RUMI DAN RELEVANSI SASTRA RUFI (1)

2009 October 25
by ahmadsamantho

RUMI DAN RELEVANSI SASTRA SUFI (1)

Abdul Hadi W. M.

Tahun 2007, tepatnya pada 30 September dua tahun yang lalu, ratusan ribu pengikut Tariqat Maulawiyah di seluruh dunia, akan memperingati 800 tahun hari lahir pemimpin besar spiritual mereka, Jalaluddin Rumi. Tetapi ternyata perayaan kali ini berbeda. Hari lahir Rumi akan diperingati di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Unesco, sebuah badan dunia yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan dan bernaung di bawah PBB, telah menetapkan tahun ini sebagai Tahun Rumi dan Tahun Imigran.

Apa dasar pertimbangan Unesco menetapkan tahun 2007 sebagai Tahun Rumi? Salah satu jawabnya tentulah karena relevansi karyanya bagi kita yang hidup dalam peradaban yang materialistis. Di samping itu dia merupakan sedikit dari sekian juta imigran yang berjaya menjadi tokoh besar dalam sejarah peradaban. Karena itu, meskipun saya diminta berbicara tentang sastra Islam, karya Rumi dan relevansinya. Sebab bagaimana pun juga karyanya merupakan cermin terbaik dari seluruh khazanah sastra yang dihasilkan peradaban Islam. Melalui karya Rumi, seperti halnya melalui karya-karya besar Islam yang lain, akan tampak betapa luar biasanya pengaruh al-Qur’an dan Hadis terhadap perkembangan sastra Islam.

Karya-karya penulis Muslim itu pula, sebagaimana ditunjukkan oleh Rumi, memperlihatkan eratnya hubungan seni dengan falsafah dan cabang-cabang ilmu Islam yang lain Begitu pula dengan pengalaman sejarah kaum Muslimin berikut tantangan-tantangan yang dihadapkannya. Tanpa semboyan ‘seni sebagai media dakwah’, karya mereka, yaitu melalui pesan moral dan keruhaniannya, serta wawasan estetikanya, telah mengukuhkan perannya sepanjang sejarah sebagai pemberi ilham dan pembentuk kebudayaan Islam di mana pun agama ini berkembang.

Melalui ungkapan estetik sastra yang sarat pesona dan kandungan spiritual, para sufi itu meletakkan dasar-dasar pandangan hidup (way of life), system nilai dan gambaran dunia (Weltanschauung) yang menjadi fundasi kebudayaan dan sendi peradaban Islam. Pandangan hidup, sistem nilai dan gambaran dunia yang membentuk jagat sastra mereka itu sepenuhnya merupakan hasil tafsir yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Hadis, yang dengan itu mereka melihat, menyikapi dan menggambarkan pengalaman keruhanian dan kemanusiaan.

Rumi dan Zamannya

Abad ke-13 M pada masa hidup Rumi dalam banyak hal mirip dengan masa kita hidup. Khususnya di wilayah-wilayah yang dahulunya merupakan kawasan kekahlifatan Abbasiyah di Baghdad. Setelah lima abad berjaya mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang menakjubkan, pada masa kemunculan Rumi, agama Islam mulai mengalami kemunduran. Krisis itu diperparah dengan perpecahan internal, yaitu tumbuhnya madzab-madzab keagamaan saling bertikai disebabkan perbedaan teologis. Ujung-ujungnya adalah pertikaian politik yang kian runcing dari waktu ke waktu. Di mana-mana di dunia Islam ketika itu terjadi banyak kekacauan. Peradaban dan kebudayaan Islam mandeg. Dalam menjalankan kehidupan agamanya, umat diarahkan untuk lebih menekankan pada aspek-aspek legalistik formal dari ajkaran agama.

Dalam kurun yang sama ancaman dari luar datang bertubi-tubi, merobek-robek keutuhan negeri kaum muslimin dan kesatuan sosial politiknya. Pada akhir abad ke-11 M Perang Salib pertama meletus, dan secara bergelombang terus berkobar selama tujuh kali hingga terhenti pada akhir abad ke-13 M. Pada tahun 1200 M Jengis Khan membawa pasukan Mongol menaklukkan negeri-negeri Islam di kawasan Asia Tengah dan Persia. Pada tahun 1256 M ibukota kekhalifatan Abbasiyah, Baghdad diserbu dan diratakan dengan tanah.

Dalam tahun-tahun penuh kegelapan itu Rumi dibesarkan dalam pengungsian. Ketika usianya baru tiga tahun dia telah dibawa pengungsi oleh orang tuanya dari kota kelahirannya Balkh, Afghanistan sekarang, menuju Nisyapur, Timur Daya Iran. Tahun 1220 M Nisyapur diserbu Jengis Khan. Rumi dan keluarga mengungsi lagi ke Baghdad. Dirasakan tidak aman di tempat tinggalnya yang baru, ayahnya membawa Rumi ke Mekkah, kemudian Palestina, Damaskus dan Libanon. Pada tahun 1221 keluarga Rumi menetap di Laranda dan pada akhirnya empat tahun kemudian menetap di Konya, Turki sekarang, hingga akhir hayatnya.
Sejarah sepertinya berulang. Wilayah-wilayah yang ketika itu penuh dengan pergolakan politik dan peperangan, seperti Afghanistan, Irak, Libanon dan Palestina, sekarang pun demikian. Serentetan perang dan tindakan kekerasan lainnya sejak meletusnya Perang Arab Israel 1973, Perang Saudara di Libanon, pembantaian Israel atas orang Palestina, Perang Iraq Iran, pendudukan Sovyet atas Afghanistan pada 1981, Perang Teluk 1991, invasi AS ke Afghanistan dan Irak pada awal millennium ketiga, dan masih banyak lagi yang lain, telah merubah sebagian wilayah yang dilalui pengungsi-pengungsi abad ke-13 M semasa penaklukan bangsa Mongol, menjadi neraka. Akibatnya banyak penduduk negeri ini pindah dan menjadi imigran di negara-negara Eropa, Amerika, Canada dan Australia. Dan seperti pada zamannya Rumi, hanya Turki barangkali yang merupakan wilayah yang relatif paling aman dibanding tetangga dekatnya.

Nama lengkap Jalaluddin Rumi ialah Jalaluddin Muhammad bin Husayn al-Khattibi al-Bahri. Nama takhallus al-Rumi atau Mulla yi-Rum diberikan karena sang sufi menjalani sebagian besar masa-masa hayatnya di Anatolia, Turki sekarang. Sebelum direbut oleh Dinasti Saljug, wilayah ini merupakan bagian dari kekaisaran Rumawi Timur atau Byzantium. Pada tahun 1225 M, Sultan Alauddin Kaykubad – penguasa Anatolia ketika itu – meminta ayah Rumi, Bahauddin Walad, tinggal di Konya beserta keluarga.

Dengan bantuan sultan yang pemurah itu Bahaudin Walad mendirikan sebuah madrasah besar di Konya yang mampu menampung ratusan murid. Lembaga pendidikan ini segera terkenal ke seluruh pelosok negeri Islam di sekitar Anatolia. Ketika itu Konya menjadi pusat baru kebudayaan dan pendidikan keagamaan menggantikan kota-kota lain yang hancur akibat peperangan. Pada tahun 1331 M Bahauddin Walad wafat. Rumi, yang ketika itu berusia 24 tahun, harus menggantikan ayahnya menjadi kepala sekolah. Tugas itu tidak ringan, sebab jumlah santri yang belajar di situ jumlahnya melebihi seribu orang.
Sampai usianya 35 tahun, tidak tampak tanda bahwa Rumi berhasrat menjadi seorang sufi, apalagi penyair. Dia memang telah mempelajari tasawuf pada Syekh al-Tarmidhi, seorang sufi terkemuka yang datang ke Konya pada tahun 1232. Bahkan ketika Rumi belajar di Madrasah Tinggi Halawiyah, Aleppo, dia sempat memperdalam studinya dalam ilmu tasawuf, sastra dan tafsir al-Qur’an metode sufistik. Kehidupannya setelah itu hanyalah mengajarkan ilmu-ilmu formal keagamaan. Tetapi pertemuannya dengan Syamsi Tabriz, seorang darwish atau sufi pengembara dari Tabriz Iran, yang hadir di Konya, pada tahun 1244, telah merubah total kehidupan dan kepribadian Rumi.

Khutbah-khutbah sufi kharismatik itu, pemikiran dan kepribadiannya makin menarik minatnya kepada spiritualitas dan ekstase keruhanian. Rumi mengikuti sang darwsiuh kemana ia pergi dan selalu berusaha memperoleh bimbingannya. Selama hampir tiga tahun dia mengikuti tokoh yang digandrungi, sampai akhirnya terjadi perpisahan ketika sang darwsih menghilang tanpa diketahui jejaknya, dan Rumi terus mencarinya. Dirasuk oleh kerinduan dan cinta yang mendalam kepada guru spiritualnya itu Rumi berubah menjadi seorang penyair yang kaya dengan ungkapan puitis dan imaginatif. Lambat laun kerinduan dan cintanya itu berubah menjadi kerinduan dan cinta mistikal kepada Tuhan. Dia bahkan selalu melihat bayangan cinta ilahi dalam diri sang darwish seperti diungkapkan dalam salah satu sajaknya dalam antologi Divan-i Shams Tabriz.

ORANG TUHAN

Orang Tuhan, mabuk tak minum anggur
Orang Tuhan, kenyang tak makan daging
Orang Tuhan, nanar gila sasar dan majenun
Orang Tuhan, tak sempat tidur dan makan
Orang Tuhan, raja memakai jubah fakir
Orang Tuhan, harta dalam puing kehancuran
Orang Tuhan, tidak dari udara dan tanah dicipta
Orang Tuhan, bukan dari api dan air asalnya
Orang Tuhan, lautan luas tidak bertepi
Orang Tuhan, menghujankan mutiara tanpa mendung
Orang Tuhan, memiliki seratus langit dan bulan
Orang Tuhan, memiliki seratus matahari
Orang Tuhan, bijak dan arif karena Benar
Orang Tuhan, tidak belajar dari kitab semata
Orang Tuhan, di seberang kekafiran dan agama
Salah dan benar tidak berbeda rupanya
Orang Tuhan, bebas dari yang tiada
Orang Tuhan, selalu terpelihara ia
Orang Tuhan, tersembunyi dalam rahasia
Cari dia, Syamsidin –
Matahari Agama – dan jumpai!

Syamsi Tabriz selalu menyerukan perlunya manusia mencintai Tuhan. Dengan demikian kepercayaan dan harapan dalam dirinya tumbuh kembali. Umat Islam, menurutnya, harus berusaha sekuat daya memerangi kelemahan diri mereka dan bangkit membangun kembali rumah keimanan dalam dirinya agar dapat meraih masa depan yang lebih baik. Peradaban umat manusia hanya dibangun berdasarkan cinta ilahi atau anthusiasme ketuhanan.

Pada akhir abad ke-13 M, di sebagian besar pelosok negeri Islam tidak sedikit dijumpai darwish, faqir atau sufi pengembara seperti Syamsi Tabriz. Mereka menjelajahi negeri-negeri yang mereka kenal untuk menyebarkan agama Islam tanpa mempedulikan habisnya harta dan hilangnya nyawa mereka. Di antara mereka tidak sedikit yang berdagang agar bisa mandiri dan bahkan memiliki jaringan-jaringan intelektual dan persaudaraan sufi (tariqa), di samping jaringan perdagangan dan politik (ta`ifa). Mereka menjadi tulang punggung penyebaran agama Islam ke wilayah yang luas di pedalaman Afrika, Asia Tengah, anak benua India dan segenap pelosok kepulauan Nusantara.

Berkat dakwah banyak penguasa pribumi di Nusantara berhasil diislamkan pada abad ke-13 – 16 M. Dalam berdakwah mereka menggunakan saluran budaya dan seni, selain saluran perdagangan, perkawinan dan pendidikan. Menjelang akhir abad ke-13 M, berkat seruan mereka penguasa dan orang-orang Mongol pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dampaknya sudah pasti, peradaban Islam yang mati akhirnya muncul kembali di permukaan bumi.
Kembali ke Rumi. Setelah berpisah dengan guru keruhaniannya, dia akhirnya mengembara ke berbagai pelosok negeri Islam untuk mencari gurunya, sambil menyebarkan agama. Setelah tidak berhasil menemui gurunya ia akhirnya letih. Demikianlah akhirnya pada tahun 1249 Rumi kembali ke Konya setelah mendapatkan pencerahan di jalan panjang tasawuf. Tetapi kembalinya ke Konya, bukan lagi sebagai guru ilmu-ilmu formal. Melainkan sebagai penyair dan seniman, dan untuk memulai tugas barunya sebagai guru kerohanian.

Kedatangan kembali Rumi di Konya mendapat sambutan gembira., terutama dari kalangan pengikutnya. Murid-murid berbondong datang dari waktu ke waktu untuk mendapat bimbingan keruhanian dari guru muda yang masyhur ini. Sementara itu sang sufi sering merindukan kehadiran guru spiritualnya Shamsi Tabriz. Dari kerinduannya itulah lahir puisi-puisi mistisnya yang abadi dan memikat.
Sebagian besar puisi Rumi yang awal lahir pada waktu sang sufi mengalami ekstase mistis. Ilham yang derasnya melimpahi jiwa dan kalbunya segera dituturkan kepada murid-murid terdekatnya, dan murid-muridnya mencatatnya dengan teliti. Catatan-catatan itu kemudian dihimpun dan disunting sebelum disiarkan dalam bentuk antologi. Kecuali mencipta puisi, Rumi mencipta pula tarian spiritual sufi dengan gerakan berputar seperti gasing. Tarian inilah yang menyebabkan pengikut Tariqat Maulawiyah dikenal sebagai The Whirling Dervish. Diiringi lantunan suling dan kendang, tarian ini sampai kini masih tetap dipertunjukkan di Turki dan menarik perhatian khalayak luas.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS