15 Komentar

Situs Megalitikum Musikal Purba Cianjur terbesar di Asia

Kumpulan artikel dari berbagai sumber

Pada tanggal 15 Agustus 2009 lalu, saya berkesempatan mengikuti “Tur Situs Megalitik Gunung Padang”. Situs Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Konon, menurut para ahli arkeologi, situs ini merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Pada judul tulisan ini, saya menambahkan tanda tanya pada akhir kalimat judul karena masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut untuk meyakinkan bahwa Situs Gunung Padang merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Asyiknya, “Tur Megalitik Situs Gunung Padang” dimulai dengan naik kereta ekonomi jurusan Bandung – Cianjur. Jalur kereta Bandung – Cianjur merupakan jalur kereta api tertua, yang mulai dioperasikan pada tahun 1884. Sepanjang jalur ini, banyak terdapat potensi geowisata tentang pembentukan Danau Bandung Purba. Untungnya, pemimpin dan interpreter tur adalah pakar geologi, jadi, di sepanjang perjalanan dengan kereta ini, kami  mendapatkan penjelasan ttg berbagai  fenomena geologis yang dilalui.  Sebetulnya, tidak hanya peserta tur yang mengikuti penjelasan ini, ketika Pak Budi -interpreter- menunjukkan sesuatu di luar jendela, penumpang yang lain -plus penjual yang berlalu lalang- pun ikut melongok ke jendelanya  masing-masing…

image0012

Gambar 1 Suasana kereta api ekonomi Bandung – Cianjur yang membawa peserta tur

Jalur Bandung – Cianjur merupakan jalur yang sangat sepi karena hanya melayani satu rute kereta api, yaitu Bandung – Cianjur – Bandung, berangkat dari Bandung pukul 08.10, dan kembali lagi dari Cianjur pukul 14.00. Karena jalurnya sepi, kereta api Bandung – Cianjur ini bisa berhenti hampir di setiap stasiun kereta api yang dilewatinya.

Rombongan tur sendiri turun di Stasiun Cipeuyeum. Perjalanan Bandung – Stasiun Cipeuyeum ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Stasiun Cipeuyeum ini merupakan stasiun di pinggir Kota Cianjur. Di sana kami sudah dijemput oleh bis yang akan membawa kami ke Situs Gunung Padang. Perjalanan dari Stasiun Cipeuyeum ke Gunung Padang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 45 menit, tetapi kami singgah  dulu di Stasiun Lampegan yang memiliki terowongan kereta api yang juga sudah tua umurnya.

image0032

Gambar 2 Stasiun Cipeuyeum, Cianjur

Stasiun Lampegan saat ini sedang dalam perbaikan untuk dapat dioperasikan lagi pada tahun 2010 nanti. Terowongan kereta api Lampegan dibangun selama tiga tahun, sejak tahun 1879 – 1882. Informasi ini tercantum di atas mulut  terowongan tersebut. Memasuki terowongan, suasana gelap dan dinginlah yang kami rasakan. Hanya sekitar 10 menit kami berada di dalam terowongan karena terowongan pun sedang dalam renovasi.

image0052

Gambar 3 Terowongan Lampegan, terowongan tua yang dibangun selama tiga tahun

Perjalanan kami lanjutkan ke Situs Gunung Padang. Tepat 15 menit, kami tiba di perkebunan teh milik PTPN VIII Panyairan yang terletak di sekitar  Situs Gunung Padang. Perjalanan harus dihentikan di sana karena bis yang kami gunakan, tidak memungkinkan untuk masuk sampai ke kaki Gunung Padang. Kendaraan  yang lebih kecil  dapat langsung sampai ke kaki Gunung Padang.

image0071

Gambar 4 Dari perkebunan teh Penyairan inilah pendakian ke Situs Gunung Padang dimulai

Dari sini kami berjalan kaki sekitar 1 km, sebetulnya hal ini tidak menjadi masalah karena kami berjalan melalui perkebunan teh yang pemandangannya sangat indah, namun karena saat itu hampir tengah hari, jadi terasa agak panas.

Setelah melalui jalan-jalan mendaki, menurun, mendaki lagi, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Padang sekitar satu  jam kemudian. Karena hari sudah siang, kami memutuskan untuk menyantap makan siang dulu sebelum melanjutkan pendakian ke Situs Gunung Padang. Sedapnya…, makan siang yang disediakan oleh masyarakat adalah makanan khas Sunda, yaitu nasi liwet, ikan asin goreng, ayam goreng, pepes ikan mas, dan tidak ketinggalan karedok.

image0091

Gambar 5 Perjalanan mendaki menuju kaki Gunung Padang

Setelah sejenak beristirahat dan sholat, kami mulai melakukan ‘pendakian’ ke Situs Gunung Padang. Untuk menuju Situs Gunung Padang, terdapat dua alternatif jalan. Alternatif pertama adalah jalan utama, mendaki sekitar 370 anak tangga dengan kemiringan yang cukup tajam, hampir 40 derajat. Alternatif kedua adalah mendaki sekitar 500 anak tangga dengan kemiringan yang lebih landai. Kami memutuskan untuk mengambil jalan utama  yang jarak tempuhnya lebih pendek dan terbuat dari batuan asli, walaupun dengan kemiringan yang lebih tajam.

image0111

Gambar 6 Jalan masuk Situs Gunung Padang, di sisi kiri terdapat anak-anak tangga menuju situs

Satu per satu anak tangga kami daki. Anak-anak tangga ini disusun dari batu-batu berbentuk kolom poligonal yang dipasang melintang. Dengan sedikit terengah-engah, akhirnya 15 menit kemudian, kami tiba di Situs Gunung Padang. Woww…!! Pemandangan k depan dan ke belakang betul-betul menakjubkan!

image0131image0151

Gambar 7 Perjalanan mendaki sekitar 370 anak tangga dan pemandangan di belakangnya

Situs Gunung Padang ini terdiri dari lima pelataran (bisa juga menjadi 7 pelataran jika bagian-bagian tertentu di bawahnya dianggap sebagi pelataran). Masing-masing pelataran berada lebih tinggi sekitar 50-cm dari pelataran sebelumnya.

Beberapa peserta tur yang kelelahan langsung merebahkan diri ke atas rerumputan begitu tiba di  pelataran pertama. Pelataran pertama adalah pelataran dengan gerbang kecil yang terbentuk oleh kolom-kolom batu yang berdiri berhadapan. Pada pelataran pertama ini terdapat batu-batu berwarna abu-abu berbentuk kolom yang masih tersusun rapi membentuk ruang persegi panjang. Batu-batuan di Gunung Padang adalah batuan jenis andesit basaltis yang merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Karena pengaruh proses alam, batu-batuan ini membentuk dirinya menjadi kolom-kolom poligonal segi empat, lima, enam, delapan, yang permukaannya sangat halus sehingga banyak orang yang mengira batu-batuan ini merupakan hasil karya tangan manusia jaman dahulu.

image0171

Gambar 8 Pelataran pertama Situs Gunung Padang

Arsitek megalitik yang diperkirakan hidup sekitar 6000 tahun yang lalu, menyusun kolom-kolom batu tersebut menjadi sebuah bangunan berundak-undak yang sangat indah. Sayangnya, letak batu-batuan tersebut saat ini sudah banyak yang tidak beraturan, tergeletak begitu saja. Menurut Pak Dadi, petugas di situs Gunung padang, sebelum dianggap memiliki nilai budaya yang tinggi, Gunung Padang merupakan sumber kayu bagi para pencari kayu. Banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sini dan ditebang oleh para pencari kayu. Selain itu, Gunung Padang juga pernah dimanfaatkan sebagai ladang oleh masyarakat sekitar. Penebangan dan pengangkutan pohon serta perladangan lah yang mengubah posisi bebatuan dari posisi aslinya. Untungnya, masih terdapat beberapa batuan yang tersusun rapi pada posisi aslinya sehingga nilai-nilai budayanya tidak hilang begitu saja.

Pada pelataran pertama, terdapat batu berbentuk poligon yang disebut batu gamelan. Konon, pada jaman dahulu, dari arah Gunung Padang  ini kerap terdengar bunyi-bunyi gamelan setiap malam Selasa dan malam Jumat. Sampai saat ini bunyi gamelan ini sesekali saja terdengar, dikalahkan oleh bunyi-bunyi dari sumber-sumber suara lain yang lebih modern, seperti TV, radio, maupun kendaraan bermotor. Salah satu petugas yang mengantar kami, memainkan batu gamelan tersebut, terdengarlah alunan musik tradisional Sunda dari pukulan-pukulan batu kecil pada batu gamelan. Para seniman tradisional Sunda, seperti pesinden, dalang, konon sering melakukan doa di sini sebelum melakukan pertunjukan.

image0191

Gambar 9 Batu gamelan yang sedang dimainkan oleh pemandu kami, Pak Nanang

Pada pelataran berikutnya, Pak Dadi, menunjukkan kepada kami batu dengan cerukan yang menyerupai bentuk telapak kaki harimau berukuran besar.

image0211

Gambar 10 Ceruk berbentuk Telapak kaki harimau pada salah satu batu

Di pelataran selanjutnya, terdapat batu gendong. Menurut Pak Dadi, jika ada yang berhasil mengangkat batu gendong tersebut, maka semua keinginannya akan terwujud. Penasaran, saya mencoba untuk mengangkat batu tersebut. Ternyata, saangaat berat! Beberapa kali saya coba, tidak satu kali pun batu itu terangkat oleh saya. Beberapa peserta tur lain pun mencoba mengangkat batu gendong, tetapi tidak ada satu orang pun yang berhasil, termasuk Pak Dadi….!!

image0231

Gambar 11 ‘Penguasa’ Gunung Padang pun tidak berhasil mengangkat batu gendong ini

Pada pelataran kelima, terdapat tempat yang dianggap memiliki aura paling kuat di Gunung Padang. Di tempat ini terdapat lubang kecil di bawah tanah yang ditutupi oleh batu-batu poligonal. Menurut Pak Dadi, lubang  ini pada awalnya berukuran besar, bahkan manusia pun bisa masuk ke dalamnya, tetapi untuk menghindari hal-hal yang membahayakan pengunjung, lubang ini sebagian ditutup olehnya. Di tempat inilah orang-orang yang percaya pada kekuatan mistis Gunung Padang bersemedi untuk mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan yang diinginkannya.

image0251

Gambar 12 Tempat yang dianggap memiliki kekuatan paling besar di Gunung Padang

Kalau merujuk pada sejarah Jawa Barat, Gunung Padang ini diperkirakan merupakan salah satu kebuyutan yang ditemukan oleh seorang pangeran Kerajaan Sunda yang berkelana menjelajahi tempat-tempat keramat di Pulau Jawa dan Bali pada sekitar abad ke-15. Konon, tujuan perjalanannya adalah untuk meningkatkan ilmu yang dimilikinya.

Pangeran ini adalah pangeran yang mendapat julukan Bujangga Manik. Dari perjalanannya, Bujangga Manik berhasil mencatat sekitar 450 nama geografis yang sebagian besar masih dapat dikenali sampai saat ini. Catatan dalam lembar-lembar daun lontar tersebut sekarang tersimpang di Museum Bodleian, Oxford, Inggris. Dari catatan tersebut diketahui bahwa Bujangga Manik pernah melakukan persiapan untuk perjalanan spiritualnya ke Nirwana di suatu tempat kebuyutan yang ditemukannya di hulu Sungai Cisokan, Cianjur. Walaupun belum ada kepastian di mana kebuyutan di hulu Sungai Cisokan yang disebut oleh Bujangga Manik, tetapi satu-satunya tempat kebuyutan yang ada di hulu Sungai Cisokan – Cikondang, Cianjur adalah Gunung Padang.

Nampaknya, masih banyak cerita bernilai tinggi yang dapat digali dari Situs Gunung Padang. Ini tentu saja membutuhkan dukungan para peneliti arkeologi maupun sejarah. Potensi arkeologi, sejarah, maupun geologi Gunung Padang yang masih belum digali secara optimal ini merupakan kekayaan alam dan budaya yang sangat tinggi bagi Cianjur, dan bahkan bagi Indonesia.

Kami duduk-duduk menikmati angin sepoi-sepoi dan bertukar cerita tentang kemungkinan sejarah geologis dan kebudayaan situs ini  di pelataran ke lima hingga sore hari. Kami kemudian turun kembali ke kaki Gunung Padang. Kali ini, kami mengambil jalan yang lebih landai agar pengalaman yang kami dapatkan lebih utuh. Melalui jalan ini dapat dilihat sisi situs Gunung Padang yang dibentuk dari tumpukan (mungkin) ribuan batu poligonal ini.  Wah, sungguh  mengesankan…

Saya pasti akan kembali lagi ke sini. Sampai jumpa lagi, Gunung Padang!

image027

Gambar 13 Sisi Situs Gunung Padang

image029

Gambar 14 Perjalanan pulang melalui jalan alternatif kedua, lebih panjang tetapi lebih landai

(Yani Adrianihttp://ayotamasya.com/?p=462

Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan, Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, merupakan situs megalitik berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs sendiri kurang lebih sekitar 3 ha.

Gerbang Situs Gunung Padang Cianjur Jawa Barat

Keberadaan situs ini peratama kali muncul dalam laporan Rapporten van de oudheid-kundigen Dienst (ROD), tahun 1914, selanjutnya dilaporkan NJ Krom tahun 1949. pada tahun 1979 aparat terkait dalam hal pembinaan dan penelitian benda cagar budaya yaitu penilik kebudayaan setempat disusul oleh ditlinbinjarah dan Pulit Arkenas melakukan peninjauan ke lokasi situs. Sejak saat itu upaya penelitian terhadap situs Gunung Padang mulai dilakukan baik dari sudut arkeologis, historis, geologis dan lainnya.

Bentuk bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Situs Gunung Padang yang terletak 50 kilometer dari Cianjur konon merupakan situs megalitik paling besar di Asia Tenggara. Di kalangan masyarakat setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi membangun istana dalam semalam.

Dibantu oleh pasukannya, ia berusaha mengumpulkan balok-balok batu yang hanya terdapat di daerah itu. Namun, malam rupanya lebih cepat berlalu. Di ufuk timur semburat fajar telah menggagalkan usaha kerasnya, maka derah itu kemudian ia tinggalkan. Batu-batunya ia biarkan berserakan di atas bukit yang kini dinamakan Gunung Padang. Padang artinya terang.

Teras 1 Situs Gunung Padang Cianjur

Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang.

Bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia.

Balok-balok batu yang jumlahya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang. Penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya ada yang disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fukor.

Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai

Terang ke-2 Situs Gunung Padang

Kapanlagi.com – Situs peninggalan zaman megalitikum yang terletak di Gunung Padang Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur hingga kini kondisinya sangat memprihatinkan, dan Pemkab Cianjur nampaknya belum memiliki perhatian serius untuk memelihara situs purbakala yang sangat berguna bagi pengungkapan kebudayaan pra-sejarah yang ada di daerah itu.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur, Iwan Permana SH kepada ANTARA di Cianjur, Rabu menyatakan, pihaknya menyesalkan sikap Pemkab Cianjur yang kurang menghargai nilai-nilai sejarah. Padahal, kata Iwan, situs semacam itu di daerah lain bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.

“Sejak ditemukannya, situs Gunung Padang memang sangat memprihatinkan, padahal masyarakat terutama kalangan arkeolog telah berupaya agar situs tersebut dipelihara. Kini bebatuan di daerah itu mulai rusak karena banyaknya tangan-tangan jahil yang memanfaatkan bebatuan di lokasi tersebut untuk kepentingan yang tidak jelas,” ujar Iwan.

Teras ke-3 Situs Gunung Padang

Sementara itu Bupati Cianjur, Ir Wasidi Swastomo Msi secara terpisah kepada ANTARA mengemukakan, situs Gunung Padang sebenarnya telah beberapa kali mendapat pemugaran dan pemeliharaan dari instansi terkait, terutama Pemkab Cianjur. Namun karena keterbatasan dana, Pemkab belum bisa membuat akses jalan ke daerah itu dengan lebih baik karena medannya yang relatif sulit.

“Saya kira kalau Pemkab Cianjur tidak peduli itu salah besar, karena tiap tahun kita senantiasa melakukan pemugaran dan pemeliharaan agar situs tersebut tetap terjaga dan terawat,” kata Wasidi.

Teras ke-5 Situs Gunung Padang

Berdasarkan data yang diperoleh ANTARA, bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan peninggalan tradisi megalitik yang baru. Uraian tentang peninggalan tradisi megalitik di Gunung Padang ini pada masa sebelum tahun 1950 jarang ditemukan, baik dalam hasil penerbitan di dalam maupun di luar negeri.

Teras ke-4 Situs Gunung Padang Cianjur

Peneliti di bidang arkeologi khususnya tradisi megalitik seperti Van der Hoop, Van Tricht, Pleyte yang pernah mengadakan peninjauan dan penulisan tentang peninggalan di daerah Jawa Barat itu belum menyinggung tentang temuan bangunan berundak Gunung Padang.

Bangunan berundak Gunung Padang muncul dalam percaturan di bidang prasejarah sekitar tahun 1979 setelah tiga orang penduduk menemukan misteri yang terkandung dalam semak belukar di bukit Gunung Padang.

Penduduk setempat yang bernama Endi, Soma dan Abidin ketika bekerja di tempat tersebut dikejutkan oleh adanya dinding tinggi dan susunan batu-batu berbentuk balok yang oleh mereka tidak diketahui peninggalan apakah sebenarnya.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada Edi, seorang Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka yang kemudian bersama-sama R Adang Suwanda, Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur saat itu mengadakan pengecekan pada tahun 1979.

Sejak itu kemudian berturut-turut tim peneliti, di antaranya dari Puslitarkenas mengadakan pemetaan, penggambaran, dan deskripsi. Mereka mengakui, temuan bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan penting karena dapat dipergunakan sebagai studi banding dalam penelitian bangunan berundak di Indonesia.

Bangunan berundak itu terletak di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah tenggara dan barat laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut dari perhitungan altimeter. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.

Menurut para ahli, bangunan berundak Gunung Padang dibangun dengan batuan vulkanik yang berbentuk persegi panjang, terdiri dari balok-balok batu. Batu tersebut belum dikerjakan (belum dibentuk) dengan tangan manusia. Batu-batu konstruksi itu diperkirakan berasal dari Gunung Padang itu juga.

Bangunan itu terdiri dari teras pertama sampai kelima. Kelima teras itu mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Teras pertama merupakan teras terbawah, mempunyai ukuran paling besar, kemudian berturut-turut sampai ke teras lima yang ukurannya semakin mengecil (*/erl)

Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang

Kamis, 17 September 2009 06:35 WIB | Artikel | Spektrum | Dibaca 3534 kali

Jafar M. Sidik

gunung padang (antara/jafar)

Cianjur (ANTARA News) – Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.

“Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu kepada ANTARA, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.

Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.

Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.

Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.

Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.

Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.

Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.

Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.

Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.

“Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang.

Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno.

Poligonal

Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.

Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.

Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.

Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.

Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit.

Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.

Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.

“Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya.

Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.

Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.

Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin.

Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.

Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.

Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.

Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)

Musik Purba dari Cianjur Selatan?

Sumber:  http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/

Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah falsetto dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup (bone whistles) di kawasan Hemudu, China yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Tanah nusantara mungkin tak ketinggalan. Sebuah arahan penelitian menunjukkan ada kemungkinan penemuan instrumen musik kuno di Cianjur Selatan, di sebuah desa Campaka, Jawa Barat. Di sebuah situs megalitikum yang diduga didirikan pada tahun 2500 SM, terdapat batu-batuan raksasa yang jika dipukul menghasilkan nada-nada tertentu. Nusantara kita nan kaya dan hebat…

Di kawasan perkebunan teh itu ada sebuah situs kuno megalitikum, dinamai situs megalitik Gunung Padang, di kawasan Cianjur Selatan, Jawa Barat. Ini mungkin adalah situs megalitikum terbesar di kawasan Asia Pasifik karena luasnya lebih dari 3 kilometer persegi. Di tengah puing-puing ini, terdapat sekelompok bebatuan berbentuk persegi yang jika dipukulkan akan menghasilkan bunyi-bunyi berfrekuensi tinggi. Kita bisa menonton lokasi gambarannya dari link YOUTUBE ini.



Belum diketahui pasti, dimaksudkan sebagai tempat apa sebenarnya puing-puing bangunan purba ini ketika didirikan. Kita masih menunggu hasil penelitian arkeologis, antropologis, tentang hal ini. Situs ini baru dilaporkan diketemukan sekitar tahun 1979 oleh penduduk setempat dan saat ini masih dalam kajian-kajian untuk memastikan fungsionalitasnya. Yang jelas di sini tersimpan sesuatu informasi yang kita belum tahu tentang keberadaan diri kita, tentang mereka yang pernah tinggal di tanah tercinta ini, tentang nenek moyang kita atau bisa jadi penduduk asli yang dibasmi oleh nenek moyang kita dalam perebutan tanah yang kita sebut nusantara ini.

Di sebuah lokasi sempit di dalam lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak sedemikian dengan panjang lebih dari 1.5 meter dan lebar serta ketebalan lebih dari 25 cm. Beberapa batu besar ini jika dipukul dengan batu lain yang lebih kecil maka akan memberikan bunyi berfrekuensi dalam interval 2500-5000 Hz. Range frekuensi bunyi yang masuk dalam kategori bunyi yang bisa kita dengar. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian, maka diperoleh spektrum nada-nada yang unik sekali. Terdapat kecenderungan, satu batu menghasilkan satu frekuensi yang sama – yang dimaksudkan untuk representasi satu nadakah? Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi musik dari zaman megalitikum!

Ada sekitar beberapa batu yang dipukul-pukul, dan berhasil diekstrak 4 batu yang dipukul dan menghasilkan 4 frekuensi yang dapat dipetakan ke dalam tangga nada yang kita kenal saat ini. Empat nada ini, bisa didengarkan di sini,

>>> empat nada purba <<<

Yang kemudian direkonstruksi menjadi empat nada dalam tangga nada yang kita kenal:

…untaian bunyi dengan nada f”’ – g”’ – d”’ – a”’ yang bisa jadi adalah urutan nada pentatonik? Kalau benar peradaban kuno ini telah mengenal nada pentatonik, mungkin nada yang hilang adalah nada-nada di antara nada pertama dan kedua, karena jarak larasnya yang agak jauh antara kedua nada tersebut. Rekonstruksi nada-nada ini bisa didengar pada file mp3 berikut ini:

>>> rekonstruksi nada purba <<<

Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah sekelompok orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. Wow, sungguh mengherankan dan menarik sekali. Bayangkan ada peradaban purba yang belum mengenal tulisan, namun sudah mengenal konsep kerja sama dalam menghasilkan bentuk-bentuk estetika suara.

Ini merupakan suatu hal yang sangat memperkaya khazanah pengetahuan kita akan sejarah musik dunia. Banyak pertanyaan baru akhirnya timbul, termasuk pertanyaan siapakah mereka ini? Apakah mereka adalah nenek moyang orang Sunda? Jika ya, berarti ada fasa prasejarah dengan tradisi megalitikum di kalangan orang Sunda? Situs ini menyimpan banyak hal yang memperkaya wawasan mereka yang kini tinggal di Jawa Barat, dan kepuluaan Indonesia secara umum, bahkan mungkin dunia, karena mungkin inilah temuan pertama tradisi megalitikum di mana instrumentasi musik pukul ditemukan pertama kali. Wallahualambissawab!

Situs Megalith paling Ajaib !! situs ini berusia sekitar 5000 tahun..orientasi situs ini mengarah ke puncak gunung gede, setelah ditelusuri melalui google earth ternyata ada 5 puncak gunung yang berada dalam satu garis lurus..5 puncak gunung tersebut merupakan mirror dari situs megalith itu sendiri yang mempunyai 5 undakan...batunya berbentuk batang dengan 5 sisi ( pentagonal )...batu gamelannya di-indikasi-kan menghasilkan nada pentatonis..AJAIB !!

About these ads

15 comments on “Situs Megalitikum Musikal Purba Cianjur terbesar di Asia

  1. saya sangat senang membaca tulisan anda. apakah saya bisa mendengar versi MP3 nya ? karena link geocities sudah tidak ada lagi

  2. ingin rasanya mengunjungi situs tsb..

  3. menurut saya yang pernah juga mengunjungi situs megalith tersebut, situs tersebut bukan terletak di Cianjur Selatan, namun terletak di desa Warung Kondang Cianjur Jawa Barat

    • Situs Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Termasuk daerah Cianjur Selatan, kampungku di Kec Sukanagara berbatasan langsung dengan kec Campaka

  4. Sangat menarik, ingin mengunjungi.
    Ada situs megalitik yang mungkin jarang dikunjungi, yaitu Situs Megalitik Mahek Kabupaten Tanah Datar ( . . . kalau tidak salah) Sumatra Barat.
    Saya pernah kesana yang saya awali berangkat dari kota Payakumbuh.
    Bagi penggemar situs purbakala, ini merupakan objek yang menarik, dengan ditambah pemandangan gunung ( entah lupa namanya) yang dari kejauhan nampak bolong . Terima kasih, selamat mengunjungi.

  5. Saya sangat tertarik, mungkin saya akan mengunjunginya. kalau boleh mohon informasinya bagaimana mendapatkan pemandu tur seperti yang diceritakan itu. Terima kasih.
    Hartoyo.

  6. saya merasa bangga dengan situs tersebut,mari kita lestarikan salah satu peninggalan nenek moyang kita

  7. menarik sekali..
    pengen juga pergi ke sana..hehe

  8. [...] Megalitikum Musikal Purba Cianjur terbesar di Asia Posted on March 12, 2010 by Ahmad Samantho| 8 [...]

  9. menurut hasil penelitian terbaru sit. gn padang bukan sekedar sit. mega litikum batu yang berserakan tetapi gn nya itu adalah sebuah piramid raksasa

  10. puti dari sarugo
    Adopun warih nan bajawek pusako nan batarimo umanaik nan bapakai dari rang tuo dahulunyo, nan sabarih bapantang hilang satapak bapantang lupo, kok hilang nan sabarih ka guru cubo tanyokan kok lupo nan satapak cari tunggue panabangan nyo. Adopun warih nan Bajawek, pituah dek guru mangaji sajak dari Alif, pituah dek mamak babilang sajak dari aso, nan aso Allah duo bumi tigo hari nan satu ampek aie sumbayang limo pintu razaki anam budak dikanduang bundonyo tujuah pangkek manusia salapan pangkek sarugo sambilan pangkek Muhammaik kasapuluah Muhammaik jadi, sinan bakato tuhan kito Kun katonyo Allah Fayakun kato Muhammaik Nabikun kato Jibraie yaa Ibrahim kato bumi jo langik Kibrakum kato Adam, jadi sagalo pekerjaan, apo bana nan tajadi, sajak dari Luah dengan Qalam sampai ka Arasy jo Kurisyi bago sarugo jo narako inggo nak bulan jo matohari walau ndak langik dengan bumi samuik sameto sakalipun takanduang dalam wahdaniah tuhan, adolah limo parakaro, maanyo nan limo parkaro,1 tanah baki,2 tanah baku,3 tanah hitam 4 tanah merah jo tanah putiah,5 tanah ditampo dek Jibraie dibaok mangirok kahadiraik tuhan ta-anta ka-ateh meja, disinan bijo mangko kababatang sinannyo kapeh kamanjadi banang disitu langik kamarenjeang naiak disitu bumi kamahantam turun disinan ketek mangko kabanamo disinan gadang mangko kabagala disinan Adam nan batamponyo iyo kapanunggu isi duya.

    Dek lamo bakalamoan dek asa ba-asa juo dek bukik tumbuakan kabuik dek lauik ampang muaro abih taun baganti taun mangko malahiekanlah ibu manusia Siti Hawa sabanyak 39 urang, mako dikawinkan dari surang ka nan surang nan bunsu indak bajodoh mangko banazalah nabi Adam katiko itu Ya Allah ya rabbil alamin perkenankanlah aku dengan anak cucu aku kasadonyo, kandak sadang kabuliah pintak sadang kabalaku mukasuik sadang lai disampaikan tuhan, bafirman tuhan ka Jibraie, hai malaikaik jibraie mangirok engkau kasarugo nan salapan, kaba-kan ka anak puti bidodari nan banamo Puti Dewanghari anak Puti Andarasan bahaso inyo kadiambiak dek Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mangiriok lah Jibraie ka-sarugo nan salapan mangaba-kan ka Puti Dewanghari bahaso inyo ka dipasangkan jo Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mamandanglah Puti Dewanghari ka-ateh duya nampaklah anak Adam diateh alam Sigumawang antaro huwa dengan hiya dikanduang Abun jo Makbun wallahualam gadangnyo hati, mako dikumpuekanlah alat peragaik kasadonyo, iyolah payuang panji kuniang payuang bahapik timba baliak langkok sarato jo marawa kuniang cando kajajakan bertatah intan dangan podi buatan urang disarugo, mako ba-tamu lah mereka dipuncak bukit Qaf lalu dinikahkan dek kali Rambun Azali dipangka Titian Tujuah dibawah Mejan nan kiramaik, mako dibaka kumayan putiah asok manjulang ka-udaro takajuik sakalian malaikaik tacengang sagalo Bidodari manyemba kilek ateh langik bagaga patuih diateh duya tarang bandarang cahayonyo lapeh ka-langik nan katujuah tahantak kahadirat tuhan sabagai sasi pernikahan
    Dek lamo bakalamoan abih hari baganti bulan abih bulan baganti taun, salah saurang anak cucu baliau nan bagala Sutan Sikandarareni (cyrus the Great / Iskandar Zulkarnain) manjadi rajo kuaso sadaulat dunia mampunyoi katurunan nan partamo Sutan Maharajo Alif kaduo Sutan Maharajo Depang katigo Sutan Maharajo Dirajo, Sutan Maha Rajo Alif mamarentah Banuruhum, Sutan Maharajo Depang mamarentah dinagari Cino sadangkan Sutan Maharajo Dirajo lapeh kapulau Paco mamarentah di Pariangan Padang Panjang dikaki gunuang Marapi dinagari nan alun banamo Minangkabau
    Pajalanan Sutan Maharajo Dirajo
    Adopun Sutan Sikandareni rajo alam nan arih bijaksano, mancaliak anak lah mulai gadang lah masak alemu jo pangaja, timbua niaik dalam hati nak manyuruah anak pai marantau mancari alimu jo pangalaman, mako tapikialah maso itu jo apo anak nak kadilapeh balayia dilauik basa, tabayanglah sabatang kayu gadang nan tumbuah dihulu Batang Masia (Egipt) banamo kayu Sajatalobi, daun rimbun rantiangnyo banyak batang panjang luruih pulo, tabik pangana andak manabangnyo kadibuek pincalang (parahu) tigo buah untuak palapeh anak marantau, mako dikumpuakanlah sagalo cadiak pandai ditanah Arab dibaok kapak jo baliuang panabang kayu nantun, lah banyak urang nan manabang lah tujuah puluh tujuah baliuang sumbiang lah tigo puluah tigo pulo kapak nan patah namun batang kayu gadang nantun indak kunjuang rabah, apolah sabab karanonyo, dek rukun saraik alun tabaok, mako datanglah urang cadiak pandai mambari pitunjuak jo pangaja, mako dikumpuakanlah urang banyak, didabiah kibasy sarato unto dibaka kumayan putiah asok manjulang ka-udaro, urang mandoa kasadonyo, mamintaklah Sutan Sikandareni, Yaa Allah yaa rabbil ‘alamin perkenankanlah aku manabang kayu Sajatalobi untuak paharuang lauik basa
    Kandak sadang ka-buliah pintak lai ka-balaku, baguncanglah hulu Batang Masie gampo nagari tujuah hari tujuah malam sahinggo banyak batang kayu nan rabah tamasuak batang Sajatalobi, dek urang nan ba-ilimu di-ambiak daun jo batangnyo, daun diramu manjadi dawaik kulik disamak kajadi karateh kapanulih Qalam Illahi untuak mangaji dek umaik nan banyak, kulik batangnyo dipabuek manjadi kain untuak ba-ibadaik kapado Allah
    “Kok mandanyuk di-ampu kaki manyetak di ubun ubun, mato hijau angok lapeh duya bapindah ka akirat, sakik kito dalam kubua sangketo sampai ka Padang Masha, angek cahayo tiang Arasy lapuak baserak dinarako” Tapi kok lai kito sumbayang, Quraan jo hadis jadi pidoman, suruah bakarajoan tagah ba-hantian, sapanjang kaba guru2 kito, mako elok masuak punco ka hulunyo, bilangan duya kok nyo sampai, janji akhiraik kok nyo tibo, pasan nagari kok nyo datang, janji dahulu batapati, duya papindah ka akirat, sananglah awak dalam kubua lapeh katangah Padang Masha, lindok cahayo tiang arasy pulanglah kito kasarugo, mancaliak junjuangan basandiang jo Khadijah dalam sarugo Jannatun nain”
    Rabahlah kayu Sajatalobi, batangnyo dikarek tigo kapambuek pincalang tigo buah, ciek pincalang Sutan Maharajo Alif, ciek pulo Sutan Maharajo Depang nan ciek lai untuak Sutan Maharajo Dirajo, hari patang malam pun tibo dipanggie anak kasadonyo, dibari pitujuak jo pangaja kaganti baka pai marantau.
    Satantangan Sutan Majo Alif manarimo baka Mangkuto Ameh, Sutan Maharajo Depang mandapek baka pakakeh tukang, Sutan Maharajo Dirajo mandapek kitab barisi undang.
    Ayam bakukuak subuah pun tibo hari pagi matohari tabik, barangkeklah anak katigonyo, adopun tantang Sutan Maharajo Alif tambonyo ditutuik alun ka-babukak kini, Sutan Maharajo Depang kisah abih hinggo disiko, Sutan Maharajo Dirajo taruih balaie kapulau Paco, ba-kawan Shekh Shole nan bagala Cateri Bilang Pandai, urang nan cadiak bijak arih candokio anak rang dusun hulu sungai Masia, dipajalanan batambah kawan nan sorang bagala Harimau Campo, nan sorang lai bagala Kambiang Hutan, nan katigo bagala Kuciang Siam nan sorang lai Parewa nan bagala Anjiang Mualim
    Adopun Cateri Bilang Pandai urang nan pandai manarah manalakang mahia manjarum manjarumek bisa mamati jo aie liua pandai basikek dalam aie santiang mamanah dalam kalam, kalam kapiek gilo buto, basilang sajo anak panahnyo, lah kanai sajo disasarannyo, pandai mambuek sambang loji nan bapasak dari dalam, alun diraiah lah tabukak lah tibo sajo dijangkonyo
    Baitu pulo si Harimau Campo, urang bagak dari India, badan babulu kasadonyo, urang takuik ka-malawan, makan tangan bak cando guruah, capek kaki bak patuih, tibo digunuang gunuang runtuah tibo dibatu batu pacah, pandai manyambuik jo manangkok santiang mangipeh jo malapeh pandai basilek jo balabek, kok malompek bak cando kilek
    Kok disabuik pulo si Kambiang Utan, bak batanduak dikapalo, kancang balari dalam rimbo tantu di-padang nan baliku tantu di-tanjuang nan babalik, paham di-lurah nan babatu paham jo aka nan ka-malilik, kok babanak ka-ampu kaki, barajo di-hati ba-sutan di mato kareh hati Allahurabi, kok pakaro etong di balakang
    Dikaji pulo tantang si Kuciang Siam, kok manyuruak dihilalang sahalai, ma-ambiak indak kahilangan, bantuak bak cando singo lalok, santiang manipu jo manepong, kok malangkah indak balasia, malompek indak babunyi, kunun lidahnyo indak baense, muluik manih bak tangguli kok manggauik indak mangasan, lah padiah sajo mangko ka tau
    Baitu pulo tantang si Anjiang Mualim, Parewa nan datang dari Himalaya, mato sirah bak cando sago, gigi tajam babiso pulo, angoknyo tahan larinyo kancang pandai maintai di nan tarang pandai mahangok dalam bancah, sabalun sampai pantang manyarah, pandai manikam jajak tingga, jajak ditikam mati juo, bahiduang tajam bak sambilu, bia kampuang lah papaga, inyo lah dulu sampai didalam.
    Catatan:
    * Mangkuto Ameh Sijatajati yang berbentuk tanduk diabadikan masyarakat menjadi tudung kepala kaum Bundo Kanduang di ranah Minang.
    * Sutan Sikandar Reni dalam al Qur’an disebut Raja Iskandar Zulkarnain yang artinya Raja yang mempunyai dua tanduk atau cyrus The Great rajo nan menyatukan emperor parsi kuno
    * Kalau bangsa Jepang bangga dengan mitos bahwa Kaisarnya berasal dari Dewa Matahari dan Cina bangga bahwa Kaisar mereka berasal dari Naga Sakti dari Kayangan, kenapa urang ‘awak tidak boleh bangga bahwa kalau rajanya berasal dari Anak Puti Bidodari dari Sarugo? Wallahualam antah iyo antah tidak, namanya juga mitos, ya kaaaaaan?
    Exodus dari Asia Muka (sebuah tinjauan)
    Jauh sebelum tarikh Masehi ketika orang-orang di benua Eropa masih terkebelakang, di daratan Asia telah terdapat masyarakat dengan peradaban tinggi seperti di zaman iskandar zulkarnein dan nabi khidir, Mesir Kuno, Parsi, Arab, India, Mongolia dan Cina, termasuk disebuah dataran subur Asia Muka di kawasan Campha, Kocin, Peghu, Annam dan kawasan Khasi dan Munda disebelah Tenggara anak benua India yang merupakan kantong2 pemukiman yang kelak dengan berbagai motivasi dan factor penyebab telah melakukan exodus kearah Selatan yang selanjutnya melalui proses yang sangat panjang dan sulit telah menyebar dikepulauan Nusantara dan pulau2 lain yang diapit oleh dua Samudra Hindia dan Pasifik yang kelak menjadi cikal bakal nenek moyang bangsa serumpun
    Yang selanjutnya melalui proses yang panjang dan berliku perpindahan lokal terus berlangsung hingga ditemukan tanah idaman yang dapat dianggap subur dan menjanjikan untuk kehidupan yang lebih baik dan layak
    Bagi orang-orang zaman dulu, puncak gunung yang tinggi, indah dan nyaman diyakini sebagai tempat yang suci sebagaimana puncak gunung Mahameru salah satu puncak pegunungan Himalaya di anak Benua Asia, karena puncak gunung yang sedemikian itu dianggap lebih dekat ke Nirwana tempat bersemayam Sang Hyiang Tunggal bersama para Dewata lainnya
    Tidak heran bila puncak yang indah seperti Bukit Siguntang dan Merapi menjadi tanah idaman tujuan akhir dari sebuah pencarian panjang.
    Gunung Merapi di Ranah Minang pada hari Senin tanggal 16 April 2001 jam 08:20 meletus dan menghamburkan material padat dan debu serta awan panas hingga ketinggian 3 kilometer dari puncaknya, udara yang berbau belerang yang sangat menyengat dan memedihkan mata merayap keperkampungan dikaki gunung disekitarnya.
    Menurut catatan, puncak Merapi yang dianggap suci ini pernah didiami oleh Dapunta Hyang beserta pengikutnya sekitar 250 tahun sebelum masehi
    Rombongan ini telah melalui sebuah perjalanan yang melelahkan memudiki sungai Kampar untuk mewujudkan sebuah tempat suci yang identik dengan kampung halaman yang ditinggalkan dan selanjutnya berakhir dipuncak Merapi yang mereka yakini sebagai sebuah tempat yang indah dan lebih dekat ke Nirwana tempat Para Hyang dan Dewa-Dewi.
    Ber-abad2 lamanya puncak dan lereng Merapi menjadi pusat pemujaan Sang Hyiang Tunggal hingga abad ke 5 oleh sang penguasa diutus Sri-Jayanaga (603 M) turun gunung melewati Sungai Dareh Pulau Punjung untuk menyebar luaskan ajaran dan pengaruh himgga akhirnya sampai kedaerah Shan Fuo Thsie (Tembesi – Muara Tembesi)
    Dengan memudiki anak Sungai Batanghari yang berhulu di dua danau kembar didaerah Solok dan Sawah Lunto Sijunjung, hingga akhirnya perjalanan berakhir setelah menemukan sebuah negeri yang kemudian dikenal sebagai Shou Lie Fho Chien (Sriwijaya).
    Keharuman nama Swarnadwipa sebagai pulau yang banyak emas ini telah sampai ke-negeri2 ditanah besar Asia bahkan dijazirah Arab sana orang sudah mengenal pelabuhan Barus dipesisir barat Sumatera diperdagangkan sejenis kamfer yang harum itu
    Tidak heran bila pesisir pantai terlebih dahulu mengalami asimilasi budaya baik itu lewat para petualang atau saudagar dari anak benua India yang mengembangkan agama Hindu / Budha maupun Islam dari jazirah Arab sana terutama dimasa Sri Maharaja Lokitawarman (699 M)
    Tercatat salah seorang petinggi puncak Merapi Sri Maharaja Inderawarman (730M) telah memeluk agama Islam, beliau tewas dalam sebuah prahara ketika terjadi revolusi di istana, sejak itu lereng Merapi menjadi sepi kembali.
    Keindahan tempat2 suci disekitar puncak gunung Merapi dengan gua2 batu-nya huingga ke Parahyiangan Padang Panjang telah terkenal hingga ke Tanah Basa Anak Benua India
    Dari istana Kalingga Chalukia, sang Maharaja mengirim beberapa kelompok ekspedisi hingga salah satu kelompok ekspedisi tersebut berhasil menemukan Muara Sungai Kampar dan terus memudiki hingga kehulu yang akhirnya ditemukan sebuah tempat yang diyakini sebagai tanah idaman yang cocok untuk didirikan sebuah tempat pemujaan Bathara Dewa
    Dengan dukungan kuat dari Istana Kaliang Gaca ini didirikan sebuah stupa yang kemudian kita kenal sebagai Candi Muaro Takus yang sekarang terletak diwilayah kecamatan 13 Koto Kampar Riau tidak jauh dari perbatasan Propinsi Riau dan Sumatera Barat
    Keindahan dan kesucian Kota Lama Muara Takus mengundang penguasa2 diselatan untuk menguasainya hingga ketenangan dan kesucian stupa tempat ibadah ini menjadi terganggu terlebih penguasa Sriwijaya yang sedang gencar melakukan ekspansi, mendorong para penganutnya mencari tempat pemujaan yang baru.
    Dengan mengendarai ber-puluh2 ekor gajah yang biasa berkumpul disekitar stupa / candi terutama tiap bulan purnama, dimulailah perjalanan panjang mencari tempat pemujaan yang baru, setelah berbilang bulan dan tahun mendaki dan menuruni lembah dipegunungan bukit barisan dari jauh terlihatlah sebuah puncak yang tinggi “Sagadang Talua Itiak” sebuah harapan yang membangkitkan semangat baru untuk mencapainya
    Berkat perjuangan yang amat berat ini sekali lagi Puncak Merapi kembali sebagai pusat kebudayaan seperti dibunyikan dalam pituah urang tuo2 kito “Dari mano titiak palito dibaliakTangluang nan barapi, Dari mano asa niniak kito dari Puncak Gunuang Marapi”
    Karena Kota Suci Muara Takus yang terusik oleh ekspansi penguasa2 Sriwijaya, dibawah kepemimpinan sang Datuak ditemukan tanah idaman baru Dipuncak Gunung Merapi dengan kehidupan yang lebih menjanjikan, selanjutnya Datuak Maharajo Dirajo ini mendirikan Istana Kerajaan Koto Batu Dilereng Merapi dimana ketika itu belum disusun aturan2 yang mengikat bersama, tali pengikat hanya kewibawaan dan kearifan Datuak itu sendiri
    Kerajaan Minangkabau Tua yang belum bernama Minangkabau ini bertahan ratusan tahun sepanjang umur Datuak Maharajo Dirajo yang diyakini sebagai manusia Setengah Dewa yang dianugrahi umur ratusan tahun, setelah beliau mangkat pemerintahan dilanjutkan oleh Datuak Suri Dirajo Penghulu kepercayaannya.
    Salah seorang Janda Datuak Maharajo Dirajo yang bergelar Puti Indo Julito dikawini oleh Cati Bilang Pandai orang kepercayaan almarhum yang kemudian memboyong keluarga beserta anak2nya Jatang Sutan Balun, Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno Sudah dan Mambang Sutan ke Dusun Tuo Limo Kaum, selanjutnya setelah mereka dewasa Datuak Suri Dirajo bermufakat bersama Cati Bilang Pandai untuk mengangkat Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Surimarajo Nan Ba-nego2 sebagai Penghulu2 yang akan membantu beliau, keputusan ini dimufakati diatas Batu Nan Tigo dengan meminumkan= air keris Si Ganjo Erah= dengan sumpah setia “Bakato bana babuek baiak mahukum adia bilo dilangga kaateh indak bapucuak kabawah indak baurek di-tangah2 digiriak kumbang”, Ibunda Puti Indo Julito menyerahkan pusaka= keris Siganjo Erah dan Siganjo Aia serta Tungkek Janawi Haluih kepada Datuak Ketumangguangan sedangkan Datuak Parpatiah Nan Sabatang menerima keris Balangkuak Cerek Simundam Manti dan Simundam Panuah serta Payuang Kuniang Kabasaran (pertama Ranah Minang menerapkan warisan dari ibu) dan selanjutnya Istano Dusun Tuo menjadi pusat pemerintahan melanjutkan kepemimpinan Datuak Suri Dirajo yang meghabiskan masa tua di Istano Koto Batu.
    Mengambil tempat diatas Batu Panta mulai disusun peraturan2 pemerintahan yang selanjut dihasilkan 22 aturan yang terdiri dari ;
    – 4 perangkat Undang2 Adat,
    – 4 Undang2 Nagari,
    – 4 Undang2 Koto,
    – 4 Undang2 Luhak dan Nagari,
    – 4 Undang2 Hukum dan
    – 2 Undang2 Cupak
    yang kesemuanya disahkan dengan persumpahan yang masing2 meminum air keris Siganjo Erah diatas Batu Kasua Bunta di Dusun Tuo Limo Kaum. Setelah Undang2 nan 22 tersebut disahkan, di Dusun Tuo dibentuk 4 Suku dengan Pangulu masing2 iaitu Suku Caniago dipimpin Datuak Sabatang, Suku Tujuah Rumah Dt.Rajo Saie, Suku Korong Gadang Dt.Intan Sampono dan Suku Sumagek oleh Dt.Rajo Bandaro, pada saat itu juga dilantik 2 orang Dubalang iaitu Sutan Congkong Tenggi dan Sutan Balai Sijanguah kesemuanya dilantik dibawah pasumpahan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sedangkan Datuak Katumangguangan meminumkan Air Keris Siganjo Aia. Tidak berapa lama kemudian disusul pula pembentukan 8 Suku lengkap dengan Pangulunya di daerah Pariangan iaitu Suku Piliang dipimpin oleh Datuak Sinaro Nan Bagabang, Koto Dt. Basa, Malayu Dt. Basa, Pisang Dt.Kayo, Sikumbang Dt.Maruhun, Piliang Laweh Dt.Marajo Depang, Dalimo Dt.Suri Dirajo dan Limo Panjang Dt.Tunaro kemudian disusul 5 Suku di Padang Panjang iaitu,
    Dalimo Dt. Jo Basa, Piliang Laweh Dt. Indo Sajati, Dalimo Panjang Dt.Maharajo Suri kemudian disusul 6 Suku di daerah Guguak iaitu Suku Piliang, dipimpin oleh Datuak Rajo Mangkuto, Malayu Dt.Tunbijo, Koto Dt.Gadang, Dalimo Dt.Simarajo, Pisang Dt.Cumano, Piliang Laweh Dt.Rajo Malano,selanjutnya 3 Suku di daerah Sikaladi iaitu Suku Sikumbang dipimpin oleh, Datuak Tumbijo, Dalimo Dt.Barbangso dan Suku Koto Dt.Marajo ke 22 orang, Pangulu Suku ini dilantik oleh oleh Datuak Katumangguangan sedang pasumpahan dengan meminumkan Air Keris Sampono Ganjo Aia oleh Datuak Parpatiah NanSabatang. Setelah peresmian Suku yang 22 ini Datuak Berdua menugaskan Suku
    Korong Gadang untuk memelihara Batu Panta sedangkan Batu Kasua Buntatangguang jawab Suku Tujuah Rumah dan Batu Pacaturan oleh Suku Sumagek(ketiga batu bersejarah ini sampai sekarang masih terawat dan dapat dilihatdi Dusun Tuo Limo Kaum Batu Sangkar). Walaupun pembentukan Luhak Nan Tigo sudah digariskan sejak kepemimpinanDatuak Maharajo Dirajo Dipuncak Merapi namun ketegasan batas2 belum ada,maka kedua Datuak membuat ketegasan yang ditandai dengan mengeping sebuahbatu menjadi 3 bagian yang tidak putus dipangkalnya yang bermakna Luhak nanTigo berbagi tidak bercerai namun belum diikuti dengan pembagian Suku (batuini dapat dilihat di Dusun Tuo Limo Kaum) dimana sebelum diadakan pembagianSuku untuk Luhak nan Tigo Datuak Katumangguangan memancang tanah dan membuat sebuah nagari yang kemudian diberi nama Sungai Tarab dan menempatkan adiknyaPuti Reno Sudah bersama 8 Keluarga sekaligus membentuk 8 Suku lengkap denganPangulu iaitu Suku Piliang Sani dibawah Datuak Rajo Pangkuto, Piliang LawehDt.Majo Indo, Bendang Dt.Rajo Pangulu, Mandailiang Dt.Tamani, BodiDt.Sinaro, Bendang Dt.Simarajo, Piliang Dt.Rajo Malano dan Suku Nan Anam dibawah Datuak Rajo Pangulu yang kesemuanya dilantik di Kampuang Bendang danselanjutnya beliau menunjuk kemenakan beliau anak Puti Reno Sudah yangbergelar Datuak Bandaro Putiah sebagai Pangulu Pucuak yang pelantikan dilakukan oleh beliau sendiri diatas Batu 7 Tapak dengan pasumpahan meminum air Keris Siganjo Aia (Batu 7 Tapak ini bisa dilihat di rumah salah seorangpenduduk di Sungai Tarab), selanjutnya Datuak Ketumangguangan memerintahkan Datuak Bandaro Putiah bersama 8 Pangulu Sungai Tarab lainnya agardisekeliling Nagari Sungai Tarab dibangun 22 Koto sebagai benteng dan kubupertahanan antara lain 8 Koto Kapak Radai (Pati, Situmbuak, Selo, Sumaniak,Gunuang Medan, Talang tangah Guguak dan Padang Laweh), 2 Ikua Koto (Sijangekdan Koto Panjang), 2 Koto Dikapalo (Koto Tuo dan Pasia Laweh), 1 KotoDipuncak (Gombak Koto Baru), 1 Koto sebagai Katitiran Diujuang Tunjuak(Ampalu), kemudian bersama Datuak Parpatiah Nan Sabatang menjalani LuhakAgam dengan membangun Biaro dengan pangulu Pucuak Datuak Bandaro Panjang, Baso dibawah datuak Bandaro Kuniang yang dilantik dan disumpah setia denganmeminumkan Air Keris Siganjo Erah di dusun Tabek Panjang yang selanjutnyakedua Pangulu ini ditugaskan membangun nagari2 di Luhak Agam, sedangkan diLuhak 50 Koto Datuak berdua memabngun Nagari Situjuah, Batu Hampa, Koto NanGadang dan Koto Nan Ampek dan melantik Datuak Rajo Nun dan Datuak Sadi Awal yang selanjutnya ditugaskan membangun nagari di Luhak tersebut.
    Setelah Luhak nan Tigo dibari bapangulu Datuak Perpatiah Nan Sabatang tidakmau ketinggalan dengan Datuak Katumangguangan, beliau meluaskan daerahkearah timur Dusun Tuo dengan membentuk Suku dengan pangulunya antara laindi Korong Balai Batu dibentuk Suku Sungai Napa dibawah Datuak Basa, Jambak Dt. Putiah
    Dibawah kepiawaian kedua Datuak Ketumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sistem pemerintahan adat menjadi semakin kemilau bahkan hinggabeberapa dekade kemudian kedatangan Aditiawarman seorang Pangeran Mojopahit yang ingin merobah secara total sistem pemerintahan adat dinegeri ini yangtentu saja mendapat tantangan keras dari para Datuak Basa Ampek Balai, namun kehadiran Negarawan Mojopahit ini bukan tidak ada segi positifnya, bahkan beberapa pimpinan pemerintahan adat Kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago berkesempatan bersama Aditiawarman hadir di istana Mojopahit bahkan melakukan kunjungan muhibah ke istana kaisar didaratan Cina.
    Kalaupun corak pemerintahan ala Mojopahit pernah ingin dipaksakan diranah Minang namun tidak bertahan lama hanya setelah Aditiawarman tewas dalam suatu insiden, kembali system pemerintahan adat diterapkan kembali sebagaimana dikatakan “Luhak Dibari Bapangulu” namun sistem ini adopsi oleh Kelarasan Koto Piliang terutama untuk daerah2 diluar Luhak nan Tigo sebagai Rantau Minangkabau seperti yang disebutkan “Rantau Dibari Barajo”.
    Wilayah Minangkabau menurut Barih Balabeh Tambo Adat Minangkabau :
    Dahulu di Minangkabau tidak memiliki hukum positif, yang ada hanya hukum rimba ” Siapo Kuek Siapo malendo, siapo tinggi siapo manimpo” kemudian oleh dua orang bijak iaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang membuat sebuah perangkat Hukum Adat dan Suku agar diperoleh Perdamaian dalam Nagari dimana “nan lamah dilinduangi dan keadilan bagi semua anak negeri. Agar mudah mengawasinya dibuatlah ukuran untuk baik atau buruk suatu tindakan atau perbuatan “Di ukua jo jangko, dibarih jo balabeh, dicupak jo gantang, dibungka jo naraco, disuri jo banang”. Minangkabau adalah nama bagi suatu etnis yang terdapat di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan suku bangsa dengan nama yang sama juga iaitu Minangkabau, yang dari segi topografi kawasan Minangkabau ini dilintasi dataran tinggi Bukit Barisan yang memanjang dari Utara ke Selatan dan melintang dari pantai Barat hingga dataran rendah pulau Sumatera Tengah.
    Wilayah Minangkabau dapat dipahami dalam dua hal :
    1. Menurut Pengertian Budaya yaitu suatu wilayah yang didukung oleh sebuah masyarakat yang kompleks, yang bersatu dibawah naungan PERSAMAAN ADAT dan FALSAFAH HIDUP sebagai KESATUAN GEOGRAFIS, HISTORIS, KULTURIS, POLITIS dan SOSIAL EKONOMI.
    2. Menurut Pengertian Geografis iaitu suatu kesatuan wilayah yang terdiri dari DAREK dan RANTAU dimana Darek meliputi wilayah sekitar Dataran Tinggi Bukit Barisan, Lembah dan Perbukitan disekitar Gunung Singgalang, Merapi, Sago dan Tandikat yang disebut sebagai daerah Luhak nan Tigo, sedangakan RANTAU terbagi atas RANTAU PESISIR BARAT yang memanjang dari Utara ke Selatan sepanjang daerah sekitar pantai Barat Sumatera Tengah yangdisebut juga sebagai PASISIA PANJANG sedangkan RANTAU PESISIR TIMUR adalah wilayah yang dialiri oleh sungai-sungai besar Batanghari, Indragiri, Kampar, Tapung Siak dan Rokan yang disebut sebagai RANTAU PESISIR TIMUR.
    Secara umum disebutkan bahwa daerah Minangkabau terdiri atas 4 bahagian :
    1. Darek : Daerah Luhak nan Tigo dengan Tiga Gunuang Marapi, Singgalang dan Sago
    2. Pasisia : Daerah Sepanjang Pantai Barat Sumatera Tengah sejak perbatasan Bengkulu sekarang (Muko-Muko), Pesisir Selatan Painan, Padang, Pariaman, Pasaman hingga perbatasan Sumatera Utara bagian Barat Sibolga dan Gunuang Sitoli
    3. Rantau : Daerah Aliran sungai yang bermuara ke Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
    4. Rantau nan Sambilan : Negeri Sembilan di Semenanjung Tanah Melayu-Malaysia sekarang Batas Wilayah Adat Minangkabau sebagaimana disebut dalam Adat Barih Balabeh Minangkabau iaitu Adat Limbago dalam nagari, Tambo Adat Minangkabau “Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokkan, sabarih bapantang lupo satitiak bapantang ilang, kok ilang tulisan di Batu, di Limbago tingga juo, nan Salareh Batang Bangkaweh, Salilik Gunuang Marapi Saedaran Gunuang Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang sahinggo Talang jo Gunuang Kurinci, dari Sirangkak Nan Badangkang hinggo Buayo Putiah Daguak sampai ka Pintu Rajo Ilia jo Durian di takuak rajo sampai++ Kurinci Sandaran Aguang, Sipisakpisau Anyuik, Si Alang Balantak Basi, hinggo Aia Baliak Mudiak, sampai ka Ombak Nan Badabua, sa iliran Batang Sikilang, hinggo Lauik Nan Sa didiah, ka Timua Ranah Aia Bangih, Rao sarato jo Mapa sampai Tunggua jo Gunuang Malintang, taruih ka Pasisia Banda Sapuluah, inggo Taratak jo Aia Itam, sampai ka Tanjuang Simalindu, taruih ka Pucuak Jambi Sambilan Lurah.disabuik pulo Luhak nan Tigo Lareh nan Duo, partamo Luhak Tanah Data duo Luhak Agam tigo bilangan jo Luhak Limopuluah, tiok Luhak dibari Bapangulu, urang nan basa dalam luhak, rancak kato dek mufakat elok nagari dek pangulu, mano pulo Lareh Nan Duo partamo Koto Piliang duo Lareh Bodi Caniago, itu nan saparentah daulat Pagarayuang nan diganggam taguah dipacik arek, kok diliek pulo tantang pado Rantaunyo, kurang aso duopuluah, tiok rantau dibari ba Rajo, Rajo Puatin Tiang panjang Rajo Nagari Pulau Punjuang, Rajo Gamuyang Gunuang Sahilan sarato Nan Dipituan Nagari Basyrah jo Rajo Sumbayang Nan Dipituan Luhak Singingi, Urang Gadang Datuak Rajo Sadio Rajo Kinali, Nan Dipituan Rajo Munang Rajo Rao Aia Bangih, Rajo Sungai Pagu Muaro Labuah, Rajo Lubuak Bandaro Rajo Rambah Rokan Kubu, Datuak Rajo Bandaro Rajo Lindai Tapuang, Sutan Gasib Rajo Siak, Datuak Tanah Data jo Datuak Pasisia sarato Datuak Limo Puluah jo Datuak Kampar Urang Gadang Pakanbaru, sahinggo Rajo Tambilahan, Rajo Rengat sarato Rajo Asahan itu nan disabuik Pagangan Arek Ameh Manah Daulat Pagaruyuang.
    Keterangan:
    * Salilik Gunuang Marapi
    * Iaitu daerah Luhak nan Tuo Tanah Datar, Luhak nan Tangah Agam dan
    Luhak nan Bongsu Limo Puluah Koto.
    * Si rangkak nan badangkang
    * Negeri asal di lembah lereng Merapi Pariangan Padang Panjang.
    * Buayo Putiah Daguak
    * Sekitar Pesisir Selatan / Indopuro
    * Pintu Rajo Ilia
    * Perbatasan daerah Rejang Bengkulu
    * Durian Ditakuak Rajo
    * Daerah Jambi arah ke sebelah barat
    * Si Pisak Pisau Anyuik
    * Daerah Indragiri Hulu hingga perbatasan Gunung Sahilan
    * Si Alang Balantak Basi
    * Seputaran Gunung Sahilan hingga Kuantan Singingi – Simandolak
    * Aia Babaliak Mudiak
    * Daerah Kampar Pesisir Timur dimana waktu musim pasang, arus Selat
    Malaka membawa gelombang besar yang disebut Bono
    * Ombak Nan Badabua
    * Pesisir dan pulau2 di lautan Hindia
    * Sa iliran Batang Sikilang
    * Daerah di seputaran Batang Sikilang
    * Gunuang Mahalintang
    * Daerah Perbatasan dengan Mandailing Tapanuli Selatan
    * Rao jo Mapa Tunggua
    * Daerah Rao sampai ke Daratan Sumatera Tengah bagian Timur dan Selatan – Tapung Kiri dan Tapung Kanan, Rokan Hulu, Petapahan, Mandau dan Rokan Kubu
    * Pasisia Banda Sapuluah
    * Daerah pantai barat ke arah utara dekat perbatasan Sibolga dan Gunuang Sitoli
    * Aia Itam
    * Daerah Dataran Rendah Sumatera Tengah yang warna rawa – air anak sungainya hitam
    * Tanjuang Simalindu
    Daerah sebuah tanjung sekitar aliran sungai yang menjorok ke daerah Pucuk Jambi sambilan Lurah
    Pendahulu2 kita niniak muyang urang Minang dari satu generasi ke generasi berikutnya yang semakin berkembang itu selalu menganjurkan anak kemenakan nya untuk membuka areal baru membentuk taratak selanjutnya jika semakin ramai anak cucu tersebut dibentuk pulalah jorong jo kampung-dusun/desa jo nagari, disusun sesuai ketentuan iaitu minimum sudah ada “nan ba kaampek suku”, walaupun selalu berpindah2 dari satu wilayah ke wilayah lain dan selanjutnya menetap di kantong2 daerah yang lahannya subur dan ikan nya banyak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera dalam rangka mancarikan “nasi nan sasuok, pungguang nan tak basaok dan ameh nan sakauik” namun muyang2 kita itu tetap menjalin hubungan dengan daerah asal yang disebut dalam ketentuan adat:
    – Jauah cinto mancinto
    – Dakek jalang manjalang
    – Jauah mancari suku
    – Dakek mancari indu (induak)
    Tidak jarang komunikasi ke Tanah Asal terputus karena sudah jauh dari pusat2 kelembagaan adat di Luhak nan tigo terutama Pusat Pemerintahan Adat Pagaruyung, bahkan terjebak dan terisolasi akibat perhubungan dan lalu lintas yang sulit terutama selama masa 350 tahun masa pembodohan oleh penjajah Belanda, hingga sudah beberapa generasi tidak lagi melihat tanah asal Tanah Leluhur sementara peradaban bertambah maju dan dinamis juga.
    Namun demikian ketentuan adat yang pokok iaitu ” Basuku bakeh ibu, babangso bakeh bapak” tidak akan hilang begitu saja “indak lakang dek paneh, indak ka lapuak dek hujan” itulah warisan yang diterima dari nenek moyang setiap Generasi Anak Suku Bangsa Minangkabau dimanapun dia berada.
    Untuk ranji atau silsilah raja2 Minangkabau kino, akan saya bongkar2 dulu si fail lamo, insya Allah ko basuo beko ambo opostingkan pulo baliak

  11. dulu belum ada pulau pulau, sehingga ketika terjadi pencairan es dikutub kemudian menggenangi dataran rendah hingga yang kelihatan hanyalah puncak puncak gunug, kemudian pada rentang waktu tertentu terjadi penurunan permukaan air laut, sehingga terbentuklah pulau pulau seperti sekarang ini.mengenai komentar tentang jawa sebenarnya dari kata jawi yang artinya peradapan. maka jangan heran kalo ada kemiripan bahasa [ sansekrit] atau tulisan antara jawa dengan thayland, sampai india. bahkan yang disebut kerajaan mataram kuno pun itu bukan dinasti sanjaya atau rakai pikatan yang kemudian mewariskan borobudur, itu adalah mataram ii. yang dimaksud dengan mataram kuno adalah dari kata metarem yang berkedudukan di rembang darai kata metarembang. ketika itupun pulau jawa belum terbentuk, masih belum terjadi penurunan permukaan air laut, masih berupa pulau pulau kecil puncak puncak gunung yang kemudian disebut sunda kecil dan beberapa yang besar disebut sunda besar. secara keseluruhan disebut nuswantoro atau nusantara. jadi dari apa yang saya tulis ini untuk sementara saya berpendapat bahwa atlantis itu masuk akal kalau memang adanya di wilayah indonesia sekarang ini. soal kebenarannya kita tunggu…………….sekalipun tidak akan ada dampak positif bagi negara kita, bahkan bisa jadi sumbeer mala petaka karena indonesia akan jadi ajang perburuan harta karun. minimal negeri kita ini akan diacak acak oleh bangsa asing dengan dalih penelitian tapi yang terjadi adalah pencurian dan perusakan alam. yang ada malah terjadi bencana atlantis ii………………… semoga tidak.

  12. tak ada sangkut pautnya dengan yang namanya atlantis itumah bekas kuil sundapura atau sunda purba sebab banyak peninggalanya ikon ikon sunda seperti batu gamelan yang bernada musik sunda dan masih banyak yang lainnya

  13. Alhamdulillah saya tertarik dgn tulisan ini yg akan membawa saya ke tempat asal muasal atau leluhur pertama jin diturunkan. sebelumnya saya membaca dan melihat di you tube tentang sejarah sunda ,bahwa Sunda itu agama pertama di muka bumi ini yg artinya Api yg agung..Begitupun dlm Al-Quran bhw jin diciptakan dari api yg halus yg menyala-nyala.Analisa saya.Agama Sunda memang agama yg pertama, dimuka bumi ini tapi untuk nenek moyang bangsa jin sblm turunya Al-Quran. Dan setelah turunya Al-Quran yg dikenakan Syariat Islam dan adanya hari perhitungan adalah manusia dan jin..Cara beribadah bangsa jin dgn manusia itu berbeda.Walaupun jin lbh awal diciptakan ,namun oleh Allah manusia dijadikan sebagai khalifah,maka jin beribadah lewat hati manusia yg ikhlas. Hati ygyg ikhlas disepertikan cahaya bulan. Dalam agama Sunda nenek moyang jin itu menyembah bulan dan cahanya itu merupakan energi bagi bvangsa jin.Spt manusia menyembah Allahm dan Allah itu sbgi energi bagi kehidupan manusia..Namun seiring prilaku dan watak manusia skrg sulit rasanya mencari cahaya hati yg ikhlas dan jin islam banyak yg terusir dari kampung halamanya sendiri yaitu dgn masuknya jin kafir yg membuat hati manusia menjadi riya, ujub dan Takabur…Sejarah banyak versi yang lebih akurat kita tanyakan kepada makhluk Allah yang masih hidup dan menyaksikan pada jaman itu , dan tidak adalagi yaitu bangsa jin yang oleh Allah diberi karunia Umur yang panjang mohon maap ini hny analisa..mdh2an ini skenario Allah saya diberikan karunia oleh Allah untuk membuka Hakikat Hidup dan kehidupan jin. Sktg pun sayahidup bersama mereka bangia jin sedunia dari Masriq sampai Magrib .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.974 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: