan tersebut mampu menghasilkan kajian yang optimal dalam pemahaman karya tersebut karena mengungkapkan WBR dari sudut pandang karya sebagai individu dan alur kesejarahan.
1.5 Relevansi Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan dalam pembangunan non fisik, antara lain
1) gambaran WBR secara sekilas mengedepankan kehakikian bahwa dalam kehidupan ini bukanlah kekuatan fisik semata yang menjadi tujuan, namun ada pilihan yang lebih utama yakni “ kebenaran hakiki ”,
2) WBR mengedepankan nilai – nilai kepemimpinan luhur, yang merupakan suri teladan penting bagi kehidupan masa kini yang wacana kebenarannya condong kepada kekuatan fisik dan materi.
WBR memberikan pijakan kokoh dalam menjalani kehidupan yakni segala perilaku harus dipertimbangkan dengan kehidupan di Alam Keabadian setelah ajal.
1.6 Sumber Data
Objek penelitian ini adalah WBR karya RAA Martanagara yang sudah di lakukan penelitian dan pengkajian dari segi Filologi.
II. KAJIAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN
2.1. WBR sebagai Karya Sastra Wawacan
WBR merupakan karya sastra tradisional seperti halnya karya – karya sastra Sunda yang lain yang tertulis dalam naskah, karya tersebut hampir menyeluruh termasuk karya – sastra tradisional.
Setiap jenis karya sastra tradisional memiliki ciri – ciri khusus baik dilihat dari segi wadah / wahana yakni sarana perwujudan bahasanya maupun dari ide – ide yang terkandung di dalamnya.
Ciri – ciri yang termuat dalam wahana karya sastra beserta ide – ide yang terkandung di dalamnya, memunculkan genre dalam konvensi sastra masyarakatnya.
Hal yang berkaitan dengan genre / jenis sastra, Wellek & Austin Warren mengemukakan ( 1977 dalam terjemahan 1989: 298 ) sebagai berikut : “ Jenis sastra bukan hanya sekedar nama, karena konvensi sastra yang berlaku pada suatu karya membentuk ciri karya tersebut.
Jenis sastra dapat dianggap sebagai suatu perintah kelembagaan yang memaksa pengarangnya.
” Jadi pada dasarnya jenis – karya – sastra – apa – pun terdapat konvensi dalam penyajiannya, apalagi WBR karya sastra tradisional wawacan, yang memang wawacan memiliki matra yang harus dipatuhi.
2.1.1 Pendekatan Intertekstualitas
Teks WBR sebagai karya sastra dengan sarana primer bahasa, merupakan sistem tanda.
“ Konsep tanda menurut Peirce adalah sebagai berikut, tanda 46 merujuk pada sesuatu atau mewakili sesuatu, jadi tanda mempunyai sifat representatif, yaitu mewakili sesuatu.
Hasil penafsiran terhadap suatu tanda oleh si penafsir, menghasilkan tanda baru bagi penafsir, jadi sebuah tanda selain memiliki sifat representatif memiliki pula sifat interpretatif.
Hasil representasi disebut denotatum dan hasil interpretasi disebut interpretant.
Sebuah tanda adalah satu bagian dari satu keseluruhan peraturan, kesepakatan, tradisi, adat istiadat, dan disebut juga kode.
Teks sastra secara keseluruhan adalah sebuah tanda dengan semua cirinya untuk pembaca, teks itu pengganti sesuatu yang lain, suatu kenyataan yang dibayangkan ” ( Pradotokusumo, 2001: 11-13 ).
Pemikiran Peirce ini diterapkan pada mekanisme penciptaan WBR sebagai berikut.
SR berbahasa Jawa yang dijadikan sumber penulisan WBR oleh RAA Martanegara adalah sebuah tanda yang terletak di antara deno tatum dan interpretant.
Kode baru hasil dekoding RAA Martanegara dari SR, dituliskan kembali menjadi WBR melalui proses enkoding.
Dilihat dari seputar kehidupankarya sastra tersebut, pembacalah yang memiliki peranan penting dalam menerima, menginterpretasi, merekonstruksi, memberikan makna terhadap sebuah karya.
“ Pendekatan – pendekatan yang berorientasi terhadap peranan pembaca menggunakan landasan berpikir Reader Theory / Teori Pembaca ” ( Eagleton, 1985: 73 ).
Pernyataan – pernyataan berlandaskan pemikiran Reader Theory di antaranya sebagai berikut : Phenomenologist aestheticiant Ingarden mengemukakan bahwa the text as a potential structure which is ‘ concretisized ’ by the reader.
‘ teks merupakan struktur yang potensial dikonkretisasi oleh pembaca ’ ( Eagleton, 1985: 4773 ).
Iser ( dalam Eagleton, 1985: 76 ) menjelaskan tentang estetika bahwa the literary work has two poles, which we might call the artistis and the aesthetic the artistic refers to the text created by the author, and the aesthetic to the realization accomplished by the reader.
‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan pembaca.
’ Sejalan dengan pemikiran itu Mukarovsky membedakan antara artefact dan aesthetic object, artefact merupakan dasar material objek estetis berupa huruf – huruf yang dicetak di halaman kertas ; objek estetis merupakan representasi artefak dalam pikiran pembaca yang disebut collective conciousness ‘ kesadaran kolektif ’ yang dalam kesadaran sekelompok manusia dapat disistematisasikan.
Dengan demikian, sebuah artefak memiliki nilai potensial.
Pembentukan objek estetik terhadap artefak terjadi dengan sarana peran aktif penerima.
Jadi pembaca juga menciptakan objek estetis ( Segers, 1978: 31 ).
Menurut Gadamer “ sebuah karya sastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi. Arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir ( Selden, 1993: 117 ).
Menurut Karl Mannheim penafsir atau penulis berada dalam Kultur gebun denheit ( keterikatan budaya ) dan Zeitgeist
( semangat zaman ) ( Lubis b, 2000: 10 ).
Menurut Iser teks bukanlah penyajian sempurna namun terdiri dari bagian – bagian kosong.
Pembaca mengisi bagian bagian kosong yang mengandung makna ambigu dalam teks, ia mengisinya secara bebas sesuai dengan pengalamannya.
Dilihat dari segi pembaca, pemaknaan sebuah karya sastra tidak stabil secara essensial ( Eagleton, 1985: 76-81 ).
” Derrida seorang penganut sebuah aliran filsafat menampik adanya kestabilan makna.
Makna senantiasa berada dalam proses, dengan demikian tidak ada makna baku dan permanen ( Sim, 1999: V ).
Salah satu pendekatan karya sastra dengan berlandaskan Reader Theory yakni pendekatan intertekstualitas.
Pendekatan intertekstualitas adalah salah satu pilihan pendekatan dalam menguak makna dari sebuah karya sastra.
“ Intertekstualitas adalah pendekatan untuk memperoleh makna sebuah karya sastra secara penuh dalam hubungannya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya ( teks terdahulu ), baik berupa teks fiksi maupun puisi ” ( Nugiyantoro, 1998: 54 ).
Kajian intertekstualitas berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya ditulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya.
Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi masyarakat, dalam wujudnya berupa teks teks kesusastraan yang ditulis sebelumnya ( Nugiyantoro, 1998: 50 ).
Kristeva mengemukakan hubungan antarteks sebagai berikut : every text take shape as a mosaic of citations, every text is the absorption and transformation of other text.
‘ setiap teks mengambil bentuk seperti mosaik cuplikan – cuplikan, setiap teks merupakan serapan dan transformasi dari teks – teks lain ’ ( Culler, 1975: 139 ).
Pemikiran Kristeva yang mendukung munculnya pemikiran intertekstualitas yakni, bahwa bahasa bisa direduksi ke dimensi – dimensi yang bisa diterima oleh kesadaran.
Kesadaran bukanlah subjek yang statis namun berada dalam bentuk imajiner ( Lechte, 1994 terjemahan 2001 : 221 ). Foucoult ( 1971 terjemahan 2003: 30 ) mengemukakan bahwa tidak ada masyarakat yang tidak memiliki narasi narasi besar ( major naratives ) yang kemudian dikatakan ulang dan beraneka ragam, formula – formula teks – teks biasa, teks -teks ritual yang diucapkan dalam keadaan tertentu ; hal – hal yang pernah dikatakan kemudian diperbincangkan kembali karena masyarakat menduga adanya sesuatu rahasia dan “ kemegahan ” tersembunyi di dalam yang dikatakan tersebut. Kenyataan tersebut memunculkan ide pemahaman terhadap karya sastra.
Menurut Culler : A work can only be read in connection with or against other texts ’ Sebuah karya hanya dapat dipahami dalam hubungan dengan teksteks lain’
( Culler, 1975: 139; bdk Riffatere, 1978; bdk Teeuw, 1984; bdk Pradotokusomo, 1991: 162 ).
Teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks – teks lain ; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh -sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks – teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka, tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau memenuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting ; pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki atau disimpangi ( Teeuw: 1984: 146 ).
Teks – teks sastra yang menjadi dasar penciptaan sebuah – karya – kemudian disebut hypogram ‘ hipogram ’
( Riffatere, 1978: 23 ).
Mitos pengukuhan disebut myth of freedom.
Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “ wajib ” hadir dalam penulisan teks kesusastraan Adanya unsur hipogram dalam suatu karya, mungkin disadari mungkin juga tidak disadari oleh pengarang
( Nugiyantoro, 1998: 52 ).
Seperti sudah dibahas sebelumnya, unsur – unsur serapan dari hipogram yang diserap oleh teks – kemudian berbeda -beda, seperti pada penelitian terdahulu Pradoto kusumo terhadap Kakawin Gajah Mada, Kakawin Gajah Mada dibangun oleh mozaik – mozaik karya sastra terdahulu, Chamamah Suratno terhadap Hikayat Iskandar Zulkarnain menghasilkan bahwa kharisma tokoh Iskandar Zulkarnain menyebar pada sejumlah karya sastra Melayu, dan Kuntara Wirya martana terhadap Arjuna wiwaha, bahwa Arjuna wiwaha mengalami tanggapan yang berbeda dalam genre – genre yang berbeda.
Adapun WBR digubah berdasarkan SR berbahasa Jawa.
Kisah Rama sebagai mite ceriteranya tidak boleh menyimpangi dari konvensi masyarakat.
Dalam segi ceritera, WBR sama dengan kisah sumbernya, namun kemudian pengarang mengisi celah – celah yang kosong dengan konsep – konsep teosofi tasawuf ( Lihat subbab selanjutnya. ).
Konsep – konsep teosofi tasawuf Islam ini dengan nama – nama Penguasa Alam dari agama Hindu Budha / pra – Islam. Penyisipan konsep – konsep tasawuf ini sudah tentu mengubah makna ceritera.
Penelitian ini akan didasari oleh pemikiran Iser bahwa ‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik, artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan oleh pembaca.
Masalah yang diungkapkan dipusatkan pada tema, kemudian dari tema ini diungkapkan makna yang menghiasi seputar tema, bagaimana tema ini dipoles dengan konsep – konsep tasawuf seperti pernyataan Gadamer bahwa sebuah karyasastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi, namun arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir.
Pemahaman konsep – konsep sufi akan diterangkan melalui sumber – sumber dari beberapa naskah Sunda.
Pemikiran yang mirip dengan konsep – konsep sufi yang terdapat di dalam WBR dikumpulkan lalu ditelusuri hipogramnya. Penelitian ini tidak menelusuri aliran mana hanya meliputi ciri – ciri umum.
Penerapan hipogram terhadap teks naskah WBR akan diberikan istilah dengan hasil penelitian terdahulu.
Apabila terdapat gejala baru maka akan diberi peristilahan sesuai dengan gejalanya.
Peneliti Riffatere, menghasilkan konsep bahwa hipogram dari teks – terdahulu terhadap teks yang – muncul – kemudian diterapkan dengan expansion ‘ pengluasan / pengembangan’ dan conversion ‘ pemutarbalikan ’ ( Riffatere, 1978:50-63 ). Penelitian Pradotokusumo ( 1984: 103 ) merumuskan dua gejala yakni : modification ‘ modifikasi ’ dan excerpt ‘ ekserp ’. Gambaran yang tampak jelas yang diserap ke dalam WBR dari karya – karya terdahulu adalah konsep – konsep tasawuf yang mengalami “ adaptasi ” / penyesuaian nama Penguasa Alam, yaitu penyisipan konsep tasawuf namun Dzat yang diseru tetap menurut kepercayaan lama.
2.1. 2 Tasawuf dan Teosofi Tasawuf
Kata tasawuf ditinjau secara etimologis ” berasal dari kata shuf ( wol ), orang orang sufi menutup badannya dengan kain wol asli ” ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15, Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).
Sufi adalah orang – orang ahli / penganut tasawuf.
Pengertian sufi secara substantif adalah ” mereka yang berada di barisan ( shaf ) yang pertama di sisi Allah, dengan semata mata maksud hatinya karena Allah, dan menempatkan bisikan kalbunya di sisi Allah.
Golongan lainnya mengatakan bahwa orang – orang disebut sufi karena kedekatan sifat – sifat mereka dengan ahli suffah yaitu orang – orang muslim yang berada di masa Rasulullah saw.
Menurut Bisr ibn al – Harits, sufi adalah orang orang yang membersihkan hatinya semata – mata karena Allah.
” ( Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).
Pengertian tasawuf adalah perilaku aspek batin Islam atau esoterik Islam yang dibedakan dari aspek luar
( eksoterik Islam ) ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15 ).
Peristilahan seputar tasawuf bermacam – macam, tumpang tindih antara pemahaman Ketuhanan dan peribadatan. Fathurahman membedakan tasawuf falsafi dan tasawuf amali ( 1999: 24 ).
Istilah tasawuf falsafi dipakai pula dengan istilah teosofi tasawuf dan tasawuf amali istilah lainnya adalah tarikat.
Pengertian kamus tentang teosofi adalah ” ajaran dan pengetahuan kebatinan ( semacam filsafat dan tasawuf ) yang sebagian besar berdasar pada ajaran – ajaran agama Buddha dan Hindu ( Poerwadarminta, 1985: 1055 ).
Istilah yang dipilih dalam penelitian ini adalah teosofi tasawuf, dengan pertimbangan karena pembahasan – pembahasan mengarah kepada Ke – Tuhan – an.
Namun istilah ini digunakan dengan melepaskan acuan ke ajaran agama Budha dan Hindu, jadi yang dimaksud teosofi tasawuf dalam pembahasan ini, murni ajaran Islam yang lepas dari ajaran Budha dan Hindu seperti tercantum dalam arti kamus tersebut.
Adapun tarikah atau tarikat adalah amalan / peribadatan yang dilakukan oleh salik ( pencari jalan ) menuju Allah.
Di dalam naskah teosofi tasawuf Sunda, dibedakan karya – karya ini dengan ajaran segi agama Islam lainnya antara lain Tauhid dan Fikih.
Di dalam naskah naskah tasawuf disebut – sebutnya segi ke – Islam – an dalam pandangan para sufi yakni sariat, hakikat, tarikat, dan marifat ( Lihat pula penjelasan selanjutnya ).
Pemikiran – pemikiran tasawuf yang disajikan di dalam WBR terjalin sangat halus ditenunkan dalam hamparan karya berlatar belakang Hindu Budha yang pekat mewarnai seluruh karya dari awal sampai akhir.
Walaupun keberadaan teosofi tasawuf di dalam WBR ini hanya berupa ulasan yang sangat tipis, namun karena pengertian tasawuf rumit, penjelasannya membutuhkan uraian cukup panjang.
Pengkajian teori tentang tasawuf, meliputi teosofi tasawuf dan tarikat, untuk memahami pemikiran tasawuf yang tersaji di dalam WBR, sehubungan konteks tasawuf di dalam WBR seolah – olah berupa pengamalan yang sudah berlangsung, sedangkan dalam karya – karya tasawuf Sunda baru berupa uraian dari ajaran, jadi tentang tarikat pun perlu dibahas.
Karya – karya naskah yang dianggap berisi tasawuf memiliki ciri – ciri pokok tasawuf.
“ Karya – karya tasawuf walau berbeda – beda namun memiliki kesamaan aspek pokok ialah ajaran kebajikan rohani. Kebajikan rohani al ihsan, menurut Nabi sebagai berikut, kamu harus mencintai Tuhan seakan – akan kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihat – Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.
Persoalan paling utama bagi manusia yakni ma’rifah atau gnosis.
Sesuai dengan intensitas dan lamanya, terdapat keadaan – keadaan yang disebut ‘ cahaya yang redup ( lawa’ih ) dan ‘ cahaya yang menyilaukan ( lawami ), dan “ penyinaran ” ( tajalli ).
Kebajikan lain dari semua adalah diri merasakan miskin ( fakir ) keikhlasan ( al – ikhlas ) atau kejujuran ( as – sidq ). Mengingat Tuhan dengan ( adzdzikr )” ( Burckhardt, 1984: 127 – 134 ).
Dzikir menurut Syekh Yusuf dalam Al – Barakāt al – Sailaniyyah ( Berkat dari Sailan ) bermacam – macam, zikir Lā Ilāha Illā Allāh zikir orang awam, Allah – Allah, zikir hati atau zikir al – khawās, Hu – Hu zikir rahasia atau zikir akhas alkhawās
( manusia paling istimewa ) ( Dalam Lubis, 1996: 30 ).
Allah memperlihatkan diri – Nya dengan bermacam – macam manifestasi sesuai dengan tempat sehingga tempat itu menjadi arsy – Nya.
Maka engkau menjadi orangmukmin yang benar, seperti yang dimaksud dalam hadis.
Hadis mengatakan bahwa : Hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah ( Dalam Lubis, 1996: 31 ).
Di dalam Tahsīl al – Ināyah wa al – Hidāyah ( Memperoleh Pertolongan dan Petunjuk ) disebutkan bahwa, Allah memuliakan mereka yang memperbanyak zikir dengan bermacam – macam ilmu dan rahasia – Nya. Allah berfirman : Tanyakan kepada ahli zikir jika kamu tidak tahu ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 44 ).
Ahli zikir yang bisa dijadikan guru disebut – sebut dalam naskah Sunda dan ahli Tarikat adalah Guru Mursid
( guru yang ahli ) ( Naskah WJU; Fathurahman, 1999: 24 ).
Zikir ini diterapkan kepada salik dengan di – bai’at. Dalam Al – Nafahāt al -Sailaniyyah ( Hembusan dari Sailan ) tentang zikir Yusuf menyampaikan : ” Siapa yang tidak mempunyai syekh ( guru ), setan menjadi syekhnya.
Sabda Nabi Muhammad saw : Syekh bagi kaumnya adalah seperti nabi ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 38 – 39 ).
Pengertian manusia yang selalu menghadirkan Allah dengan zikir hati adalah mukmin yang benar, dan hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah memiliki kesejajaran makna dengan manunggaling kaula – Gusti.
” Manunggaling kaula – Gusti memiliki pengertian, abdi / manusia – yang selalu menghubungkan batinnya dengan Allah. ” Allah memiliki sifat yang berlawanan, Allah ” al – Dzahir al – Bathin ” Dia tersembunyi ( Batin ) di dalam kenyataan – Nya, Dia nampak ( Dzahir ) di dalam ketersembunyian – Nya. Allah ” al – Qarib al – Baid ” Dia Nyata di dalam Ketidaknyataan -Nya, Dia sangat Dekat di dalam Kejauhan – Nya ” ( Kalabadzi, 1995: 15 ).
Manusia diberi rahmat – Nya untuk bisa merasakan Kehadiran – Nya, namun Allah Dzat Laisa Kamistlihi ( Tidak bisa diumpamakan oleh apa pun ) ( Naskah WBW dan WJU ).
Tujuan manusia selalu menghadirkan Allah di dalam batinnya, untuk mencapai insan kamil.
Manusia dibebani untuk menuju insan kamil, peringkat selanjutnya kamil mukamil ( manusia mencapai tarap kesempurnaan pada martabat manusia ) ( di dalam WJU ) al – khawās – ( istimewa ) peringkat selanjutnya khawāsul khawās ( paling istimewa ( dalam WJU dan istilah dari Syekh Yusuf ).
Di dalam WBR terdapat istilah Elmu Kasampurnaan, Elmu Kasampurnaan ini kiranya ada hubungan pemaknaan dengan pengertian insan kamil – kamil mukamil atau alkhawās – khawāsul – khawās.
Di dalam WBR Elmu Kasampurnaan disebut juga Elmu Rahasiah atau Elmu Agal Repit, tanda ini rupanya mengacu kepada cara guru ( syekh ) yang menerapkan ilmunya kepada salik dengan cara bai’at secara rahasia.
2.2 Metode Penelitian
Langkah pertama dalam analisis sastra adalah mencari metode pendekatan yang sesuai dengan karya sastra itu sendiri. Karya sastra merupakan gejala, sehubungan itu setiap karya memiliki sifat umum dan keunikan tersendiri.
Dalam rangka mencari metode pendekatan yang sesuai, langkah pertama memahami WBR dari berbagai segi yakni, WBR sebagai karya wawacan, posisi WBR dalam perkembangan wawacan, WBR sebagai mite, dan kekomplekan kisah Rama.
Setelah dipahami dari berbagai segi baru menetapkan kajian yang tepat untuk menganalisis WBR secara optimal. Pengkajian intertekstualitas WBR divokuskan pada ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an yang mempengaruhi pemaknaan dari karya ini.
WBR sebuah karya sastra mite, berlatar agama Hindu Budha, digubah pada zaman Islam.
Adapun peristiwa mitis di dalam WBR sebagai berikut :
1) Dasarata berselamatan karena menginginkan putra yang dititisi oleh Dewa Wisnu, dilihat dari ciri – ciri dupa, permohonannya terkabul.
2) Menurut keterangan Resi Yogistara dan Mintra, Sri Rama titisan Dewa Wisnu Dewata Mulia.
3) Deskripsi perjalanan Rama ke Mantili menunjukkan bahwa dirinya bukan orang biasa namun ditempati Wisnu Murtining Bumi.
4) Rama diramalkan, pasti memenangkan sayembara di Negeri Mantili untuk menikahi Dewi Sinta karena Dewi Sinta penjelmaan Dewi Sri istri Dewa Wisnu.
5) Rama me – ruwat – kan Resi Jamadagni / Ramabergawa / Batara Rama Parasu yang terkena kutukan sehingga bisa kembali ke Indra Buana.
6) Resi Bagawan Yogi menyerahkan pakuwon bumi ‘ pengurusan bumi ’ kepada Rama sebagai titisan Wisnu
7) Rama me – ruwat – kan raksasa berlengan panjang dan Sowari penghuni Suralaya yang mendapat kutukan sehingga dapat kembali ke Kahiyangan.
8) Ketika Sugriwa sedang bersemedi ada suara yang raganya tak kelihatan mengatakan bahwa, Sugriwa akan mendapat pertolongan dari Sri Rama titisan Dewa Wisnu putra Dasarata yang berada di Gunung Raksamuka.
9) Rama berkali – kali mengeluarkan kesaktian Wisnu ketika merasa kecewa.
10) Ketika Pasukan Pancawati dilemahkan oleh senjata Indrajit, Rama dikunjungi oleh para Dewa.
Para Dewa mengatakan jangan ada kekhawatiran karena Rama titisan Wisnu.
11) Ketika Dewi Sinta membakar diri untuk membuktikan kesucian dirinya, ia dijemput oleh Batara Brahma, Batara Brahma mengatakan bahwa Rama titisan Wisnu Mustikaningrat, dan Dewi Sinta titisan Dewi Sri istri Wisnu.
Dilihat dari sejumlah peristiwa mitis tersebut, WBR menyandang sifat mite yang pekat.
Hal ini disebabkan karena penggubahan WBR baik struktur formal maupun struktur naratifnya diusahakan oleh pengarangnya sedekat mungkin dengan sumbernya.
Namun begitu karena karya sastra ini digubah pada zaman Islam, terselip unsur – unsur pemikiran ke – Islam – an.
Pengkajian intertekstualitas dalam penelitian ini dibedakan dalam dua tahap yakni pertama penelusuran teks – teks hipogram yang diperkirakan secara langsung atau tidak langsung turut dalam rekonstruksi WBR, kedua penelusuran hipogram utama yakni SR berbahasa Jawa.
Naskah SR berbahasa Jawa yang memiliki kemiripan dengan WBR antara lain SR yang disalin oleh Soetomo WF, Mpd., dkk 1993, diterbitkan oleh Yayasan Studi Bahasa Jawa “ Kanthil.
” Urutan pupuh WBR dengan SR ini sama sampai nomor 86. Bacaan bagian awal runtuyan pupuh dari I – LXXXVI hampir merupakan terjemahan. ( Lihat lampiran )
Kajian intertekstualitas tidak berdasarkan ceritera namun dari segi bagaimana pengarang merekonstruksi SR ke dalam WBR yang dilatarbelakangi oleh Agama Hindu Budha, kemudian mengisikan celah – celah yang terbuka dengan pemikiran pemikiran tasawuf.
Kajian intertekstualitas menelusuri hipogram dari teks naskah teosofi tasawuf Sunda yang diperkirakan mempengaruhi pengarang baik langsung atau tidak langsung dalam rekonstruksi WBR.
Teks naskah teosofi tasawuf yang digunakan adalah :
Wawacan Pulan Palinb.
Wawacan Jaka Ula Jaka Ulic.
Karya Teosofi Tasawuf Haji Hasan Mustapa.
Wawacan Buwana Wisesa.
Wawacan Ganda Sari
Teks dari naskah – naskah tersebut tidak disusun berdasarkan titi mangsa penulisan sehubungan dalam khazanah pernaskahan ada tradisi transmisi, yang penelusurannya sangat sulit dilakukan.
Berdasarkan alasan tersebut pengurutan ini tidak berdasarkan kronologis namun secara acak.
Penelusuran hipogram ini hanya meliputi ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an, jadi penelusuran hipogram melalui konsep pemikiran bukan bersifat kebahasaan.
Karena yang akan ditelusuri berupa konsep, maka terlebih dahulu mengadakan pembahasan konsep yang akan diteliti berdasarkan konsep – konsep karya teosofi tasawuf yang ada pada naskah dan informasi yang diterima secara lisan. Informasi secara lisan hanya sebagai penjelasan dari teks tertulis.
Konsep teosofi tasawuf yang ditelusuri mengenai manunggaling kaula – Gusti dan kemenunggalan.
Sebenarnya kedua pokok bahasan ini satu dengan lainnya saling berkaitan.
Namun kemenunggalan di dalam WBR diungkapkan secara khusus, maka kemenunggalan ini dibahas tersendiri.
Setelah ditetapkan dua buah konsep tersebut yang akan dicari hipogramnya, kemudian bagian – bagian dari teks yang mengandung konsep tersebut dimunculkan berdasarkan urutan peristiwa di dalam teks.
Konsep tersebut ditelusuri di dalam teks hipogram.
Setelah ditelusuri, lalu diungkapkan bagaimana penerapan hipogram tersebut di dalam WBR.
Berdasarkan hipogram yang hadir di dalam WBR diungkapkan “ makna penuh ” WBR, dilengkapi dengan fungsi semiotik dari hipogram.
Teori Rifatterre mengenai pemaknaan karya sastra dijadikan pijakan dalam pemaknaan WBR.
Adapun mekanisme telaah yang dikemukakan oleh Rifatterre ( 1978 ) melalui tahapan berikut :
1) Membaca arti yang umum.
2) Mencermati unsur – unsur yang tidak gramatikal yang merintangi penafsiran mimetik dalam arti yang umum.
3) Mencari hipogram ( teks terdahulu atau sezaman ) dan menelusuri hubungan teks – teks hipogram dengan WBR.
4) Menurunkan “ matriks ” dari “ hipogram ”, yaitu, menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata dari teks.
III PENGKAJIAN INTERTEKSTUALITAS WBR
3.1 Tanda – Tanda Keislaman dalam WBR
Pengkajian intertekstualitas seperti sudah dikemukakan dalam Bab II hipogramnya tidak ditelusuri dari segi ceritera, sehubungan antara SR berbahasa Jawa dengan WBR, penyajian struktur formal dan ceritera hampir sama
( Lihat lampiran 8 ).
Apabila diadakan kajian intertekstualitas dari segi kisah, akan terjebak kepada kisah Sri Rama yang bersifat umum dalam arti kekhususan WBR karya RAA Martanagara tidak tertelusuri.
WBR ini sebuah pilihan kisah Rama seperti disebutkan sebelumnya hampir sama dengan sumbernya, namun demikian bagaimanapun, proses membaca dipengaruhi oleh pribadi pengarang, semangat zaman, dan ikatan budaya.
Pengarang WBR mengkonkretisasi kisah Rama, dipengaruhi oleh pemikiranpemikiran ke – Islam – an tasawuf.
Pemikiran ini sangat halus, tersisip pada hamparan kisah Rama yang berlatar – belakangkan Hindu Budha.
Unsur – unsur serapan tersebut sangat sulit ditelusuri karena halusnya penyisipan.
Namun untuk keyakinan ini, ada kata – kata kunci pada bagian awal dan bagian akhir.
Kata kunci di bagian awal adalah penggunaan lambang Islam yang sangat significant yakni adanya kata masjid dalam lukisan keindahan Istana Ayodya pada ke 30 ( Lihat di dalam bagan Intertekstualitas WBR )
Adanya kata masjid ini, tidak diketahui dengan pasti apakah unsur kesengajaan atau muncul tanpa kesadaran pengarang, tampaknya dugaan yang kedua yang lebih mendekati kebenaran karena tak ada lagi lambang Islam yang lainnya, baru pada bagian akhir ada penjelasan.
Pengarang menyatakan secara eksplisit bahwa konsep – konsep tersebut tidak diambil dari sumbernya, seperti terdapat pada bacaan pada 2881, seperti berikut :
Sang Sri Rama muruk Ilmu Dakik.
patékadan jalma jaman Buda
ti hirup tepi ka maot kasebut ilmu lembut
marawicu bangsa nu suci
nyembah ka Pangéranna Yang Batara Guru
sarupa Agama Islam nyembahna téh ka Gusti Robbul Alamin
(2874)
Tatapina teu disalin
tina tembang anu basa Jawa
lain tina sabab hésé
ngan katimbang teu perlu
mungguh jalma jaman kiwari
nu geus ganti agama
Sang Sri Rama mengajarkan Ilmu Dakik.
Keyakinan orang pada zaman Budha sejak lahir sampai wafatdisebut ilmu Gaib biksu sebangsa orang suci menyembah Tuhannya Yang Batara Guru seperti Agama Islam menyembah Gusti Robbul Alamin Namun ( keyakinan itu ) tidak disalin,
( seperti dalam sumbernya ) tembang bahasa Jawa.
Bukan karena sulit hanya tak perlu untuk orang – orang zaman sekarang yang telah berganti agama menyembah kepada Yang Agung Gusti Allah Maha Mulia dan khawatir diterima oleh orang awam akan salah penerimaan Berbagai macam wejangan dengan keteladanan,yang berguna untuk orang -orang kini,
nyembah ka Yang Agung
Gusti Allah Anu Mulya
jeung kawatir dipikir ku nu teu harti
mangkéna salah tampa ( 2875 )
Rupa – rupa piwulang jeung misil
nu berguna pikeun nu ayeuna
baris nu sepuh nu anom tapi mun kula nutur
disundakeun Ilmu Hakéki
hakékah jaman Buda
anu samar samur
siyeun mangké salah tampa
tangtu jadi nungtun cu ( w ) a kana ati
sabab sulaya paham ( 2881 )
bagi orang tua atau muda namun aku bertutur tentang ilmu itu diganti dengan Ilmu Hakikat ( karena ) hakikat zaman Budha ( aku ) tak tahu dengan jelas ( sehingga ) takut menimbulkan salah penerimaan tentu akan menuntun kepada kenistaan hati, sebab mengelirukan keyakinan
Dengan pernyataan tersebut muncul keyakinan bahwa WBR diselipi dengan konsep – konsep teosofi tasawuf.
Oleh karena itu kajian intertekstualitas terhadap WBR hanya meliputi konsep / pemikiran tersebut.
Kajian intertekstualitas mengenai konsep ini tentu ditinjau dari kebulatan isi pemikiran secara utuh, dalam arti bukan bacaan / kesamaan bahasa.
633.2 Kehidupan Keagamaan Seputar Kepengarangan
Bagaimana pun pemikiran keislaman seperti disebut sebelumnya tidak hadir dengan sendirinya namun sesuatu yang tumbuh di seputar pengarang.
Adapun perhatian dan lingkungan RAA Martanagara sebagai pengarang WBR sebagai berikut : “ Pada waktu RAA Martanagara menjadi Bupati Bandung, terdapat dua golongan elite agama Islam pertama, elite agama yang tergabung ke dalam birokrasi kolonial dalam jajaran pribumi, kedua elite agama Islam yang tidak termasuk dalam birokrasi yang biasanya mempunyai kewibawaan sosial yang sangat tinggi di kalangan rakyat.
Banyak pejabat pribumi yang bersifat acuh tak acuh terhadap agama Islam, mereka menjauhkan diri terhadap elite agama Islam di lingkungan mereka sendiri, tetapi RAA Martanagara tidak termasuk kelompok pejabat pribumi seperti itu. Hal ini erat kaitannya dengan sikap hidupnya yang agamis.
Hubungan dengan elite agama Islam yang non – birokrasi dipeliharanya dengan sangat baik, begitu pula dengan elite agama Islam yang ada dalam birokrasi yang dipimpinnya.
Adapun yang menjadi hoofd penghulu Bandung semasa ia menjadi bupati adalah Raden Haji Hasan Mustapa.
Raden Haji Hasan Mustapa seorang sufi besar yang sangat banyak karyanya, tentang teosofi tasawuf.
Hubungan antara RAA Martanagara dengan Haji Hasan Mustapa terbina baik ” ( Lubis, 2001: 74-77 ).
Di daerah Bandung dan sekitarnya banyak ditemukan karya – karya yang berisi tentang tasawuf, tidak seperti di daerah lain umpamanya Majalengka.
Salah satu aliran tasawuf adalah “ tarekat naksabandiyah, pada tahun 1886 hampir seluruh bangsawan di Priangan mengikuti tarekat tersebut ” ( Bruinessen, 1992: 23 ).
Dengan demikian tidak aneh apabila pemikiran – pemikiran tasawuf yang berkembang seputar tahun 1890 – an, mempengaruhi rekonstruksi kisah Rama di dalam WBR.
Konsep tasawuf yang diselipkan di dalam WBR memperjelas arah yang diungkapkan oleh tema tentang ajal mulia.
Istilah yang digunakan di dalam teks paling banyak yakni pati mulya, istilah lainnya pati patitis ‘ ajal tenang ? ’, pati luhung ‘ ajal mulia ’, pati sinelir ‘ ajal terpilih ’, dilawankan dengan pati buta murka, pati dursila.
Pengertian pati mulya ini berasal dari hipogram utama SR berbahasa Jawa, salah satunya terdapat di dalam pupuh VII Maskumambang nomor : 20 sebagai berikut :
” Ing tegese Yayi ing urip puniku Yen ora amrih asalamet sajroning pati yeku seta nunggang gajah “.
Jelasnya Adinda, hidup itu Apabila tidak berharap Selamat dalam ajal, Sia -sia ( ? ) Ajal mulia ( salamet sajroning pati ), di dalam SR sebagai hipogram utama sumber penggubahan WBR, tidak diintikan menjadi tema seperti di dalam WBR.
Konsep tasawuf yang tergambar di dalam WBR inilah yang akan dicari hipogramnya.
Penerjemahan hipogram dengan memindahkan makna yang mudah dipahami atau bagi karya yang menggunakan simbol kebahasaan seperti karya Haji Hasan Mustapa sekalian ditafsirkan maknanya.
Adapun konsep – konsep tasawuf ini pengertiannya agak pelik, maka sebelumnya berdasarkan naskah naskah tasawuf, akan dibahas konsep yang terkandung dalam WBR secara panjang lebar guna memberikan pengertian yang jelas.
Konsep tasawuf di dalam WBR meliputi : Manunggaling kaula – Gusti, dan Kemenunggalan.
Adapun Naskah Hipogram ( kemudian akan disingkat Hp ), yakni Wawacan Pulan Palin ( disingkat WPP ), Wawacan Jaka Ula Jaka Uli ( WJU ), Wawacan Buwana Wisésa ( WBB ), Karya Haji Hasan Mustapa ( HHM ) dan Wawacan Ganda Sari (WGS).
WPP, WJU, WBB, dan WGS adalah wawacan yang menyajikan teosofi tasawuf dengan cara dialog antara adik dan kakak, HHM berisi teosofi tasawuf dengan menggunakan pelambangan.
Agar memudahkan pengamatan antara Hp – HHM dan penerapannya di dalam WBR, Hp – HHM tidak diterjemahkan namun langsung dimaknai.
WPP, WJU, WBB, dan WGS tanda – tanda edisi ditanggalkan supaya memudahkan pembacaannya, yang dipertahankan hanya penomoran pada supaya mudah memeriksanya kembali.
Data Manunggaling Kaula – Gusti WBR sengaja dicuplik dari berbagai episode supaya memberikan pengertian yang jelas. Nomor pada dicantumkan di bagian akhir.
Setiap data diimbuhkan nomor dengan angka Romawi untuk memudahkan penunjukkan data.
Begitu pula data Hp akan diberi penomoran angka Latin.
Pemikiran teosofi tasawuf yang terkandung di dalam WBR dan Hp – nya akan dilampirkan di dalam tabel.
Di dalam tabel ini akan dilengkapi keterangan ada atau tidaknya pemikiran – pemikiran ini di dalam hipogram utama SR
3.3 Kajian Intertekstualitas WBR
3.3.1 Manunggaling kaula – Gusti dalam Teks WBR dan Teks – Teks Hipogram
3.3.1.1 Manunggaling kaula – Gusti dalam Teks WBR
Pada ini memperkenalkan nama Dasarata, Raja Ayodya yang berbudi luhur.
I
Kasampurnanning pati patitis, - Dalam menuju kesempurnaan ajal,
tatas awas tékad Anu Nyata, - penglihatannya selalu tertuju kepada Yang Maha Ada,
pernah Kamulyan Yang Manon, - di tempat ( Badan Rohani ) Kemuliaan Yang Maha Melihat,
ngadalitkeun cipta jeung ati, - menyatukan pikiran dan hati,
nunggalkeun salirana, - menunggalkan diri.
jeung Sanghiyang Guru, - dengan Sanghiyang Guru,
desek rapet rasa Tunggal, – me – nunggalkan rasa,
dalit rapih tunggalna kawula – Gusti, – menyatu dan tunggal antara abdi- dan Tuhan.
dumawa ka Kamulyan.- membagi, mengalirkan ( rasa menuju ) ke Kemuliaan,
II
Henteu pegat mumuja semédi, – Tak putus-putusnya ( ia ) memuja dan bertafakur
ngaasorkeun tingkah salirana, – merendahkan diri ( di hadapan Tuhan )
nanggalkeun ciptana baé, – mengatur cipta batinnya
tansah meleng jro kalbu, – terus – menerus hatinya menghada
pmamrih nyata Dewa nu Asih, – kepada yang Maha Ada, Dewa Pengasih.
taya rasa rumasa – ( Beliau ) tak mengakui dirinya
sampurna panemu - ( memiliki) pengetahuan kesempurnaan ( insan kamil ).
Dasarata mengadakan selamatan untuk memperoleh putra yang mulia, tampan, dan dititisi Batara Wisnu.
Dalam penyelenggaraan selamatan ini, resi mengajak raja beserta permaisuri untuk mengikuti selamatan secara khidmat seperti berikut :
III
pihaturna wiku : – kata wiku :
Mangga urang limaan sami - Marilah kita bersama-sama
manteng nyembah mumuja - khusu menyembah
sing suhud tapakur - bertafakur.
nyatakeun di jero cipta - Nyatakan di dalam batin
badan urang leungitkeun - raga kita dihilangkanngan
sing tanpa jinis - raga kita dihilangkanngan
Déwa anu nyata - hanya Dewa yang Ada
IV
Junggerengna Sangyang Utipati – Sangyang Utipati Yang Maha Ada
henteu pisah jeung rasa rumasa - tak berpisah dengan rasa.
Bacaan ini senada dengan ungkapan Dewa Rama ketika di hutan dalam melindungi para pertapa untuk melaksanakan titah ayahnya Prabu Dasarata.
Sri 67 Rama bercampur gaul dengan kehidupan para pandita yang membuatnya lupa terhadap kehidupan negara. Ungkapan Dewa Rama tersebut seperti berikut :
V
Tapi geuning ari mungguh para resi - Namun terhadap para resi
setan téh bet taak setan - setan itu
jeramun tembong mah tayoh ngacir - apabila menampakkan diri langsung lari
sabab dibawa perkosa - sebab dilayani dengan keperkasaan ( jiwa )
Badan badag dicipta pan aleungit - Badan kasar dicipta hilang
ngan Alus Nu Aya - hanya Yang Gaib, Yang Maha Ada
ciptana geus jadi hiji - batinnya menyatukan diri
tunggal jeung Hing Jagatnata - menunggal dengan Penguasa Jagat ( Jagatnata )
Lamun jalma enggeus kitu nya pamilih - Apabila manusia sudah memilih jalan itu
geus moal karasa - tak akan ada lagi
aral ria peurih nyeri keluh – kesah tekebur sakit hati
ngan wungkul nimat nu aya - hanya kenikmatan yang terasa
Deskripsi berikut, ketika Sri Rama menempuh puncak gunung Raksamuka yang sangat sulit, namun atas pertolongan Dewagung, ingat ingat ia sudah sampai di puncak.
Setelah tiba di puncak lalu ia bersemedi….
VI
Ti dinya tuluy mumuja - Kemudian dia bersemedi
ngening cipta nganyatakeun Sang Déwasih - mengheningkan cipta, hanya Dewa Pengasih Yang Ada
nyirnakeun salirana - menghilangkan kesadaran akan ragawi
Rama nyipta mati jroning hurip - Rama menghadirkan rasa kematian dalam hidup
geus teu nyipta daya jeung upaya - tak memiliki daya upaya
tumurah cara nu maot - berserah seperti raga mati
salirana menekung - duduk menunduk
Dewi Sinta memohon supaya Dasamuka dilenyapkan karena telah menyengsarakan orang sedunia, penggambarannya di dalam WBR sebagai berikut :
VII
Campleng cengeng tékadna putri Mantili - Bulat, kuat tekad Putri Mantili
ngayuh sihing Déwa - mendatangkan kasih dari Dewa
badanna dicipta leungit - badan lahir dicipta lenyap
ngan cipta Déwa Nu Nyata - yang hadir Dewa Yang Maha Ada.
Ungkapan – ungkapan yang dicuplik dari WBR pada bacaan di atas, mengandung arti pokok yang sejajar dengan istilah yang terkenal manunggaling kaula – Gusti.
Sebelum mengkaji Hp dari WBR tentang manunggaling kaula – Gusti yang terdapat di dalam naskah – naskah lebih dulu atau sezaman, dirasakan perlu membahas konsep ini relatif “ utuh ” supaya tergambarkan pengertian dari istilah ini, sehubungan dalam teks – teks naskah teosofi tasawuf, konsep ini dibahas secara panjang lebar, jadi dengan mencuplik satu atau dua bait pupuh, tidak mungkin menggambarkan pengertian yang jelas.
Konsep ini berasal dari konsep ke – Islaman – an yang biasa dibahas dalam naskah – naskah teosofi tasawuf.
Artinya kurang lebih menghadirkan Allah di dalam “ rasa batiniah ” diri manusia. “ Kehadiran Allah ” di dalam batiniah manusia tidak serta – merta “ bersinar ” ( “ bersinar ” hanya istilah, karena ada hubungannya dengan Nurullah ), namun harus diupayakan oleh pribadinya masing – masing, apabila tidak diusahakan oleh pribadi masing – masing, Nurullah yang Kudrati itu “ suram ”.
Di dalam peribadatan tarikat, salik ( pencari jalan ) mencari upaya untuk selalu menghadirkan Allah di dalam “ rasa ” nya. Untuk bisa menghadirkan Allah di dalam “ rasa ” salik tersebut, melalui baiat oleh seorang Guru Mursid ( Lihat, di dalam WJU, lihat pula pada Kajian Teori ).
Menghadirkan – Allah – selalu di dalam “ rasa ” manusia, bisa dipersamakan seperti tuturan Ajengan Gaos seorang guru Tarikat Kadariyah Naksabandiyah dari Suralaya bahwa harus bisa berkhalwat di tempat ramai, artinya harus selalu menghadirkan Allah di tempat ramai, terlebih lagi dalam kesendirian.
Kehadiran Allah “ Yang Maha Ada ” / “ Yang Maha Gaib ” / “ Dzat Laisa Kamistlihi ” / ‘yang tidak bisa diumpamakan oleh apa pun ’, apabila selalu ada dalam “ rasa ” kemudian, sinar Dzat Yang Maha Ada akan mengalir pada hembusan nafas, detak jantung, dan pada seluruh butir – butir darah, keadaan ini dinamakan bermakrifat.
Bermakrifat adalah berupaya menghilangkan hijab ‘ alangan ’ perkara duniawi dalam batiniah, yang dihadirkan hanyalah Allah, Yang Maha Ada / Yang Gaib. Ciri naskah – naskah teosofi tasawuf selalu disebut – sebut istilah syariat, hakikat, tarikat, dan makrifat ( Lihat Kajian Teori ).
Apabila salik sudah mampu menghilangkan alam kasar / alam fana dalam batiniahnya, dan selalu mengisinya dengan kehadiran Allah – Pemilik dari jagat raya ini, maka tak ada kekhawatiran apa pun karena segalanya berserah kepadaNya. Pegangan kehidupan bermakrifat dari Guru Tarikat Kadiriyah Naksabandiyah Almarhum Abubakar Fakih adalah ” lamun poho gancang éling, susah senang rata baé, susah lain nu urang senang lain nu urang ” kira – kira dalam pemaknaan bebas : “ apabila lupa segera Allah hadirkan kembali di dalam batiniah, jalani kehidupan yang sulit dengan kebahagiaan secara datar, karena kehidupan ini bukan milik manusia ”.
Pengertian ini tergambar di dalam WBR.
Menghilangkan badan kasar dan hanya mengadakan Yang Maha Ada di dalam diri, berarti “ kematian ” dari sifat fana “ sedang berlangsung proses kematian ” “ sudah berpisah antara nyawa dan badan ”.
Dalam proses ini batin manusia menghadap Yang Maha Ada.
Di dalam teks naskah teosofi tasawuf disebut “ belajar mati sebelum wafat ”.
Di dalam Wawacan Pulan Palin disebutkan bahwa “ manusia tidak mati ” namun “ hayun baqin ” “ hidup kekal ”, yang hancur adalah badan kasar / hawadis / yang bersifat baruan / fana.
Di dalam WBR disebutkan bahwa sesudah menjalani mati raga kasar, kemudian menjalani Alam Keabadian, di Alam Keabadian ada yang “ bahagia di surga ” dan ada yang “ celaka di neraka ”, tergantung kepada perilakunya atau amal perbuatannya.
Manunggaling kaula – Gusti di dalam WBR, menghilangkan raga kasar di dalam batiniah, yang hadir hanya Yang Gaib / Yang Maha Ada.
Apabila hati sudah menyatu dengan Yang Jagat Nata ( Penguasa Jagat / Semesta ), perasaan susah, tekebur, sakit, dan nyeri akan hilang, yang tertinggal hanya rasa nikmat. Gambaran ini, memperlihatkan telah terjadi myth concern atas karya terdahulu dalam segi konsep, namun terjadi penyesuaian nama terhadap Penguasa Alam yaitu dengan menempatkan nama – nama Penguasa Alam pra – Islam, Sangyang Guru, Dewa, dan Sangyang Utipati sesuai latar belakang kisah Sri Rama.
Uraian secara rinci bagaimana dari Hp dan penerapannya dalam setiap pernyataan di dalam WBR seperti berikut.
3.3.1.2 Manunggaling kaula-Gusti dalam Teks-Teks Hp II.1. Manunggaling kaula- Gusti dalam WPP
1.Paéh nu teu usik malik mah – Mati yang tidak bergerak
nyaéta paéh bag-bagan jasmani – yaitu mati urusan jasmani
da teu nyaturkeun paéh kitu – ( kini ) tidak sedang mempersoalkan masalah itu
paéhna nu sajatina – ( yang menjadi persoalan ) mati Kesejatian
éta mah gaib teu katénjo ku batur – yang tidak terlihat orang lain
ngan urang sorangan nu ngarasa – hanya kita yang merasa
paéh bisa usik malik ( 68 ) – mati, namun kita masih bisa bergerak
2 Geuning dina Kuran dalilna – Di dalam al Quran
antal maoti
antal maoti koblal maotu
qoblal maotu
kudu diajar maot méméh wapat – harus belajar mati sebelum wafat
kudu diajar wapat saméméhna pupus - harus belajar wafat sebelum meninggal
tah kitu sundana - nah begitulah artinya
kudu nyaho paéh saméméhna - mati ( 69 ) harus mengetahui mati sebelum mati
3 Naha Allah téh Akang di mana ayana - Di manakah ada-Nya Allah
Kandanaha marukana Allah téh di luhur langit – Apakah Allah itu di atas langit
kapan kaula-Gusti tunggal ( 74 ) – ( apabila begitu ) mendua dengan kita
Sabab mungguhing Pangéran – Sesungguhnya Tuhan,
teu aya antarana saeutik – tak ada antaranya sedikit pun ( dengan kita )
jeung manusa teh deukeut pisan – dengan manusia, sangat dekat tapi
teu antel jeung diri – tetapi tak bersentuhan
lamun anu tacan ngarti – apabila belum mengerti,
enggeus tangtu éta – jauh disangka ( keberadaan Allah )
jauh tah eta téh mangga manahan – nah, silahkan pikirkan
rasakeun di jero galih – rasakan di batin
mun geus kapiraos téh éta Wujud Allah ( 195 ) – apabila dirasakan Ada-Nya, itulah Wujud Allah734
Da néangan anu néangan – Sebab (Allah), mencari hati orang yang mencari-Nya
naha saha anu kapanggih - nah, siapakah yang ditemukan,
papanggih ge hamo patepang – ( namun ) apabila bertemu pun ( ada ) yang tidak Mengenal-Nya
kaula sarawuh Yang Widi. – abdi kepada Tuhannya.
Lamun terang hayang panggih – Apabila benar – benar ingin menemukan-Nya
rasakeun saha nu lungguh – rasakan siapa yang Ada
tah ieu Saha Nu Lenggah – siapakah Penghuni batiniah
bet teu aya lian Anu Linggih – tiada lain Yang Maha Ada.
hamo papanggih nya ieu sabab – ( Apabila dicari pun di luar diri ) tidak akan bertemu sebab Dia,
Nu Lenggah (196 ) – berada di dalam batiniah.
II. 1. Manunggaling kaula – Gusti dalam WJU 5
Dikir téh Rai, masing sidik - Adinda, apabila berdzikir pahamilah74
kana diri Rai pribadina - diri pribadi
ulah nyipta nu teu nyaho - jangan mencipta-cipta (Allah), itu hal yang tak kaupahami
rasa Akang mah henteu sah - pada hematku itu menyimpang
mun kitu petana mah - apabila begitu pemahaman
nyaanu teu nyaho kedah dicipta kitu - harus mencipta-cipta hal yang tak tahu
da puguh gé henteu terang (34) - jelas tidak bisa sebab tidak tahu6
Sanes kitu éta téh Rai - Bukan begitu caranya Dinda
hal nganyahokeun Dzat Allah mah - memahami Dzat Allah
éta lain sapertos baréto - bukan seperti dahulu (yang kita lakukan)
kawas nganyahokeun sipat anyar - ( apabila begitu ) itu perilaku mengetahui benda sifat baruan
cék Arab mah hawadis téa - dalam bahasa Arab hawadis
hawadis téh nu ngajentul - hawadis adalah benda bersifat indrawi
wujud éta nyatana ( 36 ) - yang ‘ada’, kelihatan7
Eta téh kudu kaharti - Hal itu harus dipahami,
atawa sing karasa nyata - atau rasakanlah keberadaan-Nya,Maha Ada.
sabab Allah Taala téh - Allah Taala
cék dalilna Dzat Laisa téa - menurut dalil, Dzat Laisa
kamistlihi lajengna mah - Kamistlihi lanjutannya
Dzat Yang Agung téh teu ngawujud - Dzat Yang Maha Agung tidak berwujud “indrawi”
henteu aya keur ngupama ( 37 ) - tak bisa diumpamakan oleh apa pun 8
kedah kanyahokeun heula Dzatna Allah - terlebih dahulu, ketahuilah Dzat Allah
naha saha nu kedah tingali - siapa yang harus mengetahui
lamun urang teu kudu nyaho ka Allah ( 48 ) - apabila manusia tidak mengetahui ada-Nya Allah
Kapan parantos kapegat - Bukankah sudah
kapiheulaan ku dalil - didahului oleh dalil
Laa hawla wala kuwwata téa - Laa hawla wala kuwwata tea
ila bilahi aliyul adziim - ila bilahi aliyul Adziim
cenah geuning Sundana dalil - adapun artinya
henteu daya henteu upaya kitu - ( manusia ) tak memiliki daya upaya
nyasat lahawla kawas rokrak - seolah – olah sebilah bambu kecil
lebah dinya tacan kaharti - nah, itulah yang tak kupahami
bet aya rokrak kudu kawasa ningal ( 49 ) - mengapa sebilah bambu harus mampu melihat 759
Saupami kitu mah Allah dua - Apabila begitu Allah dua.
hirup rokrak hirup Gusti - Adanya bilahan bambu, karena daya hidup dari Tuhan,
rakana enggal ngajawab - kakaknya segera menjawab
Rai ulah salah harti - Dinda, janganlah salah paham
urang sotéh ceuk nu hurip - kita, dikatakan oleh Daya Hidup
hurip nyaéta nu disebut hirup – Hidup itulah yang hidup ( di hatinya )
hirup téh nyatana cahaya - Yang Hidup ( di hati ) yaitu Cahaya ( Nurullah )
cahaya padang Muhammad Hakéki - cahaya benderang Muhammad Hakeki
hirup téh nya Rasa Rasulullah ( 50 ) – hidup adalah Rasa Rasulullah
( “ Hidup ” dalam pembicaraan ini adalah Daya Hidup Badan Rohani / Nurullah / Muhammad Hakeki / Rasa Rasulullah yang bisa melihat Ada – Nya Allah. Apabila manusia mempotensikan anugrah dari Allah itu, batinnya “ bersinar ” ).
10 Lain sipat nu anyar – Bukan sipat baruan
atawa sipat hawadis - atau sifat hawadis
anu tiasa awas ningal - yang mampu melihat/mengetahui ( dalam diri manusia )
kana sipat hirup téh lain - Yang Maha Hidup.
saleresna mah Anu Gaib - sesungguhnya Yang Gaib ( pada diri manusia ) – lah
ningali ka Sipat Hirup - yang melihat, mengetahui, kepada Yang Maha Hidup
nyaéta Ahadiyat téa - yaitu Ahadiyat,
anu Dzat Laisa Kamistlihi - yang Dzat – Nya, Dzat Laisa Kamistlihi
nu disebut teu aya upamana ( 71 ) – yang tidak bisa diumpamakan.
II. 3. Manunggaling kaula- Gusti dalam WB W76Dalam pembahasan ajal11
Tah kitu éta mah Engkang - Begitulah Kanda
nu matak kudu kapanggih - oleh sebab itu harus bertemu / mengenal / mengetahui
eujeung nu bogana Sukma - dengan Pemilik Sukma
di kuburan bisi heurin - ( supaya kelak di kuburan ) tak sempit
candak Jagat Gedé deui - masukanlah Jagat Luas ( Pemilik Jagat Raya )
nagara gé meureun asup – negara pun masuk
diteundeun di jero ati - letakkan di dalam hati
tah téangan dina badan Jagat Lega ( 121 ) – nah carilah di badan Jagat Luas tersebut 12
sing nyaho Allah, Pangéran - ketahuilah Allah, Tuhan
pisah tunggalna sing puguh - berpisah atau menunggal – Nya ketahui dengan jelas
éta hiji jadi dua - Satu menjadi dua ( dalam diri manusia diemanasi Nurullah )
sing kamanah éta dina badan Rai - pikirkanlah sampai jelas Yang Maha Ada ) pada raga Adinda.
II. 4. Manunggaling kaula- Gusti dalam karya HHM13.
Kuring ngawula ka kurung - Aku ( Nurullah dalam diri manusia ) selalu mengabdi pada raga
kurunganana Sim Kuring - yang menjadi kurungan Aku ( Nurullah dalam diri manusia )
Kuring darma dipiwarang - Aku sekedar diperintahkan
dipiwarang ku KURING - oleh AKU ( Allah )
kuringna rumingkang kurang – aku yang bergerak ke sana ke mari bersipat kurang
kurangna puguh gé kuring - kurang karena sifat aku ( yang sedang mengembara di dunia.
14 Kuring ngawula ka kurung - Aku mengabdi pada kurungan,
kurungan pangeusi kuring – kurungan yang diisi oleh
Kukuring sagalana kurang – aku ( yang sedang mengembara di dunia ini ) segalanya bersifat kekurangan
kurang da puguh gé kuring – kurang karena memang sifat aku ( sedang mengembara di dunia )
77 Kuring sagala teu kurang – namun, Aku ( Nurullah ) tak kekurangan apa pun
sakur nu aya di Kuring – segala ada padaKu ( manusia diemanasi oleh sifat Tuhan untuk menjadi Khalifah di bumi )
15 Kuring ngalantung di kurung – Aku berdiam di kurungan
kurung Kuring eusi Kuring – kurungKu yang berisi Aku
kuring kurang batur kurang - aku ( yang sedang mengembara di dunia ) bersifat kekurangan begitu pun manusia lainnya
rasaning pa – Kuring – Kuring - namun di dalam rasa masing – masing, sama – sama ada Aku ( Nurullah ).
Teu kurang pada Teu Kurang – yang tidak memiliki sifat Kurang
batur-batur cara kuring – semua manusia ( yang dalam pengembaraan ) seperti aku
II. 5. Manunggaling kaula – Gusti dalam W G S 16
Ki sari tuluy popoyan - Ki Sari kemudian memberitahukan
mun ku Kakang teu kapendak, - apabila Kakanda belum tahu
éta téh nyataning élmu - itu ilmu tentang Ada
ayana dina salira ( 021 – ( 05 ) – ( Yang Maha Ada ) ada dalam badan
Ki Ganda ngalahir deui - Ki Ganda berkata lagi
Adi sumangga popoyan, - Dinda beritahukan
sabab Kakang mah teu hartos, – sebab Kakanda belum mengerti
Ki Sari tuluy popoyan, – Ki Sari kemudian berkata,
mun ku Kakang teu kapendak, – Apabila Kanda tak menemukan – Nya,
éta téh nyataning élmu – itu Yang Maha Ada
ayana dina salira ( 022. ( 06 ) – berada di dalam badan 17
Lain papan lain tulis, – ( AKU ) tidak tertera di papan, bukan pula pada tulisan
lain Quran lain kitab – tak ada pada al-Quran atau Kitab
téangan tulisan Déwék - carilah tulisan – Ku
montong néangan nu anggang – janganlah mencari yang jauh – jauh
ngarampaan nu teu aya – mencari – cari yang tak ada
montong nakol anu jauh – jangan mencari warta yang jauh
montong lampar nu diseja ( 022 – ( 06 ) – jangan mengembara, bila bertujuan mencari – Ku 18
Taneuh diruang ku bumi - Tanah ditutup oleh bumi
cai ditanggung ku hujan - air diangkat oleh hujan 78
sangu pananggungna congcot, – nasi menyangga congcot “ semacam tumpeng ”
éta siloka kaula, – itu selokaku
poma ku Kakang téangan – Baiklah, carilah ( isinya )
Kandajeung aya seuneu kaduruk – ada api terbakar
sarangéngé kapoyanan 023 – ( 07 ) – sang surya terkena sinar matahari pagi 19
Kapal tilelep ka langit - Kapal tenggelam ke langit
bangkong ngaheumheum liangna – katak mengulum lubangnya,
pilih jalma anu nyaho – hanya orang terpilih mengetahuinya.
teu jauh jeung éta - ( Keberadaan – Nya ) tak jauh dengan seloka itu
aran séjén baé pernahna - hanya berbeda ( makhluk dengan Khalik )
éta ieu reujeung Itu – “ Itu “ dengan ITU
enyana meureun sarua ( 024 – ( 08 ) – pada hakikatnya bersama – sama
( Itu untuk menyatakan Nurullah pada batin manusia, dan ITU untuk tanda Tuhan ) 20
Allah jeung Pangéran deui - Tentang Allah
pangandikaning Yang Sukma – menurut sabda Yang Maha Gaib
poma-poma kudu nyaho – hendaknya kau ketahui
kana salira Muhamad – pada ke- Muhamad-an
éta téh nyatana Allah - itulah ke – Nyata – an Allah
sabab éta hanteu jauh – ( keduanya ) tak berjauhan
kaula-Gusti teu béda 026 – ( 10 ) - abdi – dengan Tuhan bersamaan
3.3.1.3 Penerapan Teks Hp Manunggaling kaula – Gusti terhadap WBR Teks WBR Data WBR I
Intinya menunggalkan dengan Sanghiyang Guru, tunggal kaula Gusti yang akan membawa kepada Kemuliaan.
Hp adalah semua yang dicantumkan pada data hipogram tentang manunggaling kaula – Gusti.
Konsepnya sama namun dengan bahasa yang berbeda.
Penerapan Hp ke teks WBR melalui adaptasi ( adaptation ) dari Asma Allah eksplisit atau implisit dengan penyebutan Penguasa Alam Hindu Budha.
Pada 79WBR manunggaling kaula – Gusti sudah merupakan berlangsungnya proses peribadatan, pada Hp baru merupakan pembelajaran.
Data WBR II Menanggalkan cipta ( keduniawian ), menghadirkan Dewa Penyayang, tak merasa memiliki daya HP 8 :
kedah kanyahokeun heula Dzatna – terlebih dahulu, ketahuilah Dzat Allah
naha saha nu kedah tingali – siapa yang harus mengetahui
lamun urang teu kudu nyaho ka Allah ( 48 ) – bila kita tidak harus tahu Allah
Kapan parantos kapegat - Bukankah sudah terputuskan
kapiheulaan ku dalil - didahului oleh dalil
Laa hawla wala kuwwata téa – Laa hawla wala kuwwata tea
ila bilahi aliyul adziim - ila bilahi aliyul Adziim
cenah geuning Sundana dalil - adapun artinya
henteu daya henteu upaya kitu – ( manusia ) tak memiliki daya upaya
nyasat lahawla kawas rokrak - seolah – olah sebilah potongan bambu kecil
lebah dinya tacan kaharti – nah, itulah masalah yang tak kupahami
bet aya rokrak kudu kawasa ningal ( 49 ) – mengapa sebilah bambu harus mampu melihat
Hp 8 ini intinya mengetahui Allah ( menghadirkan / merasakan ada – Nya Allah ) dalam Badan Rohani.
Kehadiran Allah dalam Badan Rohani, pada hakikatnya manusia tak memiliki daya upaya apa pun, karena sarana untuk merasakan adaNya Allah sekali pun, atas anugrah – Nya.
Serta atas kehendak – Nya Allah bertajalli kepada manusia yang dipilih – Nya, yaitu manusia yang mencari – Nya
Penerapan Hp kepada WBR dengan pengadaptasian ( Adaptation ) Penguasa Alam, WBR Penguasa alamnya Dewa, adapun Hp walaupun tidak disebut secara eksplisit, yang dihadirkan Ada – Nya di dalam Badan Rohani adalah Allah.
Data WBR III Raga dihilangkan, yang dihadirkan dalam batin hanya Dewa 80 Hp Lihat keterangan Data I Data WBR IV Sangyang Utipati berada di dalam “ rasa ”. Hp 3
Naha Allah téh Akang di mana ayana – Di manakah ada – Nya Allah Kanda
naha marukana Allah téh di luhur langit - Apakah Allah itu di atas langit
kapan kaula – Gusti tunggal ( 74 ) - bukankah abdi dengan Tuhan menunggalkan ( diri )
Sabab mungguhing Pangéran - Sesungguhnya Tuhan,
teu aya antarana saeutik - tak ada antaranya sedikit pun ( dengan kita ),
jeung manusa teh deukeut pisan - dengan manusia, sangat dekat
tapi teu antel jeung diri - tetapi tak bersentuhan
lamun anu tacan ngarti - orang yang belum mengerti,
enggeus tangtu éta jauh - disangka ( keberadaan Allah ) jauh
tah éta téh mangga manahan - nah, silahkan pikirkan
rasakeun di jero galih - rasakan di dalam batin
mun geus kapiraos éta téh Wujud Allah ( 195 ) – apabila dirasakan Ada-Nya, itulah Wujud Allah
Hp 3 baru merupakan pemberitahuan bahwa menghadirkan Allah pada Badan Rohani yakni pada “ rasa ”, sedangkan pada WBR sudah merupakan proses 81 peribadatan, yakni Sang Utipati berada pada rasa.
Penerapan HP terhadap WBR melalui proses pengadaptasian nama Tuhan yang diseru ( Adaptation ).
Data WBR V Raga kasar dihilangkan, cipta menyatu kepada Hing Jagat Nata, rasa sakit hati, seperti tidak menerima keadaan / keluh kesah, takabur, pedih hati, sakit, musnah, yang ada rasa nikmat.
HP. 13. Kuring ngawula ka kurung – Aku ( Nurullah dalam diri manusia ) selalu mengabdi pada raga
kurunganana Sim Kuring – yang menjadi kurungan Aku ( Nurullah dalam diri manusia )
Kuring darma dipiwarang - Aku sekedar diperintahkan
dipiwarang ku KURING - oleh AKU ( Allah )
kuringna rumingkang kurang – Aku ( dalam kurungan raga manusia ) jadi bersifat kurang
kurangna puguh gé kuring – kurang karena sifat aku ( yang sedang mengembara di dunia ).
HP,14, Kuring ngawula ka kurung – Aku mengabdi pada kurungan,
kurungan pangeusi kuring – kurungan yang diisi olehKu
kuring sagalana kurang - aku ( yang sedang mengembara di dunia ini ) segalanya bersifat kekurangan kurang
da puguh gé kuring – kurang karena memang sifat aku ( sedang mengembara didunia
Kuring sagala teu kurang - namun, Aku ( Nurullah ) tak kekurangan apa pun
sakur nu aya di Kuring – segala ada padaKu,
HP,15, Kuring ngalantung di kurung - Aku dalam kurungan
kurung Kuring eusi Kuring – kurungKu yang berisi Aku
kuring kurang batur kurang - aku ( yang sedang mengembara di dunia ) bersifat kekurangan begitu pun manusia lainnya
rasaning pa – Kuring – Kuring - namun di dalam rasa masing – masing sama – sama ada Aku ( Nurullah )
Teu kurang pada Teu Kurang - tidak memiliki sifat Kurang
batur-batur cara kuring – semua manusia ( yang dalam pengembaraan ) seperti aku 82
( Keterangan tanda aksara : aku manusia biasa, Aku Nulullah, AKU Tuhan )
Hp nomor 13, 14, 15, terdapat tiga jenis “ aku ”. Pertama “ AKU ”, Tuhan, kedua “ Aku ” Nurullah yang berada di dalam diri manusia yang tidak memiliki kekurangan karena diemanasi oleh Tuhan, ketiga “ aku ” manusia biasa yang sedang mengembara di dunia, yang terdiri dari lahir / raga kasar dan batin yaitu Badan Rohani / Nurullah.
AKU, Tuhan tak akan dibahas, yang akan dibahas “ Aku ” ( Nurullah ) dan “ aku ” manusia yang terdiri dari raga dan batin.
Aku tidak membutuhkan apa pun, Aku ini ikut dengan raga / jasad kemana pun raga itu pergi, namun Aku tidak dipengaruhi hukum dunia.
Dalam WBR dikatakan, hukum dunia ada rasa enak tak enak, menang kalah, gembira dan sedih.
Aku ini tidak dipengaruhi, oleh karena itu dikatakan Aku tak kekurangan apa pun.
Dikatakan oleh sufi susah senang rata baé, susah lain boga urang senang lain boga urang “susah senang rasakan secara rata karena keduanya bukan milik manusia.
Susah senang dibagikan secara adil oleh Tuhan kepada manusia ”, dengan kata lain susah dan senang hanya cobaan hidup.
Kedua, “ aku ” yakni Aku Nurullah / Badan Rohani yang terbungkus oleh Muhamad Majaji ( istilah dalam WJU ) yakni raga yang bersifat hawadis, baruan, indrawi, dikatakan oleh Sufi Abubakar Fakih Almarhum Kaadaman adalah manusia, yang terdiri dari raga kasar yang bersifat fana dan Badan Rohani yang hayun baqin “ hidup kekal ” “ aku ” ini, manusia yang meliputi raga kasar dan Badan Rohani, dalam menjalani hidup di dunia selalu bersifat kurang, kata HHP kuring kurang batur kurang, seluruh manusia dihinggapi oleh perasaan kurang. 83
WBR mengedepankan suasana batin yakni aral “ tidak menerima keadaan / berkeluh kesah,” tekebur, pedih hati, sakit, musnah, yang ada rasa nikmat, apabila selalu menghadirkan Tuhan pada batiniah.
Tentang lenyapnya suasana batin antara lain sedih, dengan hadirnya Rasa Allah dalam diri manusia disebut dalam Hp 11 sebagai beriku :
HP 11 Tah kitu éta mah Engkang – Begitulah Kandanu
matak kudu kapanggih – oleh sebab itu harus bertemu / mengenal / mengetahui
eujeung nu bogana Sukma – dengan Pemilik Sukma
di kuburan bisi heurin – ( supaya kelak ) di kuburan tak sempit
candak Jagat Gedé deui – masukanlah Jagat Luas ( Pemilik Jagat Raya)
nagara gé meureun asup – negara pun masuk
diteundeun di jero ati - letakkan di dalam hati
tah téangan dina badan Jagat Lega ( 121 ) - hadirkanlah di badan Pemilik Jagat Yang Maha Luas.
Dari Hp 11 dikatakan hadirkan Pemilik Jagat Yang Maha Luas, yang menguasai seluruh rasa, maka bila Pemilik Jagat Luas hadir dalam diri manusia maka lenyap rasa was-was, khawatir, tidak menerima keadaan, tekebur, pedih hati, sakit, musnah yang tinggal rasa nikmat.
Jadi penerapan Hp ke dalam WBR V, merupakan penggabungan dari sejumlah Hp yang berarti pengluasan
( expansion ), konsep ini ditemukan dalam penelitian Rifatterre ( 1978: 50 – 63 ).
Data WBR VI Menciptakan mati dalam hidup HP1.
Paéh nu teu usik malik mah – Mati yang tidak bergerak
nyaéta paéh bag-bagan jasmani - yaitu mati urusan jasmani
da teu nyaturkeun paéh kitu – ( kini ) tidak mempersoalkan masalah itu
paéhna Nu Sajati – na - ( yang menjadi persoalan ) adalah mati Kesejatian
éta mah gaib teu katénjo ku batur – yang tidak terlihat oleh orang lain
ngan urang sorangan nu ngarasa – hanya kita yang merasa
paéh bisa usik malik ( 68 ) - mati, namun raga bergerak ke 84 sama ke mari
H 1 Ada dua kematian yang dikemukakan, pertama mati jasmani yakni mati biasa atau ajal yaitu raga tak bisa lagi bergerak. Yang menjadi pembicaraan bukan mati ini, namun mati Badan Rohani, mati yang raganya berjalan ke sana ke mari. Mati Badan Rohani yang dimaksudkan, seperti keterangan berikut.
Allah dengan Rahim – Nya membagikan Nurullah / Sajatining Iman kepada manusia dalam porsi yang sama, namun manusia itu sendiri tidak membukakan jalan, tidak mempotensikan anugrah dirinya, untuk mengetahui Ada – Nya, tidak mencari tahu, tentang bagaimana menghadirkan Allah di dalam Badan Rohani.
Keberadaan Allah di dalam dirinya diacuhkan, maka Badan Rohani tidak bersinar. Pada teks Wawacan Pulan Palin dikatakan, Allah néangan anu néangan, ‘Allah mencari manusia yang mencari – Nya’ Pengertian tersebut seperti berikut. Dalam WJU tentang tajalli diterangkan bahwa, Allah menampakkan diri kepada “ manusia yang dikehendaki ”
( bukan berdasarkan nasib, namun upaya dari manusia untuk membuka hijab, membuka alangan, hal – hal yang tidak dikehendaki – Nya, tidak menyimpan perkara duniawi di dalam Badan Rohani, apabila menempatkan perkara duniawi / indrawi dalam Badan Rohani, itu yang dinamakan kufur, kafir ( di dalam WJU ).
Dalam Hp paéh Nu Sajatina yang dimaksud manusia itu sendiri yang memalingkan muka pada kehadiran Tuhan di dalam dirinya, dalam WPP dikatakan juga bahwa ” kapanggih gé moal tepang, kaula sarawuh Yang Widi “ bertemu pun tak kenal, abdi dengan Tuhannya ” 85
WBR mengungkapkan kebalikannya menjalankan mati di dalam hidup.
Dalam WJU diungkapkan Ruyat illahi Ta’ala fiddunya biainil golbi, ruyatullahi Ta’ala bilakhiroti biainil Arsi, artinya ‘di dunia ( manusia ) melihat Allah dengan ‘ mata hati’, di akhirat Allah tak terhalang apa pun, sebab sudah menyatu ’. Melaksanakan mati dalam hidup adalah bertafakur, melepaskan duniawi di dalam batin dan menghadirkan Allah dalam Badan Rohani, seperti melihat Allah di akhirat.
Jadi penerapan Hp 1 dalam WBR menyatakan yang sebaliknya atau pemutar balikan ( conversion ) konsep ini ditemukan dalam penelitian Riffatere ( 1978 – 63 ) HP 2
Geuning dina Kuran dalilna - Di dalam al Quran
antal maoti antal maoti koblal maotu qoblal maotu
kudu diajar maot méméh wapat - harus belajar mati sebelum wafat
kudu diajar wapat saméméhna pupus – harus belajar wafat sebelum meninggal
tah kitu sundana - nah begitulah artinya
kudu nyaho paéh saméméhna mati ( 69 ) – harus mengetahui mati sebelum mati
Hp 2 merupakan myth concern WBR.
Yang dimaksud belajar mati dalam hidup adalah menghidupkan Badan Rohani / Nurullah, menghadirkan Allah dalam diri, 86 dengan mengisi batin dengan Asma Allah ( Dzikir Hofi berdzikir yang takdi bunyikan dengan indrawi )
( Lihat penjelasan Dzikir dalam Kajian Teori ).
Apabila Asma Allah selalu hadir dalam Badan Rohaninya akan menggetarkan ke bagian jasad sehingga dikatakan bangkong ngaheumheum liangna “ katak mengulum lubangnya ” kapal tilelep ka langit “ kapal tenggelam ke langit ”
( dalam WGS ) Data WBR VII Raga kasar dihilangkan, cipta menyatu kepada Hing Jagat Nata Lihat Data WBR I, namun Jagat Nata bersifat netral, tidak cenderung kepada satu agama dalam arti bukan simbol agama.
Jagat Nata artinya Penguasa Jagat serperti halnya antara lain, Penguasa Alam, Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, dan Yang Maha Pengasih Penyayang.
Jadi penerapan Hp pada WBR myth concern sepenuhnya.
3.3.2 Kemanunggalan dalam Teks WBR dan Teks-Teks Hp
Yang dimaksud kemenunggalan yaitu, bagaimana kemenunggalan antara makhluk dengan Khalik.
3.3.2.1 Kemanunggalan di dalam Teks WBR
Bagian ini disampaikan oleh Rama kepada dua orang raja Prabu Sugriwa dan Wibisana.
Dalam uraian ini akan disalin semuanya.
RAA Martanagara mengatakan bahwa konsep teosofi tasawuf ini tidak diambil dari aslinya ( WBR, 872881 ).
Pembahasan kemanunggalan ini karena pada WBR dibahas dalam beberapa bait jadi pada bahasan akan ditulis secara menyeluruh supaya jelas.
I.
Kawas mungguhing manusa, – kewajiban manusia,
sing manggih pati sinelir, – mendapatkan ajal yang terpilih.
mun taya nu mituduhan, - Apabila tak ada yang memberi petunjuk 35,
mamrih tékad nu sajati, - untuk menjalankan tekad suci,
tangtu samar pangarti - pengetahuan samar-samar tak jelas,
tambuh nyembah ka Déwagung - sia – sia dalam menyembah Dewa Agung
sumawona rajana - Begitu pula raja,
jadi wakil Bataraji, – sebagai wakil dari Batara Aji,
kudu nanggung lalakon di alam dunya - yang menanggung kehidupan di dunia.
( LXXXVIII / 30 / 2968 )
II.
Nya tékad ngandel ka Déwa, - Hati hendaknya percaya penuh kepada Dewa,
nu ngawasa bumi langit, – Penguasa bumi dan langit.
réh mungguh nu jadi raja, - Sesungguhnya raja, apabila tak mampu
mun teu bisa ngeréh nagri, - memerintah negeri,
mangké mun manggih pati, - kelak setelah ajal
meunang cangcala sisiku, - akan mendapat siksaan pembalasan,
singkah ti pati mulya, - jauh dari ajal mulia
laku salahna kabukti, - diperoleh, balasan dari perilaku salah.
mun bener mah tangtu keur tapa - yang benar yaitu memegang
ngeréhna.
( LXXXVIII / 34 / 2972 ) pemerintahan dengan tapa (raja).
III.
Jeung deui pamanggih Kakang, - Menurut hemat Kakanda,
pada regepkeun ku Yayi, - dengarkan baik-baik, Adinda.
warna – warna tékad jalma, - Beragam pemikiran manusia
nu mikir ngaraning pati, - yang berpikir tentang ajal
aya jalma nu mikir, - ada orang yang berpendapat
paraning pati téh kudu, - kedatangan ajal, hendaknya
mulang kana asalna, - kembali ke Asal.
nyaéta Wahyu Sajati, - ( Asal manusia ) yaitu Wahyu Sejati, 36
Rasa Mulya nu aya di alam dunya. - Rasa Mulia 37 ketika hidup di dunia.
( LXXXVIII / 35 / 2973 )
IV.
Saréh ti dinya bibitna, – Karena, dari sanalah sumbernya
pang gelar di alam lahir, - manusia berada di alam dunia,
nya ka dinya geusan mulang, - dan ke ( Wahyu Sejati ) itulah tempat kita
rasana téh pati leuwih, - kembali, itulah ajal yang terpilih.
mungguh Kakang pribadi, - Adapun pendapat Kakanda,
pikiran kitu teu milu, - tidak sepaham dengan itu.
éta tékad nu sasar, - Itu pendapat yang sesat
ngangkeuhkeun teu matak harti, - pikiran tak masuk akal
anu kitu naon pingaraneunana. - paham seperti itu, apa namanya. 88
( LXXXVIII / 36 / 2974 )
V.
Reujeung sajaba ti éta, - Selain itu ada lagi
aya deui anu mikir - yang berpendapat bahwa
jaga mun ajal ti dunya, - kelak setelah ajal dari dunia,
mo ( w ) al manggih jeung Yang Widi, - tak akan bertemu dengan Yang Widi,
sabab Yang Utipati, - sebab Yang Utipati
jeung awak kami ngagulung, - dengan raganya menjadi satu,
ieu nyatana Déwa, - raga ‘ manusia ’ yakni Dewa,
nya Déwa nya awak kami, - Dewa ya raga ‘ manusia ’ juga.
anu kitu burung sasar patékadan. - pendapat demikian keliru
( LXXXVIII / 37 / 2975 )
VI.
Éta pamawana sétan, - Pemikiran itu petunjuk setan,
umangkeuh badan / n / a suci, - menganggap badannya suci
ngaku yén manéhna Déwa, - mengaku bahwa badannya Dewa,
bawaning ku cupet budi, - karena sempit akalnya.
naha asaeun teuing, - Mengapa sombong,
ngaku dalit jeung Yang Agung, – mengaku intim dengan Yang Agung,
kapan mungguh Déwa mah, - bukankah Dewa itu,
tampa enggon tampa jirim, - tak ada di mana pun, tak berwujud,
38 Yayi mana nyasama jeung – Adinda, itu artinya menyamakan
nu gumelar - dengan wujud indrawi.
( LXXXVIII / 38 / 2876 ).
VII.
Aya deui sababatan, - Ada lagi segolongan
mikir nyatana Yang Widi, - yang berpendapat tentang Yang Widi
e ( n ) nya éta lain éta, - yaitu bukankah itu,
enya itu tapi lain, - iya itu, namun lain itu
éta nu sasar budi, - Itu pendapat yang sesat,
timuna wungkul sakitu, - ia tahu sebatas itu,
teu nyaho sabenerna, - tak tahu Kehakikian – Nya.
tékad Nu Mulya Sahiji - Yang Maha Mulia itu Satu
anu kitu lain keur gugueun urang. - pendapat itu jangan diyakini.
( LXXXVIII / 39 / 2977 )
III.
Ngan mungguh pikiran Kakang, – Menurut hemat Kakanda
nurut pamanggih pribadi, - pendapat pribadi
misilna nyatana Déwa - perumpamaan “ Wujud ” Dewa,
nu aya di jaman lahir - dengan yang berada di alam lahir
misil hiji narpati, - seperti perumpamaan seorang raja
ngaran Ratu Sasrabau – yang bernama Raja Sasrabau,
boga Patih Suwanda - memiliki Patih Suwanda.,
ratu jeung patihna dalit - Raja dengan patih sangat erat
runtut-réntét Sasrabau jeung Suwanda - Sasrabau dengan Suwanda sangat intim.
( LXXXVIII / 40 / 2978 )
IX.
Mun ratuna teu séséba, - Ketika raja tak hadir dalam seba
patih anu jadi wakil, - patihnya menjadi wakil,
mangké dangdan karajaan, - mengenakan baju kebesaran,89
teu témbong yén éta patih, - tak menampakkan dia sebagai patih.
pamikirna wadyalit, - Menurut pemikiran orang – orang kecil,
éta nu témbong téh ratu, - orang yang tampak itu raja.
tatapi nu nyaho mah, - Namun orang yang paham
tangtu mo ( w ) al bisa pangling, - tentu tak akan terkecoh,
sabab éta sidik yén Patih Suwanda – sebab orang itu jelas Patih Suwanda.
( LXXXVIII / 41 / 2979 )
X.
Najan maké karajaan, - Walau mengenakan kebesaran kerajaan,
jinisna tangtu kaciri, - yang sesungguhnya tentu tampak .
ngan teu ngawakilan raja, – Apabila mewakili raja,
leungit sipatna papatih, - hilang sifatnya sebagai patih.
kunu réa kapikir, - Oleh orang kebanyakan
sidik yén éta téh ratu, - diyakini bahwa dia seorang raja.
tapi lamun rajana, - Namun apabila rajanya -
témbong séséban pribadi, - sendiri yang hadir dalam seba,
éta patih teu aya dina séséban. – patih tak ada.
( LXXXVIII / 42 / 2980 )
XI.
Eta raja jeung patihna, - Raja dengan patihnya
najan ngumpul teu ngahiji, - walau berkumpul, bukan satu,
lamun misah teu midua, - apabila berpisah, bukan dua, 39
sabab nu témbong ngan hiji, - sebab yang tampak satu.
mun dipikir ngan hiji, - Apabila direnungkan, satu itu,
éta patih éta ratu, - itu patih dan itu raja.
salah kabina-bina, - Sangat salah ( apabila dua itu dianggap satu )
sabab ratu reujeung patih, – sebab raja dengan patih,
tunggal lampah tatapi badan / n / a misah - perilaku tunggal, namun raganya beda.
( LXXXVIII / 43 / 2981 )
XII.
Mun dipikir aya duwa, - Apabila dikatakan ada dua,
nu jumenang ngeréh nagri, - orang pemegang tahta negara,
éta komo mowal pisan, - itu tak mungkin
pangerehna mowal jadi, - pemerintahannya tak akan terbentuk,
saperti hiji nagri, - seolah – olah satu negara
dieréh ku duwa ratu, - diperintah oleh dua orang raja.
kapan mah sidik pisan, - Bukankah jelas
Suwanda mah ngan papatih, - Suwanda hanya seorang patih,
Sasrabau éta anu jadi raja. – Sasrabau rajanya ?
( LXXXVIII / 44 / 2982 )
Tentang Muhammad Hakeki 90
Sebelum menelusuri Hp dari uraian tentang kemenunggalan yang diketengahkan oleh RAA Martanagara, terlebih dahulu akan membahas tentang Muhammad Hakeki dari WJU yang erat hubungannya dengan masalah kemenunggalan tersebut, yang suka dibahas pula dalam sejumlah naskah teosofilainnya. Di antara sejumlah pembahasan, yang mudah dipahami dan pembahasannya paling sistematis adalah kemenunggalan dalam WJU. Muhammad Hakeki adalah sarana untuk mengetahui, melihat, bermakrifat kepada Allah ketika di dunia. Muhammad Hakeki inilah di dalam diri manusia yang bisa merasakan hadirnya Allah Subhanahu Wataala, yang pada umumnya disebut Manunggaling kaula-Gusti. Istilah Muhamad Hakéki dalam WJU disajikan pada pembahasan mengenai 7 peringkat Alam yang dihubungkan dengan penciptaan manusia yaitu, Alam Ahadiyat, Alam Wahdat, Alam Wahidiyat, Alam Arwah, Alam Ajsam, Alam Misal, dan Alam Insan Kamil atau Alam Kamil Mukamil.
Alam Ahadiyat yaitu Alam Gaib, ketika itu hanya ada Yang Maha Ada yaitu Allah, belum ada “wujud” ciptaan-Nya. Allah adalah Dzat Laisa Kamistlihi tidak bisa diumpamakan dengan apa-pun. Kemudian Allah ingin menyatakan Ada-Nya, maka Allah menyinarkan Nur yang bersifat Gaib bernama Nurullah, Nurullah bukan berupa terang yang ada di Alam Kejasmanian. Nurullah menyandang nama yang berhubungan dengan keberadaannya antara lain adalah Rasa Rasululahi atau Muhamad Hakeki atau Sajatining Iman “Iman Sejati” atau Sajatining Ilmu “Ilmu Sejati” atau Sajatining Hirup “Kesejatian dari Hidup” atau Inti Kedirian dari Manusia. Alam ini disebut Alam Wahdat.91
Konsep Muhamad Hakeki dalam naskah teosofi tasawuf lainnya digunakan nama lain, antara lain Nur Muhamad, Badan Rohani, Badan Muhamad, dan Kamuhamadan. Pada sejumlah naskah teosofi menyebutkan “Allah Muhammad Adam,” maksudnya Allah, Muhammad (Nurullah), dan Adam adalah manusia secara umum. Dalam arti yang sempit Muhamad Hakeki adalah “Iman Sejati”. Peminjaman istilah Muhamad, karena iman tertinggi makhluk adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan sifat Rahim-Nya Allah membagikan Muhamad Hakéki dengan porsi yang sama kepada seluruh umat manusia. Dengan diciptanya Muhamad Hakéki, Kegaiban Allah terbungkus oleh adanya Muhamad Hakeki. Tuhan menghendaki supaya Muhamad Hakéki keberadaanNya nyata pula. Muhamad Hakéki menyinarkan cahaya merah bernama Narun (inti api), cahaya kuning bernama Hawaun (inti udara), cahaya hitam bernama Turabun (inti tanah) dan cahaya putih bernama Maun (inti air). Alam Wahdatlenyap, berganti dengan Alam Wahidiat.
Setelah Alam Wahidiat, memasuki Alam Arwah. Pada Alam ini kemudian dari keempat unsur inti tersebut tercipta bumi langit beserta isinya. Tuhan menyatakan Asma-Nya untuk disebut oleh makhluk, yakni Asma: Allah dari Aksara Alif, Lam, Lam, He, yang terdiri dari 4 (empat) huruf sebagai lambang dari Narun, Hawaun, Turobun dan Maun. Manusia di Alam Arwah sudah ada Dzat, Sifat, Asma dan Af’al yang diemanasi (disinarkan) oleh Allah, untuk menjadi khalifah di bumi. Manusia di Alam Arwah (selama 9 bulan) lahir ke alam dunia, yaitu ke Alam Ajsam. Muhamd Hakéki berwujud dalam bentuk manusia, bernama Muhammad 92Majaji (majas, simbol, memiliki raga yang bersifat fana) (jadi manusia menyandang badan rohani (yang kekal) dan raga yang fana/hawadis), yaitu dalam materi/wujud yang dapat diindra.
Dari Alam Arwah, manusia ke Alam Ajsam sampai masa aqil balig. Pada Alam ini, manusia belum dibebani kewajiban. Setelah manusia berusia 14/15 tahun, manusia menjalani Alam Misal. Dalam Alam Misal, manusia dibebani kewajiban. Kewajiban paling utama, yaitu manusia harus berusaha untuk kembali kepada-Nya. Innaa Lillahi Wainna Ilaihi Roji’uun ‘berasal dari Allah, kembali kepada Allah’. Manusia harus memahami dirinya, harus bertanya kepada Guru Utama/Guru Mursid. (VI 288 –322). Rentang waktu manusia di Alam Misal tidak tentu, tergantung nasib. Apabila manusia tak berusaha mencari Ilmu-Kembali-Kepada-Allah, dan durhaka, akan sulit kembali kepada-Nya. Manusia harus satuhu (menjadi manusia taat) supaya mencapai Insan Kamil, yaitu bisa kembali ke Alam Wahidiyat. Alam ini dalam Wawacan Buwana Wisesa disebut Nu Islam. Dalam sejumlah buku teosofi Tasawuf Sunda, yang disebut manunggal kaula-Gusti, tidak manunggal secara total, karena Allah Dzat Laisa Kamistlihi.
Apabila manusia memiliki tingkatan Badan Rohani tinggi, maka akan mencapai tingkat Insan Kamil, yaitu ke tahap perwujudannya semula di Alam Wahidiat. Kamil Mukamil, yaitu tingkatan Sampurnaning Sampurna lebih tinggi dari Insan Kamil (tingkatan manusia yang sempurna sesempurna-sempurnanya di hadapan Allah) (VII: 320 – 363).93 Awaludinni marifatullah, artinya ‘perilaku awal dalam memahami agama (Islam) yaitu mengetahui Dzat Allah. Untuk mengetahui Dzat Allah berbeda dengan mengetahui hawadis (sifat baru/makhluk/yang diciptakan Tuhan/yang bisa diindra). Allah Dzat Laisa Kamistlihi, tidak berwujud dan tidak bisa diumpamakan oleh apa pun. Untuk memahami Dzat Allah harus memahami diri sendiri terlebih dahulu. Menurut hadis, Waman arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, waman arofa Robbahu, faqod jalillan nafsahu. ‘Siapa yang mengetahuidirinya, maka akan mengetahui Tuhannya, siapa yang mengetahui Tuhannya, maka dirinya bodoh’. Dikatakan bodoh, karena manusia tak memiliki daya apa pun. Untuk bisa memahami Allah, manusia sudah dibekali sarananya dari Kudrat.
Manusia ‘wajib mengetahui Sipat Hirup ‘Hakikat Hidup’, dengan jelas tidak samar-samar’. (I: 32 – 43). Yang dimaksud Hakikat Hidup yakni Muhamad Hakéki.
Ruyatillahi Ta’ala fiddunya biainil golbi, ruyatullahi Ta’ala bilakhiroti biainil Arsi, artinya ‘di dunia (manusia) melihat Allah dengan ‘mata hati’, di akhirat Allah tak terhalang apa pun, sebab sudah menyatu’. Namun siapakah yang harus melihat, bukankah manusia Laa hawla walaa quwata illa Bilahil ‘Aliyyil’ Adzhiim, ‘manusia tidak memiliki daya apa pun untuk melihat, mengetahui kepada-Nya. Secara kudrati manusia sudah dibekali Badan Rohani atau Muhamad Hakéki
3.3.2.2 Kemanunggalan dalam Teks – Teks Hp 94 Kemanunggalan dalam Teks WPP1.
Marukana cara jalma nyieun bakul Dikira seperti orang membuat bakula
tawana nyieun said atau membuat bakul besar
anu nyieunna ngajentul ( orang ) yang membuat bakul tekun bekerja
anu dijieunna kitu deui yang dibuatnya (diam) rayap
said jeung boboko berhamparan bakul besar dan bakul
Padika Allah mah yén lain kitu Keadaan (Allah) dengan makhluk tak begitu2 …
mawa diri téh geus moal wegah membawa diri tak akan sungkan
da enggeus meunang papagah sebab telah mendapat petunjuk
ti guru anu geus puguh dari guru yang jelas
datang pati geus moal wegah (171) datang ajal tidak takut
3. Mun urang hayang maripat Apabila kita ingin bermakrifat dengan Allah
kana élmu Anu Rupit, gunakan Ilmu Rahasia
sing harti kana Dzat jeung Sipat, yang bisa menerangkan tentang Dzat dan Sifat
Asma Ap’al sing kapipit Asma Af’al, itu harus dipahami.
upama henteu kapipit Apabila tak dipahami
tangtu maripatna luput tentu tak kan bisa bermakrifatku
sabab henteu sakapat sebab tidak pada jalur
mun sakapat mah kapipit, apabila pada jalurnya tentu terambil
mun geus kitu éta ngaranna maripat (194) baru bisa bermakrifat dengan (Allah)
4. Sabab mungguhing Pangéran, Pada hakikatnya Tuhan,
teu aya antarana saeutik tak ada antara (dengan manusia),
jeung manusa téh deukeut pisan dengan manusia, sangat dekat
tapi teu antel jeung diri namun tak bersentuhan dengan diri manusia.
lamun anu tacan ngarti Orang yang belum mengerti
enggeus tangtu éta téh jauh menganggapnya berjauhan
tah éta mangga manahan, nah itulah, hayatilah
rasakeun di jero galih, (195) rasakan, dalam batin
mun geus kapiraos éta téh wujud Allah (195) apabila sudah terasa di sana Wujud Allah
955. Kapan mungguhing nu jadi raja Keberadaan raja
papisah raja jeung abdi-abdi, terpisah dengan abdi-abdinya
Allah mah séjén deui aturanana Keberadaan Allah lain lag
ihenteu papisah Gusti jeung abdi tidak terpisah Tuhan dengan abdinya
ibarat iwung jeung awi ibarat rebung dengan bambu
nu disebut Gusti iwung Tuhan iwung
kénging abdina Tuhan, Ada, dihadirkan oleh abdi-Nya
nyaéta abdina téh awi abdi (manusia) mengabdi kepada Allah
ibarat endog abdina tah hayam (223) ibarat telur, abdinya ayam
6. Mana lebah mana antarana Di manakah antaranya
tina iwung kana awi antara rebung dengan bambu
sareng endog kana hayam telur dengan ayam
tah éta téh Gusti jeung abdi seperti itulah ( keberadaan ) Tuhan dengan abdi-Nya
bener aya dua jinis betul ada dua jenis
tapi silih genti karang timbul namun saling berganti
aya endog euweuh hayam ada telur tak ada ayam
aya hayam endog leungit ada ayam telur lenyap
aya awi iwungna enggeus teu aya (224) ada bambu rebung tak ada lagi
7. Mun geus ngarti kana eta élmu sajati Apabila sudah memahami Ilmu Kesejatian
masing rata rasa ( mengalami susah – senang ) terima dengan perasaan rata
sing wakita tajamkan pikiranmu
anu pasti lepas haté sudah pasti berpikirlah secara luas
mun geus terang ka nu saéstu apabila sudah mengetahui hakikat
teu pisah kaula-Gusti tak berpisah antara “ hamba ” dengan Tuhan
Gusti – kaula nyatana badan sapata Tuhan – hamba ternyata rapih di badan
da élmuna geus buntu begitulah, jika ilmunya tamat
geus buntu mah tangtu nyata sudah tamat tentu akan terang
anu matak sing yakin ka Nu Sajati oleh karenanya ketahuilah dengan jelas tentang Yang Maha Benar
teu lian awak sapata tiada lain terletak dengan di dalam badan
8. Ditéangan gé Allah mah hamo kapanggih Dicari pun Allah tak akan ditemukan
matak seunggah najan urang gagah enggan walau kita kuat
moal burung teu unggah-enggéh akan terengah-engah
tungtungna téh jadi teu puguh akhirnya menjadi kacau
Salira téh henteu kapanggih Badan Rohani tak akan ditemukan
96 lamun acan meunang papagah apabila belum ada pemberitahuan ( dari Guru Mursid )
tekadna téh jadi teu puguh keyakinannya menjadi kacau
hal nyaéta Anu Lenggah hal yang menjadi Penghuni Diri
anu matak Allah téh hamo kapanggih oleh sebab itu Allah tidak ditemukan
sababna lian ti Anu Lenggah 274 sebab mencari selain Penghuni di dalam diri
9. Da néangan anu néangan ( Allah ) mencari yang mencari-Nya
naha saha anu kapanggih siapa pun akan menemukan-Nya.
papanggih gé hamo patepang ( Apabila tak kenal ) berhadapan pun tak akan tahu
kaula sarawuh Yang Widi. abdi dengan Tuhannya.
Lamun terang hayang panggih Apabila ingin bertemu
rasakeun saha Nu Lungguh rasakan, siapa yang Ada (di dalam diri)
tah Ieu saha Nu Lenggah nah siapa yang Ada
bet teu aya lian anu linggih, tak ada yang lain, hanya Yang Maha Ada.
hamo papanggih nya ieu sabab Nu Lenggah Yang Maha Ada dicari pun tak akan bertemu ( sebab Ada dalam diri ).
10. Rasana mah awakna geus beresih ( Pada umumnya ) Merasa diri bersih
pédah solat Islamna geus absah karena telah mengerjakan solat telah memeluk Islam dengan benar
padahal acan disosoh padahal ( hati ) belum dibersihkan
lamun nutu téa mah rusuh ibarat menumbuk padi, tumbukannya tergesa – gesa
da ngajina kaburu asih karena merasa cepat puas.
awakna gé jadi papisah ( Akibatnya ) dirinya menjadi terpisah ( dengan Allah )
ka Allah gé kalah ngamusuh dengan Allah berjauhan
di mana bisana absah bagaimana keabsahan
nyalamun papisah jeung Allah mah hamo apabila merasa terpisah dengan
beresih Allah, ( hatinya ) itu tidak bersih
kabéh gé ibadahna hanteu sah (278) semua peribadatannya tidak sah
II 2 Kemanunggalan dalam Teks WJ U11.
Malah-malah Rai aya deui dalilna, Malahan Adinda menurut dalil
dalil anu kauni deui, dalil yang berbunnyi 97
Ruyatullahi Ta’ala, Ruyatullahi Ta’ala
fiddhunya biaenil qolbi, fiddhunya biaenil qolbi
éta dalil nu kauni, begitulah bunyi dalil tersebut
basa Arabna éta téh kitu, dalam bahasa Arab.
sundana ningali Allah di dunya Artinya, melihat Allah di dunia
kudu ku Awasna Ati harus dengan Penglihatan Hati
kitu cenah éta téh Rai pihartoseunana mah (43) begitulah Adinda artinya
12. Samalah aya (deui) lajengna, malah ada terusnya
dalilna anu kauni deui, dalil yang berbunyi
Ru’yatullahi Ta’ala, Ru’yatullahi Ta’ala,
bil akhiroti kauni, bil akhiroti
terusna biaenil ‘ Arsi, selanjutnya biaenil ‘ Arsi
Sundana cenah kieu tangtu, artinya begini
:ari ningali ka Allah Ta’ala, melihat kepada Allah Ta’ala
di ahérat mah geus pasti, di akhirat, sudah tentu
nya ku panon ngan teu kalawan kapiat, (44) dengan mata, dengan tidak terhalang
13. Margi hanteu adu hareupan, Karena tak berhadapan
ku sabab enggeus ngahiji, sebab menyatu
kawas kembang jeung seungitna, seperti bunga dengan harum
nyakawas gula jeung amisna seperti gula dengan manisnya
kertas jeung bodasna deui, kertas dengan putih
nyakawas lambak sareng laut, seperti ombak dengan laut
tah kitu éta hartina. begitu artinya
Raina ngawalon manis, Adiknya menjawab dengan manis
Rebu nuhun Engkang keresa miwejang. (45) beribu terima kasih Kakanda 98 mau mengajari
14. Saur rakana : Mun tacan ngarti Kata kakaknya : Apabila belum mengerti
saé naroskeun ka guru nu utama lebih baik bertanya kepada guru utama
ka Guru Mursid nu yaktos kepada yang benar – benar Guru Mursid
ambéh sampurna ilmu supaya sempurna ilmunya
ulah taklid enggoning milari ilmi jangan taklid dalam mencari ilmu
ulah ngandelkeun baé béja jangan percaya kepada warta
kudu terang masing tangtu harus mengetahui dengan jelas
hal sagala papahaman semua hal harus tahu dengan paham
jadi urang moal asa – asa deui jadi kita tak ragu – ragu
lantaran kapungkur geus diwurukan (316) sebab dahulu sudah diajari
II 3 Kemanunggalan dalam Teks WBW Tentang kematian
15 Sing ngawadahan kurungan ( Badan Rohani ) harus meliputi raga
sing jadi kuburan sajati Badan Rohani harus menjadi kuburan Sejati
sarangka manjing curiga selongsong memasukan keris
bangkong ngaheumheum liangna katak mengulum lubangnya
kitu pamilih Rai begitulah Adinda
jadi dua eta kubur, itu berarti ada dua kuburan
jagat itu Jagat urang Jagat Itu, jagat kita
Alam Kabir reujeung Sagir Alam Kabir dengan Sagir
éta Engkang hayang ulah pipisahan (96) Itulah, Kanda inginnya tidak terpisah
II 4 Kemanunggalan dalam Teks karya H HM
16. Sapanjang néangan kidul sepanjang mencari selatan
kalér deui kalér deui utara lagi – utara lagi
sapanjang néangan wétan sepanjang mencari timur
kulon deui kulon deui barat lagi – barat lagi
sapanjang néangan aya sepanjang mencari Ada
euweuh deui euweuh deui tak ada lagi tak ada lagi
99 ( Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina kurung ) ( Rosidi1989 : 17 )
Teks HHM di bawah ini tidak diterjemahkan tapi berupa penghayatan makna berdasarkan perumpamaan dengan teks -teks lain, bahwa manusia dengan Tuhan hubungannya diumpamakan dengan rebung “ pohon bambu yang baru tumbuh ” dengan bambu.
17. Urang dipasihan iwung, Kita ditakdirkan menjadi manusia
iwung ilmuning sang awi, ( adanya manusia ) oleh kekuasaan Tuhan
iwung kersaning awina, manusia ciptaan Tuhan
iwung kawasaning awi, adanya manusia karena Kuasa Tuhan
rungu paningal awina, Pendengaran, Penglihatan ( Tuhan )
iwung andikaning awi. dayanya disinarkan kepada manusia
18 Awi huripna di iwung, Keberadaan Tuhan dihadirkan dalam Badan Rohani manusia
iwung ilmuna sang awi, Badan Rohani Manusia dari Tuhan
iwung kersaning awina, manusia ditakdirkan Tuhan
iwung kawasaning awi, manusia berdaya atas kuasa Tuhan
rungu paningal awina, Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan )
iwung andikaning awi. dayanya disinarkan kepada manusia
19 Urang dipasihan iwung, Kita ditakdirkan menjadi manusia
ku awi nu maha suci, oleh Tuhan Yang Maha Suci
lahang dipasihan lahang, dianugrahi rasa ( Salik berdzikir di dalam rasa )
ku kawung nu maha suci, oleh Tuhan Yang Maha Suci
mayang dipasihan mayang, dianugrahi merasakan keindahanku
jambé nu maha suci. oleh Tuhan Yang Maha Suci
20. Brung iwung renung ngariung, banyaklah manusia ciptaan-Nya
kabéh kaulaning awi, semua hamba Tuhan
bray ligar nu tadi téa, berkembang biaklah menjadi banyak, berasal dari Yang Satu
sili pisedih piasih, ( manusia ) menggandrungi – Nya dengan sedih dan bahagia
sili pikahayang rasa, gandrung saling mencinta
sili perih sili pambrih. saling pamrih.
.II 5 Kemanunggalan dalam Teks WGS 21.
Béda hanteu béda deui sama dalam arti menunggal
keretas jeung bobodasna seperti kertas dengan putihnya.100
leuwih deukeut Pangéran téh Tuhan ( Allah )sangat dekat
tinanding jeung beuheung urang ( lebih dekat ) daripada dengan leher kita.
deukeut ka Pangéran Lebih dekat kepada Tuhan
tinanding urang jeung irung 027. ( 11 ) daripada dengan hidung ( kita )
deukeut mungguhing Pangéran sungguh – sungguh Tuhan ( Allah ) sangat dekat
22 Tangkal teureup jeung kelewih Pohon teureup dengan kelewih
éta téh taya bédana tak berbeda
upama kembang jaksi téh apabila diumpamakan dengan bunga jaksi
éta meureun jeung seungitna dengan harum
nyaéta téh tara papisah keduanya tak berpisah.
poma Kakang masing timu Kakanda pahamilah,
Gusti téh reujeung kaula 029. (13) ( Hubungan ) Tuhan dengan abdinya.
4.2.2.3 Penerapan Teks Hp Kemanunggalan terhadap WBR
Teks WBR tentang “ kemenunggalan ” yang disajikan sebanyak 12 pada, tidak semua dibahas karena nomor II, III, IV, V, VI, VII hanya berupa sanggahan saja, yang akan dibahas sebanyak 6 pada yakni pada I, VIII, IX, X, XI, XII. Tujuan disajikan secara keseluruhan, untuk memberikan kesatuan pendapat secara utuh
Data WBR I :
a. Apabila tak ada yang memberi petunjuk ( menghadap Allah ) pengetahuannya samar – samar.
b. Raja wakil Bataraji.
Hp I a Apabila tak ada yang memberi petunjuk ( menghadap Allah ) pengetahuannya samar – samar Hp 2.
Mun urang hayang maripat Apabila kita ingin bermakrifat dengan Allah
kana élmu Anu Rupit, gunakan Ilmu Rahasia
sing harti kana Dzat jeung Sipat, yang bisa menerangkan tentang Dzat dan Sifat
Asma Ap’al sing kapipit Asma Af’al pahami,
upama henteu kapipit apabila tak dipahami
101 tangtu maripatna luput tentu tak kan bisa bermakrifat
ku sabab henteu sakapat sebab tidak pada jalur
mun sakapat mah kapipit, apabila pada jalurnya tentu terambil
mun geus kitu éta ngaranna baru bisa bermakrifat dengan ( Allah ) maripat ( 194 ) Hp 8.
Ditéangan gé Allah mah hamo Dicari pun Allah tak akan
kapanggih ditemukan
matak seunggah najan urang gagah sangat sulit, walau kita kuat
moal burung teu unggah-enggéh akan terengah-engah
tungtungna teh jadi teu puguh akhirnya menjadi kacau.
salira téh henteu kapanggih Badan Rohani tak akan ditemukan
lamun acan meunang papagah apabila belum ada yang mengajari ( Guru Mursid )
tékadna téh jadi teu puguh keyakinannya menjadi kacau
hal nyaéta Anu Lenggah hal yang menjadi Penghuni Diri
anu matak Allah teh hamo kapanggih oleh sebab itu Allah tidak ditemukan
sababna lian ti Anu Lenggah ( 274 ) sebab mencari selain Penghuni di dalam diri Hp 14.
Saur rakana : Mun tacan ngarti Kata kakaknya : Apabila belum mengerti
saé naroskeun ka guru nu utama lebih baik bertanya kepada guru utama
ka Guru Mursid nu yaktos kepada yang benar-benar Guru Mursid
ambéh sampurna ilmu supaya sempurna ilmunya
ulah taklid enggoning milari ilmi jangan taklid dalam mencari ilmu
ulah ngandelkeun baé béja jangan percaya kepada warta
kudu terang masing tangtu harus mengetahui dengan jelas
hal sagala papahaman semua hal dengan paham
jadi urang moal asa-asa deui jadi kita tak ragu-ragu
lantaran kapungkur geus diwurukan ( 316 ) sebab dahulu sudah dinasihat Hp 16.
Sapanjang néangan kidul sepanjang mencari selatan
kalér deui kalér deui utara lagi – utara lagi
sapanjang néangan wétan sepanjang mencari timur
kulon deui kulon deui barat lagi – barat lagi
sapanjang neangan aya sepanjang mencari Ada
euweuh deui euweuh deui tak ada lagi, tak ada lagi
( Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina Kurung ) ( Rosidi1989: 17 )
Di dalam WBR dikatakan, apabila tak ada yang memberikan petunjuk, pengetahuan tentang menghadap Allah, samar -samar.
Pada Hp 14 lebih dijelaskan 102 lagi, bahwa harus berguru kepada guru utama, yang benar – benar Guru Mursid. Yang berguru kepada Guru Mursid akan mengetahui Dzat, Sifat, Asma, dan Af’al ( Alam yang dihubungkan dengan perjalanan manusia ).
Sebelum berguru kepada Guru Mursid keadaannya, seperti dikemukakan Hp 8 adalah dicari juga Allah tak akan ditemukan, dan Hp 16 memisalkan orang yang mencari Tuhan dengan keyakinan bahwa Tuhan berada di luar dirinya, dicarinya ke selatan yang diperoleh utara lagi – utara lagi, dicari ke timur yang ditemukan barat lagi, barat lagi, mencari Yang Maha Ada yang ditemukan “ tak ada ” lagi “ tak ada lagi ”. Padahal Yang Maha Ada, Ada dalam dirinya ( yaitu mencarinya dalam yang Hayun Baqin ialah kekekalan dalam diri manusia ).
Penerapan Hp pada WBR yang dinamakan ekserp ( excerpt ) / pengintisarian.
Konsep ekserp ditemukan oleh Pradotokusumo dalam penelitian Kakawin Gajah Mada ( 1984 : 103 ) Hp I b. Raja wakil Bataraji Semua Hp menyatakan bahwa manusia sebagai khalifah. Penerapan Hp pada WBR mengalami penyempitan atau pengkhususan ( specification ) yakni manusia sebagai khalifah, pada WBR Raja wakil Bataraji.
Data WBR VIII, IX, X, XI, XII, sebenarnya merupakan kesatuan pikiran yakni mengumpamakan kemenunggalan manusia dengan Tuhan seperti, kesatuan tugas Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda.
Namun setiap pada mengandung inti pembahasan.
Data WBR VIII: Tuhan dengan manusia diumpamakan Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda.HP 6.
Mana lebah mana antarana Di manakah antaranya
tina iwung kana awi antara rebung dengan bambu103
sareng endog kana hayam telur dengan ayam
tah éta téh Gusti jeung abdi seperti itulah ( keberadaannya ) Tuhan dengan abdi-Nya
bener aya dua jinis betul ada dua jenis
tapi silih genti karang timbul namun saling berganti
aya endog euweuh hayam ada telur tak ada ayam
aya hayam endog leungit ada ayam telur lenyap
aya awi iwungna enggeus teu aya ada bambu rebung tak ada lagi
( 224 ) ari ningali ka Allah Ta’ala, melihat kepada Allah Ta’ala
di ahérat mah geus pasti, di akhirat, sudah tentu
nya ku panon ngan teu kalawan kapiat, dengan mata, dengan tidak terhalang ( 44 )
HP 13. Margi hanteu adu hareupan, Karena tak berhadapan
ku sabab enggeus ngahiji, sebab menyatu
kawas kembang jeung seungitna, seperti bunga dengan harum
nyakawas gula jeung amisna seperti gula dengan manisnya
kertas jeung bodasna deui, kertas dengan putih
nyakawas lambak sareng laut, seperti ombak dengan laut
tah kitu éta hartina. begitu artinya
Raina ngawalon manis, Adiknya menjawab dengan manis
Rébu nuhun Engkang keresa miwejang. beribu terima kasih Kakanda mau ( 45 ) mengajari
Hp 15 Sing ngawadahan kurungan ( Badan Rohani ) harus meliputi ragasing jadi kuburan sajati Bada Rohani harus menjadi kuburan Kesejatian
sarangka manjing curiga selongsong memasukan keris
bangkong ngaheumheum liangna katak mengulum lubang
nyakitu pamilih Rai begitulah pemikiran Adinda
jadi dua éta kubur, itu berarti ada dua kuburan
jagat itu Jagat urang Jagat itu jagat Kita
Alam Kabir reujeung Sagir Alam Kabir dengan Sagir
éta Engkang hayang ulah pipisahan (96) Itulah Kanda inginnya tidak terpisah
HP 17. Urang dipasihan iwung, Kita ditakdirkan menjadi manusia
iwung ilmuning sang awi, adanya manusia oleh Ilmu
Tuhaniwung kersaning awina, ada manusia Kehendak Tuhan 104
iwung kawasaning awi, adanya manusia karena Kuasa Tuhan
rungu paningal awina, Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan )
iwung andikaning awi. dayanya disinarkan kepada manusia
HP 22 Tangkal teureup jeung kelewih Pohon teureup dengan kelewih
éta téh taya bédana tak berbeda
upama kembang jaksi téh apabila diumpamakan dengan bunga jaksi
éta meureun jeung seungitna ( bunga itu ) dengan harum
nyaéta téh tara papisah keduanya tak berpisah.
poma Kakang masing timu Kakanda pahami,
Gusti téh reujeung kaula 029. (13) Tuhan dengan abdinya.
HP 6. Keberadaan Tuhan dengan abdi – Nya dilambangkan sebagai antara rebung dengan bambu, antara telur dengan ayam, tak terhalang apa pun.
HP 15 Keberadaan Tuhan dengan abdi – Nya dilambangkan seperti kembang dengan harumnya, gula dengan manisnya, kertas dengan putihnya, dan ombak dengan laut, tak terhalang apa pun.
Hp 15 Seperti selongsong dengan keris, Jagat Sagir selongsong dan Keris Jagat Kabir ( Perbandingkan dengan Tajalli, Tuhan Memperlihatkan Diri di dalam Jagat Sagir manusia ).
Hp 17. Ada manusia karena ilmu Tuhan ( Bandingkan Muhamad Hakeki / Nurullah / Sajatining Iman / Sajatining Ilmu ), adanya manusia Kehendak Tuhan, adanya manusia karena Kuasa Tuhan, adanya manusia karena Kuasa Tuhan, Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan ) dayanya disinarkan kepada manusia.
Manusia tak memiliki daya apa pun ( Laa hawla wala Kuwwata Ila Bilahi Aliyul Adziim ).
Hp 17 keberadaan manusia dengan Tuhan diibaratkan rebung dengan bambu.
Hp 22 keberadaan manusia 105 dengan Tuhan diibaratkan pohon teureup dengan kelewih bunga jaksi dengan harumnya.
Data WBR VIII : Perumpamaan manusia dengan Tuhan sebagai Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda tidak melihat keberpisahannya namun dilihat dari kesatuan tugasnya.
Penerapan Hp terhadap WBR VIII dengan penggantian / substitusi ( substitution ) yakni penggantian lambang.
Data WBR IX : Raja dengan Patih memiliki kesatuan tugas, hubungannya tunggal namun badan berpisah.
Data WBR X : Walau Patih memakai baju kebesaran tetap berbeda dengan raja
Data WBR XI : Tunggal dalam tugas, namun badannya berpisah ( Lihat penjelasan Data WBR VIII ).
Data WBR IX, X , XI sama maknanya simbolnya. Kedua unsur memiliki hubungan dalam wilayah yang sama, namun setiap unsurnya berbeda yakni antara rebung dengan bambu, antara telur dengan ayam, kembang dengan harumnya, gula dengan manisnya, kertas dengan putihnya, ombak dengan laut, selongsong dengan keris.
Penerapan Hp terhadap WBR ( Lihat data WBR VIII )
Data WBR XII : Hubungan Tuhan dan manusia, jangan sampai dipikirkan ada dua Hp1.
Marukana cara jalma nyieun bakul Dikiranya seperti membuat bakul
atawana nyieun said atau membuat bakul besar
anu nyieunna ngajentul orang yang membuatnya duduk dengan tekun
anu dijieunna kitu deui yang dibuat begitu pula ( diam )
rayap said jeung boboko bertebaran bakul besar dengan bakul
Padika Allah mah yén lain kitu Keberadaan Allah tidak seperti itu106
Hp 9 Saupami kitu mah Allah dua Apabila begitu Allah dua
hirup rokrak hirup Gusti adanya bilahan bambu ada Tuhan
rakana enggal ngajawab Kakaknya segera menjawab
Rai ulah salah harti Dinda janganlah salah paham
urang sotéh ceuk nu hurip Kita, ( orang ) yang menghadirkan ( Tuhan ) di hatinya
hurip nyaéta nu disebut hirup Hidup itulah yang hidup ( di hatinya )
hirup téh nyatana cahaya hidup yaitu cahaya ( Nurullah )
cahaya padang Muhammad Hakéki cahaya benderang Muhammad Hakeki
( Hp 9 ini dari Hp manunggaling kaula-Gusti )
Hp I. Penciptaan manusia oleh Tuhan jangan dianalogikan dengan manusia yang membuat bakul, yaitu manusia berpisah dengan bakul. Penciptaan manusia oleh Tuhan tidak begitu adanya. Hp 9 raga yang tidak memiliki daya apa pun dari manusia, kemudian dianugrahi oleh inti Kehidupan – Muhamad Hakeki tak boleh dianggap dua. Penerapan Hp dengan WBR dalam hubungan myth concern.
Rangkuman intertekstualitas WBR dengan Hp utama SR dan teks naskah teosofi lainnya seperti tergambar dalam tabel X. Karena teosofi tasawuf berupa konsep, maka teks dicuplik dengan lengkap. Penerapan Hp yang sudah dibahas, tidak dibahas lagi. Tabel X Rangkuman Intertekstualitas Teks WBR dengan Teks Hp No :1 No : Pupuh 2 Teks W B R 3 Episode ke…4 Di dalam Hp SR 5 Di dalam Hp Teks Karya Sastra Tasawuf 6 Fungsi Semiotik 71 I / 19 / 19 I / 21 / 21 Deskripsi ini menceriterakan tentang peribadatan Raja Dasarata :…mrih laku Sampurna Kasampurnaning pati patitis tatas awas tékad Anu Nyata pernah Kamulyan Yang Manon1 – Di dalam WPP Naha Allah teh Akang di mana ayana naha marukana Allah the di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal Di dalam WJU dikir téh Rai masing sidik Adanya konsep Manunggal – ing kawula Gusti pada peribadata 72 nyurupkeun ka Nu Lembut ngadalitkeun cipta jeung ati nunggalkeun salirana jeung Sanghiyang Guru desek rapet Rasa Tunggal dalit rapih Tunggalna kawula Gusti dumawa ka Kamulyaan Keterangan : Makna : Manunggal – ing kaula – Gusti ’ Menunggalkan diri antara makhluk dan Khalik ’ dengan cara selalu menghadirkan Tuhan di dalam batin.
Proses Rekonstruksi dengan kana diri Rai pribadina…nganyahokeun sipat Allah…hurip nyaéta nu disebut hirup hirup téh nyatana cahaya cahaya padang Muhammad Hakeki hirup téh nya Rasa Rasulullah ( Menunggal – ing kawula – Gusti pada WJU dikatakan bahwa Muhamad Ha keki ( di dalam diri ) dihidupkan den gan Rasa Rasulullah ) Di dalam WBW Sing nyaho Allah, Pangéran pisah tunggalna sing puguhéta hiji jadi duan Raja Dasarata mempertajam kemuliaan Sri Rama 73 adaptation ( adaptasi ).
Adaptasi yang dimaksud dalam rekonstruksi ini adalah, penyisipan pemikiran tasawuf, namun karena latar belakang kisah berasal dari Agama Hindu Budha, simbol – simbol tetap dengan menggunakan simbol – simbol lama, diadaptasikan dengan simbol Agama Hindu Budha.
Unsur tasawuf di dalam teks Hp baru merupakan ajaran, unsur tasawuf di dalam WBR berupa proses pengamalan. sing kamanah eta dina badan Rai Di dalam HHM Kuring ngawula ka kurungkurungan pangeusi Kuringkuring sagalana kurang ( Manunggal – ing kawula – Gusti dinyatakan dengan Kuring / Nurullah / Rasa Rasulullah berada pada kurung / raga ) Di dalam WGS Allah jeung Pangeran deui pangandikaning Yang Sukmapoma – poma kudu nyahokana salira Muhamad ( ke -Muhamad – an) éta téh nyatana Allah 74 ( Rasa ke – Nyata – an Allah / Rasa Rasulullah dalam diri manusia ) sabab éta hanteu jauh kawula – Gusti teu beda 2 I / 22 / 22
Deskripsi ini menceriterakan tentang peribadatan Raja Dasarata : henteu pegat mumuja seméding asorkeun tingkah salirana nunggalkeun ciptana baé tansah meleng jero kalbu mamrih Nyata Déwa Nu Asih taya rasa rumasa sampurna panemu Keterangan : 1 – Di dalam WJU naha saha nu kedah tingali lamun urang teu nyaho ka Allah kapan parantos kapegat kapiheulaan ku dalil Laa hawla wala kuwwata téa Ila bilahi aliyul Adzim cenah geuning sundana dalil henteu daya henteu upaya kitu nyasat la hawla kawas rokrak Sama dengan sebelumnya 75 Makna kalimat paling akhir, ( Dasarata ) tak merasa diri memiliki kesempurnaan ilmu
( Ilmu Kesempurnaan dalam menghadirkan Tuhan di dalam batin ) Proses rekonstruksi dengan excerpt ’ ekserp ’ pengintisarian. lebah dinya tacan kaharti bet aya rokrak kudu kawasa ningal saupami kitu mah Allah aya dua…lain sipat nu anyar atawa sipat hawadis anu tiasa awas ningalkana Sipat Hirup téh saleresna mah Anu Gaib ningali ka Sipat Hirup nyaéta Ahadiyat téa anu Dzat Laisa Kamistlih inu disebut teu aya upamana Keterangan : 76 Kesejajaran makna antara teks ini dengan WJU yakni tentang keberadaan fitrah manusia bahwa yang mampu melihat Sipat Hirup ( Rasa Rasulullah ) adalah Allah ya kni Nurullah yang diemanasi Tuhan kepada diri ma nusia, manusia hanya mampu menerima tajjali Tuhan ( Pembukaan tirai batin p ada manusia Yang Dikehendaki ).
Yang menganugrahkan sarana batin ke pada seluruh umat manusia untuk menerima tajjali Tuhan adalah Tuhan karena manusia disifati Laa hawla wala kuwwata, Ila bilahi aliyul Adzim, manusia 77 tidak memiliki daya upaya apa pun, dan Tuhan Dzat Laisa Kamistlihi tak bias diumpamakan oleh apa pun ( transendensi )
3 1 / 30 / 30 Gambaran kemegahan Istana Raja Dasarata di antaranya terselip symbol Islam, sebagai berikut : Aya masjid paragi semédi ditarétés ku inten berlian Saéstu diahéng – ahéng paragi ratu munjung reujeung aya nu hébat deui kakayon dasar emas tangkal katut daun 1 - Pewarnaan Islam 78 kembangna inten berlian diréréka dikuriling maké caikulah tambakan emas
Keterangan : Rekonstruksi WBR dengan modification ( modifikasi ) 4 I / 37 / 37 – I / 38 / 38 Ajakan resi ketika berselamatan : …Mangga urang limaan sami, manteng nyembah mumuja, sing suhud tapakur Nyatakeun di jero cipta, badan urang leungitkeun sing tanpa 1 – Di dalam WPP Naha Allah téh Akang di mana ayanana ha marukana Allah téh di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal sabab mungguhing Pangeran teu aya antarana saeutik Sama dengan sebelumnya 79 jinis ngan Déwa Anu Nyata Junggerengna Sangyang Utipati henteu pisah jeung rasa rumasa kitu hartina wening téh . Art i : Raga dihilangkan dari batin, yang dihadirkan hanya Dzat Sangyang Utipati, yang keberadaanNya di dalam batin
( rasa ). Proses rekonstruksi dengan adaptation ( adaptasi ) jeung manusa téh deu keut pisan tapi teu antel jeung diri lamun anu tacan ngarti enggeus tangtu éta jauhtah éta téh mangga manahan Rasakeun di jero galih Mun geus kapiraos éta téh wujud Allah Arti yang digaris bawahi bahwa, untuk merasakan ada – Nya Allah dengan batin 5 I / 44 / 44 – Deskripsi para putra Dasarata :
putra satriya nu opat 1 – Menempatkan konsep 80I / 49 / 49 geus sesedengna bibinahu nyiar hartinya lajeng ku ramana dipasrahkeun ka sang Maha Resi…supaya dipiwuruk…ilmu badag lembut prawira gagah prakosa tuluy kana ilmu tekad nu pratitis Nitis ka Kalanggengan…” Ayeuna maneh sakabeh geus cukup nya panemu Manunggal – ing kawula Gusti pada tokoh Sri Rama dan saudaranya mempertajam Kemuliaan Sri Rama, sejak muda ia telah 81 pangaweruh lahir jeung batin Eyang geus tatamplok antur geus nyata makbul ayeuna geura marulang didoakeun satingkah manggih Lastari – Harja manggih Kamulyaan Putra opat geus sami marulih…meunang Nugrahaning Dewa geus sampurna putus ilmu Agal Repit Mustikaning Satria Keterangan : Nitis ka Kalanggengan, merasakan kematian memaknai tentang kematian.
82 dalam hidup ( Lihat tengtang Sr i Rama : nyiptakeun mati jr oning hurip ).
Lastari harja, kematian yang sejahtera. Kemuliaan yang diperoleh setelah kematian. Ilmu Agal Repit yakni ilmu tentang Manunggal – ing kaula – Gusti, ( Lihat pada pembahasan Tasawuf dalam kerangka teori ). Rekonstruksi SR ke WBR melalui modification ( modifikasi )
6 VII / 22 / 335 – VII / 24 / Perkataan Sri Rama kepada Lasmana ketika ia tenggelam dalam kehidupan para resi. Di dalam SR ( Episode I ) ( Lihat pembahasan alur Bab IV ) Di dalam HHM Kuring ngawula ka kurung 83340 Sing kabita ku raos mulyaning pati sabab hirup téa hamo sabaraha deui lilana ti alam dunya Lain cara manggih kamulyaning pati nimat karaos natur langgeng henteu gumingsir dina jaman Indraloka Tapi seunggah ngalawan pa nggoda iblis sétan bedas pisan nungtunna kana balai ngajak sasar patékadan Nrepa Putra Ramawijaya lingna aris, héh Sumitra putra, dulunen kang para resi, yéku tan paé lan sira.
Iya padha tinitah ing Bathara diyéku kang wus mulya, wus teka ing alam aib ( Alam Gaib ? ) réhing sarira bathara Nora nyandang mangan nora walang ati kasengsem ing tingal sangking mantep anetepi kurunganana Sim Kuring Kuring darma dipiwarang Dipiwarang ku KURING kuringna rumingkang kurang kurangna puguh gé kuring Kuring ngawula ka kurung kurungan pangeusi Kuring kuring sagalana kurangk urang da puguh gé kuring Kuring sagala teu kurang sakur nu aya di Kuring Kuring ngalantung di kurung
84 Tapi geuning ari mungguh para resi sétan téh bet taak mun tembong mah tayoh ngacir sabab dibawa perkosa Badan badag diciptakeun pana leungit ngan Alus Nu Ayaciptana geus jadi hiji tunggal jeung Hing Jagat Nata lamun jalma enggeus kitu nya pamilih geus moal karasa aral ria peurih nyeringan wungkul nimat nu aya dénya mrih wekasing pejah Héh tegesé Yayi kang karasa sakit kang angrasa lapa népsu rereged ing jisim, yen mantepa nora pira Wedénana tyasira tan luput pati, pira kéhé iyaing jaman urip nikilawasé jaman pejah Lamun mantep sapa dhenger kaya uwis sumuk ing pawikan panarimanira dadi kurung Kuring eusi Kuring kuring kurang batur kurang Rasa Teu Kurang pada Teu Kurang Batur – batur cara Kuring Keterangan : kuring manusia yang terdiri dari raga dan batin / Rasa Rasulullahi / Nurullah / Muhammad Hakeki / Inti Hidup / Inti Iman / Inti Ilmu untuk menerima tajalli Tuhan.
Kuring ialah Rasa Rasulullahi.
KURING adalah Aku Tuhan.
5 ( Kata bercetak tebal awal pada ) Keterangan : Perbandingan isi teks WBR dengan Hp SR sama, namun dalam rekonstruksi terdapat modification ( modifikasi ) ( Lihat kata-kata yang bergaris ), SR jiwa mendatangi Alam Gaib teka ing Alam Gaib, di dalam WBR badan kasar diciptakan musnah, yang ada hanya Yang Maha Gaib, Yang Maha Ada.
Cipta ( Rasa Rasulullah ) menunggalkan diri dengan Sang Penguasa Alam.
Penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Ada, di nir lara nikmat gya prapta Kang ang usah ing cipta kang ng rasa sakit, yékang pama mapag kanikmatan bengkas sakit mung mantep ge gama nira Ing tegesé Yayi ing urip puni kuyén ora amrih asalamet sajroning pati yeku séta nunggang gajah
Kuring bersifat kurang, Kuring tak kurang apa pun, KURING Dzat Laisa Kamistlihi tak bisa diumpamakan oleh apa pun. Kuring diperintah oleh KURING berada dalam kuring ( kurungan ) Fungsi semiotik Menempatkan konsep Manunggal -ing kawula – Gusti pada peribadatan Sri Rama untuk menajamkan Kemuliaan Sri Rama 86 dalam WBR tidak saja digubah
dari SR namun juga diperkirakan dari naskah Sunda.
( Lihat HHM ). 7 XV / 18 / 643 – XV / 19 / 654 Deskripsi tentang Sri Rama ketika sampai di puncak Gunung Raksamuka, dalam Episode ke – 4 ( Lihat pembahasan alur Bab IV )
” mun teu meunang pitulung Dewa sihanggur geura mangga cabut nyawa hirup ge sangsara baé teu kuat nandang wuyungsang geus kitu Rama ras éling lajeng béh katingalan deukeut suku gunung Sapa tulung kalangan mamiilang ena walang atining wanglalunén lala lelengé dhuh Gusti pupujan kuaténana dasihrék ikagyat Ramawijaya aningali gunung ing Reksamuka suku nyalangkung pringga tan kena ngambah janmi éwuh gawat kaliwat “
Di dalam WPP Dalam pembahasan kematian :
” Paéh nu teu usik malik mah nyaéta paéh bag – bagan jasmani da teu nyaturkeun paéh kitu paéhna Nu Sajatina éta mah gaib teu katénjo ku batur ngan urang sorangan nu ngarasa paéh bisa usik malik Geuning dina Kuran dalilna 87 éta Gunung Raksamuka leuwih rumpil kandel repet sarta repit cucuk areuy – areuyan Radén Putra ka éwedan galih pipetaeun nanjak ka puncakna tina banget repetna téh tina Karsa Dewa gunggeus clok baé pada narepi teu karasa nanjak najol di puncak gunung ti dinya tuluy mumuja ngening cipta nga nyatakeun Sang Déwasih Ingga han mring satriya kaling pasthining Déwa saestu ken awus munggeng puncak enggéné gandrung – gandrung mangungkung datan pegat muja semédi apasrah ing satita hira Sang Hyang Guru miwah mring suksma kawekaspan sumangga ing molahaken diri lenyeping madya pada Ing nalika prapténg tigang aripane kungira Satriya Ramagenjot kang prabata anggréng Antal maoti koblal maot ukudu diajar maot méméh wapat Kudu diajar wapat saméméh pupustah kitu sundana kudu nyaho paéh saméméh mati…Na
Allah the Akang di mana ayana naha marukana Allah téh di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal sabab mungguhing Pangéranteu aya antarana saeutik 88 nyirnakeun salirana Rama nyiptakeun mati jroning hurip geus teu nyipta daya jeung upaya tumurah cara nu maot salirana menekung tilu poe jeung tilu peuting jadi perbawana génjlong gunung -gunung bumi langit gonjing mobah gelap tarung dibarung jeung kilat tatit surem sang Giwangkara
Keterangan : Rekonstruksi WBR dari SR dengan bayu bajra kumrusuk prakampita anggraning wukir geter pater aliwerana sengara limumut, dhedheté rawa tingaka kalimengan ampak – ampak awor riris, samudra arua rajeung manusa téh deukeut pisan tapi teu antel jeung diri lamun anu tacan ngarti enggeus tangtu éta jauh tah éta téh mangga manahan rasakeun di jero galih anu geus kapiraos téh éta wujud Allah Da néangan anu néangan naha saha anu kapanggih papanggih gé hamo patepang kaula sarawuh Yang Widi lamun terang hayang panggih 89 menyisipkan konsep peribadat ansalik ( ’pencari jalan menuju Allah’) yang menghubungkan diri kepadaTuhan ’ manunggal – ing kaula – Gusti’
( Lihat kata -kata yang bergaris ).
Pada SR konsep manunggal – ing kaula – Gusti tidak ada. Jadi konsep ini direkonstruksi dari hipogram karya – karya tasawuf Sunda dengan modification ’ modifikasi ’ dan adaptation ’ adaptasi ’.
” rasakeun saha nu lungguhtah ieu saha nu lenggah bet teu aya lian Anu Linggih hamo papanggih nya sabab ieu Nu Lenggah ” Keterangan 8 LXX / 6 / 2376 - Deskripsi Dewi Sinta sedang memuja seusai mendengar pihak Sri Di dalam SR Lihat Hipogram Nomor 1902381 Rama berada di di dalam kemenangan episode 7 ( Lihat pembahasan alur Bab IV )…
” Éh Déwa Batara Mulya henteu pegat kuring neda nya pangasih Mugi si Rahwanageura sirna keun sakali mamrih rahayuning jagat.” tuluy nyaur ka Trijata ” Hayu Eulis, urang terus muja,” Héh Bathara Dewa Widhi, nunten enggalena, patining Rahwana nulis usuker talutuh ing rat Payo nini aja mendha ing semédi, rahayuning aprang sabalané dén basuki sigra mangsah amumuja Sang Retna yu Trijatha sampun sasaji sasat sarating sarat,amumuja amepe kikumutug apining dua wus matampuh néng ngandhap wentisé kéri wetis kanan anumpang
Fungsi Semiotik : Penyisipan konsep tasawuf yang diterapkan kepada peribadatan Dewi Sinta untuk menggambarkan seluruh anggota keluarga kerajaan menjalankan manunggal – ing kaula – Gusti selalu menghadirkan Yang Maha Ada di dalam batinnya. Kesalihan seluruh anggota kerajaan mendukung kemuliaan Sri Rama.91
pada neda sihing WidiSri Rama terus unggulnaGeus prak muja Kusumah Putri Mantilibul hurung ngukusna sakur sarat geus tarapti kadaharan pranti muja Campleng cengeng tékadna putri Mantili ngayuh sihing Déwabadanna dicipta leungit ngan nyipta Déwa Nu Nyata Keterangan : lumumah astané kériastané tengen tumumpangJari – jariné sakawan tinekem sami, jejempol kewalakinarya ngadeg pribadi sinipat pucuking grana Sipat pucuking garana adu manislan pucuk jempolan, sarambut nora ngoncati sipating jempolan Mangunéng ing tyas anung winangun ngening, manungsung ing nalamrih kaonang angenani, 92
Dilihat dari proses peribadatan, WBR berbeda dengan SR. Kata – kata bergaris menggambarkan Manunggal – ing kaula -Gusti ( Lihat mati sajroning hurip ). Rekonstruksi WBR terhadap SR dengan modification ( modifikasi ). Proses peribadatan Dewi Sinta ini memiliki kemiripan dengan data nomor 1, 2, 4, dan 7 yakni badanna dicipta leungit, ngan Dewa Nu Nyata. sumuka ing Éndraloka Sampun anggané Putri Mantili, pan ningali nétra, mung sacekang mét gilig pucuking grana kewala Kang winawas lan pucuking jempol nulimung osik kewala jroning tyang kang mobat – mabitan jajah ngideri jagat Ah Bathara Otipati Déwa Widhi Nyang Jagat pratingkah tulungana ulun tumuli rusaken talutuh ing rat N No : Teks WBR Epis Di Di dalam Hipogram Teks Karya Sastra Fungsi Semiotik 93o : 1 Pupuh 23 ode ke…4 dalam Hp SR 5
Tasawuf 679 VXXXVIII / 30 / 2968
Kawas mungguhing manusa,
sing manggih pati sinelir,
mun taya nu mituduhan,
mamrih tékad Nu Sajati,
tangtu samar pangarti
tambuh nyembah ka Déwagung
sumawona rajana
jadi wakil Bataraji,
kudu nanggung lalakon di alam dunya
8 – Penajaman ajal mulia dengan pewarnaan Manunggal – ing kaula – Gusti 94 LXXXVIII / 31 / 2969
Nya tékad ngandel ka Déwa,
nu ngawasa bumi langit,
réh mungguh nu jadi raja,
mun teu bisa ngeréh nagri,
mangké mun manggih pati,
meunang cangcala sisiku,
singkah ti pati mulya,
laku salahna kabukti,
mun bener mah tangtu keur tapa ngeréhna.
Keterangan : SR hanya 87 pupuh. Bagian akhir merupakan modification ( modifikasi ) 1 LXXX jeung deui pamanggih Kakang,
Di dalam WPP Mewarnai tema 950 VIII / 35 / 2973LXXXVIII / 36 / 2974
pada regepkeun ku Yayi,
warna – warna tékad jalma,
nu mikir ngaraning pati,
aya jalma nu mikir,
paraning pati téh kudu,
mulang kana asalna,
nyaéta Wahyu Sajati,
Rasa Mulya nu aya di alam dunya.
Saréh ti dinya bibitna,
pang gelar di alam lahir,
nya ka dinya geusan mulang,
rasana téh pati leuwih,
mungguh Kakang pribadi,
pikiran kitu teu milu,
Marukana cara jalma nyieun bakul
atawana nyieun said
anu nyieunna ngajentul
anu dijieunna kitu deui
rayap said jeung boboko
Padika Allah mah yén lain kitu
mawa diri téh geus moal wegah
da enggeus meunang papagah
ti guru anu geus puguh
datang pati geus moal wegah (171)
Mun urang hayang maripat
kana élmu Anu Rupit,
sing harti kana Dzat jeung Sipat,
dengan Manunggal – ing kaula – Gusti
96 LXXXVIII / 37 / 297
5éta tékad nu sasar,
ngangkeuhkeun teu matak harti,
anu kitu naon pingaraneunana.
Reujeung sajaba ti éta,
aya deui anu mikir
jaga mun ajal ti dunyamo ( w ) al manggih jeung Yang Widi,
sabab Yang Utipati,
jeung awak kami ngagulung, ieu nyatana Déwa,
nya Déwa nya awak kami,
anu kitu burung sasar patékadan.
Éta pamawana sétan,
umangkeuh badan / n / a suci,
Asma Ap’al sing kapipit .
upama henteu kapipit
tangtu maripatna luput
ku sabab henteu sakapat
mun sakapat mah kapipit,
mun geus kitu éta ngaranna maripat ( 194 )
Sabab mungguhing Pangéran,
teu aya antarana saeutik
jeung manusa téh deukeut pisan
tapi teu antel jeung diri
lamun anu tacan ngarti
enggeus tangtu éta téh jauh
tah éta mangga manahan,
97 LXXXVIII / 38 / 2976LXXXVIII / 39
ngaku yén manéhna Déwa,
bawaning ku cupet budi,
naha asaeun teuing,
ngaku dalit jeung Yang Agung,
kapan mungguh Déwa mah,
tampa enggon tampa jirim,
Yayi mana nyasama jeung
nu gumelarAya deui sababatan,
mikir nyatana Yang Widi,
enya éta lain éta,
enya itu tapi lain,
éta nu sasar budi,
timuna wungkul sakitu,
rasakeun di jero galih, ( 195 )
mun geus kapiraos éta téh wujud Allah
Kapan mungguhing nu jadi raja
papisah raja jeung abdi-abdi,
Allah mah séjén deui aturanana
henteu papisah Gusti jeung abdi
ibarat iwung jeung awi
nu disebut Gusti iwung
iwung kénging abdina
nyaéta abdina téh awi
ibarat endog abdina tah hayam ( 223 )
Mana lebah mana antarana
tina iwung kana awi
sareng endog kana hayam
98 / 2987 LXXXVIII / 40 / 2978
teu nyaho sabenerna,
tékad Nu Mulya Sahiji
anu kitu lain keur gugueun urang.
Ngan mungguh pikiran Kakang, nurut pamanggih pribadi,
misilna nyatana Déwa
nu aya di jaman lahir
misil hiji narpati,
ngaran Ratu Sasrabau
boga Patih Suwanda
ratu jeung patihna dalit
runtut-réntét
Sasrabau jeung Suwanda Mun ratuna teu séséba,
tah éta téh Gusti jeung abdi
bener aya dua jinis
tapi silih genti karang timbul
aya endog euweuh hayam
aya hayam endog leungit
aya awi iwungna enggeus teu aya ( 224 )
Mun geus ngarti kana éta Élmu Sajati
masing rata rasa
sing waskita
anu pasti lepas haté
mun geus terang ka Nu Saéstu
teu pisah kaula – Gusti
Gusti – kaula nyatana badan sapata
da élmuna geus buntu
99 LXXXVIII / 41 / 2979
patih anu jadi wakil,
mangké dangdan karajaan,
teu témbong yén éta patih,
pamikirna wadyalit,
éta nu témbong téh ratu,
tatapi nu nyaho mah,
tangtu moal bisa pangling,
sabab éta sidik yén Patih Suwanda Najan maké karajaan,
jinisna tangtu kaciri,
ngan teu ngawakilan raja,
leungit sipatna papatih,
ku nu réa kapikir,
sidik yén éta téh ratu,
geus buntu mah tangtu nyata
anu matak sing yakin ka Nu Sajati
teu lian awak sapata
Ditéangan gé Allah mah hamo kapanggih
matak seunggah najan urang gagah
moal burung teu unggah-enggéh
tungtungna téh jadi teu puguh
salira téh henteu kapanggih
lamun acan meunang papagah
tekadna téh jadi teu puguh
hal nyaéta Anu Lenggah
anu matak Allah téh hamo kapanggih
sababna lian ti Anu Lenggah 274
Da néangan anu néangan
100 LXXXVIII / 42 / 2980 LXXXVIII / 43 / 29841
tapi lamun rajana,
témbong séséban pribadi,
éta patih teu aya dina séséban.
Éta raja jeung patihna,
najan ngumpul teu ngahiji,
lamun misah teu midua,
sabab nu témbong ngan hiji,
mun dipikir ngan hiji,
éta patih éta ratu,
salah kabina – bina,
sabab ratu reujeung patih,
tunggal lampah tatapi badan / n / a misah.
Mun dipikir aya duwa,
naha saha anu kapanggih
papanggih gé hamo patepang
kaula sarawuh Yang Widi.
lamun terang hayang panggih
rasakeun saha Nu Lungguh
tah Ieu saha Nu Lenggah
bet teu aya lian anu linggih,
hamo papanggih nya ieu sabab Nu Lenggah Rasana mah awakna geus beresih
pédah solat Islamna geus absah
padahal acan disosoh
lamun nutu téa mah rusuh
da ngajina kaburu asih
101 LXXXVIII / 44 / 2982
nu jumeneng ngeréh nagri,
éta komo moal pisan,
pangeréhna moal jadi,
saperti hiji nagri,
dieréh ku duwa ratu,
kapan mah sidik pisan,
Suwanda mah ngan papatih,
Sasrabau éta anu jadi raja. (2985)
Keterangan : Deskripsi ini membahas kemenunggalan antara makhluk dan Khalik diumpamakan dengan Raja Arjuna
sasrabau dengan patihnya Suwanda.
Raja dengan patih awakna gé jadi papisah
ka Allah gé kalah ngamusuh
di mana bisana absah
lamun papisah jeung Allah mah hamo
beresih
kabéh gé ibadahna hanteu sah ( 278 )
Di dalam WJ U
Malah – malah Rai aya deui dalilna,
dalil anu kauni deui,
Ruyatullahi Ta’ala,
fiddhunya biaenilqolbi,
éta dalil nu kauni,
102 memiliki tugas yang sama yakni memerintah. Keduanya sangat dekat namun raja bukan patih dan patih bukan raja. Kesejajaran pengertiannya yakni makhluk bukan Khalik dan Khalik bukan makhluk.
Walaupun berlainan makhluk diemanasi kemampuan dari Khalik.
Hipogram secara keseluruhan membicarakan kemenunggalan antara makhluk dan Khalik, pengertiannya memiliki kemirip an namun di dalam hipogram menggunakan simbol – simbol
basa Arabna éta téh kitu,
sundana ningali Allah di dunya
kudu ku Awasna Ati
kitu cenah éta téh Rai pihartoseunanamah ( 43 )
Samalah aya ( deui ) lajengna,
dalilna anu kauni deui,
Ru’yatullahi Ta’ala,
bil akhiroti kauni,
terusna biaenil ‘Arsi,
Sundana cenah kieu tangtu,
ari ningali ka Allah Ta’ala,
103 berbeda. Rekonstruksi WBR dari hipogram naskah – naskah tasawuf lainnya dengan substitution ( substitusi )
di ahérat mah geus pasti,
nya ku panon ngan teu kalawan kapiat, ( 44 )
Margi hanteu adu hareupan,
ku sabab enggeus ngahiji,
kawas kembang jeung seungitna,
kertas jeung bodasna deui,
kawas lambak sareng laut,
tah kitu éta hartina.
Raina ngawalon manis,
Rebu nuhun Engkang keresa miwe jang.
104 (45)
Saur rakana : Mun tacan ngarti
saé naroskeun ka guru nu utama
ka Guru Mursid nu yaktos
ambéh sampurna ilmu
ulah taklid enggoning milari ilmi
ulah ngandelkeun baé béja
kudu terang masing tangtu
hal sagala papahaman
jadi urang moal asa-asa deui
lantaran kapungkur geus diwurukan ( 316 )
Di dalam WBW Tentang kematian 105
Sing ngawadahan kurungan
sing jadi kuburan sajati
sarangka manjing curiga
bangkong ngaheumheum liangna
kitu pamilih Rai
jadi dua eta kubur,
jagat itu Jagat urang
Alam Kabir reujeung Sagir
éta Engkang hayang ulah pipisahan ( 96 )
Di dalam HHM
Sapanjang néangan kidul
kalér deui kalér deui
sapanjang néangan wétan
kulon deui kulon deui
106 sapanjang néangan aya
euweuh deui euweuh deui
( Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina K urung ) ( Rosidi1989: 17 )
Urang dipasihan iwung,
iwung ilmuning sang awi,
iwung kersaning awina,
iwung kawasaning awi,
rungu paningal awina,
iwung andikaning awi.
Awi huripna di iwung,
iwung ilmuna sang awi,
iwung kersaning awina,
iwung kawasaning awi,
107 rungu paningal awina,
iwung andikaning awi.
Urang dipasihan iwung,
ku awi nu maha suci,
lahang dipasihan lahang,
ku kawung nu maha suci,
mayang dipasihan mayang,
ku jambé nu maha suci.
Brung iwung renung ngariung,
kabéh kaulaning awi,
bray ligar nu tadi téa,
sili pisedih piasih,
sili pikahayang rasa,
sili perih sili pambrih.
108 Di dalam WGS
Béda hanteu béda deui
keretas jeung bobodasna
leuwih deukeut Pangéran téh
tinanding jeung beuheung urang
deukeut ka Pangéran
tinanding urang jeung irung 027. ( 11 )
deukeut mungguhing Pangéran
Tangkal teureup jeung kelewih
éta téh taya bédana
upama kembang jaksi téh
éta meureun jeung seungitna
éta téh tara papisah
poma Kakang masing timu
109 Gusti téh reujeung kaula 029. ( 13 )
1103.3.3 Rekonstruksi, Arti, dan Makna WBR Rekonstruksi, arti, dan makna dari WBR merupakan rangkaian masalah yang muncul dalam sebuah proses penciptaan kembali kisah Rama dari SR berbahasa Jawa ke dalam WBR berbahasa Sunda yang dipengaruhi oleh individu pengarang, tuntutan zaman, dan ikatan budaya. Rekonstruksi yang akan dibahas, tidak secara menyeluruh namun hanya seputar rekonstruksi dari SR yang menghasilkan teks transformasi WBR meliputi struktur formal penggunaan pupuh, kisah, dan hasil dari pengkajian intertekstualitas. Setelah diadakan penelusuran asal usul WBR (Lihat Bab II), pengkajian struktur, dan intertekstualitas, WBR jelas merupakan sebuah rekonstruksi dari SR berbahasa Jawa, sebuah kisah perjalanan hidup tokoh Rama, yang berada pada jalur tradisi. Transformasi WBR yang direkonstruksi dari SR berbahasa Jawa tersebut, disajikan dalam bahasa Sunda, dengan kisah yang ”mirip” dan penggunaan pupuh yang ”mirip” (”mirip” dalam arti hampir sama namun terdapat sejumlah perbedaan). Transformasi kisah Rama dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Sunda dengan hubungan arti antara dua bahasa yang hampir sama, namun tidak bisa dikatakan sebagai terjemahankarena ada kalanya bacaan WBR hampir merupakan terjemahan namun ada kalanya pula dengan kreatifitas penggubah antara lain yaitu penyempitan, pelebaran penyajian (Lihat Lampiran 8, bukti penyempitan dan pelebaran penyajian, bisa dilihat dari jumlah pada pada setiap runtuyan pupuh, satu dengan lainnya menampakkan perbedaan) dan penyisipan. Adapun kisah, dalam teks transformasi – WBR tetap dalam jalur tradisi. Teks – transformasi - WBR dari SR tidak bisa pula dikelompokkan ke dalam saduran karena kisah masih mengikuti bentuk teks sumber SR dalam penggunaan pupuh yakni dari 111runtuyan pupuh pertama sampai ke-86 sama, selanjutnya SR diakhiri dengan pupuh Mijildan WBR dengan 3 runtuyan pupuh lagi yakni Asmarandana, Sinom, dan Dangdanggula. Perbedaan ini berupa perbedaan redaksional, kisah dalam teks – transformasi – WBR tetap pada jalur tradisi namun terjadi pelebaran penyajian latar suasana di Ayodya ketika Sri Rama kembali diperluas dan ditambahkan dengan pemikiran teosofi tasawuf. Demikian keberadaan teks - transformasi - WBR yang bersumber dari SR dengan mempertahankan secara kuat tradisi kisah Rama. Hasil rekonstrusi SR berbahasa Jawa menjadi teks transformasi berbahasa Sunda ”dipandang dari sudut arti (meaning) adalah suatu rangkaian informasi yang berurutan (a string of successive information unit); dipandang dari sudut makna (significance), teks merupakan satu kesatuan semantic (one semantic unit)” (Riffaterre, 1978: 3; Pradotokusumo, 1984: 154) WBR sesuai dengan bentuk wawacan yang tersurat pada judul, merupakan sajian kisah Rama dengan bahasa yang dikemas dalam struktur formal bentuk pupuh, adapun pupuh seperti telah dibahas sebelumnya tidak saja dibatasi oleh kebahasaan namun dibatasi oleh karakter masing-masing yakni perilaku kisahan dan emosi. Di lain pihakdalam kemasan pupuh ini terkandung struktur naratif, narasi dari kisah Rama. Dalam tumpang-tindih kedua pelapisan struktur tersebut yakni struktur formal dan struktur naratif terjalin perpaduan yang harmonis antara keduanya. Pupuh terbanyak diduduki oleh Pangkur, Pangkur untuk mengisahkan perjalanan, nafsu, siap sedia mejelang peperangan. Perilaku ini ditokohi oleh Sri Rama yang mengadakan perjalanan/pengembaraan karena mencegah ayahnya dari cacat budi karena ingkar janji, nafsu gambaran dari beberapa pihak yang terlibat dalam peperangan, nafsu 112dendam kesumat dari sejumlah raja yang diserang oleh Rahwana antara lain Raja Wisrawana kakak Raja Dasamuka pribadi, nafsu harga diri Rama yang terinjak-injak oleh kejahatan Raja Dasamuka, menculik istri yang sangat dicintainya, nafsu Raja Dasamuka yang berambisi menjadi raja terkuat, nafsu melepas kerakusan terhadap wanita, dan nafsu Pasukan Alengka yang haus peperangan. Pasukan Sri Rama dan Pasukan Raja Dasamuka akhirnya terlibat dalam perang dahsyat. Tokoh Sri Rama sebenarnya terhindar dari nafsu pribadi, yang mengemuka kemuliaan dirinya sebagai titisan Wisnu, dianugrahi kemuliaan me-ruwat-kan penghuni keindraan yang mendapat kutukan Hiyang Pramesti dan bertugas untuk menyelenggarakan kesejahteraan lahir batin di muka bumi. Ia akan menarik tantangan perang apabila Raja Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta, namun Raja Dasamuka diliputi oleh keserakahan pemuasan hawa nafsu dunia, tidak surut walau diperingati oleh beberapa orang tokoh berwibawa di dalam keluarga. Kekeraskepalaan Raja Dasamuka harus bersebrangan dengan titisan Wisnu sebagai penyelenggara kesejahteraan dunia dalam kancah peperangan. Peperangan ini dilihat dari karakter tokoh menjadi dua kelompok hitam putih yang dipisahkan oleh perbedaan moral. Di satu pihak kelompok Raja Dasamuka tokoh antagonis yang berada di pihak kezaliman di pihak lain kelompok tokoh protagonis Sri Rama yang berdiri di pihak kebenaran yang memiliki kemuliaan budi. Kelompok tokoh yang harus menang adalah penyandang kebenaran. Pengembaraan dan peperangan antara kebenaran dan kezaliman inilah yang merupakan arti dari kisah WBR. 113 Setelah satu informasi berupa arti dari WBR diungkapkan, teks harus dibongkar untuk menguak makna (Pradotokusumo, 1984: 99). Untuk menguak makna terlebih dahulu melihat tentang pendekatan karya sastra, ”di satu pihak terjadi dialektik antara teks dan pembaca, di lain pihak terjadi dialektik antara tataran mimetik dengan tataran semiotik, fungsi bahasa sebagai alat yang mimetik (mimetic function). Setelah diungkapkan arti maka sastra harus diungkapkan maknanya (significance) yang oleh Riffaterre disebut ungramaticalities yang hanya bisa dipahami dengan kompetensi linguistik (linguistic competence) dan dengan kompetensi kesastraan (literary competence)” (Pradotokusumo, 1984: 99). Kompetensi kesastraan dalam mengungkapkan makna WBR dengan pendekatan intertekstualitas yakni penelusuran Hp yaitu teks-teks lain yang turut merekonstruksi kisah Rama dari SR ke WBR seperti yangtelah dilakukan. WBR selain bersumber dari tradisi Rama di dalam SR, dijalin secara halus pemikiranpemikiran teosofi tasawuf. Walau terdapat kejanggalan dalam pandangan masa kini, pada zamannya penyisipan ini bukan merupakan kejanggalan, namun merupakan bagian dari rangkaian semantik yang memiliki fungsi semiotik terhadap rangkaian kesatuan semantik tersebut, mengusung dukungan semiotik ke dalam teks secara keseluruhan. Adapun untuk mengungkapkan makna ini secara intertekstual dengan menelusuri Hp yang turut serta dalam proses rekonstruksi WBR. Hp WBR yang ditelusuri sudah disebut dalam Bab II dilihat dari sudut ketegangan keagama-an, yakni sebuah karya mite yang dipoles dengan pemikiran-pemikiran teosofi tasawuf. Unsur teosofi tasawuf bisa turut serta dalam rekonstruksi kisah Rama di dalam 114WBR, karena faktor kesengajaan (Lihat uraian tentang epilog). Apakah RAA Martanagara menerapkan Hp ke dalam kisah Rama WBR dengan membaca langsung teks-teks teosofi tasawuf tidak ada kepastian secara jelas. Teosofi tasawuf merupakan keyakinan para sufi, pembentukan keyakinan religius bisa dengan membaca teks ajaran secara langsung atau menyerap keyakinan yang berkembang di sebuah lingkungan. Dugaan terhadap keduanya bisa terjadi, pertama di seputar Kabupaten/Kotamadya Bandung dan Sumedang banyak ditemukan naskah-naskah teosofi tasawuf, kedua tasawuf berkembang di lingkungan para bangsawan Bandung (lihat keterangan sebelumnya), ketiga dalam kehidupannya RAA Martanagara dalam hubungan jabatan sangat dekat dengan sufi besar yang banyak karyanya Haji Hasan Mustapa (Lihat uraian sebelumnya). Dengan demikian jalan masuknya pemikiran teosofi tasawuf ke dalam WBR bisa melalui teks langsung yang dibaca oleh pengarang, bisa juga melaluikeyakinan yang berkembang di seputar kehidupan pengarang. Penelusuran Hp WBR seperti sudah dilakukan sebelumnya melalui naskah-naskah yang berisi teks teosofi tasawuf yakni WPP, WJU, WBW, HHM, dan WGS. Penerapan Hp terhadap WBR melalui ekspansi, konversi, modifikasi, ekserp (keempat konsep ini telah ditemukan dalam penelitian Riffatere dan Pradotokusumo), konsep baru yang ditemukan di dalam WBR yakni adaptasi, spesifikasi, dan substitusi. Adapun teosofi tasawuf ini di dalam WBR melibatkan tokoh berikut:1. Raja Dasarata dideskripsikan menjalankan peribadatan manunggal-ing kaula –Gusti (I/19/19, I/21/21, I/22/22).1152. Resi dalam rangka ritual mengajak Raja Dasarata dengan ketiga prameswari untuk manunggal-ing kaula-Gusti dengan khusu. (I/37/37, I/38/38).3. Para putra Raja Dasarata dideskripsikan memiliki Ilmu Agal Repit/Ilmu Rahasia/Ilmu Kasampurnaan/Ilmu Sajati ilmu tentang manunggal-ing kaulaGusti (I/44/44 – I/49/49).4. Sri Rama berdialog dengan Lasmana untuk penyerahan secara total kepada Tuhan dan melaksanakan manunggal-ing kaula-Gusti dengan khusu (VII/24/340 – VII/30/346).5. Rama bertafakur melaksanakan manunggal-ing kaula-Gusti ketika mencapai Gunung Raksamuka (XV/18/853 – XV/19/654).6. Dewi Sinta memuja melaksanakan manunggal-ing kaula-Gusti (LXX/6/2379 -LXX/10/2384)7. Sri Rama mengajarkan ke-manunggal-an kepada Prabu Sugriwa dan Wibisana (LXXXVIII/35/2976 – LXXXVIII/44/2985) Seluruh anggauta keluarga Sri Rama melaksanakan manunggal-ing kaula-Gusti, memiliki fungsi semiotik mempertajam kemuliaan tokoh Sri Rama. Sri Rama berusaha menyampaikan keyakinan ini kepada Prabu Sugriwa dan Wibisana, berperan sebagai titising Wisnu yang tugasnya memelihara kesejahteraan lahir batin di bumi, seperti gelar dirinya Sang Sri Rama Pakuning Bumi. ‘Sang Sri Rama yang menjadi poros (keselamatan/kekuatan) di bumi’.Di lain pihak masuknya pemikiran teosofi tasawuf dilihat dari fungsi semiotik pada seluruh penerapan Hp ekspansi, konversi, modifikasi, 116ekserp adaptasi, spesifikasi, dan substitusi. terhadap WBR, untuk mempertajam dan memperjelas tema – ajal mulia, bagaimana seharusnya peraihan ajal mulia. Ajal yakni proses kematian yang bersifat ragawi, sebuah proses yang harus dilalui (oleh manusia) untuk memasuki kehidupan di Kalanggengan ‘Alam Keabadian’ Peringatan tentang ajal bertujuan menyadarkan bahwa setelah kematian yang bersifat ragawi akan ada tuntutan kepada manusia di Alam Keabadian. Ajal erat hubungannya dengan tuntunan agama, masalah agama di dalam WBR terdapat ketegangan antara keIslam-an dengan keagamaan zaman pra-Islam. Zaman pra-Islam orang sudah menyakini bahwa ada Alam setelah kematian, antara lain dalam naskah Sunda Kuna Sewaka Darma (Pradotokusumo, dkk, 1988). WBR mengisahkan tokoh Sri Rama yang lahir zaman pra-Islam, diwarnai oleh Hp yang bernafaskan Islam, namun penerapannya hanya berupa konsep dari teosofi tasawuf, sedangkan Dzat yang diseru tetap nama-nama yang ada di dalam kepercayaan lama. Adapun konsep yang diserap oleh WBR dari Hp adalah manunggaling kaula-Gusti. Makna WBR menginti pada satu kalimat berupa matriks, ajal mulia adalah manunggaling kaula-Gusti. Dalam bahasa yang lebih luas sebagai berikut, meraih ajal mulia untuk menuju kebahagiaan yang kekal di Alam Keabadian, yaitu dengan jalan menghadirkan selalu Allah di dalam Badan Rohani. Dengan selalu hadirnya Allah di dalam Badan Rohani, akan selalu melakukan perbuatan yang dikehendaki-Nya, dan seluruh perbuatan yang dilakukan raga dan jiwa didasarkan kepada-Nya. Menjalani kehidupan di alam fana ini dengan manunggaling kaula-Gusti, baik bahagia, maupun derita diterima dengan rasa 117yang rata/lega sebagaimana dikemukakan oleh HHM bagja cilaka cék saha, untung rugi ngan panuding, mun ieu Kalangkang Rasa tandaning Sirun Ilahi. ‘Bahagia atau musibah kata siapa (kata siapa bahagia, kata siapa musibah, sebab hanya fana), untung dengan rugi hanya sebutan, kalau Yang Ini (Badan Rohani) Bayang-Bayang, tanda dari Sirun Ilahi(Rasa Ilahi, Hakikat bukan hanya sifat fana).’ Seperti disebut pula dalam WBR, orang yang menghadirkan selalu Tuhan di dalam dirinya, rasa was-was, khawatir, keluh kesah, tekebur, pedih hati, sakit, musnah yang ada rasa nikmat karena Ada Dia Yang Menghuni Batin, dengan kata lain, tak selayaknya menangis dan berbahagia secara berlebihan hanya menangisi dan membahagiakan “yang bersifat sementara.” Adapun Sri Rama yang tugasnya membangun kesejahteraan lahir batin di bumi, ada kesejajaran dengan Hp sebagai berikut. Manusia diemanasi oleh sifat-sifat Tuhan, yang bertugas untuk menjadi Khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Manusia berkewajiban menyelenggarakan kesejahteraan lahir dan batin di muka bumi. Rama apabila menggunakan kesaktiannya, mampu menghancurkan bumi menjadi awang-uwung (Alam Kegaiban). Manusia dengan segala daya - yang - dianugrahkan - Tuhan, sifat-sifat atau kemampuan yang dianugrahkan Tuhan, dapat menghancurkan dunianya dan dunia, yang tidak dikehendaki Tuhan Yang Maha Kuasa, itulah kezaliman. Manusia yang bertindak kezaliman, tidak mengusahakan kebenaran tidak bisa kembali kepada-Nya, sebab Benar sifat Tuhan. Kezaliman, kebohongan, penyimpangan adalah sifat dunia, yang membawa kepada penderitaan. Kezaliman di dalam WBR dibahas, bisa menang untuk sementara namun kemudian akan hancur. Manusia yang selalu menghadapkan hatinya kepada Yang Maha Benar/ manunggaling kaula - Gusti, 118kematiannya menyandang ajal mulia akan kembali kepada-Nya, memperoleh kebahagiaan di Alam Keabadian yang tiada akhir, manusia yang tidak menghadapkan hatinya kepada Yang Maha Benar tidak bisa kembali kepada kepada Yang Maha Benar.Manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk menghadirkan-Nya di dalam batinnya. Manusia pun memiliki daya kontrol dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang benar yang pemaknaannya disarankan oleh pernyataan bumi langit yang selalu menyaksikan gerak-gerik manusia. Makna dari kisah ini yakni pengembaraan manusia melalui peperangan jiwa raga untuk memperoleh ajal mulia dengan manunggaling kaula - Gusti dalam meraih Kebahagiaan Kekal di Alam Keabadian. 33Ilmu Dakik, (Ad-Daqiq, jamak dari daqiqah; kemahiran, kehalusan. Dalam Sufisme menunjukkan aspek-aspek dari dunia halus, dunia jiwa (Burckhardt, 1984: 160)35Yang dimaksud Guru Mursid (Lihat Pengkajian Teori)36Pada Alam Wahdat diciptakan Muhammad Hakeki (?) (Lihat WJU)37Rasa Mulya sejajar pengertiannya dengan Muhammad Hakeki/Inti Hidup/Inti Iman/Inti Ilmu di dalam batin manusia.38Seolah-olah pengertian Laisa kamistlihi 39Lihat Pengkajian Teori (Lihat pula di dalam WJU)119 BAB IVSIMPULAN DAN SARAN4.1 Simpulan WBR direkonstruksi dari SR dengan penyisipan pemikiran keislaman berupateosofi tasawuf manunggaling kaula-Gusti. Fungsi hipogram terhadap WBR yaknimempertajam kemuliaan Sri Rama dan mewarnai ke-Islama-an terhadap kisah. Matriks WBR: Ajal mulia adalah manunggaling kaula-Gusti. Penerapan hipogram di dalam WBR dengan ekspansi, konversi, modifikasi, dan ekserp. Keempat konsep penerapan ini telah ditemukan dalam penelitian Riffatere dan Pradotokusumo. Konsep yang ditemukan secara khusus dalam penelitian ini yakni, adaptasi, spesifikasi, dan substitusi. Teks dipandang dari sudut arti sebagai satu rangkaian informasi berurutan dapat diungkapkan dari penggunaan pupuh tertinggi yakni Pangkur untuk mengemas pengembaraan dan peperangan, sesuai dengan alur yang memaparkan pengembaraan Sri Rama dalam pencarian Dewi Sinta, menuju peperangan untuk merebut Dewi Sinta dari Raja Dasamuka, kemudian perang meletus. Peperangan dimenangkan oleh Sri Rama penyandang kebenaran. Makna WBR sebagai rangkaian semantik yang memiliki kesatuan semiotik, WBR adalah gambaran pengembaraan manusia melalui pengembaraan dan peperangan untuk memperoleh Ajal Mulia dalam rangka meraih Kebahagiaan Abadi. Adapun 120 peraihan ajal mulia dengan manunggal-ing kaula – Gusti, yaitu dengan jalan selalu menghadirkan Tuhan di dalam batin. WBR termasuk karya sastra mite yang bertujuan penyebaran ajaran tentang budi pekerti dengan pemolesan Islam supaya mendapat sambutan pembaca. Karya sastra mite yang kini hanya diterima sebagai hayalan sebenarnya terkandung serangkaian pemikiran, pemikiran ini adalah nonfiksi yang hadir di wilayah fiksi, hadirnya nonfiksi ini untuk membangun kebolehjadian karya, kebolehjadian tersusun dalam pelapisan logika sepanjang masa sesuai dengan perjalanan kisah, karena setiap sambutan terhadap karya sastra tradisi, individu pengarang dan jiwa zaman selalu turut memberikan ornamen. Pemikiran yang muncul di dalam WBR, pertama logika sebab akibat meliputi peristiwa-peristiwa di dalam lingkungan kehidupan para tokoh, kedua logika humanitas yaitu pemikiran yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dalam sebuah rentang zaman antara lain kesaktian-kesaktian, ketiga logika terhadap alam semesta, antara lain pemikiran bahwa alam semesta menyatakan keberpihakan kepada kebenaran, keempat logika mitologi, berupa peristiwa-peristiwa keajaiban mite, kelima logika falsafi berupa pemikiran-pemikiran tentang kebenaran, dan keenam logika spiritual, berupa pemikiran-pemikiran ke-Agama-an. 4.2 SaranWBR mengandung pemikiran-pemikiran tentang pemerintahan, untuk memberdayakan naskah dari segi fungsi kemasyarakatan seyogyanya WBR diteliti secara interdisipliner antara lain dari segi Ikmu Pemerintahan.121 DAFTAR PUSTAKAAbdurachman dkk. 1986. Naskah Sunda Lama, di Kabupaten Sumedang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Adiwidjaja, RI. 1950. Kasusastraan Sunda jilid II. Jakarta-Groningen: J.B. Wolters.Aminuddin. 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Malang. (YA3 Malang). Behrend, T.E. (Ed). 1990. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, Jilid I Museum Sonobudyo Yogyakarta. Jakarta: Kerjasama Penerbit Jembatan dan Ford Foundation. Behrend, T. E. & Titik Pudjiastuti (Ed). 1997. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, jilid 3 – A, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan École Française d’ Extrème Orient.Bruinessen, Martin van. 1995. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan.Buckhardt, Titus. 1984. Mengenal Ajaran Kaum Sufi, diterjemahkan oleh Azyumardi dan Bachtiar. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.Cavallaro, Dani. 2001. Teori Kritis dan Teori Budaya. Diterjemahkan oleh Laila. Yogyakarta: Niagara.Chambert-Loir, Henri & Oman Faturahman. 1997. Khasanah Naskah. Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan École Française d’ Extrème Orient. Culler, Jonathan. 1975. Strukturalism and Linguistic Models (Part One). Great Britain: Unwin Brothers Limited. The Gresham Press, Old Woking, Surrey, England. Danasasmita, Saleh., dkk. 1987. Sewaka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung : Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Darsa, Undang Ahmad., dkk. 1993. Wawacan Gandasari. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.Derrida, Jaques. 2002. Dekonstruksi Spiritual, Merayakan Ragam Wajah Spritual. Alih Bahasa oleh Firmansyah.Yogyakarta: Jalasutra Yogyakarta.Eagleton, Terry. 1983 Literary Theory. An Introduction, Oxford – England: Basil Blackwell Publisher Limited.Eagleton, Terry (Ed) 1985 Modern Literary Theory. Ekadjati, Edi S. 1982. Cerita Dipati Ukur. Disertasi. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. 2004. Kebangkitan Kembali Orang Sunda. Kasus Paguyuban Pasundan 1913 – 1918. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. 122 Ekadjati, Edi S., dkk. 1987. Naskah Sunda, Inventarisasi dan Pendataan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation.Ekadjati, Edi S. & A Sobana Hardjasaputra. 1987. Bibliografi Jawa Barat. Studi Pendahuluan. Kerjasama UNPAD & KITLV.Ekadjati, Edi S & Undang Darsa Warsa. 1999. Jawa Barat, Koleksi Lima Lembaga, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan École Française d’Extrème-Orient.Fathurahman, Oman. 1997. Tanbih Al-Masyi, Menyoal Wahdatul Wujud. Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. Kerjasama dengan ÉFEO. Bandung: Penerbit Mizan. Florida, Nancy K. 1997. Pada Tembok Kraton ada Pintu: Unsur Santri dalam Dunia Kepujanggaan “Klasik” di Keraton Surakarta. Di dalam Majalah Tradisi Tulis Nusantara. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara.Fokkema, D.W. & Elrud Kunne – Ibsch. 1997. Teori Sastra Abad Kedua Puluh, Edisi Pertama. Seri KDT. Diterjemahkan oleh J Praptadiharja dan Kepler Silaban. Jakarta : PT. Ikrar Mandiriabadi. Fowler, Roger. 1977. Linguistics and The Novel. New Accents. London: Methuen & Co.Frued, Sigmund. 2001. Totem dan Tabu, Alih bahasa oleh Kurniawan Adi Saputro. New York: Vintage Books. Yogyakarta: Jendela Grafika.Girardet, Nikolaus., Cs. 1983. Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts and Printed Books in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta. Wiesbaden: Franz Steiner Verlag GMBHHadisucipto, Sudibjo Z. 1983. Caretana Rama, Alih Aksara. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Haniah. (Makalah) Seminar Tradisi Lisan 14 – 16 Oktober ’99. Hendrayana, Dian. 2001. Lalakon Bingbang. Bandung: Komunitas Rawayan.Hollub, Robert C. 1989. Reception Theory, A Critical Introduction, General Editor: Terence Hawkes, Great Britain: Methuen & Co.Ltd.Ikram, Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama, Suntingan dan Naskah, Disertai Telaah, Amanat dan Struktur. Disertasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.Jabrohim, & Ari Wulandari (Ed). 2000. Metodologi Penelitian Sastra, Edisi Pertama. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia. Jauss, Hans Robert. 1955. Aesthetic Experience and Literary Hermeneutics, diterjemakan ke dalam bahasa Inggeris oleh Michael Shaw, Minneapolis: University of Minnesota Press. 1985. Toward an Aesthetic of Reception, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh Timothy Bahtiintroduction oleh Paul de Man. Minneapolis: University of Minnesota Press. Kalabadzi, Abu Bakar M. 1995. Ajaran – Ajaran Sufi. Diterjemahkan oleh Nasir Yusuf, Penyunting: Ahsin Mohamad. Bandung: Penerbit Pustaka123 Kern, H. 1900. Ramayana Oudjavaansch Heldendicht. Met toegewijd door Karel Frederik Holle, van het Koninklijk Instituut voor Taal, Land Volkenkunde van Nederlands Indie (KITLV) ‘s Gravenhage, Holland: Martinus Nijhoff. Koentjaraningrat. 1983 Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia. Kosoh, dkk. 1979. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Barthes. Magelang: Inesia Tera. Lal, P. 1995. Ramayana. Diterjemahlan oleh Djokolelono. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya atas bantuan The Toyota Foundation, Tokyo – Japan. Lanus. 2005. Menafsir Ramayana, dalam Kompas 23 Desember 2005. Lechte, John. 2000. 50 Filsuf Kontemporer. Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Diterjemahkan oleh A. Gunawan Admiranto. Yogyakarta: Kanisius. Lubis, Nabilah. 1996. Naskah, Teks dan Metode Penelitian Filologi, Jakarta: Forum Kajian & Sastra Arab Fakultas Adab Syarif Hidayatullah. 1995 Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Fakultas sastra Universitas Indonesia dan École FranÇaise d’Extrème-Orient. Bandung: Mizan.Lubis, Nina Herlina. 1990. Bupati RAA Martanegara study Kasus Elite Birokrasi Pribumi di Kabupaten Bandung 1893 – 1918. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. 1999. a.Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.1999. b.Pengaruh Budaya Jawa terhadap Budaya Sunda. Di dalam Bahasa,Susastra, dan Budaya Indonesia, Memasuki Abad XXI. Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.2000. a. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda. Penyunting: Usin S.Artayasa. Bandung: Humaniora Utama Press 2000. b. Historiografi Barat: dari Herodotus hingga James Harvey Robinson. Bandung: Alqaprint. 2003. Pengajaran Bahasa Sunda dari Masa ke Masa. Artikel dalam Dangiang, jurnal Kebudayaan Sunda, halaman 27. Bandung: P.T. Kiblat Buku Utama.Martanagara. 1921 Babad Raden Adipati Aria MartanagaraMilner, Max. 1992 Freud dan Interpretasi Sastra, diterjemahkan oleh Apsanti Ds, Sri Widaningsih, dan Laksmi. Jakarta: Intermasa.Moriyama, Mikihiro. 2001. Bahaya Purisme Sunda. Tanggerang : Penerbit Pamulang . 124 2005. Semangat Baru. Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Diterjemahkan oleh Suryadi, M.A. Penyunting Christina M. Udiani. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Muhadjir, H. Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.Nastiti, Titi Surti. t.t. Pola Metrum Kakawin Ramayana, dalam Lembaran Sastra tt. Noorduyn. 1967. Traces of An Old Sundanese Ramayana Tradition. Artikel dari The XXVII International Congress of Orientalists in Ann Arbor, August 17, 1967. Norris, Christopher. 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Diterjemahkan oleh: Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Penerbit Ar-Ruzz.Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Piaget, Jean. 1995. Strukturalisme, diterjemahkan oleh Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Pigeaud, Theodore G.TH. 1967. Literature of Java. Volume I Synopsis of Javanese Literature 900 – 1900 A.D. KITLV. The Hague: Martinus NyhoffPoerbatjaraka, R.M.Ng. 1952. Kepustakan Djawi. Djakarta/Amsterdam: Djambatan.Pradotokusumo, Partini Sardjono. 1984. Kakawin Gajah Mada, Sebuah Karya Sastra Kakawin Abad ke-20 Suntingan Naskah Serta Telaah Struktur, Tokoh dan Hubungan Antarteks. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.1986. Naskah Sunda Kuna, Transliterasi dan Terjemahan. Bandung: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. 1991. Prinsip Intertekstualitas dan Penerapannya pada Karya Sastra Indonesia Baru (Modern) dan Lama (Kuna) dalam buku “Ilmu-Ilmu Humaniora”. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 2000..Ramayana. Kajian Feminisme. Makalah pada Seminar Ramayana di Bali. Pengkajian Sastra. 2003. Menguak Makna Teks dalam Naskah Nusantara (Lama). Disajikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VII di Denpasar – Bali, 28 – 30 Juli 2003. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Pradotokusumo, Partini Sardjono., dkk. 1986. Naskah Sunda Kuna Transliterasi dan Terjemahan. Bandung: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Ras, Johannes Jacobus. 1968. Hikayat Banjar, A study in Malay Historiography, Proefschrift (Disertasi). ‘S-Gravenhage: N.V. De Nederlandsche Boek en Drukkerij v/h H.L. Smits.Reynnolds, L.D. & N.G. Wilson. 1978. Scribes & Scholars, London: Oxford University Press. Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Library of Congress Cataloging in Publication Data. Bloomington & London: Indiana University Press. Rivkin, Julie & Michael Ryan (Ed). 1998. Literary Theory: An Anthology. 125 Massachusetts: Blackwell Publisher Inc.Robson, S.O. 1978. Filologi dan Sastra-Sastra Klasik Indonesia. Tugu-Bogor: Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. 1988. Principles of Indonesian Philology, working Papers I (KITLV ). Doordrecht-Holland/Providence-U.S.A. : Foris Publications.1994. Prinsip-Prinsip Filologi. Diterjemahkan oleh Kentjanawati Gunawan. Jakarta: RulRochaeti, Etti. 1997. Wawacan Batara Kala: Suatu Kajian Filologis. Tesis. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.Rosidi, Ajip. 1966. Kesusastran Sunda Dewasa Ini. Bandung: Pinda Grafika.1983. Ngalanglang Kasusastran Sunda. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.1989. Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana. Bandung: Pustaka.Rosidi, Ajip (Ed). 1984. Carita Badak Pamalang. Carita Pantun Sunda. Jakarta: ProyekPenerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. .Rusyana, Yus. 1969. Galuring Sastra Sunda. Bandung: Gununglarang.Rusyana, Yus & Ami Raksanagara. 1994. Puisi Guguritan Sunda. Edisi Pertama. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa. Salmun, M.A. 1958. Kandaga Kasusastran, Edisi Pertama. Bandung-Djakarta: Ganaco NV.Saputra, Karsono H. 1992. Pengantar Sekar Macapat. Depok: Fakultas Sastra – UI.Sartre, Jean Paul. 1999. Psikologi Imajinasi. Diterjemahkan oleh Silvester G. Sukur. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.Satjadibrata, R. 1930. Rusiah Tembang Sunda. Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.Segers, Rien T. 2000. Evaluasi Teks Sastra. Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Suminto A Sayuti. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Selden, Raman. 1993 Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Semiawan, Conny R., dkk. 1998. Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Sim, Stuart. 2000 Derida dan Akhir Sejarah. Diterjemahkan oleh Sigit Djatmiko Yogyakarta: Penerbit Jendela. Sindhunata. 1999 Anak Bajang Menggiring Angin. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Soeharno, A & Sri Punagi. 1987. Kajian Astabrata, Pendahuluan & Teks, jilid I. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.Soeratno, Siti Chamamah. 2000. Hikayat Iskandar Zulkarnain, Analisis Resepsi. Jakarta: Balai Pustaka. Soetomo, W.E. dkk., 1993. Serat Rama. Semarang: KANTHIL (Yayasan Studi Bahasa Jawa)Soewirjo, Budi Adi. 1996. Kepustakaan Wayang Purwa. Yogyakarta: Yayasan126 Pustaka Nusatama.Stutterheim, Willem. 1989. Rama-Legends and Rama-Reliefs in Indonesia. First Published Wazirpur-Delhi: Ajanta Offset &Packingings Ltd. Madras: Kapur Graphics Inc. Janpath-New Delhi: Indra Gandhi National.Subadio, Haryati. 2000. Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu. Artikel dalam Majalah Naskah dan Kita. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.Sudewa, A. 1991. Serat Panitisastra, Tradisi, Resepsi, dan Transformasi. Yogyakarta: Dua Wacana University Press.Sudibyoprono, R. Rio. 1991. Ensiklopedi Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka. Sudiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Bandung: Tarate.Sugiharto, I. Bambang. 1996. Postmodernisme, Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.Suharno, A & Sri Punagi. 1996. Kajian Asthabrata, Pendahuluan dan Teks. Jilid I Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,Sujamto. 2000. Sabda Pandita Ratu. Edisi Keenam.Semarang: Effhar & Dahara Prize.Sunardi D.M. 1993. Ramayana. Jakarta: Balai Pustaka..Surianingrat, Bayu 1982. Sajarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur. Jakarta: Rukun Warga Cianjur. Suryana, Jajang. 1994. Wayang Golek Sunda, Kajian Estetika Rupa Tokoh Golek. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama. Sutrisno, Sulastin., dkk (Ed.). 1994. Bahasa Sastra Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: P.T. Dunia Pustaka Jaya.Tim Fakultas Sastra Unpad. 1979. Inventarisasi Penerbitan Buku-Buku Berbahasa Sunda Yang Dicetak Dengan Huruf Latin. Bandung: Tim Fakultas Sastra Unpad bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Propins Jawa Barat. Vansina, Jan. 1965. Oral Traditon, A Study in Historical Methodology, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh H M Wright, England: Penguin Books.Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan, diterjemahkan oleh: Melani Budianta dari buku Theory of Literature, 1977. Jakarta: PT. Gramedia.Wessing, Robert. t.t. Sri and Sadana and Sita and Rama, Nijmegen: Katholieke Universiteit. Wibisono, Singgih., dkk. 1997. Wahyu Sri Makutha Rama. Di dalam Majalah Cempala Maret 1997.Wiryamartana, I Kuntara. 1990. Arjunawiwaha, Transformasi Teks jawa Kuna Lewat Tanggapan dan Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Disertasi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Wiraatmaja, Apung S. 1996. Kuring jeung Tembang Sunda. Bandung: Citra Mustika.Wojowasito, S. 1976. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Bandung: Shinta Darma. 127 Worsley, P.J. 1972. Babad Buleleng, A Balinese Dynastic Genealogy. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde. (KITLV). The Haque: Martinus Nijhoff. Zoest, Aart van. 1990 Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik. Jakarta: Intermasa. Zoetmulder, P.J. 1983 Kalangwan. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Djambatan Daftar Kamus:Badudu & Zain. 1954 Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Eringa, F.S. 1984 Sundaas – Nederland Woordenboek.Prawiroatmodjo, S. 1981 Bausastra Jawa – Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. Purwadarminta, W.J.S. 1985 Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.Rosidi, Ayip., dkk. 2000 Ensiklopedi Sunda. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya atas kerja sama dengan The Toyota Foundation, Tokyo dan Yayasan Kebudayaan Rancagé, Jakarta.Satjadibrata . 1954 Kamus Basa Sunda Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementrian P.P. dan K.Wojowasito, S. 1977 Kamus Kawi – Indonesia Bandung: Angkasa Offset.Zoetmulder, P.J. 1982 Old Javanese – English Dictionary Part I – II ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Daftar Naskah 1. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli2. Wawacan Tamim Adari3. Wawacan Pulan Palin4. Wawacan Buana Wisesa5. Karya Haji Hasan Mustapa (buku, lihat Daftar Pustaka, Rosidi, Ayip. 1089)6. Wawacan Gandasari7. Wawacan Ganda Sari (buku, lihat Daftar Pustaka, Darsa, Undang Ahmad.,dkk, 1993)8. Wawacan Batara Kala (Tesis, lihat Daftar Pustaka, Rochaeti, Etti. 1997) 9. Kumpulan Rumpaka Tembang Sunda Cianjuran Laras Pelog dan Salendro oleh Sobirin. 10. Serat Rama (buku, lihat Daftar Pustaka, Soetomo, W.E., dkk. 1993).























http://indonesian.irib.ir/

















