HUMANISME DI TIONGKOK

2009 October 19
by ahmadsamantho

Abdul Hadi W. M.

Dalam mengusulkan dasar ideology NKRI yang kini kita kenal sebagai Pancasila, Bung Karno mengakui bahwa siala kemanusiaan yang dia usulkan dipengaruhi oleh gagasan Sun Yat Sen di Tiongkok. Bapak Nasionalisme Tiongkok itu mengajukan tiga prinsip dasar negara atau trisila yang disebut San Min Chu I (1911) atau Tiga Asas Kerakyatan.

Kandungan trisila ini ialah (1) Nasionalisme, yaitu kemerdekaan penuh negara Tiongkok dari penjajahan bangsa asing dan sebagai negara berdaulat Tiongkok berdiri setara dan sejajar dengan negara-negara lain di dunia; (2) Demokrasi, yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat sendiri melalui perwakilan dalam parlemen; (3) Kesejahteraan Rakyat. Ketiga prinsip ini dikembangkan berdasarkan etika dan ethos Konfusianisme yang telah wujud di Tiongkok lebih 2000 tahun sebelumnya, dan selama lebih 2000 tahun dijadikan landasan pendidikan di negeri tersebut.

Kon Fu Tze atau Kong Hu Cu atau Konfusius lahir pada tahun 551 SM di negeri Lu, provinsi Shantung. Bersama-sama Lao Tze (lahir 604 SM) dia dipandang sebagai pengasas pemikiran falsafah di Cina. Selama lebih dua abad ajarannya terus ditafsir oleh para pengikutnya dengan berbagai cara yang berbeda-beda, misalnya oleh Meng Tze dan Hun Tze pada abad ke-4 SM. Dari penafsirann-penafsiran tersebut lahirlah aliran besar falsafah yang disebut Konfusianisme dan Neo-Konfusianisme (abad ke-7 M). Pertemuan Konfusianisme dengan Buddisme pada abad ke-8 M melahirkan agama Kong Hu Cu. Tetapi tidak semua orang Cina memandang Kong Hu Cu sebagai agama.

Humanisme yang diajarkan Kon Fu Tze berakar dari konsep filsafatnya yang disebut jen. Secara harfiah arti kata ‘jen’ itu bermacam-macam, di antara artinya ialah bajik, berkebajikan, kebajikan yang sempurna, kehidupan moral, karakter moral, perikemanusiaan (the manhhod), perasaan kemanusiaan dll. Ketika Kon Fu Tze ditanya apa arti jen, dia menjawab: “Jen ialah mencintai manusia.” Pengikut ajarannya Han Fei Tze (wafat 233 SM) mengembangkan lebih jauh gagasan tersebut. Katanya, “Jen adalah mencintai manusia dengan gembira dan dari lubuk hati yang dalam.” Jen juga dikatakan sebagai penanda yang membedakan manusia dari hewan. Ia adalah kodrat terdalam dan cita-cita tertinggi kemanusiaan, permulaan dan akhir dari pandangan hidup. Manusia yang berperikemanusiaan bebas dari kesedihan dan kecemasan, serta bebas dari kejahatan, yaitu dia yang mampu memilih siapa yang harus dicintai dan dibenci dalam hidupnya.
Semua kebajikan seperti cinta, tolong menolong, kesetiaan, keberanian, kepercayaan, ketulusan dan lain-lain sebagainya merupakan ungkapan dari kemanusiaan. Kemanusiaan tidak dicapai melalui intelek dan emosi, tetapi lahir dan memancur dari dalam diri kita. Semua orang memiliki perasaan tentangnya, tetapi sering lingkungan sosial dan pengalaman hidup yang buruk menghambat perkembangan rasa kemanusiaan dalam diri seseorang. Mereka yang memiliki intuisi (penglihatan batin/hati) yang tajam akan lebih peka rasa kemanusiaannya dibanding orang lain yang mata hatinya kurang terbuka. Orang seperti itu akan dapat memahami kemanusiaan/jen dengan baik dan dapat mencapainya lebih tinggi dari orang lain. Pencapaian kemanusiaan sangat tergantung pada diri pribadi seseorang dalam mendidik dirinya bersama anggota masyarakat lainnya.

Meskipun kemanusiaan lahir dari dalam diri peribadi seseorang, tetapi hanya sedikit orang yang mencapainya dengan baik. Jen dicapai apabila seseorang melalui serangkaian proses individuasi yang benar. Inilah fokus utama etika Konfusianisme yang bertujuan membentuk manusia menjadi manusia yang sebenarnya. Tujuan tersebut bisa dicapai melalui proses yang kompleks dan melalui pula usaha yang terus-menerus dengan pendekataan yang kaafaha atau holistic (menyeluruh). Menjadi manusia, kata Kon Fut Tze sebanarnya adalah “belajar untuk kepentingan diri” sendiri.

Tampaknya ini begitu individualistik. Namun jika dipahami sungguh-sungguh tidak demikian halnya. “Diri” yang dimaksud Kon Fu Tze bukanlah diri atomistik atau diri yang terpisah satu dengan lain seperti atom, seperti dipahami di Barat. Diri merupakan hasil bentukan dari hubungan seseorang dengan sesamanya di luar dirinya. Setiap hubungan yang terjalin itu merupakan bagian dari proses pengembangan dan pembentukan diri. Diri adalah hasil bentukan dari hubungan-hubungan sosial dan kemanusiaan, yang selalu terbuka dan senantiasa berdialog dengan manusia lain secara berkelanjutan.

Agar bermakna pengembangan diri perlu melibatkan pengalaman dan renungan/pemikiran terhadap banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Lima bidang pengalaman dan kegiatan sangat penting bagi proses pembentukan dan pengembangan diri.

Pertama, ialah puisi atau seni. Dalam Sih Ching (Kitab Puisi) puisi diartikan secara luas menjadi ekspresi seni secara umum. Seni merupakan ekspresi jiwa manusia dalam wujud ‘estetika’ (ungkapan keindahan) sebagai hasil hubungan manusia dengan alam, realitas kehidupan dan kebudayaan. Kemampuan merspons dunia dalam bentuk puitis/estetis sangat penting bagi pengembangan diri. Seni melatih manusia mengembangkan imaginasi, perasaan, perenungan, fantasi dan sensibilitas terhadap keindahan. Semua itu sangat penting dalam membentuk suasana kejiwaan dan pemikiran.
Kedua, ritual atau upacara. Yang dimaksud ritual di sini ialah aspek latihan ritualisasi jasmani dan kedisiplinan dalam kehidupan sosial. Dalam ritual diri dilatih bagaimana melakukan sesuatu tindakan yang baik bersama orang lain. Menyapu, makan, bekerja bakti, duduk di tempat tertentu dan umum, berkomunikasi, hadir dalam pesta dan mengikuti upacara keagamaan/kenegaraan, merupakan sebentuk tindakan ritual yang penting bagi pembentukan diri.

Ketiga, mempelajari Sejarah. Sejarah adalah himpunan ingatan bersama yang berkaitan dengan asal-usul kita sebaai manusia. Mempelajari sejarah berarti mengetahui dan peduli terhadap norma-norma dan ide-ide penting yang dijadikan pegangan hidup manusia di masa lalu di mana kita sekarang menjadi bagiannya. Sejarah juga memberikan banyak pelajaran tentang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh generasi terdahulu di mana kita sekarang ini menerima akibatnya dan berupaya mencari pemecahan untuk keluar dari akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya.

Keempat, berperan serta secara aktif dalam kehidupan sosial, seperti berorganisasi dls. Karena itu politik menjadi tidak bisa dihindari, dikehendaki atau tidak dikehendaki. Manusia adalah mahluq politik (zoon politicon) yang mesti berperan serta secara bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat. Di sini kata-kata politik tidak hanya berhubungan dengan politik praktis.

Kelima, manusia tentu tidak bisa melepaskan diri dari alam dan dunia tempatnya hidup. Karena itu pandangan yang positif terhadap alam menjadi penting bagi pembentukan diri. Ajaran ini dapat dijumpai dalam I Ching (Kitab Perubahan).

Pemikiran Kon Fu Tze tentang humanisme dibicarakan lebih lanjut dalam konsep yang popular dalam sejarah pemikiran bangsa Cina, yaitu Chung Yung (Jalan Tengah).. Konsep ini berkembang mengikuti perhatiannya yang besar terhadap persoalan-persoalan praktis dari kehidupan manusia/masyarakat.

Walaupun arti umum jen ialah kemanusiaan, dalam kitabnya Lun Yu (Analects) Kon Fu Tze memberi arti filosofis terhadap istilah jen sebagai “kemampuan mengendalikan diri dan upaya kembali ke asas kehidupan yang kodrati (li)”. Ia juga mencakup pengertian tentang upaya manusia merealisasikan dirinya dan berperan aktif menciptakan tatanan sosial yang tertib.

Di antara cakupan arti jen ialah “Sikap hormat terhadap kehidupan pribadi, kesungguhan menangani persoalan dan setia menjalankan tugas serta kewajiban berhubungan dengan kehidupan sosial”. Menurut Kon Fu Tze, “Orang yang melaksanakan jen bertujuan membangun sifat dan wataknya sendiri, dan juga berusaha membantu orang lain membangun watak dan kepribadian sendiri. Berkeinginan dirinya berhasil, berarti berkeinginan pula menolong orang lain berhasil. Orang yang melaksanakan jen melaksanakan pula kemanusiaan, dan mencintai semua orang sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” Individualisme dan altruisme (mementingkan diri dan sekaligus orang lain) menyatu dalam dirinya.

Jen sebagai konsep humanisme dikaitkan dengan konsep lain seperti Li (asas, prinsip kehidupan, penyesuaian diri dengan kodrat manusia) dan ch`i (kekuatan material atau energi) dan pelaksanaanya dikaitkan dengan bidang kehidupan praktis secara luas seperti seni pemerintajan, kedokteran, seni musik dan puisi. Kadang-kadang ‘jen’ diartikan sebagai kebaikan. Orang yang berkeinginan menjadi baik misalnya disebut neng jen. Kebaikan seseorang bukan hanya tampak dalam kata—kata, tetapi juga dalam perbuatan dan akibat dari perbuatannya tersebut. “Kudengar kata-kata seseorang, dan kuperhatikan perbuatannya pula” kata Kon Fu Tze.

Penerus ajaran Kon Fu Tze ialah Tzu Ssu (cucunya yang hidup pada 292-431 SM), Meng Tze (372-289 SM) dan Hun Tze (360-270 SM). Tzu Sze mengatakan bahwa Chung Yung merupakan jalan langit dan menghubungkannya dengan ketulusan. Berpikir bagaimana menjadi tulus adalah jalan manusia yang selaras dengan jalan langit (Tao). Ketulusan adalah tanda kecerdasan seseorang dalam menanggapi kehidupan dan menyempurnakan keberadaan seseorang sebagai manusia. Ciri ketulusan ialah menonjok tanpa pamer diri, menghasilkan perubahan tanpa bergerak melampaui batas dan mencapai tujuan tanpa bertindak terlalu aktif. Hanya orang yang tulus dan ikhlas dapat mengembangkan kodrat dirinya secara penuh.

Meng Tze mempunyai pemikiran lebih mendalam. Dia mengatakan, “Kita berbuat baik, bukan hanya disebabkan ingin berbuat baik, tetapi patut berbuat baik. Alasan utamanya ialah karena kodrat manusia itu memang baik, seperti air yang kodratnya mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah.” Jika manusia berbuat jahat, itu bukan disebabkan karena pembawaannya salah. Melainkan disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Setiap orang mempunyai perasaan-perasaan bawaan utama seperti: (1) Rasa malu; (2) Rasa hormat; (3) Rasa bersalah; (4) Kasih sayang. Tetapi semua itu bisa terpendam dan hilang apabila tidak dilatih untuk dikembangkan dalam pendidikan di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah. Jika keempat perasaan bawaan itu dikembangkan sejak awal, maka individu dalam masyarakat apat mengembangkan kepribadian dengan baik.

Kesadaran moral adalah sarana utama mencapai Chung Yung. Kesadaran moral berakar dalam hati semua orang, seperti dibuktikan dalam kenyataan bahwa seorang anak tahu betul bagaimana mencintai orang tuanya dan sesama manusia. Bila seorang anak melihat anak sebayanya hampir jatuh ke dalam sumur, sekonyong-konyong akan tumbuh rasa kasih sayang dan keinginannya untuk menolong. Perasaan semacam ini dimiliki setiap orang tanpa pertimbangan-pertimbangan akal atau kepentingan. Perasaan seperti itulah yang harus dipelihara dan dikembangkan dalam proses pendidikan.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS