10 Komentar

Penjajahan Amerika di Indonesia saat ini

Terjajah ExxonMobil di Cepu

Oleh: Kwik Kian Gie



Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang  bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia . Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, “Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri.”

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap  mempunyai kemungkinan berhasil. Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan “pokoknya tidak”.

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, “Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?”

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan  bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, “Man does not live by bread alone.” Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka  panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, “Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda.” Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia
kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah  berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang
diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua.

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. “I am just doing my job”. Kepala Bappenas mengatakan lagi, “Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima.”

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, “Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri.”

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

About these ads

10 comments on “Penjajahan Amerika di Indonesia saat ini

  1. Toni B wrote:

    wah bagus sekali artikelnya Pak Samantho, terima kasih

  2. Salam, Mas Toni yang baik, itu bukan tulisan saya tapi tulisan Pak kwik Kian Gie (Mantan ketua Bapennas RI), hanya saya sangat sepakat dan merasakan pencerahan pemikiran oleh paparan beliau, juga dari Pak Amin Rais, Pak Rizal Ramli, pak Jalal dan beberapa intelektual lainnya. Beginilah seharusnya kiita memaknai 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia, karena secara ekonomi dan polotik, sebenarnya kita telah kembali terjajah oleh kekuatan Kapitalisme-Liberal Internassional. dan bukannya dengan pesta pora di Gelora Senayan atau degan konvoi motor besar (yang pamer kemewahan dan kemegahan semu dan manstrubasi psiko-politik seperti itu).

  3. Teddy Mantoro, from ANU Australia wrote:

    Dear Antho,

    Saya boleh ya ikutan komentar potongan chatting Antho ini.

    Please note: saya tidak berafiliasi dgn partai politik manapun, malah cenderung a-politik. Walau saat ini saya dekat dgn kawan2 PCI-NU New Zealand dan Australia.

    Pandangan saya, kalau boleh share begini:

    Kalau pokok masalahnya BBM, pada hemat saya ini masalah ekonomi. Ya penyelesaian yg optimal harus secara ekonomi dong, biar orang2 seperti Yayok yg solved problem ini, bukan begitu?
    kalau masalah ekonomi begini dijadikan komoditi politik, ya problemnya akan seperti efek tindal, lompat dan menyebar kemana-mana dan penyelesaiannya malah berlarut-larut.

    Apalagi kalau ada bumbu masalah personal yg lain, antar pribadi, antar kelompok, antar pribadi dalam kelompok, dan persoalan BBM hanya muatan yg dimunculkan ke permukaan untuk memulai perseteruan.
    hasilnya: mahasiswa tidak kuliah, sebagian benjol, sebagian berdarah-darah. Dapat apa mereka? Rakyat yg nonton pun, melalui TV, sudah berat tanggungan hidupnya tambah stress lagi kan?
    Tidakkah kita terlalu lama menonton pagelaran primitif dan a-produktif begini?

    Tidakkah sebaiknya persoalan begini diredam dan komunitas kita didewasakan oleh kaum terpelajar seperti kita?
    (walau saya juga merasa, pemerintah kurang kuat dan terintegrasi dalam merespon/mengantisipasi issue ini, atau ada kekuatan lain yg sangat kuat energi benturnya?)

    Saya mengerti pemilu tinggal tahun depan dan kejuaraan sepak bola dunia juga tinggal dalam bilangan hari, dalam suatu pertandingan selalu ada 3 posisi: pemain, wasit/juri dan penonton, dan ketiganya bagi saya adalah rakyat juga. Kita bisa mengambil peran apa saja, atau tidak berperan sama sekali, tapi kita harus jujur dan adil melihat masalah dan sama2 mencari/mendukung jalan keluar yg terbaik.

    Tanggung jawab siapa ya sebetulnya: agar pemilu nanti tidak berisi darah tapi senyum yg tulus.
    Kalau ada, bagaimana komunitas bisa sama-sama memberi power yg cukup agar yg ada adalah senyuman (baca: damai, peace, assalam) tanpa perlu membuang energi banyak apalagi berdarah-darah.

    Ah biar aja saya bahas begini-an ya Tho, sekali-kali daripada isinya awing lagi .. awing lagi …

    salam,
    -tm

    ‘jujur sejak dalam fikiran’ — Pramoedya A. Toer

  4. Persoalan Ekonomi (yang makin menyengsarakan rakyat banyak
    > di Indonesia) bukanlah sekedar masalah ekonomi thok, karena
    > kebijakan ekonomi negara diputuskan oleh para pemimpin
    > politik negeri ini. Gak mungkin menyelesaikan persoalan
    > ekonomi negara dan sistem perekonomian yang lebih memihak
    > kepentingan mayoritas rakyat Indonesia yang masih miskin,
    > tanpa ada keberpihakan dan kepedulian para elite politik
    > negeri kita kepada mayoritas rakyat miskin.
    >
    > Persoalannya adalah sampai saat ini sebagian besar elit
    > politik yang berkuasa di Indonesia lebih memihak kepada
    > kepentingan korporat asing yang menguasai ladang-ladang
    > minyak, perkebunan dan pertambangan (emas, nikel, batubara,
    > gas, timah, dll) milik rakyat indonesia. Ini kan sama aja
    > dengan zaman kolonialisme Belanda-Inggris dan Portugis di
    > Indonesia dulu.
    >
    > Kulihat ibu pertiwi,
    > sedang bersusah hati,
    > air matanya berlinang,
    > emas – intan yang terkenang,
    >
    > hutan gunung, sawa, lautan
    > simpanan kekayaan,
    >
    > kini Ibu sedang lara,
    > merintih dan berdoa
    >
    > Jadi, Ted, keprihatinan kami di Indonesia, adalah
    > betul-betul keprihatinan rakyat banyak-miskin yang
    > tertindas. Kemiskinan mayoritas rakyat banyak di Indonesia
    > ini adalah “kemiskinan struktural”, kemiskinan yang
    > disebabkan oleh struktur kekuasaan dan politik ekonomi yang
    > dikendalikan oleh kaum kapitalis-imperalis internasional
    > yang berkolusi dengan “kaum birokrat dan polistisi hitam”.
    >
    > Kenapa saya lebih memihak dan percaya kepada Amin Rais,
    > Kwik Kian Gie, Rizal Ramli, Sujatmoko (almarhum),
    > Jalaluddin Rakhmat, dll. Adalah karena kepedulian mereka
    > terhadap nasib rakyat banyak yang miskin, terlepas apa
    > bendera partai politik mereka dan golongannya.
    >
    > Kepedulian kita kaum intelektual yang tercerahkan seharusnya
    > adalah kepada kaum mustad’afin (kaum tertindas) di negeri
    > kita dan kepada penegakaan KEADILAN BAGI SELURUH RAKYAT
    > INDONESIA, bukan kepada kaum penindas. Ingatlah Nabi Ibrahim
    > AS, Nabi Musa As, Nabi Isa as, Nabi Muhammad AS, adalah
    > para pemimpin kaum tertindas dalam melawan kezaliman para
    > penguasa tiran sepanjang zaman.
    >
    > Dan kaum intelektual (juga ulama) mempunyai tanggung jawab
    > moral yang lebih berat di hadapan Allah SWT dan Umat
    > manusia. Karena mereka adalah para pewaris (ahli waris)
    > Visi dan Misi para Nabi dan Rasulullah.
    >
    > Maka salah satu solusinya ditawarkan oleh Amin Rais adalah
    > :… lihat di:
    >

    http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/05/17/jangan-pilih-agen-imperialisme/#more-516>

    > Dan kalau menurut Pak Kwik Kian Gie, alasan menaikkan BBM
    > karena beratnya subsidi yang harus ditanggung pemerintah
    > adalah bohong besar: (lihat di:
    >

    http://muhsinlabib.wordpress.com/2008/05/22/subsidi-bbm-kebohongan-publik>

    > Mohon Maaf, saya agak berbeda pendapat dalam masalah ini
    > dengan Kang Teddy Mantoro, ataupun Yayok Bayu Krisnamurti
    > sekalipun.
    >
    > Rakyat dan mahasiswa, serta berbagai komponen masyarakat
    > yang kini berdemo menentang kenaikan harga BBM, menuntut
    > diturunkan harga-harga sembako, dan Nasionalisasi
    > Perusahaaan-perusahaan pertambangan di Indonesia, adalah
    > benar-benar RAKYAT TERTINDAS, yang sudah hilang kesabarannya
    > dan tak rela menderita terus-menerus karena ulah segelintir
    > elit-politik ekonomi yang berkuasa di negeri Nusantara ini.
    >
    > Saya setiap hari merasakan dan menyaksikan dengan mata
    > kepala sendiri, penderitaan dan kesengsaraan rakyat miskin
    > di berbagai peloksok desa dan kota. Bahkan juga ikut
    > bersedih (ngenes) ketika anak-anak kecil (anaku dan jutaan
    > anak lainnya) rewel minta susu tiap pagi dan petang (atau
    > makanan bergizi), karena bapaknya tak mampu lagi beli susu
    > dan makan bergizi untuk mereka. “BBM Naik tinggi Susu Tak
    > terbeli, Orang kaya cari Subsisdi, Anak-anak Kurang Gizi”
    > kata Iwan Fals menyuarakan hati nurani rakyat miskin.
    >
    > Kang Teddy (yang udah makmur di Austarlia sana) mungkin
    > jarang melihat dan merasakan secara langsung penderitaan
    > mayoritas rakyat miskin di Indonesia. Betapa banyak orang
    > tua miskin stress dan depresi karena tekanan ekonomi, ada
    > beberapa yang bunuh diri dan membunuh anak-anaknya karena
    > tak tahan menderita. Antrian minyak tanah dan gas begitu
    > panjang di mana-mana. dan itu kusaksikan hampir setiap hari
    > saat ini dalam perjalan pergi dan pulang kerja naik motor
    > Bogor- Jakarta. Betapa banyak orangtua kebingunan setiap
    > tahun ajaran baru sekolah menjelang, karena bingun tak
    > punya uang untuk biiaya pendidikan anak-anaknya yang
    > semakin mahal saja kini.
    >
    > “Hanya kepada Allah SWT Yang Maha Kaya dan Maha Kasih lah
    > kami memohon pertolongan dan perlindungan dari tipu daya
    > dan siasat licik para penguasa penindas.”

  5. > Teddy Mantoro wrote: Dear
    > Antho,
    >
    > Saya boleh ya ikutan komentar potongan chatting Antho ini.
    >
    > Please note: saya tidak berafiliasi dgn partai politik
    > manapun, malah cenderung a-politik. Walau saat ini saya
    > dekat dgn kawan2 PCI-NU New Zealand dan Australia.
    >
    > Pandangan saya, kalau boleh share begini:
    >
    > Kalau pokok masalahnya BBM, pada hemat saya ini masalah
    > ekonomi. Ya penyelesaian yg optimal harus secara ekonomi
    > dong, biar orang2 seperti Yayok yg solved problem ini,
    > bukan begitu? kalau masalah ekonomi begini dijadikan
    > komoditi politik, ya problemnya akan seperti efek tindal,
    > lompat dan menyebar kemana-mana dan penyelesaiannya malah
    > berlarut-larut.
    >
    > Apalagi kalau ada bumbu masalah personal yg lain, antar
    > pribadi, antar kelompok, antar pribadi dalam kelompok, dan
    > persoalan BBM hanya muatan yg dimunculkan ke permukaan
    > untuk memulai perseteruan. hasilnya: mahasiswa tidak
    > kuliah, sebagian benjol, sebagian berdarah-darah. Dapat apa
    > mereka? Rakyat yg nonton pun, melalui TV, sudah berat
    > tanggungan hidupnya tambah stress lagi kan? Tidakkah kita
    > terlalu lama menonton pagelaran primitif dan a-produktif
    > begini?
    >
    > Tidakkah sebaiknya persoalan begini diredam dan komunitas
    > kita didewasakan oleh kaum terpelajar seperti kita? (walau
    > saya juga merasa, pemerintah kurang kuat dan terintegrasi
    > dalam merespon/mengantisipasi issue ini, atau ada kekuatan
    > lain yg sangat kuat energi benturnya?)
    >
    > Saya mengerti pemilu tinggal tahun depan dan kejuaraan
    > sepak bola dunia juga tinggal dalam bilangan hari, dalam
    > suatu pertandingan selalu ada 3 posisi: pemain, wasit/juri
    > dan penonton, dan ketiganya bagi saya adalah rakyat juga.
    > Kita bisa mengambil peran apa saja, atau tidak berperan
    > sama sekali, tapi kita harus jujur dan adil melihat masalah
    > dan sama2 mencari/mendukung jalan keluar yg terbaik.
    >
    > Tanggung jawab siapa ya sebetulnya: agar pemilu nanti
    > tidak berisi darah tapi senyum yg tulus. Kalau ada,
    > bagaimana komunitas bisa sama-sama memberi power yg cukup
    > agar yg ada adalah senyuman (baca: damai, peace, assalam)
    > tanpa perlu membuang energi banyak apalagi berdarah-darah.
    >
    > Ah biar aja saya bahas begini-an ya Tho, sekali-kali
    > daripada isinya awing lagi .. awing lagi …
    >
    > salam,
    > -tm
    >
    > ‘jujur sejak dalam fikiran’ — Pramoedya A. Toer

  6. Achmad Syaherman Wrote:

    Salamlekum, boleh ikutan nimbrungkan .

    > melihat ulasan mas Antho,kang tedi m sepertinya sy lebih
    > cenderung pada mas antho, beginilah negaraku yang tercinta
    > yg dipimpin oleh pemimpin yang harus mau berkompromi dg
    > saudagar dimana perhitungannya hanya melulu ekonomi, tanpa
    > melihat faktor lain yg lebih besar dan mendasar serta
    > tanggung jawab mereka dihadapan yang Maha Kuasa .seharusnya
    > mereka sering2 membaca bgmn Nabi kita dan para sahabatnya
    > melayani masyarakat. Diperlukan pemimpinyg punya sikap
    > kenegarawanan dan berani,entah kapan kita punya pemimpin
    > seperti itu. Buat kang tedi seperti apa yg mas antho
    > katakan, kita disini miris manakala melihat dan meyaksikan
    > rakyat yg sdh susah dalam menghadapi situasi ini. Dosa
    > siapakah manakala ada rakyatnya berusaha bertahan hidup
    > yang dgn terpaksa melakukan tindakan kriminal,? oh…..
    > negriku malangnya nasib Mu

  7. Teddy Mantoro wrote:
    Dear Antho,
    >
    > Saya boleh ya ikutan komentar potongan chatting Antho ini.
    >
    > Please note: saya tidak berafiliasi dgn partai politik
    > manapun, malah cenderung a-politik. Walau saat ini saya
    > dekat dgn kawan2 PCI-NU New Zealand dan Australia.
    >
    > Pandangan saya, kalau boleh share begini:
    >
    > Kalau pokok masalahnya BBM, pada hemat saya ini masalah
    > ekonomi. Ya penyelesaian yg optimal harus secara ekonomi
    > dong, biar orang2 seperti Yayok yg solved problem ini,
    > bukan begitu? kalau masalah ekonomi begini dijadikan
    > komoditi politik, ya problemnya akan seperti efek tindal,
    > lompat dan menyebar kemana-mana dan penyelesaiannya malah
    > berlarut-larut.
    >
    > Apalagi kalau ada bumbu masalah personal yg lain, antar
    > pribadi, antar kelompok, antar pribadi dalam kelompok, dan
    > persoalan BBM hanya muatan yg dimunculkan ke permukaan
    > untuk memulai perseteruan. hasilnya: mahasiswa tidak
    > kuliah, sebagian benjol, sebagian berdarah-darah. Dapat apa
    > mereka? Rakyat yg nonton pun, melalui TV, sudah berat
    > tanggungan hidupnya tambah stress lagi kan? Tidakkah kita
    > terlalu lama menonton pagelaran primitif dan a-produktif
    > begini?
    >
    > Tidakkah sebaiknya persoalan begini diredam dan komunitas
    > kita didewasakan oleh kaum terpelajar seperti kita? (walau
    > saya juga merasa, pemerintah kurang kuat dan terintegrasi
    > dalam merespon/mengantisipasi issue ini, atau ada kekuatan
    > lain yg sangat kuat energi benturnya?)
    >
    > Saya mengerti pemilu tinggal tahun depan dan kejuaraan
    > sepak bola dunia juga tinggal dalam bilangan hari, dalam
    > suatu pertandingan selalu ada 3 posisi: pemain, wasit/juri
    > dan penonton, dan ketiganya bagi saya adalah rakyat juga.
    > Kita bisa mengambil peran apa saja, atau tidak berperan
    > sama sekali, tapi kita harus jujur dan adil melihat masalah
    > dan sama2 mencari/mendukung jalan keluar yg terbaik.
    >
    > Tanggung jawab siapa ya sebetulnya: agar pemilu nanti
    > tidak berisi darah tapi senyum yg tulus. Kalau ada,
    > bagaimana komunitas bisa sama-sama memberi power yg cukup
    > agar yg ada adalah senyuman (baca: damai, peace, assalam)
    > tanpa perlu membuang energi banyak apalagi berdarah-darah.
    >
    > Ah biar aja saya bahas begini-an ya Tho, sekali-kali
    > daripada isinya awing lagi .. awing lagi …
    >
    > salam,
    > -tm

  8. —- Original Message —-
    From: Mufti F
    To: islam_liberal@ yahoogroups. com; islampembebasan@ yahoogroups. com; Kisah_Islam@ yahoogroups. com; partisipasi@ yahoogroups. com
    Sent: Saturday, May 24, 2008 3:05:32 AM
    Subject: Ada apa di Balik Kenaikan harga BBM, Kajian Naif atas Kenaikan harga..

    “BBM naik tinggi, susu tak terbeli.. orang pintar tarik subsidi, anak
    kami kurang gizi….“(petikan lirik lagu Galang Rambu
    Anarki – Iwan Fals)

    Lagi-lagi, akhirnya harga BBM dinaikkan kembali. Istana Presiden/Wapres
    beserta para jongos setia-nya terus mensosialisasikan ketidakadilan dibalik
    subsidi BBM dan kebijakan (seolah-olah) pro poor BLT’nya melalui
    berbagai lini kekuasaan. Rupanya mereka tidak pernah ngerti atau lebih tepatnya
    pura-pura tidak tahu bahwa menaikkan harga BBM membawa dampak efek bola salju
    inflasi dan peningkatan pengangguran. Beban hidup, kian menghimpit sementara
    daya beli makin menurun. Angka-angka Statistik memang sangat mudah dimainkan
    dan dimanipulasi sesuai selera, apalagi jika oleh mereka yang berkuasa..

    Siapa bilang subsidi BBM hanya menguntungkan orang kaya saja?! Nyatanya
    efek dari naiknya BBM berpengaruh bukan hanya pada psikologi sebagian besar
    masyarakat kita, tapi berpengaruh nyata pula pada kenaikan harga-harga di
    berbagai sektor kehidupan. Bagi kita masyarakat kelas menengah, apalagi bagi
    pejabat-pejabat di sekitaran istana sana maupun bagi para pengusaha, kenaikan
    harga BBM yang diikuti dengan inflasi di berbagai sektor mungkin tidak terlalu
    signifikan berpengaruh terhadap kehidupan, tapi tidak bagi masyarakat kebanyakan!! .
    Orang-orang ‘kuat’ bisa bersandar pada penghasilannya, atau mencari obyek yang
    bisa diserahi beban (misalnya dengan menaikkan harga produk atau mengurangi
    pengeluaran) atas kenaikan harga BBM dan harga-harga lainnya. Sementara
    masyarakat kebanyakan hanya bisa pasrah, menerima nasib sambil menghibur diri
    dalam ketidakberdayaan.

    Sampai beberapa hari kemarin kendatipun BBM’nya belum resmi naik, di
    luaran sana harga-harga sudah mulai dan masih terus merangkak. Antrean di
    SPBU-SPBU terus memanjang. Sebelum kenaikan harga BBM diresmikan saja
    harga-harga komoditas lain sudah mulai naik, apalagi setelah resmi tentunya.
    Beberapa hari belakangan ini harga Premium di pengecer non-SPBU yang biasanya
    5000/liter di kota2 besar Jawa dan Sumatera telah berganti harga menjadi
    minimal 6.000/liter. Belum lagi harga-harga barang lainnya yang juga ikut
    merangkak. Sebuah proses latihan adaptasi mungkin..

    Pantaskah di negara penghasil minyak bumi yang masih relatif miskin ini
    harga BBM dibuat setara harga pasaran dunia?! Daya beli masyarakat kita masih
    rendah bung! Dengan pendapatan perkapita hanya 810 US$ haruskah kita membayar
    hingga Rp. 6000/liter Premium. Iran yang memiliki GNP 2,5 kali Indonesia pun
    menjual Premium hanya Rp. 820/liter bagi rakyatnya. Malaysia saja yang pendapatan
    perkapitanya lebih dari 4 kali kita menjual BBM hanya Rp. 4870/liter, saat
    harga di Indonesia masih Rp. 4500/liter. Tak usahlah membandingkan dengan
    Jepang, Saudi Arabia ataupun Amerika Serikat jika tidak ingin dada kita kian
    terasa sesak. Yang lucunya lagi, saat harga minyak dunia naik harga BBM di kita
    harus dinaikkan, namun tatkala harga minyak dunia sedang turun, harga BBM (yang
    seolah-olah masih) bersubsidi tidak mengenal kata turun.

    Selamat datang kembali kebijakan BLT yang (seolah-olah) pro-poor.
    100.000/bulan hanya lah pigura ‘pemanis’ ditengah kian beratnya beban hidup.
    Ini hanyalah solusi palsu (& ad hoc). Pemberian BLT (Bantuan
    Langsung Tunai) Plus tahun 2005 lalu pun sudah terbukti gagal mencegah dari
    bertambah miskinnya rakyat. Berdasarkan hasil Susenas BPS 2006, ketika harga
    BBM dinaikkan bulan Maret dan Oktober 2005 lalu, terjadi pula peningkatan angka
    kemiskinan dari 15,97% pada Februari 2005 menjadi 17,75% rakyat Indonesia yang
    miskin pada bulan Maret 2006 lalu. Belum lagi efek-efek sosial lainnya seperti
    kecemburuan, kemalasan, ketergantungan, dll pada masyarakat.

    Biaya sekolah pun tetap mahal tidak juga kunjung gratis. Program
    peningkatan infrastruktur pedesaan yang dijanjikan saat kenaikan BBM tahun 2005
    pun entah seberapa efektif realisasinya. Mungkin hanya sektor kesehatan yang
    agak mendingan belakangan ini, meskipun cuma mendapatkan pelayanan kelas 2 tapi
    mereka yang miskin masih lebih terperhatikan, itupun karena menterinya cukup
    peduli dan tidak mau begitu saja dikendalikan oleh kekuatan para pemodal.
    Tampaknya semua ini hanyalah program ‘pembungkam- an’, ‘pil penenang’ bagi
    masyarakat bawah dan aparat rendahan.

    Rupanya masyarakat (bawah) dari hari ke hari bukan hanya dibohongi dan
    dibuat kian tak berdaya, kemandiriannya pun digerogoti sedikit demi sedikit.
    Bukan hanya pemerintahan nya dan negara yang dibuat kian terjerat dan
    tergantung pada kekuatan asing, rakyat pun dibawa-bawa. Cash program hanyalah sebuah program karitatif murahan. Betul rakyat miskin yang katanya
    perlu lebih diperhatikan mendapat iming-iming hadiah tunai, yang mungkin
    sedikit meringankan mereka dari efek domino kenaikan harga BBM. Tapi itu hanya
    berlaku selama setahun paling, sedangkan turun nya daya beli dan kian tinggi
    beban biaya hidup akibat inflasi dan meningkatnya pengangguran efek dari
    kenaikan BBM itu akan terus berlanjut. Yang terjadi dengan rakyat kita sekarang
    bukan hanya kurang gizi Pak, tapi didorong pula untuk mati perlahan. Untungnya
    ini terjadi di Indonesia neg’RI kita tercinta ini, salah satu bangsa yang
    terkenal dan sudah terbukti memiliki tingginya ketabahan dan daya tahan
    masyarakatnya dalam menghadapi berbagai deraan dan cobaan.

    Kabar terakhir lainnya, pemerintah melalui Meneg BUMN berencana menjual
    Krakatau Steel ke Perusahaan Multinasional Metal yang rupanya sudah melakukan
    pendekatan untuk itu sejak 10 thn yg lalu, tapi ditolak oleh Gusdur dan
    Megawati. Mas Amien Rais pun memiliki dokumen tentang rencana privatisasi pada
    44 BUMN Strategis, termasuk BNI, Telkom, Garuda juga Krakatau Steel. Tidak
    perlu pula lah diceritakan betapa lemahnya nilai tawar negara terhadap
    perusahaan-perusaha an multinasional Migas yang masih bercokol dan terus
    menguras kekayaan neg’RI kita tercinta ini.

    Apapun argumen yg diberikan, ada yang keliru dengan kebijakan-kebijakan
    semacem itu apalagi kalau sampai dilaksanakan. Itu sama aja dengan menjual
    sawah, traktor, motor, hanya untuk bayar sedikit utang ke tengkulak dilanjut
    dengan foya-foya atas penjualan tersebut. Jangan dilupakan pula, para pembeli
    ini sangat senang bersahabat dengan antek-antek setipe jongos’nya Amangkurat.
    Dan merekapun akan sangat berterima kasih pada panitia yg telah memuluskan
    rencana nya menguasai ‘sawah’ barunya itu. Rupanya kebijakan ekonomi kita
    belakangan ini didikte dan dikuasai oleh operator-operator kekuasaan dan
    ekonom-ekonom neo liberal yang bukan hanya lihai namun di back up pula
    oleh lembaga-lembaga keuangan multilateral (IMF,WB,WTO, dll), negara2 kapitalis
    dan perusahaan2 multinasional. Begundal-begundal Neo-kolonialis.

    Betul kata Rizal Ramli, visi pemerintahan SBY itu layaknya visi
    mahasiswa kos-kosan. Kalau tidak punya uang ngutang, tidak punya uang lagi jual
    HP, jeans, Laptop,dll. Menurutnya pemerintahan SBY pun demikian, cari utang
    luar dan dalam negeri, menjual aset-aset BUMN, dan naikin harga-harga. Drajat
    Wibowo dan beberapa anggota DPR menawarkan sejumlah solusi alternatif untuk
    menyelamatkan APBN tanpa perlu menaikkan harga BBM, tapi tidak digubris
    pemerintah. Revrisond Baswir dan sejumlah ekonom non antek-antek neoliberal/imperial is
    pun sudah menggambarkan bahwa tanpa menaikkan BBM bersubdsidi di dalam negeri
    pun kenaikan harga minyak dunia bukannya memberatkan malahan menguntungkan bagi
    keuangan negara/APBN. Lantas kemana larinya kenaikan Penerimaan (PMB/
    Penerimaan Minyak Bumi) akibat kenaikan harga minyak bumi dalam APBN/ keuangan
    negara kita ini??

    Rupanya ada kepentingan ideologis, ‘pengendalian’ (baca:penjajahan) dan
    bisnis BBM internasional dibalik kebijakan kenaikan harga BBM ini. Namun
    ternyata pemerintahan SBY-JK lebih bersedia berdiri tegak dan lebih mengerti
    cara menjadi pembela kaum imperialis (dan komprador/antek- anteknya) , daripada
    membela rakyatnya yang kian tercekik dan terhimpit ini. Masih pantaskah kita
    berharap kepada pemerintah untuk melindungi negeri ini dari jeratan dan
    tindasan kapitalisme global dan neo-kolonialisme? !

    Ini persoalan keberpihakan! !. Logika yang dipakai dalam kebijakan
    kenaikan harga BBM adalah logika pedagang dan jongos, bukan logika negarawan.
    Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan perekonomian bangsa
    ini. Jangan karna rakyat sudah apatis dan terbiasa survive & adaptif lantas
    kita bisa sewenang-wenang. Ekonomi (bangsa/negara) bukan sekedar
    technical-rasional lho tuankuu… Apalagi kalo ujung-ujungnya kian menggadaikan
    martabat dan kemandirian bangsa!

    Hidup SBY-JK, Profisiat!!
    Slamat datang neg’RI kapitalistik yang sebetulnya b’pemimpi(n) kan para
    ‘kamuflator’ ta bernurani, antek-antek & operator neoliberlisme dan
    neokolonialisme. ..

    Salam

    “MoeFth”

    “Dunia
    ini mencukupi untuk penuhi kebutuhan semua umat manusia,
    tapi tidak akan pernah cukup bagi satu orang yang serakah…” (Mohandas K.
    Gandhi)

    MUFTI FARID
    Pemerhati & Pelayan Masyarakat

    Phone: +62-8164862911/ 081394470911/ 022-70437044
    Blog: MoeFth.blog. com & KPPFoundation. blogspot. com
    Multiply: MoeFth911.multiply. com
    Friendster.com : bang MoeFth thea (Indonesia)
    Yahoo Messanger (YM): cheen_mee ATAU bang MoeFth
    02
    Mbak Septri, Saya Setuju, dengan Catatan: PAHAMI DAN AMALKAN SYARIAH ISLAM DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAN SEMURNI-MURNINYA, dan jangan dikacaukan dengan beraneka paham fiqh (furu al-Diin) yang berbeda-beda tafsiran mazhabnya dan rawan konflik internal umat Islam sendiri. Bila Syariah Islam di[pahami dengan benar dan diamalkan dengan benar, maka insyaAllah akan menjadi Rahmatan lil Alamin bagi semuanya (Bhineka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila, yang juga dipahami dan diamalkan dengan benar

  9. memang sudah saatnya kita mandiri bung karno pernah bilang “berdikari”buat apa sarjana sarjana indonesia melimpah kalo mengolah sendir aja gak bisa.sarjana sarjana sekarang hanya bisa menonton orang bule”wah hebat tuh orang bule”kapan kita bisa bilang indonesia negara makmur.karena tangan tangan kreatip sarjana handal.

  10. negara ini terus menerus dijajah melalui berbagai bentuk, seperti produksi mobil n motor yang setiap hari kian bertambah banyak sedangkan kebutuhan akan BBM pastinya bertambah banyak pula brrti ketergantungan akan BMM terus melonjak dari tahun ke tahunnya jika kebijakannya masih seperti ini,kemudian siapa yang diuntungkan terus menerus tentunya si penguasa bbmnya yaitu pihak asing. Mindset tiap org telah dipengaruhi n sllu dimasukn dgn segala sesuatu gengsi,ambisi n kemewahan yang seolah-olah adalah kebutuhan sehingga tiap org berusaha menggapainya meski harus korupsi n makan temen sendiri,kemudian siapa lagi yang diuntungkan lagi-lagi ya pihak asing selaku yang mendominasi penjualan. Pasar pasar asing sudah banyak di negara ini sampai-sampai pasar lokal sendiri akhirnya harus tersingkir,mereka hanya menjual manajemen yg sudah diset untuk kpentingan mereka,sdngkan di negara ini bahannya di dapat-yang kerja org kita-jualnya jg ke org Indonesia-tp Untungnya dibawa keluar yaitu ke negaranya,,,sungguh negara Indonesia ini masih terjajah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.962 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: