Tinggalkan komentar

Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik Al-Quran

Muhammad Anis

Toshihiko Izutsu

Setelah membaca buku Toshihiko Izutsu yang berjudul “God and Man in The Quran”, saya langsung jatuh cinta dengan buku ini. Toshihiko Izutsu (1914-1993) adalah profesor di Institute of Cultural and Linguistic Studies, Keio University, Tokyo. Selain itu, ia juga mengajar di The Imperial Iranian Academy of Philosophy (Tehran) dan McGill University (Kanada). Dalam mengkaji agama, ia condong pada pendekatan linguistik, meskipun menurutnya Al-Quran dapat didekati melalui beragam ilmu pengetahuan. Ia menguasai dengan fasih 30 bahasa: Arab, Persia, Cina, Yunani, Rusia, dan sebagainya. Pada tahun 1958, ia berhasil menerjemahkan Al-Quran dari bahasa Arab ke bahasa Jepang. Saya tidak tahu apakah ia menjadi Muslim atau tidak, yang jelas seorang muridnya yang juga berdarah Jepang kemudian menjadi Muslim.

Analisis semantik ia gunakan dalam menelisik kosa kata Al-Quran yang terkait dengan beberapa persoalan yang kongkrit. Maksud analisis semantik di sini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa yang mengantarkan pada pengertian konseptual weltanschauung(pandangan dunia) masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Sehingga, bahasa tidak hanya sebagai alat berkomunikasi dan berfikir, tetapi lebih penting lagi sebagai pengonsep dan penafsir dunia yang melingkupinya.

Secara umum, buku ini menjelaskan bagaimana kehadiran Islam di Jazirah Arab, yang mentransformasi bangsa Arab ke dalam pandangan dunia Islam, atau yang lebih dikenal dengan islamisasi. Menariknya, proses islamisasi ini bermula dari bahasa. Buku ini pada dasarnya mengupas semantik Al-Quran dan menganalisis kata-kata kunci yang terkandung di dalamnya, seperti kata: Allah, Iman, Syukur, Taqwa, dan sebagainya. Kata kunci tersebut dipandang memegang peranan sentral dalam ajaran dan ideologi Islam.

Menariknya lagi, kata-kata kunci tersebut sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Arab pra-Islam, yang kemudian mengalami proses islamisasi. Misal kata “Allah”, bangsa Arab pra-Islam telah mengenal Allah sebagai Tuhan Maha Tinggi di antara tuhan-tuhan lokal, bahkan sebagian kecil dari mereka meyakini keesaan Allah. Mereka meyakini bahwa Allah sebagai pencipta alam semesta, pemberi hujan, dan pelindung Ka’bah. Namun demikian, mereka menolak ketika Al-Quran memosisikan Allah sebagai pengatur kehidupan manusia. Bangsa Arab lebih takut pada kematian ketimbang kepada Allah, karena secara umum mereka menganggap bahwa kematian merupakan akhir segalanya. Sementara, Islam memandang kematian sebagai proses menuju keabadian kehidupan berikutnya.

Menurut Izutsu, bangsa Arab tidak seperti bangsa Yunani yang senang berfilosofi dan berpikir global. Bangsa Arab pra-Islam adalah bangsa pragmatis, fatalis, dan partikularis, yang lebih senang mengungkap hal-hal detail ketimbang global. Izutsu memberikan ilustrasi apik, jika seorang Arab mendapati pohon, maka ia lebih senang menceritakan dahannya sedetail mungkin, daunnya serinci mungkin, atau keindahan bunganya dengan beragam ungkapan. Mungkin inilah penyebab mengapa bahasa Arab kaya dengan istilah untuk sebuah benda yang tampak sama. Namun, di sisi lain, mereka cenderung tidak melihat pohon sebagai sebuah sistem.

Kedatangan al-Qur’an di tengah bangsa Arab menyebabkan kata-kata dan terminologi tertentu yang semula tidak berhubungan menjadi saling terkait erat serta membentuk sistem dan pandangan dunia baru, yang bertolak dari konsep Allah. Seperti kata “taqwa”, yang semula bermakna sikap manusia atau hewan yang berupaya mempertahankan diri dari serangan musuh, kemudian diubah oleh Islam menjadi “takut kepada Allah dengan mematuhinya”. Kata “taqwa” kini terhubung pada kata “Allah”. Kata “taqwa” yang semula bukan merupakan kata penting dalam bahasa Arab, menjadi kata kunci dalam pandangan dunia Al-Quran. Demikian halnya dengan kata-kata kunci lainnya.

Dengan demikian, Islam telah mengubah paradigma bangsa Arab yang semula berpusat pada manusia (antroposentris) menjadi pandangan yang menyatakan secara tegas akan sentralitas Allah (teosentris) dalam kehidupan, meskipun tanpa menafikan peran manusia. Keduanya terhubung oleh relasi tertentu. Bangsa Arab jahiliah, meskipun mengakui Allah sebagai pencipta, namun tidak pernah mengakui peran Allah dalam kehidupan manusia. Melihat kenyataan ini, bisakah dikatakan bahwa sekularisme di era modern justru menjerumuskan manusia ke era jahiliah? Silakan Anda simpulkan sendiri. Wallahu A’la

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: