Tinggalkan komentar

“Parlemen Burung” Fariduddin Attar

Bersambung ke :

Ringkasan “PARLEMEN BURUNG” Attar (2)

Ringkasan “PARLEMEN BURUNG” Attar (3)

Segenap burung dari seluruh dunia, baik yang dikenal maupun tidak, suatu ketika berkumpul Mereka mengeluh, “Di dunia ini tak ada negeri yang tidak memiliki raja. Bagaimana kerajaan burung bisa tidak memiliki raja seorang pun sampai sekarang? Keadaan ini tidak bisa kita biarkan berlangsung terus, kita haruslah pergi mencari seorang raja, karena tidak akan ada negeri yang pemerintahannya baik dan teratur rapi tanpa seorang raja. Mereka pun mulailah bersidang untuk memecahkan persoalan itu. Burung Hudhud demikian tertarik dan dengan penuh rasa percaya diri ia maju ke depan, mengambil tempat di tengah-tengah sidang para burung itu. Sebuah hiasan terpampang di dadanya, menandakan bahwa dirinya telah menguasai jalan ilmu pengetahuan rohani.

Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (1142 – 1230 M) atau Fariduddin al-Attar, Attar artinya ahli farmasi/parfum, jadi nama pena.

Jambul di puncak kepalanya adalah mahkota kebenaran, ia pun telah menguasai berbagai pengetahuan tentang nilai baik dan buruk. “Saudaraku para burung sekalian,” berkata Hudhud. “Aku adalah salah seorang di antara mereka yang telah mengecap rahmat Tuhan. Aku ini utusan dari alam gaib.  Aku memiliki  pengetahuan keTuhanan dan rahasia tentang semua makhluk-makhluk-Nya. Bila ada burung seperti aku dengan paruh bertanda nama Tuhan, Bismillah, pantaslah burung yg seperti itu kalian ikuti karena orang harus mempunyai pengetahuan luas mengenai rahasia-rahasia yang gaib. Namun hari-hari bersliweran tak putus-putus, dan aku tidak bersangkut paut lagi dengan apa pun dan siapa pun. Seluruh diriku telah diliputi oleh cinta kepada Baginda Raja. Aku mampu mendapatkan air dengan naluriku, dan begitu banyak rahasia-rahasia kehidupan lain yg telah aku ketahui. Aku telah acap bercakap-cakap dengan Nabi Sulaiman, beserta pengikut-pengikutnya yang utama.

Attar hidup di Nishapur, Khorasan, Persia (Iran) masa Dinasti Khawarizmi (1107-1231)
KLIK pada gambar untuk memperbesar

Yang mengherankan aku ialah biasanya Nabi tidak pernah bertanya dan tidak pernah ingat siapa-siapa saja yang pernah mengunjungi istananya, namun kepadaku, sehari saja aku berada jauh dari sisinya, dikirimnya utusan kemana-mana untuk mencari aku, sehingga kemuliaanku tak pernah berkurang karenanya. Akulah yang mengirimkan surat-suratnya dan aku pulalah sahabatnya yang paling setia.

Batik Madura dengan stilasi Simurgh (burung Pingai). Pengaruh para sufi dari Pasai yang ditawan Majapahit di Ampel Denta (Surabaya)

“Burung yg telah dimuliakan oleh sang Nabi dan beroleh anugerah mahkota di kepalanya. Dapatkah burung yang bisa bercakap-cakap seperti itu rontok bulu-bulunya dalam debu ?  Bertahun-tahun lamanya sudah, aku gemar menjelajahi lautan dan daratan, mengarungi puncak gunung dan dasar lembah. Aku pun telah sanggup menerobos ruang yang sesak dilanda banjir dahsyat. Aku selalu mengiringi Nabi Sulaiman setiap kali beliau bepergian dan aku telah mengenal semua batas-batas dunia.

Aku mengenal raja itu dengan baik, tetapi aku tidak bisa lagi terbang sendirian menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya kepada yg sanggup melepaskan belenggu dari dalam dirinya sendiri, yaitu mereka yang akan bebas dari nilai baik dan nilai buruk karena senantiasa berada di jalan lurus kekasihnya. Bermurah hatilah engkau sepanjang hidupmu

“Sekarang angkat kedua kakimu dari bumi, terbanglah dengan gembira menuju istana sang raja. Namanya Simurgh. Dia adalah raja diraja sekalian burung. Dan dia dekat kepada kita, akan tetapi kitalah yg jauh dari dirinya. Tempat semayamnya pun sukar sekali dicapai, tak ada lidah yg sanggup menyebut namanya Di hadapan baginda tergantung ratusan ribu benang sinar, terang dan gelap, di dunia fana maupun baka, tak ada seorangpun yg dapat menaklukkan kerajaannya. Dia adalah raja berdaulat dan mandi kesempurnaan. Dia tak pernah menunjukkan keseluruhan dirinya, bahkan juga di tempat semayamnya. Karena itu  tidak  ada pengetahuan atau kepandaian yang bisa mengetahui perihal keberadaannya

Simurgh disebut Phoenix (Eropa), Anqa (Arab) Hong (Tiongkok), Pingai (Melayu). Lukisan karya pelukis Iran abad ke 20 yg berdasarkan lukisan Persia abad 14. Melalui penyebaran sastra sufi Melayu (Hamzah Fansuri), stilasi bentuk ini selalu muncul pada seni ukir dan ragam hias aneka batik dari berbagai daerah di Nusantara, terutama sekali Batik Madura.

Jalan itu tidak dikenal, tidak seorang pun akan benar-benar memiliki kesabaran yang cukup untuk menemuinya. Walaupun begitu, ribuan makhluk senantiasa merindukannya selama mereka hidup. Pun jiwa yang paling murni tak dapat menguraikannya, pikiran pun tak dapat menggambarkan: kedua alat penglihatan kita buta di hadapannya.  Kearifan tidak dapat mencapai kesempurnaannya dan manusia yang paham pun tidak akan mampu melihat keindahannya. Seluruh makhluk selalu ingin mencapai kesempurnaan dan keindahan ini melalui khayalnya. Tapi bagaimana kau bisa menjejakkan kaki di jalan itu dengan pikiran? Bagaimana kau bisa mengukur bulan dengan ikan ? Demikianlah telah beribu-ribu kepala bolak-balik pergi kesana, seperti bola yang berputar-putar di lapangan,  hanya ratap tangis rindu mereka yang terdengar. Beribu daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju ke tempat semayamnya.

Simurgh di dalam lukisan miniatur Persia, berupa ilustrasi cat air untuk manuskrip-manuskrip lepas, atau yang terjilid rapi di
dalam berbagai buku-buku kuno.

Jangan bayangkan perjalanan ini singkat; orang harus memiliki hati singa untuk dapat menempuh jalan yang luar biasa panjang dan lautnya rancam serta dalam pula. Kau harus berusaha sekuat tenaga, disertai senyum dan sesekali menangislah tersedu-sedu.  Seperti aku, menemukan jejaknya saja sudah merasa bahagia. Jejaknya sangat berarti, dan hidup tanpa dia akan menimbulkan sesal. Orang tak boleh menyembunyikan jiwa dari kekasihnya, dia harus menjaga diri baik-baik agar jiwanya dapat dibawa menuju istana raja. Bersihkan tanganmu dari kotoran hidup ini, bila ingin disebut orang yg beramal. Panggillah selalu kekasihmu sebagai orang yg mulia.  Bila kau tunduk patuh kepadanya, maka dia pun akan memberikan seluruh hidupnya kepadamu.”

Stilasi Simurgh pada Batik Madura.

“Dengar! Ada lagi yang menakjubkan. Pada mulanya Simurgh terbang pada malam hari di tengah gelap gulita di negeri Cina. Selembar bulunya jatuh di situ, hingga seluruh dunia tercengang-cengang melihat keindahannya. Orang-orang mulai menggambar bulu-bulu indah itu, dari gambar bulunya itulah tersusun berbagai sistem pemikiran, sehingga akhirnya kacau-balau karena begitu banyak macamnya.

Stilasi Simurgh pada Batik Putihan Madura.

Ekor terurai Simurgh pada ragam hias Batik Madura. Juga pada Batik Jawa, Jambi dll.

Bulu Simurgh yg jatuh itu kini masih tersimpan di negeri itu. Itulah sebabnya hadith nabi mengatakan: “Tuntutlah ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina sekalipun”.  Namun pemunculan Simurgh yang pertama kali tidaklah begitu membingungkan dibanding Wujudnya yg rahasia. Tanda-tanda perwujudan ini merupakan lambang kebesaran. Seluruh makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti memancarkan bayang-bayangnya. Oleh sebab dalam pemunculan yang pertama kali tanpa ekor maupun kepala, tanpa ujung dan pangkal, maka tidak perlulah kiranya aku ceritakan lebih banyak. Sekarang, bersiap-siaplah untuk mengarungi jalan menuju ke istananya!”

Bersambung ke…

Ringkasan “PARLEMEN BURUNG” Attar (2)

Ringkasan “PARLEMEN BURUNG” Attar (3)

Diambil dari:

Ringkasan “PARLEMEN BURUNG” `Attar oleh Abdul Hadi WM

ilustrasi Batik Madura, koleksi Abdul Hadi Wm.

Silahkan mendalami kajian Sastra Sufi di

Catatan tentang Sastra Sufi oleh Abdul Hadi WM

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.972 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: