1 Komentar

FILOSOFI PERJUANGAN PANGERAN SAMBERNYAWA

FILOSOFI PERJUANGAN PANGERAN SAMBERNYAWA

By Djoko Pranyoto Sri Nugroho · Last edited on Saturday · Edit Doc

Filosofi Perjuangan PANGERAN SAMBERNYAWA.

Dasar utama perju­angan R.M. Said adalah mengenyahkan Belanda dari bumi Ma­taram. Di samping itu adalah usaha untuk menyatukan Mataram dalam satu pemerintahan (Pringgodigdo, 1950: 9). Cita-cita tersebut ditegaskan de Jonge, Het bleek dat .hly het heist zou zien datJava door een vorst bestuurd werd, … (de Jonge, X, 1878: 314). Perjalanan perjuangannya selama 16 tahun melawan Belanda merupakan bukti bahwa R.M. Said merupakan tokoh yang kokoh terhadap prinsip, pantang menyerah, bahkan sampai akhir per­juangannya tidak pemah dapat ditangkap Belanda.

Sebagai keturunan raja-raja Mataram dan dilihat dari sepak terjangnya selama berjuang, secara tidak langsung dapat diketa­hui bahwa dasar perjuangannya, hakikatnya tidak lepas dari konsep kepemimpinan satria Mataram. Barangkali konsep kepe­mimpinan yang disyaratkan hams dikuasai oleh seluruh ketu­runan raja Mataram telah direfleksikan melalui perjuangannya. Konsep kepemimpinan yang harus dikuasai oleh keturunan Ma­taram merupakan wulang-wulang dari Sultan Agungan (Sastra gendhing) atau guidance bagi setiap Satria Trah Mataram. Hal tersebut ditulis dalam 2 tembang Dandanggula yang berbunyi.

Kawignyane Wong- Agung puniki pan sedasa warn yen tan bisa, nistha kuciwa dadine, dhihin karem ing ngelmu, kaping ­kalih bisa angaji ,  ping tiga bisa maca, ping sakawanipun, kudu alul anenurat, kaping lima wig-nya anitih turanggi,  ping neme bisa begsa.

‘Apa yang digolongkan Orang Agung (trah Mataram) itu, haruslah memiliki sepuluh kemampuan dasar, jika tidak ti­dak menguasainya pastilah akan menjadi satria yang nista dan mengecewakan, pertama harus berilmu (senang menun­tut ilmu), kedua dapat membaca Kur’an, ketiga bisa membaca (selain Kur’an), keempat harus pandai menulis (menga­rang), kelima mempunyai ketangkasan naik kuda, keenam pandai menari’.

Ping pitune kudu wruh ing- gendhing, kaping wolu apan kudu bisa, tembung kawi tembang gedhe, ping sanga bisa iku, olah yudha gelaring jurit, wignya angadu bala, ping sadasanipun,limpat pasanging grahita, wruh sasmita traping kramaniti ; wruh saniskareng- basa.

‘Ketujuh harus pandai menghayati (memahami dan memain­kan) gendhing, kedelapan harus mampu dan paham tem­bang gedhe dan kata-kata bahasa Jawa Kuno, kesembilan harus menguasai ilmu dan siasat perang, kesepuluh dia harus tanggap akan perubahan jaman, tahu akan sopan santun, adat, dan tata-krama’.

Jika diamati secara cermat, kesepuluh kriteria kesatria ke­pemimpinan keturunan Mataram di atas, hakikatnya mencakup tiga aspek dasar yaitu (i) agama, (ii) moralitas, dan (iii) budaya. Dalam pengertian ini, setiap trah Mataram harus mampu mema hami dan melaksanakan ketiga aspek di atas. Karena penguasaan ketiga aspek itulah yang akan menentukan kualitas kepemimpin­annya. Untuk melengkapi kualitas kepemimpinan trah Mata­ram, dalam pengantar transliterasi Babad Keraton, J.J. Ras me­nyebutkan bahwa institusi kerajaan Jawa didasarkan atas tiga prinsip yaitu (i) kadig-claya.n (keunggulan militer), (ii) trah (ketu­runan), dan (iii) wahyu keprabon (anugerah status raja yang diberi oleh Tuhan) (BK, trans. Ras, 1992: xvii). Ketiga aspek inilah yang harus dibuktikan oleh setiap trah Mataram jika ingin diakui kualitas kepemimpinannya. Keunggulan militer, misalnya meru­pakan prasyarat utama yang hams dibuktikan dengan cara me­nunjukkan kesanggupan mengalahkan setiap musuh dan dilaku­kan terus-menerus dengan keahlian memainkan senjata. Itulah sebabnya, J.J. Ras mengatakan bahwa terjadinya peperangan dan juga pemberontakan yang banyak dimuat dalam cerita babad, pada hakikatnya adalah upaya para Pangeran atau Adipati trah Mataram untuk mengeksistensikan dirinya. Begitu pula halnya dengan penguasaan dan pemahaman seni budaya. Dalam kon­teks ini, seorang pemimpin trah Mataram tidak hanya sekedar dituntut mampu menguasai, memahami, memainkan, dan men­ciptakan karya seni seperti halnya gending. Lebih jauh dari pengertian tersebut, pemimpin trah Mataram harus menghayati dan merefleksikan esensi dan filosofi seni gending yang dia pa­hami. Sebagaimana ditulis dalam Wewarah Sultan Agungan ba­hwa esensi filosofi gending dapat dilihat dari tiga perspektif yaitu (i) raos kawiraman (rhythmisch g-evoel), yang merefleksi pada rasa runtut, titi, patut, pratitis, tetap, tatag, mantap; (ii) raos kasulistyan (aesthetisch gevoel), yang merefleksi pada rasa ecli, pens; resik, endah, alus, luhur, bening, ‘bagus, bersih, indah, halus, luhur, jernih; dan (iii) raos kasusilan (ethisch gevoel)mere­fleksi pada rasa sua; lebet, santosalejer, gaclah prabawa, man& ri; buclipakarti,” gesang-bebrayan, ‘suci, kedalaman berpikir, sentosa, tegar, kewibawaan, kemandirian, kehalusan budi pekerti, dan kehidupan keluarga clan. berinasyarakat’ (diambil dari Ki Hadjar Dewantara, 1957: 41).

Berdasarkan penjelasan filosofi penguasaan gending di atas, dapat disebutkan bahwa penguasaan dan pemahaman gending,

pada hakikatnya mengarah kepada pembentukan moralitas dan kepribadian (character building)pemimpin trah Mataram. Ka­rena itu, dari penguasaan aspek-aspek kepemimpinan di atas, diharapkan setiap pemimpin trah Mataram mempunyai keseim­bangan antara refleksi keagamaan, kemiliteran, dan moralitas.

Apabila kita menengok aktivitas yang melandasi perjuangan R.M. Said, memang tidak semua kriteria di atas telah dilaksana­kannya secara maksimal. Hal tersebut disebabkan situasi dan kondisi R.M. Said tidak memungkinkan untuk melaksanakannya. Kriteria kepemimpinan yang belum dikerjakan dalam arti secara intens selama perang misalnya, menulis atau mengarang (baik tulisan yang memakai huruf Arab Pegon maupun huruf Jawa), kendati demikian dalam masa peperangan R.M. Said sudah mulai menyalin Kur’an. Sebaliknya, kemampuan dan ketrampilan yang erat kaitannya dengan peperangan telah dibuktikan. Ketangkas­an berkuda, bermain senjata, ketajaman intuisi, kepandaian me­ngatur siasat dan strategi perang, konsep-konsep moralitas, dan hubungan antara g-usti dan abdinya, bahkan kesenian merupakan bagian yang ditonjolkan. Karenanya, dapat disebutkan bahwa apa yang dikerjakan R.M. Said selama berjuang pada dasarnya telah mencakup ketiga komponen tersebut. Dengan kata lain, konsep-konsep kepemimpinan yang dapat dilakukan pada masa perjuangan akan dilakukan sepenuhnya. Sebaliknya, konsep­konsep yang hanya bisa dilakukan dalam masa damai akan di­kerjakan sesuai dengan kondisinya. Karenanya, jika dilihat secara keseluruhan kesepuluh konsep kepemimpinan trah Mataram di atas sebenarnya sudah dijalankan dan merupakan dasar kepe­mimpinan R.M. Said. Konsep ini ternyata semakin disosialisasi­kan pada masa R.M. Said memimpin Mangkunegaran.

Namun filosofi utama yang dipakai sebagai dasar perjuangan R.M. Said adalah konsepsi ajaran Islam. Keyakinan perjuangan yang didasari Islamisme tidak hanya dilakukan dalam konteks syariah, melainkan diletakkan dalam kerangka perjuangan se­cara keseluruhan. Hal ini terlihat secara nyata dalam setiap peri­laku dan dialog antara R.M. Said dengan para wadyabalanyaKeputusan R.M. Said untuk melawan Belanda hakikatnya juga tidak lepas danfilosofi ini. Dalam pandangan R.M. Said, pasukan Belanda tidaklah lebih dari kaum kafir yang hams diperangi dengan cara apapun. Apalagi kaum tersebut mempunyai kekuat­an memecah-belah, menguasai, menghasut tatanan kehidupan kerajaan yang selama itu sudah mapan. Penempatan Belanda sebagai kaum kafir karena dalam peristiwa-peristiwa tertentu tidak jarang Belanda merusak tempat-tempat ibadah umat Islam, misalnya saja pengrusakan terhadap masjid Majasta. Nulya 172,35-

Masjid Ing Majasta, binasmi dening kumpeni, wau ing-kang­ kawarno ,… ‘salah satu yang diceritakan adalah pengrusakan mas­jid Majasta yang dilakukan Kumpeni’ (BL, Sinom, 17: 87). Perilaku Belanda tersebut jelas sama dengan perilaku kaum kafir. Jika Belanda sampai merusak masjid, itu berarti Belanda juga mem­punyai anggapan bahwa masjid adalah salah satu sentra tempat perjuangan umat Islam untuk melawan dirinya. Karenanya, jika R.M. Said menempatkan Belanda sebagai kaum kafir yang harus diperangi dan bukan sebagai sahabat, maka hal tersebut sudah pada tempatnya. Pandangan ini hakikatnya sama dengan pan­dangan Islam sebagaimana dikemukakan dalam kitab Al­Muhalla yang menyatakan bahwa orang Islam tidak halal meng­anggap orang kafir sebagai kawan Rasulullah atau salah seorang Sahabat beliau (Sahal Machfudz, terj., 1987: 566).

Secara hukum, konsepsi penyerangan terhadap orang kafir oleh para ulama dikatakan sebagai fardlu-khifayah (Sahal Mach­fudz, terj. 1987: 261). Yang termasuk kategori ini adalah menye­rang orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Dengan kata lain, mereka yang boleh diperangi adalah orang-orang yang ber­usaha memecah belah Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jelas, yang dilakukan R.M. Said dalam perjuangannya melawan Belanda mengambil konsepsi di atas. Di samping itu, setiap menjelang peperangan disunahkan bagi panglima perang atau wakilnya untuk menanamkan taqwa kepada Allah, atau setiap perang yang dilakukan adalah semata-mata karena Allah, ramah kepada anak buahnya serta memberi petunjuk kepada mereka apa yang perlu dilakukan dalam peperangan, apa yang wajib, apa yang Karam. Hal ini merupakan kesepakatan ulama mujma’ ‘alaih (lihat juga Syarah Muslim 7: 298).

Pandangan dan keyakinan R.M. Said yang meletakkan Be­landa sebagai musuh Islam yang harus diperangi dapat dilihat ketika P. Mangkubumi berontak terhadap Belanda. Pada saat itu R.M. Said mau bergabung dan sepenuhnya bahu-membahu men­dukung perjuangan P. Mangkubumi. Namun ketika P. Mangku­bumi menuruti keinginan Belanda dan kemudian diberi kekuasa­an di Yogyakarta, secara tegas R.M. Said memisahkan diri. Hal tersebut dinyatakan R.M. Said sebagai berikut, Tahun je den sengkalani; ponang Liman (8), Lan Turangga (7) , Angrasa (6) Wani (1), Kangjeng-Pangeran Dlpatya, Arya Amengkunagoro, sampun nekad karsarnipun, pisah lan rama sang nata.

Pada tahun Je 1678J/1752M, ‘Kangjeng Pangeran Arya Amengkun.agoro sudah bertekad bulat untuk berpisah dengan ramanda Sang Raja Ma­taram` (BL, Asmaradana, 50: 248).

Pemisahan tersebut tentunya terpaksa diambil oleh R.M. Said, karena tidak saja P. Mangku­bumi telah mengingkari janjinya sendiri, tetapi yang lebih prinsip adalah P. Mangkubumi mau bekerja sama dengan Belanda demi kepentingannya sendiri. Perilaku tersebut jelas tidak sesuai de­ngan karakter seorang satria, terlebih dilihat dari prinsip per­juangan dan filosofi Islam yang selama itu diyakini kebenarannya oleh R.M. Said. Sebagai seorang muslim, setiap sumpah yang pernah diucapkan wajib ditepati (Sahal Machfudz, 1987: 671). Pengingkaran terhadap prinsip perjuangan tersebut akhirnya mengingatkan R.M. Said akan perilaku P. Mangkubumi terhadap P. Puger sebagaimana laporan utusan P. Puger ketika P. Mangku­bumi berbalik menyerangnya, gusti kula ingutus, mring- pun paman Puger kang nudin-, kang rumiyin katura, salam taklim­pun, lan malih atur uninga, yen ing- mangke Pangraning Mangkubumi  awangsu ing-kang karsa:

Gusti (R.M. Said) kawula di­utus pamanda Panembahan Puger, teriring salam taklim beliau pada Pangeran, selanjutnya kami diperintahkan untuk melapor bahwasanya Pangeran Mangkubumi sekarang telah berbalik pen­diriannya, memerangi Pangeran Puger’ (BL, Asmaradana, 9: 23).

Itulah sebabnya, secara tegas R.M. Said memisahkan diri dari P. Mangkubumi, karena P. Mangkubumi dianggap sebagai pemim­pin yang tidak dapat dipercaya.

Konsekuensi pemisahan tersebut mau tak mau R.M. Said menempatkan P. Mangkubumi sebagai orang yang harus di­perangi. Keputusan ini tidak hanya berlaku untuk P. Mangku­bumi, tetapi juga pada Sunan PB III yang menyetujui kerja sama dengan Belanda.

Walaupun perjanjian yang dibuat Belanda yang terkenal de­ngan Perjanjian Giyanti intinya adalah pemberian kekuasaan, secara tersirat kedua raja tersebut harus mau membantu Belanda memerangi musuh-musuhnya. Di antara musuh-musuh yang dianggap sangat merugikan adalah R.M. Said. Dari sudut pan­dang R.M. Said sendiri, kedua raja yang juga pamannya, karena mau bekerja sama dengan Belanda, maka mereka sebenarnya tidak lebih dari Belanda itu sendiri. Karena itu, mati melawan mereka ditempatkan R.M. Said sebagai seorang pejuang yang mati syahid. Penegasan terhadap pandangan ini dapat dilihat pada bait berikut.

Sawab aku wus anekad tur aderah,

batur kabeh suntari

yen tresna maring wang

mgsun tedha mring Allah,

barenga mati lan mami;

saure _kukila,

sadaya kang prajurit. (BL, Durma, 14: 257)

‘Aku telah bertekad bulat, tidak ada pilihan lain mati atau mukti, kalian prajuritku semua, jika kalian semua cinta kepadaku, marilah kita bersama bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan,

andaikata aku gugur di medan laga, mari kita gugur bersama, gugur di haribaan Allah,

segenap prajurit menyatakan kesanggupannya’.

Kalimat ingsun tedha mring Allah jelas menyiratkan bahwa perjuangan tersebut merupakan perjuangan suci. Perjuangan yang disandarkan sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Jika ia harus mati, maka R.M. Said akan menerimanya dengan ikhlas,

karena menurutnya semua perjuangan yang dilakukan meru­pakan suratan dari Allah. Pasrah dan ikhlas kepada Allah bukan berarti sikap putus asa, karena konsep pasrah dan ikhlas yang dikembangkan adalah dalam pengertian dinamis, yang dilandasi usaha keras dan keyakinan kuat sehingga jauh dari pengertian fatalistik. Konsep seperti ini secara tidak langsung juga menyirat­kan bahwa upaya perjuangan dan landasan kerja tidaklah untuk menonjolkan diri atau mementin.gkan ambisi pribadi, melainkan lebih pada konsep kebersamaan dan kesejahteraan umat yang bersandar pada satu keyakinan yang kuat bahwa semua perju­angan adalah sesuai dengan kebenaran Islam. Hal tersebut seba­gaimana yang selalu ditekankan R.M. Said kepada semua waclya­balanya.

Dya.n Pangeran Adipati Mangkunegara,

Ikhlas .ma.nah kang wening,

tan ana katingal,

nanging- Allah .kang- mulya,

rzganchka Pangran Dipati

prajuritira, wong-jero para mantrL (BL, Durma, 45: 260)

‘Kata Pangeran Adipati kepada para prajurit mantri-lebet, bahwa kalah menang dalam perjuangannya harus didasari hati yang ikhlas, dan kepercayaan penuh, semuanya diserahkan kepada ke­hendak Allah, hanya kepada Allahlah kita menyerahkan diri dan berlin­dung’.

Filosofi seperti inilah yang setiap saat ditanamkan R.M. Said kepada setiap prajuritnya manakala akan menghadapi peperang­an. Baik dalam keadaan terdesak maupun dalam meraih keme­nangan, R.M. Said selalu mengingatkan bahwa perjuangan yang dilakukan hanya semata-mata karena Allah. Karena itu, mati dalam perjuangan yang dilakukan adalah mati membela kebe­naran agama Allah, mati di jalan Allah, mati dalam perang sabil, yang berarti mati syahid.

Artikel lain terkait:

http://www.facebook.com/groups/patrapsambernyawa/docs/

http://albam.multiply.com/journal/item/32/Gunungkidul_Punya_Gunung_Gambar

http://sabdolangit-kisukmaningrat.blogspot.com/2011/03/misteri-samber-nyawa-di-gunung-gambar.html

About these ads

One comment on “FILOSOFI PERJUANGAN PANGERAN SAMBERNYAWA

  1. Lengkap dan akurat Ƴ㪪 Romo Djoko… Rahayu… _/’\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.962 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: