Tinggalkan komentar

ESTETIKA DAN SENI SEBAGAI UNGKAPAN RELIGIUSITAS

Oleh Abdul Hadi W. M.

Estetika sering diartikan sebagai filsafat keindahan atau seni. Tujuannya sebagaimana tujuan filsafat, dapat dirumuskan mengikuti perumusan Harold Titus (1964:6-9) , namun dengan mengaitkannya dengan masalah-masalah keindahan, yaitu: (1) Menentukan sikap terhadap keindahan yang terdapat dalam alam, kehidupan manusia dan karya seni; (2) Mencari pendekatan-pendekatan yang memadai dalam menjawab masalah obyek pengamatan indra, khususnya karya seni, yang menimbulkan pengaruh terhadap jiwa manusia, khususnya perenungan dan pemikiran, serta perilaku dan perbuatan manusia; (3) Mencari pandangan yang menyeluruh tentang keindahan dan obyek-obyek yang memperlihatkan rasa keindahan; (4) Mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan bahasa dan penuturannya yang baik, sesuai keperluan, misalnya dalam karya sastra, serta mengkaji penjelasan tentang istilah-istilah dan konsep-konsep keindahan; (5) Mencari teori untuk menentukan dan menjawab persoalan di sekitar karya seni dan obyek-obyek yang menerbitkan pengalaman indah.

Sebagai cabang filsafat atau ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari metafisika, logika dan etika, serta teologi, terjadi sejak abad ke-18 dan pandangan sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagian masih dipertahankan sampai masa kini. Buku paling awal yang memandang estetika sebagai ilmu tersendiri ialah Baumgarten, seorang filosof rasionalis Jerman. Karya Baumgarten yang terkenal ialah Aesthetica (1750). Kata ‘aesthetica’ diambil dari kata Yunani ‘aesthesis’ artinya pengamatan indra atau sesuatu yang merangsang indra. Dari arti perkataan tersebut Baumgarten mengartikan estetika sebagai Scientia cognitio sensitiva atau pengetahuan yang berkaitan dengan apa yang dapat diamati dan merangsang indra, terutama karya seni. Di dalam perkataan ‘aisthesis’ juga tercakup pengertian sensasi atau reaksi organisme tubuh manusia terhadap rangsangan luar. Di dalamnya juga tercakup perasaan, kecendrungan dan kegandrungan jiwa manusia terhadap sesuatu hal.

Pengertian semacam itu dikritik oleh banyak ahli filsafat, misalnya Comaraswamy dan Gadamer. Menurut Comaraswamy pengertian semacam itu meredusir karya seni dan obyek-obyek indah hanya sebagai fenomena psikologi dan selera subyektif. Padahal seni bukan semata-mata sebagai masalah perasaan dan selera pribadi, atau semata-mata bertalian dengan pengalaman sensual. Masalah keindahan dan karya seni bertalian dengan hasrat manusia yang lebih tinggi, yaitu pengalaman kerohanian dan kepuasan intelektual. Seni juga berkaitan dengan masalah moral dan agama. Dalam bukunya Kimiya-i Sa`adah (Kimia Kebahagiaan) Imam al-Ghazali menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan karya seni terhadap jiwa manusia sangat besar, dan karena menentukan moral dan penghayatan keagamannya. Apabila masalah estetika hanya dikaitkan dengan selera dan kesenangan sensual, serta kesenangan indrawi, maka nilai seni itu akan merosot.

Karena itu dalam tradisi Timur seni dipandang sebagai bagian dari kebajikan intelektual dan spiritual. Di Barat pandangan sempit terhadap estetika yang memisahkannya dari etika, metafisika dan spiritualitas mendapat kritik dari Gadamer. Khususnya dalam bukunya The Relevance of the Beautiful and other Essays. Gagasan Baumgarten, yang memandang estetika sebagai pengetahuan mengenai pengamatan indra, bertentangan dengan tujuan ilmu yang sebenarnya. Menurur Gadamer tujuan pengetahuan yang sebenarnya ialah menyerap kebenaran universal dan mengatasi subyektivitas. Karena itu pengetahuan, termasuk estetika, tidak boleh ditentukan hanya oleh kesenangan dan hasil pengamatan indra.

Karena kritik-kritik tersebut kajian estetika diperluas kembali di masa modern. Ia dikaitkan juga dengan masalah-masalah sosial, politik, ideologi, kebudayaan dan agama. Ini dapat dilihat umpamanya dalam karya seorang filosof Amerika Monroe C. Beardsley Aesthetic From Classical Greece to the Present: A Short History (1968). Secara umum kajian estetika mengandung tiga unsur utama, yaitu: (1) Pembicaraan tentang hakekat karya seni dan obyek-obyek indah buatan manusia; (2) Pembicaraan tentang maksud dan tujuan penciptaan karya seni serta cara bagaimana memahami dan menafsirkannya; (3) Mencari tolok ukur penilaian karya seni dengan kaedah-kaedah tertentu yang memadai. Tolok ukur bobot dan keindahan karya seni juga harus dikaitkan dengan besar kecilnya kesempurnaan yang ditampilkan karya seni.

Bagaimana melihat besar kecilnya kesempurnaan dalam karya seni? Para ahli estetika secara umum memberi patokan sebagai berikut: (1) Sempurna dilihat dari sudut bobot gagasan, konsep dan wawasannya; (2) Sempurna dilihat dari besarnya fungsi sebuah karya seni dalam kehidupan manusia; (3) Sempurna dilihat dari sudut nilai-nilai yang ditawaran karya seni dan relevansinya bagi perkembangan kebudayaan; (4) Sempurna dilihat dari sudut kesesuaian karya seni dengan cita-cita kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan/kerohanian yang hendak ditegakkan manusia; (5) Sempurna dilihat darei sudut kegunaan.
Pada zaman modern bobot dan keindahan karya seni juga sering diukut dari nilai pembaharuannya dan peyimpannya dari konvensi seni yang ada,. Pembaharuan dan penyimpangan dipandang sebagai satu cara seniman menyampaikan suara tentang perubahan yang berlangsung dalam masyarakat dan kebudayaan pada zamannya.

Estetika Dalam Tradisi Islam

Dalam tradisi Islam pemikiran estetika bermula pada abad ke-9 dan 10, bersamaan waktunya dengan munculnya terjemahan buku-buku filsafat Yunani. Karya filosof Yunani yang paling menarik perhatian pemikir Muslim untuk dibahas dan dikritik, sehingga kemudian melahirkan teori estetika tersendiri, ialah Poetics karangan Aristoteles. Sebagaimana filosof Yunani klasik pada mulanya para pemikir Muslim mengkaitkan estetika dengan retorika, logika, psikologi dan mentafisika. Puisi dan musik menjadi perhatian utama, sejalan dengan perkembangan sastra Arab dan kegemaran mereka kepada seni musik.

Karya seni, khususnya puisi, dipandang oleh para filosof Muslim, terutama Ibn Sina dan al-Jurjani, sebagai persembahan mimesis (mutabaqah), yaitu ekspresi perasaan dan pikiran seorang penyair yang mencoba mengungkapkan perasaan dengan menggunakan pikiran dan imaginasi. Karena besarnya peranan pikiran dan imaginasi serta campur tangan perasaan, tiruan yang dibuat seorang seniman terhadap kenyataan bukan tiruan sebagaimana dibuat tukang potret ketika merekam obyek. Istilah-istilah yang berkenaan dengan hubungan karya seni dan kenyataan dijelaskan melalui perkataan seperti deformasi, stilisasi dan simbolisasi.

Pada tahapan perkembangan berikutnya, dari abad ke-12 s/d 17, masalah estetika lebih banyak mendapat tumpuan dari para sufi dan ahli-ahli filsafat `ishraqiyah, atau para cendekiawan dan ulama yang mempunyai hubungan dengan tasawuf. Hal ini disebabkan karena para sufi mulai memainkan peranan menonjol dalam kehidupan kebudayaan. Lagi pula dalam kenyataan pengalaman mistik yang mereka peroleh mirip dengan pengalaman estetik yang dicapai seniman, serta memiliki kualitas puitik. Pada masa ini estetika tidak hanya dikaitkan dengan sastra, tetapi juga dengan musik dan seni rupa, termasuk arsitektur, seni lukis dan desain.

Kegiatan penciptaan karya seni digolongkan sebagai kegiatan inntelektual yang berhubungan dengan hikmah dan makrifat. Seorang arsitek dan pelukis yang ingin mencapai puncak karirnya mestilah mempelajari cabang-cabang ilmu pengetahuan lain seperti metafisika, logika, ilmu fiqih, Hadis, tafsir Qur`an, filologi, matematika, optik, ilmu hayat, kimia, seni khat, adab dan lain-lain. Begitu pula seorang sastrawan. Di antara tokoh yang banyak membicarakan estetika dalam risalah tasawuf dan filsafat ialah Imam al-Ghazali, Ahmad al-Ghazali, Ibn `Arabi, Nizami, `Attar, Ruzbihan Baqli, Suhrawardi, Jalaluddin Rumi, Sa`di, `Iraqi, Qunyawi, Haydar Amuli, Mahmud Shabistari, Jami dan lain-lain. Dalam kaitannya khusus dengan seni lukis, seni khat dan geometri, pembicaraan estetika dilakukan antara lain oleh Dust Muhammad, Arudi, Siyawush, Riza Abbasi, Siddiqi dan lain-lain. Yang disbut terakhir ini hidup dalam zaman Bani Timurid, Mughal dan Safawi.

Pemikiran tokoh-tokoh di atas berpengaruh pada tokoh-tokoh sastra Melayu dan Jawa, seperti Hamzah Fansuri, Sunan Bonang, Syamsudin Sumatrani, Raja Ali Haji, Yasadipura I dan II, Ranggawarsita dan banyak lagi. Estetika Islam yang dikembangkan para sufi itu tidak hanya mempengaruhi karya sastra, tetapi juga arsitektur, seni musik gamelan, batik dan seni ukir. Gema estetika Islam pada abad ke-20 dapat dirasakan dalam karya-karya Amir Hamzah, Danarto, Kuntowijoyo dan pelukis-pelukis seperti Ahmad Sadali, A. D. Pirous, Amang Rahman dan Oesman Effendy.

Dalam tradisi sufi estetika lebih jauh dikaitkan dengan metafisika dan jalan kerohanian yang mereka tempuh di jalan ilmu tasawuf. Yang dibicarakan dalam estetika sufi ialah termasuk hakekat dan fungsi seni, pengaruhnya terhadap psikplogi dan kehidupan kerohanian manusia, penggunaan karya seni dalam menumbuhkan semangat religius dan solidaritas sosial, serta cara-cara memahami karya seni melalui metode hermeneutika (ta’wil). Para sufi berpendapat bahwa semua karya yang baik mestilah dapat dirujuk kepada ayat-ayat al-Qur`an, dan tak jarang puisi-puisi mereka sebenarnya merupakan tafsir spiritual terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang ditransformasikan ke dalam bahasa figuratif puisi.

Keindahan dan Peringkat-peringkatnya

Dalam tradisi Islam istilah yang digunakan untuk keindahan estetis diambil dari al-Qur`an dan Hadis, yaitu jamal dan husn. Di antara Hadis yang mengandung dua istilah tersebut ialah Hadis yang menyatakan bahwa keindahan batin (jamal) bersifat universal dan memperkaya rohani, karena di dalamnya terdapat hikmah dan jalan menuju Tauhid. Sedangkan keindahan zahir (husn) tidak jarang hanya memukau (sihr). Orang yang tak berpengetahuan dan memiliki penglihatan batin sering teperdaya oleh yang tampak indah dalam pandangan mata, tetapi orang arif dapat menembus ke sebalik keindahan zahir sehingga dapat melihat yang hakiki.

Hadis di atas dirujuk pada Hadis lain yang menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. Kata yang digunakan dalam Hadis ini ialah ‘jamal’, dan kata tersebut dikaitkan dengan Cinta. Tetapi tidak semya keindahan yang tergolong ‘husn’ itu memiliki arti negatif, karena untuk nama-nama Tuhan yang indah disebut asma al-husna. Dengan demikian di samping ada keindahan zahir yang buruk, ada keindahan zahir yang baik, bahkan dapat dijadikan laluan menuju keindahan tertinggi.

Karena keindahan ada kaitan dengan cinta, dan cinta memiliki peringkat, maka demikian pula keindahan itu memiliki peringkat-peringkat. Kalau Tuhan mencintai keindahan, tentulah keindahan yang dimaksud ialah keindahan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan ilahiah penciptaan. Para sufi mengaitkan tujuan ilahiah penciptaan pada manusia dengan kesempurnaan pengetahuan, akhlaq, amal ibadah dan perbuatan. Dalam Hadis lain, yang sering disitir para sufi, yakni “Aku harta tersembunyi, aku cinta untuk dikenal, maka aku mencipta dan dengan demikian dikenal”, cinta dikaitkan dengan harta tersembunyi (kanz makhfiy), yaitu pengetahuan (`ilm) Tuhan yang tak terhingga. Karena itu keindahan juga dihubungkan dengan pengetahuan dan sebagaimana pengetahuan keindahan memiliki peringkat-peringkat.

Pembicaraan tentang peringkat-peringkat keindahan ini dapat kita temui dalam Kimiya-i Sa`adah karangan Imam al-Ghazali, al-Futuhat al-Makkiyah karangan Ibn `Arabi dan Mathnawi-i-ma`nawi karangan Jalaluddin Rumi. Di sini saya hanya akan membicarakan karanan Imam al-Ghazali, karena teks bukunya yang agak lengkap telah diterjemahan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kimia Kebahagiaan..

Sesuai judulnya penulisnya menghubungkan manifestasi keindahan, dalam karya seni atau obyek estetis lain, dengan peringkat-peringkat kebahagiaan yang didapat jiwa manusia. Kebahagiaan yang dimaksud Imam al-Ghazali berkaitan dengan pencapaian kesempurnaan dalam satu atau dua hal, yang secara potensial mesti dimiliki oleh sesuatu atau seseorang. Kesempurnaan juga dikaitkan oleh Imam al-Ghazali dengan peringkat akhlaq dan kepribadian, yang dalam diri seseorang terlihat dalam amal ibadah, amal perbuatan dan tingkat makrifat yang dicapainya. Di antara kebahagian puncak yang dapat diperoleh dari karya seni dan intelektual yang tinggi, ialah kebahagiaan yang dapat membawa kita mengenal Tuhan dengan haqq al-yaqin, dan mengenal hakikat diri kita sebagai mahluk kerohanian, yang dengan itu tidak terguncang oleh godaan material.

Karena itu tidak mengherankan apabila tema-tema yang berkenaan kerinduan dan cinta mistikal (`ishq), begitu pula tema yang berkenaan makrifat dan pengenalan diri hakiki, sangat digemari oleh para penulis sufi dalam rasail (discourses) mereka. Ini terlihat misalnya dalam puisi Syekh Hamzah Fansuri, sufi abad ke-16 – 17 M dari Barus, Sumatra:

Hamzah Fansuri orang `uryani
Seperti Ismail jadi qurbani
Bukan `Ajami lagi Arabi
Sentiasa wasil dengan Yang Baqi

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Bait al-Ka’bah
Di Barus ke Quds terlalu payah
Akhirnya dijumpa dalam rumah (Nya)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa keindahan yang didamba sufi tidak hanya keindahan yang memberi kepuasan pada perasaan dan menimbulkan ekstase, dan bukan juga keindahan zahir yang tidak tetap dan bersifat nisbi, melainkan keindahan yang mengandung dimensi religius dan moral. Lebih jauh keindahan oleh para sufi, khususnya Imam al-Ghazali, dikaitkan dengan sifat mutlak dan nisbi yang dimiliki suatu keberadaan atau wujud.

Di sini keindahan dapat dibedakan menjadi keindahan yang bersifat sementara, yaitu keindahan zawahir (fenomenal) dan keindahan yang langgeng. Keindahan yang dimiliki oleh seorang wanita cantik bersifat fenomenal, dan apabila seseorang hanya ingin berpuas dengan kecantikan lahirnya, kelak akan kecewa apabila kecantikannya itu sudah pudar. Cinta yang terbit disebabkan daya tarik keindahan fenomenal ini tingkatnya di bawah. Berlainan dengan keindahan pribadi Nabi Muhammad s. a. w. yang langgeng, yang mmancar dari ahlaq, pengetahuan, kearifan dan solidaritasnya kepada kaum yang teraniaya. Keindahan pribadi Nabi langgeng dan menyejarah, mengatasi waktu dan universal. Karena itu syair-syair yang memuat pujian kepada Nabi seperti Qasidah Burdah karangan al-Busiri dan Qasidah Barzanji karangan Syekh Barzanji memiliki kedudukan yang tinggi dalam kesusastraan Islam dan memainkan peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Timur dan Afrika Utara.

Dalam bukunya Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali mengatakan bahwa peringkat-peringkat keindahan estetis sejajar dengan peringkat pengalaman kesufian. Ia berjalan dari peringkat syariat (formal), melalui peringkat tarekat, menuju hakekat (makna) dan akhirnya mencapai makrifat. Pencapaian keindahan tertinggi dengan demikian melibatkan latihan spiritual.

Sesuai peringkatnya keindahan dapat dibagi menjadi: (1) Keindahan sensual dan duniawi, yaitu keindahan yang berkaitan dengan hedonisme dan materialisme; (2) Keindahan alam; (3) Keindahan akliah, yaitu keindahan yang ditampilkan karya seni atau sastra yang dapat merangsang pikiran dan renungan; (4) Keindahan rohaniah, berkaitan dengan akhlaq dan adanya pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu pada diri seseorang atau karya sastra serta keilmuan; (5) Keindahan Ilahi.

Keindahan sensual (nafsani) dan duniawi tidak dapat disebut keindahan sejati. Sebabnya ialah karena pengaruhnya yang lebih banyak negatif dibanding positif, seperti mendatangkan kemungkaran dan kesombongan diri, serta kelobaan yang dapat merugikan masyarakat. Keindahan sejati dicintai, walaupun tidak mendatangkan keuntungan material atau kesenangan badani. Menikmati keindahan yang ditimbulkan pemandangan danau yang menyenangkan, tidak mendatangkan keuntungan material, namun dicintai karena menyehatkan jiwa. Kesenangan, kelezatan dan kepuasan yang ditimbulkan oleh keindahan sejati menyebabkan jiwa sehat, akhlaq bertambah, pengetahuan dan kearifan meningkat, dan pengalaman rohani dan religius kita semakin kaya. Dalam keindahan sejati, yaitu keindahan alam, akliah, rohaniah dan ilahiah, manusia dapat menyaksikan asal-usulnya di alam kerohanian yang diliputi oleh kebaikan, kebenaran dan kesempurnaan sesuai ukurannya. Di sini nyata bahwa keindahan dikaitkan dengan hasrat manusia akan kesempurnaan, kebahagiaan dan kebaikan diri.

Telah disebutkan bahwa walaupun keindahan alam termasuk keindahan zahir dan peringkatnya rendah disebabkan mudah dicerap secara inderawi, akan tetapi ia tetap dipandang sebagai keindahan sejati sebab membuat iwa subur dan mendatangkan kedamaian bagi penikmatnya. Bahkan jiwa orang yang arif dan dewasa dapat terangsang sehingga menyebabkan pikirannya sadar akan kebesaran Tuhan.

Imam al-Ghazali melihat keindahan berdasarkan penampakan kesempurnaan dari suatu obyek sesuai dengan kualitas kesempurnaan ideal yang sepatutnya ada pada sebuah obyek. Hal itu berlaku pada sebuah karya seni, yang dicipta dengan maksud dan tujuan berbeda, dan karenanya untuk fungsi yang berbeda pula dan dengan takaran bobot dan mutu yang berbeda pula. Seekor kuda disebut indah sesuai sifat dan proporsi tubuhnya yang ideal bagi seekor kuda yang baik dan tangkas. Manusia menjadi tidak indah apabila memiliki sifat dan bentuk tubuh seperti kuda, atau binatang lainnya seperti kerbau, singa ataupun badak.

Mengenai keindahan tertinggi, Imam al-Ghazali, menghubungkannya dengan peringkat kebenaran atau pengetahuan yang ada pada karya atau pribadi yang kita nilai indah. Pengetahuan dan kebenaran tertinggi hanya dapat ditangkap dengan indra keenam, yaitu penglihatan hati dan jiwa universal (al-nafs al-kulliy). Seluruh kehidupan dan pribadi Nabi Muhammad s. a. w. hanya dapat dilihat nilai dan mutu keindahannya melalui indra keenam ini. Dilihat secara lahir Nabi adalah manusia karena beliau juga makan, tidur, berumah tangga dan mengendarai kendaraan seperti manusia lain. Tetapi dilihat dari kehidupan spiritual dan moralnya beliau adalah lebih dari sekadar manusia biasa.

Melalui penjelasannya tersebut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa penglihatan batin sangat penting dalam kehidupan manusia, serta menumbuhkan semangat religius. Penglihatan batin lebih kuat dari penglihatan zahir ataupun akal, demikian juga pengaruh ang ditimbulkannya terhadap keimanan dan cinta seseorang. Jami. seorang sufi abad ke-15 dari Herat, mengatakan bahwa setiap keindahan dan kesempurnaan menyatakan diri dalam pelbagai peringkat wujud sebagai berkas-berkas daripada sinar keindahan-Nya. Sebagaimana Imam al-Ghazali, Jami menyatakan bahwa apabila keindahan manusia terletak pada nilai moral, pencapaian intelektual dan spiritualnya, maka keindahan puisi terletak pada hikmah yang dikandungnya. Hikmah dalam dirinya mengandung aspek moral, intelektual dan spiritual.

(Bersambung dalam karangan “Estetika Sebagai Suluk atau Jalan Kerohanian”).

Masjid di kompleks bekas ibukota Mughal pada zaman Sultan Akbarm Fatehpur Sikri.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: