Tinggalkan komentar

ADAB DAN FALSAFAH: PEMIKIRAN ISLAM DI INDONESIA ABAD KE-16-17 M

Abdul Hadi W. M.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-082Dalam karangan-karangan saya terdahulu telah dikemukakan bahwa tradisi intelektual Islam di Indonesia mulai bertunas pada abad ke-14-15 M dengan mengambil tempat di kepulauan Melayu, yang penduduknya paling awal memeluk agama Islam secara beramai-ramai di Asia Tenggara. Tepatnya di kerajaan Samudra Pasai (1270-1514 M) di ujung utara pulau Sumatra di wilayah Aceh sekarang ini, dan di wilayah kesultanan Malaka (1400-1511 M) di Semenanjung Malaya. Tradisi itu mula-mula muncul dalam bentuk karangan-karangan bersifat keagamaan dan sastra, dan baru kemudian dalam bentuk karangan-karangan keilmuan dan falsafah.


Karangan-karangan yang benar-benar bersifat keilmuan dan falsafah mulai tampak pada abad ke-16 M dan mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-17 M. Ia mengambil masa bersamaan dengan bangkitnya kesultanan Aceh Darussalam (1516-1700 M), kerajaan Islam besar di Asia Tenggara yang juga merupakan pusat penyebaran Islam dan perdagangan regional yang berpengaruh. Pada tahun 1520 M, tidak lama setelah kebangkitannya, di situ didirikan sebuah universitas Islam pertama di Indonesia. Dari lembaga inilah lahir kaum cendekiawan dan terpelajar Islam Melayu dalam arti sebenarnya. Melalui lembaga ini pulalah pemikiran Islam klasik dan kontemporer dari negeri Arab dan Persia ketika itu diperkenalkan di kepulauan Melayu.

Oleh karena sejak awal penyebaran Islam ahli-ahli tasawuf memainkan peranan penting di lembaga-lembaga pendidikan Islam, tidaklah mengherankan apabila pemikiran falsafah dan keilmuan yang muncul itu sangat dipengaruhi oleh penafsiran sufi terhadap ajaran al-Qur’an dan keseluruhan ajaran al-Qur’an. Kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Abdul Karim al-Jili, Fariduddin al-`Attar, Jalaluddin Rumi, Fakhrudin `Iraqi, Abdul Rahman Jami, dan lain-lain telah sejak awal dijadikan sumber rujukan oleh kaum cendekiawan Muslim di Indonesia dalam menulis karangan-karangan mereka tentang teologi, hermeneutika, metafisika, epistemologi, etika, psikologi keruhanian dan estetika.

Di antara sufi awal yang karangan-karangannya bercorak falsafah dan keilmuan ialah risalah-risalah tasawuf Hamzah Fansuri di Sumatra, dan Sunan Bonang di pulau Jawa. Dua tokoh abad ke-16 ini dikenal sebagai wali sufi dan guru keruhanian terkemuka pada zamannya. Mereka juga menulis syair-syair makrifat (suluk) yang isinya sangat dalam. Karangan-karangan mereka mengandung pembicaraan luas berkenaan dengan metafisika, etika, estetika, hermeneutika, dan psikologi keruhanian Islam. Sehingga tidak mengherankan jika mempengaruhi pandangan hidup (way of life), sistem nilai, dan gambaran dunia (Weltanschauung) penduduk Islam di kepulauan Melayu.

Melalui karangan-karangannya seperti Sharab al-`Asyiqin, Asrar al-`Arifin, dan Muntahi, Syekh Hamzah Fansuri telah membawa naik peranan bahasa Melayu dari sekadar lingua franca menjadi bahasa terkemuka di bidang intelektual dan keagamaan. Syair-syair memberi stimulus bagi suburnya kesusastraan Islam di kepulauan ini. Pemikiran tasawufnya pula begitu berpengaruh hingga masa yang paling akhir.

Akan tetapi dalam makalah ini akan dibahas pemikiran tokoh lain yang tidak kurang penting dan cukup berpengaruh pemikirannya di bidang etika. Tokoh ini muncul pada akkhir abad ke-17 M ketika kebudayaan Melayu Islam memasuki periode formatifnya dalam arti yang sesungguhnya dan kerajaan-kerajaan Islam telah banyak muncul di berbagai pelosok Nusantara. Kini karenanya diperlukan uraian yang mendalam tentang etika politik dan konsep kekuasaan menurut pandangan Islam. Konsep ini penting dan diperlukan oleh raja-raja Islam dalam rangka mengukuhkan dan menjalankan pemerintahannya. Tokoh yang dimaksud dan jarang dibicarakan itu ialah Bukhari al-Jauhari dengan kitabnya yang masyhur Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja).

Kitab Adab

Riwayat hidup Bukhari tidak diketahui. Tetapi berdasar tarikh penulisan bukunya yang rampung pada tahun 1603 M dia diperkirakan hidup pada pertengahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Ketika bukunya itu ditulis yang memegang tampuk pemerintahan dalam kesultanan Aceh ialah Sultan Alauddin Ri`ayat Syah gelar Sayyid al-Mukammil (1589-1604 M). Berdasar namanya Bukhari, diperkirakan nenekmoyangnya berasal dari Bukhara. Pada abad ke-16 M memang banyak orang dari Bukhara dan Samarkand, termasuk kaum cendekiawan dan ahli tasawuf, pindah ke India Mughal dan Nusantara disebabkan banyaknya kekacauan politik yang terjadi Asia Tengah. Seedangkan takhallus al-Jauhari (ahli permata) menunjukkan bahwa orang tuanya adalah saudagar permata, suatu profesi yang banyak dikuasai orang-orang dari Bukhara yang menetap di kepulauan Melayu pada zaman itu (Braginsky 1998; Abdul Hadi 2003).

Adapun kitab Taj al-Salatin merupakan satu-satunya karangan Bukhari yang diketahui sampai sekarang. Buku ini termasuk ke dalam kelompok kitab adab (etika), dan susunannya merupakan perpaduan antara risalah keilmuan, falsafah, dan sastra. Pokok bahasannya ialah mengenai konsep kekuasaan dalam Islam dan tata cara pemerintahan. Bukhari membahas konsep ini dari sudut pandang tasawuf di mana negara tidak boleh dipandang sebagai cerminan kekuasaan pribadi seorang raja, melainkan sebagai organisasi pemerintahan yang berdasarkan hukum yang bersumber dari ajaran Islam. Menurut Islam seorang raja sama saja dengan manusia lain. Dalam kapasitas masing-masing ia adakah khalifah Tuhan di muka bumi dan sekaligus hamba-Nya.

Sebagai khalifah atau wakil Tuhan, seorang raja dan menteri-menterinya harus mengetahui tugas dan kewajiban yang dibebankan Tuhan kepadanya melalui kitab suci-Nya al-Qur’an. Sebagai hamba-Nya pula ia harus berusaha menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Berdasarkan konsep ini seorang raja tidak boleh memerintah sekehendak hatinya dan menyusun peraturan berdasarkan selera pribadinya. Begitu pula walaupun bentuk negara yang didirikan adalah kerajaan (al-mulk) tidak berarti ia harus memerintah sebagai dalam sebuah monarki.

Dalam sejarah Islam sendiri, khususnya di kepulauan Melayu, tidak jarang seorang raja diangkat melalui musyawarah yang dilakukan para ulama, cendekiawan, pemimpin masyarakat, dan para saudagar. Alauddin Ri`ayat Syah sendiri dinobatkan menjadi sultan melalui cara seperti itu, setelah tahta kesultanan Aceh mengalami kekosongan untuk beberapa waktu lamanya (Husein Djajadiningrat 1979). Ini telah dipraktekkan di Aceh sejak masa sebelumnya. Di samping institusi raja, termasuk sekretaris kerajaan, wazier, menteri-menteri dan para bendahara, terdapat institusi qadi (qadi malik al-`adl) yang berperan menetapkan undang-undang dan hukum yang mesti dijalankan oleh sebuah pemerintahan.

Demikianlah negara dalam pandangan Islam, apa pun bentuknya khilafah (kekhalifatan), al-mulk (kerajaan), dan jumhuriyah (republik) seperti dikenal sekarang, dalam pembentukannya harus ditopang dengan tasyri` yaitu penyusunan undang-undang serta peraturan negara yang sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Tasyri` dibuat berdasarkan syariah yang merupakan sumber hukum dan sumber rujukan aturan kemasyarakatan. Sebagai sumber hukum syariah dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu: (1) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan; (2) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia; (3) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan masyarakat atau negara; (4) Peraturan yang mengatur hubungan suatu negara dengan negara lain (Ali Hasymi 1995:92-3).

Asas hukum dalam Islam ialah memberi kesadara agar supaya manusia tidak melakukan kejahatan. Mengadili seseorang tidak boleh didasarkan atas kebencian dan dendam kesumat, akan tetapi untuk menyadarkan orang tersebut menjadi orang yang baik sebagai anggota masyarakat. Bagi seorang pemimpin negara, asas dan tujuan hukum ialah agar supaya dia insyaf akan pentingnya kebenaran dan keadilan. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an 5:8, “Wahai orang beriman hendaklah kamu bersikap jujur karena Allah agar bersaksi berdasarkan keadilan. Janganlah kebencian kepada suatu kaum yang menyebabkan kamu tidak menjalankan keadilan. Berlaku adillah karena keadilan itu paling dekat dengan taqwa. Bertaqwalah kepada Allah karena Allah mengetahui semua apa yang kau kerjakan.” Atau sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an 16:90, “Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil, ihsan dan membantu kaum kerabat; melarang berbuat mesum, mungkar dan dosa; dan memberi pelajaran semoga kamu sadar”.

Selain al-Qur’an dan Hadis, kitab-kitab lain yang dijadikan rujukan sebagian besar adalah kitab-kitab Persia. Misalnya Siyasah-namah Nizam al-Mulk, Nasih al-Mulk Imam al-Ghazali, Asrar-namah Fariduddi al-`Attar, Akhlaq al-Muhsini Husain Wa`iz al-Kasyifi, Kitab Jami` al-Tawarikh (Sejarah Dunia) yang ditulis untuk Sultan Mughal di Delhi Humayun (1535-56 M). Di dalamnya dimasukkan pula kisah-kisah sufi dan cerita-cerita sejarah dari sumber kesusastraan Persia seperti Khusraw wa Syirin, Tysuf dan Zuleikha, Mahmud dan Ayaz, dan lain sebagainya. Ada pun gaya penulisan dekat dengan gaya penulisan kitab Bustan dan Gulistan karangan Sa’di al-Syirazi, penulis Persia abad ke-13 M.

Kisah-kisah yang dikutip dalam kitab ini, juga sajak-sajak yang disisipkan di dalamnya, merupakan sarana estetik yang lazim digunakan oleh pangarang Arab dan Persia untuk menjelaskan atau memberi contoh tindakan adil dalam sejarah. Sikap dan perbuatan yang adil, menurut Bukhari, merupakan mahkota seorang raja dalam arti yang sesungguhnya. Syarat untuk menjadi raja yang adil ialah memiliki kearifan dan kematangan dalam berpikir. Seorang raja yang baik adalah seorang ulil albab. Ia tidak dikuasai oleh hawa nafsu. Segala tindakan politiknya dikendalikan oleh hikmah, ilmu dan akal budi.

Susunan dan Isi Buku

Seperti kitab karangan penulis Muslim pada umumnya, Taj al-Salatin dimulai dengan doa dan pujian kepada Allah s.w.t. Kemudian dilanjutkan dengan salawat kepada Nabi Muhammad s.a.w., ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya. Setelah itu Bukhari menyatakan bahwa hanya Allah yang memiliki hukum di dunia ini. Dikatakan selanjutnya bahwa ahli hikmah (filosof) sangat penting peranannya dalam kehidupan suatu masyarakat, sebab mereka menekankan pentingnya akal budi dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat manusia.

Kodrat akal, menurut Bukhari tampak dalam keinginannya untuk mengetahui segala sesuatu dan menyampaikan apa yang diketahuinya. Tetapi manusia sering dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga akal budinya tidak digunakan untuk keperluan yang benar. Seharusnya akal tidak boleh dikuasai oleh hawa nafsu, dan selalu berada di bawah bimbingan petunjuk-Nya. Sedangkan petunjuk-Nya dapat dibaca dalam kitab suci al-Qur’an yang merupakan wahyu yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya. Dengan bimbingan wahyu, akal budi dapat dijadikan sarana yang bermanfaat bagi kemanusian.

Tujuan penulisan ktab ini menurut pengarangnya ialah memberi pedoman bagi raja-raja Melayu dan pemimpin masyarakat dalam menjalankan organisasi pemerintahan dan lembaga yang dipimpinnya. Ia disusun dalam 24 fasal:

Fasal pertama, mengenai cara-cara manusia mengenal dirinya agar supaya mengetahui asal-usul kejadiannya dan untuk tujuan apa Tuhan menciptakan manusia. Manusia dijadikan sebagai mahkluq yang sempurna dari segi jasmani maupun ruhani. Ia adalah khalifah Tuhan di dunia dan sekaligus adalah hamba-Nya.

Fasal kedua, menyatakan peri mengenal Tuhan selaku Pencipta, dari mana manusia berasal dan akan kemana manusia pergi.

Fasal ketiga, membicarakan arti kehidupan di dunia. Manusia hidup di dunia diumpamakan sebagai seorang musafir yang singgah sebentar di negeri asing dan dalam perantauannya itu harus berusaha mengumpulkan bekal yang untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di akhirat. Bekal yang dimaksud ialah amal saleh dan pengetahuannya yang benar tentang Tuhan.

Fasal keempat, menyatakan peri kesudahan segala kehidupan di dunia. Digambarkan betapa sukar dan pilunya manusia melepaskan nafasnya yang penghabisan di hadapan sang maut. Manusia harus senantiasa ingat bahwa setiap orang itu akan merasakan mati, tidak terkecuali seorang raja.

Fasal kelima, membicarakan arti adil dan keadilan, tanda-tanda kebesaran dan kemuliaan seorang raja, kekuasaan dan kedaulatan negeri yang diperintahnya.

Fasal keenam, membicarakan metode pelaksanaan keadilan dalam pemerintahan. Kitab suci al-Qur’an menyuruh manusia berbuat adil dan baik (ihsan) di dunia, sebab hanya dengan pedang keadilan dan pekerti ihsan ia bisa menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan hamba-Nya dalam arti sesungguhnya. Fasal ketujuh, membicarakan pekerti raja-raja yang adil, keharusannya bergaul dengan para ulama, cendekiawan, ahli hikmah dan orang arif. Raja yang adil dapat menjaga dan melindungi rakyatnya dari perbuatan zalim para pembesar kerajaan. Dia tidak boleh hanya mendengar dari menteri dan pegawai kerajaan mengenai keadaan negeri dan rakyat, tetapi harus melihat sendiri keadaan negeri dan rakyatnya.

Fasal kedelapan, membicarakan raja kafir tetapi adil seperti Raja Nusyirwan. Ia adil karena menjalankan pemerintahan bersandarkan pada hikmah dan senantiasa menggunakan akal yang sehat dalam mengambil kebijakan. Raja seperti itulah yang merupakan khalifah Tuhan yang sebenarnya di muka bumi atau dengan perkataan lain sebagai bayangan Tuhan di dunia.

Fasal kesembilan, menyatakan raja-raja yang zalim. Raja yang zalim merupakan bayang-bayang Iblis di muka bumi.

Selanjutnya, fasal kesepuluh, membicarakan segala menteri dan penasehat raja; fasal kesebelas, membicarakan pekerjaan seorang sekretaris kerajaan dan para penulis pada umumnya; fasal keduabelas, membicarakan pekerjaan seorang utusan; fasal ketigabelas, membicarakan keadaan pegawai kerajaan; fasal keempat belas, membicarakan cara-cara mendidik anak; fasal kelimabelas, membicarakan cara menghemat uang negara; fasal keenam belas, membicarakan kedudukan akal budi; fasal ketujuh belas, membicarakan ilmu qiyafah dan firasat; fasal kesembilan belas, membicarakan tanda qiyafah dan firasat; fasal kedua puluh, membicarakan hubungan rakyat beragama Islam dengan rajanya yang beragama Islam; fasal kedua puluh satu, membicarakan rakyat yang tidak beragama Islam dan hubungannya dengan raja Islam; fasal kedua puluh dua, membicarakan pentingnya kedermawanan dan kemurahan hati; fasal kedua puluh tiga, membicarakan wafat dan ahd; fasal kedua puluh empat, menyatakan kesudahan kitab ini.

Bukhari memulai fasal pertama dengan mengutip sebuah hadis qudsi berbunyi, ”Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu” yakni, ”Barang siapa mengenal Tuhannya akan mengenal dirinya”. Yang dimaksud mengenal diri ialah tidak semata-mata diri jasmaninya tetapi terutama diri rohaninya, serta bagaimana Tuhan menciptakan tubuh dan jiwanya, dan apa yang mesti dilakukan jika usia berangkat senja. Manusia diciptakan dari setitik air mani, kemudian tumbuh menjadi badan jasmani lengkap dengan anggota tubuh dan sarana kejiwaan serta kerohaniannya. Mengenal kejadian tubuh dan jiwa sangat penting, karena dengan itu seseorang akan menyaksikan kebesaran Tuhannya, pekerjaan-Nya yang kreatif dan Sifat-sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Penyayang (al-rahman dan al-rahim).

Apabila seseorang mengenal dirinya dan tujuan Tuhan mencipta manusia, maka ia memperoleh kearifan dan tahu tujuan hidupnya di dunia. Dengan begitu ia dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat dan tahu bahwa hidup ini penuh makna. Kata Bukhari: ”Hai yang berbudi lihatlah daripada dirimu dan jangan kamu lihat pada anggota (tubuh, tetapi) lihat pada segala peri dan perbuatan (yang menjadikan) kamu daripada sesuatu perbuatan itu nyatalah keadaan Allah Subhana wa Ta`ala itu dan pada segala perbuatan yang indah-indah ini daripada kuasa Allah Ta`ala jua tiada lain dari Tuhan yang menjadikan.” (KH 15)

Manusia adalah cermin bagi manusia lain. Orang beriman adalah cermin bagi orang beriman lain. Di antara mereka oleh karenanya wajib saling menegur dan menasehati. Jika manusia melihat cermin itu dan merenunginya, akan tampak bayangan keindahan Tuhan, yaitu tindakan-Nya yang kreatif dan sifat-sifat-Nya yang maha pengasih dan penyayang.

Fasal kedua dimulai dengan kutipan al-Qur’an, Surah al-Jin ayat 56 , dan mengatakan, ”Ada pun hak Subhana wa Ta’ala menjadikan sekalian manusia dan segala jin (dengan maksud) dari mengenal Dzat-Nya dan mengetahui sifat-sifat-Nya segala mereka itu dan nyata kekuasaan Tuhan akan segala hamba-Nya” Walau pun memempatkan akal pada kedudukan yang tinggi, namun Bukhari menolak pandangan kaum Mu`tazila yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluq (diciptakan) dan oleh sebab itu tidak kekal adanya seperti ciptaan yang lain. Bukhari juga menjelaskan bahwa Allah merupakan Tuhan Yang Transenden (tanzih), artinya tiada berupa dan tiada berhingga serta tiada berbilang dan tiada betapa dan tiada bertempat dan berwaktu. Dia merupakan Dzat Maha Tinggi yang meliputi (muhith) segala sesuatu dengan ilmu-Nya, qudrat-Nya dan sifat-sifat-Nya.

Fasal 3 membicarakan pandangan Islam mengenai dunia. Penjelasannya ini dijadikan dasar dalam membahas keadilan yang merupakan gagasan sentral falsafah politik Islam. Walaupun dunia ini pada hakekatnya merupakan perhentian sementara, namun artinya tidak kecil bagi manusia. Sebab di dunialah manusia mengumpulkan bekal untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di akhirat. Bekal yang harus dibawa bukanlah harta benda, kedudukan dan kekuasaan, melainkan amal saleh. Seseorang dapat beramal saleh jika dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan yang benar. Orang beriman juga harus senantiasa ingat mati. Dengan ingat mati, seseorang akan ingat Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, serta selalu berhati-hati dalam segala pekerti dan tindakannya di dunia (TS 36).

Hidup manusia adalah sebuah perjalanan dari Yang Abadi menuju Yang Abadi. Dalam perjalanannya itu dia harus melalui tempat-tempat perhentian tertentu dan singgah sesaat di situ. Tempat-tempat perhentian itu ialah : Pertama, salbi, yaitu alam primordial atau alam misal, ketika manusia masih berupa benih dalam angan-angan ayahnya, sedang ruhnya masih berada di tangan Sang Pencipta dan belum dihembuskan ke dalam badan jasmaninya; kedua, rahim ibu, selama lebih kurang sembilan bulan; ketiga, alam dunia, tempat manusia berusaha dan berbakti pada kehidupan; keempat, alam kubur, tempat terbaring sebatang kara; kelima, hari kiamat, tempat amal baik dan buruknya ditimbang; keenam, syurga atau neraka yang merupakan tempatnya yang kekal. Dunia merupakan salah satu perhentian penting, oleh karena itu wajib manusia itu mengenal dunia dan makna keberadaan dirinya sebaik-baiknya. Tentang pentingnya dunia, dikatakan sebagai berikut:

”…jalan di hadapan itu teramat jauh dan sukar dan bekal jalan itu tiada dapat dicari melainkan dalam dunia juga dan kendaraan umurnya itu tiada (dapat) dihemat senantiasa berjalan juga; dan manusia tiada mengetahui … satu nafas manusia itu seperti tapak juga pada jalan dam sehari seperti sebuah padang jua pada antara jalan dan satu bulan seperti satu mil juga dan satu tahun seperti satu farsakh juga dan satu nafas yang keluar daripada wujud manusia seperti sebuah batu jua yang dibongkar daripada rumah kehidupan dan tiap-tiap nafas membinasakan rumah umurnya dan dengan hilang satu nafas umpamanya seperti satu tapak juga jauhnya (KH 36-7).

Setelah itu Bukhari membicarakan sebab-sebab manusia itu berduka dan bersukacita. Manusia diliputi duka sepanjang hidupnya disebabkan karena terlalu

menyibukkan diri dengan masalah-masalah dunia. Padahal manusia semestinya ingat bahwa hidup di dunia ini penuh dengan persaingan, intrik-intrik dan fitnah. Sumber fitnah yang paling utama ialah harta dan anak. Orang yang ingin selamat, harus membebaskan diri dari kehidupan serba kebendaan (TS 38-9).

Tentang dunia dikatakan oleh Bukhari, “Sebagian orang arif mengatakan bahwa dunia ini ibarat tangga jua, artinya jalan naik menuju ke tampat yang lebih mulia. Persoalannya apakah seseorang itu mengetahuinya atau tidak. Sebagian orang arif lagi berkata bahwa bahwa dunia itu seperti kilat saja adanya, sebentar saja lenyap entah kemana perginya. Sebagian orang arif yang lain berkata bahwa dunia ini seperti seorang perempuan yang sangat cantik dan memakai berbagai perhiasan yang indah serta menawan. Barang siapa melihatnya akan berahi dan hatinya menjadi lekat padanya. Tetapi perempuan itu sangat jahat dan tidak saleh, karena setiap hari duduk-duduk dengan seorang lelaki yang berlainan.”

Sebagian orang arif lagi berkata bahwa dunia itu seperti sebuah perhentian jua yang letaknya berada di antara jalan dengan dua pintu gerbang. Barang siapa yang datang pada perhentian itu hari ini maka ia akan masuk melalui pintu yang satu dan apabila esok ia keluar akan melalui pintu yang lain. Sebagian orang arif berkata bahwa dunia seperti itu bagaikan sebuah rumah yang sangat baik dan indah. Barang siapa melihatnya berkenan hatinya pada berbagai-bagai perhiasan dari emas dan perak serta permata dan permadani dan tirai dan lain-lain serta patutlah rumah itu dengan dipenuhi ribuan nikmat dan syarat dan sebagainya dan yang empunya rumah itu maha besar, kaya dan sangat pemurah.

Oleh karena itu tidak henti-hentinya para tamu berdatangan ke rumah itu, pindah matanya dari satu benda ke benda lainnya yang teramat indah itu. Tamu-tamu yang berbudi dan bijaksana tahu bahwa yang empunya rumah adalah pemilik rumah yang sebenarnya dan orang lain yang ada di rumah itu hanyalah tamu belaka, sehingga ia sadar bahwa dirinya akan singgah sebentar saja di rumah itu dan tidak akan tinggal selamanya di situ dan tidak dapat membawa pergi segala harta kekayaan yang ada di rumah itu. Tamu-tamu yang berbudi juga hanya makan hidangan yang disuguhkan kepadanya dengan ucapan syukur dan nikmat dan memakai pakaian yang diberikan oleh yang empunya rumah dan mengambil seperlunya untuk bekal di perjalanan dan memohon ridha kepada tuan rumah. Sedangkan tamu-tamu yang tidak berbudi dan bebal akan menyangka rumah itu dengan segala perhiasan dan harta yang ada di dalamnya serta nikmat yang diberikan kepadanya akan kekal selamanya (TS 36-7)

Dalam fasal 4, dibicarakan persoalan maut. Dimulai dengan kutipan al-Qur’an, Surah Ali Imran 184 (”Segala yang bernyawa akan merasai mati) dan Surah al-Rahman 26-7 (”Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Tuhan yang Maha Besar dan Mulia”). Bukhari mengingatkan pentingnya maut, supaya ingat akan hukuman Tuhan di hari kemudian bagi orang yang berdosa, khususnya raja-raja yang zalim. Ada dua hal yang dihadapi manusia di muka bumi ini. Pertama ialah mereka yang sibuk mencari harta dan mencintai dunia secara berlebihan, sehingga dia lupa bahwa kelak ia akan mati. Orang semacam itu sebenarnya bebal, kurang budinya. Kedua ialah orang yang bahagia dalam hidupnya, karena tahu bahwa dunia ini pada dasarnya buas dan jahat, tiada kekal dan ingat akan mati. Orang seperti itu tidak mencintai dunia secara berlebihan, tetapi bersungguh-sungguh mencari perbekalan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di akhirat, yaitu dengan banyak beramal saleh (TS 25).

Raja Sebagai Ulil `Albab

Telah dikatakan bahwa pada hakekatnya manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi. Tugas kekhalifatan itu lebih berat lagi diemban oleh seorang raja atau pemimpin. Seorang raja mengemban amanat yang berat, karena dia memiliki kekuasaan yanmg lebih dari orang lain untuk mengatur kehidupan, mengembangkan arah peradaban manusia. Seorang raja adalah pelaku utama sejarah kemanusiaan, serta teladan utama bagi rakyat dan bawahannya. Dalam fasal yang membicarakan persoalan ini Bukhari merasa perlu menceritakan kepemimpinan nabi-nabi, khususnya Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka memiliki kekuasaan untuk memerintah kaumnya, tetapi tetap hidup sederhana dan tidak terbelenggu oleh materialisme dan kemegahan duniawi. Mereka menjalankan kekuasaan untuk tujuan spiritual, bukan untuk sekadar tujuan material.

Pada bagian akhir fasal 5 Bukhari mengutip Kitab Adab al-Mulk karangan Nizam al-Mulk, khususnya fasal yang membicarakan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang raja yang baik. Seorang raja yang baik adalah seorang Ulil Albab, yaitu orang yang berilmu pengetahuan, menggunakan akal pikiran dengan baik dalam menjalankan pemerintahan. Adapun syarat menjadi raja itu ada sepuluh: (1) Akil baligh atau dewasa, dan berpendidikan, sehingga dapat membedakan yang baik dan yang jahat; (2) memiliki ilmu pengetahuan yang banyak dan wawasan yang luas; (3) pandai memilih menterI; (4) Baik rupanya supaya semua orang menyukai dan mencintainya. Jika rupanya kurang baik, hendaklah budi pekertinya tinggi; (5) Pemurah dan dermawan, sebab pemurah itu sifat bangsawan dan orang berbudi, sedang kikir itu sifat orang musyrik dan murtad; (6) Senantiasa ingat kebajikan orang yang pernah membantunya selama dalam kesukaran, dan membalasnya dengan kebajikan; (7) Berani menegur jenderal dan panglima perang, jika yang terakhir ini memang menyalahi perintah dan undang-undang; (8) Jangan terlalu banyak makan dan tidur, sebab banyak makan dan tidur merupakan sumber bencana; (9) Tidak gemar main perempuan, sebab gemar akan perempuan bukanlah tanda orang berbudi; (10) Raja sebaiknya laki-laki, sebab perempuan lebih suka memerintah di belakang layar dan sering menurutkan emosi dibanding pertimbangan akal sehat. Perempuan dapat dijadikan raja apabila tidak ada pemimpin laki-laki yang patut dirajakan, asal saja dijaga jangan sampai mendatangkan fitnah (TS 63-4).

Uraian yang menarik dalam kitab ini ialah tentang akal atau budi, serta kedudukan akal dalam kehidupan manusia. Disebutkan bahwa dalam bahasa Arab, akal (al-`aql) dikiaskan sebagai gua yang terletak di atas bukit yang tinggi dan sukar dicapai. Untuk menerangkan kedudukan akal, Bukhari al-Jauhari mengutip sebuah hadis qudsi dan mmenerangkankisah raja Nusyirwan I, maharaja Persia dari Dinasti Sassan abad ke-6 M yang selain dikenal adil. Selain itu dia mencintai ilmu pengetahuan dan mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Nusyirwan I juga dicintai oleh rakyatnya karena tidak seperti raja-raja Parsi lain yang membebani rakyat dengan pajak yang tinggi. Nusyirwan menetapkan pajak yang ringan bagi rakyat kebanyakan. Juga berbeda dengan raja-raja Parsi sebelumnya yang sibuk berperang untuk meluaskan wilayah kerajaan, Nusyirwan lebih senang menyibukkan diri membangun lembaga pendidikan dan pusat kegiatan ilmiah.

Apa saja tanda-tanda seorang raja yang berakal budi dan selalu bertindak berdasarkan pertimbangan rasionya? Bukhari antara lain menyebutkan sebagai berikut: (1) bersikap baik terhadap orang yang berbuat jahat, berusaha menggembirakan hatinya dan mengampuni bila benar-benar bertobat; (2) Rendah hati kepada orang yang berkedudukan lebih rendah dan hormat kepada orang yang martabat, kepandaian dan ilmunya lebih tinggi; (3) Mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan cekatan pekerjaan yang baik dan perbuatan terpuji; (4) membenci pekerjaan yang keji, perbuatan jahat, segala bentuk fitnah dan berita yang belum tentu kebenarannya; (5) Senantiasa menyebut nama Allah dan meminta ampunan dan petunjuk kepada-Nya, ingat akan kematian dan siksa kubur; (6) Mengatakan apa yang benar-benar dilihat dan diketahui, sesuai tempat dan waktu; (7) Dalam kesukaran selalu bergantung pada Allah s.w.t.

Dengan mengutip Imam al-Ghazali, Bukhari al-Jauhari mengatakan bahwa

kedudukan akal dalam tubuh manusia seperti raja dalam sebuah negeri. Sebuah negeri akan baik apabila raja yang memerintah melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin yang adil, arif dan ihsan, yaitu menggunakan akal budinya dengan sebaik-baiknya (TS 168). Raja yang adil, arif dan ihsan memenuhi lima syarat: (1) Memiliki ingatan yang baik (hifz); (2) Memiliki pemahaman yang benar atas berbagai perkara (fahm); (3) Tajam pikiran dan luas wawasan (fikr); (4) menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk semua lapisan dan golongan masyarakat; (5) Menerangi negeri dengan cinta dan kasihsayang (nur).

Sebuah negeri diibaratkan sebagai manusia. Di situ raja merupakan akal budinya. Menteri-menteri ialah keseluruhan pertimbangan berdasarkan pikiran dan hati nurani, yang dilakukan melalui musyawarah; pesuruhnya (para pegawai) ialah lidah; suratnya ialah kata-katanya yang tidak sembarangan dan tidak menimbulkan fitnah (TS 126).

Fasal terpenting dalam kitab ini ialah fasal 6 yang membicarakan keadilan, karena keadilan merupakan tema sentral. Bukhari menghubungkan keadilan dengan adab dan Ulil Albab. Dia mengutip al-Qur’an, Surah al-Nahl ayat 90, “Inna`l-Lahu ya`muru bi`l-`adl wa’l-ihsan” – Sesungguhnya Allah ta`ala memerintahkan berbuat adil dan ihsan. Adapun adil ialah benar dalam pekerjaan/perbuatan dan perkataan, sedangkan ihsan ialah kebajikan dalam berbuat, bekerja dan berkata-kata. Hadis Nabi juga menyebutkan bahwa adil itu tanda kemuliaan agama, sumber kekuatan seorang raja dan pangkal kebajikan insan.

Raja yang adil merupakan rahmat Tuhan yang diberikan kepada masyarakat yang berima. Di sini dia mengutip hadis yang maksudnya, ”Raja yang tidak mencintai rakyatnya akan terhalang memasuki pintu syurga dan mengalami kesukaran untuk meraih rahmat Allah.’’ Dalam fasal sebelumnya hadis ini dikaitkan dengan konsep raja yang ideal. Raja yang ideal memimpin kaumnya dan memerintah kerajaan untuk tujuan spiritual, bukan semata untuk tujuan mateial. Contohnya Nabi Musa a.s., Nabi Sulaiman a.s, Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Sebagai seorang zahid atau asketik dalam arti sebenarnya mereka rela berkurban dan tidak menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk harta dan makan kenyang (TS 52-3). Apabila dirujuk pada fasal 1, 2 dan 3, yang dimaksud adil ialah sikap yang benar terhadap Tuhan, diri sendiri dan manusia lain serta dunia

Bilamana kedua hal itu, yakni adil dan ihsan itu, terdapat pada manusia

maka baik adanya, dan bila ada keduanya dimiliki seorang raja maka lebih baik lagi (TS 67). Adil adalah tanda kemuliaan sekaligus sumber kebajikan. Kata Bukhari, ”Raja itu umpama nyawa dalam tubuh, apabila nyawa bercerai dari tubuh nisacaya tubuh binasa” (TS 68). Ini dapat ditafsirkan bahwa raja harus menyatu dengan rakyatnya dan tidak terasing dari rakyatnya. Caranya ialah dengan memberikan perhatian penuh pada nasib rakyat serta menjalankan pemerintahan secara adil dan benar.

Raja yang adil tidak akan pernah mau membesarkan dirinya, karena orang yang suka membesarkan diri akan dimurkai oleh Tuhan dan kesombongannya akan membuat akal pikirannya tidak berkembang. Jika akal pikiran seseorang tidak berkembang, maka ia tidak akan bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah (TS 91). Kata Bukhari lagi, “Hendaklah raja yang menjunjung keadilan dan hukum itu lemah lembut perkataannya, manis mukanya, namun keras hukumannya kepada orang jahat dan perbuatan jahat” (TS 94).

Mengenai hubungan keadilan dengan kemakmuran dan kesadaran hukum masyarakat, dikatakan, “Bahwa apabila rakyat sentosa, negeri akan makmur. Apabila negeri makmur, banyaklah amal saleh dilakukan oleh manusia bagaikan pohon yang ditanam pada tempatnya.” Raja sempurna karena memiliki tentara yang kuat, tentara kuat karena berharta dan harta kekayaan sempurna apabila bisa dinikmati rakyat banyak dan rakyat sempurna karena rajanya adil dan insaf (TS 104). Pandangan Bukhari ini dapat dihubungkan dengan teori Ibn Khaldun tentang peradaban dan kebudayaan. Menurut Ibn Khaldun peradaban atau kebudayaan suatu kaum akan berkembang jika ada sebuah negara yang makmur dan dilandasi oleh solidaritas yang kuat.

Menurut Ib Khaldun lagi, “Kebudayaan atau hadharah ialah kondisi-kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan. Hanya dengan adanya negara yang makmur dan diperintah dengan adil kebudayaan akan tumbuh subur dan berkembang maju. Pada gilirannya kebudayaan dalam arti sebagai aspek batin dari peradaban, yaitu pandangan hidup, sistem nilai dan gambaran dunia (Weltanschauung), merupakan dasar pandangan hidup sebuah negara. Dengan adanya landasan itu sebuah kerajaan atau negara akan memiliki tujuan kerohanian yang jelas, yang menjamin berkembangnya nilai-nilai kehidupan yang tinggi (Muqaddimah 168).

Dalam fasal 9 Bukhari membicarakan perbuatan aniaya dan kaitannya dengan pekerti raja yang zalim. Fasal ini dimulai dengan kutipan dari al-Qur’an, Surah al-Mu`min ayat 52, yang menyatakan bahwa pada hari kiamat kelak hukuman terberat akan diterima oleh raja-raja yang zalim. Kemudian Bukhari mengutip Hadis Nabi, “Dua golongan dari umatku yang tidak memperoleh syafaatku pada hari kiamat ialah raja yang zalim dan kedua orang yang melampaui batas sehingga menyimpang dari jalan agama.” Lagi Hadis Nabi yang dikutip, “Lima orang yang sangat dimurkai Allah ialah, pertama raja yang aniaya; kedua penghulu yang menyimpang; ketiga, orang yang tiada mengajarkan agama kepada keluarganya; keempat, orang yang menganiaya istrinya dan merampas hak-haknya; kelima, menistakan anak yatim piatu” (TS 109-10).

Dalam fasal 10 dibicarakan syarat-syarat menjadi menteri dalam sebuah kerajaan. Hal ini penting dikemukakan karena menteri merupakan salah satu soko guru kerajaan. Menteri yang dimaksud ialah menteri yang berwibawa dan bijaksana. Tiga soko guru lainnya ialah: Pertama, panglima perang yang berani dan mulia, yang memelihara dengan sungguh-sungguh para perajurit dan menjaga keamanan, ketertiban dan ketentraman rakyat, khususnya dari serangan tentara musuh; Kedua, pemegang kas negara yang jujur dan dapat dipercaya, senantiasa bersedia diperiksa dan menggunakan kekayaan negera untuk kepentingan khalayak luas; ketiga, adanya penyair berita yang benar, baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Berita yang simpang siur merugikan pemerintahan dan meresahkan masyarakat, karena mudah menimbulkan pergolakan. Begitu pula banyaknya informasi yang tidak jelas akan membuat jalannya pemerintahan tidak mantap (TS 109-21)

Bukhari menggaitkan runtuhnya sebuah kerajaan dengan perilaku raja yang zalim. Raja yang zalim lebih senang bergaul dengan orang bebal dan jahat. Dia tidak mau tahu keadaan rakyat yang sebenarnya. Dia merujuk pada Kitab Adab al-Mulk yang di dalamnya antara lain dikatakan bahwa sebuah kerajaan akan cepat runtuh, apabila selain karena rajanya bebal dan zalim, juga karena : (1) Raja tidak memperoleh informasi yang benar dan rinci tentang keadaan negeri yang sebenar-benarnya, dan hanya menerima pendapat satu pihak atau golongan; (2) Raja senang melindungi orang jahat, keji, bebal, tamak dan pengisap rakyat; (3) Pegawai-pegawai raja senang menyampaikan berita bohong, menyebar fitnah, membuat intrik-intrik yang menyulut konflik (TS 73).

Pandangan ini tidak berbeda dengan pandangan Ibn Khaldun, yang bependapat bahwa suatu peradaban dan dengan sendirinya sebuah kerajaan akan runtuh jika kejahatan dan ketidakadilan merajalela.

Akhir Kalam

Dari apa yang telah dipaparkan nyatalah bahwa negara yang dicita-citakan oleh Bukhari adalah sebuah negara hukum berdasarkan etika politik Islam. Dalam negara seperti itu diperlukan adanya lembaga qadhi atau kehakiman yang berperan sebagai pemelihara dan penegak undang-undang. Secara panjang lebar hal ini dijelaskan oleh Bukhari secara terpisah dalam beberapa fasal bukunya. Menurutnya keadilan tidak ada artinya apa-apa dan akan bersifat sementara apabila tidak didasarkan pada hukum yang dijunjung tinggi oleh raja, pembantu raja, pegawai kerajaan, para penegak hukum dan segenap lapisan masyarakat. Hukum dan adab pemerintahan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara disebabkan hal-hal seperti berikut:

Pertama, kebanyakan manusia itu cenderung pada kejahatan dibanding pada kebaikan. Orang yang baik dan cenderung pada kebaikan itu tidak banyak, apalagi dalam sebuah negeri yang baru tumbuh dan masyarakatnya majemuk. Orang yang baik tidak ada gunanya dan malah mudah terbawa pada kejahatan apabila tidak ada jaminan hukum yang pasti. Tanpa supremasi hukum kejahatan akan semakin bertambah-tambah dan negara akan mudah mengalami disintegrasi.

Kedua, seorang raja atau pemimpin negara serta menteri-menteri dan para pegawainya tidak dapat menjalankan tugas dan pekerjaan dengan baik tanpa landasan hukum yang jelas. Apabila raja berbuat tanpa dasar hukum yang jelas, maka rakyat akan cenderung melihat perbuatan itu berdasarkan pertimbangan pribadinya semata-mata, dan dengan demikian mudah untuk tidak mematuhinya.

Ketiga, hukum diperlukan sebagai tolok ukur untuk menilai adil tidaknya seorang raja dan pemimpin, serta dapat menghindari kecenderungan perbuatan yang sewenang-wenang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan akan cenderung berbuat sesuka hati untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Tetapi hukum yang dimaksud ialah hukum yang didasarkan pada syarak dan kitabullah.

Menurut Bukhari segala orang jahat tidak akan berbuat sekehendak hati apabila hukum benar-benar ditegakkan. Dan tidak berguna pula segala orang yang baik di negeri itu apabila di sekelilingnya kejahatan merajalela. Pelaksanaan hukum secara ketat dan keras memungkinkan orang jahat mengendalikan niatnya untuk berbuat jahat. Dengan demikian orang-orang baik dan rakyat akan dapat melakukan tugas, pekerjaan dan pengabdian dengan baik dan ikhlas.

Buku ini juga relevan bukan karena menekankan pentingnya berbagai disiplin ilmu, dalam hal mengatur pemerintahan dan dalam hal mengenal manusia. Tidak mungkin seorang pemimpin dapat mengatur pemerintahan dengan baik, tanpa mengenal dan memahami manusia. Ada empat macam ilmu atau metode dalam mengenal manusia: (1) Ilmu nubuwah, yaitu ilmu yang didasarkan atas petunjuk al-Qur`an dan Hadis; (2) Ilmu wilayah, yaitu ilmu yang didasarkan atas falsafah dan tasawuf; (3), Ilmu hukum, yaitu ilmu yang didasarkan atas syariah, fiqih, dan usuluddin; (4) Ilmu qiafah dan firasat, yaitu ilmu yang dikembangkan berdasarkan atas perangai, tabiat dan sifat-sifat yang ada pada manusia dan tanda-tanda lahirnya. Ilmu seperti termasuk bidang psikologi kerohanian.

Pembahasan tentang keempat ilmu tersebut diletakkan menjelang bagian akhir kitab, yaitu fasal 18 dan 19. Fasal-fasal ini berperan sebagai petunjuk bagi seorang raja atau pemimpin dalam melakukan hubungan dengan orang lain untuk berbagai kepentingan. Demikianlah, dilihat dari berbagai aspeknya, kitab ini masih relevan bagi kita sekarang.


Daftar Pustaka:

Abdul Hadi W. M. (2000). Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka

Firdaus.

———————- (2002). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Atas Karya-karya

Hamzah Fansuri. Jakarta: Yayasan Paramadina.

Ahmad Daudy (1982). Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar-Raniri.

Jakarta: CV Rajawali.

Ali Hasymi (1987). “Naskhah-naskhah Tua Menyimpan Alam Fikiran Melayu

Lama: Sebuah Studi Tentang ‘Sfainatul Hukkam’”. Dalam Cenndekia Kesusasteraan Melayu Tradisional. Ed. Siti Hawa Haji Saleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Hal.254-79.

————– (1995). Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Al-Attas, S. Muhammad Naquib (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala

Lumpur: University Malaya Press.

Brakel, L. F. (1969-70). “Persian Influence on Malay Literature ». Dalam Abr.

Nahrain.Jil. 9 :9. Hal. 407-426.

Braginsky, V. I. (1998). Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam

Abad 7 – 19 M. Jakarta: INIS.

Browne, Edward G. A. (1976). A Literary History of Persia. 4 vols. Cambbridge:

Cambridge University Press.

Collins, James (1993). ”Bahasa Melayu Di Batas Zaman : Renungan Sejarah, Ramalan

Arah”. Kertas kerja Hari Sastra 1993, Shah Alam Selangor, Malaysia 4 – 7 Juni.

De Holander (1984). Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu. Jakarta: Balai Pustaka-ILDEP.

Doorenbos, Johann (1933). De Geschriften van Hamzah Pantsoeri.Leiden: NV VH Batteljes

& Terpstra.

Drewes, G. W. J. Dan Brakel, L. F. (1986). The Poems of Hamzah Fansuri. Dordrecht-

Holland/Cinnaminson-USA: Foris Publications.

Hill, A. (1960). ‘Hikayat Raja-raja Pasai: A Revised Romanized Version with an English

Translation”. JMBRAS 33, 2:1-215.

Hooykaas, C. (1947). Over Maleische Literatuur. Leiden: E. J. Brill.

Hussein Djajadiningrat (1979). Kesultanan Aceh (Suatu Pembahasan Atas Bahan-bahan

yang Tertera Dalam Karya Melayu tentang Sejarah Kesultanan Aceh). Alih bahasa

Teuku Hamid. Banda Aceh: Proyek Rehabilisasi dan Perluasan Museum Aceh..

Ibrahim Alfian (1999). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat

Dokumentasi dan Informasi Aceh.

Ismail Hussein (1987). ”Tun Seri Lanang dan Sejarah Melayu”. Dalam Tokoh-tokoh

Sastera Melayu Klasik. Ed. Mohamad daud Mohamad. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Hal. 119-24.

Jones, R. (1987). Hikayat Raja-raja Pasai. Petaling Jaya: Fajar Bakti.

Jumsari Jusuf (1979). Tajussalatin. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kern W. (1956) Commentaar op de Salasilah van Kutai. `s-Gravenhage: Martinus

Nijhoff (KITLV, VKI 19)

Khalid Hussain (1966). Tajus Salatin. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Lombard, Denys (1986). Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda, 1607-1636. Alih

bahasa Winarsih Arifin. Jakarta: Balai Pustaka.

Mahayudin Hají Yahaya (2000). Karya Klasik Melayu Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa

dan Pustaka.

Othman Mohd. Yatim dan Abdul Halim Nasir (1990). Epigrafi Islam Terawal di Nusantara.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Carey, P. B. R. (1972). “The Javanese Messiah”. Dalam Orientations. December 1972:53-

8.

S. W. Rujiati Mulyadi (1983). Hikayat Inderaputra, A Malay Romance. Dordrecht:

Foris Publications.

Teuku Iskandar (1965). “Bukhari al-Jauhari dan Tajus Salatin”. Dalam Dewan Bahasa 9, 3

Mac.: 107-13.

Winstedt, R. O. (1920). ”Malay Woorks Known to Werndly in 1736”. JMBRAS 82,:163-5.

—————— (1938). The Malay Annals or Sejarah Melayu” JMBRAS 16, 3:1-

225.

—————— (1969) A History of Classical Malay Literature.Kuala Lumpur: Oxford

University Press.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.979 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: