Tinggalkan komentar

Syiah dan Islam di Indonesia

Syiah dan Islam di Indonesia

Kamis, 05 Januari 2012 | 08:02
Ulil Abshar Abdalla

Berita serangan terhadap pesantren Syiah di Sampang, Madura, pada 29/12/2011 yang lalu mengagetkan banyak kalangan. Sebagian kalangan kaget karena baru sadar bahwa ternyata ada komunitas Syiah di Indonesia. Kalangan lain kaget karena hubungan antara Sunni-Syiah yang sejauh ini baik-baik saja, tiba-tiba mengalami ketegangan. Ada apa?

Ada sebagian kalangan yang kaget karena ternyata dalam Islam ada golongan lain di luar Sunni yang merupakan sekte Islam mayoritas di Indonesia. Kalangan yang terakhir ini mengira bahwa Islam hanya satu saja, sejak zaman Nabi hingga sekarang, tak ada perbedaan atau keragaman apa pun di dalam dirinya.

Mereka punya pandangan yang monolitik tentang Islam, sama dengan kalangan di luar Islam di negeri-negeri Barat – Islam hanyalah satu, dan seragam di seluruh dunia. Pandangan semacam ini jelas ahistoris karena tak sesuai dengan kenyataan sejarah Islam sendiri.

Secara umum, hubungan antara Sunni-Syiah di Indonesia, pada umumnya, sangat baik dan bersahabat. Tak ada ketegangan yang intens antara kedua kelompok itu, sebagaimana kita lihat di negeri-negeri lain seperti, misalnya, Pakistan, Irak, atau Arab Saudi. Ada beberapa penjelasan untuk hal ini.

Penjelasan pertama adalah dari segi numerik. Jumlah pengikut Syiah di Indonesia sangat kecil sekali. Menurut estimasi yang sangat konservatif, ada sekitar 500 ribu pengikut Syiah di Indonesia. Tetapi, menurut kalangan internal Syiah sendiri, jumlahnya mungkin mencapai 2,5 juta pengikut.

Jumlah itu jelas sangat kecil dibandingkan dengan total jumlah umat Islam secara keseluruhan yang sebagian besar, atau malah seluruhnya adalah pengikut sekte Sunni. Karena jumlahnya yang kecil ini, Syiah tak dianggap sebagai “ancaman” oleh kelompok Islam yang lain. Tetapi penjelasan numerik ini tak cukup.

Penjelasan lain adalah dari segi sosial-historis. Sejak awal masuknya Islam ke Indonesia (menurut satu versi, sejak abad ke-7; versi lain, abad ke-11; versi lain lagi, abad ke-13), unsur-unsur Syiah memang sudah melekat dalam corak Islam yang dipraktikkan di Indonesia.

Salah satu sumber yang menjadi asal-usul Islam di Indonesia adalah Persia, negeri tempat Islam versi Syiah berkembang pesat sejak dulu hingga sekarang (Catatan: Apa yang disebut dengan Persia dalam geografi klasik Islam mencakup Iran modern sekarang ini, dan sebagian Irak).

Syiah datang ke Indonesia melalui pedagang dari Gujarat atau Persia, sejak awal masuknya Islam ke Indonesia. Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Aceh (ini adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia), Marah Silu, konon memeluk Islam versi Syiah dan memakai gelar Malikul Saleh.

Karena persebaran Syiah di Indonesia yang sudah berlangsung sejak abad ke-13 ini, tak heran jika beberapa ritual dan tradisi Syiah mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia, bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni.

Salah satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa dirayakan oleh pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husain ibn Ali, cucu Nabi Muhammad. Husein terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680).

Peristiwa ini, di kalangan Syiah, dipandang sebagai momen suci dan menjadi salah satu fondasi penting dalam devosi mereka. Tradisi perayaan 10 Muharam berkembang di beberapa komunitas Islam Indonesia di luar Syiah. Di Bengkulu, misalnya, ada perayaan “tabot tebuang”. Di Pariaman, Sumatera Barat, ada perayaan serupa yang disebut “ritual tabuik”.

Tabot atau tabuik berasal dari kata tabut dalam bahasa Arab. Artinya kotak, atau, dalam konteks perayaan 10 Muharram ini, peti jenazah (casket). Tentu saja, yang dimaksudkan dengan tabot di sini adalah kotak jenazah untuk Husein yang terbunuh dalam Perang Karbala.

Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyebut bahwa salah satu pengaruh tradisi Syiah dalam corak keislaman di Indonesia adalah praktik nyanyian (biasa disebut juga pujian) menjelang salat yang biasa dipraktikkan di kalangan warga nahdliyyin (NU). Nyanyian itu berisi pujian untuk “ahl al-bait” atau  keluarga Nabi, istilah yang sangat populer di kalangan Syiah.

Bunyi nyanyian itu ialah: Li khamsatun uthfi biha, harra al-waba’ al-hathimah, al-Mushthafa wa al-Murtadla, wa ibnahuma wa al-Fathimah. Terjemahannya: Aku memiliki lima “jimat” untuk memadamkan epidemi yang mengancam; mereka adalah al-Musthafa (yakni Nabi Muhammad), al-Murtadla (yakni Ali ibn Abi Talib, menantu dan sepupu Nabi), kedua putra Ali (yakni Hasan dan Husein), dan Fatimah (isteri Ali). Gus Dur menyebut gejala ini sebagai “Syiah kultural” atau pengaruh Syiah dari segi budaya, bukan dari segi akidah.

Baca Bagian II

Karena kuatnya unsur-unsur Syiah dalam corak keislaman di Indonesia inilah, hubungan antara Sunni dan Syiah, sejak dahulu, berlangsung dengan cukup bersahabat. Pada saat Gus Dur memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU), sejak 1984-1999, hubungan antara kalangan NU dan Syiah juga cukup bersahabat.

Bukan rahasia umum lagi, Gus Dur juga memiliki simpati yang cukup mendalam pada Syiah. Bahkan, dalam berbagai kesempatan diskusi publik, tanpa tedeng aling-aling, Gus Dur menyatakan kekagumannya pada tokoh Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini.

Menurut Jalaluddin Rahmat (dikenal dengan sebutan Kang Jalal), salah seorang intelektual Muslim Indonesia yang juga pengikut Syiah, memang akhir-akhir ini muncul gejala ketegangan antara sebagian kelompok Sunni dan Syiah. Kata “sebagian” harus digaris-bawahi, sebab tak seluruh kalangan Sunni di Indonesia mempunyai sikap yang antipati terhadap kalangan Syiah.

Saya masih melihat, sebagian besar kalangan Sunni di Indonesia mempunyai toleransi yang tinggi pada kalangan Syiah. Tetapi, belakangan, muncul beberapa kalangan yang menampakkan antipati terhadap Syiah. Gejala ini bukan saja terjadi di luar, tetapi juga di dalam NU, ormas yang pernah dipimpim Gus Dur dan dikenal moderat, toleran, dan, menurut Gus Dur, dipengaruhi oleh “Syiah kultural” itu.

Sejak kemenangan Revolusi Iran pada 1979, muncul simpati yang besar di kalangan aktivis muda Islam di berbagai kota terhadap Syiah. Figur Ayatullah Khomenini menjadi idola di kalangan aktivis masjid.

Sementara buku-buku tulisan Ali Shariati, pemikir yang konon menjadi salah satu “inspirator” Revolusi Iran, dibaca dengan penuh minat oleh kaum “haraki” atau aktivis Muslim, terutama bukunya yang terkenal, Tugas Cendekiawan Muslim, yang diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Amin Rais, seorang tokoh terkemuka dari Muhammadiyah.

Waktu masih di pesantren dulu, saya membaca buku Shariati itu, dan sangat terkesima dengan ulasan-ulasannya yang sangat “electrifying”, menyetrum. Saya kemudian menulis resensi pendek untuk buku itu dan dimuat di Majalah Pesan yang diterbitkan oleh LP3ES.

Naiknya popularitas Syiah itu membuat khawatir dan was-was negeri yang selama ini menjadi “musuh” bebuyutan Iran, yakni Arab Saudi. Melalui lembaga-lembaga yang selama ini menjadi “proxy” atau kepanjangan tangannya, pihak Saudi Arabia melakukan “operasi” untuk menangkal perkembangan Syiah di Indonesia.

Sejumlah buku yang anti-Syiah diterbitkan, baik karangan sarjana klasik seperti Ibn Taymiyah (1263-1328), atau pengarang modern, seperti Ihsan Ilahi Zahir, seorang propagandis anti-Syiah yang berasal dari Pakistan.

Kelompok-kelompok salafi yang sangat dipengaruhi oleh doktrin Wahabisme dan sekarang juga tumbuh menjamur di beberapa kota, terutama di Jakarta, juga dikenal dengan sikap antipati yang mendalam terhadap kelompok Syiah. Bagi mereka, Syiah dianggap sebagai kelompok yang sudah keluar dari Islam.

Saya tak ingin Indonesia menjadi “medan kurusetra” baru tempat konflik sengit antara Sunni dan Syiah berlangsung, apalagi hingga melibatkan konflik fisik yang berdarah-darah seperti di Pakistan.

Menurut saya, potensi ke arah ini ada, terutama jika kelompok-kelompok “garis keras”, baik di kalangan Sunni sendiri atau di kalangan Syiah, saling berseteru dalam debat akidah yang melelahkan dan sudah pasti tak akan membawa dampak selain permusuhan dan kebencian belaka.

Yang penting dikembangkan dalam kehidupan keagamaan di Indonesia adalah sikap toleran sebagaimana selama ini menjadi watak Islam yang khas Indonesia. Pernyataan MUI Jawa Timur atau Sampang yang menyatakan bahwa Syiah sesat, jelas sangat kurang bijaksana dalam kerangka membangun kehidupan agama yang toleran di negeri kita.

Sikap Menteri Agama Suryadharma Ali, menurut saya, juga kurang positif. Dalam pernyataannya untuk menanggapi kekerasan di Sampang baru-baru ini, ia mengatakan bahwa perkara apakah Syiah itu sesat atau tidak, ia serahkan sepenuhnya kepada keputusan MUI. Ini, secara implisit, menunjukkan bahwa seolah-oleh Menag hendak menarik negara (via MUI) untuk turut campur dan menentukan sesat tidaknya suatu golongan dalam agama tertentu.

Jika kita merujuk kepada konstitusi, kewajiban negara dan pemerintah sangat jelas: memberikan perlindungan yang sama kepada semua golongan. Negara tak memiliki hak apa pun untuk mencampuri wilayah kepercayaan yang dianut oleh warga Indonesia. Soal sesat atau tidaknya suatu kelompok atau sekte, bukanlah wilayah negara, tetapi wilayah keyakinan orang-per orang.

Tentu saja, kita tetap berharap bahwa watak Islam di Indonesia yang toleran dan pluralis dengan fondasi utama dua ormas besar Islam yang ada sekarang –NU dan Muhammadiyah?masih terus bertahan. Gejala “konservatisme” jelas ada dalam dua ormas itu. Tetapi, kita berharap arus yang moderat dan progresif kian menguat di dua ormas itu. Arus inilah yang bisanya mengembangkan sikap-sikap yang terbuka dan toleransi internal seperti selama ini diperlihatkan oleh Gus Dur dan Buya Syafii Maarif.

Islam dengan corak seperti inilah yang kita harapakan akan memberikan sumbangan positif bagi konsolidasi demokrasi di negeri kita di masa depan, dan kukuhnya negara Pancasila yang berwawasan Bhinneka Tunggal Ika di masa depa

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.958 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: