Atheisme, Trend Masyarakat Dunia Modern

2009 October 8
by ahmadsamantho


by RENO RAMUTU

(Mahasiswa ICAS Jakarta)

0.0.Abstrak
Sebagai satu cabang aliran pemikiran filsafat di Eropa, atheisme terus mengembangkan sayapnya hingga ke seluruh penjuru dunia. Mengingat luasnya pengaruh aliran ini, kami sengaja membatasi pola jaringannya dengan hanya mengamati pada kasus lokal—Islam lebih khusus yang ada di Indonesia. Meski upaya untuk menemukan jejak atheisme di negeri ini bukanlah perkara mudah. Tapi jika kita menelaahnya dengan mengamati perkembangan sains modern, apa yang kini dikenal sebagai atheisme modern pun, dapat kita temukan. Berikut ini kami sertakan kajiannya.

Key words: individualisme – anthroposentrisme – evolusionisme – naturalisme – skeptisisme – materialisme – hedonisme.

1.0.Teroka awal
Istilah atheisme berasal dari prefiks a (Yunani), yang berarti “tanpa”, dan theos, yang berarti “dewa.” Saat ini, term atheisme lazim dipakai untuk menamakan suatu aliran pemikiran yang praktis menolak adanya Tuhan. Atheime sendiri terbagi dalam dua kelompok. Pertama, atheisme positif-kuat, yaitu penolakan atas keberadaan Tuhan. Kedua, kurangnya kepercayaan kepada Tuhan yang dikenal sebagai atheisme negatif-lemah. Tipologi yang kedua ini bertalian dengan istilah agnostisisme—yaitu terbatasnya kemampuan kita untuk dapat mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak. Karena itu, kita harus menangguhkan kepercayaan tersebut.
Atheisme memiliki implikasi yang luas bagi keadaan manusia. Karena ketiadaan kepercayaan kepada Tuhan, secara etis akan berujung pada sekulerisme (non-religious), suatu sikap mendasar yang menyatakan bahwa manusia harus mengambil tanggungjawab penuh atas takdirnya. Pada 1994 terdapat sekitar 240 juta orang di seluruh dunia yang atheis, sekitar 4 % dari populasi dunia. Jika agnotisisme kita sertakan dalam prosentase ini, maka jumlahnya bisa mencapai 21 % dari populasi manusia dunia.

1.1.Lingkup atheisme
Sedari zaman kuno, orang-orang yang menjadi atheis sebenarnya adalah korban pelabelan atas posisi mereka yang menentang agama. Di kalangan Kristen, istilah atheis muncul karena adanya penganut Kristiani yang menolak keberadaan dewa-dewa Roma. Seiring waktu, beberapa kesalahpahaman timbul dari atheisme, ikhwal pengaitannya dengan moral. persoalan moralitas tak dapat dibenarkan tanpa kepercayaan pada Tuhan, apalagi tiadanya tujuan hidup tanpa kepercayaan pada Tuhan. Namun tak ada bukti bahwa mereka yang atheis tidak lebih bermoral dibanding mereka yang beriman. Sayangnya, banyak filsafat moral telah dikembangkan tapi tidak mensyaratkan adanya sumbangan dari unsur metafisik, semisal Tuhan.
Hingga kini, istilah atheisme di Barat telah digunakan lebih sempit untuk merujuk kepada penolakan terhadap sistem ketuhanan—bukan lagi penolakan terhadap agama atau dewa-dewa. Penolakan ini lebih mengarah kepada ajaran Judeo-Kristiani, yang menegaskan adanya sosok- canggih, yang pengetahuannya meliputi segala hal yang bersifat baik. Sosok inilah yang menciptakan alam semesta, mengambil peran aktif dalam masalah manusia dengan petunjuk-Nya yang diturunkan via makhluk Ilahi yang kita sebut sebagai wahyu.
Atheis positif jelas menolak sistem ketuhanan ini serta kepercayaan yang terkait dengan akhirat, takdir kosmik, asal mula alam semesta, dan jiwa yang kekal, yang semuanya ini diungkap dalam Alkitab dan juga al-Qur’an. Theisme sendiri bukan merupakan karakteristik dari semua agama. Beberapa agama menolak theisme tetapi tidak sepenuhnya atheistik. Seperti tradisi theistik yang dikembangkan sepenuhnya dalam Bhagavad-Gita, teks suci Hindu, serta tulisan-tulisan sebelumnya yang dikenal sebagai Upanishad, mengajarkan bahwa Brahman (ultimate reality) itu bersifat umum. Atheis positif menolak bahkan menjadi aspek pantheistik agama Hindu yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta.

1.2.Skeptisisme sebagai sejarah
Ketidakpercayaan (Yunani): skeptesthai, “memeriksa”, dalam filsafat, adalah sebentuk doktrin yang menyangkal kemungkinan untuk mencapai pengetahuan tentang kenyataan yang ada dalam diri sendiri. Sepanjang tahap perluasan maknanya, kata kesangsian juga diikutsertakan untuk menandakan keraguan tentang apa yang secara umum diterima sebagai kebenaran. Semua keragu-raguan filosofis, adalah berdasarkan pandangan tentang cakupan dan validitas pengetahuan manusia. Bahasa Yunani Sophis pada Abad ke-5 SM adalah sebuah gambaran dari skeptis yang mendasar. Pusat pandangan kaum sofis kala itu tercermin dalam maksim “Manusia adalah ukuran segala sesuatu” dan “Ketidakadaan itu, atau jika pun sesuatu itu ada, tetap tak dapat diketahui.” Atau seperti pandangan Georgias yang menyatakan bahwa “Semua pernyataan mengenai kenyataan itu palsu, jika pun benar, sebenarnya pernyataan itu takkan dapat dibuktikan”. Berbeda halnya dengan Protagoras dari Abdera, yang mengajarkan bahwa “Manusia hanya dapat mengetahui persepsi mereka tentang sesuatu, dan bukan sesuatu itu sendiri”.
Prinsip-prinsip kecurigaan yang pertama secara eksplisit dirumuskan oleh Pyrrhonis, sebuah mazhab filsafat Yunani yang diambil dari nama pendirinya Pyrrho dari Elis. Pyrrho, yang perhatian utamanya adalah etika, menerakan bahwa “Manusia dapat mengetahui apa-apa yang nyata dari sifat sesuatu, maka akibatnya orang yang bijaksana akan menangguhkan penghakiman”. Timon dari Philius (hidup sekitar 280 SM), murid dari Pyrrho, mengarahkan kecurigaannya pada kesimpulan logis oleh satu penegasan yang sangat baik untuk dapat mengemukakan juga menentang begitu banyak proposisi filosofis.
Anggota “Middle Academy” (mazhab filsafat yang berkembang di Abad ke-3 SM warisan Akademi Plato) dan Akademi Baru (New Academy, Abad ke-2 SM), Carneades, lebih sistematis namun agak kurang radikal dalam keraguannya Pyrrhonis. Carneades menjaga kepercayaannya yang tidak dapat dibuktikan dengan meyakinkan, tetapi masih lebih baik dibanding skeptis sofis lainnya. Filsuf skeptis Yunani yang paling penting kala itu adalah Aenesidemus—yang menyusun sepuluh argumen untuk mendukung posisi skeptisnya, dan juga dokter Yunani, Sextus Empiricus (lahir sekitar awal Abad ke-3 SM), yang menekankan bahwa pengamatan dan kesepahaman umum (common sense) itu bisa saling bertentangan.

1.3.Skeptisisme modern
Abad modern juga ditandai dengan munculnya skeptisisme pada Pencerahan yang terpengaruh oleh skeptisisme kuno—utamanya terefleksi dalam tulisan-tulisan filosof-essais Prancis, Michel de Montaigne. Tokoh dan lambang skeptisisme modern Abad ke-18. Juga filsuf empiris Skotlandia David Hume dalam “Treatise of Human Nature” (Risalah Hakikat Manusia, 1739-1740) dan “An Enquiry Concerning Human Understanding” (1748), pertanyaan Hume kemungkinan mendemonstrasikan kebenaran kepercayaan tentang dunia luar, hubungan sebab-akibat, peristiwa masa depan, atau entitas metafisik seperti jiwa dan Tuhan. Pada
Abad ke-18, filsuf Jerman Immanuel Kant, mencoba untuk mengatasi keraguan Hume itu, dengan menolak kemungkinan mengetahui hal-hal dalam diri sendiri untuk mencapai pengetahuan metafisik. Pada Abad ke-19, filsuf Jerman Friedrich Nietzsche menolak kemungkinan objektivitas lengkap, juga pengetahuan yang objektif, dalam setiap bidang. Pada abad ke-20. Filsuf Amerika George Santayana, mengklaim telah mengadopsi kecurigaan Hume dan melangkah lebih lanjut, memerbaruinya dalam karyanya “Scepticism and Animal Faith” (1923), dan menyitir bahwa kepercayaan terhadap keberadaan apapun, termasuk diri, terletak pada alam, dan tidak rasional. Banyak lagi elemen kecurigaan yang mungkin ditemukan di mazhab lainnya dari filsafat modern, termasuk pragmatisme, filsafat analitis linguistik (strukturalisme), dan eksistensialisme.
Di dunia intelektual Barat, tak adanya keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah fenomena yang luas dan dengan sejarah panjang sedari filosof kuno Lucretius, lalu singgah di Abad Pertengahan (Abad ke-15) dan berlanjut hingga kini, dimana terdapat arus pemikiran bahwa pertanggungjawaban terhadap theis hanya berasumsi pada kepercayaan yang hanya mengontrol kekuatan alam dunia belaka. Beberapa pemikir terkemuka dari Enlightenment (1700-1789) juga terkenal atheis, seperti Baron Holbach dari Denmark dan filosof Perancis, Denis Diderot. Ekspresi dari anti-keimanan juga dapat ditemukan dalam sastra klasik Barat, termasuk tulisan-tulisan dari penyair Inggris, Percy Shelley dan Lord Byron; novelis Inggris, Thomas Hardy; filosof Perancis, Voltaire dan Jean-Paul Sartre; penulis Rusia Ivan Turgenev, dan novelis Amerika, Mark Twain dan Upton Sinclair. Pada Abad ke-19 muncul kritik agama yang terartikulasikan dengan baik melalui beberapa sosok atheis dan filosof Jerman, Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Arthur Schopenhauer dan Friedrich Nietzsche. Juga filsuf Inggris Bertrand Russell, psikoanalis Austria, Sigmund Freud, dan juga Sartre, yang menjadi tokoh atheis paling berpengaruh pada Abad ke-20 dengan konsep manusia yang bebas secara eksistensial—berbanding lurus dengan Uebermench-nya Nietzsche.

1.4.Naturalisme
Selain pengaruh yang didapat dari skeptisisme, atheisme juga mengadopsi gagasan yang dikembangkan oleh filsafat Naturalisme—satu gerakan pemikiran yang menegaskan bahwa seluruh alam adalah kenyataan dan dapat dipahami hanya melalui penyelidikan ilmiah. Naturalisme juga menolak keberadaan metafisika, atau ilmu yang memelajari hakikat dari satu realitas. Naturalisme meyakini bahwa sebab-akibat itu berhubungan, seperti fisika dan kimia yang cukup untuk memerhitungkan semua fenomena. Konsep ini bertujuan untuk menyarankan bahwa desain itu diperlukan oleh alam metafisik. Dan dampak secara etisnya adalah, sejak naturalis menyangkal apapun yang bersifat gaib dari akhir manusia, maka itu adalah nilai-nilai yang harus dapat ditemukan di dalam konteks sosial.
Musykil kiranya untuk menentukan apa yang terbaik dalam segala konteks, karena ini berada di luar penemuan kesadaran terdalam manusia. Nilai-nilai, oleh karena itu, adalah relatif, dan etika melulu disandarkan pada adat, kehendak, atau beberapa bentuk utilitarianisme—satu doktrin yang mengamini bahwa apa yang berguna sejatinya adalah baik. Sebenarnya naturalisme berakar pada empirisme di Inggris—dengan doktrinnya bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman, juga dari positivisme di Eropa, yang menyangkal segala spekulasi metafisika, yang mengharu-biru langit intelektual Barat pada akhir abad ke-19 dan awal Abad ke-20. Kita bisa melacaknya dalam karya filosof Amerika George Santayana, John Dewey, dan pengikutnya.

2.0.Kritik atas theisme
Kalangan atheis terus membenarkan posisi mereka dengan berbagai cara filosofis. Seperti atheis negatif yang berusaha untuk mendirikan posisi penyangkalan atas argumen theis atas keberadaan Tuhan, seperti argumen sebab pertama (prime cause), argumen desain, argumen ontologis, dan argumen pengalaman keagamaan. Pendapat atheis negatif lainnya menegaskan bahwa pernyataan mengenai Tuhan adalah sia-sia belaka, karena atribut untuk Sosok yang mengetahui segala sesuatu tak dapat dipahami oleh pikiran manusia. Sedang atheis positif di sisi lain, berupaya memertahankan posisi argumentasi mereka bahwa konsep Tuhan itu tidak konsisten. Mereka bertanya, misalnya, apakah Tuhan yang mengetahui semua hal-juga bisa mengetahui kebaikan dan bagaimana Tuhan yang tidak berbentuk itu dapat mengetahui secara keseluruhan keberadaan segala sesuatu.

2.1.Corak dan sengkarut atheisme
Era kelahiran pemikiran ini dapat ditandai dengan mencuatnya gagasan humanisme di Italia pasca-Renaissance Prancis (Abad ke-18). Dengan satu kecenderungan yaitu, bergesernya theosentris menjadi anthroposentris. Jika pada masa sebelumnya, pola peta perkembangan filsafat masih kental diwarnai oleh penempatan Tuhan di tahta tertinggi, maka di masa ini, para filosof meneruskan proyek independensi Descartes dan Kant yang sangat memuja akal budi. Maka di kemudian hari, kita akan dengan sangat mudah menemukan corak berpikir para filosof Barat yang gemar mengulas sisi lain kemanusiaan.
Selain reaksi utama atheisme yang menolak kepercayaan agama, atheisme terkadang juga dikaitkan dengan ide-ide filosofis dari materialisme, yang di ujung pembahasannya melulu hanya memersoalkan masalah komunisme saja, dan menegaskan bahwa agama hanya menghambat kemajuan manusia yang cenderung rasionalis dengan mengedepankan alasan analitis melalui sumber-sumber pengetahuan lain. Namun sejatinya, tak perlu ada hubungan antara atheisme dan beberapa posisi di atas. Karena ada beberapa atheis yang malah bertentangan dengan komunisme dan beberapa lainnya juga menolak materialisme. Meskipun hampir semua materialis kontemporer adalah atheis, sedangkan materialis Yunani kuno, Epicurus percaya kepada Tuhan yang termanifestasi dalam bentuk atom.
Rasionalis seperti filsuf Perancis, René Descartes sangat beriman kepada Tuhan, sedang atheis sejati Sartre tidak dianggap rasionalis. Ateisme bahkan juga telah dikaitkan dengan sistem pemikiran yang menolak otoritas, seperti Anarkisme—pemikiran politik yang bertentangan dengan segala bentuk pemerintahan. Juga eksistensialisme, satu gerakan filosofis yang menekankan kebebasan absolut manusia dalam memilih; “Ketersambungan” antara atheisme dengan posisi-posisi tersebut memang ada, namun tak mesti harus dikaitkan. Filsuf analitis Inggris, AJ Ayer adalah atheis yang menentang eksistensialisme, sementara filsuf Denmark, Søren Kierkegaard adalah eksistensialis yang menerima konsep Tuhan. Marx adalah seorang atheis yang menolak Anarkisme. Sebaliknya, novelis Rusia, Leo Tolstoy, seorang Kristen yang merengkuh Anarkisme. Karena atheisme dalam arti ketat hanya sebuah penolakan, maka ia tak dapat memberikan pandangan dunia yang komprehensif. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk mengambil posisi filosofis lainnya yang akan berkembang dari atheisme.
Perdebatan intelektual atas keberadaan Tuhan tetap aktif hingga kini, terutama di kampus-kampus, dalam diskusi kelompok-kelompok keagamaan, dan forum elektronik di internet. Dalam pemikiran filosofis kontemporer, atheisme dibela mati-matian oleh filsuf Inggris, Antony Flew, filsuf Australia, John Mackie dan filsuf Amerika, Michael Martin yang memimpin organisasi anti-keimanan terkemuka di Amerika Serikat, “The American Atheists, The Committee for the Scientific Study of Religion”, dan “Internet Infidels”.
Selain menolak proposisi metafisik agama, kalangan atheis juga mengritisi bukti sejarah yang kerap digunakan untuk mendukung kepercayaan utama agama. Misalnya, argumentasi yang dapat membuat keraguan pada doktrin penting dari agama Kristen, seperti kelahiran perawan (the virgin birth) dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena kejadian yang seperti ini mewakili keajaiban, maka penganut atheis menegaskan bahwa bukti-bukti yang kuat jelas sangat diperlukan untuk mendukung kejadian-kejadian itu. Menurut atheis sejati, bukti yang tersedia untuk mendukung dugaan-mukjizat dari Bibel, pagan, dan sumber Yahudi, sangat lemah, dan karena itu klaim seperti ini harus ditolak.
Pada pertengahan Abad ke-20, atheisme seolah mendapatkan amunisi baru dengan banyaknya peristiwa berdarah yang mengharukan kemanusiaan. Salahcontohnya adalah peristiwa Auswitzh garapan Nazi di Jerman. Kabarnya, mereka membantai hampir 1 juta warga Yahudi hanya karena perkara ekonomi dan ras belaka. Belum lagi jika mengamati PD I & II serta banyak lagi yang lainnya. Beberapa anasir ini dijadikan momentum oleh kalangan atheis bahwa sebenarnya Tuhan absen dalam tindakan kebaikan. Jika sudah begini kenyataannya, maka tak ada lagi tempat yang tersedia bagi Tuhan untuk disembah oleh manusia. []

3.0.Atheisme dalam Islam?
Jika dalam peradaban Barat kita dapat menemui begitu banyak pemikir handal yang kemudian menjadi atheis dan malah menganjurkannya, maka tidak demikian halnya dengan yang terjadi dalam dunia Islam. Agama pamungkas dari langit ini memang agak sedikit berbeda dengan Kristen yang juga menjadi napas peradaban di Barat, ataupun Yahudi yang sedikit banyak juga memengaruhi pola pemikiran masyarakat dunia. Kita dapat menelaah perbedaan ini pada corak struktur yang ada dalam Islam yang tidak monolitik—kecuali di beberapa wilayah seperti Iran dan Arab Saudi. Kenapa perkara struktur ini menjadi penting? Karena ini menjadi faktor penentu dari pemberontakan yang dilakukan oleh para pemikir Barat, terutama mereka yang lahir dan besar dalam tradisi Katholik.
Dalam Katholik baik itu Barat (Roma) maupun Timur (Yunani), tak dikenal kata perbedaan, yang ada hanya jenjang hierarkis dimana Paus (Roma) bertindak sebagai penentu segala kebijakan keagamaan. Sejatinya Islam mengenal bentuk seperti ini seperti halnya mujtahid atau mufti yang pendapatnya mesti dirujuk oleh kalangan Muslim yang awam. Namun produk hukum yang mereka putuskan, tak harus diamini, karena Islam menganut prinsip egalitarian dan kebebasan berkehendak. Sehingga, setiap Muslim bebas menentukan apakah ia akan mengikut putusan itu atau tidak. Namun uniknya, di Iran dan Saudi sekalipun yang monolitik, tak pernah ada satu pemikir dari dua negara ini yang mengklaim dirinya atheis.
Kenapa bisa terjadi demikian? Karena para cendekiawan Muslim sebelumnya mewariskan sebuah perpaduan unik antara pengetahuan dengan agama. Seperti misalnya Ibn Sina atau Ibn Rusyd yang mumpuni sebagai saintis-filosof, selalu mencari justifikasi pada agama atas proposisi filsafat yang mereka pelajari dari para mpu Hellenistik semisal Socrates dan para penerusnya. Satu-satunya kontroversi hanya dilakukan oleh satu orang filosof yang hidup di zaman dinasti Abbasiyyah, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya al-Razi (Latin: Rhazes) (854?-925?/3 H), pemikir Muslim yang lahir di Shahr-e Rey, Iran, dekat Tehrān (Teheran sekarang) ini, punya pengaruh penting di dunia Islam—juga Eropa Barat di Abad Pertengahan.
Ia meyakini bahwa kenabian itu samasekali tidak dibutuhkan apabila manusia bisa mengoperasikan nalarnya dengan baik. Karena, semua orang punya potensi yang sama untuk menjadi nabi. Tapi, ar-Razi sendiri tidak menafikan bahwa sosok Muhammad Saw pernah lahir dan hidup di Makkah. Ar-Razi tetap mengamini bahwa beliau adalah tokoh historis yang nama dan keagungannya tak bisa tertandingi. Jika dilacak lebih teliti pada masa kini, maka tak satu pun oknum filosof Muslim yang berdiri tegak memegang tiang pancang atheisme. []

3.1. Kecenderungan atheisme kontemporer
Jansen H Sinamo, Direktur Institut Darma Mahardika, Jakarta, dalam tulisannya di Bentara Kompas, melansir bahwa masyarakat modern kini telah kehilangan elan vital hidupnya yaitu eros dan ethos. “Hidup tanpa eros sepi dan kosong. Ditandai dengan rasa resah melelahkan dan rasa bosan menekan. Tekanan ini berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati yang sunyi-senyap dari gempita eros, yang hampa-kosong dari desah nafas eros. Lalu, untuk menghindari tekanan itu, orang lari ke berbagai kesibukan. Tapi sebenarnya kesibukan itu cuma sebuah laku penghindaran, avoidance–a-void-dance, sebuah tarian di sekitar kehampaan. Meski terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, banal tanpa estetika. Dan untuk memenuhi kehampaan itu orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta kembali ke dunia nestapa.” (2004)
Eros yang dimaksud oleh Jansen, kini telah mengalami peyorasi, sehingga kerap dipahami sebagai erotis{k}. Hasil dari cerapan mitologi Yunani, yang berkarakter maskulin yang dikenal sebagai dewa kehidupan, cinta dan seks. Plato menyebutnya love plus. Eros merupakan daya kehidupan yang esensial– menggerakkan benda-benda langit bahkan semua kehidupan–tapi juga berbahaya karena bisa destruktif. Secara spesifik eros berkonotasi seksualitas, fertilitas, dan reproduksi.
Berbeda halnya dengan Eros dalam bahasa Ibrani, yang disebut sebagai Shechinah, secara spiritual dipahami dan dialami sebagai Sang Feminin Agung: mother, daughter, and lover. Dialah sang penyayang dan pengasih yang membuat semua ciptaan merasa tenteram, puas, dan lelas. Shechinah berarti kehadiran di dalam, ’dia yang tinggal di dalam diri kita’. Dia merupakan energi Ilahi yang tak hanya mengalir melalui kita, tetapi juga mengandung semua kita. Ia memelihara semua makhluk bahkan semua kehidupan dengan penuh kasih sayang, sensualitas, dan erotisme. (Jansen, 2004).
Eros ini mesti berjalan berdampingan dengan ethos (etika)—yang sayangnya tak lagi dipahami sebagai norma yang dapat menuntun manusia untuk dapat hidup bahagia. Karena kita sedang mengkaji agama, khususnya Islam, maka ethos di sini adalah kitab suci al-Qur’an. Kitab wahyu ini menyimpan begitu banyak pesan etika kemanusiaan yang bersifat partikular-universal. Jebulnya, kita tak lagi bisa merasakan semangat etika Islam ini di masyarakat Jakarta-Indonesia—negara Muslim terbesar dunia.
Sebagian besar warga Jakarta tenggelam dalam gegap-gempita modernisme yang sialnya, dilandasi oleh semangat anti-tuhan. Kita dapat menemukan dengan mudah corak individualisme manusia (Friedrich Wilhelm Nietczche), anthroposentrisme (Renaissance), evolusionis-naturalisme (Charles Darwin), skeptisisme (Lucretius-David Hume), materialisme (Friedrich Engels- Vladimir Ilich Lenin) juga hedonisme (yang melenceng dari jalur pemikiran Epicurus) pada masyarakat Jakarta kini. Silang-sengkarut dan tertanamnya pemikiran ini tersebar dengan mudah via teks ilmiah, media informasi—baik cetak maupun elektronik (surat kabar, televisi, radio, internet) yang persebarannya kian massif saja.
Meski tak syak disebut sebagai pemeluk atheisme, tapi setidaknya, masyarakat Jakarta kini telah dan sedang mengikuti jalur yang sama sebagaimana masyarakat Barat dulu memulai kiprahnya untuk kemudian menjadi atheis sejati. Di kota ini, Islam memang tetap dipeluk sebagai agama, walau Spiritnya sudah memudar. Meminjam pemeo yang sering digaungkan publik, maka masyarakat Islam Jakarta kini hanya menjadi “Islam KTP saja”. Memudarnya Spirit ke-Islaman ini, masih dilengkapi lagi dengan mulai merambahnya New Age di kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta.
Eklektisasi yang dilakukan oleh pegiat New Age, ternyata malah meminggirkan agama ke tepian peradaban. Karena dalam New Age, tak dikenal term agama, melainkan upaya pencarian spirit sejati—yang meski hulu pencariannya adalah Tuhan, namun pada akhirnya malah menjauhkan si pencari dengan apa yang dicari. Jika kita sedikit lebih teliti, maka akan ditemukan segelintir mereka yang tinggal di Jakarta, yang malah sudah mengklaim dirinya atheis, meski yang terjadi hanyalah pseudo-skeptis dan rapuh landasan epistemologinya. []

4.0.Upaya kritisisasi
Pada bagian ini kami, akan mencoba memaparkan beberapa kritik yang bisa dialamatkan kepada kalangan atheis—baik yang positif maupun negativ. Sejatinya, atheisme merupakan sebentuk kegelisahan berpikir yang sayangnya tidak dilanjutkan hingga selesai. Dan keburu tercampur dengan begitu banyak epistemologi—khususnya filsafat Barat yang sudah mulai berpisah jalan dengan metafisika pasca-Hegel. Apabila sedikt lebih jeli mengamati pola berpikir mereka yang akhirnya atheis, masih terbuka kemungkinan bagi kita untuk melabeli mereka dengan kata skeptisisme buta. Dengan kata lain, ketidakbertuhanan mereka lebih didasari oleh keengganan untuk tidak mengatakannya malas- berpikir tentang Zat Adikodrati. Sehingga banyak dari mereka yang terkadang tak tahu apa dasar terkuat bagi mereka untuk kemudian menjadi atheis, kecuali hanya sekadar membebek saja.
Argumen utama mereka yang paling mudah diruntuhkan adalah desain canggih semesta yang memang sedari awal sudah seperti ini (par excellence). Jika mereka memang termasuk kelompok orang yang rasionalis, kenapa mereka tak pernah sedikit keras berpikir untuk mengamati jam yang dengan kerumitan dan elegansinya, juga membutuhkan sosok pencipta, yaitu pembuat jam—dan bukan muncul begitu saja. Apalagi dengan semesta raya yang membentang luas ini. Itu belum lagi mengikutsertakan kita (manusia) di dalamnya. Ini hanya satu contoh kecil saja, dan tak perlu menyertakan sekian banyak contoh yang tetap takkan mendapat jawaban yang memuaskan dari mereka. Figur sekelas Einstein saja tetap memberi tempat yang terhormat kepada Sosok yang Tak Terpahami (Tuhan) dengan ujaran ilmiahnya berikut ini, meskipun Tuhan yang dimaksudkannya adalah Super Monad-nya Spinoza;
Satu-satunya hal yang tak dapat dipahami dari semesta raya ini adalah, kenapa ia (semesta) dapat dipahami. []

hijaukebun, mei sebelas-duasembilan ‘ribusembilan

Pustaka rujukan:
- Ayala, Fransisco, Darwin and the Theology of Nature in John Haught, Scince and Religion in Search of Cosmic Purpose, Washington: 2000.
- ———————, Parallel Evolution, in Mark Ricardson, Faith and Science, London: Routledge, 2001.
- Banks, R, “Religion as Projection: a Repraisal of Freud’s Theory, dalam Religious Studies, Cambridge: 1973.
- Barbour, Ian G, When Science Meets Religion, New York: HarperCollins, 2000.
- Haught, John, Science and Religion, New Jersey: Paulist Press, 1995.
- Kenny, Anthony, -A New History Of Western Philosopy Vol. 3 The Rise Of Modern Philosophy, (buku dijital).
- Kitcher, Philip, Abusing Science: The Case Against Creatonism, Massachusetts, MIT Press, 1999.
- Kragh, Helge, History of Modern Physical Sciences — Vol. 3, Matter and Spirit in The Universe -Scientific and Religious Preludes to Modern Cosmology-, United Kingdom: Imperial College Press, 2004.
- Leahy, Louis, Aliran-Aliran Besar Ateisme –tinjauan kritis, Kanisius: Jogjakarta, 1985.
- Peters, Tod (et, all), Tuhan, Alam, Manusia –Perspektif Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2006.
- Pirani, Felix & Roche, Christine, Mengenal Alam Semesta for Beginners, Bandung: Mizan, 1997.
- Sinamo, Jansen. H, Hidup yang Erotik-Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba, kolom Bentara, Rabu 6 Oktober 2004, Jakarta: Harian Kompas dalam www.kompas.com.
- Stoddart, William (ed), Reflection on Sacred Art, Faith, and Civilization, Bloomington, Indiana: World Wisdom Book, 2003.

Akhir catatan:
Tulisan ini disarikan dari sekian banyak bahan bacaan yang dapat kami temui dalam berbagai media—baik cetak, elektronik, audio-visual dan olahan dari diskusi santai dengan beberapa berandalan intelektual lainnya di basecamp “Institute for Perrenial Studies” dan warung Jacx (belakang Islamic College).

3 Responses leave one →
  1. 2009 October 12
    hadi kharisman permalink

    keren… pertajam!!!

  2. 2009 October 22
    sansan ziaul-haq permalink

    Penggerukan nilai-nilai islam dalam konteks indonesia, saya kira tidak melulu bertumpu pada sebab ekternal, sebagai konsekwensi logis dari penetrasi global dengan setumpuk mediator canggihnya. hal yang tak kalah dalam memberikan sumbangsihnya kepada absurditas keberagamaan mayarakat kita adalah aspek internal kita sendiri, yang belum siap menjawab tantangan itu, sehingga kita kedodoran dengan serangan isme-isme mutakhir di benteng pertahanan pemikiran kita yang rapuh. Bukannya mencoba meng-counter, tak sedikit dari kita malah mengikuti laju global. Di sini kita tak berbicara tentang masalah memilah dan memilih, karena kita belum memiliki sejenis perangkat pemikiran yang radikal dan mendalam pada punggawa-punggawa umat untuk memberikan tanggapan terkait budaya global itu. Orientasi budaya pemikiran kita masih terpaku pada aspek fiqh, yang sebenarnya bersifat furuiyyah-praktis. Bagaimana mungkin sebuah disiplin ilmu yang objek kajiannya adalah masalah hukum furui’yyah bisa menjawab tantangan filosofis modern? jelas literatur budaya kepesantrenan belum bisa menyediakan sarana itu, sehingga malah banyak alumninya yang kemudian memusuhi common-sense kepesantrenan karena keburu terseret arus. Wallahu a’lam

  3. 2009 November 12
    Taruna permalink

    Bagiku Muhammad Nabi terakhir.& ga ada satu orang pun yang sehebat baginda Rasul.Maka,hai manusia bila ingin hidup tentram dunia akhirat ikutilah langkah-langkahnya.jika kamu berfikir jernih.
    HaturNuhun sadayana…………………….

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS