Zoroastrianisme adalah Agama Samawi?

April 12, 2008 at 3:40 am | In Falsafah, Ibrah Sejarah, Irfan |

Oleh: Irfan Permana

Zoroastrianisme adalah sebuah agama Persia kuno yang berusia ribuan tahun dan tetap mempunyai penganut hingga kini. Dicetuskan oleh Zarathustra (dalam bahasa latin dikenal sebagai Zoroaster), yang dipercaya sebagai seorang nabi. Saat ini populasi mereka hanya tinggal sekitar 140.000 jiwa yang tersebar di seluruh dunia. Kelompok besar dari komunitas ini hanya sekitar 82.000 jiwa yang menempati Bombay (India) dan sekitar 3000 jiwa berada di Karachi (Pakistan). Di India dan Pakistan ini Zoroastrianisme dikenal juga dengan sebutan Madyanisme dan Parseisme.

Tabari dan Mas’udi menyatakan bahwa keseluruhan isi kitab Avesta telah ditulis dengan tinta emas di atas 12.000 lembaran kulit sapi. Kitab ini pernah tersimpan di perpustakaan kerajaan yang terletak di Istakhar. Selain itu pernah tersimpan juga dalam khazanah kekayaan yang disebut Dizh-e-Niphist, yang terletak di Persepolis. Namun khazanah kekayaan tersebut terbakar habis saat terjadi invasi Alexander Agung. Kerusakan lainnya yang tak dapat tergantikan adalah ketika bangsa Arab dan Mongol melakukan invasi, masing-masing pada abad ke-7 dan 12 H. Pada perkembangan selanjutnya, sabda-sabda Zarathustra dan para penerusnya kemungkinan telah dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi.

Setidaknya ada dua prinsip dasar dalam keyakinan Zoroastrianisme: pertama, ada hukum di dalam alam. Kedua, ada konflik di dalam alam. Penegakan hukum berlangsung terus menerus akibat adanya konflik yang terjadi di alam semesta ini. Dalam konsepnya, harus ada penyatuan antara kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa proses penyatuan kebaikan dan kejahatan itu tidak dipahami sebagai aktivitas yang mandiri, melainkan dua aspek dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, konflik tersebut adalah perjuangan Tuhan melawan diri-Nya sendiri. Jadi dapat dikatakan secara teologis bersifat monistis dan secara filosofis bersifat dualis.

Dalam menjelaskan konsep monistik, Zoroaster menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan sejati, Ahura Mazda, yang bersifat azali serta kekal selamanya. Dia adalah pencipta segalanya termasuk dewa-dewa lainnya. Dia adalah penganjur kebijaksanaan, keadilan dan kebaikan, yang mutlak terpisah dari unsur kejahatan dan kezaliman.

Aku mengenal Engkau dalam pikiranku, wahai Mazda. Engkaulah yang awal dan yang akhir, Engkaulah satu-satunya yang patut disembah, sumber ajaran kebaikan, pencipta kebenaran dan keadilan, dan hakim atas semua perbuatan kami di dunia ini. Karenanya aku tempatkan engkau di hati sanubariku.” (Yasna 31:8)

Pengikut Zoroaster meyakini pula adanya ruh jahat, yaitu Ahriman, sebagai simbol dari kejahatan. Bagi mereka, alam semesta merupakan ajang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kezhaliman, serta antara kegelapan dan cahaya terang. Dan pertarungan sengit ini harus dimenangkan oleh kebaikan, keadilan dan cahaya.

Adapun manusia, sebagai mikrokosmos bergulat dengan dua kekuatan dalam dirinya. Manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan, bebas berpihak kepada yang gelap atau yang terang. Manusia memiliki the freedom of choice. Namun, berdasarkan hukum sebab-akibat, manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya tersebut, serta siap menerima konsekuensinya.

Konsep ini rupanya mempengaruhi pemikiran Syaikh al-Isyraq, Suhrawardi, khususnya mengenai konsep cahaya dan gelap. Namun tidak sama persis. Jika dalam Zoroastrianisme, gelap dan terang seolah-olah dipisahkan oleh garis tegas yang mengindikasikan keterputusan hubungan –bahkan mengandung pengertian peperangan abadi antara keduanya–, maka tidaklah demikian dengan konsep gelap-terang Suhrawardi. Dalam filsafat iluminasi ini, konsep gelap-terang digambarkan sebagai rangkaian intensitas dari terang menuju gelap, dimana semakin jauh dari cahaya maka semakin redup akhirnya gelap. Intensitas cahaya tersebut menganalogikan hirarki wujud, dimana sumber cahaya menempati posisi tertinggi.

Terkait dengan api, Zoroastrian menyembah Ahura Mazda sebagai Tuhan cahaya. Api suci dinyalakan sebagai simbol cahaya Ahura Mazda yang keberadaannya terkait dengan proses penyucian jiwa. Zoroaster menegakkan kebenaran misinya dengan ancaman hukuman kepada para pendosa dengan api dan baja yang dicairkan kelak di hari akhir nanti. Perlu dipahami bahwa api di sini bukan berarti api dalam pengertian fisik namun merupakan api rohani dan api terpendam yang bersinar terang di hati setiap pengikut Zoroaster yang shaleh. Jadi terlalu sederhana jika dikatakan begitu saja bahwa mereka penyembah api.

Tradisi khas dalam agama-agama profetik, selain berbicara tentang eskatologi, hari akhir, dan sebagainya, yang paling menarik perhatian adalah tentang ekspektasi mesianik –penantian sang juru selamat. Betapa tidak, di antara tiga agama besar samawi terdapat kemiripan mengenai hal ini, terlepas dari fakta bahwa satu sama lainnya saling mempertentangkan. Orang-orang Yahudi dan Kristen berselisih tentang siapa sang juru selamat. Begitu pula dengan Islam. Yang pasti, ketiganya mempercayai akan datangnya seorang penyelamat di masa depan.

Lalu apa yang dikatakan Zoroaster mengenai sang juru selamat ini? Sangat menarik untuk disimak mengenai pandangan Zoroaster tentang kemunculan sang penyelamat ini.

Dalam beberapa referensi kitab Zoroaster, disebutkan beberapa kali mengenai kemunculan sang juru penyelamat agung. Misalnya dalam Zend Avesta disebutkan bahwa kezhaliman (laskar Ahriman) setelah menguasai bumi ini pada akhirnya akan lenyap dan digantikan oleh kemenangan orang-orang shaleh (laskar Yazdan), setelah menempuh peperangan selama 9 tahun. Setelah Ahriman berhasil ditumpas, kebahagiaan sejati akan diperoleh dan manusia akan duduk di atas singgasana keadilan, dilimpahi kemakmuran.

Dalam kitab lainnya, Ghathas, dikabarkan berita gembira tentang kemunculan al-Mahdi. Dikatakan bahwa orang-orang berdosa akan mendapat balasan. Ketika tiba waktu yang dijanjikan, pemerintahan ilahiah akan tegak di bumi ini. Sebuah pemerintahan yang dipenuhi keadilan, yang dipimpin oleh Bahman sebagai delegasi dari Ahura Mazda.

Kemudian dalam buku Jamasb-nameh, setelah meramalkan kedatangan Nabi Islam SAW dan pemerintahan ilahiah al-Mahdi, dituliskan: ”Dari anak cucu putri Nabi itu yang dikenal dengan sebutan matahari dunia dan junjungan wanita semesta alam, akan muncul satu orang yang akan menjadi seorang raja di dunia ini dengan ketentuan dari Yazdan. Ia adalah pengganti terakhir Nabi itu di dunia ini, pemerintahannya akan berlangsung sampai kiamat. Ia akan menangkap Ahriman yang menentang Yazdan dan selalu bermaksiat kepadanya, lalu ia akan menghukum dan membunuhnya. Ketika kerajaannya usai, dunia akan berakhir, langit akan tergulung, bumi tenggelam, gunung-gunung musnah.

Kabar di atas sejalan belaka dengan apa yang kita dapatkan dalam hadits-hadits yang berkenaan dengan kemunculan Imam Mahdi. Saya kutip beberapa di antaranya, yaitu hadits dari jalur Ahlussunah:

Dari Abu Sa’id r.a. dari Nabi SAW, bersabda:
“Al-Mahdi itu dari keturunanku, keningnya luas, hidungnya mancung, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi itu dipenuhi oleh kezaliman dan kecurangan, ia berkuasa selama tujuh tahun.”
(HR. Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Ibn Majah, Nu’aim ibn Hammad, dan al-Hakim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata:
Rasulullah SAW mengingatkan: “Akan menimpa ummat ini suatu bencana sehingga tidak ada tempat untuk berlindung yang dapat melindunginya dari (tindak) kezhaliman, kemudian Allah mengutus seorang laki-laki dan keturunan Ahlulbait-ku. Maka dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi oleh kezaliman, penghuni langit dan bumi merasa senang kepadanya. Langit tidak menyerukan sesuatu pun dari titik-titik hujannya, kecuali ia menurunkannya dengan deras, dan bumi tiada (pula) menyerukan sesuatu pun dari tumbuh-tumbuhannya, sehingga orang yang telah mati (bisa hidup kembali). Al-Mahdi saat itu hidup tujuh atau delapan tahun (lamanya).” (HR. al-Hakim)

Dari Ibn Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi bersabda”:
“Seandainya (umur) dunia tinggal satu malam saja, pasti Allah memanjangkan malam itu, sehingga seorang dari Ahlulbaitku berkuasa, namanya serupa dengan namaku, dan nama bapaknya serupa dengan nama ayahku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi oleh kezaliman dan kecurangan, dan ia membagi-bagikan harta secara rata. Dan Allah menjadikan hati ummat ini merasa kaya, maka ia (al-Mahdi) menetap (di bumi) selama tujuh atau sembilan (tahun) dan sesudah itu, tidak ada lagi kebaikan dalam hidup.” (HR. Abu Nu’aim)

Konon dalam peperangan Qadisiah, ketika dinasti Sasanian mengalami kekalahan –setelah komandannya yang terkenal, Rustam Farrukhzad tewas dalam peperangan tersebut– disebutkan bahwa sebelum akhirnya terpaksa melarikan diri, raja terakhir dinasti Sasanian, yaitu Yazdgerd memandangi istananya yang megah seraya berkata: ”Wahai balkon istanaku, salam atasmu! Aku sekarang akan pergi dari sisimu hingga aku kembali lagi kepadamu bersama salah seorang putraku yang sekarang belum tiba kemunculannya.”

Berkaitan dengan hal di atas, sebuah hadits yang diriwayatkan Sulaiman ad-Dailami dalam Bihar al-Anwar mengabarkan kepada kita:
”Suatu hari aku bertamu kepada Imam Ja’far ash-Shadiq as. Aku bertanya kepada beliau tentang maksud ucapan Yazdgerd tentang ”salah seorang putraku” tersebut. Beliau berkata: ‘Ia adalah Mahdi yang telah dijanjikan (kemunculannya) dan al-Qa`im dari keluarga Muhammad yang akan muncul di akhir zaman dengan perintah Allah. Ia adalah putraku yang keenam dan putra dari putri Yazdgerd. Dengan demikian, Yazdgerd adalah ayahnya juga.”

Seperti kita ketahui, bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as adalah keturunan dari Imam Husain as. Imam Husain as beristrikan seorang puteri Persia bernama Syahzanan (Syahrbanu), yang tak lain adalah putri dari Yazdgerd. Maka dapatlah dipahami ucapan Imam ash-Shadiq as di atas.[]

(Majalah Syi’ar Edisi Muharram 1428 H)

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wallahu. Merinding baca tulisan ini.

    Comment by ressay — April 12, 2008 #

  2. Ass.wr.wb.
    Sebelum saya menceritakan pengalaman saya yang berikut ini, saya memohon agar kita sebagai muslim agak sedikit melapangkan dada untuk menerima atau tidak menerima cerita saya berikut ini.Apakah ini suatu kenyataan ataukah tidak terserahlah kepada yg mendengarnya, kalau seandainya bapak keberatan untuk menerimanya dan menghapusnnya, untuk pribadi saya, juga saya tidak ada masalah,karena menurut hakikat saya,mendengar atau melihat cerita ini akan menimbulkan kebencian, penghasutan, pencacian dll,jadi saya serahkan saja kepada akal manusia yg sehat untuk menimbang baik atau buruknya.

    Beginilah ceritanya:
    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    apakah kita sudah bersiap untuk kedatangan tanda-tanda akhir zaman?

    Wassalam

    Comment by Dono. — August 4, 2008 #

  3. Maaf saya boleh sedikit mengomentari………Pengalaman ini mungkin banyak ditemui oleh setiap umat manusia. Inilah yang kadang disebut oleh orientalist sebagai religious experience. Tapi bagaimanapun spt contoh2 lainnya spt Ibu Lia dll modus nya tetap sama.

    Tapi yang lebih pokok lagi adalah bahwa saya yakin bahwa dunia tidak akan pernah hancur total bahwa kehidupan akan tetap ada sebagaimana Tuhan tetap selalu ada jadi meminjam Mulla Sadra bahwa hari kebangkitan itu tidak harus dimaknai dengan kehancuran total alam fisik dari dunia tetapi kebangkitan jiwa kita sendiri (alam imaginal). Bahwa alam ini jauh lebih nyata daripada alam fisik itu sendiri. Seperti manusia lebih sakit jika dihujani kata2 menyakitkan dari pada ditusuk sembilu.

    Saya harap anda tidak puas dengan penjelasan serba singkat ini sehingga anda lebih mengeksplor lagi topik ini. Selamat berpetualang

    Comment by Binarga Guchany — August 24, 2008 #

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.