Tinggalkan komentar

Maret, Sadahurip Masuki Tahap

Hasil foto IFSAR di Gunung Sadaurip, Garut (ist)

28/01/2012 12:51 WIB

Maret, Sadahurip Masuki Tahap Pemboran

Politikindonesia – Tim Mitigasi Bencana Katastropik Purba akan melakukan pemboran di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Diharapkan, pengeboran ini dapat mengungkap lebih banyak tentang misteri yang tersimpan dalam gunung yang diduga sebagai man made berbentuk paramida tersebut.

Demikian disampaikan oleh Ir Iwan Sumule, asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang juga anggota Tim Katastropik Purba kepada politikindonesia.com, Sabtu (28/01). Iwan berharap, pemboran ini dapat  menjawab skeptisisme kalangan akademisi arkeologi -purbakala yang meragukan adanya situs man-made di Sadahurip.

Iwan mengatakan, keraguan kalangan arkeologi atas Sadahurip karena tidak pernah diketemukannya artefak-artefak di kaki gunung, kemungkinan bersumber dari pemikiran linear mainstream keilmuan yang berpikir bahwa no-artefak no-sites! Tapi kalau kita terapkan prinsip “no-seep on giant field” bisa jadi, temuan situs Sadahurip nantinya merupakan salah satu dari situs paling terahasia, paling berteknologi tinggi, paling terisolasi, dari yang selama ini diketahui.

Iwan menyebut, dalam prinsip eksplorasi geologi minyakbumi, para praktisi eksplorasi – punya semacam pedoman empiris terkait dengan tanda-tanda permukaan (tanah/laut) adanya migas di bawah permukaan. Apabila banyak ditemukan rembesan migas di permukaan tanah atau air laut berarti memang di bawah sana ada cebakan migas yang oleh karena penutupnya bocor atau perangkapnya tidak kuat menahan (breach) maka keluarlah rembesan migas itu ke permukaan.

Biasanya rembesan-rembesan itu keluar lewat patahan yang membatasi (atau memotong) suatu perangkap migas. Dengan demikian, adanya rembesan migas di permukaan mengindikasikan adanya cebakan migas di bawah permukaan, tetapi cebakannya sudah bocor dan besar kemungkinan cadangannya juga sudah berkurang dari isi asalnya.

Akan tetapi, di daerah-daerah yang jauh dari rembesan dan atau sama sekali tidak punya rembesan migas di permukaan tanah/lautnya, belum tentu sepenuhnya sama sekali tidak ada migas terjebak di bawah permukaan. Alasannya, cebakan migas di bawah permukaan itu begitu besar dan kuatnya (penutup dan perangkapnya) sehingga menghalang-halangi migas untuk merembes keluar ke atas permukaan tanah atau air laut.

Salah satu contoh dalam kasus ini adalah lapangan migas raksasa Badak di Kalimantan Timur. Di lapangan migas itu, persis di bagian atas permukaannya tidak didapati rembesan migas. Tetapi 20 kilometer di sebelah baratnya, dimana lapisan-lapisan reservoir seumuran tersingkap di permukaan Lapangan Semberah, rembesan2 migas keluar dari patahan-patahan pembatas. Cadangan migas Lapangan Semberah jauh lebih kecil dari cadangan migas Lapangan Badak.

Iwan menyatakan, prinsip serupa mungkin saja juga berlaku di dunia arkeologi – sejarah. Kebanyakan memang, di sekitar temuan-temuan candi, atau situs megalit biasanya ditemukan artefak-artefak yang terkait dengan kehidupan / kebudayaan manusia yang berhibungan dengan keberadaan situs tersebut.

Arca2 kecil, alat-alat tukar perdagangan dari logam, terakota, dan sebagainya ditemukan di sekitaran situs-situs Majapahit, Jawa Timur atau situs Istana Tenggarong, Kalimantan Timur.

Juga di sekitar Gunung Padang, dimana ditemukan situs megalitikum, di kampung-kampung sekitar kaki bukitnya banyak diceritakan temuan-temuan artefak seperti alat-alat memasak, membuat api dan sebagainya.

Apakah mungkin temuan situs-situs yang diseklilingnya ada artefak-artefaknya tersebut sebenarnya adalah situs yang  tidak begitu sentral perannya dalam keseluruhan tata budaya pada saat itu sehingga di sekelilingnya diketemukan peninggalan-peninggalan “orang kebanyakan” (gerabah, terakota, alat tukar, bikin api dsb).

Sementara untuk situs-situs yang eksklusif, punya tingkat harga yang lebih tinggi, milik para petinggi, punya derajat kerahasiaan yang tinggi, berteknologi lebih tinggi, malahan sengaja disembunyikan oleh para proponen pembangunnya untuk kepentingan masa datang, jauh dari jangkauan masyarakat kebanyakan?

Apakah prinsip “no-seep on giant field” nya geologi migas itu bisa juga diterapkan di arkeologi?  No-artefak around  giant situs yang berarti meskipun tidak ada ditemukan artefak-artefak kebanyakan disekitaran suatu area yg dicurigai sebagai situs, bukan berarti bahwa di daerah tersebut tidak ada situs.

Akan tetapi malahan, kalau ketemu situs: itu berarti situs tersebut punya harga yang sangat tinggi bahkan di masa kebudayaan lalu. Bisa jadi punya teknologi yang tinggi sedemikian rupa, diisolasikan dari masy kebanyakan, dalam rangka menjaga “secrecy”. (kerahasiaanya).

Iwan menilai, skeptisisme kalangan akademisi arkeologi purbakala yang meragukan adanya situs man-made di Gunung Sadahurip karena tidak pernah diketemukannya artefak-artefak di kaki gunung kemungkinan bersumber dari pemikiran linear mainstream keilmuan yang berpikir bahwa no-artefak no-sites.  Tapi, jika terapkan prinsip “no-seep on giant field” bisa jadi temuan situs Sadahurip nantinya merupakan salah satu dari situs paling terahasia, paling berteknologi tinggi, paling terisolasi, dari yang selama ini diketahui. “Pemboran Maret  nanti, Insyaallah akan menguak sedikit misterinya,” pungkas  Iwan.

(kap/rin/nis)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.972 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: