2 Komentar

Keadilan dan Cinta, dalam Hikayat Maharaja Ali

Khazanah Sastra Islam Nusantara:

KEADILAN DAN CINTA

DALAM HIKAYAT MAHARAJA ALI

Oleh Abdul Hadi W. M.

Cerita berbingkai adalah salah satu dari jenis atau genre sastra yang sangat terkenal di dunia. Yang membuatnya popular dan digemari oleh pembaca di seluruh dunia sepanjang zaman ialah cerita berbingkai Arab Parsi Kisah Seribu Satu Malam. Judul asli kitab ini ialah Alfa Layla wa Layla dan orang Inggeris menerjemahkannya menjadi Arabian Nights. Sejak abad ke-13 M kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia seperti Latin, Turki, Parsi, Perancis, Jerman, Inggeris, Italia, Spanyol, Belanda, Cina, Jepang, Rusia, Urdu dan Melayu. Alfa Layla wa Layla sebenarnya adalah kumpulan kisah-kisah dari berbagai negeri dan benua, yang disusun dalam beberapa bingkai cerita yang sambung menyambung. Ia mulai ditulis pada zaman pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid pada akhir abad ke-8 M di Baghdad, dan rampung pada akhir abad ke-10 M. Sumber cerita berasal dari negeri-negeri seperti Arab, Persia, Yunani, India, Cina, Asia Tengah dan Afrika Utara.

Walaupun yang memperkenalkan ke seluruh dunia adalah orang Arab dan Persia, namun sebenarnya asal usul cerita berbingkai ialah India. Salah satu cerita berbingkai tertua ialah fabel (kisah perumpamaan binatang) karangan penulis India abad ke-3 M Bidpai. Yaitu Pancatantra, artinya lebih kurang cerita berbingkai lima. Beredarnya cerita berbingkai ke luar India adalah disebabkan hilangnya naskah asli Pancatantra dalam bahasa Sanskerta. Pada abad ke-5 M seorang pengarang Parsi (Iran) menemukan salinan naskahnya dalam bahasa Tibet dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Parsi Lama. Dari bahasa Parsi kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani atau Syria Lama. Pada abad ke-8 M, seorang pengarang Arab keturunan Parsi Abdullah Ibn l-Muqaffa’, menyadur kembali kisah tersebut ke dalam bahasa Arab dengan merubah susunan cerita dan menambah begitu banyak cerita baru ke dalamnya. Karyanya itu diberi judul Khalilah wa Dimnah, mengikuti judulnya dalam bahasa Suryani Kalilaj wa Damanaj. Melalui kitab karangan Ibn al-Muqaffa’ ini kisah-kisah binatang dan cerita berbingkai menjadi masyhur di seluruh dunia.

Sekalipun demikian daya tarik cerita berbingkai lebih disebabkan kehadiran Kisah Seribu Satu Malam. Tidak sedikit cerita yang terdapat dalam kitab ini sangat popular dan digemari hingga sekarang di dunia. Misalnya kisah Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dan Empatpuluh Penyamun, Sindbad Si Pelaut, Makruf Tukang Sepatu, Abu Sar dan Abu Sir, dan masih banyak lagi. Kisah-kisah jenaka Abu Nawas yang popular dalam sastra Melayu Nusantara bersumber juga dari Kisah Seribu Satu Malam.

Cerita Berbingkai

Pada umumnya cerita berbingkai panjang dan sambung menyambung. Ia memiliki beberapa cerita pokok dan cerita-cerita sisipan yang diselipkan dalam cerita-cerita pokok. Karena cerita-cerita sisipan itu dimasukkan ke dalam cerita pokok, menyebabkan keseluruhan ceritanya menjadi berbingkai, panjang dan isi ceritanya. Cerita-cerita sisipan itu bersifat episodik, artinya terdiri dari episod-episod yang dapat dipisahkan dari cerita pokok dan berdiri sendiri. Cerita pokok disebut dalam bahasa Inggeris ‘framing story’ atau circle story. Karena struktur cerita bersifat episodik, maka cerita berbingkai tidak bersifat organik. Bingkainya sering dibagi ke dalam tiga jenis: (1) Bingkai hiburan atau entertaining frame; (2) Bingkai perlengahan atau time gaining frame; (3) Bingkai pembebasan atau ransom frame. Masing-masing cerita selalu memaparkan perbuatan atau kejadian buruk yang akan menimpa tokoh protagonis, walaupun bencana itu harus ditunda atau akhirnya dihentikan. Penundaan dan penghentian dilakukan dengan maksud agar pesan moral dari cerita direnungi oleh masing-masing pembaca.

Di Nusantara cerita-cerita berbingkai India, Arab dan Persia telah sejak lama disadur, khususnya ke dalam bahasa Jawa dan Melayu. Teks Pancatantra sendiri disadur ke dalam bahasa Jawa Kuna dengan judul Tantri Kamandaka. Selanjutnya dari versi Jawa Kuna kemudian disadur ke dalam bahasa Jawa, Bali, Sunda, Madura dan Sasak menjadi Cerita Tantri. Pada abad ke-19 M Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menerjemahkan versi Tamil ke dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Panca Tanderan.

Dalam sastra Melayu, cerita berbingkai disadur atau digubah dari sumber-sumber sastra Arab dan Parsi. Di antaranya yang terkenal selain Alfa Layla wa Layla ialah Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Ghulam, Hikayat Bakhtiar, Khalilah wa Dimnah dan Hikayat Maharaja Ali. Melalui versi Melayu hikayat-hikayat tersebut kemudian disadur pula ke dalam bahasa Nusantara lain seperti Aceh, Mandailing, Minangkabau, Palembang, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Banjar, Bima, dan lain-lain. Apabila penyebaran cerita dari India pada mulanya berlangsung bersamaan dengan penyebaran agama Hindu, penyebaran cerita-cerita Arab dan Persia terjadi bersamaan dengan penyebaran agama Islam.

Dari sekalian cerita berbingkai Melayu itu Hikayat Maharaja Ali merupakan salah satu yang menarik dan sangat mengesankan pesan moralnya. Hikayat ini digubah oleh pengarang-pengarang Melayu berdasarkan naskah Parsi yang ditulis di India pada abad ke-15 M. Tetapi versi dalam bahasa Melayu telah dirubah sedemikian rupa dan dicampur dengan cerita-cerita lain yang terdapat dalam Hikayat Bakhtiar dan Hikayat Nabi Isa Almasih dan Raja Jumjunah. Keunikannya yang lain karena hikayat ini agak menyimpang dari cerita berbingkai yang lain. Dari sekian banyak cerita pokok, hanya satu saja yang berperan sebagai cerita berbingkai dalam arti sebenarnya. Yaitu cerita Tuan Putri Hasinan. Padahal ia bukan tokoh utama cerita sebagaimana Syahrazad dalam Alfa Layla wa Layla. Tokoh utama cerita ialah Maharaja Ali. Cerita Tuan Putri Hasinan mengandung banyak kisah yang disampaikan oleh sang tokoh dengan maksud mengalihkan perhatian raja Sardala yang terpikat kepadanya dan bermaksud menjadikan istrinya. Jadi satu-satunya watak atau tokoh yang berkaitan dengan cerita yang dibingkaikan ialah Tuan Putri Hasina.

Maharaja Ali

Tema sentral Hikayat Maharaja Ali ialah keadilan seorang raja dan kesetiaan seorang istri. Karena terlalu mencintai anaknya yang brandal. Maharaja Ali terpaksa melupakan kewajibannya sebagai seorang raja yang semestinya bertindak adil. Dalam pandangan orang Melayu selama seorang raja, walaupun tidak adil, tidak membuat keonaran dan mengganggu kehidupan rakyat maka raja yang demikian itu tidak perlu diacuhkan atau dihormati. Tetapi jika kehidupan rakyat terganggu, maka persoalannya menjadi lain.

Sinopsis Cerita: Maharaja Ali memerintah di negeri Badraga. Karena selama beberapa tahun dari perkawinannya dengan permaisuri Hasinan tidak dianugerahi seorang anak, maka dia rajin berdoa serta memohon kepada Tuhan agar dianugerahi buah hati. Tidak berapa lama kemudian permaisuri melahirkan seorang anak lelaki. Selang berapa tahun kemudian anaknya yang kedua dan ketiga lahir, juga lelaki. Seorang ahli nujum meramalkan bahwa kelak anak sulungnya akan menjadi sumber malapetaka karena perangainya yang buruk. Maharaja Ali disarankan agar membuang anaknya itu jauh-jauh dari sisinya. Saran itu diabaikan karena maharaja dan permaisuri sangat menyayangi anak-anaknya.

Ramalan ahli nujum ternyata benar. Setelah dewasa tabiat buruk Baharum Syah, anak

sulung Maharaja Ali, semakin tampak. Dia gemar membunuh, menganiaya dan memperkosa anak para pejabat dan pegawai istana, serta mengambil istri orang lain melalui jalan kekerasan. Rakyat negeri Badraga tidak tahan lagi. Dia meminta Maharaja Ali dan keluarganya pergi jauh-jauh meninggalkan negeri, seraya mengancam apabila raja tidak mau pergi maka rakyatlah yang akan meninggalkan negeri Badraga. Karena begitu kuatnya desakan rakyat, Maharaja Ali sekeluarga akhirnya pergi meninggalkan negerinya. Dalam perjalanan, di tengah hutan Maharaja Ali diserang perampok. Seluruh miliknya ludes dirampas. Anak sulungnya lari dan tersesat di hutan rimba.

Maharaja Ali serta permaisuri dan dua anaknya melanjutkan perjalanan. Mereka tiba

di negeri Kabitan. Raja negeri itu bernama Sardala. Pada suatu hari Hasinan dan dua anaknya pergi ke kota untuk minta sedekah. Seorang wazir melihat kecantikan Hasinan dan memberi tahu raja Sardala. Dengan berbagai tipu muslihat mereka memancing Hasinan masuk istana, dan menutup pintu gerbang. Dua anaknya tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Mendengar istrinya masuk ke dalam jerat raja Sardala, Maharaja Ali sakit hatinya. Dia pun meneruskan perjalanan dengan dua anaknya yang masih kecil. Suatu hari sampailah mereka di tepi sungai besar. Maharaja Ali berusaha menyeberang tetapi disambar oleh buaya. Seketika Maharaja Ali tewas. Dua anaknya dipiara seorang penambang miskin. Sementara itu raja Serdala berusaha membujuk Hasinan supaya mau menjadi gundiknya. Untuk mengulur waktu, Hasinan menyampaikan sebuah cerita yang panjang selama berhari-hari kepada raja Sardala. Namun raja Sardala terus membujuk dan merayu Hasinan. Karena pertahanannya semakin lemah, Hasinan berdoa dan memohon agar Tuhan menjatuhkan penyakit lumpuh kepada Serdala. Dengan demikian raja itu tidak berdaya lagi untuk merayunya.

Sekali peristiwa Nabi Isa menjumpai tengkorak Maharaja Ali di tepi sungai.

Tengkorak itu bercerita panjang lebar tentang nasibnya yang malang di dunia, walaupun dia seorang raja yang pernah berkuasa, dan meminta Nabi Isa agar berdoa untuknya serta berharap Tuhan menghidupkan lagi dirinya agar bisa bertemu istri yang dicintai dan dapat memerintah kembali di negeri Badraga sebagai raja yang adil serta dicintai rakyat. Berkat pertolongan Allah s.w.t. Setelah Maharaja Ali bertobat, Nabi Isa menghidupkannya kembali dan menobatkannya menjadi raja di negeri Badraga. Kecuali itu Nabi Isa mengajari Maharaja Api ilmu kedokteran dan mujarobat. Dua putranya yang diasuh penambang tiba istana meminta sedekah. Maharaja Ali yang tidak lagi mengenalnya mengangkat mereka sebagai biduanda.

Nama Maharaja Ali sebagai penguasa yang adil di negeri Badraga dan pandai

mengobati segala penyakit, masyhur ke mana-mana. Raja Serdala yang mendengar berita itu segera pergi kepadanya untuk berobat. Maka pergilah ia bersama Hasinan berlayar ke Badraga. Raja Serdala diterima oleh Maharaja Ali dengan berbagai kehormatan, dan menyuruh dua orang biduandanya pergi ke kapal, menjaga istri raja Serdala. Setiba di kapal biduanda itu bercakap-cakap satu dengan yang lain, dan Hasinan yang secara kebetulan mendengar percakapannya itu mengetahui bahwa mereka adalah dua orang anaknya yang hilang. Penuh kegembiraan dipeluk dan diciumnya kedua anaknya itu. Maharaja Ali yang mendapat laporan tenteng kejadian itu marah dan bertindak. Dia memerintahkan agar kedua biduandanya itu dijatuhi hukuman mati.

Setelah beberapa hari dua biduanda itu meringkuk dalam penjara, baru hukuman

matinya dilaknakan. Ternyata algojo yang diberi tugas memancung kedua tahanan itu adalah Baharum Syah, anak sulung Maharaja Ali sendiri. Sangat beruntung sebelum hukuman mati dilaksanakan dua biduanda itu sempat bercakap-cakap dan percakapan mereka didengar oleh alogojo. Melalui percakapan itu Baharum Syah tahu bahwa dua biduanda itu tidak lain adalah adik kandungnya yang terpisah lama. Pagi-pagi sekali algojo menghadap Maharaja Ali dan bercerita tentang semua yang didengarnya. Kini jelaslah bagi Maharaja Ali bahwa Hasinan adalah istrinya sendiri, dua biduanda dan algojo adalah putra-putranya sendiri. Setelah raja Serdala berhasil disembuhkan Maharaja Ali menyuruhnya pulang. Raja Serdala mendapat istri baru hadiah Maharaja Ali, yakni putri seorang menteri yang tak kalah cantik dan bahkan jauh lebih muda dari Hasinan

Keadilan dan Cinta

Mengenai hikayat ini V. I. Braginsky (2000) mengatakan, ”Isi hikayat ini ditentukan

oleh perpaduan dua tema pokok. Yang partama tema tentang raja yang sangat mencintai keluarganya sehingga melupakan kewajibannya yang asasi, yaitu menjalankan pemerintahan yang adil. Yang kedua tema tentang kesetiaan seorang perempuan. Dua tema yang saling jalin-menjalin ini, serta pertentangan-pertentangannya: (1) Berkaitan dengan tema yang pertama yaitu cinta keluarga yang berlebihan (nilainya positif) vs. pelanggaran kewajiban disebabkan oleh cinta ini (nilainya negatif); (2) Pertentangan ini memberi tekstur khusus terhadap hikayat ini yaitu konflik yang sengit dan tajam antara kewajiban dan perasaan (baca juga ‘hawa nafsu’). Yang kedua memasuki masalah etika atau moral..

Melalui kisah di atas sekurang-kurangnya tampak bahwa cinta, yang dalam banyak hal bersifat positif, tidak selamanya baik apabila bertentangan dengan kewajiban moral seseorang selaku hamba dan khalifah Tuhan di muka bumi. Seorang raja pertama-tama harus mencintai Tuhan dan kewajiban seorang pencinta ialah mematuhi perintah-Nya dengan melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya. Amanah utama seorang raja ialah memerintah dengan adil. Adil adalah bentuk lain dari cinta, sebab adil adalah pintu menuju kebenaran dan cinta sejati. Seorang raja menjadi adil karena cinta kepada rakyatnya, dan ini diperintahkan oleh agama.

Dalam kaitannya dengan hikayat ini, di sini relevan jika dikuti[ uraian dalam mukadimah Undang-undang Adat Minangkabau. Dalam kitab ini dikemukakan bahwa setiap orang dan segala sesuatu di muka bumi adalah raja pada tempatnya. Seorang hakim, sarjana, ulama, guru besar, sastrawan, menteri, tukang sapu, pelukis, wartawan dan lain sebagainya adalah raja pada tempatnya. Raja yang baik itu ialah raja yang adil kepada Tuhan, sesama dan dirinya sendiri. Adil berarti berbuat benar disebabkan mencintai kebenaran dan sudi melaksanakan perbuatan yang sesuai dengan kebenaran. Cinta Maharaja Ali dalam kisah yang telah dipaparkan, bukanlah cinta yang benar, karena cinta seperti itu semata-mata didasarkan oleh perasaan dan kepentingan diri sendiri dan melupakan cinta lain yang tidak kalah pentingnya

Rujukan:

Ali Ahmad & Siti Hajar Che Man (1996). Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan Islam.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Braginsky, V. I. ”Perpaduan Etika dan Estetika Sastra Dalam Hikayat Melayu Zaman Islam

(Hikayat Maharaja Ali)” Kertas kerja Seminar Teori Sastra Islam: Kaedah dan

Penerapannya. Putrajaya Selangor, Malaysia, 26-28 September 2000.

Ismail Hamid (1983). Kesusasteraan Melayu Lama Dari Warisan Peradaban Islam. Kuala

Lumpur: Fajar Bhakti.

About these ads

2 comments on “Keadilan dan Cinta, dalam Hikayat Maharaja Ali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.968 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: