2 Komentar

Jalaluddin Rakhmat: Menuju Agama Madani

Hingga kini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama. Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bagaimana jalan keluarnya?

Kita perlu mengembangkan pemahaman agama madani. Ini bukan agama baru, melainkan pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama dan berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban,” kata Jalaluddin Rakhmat (62), cendekiawan Muslim asal Bandung.

Kang Jalal—demikian sapaan akrabnya—fasih mengulas hal ini. Maklum saja, dia punya pengalaman bergumul dengan persoalan hubungan antaragama, mengkaji berbagai pemikiran keagamaan, berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis sejumlah buku. Dia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan pluralisme lewat sejumlah lembaga keagamaan.

”Pemahaman agama madani paling cocok untuk dikembangkan dalam kehidupan modern dan demokratis, seperti di Indonesia sekarang ini,” katanya ketika ditemui setelah memberikan ceramah keagamaan di Paramadina, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu.

Bagaimana persisnya pemahaman agama madani itu? Kang Jalal mengutip filsuf kelahiran Swiss, Jean Jacques Rousseau, yang hidup pada zaman Revolusi Perancis (abad ke-18 Masehi). Ketika menceritakan gagasan kontrak sosial, Rousseau menyebut la religion civile (agama civil), sebagai pemahaman yang paling cocok bagi kehidupan modern. Ini pengembangan dari dua tipe sebelumnya, yaitu agama yang menyatukan kebangsaan serta agama institusional—sebagaimana dianut banyak orang sekarang.

Berangkat dari tafsir atas pemikiran itu, Kang Jalal mengusung wacana agama madani dan memetakan fenomena pemahaman keislaman di Indonesia. Bagi dia, ada tiga jenis pemahaman Islam: Islam fiqhiy, Islam siyasiy, dan Islam madani. Islam madani merupakan pencapaian akhir dari dua tahapan pemikiran sebelumnya.

Islam fiqhiy memusatkan perhatian pada ajaran fikh yang dipraktikkan sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari ritual. Pemahaman ini umumnya hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain salah. ”Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya saja,” katanya.

Setelah itu berkembang Islam siyasiy atau Islam politik. Menjadikan Islam sebagai kegiatan politik, pemahaman ini memusat pada perjuangan untuk merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau mendirikan khilafah. Keselamatan bukan untuk sekelompok Islam, tetapi untuk seluruh umat Islam, rahmatan lilmuslimin.

Bagi Islam fikhiy, kaum Muslimin mundur karena dianggap meninggalkan Al Quran dan Sunah. Untuk maju, kita mesti kembali berpedoman kepada dua sumber itu. Mereka meyakini bahwa zaman para Nabi dan sahabatnya adalah zaman paling ideal.

Islam politik melihat kemunduran umat Islam akibat dominasi dan konspirasi Barat yang menghancurkan Islam. Mereka mengajak kita kembali merujuk zaman Islam menguasai seluruh dunia, yaitu masa khilafah Ustmaniyah. Itu dianggap zaman ideal yang harus diperjuangkan lagi.

Kedua pemikiran itu mengantarkan kita pada Islam madani. Semua agama bisa bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama.

Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan.

Jika Islam fiqhiy itu berkutat pada urusan fikh dan Islam siyasiy pada politik, Islam madani berpusat pada karakter, akhlak. Tujuannya untuk membangun akhlak yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk.

Perjalanan pribadi

Ketiga pemahaman itu dialami Kang Jalal dalam perjalanan hidupnya. Dia besar dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU) di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat kecil dia ditinggalkan ayahnya pergi ke Sumatera untuk perjuangan Islam. Ayahnya aktif dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang bercorak Islam politik.

Jalal melanjutkan sekolah di Kota Bandung. Dia berkenalan dengan paham PERSIS (Persatuan Islam) yang menurutnya sangat fikhiyah, dan kemudian menjadi kader Muhammadiyah. ”Saya pernah berusaha mengubah masjid NU di kampung menjadi masjid Muhammadiyah. Caranya, dengan menyingkirkan beduk. Ketika mau shalat Jumat, jemaah masjid itu kehilangan beduknya,” katanya mengenang.

Jalal muda lantas bersentuhan dengan kelompok-kelompok yang dulu bergabung dengan Masyumi yang kental warna politiknya. Dari berbagai pelatihan, tumbuh keinginan untuk melanjutkan perjuangan ayah mendirikan sistem politik Islam. Ketika melanjutkan studi S-2 ke Iowa State University, Amerika Serikat, tahun 1980, dia juga terpengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin.

Pulang ke Tanah Air, Jalal menerbitkan buku-buku dari Ikhwanul Muslimin, seperti karya Hasan Al-Banna, tokoh garis keras dari Mesir. Hingga tahun 1990-an dia aktif memperjuangkan syariat Islam, terutama lewat pelatihan di kampus-kampus. ”Saya termasuk penentang asas tunggal Pancasila karena merupakan produk sekuler,” katanya.

Dia pernah berdebat dengan Nurcholish Madjid (almarhum) di ITB. Cak Nur mewakili cendekiawan sekuler propemerintah, sementara Jalal dikelompokkan sebagai fundamentalis antipemerintah. ”Saya sempat dipanggil Bakorstanasda, bagian dari Pangkopkamtib, dan diberhentikan sebagai dosen oleh Dekan Universitas Padjadjaran,” katanya.

Pemahaman keagamaan Kang Jalal bergeser secara perlahan, terutama setelah diundang Cak Nur untuk ikut mengisi acara-acara kajian di Paramadina tahun 1990-an. Dia juga banyak berdiskusi dengan kelompok Islam modernis, seperti Alwi Shihab, Gus Dur, dan Dawam Rahardjo.

Di luar itu, saat mengikuti konferensi internasional di Kolombo, dia bertemu dengan sejumlah ulama Syiah yang membawa perspektif Islam lain yang masuk akal dan sangat pluralistik. Pulang ke Indonesia, dia bawa buku-buku Syiah dan menerbitkannya lewat Mizan.

Salah satunya, buku-buku Ali Syariati yang menempatkan ideologi Islam bukan untuk menegakkan syariat, melainkan untuk menentang kezaliman, penindasan. Pemikir Syiah lain, Murtadha Muthtahhari, punya pandangan pluralis. Bagi dia, Tuhan adil sehingga pasti memberi pahala bagi siapa pun yang berbuat baik, apa pun agamanya. Hukuman diberikan kepada yang berbuat jahat, apa pun agamanya.

”Apakah menolong orang menjadi amal saleh karena pelakunya Muslim, dan menjadi amal salah karena pelakunya orang bukan Islam? Amal itu baik pada dirinya. Semua itu menggugah saya,” katanya.

Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.

Belakangan, dia juga suntuk menekuni tasawuf, jenis keislaman yang dasarnya cinta. Dengan cinta, setiap agama bisa bertemu dan berbicara pada bahasa yang sama, memasuki kebun yang sama, baik itu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Hindu.

Indonesia

Ketiga pemahaman Islam tadi tumbuh di Indonesia. Islam siyasiy tampak bangkit lagi lewat partai-partai politik Islam serta dalam kelompok keagamaan di kampus-kampus umum. Islam fiqhiy juga masih ada meski mulai berkurang. Beberapa organisasi masih bertahan dengan Islam fikh.

Namun, Islam madani juga berkembang. Secara umum masyarakat sudah bertambah pluralis. Keterbukaan lewat internet membuat orang mudah memahami kelompok lain. Itu pengantar efektif untuk mendorong orang menjadi pluralis dalam kehidupan global.

”Ketiga jenis Islam itu bertarung dalam wacana, tapi kadang memercik dalam tindakan kerusuhan. Itu terjadi jika dibakar oleh kelompok kepentingan tertentu,” katanya.

Kang Jalal menilai agama madani sangat pas dikembangkan di Indonesia. Pemahaman ini bisa menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh paham keagamaan. ”Kita bisa tingkatkan toleransi itu dari saling menghakimi, menjadi memahami, dan kemudian saling mengalami. Pada tingkat paling tinggi, kita menikmati kehadiran orang lain dalam kehidupan,” katanya.

Bagaimana pemerintah berperan mengembangkan pluralisme? ”Buat kita, itu anjuran. Buat pemerintah, itu keharusan,” katanya.

Secara moral, pemerintah wajib melindungi kelompok minoritas dengan memberi hak dan peluang yang sama. Pemerintah mestinya bersikap tegas dalam melindungi kelompok-kelompok minoritas.

Pluralisme juga bisa dikembangkan lewat sistem pendidikan. Akhlak atau karakter yang baik, seperti penghargaan kepada orang lain atau sikap empati terhadap sesama, bisa ditanamkan lewat program-program pelatihan di sekolah. Pendidikan paling layak disebut pendidikan karena mengajarkan karakter.

Menurut Jalal, secara keseluruhan negara memang masih lemah. ”State sudah menetapkan sesuatu, katakanlah undang-undang yang melindungi kebebasan beragama, tapi tak jalan di lapangan. Menurut UUD 1945, tak boleh ada satu kelompok agama diserang hanya karena beda mazhab. Tapi, penyerangan itu terjadi,” ujarnya.

Negara lemah karena hukum kita lemah. Hukum lemah karena politik Indonesia itu ditentukan hubungan dan kepentingan kelompok. Pemerintah, kata Kang Jalal, lebih mempertimbangkan kepentingan politik, bukan lagi undang-undang yang membela hak asasi manusia.

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/06/04310528/menuju.agama.madani.

[Persona] Jalaluddin Rakhmat: Menuju Agama Madani.

Profil:

Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rakhmat, lahir di  Bandung, 29 Agustus 1949. Kang Jalal, begitu panggilan populernya dikenal sebagai salah satu tokoh cendikiawan dan mubaligh Islam terkemuka di Indonesia, bersama Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan Cak Nur almarhum (Prof.Dr. Nurcholis Madjid).

Ibunya adalah seorang aktifis Islam di desanya. Ayahnya adalah seorang kiai dan sekaligus lurah desa. Karena kemelut politik Islam pada waktu itu, ayahnya terpaksa meninggalkan Jalal kecil yang masih berusia dua tahun. Ia berpisah dengan ayahnya puluhan tahun sehingga ia hampir tidak mempunyai ikatan emosional dengannya. Menurut teori ateisme, mestinya Jalal menjadi ateis ; tetapi ibunya mengirimkan Jalal ke Madrasah sore hari, membimbingnya membaca kitab kuning malam hari, setelah mengantarkannya ke sekolah dasar pagi hari. Jalal mendapatkan pendidikan agama hanya sampai akhir sekolah dasar.

Dalam suatu wawancara, ia menuturkan : “Saya dilahirkan dalam keluarga Nahdiyyin (orang-orang NU). Kakek saya  punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam perjuangan gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil untuk bergabung bersama para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota Bandung untuk belajar di SMP.”

Karena merasa rendah diri  Jalal menghabiskan masa remajanya di perpustakaan negeri, peningggalan Belanda. Ia tenggelam dalam buku-buku filsafat, yang memaksanya belajar bahasa Belanda. Di situ ia berkenalan dengan para filosof, dan terutama sekali sangat terpengaruh oleh Spinoza dan Nietzsche. Ayahnya juga meninggalkan lemari buku yang dipenuhi oleh kitab-kitab berbahasa Arab. Dari buku-buku (kitab) peninggalan ayahnya itu, ia bertemu dengan Ihya Ulum al-Din-nya al Ghazali. Ia begitu terguncang karenanya sehingga seperti (dan mungkin memang) gila. Ia meninggalkan SMA-nya dan berkelana menjelajah ke beberapa pesantren di Jawa Barat. Pada masa SMA itu pula ia bergabung dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan aktif masuk dalam kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijalul Ghad atau pemimpin masa depan.

Ini pun tidak berlangsung lama. Ia kembali ke SMA-nya. Karena keinginannya untuk mandiri, ia mencari perguruan tinggi yang sekaligus memberikan kesempatan bekerja kepadanya. Ia masuk kuliah Fakultas Publisistik, sekarang Fakultas Ilmu Komunikasi, Unpad Bandung. Pada saat yang sama, ia memasuki pendidikan guru SLP Jurusan Bahasa Inggris. Ia terpaksa meninggalkan kuliahnya, ketika ia menikah dengan santrinya di masjid, Euis Kartini. Setelah berjuang menegakkan keluarganya, ia kembali lagi ke almamaternya.

“Saat yang sama, saya juga bergabung dengan Muhammadiyah, dan dididik di Darul Arqam Muhammadiyah dan pusat pengkaderan Muhammadiyah. Dari latar belakang itu saya sempat kembali ke kampung untuk memberantas bidáh, khurafat dan takhayul. Tapi yang saya berantas adalah perbedaan fiqih antara Muhammadiyah dan fiqih NU orang kampung saya. Misi hidup saya waktu itu saya rumuskan singkat: menegakkan misi Muhammadiyah dengan memuhammadiyahkan  orang lain. Saya membuang beduk dari mesjid di kampung saya, karena itu dianggap bidáh.  Tapi apa yang kemudian terjadi? Saya bertengkar dengan Uwa’ (Paman) saya yang membina pesantren dan dengan penduduk kampung. Sebab ketika semua orang berdiri untuk untuk shalat qabliyah Jumát, saya duduk secara demonstratif. Saya hampir-hampir dipukuli karena membawa fiqih yang baru itu.’’

Dalam posisinya sebagai dosen, ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Iowa State University. Ia mengambil kuliah Komunikasi dan Psikologi. Tetapi ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasannya Ia lulus dengan predikat magna  cum laude. Karena memperoleh 4.0 grade point average , ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi.

Pada tahun 1981, ia kembali ke Indonesia dan menulis buku Psikologi Komunikasi. Ia merancang kurikulum di fakultasnya, memberikan kuliah dalam berbagai disiplin, termasuk Sistem Politik Indonesia. Kuliah-kuliahnya terkenal menarik perhatian para mahasiswa yang diajarnya. Ia pun aktif membina para mahasiswa di berbagai kampus di Bandung. Ia juga memberikan kuliah Etika dan Agama Islam di ITB dan IAIN Bandung, serta mencoba menggabungkan sains dan agama.

Kegiatan ekstrakurikulernya dihabiskan dalam berdakwah dan berkhidmat kepada kaum mustadháfin. Ia membina jamaah di masjid-masjid dan tempat-tempat kumuh gelandangan. Ia terkenal sangat vokal mengkritik kezaliman, baik yang dilakukan oleh elit politik maupun elit agama. Akibatnya ia  sering harus berurusan dengan aparat militer, dan akhirnya dipecat sebagai pegawai negeri. Ia meninggalkan kampusnya dan melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke kota Qum, Iran, untuk belajar Irfan dan filsafat Islam dari para Mullah tradisional, lalu ke Australia untuk mengambil studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional dari para akademisi moderen di ANU. Dari ANU inilah ia meraih gelar Doktornya.

Sekarang, lénfant terrible ini kembali lagi ke kampusnya, Fakultas ilmu Komunikasi, Unpad. Ia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi lainnya dalam Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian, dll. Secara khusus ia pun membina  kuliah Mysticism (Irfan/Tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS)- Paramadina University, yang ia dirikan bersama almarhum Prof.Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Haidar Bagir, dan Dr. Muwahidi sejak tahun 2002.

Di tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah di berbagai kota di Indonesia, ia tetap menjalankan tugas sebagai Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung, sekolah yang yang didirikannya dan kini menjadi sekolah model (Depdiknas) untuk pembinaan akhlak. Sebagai ilmuwan ia menjadi anggota berbagai organisasi professional, nasional dan internasional, serta aktif sebagai nara sumber dalam berbagai seminar dan konferensi. Sebagai mubaligh, ia sibuk mengisi berbagai pengajian. Jamaah yang bergabung dengannya menyebut diri mereka sebagai “laron-laron kecil… menuju misykat pelita cahaya ilahi”. Misykat juga menjadi pusat kajian tasawuf dan sekaligus nama jamaáhnya.

Sebagai aktifis ia membidani dan menjadi Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang kini sudah mempunyai hampir 100 Pengurus Daerah (tingkat kota) di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota sekitar 2,5 juta orang. Ia juga menjadi pendiri Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta bersama Dr. Haidar Bagir dan Umar Shahab,MA.

Keaktifannya sebagai intelektual mengantarkannya untuk menghasilkan puluhan buku dalam berbagai disiplin keilmuan dan tema. Lebih dari 45 buku sudah dia tulis dan diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka. Kini ia mencoba mengembangkan jangkauan pencerahan pemikiran umat dan dakwahnya melalui dunia cyber. Website  The Jalal Center for the Enlightenment (www.jalal-center.com) ini pun menjadi rumah maya kita bersama dan kampus virtual yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru dunia. Dakwahnya pun makin bergaung melalui layanan SMS yang menyajikan ayat Qurán, hadits  dan hikmah lainnya, melalui REG JALAL  (kirim ke 9388). Hasil keuntungan dari layanan dakwah SMS ini didedikasikannya untuk membiayai kegiatan dakwah dan pendidikan yang dikelola para ustadz, madrasah dan pesantren di berbagai peloksok Nusantara, yang dibinanya.

Selain aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, Kang Jalal aktif berdakwah dan berkhidmat kepada kaum mustadháfin. Ia membina jamaah di masjid-masjid dan di tempat-tempat kumuh & gelandangan. Belakangan (3 tahun yang lalu) ia mendirikan sekolah gratis : SMP Plus Muthahhari di Cicalengka Bandung yang dikhususkan untuk siswa miskin. ‘’Obsesi saya yang lain, melihat SMP Muthahhari berdiri di seluruh pelosok  tanah Air sehingga anak-anak miskin tidak terputus aksesnya dari pendidikan. Mereka tidak bayar apapun, namun semua fasilitas disediakan dan mutu pendidikan yang diperolehnya tetap bermutu.’’

Sebagai kepala keluarga, ia sangat bahagia karena dikaruniai lima orang anak dan empat orang cucu. Sebagai hamba Allah, ia masih juga merasa belum sanggup mengsyukuri anugrah-Nya

Dari pengalaman hidup masa remajanya ketika mengalami pubertas beragama, Kang Jalal akhirnya menemukan bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Qurán dan Sunnah. ‘’Artinya kalau orang menentang al-Qurán dan Sunnah, jelas ia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang Al-Qurán dan Sunnah, kita  tidak boleh menyebutnya kafir. Itu hanya perbedaan tafsiran saja.’’ Jelasnya.

‘’Karena itulah kemudian saya berfikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian: kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fiqih saya akan dahulukan akhlak.’’

Belum lama ini, ia –bersama sejumlah tokoh populer, antara lain KH Abdurahman Wahid, Prof.Dr. Quraisy Shihab, hingga Dawam Raharjo – memperoleh atribut sesat lewat sebuah buku berjudul Aliran-aliran Sesat. ‘’Saya anggap saja numpang beken. Karena ngak cuma saya yang dicap sesat, tapi juga Gus Dur dan dan Ustadz Quraisy Shihab,’’ kelakarnya. Cap sesat acap dilekatkan padanya mungkin karena karena kedekatannya dengan komunitas agama lain. Ia tidak saja begitu toleran kepada Ahmadiyah yang dianggap sesat oleh MUI, tapi juga dengan umat lain. Cendikiawan yang belakangan dipanggil kiai ini sering juga diminta berbicara di gereja dan forum-forum umat Kristiani. ‘’Banyak berinteraksi dengan umat agama lain justru membuat keimanan saya menjadi lebih kuat, ‘’ dakunya.

‘’Dan ‘’ lanjutnya, ‘’Tuhan menciptakan berbagai agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua : seberapa banyak kita memberikan konstribusi kebaikan kepada umat manusia. Kepada Tuhanlah semua agama itu kembali, maka kita tidak boleh mengambil ali kewenangan Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apapun, termasuk dengan fatwa.’’

Refleksi dan perjalanan hidupnya itu mengilhami Kang Jalal untuk membangun jembatan ukhuwah sesama Muslim,  apapun mazhabnya. Meski sejak awal berdiri Yayasan dan SMU Muthahhari dicurigai sebagai pelopor gerakan Syiah di Indonesia, kurikulumnya justru justru mengajarkan pemikiran seluruh mazhab dan menjadi pelopor pembaharuan metode pendidikan-pengajaran di Indonesia. ‘’Saya tidak mengajak orang masuk Syiah. Di sini kami mengajarkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan di antara berbagai mazhab’’, jelasnya suatu ketika. Bahkan Pluralisme menjadi isue yang kini kerap digaunkannya. Pluralisme versi Kang Jalal menghormati dan mengapresiasi perbedaan dan tidak memaksakan pemahaman dan penafsiran kita tentang keselamatan dan kebenaran kepada pihak lain. Ia ingin menampilkan wajah Islam yang benar-benar Rahmatan lil Álamin. Islam apa adanya yang rasional-progresif (moderen) namun tidak meninggalkan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Pendekatannya terhadap Islam yang moderat, yang mengharmoniskan aktifitas dan metode pendekatan ‘fikir. dan ‘zikir’ secara proporsional, mendayung di antara dua karang ekstrimitas: Liberalisme dan Fundamentalisme Literal.[]

SISI LAIN  DARI KANG JALAL

Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat adalah nama yang identik dengan perkembangan tasawuf kota (urban sufism). Bahkan, bisa dibilang dialah yang merintis kajian-kajian tasawuf dengan kelompok sasaran masyarakat kelas menengah perkotaan, yaitu kalangan pengusaha, pejabat, politisi, selebriti, dan kalangan profesional dari berbagai bidang yang rata-rata berpendidikan baik (well educated). Hal ini bisa dilihat ketika pria yang akrab disapa Kang Jalal itu mendirikan dan Pusat Kajian Tasawuf (PKT):  Tazkia Sejati, OASE-Bayt Aqila, Islamic College for Advanced Studies (ICAS-Paramadina), Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta, PKT Misykat di Bandung. Di lembaga-lembaga inilah putra Kiai Haji Rakhmat dan ahli komunikasi lulusan Iowa State University, AS, ini secara intensif menyampaikan pengajian atau kuliah-kuliah tasawufnya kepada masyarakat urban yang dahaga akan siraman ruhani Islam.

Bekal pendidikannya yang diperoleh di negara-negara maju—setelah meraih masternya di Amerika Serikat, ia juga memperoleh gelar doktor dari Australian National University—menjadikan Kang Jalal cukup paham idiom-idiom masyarakat kelas menengah perkotaan dan memahami model dakwah Islam seperti apa yang mereka inginkan. Itulah sebabnya dakwahnya mudah diterima oleh audiensnya yang kebanyakan orang-orang terdidik dengan kehidupan ekonomi yang baik itu.

Sejak kecil, Kang Jalal sebenarnya bercita-cita menjadi pilot, bukan juru dakwah. Meskipun demikian, Jalal kecil sudah akrab dengan kehidupan bernuansa agamis dalam keluarga, meski sekolah formalnya sendiri bukan sekolah Islam. Jalal kecil memulai pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar (SD) di kampungnya. Lalu ia meninggalkan kampung halamannya guna melanjutkan sekolah di SMP Muslimin III Bandung. Jalal terbilang murid yang cerdas, buktinya sejak kelas satu SMP sampai tamat, ia selalu menjadi juara kelas. Itulah sebabnya ia hanya dibebani biaya sekolah satu kuartal saja, selebihnya beasiswa. Lulus SMP, Jalal melanjutkan ke SMA II Bandung. Kemudian dengan bekal ijazah SMA ia melanjutkan studinya di Fakultas Publisistik Universitas Padjajaran (UNPAD) yang sekarang berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi.

Menurut pengakuannya, kuliah di Fakultas Publisistik itu hanya kebetulan. Karena desakan ekonomi, ia kuliah di Fakultas Publisistik yang belajarnya sore, sehingga pagi hari ia masih bisa mencari tambahan biaya hidup. Maklum sejak kecil ia sudah ditinggal wafat oleh ayahnya. Untuk tetap membekali Jalal dengan pendidikan agama sepeninggal ayahnya, ibunda Kang Jalal menitipkannya kepada kiai Sidik, seorang kiai NU. Dari kiai Sidik inilah Jalal diperkenalkan dengan Ilmu Nahwu (gramatika) dari kitab Jurumiyah dan Sharaf (ilmu yang membahas perubahan kata dalam bahasa Arab). Menurut Kang Jalal, penguasaan literatur dan kemampuan bahasa Arabnya Kiai Sidik sangat fasih. Kiai Sidiklah yang berjasa membimbing Kang Jalal mengenal dan memahami beberapa bab dari kitab Alfiah Ibnu Malik.

Ketika memasuki usia remaja, Jalal membaca kitab I hyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, karya besar Imam al-Ghazali. Buku itu telah menggoncangkan jiwanya, kemudian mengubah cara pandangnya tentang dunia. “Saya merasa dunia ini terlalu banyak dilumuri dosa,” ujarnya. Oleh karenanya kehidupan dunia harus ditinggalkan. Setelah mengalami goncangan itu Jalal nekad meninggalkan sekolah dan pergi ke pesantren. Tapi pihak pesantren ternyata merasa keberatan menerima Jalal sebagai santrinya. Bukan karena ia hanya membawa beberapa liter beras, tapi karena ia hanya datang sendiri tanpa diantar oleh orang tua. Setelah peristiwa itu ia pun melanjutkan kembali sekolahnya hingga tamat.

Materi dakwah yang dibawakan Jalal muda dengan pemahaman Islam yang lebih rasional, membumi dan lebih membela orang-orang lemah baik dari sisi ekonomi, pendidikan, politik (kaum mustadl‘afîn) mengundang kontroversi. Bagi kaum muda, da’i model Kang Jalal memang cocok dengan semangat mereka. Sementara bagi kalangan tua dan mereka yang lebih senior dalam jenjang keulamaan, kehadiran Jalal kurang disukai. Sebagai kelanjutan ketidaksukaan itu Jalal dicap sebagai agen Syiah dan dianggap meresahkan masyarakat. Maka pada 1985 ia pun “diadili” oleh Majelis Ulama Kotamadya Bandung dengan “hukuman” dilarang berceramah di kota kota Bandung.

Larangan ceramah yang dikeluarkan oleh MUI kota Bandung tidak menghentikan langkah Kang Jalal untuk tetap berdakwah. Meskipun kali ini dakwahnya lebih banyak pada dakwah dengan tulisan. Karena ketika ada larangan ceramah, Kang Jalal lebih banyak waktu untuk menulis artikel dan buku. Tak lama kemudian, undangan untuk ceramah pun datang dari Yayasan Paramadina milik Dr. Nurcholish Madjid di Jakarta. Jalal diminta untuk menjadi salah satu pengisi materi pada pengajian rutin yang diselenggarakan oleh Yayasan tersebut. Dan sejak itu Jalal malah laris ceramah di luar Bandung, dan ia pun memiliki akses dan reputasi nasional dan internasional

Masih di bidang dakwah, Pada 3 Oktober 1988 bersama-sama Haidar Baqir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, Kang Jalal mendirikan Yayasan Muthahari. Salah satu tujuan dari didirikannya yayasan ini adalah menumbuhkan kesadaran Islami melalui gerakan dakwah yang direncanakan secara professional berbekal ilmu pengetahuan moderen dan khazanah keilmuan Islam tradisional. Sukses di Bandung, Kang Jalal merambah Jakarta. Dengan dukungan dana dan fasilitas dari keluarga H. Sudharmono mantan wakil presiden semasa Orde Baru, Kang Jalal mendirikan pusat kajian tasawuf dengan nama Yayasan Tazkiya Sejati. Lalu pada 2004 Kang Jalal juga mendirikan dan memimpin satu forum lagi yang khusus bergerak di bidang kajian tasawuf, yaitu Kajian Kang Jalal (KKJ) yang bermarkas di Gedung Bidakara, Jakarta. Berikutnya, tahun 2003 bersama Cak Nur dan Haidar Bagir ia mendirikan ICAS-Paramadina, bersama Haidar Bagir dan Umar Shahab ia mendirikan Islamic Cultural Center (ICC), sejak tahun 2004 ia membina LSM OASE dan Bayt Aqila dan terakhir 2006 membina The Jalal-Center for Enlightenment (JCE) di Jakarta.

Selain aktif berdakwah, Kang Jalal juga mengisi seminar keagamaan di berbagai tempat, mengajar di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ICAS-Paramadina & ICC Jakarta dan UNPAD Bandung. Dan yang tetap ia lakukan di tengah kesibukannya ialah menyisihkan waktu untuk mengisi pengajian rutin (Kuliah Ahad Pagi) di Masjid al-Munawarah, masjid di dekat rumah yang jama’ahnya sudah dibina sejak tahun 1980-an. Juga, tahun 2001-2003 setiap pagi ia  sering mengisi pengajian rutin yang disiarkan langsung oleh radio Ramako Group di Jakarta

Pada Mulanya Ahli Fikih

Sebenarnya, pria kelahiran Bojong Salam Rancaekek, Bandung, pada 29 Agustus 1949 ini pada mulanya adalah seorang ahli fikih. Dakwah yang ia sampaikan pun dengan sendirinya lebih kental nuansa fikihnya. Malahan, ia pernah berbangga diri bahwa dalam setiap debat mengenai fikih ia selalu berhasil “menaklukkan” lawan-lawannya. Kebanggaan yang berlebihan sempat membuatnya lupa diri dan kelewat PeDe (percaya diri) bahkan sombong. Banyak sekali paham keislaman yang sudah mapan di tengah masyarakat Bandung ia libas. Misalnya, ia menentang tahlilan untuk orang meninggal, bolehnya kawin mut’ah, perlunya menambah rukun Islam dengan amar makruf nahi munkar, dan lain-lain.

Keponggahan dan kesombongan intelektual itu kemudian berhenti ketika salah seorang jamaah Kang Jalal yang bernama Darwan meninggal dunia akibat ditabrak kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Menurut penuturan Kang Jalal dalam pengantar bukunya Rindu Rasul, Darwan yang pengetahuan agamanya sangat sederhana, tidak banyak tahu tentang tafsir dan hadis, pada menit-menit terakhir hidupnya, yang ia ingat hanya Nabi Muhammad, dan bulan itu adalah bulan Maulid. Ia pun berpesan pada istrinya agar bikin selamat buat kanjeng Nabi. Ia tidak ingat anak, ubi-ubi yang ia tanam, dan semua harta yang ia miliki. Peristiwa itulah di antaranya yang meruntuhkan keponggahan dan kesombongan intelektual Kang Jalal yang memahami agama.

Tahun 1983-1985 Kang Jalal aktif memberikan kajian rutin atas buku-buku karya para tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir seperti Hasan al-Bana, Said Hawa, Syayid Qutb kepada para mahasiswa di Mesjid Salman ITB, Bandung, sebelum ia akhirnya mulai melirik kitab-kitab dan pemikiran para tokoh Syiah.

Tertarik dengan Tasawuf

Jalal sendiri mengenal dunia tasawuf dan tertarik dengan tasawuf, ketika bersama-sama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshory diundang pada sebuah konferensi di Kolombia pada 1984. Dari konferensi itu ia bertemu dengan ulama-ulama asal Iran yang memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf dan ia merasa kagum pada mereka. Ia pun mendapat hadiah banyak buku dari ulama Iran tersebut, yang di dalamnya banyak membahas masalah ‘irfân (tasawuf).

Pasca kepulangan dari konferensi tersebut, Kang Jalal banyak tertarik dengan dunia tasawuf termasuk pemikiran ulama-ulama Syiah Iran seperti Imam Khomeini, Murtadha Muthahari, dan lain-lain. Para ulama tersebut disamping memiliki kualitas keilmuan yang tinggi, mereka juga memiliki integritas moral yang luar biasa. Maka, menurut Kang Jalal, sosok seperti Murtadha Muthahari bisa dijadikan sebuah model keterbukaan. Tak heran jika sejak saat itu tulisan-tulisan Kang Jalal banyak mengutip pendapat dari tokoh-tokoh tersebut. Tentang Imam Khomeini, ia melihatnya sebagai sosok pejuang yang tangguh dan sekaligus seorang sufi besar yang aktivitas politiknya bisa mengguncang dunia, termasuk merepotkan negara penindas sebesar Amerika sekalipun.

Sejak itulah Kang Jalal memilih tasawuf, dan bukan fikih, sebagai materi dakwahnya. Alasan dan pertimbangan kenapa ia memilih pendekatan tasawuf di antaranya adalah:

Pertama, perhatian umat terhadap fikih sudah terlalu lama dan terlalu dalam. Banyak organisasi keagamaan didirikan atas dasar fikih. Sebagai contoh beberapa organisasi keagamaan di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Al-Irsyad, dan lain-lain banyak dilatarbelakangi oleh perbedaan pemahaman fikih para pendirinya. Maka sampai sekarang ini beberapa organisasi keagamaan ini memiliki fikih sendiri-sendiri yang dijadikan pegangan bagi para pengikutnya.

Kedua, fikih tidak memberi kehangatan dalam beragama. Karena kesalehan seseorang hanya diukur oleh sejauhmana dia mengikuti dan mentaati fikih yang sesungguhnya masih ijtihadi. Karena fikih itu sendiri artinya pemahaman terhadap nash-nash al-Qu’an maupun al-sunnah yang dilakukan oleh para ulama. Menurut Kang Jalal, orang beragama yang terlalu berpegang pada pendapat fikih akan terasa kaku, sempit dan terkesan formalistik. Maka keberagamaan yang ia miliki kurang memberikan kesejukan, keteduhan, dan kehangatan. Hal ini akan sangat berbeda dengan mereka yang beragama dengan bertasawuf, ia akan merasakan kehangatan, kelonggaran dalam beragama. Karena dalam tasawuf, para sufi dalam melihat berbagai persoalan tidak hitam putih, benar salah, halal haram, surga neraka. Bahkan terhadap orang yang banyak berbuat maksiat pun para sufi masih mau menerima, asalkan mereka mau bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Hal ini mungkin berbeda dari para ulama fikih yang melihat berbagai persoalan hanya dari sisi luarnya saja tanpa bisa melihat apa makna atau hakekat di balik dari semua peristiwa yang terjadi.

Ketiga , fikih sering menjadi sebab pertentangan di antara umat Islam yang berakibat pada rapuhnya sendi ukhûwah Islamîyah . Beberapa perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat salat tarawih apakah 8 rakaat, 20 ataukah 33 rakaat, salat rawatib (sebelum atau sesudah salat wajib), membaca basmalah sirri (pelan) atau jahr (keras), dan perbedaan-perbedaan yang lain pada waktu dulu dan mungkin sampai kini, masih sering menimbulkan ketegangan di antara sesama Muslim.

Sebagai contoh banyak kaum Muslim yang tidak mau bergabung salat berjamaah dengan dengan Muslim yang lain oleh karena beda fikih, sehingga ia membuat jamaah dan masjid sendiri. Bahkan penulis menemukan ada seorang adik menganggap kakaknya yang Muslim dianggap belum beriman lantaran berbeda fikih. Akibat lanjutan dari perbedaan fikih ini berimbas pada perbedaan pilihan politik. Sebagai contoh orang NU akan cenderung memilih PKB atau PPP, dan orang Muhammadiyah akan cenderung memilih PAN, demikian juga yang lain. Sehingga dalam dunia politik kita mengenal istilah politik aliran; aliran ideologi, aliran keagamaan, atau tepatnya adalah aliran fikih.

Keempat , kecenderungan masyarakat era 80-an, banyak orang berbondong-bondong mendalami Islam. Pada umumnya mereka tidak mau mendalami persoalan fikih, tetapi mereka mencari dari Islam sesuatu yang bisa mendatangkan ketenangan batin, yakni tasawuf. Atau dengan kata lain kecenderungan “pasar” menghendaki tasawuf. Gejala ini terjadi khususnya bagi masyarakat perkotaan dengan segmen kelas sosial menengah ke atas. Gejalanya bisa dilihat dari semakin ramainya majelis ta’lim yang menyelenggarakan kajian tasawuf. Di media massa baik cetak maupun elektronik seperti TV disuguhkan mimbar tasawuf dengan mendatangkan para pakar tasawuf dan dipandu oleh presenter berkelas. Dan acara ini disambut hangat oleh masyarakat. Di media-media cetak yang sekuler pun hampir setiap hari Jumat disediakan ruang bagi para penulis tasawuf yang berkualitas untuk membeberkan seluk beluk tasawuf, baik dari sisi teoritis maupun praksisnya. Ciri yang lain adalah semakin larisnya buku-buku yang bertema agama, termasuk buku-buku tasawuf. Semua itu menunjukkan adanya gejala meningkatnya spiritualitas masyarakat perkotaan yang semakin haus dengan siraman keruhanian.

Kelima , Kang Jalal telah banyak membaca buku-buku fikih, baik yang klasik maupun kitab-kitab fikih kontemporer. Isinya hampir sama, dan kebanyakan hanya pengulangan dari kitab-kitab sebelumnya. Berbeda dengan buku-buku tasawuf yang kaya akan nuansa, yang tidak akan habis untuk dibaca dan dipelajari.

Alasan keenam , berhubungan dengan aspek psikologis, yakni merasa capek dan merasa jenuh, jika terus menerus berdebat dan “bertengkar” untuk soal-soal fikih yang tidak ada habisnya. Seperti pada penjelasan di atas, ketika Kang Jalal dakwah dengan materi fikih ia selalu berbenturan dengan kelompok Islam yang berbeda faham. Di kampung sendiri ia berselisih faham dengan saudaranya-saudaranya yang berfaham NU, yang akhirnya keduanya bersepakat untuk membangun masjid masing-masing.

Maka, sejak dekade ‘90-an sampai sekarang Kang Jalal lebih tertarik pada materi-materi dakwah yang bernuansa sufistik (aspek batiniah) daripada materi lainnya seperti fikih. Kalaupun ia menjelaskan hal-hal yang bersifat fikih sesungguhnya itu bukan keinginan dia, tetapi karena jamaah yang menanyakan hal itu. Hal ini bisa disimak pada acara tanya jawab pada pengajian rutin yang diasuh Kang Jalal yang disiarkan oleh radio Ramako FM Jakarta setiap pagi. “Sebenarnya saya malas berbicara masalah fikih, oleh karena jamaah yang selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah fikih, maka terpaksalah saya berbicara masalah fikih,” katanya suatu ketika. Meskipun Kang Jalal harus berbicara dengan materi fikih, yang mengharuskan dia merujuk pada pendapat para imam mazhab, tetapi ia selalu berusaha melengkapinya dengan pendapat dan pandangan para ulama yang menekankan pentingnya mendahulukan akhlak daripada fikih semata. Ia pun memberikan beberapa alternatif jawaban agar jamaah tidak sempit pandangan. Di sini terlihat bahwa ia lebih menekankan aspek akhlak (tasawuf) dengan tidak meninggalkan aspek fikihnya.

Cendekiawan Produktif

Jalaluddin Rakhmat dapat digolongkan sebagai da’i dan cendekiawan yang produktif. Dalam perjalanan karirnya ia sudah banyak menghasilkan karya-karya ilmiah, baik yang berupa buku, majalah, buletin, makalah, artikel, kata pengantar beberapa buku yang sudah terbit dan beredar di toko-toko buku. Lebih dari 40 buku telah ditulisnya dan terbit. Adapun buku-buku yang sudah terbit di antaranya:

Psikologi Komunikasi (1985) Inilah buku pertama yang ditulisnya sepulang dari kuliah di IOWA State University. Inilah buku psikologi komunikasi pertama yang berbobot ilmiah namun gaya penuturannya sederhana dan mudah dicerna. Sampai kini buku ini telah dicetak ulang … kali. Buku ini termasuk best seler untuk bidang ilmu komunikasi, dan menjadi rujukan utama di fakultas-fakultas ilmu komunikasi di Indonesia.

Islam Alternatif (1986). Buku ini merupakan kumpulan dari ceramah-ceramah penulis di ITB, yang kemudian diedit dan disarikan kembali oleh Haidar Baqir. Sampai saat ini buku tersebut sudah 8 kali cetak ulang. Buku ini berisi 5 bagian yang masing-masing bagian terdiri dari beberapa pokok bahasan. Bagian pertama, berbicara Islam sebagai rahmat bagi alam. Bagian kedua, Islam pembebas mustadl’afîn. Bagian ketiga, Islam dan pembinaan masyarakat. Bagian keempat Islam dan ilmu pengetahuan, dan bagian kelima, Islam Madzhab Syiah.

Islam Aktual (1991), buku ini merupakan kumpulan dari artikel yang telah dimuat oleh beberapa media massa, mulai dari Tempo, Gala, Kompas, Pikiran Rakyat, Panji Masyarakat, Jawa Pos dan Berita Buana. Menurut pengakuan penulis dalam pengantar buku ini, buku ini memang tidak utuh, karena merupakan percikan-percikan pemikiran penulis yang dimaksudkan untuk konsumsi media massa. Sesuai sifatnya media massa itu informatif. Oleh karenanya, kajiannya tidak tuntas dan mendalam dari setiap topik-topik yang disajikan.

Renungan-Renungan Sufistik (1991). Meskipun menggunakan judul seperti itu, menurut Kang Jalal, pembaca tidak akan memperoleh penjelasan yang mendalam layaknya buku Suhrawardi Awârif Al-Ma`rifah, dan I hyâ’ ‘Ulum al-Dîn, karya sufi besar al-Ghazali. Buku Kang Jalal yang satu ini mengajak kepada pembaca untuk menyesuaikan diri kita dengan perintah Allah (muwâfaqah), bagaimana mencintai rasul dan para imam suci, dan saling menyayangi di antara hamba Allah (munâsabah), bagaimana melawan keinginan hawa nafsu (mukhâlafah), serta bagaimana memerangi setan (mu hârabah).

Retorika Moderen (1992)

Catatan Kang Jalal (1997). Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan Kang Jalal yang telah dimuat di berbagai media massa. Isinya berupa ceramah-ceramah spontan, makalah santai dan serius, obrolan ringan dan berat, yang berlangsung dari 1990-an, kemudian disarikan kembali oleh Miftah Fauzi Rakhmat. Ada beberapa visi yang ingin dilontarkan penulis dalam buku ini. Yakni visi media, visi politik, visi pendidikan, visi tranformasi sosial, visi feminisme dan visi ukhuwah yang perlu dibangun.

Reformasi Sufistik (1998). Seperti buku Jalal yang lain, buku ini pun merupakan respon penulis atas berbagai persoalan yang sedang terjadi di tengah masyarakat, mulai dari politik, kepemimpinan nasional, kekerasan sosial, demokrasi, keadilan, figur pemimpin Nabi, sampai persoalan sufistik. Digunakannya nama reformasi pada judul buku ini tentunya tidak luput dari situasi sosial yang berkembang saat itu, sisi lain mungkin karena pertimbangan bisnis agar lebih aktual dan menarik.

Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998). Buku ini seperti yang dikatakan oleh sang editor, Hernowo, merupakan kumpulan dari tanya jawab pengajian yang diasuh Kang Jalal mulai dari tahun 1980-an sampai 1998, baik yang berlangsung di Masjid Salman maupun di Masjid Jami Al-Munawarah. Oleh editor buku ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama, berisi bahasan seputar ibadah mahdah, bagian kedua, membahas masalah mu’amalah, bagian ketiga, membahas ahl al-bait, dan bagian keempat, menyajikan tafsir hadis, dan masalah-masalah kontemporer.

Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999). Seperti pada buku-buku Kang Jalal sebelumnya, isi pesan dalam buku ini juga hampir sama dengan buku-buku terdahulu. Hanya sedikit saja perbedaannya. Kalau dibandingkan dengan buku Reformasi Sufistik, buku ini lebih banyak mengangkat persoalan sufistik. Lewat buku ini penulis mengajak para pembaca bagaimana berusaha untuk menjadi kekasih Allah, seperti uraian pada Bab I. Caranya melalui ibadah ritual dan ibadah sosial seperti penjelasan dalam Bab II dan III. Penulis juga mengajak kita untuk melihat kembali sejarah masa lalu umat Islam (Bab IV), sedangkan pada Bab V disajikan tafsir surat-surat pendek.

Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999). Menurut Kang Jalal dalam pengantar buku ini, sampai sekarang tafsir sufi (isyâri) atau disebut juga tafsir simbolis, keberadaannya masih diperdebatkan. Karena seperti ditulis oleh al-Zarqani, tafsir ini adalah ta’wil al-Qur’an tanpa mengambil makna lahirnya untuk menyingkapkan petunjuk tersembunyi yang tampak pada para pelaku suluk dan ahli tasawuf. Namun demikian Jalal nampaknya ingin meyakinkan kepada para pihak yang keberatan dengan tafsir sufi ini, dengan membeberkan apa itu tafsir dan apa itu ta’wil. Secara garis besar buku ini membahas apakah tafsir sufi itu diperlukan atau menyesatkan.

Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999). Gelombang Reformasi pasca Orde Baru memunculkan isu-isu utama tentang perubahan sosial. Persoalan buku ini adalah: Apakah perubahan sosial itu sesuatu yang ada dalam jangkauan ikhtiari, atau sesuatu yang determinan? Kalau bersifat ikhtiari, maka setiap waktu perubahan itu bisa dilakukan melalui upaya-upaya yang berjalan secara alamiah atau normal. Tetapi kalau perubahan itu bersifat tergantung, maka harus ada upaya secara radikal yang disusun, guna membedah penyumbatan dalam sistem tatanan sosial yang ada. Inilah yang sering disebut dengan istilah revolusi. Kalau itu yang terjadi, maka biaya (cost) yang akan dibayar terlalu mahal. Menurut Kang Jalal, untuk melakukan perubahan pada masyarakat, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengubah cara berpikir masyarakat, tanpa melalui proses ini maka sulit perubahan akan terjadi.

Rindu Rasul (2001). Melalui buku ini kang Jalal ingin menceriterakan kepada pembaca bagaimana dahulu ia tidak suka shalawat yang macam-macam, membaca barjanji, minta syafaat kepada Nabi. “Paham modernis yang merasuki pikiran serta kepongahan intelektual yang palsu telah menjauhkan saya dari cinta kepada Nabi saw,” demikian pengakuan Kang Jalal dalam pengantar buku ini. Maka lewat buku ini ia ingin menumpahkan kerinduannya kepada Rasul kesayangannya yang untuk sementara waktu kurang diindahkan. Secara khusus buku ini ingin mengajak kepada pembaca untuk lebih dekat, mengenal, memahami dan mencintai Rasulullah manusia pilihan, nabi teladan dan pemberi syafa’at di hari kemudian.

Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002). Buku ini berisi pesan agar umat Islam tidak terpecah-belah oleh karena perbedaan fikih yang diyakini. Kang Jalal memaparkan berbagai peristiwa yang kurang harmonis sebagai akibat dari perbedaan fikih di antara masyarakat Islam. Bahkan karena pemahaman fikih yang ia yakini banyak masyarakat Muslim yang kesulitan menjalankan agamanya. Seperti seorang mahasiswa yang urung mendapat gelar doktor di salah satu universitas di Jepang, oleh karena ia tidak bisa makan masakan orang kafir. Menurut kang Jalal, kesetiaan yang berlebihan pada fikih akan mengukur kesalehan seseorang dengan ukuran fikih. Baik tidaknya seseorang akan dinilai sejauhmana ia menjalankan fikih yang diyakini. Padahal fikih sendiri sesungguhnya adalah pemahaman para ulama tentang syariah yang kemungkinan kebenarannya juga tidak mutlak. Kang Jalal juga berpendapat bahwa demi persaudaraan, maka seseorang boleh meninggalkan fikih yang diyakini.

Psikologi Agama (2003) Agama adalah kenyataan terdekat dan sekaligus misteri terjauh. Begitu dekat: Ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari–di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: Ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan–memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi; menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.

Buku ini mencoba menyingkap misteri terjauh dan kenyataan terdekat itu dalam proses-proses kejiwan manusia…

Bagaimana kita dapat memahami agama yang begitu kompleks? Agama tentu saja dapat dipelajari dari berbagai pendekatan–Anda boleh memilihnya. Tetapi, dibandingkan dengan pendekatan lain (terutama teologi), pendekatan psikologi adalah yang paling menarik dan manusiawi. Mengapa?

Psikologi memperlakukan agama bukan sebagai fenomena langit yang serba sakral dan transenden–biarlah itu menjadi lahan teologi. Ia ingin membaca keberagamaan sebagai fenomena yang sepenuhnya manusiawi. Ia menukik ke dalam proses-proses kejiwaan yang mempengaruhi perilaku kita dalam beragama, membuka “topeng-topeng” kita, dan menjawab pertanyaan “mengapa”. Psikologi, karena itu, memandang agama sebagai perilaku manusiawi yang melibatkan siapa saja dan di mana saja.

Dengan studi kepustakaan yang ekstensif dan analisis yang tajam atas berbagai fenomena keagamaan yang berkembang, buku ini mengawali senarai studi Psikologi Agama yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat. Cendekiawan terkemuka ini mengajak pembaca memahami berbagai fenomena keberagamaan itu dengan perspektif yang kaya, ilmiah, dan juga manusiawi.

Di tangan sang ahli komunikasi, tema yang kompleks tetapi tak pernah kehilangan relevansi dan pesona ini, dapat dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti, segar, dan cerdas.

Meraih Kebahagiaan (2004), Apakah Anda bahagia? Anda mungkin akan menjawab, tidak selalu, bergantung pada situasi dan kondisi kita. Ketika kita sedang mendapat musibah, bagaimana mungkin kita merasa bahagia? Yang ada adalah derita? Ketika musibah datang, apalagi beruntun, kita menambah penderitaan itu dengan menyalahkan siapa saja yang bisa kita temukan. Kalau tidak bisa, kita menyalahkan diri kita. Kalau tidak beragama, kita menyalahkan Tuhan? Musibah memang dinisbahkan kepada siapa saja, tetapi derita hanya dinisbahkan kepada kita. Keberuntungan datang dari mana saja, tetapi kebahagiaan hanya datang dari kita.

Buku karya Jalaluddin Rakhmat ini memberikan penjelasan bahwa bahagia adalah pilihan. Anda mungkin akan bertanya, apakah kita menderita karena pilihan? Apakah kita sengaja memilih menderita? Penerbit: Simbiosa Rekatama Media

Melalui buku ini, Jalaluddin Rakhmat ingin membuktikan bahwa baik penderitaan maupun kebahagiaan, kedua-duanya adalah pilihan kita. Melalui kajian agama, filsafat dan ilmu pengetahuan, serta makna yang hakiki tentang kebahagiaan, Anda dapat memilih cara untuk meraih kebahagiaan yang Anda inginkan. Buku ini juga menerangi perjalanan Anda menuju kebahagiaan dengan menunjukkan jebakan-jebakan kebahagiaan: sukses, kekayaan, dan kesenangan. Kapan saja Anda ditimpa penderitaan, teguhkanlah dalam diri Anda untuk memilih dan meraih kebahagiaan.

Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005). Mungkin selama bertahun-tahun kita belajar tanpa mempedulikan bagaimana organ paling penting untuk belajar–otak–bekerja. Kesulitan, atau bahkan kegagalan, belajar kadang kita coba cari dengan tidak merujuk ke cara bekerjanya otak kita. Buku Belajar Cerdas ingin menawarkan paradigma-baru belajar yang didasarkan pada cara bekerjanya otak. Lewat bahasa yang mengalir dan simpel, Jalaluddin Rakhmat menyajikan hal-hal penting berkaitan dengan otak dalam rangka membuat proses belajar dapat dijadikan secara menyenangkan dan efektif.

Buku ini dibuka dengan uraian yang cerdas tentang otak kita yang menakjubkan. Bab berikutnya menjelaskan pentingnya memberikan makanan bergizi kepada otak dan kaitan otak dengan gerakan. Bab terakhir membahas sifat otak kita yang suka tantangan dan bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan otak. Empat bab yang mengisi buku ini akan membuat perubahan-perubahan mendasar terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Belajar berbasiskan otak akan “menghidupkan” sekolah.

JALALUDDIN RAKHMAT adalah pakar komunikasi yang menekuni dunia psikologi dan neurologi. Karya mutakhirnya, Psikologi Agama dan Meraih Kebahagiaan, membuktikan hal itu. Penguasaan atas ilmu-ilmu yang kini dimilikinya tersebut dibuktikan secara kuat lewat banyak buku yang telah ditulisnya. Tulisan-tulisannya selain mengalir dan menggerakkan pikiran, juga menggugah— ada saja hal baru yang senantiasaditawarkan.

Belajar Berbasiskan Otak terdiri dari :  Bab 1: Otak Anda yang Menakjubkan, Bab 2: Cerdas dengan Makanan, Bab 3 Cerdas dan Gerakan, Bab 4 Cerdas dengan Pengayaan.

Memaknai Kematian (2006)

Islam dan Pluralisme, Akhlak Al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (2006). Inilah buku Kang Jalal yang paling baru. Buku ini membahas Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain, apakah orang yang beragama selain Islam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, akan memperoleh keselamatan di sisi Allah? Apakah nonmuslim juga menerima pahala amal salehnya? Lantas, kenapa Tuhan menciptakan agama yang bermacam-macam? Kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini? Pertanyaan ini meletupkan kontroversi.

Buku ini mencoba mencari jawabannya dalam Al-Quran. Lewat analisis bahasa dan telaah yang tajam atas ragam tafsir yang ada, Kang Jalal mendedah makna Islam dan agama ( dîn ), mengungkap spirit firman-Allah dalam memandang agama-agama lain dan menyikapi perbedaan itu, serta merumuskan bagaimana kita beriman secara autentik di tengah pluralitas kebenaran itu.

Dengan gaya-ungkap yang menawan, segar, dan cerdas, cendekiawan muslim yang pakar komunikasi ini juga mengajak kita menelaah berbagai wacana keislaman dan fenomena keberagamaan kontemporer: dari cara mengenal Tuhan hingga menjadi manusia, dari fundamentalisme hingga ateisme, dan dari penegakan syariat hingga transparansi sosial.

Adapun beberapa buku Kang Jalal yang lain yang sudah beredar di pasaran di antaranya adalah: Khalifah Ali ibn Abi Thalib,Rintihan Suci Ahl-bait, Tafsir bi Al-Ma’sur, Zainab al-Qubra, Keluarga Muslim dalam masyarakat Moderen, Komunikasi Antar Budaya; semua buku tersebut diterbitkan oleh Rosdakarya Bandung. Selain itu, banyak juga karya-karya Kang Jalal yang dikompilasikan dengan para penulis lain dan telah diterbitkan. Misalnya, tulisan-tulisan Kang Jalal bisa dibaca dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994); dan Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam (Jakarta: Paramadina, 1996).. [] (Disusun oleh Budi Munawar Rahman dan Ahmad Y. Samantho, dari berbagai sumber) Psikologi Agama (2003) Agama adalah kenyataan terdekat dan sekaligus misteri terjauh. Begitu dekat: Ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari–di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: Ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan–memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi; menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.

Buku ini mencoba menyingkap misteri terjauh dan kenyataan terdekat itu dalam proses-proses kejiwan manusia…

(Dirangkai  oleh Ahmad Y. Samantho dari buku

Psikologi Agama, dan Islam dan Pluralisme, dan sumber-sumber lainnya)

Jalaluddin Rakhmat2

Jalaluddin Rakhmat

About these ads

2 comments on “Jalaluddin Rakhmat: Menuju Agama Madani

  1. Semoga dipercepat umurnya. Aaamiin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.964 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: