6 Komentar

PERAN DAYANG SUMBI DAN SANGKURIANG DALAM KONSEP BUDAYA SUNDA

PERAN DAYANG SUMBI DAN SANGKURIANG

DALAM KONSEP BUDAYA SUNDA

( Kajian  Hermeneutika  terhadap  Legenda dan Mitos

Gunung Tangkubanparahu  dengan segala aspeknya )

Oleh: Hidayat Suryalaga  *)

[ Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar Sunda,  disebut pula sebagai sasakala terjadinya  Talaga Bandung atau dongeng Sangkuriang. Adapun tokoh Dayang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang – puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk  mengarifi  nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, sehingga mempunyai  nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya lokal. ]

  • MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP

Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A.van Peursen (1992:37) mengatakan  sebagai  sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang yang menginformasikan  pengalaman manusia purba tentang kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya.  Sedangkan  Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.


Mengacu kepada pendapat di atas, ternyata  mitos yang dikandung dalam legenda  adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai alat transformasinya; sebab bentuk cerita  lisan mempunyai pola struktur dan alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk seseorang menuturkannya kembali.

  • HERMENEUTIKA  ILMU TENTANG PENAFSIRAN

Kegiatan manusia tidak terlepas dari  kemampuan untuk menafsirkan terhadap apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya.

Kemampuan mengartikan dan memaknai  sesuatu, dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk menafsirkan secara:  silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu  penggunaan susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma).

Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika (panca curiga) untuk mencoba  menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspek yang dikandungnya.

Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis  memanfaatkan  leksikografi (cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik (tentang arti kata) dan semiotika ( tentang arti dan makna lambang).

  • BEBERAPA KARYA SASTRA YANG  BERTEMAKAN  LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU

Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para sastrawan dan seniman untuk mewujudkannya dalam karyanya seperti dalam:

◦         Bentuk Cerita : Sang Koeriang, AC.Deenik diambil dari Pleyte. Tt. – Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946. – Babad Sangkuriang dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983

◦         Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955. – Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992. – Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962. – Sang Kuriang, Beni Setia, 1972. – Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989.- Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992

◦         Bentuk Drama : Sangkuriang. Tatang R. Sontany. Th 2004 dipagelarkan oleh STTB di Gedung Rumentang Siang. Bandung.

◦         Bentuk Gending Karesmen (opera):. Sangkuriang, RTA. Sunarya. Tt. Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga,1973

◦         Bentuk SkripsiPergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi. Fakultas Sastra Unpad. 1994.

◦         Bentuk  Seni Vokal ; Keroncong Sangkuriang, Tt.

◦         Bentuk Lukisan : Djajasupena, Tt

Data yang tertulis di atas  sebatas yang penulis sempat ketahui, tentu masih bertebaran  wacana dan  aspek folklorik  lainnya yang berhubungan dengan legenda Tangkubanparahu dan Dayang Sumbi.

Semua karya seni dan sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Bergantung kepada konsep hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian  alur ceritanya tidak banyak berubah.

Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:

Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun “CARIANG” (keladi hutan).

Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik.

Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya.  Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri  mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.

Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan  tanpa dipikir dulu, dia  berjanji siapa pun yang mengambilkan  torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya  melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan  disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang  oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya.

Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa  sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah TIMUR akhirnya sampailah di arah BARAT lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik  yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya.

Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.

Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi  meminta agar Sangkuriang membuatkan PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL. Rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi Gunung BURANGRANG.

Dengan bantuan para GURIANG,  bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur.

Sangkuriang menjadi gusar,  dipuncak kemarahannya, bendungan  yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG.

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya  ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI.

Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang).

  • ARTI SERTA MAKNA  LEGENDA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG DIKANDUNGNYA

Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis (a-historis), tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu.  Di bawah ini saya susun kembali nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda tsb. sebagai kata kunci heurmanetika, yaitu:

-         Sungging Perbangkara,

-         cariang

-         babi hutan Si Wayungyang,

-         Dayang Sumbi atau Rarasati,

-         anjing Si Tumang,

-         Sangkuriang,

-         taropong (torak),

-         Wetan (Timur)

-         Kulon (Barat)

-         Citarum,

-         Sanghyang Tikoro,

-         Guriang

-         Gunung Putri,

-         Gunung Manglayang,

-         Ujungberung,

-         kembang Jaksi,

-         boeh rarang,

-         Gunung Bukit Tungggul,

-         Gunung Burangrang

-         Gunung Tangkuban Parahu, dan

-         Talaga Bandung.

Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang  penulis  mencoba untuk membuat penafsiran arti dan makna menurut konsep  nilai-nilai  intrinsik  pandangan hidup “urang Sunda” yang terkandung dalam  alur cerita dan arti-makna dari setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun  telah dikaji-banding dengan nilai-nilai intrinsik  yang terkandung dalam  cerita lama (pantun) yang dianggap sakral  yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di Kusumah. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan legenda Gunung Tangkubanparahu:

ü  SUNGGING PERBANGKARAArtinyaSungging = ukiran, ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya.  >  ‘ng > sang = penanda hormat, honorifik.  > kara = matahari. Maknanya “ Penanda dari kebaikan/ kebenaran  sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya”

ü  CARIANG. Artinya:  pohon keladi hutan (taleus leuweung) yang tumbuh subur dan bergetah sangat gatal. Maknanya: Manusia-manusia yang hidup di tengah hutan kehidupan  dengan bermacam dorongan nafsunya.

ü  Babi hutan WAYUNGYANGArtinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang   masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).

ü  DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, honorific. YangHyang =  gaib. > Sumbi =  1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar agar tidak rersesat. Maknanya: Fitrah manusia yang bersifat gaibiah yang memberi petunjuk dan  kendali dalam menentukan arah  kehidupan. Bisa dimaknai pula sebagai  kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.

ü  RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : 1) > Raras = perasaan yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Raras Ati = Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi. 2) Rara = gadis   > sati (santa) = suci, pengorbanan, tenang. Maknanya: Rara Sati =  Kesucian yang tenang penuh pengorbanan.

ü  Si TUMANG. Artinya:   > tumang =  1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang = sumpah (b.Kawi)   tu-mang-mang =  orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.

ü  SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < kuring = saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorific. > Kuriang < guru + hyang =  ego yang gaib. MaknanyaSangkuriang =  Jiwa (ego)  non material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya.

ü  TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar  lebih jelas       (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.

ü  WETAN . Artinya : timur, tempat matahari terbit;  wetan > wiwitan = asal mula, harapan. Maknanya : Menuju ke wetan (timur) , mencari yang diharapkan yang dicarinya sejak awal mula keberadaan manusia.

ü  KULON  < kulwan . Artinya : Barat, tempat matahari tenggelam. Maknanya :  Sampai di arah  barat =  sampai di batas waktu,  waktu terakhir, akhir kehidupan

ü  Sungai CITARUM. Artinya:  > Ci < cai = air. > Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan  juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.

ü  SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau  saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering  dilalui makanan entah yang halal  atau yang haram.

ü  GURIANG Artinya > Guru = Yang memberi petunjuk, ilmu;  > hyang = gaib.  Maknanya : Guriang = orang  yang mengajari ilmu pengetahuan, fasilitator.

ü  Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagai sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, cinta kasih yang rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.

ü  Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang  > palayangan =  Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.

ü  Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi + saksi . Maknanya: 1) Segala sesuatu yang dikerjakan  seseorang  akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya. 2)  Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Kesesuaian antara itikad/niat – ucapan dan perbuatan (B.S:  tekad – ucap – lampah)

ü  UJUNGBERUNG. Artinya: > Ujung = akhir. >berung > ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya:Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.

ü  BO’EH RARANG. Artinya : > Bo’eh = kain kafan. > rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.

ü  Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : 1) > Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur).  2)  Tunggul  > tutunggul = batu nisan. Maknanya setiap orang mempunyai  penanda  jati dirinya,  tentang apa dan siapa dirinya.

ü  Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit  + rangrang. > rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya  dengan keturunan dan masyarakat yad. yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan).

ü  Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.

ü  TALAGA BANDUNGArtinya> talaga = danau., dimaknai sebagai     kehidupan di dunia ini,  >bandung = 1) dua buah perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak > silih bandungan – saling memperhatikan dengan penuh perhatian.. Maknanya: > Talaga Bandung = Dalam kehidupan di dunia ini, kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, kesalihan sosial, yaitu  kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency (saling ketergantungan yang harmonis),  equaliter (setara di depan hukum) dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

  • KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI

Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat menjadi acuan hidup bagi siapa pun  dalam melayari keberadaannya baik secara manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi).  Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat memperjelas arti dan makna yang dikandungnya :

Esensi legenda atau sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai  cahaya pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya ( = tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan  menemukan jatidiri kemanusiannya ( = Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (= Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling  (= taropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (= digagahi si Tumang) yang akan  melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (= Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan  dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu                  (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke    Barat  yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (= Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan.Berbekal ilmu pengetahuan  yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) harus mampu membuat  suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (= membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (= Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio  sendiri  (= pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas  dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (=Bukit Tunggul, pohon sajaratun)   sejak dari awal keberada-annya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan).  Sang Ego Rasio pun  harus pula menunjukkan keberadaan dirinya             (tutunggul, penada diri) dan  pada akhirnya dia pun akan mempunyai   keturunan yang terwujud dalam  masyarakat yad. dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (= gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan  Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena  keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= bo’eh rarang = kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental  tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa  penasaran, dikejarnya terus  Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya ( =Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan   hanya menampakkan diri  menjadi  saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (= bunga Jaksi).

Akhir kisah  yaitu ketika  datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (= Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang). Maka kini terbukalah  saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang Tikoro = tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat    dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal  bersih dan bermanfaat. (= Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).

***

  • AKHIR WACANA

Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Karena itu  sangat bersifat subyektif dan inklusif, tetap  terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat  bermartabat yang madani mardotillah. Mungkin perlu ada kesepakatan bersama yaitu mengenai Visi akhir yang ingin dicapai dari pemaknaan heumanetika tsb, yaitu kesadaran untuk menampakkan kandungan MORAL/AKLHLAK kemanusiaannya. Humisnis yang religius. Itulah dasar kesepakatan  para penafisr nilai moral budaya bangsa yang terkandung dalam folkolor/folkway.

Internalisasi filosofi  dari Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi yang memayungi  ITENAS  yaitu menuntun dan memberi arah yang benar (visioner) kepada Civitas Akademika ITENAS. Sehingga mahasiswa lulusannya  menjadi “Sangkuriang – Sangkuriang” yang mampu menyeimbangkan antara aspek IQ  (Luhung Elmuna) – EQ (Jembar Budayana) dan SQ (Pengkuh Agamana), untuk bersinerji  dalam AQ (Actional Quotient = Rancage Gawena, terampil, beretos kerja)  Capaian akhir adalah terwujudnya  Manusia Seutuhnya,  Manusia yang seimbang  Rasio dan Nuraninya, Insan Kamil wa  Mukamil, Manusa anu Manggapulia,  Insan yang Rakhmatan lil ‘Alamin. Yaitu manusia yang “ cageur , bageur, bener, pinter, singer, teger, pangger, wanter dan cangker

Insya-Allah.

Bandung, 28 Mei 2005,2008

Disampaikan pada orasi Ilmiah ketika Hari Wisuda Mahasiswa ITENAS,

28 Mei 2005 di Bandung.

*)   Penulis adalah   Nara Sumber Lembaga Budaya Universitas Pasundan

Nara sumber di  http://www.sundaNet.com.

Buku Pendamping:

-         Ajip Rosidi. 1961. Sang Kuriang Kesiangan. Bandung: Tiara.

-         Cassirer, Ernst.1990. Manusia dan Kebudayaan. Terjemah Alois A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.

-         Danandjaja, James. 1986. Folkor Indonesia. Jakarta: Pustaka Grafitipress.

-         Ekajati, Edi, S. 1983. Naskah Sunda Lama Kelompok Babad. Bandung : Depdikbud

-         Hidayat Suryalaga. 1996. Racikan Budaya Sunda. Depdikbud Prop, Jabar.

-         Peursen, CA. van. 1992. Strategi Kebudayaan. Terjemah Dick Hartoko.

-         Satjadibrata,R..1946. Dongeng-dongeng Sasakala. Jakarta: Balai Pustaka.

-         Sunarya ,RTA.  Tt. Sangkuriang. Jakarta: Timun Mas

-         Wahyu Wibisana. 1992. Sangkuriang Kabeurangan. Bandung: Mangle No. 1373.

-         Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Terjemah: Melani Budianta. Jakarta : Gramedia.

Kamus:

-           Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad  11 s.d.. 18, editor: Prof.Dr. H. Edi S. Ekadjati.. Edisi 2001.

-           Kamus Kawi- Indonesia , Prof. Drs. S. Woyowasito. CV. Pengarang, 1977.

-           Kamus Umum Basa Sunda, LBSS. Tarate, 1975

About these ads

6 comments on “PERAN DAYANG SUMBI DAN SANGKURIANG DALAM KONSEP BUDAYA SUNDA

  1. Ada tafsir lain tentang SiTuMaNg = Resi-Ratu-Rama-HyaNG. Triumvirat “King Philosopher”: Resi= Pemimpin Ruhani/Spiritual, Ratu=Pemimpin Politik/Raja, RaMa=Pemimpin Budaya/Adat, yang semuanya Terikat dalam “Kesatuan Wujud HyaNg/Ketuhanan.

  2. Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

  3. Banyak sekali yang menafsirkan sasakala Sangkuriang dengan sangat dangkal bahkan keliru, dengan hanya memandang sisi luar (cangkang) tanpa memedulikan isi yang terkandung di dalamnya yang demikian luhur, mungkin akibat kurangnya minat dan kepedulian dari orang Sunda sendiri terhadap budaya dan sejarahnya, alangkah baiknya apabila uraian di atas dapat diajarkan di sekolah – sekolah misalnya dimasukkan dalam kurikulum Pangajaran basa Sunda, terima kasih… wassalam.

  4. Good day very nice blog!! Man .. Excellent .. Wonderful .

    . I will bookmark your blog and take the feeds also? I am happy to find numerous
    useful information here in the submit, we want work out more strategies in this regard, thanks for sharing.

    . . . . .

  5. Sangat menarik ‘kisah’ DAYANG SUMBI.
    Mandalajati Niskala pun mengatakan:
    “Jika ingin memahami Sangkan Paraning Dumadi, tafakuri alur cerita DAH~YANG SUMBI dan DAH~WA RUCI”.

    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI

    Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
    Memasuki Ruang Insun,Telah Melahirkan
    Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
    Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
    KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
    SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
    DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

    1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
    akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
    (HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
    JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
    TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
    Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
    SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

    2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
    akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
    (Potensi HI~DI~RI meliputi:
    HI adalah alam Subconcious
    DI adalam alam Concious
    RI adalah alam Heperconcious)

    3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
    akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
    (Tribaka, Panca Azasi Wujud &
    Panca Maha Buta)

    4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
    akan memahami HI~DIR~nya.
    (Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

    5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
    akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
    (Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
    pada Tribaka)

    6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
    akan memahami TAMAT~nya.
    (Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
    Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
    yang segera memasuki Blackhole
    untuk keluar dari Jagat Raya
    dan meledak menjadi Bigbang,
    di ruang hampa, gelap gulita,
    bertekanan minus)

    7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
    akan memahami WIWIT~nya.
    (Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
    yaitu berupa potensi Jawahar Awal
    di Jagat Raya Baru)

    Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    “JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)

    ═══════════════════════════════

    Syair Sunda:
    JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung
    Ahuuung
    Ahuuung
    Aheeeng.

    ═══════════════════════════════
    Artikulasi Sunda:
    PANTO JAWAHAR AWAL
    KA PANTO JAWAHAR AKHIR
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Manusa sategesna bagian ti Gustina.
    Kum eusi samesta KOKOJAYAN
    di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Zibghotulloh).

    Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
    DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Sapanunggalan).

    Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
    ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
    nu gumulung jadi tunggal tampa wates
    disebut;
    JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

    SANG MAHA AGUNG
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Acining Cahi,
    Energi “DA” Acining Taneuh,
    Energi “RA” Acining Seuneu.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
    salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
    nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
    nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

    SANG MAHA LEMBUT
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Proton,
    Energi “DA” Netron,
    Energi “RA” Elektron.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
    salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
    nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
    nyaeta proses INSUN JADI DIA.
    ═══════════════════════════════
    Filsuf MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

  6. Tidak tau apa apa ujug ujug menemui situs ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.958 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: