Belajar dari Kecerdikan Iran
Belajar Dari Kecerdikan Iran
Naskah Ini dimuat di Koran Jakarta edisi, 31 Mei 2008
Lihat juga di blog. http://muhammad- yasin.blogspot. com.
Oleh: Moh Yasin*)
Judul Buku : Supremasi Iran; Poros Setan atau Superpower Baru
Judul Asli : Confronting Iran
Penulis : Ali M Ansari
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, April 2008
Tebal : 308, halaman.
Selama satu dekade terakhir, lewat kekuatan sistem diplomasi, kekayaan minyak, keberanian, dan semangat nasionalisme religiusnya,
Iran merasa tidak pernah butuh dan tertarik terhadap bantuan Amerika.
Sebaliknya, Iran semakin bangga dengan kecaman-kecaman Amerika.
Bahkan, Ahmadinejad, Presiden Iran saat ini, dengan lantang
menyatakan bahwa tidak ada gunanya penyelesain konflik AS-Iran lewat
diplomasi, yang berguna adalah konfrontasi, dan sikap anti
imperealisme dan hegemoni terhadap Barat.
Sikap anti arogansi dan hegemoni Iran ini sebenarnya didasarkan pada
satu fakta sejarah hubungan politik yang buruk dan tidak resiprokal
antara AS-Iran. Yaitu peristiwa kudeta atas perdana mentri Iran Dr.
Mohammad Mosaddeq pada tahun1953, yang dilakukan oleh Amerika lewat
CIA bekerjasama dengan Britania SIS. Britania dan Amerika meruntuhkan
pemerintahan Front Nasioinal Musaddeq demi tujuan menentang kebijakan
nasionalisasi minyak Iran dan kebijakan diplomasi terusan Suez.
Peristiwa kudeta terhadap Musaddeq ini memunculkan sikap anti Barat
di masyarakat Iran, rakyat Iran merasa dikhianati dan didhalimi oleh
AS. Dimana perasaan tertindas dan rasa ketidakadilan ini pada
akhirnya memuncak dan melahirkan Revolusi Islam Iran yang dikomandoi
oleh Imam Khomeini.
Lewat revolusi Islam, Negara Republik Islam Iran (RRI) menjadi Negara
anti Amerika, memutus hubungan diplomatik dengan Amerika, mengambil
alih kedutaan AS, membakar bendera AS, menyandera kedutaan, menolak
keberadaan Israel, dan kembali kepada pentingnya religiusitas dan
etika. Iran juga anti terhadap liberalisme, materialisme ala Amerika
Buku karya Ali M Ansari –seorang Professor kajian Timur Tengah di
University of St Andrews dan peneliti di program Timur Tengah Chatham
House London—yang semula berjudul Confronting Iran ini ingin
mendedahkan secara historis fakta hubungan Iran-AS dalam konteks
kemerosotan kerajaan Iran dan kebangkitan nasionalisme religius, juga
sikap Iran atas berbagai kebijakan-kebijakan Amerika yang berujung
pada konfrontasi yang berevolusi hingga sekarang.
Secara historis, hubungan Iran-AS tidaklah berjalan se-ekstrim
sepuluh tahun terakhir, sejarah hubungan Iran-AS juga pernah
berlangsung mesra dalam berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan
militer. Sebelum berujung pada hubungan yang konfrontatif yang
berlangsung hingga sekarang.
Dengan pendekatan historis kronologis, Ali M. Ansari menunjukkan
fakta bahwa hubungan Iran-AS diawali dengan sebuah hubungan
diplomatik yang mesra, demi menyelamatkan keuangan kerajaan Iran yang
kacau. Amerika pada tahun 1911 mengirimkan Morgan Shuster–seorang
Bankir Niaga Amerika– ke Iran, dan seorang penasehat ekonomi, Arthur
Chester Millspaugh, demi memimpin keuangan kerajaan di Iran. Di bawah
tangan Shuster dan Millspaugh keuangan Iran berkembang dengan pesat,
ekonomi Iran mulai terbangun dan Iran mulai menjalin hubungan
perdagangan dengan Barat.
Amerika, bersama Rezim Reza Shah, telah membawa kebangkitan
perekonomian Iran, akibat dukungan dana yang besar dari Amerika dan
sikap Rezim Reza Shah yang pro-Israel. Bahkan, Reza Shah sempat
menjadi Kaisar minyak dunia, melakukan banyak infestasi di luar
negeri. Shah bahkan berambisi ingin meletakkan Iran dalam posisi yang
sejajar dengan Britania dan Amerika. Di masa ini pula Amerika dan
sekutu mendukung program nuklir Iran, dengan asumsi agar tenaga
listrik Iran tercukupi dan agar minyak bisa tereksploitasi lebih
besar. Amerika menandatangani perjanjian memasok uranium selama 10
tahun dengan Iran, sementara Prancis memberi bantuan SDM dan Britania
berupa pendanaan.
Hubungan Iran-AS kembali mencuat pada pergantian Abad ke-20. Saat itu
Iran merasa tidak nyaman dengan cara perdagangan Barat, yang
cenderung menggunakan kekuatan-kekuatanny a untuk berebut minyak di
Iran. Iran pun ingin melepaskan diri dari manipulasi politik dari
Rusia dan Britania Raya, yang saat itu berebut kekayaan di Iran. Iran
memandang bahwa posisi Amerika sebagai sebuah peluang untuk
melepaskan diri dari manipulasi politik Rusia dan Britania Raya.
Hubungan Iran-AS kembali berlangsung mesra, dengan berbagai program
pengembangan ekonomi, pendidikan, budaya dan politik Iran.
Peristiwa kudeta 1953 terhadap Mosaddeq benar-benar menjadi momentum
buruk hubungan Iran-AS. Bantuan AS yang memajukan perekonomian Iran
dengan dibarengi penjajahan kapitalisme dan materialisme dianggap
oleh rakyat Iran sebagai godaan setan. Kebencian rakyat Iran tidak
dapat dicegah akibat benturan peradaban ini. Dan lahirlah Revolusi
Iran dengan ditandai berdirinya Negara Republik Islam Iran. Sebuah
Negara dengan semangat keberanian tinggi yang diikuti dengan
nasionalisme religius yang tinggi.
Sumbangan AS lewat Shuster, Millspaugh dan kemajuan-kemajuan ekonomi
yang diraih Rezim Reza Shah tidak ada nilainya di mata rakyat Iran.
Rakyat Iran tidak percaya lagi pada sistem hukum yang dibangun oleh
Barat.
Pasca wafatnya Imam Khomeini pada tahun 1989, beberapa upaya
pemimpin baru Iran untuk mencoba membangun kembali hubungan AS-Iran
selalu gagal. Rafsanjani, berusaha mereda konfrontasi AS-Iran lewat
jalan nasionalisme, realisme dan visi ekonomi. Begitu juga Mohammad
Khatami, lewat gerakan reformasi, dialog komunikasi internasional
dengan prinsip kebebasan dan demokrasi Islam. Namun, semua upaya
tersebut gagal sebab sikap Iran yang anti Israel.
Meski hanya menyajikan secara historis kronologis dengan
analisis yang kurang tajam, dan hanya bersifat informatif. Kehadiran
buku ini menjadi sangat penting dalam kaitannya menyajikan bagaimana
proses berjalannya pembangunan sebuah negara dari titik nol menuju
kemajuan, bahkan menjadi negara superpower. Juga menggambarkan bahwa
pemimpin-pemimpin Iran selalu tepat membuat kebijakan di era-nya
masing-masing. Mereka pro-Amerika saat mengalami kehancuran, dan anti
Amerika saat Amerika mulai ingin mengeksploitasi dan mencuri kekayaan
Iran.
*) Moh Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina, Jakarta. a Branch of
ICAS-London. Pengelola blog http://muhammad- yasin.blogspot. com.










http://indonesian.irib.ir/

























salam
boleh donkz bukunya……..
Assalamu’alaikum
Salam persahabatan dan persaudaraan
Keutamaan Surat Al-Qadar
1. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan menghidupkan malam Al-Qadar.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/613).
2. Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Tidak ada seorang pun hamba yang membaca surat Al-Qadar tujuh kali sesudah shalat Subuh, kecuali para malaikat bershalawat kepadanya 70 shalawat dan mencurahkan rahmat kepadanya 70 rahmat.” (Mafatihul Jinan 79).
3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar dalam shalat-shalat fardhunya, malaikat memanggilnya: Wahai hamba Allah, Allah telah mengampuni dosamu yang lalu, maka mulailah amalmu.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 5/612).
Lebih lengkap ttg keutamaannya yg berkait dg pengobatan, mohon klik disini:
http://tafsirtematis.wordpress.com
Wassalam
Syamsuri Rifai
http://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com
http://syamsuri149.multiply.com
Semoga Indonesia Bisa Belajar dari Iran….tanpa harus menjadi orang Iran