Gerakan Renaisance Jawa 1

2009 November 11
by ahmadsamantho

Gerakan Renaissance Jawa 1

[lanj Post Ramalan Sabda Palon & Darmogandul]

wirajhana eka

Sun, 25 Jan 2009 08:10:45 -0800

GERAKAN RENAISSANCE JAWA
  Disampaikan pada “Sarasehan Budaya”
  Sabtu 3 September 2005
  Di PPPG Kesenian Yogyakarta
  Oleh :
  KI SONDONG MANDALI

  “HONG WILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG
”
  “……… Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum
mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa
menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi.  Sebab di
hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk
memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau
beserta sanak keluargamu. “

“Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas
kemampuan manusia biasa.  Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di
negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulaau di tenggara negeri Hindi, secara
turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah
para dewa keluargamu.”
  (“Mitos Asal-Usul Manusia Jawa”, Paramayoga Ranggawarsita)

Siapakah wong Jawa ?
  Teori yang selama ini didoktrinkan dan diajarkan kepa-da kita, bahwa wong
Jawa itu termasuk “Ras Melayu” yang cikal bakalnya berasal dari tempat yang
dinamakan “Hindia Belakang”.  Ras Melayu menyebar ke Nusantara karena terdesak
oleh migrasi Ras Arya dan Ras Mongolia dari arah pedalaman Asia Daratan.  Teori
migrasi yang menyebutkan nenek moyang wong Jawa (Nusantara) dari Hindia
Belakang tersebut jelas berpijak dari asumsi bahwa Ras Arya, Ras Kaukasus dan
Ras Mongolia adalah “Ras Manusia” yang lebih dulu beradab dibanding ras-ras
manusia lainnya di dunia ini.  

  Kita boleh percaya dengan teori yang oleh para pen-cetusnya diberi argumen
yang cukup valid tersebut.   Namun kita juga boleh meragukan teori tersebut,
karena kecurigaan kita terhadap “pokal” nya orang-orang Barat yang meng-“under
istimatisasi”-kan bangsa-bangsa non Indo German (Arya), termasuk wong Jawa.
Mengapa kita boleh meragukan teori tersebut?

  Teori tersebut dicetuskan oleh orang Eropa di jaman mereka menemukan kembali
kejatidiriannya (renaissance).  Ketika para petualang Eropa menjelajah negeri
Timur, maka mereka sebenarnya “kaget” ketika menemukan negeri-negeri Timur
(India, Cina, dan Nusantara) ternyata negeri yang lebih “beradab” dibanding
mereka.  Terutama terhadap peradaban agama Hindu dan Buddha.  Dua agama yang
sebelumnya tidak mereka kenal.  Yang mereka kenal cuma agama-agama asal Timur
Tengah (Yahudi, Kristen, Islam) serta agama-agama kuno (Paganisme) dari Mesir
dan Persia.  

  Para petualang Eropa yang tercengang tersebut kemu-dian melakukan penelitian
dan “menemukan” bahwa peradaban Timur (Hindu & Buddha) sumbernya dari India.
Selanjutnya diteorikan pula bahwa bangsa India yang “beradab” tersebut adalah
yang ada di India Utara dan keturunan  Ras Arya alias “Indo German” yang juga
menjadi nenek moyang orang-orang Eropa.  

  Ras Arya India tersebut dinyatakan bangsa yang paling berbudaya setara dengan
Ras Kaukasus (Roman, Greek, Mesir, Semit, Slavia, dll.) dimana pada kedua ras
manusia tersebut lahir semua peradaban umat manusia termasuk agama-agama besar
dunia.  Begitulah teori yaang mereka cetuskan.

  Atas dasar teori bahwa sumber peradaban manusia dari ras Kaukasus dan Arya,
maka menurut teori tersebut peradaban Nusantara “harus” berasal dari ras-ras
unggul tersebut.  Oleh karena itu, jejak arkeologi Hindu dan Buddha di
Nusantara dijadikaan bukti untuk mendukung argumen teori tersebut.  Peradaban
Nusantara (termasuk Jawa) adalah “turunan” dari India. Nusantara dianggap
sebagai “zero zone” peradaban dan kebudayaan manusia.  

  Kooptasi peradaban asing yang panjang pada bangsa Jawa telah mencuci otak
seluruh rakyat hingga bergenerasi-generasi.  Maka kita, wong Jawa saat ini,
sesungguhnya sudah bukan Jawa lagi.  Disindir oleh para “Pujangga Mbalela”
dengan mengistilahkan sebagai Jawan atau Jawal Rab-iriban.  Dikatakan pula
bermata tiga “mata Jawa - mata Arab - mata Belanda”.  Istilah bahasa Jawa yang
kasar, “koplak”. 

  Dulunya para pencetus teori “peradaban manusia berasal dari Asia Daratan”
tersebut menganggap bahwa semua peradaban bersumber dari India yang dianggap
tempat lahirnya agama Hindu dan Buddha.  Dengan demikian, kemampuan membuat
tempat peribadatan kedua agama tersebut juga berasal atau turunan dari India.
Menyebar sampai ke Jawa melalui India Belakang (Asia Tenggara).  Sehingga
kemampuan Jawa membuat candi-candi Hindu maupun Buddha “diturun” dari Thailand
dan Kamboja.  Karena di kedua negeri itulah terdapat peninggalan arkeologi
candi-candi mirip dengan yang di Jawa.

  Namun terbukti kemudian, bahwa yang membuat Angkor-Watt di Kamboja justru
seniman pemahat dan pematung yang didatangkan dari Jawa.  Maka artinya adalah :
bahwa bangsa Jawa waktu itu lebih memahami peradaban Hindu dan Buddha sehingga
lebih mampu mempersonifi-kasikan “dewa Hindu” dan “sesembahan Buddha” dalam
bentuk patung-patung dibanding bangsa Khmer (Kamboja), Thai, dan sekitarnya.
Dengan kata lain, atas dasar keahlian membuat candi dan patung telah terbukti
bahwa Jawa (Nusantara) yang menurunkan “peradaban”-nya kepada bangsa-bangsa
Asia Tenggara.  Dengan demikian, bahwa Jawa adalah “zero zone” peradaban dan
budaya sudah terbantah.  Justru kemudian menimbulkan teori baru bahwa Jawa
adalah sumber (pusat) peradaban Asia Tenggara.  Maka menjadi mungkin pula bahwa
asal-usul agama-agama yang kemudian melahirkan agama Hindu dan Buddha adalah
Jawa.

  Dalam kisah para Nabi di Timur Tengah, ada dikisah-kan bahwa cara
melaksanakan ritual agamanya Nabi Sulaiman (King Solomon) di kuil menggunakan
pembakaran “dupa” yang didatangkan dari negeri Timur.  Ketika kita ketahui
bahwa dupa untuk keperluan ritual itu dibuat dari serbuk kayu cendana dan getah
pohon damar (kemenyan), maka sangat jelas bahwa keduanya berasal dari Nusantara
pula.

  Para pedagang yang memasok dupa itupun sampai ke negeri Nabi Sulaiman dengan
menggunakan perahu.  Maka kita boleh bertanya-tanya adakah umat nabi Sulaiman
mengenal dan bisa membuat perahu?  Kalau memang kenal dan bisa membuat, maka
akan tercantum dalam kitab-kitab peninggalan mereka, Taurat maupun Zabur.
Ternyata tidak ada diskripsi tentang perahu pada kitab-kitab kuno bangsa Yahudi
tersebut.  Barangkali cuma pada kisah Nabi Nuh ada keterangan pembuatan perahu.
Itupun sangat tidak masuk akal ceriteranya.  Bagaimana mungkin memasukkan semua
jenis binatang yang ada di dunia ini dalam satu perahu, kecuali perahunya itu
ya bumi ini sendiri.  Kalau perahu Nuh itu bumi ini, maka kita harus percaya
bahwa mahluk manusia berasal dari planet lain di luar angkasa sana.  Pendapat
bahwa mahluk manusia berasal dari planet lain kenyataannya memang ada.  Bahkan
kemudian pendapat ini dijadikan bahan untuk membuat cerita-cerita fiksi semacam
film “Startrek”.

  Dengan merunut kisah di jaman Nabi Sulaiman, maka bisa disimpulkan bahwa
untuk kepentingan peribadatan umat Sulaiman memerlukan sarana (dupa) dari
negeri Timur.  Bukan umat Sulaiman yang mendatangi negeri Timur, tetapi para
pe-dagang dari negeri Timur yang berdatangan ke negri Sulaiman.  Maka dengan
demikian, yang menguasai perdagangan antar bangsa melalui laut (samudera) di
jaman Nabi Sulaiman itu adalah orang dari Negeri Timur.  Dan negeri tersebut
sudah maju tingkat peradabannya hingga mengenal perdagangan lintas samudera
dengan dagangan yang sangat nyleneh, dupa atau bahan pembuat dupa.  Selisik
kita dengan ilmu penge-tahuan, akan menemukan bahwa bangsa bahari dan yang
memiliki bahan pembuat dupa (kayu cendana dan getah damar) adalah bangsa
Nusantara. 

  Ritual agama di jaman Nabi Sulaiman ada di kuil dengan menggunakan pembakaran
dupa.  Pertanyaannya, murni “karya cipta” manusia di tempat itu?  Perintah
“Tuhan”? Atau “turunan” dari bangsa yang sudah lebih dahulu mengenal dupa?
Pertanyaan-pertanyaan “orang berpikir” semacam ini masuk akal dan wajar. Dalam
hal ini, saya berpendapat (subyektif) yang paling mungkin ritual umat Sulaiman
adalah “turunan” dari bangsa yang sudah lebih dahulu mengenal dupa.  Dan bangsa
yang lebih dahulu mengenal dupa dari bahan sampai pemanfaat-annya untuk ritual
menyembah “sesembahan” adalah bangsa Nusantara.  Ketika lebih mendalam kita
selisik, maka ketemulah bangsa yang menurunkan tatacara menyembah dengan dupa
dan menggunakan kuil peribadatan adalah bangsa Jawa.  Karena, semegah-megahnya
kuil untuk melakukan pemujaan adalah candi yang berserakan adanya di Jawa.

  Dalam kisah King Solomon dan Princes Sheba, dikisahkan bahwa raja (penguasa)
negeri Timur adalah seorang wanita.  Maka bisa kita selisik pula di negeri atau
bangsa mana yang memiliki jejak sejarah menempatkan wanita sebagai penguasa.
Maka akan kita ketemukan bahwa negeri dan bangsa itu adalah Nusantara juga.
Jejak penguasa dimaksud adalah penguasa kebaharian, tepatnya penguasa yang
merangkap saudagar perniagaan antar samudera sebagaimana Puteri Sheba dalam
cerita yang diangkat dari Bible tersebut.  

  Di Nusantara, banyak kisah (meskipun berupa dongeng rakyat) yang menceritakan
adanya para perempuan penguasa merangkap saudagar besar perniagaan samudera
tersebut.  Cerita rakyat itu ada di Sumatera (Melayu Kuno, Aceh Kuno,
Pagaruyung), Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
  Di Jawa, yang terdeteksi dengan ilmu sejarah, ada Puteri Shima (Kalingga),
Pramuda Wardani (Mataram Kuno), Tribuwana Tungga Dewi (Majapahit).  Kemudian di
jaman mulai masuknya agama Islam (abad 11), banyak disebut bahwa pada waktu itu
saudagar-saudagar “perniagaan laut” adalah para Nyai Ageng.  Ada disebut
nama-nama : Nyai Ageng Plembang, Nyai Ageng Serang, Nyai Ageng Giri, Nyai Ageng
Cirebon, Nyai Ageng Malaya, dlsb.  

  Masih dalam cerita “King Solomon and Princess Sheba” yang difilmkan sangat
jelas sekali diceritakan bahwa saudagar “armada perniagaan lintas samudera”
yang meng-ekspor dupa ke negeri Nabi Sulaiman adalah Ratu Puteri (Princess
Sheba).  Memang tidak jelas disebutkan bahwa ratu puteri tersebut berasal dari
Nusantara.  Namun mari kita renungkan, negeri manakah yang di jaman itu
memiliki sumber daya alam untuk dupa (cendana - kemenyan) dan rempah-rempah?
Dari negeri mana pula para Penguasa Persia men-dapatkan penghias mahkotanya
yang berupa bulu burung Cendrawasih?  Adakah itu India dan Srilanka?  Cina?
Afrika?

  Lagipula kenyataannya jejak peradaban dan kepadatan umat manusia di Jawa
justru lebih “tinggi” dibanding dengan daratan Asia yang dianggap sebagai asal
nenek moyang bangsa-bangsa di dunia (Nabi Adam).  Sampai sekarang ini, jumlah
penduduk di sekitar pusat kelahiran “agama-agama Semit” masih kalah padat
dengan Jawa.  

  Di Jawa diketemukan fosil manusia purba.  Maka arti-nya, Jawa sudah dihuni
mahluk “titah Tuhan” sejak jutaan tahun yang lalu.  Maka teori yang mengatakan
bahwa Jawa sebelumnya pulau kosong yang kemudian didatangkan penduduknya dari
berbagai negeri Asia atas perintah Raja Rum, adalah teori yang sulit diterima
untuk “manusia berpikir”.  

  Dengan paparan wacana berpikir tersebut diatas, maka kita masing-masing
berhak untuk menelusuri asal-usul nenek moyang kita, wong Jawa.  Saya secara
subyektif berpendapat, nenek moyang saya asli Jawa.  Kalau toh bukan keturunan
manusia purba yang diketemukan fosilnya di Jawa, maka saya akan lebih
mempercayai mitos bahwa nenek moyang saya adalah keturunan Hyang Manikmaya,
persatuan Bathara Guru dan Semar.

  Peradaban Jawa adalah intisari Peradaban Nusantara
  Sesungguhnya bahwa teori nenek moyang orang Nusantara imigran dari Asia
Daratan meragukan.  Lebih meragukan lagi ketika kita berpikir tentang sarana
transportasi untuk migrasi itu sendiri.  Kalau berjalan kaki, mungkinkah?
Kalau menggunakan perahu, apakah orang Asia Daratan memiliki peradaban bahari
hingga mampu membuat perahu besar untuk mengarungi samudera? 

Ada disebut perahu untuk bangsa-bangsa Timur Tengah, Mesir, Yunani, dan Romawi.
 Namun perahunya bukan perahu untuk samudera besar.  Sekedar kapal untuk
mengarungi Laut Tengah yang tidak berombak besar sebagai-mana Samudera Hindia
dan Samudera Pacific.  Bandingkan dengan diskripsi tentang perahu yang ada
dalam cerita rakyat di seluruh Nusantara.  Di Bugis ada disebut bahwa nenek
moyangnya (Sawerigading anak keturunan Guru) berobsesi menguasai dunia dengan
perahu-perahunya.  Kemudian di Candi Borobudur ada relief perahu.  

  Dalam pelajaran sejarah (yang disusun orang Belanda) disebutkan bahwa relief
perahu di Borobudur adalah cerita awal mulanya orang-orang Hindia belakang
datang ke Jawa.  Masuk akal atau tidak hal itu?  Lha wong orang daratan, mana
mungkin mengenal perahu.  Apalagi alasan migrasinya terdesak oleh orang Arya
dan Mongolia, kok begitu sepele.  Bukti sejarah menunjukkan bahwa serbuan Arya
ke Asia hanya sampai India Utara.  Model serbuan Mongolia tidak menduduki,
sekedar merampas harta membunuh semua laki-laki dan memboyong semua perempuan
untuk dijadikan pemuas nafsu birahi.  

  Yang paling mungkin, Jawa adalah hasil migrasi bangsa-bangsa dari kepulauan
Nusantara sendiri.  Artinya, Jawa adalah perpaduan umat manusia dari seluruh
Nusantara yang kemudian menjadikan Jawa sebagai pusat peradaban Nusantara.
Dasar pemikirannya bahwa bangsa Nusantara saja yang di jaman purba merupakan
bangsa bahari yang mampu menguasai lautan.  Mampu membuat perahu-perahu untuk
mengarungi samudera yang besar (Samudera Hindia dan Pasifik).  Sedangkan di
Nusantara, Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya.  Maka Jawa yang termaju
“peradaban” nya, hingga umat manusia nyaman mukim di tempatnya.

  Diteorikan bahwa peradaban Jawa adalah “turunan” dari India.  Alasannya,
agama Hindu dan Buddha di Jawa berasal dari India.  Namun kalau kita kembalikan
bahwa kenyataan bangsa-bangsa Asia Daratan sama sekali tidak mengenal perahu,
maka memunculkan keraguan akan kebenarannya.  Di India sama sekali tidak kita
dapatkan diskripsi adanya perahu.  Untuk mencapai ke Alengka (Srilangka) dari
daratan India tidak ada sedikitpun disinggung tentang perahu dalam kitab paling
kuno India, Ramayana.  Maka bandingkan dengan kitab kuno dari Bugis (La Galigo)
yang menyebutkan Sawerigading anak Guru memiliki cita-cita mengarungi dunia
dengan perahunya.  Konon kitab “La Galigo” lebih tua dari kitab Mahabharata dan
Ramayana.

  Perenungan saya kemudian menemukan pendapat bah-wa bukan Nusantara yang
didatangi peradaban Asia Daratan, tetapi sebaliknya daratan Asia yang disebari
peradaban Nusantara. Penyebaran peradaban sangat mungkin termasuk juga
penyebaran agama.  Dalam hal ini yang dimaksud agama adalah agama sebelum Hindu
dan Buddha lahir.

  Kita boleh percaya dan meyakini agama Hindu dan Buddha berasal dari India.
Namun kalau tentang “tata per-adaban” Jawa “turunan” India, belum tentu benar.
Sederhana saja dasar pemikirannya.  Dalam kitab Mahabharata (konon asalnya dari
India) ada disebut cerita asal muasal musik dan tarian. Konon pula seni budaya
cermin peradaban manusia tersebut pelajaran dari para dewa di kahyangan kepada
Arjuna.  Boleh kita renungkan lebih pantas mana sebagai musik dan tarian
“kahyangan” antara tarian dan musik India dengan tarian dan gamelan Jawa.

  Saya merenungkan nama “Sawerigading” (Srigading) dan “Guru” yang disebut
dalam kitab kuno Bugis, La Galigo tersebut.  Ternyata nama itu tidak asing bagi
telinga hampir seluruh bangsa-bangsa di Nusantara.  Batak, Minangkabau, Kubu,
Palembang, Dayak, Toraja, Baduy, Sunda Kawitan, Jawa, Bali dan masih banyak
lagi wilayah lain di Nusantara ini, memiliki mitologi yang memposisikan “Guru”
adalah “nenek moyang” atau “cikal bakal” nenek-moyang pada masing-masing etnis
itu.   Apa maknanya ?  

  Atas dasar kesamaan posisi “Guru” pada kepercayaan (mitologi) bangsa-bangsa
Nusantara, maka sejak jaman kuno sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha,
Nusantara sudah satu peradaban.  Yang kemudian perlu dicari adalah “pusat
peradaban” yang bisa menyatukan Nusantara di jaman kuno itu.  Perenungan
subyektif saya menemukan bahwa pusatnya ada di Jawa.  Dasar pemikiran saya
dengan pendekatan konsep kepercayaan (teologi dan mitologi) Jawa adalah yang
“terang benderang” dan sangat jelas serta mudah dipahami.  

  Dengan asumsi bahwa pusat peradaban Nusantara di jaman kuno adalah Jawa, maka
sesungguhnya peradaban Jawa adalah intisarinya seluruh peradaban Nusantara.
Kalau kemudian peradaban kuno tersebut musnah adalah mungkin sekali.  Jawa
kenyataannya berada tepat di atas pertemuan lempeng kulit bumi yang terus
menerus bergerak dan bertumbukan.  Terakhir dampak tumbukan tersebut berupa
bencana besar di Aceh.  Maka sangat mungkin bahwa di jaman kuno, ribuan tahun
yang lalu, Jawa tertimpa bencana yang lebih besar dari yang menimpa Aceh
baru-baru ini.  Saking besarnya bencana tsunami yang melanda Jawa hingga
menyapu bersih seluruh peradaban yang ada.  Yang tersisa tinggal bangunan
candi-candi yaang memang kokoh kuat.  Perhatikan saja, bahwa candi-candi di
Jawa yang masih utuh yang berada di tempat yang tinggi.  Juga rata-rata di
pedalaman pulau, bukan yang ada di pesisir.  Kenyataan ini saja sudah bisa
untuk menggugat teori yang menyatakan peradaban Jawa “turunan” dari India.
Kalau
 memang benar berasal dari luar, maka yang berkembang pasti yang ada di
pesisir.  Jejak penyebarannya juga bisa dirunut dari pulau-pulau sebelah utara
Jawa (Sumatra) menuju India sana.  Kenyataannya?  Di Sumatra tak ada jejak
peninggalan semenonjol Jawa.  Kenyataan ini hanya ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama peradaban India sampai ke Jawa dengan disebarkan melalui
angkasa (terbang) oleh dewa-dewa sebagaimana mitos yang dikarang para empu
jaman Kahuripan yang diteruskan para pujangga Keraton Surakarta.  Kemungkinan
kedua, bahwa India justru menerima sebaran peradaban dari Jawa.  Mana yang
lebih mungkin merupakan tantangan bagi “manusia berpikir” untuk menelaah lebih
mendalam.

  Dengan mewacanakan bahwa peradaban Jawa adalah intisari peradaban Nusantara
bukan dimaksudkan untuk merendahkan peradaban Nusantara yang lain saat ini.
Namun lebih mengutamakan bahwa sejak jaman kuna Nusantara sebenarnya satu
peradaban dengan pusatnya di Jawa.  Kenyataannya, saat ini Jawa yang hanya 6%
luas daratan Indonesia dihuni 63% populasi penduduk Indonesia.  

  Permasalahannya, bahwa peradaban Jawa yang diasumsikan “unggul” di jaman kuno
 itu sudah runtuh (bukan musnah!).  Penyebab keruntuhannya bencana alam.
Kemung-kinan besar tsunami yang lebih besar puluhan atau ratusan kali dibanding
yang terjadi di Aceh.  

  Bukti lain keunggulan Jawa adalah kisah perjalanan para pendeta Buddha dari
Tiongkok.  Kisahnya sekitar abad 6-7 masehi, sejaman dengan lahirnya Islam di
Arab.  Maka silahkan membandingkan makna isi kisahnya.  Menurut hadis (?), nabi
Muhammad SAW mengatakan: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina !”.
Padahal sejaman dengan lahirnya hadis tersebut, justru para pendeta agama
Buddha dari Tiongkok berguru agama kepada para “pendeta besar” Jawa.  Salah
satu “pendeta besar” itu Jnanabadra.  Cukup jelas bahwa pada waktu itu Jawa
lebih unggul dari Cina bukan ?

  Lebih mencengangkan lagi, bahwa sesungguhnya para pendeta Cina tersebut
tujuannya berguru ke India yang dianggaap sebagai sumber agama Buddha.  Namun
kenyataan-nya mereka hanya sebentar di India dan lebih lama di Jawa dalam
berguru tertsebut.  Bahkan terbukti pula bahwa para pendeta Cina tersebut dalam
perjalanannya menumpang perahu-perahu dari Nusantara.  

  Nah !  Kiranya tidak salah kalau saya berasumsi bahwa peradaban Jawa di jaman
kuna adalah peradaban unggul dan merupakan intisari peradaban Nusantara.
Peradaban Jawa adalah Peradaban Semesta Dalam pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni
1945, Bung Karno menyebut bahwa sebelumnya Nusantara pernah memiliki  “Negara
Bangsa” yaitu di jaman Sriwijaya dan Majapahit.  Kalau kita bisa merunut adanya
nama “Guru” atau “Bethara Guru” yang dianggap sebagai cikal-bakal seluruh
raja-raja di Nusantara, barangkali di jaman jauh sebelum Sriwijaya, Nusantara
juga pernah memiliki “Negara Bangsa”.  

  Demikian pula ketika Bung Karno menyebutkan “Berke-Tuhan-an yang lebih luas
dan mendalam ….”, kiranya adalah konsep ber-Tuhan-nya Nusantara yang dengan
jelas diwakili pandangan Jawa dengan istilah “tan kena kinaya ngapa”, lha wong
menguasai seluruh jagad semesta seisinya, mana mungkin kalau sekedar tinggal di
Sinai (Tursina), Himalaya, Gangga, Kakbah atau sekedar diwakili seorang manusia.

  Konsep berke-Tuhan-an yang didiskripsikan Jawa (Sang Hyang Wenang, Sang Hyang
Wisesa) itulah yang kemudian diistilahkan dalam bahasa Indonesia “Ketuhanan
Yang Maha Esa” dan kiranya lebih universal pengertiannya baik verbal maupun
substansial. 

Adanya Tuhan yang melingkupi seluruh semesta alam yang “tan kena kinaya ngapa”
merupakan “konsep teologi” yang sangat kuat menjaga ke Maha Esaan Tuhan dari
campur tangan pendapat manusia.  Bandingkan Tuhan yang diajarkan agama-agama
dari Asia Daratan dimana derajat Tuhan diturun-kan sedemikian rupa hingga
sekedar menghuni gurun Sinai (Bukit Tursina), Kuil, Kakbah, bahkan pada seorang
manusia atau hewan.  Maka marilah kita renungkan konsep-konsep Jawa sebagai
berikut :
  1.   Konsep tergelarnya jagad raya yang sangat jelas dinyatakan sebagai
ciptaan Tuhan (Sang Hyang Wenang). Pencip-taannya dengan cara membanting atau
meletuskan antiga (benih kejadian) hingga berujud 3 (tiga) unsur : materi (bumi
dan langit), cahaya/enerji (cahya dan teja), Roh (Manik-maya).  Kiranya konsep
ini sulit terbantahkan.
  2.   Konsep terciptanya manusia dengan jelas sebagai hasil pembuahan sel
telur oleh sperma yang terjadi dalam kandungan Ibu, lebih jelas dan masuk akal
dibanding teori rekaan sebagaimana diajarkan agama-agama dari Asia Daratan.
Dicipta dari “lempung” yang ditiupkan roh oleh Tuhan, lebih sulit diterima akal
dibanding penciptaan adalah pembuahan sel telur oleh sperma.
  3.   Konsep konstelasi jagad raya seisinya yang terstruktur dalam hubungan
inti dan plasma sangat jelas dalam ajaran Jawa.  Roh (Suksma, Dzat Hidup)
terdiri dari inti (Hyang Manik) dan plasma (Hyang Maya).  Roh manusia terdiri
dari inti (pancer) dan plasma (sedulur papat).  Konsep inti-plasma yang dalam
istilah Jawa disebut sebagai : kembang lan cangkoke atau sesotya lan embanan
meliputi hampir seluruh pandangan dan ajaran Jawa yang lahiriah maupun
spiritual.  Tercipta dalam kondisi hayu (harmonis, selaras) namun dinamis
dengan pergerakan di dalam keselarasan tersebut.  Hal itu terjadi, karena
semesta ini “urip” dan uripnya itu karena disuksma oleh Dzat Tuhan Yang Maha
Kuasa.
  4.   Konsep kewajiban hidup manusia menyembah Tuhan dalam ajaran Jawa sangat
universal.  Yaitu wajib melakukan segala perbuatan untuk menjaga ke-“hayu”-an
(keharmonisan) semua yang sudah diciptakan Tuhan dalam keadaan hayu (harmonis).
 Ajaran kewajiban ini sudah dengan jelas memuat semua kebaikan dan
keber-“adab”-an manusia dalam segala hal, lahiriah maupun spirituil.  Termasuk
didalamnya ajaran hubungan manusia dengan semesta alam seisinya.
  5.   Ajaran Jawa tentang hidup (urip) dan mati begitu terang benderang
menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi.  Upacara pengantenan (sejak sebelum
kedua insan melaku-kan coitus) sampai dengan kematian (sampai seribu hari
sesudahnya) sangat jelas memuat ajaran tentang “sangkan paraning dumadi”.

Atas dasar diskripsi konsep-konsep Jawa tersebut di atas, serta kemampuan Jawa
mensinergikan konsep-konsep peradabannya dengan peradaban pendatang menambah
keya-kinan saya bahwa di jaman kuno pusat peradaban Nusantara adalah Jawa.
Peradabannya juga asli bukan “turunan” atau “cangkokan” dari peradaban lain.
Bersifat universal, artinya konsep-konsep Jawa tersebut bisa dipahami oleh umat
manusia di seluruh dunia.

  Sebagaimana telah dibuktikan oleh sejarah, maka Jawa adalah sebuah bangsa
yang berperadaban sedemikian luwes dan mampu mensinergikaaan peradabannya
dengan peradaban manapun tanpa kehilangan identitas Jawanya.  Ketika Jawa
menerima Hindu dan besinergi dengannya, maka Hindu di Jawa menjadi sangat
cemerlang dan semi abadi terlestarikan.  

  Jejaknya berupa pelestarian cerita Mahabharata yang merakyat dalam pagelaran
wayang kulit.  Ketika menerima Buddha dan bersinergi, maka candi Borobudur
merupakan monument semi abadi agama Buddha di Jawa. Sampai saat ini pula masih
berpsoses pensinergian Jawa dengan Islam.  

  Pijakan falsafah (pandangan hidup) Jawa adalah aras ke-religius-an,
kesemestaan dan keberadaban manusia.  Kereligiusan diekspresikan dengan
“Kawruh Sangkan Paraning Dumadi”.  Merupakan konsep religius yang universal.
Bahwa semua titah dumadi berasal dari Tuhan (yang tan kena kinayangapa) dan
kepada-Nya kembali (menuju paran).

  Konsep pandangan ini melahirkan banyak tradisi buda-ya Jawa yang berkaitan
dengan “urip” (hidup) dengan segala prosesinya.  Intinya, diawali bahwa
kelahiran bayi (anak manusia) adalah “sabdaning Gusti”, maka pandangan Jawa
menganggap bahwa urusan seks merupakan bagian dari “sabda Tuhan” tersebut. 

Untuk itu marilah kita renungkan betapa rumitnya tata-cara adat Jawa dalam
upacara pengantin.  Kerumitan itu merupakan ekspresi pandangan bahwa
sesungguhnya terjadinya pembuahan sel telur perempuan oleh sperma laki-laki
adalah kehendak Tuhan menciptakan manusia baru.  Maka sakral nilainya.
Renungkan pula betapa banyak dan rumitnya tradisi Jawa mengiringi perkembangan
janin dalam kandungan ibu.  

  Termasuk tradisi Jawa dalam menyambut kelahiran bayi.  Ada brokohan kemudian
selapanan dan seterusnya.  Yang tidak boleh dilupakan bahwa Jawa memandang air
ketuban, ari-ari dan puser bayi sebagai “saudara” si bayi dan dimuliakan.  Pada
peradaban lain barangkali organ-organ itu dianggap sampah, justru Jawa
mensakralkannya.  

Pandangan Jawa, seks adalah sakral maka ikut dijadikan penghias  (relief)
tempat peribadatan.  Lihat saja relief di kaki candi Borobudur maupun yang
lebih jelas di candi Sukuh.  Banyak yang menganggap relief itu porno.  Tetapi
bagi mereka yang “berpikir” tidaklah gampang menjastifikasi demikian.  

  Bayangkan saja sudah ratusan tahun yang lalu, perkara seks begitu jelas
digambarkan dalam bentuk ukiran (relief) batu dengan terang-terangan.  Termasuk
pula gambaran janin dalam kandungan ibu.  Lho kok dianggap porno.  Justru
sebuah pembelajaran (pendidikan) bukan ?  Boleh kita berangan-angan, seandainya
pandangan Jawa yang menganggap seks sebagai kesakralan (sabda Tuhan) bisa
menjadi pandangan umat manusia sedunia, kira-kira bagaimana moralitas umat
manusia sedunia ?
Sumber: http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg18467.html
No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS