6 Komentar

Kota Suci Qom di Iran: Kota Sejuta Ulama-Pejuang Islam.

Qom duapuluh tiga juli 2004

by Saleh Alatas

Jam ditangan seolah meniru onggokan batu yang nampak dari kaca jendela disana, diam dan tak sedikitpun bergerak mempercepat langkah kesabaranku yang mulai terantuk. Berkali-kali aku menyeka keringat yang mulai deras membasahi kening dan tubuhku, kutatap padang yang luas dan membisu ada nadi disana bisikku, ada yang berbicara tapi tanpa kata.

Aku mencoba bergerak sedikit dari tempat dudukku semula, sedikit menjauh dari celah kaca jendela yang sedari tadi menyelinapkan udara panas yang sepertinya sengaja menyapa kedatanganku dengan caranya yang tak lazim ini. Jalan tol yang lurus yang menghubungkan kota bersejarah Qom dan Tehran ini terus saja diguyur sengatan matahari yang tak pernah sudi berhenti. Inilah dua tiga juli empat setengah tahun yang lalu kali pertama aku menginjakkan kakiku ditanah para Mulla ini.

Jam didinding mobil mulai bergeser bersamaan dengan munculnya kotak-kotak kecil dari kejauhan yang semakin dekat membuat aku sadar bahwa kotak ini adalah sekumpulan rumah, yang menandakan pula bahwa sebentar lagi aku akan memasuki pintu gerabang kota yang telah lama aku rindukan.

Benakku saat itu seperti pasar swalayan yang menjajakan apa saja, semua tumpah ruah menjadi satu, emosiku terkerat habis tak tahu lagi apa yang harus aku haturkan pertama kalinya nanti didepan pusara suci Sayidah Fatimah Maksumah wanita suci dari keluarga Nabi ini.

Hari itu memang aku tak sendiri, disamping kanan kiriku adalah teman-teman seangkatanku yang tiba dengan pesawat yang sama, namun hatiku berbicara lain dia tak ingin aku larut dengan tawa dan canda yang lain. Sesekali aku menatap wajah sayu gaetku saat itu, dia Ust yang telah lama aku kenal paling tidak buat diriku sendiri. Ust Abdullah Beik. sengaja aku sebut namanya dikolom ini setidaknya sebagai ucapan terima kasih dan penghargaanku yang dalam kepadanya, beliau sosok yang Ust teladan dimataku.

Qom nama yang telah lama aku dengar, nama ini mengingatkanku pada sebuah momentum bersejarah yang membuka mata dunia betapa kekuatan Iman adalah penggerak sejati sebuah sejarah.

Perlahan hatiku sayup bertanya, seperti apa kota keramat ini. Bagaimana model dan tata kehidupannya, tapi sebelah hatiku yang lain enggan mengerti dia terus membisu menyelubungkan rasa ingin tahuku dengan tirai misteri, aku mamaksanya terus untuk berandai tapi kesadarnku tak kunjung juga menghadirinya. Uuh sergahku, kesadarnku memaksa aku untuk tetap bersabar,

Bus yang kutumpangi kini memperlambat laju kecepatannya, ada sesuatu bisikku. Oh! Benar kini aku berada diujung akhir jalan tol, Jantungku seolah tahu dimana kini roda mobilku perlahan menepi dia berdegub dengan kencang seolah memberikan isyarat tambahan bagi kesadaranku bahwa dunia baru menantikaku diujung sana. Rasa terharu berurai menjadi satu dengan tetes peluh mata yang tak terasa jatuh menetes dipangkuanku.

Aku mulai makin khidmat memandang sebelah kanan dan kiri jalan yang mulai bercabang-cabang sesekali ust beik memberi secuil isyarat ini dan itu tapi tetap saja itu tak berlaku buat hatiku, hatiku seolah tak mau ditemani dia menerawang sendiri mengajak kesadaranku terbang melayang.

Jalan sedikit rindang disebelah kiri tempatku duduk, ketika telunjuk Ust Beik mengarah ke satu menara yang tinggi kekuningan, ‘itu makam sayidah maksumah’ katanya penuh perhatian.. Oh!! Akupun tak henti memandang dan mencari celah penglihatan diantara bangunan rumah tinggi yang menghalangi penglihatanku. Namun sesaat kemudian aku kehilangan menara hatiku itu.

Semula aku menduga kota Qom adalah senirai kota tua yang kecil, kota gurun yang jauh dari modernitas, kota santri yang ogah dari kemajuan. Kota yang terlelap tidur oleh buaian angin gurun yang garang , Tapi sangkaku ternyata keliru kota tua ini ternyata adalah kota besar yang maju, jalan-jalannya luas dan licin, sementara bangunan kotanya menunjukkan urat perekonomian yang bergeliyat.

Hari terus berjalan ketika nafas dan hatikupun mulai terbiasa manghirup udara mistik kota tua ini, akupun mulai terbiasa dengan lagak dan budaya masyarakat kebanyakan. Ada yang aku kagumi dan ada yang menyisakan senyum getir dibalik kehidipan baru yang aku lakoni ini.

Pintu gerbang itu terkesan angker mirip seperti kisah-kisah tua dalam legenda masa lalu, atapnya tinggi menjulang dengan ornament khas Persia menghiasi desetiap detail yang garapnya. Bulukudukkupun mulai berdiri disaat Ust Beik membungkukkan badannya tanda ada takhmid dan salam penuh ketulusan, tak ada komando ketika itu ketika badankupun tiba-tiba melentur mengikuti sebuah aura mistik yang tak mungkin aku kendalikan.

‘kita telah sampai dimakam Syayidah Maksumah’ ooh! ya akupun seolah merasakan, aku telah tiba pada al-Haud telaga yang dijanjikan Tuhan disorga. Ditempat tinggi yang penuh berkah, ditempat Sang Nabi terakhir menjumpai sanak keluarganya yang Suci.

—– Original Message —-
From: shaleh al-attas s4leh <shaleh_ku@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Monday, August 4, 2008 9:57:06
Subject: [islamalternatif] QOM 23 JULI 2004

BERSAMBUNG

— On Mon, 8/4/08, Ali reza <abzay@yahoo. com> wrote:

From: Ali reza <abzay@yahoo. .com>
Subject: Re: [islamalternatif] QOM 23 JULI 2004
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Monday, August 4, 2008, 8:26 AM

Salam…

Posting yang satu ini layak dimuat di website persia-tour. com, heheheh…Senang juga menyimak cerita anda. Jadi pengin berziarah lagi nih!

Bang Saleh, kalo tidak salah, anda pernah memaparkan ulasan tentang kecintaan bangsa Iran terhadap Ahlul Bait as dengan latar belakang sejarah besar sekelas persepolis. Ulasan itu sangata mengesankan buat saya. Apakah anda punya ulasannya yang tertulis?

Kalo tidak salah, ulasan itu disampaikan di acara resmi HPI. Saat itu, saya dan teman-teman meminta anda untuk memberikan pencerahan. Kalo ada catatan secara tertulis, itu pasti mengesankan bagi temen-temen di milis ini, khususnya saya.

Pengagum shaleh al-attas s4leh

— On Tue, 8/5/08, Ahmad Samantho <ay_samantho@ yahoo.com> wrote:

From: Ahmad Samantho <ay_samantho@ yahoo.com>
Subject: Re: [islamalternatif] QOM 23 JULI 2004
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, August 5, 2008, 8:43 AM

Salam,

Akhina Saleh, cerita pengalamanmu yang dituturkan dengan bahasa yang indah itu, membuatku semakin rindu ingin kembali ke kota Suci Qom, karena rasanya ada yang belum tuntas ketika aku hanya 2 bulan berada di sana tahun lalu.

Akhina Saleh, sekiranya Antum masih di Qom, tolong titip sampaikan salamku kepada Syayidah Fatimah Ma’sumeh, kepada Al-marhum As-Syahid Murthada Muthahhari, Allamah Thabatabaei, Ayatullah Burujerdi dan tokoh-tokoh suci lainnya yang kini beristrirahat dengan tenang di sekitar makam Haram Ma’sumeh.

Juga Salam persahabatan buat semua mahasiswa Indonesia yang lagi Tafaquh fiiddiien di Qom.Mohon Doanya semua.

Al Faqir Ahmad Samantho

—– Original Message —-
From: afrianto nurdin <afriantho@yahoo. com>
To: islam_alternatif@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, August 5, 2008 13:28:30
Subject: Re: [islamalternatif] QOM 23 JULI 2004

Mohon pencerahan dan sharingnya tentang Makam sayyidah Fatimah maksumah as

apakah beliau di makamkan di Qom ? bisa dishare sumber literaturnya?

prie..

From:

To: islam_alternatif@yahoogroups.com

Saya tidak berniat untuk promosi. Tapi kebetulan, sejarah Qom dikutip dalam situs berikut ini, http://www.persia- tour.com/ htm/destinasi/ wisata/qom. htm

Mas Afrianto sepertinya berpikir bahwa Sayidah Fathimah Mashumah as itu Sayidah Fathimah Az-Zahra as. Ini hanya sekedar menduga dari kontek pertanyaan Mas Afrianto yang mengarah ke sana. Maaf, jika salah menduga. Sayidah Fathimah Mashumah itu bukan Sayidah Fathimah Az-Zahra. Sayidah Fathimah Mashumah yang dikubur di Qom adalah putra Imam Musa Al-Kadzim bin Imam Jafar As-Shodiq bin Imam Muhammad Al-Bagir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Hussein as bin Fathimah Az-Zahra as bintu Rasulullah Saww. Adapun makam Sayidah Fathimah Az-Zahra as hingga ini belum diketahui dan dirahasiakan hingga turunnya Imam Mahdi aj. Pernah ada salah satu ulama, jika tidak salah, ayah dari Ayatollah Marashi Najafi, bernazar ingin mengetahui makam Sayidah Fathimah Az-Zahra as. Sehari sebelum berakhirnya batas akhir nadzarnya, ia dalam mimpi didatangi oleh Sayidah Fathimah ( ada yang bilang didatangi Imam Ali as). Dalam mimpinya, Imam bilang, saya akan mengabulkan semua permintaan kamu, kecuali satu hal ini (mengetahui makam Sayidah Fathimah Az-Zahra as), karena itu rahasia Ahlulbait as. Tapi dalam mimpi itu, Imam memberikan alternatif atau penggantinya, yakni makam Sayidah Fathimah Mashumah bintu Imam Musa Al-Kadzim as. Semenjak itu, ayah Ayatollah Marashi berpindah ke kota Qom dari kota Najaf. Wallohu Alam.

Kota Qom itu memang sarang keluarga Rasulullah Saww. Dalam sejarah Abbasiyah disebutkan bahwa Qom adalah kota yang ditakuti oleh musuh-musuh Ahlul Bait. Konon, penguasa lalim, Makmun, putra Harun Ar-Rasyid, ketika memaksa Imam Ali Ar-Ridho as keluar dari kota Suci Madinah, memerintahkan pasukannya untuk tidak melewatkan beliau ke kota Qom. Sebab, kota ini adalah tempat basis para pendukung Bani Hasyim atau keluarga Rasulullah Saww. Bahkan ada sebauh analisa yang menyebutkan, jika Imam dilewatkan ke kota Qom dalam perjalanannnya dari Madinah ke Mashad atau Khurasan, akan terjadi revolusi. Ini menunjukkan bahwa Qom adalah kota pecinta Rasulullah Saww dan ahlulbaitnya dari masa- kemasa.

Ada yang menyebutkan bahwa ratusan putra Imam yang disebut dengan Imam Zadeh, bahkan hingga 400-an dikubur di kota Qom. Hal yang istimewa, Imam Jafar Shodiq as pernah berkata, “Bahwa sesungguhnya Allah Swt mempunyai haram atau tempat suci di kota Makkah, Rasulullah Saww di Madinah, Imam Ali as di Najaf, sedangkan kita (Ahlulbait) mempunyai haram di kota Qom, yang di sana bakal dikubur makam seorang putri yang bernama Fathimah as dari sulbi-ku.”

Bukanlah hal yang mengherankan, jika banyak ulama yang bersinggah di kota itu dan menjadikan Sayidah Fathimah Mashumah as sebagai sumber inspirasi. Disebutkan pula, Mulla Sadra, seorang filosof dan arif kaliber, seringkali berziarah di makam suci ini. Beberapa teori baru Mulla Sadra juga diakui terinspirasi dari makam suci tersebut.

Ahmad Samantho wrote:

Salam,

Mas Saleh, Mas Afrianto, Mas Ali Reza, dkk.

Mohon ijin, nostalgia dan info tentang Kota Suci Qom ini saya upload dan tambah gambar foto=fotonya, silah lihat di blog Bayt al-Hikmah : http://ahmadsamanth o.wordpress. com/2008/ 08/06/kota- suci-qom- di-iran-
kota-sejuta- ulama-pejuang- islam/#more-713

Sedikit cerita pengalamanku:

Dalam perjalanan pulang dari Isyfahan ke Qom menjelang Magrib, bus kami melesat di jalan tol super mulus, di mana Mesjid Jamkaran tampak di kejauhan, pandanganku menembus kaca jendela bus mencapai ufuk Barat saat mentari menjelang terbenam, pikiranku melayang jauh ke seberang ufuk, mega merah di balik awan yang Indah, perasaan takjub akan keindahan wajah Tuhan, tiba-tiba menyelinap rasa getir dalam benak kalbuku, nun di sebelah Barat Laut dari tempatku kini (Qom), saudara-saudaraku di Palestina dan Irak menderita terjajah Zionis Israel dan Amerika, Ya Allah… jerit batinku, tolonglah dan bantulah mereka melawan Dajal Zionis Israel dan Amerika, Segerakanlah datangnya Imam Mahdi al-Mutadzar, untuk memimpin kaum beriman meraih keselamatan dan kejayaan. Entah berapa menit pikiranku melayang mengenang nasib saudara-saudara seimanku di bumi Palestina, Irak dan Libanon. Tiba-tiba padangan mataku terpaku pada berkas cahaya mega merah di balik mosaik awan, cahaya mentari putih kemerahan yang menyelinap dari balik awan, membentuk sebuah kaligrafi maha indah, pingiran bawah awan kulihat seolah membentuk tulisan  kalimat-kalimat dalam entah bahasa Arab atau bahasa parsi, awalnya agak jelas, tampak seperti tulisan kalimat Bismillahi al-Rahman al-Rahim, tapi aku ragu apa benar yang kulihat itu cahaya mentari terbenam membentuk kaligrafi kalimat itu, atau kalimat ayat-ayat al-Qur’an lainnya, sampai cukup lama aku takjub memandanginya, sambil terus berzikir dan bertasbih memuji keagungan-Nya dan kebesaran-Nya. Setelah entah berapa menit, karena busku terus melaju kencang, rangkaian kalimat ayat-ayat suci itu memudar, tapi ada satu bayangan garis-garis cahaya yang agak lama tak berubah bentuknya huruf-huruf arab :“Allah”,

Subhanallah, jiwaku berguncang, perasaan dan pikiranku campur aduk, antara bahagia, gembira, sedih, takut dll, tak jelas, mungkin itulah ekstase jiwa. Sampai di akhir penampakan ayat-ayat Allah di ufuk Barat itu, seolah ada yang hadir di dalam diriku, sebersit pengetahuan keyakinan: Imam Mahdi AS akan segera hadir dan muncul dari tempat ini, dari Jamkaran Qum Iran.

Ya Allah… Aku menangis di hadapanmu, tahun lalu dan kini, entah isyarat apa yang kudapat saat itu. Ini baru kuceritakan kepada hanya satu-dua orang teman seperjalananku di Qom tahun, lalu. tapi kini, temanku Shaleh seolah memintaku untuk berbagi cerita ini.  Ya Allah, ampuni segala dosaku dan teman-temanku, ijinkan kami menjemput kekasih-Mu Imam Mahdi al-Muntadzar, ijinkan  aku kembali menatap wajahnya dalam kehidupan nyataku yang singkat ini, ijinkan kami berada dalam majlisnya, sebagaimana Engkau telah tampakkan wajah Al-Mahdi bersama Imam Khomeini dan para ulama lainnya dalam mimpiku 5 tahun yang lalu.

Wallahu ‘Alam bi Shawab,
Al Faqir Ahmad Samantho.

Assalamu Alaiki Ya Sayidah Fathimah Mashumah as, Ishfa’i lana fil Jannah.

Qom, Kota Sejuta Ulama

Kota Qom berjarak 135 km dari Teheran, ibukota Iran. Secara administratif, Qom adalah ibu kota propinsi Qom yang menurut statistik 1997, jumlah penduduknya sekitar 44,850 jiwa; 16,91 % tinggal di kota dan 82,8 % tinggal di daerah pedesaan. Qum terletak di kawasan sahara tengah Iran. Posisinya yang berada di tengah padang yang gersang dan jauh dari laut, iklim Qom sangat kering dan memiliki curah hujan yang kecil. Sebagian besarnya tanahnya tidak bisa dimanfaatkan untuk pertanian.

Tanahnya tidak subur antara lain karena posisinya yang berdekatan dengan danau garam. Di musim panas, suhu udara bisa mendekati 40 derajat celsius. Meski begitu, di musim dingin suhu udara juga bisa anjlok hingga di bawah nol dan sesekali turun salju, meskipun jarang sekali lebat, tak sebagaimana Teheran.

Sejarah Qom

Konon, kota Qom didirikan sebelum era Islam. Tapi menurut sebagian kalangan, kota itu didirikan setelah Islam. “Kum” adalah nama benteng di kota ini, dan kota ini dinamai Qom setelah orang-orang Arab Muslim menyebut-nyebut benteng itu dengan lafal “qum”. Ketika pasukan Islam menyerang Iran, Qom merupakan bagian dari teritori Isfahan, karena itu Qom jatuh ke tangan pasukan Arab bersamaan dengan jatuhnya kota Isfahan ke tangan mereka.

Tahun 23-24 H, Abu Musa al-‘Asy’ari mengirimkan sebagian pasukan yang berada di bawah komandonya ke Qom dan kota inipun jatuh ke tangan mereka di era kekhalifahan Umar bin Khattab. Suku A’sy’ari kemudian pindah dari Kufah ke Qom. Kedatangan mereka membuat Qom lamban laun menjadi kota. Sempat terjadi konflik antara suku Arab Asy’ari yang Muslim dan warga setempat yang beragama Zaratustra, dan warga setempatpun kalah telak.

Pada abad-abad permulaan Islam, Bani Alawiyyin (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib) mendapat banyak gangguan dan siksaan dari para penguasa dinasti Umawiyah dan dinasti penerusnya, Abbasiah, dan Qom menjadi salah satu tempat pelarian kaum Alawiyyin. Kedatangan Alawiyyin ke Qom membuat kota ini menjadi sebuah kota bercorak Alawiyyin.

Penduduk Qom memandang dinasti Abbasiah bertanggungjawab atas kematian Imam Ali bin Musa ar-Ridha, imam kedelapan kaum Syiah dan keturunan Rasul (Ahlul Bait) generasi kedelapan. Imam ar-Ridha memiliki adik perempuan, Fatimah Maksumah, yang datang dari Madinah untuk mencari beliau di kota Masyhad, sekitar 1000 km dari Qum, tetapi Fatimah wafat ketika sampai di Qom. Jenazahnya dimakamkan di Qom dan penduduk setempat sangat menghormatinya.

Kecintaan penduduk Qom kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan suci Rasul SAW) membuat mereka tak pernah akur dengan penguasa. Mereka menolak membayar pajak dan upeti. Akibatnya, al-Makmun, penguasa dinasti Abbasiyah, mengirim pasukan pimpinan Ali bin Hisham ke Qom. Kota ini hancur diobrak-abrik pasukan Ali bin Hisyam, dan terjadi pembunuhan massal.

Ketika Khalifah al-Makmun tewas di tangan pemberontak pada tahun 216 H, rakyat Qom menyerbu Darul Hukumah Qom dan mengusir kaki tangan khalifah. Pemberontakan di Qom ini kemudian ditumpas oleh Khalifah al-Muktasim yang menggantikan al-Makmun. Untuk Kedua kalinya Qom di obrak-abrik dan dibakar oleh pasukan Abbasiyah, dan kota ini pun dikuasai oleh Mohammad bin Isa al-Badghisi yang kemudian menjalankan kebijakan persuasif dengan warga setempat.

Ketika al-Muktasim digantikan oleh al-Mutawakkil, kebijakan represif anti Alawiyyin menggila. Penduduk Qom mendukung Hasan al-Kaukabi untuk mendirikan pemerintahan Alawiyyin di kawasan Taliqan, Qazwin, Zanjan, dan Abhar. Al-Kaukabi kemudian ditumpas oleh al-Muktamid yang menggantikan al-Mutawakkil dengan mengirim pasukan di bawah komando Musa bin Bagha.

Penduduk Qom kemudian mencoba berlindung kepada Imam Hasan al-Asykari, Imam ke-11 kaum Syiah. Secara umum, pemberontakan dan penumpasan berkelanjutan sampai masa kekuasaan Ali Buyeh yang berasal dari Bani Alawi. Di masa Ali Buyeh, Qom mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang. Di era Seljuk, Qom juga terus mengalami perkembangan di tangan kaum pribumi.

Qom hancur total ketika pasukan Mongol datang menyerbu, tetapi kembali mendapat perhatian besar ketika sebagian penguasa, termasuk Sultan Mohammad Uljaitu, mulai cenderung kepada Islam. Pada beberapa dekade terakhir abad ke-8 Hijriah, Qum diserbu pasukan Timur Gurgani dan banyak penduduknya dibunuh secara massal.

Bersamaan dengan munculnya pemerintahan dinasti Qaraquyunilu dan Aqh Quyunilu, dan khususnya di era Safaviyan, Qom kembali berkembang. Tahun 909 H Qom menjadi salah satu pusat budaya dan pengembangan ilmu fikih Syiah. Kota ini dimeriahkan oleh pendidikan dan kajian keagamaan oleh para ulama. Obyek-obyek ziarahnya semakin ramai dikunjungi orang.

Ketika diserang orang-orang Afghan, Qum kembali porak-poranda dan mengakibatkan penduduknya menderita tekanan ekonomi berat. Di era kekuasaan Nadir Shah Afshar, Qom juga menderita banyak kerusakan, begitu pula ketika keluarga Zand dan Qajar bertikai memperebutkan kekuasaan atas Iran.

Tahun 1208, Qum dikuasai Agha Mohammad Khan Qajar. Fatah Ali berhasil mengalahkan musuh dan kemudian memperbaiki komplek makam Hazrat Maksumah sesuai nazarnya. Tahun 1916, ketika pasukan Rusia menyerbu Iran dan memasuki Karaj, banyak warga Teheran yang melarikan diri ke Qom. Saat itu bahkan ada rencana memindahkan ibukota Iran ke Qom, tetapi digagalkan oleh Kedubes Rusia dan Inggris dengan menekan Ahmad Shah. Para muhajirin Teheran di Qom kemudian membentuk Komite Pertahanan Nasional untuk membela tanah air. Akibatnya, Qom menjadi markas kegiatan politik dan militer anti Rusia dan Inggris. Namun, setelah sekian kali konfrontasi, pasukan Rusia berhasil menduduki Qom pada tahun 1915.

Kota Ilmu dan Ziarah

Qom sekarang menjadi salah satu pusat ziarah Iran dan mancanegara. Makam Hazrat Fatimah Maksumah yang megah dan indah membuat kota ini dipandang sebagai kota suci, dan banyaknya sekolah-sekolah agama (hauzah ilmiyah) membuat kota ini lebih hidup dan makmur. Ribuan pelajar domestik dan mancanegara menimba kota ilmu agama dan filsafat di kota ini.

Para pelajar yang sudah senior kebanyakan mengenakan serban. Serban putih adalah tanda pemakainya adalah orang biasa, sedangkan serban hitam adalah tanda untuk lelaki keturunan Alawiyyin, sayid, atau habib menurut istilah di Indonesia. Jika Anda ingin menyaksikan sebuah kota yang dihuni oleh banyak pria beserban, maka Qom adalah satu-satunya tempat di dunia.

Banyak para peziarah Iran dan mancanegara yang datang ke Qom untuk berziarah ke makam Hazrat Fatimah Maksumah. Karena Qom merupakan kota religius dan apalagi statusnya dibesarkan oleh keberadaan makam Hazrat Fatimah Maksumah yang dipercaya sebagai wanita suci nan agung, kaum Hawa di kota ini rata-rata mengenakan cadar hitam. Kota ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Makam Suci Hazrat Maksumah

Bangunan mausoleum Hazrat Maksumah terletak di tengah kota. Bangunan yang besar dan megah serta arsitekturnya yang khas, indah dan mempesona membuat makam adik Imam Ali ar-Ridha, imam kedelapan kaum Syiah, itu tercatat sebagai salah satu warisan berharga dari berbagai abad silam.

Makam Hazrat Maksumah mula-mula hanya dinaungi oleh semacam ijuk oleh seseorang bernama Musa bin Khazraj. Tetapi kemudian penduduk Qum membuat bangunan berkubah dan bermenara sederhana. Tahun 447 H, seorang menteri Taghral bernama Mir Abul Fazl yang merupakan pria agamis, membuatkan kubah yang lebih besar di atas kubah pertama setinggi 14 meter.

Di era pemerintahan Safavi, makam Hazrat Maksumah memiliki empat ruangan berjajar, satu ruangan diantaranya menyediakan pintu masuk, dan satu lagi ruangan menyediakan pintu keluar. Di era pemerintahan dinasti Qajar, Raja Fatah Alishah memberikan perhatian ekstra kepada makam Maksumah sehingga membangunkan mausoleum secara lebih besar dan anggun. Ruang-ruang, dekorasi, dan bilik-bilik yang ada sekarang di komplek makam Hazrat Maksumah sebagian besar adalah peninggalan era dinasti Qajar.

Karena selalu ramai pengunjung dari dalam dan luar kota dan bahkan dari mancanegara, tak aneh jika kawasan sekitar komplek menjadi sangat meriah dan dipadati oleh toko-toko perangkat solat, kitab, batu-batu berharga, pakaian, souvenir, dsb, serta hotel, losmen, restoran, dan rumah-rumah makan.

Musium Haram Hazrat Maksumah

Musium Haram Hazrat Maksumah adalah salah satu musium tertua di Iran yang didirikan tahun 1926. Musium yang terdiri dari dua aula yang diperindah oleh seni keramik yang bernilai seni tinggi itu terletak di sisi komplek mausoleum. Obyek dipamerkan adalah barang-barang berharga yang antara lain Kitab Suci al-Quran dengan seni kaligrafi abad ketiga Hijriah dan ornamen era Safavi.

Ada pula permadani era Safavi karya seniman perdana kesohor Nikmatullah Jushqani yang diwakafkan oleh raja-raja dinasti Safavi untuk Haram Maksumah. Musium ini juga diperkaya oleh karya-karya seni keramik era abad ketujuh Hijriah serta barang-barang anti berupa peti dan tempat-tempat lilin bertatahkan permata, alat musik semacam kecapi terbuat dari perak, dan lain-lain. Musium ini terbuka untuk umum.

Masjid Imam Zaman, Jamkaran

Masjid Imam Zaman terletak di sebuah kawasan pinggiran kota Qum. Masjid ini memiliki nilai mistis lebih tinggi dibanding mesjid-mesjid lainnya di Iran karena didirikan berdasarkan petunjuk langsung dari Imam Mahdi, imam ke-12 atau imam terakhir kaum Syiah yang dipercaya kini sedang gaib dan akan muncul di akhir zaman sebagai juru penyelamat umat manusia.

Syahdan, Selasa 17 Ramadhan 393 Hijriah, sekelompok penduduk mendatangi rumah seseorang bernama Sheikh Hasan bin Mathlah Jamkarani. Sheikh yang sedang beristirahat dibangunkan oleh warga. Mereka berkata: “Hai Sheikh, engkau dipanggil Imam Mahdi , cepat penuhi panggilannya.” Mereka lantas membawa Sheikh Hasan ke lokasi yang kini menjadi tempat berdirinya Masjid Jamkaran.

Di situ Sheikh Hasan melihat sosok pemuda berusia sekitar 30 tahun duduk bersama satu sosok orang tua di atas sebuah dipan yang dihampari berpermadani. Pemuda itu tak lain adalah Imam Mahdi dan orang tua itu adalah Nabi Khidir. Imam Mahdi memanggil Sheikh Hasan dan berkata kepadanya: “Pergilah ke sebidang tanah tempat Hasan Muslim bertani dan katakan kepadanya bahwa tanah itu suci dan jangan sampai ditanami lagi.”

Sheikh Hasan terkejut dan berkata: “Beri aku suatu tanda agar orang-orang dapat mempercayaiku.” Imam Mahdi berkata: “Kamu pergi saja dan sampaikan risalah ini, dan kami akan memberikan tanda-tanda. Beritahu warga bahwa di tempat itu dianjurkan solat sunnah empat rokat; dua rokaat dengan niat Tahiyat Masjid dan dua rokat lainnya dengan niat solat Imam Zaman. Setelah solat membaca tasbih az-Azhra. Barangsiapa menunaikan solat dua rokat ini (solat Imam Zaman) maka pahalanya seperti pahala solat di dalam Kaabah.”

Berdasarkan riwayat inilah Masjid Jamkaran dibangun. Masjid ini menjadi salah satu icon kesucian kota Qum. Di pertengahan bulan Syakban yang diyakini kaum Syiah sebagai hari lahir Imam Mahdi, masjid dan area sekitarnya dipadati oleh ribuan pelawat yang ingin menunaikan solat sambil memperingati HUT Imam Mahdi yang juga lazim disebut Imam Zaman.

Madrazah Faiziyah

Madrasah Faiziyah di Qom adalah salah satu hauzah ilmiyah (sekolah agama atau pesantren) yang paling kesohor di dunia. Madrasah dengan arsitektur Islam yang unik ini didirikan pada abad 13 Hijriah dan direnovasi pada era dinasti Safavi. Lokasinya yang cukup besar berdampingan dengan Haram Hazrat Maksumah.

Rumah Imam Khomaini

Rumah Imam Khomaini, pendiri Republik Islam Iran, di Qom adalah bangunan tradisional yang sangat bersahaya dan terdiri dari dua flat. Rumah ini memiliki ruang bawah tanah serta pekarangan dan podium tempat beliau berceramah. Rumah ini didirikan pada awal-awal abad ini. Karena keagungan Imam Khomaini, rumah ini sekarang dilestarikan sebagai kenangan berharga dan sering dilawat oleh para peziarah dari dalam dan luar negeri.

Rumah Mulla Sadra

Mulla Sadra adalaf filsuf besar abad 11 Hijriah yang berhasil merekonstruksi dan mengembang-luaskan aliran filsafat transendental. Rumah filsuf yang hidup di era dinasti Safavi ini berada di kawasan pinggiran Qom di Desa Kahak dan direnovasi pada tahun 1998 tanpa mengubah struktur awalnya. Rumah itu berupa bangunan batu bata warna coklat dan menyerupai mesjid atau musolla karena memiliki kubah. Pada kubahnya terdapat jendela-jendela kecil dengan kaca warna-warni untuk membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan. Rumah ini dikelilingi oleh halaman atau pekarangan.

Danau Garam

Beberapa kilo dari arah Teheran sebelum memasuki Qom, di siang hari akan terlihat pemandangan unik dari arah kiri. Dari jalan tol di kejauhan akan terlihat sebuah danau yang terhampar luas dan tak terlihat tepi seberangnya sehingga lebih menyerupai laut. Dari kejauhan, danau itu di tengah padang pasir itu terlihat tak jauh beda dengan air. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, maka dari warnanya yang putih akan terlihat bahwa yang menghampar itu bukanlah air, melainkan hamparan garam alami yang hasilkan oleh pengeringan danau akibat proses penguapan. Di situ tidak ada air sama sekali, kecuali di musim dingin.

Di musim panas, iklim di sekitar danau kering itu sangat panas. Dan karena terjadi fluktasi cuaca yang sangat tajam antara siang dan malamnya, maka bebatuan di perbukitan di sekitarnya memuai dan hancur menjadi gundukan-gundakan pasir yang berpindah-pindah karena kencangnya tiupan angin.


About these ads

6 comments on “Kota Suci Qom di Iran: Kota Sejuta Ulama-Pejuang Islam.

  1. teman mu anak malaysia ini ingin pergi ke iran,mau ziarah ke khom,mau lihat anak2 yang blajar d sana kalau ngak keberatan tolong hubunkan saya kepada mereka,saya sekarang berada d syria,wassalam.

  2. Assalamu’alaikum Wr,Wb

    Apa khabar saudara, sihat ! saya dari Malaysia tumpang baca pada blog saudara izinkan !

  3. assalamualaikum, saya dr LOMBOK ini bacaan yg sangat baik untuk obat hati, dr pd membaca buku yg berbau pornografi..memnding nongkrong dsni,,alhamdulillah hatiku jd sehat setelah nongkrong di sini….wassalam

  4. assalamualaikum..
    dengan bacaan ini saya jadi tau tentang sejarah kota qom iran,
    Allahuma salli ala muhammad wa ali muhammad.. thanks kawan

  5. assa;amualaikum
    syukron kepada pemilik situs ini yang mana menjelaskan dan menceritakan tentang kota qum. dan saya sekarang tahu apa itu kota qum. sukron lakum
    allahumma shalli ala muhammad wa ali muhammad…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: