1 Komentar

DASAR FILOSOFIS PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

DASAR FILOSOFIS PSIKOLOGI

TRANSPERSONAL

ARMAHEDI MAHZAR, M.Si

 

Kuliah ke enam Psikologi Transpersonal adalah mencari tentang landasan filosofis ilmiah bagi psikologi transpersonal. Dalam tradisi-tradisi mistik, pengalaman spiritual dikaitkan dengan adanya alam gaib yang berada di luar alam sesmesta. Secara empiris alam gaib itu belum pernah dibuktikan ke keberadaannya. Oleh sebab itu untuk menerangkan adanya pengalaman-pengalaman psikologis yang dialami para santo, wali, sidhi, shaman dan para bijaksanawan dari berbagai bangsa, dan juga dialami oleh para pemakai obat-obatan psikoaktif serta pelaksana teknik pernafasan holotropik yang dikembangkan oleh Stanislaf dan istrinya Christina Grof, diperlukan sebuah filsafat ilmiah yang tidak menyepelekan dan mereduksi pengalaman-pengalaman itu sebagai gejala penyakit jiwa. Filsafat baru itu bersumber pada penemuan-penemuan sains mutakhir.

Satu cara untuk menyusun filsafat baru itu adalah dengan menolak asumsi-asumsi filosofis sains modern tanpa membuang teori-teori sains yang telah dibuktikan secara empiris. Misalnya kita dapat mengambil posisi empirisme radikal yang telah dikembangkan oleh William James, salah seorang pelopor psikologi transpersonal di awal abad 20. Empirisme radikal menerima pengalaman batin yang subyektif sebagai pelengkap bagi pengalaman indrawi yang menjadi landasan empirisme positivistik. Empirisme radikal ini adalah salah satu pilar dari filsafat ilmiah yang ingin dikembangkan. Radikalisme empiris adalah landasan epistemologi holistik. Pilar-pilar lain adalah ontologi dan aksiologi holistik.

FILSAFAT HOLISME

Ontologi holistik menerima dimensi imaterial sebagai aspek pelengkap bagi dimensi material realitas. Materi itu bukanlah substansi realitas. Substansi sebenarnya adalah proses. Materi-energi adalah aspek energetik dari realitas proses dan Pikiran-kesadaran adalah aspek informatiknya. Yang informatik dan yang energetik tak bisa dipisahkan satu sama lainnya saling melengkapi dalam aktualisasi dari proses yang real. Dalam metafor yang modern keduanya mirip dengan software dan hardware sebuah komputer. Dalam bahasa tradisional realitas lebih merupakan sebuah pasangan Yin dan yang dalam pemahaman Taoisme, atau merupakan pasangan Purusha dan Prakitri dalam pemahaman Hinduisme.

Realitas proses yang dimaksud adalah proses semesta yang evolusioner. Evolusi biologis, sejarah peradaban dan perkembangan psikologis tak lain dari aktualisasi dari proses evolusi semesta. Proses evolusi semesta berasal dari fluktuasi kehampaan kuantum yang pada dasarnya adalah lautan energi tak berhingga. Di permukaan samudra energi terdapat riak-riak kreasi dan anihilasi partikel-partikel fundamental quark/antiquark dan lepton/antilepton. Entah kenapa terjadi sebuah perusakan simetri: partikel lebih banyak dari antipartikel. Maka ketika semua antipartikel menganihilasi diri dan partikel pasangannya, maka tersisalah sejumlah partikel yang kemudian meledak menjadi dentuman besar penciptaan alam semesta yang kita huni.

Serangkaian perusakan simetri menghasilkan keanekaragaman penghuni jagatraya ini dari galaksi yang sangat besar hingga amuba yang sangat kecil dan kita manusia yang sedang sedang saja. Rangkaian perusakan simetri yang baru lewat kita kenal sekarang sebagai evolusi biologis. Yang lebih baru adalah evolusi sosioteknologis yang kita kenal sebagai sejarah peradaban. Di tengah evolusi sosio teknologis terjadi evolusi psikospiritual yang kita kenal sebagai tumbuh-kembang individu manusia. Tapi sayangnya evolusi psikospiritual itu dipotong oleh sains modern bernama psikologi dengan membuang perkembangan spiritual dari tumbuh kembang manusia. Sebenarnya hal ini dapat dimengerti karena sains modern telah membuang Tuhan serta semua yang supernatural.

Akan tetapi rangkaian perusakan simetri yang dianggap sebagai rangkaian kebetulan tanpa sebab-musabab tak dapat dijelaskan oleh sains modern. Lainnya yang tak bisa diterangkan sains modern adalah kenyataan bahwa adanya rangkaian perusakan simetri itu menghasilkan proses evolusi dengan produk-produk yang semakin terpadu, mandiri, otonom, dan semakin sadar diri. Satu penjelasan yang filosofis posmodern adalah melihat alam semesta sebagai sarana dari kesadaran semesta untuk menyadari dirinya sendiri. Misalnya dentuman besar sebagai perusakan simetri pertama tak kan diketahui jika tak ada astronomi yang menggunakan instrumen instrumen non-optik yang berdasarkan penemuan penemuan fisika sebagai pelopor sains modern.

Memang fisika yang mekanistik itu filsafat yang mendasarinya selama ini telah menjadi model bagi sains-sains modern lainnya, baik secara epistemologis maupun secara ontologis dan aksiologis. Misalnya, secara epistemologis sains modern membuang intuisi dan perasaan sebagai sumber-sumber pengetahuan yang obyektif dan menyisakan indra sebagai sumber pengetahuan dan akal sebagai penata pengetahuan indrawi melalui teori-teorinya. Selanjutnya, secara ontologis, mereka membuang Tuhan yang tak bisa diindrai serta makhluk-makhluk gaib lainnya. Jika toh ada manusia yang merasa menjumpai yang gaib itu, maka hal itu dianggap halusinasi yang subyektif belaka. Secara aksiologis sains modern menganggap dirinya bebas nilai sehingga psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya dianggap bebas nilai.

PENGARUH INFORMATIKA

Namun belakangan, muncul sebuah cabang sains baru yang disebut informatika yang bukan mempelajari mekanisme, tetapi algoritma yang merupakan struktur dalam dari program-program komputer yang, berkat kemajuan fisika, bertambah lama bertambah canggih. Berbeda dengan mekanisme yang membicarakan masalah sebab akibat, algoritma membicarakan tujuan cara. Oleh sebab itu, dunia ilmu-ilmu sosial kemudian yang membicarakan dan masyarakat yang pada dasarnya bergerak berdasarkan cara dan tujuan mulai melirik dunia komputer sebagai model. Belakangan, biologi pun harus melirik dunia informatik setelah menemukan bahwa DNA sebagai molekul fundamental kehidupan ternyata berisi informasi dan program di dalam semua makhluk hidup di muka bumi. Bahkan penelitian di Rusia menunjukkan bahwa DNA itu adalah sebuah nanokomputer biologis produk evolusi prabiologis. Bahkan, seorang fisikawan Stephen Wolfram membuat sebuah hipotesa bahwa alam semesta dan semua bagian-bagiannya, kecil dan besar adalah komputer raksasa yang terdiri dari komputer-komputer kecil

Melihat semua itu banyak psikolog yang kemudian membebaskan dirinya dari pukauan sains modern yang mekanistik dan berpaling ke informatika yang algoritmik. Sementara itu justru seorang fisikawan gardu depan yang ingin menyatukan teori gravitasi dan teori kuantum, Roger Penrose, mempertimbangkan suatu teori yang non-algoritmik. Bahkan dia berspekulasi bahwa kesadaran sebagai fungsi otak juga bekerja secara non-algoritmik. Dengan demikian sebagian dari para psikolog  kembali mengambil konsep psikhe sebagai konsep sentral bagi psikologi. Dalam pandangan ini psikhe adalah pasangan dari soma yang merupakan dua aspek fundamental dari individu manusia. Karakterisitik psikhe adalah kesadaran baik yang aktual maupun yang potensial yang selama ini disebut sebagai ketidaksadaran. Sementara itu, filsafat holisme yang panpsikis, yang melihat bahwa segala sesuatu dari yang terkecil seperti partikel elementer hingga yang terbesar yaitu alam semesta sebagai, memiliki psikhe yang mempunyai tingkat-tingkat kesadaran yang berbeda-beda, menjadi populer kembali di abad 21.

Tingkat-tingkat kesadaran ini sesuai dengan tingkat-tingkat pengaturan diri dari bagian-bagian jagatraya itu. Pengaturan diri ini kini lebih dikenal sebagai swa-organisasi. Fritfof Capra seorang fisikawan yang telah membebaskan dirinya dari belenggu materialisme mekanistik, misalnya, melihat evolusi semesta sebagai rangkaian pemunculan tingkat-tingkat swa-organisasi dari yang inorganik lewat yang organik menuju yang humanistik. Bahkan para pemikir dunia cyber mutakhir telah memikirkan adanya era transhumanistik, di mana pikiran-pikiran manusia bersatu dengan program-program mesin membentuk satu kesatuan berupa kesadaran global yang akan menjadi kesadaran diri dari organisme raksasa Gaia yang melihat biosfera sebagai naluri kehidupan bumi dan geosfera sebagai tubuhnya. Sebagai konsekuensi logis, maka di masa depan tidak tertutup kemungkinan kesadaran transhuman itu berkembang dari menjadi kesadaran astrosferik, galaktosferik dan seterusnya. Kesadaran-kesadaran prahuman dan transhuman itu tersembunyi sebagai ketaksadaran kolektif transpersonal yang teraktualisasi secara parsial dalam pengalaman-pengalaman yang disebut grof sebagai pengalaman holotropik..

Begitulah dalam dalam kuliah psikologi transpersonal ini kita tidak mengambil pandangan dua dzat yang tradisional premodernis, ataupun pandangan saintisme modernis tentang satu dzat materialistik, maupun pandangan holistik posmodernis satu dzat dengan dua sifat dasar: kesadaran dan kekuatan. Dalam kuliah ini, karena kita menganut Pancasila, kita melihat pandangan holistik ini masih parsial karena meninggalkan yang transenden yaitu Tuhan yang Maha Esa. Karena itu kita akan mengambil sudut pandang integral yang melihat kesadaran dan kekuatan sebagai imanensi sifat-sifat Kemahamengetahuian dan Kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan alam semesta dan pada suatu waktu akan menghancurkannya. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman transpersonal atau pengalaman holotropik itu tak lain dari aktualisasi kesadaran alam semesta yang selama ini berfungsi sebagai ketidaksadaran kolektif dalam diri  manusia dan lingkungannya. Dengan pandangan seperti ini, diharapkan kita memiliki sebuah sudut pandang ilmiah yang tidak merendahkan pengalaman-pengalaman subyektif para shaman, santo, sufi, sidhi dan mistikus pada umumnya. karena kita mengakui bahwa sains bukanlah pengetahuan obyektif yang mutlak, melainkan sebuah pengetahuan intersubyektif nisbi yang berkembang semakin lama semakin mendekati kebenaran obyektif dan interobyektif. ,

 

About these ads

One comment on “DASAR FILOSOFIS PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

  1. Leonardo Rimba wrote :

    Selama ini kebanyakan tulisan dengan warna agama mendasarkan argumennya pada logika belaka; penalaran berdasarkan prinsip induksi deduksi dan penelusuran arti dari ajaran agama.

    Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, walaupun barangkali cara itu tidak familiar. William James, seorang perintis psikologi dari Amerika Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia satu abad dan berjudul “Varieties of Religious Experience” (sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) berusaha mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu, dan bukan manusia sebagai kelompok angka-angka statistik belaka atau manusia sebagai pembuat rekor output industri. Manusia sebagai manusia.

    William James melihat bahwa agama (religi) hanya berarti apabila dialami sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan “Tuhan” telah beraksi secara konkrit dalam kehidupan pribadi seorang penganut agama.

    Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argumen yang ada hanya berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu saja jawabnya tidak ada. Sama saja dengan bertanya agama mana yang paling salah. Jawabnya tetap, tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan manusia. Konsepsi belaka. “Tuhan” juga adalah konsepsi belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang per orang.

    Menurut James, ajaran agama atau religi adalah suatu wadah dialog antara penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai “Tuhan”. Harus ada dialog berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka yang terjadi adalah seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti menggunakan buku penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo di belakangnya. Hasilnya seperti apa tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa juga tidak diketahui. Paling jauh orang itu hanya akan membuka buku lain lagi untuk memperoleh jawabnya, atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. Inilah situasi di Indonesia.

    William James di dalam bukunya melihat bahwa ada dua macam manusia penghayat keagamaan; yaitu: manusia yang lahir dua kali (twice born), dan manusia yang lahir satu kali saja (once born).

    Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman relijius traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga akan dimengerti oleh orang lain juga. Narasi akan berupa deskripsi tentang hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya penuh bahwa “Tuhan” memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di hidupnya.

    Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti yang dialami oleh sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu kata penuh makna yang terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek.

    Manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami pengalaman relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa merasa perlu adanya intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa perlu adanya intervensi yang benar-benar terasakan bahwa “Tuhan” berbicara kepada subyek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain. Karena tidak ada keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara pribadi, maka kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama hidupnya. Memang relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada yang istimewa, semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup seperti apa adanya. Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih Mereka yang mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal dari kalangan Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal dari kalangan Katolik. Itu menurut penelitian William James dengan kesaksian-kesaksian tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya itu.

    Mereka yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa berubah total setelah bertemu “Tuhan”. Bisa menjadi seorang yang taat beragama walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal luar biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. Tetapi mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja selama hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan bukan pengalaman pribadi bertemu dengan “Tuhan” dalam suatu ruang dan waktu tertentu.

    Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir satu kali saja. Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang mengalami sentuhan “Tuhan”, yang memiliki pengalaman relijius traumatik sehingga tidak lagi tergoyahkan di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar walaupun semua orang lain tidak percaya.

    Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu pengalaman relijius dalam arti orthodoks konvensional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahiran dua kali melalui pengalaman relijius traumatik adalah pengalaman pribadi yang berada di luar jangkauan kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu genuine, asli, dan itulah yang berarti besar secara rohaniah karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan keyakinan orang itu.

    Kalau yang lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan. Yang mencari “Tuhan” kesana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut William James.

    Leo
    Milis Spiritual Indonesia .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.956 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: