SADAHURIP, SEBUAH AWAL (Oleh: Erick Rizky, ass stafsus Presiden BSB)
SADAHURIP, SEBUAH AWAL (Oleh: Erick Rizky, ass stafsus Presiden BSB): Dalam pengantarnya u/acara Geotrek ke Sadahurip 28Jan 2012 ahli geologi Indonesia dr BPMigas – Awang Harun Satyana – menuliskan: … “Tiadanya kawah atau sumbat lava seperti ditemukan di kebanyakan gunungapi membuat Sadahurip tidak bisa segera disimpulkan sebagai gunungapi. Keberadaan batuan-batuan volkanik di lereng Sadahurip dapat mengartikan dua hal: ini bukit volkanik atau batu-batu gunung itu justru merupakan jejak tradisi megalitik seperti punden berundak Gunung Padang Cianjur yang dibangun masyarakat prasejarah di lereng-puncak sebuah bukit volkanik” …
Dalam hal ini pak Awang jauh lebih bijaksana, lebih sistimatis dan lebih berpikiran terbuka drpd ahli geologi sebelumnya yg sangat terburu2 menolak interpretasi kemungkinan bahwa Sadahurip adlh bentukan non-alamiah yang serupa piramida yang tertutupi oleh lapisan2 volkanik baik alamiah ataupun disengaja untuk menutupinya. Itupun dilakukan dengan hanya sehari mendaki Gn Sadahurip mengamati dan memotret 4-5 spot singkapan batuan di permukaannya. Paling tidak, dg adanya pendapat Awang tersebut, khasanah berpikir komunitas geosains Indonesia masih menyisakan sedikit tradisi “out-of-the-box thinking” yg sangat dibutuhkan dlm tahapan proses eksplorasi – pencarian dan penemuan sejarah lapisan2 pembentuk bumi dan/atau sumberdaya kebumian khususnya.
Cara berpikir keluar kotak mengandalkan ketajaman intuisi eksplorasi dari pengetahuan yg luas ttg prinsip2 ilmu geologi dasar. Di dlm kasus G. Sadahurip ini, misalnya, perlu diingatkan juga kpd masyarakat kebumian ttg “multiple working hypothesis” yg bisa jadi mendasari penelitian berlanjut ttg bentukan / morfologi gunung yg “aneh” tsb.
1. Dari IFSAR ketelitian 2-meter dapat terlihat dengan jelas anomali bentukan morfologi daerah puncak Gn sadahurip di atas garis kontur tertentu yg terlihat “mulus” tanpa torehan, tanpa jejak erosi sama sekali. Bentukan tanpa jejak erosi itu juga terlihat jelas secara visual dr berbagai sudut pandang dr lereng – dasar Gn Sadahurip, dan saat dibuktikan dg penjelajahan ke daerah tersebut yg kita dapatkan adalah: tumbuhan rumput ilalang dan semak2 di atas penutup “tanah” yg serupa lapukan dari tubuh batuan volkanik. Morfologi seperti itu dimungkinkan berasosiasi dengan: a) batuan trobosan (intrusi) asam – granitik yg berumur tua sehingga mengalami erosi lanjut menyebabkan pembundaran tekstur morfologinya, atau b) batuan volkanik penyumbat (volcanic plug) yg berumur sangat muda sehingga belum sempat untuk ditoreh – dierosi secara ekstensif oleh proses2 eksogen (angin dan air), atau kalau a) dan b) tdk terbukti, maka kemungkinan c) sebab-sebab alamiah maupun non-alamiah lainnya yg akan dpt dibuktikan dg menganalisis perconto batuan secara sistimatik, baik di permukaan maupun bawah permukaan daerah puncak tsb.
2. Bahwa bentukan2 bentang alam geometris produk2 gunung api yg nyaris simetris di beberapa sisi dikenal di khazanah ilmu geologi dengan berbagai nama seperti: cinder cone (kerucut sinder), volcanic plug (sumbat volkanik), parasit crater/volcano (gn api/kawah parasit), volcanic cone slides (longsoran kerucut2 volkanik spt thousand hills di Tasikmalaya), volcanic (cummulo) dome (kubah volkanik) dan juga volcanic intrusion (intrusi volkanik). Masing-masing jenis bentukan tersebut di atas mempunyai karakter asosiasi batuan dan struktur permukaan dan bawah permukaan yg berbeda satu dg lainnya, meskipun ada pula kesamaan2nya. Untuk membuktikan termasuk pada jenis bentukan volkanik spt apa gn. Sadahurip itu maka diperlukan akuisisi data permukaan dan bawah permukaan yg memadai, bukan sekedar sampling permukaan sehari di 4-5 lokasi. Fenomena permukaan seringkali hampir sama antara bentukan satu dg bentukan lainnya, bahkan juga dengan bentukan non-alamiah yg kemungkinan memanfaatkan provenance (sumber batuan) setempat. Untuk itulah maka satu persatu secara sistimatis hipotesa2 ttg mulajadi (genesa) bentukan Gn. Sadahurip yg sangat eksotis simetris itu diuraikan dan diteliti dg menggunakan data2 yg diakuisisi juga secara sistimatik dan ilmiah. Geolistrik superstring (3 dimensi) dg berbagai spacing, GPR dg berbagai frekuensi, Geomagnetic survey, surface sampling, trenching, carbon dating, petrographic analyses, dan juga pemboran adalah metoda2 yang layak dipakai dalam menganalisis bentukan Gn. Sadahurip tersebut.
Seperti yg pernah saya kemukakan dlm berbagai kesempatan diskusi dan tulisannya di media maya, saat ini sudah hampir setahun Tim Katastrofi Purba meneliti gn sadahurip dg dasar “Multiple Working Hypothesis” itu, disamping kesibukan mereka yg juga meneliti daerah2 lain di Indonesia spt Banda Aceh, Lubuk Linggau, Palembang, Pagar ALam, Lampung, Banten, Bekasi – Batujaya, Gn. Padang Cianjur, Trowulan, dan tempat2 lainnya secara sporadis sehingga perkembangannya agak lambat dibanding kalau fokus hanya pada satu objek telitian satu lokasi saja. Hal ini perlu dimaklumi karena keseluruhan peneliti independen tersebut meskipun kebanyakan juga berasal dari Lembaga Penelitian pemerintah dan Perguruan Tinggi, mereka menggunakan sumber dana pribadi dan sumbangan2 yg tdk mengikat dari donor2 sehingga belum dapat secara efisien dan efektif melaksanakan penelitian2nya. Inisiasi oleh Staf Khusus Presiden Bantuan Sosial dan Bencana dalam hal ini dilakukan karena tujuannya yang akan sangat banyak membantu menguak potensi kebencanaan masa lalu untuk dipelajari – sangat klop dg misi dan visi kantor SKP BSB yang ingin mensinergikan dan menstimulasi komponen2 sistim mitigasi kebencanaan nasional untuk bisa saling bekerjasama dan menghasilan manfaat bagi kselamatan masyarakat dan negara dlm konteks kebencanaan.
Insyaallah seusai pemboran Gn. Padang yang sedang berlangsung ini yg juga dikoordinasikan dengan pihak Arkeologi Nasional dan BP3 Serang, Tim BKP akan lanjut ke Trowulan untuk menguji fungsi kanal2 purba pra-Majapahit dg 3 kebudayaan dan 3 penyebab bencananya, kemudian selanjutnya di bulan Maret 2012 akan keGn. Sadahurip untuk melakukan pemboran eksplorasi di sana.
Pengetahuan tentang bencana2 katastrofik purba dan juga tentang tingkat pengetahuan dan teknologi purba menghadapi bencana mudah2an akan bermanfaat bagi keselamatan bangsa Indonesia hidup dengan bencana masa kini dan mendatang..
trowulan
Like · · Unfollow Post · Share
- 1 share
-
-
Mark as Spam
Oman Abdurahman Pengeboran di Gn Padang kabarnya memberikan hasil yg cukup menantang untuk penelitian lebih lanjut. Semoga sj24 minutes ago · Unlike ·
1 -
Oman Abdurahman Kabar baik pak. Dilanjut sj pak selama dalam koridor penelitian. Sangat menarik. Seandainya itu bukan “piramida”, namun morfologi2 atau bentang alam2 yg “aneh” tsb menarik untuk dikaji. Barangkali dapat melahirkan sub disiplin ilmu kebumian yg baru khas Indonesia.19 minutes ago · Unlike ·
1 -
Ahmad Yanuana Samantho Bagus pak Andi Arief Dua dan Kang Danny Hilman, Bagaimana kondisi di lokasi Gn Pandang saat ini.2 seconds ago · Unlike ·
1
-
























http://indonesian.irib.ir/


















kita tunggu hasil resmi tim peneliti, bila terbukti puramid,akan mudah untuk mendapat dana explorasi terutama dari lembaga internasional