3 Komentar

ISLAM DI INDONESIA DAN TRANSFORMASI BUDAYA (4)

ISLAM DI INDONESIA

DAN TRANSFORMASI BUDAYA (4)

Abdul Hadi W. M.

Kilas Balik dan Tantangan Kini

Sambil menyimpulkan pokok-pokokpikiran yang telah dikemukakan, kini mari kita lihat Islam pada abad ke-20 M.Islam mula-mula berkembang di Pasai, meluas ke Aceh dan Semenanjung Malaya,lantas ke seluruh kepulauan Melayu, Jawa, Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan NusaTenggara. Sebagai dampak dari kedatangannya, dan konfrontasinya dengan bangsaEropa yang datang pada abad ke-17 M sebagai penjajah, terjadilah prosesperubahan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan besar-besaran. Melaluijaringan perdagangan, politik, intelektual, organisasi tariqat, pendidikan,sastra atau literasi,  komunikasi antarpenduk kepulauan Nusantara yang multi-etnik lantas menjadi sangat terbuka.Begitu pula interaksi antar etnik yang berbeda-beda itu menjadi kian dinamis.Dengan demikian  mobilitas sosial terjadisecara horisontal dan vertikal, suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Parapedagang, muballigh, guru-guru agama, ulama, sufi pengembara (faqir),wali,  raja-raja pribumi, pemimpintariqat,  seniman, sastrawan,cendekiawan, tabib, dan lain-lain memainkan peranan dalam transformasi sosialdan budaya masyarakat Nusantara. Pranata-pranata sosial keagamaan dan budayayang diciptakan oleh komunitas Islam di Nusantara seperti masjid, pesantrenatau dayah, organisasi keagamaan, persaudaraan sufi atau tariqat, majlis ta’lim dan pengajian, haji,tradisi penulisan kitab keagamaan dalam bahasa Melayu,  dan lain sebagainya ternyata sangat efektifsebagai faktor pendorong bagi terjadinya integrasi bangsa Indonesia. Hanyadalam masa tiga atau empat abad penyebarannya itu, Islam mampu menjadi agamarakyat yang dipeluk mayoritas penduduk Indonesia. Suatu hal yang mencengangkan,seperti dikatakan Schrieke (1955), “Sejak abad ke-16 M praktis kepulauanNusantara telah diintegrasikan oleh Islam, agama yang relatif baru dan jauhdari wilayah yang selama ini disebut sebagai pusat dunia Islam.”

Sejakkehadirannya itu pula Islam telah memberi dasar-dasar pandangan hidup (wayof life)  dan gambaran dunia (Weltanschauung)beserta nilai-nilainya yang universal pada banyak kebudayaan lokal.Budaya-budaya lokal yang dirembesi ajaran Islam ini lantas berkembang maju dan mampu menghasilkan tradisi bacatulis yang dengan itu pemikiran dan mobilitas jiwanya berkembang. Kepadabudaya-budaya daerah yang saling terkait dan mempengaruhi  satu dengan yang lain itu, Islam jugamemberikan dasar-dasar egalitarianisme, rasionalitas, aktivisme, kesalehansosial, etos dagang dan  tradisiintelektual. Tanpa itu transformasi budaya tidak akan terjadi, sebabberkembangnya kebudayaan mengandaikan adanya suasana komunikatif yang terbukadan pemikiran-pemikiran yang harus saling dikomunikasikan. Islam memberikansemua itu kepada mayoritas etnik-etnik di kepulauan Nusantara.

Meskipunbudaya-budaya daerah itu relatif berbeda, dan juga tidak sepenuhnya utuh lagisekarang sebab kurang dipelihara dan benturannya dengan modernisasi sertaglobalisasi, namun dalam kenyataan budaya-budaya bentukan Islam masih terusmemperlihatkan fungsinya hingga kini. Terutama dalam menepis krisis, mengatasidisharmoni dan kemungkinan chaos yang timbul sebagai dampak negatif dari pembangunan dan penetrasi budaya asing yangdibawa oleh arus globalisasi. Marilah kita renungi secara mendalam: Apabila Islamadalah agama mayoritas penduduk Indonesia, pastilah ia juga merupakan agamayang melandasi mayoritas budaya daerah. Dan apabila “Kebudayaan nasional adalahpuncak-puncak kebudayaan daerah” seperti tertera dalam  UUD 45, maka semestinya sudah sejak awalberdirinya republik ini Islam dijadikan paradigma budaya bagi pembentukankebudayaan nasional. Namun kenyataan tidak menunjukkan demikian. Kebijakanpemerintah senantiasa mencerminkan upaya untuk mengabaikan kenyataananthropologis dan kultural  yang sangatpenting ini. Islam dipandang seolah-olah bukan bagian integral dari kehidupansosial budaya dan sosial politik bangsa Indonesia yang mayoritas memeluk agamaIslam.

Upayauntuk meminggirkan dan menghalau Islam dalam proses transformasi budaya bangsa,tercermin dalam kebijakan pendidikan kita. Sistem  pendidikan kita tidak lebih adalah lanjutansistem pendidikan kolonial. Ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga-lembagapendidikan ini adalah hasil rekontruksi pemerintah kolonial. Ia diolah olehkaum orientalis yang tidak sedikit di antaranya adalah misionaris Kristen. Didalamnya, Islam dan peradabannya, seperti tampak dalam ilmu-ilmu sosial danhumaniora yang diajarkan, secara sistematis ditendang keluar agar tidak pernahdiketahui oleh kaum terpelajar kita. Dari lembaga pendidikan seperti itulahlahir kaum terpelajar yang asing terhadap kebudayaan bangsanya dan Islam, agamayang dianut sebagian terbesar penduduk tanah airnya termasuk dirinya. Yangdiketahui dari Islam adalah fenomena-fenomena permukaannya saja. Islam hanyadikenal sebagai doktrin teologi, bukan sumber kebudayaan dan peradaban. Apasaja yang terkait dengan Islam, kecuali peribadatannya, akan tidak diacuhkannyabahkan dicibirnya sebagai buah dari sebuah peradaban besar yang tangguhmenghadapi tantangan berbagai zaman.

Olehkarena itu sejak awal abad ke-20 hingga kini, kata Jansen (1983), medan perangsesungguhnya bagi Islam ialah bangku sekolah dan lembaga pendidikan. Inidisadari benar-benar sejak awal oleh para pemimpin Islam, khususnya parapelopor gerakan pembaruan (tajdid) seperti Muhammadiyah. Adalah berkatlahirnya gerakan-gerakan pembaruan dengan berbagai organisasi sosial keagamaandan lembaga-lembaga pendidikannya, kaum terpelajar dan masyarakat Indonesiamengenal kembali Islam, bukan hanya sebagai doktrin keagamaan dan sistem kperibadatan. Tetapi juga sebagailandasan peradaban dan sumber ilham kebudayaan.

Lembaga-lembaga pendidikan Islamyang didirikan oleh gerakan pembaruan itu, terutama Muhammadiyah mampumemanfaatkan sistem pendidikan modern dengan memasukkan nilai-nilai Islam kedalamnya. Dengan hadirnya lembaga pendidikan semacam ini, terutama setelahkemerdekaan, kaum terpelajar Islam diselamatkan dari bahaya pendidikan modernyang ingin mencerabut generasi muda dari akar budaya bangsanya. Karena itu,kata Jansen lagi, karena hadirnya Muhammadiyah maka kita mempunyai jawabanbudaya Islam Indonesia sesungguhnya pada abad ke-20.

Bercerminpada ikhtiar yang dilakukan Muhammadiyah, organisasi-organisasi keagamaan lainberlomba-lomba mendirikan lembaga pendidikan serupa, terutama sejak dekade1970an. Pada masa ini pula pesantren, lembaga pendidikan tradisional yangbiasanya dikaitkan dengan Islam tradisionalis seperti NU, mengalamirevitalisasi dan berkembang pesat. Minat masyarakat mengirim anaknya kepesantren dari waktu ke watu tambah meningkat. Lantas kita menyaksikan bukanhanya kiyai-kiyai NU dan Islam tradisionalis lain yang berlomba-lombamendirikan pesantren, tetapi juga organisasi-organisasi dan  yayasan-yayasan Islam yang tergolong modernis.Sekali lagi, walaupun pada saat itu secara politik Islam terpinggirkan olehkebijakan floating mass Orde Baru, Islam tetap menunjukkan dirinya bukansebagai agama yang mandeg serta tidak tanggap akan perubahan dan tantangan.Hasil dari upaya-upaya yang gigih dan ulet itu di bidang pendidikan dankebudayaan tentu saja bisa diperdebatkan.

Padadasawarsa 1980an kita menyaksikan proses reislamisasi melanda kampus-kampusuniversitas negeri. Kaum muda Islam tidak puas dengan mata pelajaran sekularyang diberikan di ruang-ruang kuliah. Mereka mendirikan masjid-masjid kampus,kelompok-kelompok pengajian, studi pemikiran keagamaan dan kebudayaan Islam, menyelenggarakanberbagai pentas seni, sanggar seni dan lain sebagainya. Begitulah generasi muda1970an itu tampil sebagai agen baru dari transfromasi budaya Islam untukmemenuhi panggilan sejarah. Tanpa kehadiran mereka, yang pada umumnya adalahaktivis organisasi pelajar, pemuda dan mahasiswa seperti HMI, PII, PMII, IMM,GP Ansor, GPII, Pemuda Muhammadiyah, IPNU,  dan belakangan KAMMI, PKSdan lain-lain, bagaimana mungkin muncul tokoh-tokoh seperti Nurcholis Madjid,Abdurrahman Wahid, Amin Rais, M. Syafii Maarif,  dan lain-lain yang  telah memainkan peranan penting dalam gerakanreformasi pada  tahun 1998? Di bidangsastra dan seni kita temukan pula padanannya. Pelopor kebangkitan seni Islampada tahun 1960an dan 1970an adalah seniman-seniman yang ketika itu masihmahasiswa dan aktivis organisasi kemahasiswaan. Sebut saja misalnya Kuntowijoyo,Taufiq Ismail, Amri Yahya, A. D. Pirous, Arifien C. Noer, M. Fudoli Zaini, danmasih banyak lagi jika hendak disebutkan. Tanpa kepeloporan mereka, kita tidak akanpernah menyaksikan suburnya perkembangan seni dan sastra Islam pada tahun1980an dan 1990an.

Telahdisebutkan bahwa kehadiran Islam melalui kegiatan penulisan kitab pada abadke-16 dan 17 M, telah menjadikan wilayah pemakaian bahasa Melayu  menjadi begitu luasnya. Dengan itu bahasaMelayu berkembang menjadi bahasa pergaulan utama antar etnik yang berbeda-bedadi kepulauan Nusantara dalam bidang perdagangan, politik, intelektual dankeagamaan.  Ini memperkokoh alasanmengapa bahasa Melayu yang dipilih menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesiaoleh para pencetus Sumpah Pemuda 1928. Bukan bahasa Jawa atau Bugis atau Batak.Begitulah keadaan dan kenyataan yang sebenarnya: Islam telah memberikan monumenbesar yang tidak kalah penting dibanding Borodubur dan Wayang Kulit. Monumenitu ialah Bahasa Indonesia. Bukan Borobudur atau Wayang Kulit yang mampumenjadi media pemersatu bangsa, tetapi Bahasa Indonesia. Ini tidak berartiBorobudur dan Wayang Kulit tidak penting. Apalagi jika kita ingat bahwa wayang kulit dapat mencapai puncakperkembangannya sebagai seni adiluhung disebabkan kreativitas para wali, bukanpara mpu dari Majapahit.

Disampingitu Islam juga berulang kali,  dan dalamwaktu yang panjang, menjadi pelopor perlawanan terhadap penetrasi dan dominasikolonialisme. Dengan demikian Islam tidak hanya memberikan dasar-dasar integratifbagi bangsa Indonesia, tetapi juga ikut memberi corak dan landasan yang kokohbagi nasionalisme Indonesia pada abad ke-20. Perang panjang berkesinambunganyang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan Islam telah melahirkan apa yang disebutsebagai proto-nasionalisme. Tetapi sayang, dua bentuk nasionalisme yangdikembangkan sesudah kemerdekaan oleh dua rezim yang berkuasa  — rezim Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru –sama ahistorisnya dan sama tidak ramahnya kepada Islam.

Bukanhanya itu, dua bentuk nasionalisme tersebut dalam perkembangannya ternyata melencengdari cita-cita nasionalisme yang sebenarnya. Yang pertama melahirkan nasionalismepolitik, bukan nasionalisme kultural sebagaimana dikehendaki oleh Sumpah Pemudadan Mukadimah UUD 45. Walaupun ciri-cirinya diadopsi dari proto-nasionalismeIslam, namun nasionalisme ala Demokrasi Terpimpin sepenuhnya nasionalisme politik.Bahkandalam perkembangannya kemudian ternyata memperlihatkan kecenderungan phobiterhadap Islam.  Inilah yangdiperlihatkan rezim Demokrasi Terpimpin (1959-1965) yang mengagung-agungkanNasakom itu. Sebuah nasionalisme yang sangat condong kepada komunisme dan kiantergantung juga pada dominasi asing, yaitu Moskow dan Beijing. Karena itu tidakmengherankan jika nasionalisme seperti ini cepat ambruk, sebab memang tidakberakar dalam cita-cita dan jiwa kebudayaan bangsa Indonesia.

Sejak tampuk pemerintahan berada ditangan rezim Orde Baru, paradigma kultural UUD 45 bahwa “Kebudayaan nasionaladalah puncak-puncak kebudayaan daerah” semakin tidak menentu arahnya .Pancasila yang seharusnya dijadikan paradigma kultural, tidak diberi maknakultural dalam konteks yang sejalan dengan kenyataan anthropologis dan kultural bangsa Indonesia yang “bhinneka tunggalika”. Sebagai asas tunggal, Pancasila dijadikan sebagai sarana penyeragamanbudaya yang bertentangan dengan kemajemukan yang ada. Penguasaan makna dalammenafsirkan sila-silanya,  sertapenyimpangan terhadap dua tujuan didirikannya NKRI (yaitu ‘meningkatkankesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa’) seperti tercantumdalam Pembukaan UUD 45, telah membuat Pancasila semakin menjadi utopia.

Denganhadirnya Orde Baru kita menyaksikan lahirnya sebuah nasionalisme baru yangmencengangkan dan membuat bangsa ini semakin jauh meninggalkan cita-citanasionalisme yang awal. Nasionalisme Orde Baru ialah  nasionalisme ekonomi dan bukan nasionalismekultural. Yang penting hanya bagaimana mempertahankan keutuhan wilayah dankeamanan negara yang luas ini agar di atasnya pembangunan ekonomi bisadijalankan dengan tertib dan aman, serta investasi asing datang dengan deras.  Tujuan lain didirikannya NKRI seperti telahdisebutkan (yaitu ‘meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupanbangsa’) semakin dilupakan. Kecuali itu nasionalisme seperti ini hanya menciptakan  ketergantungan yang kian besar kepada negaraasing. Tentu saja agen-agen asing dan kebudayaan asing itu  bukan hanya para tehnokrat dan ekonom. Jugabukan hanya birokrat dan sebagian besar LSM yang memperoleh dana dari luar.  Tetapi juga universitas, kebanyakan massmedia, pengamat politik, cendekiawan, budayawan, kaum terpelajar, bisnismen,dan lain sebagainya. Alasannya,  sebagaiparadigma kultural Pancasila harus mengatasi semua agama dan budaya daerah.Karena harus mengatasi semua agama dan budaya daerah, ia harus mengambil sumberrujukan dari tempat lain yang asing..

KekuatanIslam lantas digenjot. Yang paling mencolok lagi, Islam tidak boleh dan

Tidak dipernenankanmemberikan makna kepada  dirinya denganleluasa, apalagi kepada yang lain. Anehnya justru ‘yang lain’ yang palingberhak, paling leluasa dan paling punya wewenang untuk memberi makna kepadaIslam, makna apa saja sesuka mereka.  Inilah ironinya.  Jadilah agen-agen asing itu sebagai penguasamakna yang berlagak demokrat dan pembela kebebasan berekpresi. Jadilah ia tanpamalu sebagai polisi yang tugas utamanya menjadi satpam pemikiran Islam. Sungguhironis, karena hal ini tidak akan terjadi terhadap Buddhisme di Thailand atau Katholikdi Filipina. Tetapi kian Islam dipinggirkan dan dirintangi, kian pula ia memperlihatkankeberadaan yang sebenarnya. Pintu depan ditutup, lewat pintu belakang ia masuk,diam-diam tanpa terdeteksi. Pintu belakang dan pintu depan ditutup, melalui lubangperanginan dan lantai ia menerobos masuk. Orde Baru menutup pintu bagi Islampada awal 1970an, tetapi membukanya lebar-lebar pada tahun 1990. Ini sebenarnyamerupakan pelajaran yang sangat berharga.

Kinimari kita lihat ke tempat lain. Partai-partai politik yang mengaku sekularboleh bangga akan kemenangannya dalam Pemilu, curang atau pun jurdil tidakpeduli. Tetapi tetap saja untuk memperoleh kemenangan itu mereka harus mencaridukungan dari umat Islam. Untuk itu mereka merasa perlu mengusung jargon-jargondan simbol-simbol  Islam dalam kegiatankampanye mereka, seperti pasukan Napoleon ketika memasuki Mesir untukmenaklukkan negeri itu dan bangsanya yang telah lama beradab itu namundisangkanya belum beradab. Ini menunjukkan betapa siginikannya Islam sebagaisumber legitimasi kekuasaan politik dan paradigma budaya. Jika demikian halnya,lantas di manakah letak kesalahannya sehingga  Islam harus dipinggirkan dan kontribusinyadianggap tidak ada bagi bangsa ini? Bukankah Festival Istiqlal I 1991 dan FestivalIstiqlal II 1995 telah memberi pengetahuan kepada kita bahwa  Islam merupakan kekuatan yang masih kreatifdan dominan di bidang kebudayaan? Tentu contoh lain masih banyak diberikan.Tetapi itu kami kira sudah cukup.

Sebagaipenutup izinkanlah sekali lagi saya mengutip Gellner, yang mengatakan dariperadaban yang mengenal budaya baca tulis (literacy) sejak lama,kelihatannya hanya Islam yang dapat mempertahankan keimanan pra-industrialnya.Sebab Islam memiliki tradisi besar dan tradisi kecil yang bisa dipertahankandan diperbarui, sebagai kelanjutan dari dialog lama antara rasionalitas danmitos, adab dan barbarisme, tertib sosial dan anarki, ortodoksi dan liberalisme.

Senarai Rujukan.

Abdul Hadi W. M.(2000). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap

Karya-karya Hamzah Fansur. Jakarta:Paramadina.

———————    (2003). “Taj al-Salatin: Adab PemerintahanDari Nanggroe Aceh

Darussalam”.Dalam Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara. Penyelenggara

AbdulHadi W.M, Edwar Djamaris dan Amran Tasai. Jakarta: Pusat Bahasa.

———————    (2005). “Aceh dan Kesusastraan Melayu”.Dalam Aceh Kembali Ke

Masa Depan. Ed. Sardono W. Kusuma. Jakarta:Institut Kesenian Jakarta.

Al-Attas, S. M.Naquib (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur:

UniversitiMalaya Press.

—————————  (1972). Preliminary Statement on a GeneralTheory of the

Islamization of Malaysia Indonesian Archipelago. Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press.

Azyumardi Azra(1999). Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan

Kekuasaan.Jakarta: Rosda.

Braginsky, V. I.(1998). Yang Indah, Yang Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu

Dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS.

———————    (2004). Satukan Hangat dan Dingin: Kehidupan Hamzah Fansuri,

Pemikir dan Penyair Sufi Melayu. Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka.

Drewes, G. W. J.(1978). An Early Javanese Code of Muslim Ethics. The Hague:

MartinusNijhoff.

Gellner, Ernest(1992). Posmodernism, Reason and Religion. London and New York:

Routledge.

Gibb, H. R. (1957).Ibn Batuta: Travels in Asia and Africa 1325-1354. London:

Routledge& Kegan Paul.

Hasan Muarif Ambary(1998). Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di

Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian ArkeologiNasional.

Ibrahim Alfian(2005). “Refleksi Gempa-Tsunami: Kegemilangan Dalam Sejarah Aceh”.

DalamAceh Kembali ke Masa Depan. Ed. Sardono W. Kusuma. Jakarta: InstitutKesenian Jakarta.

Iskandar, Teuku(191987). “Shamsuddin as-Sumaterani Tokoh Wujudiyah”. Dalam

Tokoh-tokoh Sastera Melayu. Ed. Mohamad DaudMohamad. Kuala Lumpur:  Dewan Bahasa danPustaka.

Ismail Hamid(1983). Kesusastraan Melayu Lama dari Warisan Peradaban Islam.

PetalingJaya, Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd.

Ismail R. Faruqi(1992). Atlas Kebudayaan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan

Pustaka.

Jansen, G. H.(1983). Islam Militan. Terj. Armahedi Ma Mahzar. Bandung: Pustaka.

John, A. H. (1961).”Sufism as a Category in Indonesian Literature and History”. JSAH

2,July:10-23.

Kern, H. (1917). Versperichegeschifter VI. The Hague: Martinus Nijhoff.

Muhammad Hatta(1979). Bung Hatta Berpidato, Bung Hatta Menulis. Jakarta: Mutiara.

Nicholson, R. A.(1982). The Kashf al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism by

Ali Uthman al-Hujwiri. New Delhi: Taj Company.

Noordyn (1972). IslamisasiMakassar. Jakarta: Bhratara.

Nurcholis Madjid(1987). Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

Oman Fathurrahman (2005). “Naskah dan RekonstruksiSejarah Islam Lokal: Contoh

Kasus dari Minangkabau”. DalamMimbar Vol. 22.  No. 3:260-8.

Ricklefs, M.C. (1993). A History of Modern Indonesia since c. 1300. London:

Macmillan.

RuslanAbdulgani (1995). Problem Nasionalisme, Regionalisme dan Keamanan di Asia

Tenggara.Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Schrieke, B.(1955). Indonesian Sosilogical Studies. The Hague & Bandung: VanHoeve.

Sidiq Fadil(1990). “Pengislaman Dunia Melayu: Transformasi Kemanusiaan dan

RevolusiKebudayaan”. Dalam Dewan Budaya 12 Bil 11, November.

TaufikAbdullah (1988). “Ke Arah Perencanaan Strategi Kultural Pembinaan Umat”.

DalamPak Natsir 80 Tahun. Ed. H. Endang Saifuddin Anshari dan M. Amien Rais. Jakarta: Media Dakwah.

——————-   (2002). “Pemikiran Islam di Nusantara DalamPerspektif Sejarah”.

Makalahdiskusi peluncuran buku Ensiklopedi Tematos Dunia Islam. Jakarta 5 September.

Tirmingham, J.S. (1972). The Sufi Orders in Islam. Oxford:Oxford University Press.

UkaTjandrasasmita (1975). Sejarah Nasional Indonesia III: Jaman Pertumbuhandan

PerkembanganKerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Winstedt,  R. O. (1961). A History of Classical MalayLiterature. Kuala Lumpu: Oxford

UniversityPress.

Wolters,O.  W. (970). The Fall of Sriwijaya inMalay History. Ithaca, New York:

Cornell University.

Masjid Riau Penyengat. Di pulau kecil ini sastrawan besar Melayu Raja Ali Haji menulis karya-karyanya seperti Tuhfat al-Nafis, Bustanul Katibin dan lain sebagainya.
About these ads

3 comments on “ISLAM DI INDONESIA DAN TRANSFORMASI BUDAYA (4)

  1. Assalamulaikum

    Tulisannya penuh provokasi dan menurut saya penuh negatif thinking

    bermain cantiklah dalam berdakwah………., perlahan tapi pasti kembangkan sayapmu………

    negative dan positif adalah pilihan, Allah hanya “kun fa ya kun”

    jgn engkau salahkan segelintir org, yang bertujuan baik, yg harus kita salahkan adalah diri kita sendiri,
    Nilai-Nilai budaya kita banyak yg sejalan dengan ISLAM,

    Gali terus saja, Siapakah yg mengajarkan tauhid di bangsa ini sebelum ISLAM masuk, jgn katakan agama kita sebelum islam adalah aninesme atau dinanisme…..that stupid.

    Jika anda bilank Hindu dan Budha bukan agama Allah, maka anda salah besar. Anda lihat apa bedanya.

    1. Dulur papat 5 kepancer, Jawa
    2. Air, Api, Kayu, Angin, Tanah, Cina
    3. Amarah, etc……, Islam

    Manusia satu dengan yg lain adalah penggoda, dan kaca bagi yang lainnya, maka berikanlah yg positive2 saja. Maka sesungguhnya jalan dakwah itu indah.

    wa’alaikum salam.

  2. Sungguh perjalanan yang panjang dari nusantara,, semuanya mengandung hikmah dan pembelajara yang dapat kita ambil untuk terus maju menatap masa depan. Terima kasih untuk artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: