Fisika Quantum dan Tasawuf
July 11, 2008 at 2:31 am | In Irfan |FISIKA QUANTUM DAN TASAWUF
Oleh : Ferry Djajaprana
(Mahasiswa S-2 Mysticism ICAS Jakarta)
Dalam pandangan fisika kuantum 1) kita mengenal apa yang disebut medan gaya. Medan ini dapat didefinisikan sebagai struktur tidak terlihat yang menempati ruang angkasa dan kita mengenali melalui pengaruhnya.2) Medan-medan ini menurut Gary Zukav, “merupakan inti alam semesta. Benda-benda yang kita amati dalam berbagai percobaan, yakni manifestasi fisik materi sebagai partikel, merupakan efek sekunder dari Medan”3). Kesimpulan ilmiah ini mau tidak mau mendorong para ilmuwan untuk menjauhi cara berfikir materialistik dan parsial yang dominan. Sebaliknya, teori medan memaksa ilmuwan untuk berfikir tentang sebuah alam yang mengandung berbagai pengaruh yang saling bertemu dan struktur tak terlihat saling berhubungan.
Kesadaran akan keberadaan Sang Maha Cerdas telah memasuki bumi, turun ke dalam mencapai hubungan puncak. Sebuah peradaban baru telah lahir. Sekarang kita tepat berada di tengah-tengah masa transisi dimana dua dunia bercampur; dunia lama tetap bertahan dengan begitu kuatnya dan terus saja mendominasi kesadaran kaum awam, dan kesadaran baru muncul secara diam-diam, evolutif, tanpa diketahui sampai sedemikian rupa sehingga secara eksternal dunia telah sedikit demi sedikit berubah untuk sementara waktu, kemudian dunia baru ini akan bergulir, tumbuh sampai pada suatu hari akan menjadi cukup kuat untuk berdiri sendiri 4)
Menurut Einstein, bahwa ruang dan waktu bukanlah entitas-entitas terpisahkan. Keduanya merupakan sebuah kontinum, atau aspek-aspek yang berbeda dari sesuatu yang penting dan sama. Kemampuan puncak saling bertukar tempat dari keduanya seperti kemampuan yang dimiliki materi dan energi. 5)
Tulisan yang tersebut di atas sengaja kami paparkan sebagai prolog karena dalam kehidupan zaman sekarang ini sesungguhnya kita sudah masuk ke zaman nuklir, ada pengalaman menarik yang dialami oleh seorang penulis Argentina Jorge Luis Borges yang terkagum-kagum ketika memahami mistik dan fisika kuantum, dia menjelaskan sebuah pandangan yang biasanya dimiliki oleh para mistikus dan idealis, yakni sifat halusinatif dunia ini. Katanya, “Kita (Tuhan Yang Maha Esa yang bekerja pada diri kita) telah memimpikan dunia ini. Kita telah memimpikannya sebagai abadi, misterius dan dapat dilihat, hadir dalam ruang dan tetap dalam waktu; tetapi kita setuju dengan interval-interval ketidak logisan arsitektur dunia yang renggang dan kekal yang mungkin kita mengetahui bahwa itu keliru”, papar Jorge Luis Borges. 6)
-o0o-
Demikianlah celotehan para fisikawan quantum yang merasakan keberadaan Dzat Maujud Mutlak yang berada di luar cakrawala pengetahuan dan pengalaman manusia.
Data yang ada pada manusia hanya memungkinkan cakrawala itu bergeser, sehingga medan pemahaman tentangnya makin bertambah. Demikianlah para ilmiawan itu mengintip lewat celah-celah fisika kuantum, makin hanyut dalam ketakjuban. (QS. Al Mulk: 4).
Dalam bahasa matematika batas atas disebut limit. Definisi limit adalah nilai-nilai suatu pengalaman manusia senantiasa mendekati ambang limit, tetapi dia takkan bisa melampauinya. Ambang limit itu sendiri merupakan ungkapan yang tak terbatas dan tak terperikan. Kehendak melampaui ambang ini adalah upaya mahluk keluar dari ketaksempurnaan dirinya. Akan tetapi, begitu ia keluar dari ambang ini, ia akan tertelan dalam Kekosongan - jati diri eksistensinya akan lenyap dalam Ketakterbatasan. Pada saat dengan fana oleh ahli makrifat. 7) mengikuti firman Allah :
“Semua yang berada di alam (ciptaan) akan merasakan fana (musnah, binasa). Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar Rahman : 26-27).
Bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan bisa menangkap Ketakterbatasan, karena hal itu bertentangan dengan kodrat penalaran manusia yang cenderung mengurai, dan membatasi. Sesuatu yang tak terungkap dan tak terbatas, pastilah tak kan terurai. Artinya sesuatu yang tak terurai ini tidak mungkin dicerap oleh manusia. Wujud Mutlak atau Pewujud berada di luar analitis dan definisi, observasi ataupun verifikasi, ia hanya bisa di umpamakan dan dibayangkan, disembah dan dipuji, diagungkan dan diseru dengan keimanan dan penghambaan.
Lalu bagaimana cara mengenal Wujud Mutlak ini? Caranya mintalah kepada-Nya untuk memperkenalkan Diri-Nya. Agama adalah wilayah pengungkapan Ilahi. Melalui kalam dan wahyu Ilahi wujud mutlak atau Allah itu memperkenalkan Diri-Nya dalam bahasa perumpamaan (mitsal) dan tanda (ayat) yang bisa dipahami oleh pikiran manusia.
Untuk memperkenalkan Diri-Nya, Allah menciptakan tanda-tanda dan perumpamaan. Dengan tanda dan perumpamaan ini Allah menyingkapkan Diri-Nya kepada mahluknya.
Sebagai contoh, ketika X bergerak kita memahami bahwa gerakan X adalah proses yang harus dilalui X untuk menuju kepada kesempurnaannya. Tentunya pusat yang dituju oleh X tidak mungkin bergerak-gerak, karena akan menggugurkan asumsi bahwa gerakan adalah proses penyempurnaan. Oleh karena itu, mesti kita simpulkan bahwa gerakan semua benda menuju kepada Pusat yang tidak bergerak, yakni Wujud yang Maha Sempurna sehingga Wujud itu kita sebut Penggerak yang tidak bergerak.
Bibliography :
1) Talbot, Michael; Mistisisme dan Fisika Baru, (Asli : Mysticism and the new Phisycs. Beyond Space and Time, Beyond God, to the Ultimate Cosmic Consciousness)Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 258
2) Margaret J. Wheatley, Leadership and the New Sciences, Abdi Tandur, 1997 hal. 35
3) Gary Zukav, The Dancing Wu Li Masters, Bantam books, 1979, hal 199
4) Talbot Michael; ibid, Satprem, Sri Aurobindo or the adventure of consciousness, hal. 149
5) Talbot Michael, Ibid, hal. 119
6) Talbot Michael, Ibid, hal,1
7) Kahzim, Musa; Tafsir Sufi Mendedah Masalah Ketuhanan dalam Al Quran, Penerbit Lentera Basritama, Jakarta, 2003. (Hal. 44-63)
Glossary :
1) Fisika Quantum = Cabang fisika yang mempelajari atom-atom
2) Kuantum = Satuan diskret energi
3) Medan gaya = Ruang dimana garis-garis gaya listrik, magnetik atau dinamis bekerja
Salam,
1 Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.












http://indonesian.irib.ir/




Salam pekenalan
Saya sanga tertarik dengan perbincangan ini. Boleh sdr berikan kemen tentang kenyataan berikut
“6. Zat Allah swt tidak hadir di ALam ini. Allah bersifat Muhalafatu lil hawadith, tidak serupa dengan mahluk. Oleh itu zat Allah tidak mungkin dibuktikan melalui pemerhatian atau kajian ilmu sains. Tetapi dari AQ, ayat-ayat berkaitan Al Baab, mengarahkan kita melihat atau memehatikan kehadiran kuasa atau tenaga Allah, melalui segala kejadian ciptaanNya di Alam ini, termasuklah yang paling mudah pertukaran siang dan malam. Maka tajjalinya zat Allah (kehadiran, menifestasi, terjemahan) di Alam ini merupakan tenaga dan kuasa, yang saya rujuk sebagai the Cosmic Egg, di perenggan 5. Isu jubah mengatakan bahawa Allah bersamanya, sudah semestinya tidak benar. Begitu juga pentaism dan sebagainya, yang mengatakan zat Allah hadir di dalam Alam. Bagaimapun Hopkin mengatakan, “if the unification of laws in the universe, is God, then I believe in God”, juga memerlukan penapisan sekiranya yang dia maksudkan ialah zat Allah.”
Dari http://sharudin.wordpress.com/2008/07/08/s017-harun-yahaya-ww/
Comment by Pak Din — July 19, 2008 #