1 Komentar

Kritik Nalar Islam Arkoun

Critique de la raison Islamique[1]

oleh Reno Az

“Kolonialisme secara fisik memang telah berakhir.

Namun, paling tidak, pemikiran kita masih terjajah, tidak ikut modern.

Ditandai oleh ketidakbebasan berpikir. Ini yang harus dilepaskan oleh umat Islam.”[2]

a. Pranala awal

SAYA kira, sebelum tulisan ini dikembangteruskan pada bagian berikutnya, terlebih dahulu saya hendak menghaturkan tabik sebagai tanda pernghormatan kepada pemikir Islam neomodernis ini. Arkoun yang lama belajar di Eropa (Prancis), memiliki kemampuan mengolah data dan subjek pembahasan supercanggih, terkait dengan kajian keislaman lintas batas. Dimulai dari pemaparannya seputar ilmu-ilmu tradisional Islam, hingga merambah pada kajian Islam kontemporer. Salah kemudahan yang ia dapatkan untuk itu, mungkin diperolehnya ikhwal konsern pemikirannya yang berkisar pada soal sejarah –Islam khususnya.

Sebagaimana banyak intelektual, baik Muslim dan nonmuslim yang belajar di Prancis, Arkoun memiliki kecenderungan berpikir yang terbilang rumit. Perpaduan dari berbagai jenis perkembangan wacana ilmu yang digandrungi di sana, seperti Derrida (Dekonstruksi-grammatologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiologi), Foucault (epistemologi), Poststrukturalisme ala Saussure (linguistik), Levi Strauss (antropologi), Politik (Voltaire), Eksistensialisme (Nietzche dan Sartre), Rasionalisme (Descartes), juga ilmu-ilmu arkeologi-sosial-sejarah Mazhab Analle, Prancis. Arkoun tidak sendirian dalam hal ini. Salahseorangnya ada juga ideolog Mesir kenamaan, Hassan Hanafi, yang menggoncang gairah pemikiran Islam dengan teori Islam Kirinya. Arkoun banyak meminjam konsep-konsep kaum poststrukturalisme untuk kemudian diterapkannya ke dalam wilayah kajian Islam. Konsep-konsep seperti korpus, epistema, wacana, dekontruksi, mitos, logosentrisme, yang tak terpikir dan dipikirkan, parole[3], aktant dan lain-lain, adalah bukti bahwa Arkoun memang dimatangkan dalam kancah pergulatannya dengan poststrukturalisme. (Anwar, 2002).

Pemikiran Arkoun nampak begitu luas objeknya. Namun yang paling mudah diidentifikasi, adalah pembahasannya yang berkaitan dengan al-Quran. Hal ini lebih didasari oleh upaya yang hendak dikembangkannya, yaitu membangun spirit Masyarakat Islam Kontemporer –menuju dialog antar-agama-. Tapi satu subjek kajian ini pun tak mudah juga untuk ditelusuri jejaknya. Mengingat terbiasanya Arkoun melakukan pembahasan dengan ciri ensiklopedik. Maka mengingat tingkat kerumitan itu, saya hanya mencukupkan diri berdasar kemampuan dan kepahaman saya, atas apa yang telah saya baca dari buku-buku yang telah ditulisnya sendiri, maupun hasil karangan dari sumber kedua (skunder). Pembacaan kita tentang Arkoun ini, akan saya mulai terlebih dahulu dengan mengetengahkan riwayat singkat hidup sang pemikir Islam cemerlang ini.

b. Sekilas paparan biografi

ARKOUN dilahirkan pada 1 Januari 1928 di Desa Berber, Taurirt-Mimoun, Kabylia. Sebuah daerah pegunungan yang terletak di sebelah timur Aljazair. Berber adalah penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara. Dan bahasa yang dipakai adalah bahasa non-Arab (‘ajam) Sebagai anak seorang pedagang rempah-rempah, Arkoun tumbuh menjadi sarjana dan pemikir internasional yang sangat sukses. Ia mulai studi Bahasa Arab di negara kelahirannya, dan menamatkan pendidikannya di Paris. Ia adalah seorang sarjana Islam dan penulis Aljazair terkemuka saat ini, yang terlibat dalam tugas penting untuk menafsirkan dan menyusun kembali tradisi-tradisi keagamaan dan pemikiran filosofis klasik melalui sistem hermenuetis yang terilhami oleh metodologi kritis Barat kontemporer.

Ia banyak menghabiskan jenjang karirnya sebagai professor Sejarah Pemikiran Islam, dan menjabat sebagai direktur Lembaga Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Sorbonne Nouvelle, Paris. Ia juga menjadi Direktur Institut Studi Arab dan Islam. Dia juga sempat menjadi editor kepala dari jurnal ilmiah berbahasa Prancis, Arabica, selama bertahun-tahun. Juga memangku jabatan resmi sebagai anggota panitia nasional (Perancis) untuk Etika dan Ilmu Pengetahuan Kehidupan dan Kedokteran, anggota majelis nasional untuk AIDS, dan anggota Legium Kehormatan Perancis.

Reputasi internasional Arkoun menyebabkan ia kemudian diundang untuk memberikan kuliah di berbagai institusi akademis di seluruh dunia, termasuk di Institut Studi Lanjut, Princetone. Dan atas jasanya itulah, maka negaranya yang kedua, Prancis, menganugerahinya pernghargaan Chevalier de la Legion.

Pemikiran Arkoun tumbuh di awal perubahan millenium pascaPD-II, yang tengah gencar-gencarnya mendakukan klaim keberhasilan rasio dan sains modern, vis a vis pemikiran agama –terutama agama warisan Abrahamic-. Maka wajar pula jika ia pun segera mencari akar serta solusi dari masalah yang sedang dihadapi oleh umat Islam kala itu: kemunduran prestasi keilmuan dan peradaban. Saya kira, narasi besar inilah yang kerap diusungnya dalam setiap pembicaraan di forum ilmiah, maupun dalam karya-karya yang diterbitkannya. Baik dalam Bahasa Prancis maupun Inggris.

b. Hasil pemikiran Arkoun

TAJAMNYA kritik Arkoun pada nalar Islam seperti baris judul di atas, sebenarnya dimulai dari kritiknya terhadap disiplin epistemologis. Sebagaimana Derrida yang membongkar kemapanan bahasa dengan dekonstruksinya, maka Arkoun pun melakukan hal yang sama dengan memformat ulang semua “kemapanan” epistemologi ilmu-ilmu Islam, yang dianggapnya tidak mengalami perubahan signifikan. Menurut Arkoun, ranah keilmuan tersebut, semisal fiqh, kalam dan tasawwuf, telah terjangkiti oleh semangat ortodoksi yang berlebih-lebihan. Sehingga bukannya mengalami kemajuan. Malah sebaliknya, mundur teratur dari kancah pergulatan keilmuan dunia.

Dalam bukunya Islam Kontemporer, Arkoun mendefinisikan ortodoksi sebagai sistem kepercayaan dan representasi-representasi mitologis yang melaluinya, dan dengannya, sebuah kelompok masyarakat yang telah ada menerima dan menghasilkan sejarahnya sendiri (2001: 102). Berangkat dari asumsi seperti ini, ia menengarai bahwa bahaya laten yang ditimbulkan oleh ortodoksi, harus segera diberangus. Itu jika umat Islam memang berniat untuk berdiri sejajar dengan bangsa Eropa (Kristen) dalam perkembangan dan penguasaan dunia modern.

Kejumudan struktur epistemologis tersebut, menurut Arkoun tak dapat lagi diteruskan. Mesti ada tawaran dan gagasan baru yang bisa diaplikasikan ke hadapan umat. Maka dari itu, Arkoun pun melontarkan tawarannya tentang kemodernan dalam Islam. Agama mesti juga dipandang selaiknya spirit perubahan zaman. Dan untuk memenuhi ambisinya tersebut, ia pun tak sengan-segan untuk meneliti peran dan signifikansi al-Quran dalam abad modern ini. Jika memang Islam adalah agama yang sifatnya rahmatan lil ‘alamin dan al-Quran akan tetap terjaga hingga kini, maka semestinya dapat juga ditemukan kunci-kunci pokok atas perkembangan zaman dari dulu hingga sekarang.

Hermeneutika yang sangat berkait-erat dengan al-Quran, adalah lahan kajian yang juga ditekuni oleh Arkoun. al-Quran yang semula adalah tradisi lisan dan kemudian dibakukan dalam bentuk tertulis di zaman Khalifah Utsman bin Affan, disebut Arkoun sebagai Korpus Resmi Tertutup (Corpus Official Close). Lebih karena posisinya yang menunjukkan pengertian satuan besar teks-teks terhimpun dalam sebuah jilid. Korpus itu resmi karena pembuatannya ditentukan dan diawasi oleh sebuah kekuasaan politik yang telah terlibat dalam pertikaian. Adapun disebut tertutup, karena tak satu kata, tidak juga satu vokal pun yang dapat ditambahkan, dihapus atau diubah setelah terwujudnya konsensus kaum Mukminin tentang keutuhan dan kelengkapan wahyu.

Akibat pemahaman bahwa wahyu Allah direpresentasikan oleh mushaf Utsmani adalah utuh, lengkap, dan transenden, membuat cara berpikir umat Muslim didominasi oleh nalar grafis (tulis). Inilah yang menjadi cara pemikiran Muslim selama ini, bahkan hingga sekarang dalam memandang wahyu. Teks (grafis) kemudian sering beralih fungsi menjadi preteks (dalih) yang sering hanya diulangi dan berfungsi sebagai pengabsahan kekuasaan kelompok tertentu. (Suhadi, 2005). Kecenderungan seperti ini lazim kita temukan dan jumpai hampir di setiap belahan dunia Islam. Dan imbasnya, muncul berbagai macam golongan Islam yang masing-masing menjadi ekstrim tandingan dari golongan lainnya.

Sebelum saya masuk pada topik pembahasan berikutnya, akan disertakan sekelumit pembahasan tentang Islamologi Terapan yang diwartakan oleh Arkoun. Islamologi terapan merupakan suatu praktik ilmiah pluridisipliner. Dia mengandung sifat setia kawan. Baik pada keberhasilan maupun pada kegagalan-kegagalan dalam pemikiran semasa. Fenomena Islam berhubungan dengan peristiwa berkembangnya sebuah sabda (parole) menjadi Kitab. Karena itu, seorang Islamolog sebenarnya adalah seorang linguis dalam arti yang murni, bukan sebagai cabang dari ilmu-ilmu yang lainnya. (Saefuddin, 2003: 181)

Apa yang penulis terangkan di atas, adalah upaya untuk mengantarkan pembaca pada rekam-jejak pemikiran Arkoun berkenaan dengan Kritiknya terhadap nalar Islam. Di bawah, penulis berusaha mengikhtisarkan objek kritik tersebut secara induktif. Dimulai dari perangkat-perangkat untuk pemikiran baru: episteme merupakan kriteria yang lebih baik bagi studi pemikiran, karena kepeduliannya pada struktur wacana –postulat-postulat implisit yang memerintahkan konstruksi sintaksis terhadap wacana. Postulat-postulat itu harus diungkap dan dianalisis. Pekerjaan ini tak akan pernah dilakukan terhadap wacana apapun dalam pemikiran Islam. Karena itulah, di sini saya harus menekankan episteme baru, yang implisit dalam rangkaian konsep-konsep yang digunakan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial sejak akhir 60-an. (Arkoun dalam Kurzman, 2003: 340).

Mode-mode pemikiran: objek kritik ini tertuju pada mode pemikiran ishlahi, yang muncul sejak permulaan periode nahdah (Kebangkitan) pada abad ke-19, yang dipelopori oleh al-Afgani (1838-1897 M) dan Muhammad Abduh (1849-1905 M), yang sebenarnya implisit mengandung corak pemikiran dalam dua bagian sejarah: sebelum dan sesudah Hijriah. Dimana semua umat Islam, akan memiliki keterikatan untuk kembali menerawang masa lalu dan kemudian berusaha mencontoh pola kehidupan yang dibangun Nabi pada masa Madinah.

Maka proyek thinking Islam pada dasarnya merupakan jawaban terhadap dua kebutuhan utama: (1) kebutuhan khusus masyarakat-masyarakat Muslim untuk berpikir, untuk tahap pertama, tentang problem mereka sendiri yang telah dibuat tak terpikirkan (tak mungkin di pikirkan) akibat kemenangan pemikiran skolastik ortodoks; (2) kebutuhan pemikiran kontemporer pada umumnya untuk membuka lapangan baru dan menemukan horison pengetahuan baru, melalui suatu pendekatan sistematis yang lintas kultural, menuju probelem fundamental keberadaan manusia. (Arkoun dalam Kurzman, 2003: 352).

Dari yang tak terpikir menuju yang terpikir: bagian ini termasuk yang jadi orisinalitas pemikiran Arkoun. Pada mulanya, keberadaan ajaran Islam adalah sesuatu yang terpikir, namun tidak melulu filosofis. Baru kemudian kesempatan “memikirkan” itu terputus melalui salahsatu hasil capaian dalam bidang fiqh di tangan Imam Syafi’i, yang dengan genial menciptakan konsep Ushl al-Fiqh di abad ke-3 H. Atau apa yang juga telah dilakukan oleh mutakallimun Mu’tazilah. Keduanya menjadikan peluang untuk bidang kajian yang tadinya terpikir, menjadi tak terpikirkan ikhwal pembakuan dan legitimasi yang dilakukan oleh pihak penguasa yang bekerjasama dengan ilmuwan (ulama).

Masyarakat al-kitab: sebuah konsep umum yang dikuasai oleh perspektif eskatologis (mencari keselamatan dengan tunduk pada kehendak Tuhan) dan dibimbing di dunia ini oleh norma-norma hukum. Ini adalah sebuah proses historisasi sebuah kategori ketuhanan: Wahyu. Para penganut tiga agama samawi mengklaim, bahkan dalam konteks budaya sekuler mereka, bahwa hukum Ilahi yang diambil dari Wahyu, tidaklah tunduk pada historisitas. Ia tak dapat diubah dengan legalitas manusia dan merupakan hukum yan sepenuhnya rasional. (Arkoun dalam Kurzman, 2003: 357)

Strategi dekonstruksi: tema ini berkaitan dengan kajian sejarah. Dimana pekerjaan pertama yang mesti dilakukan adalah mendata, menjelaskan dan mengartikulasikan semua peristiwa dan fakta penting yang terjadi pada setiap periode. Kedua, menganalisis representasi mental dari peristiwa, fakta dan aksi-aksi ini yang membentuk imaginaire[4] kolektif, yang menjadi kekuatan penggerak sejarah. (Arkoun dalam Kurzaman, 2003: 362).

Wahyu dan sejarah: sampai di sini, Arkoun menekankan bahwa, konsep wahyu yang dimaknainya sebagai proses historisisasi dari keberagamaan, mesti menuntun umat Islam pada usaha untuk menjadi aktor-aktor sejarah yang selalu up to date terhadap perkembangan zaman. Karena baik eksplisit maupun implisit, al-Quran berupaya menuntun manusia untuk mengembangkan potensi dari fakultas akal dan intuisinya untuk berpikir serta merenungi segala hal yang bersinergi dalam kehidupan keberagamaannya. Dengan landasan tesis inilah, maka Arkoun berkeyakinan bahwa umat Islam akan mampu membuktikan dirinya sebagai warga dunia yang sesungguhnya, sekaligus pentahbisan bahwa Islam memiliki spirit universal: sebagai rahmatan lil ‘alamin.

d. Jejak pemikiran Arkoun di Nusantara dan kesimpulan

SEJAUH ini, pemikiran Arkoun banyak diapresiasi oleh kalangan pemikir liberal di dunia Islam dan juga para orientalis. Di Nusantara sendiri, buah perenungan anak kandung Aljazair ini, diadopsi oleh para penggiat Jaringan Islam Liberal, semisal A. Luthfi Assyaukanie dan yang lainnya, untuk menyukseskan agenda dialog antaragama, khususnya antar-tiga agama Semit. Terkait dengan tiga anjuran penting Arkoun. Pertama, melakukan pemikiran ulang tentang agama dan masyarakat menuju suatu era pemikiran baru berdasarkan solidaritas historis dan integrasi sosial. Kedua, melakukan reformasi pemikiran dari pemikiran teologis eksklusif menuju kritisisme radikal tanpa konsesi radikal terhadap “akal religius” sebagaimana fungsinya dalam tradisi tiga agama Semit itu. Ketiga, perlunya studi agama secara historis-antropologis. (Mustofa, 2001).

Arkoun menyerukan sebuah dialog antaragama yang mencerahkan. Tidak memandang “yang lain” sebagai musuh yang sesaat dan harus diselamatkan. Ia juga telah terlibat dalam dialog antaragama, khususnya Muslim-Kristen, selama 20 tahun lebih. Serta memfokuskan perhatiannya pada upaya untuk tidak saja memadukan unsur yang paling mulia dalam pemikiran Islam, dan unsur yang paling berharga dalam pemikiran Barat modern. Tak terkungkung oleh pemahaman-pemahaman klasik model Abad Pertengahan.

Dalam perspektif Arkoun, sebagian besar umat Islam belum beranjak dari pembahasan teologis-dogmatis yang kaku dan menganggap hal itu sakral, yang karenanya tak boleh diperdebatkan lagi. Katanya, kesediaan untuk melakukan pembahasan secara ilmiah dan terbuka dalam memelajari dan mengungkapkan etika al-Quran dengan tetap mengingat konteks sejarah (asbab al-nuzul) adalah upaya untuk menepis kecenderungan negatif di atas. Upayanya itu untuk memahami dan menangkap “isi objektif” al-Quran memang tampak kuat.

Pada titik ini Arkoun banyak mengapresiasi tak saja khasanah Islam, tetapi juga pemikiran Barat modern. Pemikiran Barat modern itu diambil rasionalitas dan sikap kritisnya, yang memungkinkan memahami agama dengan cara yang lebih baik, dapat menyingkap serta membongkar ketertutupan dan penyelewengan seperti disebut tadi. Ia sangat apresiatif terhadap semiotika, linguistik, antropologi, sosiologi, dan filsafat. Meskipun demikian, Arkoun juga bersikap kritis terhadap Barat. Misalnya, mengecam kepercayaan terhadap superioritas akal, karena, menurut Arkoun, kepercayaan itu tidak dapat dibuktikan oleh akal. Dalam proyek pembaruan pemikiran Islam ini, Arkoun sering mengajak umat Islam untuk memanfaatkan temuan-temuan positif dari pengkajian kembali seluruh tradisi Islam menurut pemahaman ilmiah yang paling mutakhir.

Ia tak segan mengkritik para pembaharu sebelumnya yang kurang tepat dalam memandang Barat (Eropa). Muhammad Abduh, pembaharu dari Mesir misalnya, meski dipandang berani dan mencerahkan, tapi di mata Arkoun ia telah bertindak laiknya seorang yang berpikiran apolojetik. Sikap eksklusif ini amat ditentang Arkoun. Problem dialog antaragama yang berlangsung selama ini pun tidak terlepas dari persoalan di atas. Menurut kesaksian Arkoun, kaum agamawan merasa berkewajiban untuk berdiri melawan yang lain-tidak berusaha memasuki perspektif orang lain, tetapi melindungi, mengklaim, dan menegaskan “nilai-nilai” spesifik atau “otentisitas” yang tidak dapat dilampaui dalam agama masing-masing.

Referensi-referensi teologis, menurut Arkoun, digunakan sebagai sistem kultural untuk saling bersifat eksklusif dan tidak pernah digunakan sebagai alat untuk melampaui kungkungan tradisional. Alih-alih melakukan pemikiran keagamaan yang baru, mereka justru terperangkap pada kubangan persepsi lama yang sudah memfosil. Fenomena seperti itu diperparah oleh fakta yang menyedihkan, bahwa tradisi keilmuwan lebih sering tidak dapat membantu kita untuk bergerak menuju pemikiran keagamaan yang baru. Dengan tetap mempertahankan pluralisme, seseorang akan tetap menjadi kritis, baik dalam filsafat maupun teologi. Pluralisme inilah yang hilang dalam teologi Islam. Padahal teologi harus memberikan kebebasan bagi setiap muslim untuk berpartisipasi dalam ijtihad. Pemahaman ini penting untuk membangun demokrasi di negara-negara Islam dan untuk memulihkan kembali kebebasan berpikir dalam Islam.

Arkoun berpendapat, pemulihan pengajaran sejarah akan memungkinkan Eropa dan Islam membangun dan bekerjasama atas dasar filsafat dan nilai-nilai yang sama, di mana membangun demokrasi tidak hanya berlandaskan pada negara-bangsa, tetapi pada manusia. Menurut Arkoun, munculnya Uni Eropa merupakan sebuah lompatan sejarah. Kelak ada sebuah ruang baru kewarganegaraan yang membuka kesempatan bagi manusia dari seluruh belahan bumi manapun untuk mendapatkan kewarganegaraan. Ada sebuah gaya baru pemerintahan yang berdiri di atas bangsa. (Mustofa, 2001).

Arkoun juga menekankan pentingnya pendidikan yang didasarkan pada humanisme. Dalam kaitan itu, di sekolah-sekolah menengah perlu diajarkan multibahasa asing, sejarah, dan antropologi, serta perbandingan sejarah dan antropologi agama-agama. Sekolah juga harus terbuka pada semua kebudayaan dan pemikiran

.

e. Buah pena Arkoun:

  1. Traduction francaise avec introduction et notes du Tahdib Al-Akhlaq (tulisan tentang etika/terjemahan Perancis dari kitab Tahdib al-Akhlaq Ibnu Miskawaih).
  2. La pensee arabe (Pemikiran Arab).
  3. Essais sur La pensee islamique (esei-esei tentang pemikiran Islam).
  4. Lecture du Coran (pembacaan-pembacaan Al-Qur’an).
  5. Pour une critique de la raison islamique (demi kritik nalar islami).
  6. Discours coranique et pensee scintifique (Wacana Al-Qur’an dan pemikiran ilmiah).

Rujukan Pustaka:

- Arkoun, Mohammed, Islam Kontemporer –menuju dialog antaragama-. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

- Assyaukanie, A. Lutfi, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer. Jurnal Pemikiran Islam, PARAMADINA, 2 April 2005.

- Bihar Anwar, Cecep Ramli, Cara Membaca al-Quran. www.islib.com, 9 Juli 2002.

- Kurzman, Charles, Wacana Islam Liberal –pemikiran islam kontemporer tentang isu-isu global-. Jakarta: Paramadina, 2003.

- Mustofa, Dari Dekonstruksi Pemikiran ke Dialog Antar-agama (resensi buku). Kompas, Minggu, 12 Agustus 2001.

- Saefuddin, Didin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam –biografi intelektual 17 tokoh-. Jakarta: Grasindo, 2003.


[1] Judul itu diterjemahkan menjadi “Kritik Nalar Islami”. Diambil dari karya Arkoun yang diterbitkan di Paris Prancis: Maisonneuve-Larose, 1984. Nalar Islami yang dimaksud Arkoun adalah nalar ortodoksi, epistemologi, skolastik dan pemikiran Islam klasik.

[2] Dalam pembukaan seminar “Konsep Islam dan Modern tentang Pemerintahan dan Demokrasi” di Jakarta, Senin (10/4/2000),

[3] Istilah parole dan langue dipinjam dari semiotika. Bermula dari Swiss pada abad ke-19 M. Dalam seluruh gejala kebahasaan—parole disebut langage—dan perlu dibedakan dua seginya: sistem kebahasaan yang disebutnya sebagai langue dan pemakaian bahasa dalam ungkapan-ungkapan nyata yang disebutnya sebagai parole. Dengan kata lain, parole adalah penggunaan bahasa secara individual. Penutur seolah-olah memilih unsur-unsur dari “kamus” umum (langue) tersebut.

[4] Bukan bermaksud menyingkirkan setiap sudut pandang rasionalistik sumber pengetahuan yang dipakai dalam semua tradisi agama. Dan lebih pada upaya untuk mengenalkan pada suatu kategori antropologis untuk menjelaskan bagaimana persepsi tentang kenyataan, dan semua bahasa yang terkait dipakai untuk merujuk pada kenyataan ini, dan dipengaruhi oleh ungkapan kunci yang berasal dari berbagai kajian mengenai Allah.

About these ads

One comment on “Kritik Nalar Islam Arkoun

  1. siapa yang tidak mengenal arkoun? pemikirannya dan pengetahunnya tentang sejarah peradaban islam telah memberikan kontribusi besar dalam khazanah peradaban Islam kontemporer dewasa ini. sangat jelas pemikiran arkoun di pengaruhi kemajauan barat, ia menggunakan metoe hermenetiknya di dalam membaca peradaban dunia, sama halnya dengan hamid nasr abu zayd dalam menafsirkan al qur’an. hasil dari pemikiran tersebut adalah pengertian antara satu peradaban dengan peradaban lainnya (islam dengan barat).
    pengaruh pengetahuan barat atas pemikiranya terkait akan majunya peradaban tersebut. nampaknya saat ini belun ada para tokoh yang setara memumpuni dan setara dengan beliau, khususnya dalam aspek peradaban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.977 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: