WAWACAN BATARA RAMA : KAJIAN INTERTEKSTUALITAS

WAWACAN BATARA RAMA : KAJIAN INTERTEKSTUALITAS

Oleh : Dr. Kalsum, M.Hum.

by David Riksa Buana on Thursday, January 26, 2012 at 1:34am

PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang  Penelitian

Dalam masyarakat Sunda, kata ‘ Ramayana ’ telah disebut dalam naskah kuno Sanghiyang Siksa Kandang Karesian yang bertiti mangsa 1518 M, dalam penyebutan kisah – kisah yang  beredar  pada waktu itu.

Disebutnya kata ‘ Ramayana ’ pada naskah itu merupakan bukti bahwa ‘ Ramayana ’ dan sejumlah ceritera lainnya telah dikenal oleh orang Sunda pada kurun waktu tersebut

( Noorduyn, 1971 ).

Kisah Rama atau Ramayana pada tradisi tulis terdapat pada Pantun Ramayana

( selanjutnya disingkat PR ), PR merupakan sebutan dari Noorduyn, sehubungan bacaan bagian awal baik isi maupun bentuk bahasa menyerupai ceritera pantun.

Ceritera pantun adalah sastra lisan yang berkisah seputar kerajaan Galuh – Pakuan – Pajajaran tentang keluarga Prabu Siliwangi yang memiliki susunan pengisahan khusus.

Naskah PR tertulis pada lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna.

Salah satu keunikan dari PR yakni nama salah satu istri Dasamuka adalah Manondari yang mirip dengan Mandudari dalam Hikayat Seri Rama yang beredar di wilayah Melayu.

Kendati tradisi kisah Rama dalam PR terhenti, dalam beberapa folklore berbagai jenis musik Sunda yang beredar masa kini, nama Banondari ( Manondari dalam PR ) dikenali cukup akrab walau hanya kenangan namanya.

Diperkirakan kisah Rama PR dikenal baik oleh masyarakat Sunda Kuno.

Namun RAA Martanagara menggubah WBR ( Wawacan Batara Rama ) 33 bersumber pada Serat Rama

( kemudian disingkat SR ) berbahasa Jawa seperti dikemukakan di dalam kolofon WBR.

Ada hal menarik yang memunculkan pertanyaan, mengapa RAA Martanagara menggubah WBR dari SR tidak dari PR yang terdapat dalam khasanah pernaskahan Sunda.

Apabila dilihat dari sudut pandang beliau sebagai pengarang dan sikap hidup RAA Martanagara yang penuh perhatian terhadap ilmu pengetahuan ( Lihat Martanagara, 1922 ) kecil kemungkinannya tidak mengetahui hal – ikhwal PR.

Di dalam kolofon WBR ( Lihat  edisi WBR  nomor  pada XM / 35 / 3026 ) dikemukakan bahwa kisah Sri Rama sangat terkenal di Pulau Jawa.

Keterangan itu merujuk pada pengertian bahwa pengarang mengetahui banyak tentang kisah Sri Rama.

Adapun RAA Martanagara menggubah kisah ini dari SR, diperkirakan keteladanannya – lah yang ingin dikedepankan dalam gubahannya ( Lihat nomor pada XM / 36 / 3027 ).

SR sebagai sumber gubahan WBR yang asal usulnya dari KR.

( Kekawin Ramayana ) secara mentradisi menyajikan ajaran ( Lihat keterangan selanjutnya ).

KR satu – satunya kakawin yang ditemukan di Jawa Tengah, karena kemudian tradisi penggubahan kakawin berpindah ke Jawa Timur ( Pradotokusumo, 1984: 2 ). KR ditulis orang kurang lebih abad ke – 9 ( Poerbatjaraka, 1952: 2; bdk Pigeaud, 1967: 176; Ikram, 1980: 2; bdk. Pradotokusumo, 2005 ).

Pada tahun 1934 Himansu Bhusan Sarkar menunjukkan kemiripan pada sebuah pupuh tertentu antara KR dengan Ravanavadha ( kematian Rahwana ) karangan Bhatti yang ditulis pada abad ke – 6 atau ke – 7 M yang dikenal sebagai Bhatti – Kavya.

Manomohan Gosh, meneruskan penelusuran ini, menunjukkan adanya kemiripan antara 34 keduanya sebanyak delapan bait ( Poerbatjaraka, 1952:  3; bdk Noorduyn, 1971: 151; Zoetmulder, edisi terjemahan 1983: 289 ).

Walaupun KR menunjukkan ada bagian yang mirip dengan Ramayana Bhatti – Kavya, namun dengan Ramayana Walmiki memiliki kesejajaran ceritera ( lihat Stutterheim, 1989: 3-15; lihat pula Lal, 1995 ).

KR kemudian mendapat sambutan dari masa ke masa.

Pada pergantian abad ke – 18 ke abad 19, Yasadipura menggubah kembali KR ke dalam Serat Rama Jarwa ( Teuuw, 1984: 216; Sudewa, 1989: 9  –10 ).

Karena adanya tradisi penyalinan, “pada khasanah naskah Jawa terdapat sejumlah judul yang mengisahkan tokoh Rama

( Girardet., Cs, 1983; bdk Hadisutjipto, 1985; Behrend ( ed ),1990: 382 – 396; Behrend & Titik Pudjiastuti, 1997: 287 – 292 ).

Melihat rentang waktu yang sangat jauh antara penggubahan KR dengan penjarwaannya pada abad ke – 18 – 19 sangat kecil kemungkinannya, Yasadipura menggubah Serat Rama ( kemudian disingkat SR ) dari KR.

Salah satu di antara SR yang digubah pada masa ini, ditinjau dari penggunaan  pupuh termasuk Jarwa Macapat, oleh RAA Martanagara dijadikan sumber penggubahan WBR.

Seperti dikemukakan Stutterheim, bahwa Ramayana di Nusantara kemudian mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.

Begitu pula kisah Rama dari KR kemudian muncul SR yang dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, jarak waktu kurang lebih 10 abad, jarak jenis sastra, jarak bahasa, dan jarak budaya, sudah tentu mengalami penambahan, pengurangan, dan pengubahan.

Perubahan ini pula, menurut Poerbatjaraka ( 1952: 2-5 ) “ disebabkan karena penulis tidak begitu memahami lagi bahasanya, namun begitu, petransmisian alur dari kisah 35 Rama dari dalam KR ke SR tidak berubah.

”  Selain itu tradisinya pun masih ada yang dipertahankan.

Kemudian dari sumber SR, digubah WBR yang jarak waktu penggubahan dan penciptaan kembali tidak begitu jauh yakni kurang lebih dua abad.

Namun tentu saja antara penciptaan dan pembacaan oleh RAA Martanagara tersebut berada dalam lingkungan yang berbeda.

RAA Martanagara ( 1845  – 1926 ), seorang  menak – bangsawan ternama, keturunan Sumedang yang menjadi bupati Bandung ( 1893  – 1918 ).

Beliau seorang terpelajar pada masanya, mampu berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa

( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 52  – 54 ).

Awal penulisan WBR diperkirakan ketika pengarang diangkat menjadi bupati Bandung, pengangkatannya sebagai bupati Bandung pada tanggal 29 Juni tahun 1893, adapun WBR selesai ditulis pada tanggal 4 Oktober tahun 1897.

Sebagai bupati Bandung, RAA Martanagara mendapat sebutan Dalem Panyelang ‘ Dalem Penyelang ’  karena bukan keturunan dari para bupati Bandung.

RAA Martanagara dengan para pejabat Belanda direncanakan akan dibunuh oleh kelompok lawannya yang menginginkan jabatan bupati tersebut, namun pembunuhan itu gagal ( Martanagara, 1921; bdk Lubis, 1990: 60  – 79 ).

Menjelang penulisan WBR selesai, pengarang mendapat cobaan lagi, yaitu istrinya Raden Ajeng Sangkaningrat wafat pada tanggal  5  bulan Juni tahun 1897.

Apakah pengalaman kehidupan pengarang yang cukup berat tersebut yang menggugah kesadaran hatinya untuk menggubah sebuah karya yang sarat dengan keteladanan bagi pemimpin dan peletakan pandangan hidup yang mantap bagi seluruh umat manusia, sulit dipastikan.

Dalam kolofon yang terselip di dalam 36 kisahan, ada ungkapan demikian :

” reh maksudna nyundakeun Sri Rama, pakeun ngalolongsong hate, nyegah napsu ka batur, mamrih kana ka budi manis, sabab carita Rama, eta leuwih alus, rea keur baris tuladan, lalampahan nu murka reujeung nu adil, kabeh bukti “,

jadinya ‘ maksud penggubahan kisah Sri Rama dalam bahasa Sunda, untuk meringankan beban hati, mencegah timbul nafsu amarah kepada orang lain, supaya ( nafsu yang menyimpang ) berubah menjadi budi manis, sebab kisah Rama, sangat bagus, banyak keteladanannya, perilaku murka dan benar, semua terbukti adanya pembalasannya.

’ Demikianlah ungkapan itu seolah – olah ada kaitan dengan jalan hidup pengarang.

Pada waktu WBR ditulis yaitu pada akhir abad ke-19, para bangsawan Sunda dalam keadaan sulit, keadaan ini dirasakan pula oleh pengarang ( lihat uraian selanjutnya ) dan dalam masyarakat Sunda tengah berlangsung perubahan perubahan.

“ Pada awalnya kekuasaan para bupati di wilayah Priangan lebih besar daripada kekuasaan para bupati di wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Sejak tanggal 1 Juni tahun 1871 dikeluarkan Preanger Reorganisatie atau Peraturan Baru Tanah Priangan.

Sejak itu, kedudukan para bupati dan para pejabat pribumi di wilayah Priangan, sama seperti rekan – rekannya di wilayah lain di Pulau Jawa, dianggap sebagai pegawai pemerintah, bekerja untuk kepentingan pemerintah, dan digaji oleh pemerintah kolonial ( Ekajati, 1982: 260 – 261; bdk Martanagara, 1921: 20 -25 ).

Di lain pihak, tengah terjadi semangat revitalisasi bahasa dan kebudayaan Sunda yang sebelumnya didominasi oleh kebudayaan Jawa.

Pelopor revitalisasi tersebut adalah KF Holle ( 1822 – 1896 ) dan Raden Haji Moehamad Moesa ( 1822 – 1886 ),

( Lubis a, 2000: 114 – 120; bdk Moriyama, 2005; Ekadjati, 2004: 29  -3732 ).

Pada akhir abad ke – 19  Belanda tengah mengembangkan pendidikan formal untuk kalangan anak – anak bumiputera

( Lubis a, 2000: 49; 2002: 30 ). Pada situasi sosial politik yang cukup  berarti ( significant ) itulah, WBR digubah oleh pengarangnya.

WBR tergolong wawacan mite, sifat mitis dieksplisitkan pada judul dengan disebutnya kata batara, dari segi isi sifat mitis ini sangat pekat, Sri Rama sebagai tokoh utama dan tokoh sentral adalah titisan Wisnu ( titis – an Dewa Wisnu ) yang membawa dirinya ke dalam pengembaraan yang panjang dalam rangka menghancurkan kezaliman dan kemurkaan yang ditokohi oleh Raja Dasamuka.

WBR termasuk juga ke dalam jenis wawacan wayang karena Ramayana adalah salah satu kisah besar yang sangat terkenal dalam kesenian pertunjukan wayang ( performance art ) dengan kisah besar lainnya Mahabarata terutama wayang golek.

Namun pembicaraan difokuskan pada WBR sebagai karya sastra dalam tulisan.

Sebagai kisah yang diwarnai oleh sifat mite, kisah yang berasal dari India ini sudah tentu dilatarbelakangi oleh agama atau keagamaan pra-Islam Hindu Budha.

Adapun WBR diciptakan oleh RAA Martanagara pada akhir abad ke – 19, pada waktu itu masyarakat Sunda sudah memeluk agama Islam selama kurang lebih 3 abad sejak abad ke – 16, dan bentuk wawacan itu sendiri, sebuah genre -produk sastra zaman Islam.

Kisah Rama dalam WBR ini bisa dikatakan, transmisi KR yang lahir pada abad ke – 9 dengan latar belakang agama Hindu Budha, berbahasa Jawa Kuno, yang hidup dari masa ke masa, kemudian mendapat sambutan pembaca pemeluk Islam suatu zaman.

Pengarang WBR adalah pembaca  - penyambut kisah Rama yang 38 dilihat dari segi individu, memiliki bakat, pengalaman, dan pengetahuan yang berada dalam ikatan budaya ( Kultur gebundenheit ) dan jiwa zaman ( Zeitgeist ).

Identitas individual maupun kolektif berupa budaya dan jiwa zaman turut dalam rekonstruksi kisah Rama ketika proses membaca yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teks WBR secara utuh.

Teks WBR bisa dilihat dari berbagai jalinan struktur serta jalinan berbagai ide, yang berbeda dengan sumber penggubahannya karena “ sebuah teks ( dalam hal ini kisah Rama yang menjadi sumber penggubahan WBR ) tidak dapat dipandang sebagai produk tertutup dan mandiri ” ( Cavallaro, 2001, dalam edisi terjemahan 2004: 91 ).

WBR sebagai wawacan, dibangun oleh sejumlah runtuyan pada dari jenisjenis pupuh

( untaian bait-bait dari berjenis  pupuh ).

Pupuh adalah bentuk puisi yang kebahasaan dan isinya dibatasi oleh matra pupuh ( dangding ).

Adanya matra pupuh ini menimbulkan ketidakleluasaan pemilihan diksi dalam penyajian ceritera, sehingga bahasa karya -karya dalam bentuk wawacan pada umumnya terasa kaku.

Bahasa WBR tidak demikian adanya, ceritera berlangsung dengan lancar tanpa terasa pemaksaan dangding.

Kiranya kelancaran pengungkapan bahasa ini akibat pengungkapan kisah dengan bahasa yang tidak dipaksakan, yaitu dengan teknis penggalan atau enjambement, baik enjambement antarpadalisan maupun enjambement antarpada, yakni kebulatan atau kepaduan pengertian tidak dipaksakan harus dalam satu padalisan atau satu pada melainkan dipenggal, kemudian dilanjutkan ke padalisan atau pada berikutnya.

Gaya seperti ini, jarang ditemukan dalam wawacan Sunda, jadi terasa lebih indah dari bahasa wawacan pada umumnya. Inilah salah satu keunggulan WBR.

Dangding sebagai dasar 39 penggubahan wawacan, tidak hanya merupakan ikatan dari segi kebahasaan berupa guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra, namun merupakan wahana yang mengusung perilaku dan karakter emosi.

Dengan demikian, WBR mengemas sejumlah perilaku dan sejumlah emosi tertentu.

Walaupun WBR sudah sangat jauh jaraknya dengan kakawin dilihat dari berbagai hal, jarak matra puisi, jarak waktu, jarak bahasa, jarak agama, jarak lingkungan sosial, dan jarak antar etnis, namun paparan naratif WBR masih menampakkan paparan kakawin meliputi “ lukisan ”, ajaran, dan perang.

Dengan adanya penggarapan “ lukisan ” secara meluas dan mendalam, terekam antara lain lingkungan alam, budaya, adat, keagamaan, dan seni, yang kini tersisihkan dari kehidupan.

Ajaran dalam WBR digarap secara meluas, disediakan dalam lahan yang lebar, terutama ajaran bagi penguasa / raja dan ajaran pokok bagi seluruh manusia secara umum.

Itulah sebabnya ajaran ini, meskipun tidak menjadi titik focus analisis WBR, ditambahkan secara proporsional dalam kajian interteks.

formal Perang dalam WBR merupakan titik sentral yang kait – mengait ke segala arah untuk melenyapkan tokoh antagonis yang menjadi sumber kekacauan dunia ‘ reregeding bumi ’ oleh tokoh protagonis, sehingga dengan perang, menyandangkan gelar ‘ Pemimpin Kekuatan Dunia ’  Ratu Pakuning Bumi pada dirinya.

Pada paparan lukisan, ajaran, dan perang inilah terletak salah satu artistik keindahan WBR yang membangkitkan daya estetik imaji pembaca.

Gambaran artistik fisik dunia merangsang daya estetik imajinasi atas penikmatan alam, gambaran artistik pencapaian religius dan artistik moral merangsang estetik 40 penataan hati, mendorong penghayatan diri, mengatur perilaku untuk pengejaran kebahagiaan lahir batin dalam mengarungi kehidupan.

Adanya paparan naratif WBR yang mirip dengan struktur naratif kakawin merupakan sambutan atas sebuah ciri dari karya sastra kuno yang telah menjalani perjalanan rentang waktu yang sangat jauh oleh individu pengarang yang mewakili kolektif dari hamparan sebuah zaman yang bahasa dan sarana perwujudan karyanya jauh berbeda.

Hal ini mengisaratkan bahwa sebuah karya sastra ada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.

Begitu pun WBR, karya ini berdiri kokoh di atas ketegangan konvensi dan inovasi, menampakkan identitas dirinya yang khas, yang berbeda dengan kisah Rama lainnya, walaupun WBR digubah dari Serat Rama berbahasa Jawa.

Kisah Rama itu sendiri boleh statis karena sebuah mite yang validitasnya ditentukan oleh legitimasi dari sebuah konvensi budaya, namun ide – ide yang mewarnai dirinya berubah.

Jadi WBR adalah WBR, keberadaannya tidak serta merta ada, dan KR yang kuno itu  ciri – cirinya tidak hilang dengan serta merta, namun melalui proses.

Demikian gambaran mula WBR, sebuah karya luhur yang menggugah manfaat dan nikmat.

Penelitian terhadap WBR yang memuat sejumlah nilai – nilai mulia dari kehidupan, yang masih sangat segar untuk konsumsi masyarakat masa kini, sangat penting dilakukan.

Seyogyanyalah potensi dari karya sastra ini turut membangun mental moral bangsa, guna menepis pengaruh luar yang menyesatkan.

Bangsa Indonesia yang tengah tertatih – tatih menyongsong masa depan yang lebih baik,tergilas keserakahan penghuni zaman yang orientasinya sekedar pencapaian urusan dunia semata yaitu meraih kenikmatan sesaat yang bersifat semu, dengan 41 memutar – mutarkan masalah, memutar – balik, atau membelokkan, serta menghalalkan segala cara.

Keadaan seperti ini tidak boleh berlangsung berkepanjangan.

Hal – hal yang menimbulkan kemudaratan harus segera dihentikan dari berbagai segi.

WBR sebagai sebuah karya sastra Nusantara, menyajikan pijakan hidup yang kokoh, mengingatkan kehakikian kehidupan, yakni pati ‘ ajal ’.

Ajal adalah sebuah lorong yang pasti dilalui oleh perjalanan manusia, siapa pun adanya baik manusia pada umumnya maupun manusia eksklusif yaitu para pemimpin ( raja ).

Adapun ajal menurut WBR, ada pati mulya, pati sinelir, mulya ning pati, pati luhung ‘ ajal mulia, ajal terpilih ’ yang dipertentangkan dengan ‘ pati murka dursila,  pati hina ‘ ajal dalam kemunkaran, ajal hina.

’ Dalam karya ini manusia diingatkan, untuk menginginkan ajal mulia guna memperoleh Sawarga Mulya yang kebahagiaan dan kenikmatannya panjang, kekal, tiada akhir.

Untuk mencapai ajal mulia, harus berdiri di tempat yang benar lahir dan batin semasa menjalani kehidupan dunia, karena Penyedia lahan kembali yang bahagia dalam kehidupan kekal di Alam Kalanggengan ‘ Alam Keabadian ’ alam kelak setelah kematian adalah Yang Maha Benar.

Keteladanan, baik keteladanan tersurat maupun tersirat dalam WBR sangat berlimpah.

Nilai – nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seyogyanya lah berada kembali dalam alam pikiran pemiliknya, mengakar pada budaya bangsa, guna menepis pengaruh yang menyesatkan.

Penggalian nilai – nilai kehidupan luhur yang terkandung di dalam WBR ini, dengan melalui pengkajian sastra.

Setiap karya sastra, termasuk  juga WBR, “ pada dasarnya bersifat umum sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi : individual dan umum ”  ( Wellek & Austin Warren, 1962 dari seri terjemahan: 1989: 9 ).

WBR dilihat dari sudut pandang teks yang bersifat individual, merupakan sebuah kisah Rama yang khas, memiliki struktur naratif tersendiri, memiliki perbedaan dengan sumber penciptaannya sekecil apa pun, yang dipengaruhi oleh identitas pengarang, budaya, dan zaman yang sedang berlangsung.

Di samping WBR memiliki sifat individual, kisah Rama yang menjadi dasar penggubahan WBR berada dalam alur sejarah, dalam arti ceritera tidak berdiri sendiri.

Dengan demikian, WBR berada dalam alur sejarah yang panjang.

RAA Martanagara adalah seorang penyambut kisah Rama melalui SR berbahasa Jawa, kemudian menuliskannya kembali menjadi WBR.

Dengan kenyataan seperti dikemukakan sebelumnya, pengkajian sastra terhadap WBR yang relatif  “ utuh ”,  hendaknya ditinjau dari sudut WBR sebagai karya sastra yang khas, dan WBR sebagai karya sastra yang berada dalam alur sejarah. Penelitian ini meliputi kedua sudut pandang tersebut.

Penelitian WBR sebagai sebuah karya sastra berada pada aliran sejarah akan menggunakan pendekatan intertekstualitas.

Pendekatan intertekstualitas yaitu menelusuri hipogram dari sebuah karya, hipogram yaitu teks – teks yang kemudian turut dalam rekonstruksi sebuah karya.

1.2 Rumusan Masalah

 

Keberadaan teks WBR yang dikemukakan dalam identifikasi, memunculkan sejumlah masalah, yang perumusannya sebagai berikut.

1. Teks WBR digubah pada masa masyarakat sudah menganut agama Islam, bermula dari mite KR yang berlatar Agama Hindu – Budha.

Adakah pemelukan agama ini mempengaruhi WBR ?

2. Penulisan WBR dipengaruhi oleh teks – teks sebelum dan sezaman, bagaimana penerapan hipogram teks – teks sebelum dan sezaman tersebut dalam hal keagamaan.

3. Bagaimanakah makna WBR secara relatif ” penuh ”, yakni makna WBR hasil rekonstruksi RAA Martanagara dari SR yang berbahasa Jawa yang dipengaruhi oleh teks – teks lebih dahulu atau sezaman dalam hal keagamaan.

1.3 Tujuan Penelitian

 

1. Mengungkapkan pemikiran – pemikiran Keislaman yang tersurat di dalam WBR.

2. Mengungkapkan hipogram teks WBR dan fungsi semiotik dari hipogram tersebut keagamaan.

2. Mengungkapkan makna penuh dari WBR.

1.4 Kerangka Pemikiran

 

Kajian sastra terhadap teks WBR bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan dan berbagai sudut pandang.

Penelitian ini meliputi pendekatan intertekstualitas dengan pertimbangan pendekatan tersebut mampu menghasilkan kajian yang optimal dalam pemahaman karya tersebut karena mengungkapkan WBR dari sudut pandang karya sebagai individu dan alur kesejarahan.

1.5 Relevansi Penelitian

 

Penelitian ini memiliki kegunaan dalam pembangunan non fisik, antara lain

1) gambaran WBR secara sekilas mengedepankan kehakikian bahwa dalam kehidupan ini bukanlah kekuatan fisik semata yang menjadi tujuan, namun ada pilihan yang lebih utama yakni “ kebenaran hakiki ”,

2) WBR mengedepankan nilai – nilai kepemimpinan luhur, yang merupakan suri teladan penting bagi kehidupan masa kini yang wacana kebenarannya condong kepada kekuatan fisik dan materi.

WBR memberikan pijakan kokoh dalam menjalani kehidupan yakni segala perilaku harus dipertimbangkan dengan kehidupan di Alam Keabadian setelah ajal.

1.6 Sumber Data

Objek penelitian ini adalah WBR karya RAA Martanagara yang sudah di lakukan penelitian dan pengkajian dari segi Filologi.

II. KAJIAN PUSTAKA  DAN METODE PENELITIAN

 

2.1. WBR sebagai Karya Sastra Wawacan

WBR merupakan karya sastra tradisional seperti halnya karya – karya sastra Sunda yang lain yang tertulis dalam naskah, karya tersebut hampir menyeluruh termasuk karya – sastra tradisional.

Setiap jenis karya sastra tradisional memiliki ciri – ciri khusus baik dilihat dari segi wadah / wahana yakni sarana perwujudan bahasanya maupun dari ide – ide yang terkandung di dalamnya.

Ciri – ciri yang termuat dalam wahana karya sastra beserta ide – ide yang terkandung di dalamnya, memunculkan genre dalam konvensi sastra masyarakatnya.

Hal yang berkaitan dengan genre / jenis sastra, Wellek & Austin Warren mengemukakan ( 1977 dalam terjemahan 1989: 298 ) sebagai berikut : “ Jenis sastra bukan hanya sekedar nama, karena konvensi sastra yang berlaku pada suatu karya membentuk ciri karya tersebut.

Jenis sastra dapat dianggap sebagai suatu perintah kelembagaan yang memaksa pengarangnya.

” Jadi pada dasarnya jenis – karya – sastra – apa – pun terdapat konvensi dalam penyajiannya, apalagi WBR karya sastra tradisional wawacan, yang memang wawacan memiliki matra yang harus dipatuhi.

2.1.1  Pendekatan Intertekstualitas

Teks WBR sebagai karya sastra dengan sarana primer bahasa, merupakan sistem tanda.

“ Konsep tanda menurut Peirce adalah sebagai berikut, tanda 46 merujuk pada sesuatu atau mewakili sesuatu, jadi tanda mempunyai sifat representatif, yaitu mewakili sesuatu.

Hasil penafsiran terhadap suatu tanda oleh si penafsir, menghasilkan tanda baru bagi penafsir, jadi sebuah tanda selain memiliki sifat representatif memiliki pula sifat interpretatif.

Hasil representasi disebut denotatum dan hasil interpretasi disebut interpretant.

Sebuah tanda adalah satu bagian dari satu keseluruhan peraturan, kesepakatan, tradisi, adat istiadat, dan disebut juga kode.

Teks sastra secara keseluruhan adalah sebuah tanda dengan semua cirinya untuk pembaca, teks itu pengganti sesuatu yang lain, suatu kenyataan yang dibayangkan ” ( Pradotokusumo, 2001: 11-13 ).

Pemikiran Peirce ini diterapkan pada mekanisme penciptaan WBR sebagai berikut.

SR berbahasa Jawa yang dijadikan sumber penulisan WBR oleh RAA Martanegara adalah sebuah tanda yang terletak di antara deno tatum dan interpretant.

Kode baru hasil dekoding RAA Martanegara dari SR, dituliskan kembali menjadi WBR melalui proses enkoding.

Dilihat dari seputar kehidupankarya sastra tersebut, pembacalah yang memiliki peranan penting dalam menerima, menginterpretasi, merekonstruksi, memberikan makna terhadap sebuah karya.

“ Pendekatan – pendekatan yang berorientasi terhadap peranan pembaca menggunakan landasan berpikir Reader Theory / Teori Pembaca ” ( Eagleton, 1985: 73 ).

Pernyataan – pernyataan berlandaskan pemikiran Reader Theory di antaranya sebagai berikut : Phenomenologist aestheticiant  Ingarden mengemukakan bahwa the text as a potential structure which is ‘ concretisized ’ by the reader.

‘ teks merupakan struktur yang potensial dikonkretisasi oleh pembaca ’ ( Eagleton, 1985: 4773 ).

Iser ( dalam Eagleton, 1985: 76 ) menjelaskan tentang estetika bahwa the literary work has two poles, which we might call the artistis and the aesthetic the artistic refers to the text created by the author, and the aesthetic to the realization accomplished by the reader.

‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan pembaca.

’  Sejalan dengan pemikiran itu Mukarovsky membedakan antara artefact dan aesthetic object, artefact merupakan dasar material objek estetis berupa huruf – huruf yang dicetak di halaman kertas ; objek estetis merupakan representasi artefak dalam pikiran pembaca yang disebut collective conciousness ‘ kesadaran kolektif ’ yang dalam kesadaran sekelompok manusia dapat disistematisasikan.

Dengan demikian, sebuah artefak memiliki nilai potensial.

Pembentukan objek estetik terhadap artefak terjadi dengan sarana peran aktif penerima.

Jadi pembaca juga menciptakan objek estetis ( Segers, 1978: 31 ).

Menurut Gadamer “ sebuah karya sastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi. Arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir ( Selden, 1993: 117 ).

Menurut Karl Mannheim penafsir atau penulis berada dalam Kultur gebun denheit ( keterikatan budaya ) dan Zeitgeist

( semangat zaman ) ( Lubis b, 2000: 10 ).

Menurut Iser teks bukanlah penyajian sempurna namun terdiri dari bagian – bagian kosong.

Pembaca mengisi bagian bagian kosong yang mengandung makna ambigu dalam teks, ia mengisinya secara bebas sesuai dengan pengalamannya.

Dilihat dari segi pembaca, pemaknaan sebuah karya sastra tidak stabil secara essensial ( Eagleton, 1985: 76-81 ).

” Derrida seorang penganut sebuah aliran filsafat menampik adanya kestabilan makna.

Makna senantiasa berada dalam proses, dengan demikian tidak ada makna baku dan permanen ( Sim, 1999: V ).

Salah satu pendekatan karya sastra dengan berlandaskan Reader Theory yakni pendekatan intertekstualitas.

Pendekatan intertekstualitas adalah salah satu pilihan pendekatan dalam menguak makna dari sebuah karya sastra.

“ Intertekstualitas adalah pendekatan untuk memperoleh makna sebuah karya sastra secara penuh dalam hubungannya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya ( teks terdahulu ), baik berupa teks fiksi maupun puisi ” ( Nugiyantoro, 1998: 54 ).

Kajian intertekstualitas berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya ditulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya.

Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi masyarakat, dalam wujudnya berupa teks teks kesusastraan yang ditulis sebelumnya ( Nugiyantoro,  1998: 50 ).

Kristeva mengemukakan hubungan antarteks sebagai berikut : every text take shape as a mosaic of citations, every text is the absorption and transformation of other text.

‘ setiap teks mengambil bentuk seperti mosaik cuplikan – cuplikan, setiap teks merupakan serapan dan transformasi dari teks – teks lain ’ ( Culler, 1975: 139 ).

Pemikiran Kristeva yang mendukung munculnya pemikiran intertekstualitas yakni, bahwa bahasa bisa direduksi ke dimensi – dimensi yang bisa diterima oleh kesadaran.

Kesadaran bukanlah subjek yang statis namun berada dalam bentuk imajiner ( Lechte, 1994 terjemahan 2001 : 221 ). Foucoult ( 1971 terjemahan 2003: 30 ) mengemukakan bahwa tidak ada masyarakat yang tidak memiliki narasi narasi besar ( major naratives ) yang kemudian dikatakan ulang dan beraneka ragam, formula – formula teks – teks biasa, teks -teks ritual yang diucapkan dalam keadaan tertentu ; hal – hal yang pernah dikatakan kemudian diperbincangkan kembali karena masyarakat menduga adanya sesuatu rahasia dan “ kemegahan ” tersembunyi di dalam yang dikatakan tersebut. Kenyataan tersebut memunculkan ide pemahaman terhadap karya sastra.

Menurut Culler : A work can only be read in connection with or against other texts ’ Sebuah karya hanya dapat dipahami dalam hubungan dengan teksteks lain’

( Culler, 1975: 139; bdk Riffatere, 1978; bdk Teeuw, 1984; bdk Pradotokusomo, 1991: 162 ).

Teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks – teks lain ; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh -sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks – teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka, tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau memenuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting ; pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki atau disimpangi ( Teeuw: 1984: 146 ).

Teks – teks sastra yang menjadi dasar penciptaan sebuah – karya – kemudian disebut hypogram ‘ hipogram ’

( Riffatere, 1978: 23 ).

Mitos pengukuhan disebut myth of freedom.

Kedua hal tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang “ wajib ”  hadir dalam penulisan teks kesusastraan Adanya unsur hipogram dalam suatu karya, mungkin disadari mungkin juga tidak disadari oleh pengarang

( Nugiyantoro, 1998: 52 ).

Seperti sudah dibahas sebelumnya, unsur – unsur serapan dari hipogram yang diserap oleh teks – kemudian berbeda -beda, seperti pada penelitian terdahulu Pradoto kusumo terhadap Kakawin Gajah Mada, Kakawin Gajah Mada dibangun oleh mozaik – mozaik karya sastra terdahulu, Chamamah Suratno terhadap Hikayat Iskandar Zulkarnain menghasilkan bahwa kharisma tokoh Iskandar Zulkarnain menyebar pada sejumlah karya sastra Melayu, dan Kuntara Wirya martana terhadap Arjuna wiwaha, bahwa Arjuna wiwaha mengalami tanggapan yang berbeda dalam genre – genre yang berbeda.

Adapun WBR digubah berdasarkan SR berbahasa Jawa.

Kisah Rama sebagai mite ceriteranya tidak boleh menyimpangi dari konvensi masyarakat.

Dalam segi ceritera, WBR sama dengan kisah sumbernya, namun kemudian pengarang mengisi celah – celah yang kosong dengan konsep – konsep teosofi tasawuf ( Lihat subbab selanjutnya. ).

Konsep – konsep teosofi tasawuf Islam ini dengan nama – nama Penguasa Alam dari agama Hindu Budha / pra – Islam. Penyisipan konsep – konsep tasawuf ini sudah tentu mengubah makna ceritera.

Penelitian ini akan didasari oleh pemikiran Iser bahwa ‘ karya sastra memiliki dua sisi, yang dinamakan artistik dan estetik, artistik dimiliki oleh teks yang diciptakan oleh pengarang, dan estetik yakni kenyataan yang disempurnakan oleh pembaca.

Masalah yang diungkapkan dipusatkan pada tema, kemudian dari tema ini diungkapkan makna yang menghiasi seputar tema, bagaimana tema ini dipoles dengan konsep – konsep tasawuf seperti pernyataan Gadamer bahwa sebuah karyasastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai dan terbungkus rapi, namun arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir.

Pemahaman konsep – konsep sufi akan diterangkan melalui sumber – sumber dari beberapa naskah Sunda.

Pemikiran yang mirip dengan konsep – konsep sufi yang terdapat di dalam WBR dikumpulkan lalu ditelusuri hipogramnya. Penelitian ini tidak menelusuri aliran mana hanya meliputi ciri – ciri umum.

Penerapan hipogram terhadap teks naskah WBR akan diberikan istilah dengan hasil penelitian terdahulu.

Apabila terdapat gejala baru maka akan diberi peristilahan sesuai dengan gejalanya.

Peneliti Riffatere, menghasilkan konsep bahwa hipogram dari teks – terdahulu terhadap teks yang – muncul – kemudian diterapkan dengan expansion ‘ pengluasan / pengembangan’ dan conversion ‘ pemutarbalikan ’ ( Riffatere, 1978:50-63 ). Penelitian Pradotokusumo ( 1984: 103 ) merumuskan dua gejala yakni : modification ‘ modifikasi ’  dan excerpt ‘ ekserp ’. Gambaran yang tampak jelas yang diserap ke dalam WBR dari karya – karya terdahulu adalah konsep – konsep tasawuf yang mengalami “ adaptasi ” / penyesuaian nama Penguasa Alam, yaitu penyisipan konsep tasawuf namun Dzat yang diseru tetap menurut kepercayaan lama.

2.1. 2 Tasawuf dan Teosofi Tasawuf   

 

Kata tasawuf ditinjau secara etimologis ” berasal dari kata shuf ( wol ), orang orang sufi menutup badannya dengan kain wol asli ” ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15, Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).

Sufi adalah orang – orang ahli / penganut tasawuf.

Pengertian sufi secara substantif adalah ” mereka yang berada di barisan ( shaf ) yang pertama di sisi Allah, dengan semata mata maksud hatinya karena Allah, dan menempatkan bisikan kalbunya di sisi Allah.

Golongan lainnya mengatakan bahwa orang – orang disebut sufi karena kedekatan sifat – sifat mereka dengan ahli suffah yaitu orang – orang muslim yang berada di masa Rasulullah saw.

Menurut Bisr ibn al – Harits, sufi  adalah orang orang yang membersihkan hatinya semata – mata karena Allah.

” ( Kalabadzi, 1985 edisi terjemahan 1995: 1 ).

Pengertian tasawuf adalah perilaku aspek batin Islam atau esoterik Islam yang dibedakan dari aspek luar

( eksoterik Islam ) ( Burckhardt,1976 edisi terjemahan 1984: 15 ).

Peristilahan seputar tasawuf  bermacam – macam, tumpang tindih antara pemahaman Ketuhanan dan peribadatan. Fathurahman membedakan tasawuf falsafi dan tasawuf amali ( 1999: 24 ).

Istilah tasawuf falsafi dipakai pula dengan istilah teosofi tasawuf dan tasawuf amali istilah lainnya adalah tarikat.

Pengertian kamus tentang teosofi adalah ” ajaran dan pengetahuan kebatinan ( semacam filsafat dan tasawuf ) yang sebagian besar berdasar pada ajaran – ajaran agama Buddha dan Hindu ( Poerwadarminta, 1985: 1055 ).

Istilah yang dipilih dalam penelitian ini adalah teosofi tasawuf, dengan pertimbangan karena pembahasan – pembahasan mengarah kepada Ke – Tuhan – an.

Namun istilah ini digunakan dengan melepaskan acuan ke ajaran agama Budha dan Hindu, jadi yang dimaksud teosofi tasawuf dalam pembahasan ini, murni ajaran Islam yang lepas dari ajaran Budha dan Hindu seperti tercantum dalam arti kamus tersebut.

Adapun tarikah atau tarikat adalah amalan / peribadatan yang dilakukan oleh salik ( pencari jalan ) menuju Allah.

Di dalam naskah teosofi tasawuf Sunda, dibedakan karya – karya ini dengan ajaran segi agama Islam lainnya antara lain Tauhid dan Fikih.

Di dalam naskah naskah tasawuf disebut – sebutnya segi ke – Islam – an dalam pandangan para sufi yakni sariat, hakikat, tarikat, dan marifat ( Lihat pula penjelasan selanjutnya ).

Pemikiran – pemikiran tasawuf yang disajikan di dalam WBR terjalin sangat halus ditenunkan dalam hamparan karya berlatar belakang Hindu Budha yang pekat mewarnai seluruh karya dari awal sampai akhir.

Walaupun keberadaan teosofi tasawuf di dalam WBR ini hanya berupa ulasan yang sangat tipis, namun karena pengertian tasawuf rumit, penjelasannya membutuhkan uraian cukup panjang.

Pengkajian teori tentang tasawuf, meliputi teosofi tasawuf dan tarikat, untuk memahami pemikiran tasawuf yang tersaji di dalam WBR, sehubungan konteks tasawuf di dalam WBR seolah – olah berupa pengamalan yang sudah berlangsung, sedangkan dalam karya – karya tasawuf Sunda baru berupa uraian dari ajaran, jadi tentang tarikat pun perlu dibahas.

Karya – karya naskah yang dianggap berisi tasawuf memiliki ciri – ciri pokok tasawuf.

“ Karya – karya tasawuf walau berbeda – beda namun memiliki kesamaan aspek pokok ialah ajaran kebajikan rohani. Kebajikan rohani al ihsan, menurut Nabi sebagai berikut, kamu harus mencintai Tuhan seakan – akan kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihat – Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.

Persoalan paling utama bagi manusia yakni ma’rifah atau gnosis.

Sesuai dengan intensitas dan lamanya, terdapat keadaan – keadaan yang disebut ‘ cahaya yang redup ( lawa’ih ) dan ‘ cahaya yang menyilaukan ( lawami ), dan “ penyinaran ” ( tajalli ).

Kebajikan lain dari semua adalah diri merasakan miskin ( fakir ) keikhlasan ( al – ikhlas ) atau kejujuran ( as – sidq ). Mengingat Tuhan dengan ( adzdzikr )” ( Burckhardt, 1984: 127 – 134 ).

Dzikir menurut Syekh Yusuf dalam Al – Barakāt al – Sailaniyyah ( Berkat dari Sailan ) bermacam – macam, zikir Lā Ilāha Illā Allāh zikir orang awam, Allah – Allah, zikir hati atau zikir al – khawās, Hu – Hu zikir rahasia atau zikir akhas alkhawās

( manusia paling istimewa ) ( Dalam Lubis, 1996: 30 ).

Allah memperlihatkan diri – Nya dengan bermacam – macam manifestasi sesuai dengan tempat sehingga tempat itu menjadi arsy – Nya.

Maka engkau menjadi orangmukmin yang benar, seperti yang dimaksud dalam hadis.

Hadis mengatakan bahwa : Hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah ( Dalam Lubis, 1996: 31 ).

Di dalam Tahsīl al – Ināyah wa al – Hidāyah ( Memperoleh Pertolongan dan Petunjuk ) disebutkan bahwa, Allah memuliakan mereka yang memperbanyak zikir dengan bermacam – macam ilmu dan rahasia – Nya. Allah berfirman : Tanyakan kepada ahli zikir jika kamu tidak tahu ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 44 ).

Ahli zikir yang bisa dijadikan guru disebut – sebut dalam naskah Sunda dan ahli Tarikat adalah Guru Mursid

( guru yang ahli ) ( Naskah WJU; Fathurahman, 1999: 24 ).

Zikir ini diterapkan kepada salik dengan di – bai’at. Dalam Al – Nafahāt al -Sailaniyyah ( Hembusan dari Sailan ) tentang zikir Yusuf menyampaikan : ” Siapa yang tidak mempunyai syekh ( guru ), setan menjadi syekhnya.

Sabda Nabi Muhammad saw : Syekh bagi kaumnya adalah seperti nabi ( Yusuf, dalam Lubis 1996: 38 – 39 ).

Pengertian manusia yang selalu menghadirkan Allah dengan zikir hati adalah mukmin yang benar, dan hati seorang mukmin sebahagian dari arsy Allah memiliki kesejajaran makna dengan manunggaling kaula – Gusti.

”  Manunggaling kaula – Gusti memiliki pengertian, abdi / manusia – yang selalu menghubungkan batinnya dengan Allah.   ” Allah memiliki sifat yang berlawanan, Allah ” al – Dzahir al – Bathin ”  Dia tersembunyi ( Batin ) di dalam kenyataan – Nya, Dia nampak ( Dzahir ) di dalam ketersembunyian – Nya. Allah ” al – Qarib al – Baid ”  Dia Nyata di dalam Ketidaknyataan -Nya, Dia sangat Dekat di dalam Kejauhan – Nya ”  ( Kalabadzi, 1995: 15 ).

Manusia diberi rahmat – Nya untuk bisa merasakan Kehadiran – Nya, namun Allah Dzat Laisa Kamistlihi ( Tidak bisa diumpamakan oleh apa pun ) ( Naskah WBW dan WJU ).

Tujuan manusia selalu menghadirkan Allah di dalam batinnya, untuk mencapai insan kamil.

Manusia dibebani untuk menuju insan kamil, peringkat selanjutnya kamil mukamil ( manusia mencapai tarap kesempurnaan pada martabat manusia ) ( di dalam WJU ) al – khawās – ( istimewa ) peringkat selanjutnya khawāsul khawās ( paling istimewa ( dalam WJU dan istilah dari Syekh Yusuf ).

Di dalam WBR terdapat istilah Elmu Kasampurnaan, Elmu Kasampurnaan ini kiranya ada hubungan pemaknaan dengan pengertian insan kamil – kamil mukamil atau alkhawās –  khawāsul – khawās.

Di dalam WBR Elmu Kasampurnaan disebut juga Elmu Rahasiah atau Elmu Agal Repit, tanda ini rupanya mengacu kepada cara guru ( syekh ) yang menerapkan ilmunya kepada salik dengan cara bai’at secara rahasia.

2.2 Metode Penelitian

Langkah pertama dalam analisis sastra adalah mencari metode pendekatan yang sesuai dengan karya sastra itu sendiri. Karya sastra merupakan gejala, sehubungan itu setiap karya memiliki sifat umum dan keunikan tersendiri.

Dalam rangka mencari  metode pendekatan yang sesuai, langkah pertama memahami WBR dari berbagai segi yakni, WBR sebagai karya wawacan, posisi WBR dalam perkembangan wawacan, WBR  sebagai mite, dan kekomplekan kisah Rama.

Setelah dipahami dari berbagai segi baru menetapkan kajian yang tepat untuk menganalisis WBR secara optimal. Pengkajian intertekstualitas WBR divokuskan pada ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an yang mempengaruhi pemaknaan dari karya ini.

WBR sebuah karya sastra mite, berlatar agama Hindu Budha, digubah pada zaman Islam.

Adapun peristiwa mitis di dalam WBR sebagai berikut :

1) Dasarata berselamatan karena menginginkan putra yang dititisi oleh Dewa Wisnu, dilihat dari ciri – ciri dupa,  permohonannya terkabul.

2) Menurut keterangan Resi Yogistara dan Mintra, Sri Rama titisan Dewa Wisnu Dewata Mulia.

3) Deskripsi perjalanan Rama ke Mantili menunjukkan bahwa dirinya bukan orang biasa namun ditempati Wisnu Murtining Bumi.

4) Rama diramalkan, pasti memenangkan sayembara di Negeri Mantili untuk menikahi Dewi Sinta karena Dewi Sinta penjelmaan Dewi Sri istri Dewa Wisnu.

5) Rama me – ruwat – kan Resi Jamadagni / Ramabergawa / Batara Rama Parasu yang terkena kutukan sehingga bisa kembali ke Indra Buana.

6) Resi Bagawan Yogi menyerahkan pakuwon bumi ‘ pengurusan bumi ’ kepada Rama sebagai titisan Wisnu

7) Rama me – ruwat – kan raksasa berlengan panjang dan Sowari penghuni Suralaya yang mendapat kutukan sehingga dapat kembali ke Kahiyangan.

8) Ketika Sugriwa sedang bersemedi ada suara yang raganya tak kelihatan mengatakan bahwa, Sugriwa akan mendapat pertolongan dari Sri Rama titisan Dewa Wisnu putra Dasarata yang berada di Gunung Raksamuka.

9) Rama berkali – kali mengeluarkan kesaktian Wisnu ketika merasa kecewa.

10) Ketika Pasukan Pancawati dilemahkan oleh senjata Indrajit, Rama dikunjungi oleh para Dewa.

Para Dewa mengatakan jangan ada kekhawatiran karena Rama titisan Wisnu.

11) Ketika Dewi Sinta membakar diri untuk membuktikan kesucian dirinya, ia dijemput oleh Batara Brahma, Batara Brahma mengatakan bahwa Rama titisan Wisnu Mustikaningrat, dan Dewi Sinta titisan Dewi Sri istri Wisnu.

Dilihat dari sejumlah peristiwa mitis tersebut, WBR menyandang sifat mite yang pekat.

Hal ini disebabkan karena penggubahan WBR baik struktur formal maupun struktur naratifnya diusahakan oleh pengarangnya sedekat mungkin dengan sumbernya.

Namun begitu karena karya sastra ini digubah pada zaman Islam, terselip unsur – unsur pemikiran ke – Islam – an.

Pengkajian intertekstualitas dalam penelitian ini dibedakan dalam dua tahap yakni pertama penelusuran teks – teks hipogram yang diperkirakan secara langsung atau tidak langsung turut dalam rekonstruksi WBR, kedua penelusuran hipogram utama yakni SR berbahasa Jawa.

Naskah SR berbahasa Jawa yang memiliki kemiripan dengan WBR antara lain SR yang disalin oleh Soetomo WF, Mpd., dkk 1993, diterbitkan oleh Yayasan Studi Bahasa Jawa “ Kanthil.

” Urutan pupuh WBR dengan SR ini sama sampai nomor 86. Bacaan bagian awal runtuyan pupuh dari I – LXXXVI hampir merupakan terjemahan. ( Lihat lampiran )

Kajian intertekstualitas tidak berdasarkan ceritera namun dari segi bagaimana pengarang merekonstruksi SR ke dalam WBR yang dilatarbelakangi oleh Agama Hindu Budha, kemudian mengisikan celah – celah yang terbuka dengan pemikiran pemikiran tasawuf.

Kajian intertekstualitas menelusuri hipogram dari teks naskah teosofi tasawuf Sunda yang diperkirakan mempengaruhi pengarang baik langsung atau tidak langsung dalam rekonstruksi WBR.

Teks naskah teosofi tasawuf yang digunakan adalah :

Wawacan Pulan Palinb.

Wawacan Jaka Ula Jaka Ulic.

Karya Teosofi Tasawuf Haji Hasan Mustapa.

Wawacan Buwana Wisesa.

Wawacan Ganda Sari

Teks dari naskah – naskah tersebut tidak disusun berdasarkan titi mangsa penulisan sehubungan dalam khazanah pernaskahan ada tradisi transmisi, yang penelusurannya sangat sulit dilakukan.

Berdasarkan alasan tersebut pengurutan ini tidak berdasarkan kronologis namun secara acak.

Penelusuran hipogram ini hanya meliputi ketegangan keagamaan Hindu Budha dan ke – Islam – an, jadi penelusuran hipogram melalui konsep pemikiran bukan bersifat kebahasaan.

Karena yang akan ditelusuri berupa konsep, maka terlebih dahulu mengadakan pembahasan konsep yang akan diteliti berdasarkan konsep – konsep karya teosofi tasawuf yang ada pada naskah dan informasi yang diterima secara lisan. Informasi secara lisan hanya sebagai penjelasan dari teks tertulis.

Konsep teosofi tasawuf yang ditelusuri mengenai manunggaling kaula – Gusti dan kemenunggalan.

Sebenarnya  kedua pokok bahasan ini satu dengan lainnya saling berkaitan.

Namun kemenunggalan di dalam WBR diungkapkan secara khusus, maka kemenunggalan ini dibahas tersendiri.

Setelah ditetapkan dua buah konsep tersebut yang akan dicari hipogramnya, kemudian bagian – bagian dari teks yang mengandung konsep tersebut dimunculkan berdasarkan urutan peristiwa di dalam teks.

Konsep tersebut ditelusuri di dalam teks hipogram.

Setelah ditelusuri, lalu diungkapkan bagaimana penerapan hipogram tersebut di dalam WBR.

Berdasarkan hipogram yang hadir di dalam WBR diungkapkan “ makna penuh ” WBR, dilengkapi dengan fungsi semiotik dari  hipogram.

Teori Rifatterre mengenai pemaknaan karya sastra dijadikan pijakan dalam pemaknaan WBR.

Adapun mekanisme telaah yang dikemukakan oleh Rifatterre ( 1978 ) melalui tahapan berikut :

1) Membaca arti yang umum.

2) Mencermati unsur – unsur yang tidak gramatikal yang merintangi penafsiran mimetik dalam arti yang umum.

3) Mencari hipogram ( teks terdahulu atau sezaman ) dan menelusuri hubungan teks – teks hipogram dengan WBR.

4) Menurunkan “ matriks ” dari “ hipogram ”, yaitu, menemukan sebuah pernyataan tunggal atau sebuah kata dari teks.

III PENGKAJIAN INTERTEKSTUALITAS  WBR

 

3.1 Tanda – Tanda Keislaman dalam WBR 

 

Pengkajian intertekstualitas seperti sudah dikemukakan dalam Bab II hipogramnya tidak ditelusuri dari segi ceritera, sehubungan antara SR berbahasa Jawa dengan WBR, penyajian struktur formal dan ceritera hampir sama

( Lihat lampiran 8 ).

Apabila diadakan kajian intertekstualitas dari segi kisah, akan terjebak kepada kisah Sri Rama yang bersifat umum dalam arti kekhususan WBR karya RAA Martanagara tidak tertelusuri.

WBR ini sebuah pilihan kisah Rama seperti disebutkan sebelumnya hampir sama dengan sumbernya, namun demikian bagaimanapun, proses membaca dipengaruhi oleh pribadi pengarang, semangat zaman, dan ikatan budaya.

Pengarang WBR mengkonkretisasi kisah Rama, dipengaruhi oleh pemikiranpemikiran ke – Islam – an tasawuf.

Pemikiran ini sangat halus, tersisip pada hamparan kisah Rama yang berlatar – belakangkan Hindu Budha.

Unsur – unsur serapan tersebut sangat sulit ditelusuri karena halusnya penyisipan.

Namun untuk keyakinan ini, ada kata – kata kunci pada bagian awal dan bagian akhir.

Kata kunci di bagian awal adalah penggunaan lambang Islam yang sangat significant yakni adanya kata masjid dalam lukisan keindahan Istana Ayodya pada ke 30 ( Lihat di dalam bagan Intertekstualitas WBR )

Adanya kata masjid ini, tidak diketahui dengan pasti apakah unsur kesengajaan atau muncul tanpa kesadaran pengarang, tampaknya dugaan yang kedua yang lebih mendekati kebenaran karena tak ada lagi lambang Islam yang lainnya, baru pada bagian akhir ada penjelasan.

Pengarang menyatakan secara eksplisit bahwa konsep – konsep tersebut tidak diambil dari sumbernya, seperti terdapat pada bacaan pada 2881, seperti berikut :

Sang Sri Rama muruk Ilmu Dakik.

patékadan jalma jaman Buda

ti hirup tepi ka maot kasebut ilmu lembut

marawicu bangsa nu suci

nyembah ka Pangéranna Yang Batara Guru

sarupa Agama Islam nyembahna téh ka Gusti Robbul Alamin

(2874)

Tatapina teu disalin

tina tembang anu basa Jawa

lain tina sabab hésé

ngan katimbang teu perlu

mungguh jalma jaman kiwari

nu geus ganti agama

Sang Sri Rama mengajarkan Ilmu Dakik.

Keyakinan orang pada zaman Budha sejak lahir sampai wafatdisebut ilmu Gaib biksu sebangsa orang suci menyembah Tuhannya Yang Batara Guru seperti Agama Islam menyembah Gusti Robbul Alamin Namun ( keyakinan itu ) tidak disalin,

( seperti dalam sumbernya ) tembang bahasa Jawa.

Bukan karena sulit hanya tak perlu untuk orang – orang zaman sekarang yang telah berganti agama menyembah kepada Yang Agung Gusti Allah Maha Mulia dan khawatir diterima oleh orang awam akan salah penerimaan Berbagai macam wejangan dengan keteladanan,yang berguna untuk orang -orang kini,

nyembah ka Yang Agung

Gusti Allah Anu Mulya

jeung kawatir dipikir ku nu teu harti

mangkéna salah tampa ( 2875 )

Rupa – rupa piwulang jeung misil

nu berguna pikeun nu ayeuna

baris nu sepuh nu anom tapi mun kula nutur

disundakeun Ilmu Hakéki

hakékah jaman Buda

anu samar samur

siyeun mangké salah tampa

tangtu jadi nungtun cu ( w ) a kana ati

sabab sulaya paham ( 2881 )

bagi orang tua atau muda namun aku bertutur tentang ilmu itu diganti dengan Ilmu Hakikat ( karena ) hakikat zaman Budha ( aku ) tak tahu dengan jelas ( sehingga ) takut menimbulkan salah penerimaan tentu akan menuntun kepada kenistaan hati, sebab mengelirukan keyakinan

Dengan pernyataan tersebut muncul keyakinan bahwa WBR diselipi dengan konsep – konsep teosofi tasawuf.

Oleh karena itu kajian intertekstualitas terhadap WBR hanya meliputi konsep / pemikiran tersebut.

Kajian intertekstualitas mengenai konsep ini tentu ditinjau dari kebulatan isi pemikiran secara utuh, dalam arti bukan bacaan / kesamaan bahasa.

633.2  Kehidupan Keagamaan Seputar Kepengarangan

Bagaimana pun pemikiran keislaman seperti disebut sebelumnya tidak hadir dengan sendirinya namun sesuatu yang tumbuh di seputar pengarang.

Adapun perhatian dan lingkungan RAA Martanagara sebagai pengarang WBR sebagai berikut : “ Pada waktu RAA Martanagara menjadi Bupati Bandung, terdapat dua golongan elite agama Islam pertama, elite agama yang tergabung ke dalam birokrasi kolonial dalam jajaran pribumi, kedua elite agama Islam yang tidak termasuk dalam birokrasi yang biasanya mempunyai kewibawaan sosial yang sangat tinggi di kalangan rakyat.

Banyak pejabat pribumi yang bersifat acuh tak acuh terhadap agama Islam, mereka menjauhkan diri terhadap elite agama Islam di lingkungan mereka sendiri, tetapi RAA Martanagara tidak termasuk kelompok pejabat pribumi seperti itu. Hal ini erat kaitannya dengan sikap hidupnya yang agamis.

Hubungan dengan elite agama Islam yang non – birokrasi dipeliharanya dengan sangat baik, begitu pula dengan elite agama Islam yang ada dalam birokrasi yang dipimpinnya.

Adapun yang menjadi hoofd penghulu Bandung semasa ia menjadi bupati adalah Raden Haji Hasan Mustapa.

Raden Haji Hasan Mustapa seorang sufi besar yang sangat banyak karyanya, tentang teosofi tasawuf.

Hubungan antara RAA Martanagara dengan Haji Hasan Mustapa terbina baik ” ( Lubis, 2001: 74-77 ).

Di daerah Bandung dan sekitarnya banyak ditemukan karya – karya yang berisi tentang tasawuf, tidak seperti di daerah lain umpamanya Majalengka.

Salah satu aliran tasawuf adalah “ tarekat naksabandiyah, pada tahun 1886 hampir seluruh bangsawan di Priangan mengikuti tarekat tersebut ” ( Bruinessen, 1992: 23 ).

Dengan demikian tidak aneh apabila pemikiran – pemikiran tasawuf yang berkembang seputar tahun 1890 – an, mempengaruhi rekonstruksi kisah Rama di dalam WBR.

Konsep tasawuf yang diselipkan di dalam WBR memperjelas arah yang diungkapkan oleh tema tentang ajal mulia.

Istilah yang digunakan di dalam teks paling banyak yakni pati mulya, istilah lainnya pati patitis ‘ ajal tenang ? ’, pati luhung  ‘ ajal mulia ’, pati sinelir ‘ ajal terpilih ’, dilawankan dengan pati buta murka, pati dursila.

Pengertian pati mulya ini berasal dari hipogram utama SR berbahasa Jawa, salah satunya terdapat di dalam pupuh VII Maskumambang nomor : 20 sebagai berikut :

” Ing tegese Yayi ing urip puniku Yen ora amrih asalamet sajroning pati yeku seta nunggang gajah “.

Jelasnya Adinda, hidup itu Apabila tidak berharap Selamat dalam ajal, Sia -sia ( ? ) Ajal mulia ( salamet sajroning pati ), di dalam SR sebagai hipogram utama sumber penggubahan WBR, tidak diintikan menjadi tema seperti di dalam WBR.

Konsep tasawuf yang tergambar di dalam WBR inilah yang akan dicari hipogramnya.

Penerjemahan hipogram dengan memindahkan makna yang mudah dipahami atau bagi karya yang menggunakan simbol kebahasaan seperti karya Haji Hasan Mustapa sekalian ditafsirkan maknanya.

Adapun konsep – konsep tasawuf ini pengertiannya agak pelik, maka sebelumnya berdasarkan naskah naskah tasawuf, akan dibahas konsep yang terkandung dalam WBR secara panjang lebar guna memberikan pengertian yang jelas.

Konsep tasawuf di dalam WBR meliputi : Manunggaling kaula – Gusti, dan Kemenunggalan.

Adapun Naskah Hipogram ( kemudian akan disingkat Hp ), yakni Wawacan Pulan Palin ( disingkat WPP ), Wawacan Jaka Ula Jaka Uli ( WJU ), Wawacan Buwana Wisésa ( WBB ), Karya Haji Hasan Mustapa ( HHM ) dan Wawacan Ganda Sari (WGS).

WPP, WJU, WBB, dan WGS adalah wawacan yang menyajikan teosofi tasawuf dengan cara dialog antara adik dan kakak, HHM berisi teosofi tasawuf dengan menggunakan pelambangan.

Agar memudahkan pengamatan antara Hp – HHM  dan penerapannya di dalam WBR, Hp – HHM tidak diterjemahkan namun langsung dimaknai.

WPP, WJU, WBB, dan WGS tanda – tanda edisi ditanggalkan supaya memudahkan pembacaannya, yang dipertahankan hanya penomoran pada supaya mudah memeriksanya kembali.

Data Manunggaling Kaula – Gusti WBR sengaja dicuplik dari berbagai episode supaya memberikan pengertian yang jelas. Nomor pada dicantumkan di bagian akhir.

Setiap data diimbuhkan nomor dengan angka Romawi untuk memudahkan penunjukkan data.

Begitu pula data Hp akan diberi penomoran angka Latin.

Pemikiran teosofi tasawuf yang terkandung di dalam WBR dan Hp – nya akan dilampirkan di dalam tabel.

Di dalam tabel ini akan dilengkapi keterangan ada atau tidaknya pemikiran – pemikiran ini di dalam hipogram utama SR

3.3  Kajian Intertekstualitas WBR

3.3.1 Manunggaling kaula – Gusti  dalam Teks WBR dan Teks – Teks Hipogram

3.3.1.1 Manunggaling kaula – Gusti dalam Teks WBR

Pada ini memperkenalkan nama Dasarata, Raja Ayodya yang berbudi luhur.

I   

Kasampurnanning pati patitis, - Dalam menuju kesempurnaan ajal,

tatas awas tékad Anu Nyata, - penglihatannya selalu tertuju kepada Yang Maha Ada,

pernah Kamulyan Yang Manon, - di tempat ( Badan Rohani ) Kemuliaan Yang Maha Melihat,

ngadalitkeun cipta jeung ati, - menyatukan pikiran dan hati,

nunggalkeun salirana, - menunggalkan diri.

jeung Sanghiyang Guru, - dengan Sanghiyang Guru,

desek rapet rasa Tunggal, –  me – nunggalkan rasa,

dalit rapih tunggalna kawula – Gusti, –  menyatu dan tunggal antara abdi- dan Tuhan.

dumawa ka Kamulyan.-  membagi, mengalirkan ( rasa menuju ) ke Kemuliaan,

II

Henteu pegat mumuja semédi, –  Tak putus-putusnya ( ia ) memuja dan bertafakur

ngaasorkeun tingkah salirana, – merendahkan diri ( di hadapan Tuhan )

nanggalkeun ciptana baé, – mengatur cipta batinnya

tansah meleng jro kalbu, – terus – menerus hatinya menghada

pmamrih nyata Dewa nu Asih, –  kepada yang Maha Ada, Dewa Pengasih.

taya rasa rumasa – ( Beliau ) tak mengakui dirinya

sampurna panemu - ( memiliki) pengetahuan kesempurnaan ( insan kamil ).

Dasarata mengadakan selamatan untuk memperoleh putra yang mulia, tampan, dan dititisi Batara Wisnu.

Dalam penyelenggaraan selamatan ini, resi mengajak raja beserta permaisuri untuk mengikuti selamatan secara khidmat seperti berikut :

III

pihaturna wiku : –  kata wiku :

Mangga urang limaan sami -   Marilah kita bersama-sama

manteng nyembah mumuja -   khusu menyembah

sing suhud tapakur -   bertafakur.

nyatakeun di jero cipta -   Nyatakan di dalam batin

badan urang leungitkeun - raga kita dihilangkanngan

sing tanpa jinis - raga kita dihilangkanngan

Déwa anu nyata -   hanya Dewa yang Ada

IV

Junggerengna Sangyang Utipati – Sangyang Utipati Yang Maha Ada

henteu pisah jeung rasa rumasa -  tak berpisah dengan rasa.

Bacaan ini senada dengan ungkapan Dewa Rama ketika di hutan dalam melindungi para pertapa untuk melaksanakan titah ayahnya Prabu Dasarata.

Sri 67 Rama bercampur gaul dengan kehidupan para pandita yang membuatnya lupa terhadap kehidupan negara. Ungkapan Dewa Rama tersebut seperti berikut :

Tapi geuning ari mungguh para resi -   Namun terhadap para resi

setan téh bet taak setan - setan itu

jeramun tembong mah tayoh ngacir -   apabila menampakkan diri langsung lari

sabab dibawa perkosa -   sebab dilayani dengan keperkasaan ( jiwa )

Badan badag dicipta pan aleungit -  Badan kasar dicipta hilang

ngan Alus Nu Aya  - hanya Yang Gaib, Yang Maha Ada

ciptana geus jadi hiji -  batinnya menyatukan diri

tunggal jeung Hing Jagatnata -  menunggal dengan Penguasa Jagat ( Jagatnata )

Lamun jalma enggeus kitu nya pamilih -  Apabila manusia sudah memilih jalan itu

geus moal karasa -  tak akan ada lagi

aral ria peurih nyeri  keluh – kesah tekebur sakit hati

ngan wungkul nimat nu aya -   hanya kenikmatan yang terasa

Deskripsi berikut, ketika Sri Rama menempuh puncak gunung Raksamuka yang sangat sulit, namun atas pertolongan Dewagung, ingat ingat ia sudah sampai di puncak.

Setelah tiba di puncak lalu ia bersemedi….

VI

Ti dinya tuluy mumuja -  Kemudian dia bersemedi

ngening cipta nganyatakeun Sang Déwasih -  mengheningkan cipta, hanya Dewa Pengasih Yang Ada

nyirnakeun salirana - menghilangkan kesadaran akan ragawi

Rama nyipta mati jroning hurip - Rama menghadirkan rasa kematian dalam hidup

geus teu nyipta daya jeung upaya -  tak memiliki daya upaya

tumurah cara nu maot -  berserah seperti raga mati

salirana menekung -  duduk menunduk

Dewi Sinta memohon supaya Dasamuka dilenyapkan karena telah menyengsarakan orang sedunia, penggambarannya di dalam WBR sebagai berikut :

VII

Campleng cengeng tékadna putri Mantili - Bulat, kuat tekad Putri Mantili

ngayuh sihing Déwa - mendatangkan kasih dari Dewa

badanna dicipta leungit -  badan lahir dicipta lenyap

ngan cipta Déwa Nu Nyata -  yang hadir Dewa Yang Maha Ada.

Ungkapan – ungkapan yang dicuplik dari WBR pada bacaan di atas, mengandung arti pokok yang sejajar dengan istilah yang terkenal manunggaling kaula – Gusti.

Sebelum mengkaji Hp dari WBR tentang manunggaling kaula – Gusti yang terdapat di dalam naskah – naskah lebih dulu atau sezaman, dirasakan perlu membahas konsep ini relatif  “ utuh ” supaya tergambarkan pengertian dari istilah ini, sehubungan dalam teks – teks naskah teosofi tasawuf, konsep ini dibahas secara panjang lebar, jadi dengan mencuplik satu atau dua bait pupuh, tidak mungkin menggambarkan pengertian yang jelas.

Konsep ini berasal dari konsep ke – Islaman – an yang biasa dibahas dalam naskah – naskah teosofi tasawuf.

Artinya kurang lebih menghadirkan Allah di dalam “ rasa batiniah ” diri manusia. “ Kehadiran Allah ” di dalam batiniah manusia tidak serta – merta “ bersinar ” ( “ bersinar ” hanya istilah, karena ada hubungannya dengan Nurullah ), namun harus  diupayakan oleh pribadinya masing – masing, apabila tidak diusahakan oleh pribadi masing – masing, Nurullah yang Kudrati itu “ suram ”.

Di dalam peribadatan tarikat, salik ( pencari jalan ) mencari upaya untuk selalu menghadirkan Allah di dalam “ rasa ” nya. Untuk bisa menghadirkan Allah di dalam “ rasa ” salik tersebut, melalui baiat oleh seorang Guru Mursid ( Lihat, di dalam WJU, lihat pula pada Kajian Teori ).

Menghadirkan – Allah – selalu di dalam “ rasa ” manusia, bisa dipersamakan seperti tuturan Ajengan Gaos seorang guru Tarikat Kadariyah Naksabandiyah dari Suralaya bahwa harus bisa berkhalwat di tempat ramai, artinya harus selalu menghadirkan Allah di tempat ramai, terlebih lagi dalam kesendirian.

Kehadiran Allah “ Yang Maha Ada ” /  “ Yang Maha Gaib ”  / “ Dzat Laisa Kamistlihi ” /  ‘yang tidak bisa diumpamakan oleh apa pun ’, apabila selalu ada dalam “ rasa ”  kemudian, sinar Dzat Yang Maha Ada akan mengalir pada hembusan nafas, detak jantung, dan pada seluruh butir – butir darah, keadaan ini dinamakan bermakrifat.

Bermakrifat adalah berupaya menghilangkan  hijab ‘ alangan ’  perkara duniawi dalam batiniah, yang dihadirkan hanyalah Allah, Yang Maha Ada / Yang Gaib. Ciri naskah – naskah teosofi tasawuf selalu disebut – sebut istilah syariat, hakikat, tarikat, dan makrifat ( Lihat Kajian Teori ).

Apabila salik sudah mampu menghilangkan alam kasar / alam fana dalam batiniahnya, dan selalu mengisinya dengan kehadiran Allah – Pemilik dari jagat raya ini, maka tak ada kekhawatiran apa pun karena segalanya berserah kepadaNya. Pegangan kehidupan bermakrifat dari Guru Tarikat Kadiriyah Naksabandiyah Almarhum Abubakar Fakih adalah ” lamun poho gancang éling, susah senang rata baé, susah lain nu urang senang lain nu urang ”  kira – kira dalam pemaknaan bebas : “ apabila lupa segera Allah hadirkan kembali di dalam batiniah, jalani kehidupan yang sulit dengan kebahagiaan secara datar, karena kehidupan ini bukan milik manusia ”.

Pengertian ini tergambar di dalam WBR.

Menghilangkan badan kasar dan hanya mengadakan Yang Maha Ada di dalam diri, berarti “ kematian ” dari sifat fana “ sedang berlangsung proses kematian ”  “ sudah berpisah antara nyawa dan badan ”.

Dalam proses ini batin manusia menghadap Yang Maha Ada.

Di dalam teks naskah teosofi tasawuf disebut “ belajar mati sebelum wafat ”.

Di dalam Wawacan Pulan Palin disebutkan bahwa “ manusia tidak mati ” namun “ hayun baqin ”  “ hidup kekal ”, yang hancur adalah badan kasar / hawadis / yang bersifat baruan / fana.

Di dalam WBR disebutkan bahwa sesudah menjalani mati raga kasar, kemudian menjalani Alam Keabadian, di Alam Keabadian ada yang “ bahagia di surga ” dan ada yang “ celaka di neraka ”, tergantung kepada perilakunya atau amal perbuatannya.

Manunggaling kaula – Gusti  di dalam WBR, menghilangkan raga kasar di dalam batiniah, yang hadir hanya Yang Gaib / Yang Maha Ada.

Apabila hati sudah menyatu dengan Yang Jagat Nata ( Penguasa Jagat / Semesta ), perasaan susah, tekebur, sakit, dan nyeri akan hilang, yang tertinggal hanya rasa nikmat. Gambaran ini, memperlihatkan telah terjadi  myth concern atas karya terdahulu dalam segi konsep, namun terjadi penyesuaian nama terhadap Penguasa Alam yaitu dengan menempatkan nama – nama Penguasa Alam pra – Islam, Sangyang Guru, Dewa, dan Sangyang Utipati sesuai latar belakang kisah Sri Rama.

Uraian secara rinci bagaimana dari Hp dan penerapannya dalam setiap pernyataan di dalam WBR seperti berikut.

3.3.1.2  Manunggaling kaula-Gusti dalam Teks-Teks Hp II.1. Manunggaling kaula- Gusti dalam WPP

 

 

1.Paéh nu teu usik malik mah – Mati yang tidak bergerak

nyaéta paéh bag-bagan jasmani – yaitu mati urusan jasmani

da teu nyaturkeun paéh kitu – ( kini ) tidak sedang mempersoalkan masalah itu

paéhna nu sajatina – ( yang menjadi persoalan ) mati Kesejatian

éta mah gaib teu katénjo ku batur – yang tidak terlihat orang lain

ngan urang sorangan nu ngarasa – hanya kita yang merasa

paéh bisa usik malik ( 68 ) – mati, namun kita masih bisa bergerak

2 Geuning dina Kuran dalilna – Di dalam al Quran

antal maoti

antal maoti koblal maotu

qoblal maotu

kudu diajar maot méméh wapat –   harus belajar mati sebelum wafat

kudu diajar wapat saméméhna pupus - harus belajar wafat sebelum meninggal

tah kitu sundana  - nah begitulah artinya

kudu nyaho paéh saméméhna - mati ( 69 ) harus mengetahui mati sebelum mati

3 Naha Allah téh Akang di mana ayana - Di manakah ada-Nya Allah

Kandanaha marukana Allah téh di luhur langit – Apakah Allah itu di atas langit

kapan kaula-Gusti tunggal ( 74 ) – ( apabila begitu ) mendua dengan kita

Sabab mungguhing Pangéran – Sesungguhnya Tuhan,

teu aya antarana saeutik –  tak ada antaranya sedikit pun ( dengan kita )

jeung manusa teh deukeut pisan – dengan manusia, sangat dekat tapi

teu antel jeung diri – tetapi tak bersentuhan

lamun anu tacan ngarti –  apabila belum mengerti,

enggeus tangtu éta –  jauh disangka (  keberadaan Allah )

jauh tah eta téh mangga manahan – nah, silahkan pikirkan

rasakeun di jero galih – rasakan di batin

mun geus kapiraos téh éta Wujud Allah ( 195 ) – apabila dirasakan Ada-Nya, itulah Wujud Allah734

Da néangan anu néangan – Sebab (Allah), mencari hati orang yang mencari-Nya

naha saha anu kapanggih  - nah, siapakah yang ditemukan,

papanggih ge hamo patepang – ( namun ) apabila bertemu pun ( ada ) yang tidak Mengenal-Nya

kaula sarawuh Yang Widi. – abdi kepada Tuhannya.

Lamun terang hayang panggih – Apabila benar – benar ingin menemukan-Nya

rasakeun saha nu lungguh – rasakan siapa yang Ada

tah ieu Saha Nu Lenggah – siapakah Penghuni batiniah

bet teu aya lian Anu Linggih – tiada lain Yang Maha Ada.

hamo papanggih nya ieu sabab – ( Apabila dicari pun di luar diri ) tidak akan bertemu sebab Dia,

Nu Lenggah (196 ) – berada di dalam batiniah.

II. 1. Manunggaling kaula – Gusti dalam WJU 5

 

Dikir téh Rai, masing sidik - Adinda, apabila berdzikir pahamilah74

kana diri Rai pribadina - diri pribadi

ulah nyipta nu teu nyaho - jangan mencipta-cipta (Allah), itu hal yang tak kaupahami

rasa Akang mah henteu sah - pada hematku itu menyimpang

mun kitu petana mah - apabila begitu pemahaman

nyaanu teu nyaho kedah dicipta kitu - harus mencipta-cipta hal yang tak tahu

da puguh gé henteu terang (34) - jelas tidak  bisa sebab tidak tahu6

Sanes kitu éta téh Rai - Bukan begitu caranya Dinda

hal nganyahokeun Dzat Allah mah - memahami Dzat Allah

éta lain sapertos baréto - bukan seperti dahulu (yang kita lakukan)

kawas nganyahokeun sipat anyar - ( apabila begitu ) itu perilaku mengetahui benda sifat baruan

cék Arab mah hawadis téa - dalam bahasa Arab hawadis

hawadis téh nu ngajentul - hawadis adalah benda bersifat indrawi

wujud éta nyatana ( 36 ) - yang ‘ada’, kelihatan7

Eta téh kudu kaharti - Hal itu harus dipahami,

atawa sing karasa nyata - atau rasakanlah  keberadaan-Nya,Maha Ada.

sabab Allah Taala téh - Allah Taala

cék dalilna Dzat Laisa téa - menurut dalil, Dzat Laisa

kamistlihi lajengna mah - Kamistlihi lanjutannya

Dzat Yang Agung téh teu ngawujud - Dzat Yang Maha Agung tidak berwujud “indrawi”

henteu aya keur ngupama ( 37 ) - tak bisa diumpamakan oleh apa pun 8

kedah kanyahokeun heula Dzatna Allah -  terlebih dahulu, ketahuilah Dzat Allah

naha saha nu kedah tingali -  siapa yang harus mengetahui

lamun urang teu kudu nyaho ka Allah ( 48 ) - apabila manusia tidak mengetahui ada-Nya  Allah

Kapan parantos kapegat - Bukankah sudah

kapiheulaan ku dalil - didahului oleh dalil

Laa hawla wala kuwwata téa - Laa hawla wala kuwwata tea

ila bilahi aliyul adziim -  ila bilahi aliyul Adziim

cenah geuning Sundana dalil - adapun artinya

henteu daya henteu upaya kitu - ( manusia ) tak memiliki daya upaya

nyasat lahawla kawas rokrak - seolah – olah sebilah bambu kecil

lebah dinya tacan kaharti - nah, itulah yang tak kupahami

bet aya rokrak kudu kawasa ningal ( 49 ) - mengapa sebilah bambu harus mampu melihat 759

Saupami kitu mah Allah dua - Apabila begitu Allah dua.

hirup rokrak hirup Gusti - Adanya bilahan bambu, karena daya hidup dari Tuhan,

rakana enggal ngajawab - kakaknya segera menjawab

Rai ulah salah harti - Dinda, janganlah salah paham

urang sotéh ceuk nu hurip - kita, dikatakan oleh Daya Hidup

hurip nyaéta nu disebut hirup –   Hidup itulah yang hidup ( di hatinya )

hirup téh nyatana cahaya - Yang Hidup ( di hati ) yaitu Cahaya ( Nurullah )

cahaya padang Muhammad Hakéki - cahaya benderang Muhammad Hakeki

hirup téh nya Rasa Rasulullah ( 50 ) – hidup adalah Rasa Rasulullah

( “ Hidup ” dalam pembicaraan  ini adalah Daya Hidup Badan Rohani / Nurullah / Muhammad Hakeki / Rasa Rasulullah yang bisa melihat Ada – Nya Allah. Apabila manusia mempotensikan anugrah dari Allah itu, batinnya “ bersinar ” ).

10 Lain sipat nu anyar –  Bukan sipat baruan

atawa sipat hawadis - atau sifat hawadis

anu tiasa awas ningal  - yang mampu melihat/mengetahui ( dalam diri  manusia )

kana sipat hirup téh lain - Yang Maha Hidup.

saleresna mah Anu Gaib - sesungguhnya Yang Gaib ( pada diri manusia ) – lah

ningali ka Sipat Hirup - yang melihat, mengetahui, kepada Yang Maha Hidup

nyaéta Ahadiyat téa - yaitu Ahadiyat,

anu Dzat Laisa Kamistlihi - yang Dzat – Nya, Dzat Laisa Kamistlihi

nu disebut teu aya upamana ( 71 ) –  yang tidak bisa diumpamakan.

II. 3. Manunggaling kaula- Gusti dalam WB W76Dalam pembahasan ajal11

 

Tah kitu éta mah Engkang - Begitulah Kanda

nu matak kudu kapanggih - oleh sebab itu harus bertemu / mengenal / mengetahui

eujeung nu bogana Sukma - dengan Pemilik Sukma

di kuburan bisi heurin - ( supaya kelak di kuburan ) tak sempit

candak Jagat Gedé deui  -  masukanlah Jagat Luas ( Pemilik Jagat Raya )

nagara gé meureun asup –  negara pun masuk

diteundeun di jero ati  -  letakkan di dalam hati

tah téangan dina badan Jagat Lega ( 121 ) –  nah carilah di badan Jagat Luas tersebut 12

sing nyaho Allah, Pangéran - ketahuilah Allah, Tuhan

pisah tunggalna sing puguh - berpisah atau menunggal – Nya ketahui dengan jelas

éta hiji jadi dua - Satu menjadi dua ( dalam diri manusia diemanasi Nurullah )

sing kamanah éta dina badan Rai - pikirkanlah sampai jelas Yang Maha Ada ) pada raga Adinda.

II. 4. Manunggaling kaula- Gusti dalam karya HHM13.

Kuring ngawula ka kurung - Aku ( Nurullah dalam diri manusia ) selalu mengabdi pada raga

kurunganana Sim Kuring - yang menjadi kurungan Aku ( Nurullah dalam diri manusia )

Kuring darma dipiwarang - Aku sekedar diperintahkan

dipiwarang ku KURING - oleh AKU ( Allah )

kuringna rumingkang kurang – aku yang bergerak ke sana ke mari bersipat kurang

kurangna puguh gé kuring - kurang karena sifat aku ( yang sedang mengembara di dunia.

14 Kuring ngawula ka kurung -  Aku mengabdi pada kurungan,

kurungan pangeusi kuring –  kurungan yang diisi oleh

Kukuring sagalana kurang –  aku ( yang sedang mengembara di dunia ini ) segalanya bersifat kekurangan

kurang da puguh gé kuring –  kurang karena memang sifat aku ( sedang mengembara di dunia )

77 Kuring sagala teu kurang –  namun, Aku ( Nurullah ) tak kekurangan apa pun

sakur nu aya di Kuring –  segala ada padaKu ( manusia diemanasi oleh sifat Tuhan untuk menjadi  Khalifah di bumi )

15 Kuring ngalantung di kurung –  Aku berdiam di kurungan

kurung Kuring eusi Kuring –  kurungKu yang berisi Aku

kuring kurang batur kurang -  aku ( yang sedang mengembara di dunia ) bersifat kekurangan begitu pun manusia lainnya

rasaning pa – Kuring – Kuring  -  namun di dalam rasa masing – masing, sama – sama ada Aku ( Nurullah ).

Teu kurang pada Teu Kurang –  yang tidak memiliki sifat Kurang

batur-batur cara kuring –  semua manusia ( yang dalam pengembaraan ) seperti aku

II. 5. Manunggaling kaula – Gusti dalam W G S 16

 

Ki sari tuluy popoyan - Ki Sari kemudian memberitahukan

mun ku Kakang teu kapendak, - apabila Kakanda belum tahu

éta téh nyataning élmu -  itu ilmu tentang Ada

ayana dina salira ( 021 – ( 05 ) –  ( Yang Maha Ada ) ada dalam badan

Ki Ganda ngalahir deui -  Ki Ganda berkata lagi

Adi sumangga popoyan, - Dinda beritahukan

sabab Kakang mah teu hartos, –  sebab Kakanda belum mengerti

Ki Sari tuluy popoyan, –  Ki Sari kemudian berkata,

mun ku Kakang teu kapendak, –  Apabila Kanda tak menemukan – Nya,

éta téh nyataning élmu –  itu Yang Maha Ada

ayana dina salira ( 022. ( 06 ) –  berada di dalam badan 17

Lain papan lain tulis, –  ( AKU ) tidak tertera di papan, bukan pula pada tulisan

lain Quran lain kitab –  tak ada pada al-Quran atau Kitab

téangan tulisan Déwék  -  carilah tulisan – Ku

montong néangan nu anggang –  janganlah mencari yang jauh – jauh

ngarampaan nu teu aya –  mencari – cari yang tak ada

montong nakol anu jauh –   jangan mencari warta yang jauh

montong lampar nu diseja ( 022 – ( 06 ) –   jangan mengembara, bila bertujuan mencari – Ku 18

Taneuh diruang ku bumi  -  Tanah ditutup oleh bumi

cai ditanggung ku hujan  -  air diangkat oleh hujan 78

sangu pananggungna congcot, –   nasi menyangga congcot “ semacam tumpeng ”

éta siloka kaula, –  itu selokaku

poma ku Kakang téangan –  Baiklah, carilah ( isinya )

Kandajeung aya seuneu kaduruk –  ada api terbakar

sarangéngé kapoyanan 023 – ( 07 ) –  sang surya terkena sinar matahari pagi 19

Kapal tilelep ka langit  -  Kapal tenggelam ke langit

bangkong ngaheumheum liangna –  katak mengulum lubangnya,

pilih jalma anu nyaho –  hanya orang terpilih mengetahuinya.

teu jauh jeung éta -  ( Keberadaan – Nya ) tak jauh dengan seloka itu

aran séjén baé pernahna  -  hanya berbeda ( makhluk dengan Khalik )

éta ieu reujeung Itu –  “ Itu “ dengan  ITU

enyana meureun sarua ( 024 – ( 08 ) –  pada hakikatnya bersama – sama

( Itu untuk menyatakan Nurullah pada batin manusia, dan ITU untuk tanda Tuhan ) 20

Allah jeung Pangéran deui  -   Tentang Allah

pangandikaning Yang Sukma –   menurut sabda Yang Maha Gaib

poma-poma kudu nyaho –  hendaknya kau ketahui

kana salira Muhamad –  pada ke- Muhamad-an

éta téh nyatana Allah  -  itulah ke – Nyata – an Allah

sabab éta hanteu jauh –  ( keduanya ) tak berjauhan

kaula-Gusti teu béda 026 – ( 10 )  -  abdi – dengan Tuhan bersamaan

3.3.1.3 Penerapan Teks Hp  Manunggaling kaula – Gusti terhadap WBR Teks WBR Data WBR I

Intinya menunggalkan dengan Sanghiyang Guru, tunggal kaula Gusti yang akan membawa kepada Kemuliaan.

Hp adalah semua yang dicantumkan pada data hipogram tentang manunggaling kaula – Gusti.

Konsepnya sama namun dengan bahasa yang berbeda.

Penerapan Hp ke teks WBR melalui adaptasi ( adaptation ) dari Asma Allah eksplisit atau implisit dengan penyebutan Penguasa Alam Hindu Budha.

Pada 79WBR  manunggaling kaula  – Gusti sudah merupakan berlangsungnya proses peribadatan, pada Hp baru merupakan pembelajaran.

Data WBR II  Menanggalkan cipta ( keduniawian ), menghadirkan Dewa Penyayang, tak merasa memiliki daya HP 8 :

kedah kanyahokeun heula Dzatna –  terlebih dahulu, ketahuilah Dzat Allah

naha saha nu kedah tingali –  siapa yang harus mengetahui

lamun urang teu kudu nyaho ka Allah ( 48 ) –  bila kita tidak harus tahu Allah

Kapan parantos kapegat  -  Bukankah sudah terputuskan

kapiheulaan ku dalil  -  didahului oleh dalil

Laa hawla wala kuwwata téa –  Laa hawla wala kuwwata tea

ila bilahi aliyul adziim  -  ila bilahi aliyul Adziim

cenah geuning Sundana dalil  -  adapun artinya

henteu daya henteu upaya kitu –  ( manusia ) tak memiliki daya upaya

nyasat lahawla kawas rokrak  -  seolah – olah sebilah potongan bambu kecil

lebah dinya tacan kaharti –  nah, itulah masalah yang tak kupahami

bet aya rokrak kudu kawasa ningal ( 49 ) –  mengapa sebilah bambu harus mampu melihat

Hp 8 ini intinya mengetahui Allah ( menghadirkan / merasakan ada – Nya Allah ) dalam Badan Rohani.

Kehadiran Allah dalam Badan Rohani, pada hakikatnya manusia tak memiliki daya upaya apa pun, karena sarana untuk merasakan adaNya Allah sekali pun, atas anugrah – Nya.

Serta atas kehendak – Nya Allah bertajalli kepada manusia yang dipilih – Nya, yaitu manusia yang mencari – Nya

Penerapan Hp kepada WBR dengan pengadaptasian ( Adaptation ) Penguasa Alam, WBR Penguasa alamnya Dewa, adapun Hp walaupun tidak disebut secara eksplisit, yang dihadirkan Ada – Nya di dalam Badan Rohani adalah Allah.

Data WBR III Raga dihilangkan, yang dihadirkan dalam batin hanya Dewa 80 Hp Lihat keterangan Data I Data WBR IV Sangyang Utipati berada di dalam “ rasa ”. Hp 3

Naha Allah téh Akang di mana ayana –  Di manakah ada – Nya Allah Kanda

naha marukana Allah téh di luhur langit  -  Apakah Allah itu di atas langit

kapan kaula – Gusti tunggal ( 74 )  -  bukankah abdi dengan Tuhan menunggalkan ( diri )

Sabab mungguhing Pangéran  -  Sesungguhnya Tuhan,

teu aya antarana saeutik  -  tak ada antaranya sedikit pun ( dengan kita ),

jeung manusa teh deukeut pisan  -  dengan manusia, sangat dekat

tapi teu antel jeung diri  -  tetapi tak bersentuhan

lamun anu tacan ngarti  -  orang yang belum mengerti,

enggeus tangtu éta jauh  -  disangka ( keberadaan Allah ) jauh

tah éta téh mangga manahan  -  nah, silahkan pikirkan

rasakeun di jero galih  -  rasakan di dalam batin

mun geus kapiraos éta téh Wujud Allah ( 195 ) –  apabila dirasakan Ada-Nya, itulah  Wujud Allah

Hp 3 baru merupakan pemberitahuan bahwa menghadirkan Allah pada Badan Rohani yakni pada “ rasa ”, sedangkan pada WBR sudah merupakan proses 81 peribadatan, yakni Sang Utipati berada pada rasa.

Penerapan HP terhadap WBR melalui proses pengadaptasian nama Tuhan yang diseru ( Adaptation ).

Data WBR V Raga kasar dihilangkan, cipta menyatu kepada Hing Jagat Nata, rasa sakit hati, seperti tidak menerima keadaan / keluh kesah, takabur, pedih hati, sakit, musnah, yang ada rasa nikmat.

HP. 13. Kuring ngawula ka kurung –  Aku ( Nurullah dalam diri manusia ) selalu mengabdi pada raga

kurunganana Sim Kuring –  yang menjadi kurungan Aku ( Nurullah dalam diri manusia )

Kuring darma dipiwarang  -  Aku sekedar diperintahkan

dipiwarang ku KURING  -  oleh AKU ( Allah )

kuringna rumingkang kurang –  Aku ( dalam kurungan raga manusia ) jadi bersifat kurang

kurangna puguh gé kuring –  kurang karena sifat aku ( yang sedang mengembara di dunia ).

HP,14, Kuring ngawula ka kurung –  Aku mengabdi pada kurungan,

kurungan pangeusi kuring –  kurungan yang diisi olehKu

kuring sagalana kurang  -  aku ( yang sedang mengembara di dunia ini ) segalanya bersifat kekurangan kurang

da puguh gé kuring –  kurang karena memang sifat aku ( sedang mengembara didunia

Kuring sagala teu kurang  -  namun, Aku ( Nurullah ) tak kekurangan apa pun

sakur nu aya di Kuring –    segala ada padaKu,

HP,15, Kuring ngalantung di kurung  -  Aku dalam kurungan

kurung Kuring eusi Kuring –   kurungKu yang berisi Aku

kuring kurang batur kurang  -  aku ( yang sedang mengembara di dunia ) bersifat kekurangan begitu pun manusia lainnya

rasaning pa – Kuring – Kuring  -   namun di dalam rasa masing – masing sama – sama ada Aku ( Nurullah )

Teu kurang pada Teu Kurang  -  tidak memiliki sifat Kurang

batur-batur cara kuring –  semua manusia ( yang dalam pengembaraan ) seperti aku 82

( Keterangan tanda aksara : aku manusia biasa, Aku Nulullah, AKU Tuhan )

Hp nomor 13, 14, 15, terdapat tiga jenis “ aku ”. Pertama “ AKU ”, Tuhan, kedua  “ Aku ” Nurullah yang berada di dalam diri manusia yang tidak memiliki kekurangan karena diemanasi oleh Tuhan, ketiga “ aku ” manusia biasa yang sedang mengembara di dunia, yang terdiri dari lahir / raga kasar dan batin yaitu Badan Rohani / Nurullah.

AKU, Tuhan tak akan dibahas, yang akan dibahas “ Aku ” ( Nurullah ) dan “ aku ” manusia yang terdiri dari raga dan batin.

Aku tidak membutuhkan apa pun, Aku ini ikut dengan raga / jasad kemana pun raga itu pergi, namun Aku tidak dipengaruhi hukum dunia.

Dalam WBR dikatakan, hukum dunia ada rasa enak tak enak, menang kalah, gembira dan sedih.

Aku ini tidak dipengaruhi, oleh karena itu dikatakan Aku tak kekurangan apa pun.

Dikatakan oleh sufi susah senang rata baé, susah lain boga urang senang lain boga urang  “susah senang rasakan secara rata karena keduanya bukan milik manusia.

Susah senang dibagikan secara adil oleh Tuhan kepada manusia ”, dengan kata lain susah dan senang hanya cobaan hidup.

Kedua, “ aku ” yakni Aku Nurullah / Badan Rohani yang terbungkus oleh Muhamad Majaji ( istilah dalam WJU ) yakni raga yang bersifat hawadis, baruan, indrawi, dikatakan oleh Sufi Abubakar Fakih Almarhum Kaadaman adalah manusia, yang terdiri dari raga kasar yang bersifat fana dan Badan Rohani yang hayun baqin “ hidup kekal ”  “ aku ” ini, manusia yang meliputi raga kasar dan Badan Rohani, dalam menjalani hidup di dunia selalu bersifat kurang, kata HHP kuring kurang batur kurang, seluruh manusia dihinggapi oleh perasaan kurang. 83

WBR mengedepankan suasana batin yakni aral “ tidak menerima keadaan / berkeluh kesah,” tekebur, pedih hati, sakit, musnah, yang ada rasa nikmat, apabila selalu menghadirkan Tuhan pada batiniah.

Tentang lenyapnya suasana batin antara lain sedih, dengan hadirnya Rasa Allah dalam diri manusia disebut dalam Hp 11 sebagai beriku :

HP 11 Tah kitu éta mah Engkang –  Begitulah Kandanu

matak kudu kapanggih –  oleh sebab itu harus bertemu / mengenal / mengetahui

eujeung nu bogana Sukma –  dengan Pemilik Sukma

di kuburan bisi heurin –  ( supaya kelak ) di kuburan tak sempit

candak Jagat Gedé deui –  masukanlah Jagat Luas ( Pemilik Jagat Raya)

nagara gé meureun asup –  negara pun masuk

diteundeun di jero ati  -  letakkan di dalam hati

tah téangan dina badan Jagat Lega ( 121 )  -  hadirkanlah di badan Pemilik Jagat Yang Maha Luas.

Dari Hp 11 dikatakan hadirkan Pemilik Jagat Yang Maha Luas, yang menguasai seluruh rasa, maka bila Pemilik Jagat Luas hadir dalam diri manusia maka lenyap rasa was-was,  khawatir, tidak menerima keadaan, tekebur, pedih hati, sakit, musnah yang tinggal rasa nikmat.

Jadi penerapan Hp ke dalam WBR V, merupakan penggabungan dari sejumlah Hp yang berarti pengluasan

( expansion ), konsep ini ditemukan dalam penelitian Rifatterre ( 1978: 50 – 63 ).

Data WBR VI  Menciptakan mati dalam hidup HP1.

Paéh nu teu usik malik mah –  Mati yang tidak bergerak

nyaéta paéh bag-bagan jasmani  -  yaitu mati urusan jasmani

da teu nyaturkeun paéh kitu –  ( kini ) tidak mempersoalkan masalah itu

paéhna Nu Sajati – na  -  ( yang menjadi persoalan ) adalah mati Kesejatian

éta mah gaib teu katénjo ku batur –  yang tidak terlihat oleh orang lain

ngan urang sorangan nu ngarasa –  hanya kita yang merasa

paéh bisa usik malik ( 68 )  -  mati, namun raga bergerak ke 84 sama ke mari

H 1 Ada dua kematian yang dikemukakan,  pertama mati jasmani yakni mati biasa atau ajal yaitu raga tak bisa lagi bergerak. Yang menjadi pembicaraan bukan mati ini, namun mati Badan Rohani, mati yang raganya berjalan ke sana ke mari. Mati Badan Rohani yang dimaksudkan, seperti keterangan berikut.

Allah dengan Rahim – Nya membagikan Nurullah / Sajatining Iman kepada manusia dalam porsi yang sama, namun manusia itu sendiri tidak membukakan jalan, tidak mempotensikan anugrah dirinya, untuk mengetahui Ada – Nya, tidak mencari tahu, tentang bagaimana menghadirkan Allah di dalam Badan Rohani.

Keberadaan Allah di dalam dirinya diacuhkan, maka Badan Rohani tidak bersinar. Pada teks Wawacan Pulan Palin dikatakan, Allah néangan anu néangan, ‘Allah mencari manusia yang mencari – Nya’  Pengertian tersebut seperti berikut. Dalam WJU tentang tajalli diterangkan bahwa, Allah menampakkan diri kepada “ manusia yang dikehendaki ”

( bukan berdasarkan nasib, namun upaya dari manusia untuk membuka hijab, membuka alangan, hal – hal yang tidak dikehendaki – Nya, tidak menyimpan perkara duniawi di dalam Badan Rohani, apabila menempatkan perkara duniawi / indrawi dalam Badan Rohani, itu yang dinamakan kufur, kafir ( di dalam WJU ).

Dalam Hp paéh Nu Sajatina yang dimaksud manusia itu sendiri yang memalingkan muka pada kehadiran Tuhan di dalam dirinya,  dalam WPP dikatakan juga bahwa ” kapanggih gé moal tepang, kaula sarawuh Yang Widi “ bertemu pun tak kenal, abdi dengan Tuhannya ”  85

WBR mengungkapkan kebalikannya menjalankan mati di dalam hidup.

Dalam WJU diungkapkan Ruyat illahi Ta’ala fiddunya biainil golbi, ruyatullahi Ta’ala bilakhiroti biainil Arsi, artinya ‘di dunia ( manusia ) melihat Allah dengan ‘ mata hati’, di akhirat Allah tak terhalang apa pun, sebab sudah menyatu ’. Melaksanakan mati dalam hidup adalah bertafakur, melepaskan duniawi di dalam batin dan menghadirkan Allah dalam Badan Rohani, seperti melihat Allah di akhirat.

Jadi penerapan Hp 1 dalam WBR menyatakan yang sebaliknya atau pemutar balikan ( conversion ) konsep ini ditemukan dalam penelitian Riffatere ( 1978 – 63 ) HP 2

Geuning dina Kuran dalilna - Di dalam al Quran

antal maoti antal maoti koblal maotu qoblal maotu

kudu diajar maot méméh wapat  -  harus belajar mati sebelum wafat

kudu diajar wapat saméméhna pupus –  harus belajar wafat sebelum meninggal

tah kitu sundana  -  nah begitulah artinya

kudu nyaho paéh saméméhna mati ( 69 ) –  harus mengetahui mati sebelum mati

Hp 2 merupakan myth concern WBR.

Yang dimaksud belajar mati dalam hidup adalah menghidupkan Badan Rohani / Nurullah, menghadirkan Allah dalam diri, 86 dengan mengisi batin dengan Asma Allah ( Dzikir Hofi berdzikir yang takdi bunyikan dengan indrawi )

( Lihat penjelasan Dzikir dalam Kajian Teori ).

Apabila Asma Allah selalu hadir dalam Badan Rohaninya akan menggetarkan ke bagian jasad sehingga dikatakan bangkong ngaheumheum liangna  “ katak mengulum lubangnya ”  kapal tilelep ka langit  “ kapal tenggelam ke langit ”

( dalam WGS ) Data WBR VII  Raga kasar dihilangkan, cipta menyatu kepada Hing Jagat Nata Lihat Data WBR I, namun Jagat Nata bersifat netral, tidak cenderung kepada satu agama dalam arti bukan simbol agama.

Jagat Nata artinya Penguasa Jagat serperti halnya antara lain, Penguasa Alam, Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, dan Yang Maha Pengasih Penyayang.

Jadi penerapan Hp pada WBR myth concern sepenuhnya.

3.3.2  Kemanunggalan dalam Teks WBR dan Teks-Teks Hp

Yang dimaksud  kemenunggalan yaitu, bagaimana kemenunggalan antara makhluk dengan Khalik.

3.3.2.1 Kemanunggalan di dalam Teks WBR

Bagian ini  disampaikan oleh Rama kepada dua orang raja Prabu Sugriwa dan Wibisana.

Dalam uraian ini akan disalin semuanya.

RAA Martanagara mengatakan bahwa konsep teosofi tasawuf ini tidak diambil dari aslinya ( WBR, 872881 ).

Pembahasan kemanunggalan ini karena pada WBR dibahas dalam beberapa bait jadi pada bahasan akan ditulis secara menyeluruh supaya jelas.

I.

Kawas mungguhing manusa, –  kewajiban manusia,

sing manggih pati sinelir, –  mendapatkan ajal yang terpilih.

mun taya nu mituduhan,  -  Apabila tak ada yang memberi petunjuk 35,

mamrih tékad nu sajati,  -  untuk menjalankan tekad suci,

tangtu samar pangarti  -  pengetahuan  samar-samar tak jelas,

tambuh nyembah ka Déwagung  -  sia – sia dalam menyembah Dewa Agung

sumawona rajana  -  Begitu pula raja,

jadi wakil Bataraji, –  sebagai wakil dari Batara Aji,

kudu nanggung lalakon di alam dunya  -  yang menanggung kehidupan di dunia.

( LXXXVIII / 30 / 2968 )

II.

Nya tékad ngandel ka Déwa,  -  Hati hendaknya percaya penuh kepada Dewa,

nu ngawasa bumi langit, –  Penguasa bumi dan langit.

réh mungguh nu jadi raja,  -  Sesungguhnya raja, apabila tak mampu

mun teu bisa ngeréh nagri,  -  memerintah negeri,

mangké mun manggih pati,  -  kelak setelah ajal

meunang cangcala sisiku,  -  akan mendapat siksaan pembalasan,

singkah ti pati mulya,  -  jauh dari ajal mulia

laku salahna kabukti,  -  diperoleh, balasan dari perilaku salah.

mun bener mah tangtu keur tapa  -  yang benar yaitu memegang

ngeréhna.

( LXXXVIII / 34 / 2972 ) pemerintahan dengan tapa (raja).

III.

Jeung deui pamanggih Kakang,  -  Menurut hemat Kakanda,

pada regepkeun ku Yayi,  -  dengarkan baik-baik, Adinda.

warna – warna tékad jalma,  -  Beragam pemikiran manusia

nu mikir ngaraning pati,  -  yang berpikir tentang ajal

aya jalma nu mikir,  -  ada orang yang berpendapat

paraning pati téh kudu,  -  kedatangan ajal, hendaknya

mulang kana asalna,  -  kembali ke Asal.

nyaéta Wahyu Sajati,  -  ( Asal manusia ) yaitu Wahyu Sejati, 36

Rasa Mulya nu aya di alam dunya.  -  Rasa Mulia 37  ketika hidup di dunia.

( LXXXVIII / 35 / 2973 )

IV.

Saréh ti dinya bibitna, –  Karena, dari sanalah sumbernya

pang gelar di alam lahir,  -  manusia berada di alam dunia,

nya ka dinya geusan mulang,  -  dan ke ( Wahyu Sejati ) itulah tempat kita

rasana téh pati leuwih,  -  kembali, itulah ajal yang terpilih.

mungguh Kakang pribadi,  -  Adapun pendapat Kakanda,

pikiran kitu teu milu,  -  tidak sepaham dengan itu.

éta tékad nu sasar,  -  Itu pendapat yang sesat

ngangkeuhkeun teu matak harti,  -  pikiran tak masuk akal

anu kitu naon pingaraneunana.  -  paham seperti itu, apa namanya. 88

( LXXXVIII / 36 / 2974 )

V.

Reujeung sajaba ti éta,  -  Selain itu ada lagi

aya deui anu mikir  -  yang berpendapat bahwa

jaga mun ajal ti dunya,  -  kelak setelah ajal dari dunia,

mo ( w ) al manggih jeung Yang Widi,  -  tak akan bertemu dengan Yang Widi,

sabab Yang Utipati,  -  sebab Yang Utipati

jeung awak kami ngagulung,  -  dengan raganya menjadi satu,

ieu nyatana Déwa,  -  raga ‘ manusia ’ yakni Dewa,

nya Déwa nya awak kami,  -  Dewa ya raga ‘ manusia ’ juga.

anu kitu burung sasar patékadan.  -  pendapat demikian keliru

( LXXXVIII / 37 / 2975 )

VI.

Éta pamawana sétan,  -  Pemikiran itu petunjuk setan,

umangkeuh badan / n / a suci,  -  menganggap badannya suci

ngaku yén manéhna Déwa,  -  mengaku bahwa badannya Dewa,

bawaning ku cupet budi,  -  karena sempit akalnya.

naha asaeun teuing,  -  Mengapa sombong,

ngaku dalit jeung Yang Agung, –  mengaku intim dengan Yang Agung,

kapan mungguh Déwa mah,  -  bukankah Dewa itu,

tampa enggon tampa jirim,  -  tak ada di mana pun, tak berwujud,

38 Yayi mana nyasama jeung   –  Adinda, itu artinya menyamakan

nu gumelar  -  dengan wujud indrawi.

( LXXXVIII / 38 / 2876  ).

VII.

Aya deui sababatan,  -  Ada lagi segolongan

mikir nyatana Yang Widi,  -  yang berpendapat tentang Yang Widi

e ( n ) nya éta lain éta,  -  yaitu bukankah itu,

enya itu tapi lain,  -  iya itu, namun lain itu

éta nu sasar budi,  -  Itu pendapat yang sesat,

timuna wungkul sakitu,  -  ia tahu sebatas itu,

teu nyaho sabenerna,  -  tak tahu Kehakikian – Nya.

tékad Nu Mulya Sahiji  -  Yang Maha Mulia itu Satu

anu kitu lain keur gugueun urang.  -  pendapat itu jangan diyakini.

( LXXXVIII / 39 / 2977 )

III.

Ngan mungguh pikiran Kakang, –   Menurut hemat Kakanda

nurut pamanggih pribadi,  -  pendapat pribadi

misilna nyatana Déwa  -  perumpamaan “ Wujud ”  Dewa,

nu aya di jaman lahir  -  dengan yang berada di alam lahir

misil hiji narpati,  -  seperti perumpamaan seorang raja

ngaran Ratu Sasrabau –  yang bernama Raja Sasrabau,

boga Patih Suwanda  -  memiliki Patih Suwanda.,

ratu jeung patihna dalit  -  Raja dengan patih sangat erat

runtut-réntét  Sasrabau jeung Suwanda  -   Sasrabau dengan Suwanda sangat intim.

( LXXXVIII / 40 / 2978 )

IX.

Mun ratuna teu séséba,  -  Ketika raja tak hadir dalam seba

patih anu jadi wakil,  -  patihnya menjadi wakil,

mangké dangdan karajaan,  -  mengenakan baju kebesaran,89

teu témbong yén éta patih,  -  tak menampakkan dia sebagai patih.

pamikirna wadyalit,  -  Menurut pemikiran orang – orang kecil,

éta nu témbong téh ratu,  -  orang yang tampak itu raja.

tatapi nu nyaho mah,  -  Namun orang yang paham

tangtu mo ( w ) al bisa pangling,  -  tentu tak akan terkecoh,

sabab éta sidik yén Patih Suwanda   –   sebab orang itu jelas Patih Suwanda.

( LXXXVIII / 41 / 2979 )

X.

Najan maké karajaan,  -  Walau mengenakan kebesaran kerajaan,

jinisna tangtu kaciri,  -  yang sesungguhnya tentu tampak .

ngan teu ngawakilan raja, –  Apabila mewakili raja,

leungit sipatna papatih,  -  hilang sifatnya sebagai patih.

kunu réa kapikir,  -  Oleh orang kebanyakan

sidik yén éta téh ratu,  -  diyakini bahwa dia seorang raja.

tapi lamun rajana,  -  Namun apabila rajanya -

témbong séséban pribadi,  -  sendiri yang hadir dalam seba,

éta patih teu aya dina séséban. –   patih tak ada.

( LXXXVIII / 42 / 2980 )

XI.

Eta raja jeung patihna,  -  Raja dengan patihnya

najan ngumpul teu ngahiji,  -  walau berkumpul, bukan satu,

lamun misah teu midua,  -  apabila berpisah, bukan dua, 39

sabab nu témbong ngan hiji,  -  sebab yang tampak satu.

mun dipikir ngan hiji,  -  Apabila direnungkan, satu itu,

éta patih éta ratu,  -  itu patih dan itu raja.

salah kabina-bina,  -  Sangat salah ( apabila dua itu dianggap satu )

sabab ratu reujeung patih, –  sebab raja dengan patih,

tunggal lampah tatapi badan / n / a misah  -  perilaku tunggal, namun raganya beda.

( LXXXVIII / 43 / 2981 )

XII.

Mun dipikir aya duwa,  -  Apabila dikatakan ada dua,

nu jumenang ngeréh nagri,  -  orang pemegang tahta negara,

éta komo mowal pisan,  -  itu tak mungkin

pangerehna mowal jadi,  -  pemerintahannya tak akan terbentuk,

saperti hiji nagri,  -  seolah – olah satu negara

dieréh ku duwa ratu,  -  diperintah oleh dua orang raja.

kapan mah sidik pisan,  -  Bukankah jelas

Suwanda mah ngan papatih,  -  Suwanda hanya seorang patih,

Sasrabau éta anu jadi raja. –  Sasrabau rajanya ?

( LXXXVIII / 44 / 2982 )

Tentang Muhammad Hakeki 90

Sebelum menelusuri Hp dari uraian tentang kemenunggalan yang diketengahkan oleh RAA Martanagara, terlebih dahulu akan membahas tentang Muhammad Hakeki dari WJU yang  erat hubungannya dengan masalah kemenunggalan tersebut, yang suka dibahas pula dalam sejumlah naskah teosofilainnya. Di antara sejumlah pembahasan, yang mudah dipahami  dan pembahasannya paling sistematis adalah kemenunggalan dalam WJU.  Muhammad Hakeki adalah sarana untuk mengetahui, melihat, bermakrifat kepada Allah ketika di dunia. Muhammad Hakeki inilah di dalam diri manusia yang bisa merasakan hadirnya Allah Subhanahu Wataala, yang pada umumnya disebut Manunggaling kaula-Gusti. Istilah Muhamad Hakéki dalam  WJU disajikan pada pembahasan mengenai 7  peringkat Alam yang dihubungkan dengan penciptaan manusia yaitu, Alam Ahadiyat, Alam Wahdat, Alam Wahidiyat, Alam Arwah, Alam Ajsam, Alam Misal, dan Alam Insan Kamil atau Alam Kamil Mukamil.

Alam Ahadiyat yaitu Alam Gaib, ketika itu hanya ada  Yang Maha Ada yaitu Allah, belum ada “wujud” ciptaan-Nya. Allah adalah Dzat Laisa Kamistlihi tidak bisa diumpamakan dengan apa-pun. Kemudian Allah ingin menyatakan Ada-Nya, maka Allah menyinarkan Nur yang bersifat Gaib bernama Nurullah, Nurullah bukan berupa terang yang ada di Alam Kejasmanian. Nurullah menyandang nama yang berhubungan dengan keberadaannya antara lain  adalah  Rasa Rasululahi atau Muhamad Hakeki atau Sajatining Iman “Iman Sejati” atau Sajatining Ilmu “Ilmu Sejati” atau  Sajatining Hirup  “Kesejatian dari Hidup” atau Inti Kedirian dari Manusia.  Alam ini disebut Alam Wahdat.91

Konsep Muhamad Hakeki dalam naskah teosofi tasawuf lainnya digunakan nama lain, antara lain Nur Muhamad, Badan Rohani, Badan Muhamad, dan Kamuhamadan. Pada sejumlah naskah teosofi menyebutkan “Allah Muhammad Adam,” maksudnya Allah, Muhammad (Nurullah), dan Adam adalah manusia secara umum. Dalam arti yang sempit Muhamad Hakeki adalah “Iman Sejati”. Peminjaman istilah  Muhamad, karena iman tertinggi makhluk adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan sifat Rahim-Nya Allah membagikan  Muhamad Hakéki dengan porsi yang sama kepada seluruh umat manusia.      Dengan diciptanya Muhamad Hakéki, Kegaiban Allah terbungkus oleh adanya  Muhamad Hakeki. Tuhan menghendaki supaya  Muhamad Hakéki keberadaanNya nyata pula. Muhamad Hakéki  menyinarkan cahaya merah bernama Narun (inti api), cahaya kuning bernama Hawaun  (inti udara), cahaya hitam bernama Turabun  (inti tanah) dan cahaya putih bernama Maun  (inti air). Alam Wahdatlenyap, berganti dengan Alam Wahidiat.

Setelah Alam Wahidiat,   memasuki  Alam Arwah.  Pada Alam ini kemudian dari keempat unsur inti tersebut tercipta bumi langit beserta isinya. Tuhan menyatakan Asma-Nya untuk disebut oleh makhluk, yakni  Asma: Allah dari Aksara Alif, Lam, Lam, He, yang terdiri dari 4 (empat) huruf sebagai lambang dari  Narun, Hawaun, Turobun  dan  Maun. Manusia di Alam Arwah sudah ada Dzat, Sifat, Asma dan Af’al yang diemanasi (disinarkan) oleh Allah, untuk menjadi khalifah di bumi.      Manusia di Alam Arwah (selama 9 bulan) lahir ke alam dunia, yaitu ke Alam Ajsam. Muhamd Hakéki berwujud dalam bentuk manusia, bernama  Muhammad 92Majaji (majas, simbol, memiliki raga yang bersifat fana) (jadi manusia menyandang badan rohani (yang kekal) dan raga yang fana/hawadis), yaitu dalam materi/wujud yang dapat diindra.

Dari Alam Arwah,  manusia ke Alam Ajsam sampai masa aqil balig. Pada Alam ini, manusia belum dibebani kewajiban. Setelah manusia  berusia 14/15 tahun, manusia menjalani Alam Misal. Dalam Alam Misal, manusia  dibebani kewajiban. Kewajiban paling utama, yaitu manusia harus berusaha untuk kembali kepada-Nya.  Innaa Lillahi Wainna Ilaihi Roji’uun  ‘berasal dari Allah, kembali kepada Allah’. Manusia harus memahami dirinya,  harus bertanya kepada Guru Utama/Guru Mursid. (VI 288 –322). Rentang waktu manusia di Alam Misal tidak tentu, tergantung nasib.      Apabila manusia tak berusaha  mencari Ilmu-Kembali-Kepada-Allah, dan durhaka, akan sulit kembali kepada-Nya. Manusia harus satuhu (menjadi manusia taat) supaya mencapai Insan Kamil, yaitu bisa kembali ke Alam Wahidiyat. Alam ini dalam Wawacan Buwana Wisesa  disebut  Nu Islam. Dalam sejumlah buku teosofi Tasawuf Sunda, yang disebut  manunggal  kaula-Gusti, tidak  manunggal secara total, karena Allah Dzat Laisa Kamistlihi.

Apabila manusia memiliki  tingkatan Badan Rohani tinggi, maka akan mencapai tingkat  Insan Kamil,  yaitu ke tahap perwujudannya semula di Alam Wahidiat. Kamil Mukamil, yaitu tingkatan Sampurnaning Sampurna lebih tinggi dari Insan Kamil (tingkatan manusia yang sempurna sesempurna-sempurnanya di hadapan Allah) (VII: 320 – 363).93         Awaludinni marifatullah, artinya ‘perilaku awal dalam memahami agama (Islam) yaitu mengetahui Dzat Allah. Untuk mengetahui Dzat Allah berbeda dengan mengetahui hawadis (sifat baru/makhluk/yang diciptakan Tuhan/yang bisa diindra). Allah  Dzat Laisa Kamistlihi, tidak berwujud dan tidak bisa diumpamakan oleh apa pun. Untuk memahami Dzat Allah harus memahami diri sendiri terlebih dahulu. Menurut hadis,  Waman arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, waman arofa Robbahu, faqod jalillan nafsahu. ‘Siapa yang mengetahuidirinya, maka akan mengetahui Tuhannya, siapa yang mengetahui Tuhannya, maka dirinya bodoh’. Dikatakan bodoh, karena manusia tak memiliki daya apa pun. Untuk bisa memahami Allah,  manusia sudah dibekali sarananya dari Kudrat.

Manusia ‘wajib mengetahui Sipat Hirup  ‘Hakikat Hidup’, dengan jelas tidak samar-samar’. (I: 32  – 43). Yang dimaksud Hakikat Hidup yakni  Muhamad Hakéki.

Ruyatillahi Ta’ala fiddunya  biainil golbi, ruyatullahi Ta’ala bilakhiroti biainil Arsi, artinya ‘di dunia (manusia) melihat Allah dengan ‘mata hati’, di akhirat Allah tak terhalang apa pun, sebab sudah menyatu’. Namun siapakah yang harus melihat, bukankah manusia  Laa hawla walaa quwata illa Bilahil ‘Aliyyil’ Adzhiim, ‘manusia  tidak memiliki daya apa pun untuk melihat, mengetahui kepada-Nya. Secara kudrati manusia sudah dibekali Badan Rohani atau Muhamad Hakéki

3.3.2.2 Kemanunggalan dalam Teks – Teks Hp 94 Kemanunggalan dalam Teks WPP1.

Marukana cara jalma nyieun bakul     Dikira seperti orang membuat bakula

tawana nyieun said                                 atau membuat bakul besar

anu nyieunna ngajentul                           ( orang ) yang membuat bakul tekun bekerja

anu dijieunna kitu deui                             yang dibuatnya (diam) rayap

said jeung boboko                           berhamparan bakul besar dan bakul

Padika Allah mah yén lain kitu                 Keadaan (Allah) dengan makhluk tak begitu2 …

mawa diri téh geus moal wegah                   membawa diri tak akan sungkan

da enggeus meunang papagah                     sebab telah mendapat petunjuk

ti guru anu geus puguh                                 dari guru yang jelas

datang pati geus moal wegah (171)             datang ajal tidak takut

3. Mun urang hayang maripat                     Apabila kita ingin bermakrifat dengan Allah

kana élmu Anu Rupit,                                     gunakan Ilmu Rahasia

sing harti kana Dzat jeung Sipat,                   yang bisa menerangkan tentang Dzat dan Sifat

Asma Ap’al sing kapipit                                 Asma Af’al, itu harus dipahami.

upama henteu kapipit                                     Apabila tak dipahami

tangtu maripatna luput                                   tentu tak kan bisa bermakrifatku

sabab henteu sakapat                               sebab tidak pada jalur

mun sakapat mah kapipit,                             apabila pada jalurnya tentu terambil

mun geus kitu éta ngaranna maripat (194)   baru bisa bermakrifat dengan (Allah)

4. Sabab mungguhing Pangéran,                 Pada hakikatnya Tuhan,

teu aya antarana saeutik                             tak ada antara (dengan manusia),

jeung manusa téh deukeut pisan                 dengan manusia, sangat dekat

tapi teu antel jeung diri                               namun tak bersentuhan dengan diri manusia.

lamun anu tacan ngarti                               Orang yang belum mengerti

enggeus tangtu éta téh jauh                         menganggapnya berjauhan

tah éta mangga manahan,                           nah itulah, hayatilah

rasakeun di jero galih, (195)                       rasakan, dalam batin

mun geus kapiraos éta téh wujud Allah (195)   apabila sudah terasa di sana Wujud Allah

955. Kapan mungguhing nu jadi raja         Keberadaan raja

papisah raja jeung abdi-abdi,                   terpisah dengan abdi-abdinya

Allah mah séjén deui aturanana               Keberadaan Allah lain lag

ihenteu papisah Gusti jeung abdi               tidak terpisah Tuhan dengan abdinya

ibarat iwung jeung awi                             ibarat rebung dengan bambu

nu disebut Gusti iwung                             Tuhan iwung

kénging abdina                               Tuhan, Ada, dihadirkan oleh abdi-Nya

nyaéta abdina téh awi                                 abdi (manusia) mengabdi kepada Allah

ibarat endog abdina tah hayam  (223)       ibarat telur, abdinya ayam

6. Mana lebah mana antarana                   Di manakah antaranya

tina iwung kana awi                                   antara rebung dengan bambu

sareng endog kana hayam                           telur dengan ayam

tah éta téh Gusti jeung abdi                         seperti itulah ( keberadaan ) Tuhan dengan abdi-Nya

bener aya dua jinis                                       betul ada dua jenis

tapi silih genti karang timbul                       namun saling berganti

aya endog euweuh hayam                             ada telur tak ada ayam

aya hayam endog leungit                             ada ayam telur lenyap

aya awi iwungna enggeus teu aya   (224)     ada bambu rebung tak ada lagi

7. Mun geus ngarti kana eta élmu sajati       Apabila sudah memahami Ilmu Kesejatian

masing rata rasa                                           ( mengalami susah – senang ) terima dengan perasaan rata

sing wakita                                                     tajamkan pikiranmu

anu pasti lepas haté                                       sudah pasti berpikirlah secara luas

mun geus terang ka nu saéstu                       apabila sudah mengetahui hakikat

teu pisah kaula-Gusti                                     tak berpisah antara “ hamba ”  dengan Tuhan

Gusti – kaula nyatana badan sapata                 Tuhan – hamba ternyata rapih di badan

da élmuna geus buntu                                     begitulah, jika ilmunya tamat

geus  buntu mah tangtu nyata                         sudah tamat tentu akan terang

anu matak sing yakin ka Nu Sajati                   oleh karenanya ketahuilah dengan jelas tentang Yang Maha Benar

teu lian awak sapata                                         tiada lain terletak dengan di dalam badan

8. Ditéangan gé Allah mah hamo kapanggih   Dicari pun Allah tak akan ditemukan

matak seunggah najan urang gagah                 enggan walau kita kuat

moal burung teu unggah-enggéh                       akan terengah-engah

tungtungna téh jadi teu puguh                           akhirnya menjadi kacau

Salira téh henteu kapanggih                             Badan Rohani tak akan ditemukan

96 lamun acan meunang papagah                         apabila belum ada pemberitahuan ( dari Guru Mursid )

tekadna téh jadi teu puguh                                 keyakinannya menjadi kacau

hal nyaéta Anu Lenggah                                     hal yang menjadi Penghuni Diri

anu matak Allah téh hamo kapanggih               oleh sebab itu Allah tidak ditemukan

sababna lian ti Anu Lenggah  274                     sebab mencari selain Penghuni di dalam diri

9. Da néangan anu néangan                         ( Allah ) mencari yang mencari-Nya

naha saha anu kapanggih                             siapa pun akan menemukan-Nya.

papanggih gé hamo patepang                     ( Apabila tak kenal ) berhadapan pun tak akan tahu

kaula sarawuh Yang Widi.                           abdi dengan Tuhannya.

Lamun terang hayang panggih                     Apabila ingin bertemu

rasakeun saha Nu Lungguh                         rasakan, siapa yang Ada (di dalam diri)

tah Ieu saha Nu Lenggah                             nah siapa yang Ada

bet teu aya lian anu linggih,                         tak ada yang lain, hanya Yang Maha Ada.

hamo papanggih nya ieu sabab Nu Lenggah Yang Maha Ada dicari pun tak akan bertemu ( sebab Ada dalam diri ).

10. Rasana mah awakna geus beresih         ( Pada umumnya ) Merasa diri bersih

pédah solat Islamna geus absah                   karena telah mengerjakan solat telah memeluk Islam dengan benar

padahal acan disosoh                                   padahal ( hati ) belum dibersihkan

lamun nutu téa mah rusuh                             ibarat menumbuk padi, tumbukannya tergesa – gesa

da ngajina kaburu asih                                 karena merasa cepat puas.

awakna gé jadi papisah                                 ( Akibatnya ) dirinya menjadi terpisah ( dengan Allah )

ka Allah gé kalah ngamusuh                         dengan Allah berjauhan

di mana bisana absah                                   bagaimana keabsahan

nyalamun papisah jeung Allah mah hamo           apabila merasa terpisah dengan

beresih                                                           Allah, ( hatinya ) itu tidak bersih

kabéh gé ibadahna hanteu sah (278)             semua peribadatannya tidak sah

II  2 Kemanunggalan dalam Teks WJ U11.

Malah-malah Rai aya deui dalilna,               Malahan Adinda menurut dalil

dalil anu kauni deui,                                         dalil yang berbunnyi   97

Ruyatullahi  Ta’ala,                                             Ruyatullahi Ta’ala

fiddhunya biaenil qolbi,                                         fiddhunya biaenil qolbi

éta dalil nu kauni,                                                 begitulah bunyi dalil tersebut

basa Arabna éta téh kitu,                                     dalam bahasa Arab.

sundana ningali Allah di dunya                           Artinya, melihat Allah di dunia

kudu ku Awasna Ati                                               harus dengan Penglihatan Hati

kitu cenah éta téh Rai pihartoseunana mah (43)   begitulah Adinda artinya

12. Samalah aya (deui) lajengna,                         malah ada terusnya

dalilna anu kauni deui,                                         dalil yang berbunyi

Ru’yatullahi  Ta’ala,                                             Ru’yatullahi  Ta’ala,

bil akhiroti kauni,                                                   bil akhiroti

terusna biaenil ‘ Arsi,                                             selanjutnya biaenil ‘ Arsi

Sundana cenah kieu tangtu,                                   artinya begini

:ari ningali ka Allah Ta’ala,                                   melihat kepada Allah Ta’ala

di ahérat mah geus pasti,                                       di akhirat, sudah tentu

nya ku panon ngan teu kalawan kapiat, (44)         dengan mata, dengan tidak terhalang

13. Margi hanteu adu hareupan,                           Karena tak berhadapan

ku sabab enggeus ngahiji,                                       sebab menyatu

kawas kembang jeung seungitna,                       seperti bunga dengan harum

nyakawas gula jeung amisna                                 seperti gula dengan manisnya

kertas jeung bodasna deui,                                     kertas dengan putih

nyakawas lambak sareng laut,                               seperti ombak dengan laut

tah kitu éta hartina.                                               begitu artinya

Raina ngawalon  manis,                                          Adiknya menjawab dengan manis

Rebu nuhun Engkang keresa miwejang. (45)         beribu terima kasih Kakanda 98 mau mengajari

14. Saur rakana : Mun tacan ngarti                       Kata kakaknya : Apabila belum mengerti

saé naroskeun ka guru nu utama                           lebih baik bertanya kepada guru utama

ka Guru Mursid nu yaktos                                       kepada yang benar – benar Guru Mursid

ambéh sampurna ilmu                                             supaya sempurna ilmunya

ulah taklid enggoning milari ilmi                             jangan taklid dalam mencari ilmu

ulah ngandelkeun baé béja                                     jangan percaya kepada warta

kudu terang masing tangtu                                     harus mengetahui dengan jelas

hal sagala papahaman                                             semua hal harus tahu dengan paham

jadi urang moal asa – asa deui                                 jadi kita tak ragu – ragu

lantaran kapungkur geus diwurukan (316)             sebab dahulu sudah diajari

II  3 Kemanunggalan dalam Teks WBW Tentang kematian

15 Sing ngawadahan kurungan               ( Badan Rohani ) harus meliputi raga

sing jadi kuburan sajati                           Badan Rohani harus menjadi kuburan Sejati

sarangka manjing curiga                         selongsong memasukan keris

bangkong ngaheumheum liangna             katak mengulum lubangnya

kitu pamilih Rai                                       begitulah Adinda

jadi dua eta kubur,                                   itu berarti ada dua kuburan

jagat itu Jagat urang                               Jagat Itu, jagat kita

Alam Kabir reujeung Sagir                       Alam Kabir dengan Sagir

éta Engkang hayang ulah pipisahan (96) Itulah, Kanda inginnya tidak terpisah

II 4  Kemanunggalan dalam Teks  karya H HM

16. Sapanjang néangan kidul                     sepanjang mencari selatan

kalér deui kalér deui                                   utara lagi – utara lagi

sapanjang néangan wétan                         sepanjang mencari timur

kulon deui kulon deui                                 barat lagi – barat lagi

sapanjang néangan aya                             sepanjang mencari Ada

euweuh deui euweuh deui                           tak ada lagi tak ada lagi

99 ( Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina kurung ) ( Rosidi1989 : 17 )

Teks HHM di bawah ini tidak diterjemahkan tapi berupa  penghayatan makna berdasarkan perumpamaan dengan teks -teks lain, bahwa manusia dengan Tuhan hubungannya diumpamakan dengan rebung “ pohon bambu yang baru tumbuh ” dengan bambu.

17. Urang dipasihan iwung,                 Kita ditakdirkan menjadi manusia

iwung ilmuning sang awi,                     ( adanya manusia )  oleh kekuasaan Tuhan

iwung kersaning awina,                       manusia ciptaan Tuhan

iwung kawasaning awi,                         adanya manusia karena Kuasa Tuhan

rungu paningal awina,                         Pendengaran, Penglihatan ( Tuhan )

iwung andikaning awi.                         dayanya disinarkan kepada manusia

18 Awi huripna di iwung,                     Keberadaan Tuhan dihadirkan dalam Badan Rohani manusia

iwung ilmuna sang awi,                         Badan Rohani Manusia dari Tuhan

iwung kersaning awina,                         manusia ditakdirkan Tuhan

iwung kawasaning awi,                         manusia berdaya atas kuasa Tuhan

rungu paningal awina,                           Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan )

iwung andikaning awi.                                   dayanya disinarkan kepada manusia

19 Urang dipasihan iwung,                           Kita ditakdirkan menjadi manusia

ku awi nu maha suci,                                     oleh Tuhan Yang Maha Suci

lahang dipasihan lahang,                               dianugrahi rasa ( Salik berdzikir di dalam rasa )

ku kawung nu maha suci,                                 oleh Tuhan Yang Maha Suci

mayang dipasihan mayang,                             dianugrahi merasakan keindahanku

jambé nu maha suci.                                   oleh Tuhan Yang Maha Suci

20. Brung iwung renung ngariung,               banyaklah manusia ciptaan-Nya

kabéh kaulaning awi,                                     semua hamba  Tuhan

bray ligar nu tadi téa,                                     berkembang biaklah menjadi banyak, berasal dari Yang Satu

sili pisedih piasih,                                           ( manusia ) menggandrungi – Nya dengan sedih dan bahagia

sili pikahayang rasa,                                       gandrung saling mencinta

sili perih sili pambrih.                                     saling pamrih.

.II 5 Kemanunggalan dalam Teks WGS 21.

Béda hanteu béda deui                               sama dalam  arti  menunggal

keretas jeung bobodasna                                 seperti kertas dengan putihnya.100

leuwih deukeut Pangéran téh                           Tuhan ( Allah )sangat dekat

tinanding jeung beuheung urang                     ( lebih dekat ) daripada dengan leher kita.

deukeut ka Pangéran                                       Lebih dekat kepada Tuhan

tinanding urang jeung irung 027. ( 11 )             daripada dengan hidung ( kita )

deukeut mungguhing Pangéran                       sungguh – sungguh Tuhan ( Allah ) sangat dekat

22 Tangkal teureup jeung kelewih                   Pohon teureup dengan kelewih

éta téh taya bédana                                           tak berbeda

upama kembang jaksi téh                                 apabila diumpamakan dengan bunga jaksi

éta meureun jeung seungitna                           dengan harum

nyaéta téh tara papisah                                         keduanya tak berpisah.

poma Kakang masing timu                               Kakanda pahamilah,

Gusti téh reujeung kaula 029. (13)                   ( Hubungan ) Tuhan dengan abdinya.

4.2.2.3 Penerapan Teks Hp  Kemanunggalan terhadap WBR

Teks WBR tentang “ kemenunggalan ” yang disajikan sebanyak 12 pada, tidak semua dibahas karena nomor II, III, IV, V, VI, VII  hanya berupa sanggahan saja, yang akan dibahas sebanyak 6 pada yakni pada  I, VIII, IX, X, XI, XII. Tujuan disajikan secara keseluruhan, untuk memberikan kesatuan pendapat secara utuh

Data WBR I :

a. Apabila tak ada yang memberi petunjuk ( menghadap Allah ) pengetahuannya samar – samar.

b. Raja wakil Bataraji.

Hp I a  Apabila tak ada yang memberi petunjuk ( menghadap Allah ) pengetahuannya samar – samar Hp 2.

Mun urang hayang maripat       Apabila kita ingin bermakrifat dengan Allah

kana élmu Anu Rupit,                             gunakan Ilmu Rahasia

sing harti kana Dzat jeung Sipat,         yang bisa menerangkan tentang Dzat dan Sifat

Asma Ap’al sing kapipit                         Asma Af’al pahami,

upama henteu kapipit                             apabila tak dipahami

101 tangtu maripatna luput                           tentu tak kan bisa bermakrifat

ku sabab henteu sakapat                       sebab tidak pada jalur

mun sakapat mah kapipit,                     apabila pada jalurnya tentu terambil

mun geus kitu éta ngaranna                   baru bisa bermakrifat dengan ( Allah ) maripat ( 194 ) Hp 8.

Ditéangan gé Allah mah hamo   Dicari pun Allah tak akan

kapanggih                                           ditemukan

matak seunggah najan urang gagah     sangat sulit,  walau kita kuat

moal burung teu unggah-enggéh           akan terengah-engah

tungtungna teh jadi teu puguh               akhirnya menjadi kacau.

salira téh henteu kapanggih                   Badan Rohani tak akan ditemukan

lamun acan meunang papagah               apabila belum ada yang mengajari ( Guru Mursid )

tékadna téh jadi teu puguh                     keyakinannya menjadi kacau

hal nyaéta Anu Lenggah                         hal yang menjadi Penghuni Diri

anu matak Allah teh hamo kapanggih     oleh sebab itu Allah tidak ditemukan

sababna lian ti Anu Lenggah ( 274 )         sebab mencari selain Penghuni di dalam diri Hp 14.

Saur rakana : Mun tacan ngarti   Kata kakaknya : Apabila belum mengerti

saé naroskeun ka guru nu utama               lebih baik bertanya kepada guru utama

ka Guru Mursid nu yaktos                         kepada yang benar-benar Guru Mursid

ambéh sampurna ilmu                               supaya sempurna ilmunya

ulah taklid enggoning milari ilmi             jangan taklid dalam mencari ilmu

ulah ngandelkeun baé béja                         jangan percaya kepada warta

kudu terang masing tangtu                         harus mengetahui dengan jelas

hal sagala papahaman                               semua hal dengan paham

jadi urang moal asa-asa deui                     jadi kita tak ragu-ragu

lantaran kapungkur geus diwurukan ( 316 )   sebab dahulu sudah dinasihat Hp 16.

Sapanjang néangan kidul                 sepanjang mencari selatan

kalér deui kalér deui                                     utara lagi – utara lagi

sapanjang néangan wétan                             sepanjang mencari timur

kulon deui kulon deui                                     barat lagi – barat lagi

sapanjang neangan aya                                 sepanjang mencari Ada

euweuh deui euweuh deui                             tak ada lagi, tak ada lagi

( Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina Kurung ) ( Rosidi1989: 17 )

Di dalam WBR dikatakan, apabila tak ada yang memberikan petunjuk, pengetahuan tentang menghadap Allah, samar -samar.

Pada Hp 14 lebih dijelaskan 102 lagi, bahwa harus berguru kepada guru utama, yang benar – benar Guru Mursid. Yang berguru kepada Guru Mursid akan mengetahui Dzat, Sifat, Asma, dan Af’al ( Alam yang dihubungkan dengan perjalanan  manusia ).

Sebelum berguru kepada Guru Mursid keadaannya, seperti dikemukakan Hp 8 adalah dicari juga Allah tak akan ditemukan, dan Hp 16 memisalkan orang yang mencari Tuhan dengan keyakinan bahwa Tuhan berada di luar dirinya, dicarinya ke selatan yang diperoleh utara lagi – utara lagi, dicari ke timur yang ditemukan barat lagi, barat lagi, mencari Yang Maha Ada yang ditemukan “ tak ada ”  lagi  “ tak ada lagi ”. Padahal Yang Maha Ada, Ada dalam dirinya ( yaitu mencarinya dalam yang Hayun Baqin ialah kekekalan dalam diri manusia ).

Penerapan Hp pada WBR yang dinamakan ekserp ( excerpt ) / pengintisarian.

Konsep ekserp ditemukan oleh Pradotokusumo dalam penelitian Kakawin Gajah Mada ( 1984 : 103 ) Hp I b. Raja wakil Bataraji Semua Hp menyatakan bahwa manusia sebagai khalifah. Penerapan Hp pada WBR mengalami penyempitan atau pengkhususan ( specification ) yakni manusia sebagai khalifah, pada WBR Raja wakil Bataraji.

Data WBR VIII, IX, X, XI, XII, sebenarnya merupakan kesatuan pikiran yakni mengumpamakan kemenunggalan manusia dengan Tuhan seperti, kesatuan tugas Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda.

Namun setiap pada mengandung inti pembahasan.

Data WBR VIII: Tuhan dengan manusia diumpamakan Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda.HP 6.

Mana lebah mana antarana           Di manakah antaranya

tina iwung kana awi                                  antara rebung dengan bambu103

sareng endog kana hayam                         telur dengan ayam

tah éta téh Gusti jeung abdi                    seperti itulah ( keberadaannya ) Tuhan dengan abdi-Nya

bener aya dua jinis                                  betul ada dua jenis

tapi silih genti karang timbul                  namun saling berganti

aya endog euweuh hayam                       ada telur tak ada ayam

aya hayam endog leungit                         ada ayam telur lenyap

aya awi iwungna enggeus teu aya           ada bambu rebung tak ada lagi

( 224 ) ari ningali ka Allah Ta’ala,             melihat  kepada Allah Ta’ala

di ahérat mah geus pasti,                         di akhirat, sudah tentu

nya ku panon ngan teu kalawan kapiat,  dengan mata, dengan tidak terhalang ( 44 )

HP 13. Margi hanteu  adu hareupan,          Karena tak berhadapan

ku   sabab enggeus ngahiji,                         sebab menyatu

kawas kembang jeung seungitna,               seperti bunga dengan harum

nyakawas gula jeung amisna                          seperti gula dengan manisnya

kertas jeung bodasna deui,                         kertas dengan putih

nyakawas lambak sareng laut,                         seperti ombak dengan laut

tah kitu éta hartina.                                    begitu artinya

Raina ngawalon  manis,                               Adiknya menjawab dengan manis

Rébu nuhun Engkang keresa miwejang.       beribu terima kasih Kakanda mau ( 45 ) mengajari

Hp 15 Sing ngawadahan kurungan                    ( Badan Rohani ) harus meliputi                                                     ragasing jadi kuburan sajati                                       Bada Rohani harus menjadi kuburan Kesejatian

sarangka manjing curiga                                    selongsong memasukan keris

bangkong ngaheumheum liangna                       katak mengulum lubang

nyakitu pamilih Rai                                                   begitulah pemikiran Adinda

jadi dua éta kubur,                                              itu berarti ada dua kuburan

jagat itu Jagat urang                                           Jagat itu jagat Kita

Alam Kabir reujeung Sagir                                 Alam Kabir dengan Sagir

éta Engkang hayang ulah pipisahan (96)            Itulah Kanda inginnya tidak terpisah

HP 17. Urang dipasihan iwung,                           Kita ditakdirkan menjadi manusia

iwung ilmuning sang awi,                                     adanya manusia  oleh Ilmu

Tuhaniwung kersaning awina,                                        ada manusia Kehendak  Tuhan  104

iwung kawasaning awi,                                        adanya manusia karena Kuasa Tuhan

rungu paningal awina,                                          Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan )

iwung andikaning awi.                                         dayanya disinarkan kepada manusia

HP 22 Tangkal teureup jeung kelewih               Pohon teureup dengan kelewih

éta téh taya bédana                                             tak berbeda

upama kembang jaksi téh                                    apabila diumpamakan dengan bunga jaksi

éta meureun jeung seungitna                              ( bunga itu ) dengan harum

nyaéta téh tara papisah                                           keduanya tak berpisah.

poma Kakang masing timu                                 Kakanda pahami,

Gusti téh reujeung kaula 029. (13)                   Tuhan dengan abdinya.

HP 6. Keberadaan Tuhan dengan abdi – Nya dilambangkan sebagai antara rebung dengan bambu, antara telur dengan ayam, tak terhalang apa pun.

HP 15 Keberadaan Tuhan dengan abdi – Nya dilambangkan seperti kembang dengan harumnya, gula dengan manisnya, kertas dengan putihnya, dan ombak dengan laut, tak terhalang apa pun.

Hp 15 Seperti selongsong dengan keris, Jagat Sagir selongsong dan Keris Jagat Kabir ( Perbandingkan dengan  Tajalli,  Tuhan Memperlihatkan Diri di dalam Jagat Sagir manusia ).

Hp 17. Ada manusia  karena ilmu Tuhan ( Bandingkan Muhamad Hakeki / Nurullah / Sajatining Iman / Sajatining Ilmu ), adanya manusia Kehendak Tuhan, adanya manusia karena Kuasa Tuhan, adanya manusia karena Kuasa Tuhan, Pendengaran ( Tuhan ) Penglihatan ( Tuhan ) dayanya disinarkan kepada manusia.

Manusia tak memiliki daya apa pun ( Laa hawla wala Kuwwata Ila Bilahi Aliyul Adziim ).

Hp 17 keberadaan manusia dengan Tuhan diibaratkan rebung dengan bambu.

Hp 22 keberadaan manusia 105 dengan Tuhan diibaratkan pohon teureup dengan kelewih bunga jaksi dengan harumnya.

Data WBR VIII : Perumpamaan manusia dengan Tuhan sebagai  Raja Arjuna Sastrabau dengan Patih Suwanda tidak melihat keberpisahannya namun dilihat dari kesatuan tugasnya.

Penerapan Hp terhadap WBR VIII  dengan penggantian / substitusi ( substitution ) yakni penggantian lambang.

Data WBR IX : Raja dengan Patih memiliki kesatuan tugas, hubungannya tunggal namun badan berpisah.

Data WBR X : Walau Patih memakai baju kebesaran tetap berbeda dengan raja

Data WBR XI : Tunggal dalam tugas, namun badannya berpisah ( Lihat penjelasan Data WBR VIII ).

Data WBR IX, X , XI  sama maknanya simbolnya. Kedua unsur memiliki hubungan dalam wilayah yang sama, namun setiap unsurnya berbeda yakni antara rebung dengan bambu, antara telur dengan ayam, kembang dengan harumnya, gula dengan manisnya, kertas dengan putihnya, ombak dengan laut, selongsong dengan keris.

Penerapan Hp terhadap WBR ( Lihat data WBR VIII )

Data WBR XII : Hubungan Tuhan dan manusia, jangan sampai dipikirkan ada dua Hp1.

Marukana cara jalma nyieun bakul     Dikiranya seperti membuat bakul

atawana nyieun said                                       atau membuat bakul besar

anu nyieunna ngajentul                                   orang yang membuatnya duduk dengan tekun

anu dijieunna kitu deui                                   yang dibuat begitu pula ( diam )

rayap said jeung boboko                                 bertebaran bakul besar dengan bakul

Padika Allah mah yén lain kitu                     Keberadaan Allah tidak seperti itu106

Hp 9 Saupami kitu mah Allah dua                 Apabila begitu Allah dua

hirup rokrak hirup Gusti                               adanya bilahan bambu ada Tuhan

rakana enggal ngajawab                               Kakaknya segera menjawab

Rai ulah salah harti                                       Dinda janganlah salah paham

urang sotéh ceuk nu hurip                             Kita, ( orang ) yang menghadirkan ( Tuhan ) di hatinya

hurip nyaéta nu disebut hirup                         Hidup itulah yang hidup ( di hatinya )

hirup téh nyatana cahaya                               hidup yaitu cahaya ( Nurullah )

cahaya padang Muhammad Hakéki               cahaya benderang Muhammad Hakeki

( Hp 9 ini dari Hp manunggaling kaula-Gusti )

Hp I. Penciptaan manusia oleh Tuhan jangan dianalogikan dengan manusia yang membuat bakul, yaitu manusia berpisah dengan bakul. Penciptaan manusia oleh Tuhan tidak begitu adanya. Hp 9 raga yang tidak memiliki daya apa pun dari manusia, kemudian dianugrahi oleh inti Kehidupan – Muhamad Hakeki tak boleh dianggap dua. Penerapan Hp dengan WBR dalam hubungan myth concern.

Rangkuman intertekstualitas WBR dengan Hp utama SR dan teks naskah teosofi lainnya seperti tergambar dalam tabel X. Karena teosofi tasawuf berupa konsep, maka teks dicuplik dengan lengkap. Penerapan Hp yang sudah dibahas, tidak dibahas lagi. Tabel X Rangkuman Intertekstualitas Teks WBR dengan Teks Hp No :1 No : Pupuh 2 Teks W B R 3 Episode ke…4 Di dalam Hp SR 5 Di dalam Hp Teks Karya Sastra Tasawuf 6 Fungsi Semiotik 71 I / 19 / 19 I / 21 / 21 Deskripsi ini menceriterakan tentang peribadatan Raja Dasarata :…mrih laku Sampurna Kasampurnaning pati patitis tatas awas tékad Anu Nyata pernah Kamulyan Yang Manon1 – Di dalam WPP Naha Allah teh Akang di mana ayana naha marukana Allah the di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal Di dalam WJU dikir téh Rai masing sidik Adanya konsep Manunggal – ing kawula Gusti pada peribadata 72 nyurupkeun ka Nu Lembut ngadalitkeun cipta jeung ati nunggalkeun salirana jeung Sanghiyang Guru desek rapet Rasa Tunggal dalit rapih Tunggalna kawula Gusti dumawa ka Kamulyaan Keterangan : Makna :  Manunggal – ing kaula – Gusti  ’ Menunggalkan diri antara makhluk dan Khalik ’ dengan cara selalu menghadirkan Tuhan di dalam batin.

Proses Rekonstruksi dengan kana diri Rai pribadina…nganyahokeun sipat Allah…hurip nyaéta nu disebut hirup hirup téh nyatana cahaya cahaya padang Muhammad Hakeki hirup téh nya Rasa Rasulullah ( Menunggal – ing  kawula – Gusti pada WJU dikatakan bahwa Muhamad Ha keki ( di dalam diri ) dihidupkan den gan Rasa Rasulullah ) Di dalam WBW Sing nyaho Allah, Pangéran pisah tunggalna sing puguhéta hiji jadi duan Raja Dasarata mempertajam kemuliaan Sri Rama 73 adaptation ( adaptasi ).

Adaptasi yang dimaksud dalam rekonstruksi ini adalah, penyisipan pemikiran tasawuf, namun karena latar belakang kisah berasal dari Agama Hindu Budha, simbol – simbol tetap dengan menggunakan simbol – simbol lama, diadaptasikan dengan simbol Agama Hindu Budha.

Unsur tasawuf di dalam teks Hp baru merupakan ajaran, unsur tasawuf di dalam WBR berupa proses pengamalan. sing kamanah eta dina badan Rai Di dalam HHM Kuring ngawula ka kurungkurungan pangeusi Kuringkuring sagalana kurang ( Manunggal – ing kawula – Gusti dinyatakan dengan Kuring / Nurullah / Rasa Rasulullah berada pada kurung / raga ) Di dalam WGS Allah jeung Pangeran deui pangandikaning Yang Sukmapoma – poma kudu nyahokana salira Muhamad ( ke -Muhamad – an) éta téh nyatana Allah 74 ( Rasa ke – Nyata – an Allah / Rasa Rasulullah dalam diri manusia ) sabab éta hanteu jauh kawula – Gusti teu beda 2 I / 22 / 22

Deskripsi ini menceriterakan tentang peribadatan Raja Dasarata : henteu pegat mumuja seméding asorkeun tingkah salirana nunggalkeun ciptana baé tansah meleng jero kalbu mamrih Nyata Déwa Nu Asih taya rasa rumasa sampurna panemu Keterangan : 1 – Di dalam WJU naha saha nu kedah tingali lamun urang teu nyaho ka Allah kapan parantos kapegat kapiheulaan ku dalil Laa hawla wala kuwwata téa Ila bilahi aliyul Adzim cenah geuning sundana dalil henteu daya henteu upaya kitu nyasat la hawla kawas rokrak Sama dengan sebelumnya 75 Makna kalimat paling akhir, ( Dasarata ) tak merasa diri memiliki kesempurnaan ilmu

( Ilmu Kesempurnaan dalam menghadirkan Tuhan di dalam batin ) Proses rekonstruksi dengan excerpt ’ ekserp ’ pengintisarian. lebah dinya tacan kaharti bet aya rokrak kudu kawasa ningal saupami kitu mah Allah aya dua…lain sipat nu anyar atawa sipat hawadis anu tiasa awas ningalkana Sipat Hirup téh saleresna mah Anu Gaib ningali ka Sipat Hirup nyaéta Ahadiyat téa anu Dzat Laisa Kamistlih inu disebut teu aya upamana Keterangan : 76 Kesejajaran makna antara teks ini dengan WJU yakni tentang keberadaan fitrah manusia bahwa yang mampu melihat Sipat Hirup ( Rasa Rasulullah ) adalah Allah ya kni Nurullah yang diemanasi Tuhan kepada diri ma nusia, manusia hanya mampu menerima tajjali Tuhan ( Pembukaan tirai batin p ada manusia Yang Dikehendaki ).

Yang menganugrahkan sarana batin ke pada seluruh umat manusia untuk menerima tajjali Tuhan adalah Tuhan karena manusia disifati Laa hawla wala kuwwata, Ila bilahi aliyul Adzim, manusia 77 tidak memiliki daya upaya apa pun, dan Tuhan Dzat Laisa Kamistlihi tak bias diumpamakan oleh apa pun ( transendensi )

3 1 / 30 / 30 Gambaran kemegahan Istana Raja Dasarata di antaranya terselip symbol Islam, sebagai berikut : Aya masjid paragi semédi ditarétés ku inten berlian Saéstu diahéng – ahéng paragi ratu munjung reujeung aya nu hébat deui kakayon dasar emas tangkal katut daun 1  - Pewarnaan Islam 78 kembangna inten berlian diréréka dikuriling maké caikulah tambakan emas

Keterangan : Rekonstruksi WBR dengan modification ( modifikasi ) 4 I / 37 / 37 – I / 38 / 38 Ajakan resi ketika berselamatan : …Mangga urang limaan sami, manteng nyembah mumuja, sing suhud tapakur Nyatakeun di jero cipta, badan urang leungitkeun sing tanpa 1 – Di dalam WPP Naha Allah téh Akang di mana ayanana ha marukana Allah téh di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal sabab mungguhing Pangeran teu aya antarana saeutik Sama dengan sebelumnya 79 jinis ngan Déwa Anu Nyata Junggerengna Sangyang Utipati henteu pisah jeung rasa rumasa kitu hartina wening téh . Art i : Raga dihilangkan dari batin, yang dihadirkan hanya Dzat Sangyang Utipati, yang keberadaanNya di dalam batin

( rasa ). Proses rekonstruksi dengan adaptation ( adaptasi ) jeung manusa téh deu keut pisan tapi teu antel jeung diri lamun anu tacan ngarti enggeus tangtu éta jauhtah éta téh mangga manahan Rasakeun di jero galih Mun geus kapiraos éta téh wujud Allah Arti yang digaris bawahi bahwa, untuk merasakan ada – Nya Allah dengan batin 5 I / 44 / 44 – Deskripsi para putra Dasarata :

putra satriya nu opat 1 – Menempatkan konsep 80I / 49 / 49 geus sesedengna bibinahu nyiar hartinya lajeng ku ramana dipasrahkeun ka sang Maha Resi…supaya dipiwuruk…ilmu badag lembut prawira gagah prakosa tuluy kana ilmu tekad nu pratitis Nitis ka Kalanggengan…” Ayeuna maneh sakabeh geus cukup nya panemu Manunggal – ing kawula Gusti pada tokoh Sri Rama dan saudaranya mempertajam Kemuliaan Sri Rama, sejak muda ia telah 81 pangaweruh lahir jeung batin Eyang geus tatamplok antur geus nyata makbul ayeuna geura marulang didoakeun satingkah manggih Lastari – Harja manggih Kamulyaan Putra opat geus sami marulih…meunang Nugrahaning Dewa geus sampurna putus ilmu Agal Repit Mustikaning Satria Keterangan : Nitis ka Kalanggengan, merasakan kematian memaknai tentang kematian.

82 dalam hidup ( Lihat tengtang Sr i Rama : nyiptakeun mati jr oning hurip ).

Lastari harja, kematian yang sejahtera. Kemuliaan yang diperoleh setelah kematian. Ilmu Agal Repit yakni ilmu tentang Manunggal – ing kaula  – Gusti, ( Lihat pada pembahasan Tasawuf dalam kerangka teori ). Rekonstruksi SR ke WBR melalui modification ( modifikasi )

6 VII / 22 / 335 – VII / 24 / Perkataan Sri Rama kepada Lasmana ketika ia tenggelam dalam kehidupan para resi. Di dalam SR ( Episode I ) ( Lihat pembahasan alur Bab IV ) Di dalam HHM Kuring ngawula ka kurung 83340 Sing kabita ku raos mulyaning pati sabab hirup téa hamo sabaraha deui lilana ti alam dunya Lain cara manggih kamulyaning pati nimat karaos natur langgeng henteu gumingsir dina jaman Indraloka Tapi seunggah ngalawan pa nggoda iblis sétan bedas pisan nungtunna kana balai ngajak sasar patékadan Nrepa Putra Ramawijaya lingna aris, héh Sumitra putra, dulunen kang para resi, yéku tan paé lan sira.

Iya padha tinitah ing Bathara diyéku kang wus mulya, wus teka ing alam aib ( Alam Gaib ? ) réhing sarira bathara Nora nyandang mangan nora walang ati kasengsem ing tingal sangking mantep anetepi kurunganana Sim Kuring Kuring darma dipiwarang Dipiwarang ku KURING kuringna rumingkang kurang kurangna puguh gé kuring Kuring ngawula ka kurung kurungan pangeusi Kuring kuring sagalana kurangk urang da puguh gé kuring Kuring sagala teu kurang sakur nu aya di Kuring Kuring ngalantung di kurung

84 Tapi geuning ari mungguh para resi sétan téh bet taak mun tembong mah tayoh ngacir sabab dibawa perkosa Badan badag diciptakeun pana leungit ngan Alus Nu Ayaciptana geus jadi hiji tunggal jeung Hing Jagat Nata lamun jalma enggeus kitu nya pamilih geus moal karasa aral ria peurih nyeringan wungkul nimat nu aya dénya mrih wekasing pejah Héh tegesé Yayi kang karasa sakit kang angrasa lapa népsu rereged ing jisim, yen mantepa nora pira Wedénana tyasira tan luput pati, pira kéhé iyaing jaman urip nikilawasé jaman pejah Lamun mantep sapa dhenger kaya uwis sumuk ing pawikan panarimanira dadi kurung Kuring eusi Kuring kuring kurang batur kurang Rasa Teu Kurang pada Teu Kurang Batur – batur cara Kuring Keterangan :  kuring manusia yang terdiri dari raga dan batin / Rasa Rasulullahi / Nurullah / Muhammad Hakeki / Inti Hidup / Inti Iman / Inti Ilmu untuk menerima tajalli Tuhan.

Kuring ialah Rasa Rasulullahi.

KURING adalah Aku Tuhan.

5 ( Kata bercetak tebal awal pada ) Keterangan : Perbandingan isi teks WBR dengan Hp SR sama, namun dalam rekonstruksi terdapat modification ( modifikasi ) ( Lihat kata-kata yang bergaris ), SR jiwa mendatangi Alam Gaib teka ing Alam Gaib, di dalam WBR badan kasar diciptakan musnah, yang ada hanya Yang Maha Gaib, Yang Maha Ada.

Cipta ( Rasa Rasulullah ) menunggalkan diri dengan Sang Penguasa Alam.

Penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Ada, di nir lara nikmat gya prapta Kang ang usah ing cipta kang ng rasa sakit, yékang pama mapag kanikmatan bengkas sakit mung mantep ge gama nira Ing tegesé Yayi ing urip puni kuyén ora amrih asalamet sajroning pati yeku séta nunggang gajah

Kuring bersifat kurang, Kuring tak kurang apa pun, KURING Dzat Laisa Kamistlihi tak bisa diumpamakan oleh apa pun. Kuring diperintah oleh KURING berada dalam kuring ( kurungan ) Fungsi semiotik Menempatkan konsep Manunggal -ing kawula – Gusti pada peribadatan Sri Rama untuk menajamkan Kemuliaan Sri Rama 86 dalam WBR tidak saja digubah

dari SR namun juga diperkirakan dari naskah Sunda.

( Lihat HHM ). 7 XV / 18 / 643 – XV / 19 / 654 Deskripsi tentang Sri Rama ketika sampai di puncak Gunung Raksamuka, dalam Episode ke – 4 ( Lihat pembahasan alur Bab IV )

” mun teu meunang pitulung Dewa sihanggur geura mangga cabut nyawa hirup ge sangsara baé teu kuat nandang wuyungsang geus kitu Rama ras éling lajeng béh katingalan deukeut suku gunung Sapa tulung kalangan mamiilang ena walang atining wanglalunén lala lelengé dhuh Gusti pupujan kuaténana dasihrék ikagyat Ramawijaya aningali gunung ing Reksamuka suku nyalangkung pringga tan kena ngambah janmi éwuh gawat kaliwat “

Di dalam WPP Dalam pembahasan kematian :

” Paéh nu teu usik malik mah nyaéta paéh bag – bagan jasmani da teu nyaturkeun paéh kitu paéhna Nu Sajatina éta mah gaib teu katénjo ku batur ngan urang sorangan nu ngarasa paéh bisa usik malik Geuning dina Kuran dalilna 87 éta Gunung Raksamuka leuwih rumpil kandel repet sarta repit cucuk areuy – areuyan Radén Putra ka éwedan galih pipetaeun nanjak ka puncakna tina banget repetna téh tina Karsa Dewa gunggeus clok baé pada narepi teu karasa nanjak najol di puncak gunung ti dinya tuluy mumuja ngening cipta nga nyatakeun Sang Déwasih Ingga han mring satriya kaling pasthining Déwa saestu ken awus munggeng puncak enggéné gandrung – gandrung mangungkung datan pegat muja semédi apasrah ing satita hira Sang Hyang Guru miwah mring suksma kawekaspan sumangga ing molahaken diri lenyeping madya pada Ing nalika prapténg tigang aripane kungira Satriya Ramagenjot kang prabata anggréng Antal maoti koblal maot ukudu diajar maot méméh wapat Kudu diajar wapat saméméh pupustah kitu sundana kudu nyaho paéh saméméh mati…Na

Allah the Akang di mana ayana naha marukana Allah téh di luhur langit kapan kaula – Gusti tunggal sabab mungguhing Pangéranteu aya antarana saeutik 88 nyirnakeun salirana Rama nyiptakeun mati jroning hurip geus teu nyipta daya jeung upaya tumurah cara nu maot salirana menekung tilu poe jeung tilu peuting jadi perbawana génjlong gunung -gunung bumi langit gonjing mobah gelap tarung dibarung jeung kilat tatit surem sang Giwangkara

Keterangan : Rekonstruksi WBR dari SR dengan bayu bajra kumrusuk prakampita anggraning wukir geter pater aliwerana sengara limumut, dhedheté rawa tingaka kalimengan ampak – ampak awor riris, samudra arua rajeung manusa téh deukeut pisan tapi teu antel jeung diri lamun anu tacan ngarti enggeus tangtu éta jauh tah éta téh mangga manahan rasakeun di jero galih anu geus kapiraos téh éta wujud Allah Da néangan anu néangan naha saha anu kapanggih papanggih gé hamo patepang kaula sarawuh Yang Widi lamun terang hayang panggih 89 menyisipkan konsep peribadat ansalik ( ’pencari jalan menuju Allah’) yang menghubungkan diri kepadaTuhan ’ manunggal – ing kaula  – Gusti’

( Lihat kata -kata yang bergaris ).

Pada SR konsep  manunggal – ing kaula  – Gusti  tidak ada. Jadi konsep ini direkonstruksi dari hipogram karya – karya tasawuf Sunda dengan modification ’ modifikasi ’ dan adaptation ’ adaptasi ’.

” rasakeun saha nu lungguhtah ieu saha nu lenggah bet teu aya lian Anu Linggih hamo papanggih nya sabab ieu Nu Lenggah ” Keterangan 8 LXX / 6 / 2376  -  Deskripsi Dewi Sinta sedang memuja seusai mendengar pihak Sri Di dalam SR Lihat Hipogram Nomor 1902381 Rama berada di di dalam kemenangan episode 7 ( Lihat pembahasan alur Bab IV )…

” Éh Déwa Batara Mulya henteu pegat kuring neda nya pangasih Mugi si Rahwanageura sirna keun sakali mamrih rahayuning jagat.” tuluy nyaur ka Trijata ” Hayu Eulis, urang terus muja,” Héh Bathara Dewa Widhi, nunten enggalena, patining Rahwana nulis usuker talutuh ing rat Payo nini aja mendha ing semédi, rahayuning aprang sabalané dén basuki sigra mangsah amumuja Sang Retna yu Trijatha sampun sasaji sasat sarating sarat,amumuja amepe kikumutug apining dua wus matampuh néng ngandhap wentisé kéri wetis kanan anumpang

Fungsi Semiotik : Penyisipan konsep tasawuf yang diterapkan kepada peribadatan Dewi Sinta untuk menggambarkan seluruh anggota keluarga kerajaan menjalankan manunggal – ing kaula  – Gusti selalu menghadirkan Yang Maha Ada di dalam batinnya. Kesalihan seluruh anggota kerajaan mendukung kemuliaan Sri Rama.91

pada neda sihing WidiSri Rama terus unggulnaGeus prak muja Kusumah Putri Mantilibul hurung ngukusna sakur sarat geus tarapti kadaharan pranti muja Campleng cengeng tékadna putri Mantili ngayuh sihing Déwabadanna dicipta leungit ngan nyipta Déwa Nu Nyata Keterangan : lumumah astané kériastané tengen tumumpangJari – jariné sakawan tinekem sami, jejempol kewalakinarya ngadeg pribadi sinipat pucuking grana Sipat pucuking garana adu manislan pucuk jempolan, sarambut nora ngoncati sipating jempolan Mangunéng ing tyas anung winangun ngening, manungsung ing nalamrih kaonang angenani, 92

Dilihat dari proses peribadatan, WBR berbeda dengan SR. Kata – kata bergaris menggambarkan Manunggal – ing kaula -Gusti  ( Lihat mati sajroning hurip ). Rekonstruksi WBR terhadap SR dengan modification ( modifikasi ). Proses peribadatan Dewi Sinta ini memiliki kemiripan dengan data nomor 1, 2, 4, dan 7 yakni  badanna dicipta leungit, ngan Dewa Nu Nyata. sumuka ing Éndraloka Sampun anggané Putri Mantili, pan ningali nétra, mung sacekang mét gilig pucuking grana kewala Kang winawas lan pucuking jempol nulimung osik kewala jroning tyang kang mobat – mabitan jajah ngideri jagat Ah Bathara Otipati Déwa Widhi Nyang Jagat pratingkah tulungana ulun tumuli rusaken talutuh ing rat N No : Teks WBR Epis Di Di dalam Hipogram Teks Karya Sastra  Fungsi Semiotik 93o : 1 Pupuh 23 ode ke…4 dalam Hp SR 5

Tasawuf 679 VXXXVIII / 30 / 2968

Kawas mungguhing manusa,

sing manggih pati sinelir,

mun taya nu mituduhan,

mamrih tékad Nu Sajati,

tangtu samar pangarti

tambuh nyembah ka Déwagung

sumawona rajana

jadi wakil Bataraji,

kudu nanggung lalakon di alam dunya

8 – Penajaman  ajal mulia dengan pewarnaan Manunggal – ing kaula – Gusti 94 LXXXVIII / 31 / 2969

Nya tékad ngandel ka Déwa,

nu ngawasa bumi langit,

réh mungguh nu jadi raja,

mun teu bisa ngeréh nagri,

mangké mun manggih pati,

meunang cangcala sisiku,

singkah ti pati mulya,

laku salahna kabukti,

mun bener mah tangtu keur tapa ngeréhna.

Keterangan : SR hanya 87  pupuh. Bagian akhir merupakan modification ( modifikasi ) 1 LXXX jeung deui pamanggih Kakang,

Di  dalam  WPP Mewarnai tema 950 VIII / 35 / 2973LXXXVIII / 36 / 2974

pada regepkeun ku Yayi,

warna – warna tékad jalma,

nu mikir ngaraning pati,

aya jalma nu mikir,

paraning pati téh kudu,

mulang kana asalna,

nyaéta Wahyu Sajati,

Rasa Mulya nu aya di alam dunya.

Saréh ti dinya bibitna,

pang gelar di alam lahir,

nya ka dinya geusan mulang,

rasana téh pati leuwih,

mungguh Kakang pribadi,

pikiran kitu teu milu,

Marukana cara jalma nyieun bakul

atawana nyieun said

anu nyieunna ngajentul

anu dijieunna kitu deui

rayap said jeung boboko

Padika Allah mah yén lain kitu

mawa diri téh geus moal wegah

da enggeus meunang papagah

ti guru anu geus puguh

datang pati geus moal wegah (171)

Mun urang hayang maripat

kana élmu Anu Rupit,

sing harti kana Dzat jeung Sipat,

dengan Manunggal – ing kaula – Gusti

96 LXXXVIII / 37 / 297

5éta tékad nu sasar,

ngangkeuhkeun teu matak harti,

anu kitu naon pingaraneunana.

Reujeung sajaba ti éta,

aya deui anu mikir

jaga mun ajal ti dunyamo ( w ) al manggih jeung Yang Widi,

sabab Yang Utipati,

jeung awak kami ngagulung, ieu nyatana Déwa,

nya Déwa nya awak kami,

anu kitu burung sasar patékadan.

Éta pamawana sétan,

umangkeuh badan / n / a suci,

Asma Ap’al sing kapipit                                .

upama henteu kapipit

tangtu maripatna luput

ku sabab henteu sakapat

mun sakapat mah kapipit,

mun geus kitu éta ngaranna maripat ( 194 )

Sabab mungguhing Pangéran,

teu aya antarana saeutik

jeung manusa téh deukeut pisan

tapi teu antel jeung diri

lamun anu tacan ngarti

enggeus tangtu éta téh jauh

tah éta mangga manahan,

97 LXXXVIII / 38 / 2976LXXXVIII / 39

ngaku yén manéhna Déwa,

bawaning ku cupet budi,

naha asaeun teuing,

ngaku dalit jeung Yang Agung,

kapan mungguh Déwa mah,

tampa enggon tampa jirim,

Yayi mana nyasama  jeung

nu gumelarAya deui sababatan,

mikir nyatana Yang Widi,

enya éta lain éta,

enya itu tapi lain,

éta nu sasar budi,

timuna wungkul sakitu,

rasakeun di jero galih, ( 195 )

mun geus kapiraos éta téh wujud Allah

Kapan mungguhing nu jadi raja

papisah raja jeung abdi-abdi,

Allah mah séjén deui aturanana

henteu papisah Gusti jeung abdi

ibarat iwung jeung awi

nu disebut Gusti iwung

iwung kénging abdina

nyaéta abdina téh awi

ibarat endog abdina tah hayam  ( 223 )

Mana lebah mana antarana

tina iwung kana awi

sareng endog kana hayam

98 / 2987 LXXXVIII / 40 / 2978

teu nyaho sabenerna,

tékad  Nu Mulya Sahiji

anu kitu lain keur gugueun urang.

Ngan mungguh pikiran Kakang, nurut pamanggih pribadi,

misilna nyatana Déwa

nu aya di jaman lahir

misil hiji narpati,

ngaran Ratu Sasrabau

boga Patih Suwanda

ratu jeung patihna dalit

runtut-réntét

Sasrabau jeung Suwanda Mun ratuna teu séséba,

tah éta téh Gusti jeung abdi

bener aya dua jinis

tapi silih genti karang timbul

aya endog euweuh hayam

aya hayam endog leungit

aya awi iwungna enggeus teu aya ( 224 )

Mun geus ngarti kana éta Élmu Sajati

masing rata rasa

sing waskita

anu pasti lepas haté

mun geus terang ka Nu Saéstu

teu pisah kaula – Gusti

Gusti – kaula nyatana badan sapata

da élmuna geus buntu

99 LXXXVIII / 41 / 2979

patih anu jadi wakil,

mangké dangdan karajaan,

teu témbong yén éta patih,

pamikirna wadyalit,

éta nu témbong téh ratu,

tatapi nu nyaho mah,

tangtu moal bisa pangling,

sabab éta sidik yén Patih Suwanda Najan maké karajaan,

jinisna tangtu kaciri,

ngan teu ngawakilan raja,

leungit sipatna papatih,

ku nu réa kapikir,

sidik yén éta téh ratu,

geus  buntu mah tangtu nyata

anu matak sing yakin ka Nu Sajati

teu lian awak sapata

Ditéangan gé Allah mah hamo kapanggih

matak seunggah najan urang gagah

moal burung teu unggah-enggéh

tungtungna téh jadi teu puguh

salira téh henteu kapanggih

lamun acan meunang papagah

tekadna téh jadi teu puguh

hal nyaéta Anu Lenggah

anu matak Allah téh hamo kapanggih

sababna lian ti Anu Lenggah  274

Da néangan anu néangan

100 LXXXVIII / 42 / 2980 LXXXVIII / 43 / 29841

tapi lamun rajana,

témbong séséban pribadi,

éta patih teu aya dina séséban.

Éta raja jeung patihna,

najan ngumpul teu ngahiji,

lamun misah teu midua,

sabab nu témbong ngan hiji,

mun dipikir ngan hiji,

éta patih éta ratu,

salah kabina – bina,

sabab ratu reujeung patih,

tunggal lampah tatapi badan / n / a misah.

Mun dipikir aya duwa,

naha saha anu kapanggih

papanggih gé hamo patepang

kaula sarawuh Yang Widi.

lamun terang hayang panggih

rasakeun saha Nu Lungguh

tah Ieu saha Nu Lenggah

bet teu aya lian anu linggih,

hamo papanggih nya ieu sabab Nu Lenggah Rasana mah awakna geus beresih

pédah solat Islamna geus absah

padahal acan disosoh

lamun nutu téa mah rusuh

da ngajina kaburu asih

101 LXXXVIII / 44 / 2982

nu jumeneng ngeréh nagri,

éta komo moal pisan,

pangeréhna moal jadi,

saperti hiji nagri,

dieréh ku duwa ratu,

kapan mah sidik pisan,

Suwanda mah ngan papatih,

Sasrabau éta anu jadi raja. (2985)

Keterangan : Deskripsi ini membahas kemenunggalan antara makhluk dan Khalik diumpamakan dengan Raja Arjuna

sasrabau dengan patihnya Suwanda.

Raja dengan patih awakna gé jadi papisah

ka Allah gé kalah ngamusuh

di mana bisana absah

lamun papisah jeung Allah mah hamo

beresih

kabéh gé ibadahna hanteu sah ( 278 )

Di dalam WJ U

Malah – malah Rai aya deui dalilna,

dalil anu kauni deui,

Ruyatullahi  Ta’ala,

fiddhunya  biaenilqolbi,

éta dalil nu kauni,

102 memiliki tugas yang sama yakni memerintah. Keduanya sangat dekat namun raja bukan patih dan patih bukan raja.  Kesejajaran pengertiannya yakni makhluk bukan Khalik dan Khalik bukan makhluk.

Walaupun berlainan makhluk diemanasi kemampuan dari Khalik.

Hipogram secara keseluruhan membicarakan kemenunggalan antara makhluk dan Khalik, pengertiannya memiliki kemirip an namun di dalam hipogram menggunakan simbol – simbol

basa Arabna éta téh kitu,

sundana ningali Allah di dunya

kudu ku Awasna Ati

kitu cenah éta téh Rai pihartoseunanamah ( 43 )

Samalah aya ( deui ) lajengna,

dalilna anu kauni deui,

Ru’yatullahi  Ta’ala,

bil akhiroti kauni,

terusna biaenil ‘Arsi,

Sundana cenah kieu tangtu,

ari ningali ka Allah Ta’ala,

103 berbeda. Rekonstruksi WBR dari hipogram naskah – naskah tasawuf lainnya dengan substitution ( substitusi )

di ahérat mah geus pasti,

nya ku panon ngan teu kalawan  kapiat, ( 44 )

Margi hanteu  adu hareupan,

ku sabab enggeus ngahiji,

kawas kembang jeung seungitna,

kertas jeung bodasna deui,

kawas lambak sareng laut,

tah kitu éta hartina.

Raina ngawalon  manis,

Rebu nuhun Engkang keresa miwe jang.

104 (45)

Saur rakana : Mun tacan ngarti

saé naroskeun ka guru nu utama

ka Guru Mursid nu yaktos

ambéh sampurna ilmu

ulah taklid enggoning milari ilmi

ulah ngandelkeun baé béja

kudu terang masing tangtu

hal sagala papahaman

jadi urang moal asa-asa deui

lantaran kapungkur geus diwurukan ( 316 )

Di dalam  WBW Tentang kematian 105

Sing ngawadahan kurungan

sing jadi kuburan sajati

sarangka manjing curiga

bangkong ngaheumheum liangna

kitu pamilih Rai

jadi dua eta kubur,

jagat itu Jagat urang

Alam Kabir reujeung Sagir

éta Engkang hayang ulah pipisahan ( 96 )

Di dalam HHM

Sapanjang néangan kidul

kalér deui kalér deui

sapanjang néangan wétan

kulon deui kulon deui

106 sapanjang néangan aya

euweuh deui euweuh deui

(  Tina Kinanti Puyuh Ngungkung dina K urung ) ( Rosidi1989: 17 )

Urang dipasihan iwung,

iwung ilmuning sang awi,

iwung kersaning awina,

iwung kawasaning awi,

rungu paningal awina,

iwung andikaning awi.

Awi huripna di iwung,

iwung ilmuna sang awi,

iwung kersaning awina,

iwung kawasaning awi,

107 rungu paningal awina,

iwung andikaning awi.

Urang dipasihan iwung,

ku awi nu maha suci,

lahang dipasihan lahang,

ku kawung nu maha suci,

mayang dipasihan mayang,

ku jambé nu maha suci.

Brung iwung renung ngariung,

kabéh kaulaning awi,

bray ligar nu tadi téa,

sili pisedih piasih,

sili pikahayang rasa,

sili perih sili pambrih.

108 Di dalam WGS

Béda hanteu béda deui

keretas jeung bobodasna

leuwih deukeut Pangéran téh

tinanding jeung beuheung urang

deukeut ka Pangéran

tinanding urang jeung irung 027. ( 11 )

deukeut mungguhing Pangéran

Tangkal teureup jeung kelewih

éta téh taya bédana

upama kembang jaksi téh

éta meureun jeung seungitna

éta téh tara papisah

poma Kakang masing timu

109 Gusti téh reujeung kaula 029. ( 13 )

1103.3.3 Rekonstruksi, Arti, dan  Makna WBR      Rekonstruksi, arti, dan makna dari WBR merupakan rangkaian masalah yang muncul dalam sebuah proses penciptaan kembali kisah Rama dari SR berbahasa Jawa ke dalam WBR berbahasa Sunda yang dipengaruhi oleh individu pengarang, tuntutan zaman, dan ikatan budaya. Rekonstruksi yang akan dibahas, tidak secara menyeluruh namun hanya seputar rekonstruksi dari SR yang menghasilkan teks transformasi WBR meliputi struktur formal penggunaan pupuh, kisah, dan hasil dari pengkajian intertekstualitas.       Setelah diadakan penelusuran asal usul WBR (Lihat Bab II), pengkajian struktur, dan intertekstualitas, WBR jelas merupakan sebuah rekonstruksi dari SR berbahasa Jawa, sebuah kisah perjalanan hidup tokoh Rama, yang berada pada jalur tradisi. Transformasi WBR yang direkonstruksi dari SR berbahasa Jawa tersebut, disajikan dalam bahasa Sunda, dengan kisah yang ”mirip” dan penggunaan pupuh yang ”mirip” (”mirip” dalam arti hampir sama namun terdapat sejumlah perbedaan).     Transformasi kisah Rama dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Sunda dengan hubungan arti antara dua bahasa yang hampir sama, namun tidak bisa dikatakan sebagai terjemahankarena ada kalanya bacaan WBR hampir merupakan terjemahan namun ada kalanya pula dengan kreatifitas penggubah antara lain yaitu penyempitan, pelebaran penyajian (Lihat Lampiran 8, bukti penyempitan dan pelebaran penyajian, bisa dilihat dari jumlah pada pada setiap  runtuyan pupuh,  satu dengan lainnya menampakkan perbedaan) dan  penyisipan. Adapun kisah, dalam teks transformasi – WBR tetap dalam jalur tradisi. Teks – transformasi  - WBR dari SR tidak bisa pula dikelompokkan ke dalam saduran karena kisah masih mengikuti bentuk teks sumber SR dalam penggunaan pupuh yakni dari 111runtuyan pupuh pertama sampai ke-86 sama, selanjutnya SR diakhiri dengan pupuh Mijildan WBR dengan 3 runtuyan pupuh lagi yakni Asmarandana, Sinom, dan Dangdanggula. Perbedaan ini berupa perbedaan redaksional, kisah dalam teks – transformasi  – WBR tetap pada jalur tradisi namun terjadi pelebaran penyajian latar suasana di Ayodya ketika Sri Rama kembali  diperluas dan ditambahkan dengan pemikiran teosofi tasawuf.     Demikian keberadaan teks  - transformasi  - WBR yang bersumber dari SR  dengan mempertahankan secara kuat tradisi kisah Rama. Hasil rekonstrusi SR berbahasa Jawa menjadi teks transformasi berbahasa Sunda ”dipandang dari sudut arti (meaning) adalah suatu rangkaian  informasi yang berurutan (a string of successive information unit); dipandang dari sudut makna (significance), teks merupakan satu kesatuan semantic (one semantic unit)” (Riffaterre, 1978: 3; Pradotokusumo, 1984: 154)       WBR sesuai dengan  bentuk  wawacan  yang tersurat pada judul, merupakan sajian kisah Rama dengan  bahasa yang dikemas dalam struktur formal bentuk pupuh, adapun pupuh seperti telah dibahas sebelumnya tidak saja  dibatasi oleh kebahasaan namun dibatasi  oleh karakter  masing-masing yakni perilaku kisahan dan emosi. Di lain pihakdalam kemasan  pupuh  ini terkandung struktur naratif, narasi  dari  kisah Rama. Dalam tumpang-tindih kedua pelapisan struktur tersebut yakni struktur formal dan struktur naratif terjalin perpaduan yang harmonis  antara keduanya.     Pupuh  terbanyak diduduki oleh Pangkur, Pangkur untuk mengisahkan perjalanan, nafsu, siap sedia mejelang peperangan.  Perilaku ini ditokohi oleh Sri Rama yang mengadakan perjalanan/pengembaraan karena mencegah ayahnya dari cacat budi karena  ingkar janji, nafsu gambaran dari beberapa pihak yang terlibat dalam peperangan, nafsu 112dendam kesumat dari sejumlah raja yang diserang oleh Rahwana antara lain Raja Wisrawana kakak Raja Dasamuka pribadi, nafsu harga diri Rama yang terinjak-injak oleh kejahatan Raja Dasamuka, menculik istri yang sangat dicintainya, nafsu Raja Dasamuka yang berambisi menjadi raja terkuat, nafsu melepas kerakusan terhadap wanita, dan nafsu Pasukan Alengka yang haus peperangan. Pasukan Sri Rama dan Pasukan Raja Dasamuka akhirnya terlibat dalam perang dahsyat.      Tokoh Sri Rama sebenarnya terhindar dari nafsu pribadi, yang mengemuka kemuliaan dirinya sebagai titisan Wisnu, dianugrahi kemuliaan me-ruwat-kan penghuni keindraan yang mendapat kutukan Hiyang Pramesti dan bertugas untuk menyelenggarakan kesejahteraan lahir batin di muka bumi. Ia akan menarik tantangan perang apabila Raja Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta, namun Raja Dasamuka  diliputi oleh keserakahan pemuasan hawa nafsu dunia, tidak surut walau diperingati oleh beberapa orang tokoh berwibawa di dalam keluarga. Kekeraskepalaan Raja Dasamuka harus bersebrangan dengan titisan Wisnu sebagai penyelenggara kesejahteraan dunia dalam kancah peperangan.      Peperangan ini dilihat dari karakter tokoh menjadi dua kelompok hitam putih yang dipisahkan oleh perbedaan moral. Di satu pihak kelompok Raja Dasamuka  tokoh antagonis yang berada di pihak kezaliman di pihak lain kelompok tokoh protagonis Sri Rama yang berdiri di pihak kebenaran yang memiliki kemuliaan budi. Kelompok tokoh yang harus menang adalah penyandang kebenaran. Pengembaraan dan peperangan antara kebenaran dan kezaliman  inilah yang merupakan arti dari kisah WBR. 113       Setelah satu informasi berupa arti dari WBR  diungkapkan, teks harus dibongkar untuk  menguak makna (Pradotokusumo,  1984: 99). Untuk menguak makna terlebih dahulu melihat tentang pendekatan karya sastra, ”di satu pihak terjadi dialektik antara teks dan pembaca, di lain pihak terjadi dialektik antara tataran mimetik dengan tataran semiotik,  fungsi bahasa sebagai alat yang mimetik (mimetic function).  Setelah diungkapkan arti maka sastra harus diungkapkan maknanya (significance) yang oleh Riffaterre disebut  ungramaticalities  yang hanya bisa dipahami dengan kompetensi linguistik (linguistic competence) dan dengan kompetensi kesastraan (literary competence)” (Pradotokusumo, 1984: 99).  Kompetensi kesastraan dalam mengungkapkan makna WBR dengan pendekatan intertekstualitas yakni penelusuran Hp yaitu teks-teks lain yang turut merekonstruksi kisah Rama dari SR ke WBR seperti yangtelah dilakukan.    WBR selain bersumber dari tradisi Rama di dalam SR, dijalin secara halus pemikiranpemikiran teosofi tasawuf. Walau terdapat kejanggalan dalam pandangan masa kini, pada zamannya penyisipan ini bukan merupakan kejanggalan,  namun merupakan bagian dari rangkaian semantik yang memiliki fungsi semiotik terhadap rangkaian kesatuan semantik tersebut,  mengusung  dukungan semiotik ke  dalam teks secara keseluruhan. Adapun untuk mengungkapkan makna ini secara intertekstual dengan menelusuri Hp yang turut serta dalam proses rekonstruksi WBR.     Hp WBR yang ditelusuri sudah disebut dalam Bab II dilihat dari sudut ketegangan keagama-an, yakni sebuah karya mite yang dipoles dengan pemikiran-pemikiran teosofi tasawuf. Unsur teosofi tasawuf bisa turut serta dalam rekonstruksi kisah Rama di dalam 114WBR, karena faktor kesengajaan (Lihat uraian tentang epilog). Apakah RAA Martanagara menerapkan Hp ke dalam kisah Rama WBR dengan membaca langsung teks-teks teosofi tasawuf tidak  ada kepastian secara jelas. Teosofi tasawuf merupakan keyakinan para sufi, pembentukan keyakinan religius bisa dengan membaca teks ajaran secara langsung atau menyerap keyakinan  yang berkembang di sebuah lingkungan.      Dugaan terhadap keduanya  bisa terjadi, pertama di seputar Kabupaten/Kotamadya Bandung dan Sumedang banyak ditemukan naskah-naskah teosofi tasawuf, kedua tasawuf berkembang di lingkungan para bangsawan Bandung (lihat  keterangan sebelumnya), ketiga dalam kehidupannya RAA Martanagara dalam hubungan jabatan sangat dekat dengan sufi besar yang banyak karyanya Haji Hasan Mustapa (Lihat uraian sebelumnya).  Dengan demikian jalan masuknya pemikiran teosofi tasawuf ke dalam WBR bisa melalui teks langsung yang dibaca oleh pengarang, bisa juga melaluikeyakinan yang berkembang di seputar kehidupan pengarang.     Penelusuran Hp WBR seperti sudah dilakukan sebelumnya melalui naskah-naskah yang berisi teks teosofi tasawuf yakni WPP, WJU, WBW, HHM, dan WGS.  Penerapan Hp terhadap WBR melalui ekspansi, konversi, modifikasi, ekserp (keempat konsep ini telah ditemukan dalam penelitian Riffatere dan Pradotokusumo), konsep baru yang ditemukan di dalam WBR yakni adaptasi, spesifikasi, dan substitusi.  Adapun teosofi tasawuf ini di dalam WBR melibatkan tokoh berikut:1. Raja Dasarata dideskripsikan menjalankan peribadatan  manunggal-ing kaula  –Gusti (I/19/19, I/21/21, I/22/22).1152. Resi dalam rangka ritual mengajak Raja Dasarata dengan ketiga prameswari untuk manunggal-ing kaula-Gusti dengan khusu. (I/37/37, I/38/38).3. Para putra Raja Dasarata dideskripsikan memiliki  Ilmu Agal Repit/Ilmu Rahasia/Ilmu Kasampurnaan/Ilmu Sajati ilmu tentang  manunggal-ing kaulaGusti (I/44/44 – I/49/49).4. Sri Rama berdialog  dengan Lasmana untuk penyerahan secara total kepada Tuhan dan melaksanakan  manunggal-ing kaula-Gusti dengan khusu (VII/24/340 – VII/30/346).5. Rama bertafakur melaksanakan  manunggal-ing kaula-Gusti ketika mencapai Gunung Raksamuka (XV/18/853 – XV/19/654).6. Dewi Sinta memuja melaksanakan manunggal-ing kaula-Gusti (LXX/6/2379  -LXX/10/2384)7. Sri Rama mengajarkan ke-manunggal-an kepada Prabu Sugriwa dan Wibisana (LXXXVIII/35/2976 – LXXXVIII/44/2985)     Seluruh anggauta keluarga Sri Rama melaksanakan  manunggal-ing kaula-Gusti, memiliki fungsi semiotik mempertajam kemuliaan tokoh Sri Rama. Sri Rama berusaha menyampaikan keyakinan ini kepada Prabu Sugriwa dan Wibisana,  berperan sebagai titising Wisnu yang tugasnya memelihara kesejahteraan lahir batin di bumi, seperti gelar dirinya Sang Sri Rama Pakuning Bumi. ‘Sang Sri Rama yang menjadi poros (keselamatan/kekuatan) di bumi’.Di lain pihak masuknya pemikiran teosofi tasawuf dilihat dari fungsi semiotik pada seluruh penerapan Hp  ekspansi, konversi, modifikasi, 116ekserp adaptasi, spesifikasi,  dan substitusi. terhadap WBR,  untuk mempertajam dan memperjelas tema – ajal mulia, bagaimana seharusnya peraihan ajal mulia.      Ajal yakni proses kematian yang bersifat ragawi, sebuah proses yang harus dilalui (oleh manusia)  untuk memasuki kehidupan di  Kalanggengan  ‘Alam Keabadian’  Peringatan tentang ajal bertujuan menyadarkan bahwa setelah kematian yang bersifat ragawi akan ada tuntutan kepada manusia di Alam Keabadian. Ajal  erat hubungannya dengan tuntunan agama, masalah agama di dalam WBR terdapat ketegangan antara keIslam-an dengan keagamaan zaman pra-Islam. Zaman pra-Islam  orang sudah menyakini bahwa ada Alam setelah kematian, antara lain dalam naskah Sunda Kuna Sewaka Darma (Pradotokusumo, dkk, 1988).      WBR  mengisahkan tokoh Sri Rama yang lahir zaman pra-Islam,  diwarnai oleh Hp yang bernafaskan Islam, namun penerapannya hanya berupa konsep dari teosofi tasawuf, sedangkan Dzat yang diseru tetap nama-nama yang ada di dalam kepercayaan lama. Adapun  konsep yang diserap oleh WBR dari Hp adalah manunggaling kaula-Gusti. Makna WBR menginti pada satu kalimat berupa matriks, ajal mulia adalah manunggaling kaula-Gusti.      Dalam bahasa yang lebih luas sebagai berikut, meraih  ajal mulia untuk menuju kebahagiaan yang kekal di Alam Keabadian, yaitu dengan jalan menghadirkan selalu Allah di dalam Badan Rohani. Dengan selalu hadirnya Allah di dalam Badan Rohani, akan selalu melakukan perbuatan yang dikehendaki-Nya, dan seluruh perbuatan yang dilakukan raga  dan jiwa didasarkan kepada-Nya. Menjalani kehidupan di alam fana ini dengan  manunggaling kaula-Gusti, baik bahagia, maupun derita diterima dengan rasa 117yang rata/lega sebagaimana dikemukakan oleh HHM bagja cilaka cék saha, untung rugi ngan panuding, mun ieu Kalangkang Rasa tandaning Sirun Ilahi. ‘Bahagia atau musibah kata siapa (kata siapa bahagia, kata siapa musibah, sebab hanya fana), untung dengan rugi hanya sebutan,  kalau Yang Ini (Badan Rohani)  Bayang-Bayang, tanda dari Sirun Ilahi(Rasa Ilahi, Hakikat bukan hanya sifat fana).’ Seperti disebut pula dalam WBR, orang yang menghadirkan selalu Tuhan di dalam dirinya, rasa was-was, khawatir, keluh kesah, tekebur, pedih hati, sakit, musnah yang ada rasa nikmat karena Ada Dia Yang Menghuni Batin, dengan kata lain, tak selayaknya menangis dan berbahagia  secara berlebihan hanya menangisi dan membahagiakan “yang bersifat sementara.”     Adapun  Sri Rama yang tugasnya membangun kesejahteraan lahir batin di bumi, ada kesejajaran dengan Hp sebagai berikut. Manusia diemanasi oleh sifat-sifat Tuhan, yang bertugas untuk menjadi Khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Manusia berkewajiban menyelenggarakan kesejahteraan lahir dan batin di muka bumi. Rama apabila menggunakan kesaktiannya, mampu menghancurkan bumi menjadi awang-uwung (Alam Kegaiban). Manusia dengan segala daya  - yang  - dianugrahkan  - Tuhan, sifat-sifat atau kemampuan yang dianugrahkan Tuhan,  dapat menghancurkan dunianya dan dunia, yang tidak dikehendaki Tuhan Yang Maha Kuasa, itulah kezaliman.      Manusia yang bertindak kezaliman, tidak mengusahakan kebenaran tidak bisa kembali kepada-Nya, sebab Benar sifat Tuhan. Kezaliman, kebohongan, penyimpangan adalah sifat dunia, yang membawa kepada penderitaan. Kezaliman di dalam WBR dibahas,  bisa menang untuk sementara namun kemudian akan hancur. Manusia yang selalu menghadapkan hatinya kepada Yang Maha Benar/ manunggaling kaula  - Gusti, 118kematiannya menyandang  ajal mulia akan kembali kepada-Nya, memperoleh kebahagiaan di Alam Keabadian  yang tiada akhir,  manusia yang tidak menghadapkan hatinya kepada Yang Maha Benar   tidak bisa kembali kepada  kepada Yang Maha Benar.Manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk menghadirkan-Nya di dalam batinnya. Manusia pun memiliki daya kontrol dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang benar yang pemaknaannya disarankan oleh pernyataan bumi langit yang selalu menyaksikan gerak-gerik manusia.     Makna dari kisah ini yakni pengembaraan manusia melalui peperangan jiwa raga untuk memperoleh  ajal mulia dengan   manunggaling kaula  - Gusti dalam meraih Kebahagiaan Kekal di Alam Keabadian.                                               33Ilmu Dakik,  (Ad-Daqiq, jamak dari daqiqah;  kemahiran, kehalusan. Dalam Sufisme menunjukkan    aspek-aspek dari dunia halus, dunia jiwa (Burckhardt, 1984: 160)35Yang dimaksud Guru Mursid (Lihat Pengkajian Teori)36Pada Alam Wahdat diciptakan Muhammad Hakeki (?) (Lihat WJU)37Rasa Mulya sejajar pengertiannya dengan Muhammad Hakeki/Inti Hidup/Inti Iman/Inti Ilmu di dalam batin manusia.38Seolah-olah pengertian Laisa kamistlihi 39Lihat Pengkajian Teori (Lihat pula di dalam WJU)119                                                           BAB IVSIMPULAN DAN SARAN4.1 Simpulan WBR  direkonstruksi dari SR dengan  penyisipan pemikiran keislaman berupateosofi tasawuf  manunggaling kaula-Gusti.  Fungsi  hipogram terhadap WBR yaknimempertajam kemuliaan Sri Rama dan mewarnai ke-Islama-an terhadap kisah. Matriks WBR: Ajal mulia adalah manunggaling kaula-Gusti. Penerapan hipogram di dalam WBR dengan ekspansi, konversi, modifikasi, dan ekserp. Keempat konsep penerapan ini telah ditemukan dalam penelitian Riffatere dan Pradotokusumo.  Konsep yang ditemukan secara khusus dalam penelitian ini yakni, adaptasi, spesifikasi, dan substitusi. Teks dipandang dari sudut arti sebagai satu rangkaian informasi berurutan dapat diungkapkan dari penggunaan pupuh tertinggi yakni Pangkur untuk mengemas pengembaraan dan peperangan, sesuai dengan alur yang memaparkan  pengembaraan Sri Rama dalam pencarian Dewi Sinta, menuju peperangan untuk merebut Dewi Sinta dari Raja Dasamuka, kemudian perang meletus. Peperangan dimenangkan oleh Sri Rama penyandang kebenaran.  Makna WBR sebagai rangkaian semantik yang memiliki kesatuan semiotik, WBR adalah gambaran pengembaraan manusia melalui pengembaraan dan peperangan untuk memperoleh Ajal Mulia dalam rangka meraih Kebahagiaan  Abadi. Adapun 120                                                           peraihan ajal mulia dengan  manunggal-ing kaula  – Gusti,  yaitu dengan jalan selalu menghadirkan Tuhan di dalam batin. WBR termasuk karya sastra mite yang bertujuan penyebaran ajaran tentang budi pekerti dengan pemolesan Islam supaya mendapat sambutan pembaca. Karya sastra mite yang kini hanya diterima sebagai hayalan sebenarnya  terkandung serangkaian  pemikiran, pemikiran ini adalah  nonfiksi yang hadir di wilayah fiksi, hadirnya nonfiksi ini untuk membangun kebolehjadian karya, kebolehjadian tersusun dalam pelapisan logika sepanjang masa sesuai dengan perjalanan kisah, karena setiap sambutan terhadap karya sastra tradisi, individu pengarang dan jiwa zaman selalu turut memberikan ornamen. Pemikiran yang muncul di dalam WBR, pertama logika sebab akibat meliputi peristiwa-peristiwa di dalam lingkungan kehidupan para tokoh, kedua logika humanitas  yaitu pemikiran yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dalam sebuah rentang zaman antara lain kesaktian-kesaktian, ketiga logika terhadap alam semesta, antara lain pemikiran bahwa alam semesta menyatakan keberpihakan kepada kebenaran, keempat logika  mitologi, berupa peristiwa-peristiwa  keajaiban mite, kelima logika falsafi berupa pemikiran-pemikiran tentang kebenaran, dan keenam logika spiritual, berupa pemikiran-pemikiran ke-Agama-an. 4.2 SaranWBR mengandung pemikiran-pemikiran tentang pemerintahan, untuk memberdayakan naskah dari segi fungsi kemasyarakatan seyogyanya WBR diteliti secara interdisipliner antara lain  dari segi Ikmu Pemerintahan.121                                                           DAFTAR  PUSTAKAAbdurachman dkk.  1986.  Naskah Sunda Lama, di Kabupaten Sumedang. Jakarta:           Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Departemen Pendidikan            dan Kebudayaan.Adiwidjaja, RI. 1950.   Kasusastraan Sunda jilid II.  Jakarta-Groningen: J.B. Wolters.Aminuddin.  1990. Pengembangan  Penelitian  Kualitatif  dalam  Bidang Bahasa dan            Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Malang.  (YA3 Malang).    Behrend, T.E. (Ed). 1990.  Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, Jilid I Museum           Sonobudyo Yogyakarta.  Jakarta: Kerjasama Penerbit Jembatan dan Ford            Foundation. Behrend, T. E. &  Titik Pudjiastuti (Ed). 1997.  Katalog Induk Naskah-Naskah          Nusantara, jilid 3 – A,  Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan            Obor Indonesia dan École Française d’ Extrème Orient.Bruinessen, Martin van.  1995.  Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung:          Mizan.Buckhardt, Titus.  1984.  Mengenal  Ajaran Kaum Sufi, diterjemahkan oleh           Azyumardi dan Bachtiar. Jakarta: PT Dunia  Pustaka  Jaya.Cavallaro, Dani.  2001.  Teori Kritis dan Teori Budaya. Diterjemahkan  oleh Laila.          Yogyakarta: Niagara.Chambert-Loir, Henri &  Oman Faturahman.  1997.  Khasanah Naskah. Panduan            Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia           dan École Française d’ Extrème Orient. Culler, Jonathan.  1975. Strukturalism and Linguistic Models (Part One). Great             Britain: Unwin Brothers Limited. The Gresham Press, Old Woking, Surrey,             England. Danasasmita, Saleh., dkk.  1987. Sewaka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian           Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung : Bagian Proyek            Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Darsa, Undang Ahmad., dkk. 1993.  Wawacan Gandasari. Jakarta: Proyek Penelitian             dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.Derrida, Jaques.  2002. Dekonstruksi Spiritual, Merayakan Ragam Wajah Spritual.             Alih Bahasa oleh Firmansyah.Yogyakarta: Jalasutra Yogyakarta.Eagleton,  Terry.  1983 Literary Theory. An Introduction, Oxford – England: Basil             Blackwell Publisher Limited.Eagleton, Terry (Ed)  1985  Modern Literary Theory. Ekadjati, Edi S.  1982.  Cerita Dipati Ukur. Disertasi.  Jakarta: PT. Dunia Pustaka           Jaya.              2004.  Kebangkitan Kembali Orang Sunda. Kasus Paguyuban Pasundan           1913 – 1918. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.              122                                                           Ekadjati, Edi  S.,  dkk.  1987.   Naskah  Sunda,  Inventarisasi  dan  Pendataan.              Bandung:  Lembaga  Penelitian Universitas Padjadjaran  dan  The  Toyota             Foundation.Ekadjati, Edi S. & A Sobana Hardjasaputra. 1987. Bibliografi Jawa Barat.           Studi Pendahuluan. Kerjasama UNPAD & KITLV.Ekadjati, Edi S & Undang Darsa Warsa.  1999. Jawa Barat, Koleksi Lima Lembaga,           Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor            Indonesia dan École Française d’Extrème-Orient.Fathurahman, Oman. 1997. Tanbih Al-Masyi, Menyoal Wahdatul Wujud. Kasus           Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. Kerjasama dengan ÉFEO. Bandung:           Penerbit Mizan. Florida, Nancy K. 1997.  Pada Tembok Kraton ada Pintu: Unsur Santri dalam            Dunia Kepujanggaan “Klasik” di Keraton Surakarta. Di dalam Majalah            Tradisi Tulis Nusantara. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara.Fokkema, D.W.  &   Elrud Kunne – Ibsch.  1997. Teori  Sastra  Abad  Kedua  Puluh,              Edisi Pertama. Seri KDT. Diterjemahkan oleh J Praptadiharja dan Kepler            Silaban. Jakarta : PT.  Ikrar Mandiriabadi. Fowler, Roger.  1977.  Linguistics and The Novel.  New Accents. London: Methuen &            Co.Frued, Sigmund.  2001.  Totem dan Tabu, Alih bahasa oleh Kurniawan Adi Saputro.           New York:  Vintage Books. Yogyakarta: Jendela Grafika.Girardet, Nikolaus., Cs.  1983. Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts         and Printed Books  in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta.         Wiesbaden: Franz Steiner Verlag GMBHHadisucipto, Sudibjo Z. 1983. Caretana Rama,  Alih Aksara.  Jakarta: Proyek           Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Haniah.  (Makalah)  Seminar Tradisi Lisan 14 – 16  Oktober ’99. Hendrayana, Dian.  2001. Lalakon Bingbang. Bandung: Komunitas   Rawayan.Hollub, Robert C.  1989. Reception Theory, A  Critical Introduction, General Editor:            Terence Hawkes, Great Britain: Methuen & Co.Ltd.Ikram,  Achadiati.  1980. Hikayat  Sri  Rama,  Suntingan  dan Naskah,  Disertai              Telaah,  Amanat  dan  Struktur. Disertasi.  Jakarta:  Penerbit  Universitas               Indonesia.Jabrohim, &  Ari Wulandari (Ed). 2000. Metodologi Penelitian Sastra, Edisi Pertama.            Yogyakarta: Hanindita  Graha Widia.  Jauss, Hans Robert.  1955. Aesthetic Experience and Literary Hermeneutics,            diterjemakan ke dalam bahasa  Inggeris oleh Michael Shaw, Minneapolis:             University  of Minnesota Press.       1985.      Toward an Aesthetic of Reception,  diterjemahkan ke dalam bahasa        Inggeris  oleh   Timothy Bahtiintroduction oleh Paul de Man. Minneapolis:       University of Minnesota Press. Kalabadzi, Abu Bakar M. 1995. Ajaran – Ajaran Sufi. Diterjemahkan oleh Nasir           Yusuf, Penyunting: Ahsin Mohamad. Bandung: Penerbit Pustaka123                                                           Kern, H.  1900.   Ramayana Oudjavaansch Heldendicht. Met toegewijd door Karel             Frederik Holle, van het Koninklijk Instituut voor Taal, Land Volkenkunde van             Nederlands Indie  (KITLV)  ‘s Gravenhage, Holland: Martinus Nijhoff.      Koentjaraningrat.  1983  Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT             Gramedia.   Kosoh, dkk.  1979.    Sejarah  Daerah Jawa  Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan              dan Kebudayaan. Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan               Daerah.Kurniawan.  2001.  Semiologi Roland Barthes. Magelang:  Inesia Tera.  Lal, P.  1995.   Ramayana. Diterjemahlan oleh Djokolelono. Jakarta: Dunia Pustaka             Jaya atas bantuan The Toyota  Foundation,   Tokyo – Japan.  Lanus.  2005.  Menafsir Ramayana, dalam Kompas 23 Desember 2005.  Lechte, John.  2000.  50 Filsuf Kontemporer. Dari Strukturalisme sampai            Postmodernitas.  Diterjemahkan oleh A. Gunawan Admiranto. Yogyakarta:            Kanisius.   Lubis,  Nabilah.  1996.  Naskah,  Teks  dan  Metode  Penelitian  Filologi,  Jakarta:            Forum Kajian &  Sastra  Arab Fakultas Adab  Syarif  Hidayatullah.      1995   Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari Menyingkap Intisari Segala Rahasia.           Fakultas sastra Universitas Indonesia dan École FranÇaise           d’Extrème-Orient. Bandung: Mizan.Lubis, Nina Herlina. 1990. Bupati  RAA  Martanegara study Kasus Elite Birokrasi           Pribumi di Kabupaten Bandung 1893 – 1918. Tesis. Yogyakarta: Fakultas           Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada.           1999. a.Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung:            Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.1999. b.Pengaruh Budaya Jawa terhadap Budaya Sunda. Di dalam Bahasa,Susastra, dan Budaya Indonesia, Memasuki Abad XXI. Semarang:  Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.2000.  a. Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda.  Penyunting: Usin S.Artayasa. Bandung: Humaniora Utama Press         2000. b. Historiografi Barat: dari Herodotus hingga James Harvey Robinson.            Bandung: Alqaprint.            2003. Pengajaran Bahasa Sunda dari Masa ke Masa. Artikel dalam Dangiang,            jurnal Kebudayaan Sunda, halaman 27. Bandung: P.T. Kiblat Buku Utama.Martanagara.  1921     Babad Raden Adipati Aria MartanagaraMilner,  Max.  1992  Freud dan Interpretasi  Sastra,  diterjemahkan oleh Apsanti Ds,             Sri Widaningsih, dan  Laksmi.   Jakarta:  Intermasa.Moriyama, Mikihiro. 2001.  Bahaya Purisme Sunda. Tanggerang :  Penerbit           Pamulang .         124                                                                      2005. Semangat Baru. Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda           Abad  ke-19. Diterjemahkan oleh Suryadi, M.A. Penyunting Christina  M.           Udiani. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).  Muhadjir, H. Noeng.  2000.  Metodologi Penelitian Kualitatif.  Yogyakarta: Rake          Sarasin.Nastiti, Titi Surti.  t.t.   Pola Metrum Kakawin Ramayana,  dalam Lembaran Sastra tt.         Noorduyn. 1967.  Traces of An Old Sundanese Ramayana Tradition. Artikel dari  The         XXVII International Congress of Orientalists in Ann Arbor, August 17, 1967.  Norris, Christopher.  2003.  Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida.          Diterjemahkan oleh: Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta:  Penerbit Ar-Ruzz.Nurgiyantoro,  Burhan.  1998.   Teori  Pengkajian  Fiksi.  Yogyakarta:  Gadjah Mada         University  Press.Piaget, Jean. 1995.  Strukturalisme,  diterjemahkan oleh Hermoyo. Jakarta:          Yayasan  Obor  Indonesia.  Pigeaud, Theodore G.TH.  1967.  Literature of Java. Volume I Synopsis of Javanese           Literature 900 – 1900 A.D.  KITLV. The Hague:  Martinus NyhoffPoerbatjaraka,  R.M.Ng. 1952.  Kepustakan Djawi. Djakarta/Amsterdam:        Djambatan.Pradotokusumo, Partini Sardjono.  1984.  Kakawin  Gajah  Mada,  Sebuah Karya         Sastra Kakawin Abad  ke-20   Suntingan Naskah Serta Telaah Struktur, Tokoh         dan Hubungan Antarteks. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.1986. Naskah Sunda Kuna, Transliterasi dan Terjemahan. Bandung:  Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.        1991.  Prinsip Intertekstualitas dan Penerapannya pada Karya Sastra Indonesia        Baru (Modern) dan Lama (Kuna) dalam buku “Ilmu-Ilmu Humaniora”.        Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah  Mada. 2000..Ramayana. Kajian Feminisme. Makalah pada Seminar  Ramayana  di Bali.        Pengkajian Sastra.    2003. Menguak Makna  Teks  dalam  Naskah  Nusantara  (Lama). Disajikan    pada Simposium Internasional Pernaskahan  Nusantara VII di Denpasar – Bali, 28 – 30 Juli 2003.        2005.  Pengkajian Sastra.   Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.  Pradotokusumo, Partini Sardjono., dkk. 1986.   Naskah Sunda Kuna  Transliterasi dan Terjemahan. Bandung:  Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I  Jawa Barat.  Ras, Johannes Jacobus.  1968.  Hikayat Banjar, A study in Malay Historiography,          Proefschrift (Disertasi).  ‘S-Gravenhage:  N.V. De Nederlandsche Boek  en         Drukkerij v/h H.L. Smits.Reynnolds, L.D. & N.G.  Wilson.  1978.  Scribes &  Scholars, London:  Oxford         University Press.      Riffaterre, Michael.  1978.  Semiotics of Poetry. Library of Congress Cataloging in          Publication Data. Bloomington & London: Indiana University Press. Rivkin, Julie &  Michael Ryan (Ed).  1998.   Literary Theory:  An  Anthology.  125                                                                   Massachusetts: Blackwell Publisher Inc.Robson,  S.O.  1978.    Filologi  dan  Sastra-Sastra  Klasik  Indonesia.  Tugu-Bogor:            Proyek  Pengembangan  Bahasa dan Sastra  Indonesia  dan Daerah.        1988.   Principles  of  Indonesian   Philology,   working  Papers  I    (KITLV ).         Doordrecht-Holland/Providence-U.S.A. :  Foris  Publications.1994. Prinsip-Prinsip Filologi. Diterjemahkan oleh Kentjanawati Gunawan.   Jakarta: RulRochaeti, Etti. 1997. Wawacan Batara Kala: Suatu Kajian Filologis. Tesis. Bandung:        Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.Rosidi, Ajip.  1966.    Kesusastran  Sunda  Dewasa  Ini.  Bandung:  Pinda Grafika.1983. Ngalanglang  Kasusastran  Sunda. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.1989. Haji Hasan Mustapa jeung Karya-Karyana. Bandung: Pustaka.Rosidi, Ajip (Ed). 1984.  Carita Badak Pamalang.  Carita Pantun Sunda. Jakarta: ProyekPenerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. .Rusyana, Yus.  1969.  Galuring Sastra  Sunda. Bandung: Gununglarang.Rusyana, Yus &  Ami Raksanagara.  1994. Puisi Guguritan Sunda.  Edisi Pertama.          Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa.  Salmun, M.A.  1958. Kandaga Kasusastran, Edisi Pertama. Bandung-Djakarta:             Ganaco NV.Saputra, Karsono H.  1992.  Pengantar Sekar Macapat.  Depok: Fakultas Sastra – UI.Sartre, Jean Paul.  1999. Psikologi Imajinasi. Diterjemahkan oleh Silvester G. Sukur.           Yogyakarta: Yayasan            Bentang Budaya.Satjadibrata, R. 1930. Rusiah Tembang Sunda.  Sedyawati, Edi. 1981.  Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.Segers, Rien T.  2000.    Evaluasi Teks Sastra. Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Suminto          A Sayuti. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.  Selden,  Raman.  1993  Panduan Pembaca  Teori  Sastra Masa Kini.         Diterjemahkan oleh  Rachmat Djoko Pradopo.  Yogyakarta:         Gadjah Mada University  Press.Semiawan, Conny R.,  dkk.  1998.  Dimensi  Kreatif  Dalam  Filsafat  Ilmu.         Bandung:  PT.  Remaja Rosdakarya.Sim, Stuart.  2000  Derida dan Akhir Sejarah. Diterjemahkan oleh Sigit Djatmiko        Yogyakarta: Penerbit Jendela.         Sindhunata.  1999  Anak Bajang Menggiring Angin. Jakarta: Gramedia          Pustaka Utama. Soeharno, A &  Sri Punagi.  1987. Kajian Astabrata, Pendahuluan  & Teks, jilid I.          Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.Soeratno, Siti Chamamah.  2000. Hikayat Iskandar Zulkarnain, Analisis Resepsi.            Jakarta: Balai Pustaka. Soetomo, W.E. dkk.,  1993. Serat Rama.  Semarang: KANTHIL (Yayasan Studi          Bahasa Jawa)Soewirjo, Budi Adi.  1996.  Kepustakaan Wayang Purwa. Yogyakarta: Yayasan126                                                                     Pustaka Nusatama.Stutterheim, Willem.  1989.  Rama-Legends and Rama-Reliefs in Indonesia. First          Published Wazirpur-Delhi: Ajanta Offset &Packingings Ltd. Madras: Kapur          Graphics Inc. Janpath-New Delhi: Indra Gandhi National.Subadio, Haryati.  2000. Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu.         Artikel dalam  Majalah   Naskah dan Kita. Depok: Fakultas Sastra          Universitas Indonesia.Sudewa, A.  1991.     Serat Panitisastra, Tradisi, Resepsi, dan Transformasi.          Yogyakarta: Dua Wacana University Press.Sudibyoprono, R. Rio.  1991.  Ensiklopedi Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka.    Sudiman, Panuti.  1988.  Memahami  Cerita  Rekaan. Bandung: Tarate.Sugiharto, I. Bambang.   1996.   Postmodernisme, Tantangan bagi Filsafat.         Yogyakarta: Penerbit Kanisius.Suharno, A  &   Sri Punagi.  1996.  Kajian Asthabrata, Pendahuluan dan  Teks. Jilid I         Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,Sujamto.  2000.  Sabda  Pandita Ratu.  Edisi Keenam.Semarang: Effhar & Dahara          Prize.Sunardi D.M.  1993.  Ramayana. Jakarta: Balai Pustaka..Surianingrat, Bayu   1982.    Sajarah  Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu         Dalem Cikundul Cianjur.  Jakarta: Rukun Warga Cianjur.  Suryana, Jajang.  1994.  Wayang Golek Sunda, Kajian Estetika Rupa Tokoh Golek.          Bandung: PT. Kiblat  Buku  Utama.   Sutrisno, Sulastin., dkk (Ed.).  1994.  Bahasa Sastra Budaya. Yogyakarta:           Gadjah Mada University Press.  Teeuw,  A.  1983.    Membaca  dan  Menilai  Sastra.  Jakarta: PT  Gramedia.          1984.       Sastra  dan  Ilmu  Sastra.    Jakarta:   P.T.  Dunia  Pustaka  Jaya.Tim Fakultas Sastra Unpad.  1979. Inventarisasi Penerbitan Buku-Buku Berbahasa            Sunda Yang Dicetak Dengan Huruf Latin. Bandung: Tim Fakultas Sastra         Unpad bekerja sama  dengan  Pemerintah Daerah Tingkat I Propins  Jawa Barat. Vansina, Jan.  1965.  Oral Traditon,  A Study in Historical Methodology,            diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh H M Wright, England:           Penguin Books.Wellek,  Rene &  Austin  Warren. 1989.  Teori  Kesusastraan,  diterjemahkan  oleh:           Melani Budianta dari buku  Theory of Literature, 1977. Jakarta: PT. Gramedia.Wessing, Robert.  t.t.   Sri and Sadana and Sita and Rama, Nijmegen: Katholieke           Universiteit.  Wibisono, Singgih., dkk.  1997.  Wahyu Sri Makutha Rama. Di dalam           Majalah  Cempala  Maret 1997.Wiryamartana, I Kuntara.  1990.  Arjunawiwaha, Transformasi Teks jawa Kuna           Lewat Tanggapan dan  Penciptaan di Lingkungan Sastra Jawa. Disertasi.           Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Wiraatmaja, Apung S. 1996. Kuring jeung Tembang Sunda. Bandung: Citra Mustika.Wojowasito, S.   1976.  Sejarah Kebudayaan Indonesia. Bandung: Shinta Darma.     127                                                           Worsley, P.J.   1972.  Babad Buleleng, A  Balinese Dynastic Genealogy. Koninklijk           Instituut voor Taal-, Land-,  en Volkenkunde. (KITLV). The Haque:           Martinus  Nijhoff.   Zoest,  Aart  van.  1990  Fiksi  dan  Nonfiksi  dalam  Kajian  Semiotik.         Jakarta:  Intermasa. Zoetmulder,  P.J.  1983 Kalangwan. Diterjemahkan  oleh Dick Hartoko.   Jakarta:          Djambatan Daftar Kamus:Badudu & Zain. 1954  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:  Pustaka               Sinar Harapan.     Eringa, F.S.  1984   Sundaas – Nederland Woordenboek.Prawiroatmodjo, S.    1981   Bausastra   Jawa – Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. Purwadarminta, W.J.S.  1985  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN              Balai Pustaka.Rosidi, Ayip., dkk.   2000  Ensiklopedi Sunda. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya  atas               kerja sama dengan The Toyota Foundation, Tokyo dan Yayasan               Kebudayaan Rancagé, Jakarta.Satjadibrata . 1954   Kamus Basa Sunda Djakarta: Perpustakaan                Perguruan Kementrian P.P. dan K.Wojowasito, S.  1977  Kamus  Kawi – Indonesia Bandung: Angkasa Offset.Zoetmulder, P.J.  1982  Old Javanese – English Dictionary Part I – II                 ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Daftar Naskah 1. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli2. Wawacan Tamim Adari3. Wawacan Pulan Palin4. Wawacan Buana Wisesa5. Karya Haji Hasan Mustapa (buku, lihat Daftar Pustaka, Rosidi, Ayip. 1089)6. Wawacan Gandasari7. Wawacan Ganda Sari (buku, lihat Daftar Pustaka, Darsa, Undang Ahmad.,dkk, 1993)8. Wawacan Batara Kala (Tesis, lihat Daftar Pustaka, Rochaeti, Etti. 1997)      9. Kumpulan Rumpaka Tembang Sunda Cianjuran Laras Pelog dan Salendro           oleh Sobirin.      10. Serat Rama (buku, lihat Daftar Pustaka, Soetomo, W.E., dkk.  1993).

http://www.facebook.com/notes/david-riksa-buana/wawacan-batara-rama-kajian-intertekstualitas-oleh-dr-kalsum-mhum-ii/10150559684802760

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s