Hari Pahlawan: Mengapa Harus Dirayakan?
by Chen Chen Muthari
“Men have gone past;
aren’t you going on?”
- puisi Moghul –
Di jalan raya itu – sebatang jalan yang menghubungkan Pasongsongan dengan kota-kota dan desa-desa di pesisir utara Madura – konon seorang pemuda Muslim keturunan peranakan Tionghoa telah mempersembahkan nyawanya demi membela tanah air. Namanya diabadikan di jalan itu. Abu Bakar Sidik. Dia adalah pahlawan. Itu sudah jelas. Namun, namanya tidak dikenal kecuali di daerah itu sendiri. Di sudut-sudut desa dan sudut-sudut kota lain, putra dari Madura, Trunojoyo, lebih dikenal sebagai. Bahkan, Trunojoyo menjadi nama jalan di kota-kota besar di Indonesia.
Kira-kira 1200 tahun yang lalu, al-Kindi mengatakan “Minum racun lebih mudah daripada menjalani kegelisahan.” Karena itu, sekitar 1100 tahun sebelumnya, Socrates sangat beruntung ketika ia dihukum mati dengan menenggak racun. Bagi Plato, dan para filsuf lain sesudahnya, tindakan Socrates adalah suatu bentuk kepahlawanan sebab Socrates bisa saja melarikan diri, tetapi dia tidak ingin melakukannya karena perbuatan itu baginya berarti tidak konsekuen dengan apa yang ia falsafahkan selama ini: “Kematian adalah obat bagi jiwa. Kemerdekaan bagi jiwa dari belenggu raga (tubuh).” Terinspirasi oleh kepahlawanan Socrates, Plato memberi gagasan-gagasan mengenai bentuk pemerintahan yang ideal – gagasan-gagasannya itu masih memberi pengaruh kepada umat manusia 2000 tahun lebih kemudian.
Lebih dari 30 tahun yang lalu, dia disingkirkan, diasingkan dari tanah airnya sendiri, jauh ke sebuah kota kecil di Perancis. Seperti Socrates yang mempengaruhi pemuda-pemuda Athena dengan gagasan-gagasan cemerlangnya, Khomeini telah mempengaruhi pemuda-pemudi Iran dengan ceramah-ceramah yang kritis dan pedas kepada rezim Shah Reza. Namun, berkat kegigihannya, Revolusi Iran akhirnya berkobar juga. Republik Islam Iran. Republik – suatu gagasan dari Plato mengenai pemerintah yang ideal adalah berada di tangan orang-orang bijaksana – itu akhirnya berdiri di atas puing-puing dinasti Pahlevi. Sejak saat itu, Khomeini menjadi pahlawan bagi bangsa Iran.
Di Karbala, kira-kira 1400 tahun lalu, pria yang sewaktu kanak-kanak pernah bermain-main di atas punggung kakeknya yang sedang bersujud, hari itu kepalanya ditebas sebilah pedang oleh mereka yang menyebut diri mereka sebagai pengikut kakeknya – Muhammad saw. Husein bin Ali bin Abi Thalib mengorbankan nyawanya demi melawan kezaliman penguasa. Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Charles Dickens, Edward Gibbon serta banyak sejarawan Barat lainnya, telah mengakui kepahlawanan Husein. Bagi kaum Syi’ah, Husein tidak hanya seorang imam yang kematiannya dikenang dan ditangisi belaka. Kepahlawanannya telah menginspirasi Khomeini dan para pengikutnya yang mengobarkan revolusi. Kita tahu, Gandhi dan Nehru adalah pahlawan bagi bangsa India. Namun, mereka sendiri mengakui bahwa mereka telah terinspirasi oleh kepahlawanan para pemimpin sebelum mereka, tak peduli latar belakang pemimpin itu dari agama atau bangsa mana.
Martin Luther King dan Malcolm X adalah pahlawan bagi kaum Afro-Amerika. Mereka telah menginspirasi Barack Husein Obama untuk tampil sebagai pemimpin pembaharu Amerika Serikut. Dan, mereka pun telah mengakui terinspirasi oleh Mahatma Gandhi.
Kendati pahlawan adalah suatu gelar yang disematkan kepada seseorang karena suatu jasa atau jasa-jasanya bagi suatu kelompok – bangsa, suku, negara, umat agama tertentu, bahkan umat manusia keseluruhan – tetapi belum tentu kelompok yang lain menganggapnya pahlawan.
Bagi bangsa Mongolia, Jengis Khan adalah pahlawan karena ia telah berhasil mempersatukan kembali suku-suku Mongol yang terpecah-belah dan menjadikannya satu kekuatan untuk bisa menjadi bangsa yang sama beradabnya dengan bangsa-bangsa besar saat itu, seperti Cina, Persia dan Arab. Tentu saja, bagi bangsa Persia dan Arab di bawah naungan Dinasti Abbasiyah, Jengis Khan beserta tentaranya adalah teroris. Ia adalah penakluk yang paling zalim dan barbar yang pernah ada di muka bumi.
Dalam Perang Salib, di Inggris, kendati Richard Berhati Singa pulang dari medan pertempuran dengan kekalahan, baginda raja itu tetap disambut sebagai pahlawan. Film Robinhood yang terkenal di era tahun 1990an itu misalnya mengingatkan betapa rakyat Inggris sangat mencintai sang raja. Di pihak musuhnya, Salahuddin al-Ayubi (Saladin) adalah pahlawan bagi umat Islam karena berhasil merebut kembali Yerusalem. Sampai hari ini, umat Islam berharap akan munculnya seorang pemimpin seperti Salahuddin al-Ayubi untuk menegakkan kembali negara Palestina.
Salahuddin al-Ayubi memang seorang pahlawan umat Islam. Namun, tidak bagi umat Syiah-Ismailiyah di bawah
bendera dinasti Fatimiyah. Salahuddin al-Ayubi telah berhasil menaklukkan dinasti Fatimiyah dan menjadi penguasa Mesir. Kaum Ismailiyah memang kaum minoritas Muslim. Namun, mereka telah berhasil mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir dan pada masa dinasti inilah Universitas al-Azhar didirikan.
Mustafa Kemal selama ini digelari sebagai Attaturk, Bapak Turki, suatu gelar kepahlawanan. Ia adalah pahlawan di mata orang-orang Turki yang menginginkan modernisasi ala Eropa. Namun, jelas pula bahwa dia bukanlah pahlawan bagi mereka yang mengenang kejayaan dinasti Turki-Usmaniyah, atau mereka yang taat memegang ajaran Islam – sebab ia mendorong para muslimah Turki membuka jilbab, menggalakkan serta mempromosikan budaya Barat yang liberal dan sekuler yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Itu adalah kenyataan “dua sisi dalam satu koin” bagi para pahlawan. Trunojoyo dan Abu Bakar Sidik adalah pemberontak bagi penjajah Belanda. Khomeini adalah pemberontak bagi Shah Reza, bahkan musuh paling berbahaya bagi Amerika. Husein adalah pemberontak bagi Yazid. Gandhi adalah pemberontak bagi penjajah Inggris. Martin Luther King dan Malcolm X adalah teroris bagi kaum kulit putih Amerika, seperti juga Nelson Mandela adalah pemberontak bagi pemerintah kulit putih Afrika Selatan.
Dari sini, di sisi koin yang manakah nilai kepahlawanan itu kita lihat? Sebab, dari situlah kita memberi seseorang gelar pahlawan. Namun, pertanyaannya pentingnya: apakah kita telah sungguh-sungguh telah menghargai mereka ketika melabeli mereka dengan gelar pahlawan? Ataukah mereka hanyalah sekadar menjadi nama jalan, dan dikenang hanya ketika mengheningkan cipta?
Di kota-kota Eropa dan Amerika, nama-nama jalan bukan hanya nama-nama para raja, tetapi juga nama-nama para ilmuwan. Di Iran, nama-nama taman kota mereka adalah nama-nama penyair. Kalau hanya sekadar dijadikan sebagai nama jalan atau nama kota, bunga anggrek dan mawar berarti juga pahlawan bagi kita (sebab di Indonesia, salah satu nama jalan yang paling banyak adalah “Jalan Anggrek”). Hal ini pun mengingatkan saya pada ucapan Shakespeare dalam Soneta 94:
“Bunga musim panas adalah untuk keindahan musim panas;
kendati bagi dirinya sendiri ia hanya hidup dan mati”
Mudah-mudahan, Abu Bakar Sidik bukanlah bunga anggrek yang hadir hanya untuk kebanggaan Pasongsongan. Begitu pun Trunojoyo. Diponegoro. Cut Nyak Dhien. Sisimangaraja. Pattimura. Kartini. Sartika. Soekarno. Hatta. Tan Melaka. Rasuna Said. John Lie. Dan, semua nama pahlawan yang tak mungkin saya sebutkan di sini. Mungkin bagi diri mereka sendiri mereka hanya hidup dan mati – semua manusia begitu adanya – tetapi bagi kita yang masih hidup, dan bagi anak cucu kita, gelar pahlawan itu harus benar-benar memiliki makna. Inspirasi!
Para pahlawan itu telah berlalu; apakah kita tidak jalan terus?
November, 2009.












http://indonesian.irib.ir/
























