Tinggalkan komentar

ISLAM DAN KEBUDAYAANNYA DI INDONESIA

ISLAM DAN KEBUDAYAANNYA DI INDONESIA

(Tinjauan  Sejarah Kebudayaan)

Abdul Hadi W. M.

Islam dan Kebudayaan

Islam sebagai al-dien bukan sekadar sistem kepercayaan kepada Tuhan atau penguasa alam semesta. Ia adalah sebuah ajaran kaafah (menyeluruh) yang didasarkan atas Tauhid, kesaksian bahwa Allah adalah satu-satunya Penguasa Alam Semesta.

Ajaran Islam mencakup segala hal yang bersangkut paut dengan kehidupan manusia. Mengapa manusia? Karena kitab al-Quran ditujukan kepada manusia.

Kebudayaan adalah upaya manusia menggunakan akal budinya untuk mengembangkan dan memelihara kehidupan rohani, jiwa dan sosialnya. Hasil upaya akal budinya itu berupa bangunan cita-cita, pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (worldview, Weltanschauung), sistem ilmu, adab/etika, wawasan estetika/seni, dan tatanan kehidupan sosial.

Kebudayaan muncul disebabkan adanya komunitas yang ingin membangun kehidupan bersama dengan sistem kemasyarakatan dan asas kerohanian yang sama.

Kebudayaan terkait dengan komunitas yang disebut etnik, kaum, atau bangsa. Kebudayaan tak ada kaitannya dengan individu. Dalam kenyataan tidak ada suatu etnik, kaum, atau bangsa di dunia ini yang tidak memiliki dan mengembangkan kebudayaan.

Manusia di mana pun tumbuh dan besar dalam masyarakat atau komunitas yang telah memiliki kebudayaan tertentu.

Berdasarkan sistem nilai, pandangan hidup, gambaran dunia dan pola pendidikannya itu suatu komunitas:

  1. Mengorganisasikan kehidupannya bersama dalam bentuk organisasi sosial, keagamaan, politik, ekonomi, dan intelektual dengan asas kerohanian, cita-cita dan tujuan tertentu.
  2. Melahirkan filsafat, ilmu pengetahuan, pemikiran keagamaan, sastra, seni, dan lain sebagainya.
  3. Menciptakan gaya dan pola hidup, corak arsitektur, sistem komunikasi. Dan lain sebagainya.

Masyarakat Islam, yaitu suku bangsa atau bangsa yang memeluk agama Islam, membangun kebudayaaan berdasarkan sumber-sumber ajaran agama yang dianutnya yaitu Islam.

Islam sebagai al-dien mengandung empat (4) prinsip utama yang dijadikan asas kebudayaan:

Pertama, aqidah. Akidah Islam ialah kepercayaan bahwa Tuhan itu tunggal tanpa sekutu.  Allah sebagai Tuhan satu-satunya di jagat raya ini bukan hanya Tuhannya bangsa Arab, Parsi atau Melayu, tetapi Tuhan seluruh umat manusia dan makhluq di alam semesta. Ilmu dan kodrat Allah meliputi segala sesuatu. Inilah dasar-dasar kosmopolitanisme Islam.

“Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.”  (Surat al-Baqarah 231).

Dasar kosmopolitanisme Islam juga dapat dilihat dalam Surat al-Baqarah 255 atau Ayat Kursi, yang akan dipaparkan nanti. Ayat al-Qur’an ini dituliskan pada banyak makam kuno di Indonesia. Misalnya pada makam Maulana Malik Ibrahim, wali penyebar Islam awal di pulau Jawa yang wafat awal abad ke-15 M. Ini menandakan bahwa Islam disebarkan pada awalnya dengan menekankan pada pengenalan ajaran kosmopolitannya.

Kedua, ibadah. Diatur dalam rukun Islam yang lima, penjelasannya dalam ilmu syariat dan perluasannya dalam fiqih ibadah.

Ketiga, muamalah. Bersama dengan yang kedua disebut al-`amal al-shalihat (amal saleh). Cita-cita kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya Islam dibangun berdasarkann keharusan untuk beramal saleh ini.

Keempat, akhlaq atau moral. Termasuk perilaku dan sikap yang adil, benar, dan pantas terhadap Tuhan, sesama manusia, diri sendiri, dan alam lingkungan. Misalnya seperti diungkapkan daam ayat al-Qur’an berikut:

“Apabila orang menghormati kamu, maka balaslah dengan  penghormatan yang lebih baik, atau dengan yang serupa” (Al-Nisa 86).

Pengertian lebih luas dari akhlaq sering diungkapkan dalam ayat berikut:

Bukanlah kebajikan yang tinggi nilainya itu hanya dengan memalingkanmuka ke timur dan barat, melainkan beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, nabi-nabi. Mendermakan harta kepada orang sekampung, anak yatim piatu, dan musafir yang terlunta, pengemis dan kepada gerakan pembebasan budak; mengerjakan salat, membayar zakat, menunaikan janji bila berjanji, tabah dan sabar pada waktu mengalami kesukaran. Mereka itulah orang yang benar dan mereka itu pula yang  bertaqwa.” (al-Baqarah 177)

Termasuk juga ke dalam akhlaq mulia ialah : cinta masih dan suka memaafkan, adil dan rukun, menentang kejahatan dan maksiat, ukhuwah islamiyah dan persamaan derajat, kepatuhan kepada Allah dan rasul-Nya.

Penyebaran Islam di Indonesia

Agama Islam  datang di kepulauan Nusantara (Indonesia, Malaysia, Brunei dan Filipina sekarang) pada abad ke-8 dan 9 M.

Yang membawa masuk adalah pedagang-pedagang Arab, Persia, dan Mesir. Mereka telah datang ke Nusantara sebelum kelahiran agama Islam di jazirah Arab.

Pada akhir abad ke-9/awal abad ke-10 M di wilayah Aceh sekarang berdiri kerajaan kecil Peurlak yang raja dan penduduknya menganut agama Islam. Peurlak telah mempunyai hubungan dengan dinasti-dinasti Syiah seperti Buwayh di Persia dan Fatimiah di Mesir.

Tetapi baru pada abad ke-12/13 M dan pada abad-abad selanjutnya agama Islam mulai berkembang pesat. Mula-mula di kepulauan Melayu (Sumatra dan Semanjung Malaya), kemudian pulau Jawa dan Kalimantan, dan akhirnya Maluku, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Pemeran utama dalam penyebaran ini ialah saudagar, muballigh, ahli tasawuf (darwish, faqir, pemimpin tariqat sufi, wali sufi), guru agama, dan lain sebagainya.

Saluran-saluran penyebaran melalui perdagangan, perkawinan, jaringan pendidikan, kesenian, kesusastraan, politik, jaringan persaudaraan sufi/tariqat, dan lain sebagainya.

Jaringan-jaringan perdagangan, intelektual, kerohanian, dan politik itu diikat dalam berbagai bentuk organisasi seperti: Taifa (semacam gilda), Tariqat, dan Futuwwa.

Tempat-tempat utama yang dijadikan awal perpindahan orang Islam dari Asia Barat dan Asia Tengah ialah: Pelabuhan Aden di Yaman dan Hormuz di Teluk Persia.

Pada abad ke-13 M Gujarat dan Malabar di Indonesia, dijadikan tempat konsentrasi orang Islam yang hendak berlayar ke Asia Tenggara dan Cina. Mereka terdiri dari orang-orang Arab, Persia, Turki, Indo-Arab dan Indo-Parsi.

Yaman telah sejak abad ke-11 M dijadikan pusat konsentrasi komunitas Suni madzab Syafii sejak lama. Ketika pasukan Mongol menaklukkan Baghdad pada abad ke-13 M mereka menjadikan pelabuhan Aden sebagai tempat memulai kegiatan pelayaran dan perdagangan ke India dan Nusantara. Tidak mengherankan madzab Syafii sangat dominan di Nusantara.

Tetapi di lapangan kebudayaan, Persia memainkan peranan penting. Orang-orang Persia menggunakan Hormuz sebagai pelabuhan utama dalam egiatan pelayaran mereka ke timur.

Ada dua faktor utama pesatnya perkembangan Islam pada abad ke-13 di Nusantara.

Faktor pertama, kejadian-kejadian di wilayah kekhalifatan Baghdad sebagai imbas dari Perang Salib dan penaklukan oleh bangsa Mongol.

Faktor kedua, kejatuhan Sriwijaya akibat serangan Majapahit, kerajaan Hindu Jawa pada abad ke-14 M disusul dengan kemunduran peradaban Hindu akibat runtuhnya Majapahit pada abad ke-15 M.

Kekosongan ini diisi dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam awal di Nusantara seperti Samudra Pasai (1272-1516 M), Malaka (1400-1511 M), Aceh Darussalam (1516-1700 M), Demak, Ternate,  Banten, Cirebon dan lain-lain semuanya pada abad ke-16 M.

Pasca Penaklukan Mongol

Akibat penaklukan tentara Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan dan para penggantinya (1222-1258), dan berlangsungnya pemerintahan mereka di bekas wilayah kekhalifatan Abbasiyah, timbul perubahan-perubahan besar dan mendasar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apalagi setelah raja-raja dan orang Mongol secara beruntun dan berduyun-duyun memeluk agama Islam pada akhir abad ke-13 M.

Pertama, terjadi gelombang besar perpindahan orang-orang Islam ke neger-negeri di sebelah timur, khususnya India dan Asia Tenggara. Orang Mongol juga membawa pindah penduduk Islam dari Persia dan Asia Tengah ke wilayah Cina yang menyebabkan agama Islam kian berkembang di Cina.

Kedua, perpindahan ke India dan Asia Tenggara terjadi secara bertahap semenjak pertengahan abad ke-13 sampai akhir abad ke-14.  Di antara kaum migran itu terdapat banyak golongan pedagang, bangsawan, muballigh, sarjana, sastrawan, seniman dan ahli tasawuf, fuqaha, tabib dan guru. Merekalah yang menyebarkan kebudayaan Islam di Timur.

Ketiga, agaknya Malabar merupakan pelabuhan penting tempat berkumpulnya orang-orang Islam yang pindah ke timur. Melalui Malabar orang-orang Islam ini melanjutkan perjalanan ke Sumatra dan Jawa serta daerah lain di Asia Tenggara. Hasil penelitian memperlihatkan adanya persamaan corak kehidupan dan kebudayaan masyarakat Muslim di Malabar dan Jawa. (Lihat buku Woodward  berjudul Islam Jawa, 1999.)

Di bekas wilayah kekhalifatan Baghdad sendiri terjadi perkembangan baru: Pertama, karena orang-orang Mongol begitu akrab dengan kebudayaan Persia, apalagi setelah mereka memeluk agama Islam, maka kebudayaan Islam kian dipengaruhi kebudayaan Persia.

Kedua, tasawuf dan tariqat mengalami perkembangan pesat dan kian mewarnai kehidupan orang Islam dalam berbagai lapangan kehidupan. Ini antara lain disebabkan kedekatan raja-raja dan  bangsawan Mongol dengan para ulama dan ahli tasawuf. Mereka menjadi pelindung kebudayaan Islam Persia. Mereka juga banyak membangun ribbat dan zawiyah.

Ketiga, orang Mongol juga membawa masuk pengaruh Cina, khususnya dalam seni rupa. Pengaruh Cina tampak pada perkembangan seni lukis miniatur dan keramik. Sejak bedirinya dinasti Ilkhan (Mongol) ini seni lukis Persia mengalami perkembangan pesat.

Keempat, setelah mereka masuk Islam kebijakan pertama yang dijalankan ialah mengurangi tempat pelacuran dan memperbaharui hukum Islam.

Tidak mengherankan jika ahli sejarah menyimpulkan bahwa Syariah dan Tasawuf  merupakan dua  teras utama pembentukan kebudayaan Islam di India dan Nusantara.

Bukti Tertulis

Pada tahap awal penyebaran Islam di Indonesia yang ditekankan ialah penyampaian pandangan kosmopolitan Islam. Disusul penyampaian dasar-dasar pokok ajaran Islam seperti syariat dan fiqih, kemudian dasar-dasar tasawuf.

Contoh kosmopolitanisme Islam yang diajarkan ialah Ayat Kursi atau Surat al-Baqarah 255 seperti tertulis pada makam Maulana Malik Ibrahim. Wali pertama penyebar Islam di pulau Jawa ini tinggal di Ampel Denta. Wafat pada awal abad ke-15 M. Nama lengkapnya Ibrahim al-Samarakandi.

Bentuk batu nisan pada makamnya menyerupai batu nisan yang banyak dijumpai di Asia Tengah dan Persia. Gelar ‘maulana’  yang disandangnya menunjukkan ia keturunan Persia. Begitu asal-usulnya Samarkand, di Uzbekistan sekarang, sebelah utara Iran.  Pada zaman Timurid, kota ini merupakan pusat peradaban Islam di samping Bukhara.

Terjemahan ayat Kursi yang terpahat pada batu nisannya lebih kurang sebagai berikut:

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan abadi lagi Berdiri sendiri. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Dia mengetahui segala yang ada di hapan meeka dan di belakang mereka, tetappi mereka (yang selain Allah) tidak mengetahui sesuatu pun dari dari ilmu Allah, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi (tahta) Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Makam kuna raja-raja dan bangsawan Melayu di Samudra Pasai dan Aceh juga memberi kesaksian pengutamaan ajaran kosmopolitan Islam ini. Pada batu nisan makam-makam abad ke-13-15 M ini ditemui epigrafi atau tulisan sajak Ali bin Thalib yang berorak sufistik.

Misalnya seperti terdapat pada makam Sultan Malik al-Saleh. Pendiri kesultanan Samudra Pasai ini wafat pada tahun 1292 M, setahun sebelum berdirinya Majapahit, kerajaan Hindu Jawa terbesar dan terakhir di Jawa Timur. Terjemahan sajak Ali bin Thalib:

Dunia ini fana tiada kekal

Bagaikan sarang laba-laba

O kau yang menuntut terlalu banyak

Cukupkan saja yang kauperoleh selama ini

Ada orang yang umurnya pendek

Namun namanya dikenang selamanya

Ada yang berusia panjang

Namun dilupa sesudah matinya

Dunia ini hanya bayang-bayang

Yang cepat berlalu, tamu pada malam hari

Mimpi seorang yang sedang tidur nyenyak

Dan sekilat cahaya yang bersinar di cakrawala harapan

(Terjemahan Abdul Hadi W. M.)

Tahap Penyebaran Islam

Sampai awal abad ke-20 M, tahapan penyebaran Islam di Indonesia secara umum dapat dibagi ke dalam 4 tahapan:

  1. Abad ke-13 – 15 M. Tahapan pengenalan kosmopolitanisme Islam dan pokok-pokok ajaran Islam, meliputi syariah, fiqih, pengantar tasawuf dan adab Islam. Implikasi rasional dan intelektual ajaran Islam diperkenalkan secara bertahap.
  2. Abad ke-16 – 17 M. Tahapan derasnya proses islamisasi Nusantara, khususnya di kepulauan Melayu, disusul dengan islamisasi Jawa. Implikasi intelektual dan rasional ajaran Islam mulai diperkenalkan. Pada tahapan ini kebudayaan Islam mulai mengalami tahapan pembentukannya, terutama di kepulauan Melayu. Tasawuf, ilmu kalam, ilmu tafsir, falsafah, dan sastra memainkan peranan penting dalam tahapan ini.
  3. Abad ke-18 – 19 M. Tahapan ortodoksi. Syariah dan fiqih memainkan peranan utama dalam tahapan ini. Islam politik muncul berhadapan dengan kolonialisme. Walau tariqat sufi memainkan peranan penting, namun peranan tasawuf falsafah, sastra, dan seni dikurangi.
  4. Awal abad ke-20 M. Munculnya gerakan pembaharuan yang dipelopori Muhammadiyah, kebangkitan Islam tradisional yang dipelopori N.U. dan menguatnya Islam politik yang dipelopori oleh Sarekat Islam (dulu Sarekat Dagang Islam).

Tiga Pola Penyebaran

Tiga pola penyebaran Islam : (1) Integratif; (2) Dialogis; (3) Dialogis-Integratif.

Pola Integratif: Sebagian besar aspek kehidupan dan kebudayaan suatu komunitas diintegrasikan dengan pandangan hidup, gambaran dunia, sistem pengetahuan dan nilai-nilai Islam. Contoh : Masyarakat etnik-etnik Melayu di Sumatra dan Kalimantan, termasuk Aceh, Palembang, Melayu Riau, Banjar, dan lain sebagainya. Kemudian juga Jawa Pesisir seperti Banten, Jawa Timur dan Madura. Pola ini dapat dilakukan karena sebelum raja atau penguasa memeluk Islam, masyarakat ramai sudah memeluk agama Islam dan mengembangkan kebudayaan bercorak Islam.

Pola Dialogis: Islam dipaksa berdialog dengan tradisi lokal yang sudah tertanam dalam masyarakat. Contohnya: di Jawa pedalaman, yang langsung berada di bawah pengaruh kraton. Mistisisme Islam berkembang di wilayah ini berpadu dengan tradisi mistik lama warisan zaman Hindu. Seni dan sastra zaman Hindu dipertahankan dengan memberi corak Islam. Pola ini dilakukan karena sistem kekuasaan masih mempertahankan sistem lama, dan masyarakat masih belum sepenuhnya terislamkan.

Pola Ketiga: Dua pola dilakukan bersama-sama. Misalnya di Sulawesi. Ini karena yang pada mulanya memeluk Islam adalah raja dan para bangsawan, baru diikuti oleh rakyat yang budayanya bhinneka.

Media atau Saluran Penyebaran

Saluran penyebaran Islam pada tahapan ini yang efektif ialah perdagangan, perkawinan, pendidikan, seni, sastra, dan tasawuf.

Karya sastra yang dipilih ialah : Hikayat Perikehidupan Nabi Muhammad s.a.w., Kasidah Burdah, Hikayat Pahlawan Islam/Epos, Cerita Berbingkai, Cerita Sejarah, dan Roman Petualangan dan Percintaan. Juga syair-syair Tasawuf dan Alegori Sufi.

Epos terkenal pada zaman awal penyebaran Islam ialah Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah (versi lain Hikayat Hasan dan Husein), Hikayat Iskandar Zulkarnaen, dls.

Cerita berbingkai: Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bachtiar, Hikayat Seribu Satu Malam.

Seni rupa yang berkembang: Kaligrafi (khat), seni hias tetumbuhan (arabesque), dan gambar geometri.

Kropak Maulana Malik Ibrahim

Kropak adalah kitab yang ditulis pada daun lontar yang dikeringkan. Kropak Maulana Malik Ibrahim adalah naskah Islam Nusantara tertua yang dijumpai yang memuat pokok-pokok ajaran Islam yang diajarkan oleh para pendakwah Islam awal.

Naskah ini dibawa ke Eropa pada awal abad ke-15 M oleh sebuah kapal dagang Portugis. Tiga ratus tahun disimpan di Museum Ferrara Italia, kemudian dipindah ke Leiden, Belanda. Baru pada tahun 1960an diperiksa dan disalin ke dalam huruf Latin.

Isi: pokok-pokok ajaran Islam yang terkandung dalam syariat, fiqih, pengantar tasawuf, dan dasar-dasar ilmu kalam/teologi. Juga diuraikan tentang adab atau etika seorang Muslim di tengah mayoritas penduduk beragama Hindu.

Sebagian dari isinya adalah sari pati dari kitab fiqih Parsi dan kitab Bidayat al-Hidayah Imam al-Ghazali.

Pembukaan: “Inilah jalan mengenal Allah dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.” Dimuat juga doa-doa Nabi Isa a.s.

Dua bab pertama menguraikan masalah adab bangun dan tidur, aturan wudhu, salat, pergi ke masjid, puasa Ramadhan, i`tikaf, dls. Kemudian dilanjutkan tentang dosa-dosa batin seperti suka pamer kekayaan, sombong, dls. Juga diuraikan adab berhubungan dengan orang tua, saudara, kerabat, guru, pemimpin, dan lain-lain.

Seorang Muslim untuk tidak berputus asa dan pantang menyerah menghadapi kesukaran. Harus kuat beribadah, menuntut ilmu, mencari nafkah yang halal, dan beramal saleh. Mengumpulkan kekayaan dengan tujuan kerohanian sangat dimuliakan, karena dengan harta dapat menegakkan agama, membuka lembaga pendidikan, dan membangun masyarakat yang sejahtera.

Isi kitab ini sama dengan ajaran Maulana Malik Ibrahim yang tertera dalam Babad Banten.

Bersabar menghadapi cobaan dan ujian Tuhan, selalu gembira menghadapi takdir dan yakin penuh akan kekuasaan Allah adalah mutlak diperlukan. Kekuasaan manusia itu relatif.

Orang Islam dianjurkan berpakaian bersih, memelihara kebersihan rumah. Pada malam hari lampu haru dinyalakan.

Melayu dan Islam

Pada abad ke-16 M sementara proses dialogis sedang berlangsung di pulau Jawa antara Islam dan kebudayaan Jawa pra-Islam, agama Islam tersebar pula di kepulauan Maluku, pesisir Jawa dan Madura, Kalimantan Selatan dam Barat.

Di pulau Jawa penyebaran dilakukan dengan media seni seperti wayang kulit, gamelan, dan budaya lokal lain. Di bawah usaha wali-wali terkemuka seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, dan lain-lain kebudayaan Islam di Jawa mengalami proses sofistikasi. Sedangkan penyatuannya dengan kebudayaan Jawa dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Seni hias tetumbuhan dan kaligrafi semakin digemari di Jawa. Batik, ukir-ukiran berkembang seperti terlihat pada batik Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban, dan Madura. Begitu pula ukir-ukiran bermotif arabesque gaya Arab Parsi. Penulisan hikayat kepahlawanan Islam dan syair tasawuf (suluk) berkembang pesat.

Di kepulauan Melayu sendiri derasnya proses Islamisasi berdampak pada terintegrasinya kebudayaan Melayu dengan Islam. Ini tampak dalam bidang bahasa dan kesusastraan, hukum adat dan kanun, sistem pemerintahan, konsep kekuasaan, pandangan hidup dan gambaran dunia.

Pada akhir abad ke-16 M bahasa Melayu sempurna mengalami proses Islamisasi. Tidak kurang 2000 kata-kata serapan dari bahasa Arab dan 400 kata serapan dari bahasa Parsi masuk ke dalam bahasa Melayu. Selebihnya terdapat ratusan kata serapan dari bahasa Sanskerta, Hindi, Portugis, Cina, Jawa, dan Tamil.

Terintegrasinya kebudayaan Melayu dan Islam dicatat dalam banyak syair, pantun, petatah-petitih atau peribahasa, gurindam, talibun, dan lain-lain. Misalnya dalam gurindam berikut:

Apa tanda melayu jati

Bersama Islam hidup dan mati

Apa tanda Melayu bertuah

Memeluk Islam tiada menyalah

Apa tanda Melayu beradat

Syarak dipegang sunnah diingat

Apa tanda orang Melayu

Islam semata di dalam kalbu

Supaya hidup beroleh berkat

Amal ibadat jangan disukat


Atau dalam pantun berikut:

Kemumu di dalam semak

Terbang melayang selaranya

Meski ilmu setinggi tegak

Tidak sembahyang apa gunanya

Asam kandis asam gelugur

Ketiga asam riang-riang

Menangis orang di pintu kubur

Teringat badan tidak sembahyang

Di bawah derasnya proses islamisasi ini kesusastraan dan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Terutama pada zaman kesultanan Aceh Darussalam (1516-1700 M). Ini tampak pada banyaknya kitab-kitab tasawuf, fiqih, adab, undang-undang, syariat, tafsir, ilmu hadis, kalam, nahwu, dan kitab-kitab pengetahuan umum ditulis. Misalnya kitab tentang astronomi, ilmu perdagangan, ilmu hisab (ilmu hitung), perkapalan, farmasi, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Dua Gejala Dominan Abad ke-16 M

Ada dua gejala dominan pada masa terbentuknya dan proses sofistikasi kebudayaan Melayu Islam. Yaitu munculnya wacana tasawuf falsafah yang membicarakan bagaimana manusia berhubungan intens dengan Sang Pencipta.  Ini diwakili oleh syair-syair dan risalah tasawuf Hamzah Fansuri.

Gejala kedua, muncunya perbincangan konsep kekuasaan menurut pandangan sufi yang diwakili oleh Bukhari al-Jauhari melalui kitabnya Taj al-Salatin (1602 M).

Karya dua cendekiawan sufi ini dan murid-muridnya besar perannya dalam membentuk gambaran dunia (worldview) dan pandangan hidup (way of life) Muslim Nusantara.

Gambaran Dunia Dan Pandangan Hidup

(Landasan Ideal Kebudayaan)

Yang dimaksud Gambaran Dunia (Weltanschauung) ialah gambaran intuitif suatu komunitas mengenai dunia. Di dalamnya ditunjukkan kedudukan dan peran manusia di alam semesta, di hadapan Tuhan, dan di antaranya sesasamanya. Pandangan hidup (way of life) ialah cara terbaik memandang hidupan dan bagaimana suatu masyarakat membangun dan menata kehidupan yang ideal sesuai dengan sistem kepercayaan dan agamanya. Misalnya motif apa yang mendorong manusia mencari kekayaan. Ini disebut motif ekonomi. Dalam Islam motif terbaik ialah menegakkan agama dan membangun peradaban.

Kesusastraan Islam Melayu memberikan landasan ideal bagi perkembangan kebudayaan Melayu dan Nusantara. Khususnya dalam memberi bentuk gambaran dunia dan pandangan hidup.

Bertitik tolak dari surat al-Baqarah 255 seperti telah dikutip dunia digambarkan sebagai alam yang berada di bawah kekuasaan dan hukum Tuhan (sunnatullah). Kekuasaan manusia selaku khalifah-Nya dan hamba-Nya di muka bumi bersifat relatif. Hukum yang diberlakukan oleh manusia di muka bumi harus merupakan turunan dari hukum Tuhan (syariat).

Di sini syariat dipandang sebagai sumber hukum masyarakat Islam. Penjabarannya tergantung pada manusia dan selalu harus diusahakan sesuai dengan keperluan atau konteks masyarakatnya.

Syariat/syariah, dari kata syar, jalan besar. Islam sendiri secara keseluruhan adalah sebuah jalan besar. Sebagai jalan ia mempunyai cabang-cabang yang disebut jalan kecil, yaitu tariqat.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa “Ayat-ayat Tuhan terbentang di alam semesta dan diri manusia”. Juga “Kemana pun kau memandang akan tampak wajah llah” (al-Baqarah 115).

Ayat-ayat ini sering dikutip oleh Hamzah Fansuri dalam risalah dan syair-syair tasawufnya. Dengan diberi tafsir sufistik dijadikan landasan membangun gambaran dunia dan pandangan hidup orang Melayu.

Berdasar ayat pertama, alam semesta digambarkan sebagai kitab agung yang di dalamnya Tuhan menuliskan ayat-ayat atau tanda-tanda-Nya kekuasaan dan keagungan-Nya. Pribadi manusia adalah alam semesta kecil (alam saghir) dan merupakan sebuah kitab berisi ayat-ayat-Nya.

Tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Tuhan bisa berupa hikmah, hukum, alam, hukum sejarah, dan hukum sosial.

Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an pula, dalam Islam diajarkan metode dan cara-cara mencari kebenaran dan pengetahuan, dengan membaca dan menafsirkan ayat-ayat Tuhan yang terbentang di alam semesta, dalam diri manusia, dan dalam kitab suci al-Qur’an.

  1. Metode empiris atau inderawi. Melahirkan ilmu alam. Ayat-ayat Tuhan di alam semesta mengandung di dalamnya hukum dan aturan, yang disebut hukum alam.
  2. Metode rasional logis atau `aqli. Melahirkan falsafah dan teori-teori ilmu pengetahuan yang bersifat absrak logis dan rasional. Imu kalam juga lahir dari metode seperti ini.
  3. Metode intuitif/makrifat, yang dicapai dengan kontemplasi dan penyucian diri. Melahirkan ilmu kerohanian seperti tasawuf.
  4. Melalui hikmah dan petunjuk Tuhan.  Penafsiran terhadap kitab suci. Melahirkan ilmu-ilmu al-Qur’an atau ilmu agama. Termasuk fiqih, syariat, tasawuf, ilmu kalam, ilmu Tafsir, nahwu dan lain-lain.
  5. Metode sejarah dan pengalaman sosial. Melahirkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Kelima jenis ilmu yang lahir dari metode berbeda-beda itu saling terkait satu dengan yang lain. Semuanya didasarkan atas Tauhid, kesaksian bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu dan hanya kepada-Nya segala sesuatu bergantung.

Dunia juga sering digambarkan sebagai medan pertarungan antara yang benar dan yang batil. Atau gua (sirdab) tempat manusia menegakkan amar ma`ruf, mengenyahkan kejahatan (nahiy munkar), yang semua itu dilakukan berdasarkan keimanan kepada Allah (tu`minuna bi`llah.)

Taj al-Salatin (1602) Bukhari al-Jauhari

Dalam kitab ini diuraikan pentingnya pengetahuan diri dan dunia. Pada halaman 36 pasal pertama dikatakan bahwa Hidup manusia merupakan perjalanan dari Yang Abadi menuju Yang Abadi, yaitu Tuhan dan ketentuan-Nya.

Ada enam (6) laluan atau tempat singgah dalam perjalanan menuju Yang Abadi.

  1. Salbi. Alam primordial. Yaitu alam angan-angan orang tua. Di sini Tuhan merancang kelahiran seseorang. Orang tua melahirkan setelah mereka menikah. Perkawinan penting untuk memperoleh keturunan karena itu dirayakan besar-besaran oleh orang Islam.
  2. Rahim ibu. Selama sembilan bulan seseorang jaruis menjadi jabang bayi di dalam rahim atau kandungan ibunya. Rahim, dari kata al-rahim, artinya sayang. Merawat tubuh dan kandungan, mengatur pegaulan suami istri, sangat penting dan dianjurkan oleh Islam dan semua agama.
  3. Alam dunia. Tempat manusia berikhtiar menumpulkan kekayaan dan kesejahteraan, tempat beramal saleh an mengumpulkan bekal agar dapat kembali dengan selamat menuju kampung halamannya yang sejati yaitu akhirat.
  4. Alam kubur. Badan dan ruh dipisahkan. Di sini seseorang terbaring sebatang kara dalam kubur.
  5. Hari Kiamat. Pada hari ini amal baik dan buruk seseorang ditimbang.
  6. Sorga dan neraka. Ini merupakan tempatnya yang kekal.

Dari keenam laluan itu alam dunia lah yang merupakan tempa laluan paling penting. Karena itu mengenal dunia dan arti keberadaan dirinya sangat penting bagi semua orang Islam dunia. Mengenal dunia dan diri diperlukan pengetahuan tentang dunia, meliputi hukum Tuhan, hukum agama (syr’i), hukum alam, hukum sosial dan hukum sejarah.

Kata Bukhari, “Jalan di hadapan itu teramat jauh dan sukar dan bekal jalan itu tiada dapat dicari melainkan dalam dunia juga dan endaraan umurnya itu tiada dapat dihemat senantiasa meluncur terus…”

“Sebagian orang arif mengatakan bahwa dunia ibarat tangga jua, artinya jalan naik menuju ke tempat lebih mulia…Sebagian orang arif berkata bahwa dunia seperti sebuah rumah yang sangat baik dan indah. Barang siapa melihanya berkenan hatinya pada berbagai-bagai perhiasan dari emas dan perak serta permata dan permadani dan tirai dan lain-lain…sehingga tak berkeputusan tamu-tamu berdatangan (untuk merasa kesenangan, kenikmatan dan kelezaan…)”.

Dagang dalam Syair Tasawuf Hamzah Fansuri

Pandangan hidup dan dunia seperti dikemukakan oleh Bukhari al-Jauhari, sebelumnya telah diurai dan dijelaskan secara luas dan mendalam oleh Hamzah Fansuri dalam risalah dan syair-syair tasawufnya. Khususnya dalam syair yang menggunakan tamsil ‘dagang’ atau ‘anak dagang’. Tamsil ini digunakan untuk menggambarkan perjalanan manusia dalam kehidupannya di dunia.

Agama Islam disebarkan mula-mula mengikuti kegiatan perdagangan dan pelayaran. Pada abad ke-12 M kegiatan pelayaran dan perdagangan orang Islam semakin ramai menuju kepulauan Nusantara dan negeri Cina. Agar jaringan perdagangan dan jalur pelayaran aman dan berangsung dengan baik, timbul inisiatif membentuk organisasi dagang atau gilda yang disebut Taifa.

Pada abad ke-13 M sudah terbentuk banyak taifa atau gilda. Jaringan perdagangan mereka sangat luas membentang dari Turki sampai kepulauan Maluku, Vietnam, Siam dan negeri Cina. Mereka berperan dalam penyebaran Islam secara intensif, serta membentuk jaringan intelektual dan pendidikan.

Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara didirikan oleh raja-raja pribumi pemimpin gilda atau tariqat sufi. Mereka kemudian menjadi pengayom organisasi-organisasi dagang ini.

Pada akhir abad ke-13 M kegiatan taifa menjadi efektif karena berasosiasi dengan tariqat-tariqat sufi tertentu seperti Qadiriyah, Naqsabandiah, Syadiliyah, Sattariyah, Tijaniyah, Khalwatiyah, dan lain-lain. Bergabung pula ke dalamnya organisasi sukarela yang disebut futuwwa.

Futuwwa berperan untuk mengawal jalur perdagangan, perkembangan pendidikan, usaha kerajinan, dan jaringan intelektual. Anggota futuwwa terdiri dari para veteran, tabib, guru agama, sastrawan, seniman pengrajin, cendekiawan, ulama, sarjana, bekas politisi, pegawai pemerintah di negeri Islam yang diduduki tentara Mongol dll.

Karena disebarkan melalui perdagangan, dagang kemudian  menjadi budaya orang Islam di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara. Para pendakwah Islam melakukan kegiatan perniagaan agar bisa hidup mandiri dan tidak tergantung pada penguasa. Dengan itu mobilitas mereka terjamin.

Dalam perkembangannya dagang dijadikan tamsil yang menggambarkan keberadaan manusia selaku individu di dunia dan perjalanan hidup yang ditempuhnya sebelum pulang kembali ke kampung halamannya yang abadi di akhirat.

Tamsil ‘dagang’ pada awalnya dalam syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri. Ia memberi arti/makna spiritual terhadap kata-kata simbolik ‘dagang’ atau ‘anak dagang’. Di dalamnya terkandung dasar-dasar pandangan hidup yang ideal seorang Muslim.

Kata dagang memang berarti merantau dan menjadi orang asing di sebuah negeri. Ia diterjemahkan dari kata Arab gharib (asing) dan selalu dirujuk pada Hadis, yang bunyinya, ”Kun fi al-dunya ka’annaka gharibun aw ’abiru sablin wa `udhdha nafsahu min ashabi al-qubur” (”Jadilah orang asing atau dagang di dunia ini, singgahlah sementara dalam perjalananmu, dan ingatlah akan azhab kubur.”). Dalam syairnya Hamzah Fansuri menulis:

Hadis ini daripada Nabi al-Habib

Qala kun fi al-dunya ka’annaka gharib

Barang siapa da’im kepada dunia qarib

Manakan dapat menjadi habib

(Ik. VIII, MS Jak. Mal. 83)

Kekasih Tuhan dipertentangkan dengan orang yang mencintai dunia secara berlebihan. Dagang atau faqir sejati menurut penyair ialah dia yang karib dengan Tuhannya dan asing serta tak merasa terpaut pada dunia. Kata gharib, yang oleh penulis Melayu diterjemahkan menjadi dagang, berarti ”Orang atau diri yang asing terhadap dunia” (al-Attas 1971:8), yaitu seorang ahli suluk yang menyadari bahwa di dunia ini ia adalah orang asing yang pergi merantau dan singgah sementara untuk mengumpulkan bekal. Kampung halamannya yang sejati bukan di dunia ini. Imam al-Ghazali dalam Kimiya-i Sa`adah mengatakan: “Dunia ini adalah sebuah pentas  atau pasar yang disinggahi oleh para musafir dalam perjalanannya menuju ke negeri lain. Di sini mereka membekali diri dengan berbagai bekal agar supaya tujuan perjalanan tercapai” (Mohammad Bagir 1984:39).

Dalam kaitan ini Hamzah Fansuri menulis:

Pada dunia nin jangan kau amin

Lenyap pergi seperti angin

Kuntu kanzan tempat yang batin

Di sana da’im yogya kau sakin

Lemak manis terlalu nyaman

Oleh nafsumu engkau tertawan

Sakarat al-mawt sukarnya jalan

Lenyap di sana berkawan-kawan

Hidup dalam dunia upama dagang

Datang musim kita ’kan pulang

La tasta’khiruna sa’atan lagi kan datang

Mencari ma`rifat Allah jangan alang-alang

(Ik. XX , MS. Jak. Mal. 83)

Catatan: La tasta’khiruna sa`atan (Q 34:30) = tak dapat ditunda waktunya. Di lihat dari sudut agama anak dagang diberi arti positif oleh penyair. Ia adalah orang yang menyadari secara mendalam bahwa realitas sebenarnya kehidupan tidak berada di alam fenomena yang senantiasa berubah, melainkan di dalam Tuhan yang kekal. Tanda anak dagang sejati ialah cinta dan penyerahannya yang penuh kepada Tuhan, dan keyakinannya yang teguh terhadap ikhtiar dirinya dalam mengatasi segala kesukaran hidup.

Sama dengan gagasan  dagang adalah gagasan faqir. Dalam tasawuf  ia diartikan sebagai pribadi yang tidak lagi terpaut pada dunia. Keterpautannya semata-mata pada Tuhan. Ada dua ayat al-Qur`an yang dijadikan rujukan, yaitu Q 2:268 dan Q 35-15.  Dalam Q 2:268, dinyatakan lebih kurang, ”Setan mengancammu dengan ketiadaan milik (al-faqr) dan menyuruhmu melakukan perbuatan keji. Tetapi Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu dari-Nya sendiri dan Allah maha luas pengetahuan-Nya.” Adapun dalam Q 35 :15  dinyatakan, ”Hai manusia ! Kamulah yang memerlukan (fuqara’) Allah. Sedangkan Allah, Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji.” (Yusuf Ali 1983: 109 dan 1157-8).

Ibn `Arabi, sufi abad ke-12 dari Andalusia, mengatakan bahwa karena Tuhan maha kaya dan maha mencukupi (al-ghani), Dia tidak tergantung pada siapa pun. Sebaliknya manusia yang pada hakekatnya tidak memiliki apa-apa (al-faqr), maka dia memerlukan (fuqara’) Tuhan. Keberadaan manusia, menurut tafsir ayat ini, tidak pernah bebas dari kewujudan Tuhan. Maka perkataan faqir kemudian diartikan kepada seseorang yang benar-benar terpaut kepada Tuhan, sebagai ganti dari ketidakterpautannya pada dunia ( Dar 1977:61).

Mengikuti pengertian ini Hamzah Fansuri menyatakan bahwa faqir yang sejati ialah Nabi Muhammad s.a.w.  Dalam seluruh aspek kehidupannya beliau benar-benar hanya tergantung kepada Tuhan. Ini ditunjukkan pada keteguhan imannya. Kata sang penyair:

Rasul Allah itulah yang tiada berlawan

Meninggalkan tha`am (tamak) sungguh pun makan

`Uzlat dan tunggal di dalam kawan

Olehnya duduk waktu berjalan

(Ik. V, MS Jak. Mal. 83)

Perkataan ”`Uzlat dan tunggal di dalam kawan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun Nabi Muhammad s.a.w. seorang yang gemar berzuhud, tetapi beliau tidak meninggalkan kewajibannya dalam kegiatan sosial. Sedangkan perkataan ”Olehnya duduk waktu berjalan” dapat ditafsirkan bahwa, walaupun hatinya hanya terpaut pada Tuhan, namun beliau tetap aktif mengerjakan urusan dunia dengan penuh kesungguhan dan pengabdian. Kata ’duduk’, yaitu tidak bergerak atau berjalan, dapat ditafsirkan bahwa keyakinannya kepada Allah s.w.t sangat teguh. Jika ditafsirkan demikian maka gagasan faqir tidak dapat disamakan  dengan asketisme pasif dan eskapisme.

Sumber: http://dkm.paramadina.ac.id/

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.973 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: