2 Komentar

Taoisme: Ajaran dan Konsep-konsep Kunci

TAOISME:
AJARAN DAN KONSEP-KONSEP KUNCI

Abdul Hadi W. M.

Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Bentuk ajarannya yang awal dinisbahkan kepada Lao Tze dan Yang Chu. Tetapi sebagai faham falsafah, Taoisme baru dikenal pada abad ke-1 SM. Yang pertama kali menyebut sistem ini sebagai madzab falsafah ialah Ssu-ma Ch`ien dalam bukunya Shih Chi (Rekaman Sejarah). Sudah tentu sebelum abad ke-1 SM Taoisme telah berkembang dan dasar-dasar pokok ajarannya telah dirumuskan oleh para pendirinya.


Yang menjadi persoalan hingga kini ialah siapa sebenarnya pengasas pertama Taoism. Ada yang mengatakan Yang Chu (440-366 SM). Tetapi ada pula yang memandang Lao Tze yang hidup sezaman dengan Kon Fu Tze.

Perkiraan bahwa orang pertama yang mengajarkan Taoisme adalah Yang Chu sebagian didasarkan pada dugaan bahwa kitab Tao Te Ching baru disusun pada abad-abad kemudian, lama sesudah wafatnya Lao Tze yang dipandang sebagai penulis kitab induk Taoisme. Tetapi beberapa sarjana seperti Creel meragukan bahwa ajaran Yang Chu benar-benar bercorak Taois, Creel sependapat dengan kebanyakan sarjana sastra Cina yang meyakini bahwa pendiri Taoisme adalah Lao Tze.

Yang diajarkan Yang Chu hanyalah semacam naturalisme mistis, yaitu persatuan manusia dengan alam. Namun ajaran itu tidaklah lengkap sebagaimana ajaran Lao Tze. Dalam falsafah naturalismenya Yang Chu, sebagaimana Lao Tze sebelumnya, mengajarkan perlunya hidup bersahaja dan selaras dengan alam. Ia menolak hedonisme material yang merajalela pada zamannya.

Sebagai sistem falsafah, Taoisme sering dianggap sebagai falsafah mistik, bahkan sebagai salah satu bentuk mistisisme tertua di dunia yang berpengaruh hingga abad ke-20. Ia berbeda dari Konfusianisme yang menekankan pada persoalan manusia sebagai anggot sosial, kehidupannya dalam etika dan politik. Taoisme menaruh perhatian besar terhadap persoalan metafisika dan persatuan mistikal antara manusia dengan alam. Sebagai ajaran falsafah, Taoisme dirumuskan secara mantap oleh Chuang Tze, penafsir Tao Te Ching, kitab falsafah berbentuk puisi yang dinisbahkan kepada Lao Tze sebagai pengarangnya.

Sebagai ajaran falsafah, Taoisme dimulai dengan skeptisisme. Skeptisisme ini timbul dari kekecewaan terhadap keadaan masyarakat dan situasi politik di Cina pada abad ke-5 M. Pada masa itu banyak sekali peperangan dan pembrontakan. Korupsi dan penyelewengan merajalela. Raja-raja, bangsawan dan panglima-panglima perang hidup penuh kemegahan dan kemewahaan di atas kesengsaraan rakyat.

Menurut para penganut Taoisme, peradaban hedonistis dan materialistis telah merusak kehidupan manusia. Untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit manuia perlu kembali kepada alam dan menyatu dengan alam.

Pernyataan kekecewaan itu tampak dalam sindiran Chuang Tze: “Bekerja membanting tulang seumur hidup tanpa pernah melihat hasilnya, dan bersusah payah bekerja keras tanpa mengetahui apa yang akan dihasilkan – bukankah yang demikian itu sangat menyedihkan? (Legge 1927: I.390.)

Tampaknya Taoisme merupakan sistem falsafah yang mengajarkan pesimisme. Namun hal ini disangkal oleh banyak ahli sejarah falsafah Cina. Justru menurut mereka adalah sebaliknya, Taoisme malah mengajarkan optimisme. Tetapi sebelum kita membahas sistem falsafah ini sepatutnya kita mengetahui dulu beberapa istilah dan konsep kunci yang dikemukakan para penganjurnya.

Tao atau Jalan Kebajikan

Tao secara harfiah berarti jalan yang dilalui seseorang dalam perjalanannya. Konfucius memberi arti sebagai jalan atau cara bertindak yang benar dan penuh kebajikan dalam kehidupan moral dan politik. Dalam pengertian ini kata-kata Tao tidak mengandung makna metafisik. Bagi Lao Tze berbeda, tao memiliki pengertian metafisik. Lao Tze mengartikannya sebagai asas yang menyusun segala sesuatu. Ia sederhana, tanpa bentuk, tanpa gerak, tanpa hasrat, tanpa upaya. Ia ada sebelum adanya langit dan bumi. Karena adanya penciptaan dan berkembangnya peradabam, manusia kian jauh dari Taom jalan yang benar dan penuh kebajikan spiritual. Karena itu manusia semakin jauh dari kebahagiaan.

Tao ibarat kendi penuh walau pun kosong. Darinya orang dapat menimba air tak habis-habisnya dan tidak perlu mengisinya lagi. Demikian ia, begitu luas dan alam tidak terhingga. Tidak tampak yang paling tua di antara adanya. Semua karam di dalamnya, pucuknya sekalipun rata di sana. Perkara-perkara paling rumit pun sirna. Cahaya kemilau rata menyebarkan keriangan. Segala yang mustahil kembali menuju kesederhanaan. Setenang alam baka ia. Tak tahu aku putra siapa dia.

Huruf Cina untuk Tao terdiri dari ‘kepala’ yang melambangkan orang yang mengetahui dan pada bagian lain terdapat simbol orang yang sedang melakukan perjalanan. Setelah berkembangnya ajaran Lao Tze, ia diberi arti sebagai jalan atau asas bekerjanya alam semesta dan dunia dalam perputaran kehidupan. Dalam perjalanan atau perputaran itu, tammpak tanda-tanda menuju ke arah Hakikat asal, dari mana segala sesuatu bergerak kembali.

Tao kadang merupakan kata kerja dan kata benda, misalnya dalam baris pertama sajak pertama Tao Te Ching.

Jalan (Tao) yang dapat dijalani atau ditempuh bukan jalan abadi
Nama yang dapat diberi nama bukan nama yang sesungguhnya

Tao juga diberi makna sebagai Deitas (Dzat Ilahiyah), yaitu keadaam Sang Pencipta sebelum turun ke alam penciptaan.

Te atau Kebajikan

Te diberi arti kebajikan, watak, pengaruh dan kekuatan moral. Huruf untuk kata Te tersusun dari ideograf : (1) Pergi; (2) Tegak; (3) gambar yang berarti Hati. Secara bersama-sama artinya ialah dorongan yang digerakkan oleh keteguhan batin. Dalam kamus bahaa Cina abad ke-2 M Shuo Wen chieh Tzu (Keterangan mengenai kata-kata dan analisis huruf Cina), Te ditakrifkan sebagai ‘pengaruh lahir seseorang dan pengaruh batin dari diri’.

Berdasarkan arti ini kemudian Te dipahami sebagai kebajikan rohani, falsafah, hikmah atau kearifan yang tinggi.

Wei Wu Wei

Wei wu wei adalah ungkapan paradoksal yang merupakan kunci mistisisme Cina dan tidak dapat diterjemahkan secara harafiah. Wei artinya berbuat, bertindak, tetapi kadang berarti lain, tergantung cara mengatakannya. Wu artinya negatif, tidak, tanpa. Terjemahannya secara maknawi ialah “Berbuat tanpa bertindak’. Dikenakan pada seseorang berarti: diam, tenang, pasif, pasrah sehingga mencapai Tao, hakekat terakhir, alam wujud. Artinya: bertindak melalu Tao tanpa upaya kesadaran diri. Juga berarti hanyut dalam persatuan dengan alam, yang dengan itu memperoleh kesadaran semesta.

Ungkapan wei wu wei dijumpai banyak dalam kitab Tao Te Ching. Tentang wu wei misalnya dapat disimak dalam sajak 37 dan 43.

Jalan adalah kekal dan tidak bertindak (wu wei)
namun tiada sesuatu apa pun yang tak bergerak
disebabkan olehnya
Kalau raja dan pangeran dapat memeliharanya
segala benda akan berkembang dengan sendirinya
Jika perkembangan ini menimbulkan keinginan
kami akan mencegahnya dengan ‘kemurnian tak bernama’
itulah kiranya yang takkan menimbulkan keinginan
Tanpa keinginan dan dengan ketenangan
seluruh dunia dengan sendirinya akan menjadi beres

(TTC 37)

Yang terlembut di kolong langit
dapat menembus yang terkeras di kolong langit
berasal dari yang tidak berwujud
ia dapat memasuki barang tidak bersela-sela
inilah sebabnya ia diketahui
tidak bertindak itu ada gunanya
Mengajar tanpa berkata
berguna tanpa bertindak
di kolong langit jarang yang mencapainya
Untuk belajar, tiap hari harus bertambah
untuk mengikuti ‘Jalan’ tiap hari hari harus berkurang
berkurang dan terus berkurang
sehingga sampai pada tidak bertindak
tidak bertindak, namun tiada sesuatu yang tak dikerjakan
Maka itu:
memperoleh dunia
selamanya tanpa usaha
siapa yang berusaha
takkan dapat memperoleh dunia

Tzu-jan

Tzu artinya diri. Jan artinya terbang. Tzu Jan diartikan membiarkan diri bertindak spontan berdasarkan intuisi. Versi yang positif daripada perkataan wei wu wei. Dalam kitab Tao Te Ching, alam selalu diambil sebagai kiasan untuk menggambarkan kehidupan seseorang. Misalnya:

Lihatlah bunga lili di padang, bagaimana ia tumbuh?

Maksudnya: kembang lili itu tumbuh secara spontann, mengikuti jalannya sendiri. Begitu pula halnya dengan kebajikan sejati, orang yang mengikuti Tao bertindak spontan berdasarkan gerak batin.

P’o atau Sejenis Pohon

P’o ialah sejenis pohon, diartikan sebagai balok kayu yang masih alami, belum diolah. Maksudnya tidak artifisial, tidak dibuat-buat. Yaitu keadaan sesuatu yang masih alami, substansial, sederhana. Dikenakan kepada manusia ialah ikhlas, jujur. Apabila digunakan sebagai istilah tehnis mistisisme, berarti, “Alam yang belum disentuh pengaruh luar”. Atau bila dikenakan pada manusia, ialah orang yang menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan artifisial yang diperoleh dari peradaban, sehingga kembali murni dan tulen.

Pu Shih

Secara harfiah berarti menjadi bebas, tidak tergantung, menjadi mandiri, tidak banyak terlibat dengan perkara-perkara duniawi yang mudharat. Dalam Taoisme diartikan sebagai segala ungkapan yang lahir dari wu wei, seseorang yang berjiwa bangsawan sejati dan tidak terikat kepada kepentingan diri/duniawi.

Wu Ming

Arti harfiahnya tanpa nama dan tanpa rupa. Sesuatu bias diberi nama apabila tidak berupa. Istilah paradoksal ini digunakan untuk menjelaskan Tao dan dampak darinya, yang biasanya menunjuk pada keunikan atau kekhasan sesuatu. Sesuatu yang tidak memiliki kekhasan sendiri dapat diberi nama. Tetapi Tao tidak bisa diberi nama, oleh karena itu ia khas atau unik. Tidak ada nama dapat diberikan kepadanya dan Tao tidak dapat diuraikan.

Dalam sajak 1 kitab Tao Te Ching dijelaskan seperti berikut:

Jalan (Tao) yang dapat digunakan sebagai jalan
bukanlah jalan yang kekal
Nama yang dapat digunakan sebagai nama
bukanlah nama yang kekal
‘Tanpa nama’ (wu ming) ialah awal Langit dan Bumi
‘dengan nama’ ialah ibu segala benda
Maka itu:
‘tetap tiada’ kalau kita ingin menyatakan rahasianya
‘tetap ada’ kalau kita ingin menyatakan kewujudannya
keduanya asalnya sama
walau namanya beda
keduanya bersama-sama disebut gaib
lebih gaib dari gaib
pintu semua rahasia

Ai
Arti harfiahnya ialah cinta. Dalam kitab Tao Te Ching disamakan dengan Tao atau jalannya Langit. Juga diartikan sebagai tujuan sejati kehidupan di alam raya.

Sheng Yen
Orang bijak atau arif. Sheng, secara etimologis berarti kewajiban mendengar kata-kata arif dan berkata-kata menurut apa yang didengar dari orang arif. Sheng yen bukan orang suci, tetapi orang yang mencintai kearifan atau hikmah/falsafah.

Ti`en
Sering diartikan sebagai Tuhan, Langit atau Kayangan tempat tinggal dewa-dewa. Kon Fu Tze mengartikannya sebagai Tuhan. Mo Tze, Chuang Tze dan lain-lain mengartikan Tuhan dan Langit. Jika yang dimaksudkan Tuhan, maka arti dari kata Ti`en sangat anekaragam. Seorang pengikut Konfucianisme akan memberi arti yang berbeda dengan pengikut Buddhisme. Kadang-kadang Tuhan dimengerti sebagai kekuasaan gaib yang bersifat anthromorfis dan personal. Pengertian Tuhan yang personal lebih tinggi. Tetapi kadang-kadang perkataan T`en digunakan dalam arti Tuhan yang benar-benar impersonal.

Dalam kitab Tao Te Ching Ti`en diartikan sebagai Tuhan yang berpribadi, tetapi tidak jarang yang dimaksudkan ialah Langit atau Tuhan yang impersonal. Ini karena dalam mistisisme Cina seperti Taoisme, pengertian Tuhan – sebagai deitas dalam agama Kristen, Allah dan Dzat Maha Tinggi dalam Islam, Brahman atau Parama Brahman dalam agama Hindu – tidak dikenal.
Dalam sajak 25 Tao Te Ching misalnya dikatakan:

Aku tidak tahu apa nama-Nya
Sebuah nama pun tak tahu, sebab ia adalah Tao
Untuk sekadar menandai-Nya
Kusebut Dia sebagai Yang Maha Besar
Yang Maha Besat artinya tidak terjangkau
Tempatnya tinggi dan begitu jauh
Sangat dan sangat jauh, tempatnya di asal muasal

Mengikuti pengertian ini, Tao atau jalannya Langit dipandang bukan sekadar kodratnya Tao itu sendiri, tetapi juga sebagai Tao-nya atau Jalan-Nya Tuhan. Ini dikemukakan dalam sajak 77 dan 81. Dalam bagian lain dari Tao Te Ching, Tao diartikan seolah-olah sebagai ‘tirai yang menghalangi kita melihat keberadaan Tuhan’.

Tao sendiri seperti sesuatu
Yang kelihatan dalam mimpi
Di dalamnya ada gambar, tetapi mudah menghilang
Di dalamnya segala sesuatu
Seperti bayangan kala senja hari
Di dalamnya inti pati, lembut tetapi nyata
Tersembunyi dalam kebenaran

Di dunia ini
Bandingkan Tao
Dengan anak panah yang melesai
Jatuh ke air sungai atau lautan

Dalam bagian lain dikatakan:

Dipandang tak terlihat, disebutnya halus
didengar tak bersuara, disebutnya lembut
diraba tak terpegang, disebutnya lumat
Ketiganya tak dapat diteliti lagi
mereka bercampur menyatu
Atasnya tidak terang
bawahnya tidak gelap
berkesinambungan tanpa dapat diberi nama
kembalilah ia pada wujud nirbenda
Inilah yang disebut kesuraman
disongsong tak terlihat kepalanya
dikejar tak terlihat punggungnya
Berpangkal pada jalan lama
Untuk membincangkan keadaan sekarang
untuk mengerti asal mula zaman dahulu kala
inilah yang disebut dasar ‘Jalan’.

Te: Kebajikan Menurut Taoisme

Penganut Taoisme menggunakan perkataan te untuk menyebut system falsafah atau dasar-dasar mistisismenya. Kata-kata ini sering diberi arti sebagai ‘virtue’ atau ‘kebajikan’. Namun pengertian kebajikan sebagaimana dimaksud oleh filosof Taois tidak sama dengan pengertian yang dimaksud filosof Konfusianis. Kebajikan menurut penganut Taisme merujuk kepada sifat-sifat atau kebajikan-kebajikan yang bersifat alami, bukan kebajikan-kebajikan etis yang bercorak kemasyarakatan. Kebajikan-kebajikan yang bersifat alami itu disebut juga sebagai kebajikan yang bersifat asli dan naluriah, dan berlawanan dengan kebajikan-kebajikan yang ditopang oleh pandangan social dan tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dari sekolah formal.

Sesuatu yang asli atau alami adalah sesuatu yang selalu baik sepanjang zaman dan memiliki daya tarik bagi manusia di seluruh dunia. Keaslian yang dimaksud kaum Taois ialah kesederhanaan atau kebersahajaan. Hidup bersahaja merupakan jalan yang terbaik untuk kembali kepada Tao. Bagaimana cara melakukannya? Chuang Tze menjawab melalui sajaknya:

Sepuluh ribu perkara telah terjadi
Dan kusimak kembali semuanya
Betapa pun segala ini menjulang tinggi
Masing-masing akan kembali ke akarnya yang asli
Itu sudah suratan takdir
Polanya sudah pasti tanpa akhir
Mengenal pola perjalanan kejadian yang abadi
Berarti mendapat pencerahan
Ia yang tidak mengetahui hal ini
Akan layu disebabkan kemalangan
Ia yang tahu pola yang abadi akan menopang pola itu
Serta akan menjadi adil
Adil menjadikan dia bangsawan mulia
Bangsawan mulia seperti dewa-dewa
Serupa dengan dewa, dengan Tao
Ia akan seia sekata dan membuatnya baik
Serta tidak akan sirna
Walaupun jasadnya lenyap di lautan kehidupan
Ia akan luput dari segala gangguan

Salah satu ajaran Taoisme yang penting ialah mengenai kenisbian atau relativisme.

Contoh kenisbian dalam kehidupan makhluq dikemukakan antara lain dalam Kitab Chuang Tze dikemukakan, “Jika seorang tidur di tempat basah, ketika bangun punggungnya akan merasa sakit dan merasa akan mati; tetapi apakah juga demikian halnya dengan seekor belut? Jika seorang mencoba hidup di atas pohon, ia tak akan sadarkan diri sebab ketakutan; tetapi apakah demikian pula halnya dengan seekor monyet?”
Kenisbian juga berlaku dalam masalah etika. “Mengenai yang betul dan yang salah, “Demikian halnya” dan “tidak demikian halnya’…Jika yang betul itu betul, maka tidak ada alasan untuk berbantah mengenai kenyataan bahwa ia berbeda dari yang salah; jika ‘demikian halnya’ benar-benar demikian halnya, mengapa kita harus berbantah mengenai apa sebab berbeda dari ‘tidak demikian halnya’? Terlepas dari apakah berbagai pendirian yang berbeda itu serasi atau tidak serasi, bukankah lebih baik kita menyelaraskannya di alam semesta yang mencakup segala-galanya, dan membiarkannya mengikuti jalannya masing-masing?”

Bagi Chuang Tze, manusia hendaknya berusaha mementingkan pengetahuan diri atau pengetahuan mengenai diri dan mencari kebahagiaan dan kepuasaan diri, dibanding memburu benda-benda yang tak jarang mengasingkan manusia dari dirinya dan berakhir dengan kerisauan dan ketakpuasan. Asas untuk mengenal diri ialah mengenal orang lain dan hakikat universal manusia.
Dalam Tao Te Ching ditulis:

Memahami orang lain adalah hikmah
Memahami diri sendiri berarti mendapat pencerahan
Mengatasi orang lain artinya berkuasa
Mengatasi diri sendiri maknanya perkasa

Dikatakan pula:
Yang paling banyak hartanya
Akan paling berat merasa kehilangan
Yang puas tidak akan cedera
Yang cukup bijak untuk berhenti dengan tulus
Akan sanggup menahan derita

Tambahan lagi:
Tiada kemalangan lebih besar dibandang buta tergadap makna
Tiada bencana lebih gawat dibanding keinginan mendapatkan lagi
Jika pernah lega disebabkan benar-benar puas
Menjadi yang lain takkan memuaskan hati.

Lantas apa yang harus dikerjakan? Jangan berbuat apa-apa. Kata Chuang Tze: “Gerak Langit dan Bumi berjalanan menurut tatanan yang mengagumkan, namun tidak pernah memperkatakannya…Manusia arif menembus rahasia tatanan Langit dan Bumi, dan memahami sepenuhnya asas-asas alam. Demikian manusia sempurna sesungguhnya tidak berbat apa-apa; dan manusia besar yang arif tidak menyimpang sedikit pun; artinya, mereka sekedar merenungi alam semesta dan mengikuti tertib tatanannya.” Konsep wei wu wei (berbuat dengan tidak berbuat) berkaitan dengan ungkapan ini.

Taoisme menekankan pentingnya pengetahuan intuitif dan ekstase mistik. Jalan yang harus diikuti ialah bersikap tidak aktif dan tenang. Tidak banyak bicara akan lebih baik dibanding banyak ngomel.
Kebijakan menarik dan dalam maknanya dapat disimak dalam ungkapan ini:

Kata-kata yang benar tidak berbunga
Kata-kata berbunga pada hakikatnya tak benar
Manusia baik tak akan bersengketa
Mereka yang bersengketa tak baik sifatnya
Manusia bijaksana tidak pandai
Dan mereka yang pandai tidak bijaksana

Bilamana kita tidak lagi mengejar ilmu, maka segala kesulitan akan sirna, “Buang kearifan, tinggalkan kebijaksanaan, maka rakyat akan seratus kali lebih baik keadaannya.” ####

—————————————————–

Diperbarui pada hari Selasa · Komentar · Suka · Laporkan Catatan

Kh Drs Godot Bennington, Lia Salsabila, Ahmad Baiquni dan 10 lainnya menyukai ini.

-Andy Tirta

Semoga keadaan poleksosbud di Cina pada abad ke-5 M tidak terjadi di negara kita ini, dimana terjadi banyak peperangan, pemberontakan. Korupsi dan penyelewengan merajalela. Raja-raja, bangsawan, panglima2 perang hidup bermewah2an diatas penderitaaan rakyat…semoga…dan terima kasih kepada Pak Abdul hadi yang banyak tulisan2nya telah menambah pengetahuan, mencerdaskan yg baca dan memberi pencerahan.
Rab pukul 14:48

Hanna Fransisca

Terimakasih banyak atas tulisan ini. Meski sudah saya baca, mohon ijin untuk saya simpan ya, Pak. Saya memang menyukai ajaran Tao maupun Konfuisme. Tapi, selama ini saya belajar langsung dari para orangtua yang menganut Taoisme maupun Konfuisme didampingi buku-buku yang kurang memuaskan, karena apa yang saya dapat serba minim. Hadirnya tulisan pak Abdul Hadi ini sangat bermanfaat bagi saya. Mohon berkenan di kemudian hari tetap men-Tag saya untuk tulisan yang sama.

Ada yang membuat saya terus penasaran dan belum menemukan jawab. Apakah itu? Dalam ajaran Tao sebagaimana yang kita pelajari dari buku-buku, sangat berbeda dengan apa yang diterapkan masyarakat Singkawang umumnya. Tao di kota kelahiranku itu selalu melibatkan ritual. Gambar Yin dan Yang, pedang tertentu, jubah khusus, maupun ‘hu’ yang selalu dipercaya mampu menyembuhkan penyakit atau mengusir roh-roh jahat.

Ai, intinya tulisan ini menambah pengetahuan saya sekaligus mencerahkan jiwa raga. … Lihat Selengkapnya
Rab pukul 21:52

-Andy Tirta@Hanna:

sepengetahuanku, Tao yg di Singkawang maupun di Medan, yg lebih tonjolkan ritualnya, adalah karena dulu di Tiongkok dalam perkembangannya ada seorang guru Tao yg memang memiliki ilmu metafisik, maka digabungkanlah Taoisme dgn ilmunya itu, hingga sekarang, pakai HU, dll.
Rab pukul 22:00

Erry Amanda

jazakallaahu khoir
bukan sebagai tolok banding kebenaran, namun lebih kepadamemahami nilai2 yang terhampar luas perihal tata moral (filsafat) termasuk sosiologi dan spiritualisma. mengetahui kebenaran di ranah lain tidak harus diterjemahkan “menyusutkan kebenaran sendiri”

salam..
Rab pukul 23:24

Pradewi Tri Chatami

bersyukur dan sangat berterimakasih ditandai dalam catatan Bapa. sungguh, selalu saja menggeser batas jendela saya agar dapat melihat lebih banyak lagi…
minta izin saya simpan ya…
Rab pukul 23:57

Lia Salsabilaterimakasih pak Abdul, sungguh ajaran yang mencerahkan….lia ijin copy ya pak

salam takzdim :)
Kam pukul 12:30

Kh Drs Godot Bennington

sangat, terimakasih, …subhanaloh,.

About these ads

2 comments on “Taoisme: Ajaran dan Konsep-konsep Kunci

  1. Kalau ada yg minat mandalami ilmu Tao yg sejati, silahkan browse supreme master Ching hai, Radha swami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.962 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: