Produser Media

March 28, 2008 at 7:22 am | In Falsafah, Hikmah, Islam & Sciences |

Produser Media

Sebuah tema utama dari teori sosial paska–Pencerahan (post-Enlightenment), mungkin adalah tema “pembagian kerja” (the division of labour). Para ilmuwan dari rentang yang luas sepakat dalam melihat perkembangan modernitas yang berpusat pada sebuah peningkatan spesialisasi sosial yang diperlukan dalam kompleksitas sosial. Ini adalah pembagian pekerjaan yang memunculkan kebutuhan untuk, dan merupakan problem, mediasi sosial.


Hal ini dalam perjalanannya menciptakan kebutuhan sosial terhadap institusi (lembaga-lembaga) dan proses-proses yang telah saya sebut sebagai media. Dari sudut pandang ini penting ditekankan bahwa problem teori sosial muncul dari sifat dialektik proses ini. Di satu sisi pertumbuhan spesialisasi sosial telah menciptakan kondisi untuk, dan langsung menunjuk pada kenyataan dari, individualitas yang lebih besar dan percerminan peran-peran potensial, karier-karir dan identitas-identitas terbuka bagi perkembang-biakan individu-individu dan rentang interaksi sosial yang makin meningkat. Di sisi lain hal ini juga membawa pada apa yang Mulgan baru-baru ini sebut ‘greater connexity’ (hubungan yang lebih besar) sehingga kita semua menjadi lebih dalam tertanam dalam sebuah rentang kesaling-bergantungan sosial, sebuah rentang yang sangat kompleks, yang akan membawa pada perkembangan struktur yang relatif abstrak dari koordinasi sosial sistem dunia.

Salah satu aspek problem ini terhadap apa yang difokuskan dalam bab ini adalah sebagai berikut: kelangsungan hidup individual kita, atau paling tidak kualitas kehidupan kita, dan bahwa pembentukan sosial (social formation) itu sendiri tergantung, paling tidak sebagiannya, pada proses produksi simbol-simbol dan peredarannya yang telah saya sebut sebagai media, sementara pada saat yang sama proses tersebut, karena proses yang lebih umum spesialisasi sosial itu sendiri, telah sampai di bawah kontrol seorang kader yang telah terspesialisasi, apa yang dalam teori sosial telah disebut sebagai kaum intelektual. Pengetahuan kita tentang dan hubungan antara dunia alami (natural) dan dunia sosial, dan juga kita sendiri termediasi secara meningkat melalui sebuah kelompok khusus orang. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana kelompok tersebut terpilih dan terlatih, mengapa mereka bertindak sebagaimana mereka bertindak, dan bagaimana mereka terkait dengan kelompok sosial yang lain.

Marx melihat pembagian pekerjaan sebagai penghasil keterasingan dan ekspolitasi, dan melihat masa depan utopia komunis yang akan menempatkan kembali kapitalisme sebagai sebuah dunia sosial dalam mana spesialisasi peranan dan fungsi tidak lagi menjadi peraturan. Sebagaimana dia terkenal mengatakan dalam buku The German Ideology. Segera setelah buruh didistribusikan, setiap orang memiliki sebuah ruang ekslusif yang khusus dari aktifitas, yang dipaksakan kepadanya, dan yang darinya dia tak dapat melarikan diri. Dia adalah seorang pemburu, seorang nelayan, seorang pengembala sapi, atau seorang pengkritik yang kritis, dan harus tetap begitu jika ia tidak ingin kehilangan maknanya dalam kehidupan: sementara dalam masyarakat komunis di mana tak seorang pun mempunyai ruang aktifitas eksklusif, tapi masing-masing menjadi terlengkapi dalam setiap cabang yang ia harapkan, masyarakat mengatur produksi umum dan kemudian membuat hal itu menjadi mungkin bagi saya untuk melakukan suatu hal hari ini dan hal lain besoknya, untuk berburu di pagi hari, memancing di sore hari, berjalan di belakang ternak di malam hari, mengkritik setelah makan malam, sekedar karena saya punya pikiran, tanpa pernah menjadi pemburu, nelayan, pengembala sapi, kritikus (Marx 1963: 22)

Weber melihat pembagian pekerjaan sebagai bagian dari proses rasionalisasi sosial yang membawa kepada peranan akal instrumental dalam mengejar efisiensi dan untuk kekecewaan dari dunia. Jika bagi Marx hubungan pertukaran pasar adalah ekspresi dominan susunan hubungan sosial yang dihasilkan dari pembagian pekerjaan, bagi Weber birokrasi juga mengisi peranan yang sama. Durkheim, di sisi lain, lebih positif, dan dalam hal ini dia diikuti oleh Elias dalam karyanya The Civilizing Process (1994). Bagi Durkheim, pembagian pekerjaan membawa kepada penempatan ulang solidaritas mekanis masyarakat pra-modern oleh solidaritas organis masyarakat modern, di mana interaksi sosial yang diperlukan, yang sangat rapat dan kompleks, menyemaikan norma-norma yang diperlukan bagi bentuk yang lebih kolaboratif dari eksistensi sosial dan kemudian mejadikan sosialisme sebagai bentuk yang lebih tepat dari kehidupan religius bagi masyarakat moderen.

Dalam sudut pandang yang lebih umum tentang perkembangan sosial ini, posisi dalam pembagian pekerjaan para spesialis dalam produksi simbolik dan penyebarannya, telah menjadi fokus perhatian yang khusus. Sebagaimana telah kita lihat, sosiolog sejarah seperti Gellner dan Runciman melihat evolusi sosial dalam pengertian hubungan peralihan antara tiga fungsi atau peranan sosial yang mendasar, dan kelompok-kelompok yang membawa fungsi-fungsi tersebut atau mengisi peranan tersebut – dalam kata-kata Gellner: ‘antara bajak, buku dan pedang’, dalam Runciman antara mode produksi, persuasi dan pemaksaan.

Bagi mereka yang bekerja di dalam proyek pembebasan paska-Pencerahan (post-Enlightenment emancipatory) problem pembagian pekerjaan intelektual atau mental adalah khususnya sesuatu yang dapat diperbincangkan karena pada inti visi Pencerahan dari pembebasan manusia adalah sebuah pembebasan pikiran, revolusi budaya. Dalam essay Kant “What is Enlightenment?” (Kant 1991), orang terbebaskan yang dewasa tidak hanya mempunyai kewajiban untuk memikirkan dirinya sendiri untuk membebaskan dirinya dari dogma; mereka juga punya kewajiban berbagi pikiran tersebut dengan yang lain melalui publikasi, sesungguhnya, sebagaimana akan kita lihat di Bab 8 secara lebih rinci, definsi utama pemikiran otonom dan kebenaran, keadilan dan keindahan yang merupakan tujuannya, tergantung pada komunikasi publik. Bagi Kant, Pencerahan dalam sebuah masyarakat bukanlah sebuah proses individual, tapi sesuatu yang tergantung pada sebuah proses komunikasi sosial. Maka menerima bahwa modernitas menciptakan sebuah kelompok sosial yang memiliki, secara de facto jika bukan de jure, monopoli proses tersebut adalah untuk memukul jantung utama proyek tersebut. Teori Habermas tentang tindakan komunikasi dan ruang publik, contohnya, sebagaimana akan kita lihat, adalah sebuah usaha untuk kembali kepada proyek Kantian ini. Tapi apakah hal ini dapat bertahan hidup dalam menghadapi pembagian pekerjaan yang merupakan inti-utama modernitas?

Problem ini adalah bagian dari problem yang lebih umum yang merupakan proyek Pencerahan oleh mediasi pada umumnya. Pembebasan tergantung dari sebuah gagasan transparansi sosial potensial. Pembebasan (emancipation) dihasilkan oleh akal yang menyingkap kebenaran segala sesuatu, termasuk kebenaran dari hubungan-hubungan sosial. Ketika kenyataan ini langsung hadir pada persepsi kita sendiri dan pengalaman dalam kehidupan dunia, analisis pembebasan rasional mungkin jadi cukup sulit, sebagaimana akan kita lihat baik di dalam problem pengamatan (observasi) langsung dan pengukuran terhadap fenomena alam, maupun di dalam problem-problem yang dihadirkan untuk pemahaman diri oleh dorongan bawah sadar. Dalam alam sosial di mana realitas harus dimediasi oleh aktor sosial yang lain, sebagaimana mereka katakan, dengan agenda mereka sendiri, problem bahkan lebih besar. Sesungguhnya ini adalah problem yang membuat pertanyaan tentang ideologi menjadi penting bagi teori sosial dan melanjutkan kepeduliannya.

Dalam problem sentral ini ada dua isu: bagaimana para spesialis dalam produksi simbolik ini terkait dengan ilmu pengetahuan itu sendiri? Dapatkan mereka, dalam suatu pengertian, dikatakan, mengatakan sebuah kebenaran yang sah bagi orang lain, sebagaimana, buat diri mereka sendiri, atau di sisi lain dapatkah mereka hanya berbicara dari posisi intelektual sebagai sebuah kelompok sosial yang berhubungan dengan kelompok sosial lainnya? Kedua, bagaimana kaum intelektual sebagai sebuah kelompok sosial terhubung dengan kelompok sosial lainnya? Apakah mereka berbicara kepada yang lainnya? Apakah mereka mempersiapkan orang-orang dengan sumber-sumber informasi dan budaya dan kesenangan yang mereka butuhkan? Apakah mereka adalah para produser komoditi informasi dan budaya?

Problem dari produser media telah diabaikan dalam kajian media dan budaya akhir-akhir ini – sesungguhnya juga dalam teori sosial pada umumnya – karena bahasa yang umum berubah , dan para penulis yang telah tergabung dengannya telah dianggap mati? Jika para penulis tidak eksis atau tidak mempunyai kekuasaan yang disengaja, mengapa kita mengkajinya? Dari perspektif tersebut inilah mereka hanya mempertahankan sebuah kepentingan sejauh pengakuan mereka terhadap kesengajaan atau kebenaran yang terlihat sebagai bergerak di dalam sebuah wacana permainan kekuasaan. Saya akan kembali kepada problem umum dengan posisi ini di dalam Bab 6 dan Bab 7. Di sini, cukup dicatat bahwa pendekatan yang diadopsi di sini adalah bahwa para produser menerapkan beberapa kekuasaan terhadap bentuk-bentuk simbolik yang diproduksi dan didistribusikan dan bahwa kekuasaan adalah layak (berguna) bagi analisis dalam haknya sendiri.

Secara luas ada tiga cara mendefinisikan spesialis produksi simbolik yang saya sebut sebagai para intelektual. Pertama, mereka dapat didefinikan sebagai sebagai sebuah kelas yang kekuasaannya, kadang-kadang disebut sebagai kekuasaan simbolik, diturunkan dari kontrol monopoli terhadap produksi ilmu pengetahuan dan legitimasi kultural melalui pemilikan kekuasaan yang diakui secara sosial untuk mendefinisikan apa-apa yang dianggap benar, baik dan indah. Melalui analogi (perumpamaan) dengan modal industrial atau modal finansial, kekuasaan yang didefinikan ini kadang-kadang, contohnya dalam karya Bordieu dan mazhabnya, disebut ‘modal kultural’. Pemilikan modal tersebut adalah juga terkait dengan sebuah proses pengujian dan penghargaan melalui sistem pendidikan, maka para intelektual dapat didefinisikan sebagai mereka yang telah menerima sebuah level pendidikan tertentu, biasanya pendidikan yang lebih tinggi. Yang kedua, mereka dapat didefinisikan secara funsional sebagai para pekerja di sektor informasi, yang mempunyai posisi spesial di dalam pembagian pekerjaan yaitu memanipulasi (memainkan/mengerakkan) bentuk-bentuk simbolik. Yang ketiga, mereka mungkin didefinisikan sebagai secara normatif sebagai pekerjaan, sebagai wakil dari sebuah tradisi kritis, tradisi pembebasan (emancipatory) yang menyerukan nilai-nilai universal. Ini adalah bertentangan dengan peran normatifnya sehingga yang disebut ‘clercs’ (pendeta) oleh Benda melakukan pengkhiatanan.

Definisi-definisi ini, tentu saja, bukanlah eksklusif satu sama lain, tapi masing-masing memfokuskan pada rangkaian problem sosial yang berbeda. Analisis Kelas cenderung memfokuskan pada kepentingan mempersatukan kaum intelektual sebagai satu kelompok sosial dalam berhadapan dengan kelompok-kelompok sosial yang lain, yang dalam teori dan analisis mutakhir, cenderung menekankan tidak pada potensi mereka sebagai kelas universal pembebasan baru, tapi sebuah pandangan sinis (contohnya dalam Bordieu dan Gouldner) dari cara-cara di mana ideal normatif adalah sekedar sebuah front ideologis untuk meraih kepentingan kelasnya sendiri, baik sebagai fraksi yang mendominasi dari kelas yang dominan atau sebagai operator dan sebuah ‘rezim kebenaran’ yang menindas. Analisis fungsional telah menfokuskan, sebagaimana yang sekarang berpengaruh luas dalam post-industrial, pada thesis Masyarakat Informasi dari Daniel Bell dan para pengikutnya (epigones), tentang restructuring mode produksi, komposisi-ulang yang terkait dengan angkatan kerja dan konsekuensi-konsekuensi ekonomi, sosial dan kultural yang mungkin dari proses ini. Dalam pengertian argumentasi buku ini mode analisis ini secara khusus memiliki relevansi karena hal ini dapat membawa, baik kepada perkiraan optimis atau pesimis tentang konsekuensi sosial dari teknologi informasi. Bagi mereka yang optimis perkembangan sebuah Masyarakat Informasi yang dihasilkan dari memanfaatkan potensi penuh teknologi komunikasi dan informasi, adalah membebaskan, karena hal itu membimbing kepada demokratisasi umum dari karya intelektual dan wacana kritis. Setiap orang menjadi seorang intelektual dan berpartisipasi dalam sebuah ‘agora’ elektronik baru. Bagi mereka yang pesimis, perkembangan yang sama menempatkan kekuasaan yang makin bertambah dari manipulasi (penyelewengan) dan kontrol di tangan sebuah elite teknokratik baru, yang membawa kepada melebarnya jurang ilmu pengetahuan dan sebuah teluk yang makin diperlebar antara orang yang kaya-informasi dan mereka yang miskin-informasi. Akhirnya, pendekatan normatif, tanpa terkait dengan pendekatan kelas atau pendekatan fungsional, adalah dikecam/disalahkan sebagai ‘menara gading’ atau ‘hutan belantara’. Bagaimana pun menariknya visi mereka, ini tidak dapat menghadapi pertanyaan krusial tentang bagaimana kaum intelektual yang kritis tersebut dapat dihasilkan secara sosial dan dalam cara apa penilaian kritis mereka dapat dibuat efektif secara sosial.

Namun apapun campuran pendekatan-pendekatan itu, kita harus memilih untuk mengadopsi hal itu, adalah baik untuk mulai dari posisi Gramscian bahwa semua umat manusia adalah intelektual dalam pengertian bahwa mereka bukanlah makhluk yang sepenuhnya hanya dikendalikan oleh insting tapi secara konstan menerapkan kekuatan batin analisis rasional dan imajinasinya terhadap interaksi-interaksi setiap harinya dengan lingkungan materialnya, dan dengan sahabat-sahabat manusianya yang membentuk identitas dan proyek-proyeknya. Mereka adalah, sebagaimana Marx katakan, arsitek bukan lebah. Analisis terhadap intelektual per se adalah kemudian jadi analisis apa yang Gramsci sebut sebagai ‘sistem hubungan di mana aktifitas (intelektual) (dan oleh karena itu kelompok intelektual yang merupakan personifikasi mereka) mempunyai tempat di dalam kompleks umum hubungan sosial.’ (Gramsci 1971: 8). Atau sebagaimana Zygmunt Bauman katakan: ‘Kategori intelektual (adalah) sebuah elemen struktural di dalam penokohan sosial (social figuration), sebuah elemen yang didefinisikan bukan oleh kualitas intrinsiknya, namun oleh tempat yang didudulkinya di dalam sistem ketergantungan yang tokoh tersebut wakili, dan oleh peran yang dimainkannya/diwujudkannya dalam reproduksi dan pengembangan penokohan tersebut’ (Bauman 1987: 19).

Keuntungan besar dari perspektif tersebut dari sudut pandang kajian media (media studies) adalah hal itu memungkinkan kita dapat menghindari ‘pemberhalaan’ (pemujaan berhala) yang mana kajian media adalah hanyalah terlalu mudah (mendapat kecelakaan)… hal ini cenderung untuk fokus pada benda-benda – institusi-institusi, seperti stasiun televisi atau surat kabar, berbagai bentuk isi media atau situasi praktis para pemirsa – ketimbang keseluruhan proses sosial yang terdapat di balik mereka itu – proses di mana mereka saling berbagi makna, di mana pemeliharaan sosial dan reproduksi bergantung, adalah diciptakan, diedarkan dan dipantas-pantaskan. Kita kemudian dapat melihat surat kabar atau broadcasting (radio/TV) atau apapun contoh lainnya, yang kita harapkan pelajari, sebagai kasus spesial dan peralihan sosial yang umum ini dan seringkali menyejarah. Secara khusus sebuah fokus terhadap intelektual memungkinkan kita dapat menempatkan sistem pendidikan pada tempatnya yang lebih layak pada pusat kajian media dan untuk mempelajari hubungan yang berubah/beralih antara sistem pendidikan dan media, yang dipahami sebagai sistem modern dari komunikasi massa. Dari perspektif inilah saya merujuk kepada fraksi intelektual yang bekerja di dalam sistem pendidikan, khususnya dalam pendidikan yang lebih tinggi, baik sebagai kaum intelligensia tradisional atau intelligensia akademik, dan terhadap fraksi intelektual yang bekerja di dalam media sebagai kaum intelektual media. Penggunaan ini adalah murni fungsional dan tidak menyiratkan evaluasi normatif. Keuntungan kedua dari mendekati kajian media dari tempat yang menguntungkan para intelektual adalah bahwa ini memfokuskan pada agensi yang terlibat dalam proses komunikasi sosial dan reproduksi budaya dan pada saat yang sama mengalihkan fokus tersebut dari para konsumen, perhatian dominan yang berlimpah dari kajian media dan budaya mutakhir kepada para produser, jadi menyerang keseimbangan yang lebih tepat antara otonomi pembaca dan maksud/tujuan penulis. Hal ini memungkinkan kita dapat bertanya siapa, di dalam struktur yang ada dari pembagian pekerjaan kebudayaan, yang merupakan produser, apa yang mereka usahakan untuk dapatkan, dan mengapa mereka berfikir dan bertindak dalam cara yang mereka lakukan. Hal ini kemudian memungkinkan mereka yang sama sekali tidak senang dengan status quo (kemapanan) untuk, paling tidak mempertanyakan, apakah intervensi yang sukses dan produksi dan sirkulasi adalah mungkin, ketimbang menempatkan pada resitensi pemirsa sendirian sebagai sebuah kekuatan yang mungkin untuk perubahan.

Pada tahun 1993 Edward Said memberikan Kuliah Reith BBC di bawah judul Representations of the Intellectual (1994). Ini adalah peristiwa yang sangat merupakan gejala konvergensi. Reith Lecture terutama menyimbolkan sebuah visi tentang broadcasting (lembaga penyiaran/Radio-TV) sebagai sebuah perusahaan ‘intelektual’ dalam pengertian memperkenalkan peranan pedagogis (mendidik) yang penting secara sosial dari lembaga penyiaran. Mereka memberikan sebuah akses intelektual tanpa perantara yang besar yang diakui, kepada khazanah komunikasi massa modern untuk berbicara kepada pemirsa umum, menggunakan mode klasik dari alamat akademik, tentang sebuah isu pentingnya kaum intelektual kontemporer. Pengujian tentang sesuatu yang berharga, baik pembicara maupun subjek, bukanlah karena popularitasnya, yang normal berlaku dalam media massa, tapi pengakuan kalangan sebaya di dalam lingkungan intelektual itu sendiri, sekarang secara luas terkonsentrasi di dalam universitas dan penerbitan yang terspesialisasi. Nilai dari hal ini mengijinkan publik umum untuk berpartisipasi dalam wacana para cendikiawan (intelligentsia), dan dengan demikian melegitimasdi bahwa peranan para cendikiawan dalam kehidupan nasional dan kebudayaan, terlihat sebagai terbukti dengan sendirinya.

Pandangan terhadap peranan media ini, sekarang, dan telah begitu sejak lama, secara mendalam tidak mengikuti mode. Dan masih, saya ingin buktikan, pilihan Said tentang topik tersebut bukanlah tanpa sengaja. Untuk alasan yang ingin saya buktikan dan terangkan, pertanyaan dari kaum intelektual, asal kejadian sosial mereka, dan peranan, sepenuhnya kembali kepada agenda. Hal ini menyediakan sebuah perspektif yang secara khusus tercerahi, untuk memeriksa beberapa problem sentral yang sekarang menempati kajian media, tapi dengan gaung (gema) yang lebih luas dalam polity (pemerintahan negara) dan kebudayaan yang general.

Said menyarankan untuk melanjutkan relevansi satu definisi khusus dari peranan intelektual. Mengambil contoh dari pembedaan Satre yang terkenal antara ‘intelektual’ dan ‘teknisi ilmu pengetahuan praktis’, sebuah pembedaan yang dikemukakan kembali oleh Said sebagai antara ‘intelektual profesional’ dan ‘intelektual amatir’, Said dengan tegas menggabungkan dirinya sendiri dengan kelompok yang pertama dan mengidentifikasikannya sebagai individual:

Yang diberkati dengan sebuah fakultas untuk menghadirkan kembali (mewakili), mewujudkan dan mengartikulasikan sebuah pesan, sebuah pandangan, sebuah sikap, filsafat atau opini terhadap, sebagaimana untuk, sebuah publik. Dan peranan ini memiliki sebuah tepian terhadapnya, dan tidak dapat dimainkan tanpa sebuah pengertian menjadi seseorang yang tempatnya adalah secara publik untuk memunculkan pertanyaan yang memalukan, untuk melawan ortodoksi dan dogma (ketimbang memproduksinya), untuk menjadi seseorang yang tidak mudah dikooptasi oleh pemerintah atau perusahaan, dan yang raison d’etre-nya adalah untuk mewakili semua orang tersebut dan isu-isu yang secara rutin disembunyikan. Kaum intelektual melakukan hal itu atas dasar prinsil-prinsip universal: bahwa semua umat manusia adalah berhak untuk mengharapkan standar-standar kesopanan dari perilaku berkenaan dengan kebebasan dan keadilan dari kekuasaan duniawi atau bangsa-bangsa, dan bahwa pelanggaran yang sengaja atau tidak sengaja terhadap standar-standar tersebut, itu harus diuji (disaksikan) dan diberantas dengan berani. (Said 1994: 11)

Hal ini adalah sebuah pernyataan ulang tentang pandangan post-Enlightenment (paska-Pencerahan) dari kaum intelektual dan oleh karena itu sangat mengharukan dan secara berani ketinggalan zaman. Inilah sebuah pandangan yang pada tahun-tahun belakangan ini telah secara mendalam digali dengan segenap penghormatan. Khususnya dalam dua aspek kunci dari definisi ini tentang intelektual yang telah ditantang (diragukan). Hal ini telah dibantah bahwa kaum intelektual tidak dapat dan tidak mewakili apapun kecuali kepentingan kelasnya sendiri atau status kelompok atau kepentingan kekuasaan secara lebih umum. Eksistensi yang sangat dari kebenaran universal atau sebuah kemanusiaan yang general yang kepadanya kaum intelektual mungkin tertarik telah secara mendalam dipertanyakan dari sebuah posisi skeptisisme post-modernist.

Meskipun demikian, saya ingin membuktikan/membantah, bahwa pertanyaan tentang kaum intelektual tidak akan pergi dan ini adalah sebuah pertanyaan sentral terhadap kajian media dan budaya. Sebagaimana Ernest Gellner telah katakan, ‘pada landasan tatanan sosial modern yang berdiri bukanlah para pelaksana (executioner) tapi para profesor.’ Gellner juga telah mencatat (menandai) ulang bahwa modernitas menandai sebuah peralihan dari masyarakat yang dicirikan oleh pelanggaran fisikal yang digeneralisasi yaitu para pelaksana (executioner) kepada sebuah sistem penyuapan yang digeneralisasi. Satu pertanyaan sentral, oleh karena itu, tentang kaum intelektual adalah apa hubungan mereka dengan sistem pengupahan (penggajian) dan kepada struktur kekuasaan ekonomi dan politik yang berdasarkan atasnya. Hal ini muncul dalam pertanyaan singkat yang dimunculkan oleh Satre dan Said tentang kebangkitan kaum intelektual profesional dan posisi mereka dan peranannya di dalam struktur kekuasaan ekonomi dan politik. Pertanyaan dari perspektif Said, oleh karena itu, adalah apakah kondisi struktural telah selalu hadir (existed), dan apakah mereka sekarang eksis atau mungkin eksis, untuk menghasilkan sebuah kelompok sosial, sebuah susunan wacana, dan struktur kelembangaan yang menjawab deskripsi Said. Yaitu sebuah kelompok yang mewakili suatu publik yang lebih luas dan menyandang status quo secara normatif untuk dipertimbangkan dalam pengertian sebuah rangkaian nilai-nilai universal yang dibagi-bersama (shared universal values).

Kaum Intelektual dan Narasi Historis Alternatif

Istilah ‘intelektual’ dan ‘intelegensia’ tidak pernah sama sekali hilang, di dalam bahasa Inggris dan di dalam budaya Anglo-Saxon, aura kecurigaan dilekatkan kepada asal-usulnya yang asing. Keduanya masih membawa tanda-tanda dari konteks aslinya. Kaum intelligentsia di Rusia memandang diri mereka sendiri sebagai ahli waris dari Pencerahan yang membimbing orang-orang awam keluar dari kegelapan penindasan politik para pengikut Tsar dan kebodohan (obscuratism) kultural. Kaum intelektual di Perancis adalah para penulis dan akademisi yang mendukung Dreyfus dan begitu disuarakan oleh lawan-lawan sayap-kanan mereka yang anti-Semitic. Hal ini adalah sebuah kata penghinaan, pewaris ideologi Napoleonic, yang menunjukan sebuah campuran subversi dan keduniawian lainnya. Terhadap keaslian ini makna pencermaran nama baik seseorang telah ditambahkan, di dalam perjalanannya ke bahasa Inggris, yang secara kultural tertanam dalam, kecurigaan chauvinist dari teori Kontinental – sebuah kecurigaan yang terkenal disuarakan oleh Burke sebagai sebuah ‘keengganan yang tak dapat diatasi’ dalam memberikan tangan saya untuk menghancurkan setiap lembaga yang telah mapan dari pemerintahan, pada sebuah teori, bagaimanapun itu mungkin masuk akal – sebuah kecurigaan yang telah menyulut perlawanan (oposisi) Burke kepada Revolusi Perancis dan masih menyulut oposisi dari para pengikutnya (his epigones) seperti Conor Cruise O’Brien terhadap seluruh tradisi Marxist yang mereka lihat sebagai tak dapat dihindarkan berakar/berasal darinya, apa yang O’Brien telah sebut sebagai utopianisme sekuler:

Sepanjang abad ke sembilan belas, dan sampai kepada Revolusi Rusia, Revolusi Perancis telah dilihat , oleh para revolusioner, di mana saja, tidak secara tepat sebagai sebuah model, tapi sebagai sebuah ukuran dari apa yang harus dilampaui atau – sejauh berkenaan dengan Perancis – dilengkapi. Revolusi perancis telah dikhianati: oleh Themidorians, oleh Bonaparte, atau – sebagaimana dipercaya Michelet – oleh para pendeta dan para perempuan. Nanti, harus tidak ada pengkhiatan. Dalam pada itu, Revolusi Perancis masih tetap sebagai demonstrasi besar yang hal itu sungguh mungkin bagi rakyat dengan idea untuk merampas kekuasaan dan menempatkan idea mereka ke dalam pratek. Hal ini jadi lisensi, model, dan sesuatu yang nyaman bagi utopian dari setiap penggambaran. (O’Brien 1993: 606)

Narasi dari sebuah sejarah politik yang terkait dengan sejarah filsafat ini – dalam versi O’Brien sebuah determinisme intelektual yang ekstrim yang melihat the Gulag sebagai hasil yang tak dapat dihindarkan dari pemikiran Rousseau – telah memberikan sebuah dorongan kuat untuk mempertahankan nama baik dengan kehancuran mutakhir dari eksperiment komunisme Soviet, dan, ‘saya juga telah katakan padamu bahwa hal itu telah bergaung dengannya. Betapa dekatnya narasi ini bertalian pada pertanyaan tentang peran sejarah para intelektual adalah dengan baik diilustrasikan oleh respon Isaiah Berlin terhadap usaha O’Brien untuk merekrut dia kepada Anti-Revolusi Perancis, kamp pro-Burkean :

Satu kata lagi tentang Revolusi Perancis dan perasaan saya – yaitu semuanya – tentang hal itu. Pandangan saya, saya pikir, sebagaimana mereka, adalah terbentuk oleh empirisisme tentatif Inggris ( yang untuknya selayaknya diserang sayap-kiri sosiolog Amerika, dll.) dan tradisi intelegensia Rusia. Sekarang yang terakhir benar-benar sangat terpengaruh oleh, jika bukan peristiwa, kemudian oleh slohgan-slogan dan ide-ide yang disebarkan oleh kaum revoluioner Perancis. Hal ini terlihat olehku bahwa ini telah mengilhami rakyat untuk menyerang prasangka buruk (prejudice), takhayul, kebodohan/sikap anti ilmu pengetahuan (obscurantism), kekejaman, penindasan, kebencian terhadap demokrasi, dan perjuangan untuk berbagai kebebasan: berbicara, kepercayaan, merayakan ‘orang yang tidak dapat diganggu gugat’, yang merupakan salah satu dari lima prinsip yang diucapkan oleh kaum liberal Rusia dan dilemparkan ke samping dengan hina oleh kaum Bolsheviks – dan itu adalah jenis : tradisi anti-Dreyfusard, singkatnya, yang kembali kepada Revolusi Perancis. Di Perancis, pembagian ideologi, sebagaimana anda ketahui, secara luas adalah yang pro dan anti Revolusi Perancis; dan yang anti adalah sesungguhnya kaum reaksioner – Bares, Drumont, Deroulede, dan tentu saja, Maurras dan murid-muridnya, Pound, Eliot, dll. Oleh karena itu, jika saya harus berbaris , maka saya berbaris dengan Revolusi – meskipun semua kesalahan dan horor, yang seringkali ada di sana – melawan kekejian [infame]. (O’Brien 1993: 617)

Jadi dalam mendekati pertanyaan kaum intelektual seseorang dikonfrotasikan bukan sekedar dengan definisi alternatif atau teori, atau bahkan jasad bukti-bukti empiris, tapi dengan narasi sejarah alternatif dengan resonansi politik yang amat sangat. Ini adalah narasi alternatif yang merupakan pokok dalam perdebatan mutakhir antara kaum modernis dan post-modernis dan yang mempunyai pengaruh berbeda mereka tentang bagaimana kita mendekati kajian (study) media dan budaya hari ini.

Ada narasi tentang kemajuan, pembebasan, dan peradaban yang mempropagandakan sebuah pandangan positif tentang peranan kaum intelektual dan ada sebuah narasi, jika bukan kemerosotan, kemudian tentang sebuah perubahan palsu dan tentang penindasan dan barbarisme yang mempropagandakan visi negatif. Walter Benyamin telah mengajari kita bahwa setiap monument peradaban adalah juga sebuah monument barbarisme, meskipun demikian namun kita dapat membedakan dengan jelas dua narasi ini dan pengaruh mereka masing-masing terhadap bagaimana kita mendekati pertanyaan tentang kaum intelektual.

Maka salah satu alasan pertanyaan tentang kaum intelektual adalah kembali kepada agenda apakah hal itu memungkinkan lepas dari ikatan dengan definisi modernitas dan maka dengan setiap diskusi tentang transisi di balik modernitas kepada kondisi dari post-apapun.

Pandangan positif adalah sebuah campuran dari fungsional dan normatif. Ini adalah modernis klasik, cerita post-Enlightenment (paska-Pencerahan) tentang kaum intelektual sebagai sebuah produk dari sebuah pembagian pekerjaan dan karier, dalam aliansi dengan pergerakan politik progresif, dari kritik pembebasan kaum rasionalis terhadap tradisi dan tentang pemanfaatan penyedilikan ilmiah untuk kebaikan sosial dan kemanusiaan.

Sebagaimana Halsey katakan dalam diskusi mutakhirnya tentang apa yang ia sebut sebagai ‘keruntuhan donnish dominion’ atau ‘proletarianization of academic’:

Keruntuhan kekuasaan donnish telah ditulis dalam bintang dari kejadian (moment) bahwa peradaban kuno di Timur Dekat dimulai dari sebuah alfabet abstrak (Goody 1968). Melek huruf dengan cara demikian secara potensial menjadi sebuah pemilikan demokrastis. Akses ke modal (sumber daya) manusia menjadi tersedia secara intrinsik bagi semua. Namun demikian sebuah evolusi yang panjang yang belum lengkap telah perlu mengalihkan potensinya kepada realitas. Sejarah komunikasi populer dari alfabet yang dapat digunakan melalui percetakan press ke teknologi informasi moderen adalah proses yang sangat lambat, walaupun semakin dipercepat lagi pada zaman kita saat ini. Proses tersebut sangat lambat karena komunikasi demokratis juga membutuhkan transformasi kebaikan dari setiap aspek struktur sosial. Rakyat terikat bersama-sama oleh kekuasaan dan otoritas, oleh kepentingan dan sentimen, oleh pembiasaan dan pembelajaran, sebagaimana oleh kata-kata dan angka-angka. Perubahan yang luas dari masyarakat manusia, oleh karena itu membutuhkan untuk bekerja keluar semua pengaruh dari revolusi kebahasaan yang asli ini (Hasley 1992: 258)

Bagaimanapun juga, Halsey ingin membuktikan, menggambarkan secara khusus tentang Gellner, bahwa terletak di balik proses ini adalah sesuatu yang lebih umum yang menciptakan paradok sentral seputar perdebatan tentang kaum intelektual dan peran dari perputaran media. Di satu sisi, evolusi sejaarh menciptakan kemungkinan akses demokratis umum kepada khazanah produksi kebudayaan dan penyebarannya, sementara di sisi lain pembagian pekerjaan meletakkan kontrol atas sumber-sumber ini di tangan sekelompok spesialis. Di sini kita mempunyai sumber ketegangan yang meletakkan populisme kaum post-modernist dalam kajian (studies) media dan kebudayaan, antara sebuah visi tentang partisipasi intelektual organis dalam sebuah demokrasi kultural langsung dan sebuah visi tentang sebuah pembagian pekerjaan yan diperlukan adanya, dan lalu tentang kaum intelektual sebagai ‘perwakilan’.

Ada dua versi yang luas tentang evolusi sejarah pekerjaan intelektual, keduanya berakar dari Weber. Yang satu, sebagaimana diekspresikan untuk contoh oleh Gellner, menekankan rasionalisasi, dan anugrah intelektual, sebagai kaum profesional di dalam pembagian pekerjaan, sebuah peranan progresif yang luas dalam perkembangan modernitas, memfokuskan pada pengembangan yang diperlukan dari apa yang disebut ‘exo-training’ (mungkin berguna untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya, intra-community training [pelatihan di dalam masyarakat] yang disebut akulturasi, dan exo-training [pelatihan di luar] yang khusus [pada analogi tentang exogamy] yang disebut keahlian yang berasal dari luar masyarakat, dan disebut pendidikan yang layak. (Gellner 1983: 31), dia berargumentasi bahwa:

Sebuah masyarakat yang bangkit atas dasar teknologi yang sangat dikuasai, dan harapan terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan, yang membutuhkan suatu pembagian pekerjaan yang mobil, dan komunikasi yang sering, terus-menerus dan tepat di antara orang-orang asing yang terlibat dalam sebuah pembagian saham (sharing) makna-makna eksplisit, yang dikirimkan dalam sebuah idiom standar dan dalam tulisan jika diperlukan… Tingkatan melek huruf dan kompetensi teknis … yang dibutuhkan para anggota masyarakat ini, jika mereka adalah secara tepat dapat dipekerjakan dan menikmati kewarganegaraan dan moral yang penuh dan efektif, adalah begitu tinggi sehingga secara sederhana tidak dapat disediakan oleh keluarga atau unit-unit lokal (Gellner 1983:34)

Tentang keseimbangan, satu pilihan – sebuah masyarakat dengan pertumbuhan kognitif yang berdasarkan strategi atomistik yang buruk – terlihat bagi kita superior, untuk berbagai alasan, yang telah diringkaskan tanpa kemewahan; jenis masyarakat ini sendiri dapat tetap menghidupkan sejumlah besar yang untuknya kemanusiaan telah tumbuh, dan dengan itu menghindari perjuangan yang sangat ganas untuk bertahan hidup di antara kita; itu sendiri dapat menjaga kita pada standar yang kepadanya kita telah membiasakan diri; itu, lebih dari para pendahulunya, mungkin menyukai organisasi sosial yang liberal dan toleran … jenis masyarakat seperti ini juga memiliki karakter yang tidak menarik, dan kebaikannya diragukan. Di atas keseimbangan dan dengan kesalahan pemberian ini, kita memilihnya; tapi tidak ada pertanyaan tentang sebuah pilihan yang jelas dan elegan. Kita setengah tertekan oleh kebutuhan (ketakutan kelaparan, dll), setengah terbujuk oleh sebuah janji kemakmuran liberal (yang tidak kita percayai sepenuhnya). Di sinilah: kekurangan alasan yang lebih baik yang kita harus lakukan dengannya. (Gellner 1984: 258, sebagaimana diutip dalam Bauman 1987)

Versi alternatif dari evolusi kesejarahan ini, sebagaimana contohnya dinyatakan oleh Bourdieu dan Bauman, menempatkan tekanannya pada pergerakan dari masyarakat yang berdasarkan atas doxa (tradisi dalam pengertian murninya) kepada yang lainnya yang dicirikan oleh perjuangan di antara ortodoksi (kekolotan) dan heterodoksi (bid’ah/inovasi). Versi ini mengambil pandangan yang secara luas negatif tentang kaum intelektual dan menekankan peranan mereka sebagai ideolog dari kekuasaan, kependetaan yang mempertahankan dan menyebarkan ortodoksi, yang berdagang dengan kontrol monopolinya terhadap sarana komunikasi untuk sebuah saham dalam buah kekuasaan. Untuk tradisi ini pengakuan kaum intelektual terhadap terhadap kebenaran atau perwakilan kepentingan umum adalah hanya bergerak, bahkan jika tidak dipahami seperti itu oleh para partisipan, di dalam permainan kekuasaan.

Namun kita dapat melihat di dalam versi ini sebuah potensi kontradiksi yang terdapat pada jantung kebanyakan perdebatan tentang kaum intelektual. Jika kaum intelektual, sebagai sebuah kelompok sosial hanya mengejar kepentingannya sendiri, menyebarkan ortodoksi, dari manakah datangnya heterodoksi dan tradisi kritis? Bukankah hal ini, tidak seperti ortodoksi, tidak membutuhkan sebuah kelompok khusus kaum intelektual untuk pengembanganya dan penyebarannya? Bukankah hal itu menumbuhkan kelahiran baru “rakyat” itu sendiri dari kehidupan dunia sebagai reaksi spontan terhadap pengalaman sehari-hari? Kita dapat melihat di sini sebuah tema yang berjalan melalui kebanyakan pikiran tentang hubungan antara kaum intelektual dan oposisi politik dan budaya. Apakah masalahnya terlihat sebagai salah satu pembersihan kaum intelektual dari pengaruh korupsi mereka sehingga rakyat dapat menjadi bebas menyatakan kekuatan intelektual inherent mereka, atau sebagai salah satu pemanfaatan dalam beberapa cara kekuatan kaum intelektual yang terspesialisasi dalam melayani pergerakan oposisional?

Dalam karya Bourdie, sebagaimana dalam karya Gouldner, ada sebuah jalan keluar dari dilema yang dekat dengan posisi Gellner. Argumentasinya adalah bahwa kaum intelektual, dalam perjuangan mereka untuk monopoli dari pembedaan dengan pemegang kekuasaan ekonomi dan politik, telah mengembangkan apa yang Gouldner suarakan sebagai: ‘sebuah budaya wacana kritis’ yang secara objektif bersifat kritis dan progresif. Ini ingin mengatakan peranan internal bidang intelektual mensyaratkan pengembangan struktur perdebatan dan argumentasi, yang meminta bukti-bukti dan keterbukaan, yang menjadi sebuah proyek kritis yang dibangkitkan dengan sendirinya. Dari sudut pandang inilah kaum intelektual menurut Said adalah produk sosiologis sejarah evolusi dari kaum intelektual itu sendiri. Masalahnya, bagaimana pun juga, tetap pada apakah budaya wacana kritis ini adalah dibutuhkan (wajib) mengikat terhadap proyek politik progresif.

Pada point inilah kita perlu kembali kepada berbagai penafsiran tentang hubungan antara kaum intelektual dan proyek paska-Pencerahan. Semua pihak sepakat bahwa keduanya secara dekat berjalin-kelidan dan tentu saja untuk alasan inilah bahwa berbagai serangan terhadap Pencerahan dan Modernitas juga merupakan serangan terhadap kaum intelektual.

Apa yang telah saya gambarkan, di dalam diskusi saya tentang posisi Said, sebagaimana pandangan kaum inteletual paska-Pencerahan (post-Enlightenment), yang beragumentasi bahwa kaum intelligentsia adalah sebuah produk sejarah dan penggerak utama dalam penyerangan terhadap tradisi atas nama akal (nalar/reason) dan kemajuan yang merupakan proyek Pencerahan. Kaum intelektual adalah pencipta dan pembawa satu budaya akal/nalar kritis yang secara potensial terbuka kepada semua kemanusiaan dan latar dan tujuan dari pembebasan manusia secara umum dari tradisi dan eksploitasi. Dari sudut pandang inilah kaum intelektual yang sebenarnya secara inherent (sudah menjadi pembawaannya) adalah progresif. Pertahanan kebebasan intelektual adalah secara inheren bersifat demokratis. Dan masalahnya adalah tujuan bagi propaganda umum dari budaya akal (nalar) kritis ini, lalu pentingnya pendidikan, sehingga semua manusia dapat menjadi intelektual, pertalian hubungan antara kaum intelektual dengan pergerakan politik untuk perubahan.

Penafsiran alternatif dari kaum intelektual paska-Pencerahan, yang sekarang menyebar luas, membuktikan sebuah penafsiran yang secara diametris berlawanan tentang perkembangan yang sama. Untuk mazhab ini, contohnya Conor Cruise O’Brien, atau Zygmunt Bauman, atau dalam beberapa penafsiran Foucault, Pencerahan secara luas menghadirkan kembali sebuah proses rasionalisasi sosial yang di dalamnya kaum intelektual adalah ikut serta mengoperasikan rezim kebenaran. Jauh dari menjadi ideologi tanpa topeng mereka, sebagaimana Napoleon pertama kali menggambarkan mereka, kaum ideologist. Teori Post-Cartesian tentang nalar kritis menjadi jaminan bagi sistem kekuasaan totalitarian, untuk dominasi yang meningkat dari kehidupan dunia oleh sistem dunia di mana kaum intelektual beroperasi. Kaum intelektual adalah pembawa akal-nalar instrumental. Adalah di dalam kepentingan kelasnya untuk selalu mengembangkan ganguan pengontrolan yang lebih meluas terhadap kehidupan rakyat biasa (orang awam). Hal ini, dalam kalimat Horkheimer dan Adorno, adalah dialektika Pencerahan.

Bagi Bauman, kaum intelektual di Eropa Barat, jauh dari memenuhi peran pembebasannya, sejak abad ketujuh belas ke depan, menjadi terlibat dalam sebuah bentuk kekuasaan baru. Mereka menjadi apa yang dia sebut sebagai para “legislator”. Peranan ini, dalam definisinya,

mengandung pembuatan pernyataan otoritatif yang menjadi wasit dalam kontroversi pendapat dan yang memilih pendapat tersebut, yang telah terpilih, menjadi benar dan mengikat. Otoritas untuk menengahi (arbitrate) adalah dalam kasus ini terlegitimasi oleh pengetahuan (objektif) yang superior, yang mana kaum intelektual memiliki akses uang lebih baik ketimbang bagian orang yang bukan intelektual dari ebuah masyarakat. Akses terhadap ilmu pengetahuan tersebut adalah lebih disyukuri untuk peraturan prosedural yang menjamin pencapaian kebenaran, sampainya pada penilaian moral yang sah, dan pemilihan selera artistik (kesenian) yang yang lebih baik. Peratural prosedural tersebut mempunyai keabsahan (validitas) yang universal, sebagai hasil dari penerapan (ilmu pengetahuan) mereka. Penerapan peraturan tersebut membuat profesi intelektual (ilmuwan, filosof moral, estetika) para pemilik kolektif ilmu pengetahuan yang mempunyai relevansi krusial dan langsung untuk pemeliharaan dan penyempurnaan tatanan/ketertiban sosial (Bauman 1987: 5).

Dia ingin membuktikan bahwa kaum intelektual, penyebarkan rezim kebenaran ini, bertindak sebagai tukang kebun, yang mengontrol dan menekan rakyat atas nama superioritas kebudayaan di atas alam. Dalam kata-kata Jacques Revel:

rakyat dilihat sebagai pembawa jejak fosil dari sebuah arkaisme (kekunoan) sosial dan budaya. Ini adalah sebuah tanda-tanda dari status ketundukan/kepatuhan mereka dan pembenarannya. Praktek-pratek populer, oleh karena itu, menghadirkan sebuah zaman lampau, tidak lebih daripada sekedar tempat penyimpanan kepercayaan-kepercayaan kesalahan kemanusiaan dan masa pertumbuhan kanak-kanak dari umat manusia… Ranah populer sekarang menjadi dunia negatif praktek-praktek haram, keganjilan perilaku yang tak menentu, pengejawantahan yang tak terbatas dan alam versus buadaya. (Revel, sebagaimana dikutip dalam Bauman 1987: 58)

Kemudian dia berargumentasi bahwa:

Konsekuaensi yang paling penting tentang jalan lintasan dari kebudayaan liar zaman pra moderen ke taman kebudayaan modernitas; berlarut-larut, selalu ganas, bahkan kejahatan budaya dari para tentara perang salib gereja (crusade); tentang penyebaran ulang kekuasaan masyarakat dalam pengertian hak untuk berinisiatif dan mengontrol ruang dan waktu; pemantapan secara bertahap struktur baru dominasi – pemerintahan oleh ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan penguasa [adalah yang] tradisional, kebudayaan yang dikelola dengan sendirinya dan direproduksi dengan sendirinya yang diletakkan di dalam reruntuhannya. Otoritas yang tercerabut, pencabutan wilayah teritorialnya dan asset-asset kelembagaannya, melemahkan miliknya, kiri terusir atau terkurangi, para ahli dan para manager, itu menyumbang kemiskinan dan ketidakmanpuannya yang rendah dari pemeliharaan diri dan tergantung pada inisiatif administratif dari profesional yang terlatih. Pengrusakan budaya populer pra-moderen adalah faktor utama yang bertanggung jawab bagi kebutuhan permintaan baru terhadap apara administrator ahli, para guru dan para ‘ilmuwan sosial’ yang terspesialisasi di dalam mengubah dan membudidayakan jasmani dan jiwa manusia. Kondisi telah diciptakan bagi kebudayaan untuk menjadi menyadari dirinya sendiri dan sebuah objek dari prakteknya sendiri. (Bauman 1987: 67)

Saya telah mengutip argumentasi Bauman agak panjang karena ini mungkin versi mutakhir yang paling jelas tentang narasi negatif dan salah satu yang membuat kaitannya terhadap perdebatan mutakhir dalam kajian media dan budaya menjadi sebening kristal. Sebagaimana yang ingin dia buktikan, post-modernisme muncul untuk menandai akhir dari narasi (cerita) ini dan untuk melayangkan sebuah pukulan yang memisahkan hal yang paling mendasar dari peranan historis kaum intelektual:

pesimisme dan suasana hati yang defensif dari kaum intelektual, yang menghadirkan dirinya sendiri sebagai krisis dari peradaban Eropa, menjadi dapat dipahami jika dilihat berlawanan dengan kesukaran pertemuan kaum intelektual kapan pun berusaha untuk memenuhi peran tambahan mereka; untuk sengaja, peranan yang, dengan kedatangan era moderen, mereka terlatih – dan telah melatih diri mereka sendiri – untuk mewujudkan. Dunia kontemporer adalah tidak cocok bagi kaum intelektual sebagai legislator; apa yang nampak pada kesadaran kita sebagai sebuah krisis peradaban, atau kegagalan dari suatu proyek sejarah tertentu, adalah sebuah krisis asli dari peranan khusus, dan pengalaman yang terkait dari redudansi (pleonasme/melebih-lebihkan) kolektif katagori yang terspesialisasi dalam memainkan peran ini. (Bauman 1987: 122)

Pendekatan terhadap peranan historis dari kaum intelektual ini telah sangat diperkuat oleh keruntuhan ‘sosialime yang benar-benar ada’. Sejak satu untaian argumentasi adalah bahwa intelektual Jabocin membawa secara langsung ke partai barisan terdepan dan apparatchik, dan bahwa penggantian nalar-akal instrumental terhadap tradisi adalah jaminan bagi eksperimentasi totalitarianisme sosial di Uni Sovyet dan negara satelitnya, keruntuhan sistem ini, akhirnya terbukti, dan syukurnya, mendiskreditkan tradisi itu. Namun argumentasi ini beredar luas dalam bentuk ‘Teori Kelas Baru’. Teori ini menekankan kebangkitan kaum intelektual profesional, kader-kader rasionalisasi birokratik dan ekonomi. Satu untaian dalam tradisi ini telah memfokuskan pada situasi khusus dari rezim komunis di Eropa Timur dan Uni Sovyet. Argumentasi yang telah membawa dua kecenderungan ini ke sebuah bentuk baru kekuasaan kelas. Di satu sisi ada kesamaan antara ideologi pendasar rezim komunis – kesempurnaan sosial sekuler melalui penerapan terencana dari nalar-akal instrumental – dan nilai-nilai yang dihadirkan kembali oleh para intelligentsia. Di sisi lain, kaum borjuis telah dihilangkan dan sarana produksi telah ditempatkan di tangan sebuah jalan masuk birokrasi negara yang secara meningkat tergantung dari kualifikasi (persyaratan-persyaratan) teknis formal. Beberapa analis (yaitu Szelenzy dan Martin 1991; Kennedi 1991) kemudian telah menganalisa keruntuhan rezim tersebut dalam pengertian strategis bagi Kelas Baru ini dan karakteristik rezim baru dalam pengertian strategi dan nasib Kelas Baru ini dalam menghadapi situasi baru di mana negara-negara tersebut menemukan dirinya sendiri, khususnya dalam kaitannya untuk menempatkan kaum intelegensia dalam hubungannya dengan reformasi ekonomi di satu sisi dan nasionalisme di sisi lain.

Tapi untuk tujuan, saya penerapan teori Kelas Baru kepada masyarakat kapitalisme Barat adalah lebih menarik. Tradisi analisis ini kembali kepada Weber, Veblen dan Trotsky. Ini melihat kunci untuk memahami penciptaan dan peranan kaum intelektual di dalam produksi sosial kader-kader pekerja informasi profesional untuk menjawab kebutuhan perusahaan ekonomi di satu sisi dan birokrasi negara di sisi lain. Mazhab analisis ini, yang memasukkan para pemikir yang beragam seperti James Burnham, Daniel Bell dan Galbraith, telah melihat sebuah konvergensi antara Soviet dan jalan-jalan kapitalis yang bertemu dalam sebuah model darti sebuah rasionalisasi ekonomi industrial dan sebuah negara birokratis menurut norma-norma dan secara meningkat dalam kepentingan kelas teknokratik baru. Garis analisis ini lalu membawa dua arah yang kadang saling berjalin kelidan. Yang satu membawa kepada teori Masyarakat Informasi dengan pandangan positifnya yang luas tentang para pekerja informasi sebagai prosesor dari sebuah kekuasaan ekonomi yang baru dan penting yang berdasarkan atas pentingnya (sentralitas) ekploitasi ilmu pengetahuan untuk reproduksi modal, dan sebagai pembawa, yang kurang hierarkis, sikap budaya baru dan gaya hidup. Dalam pandangan ini penyebaran teknologi informasi, contohnya dalam bentuk internet, membawa demokratisasi umum dari khazanah produksi intelektual dan dari akses kepada wacana kritis dan budaya. Yang lainnya membawa kepada sebuah versi Kiri Baru dari teori Kelas Baru yang memfokuskan pada kekuasaan menindas dari birokrasi negara kesejahteraan dan persekutuan mereka dengan birokrasi persatuan dagang dan partai politik. Versi teori Kelas Baru ini telah sangat berpengaruh, Saya akan buktikan, pada kajian-kajian (studies) budaya. Ini membuat sebab umum dengan populisme komunitarian. Untuk versi ini dari teori Kelas Baru sebagaimana diterapkan di dalam kapitalisme Barat, musuhnya bukanlah modal, tapi birokrasi negara kesejahteraan, bukan eksploitasi ekonomi tapi budaya ketergantungan dan hegemoni profesi pemelihara/pemegan urusan.

Kajian Media Kritis dan Figur Intelektual

Kajian media kritis, paling tidak di Inggris, telah ditemukan pada narasi ambilvalen tentang kaum intelektual. Raymond William dan Richard Hoggart, dalam karir awal mereka, keduanya berbagi sebuah pandangan analisis media sebagai intelektual kritis klasik, yang menilai penampilan media melawan standar budaya universal dan berpartisipasi melalui pendidikan dan produksi kemampuan pemirsa kritis dalam menentang bujukan industri budaya. Di seluruh karirnya, William berusaha untuk menjaga keseimbangan sebuah pandangan ‘budaya kesenian dan pembelajaran’ sebagai milik semua orang, dan tentang sebuah demokrasi umum yang progresif secara luas dan perkembangan kebudayaan, dengan sebuah analisa tentang bias kelas dari kebudayaan Inggris yang sebenaranya ada dan di dalam bidang pendidikan dan media melalui sebuah kritik tentang cara-cara yang di dalamnya para anggota intelligentsia profesional berindak sebagai suatu kader-kader dari elite politik, ekonomi dan budaya yang tinggi dan tidak biasanya saling berjalin-kelidan satu sama lain, sebuah formasi sosial yang menutup ruang untuk pengembangan intelligentsia kritis pada model Eropa Kontinental. Spesifikasi sejarah nasional ini adalah penting, dan saya akan kembali kepadanya. Sebagaimana Paul Jones (1995) baru-baru ini telah secara benar menunjukkan, William menolak peralihan kepada suatu kaum reduksionis-kelas, penafsiran antropologis tentang kebudayaan, dan hal ini mengijinkan diri untuk membela demokratisasi budaya sebagai jalan masuk bagi semua orang, baik sebagai konsumen maupun sebagai produser, kepada sumber-sumber kebudayaan ini, dan kemudian penciptaan sebuah ‘intelligentsia untuk rakyat’ (Williams 1983). Narasi kajian kebudayaan, dan dengan kebanyakan kajian media ini, kemudian diatur melalui sejumlah tahapan. Dimulai dari kritik William terhadap gagasan Coleridgian tentang sebuah kependetaan, dan adaptasi Arnold dan Leavis terhadapnya, kajian kebudayaan menggabungkan sebuah kritik kaum Kiri Baru tentang Kelas Baru, khususnya dalam bentuk Fabian-nya, dengan konsep Gramscian tentang hegemoni dalam sebuah usaha untuk membangun sebuah praktek intelektual organis dari analisis kebudayaan dan aktifisme politik. Suatu waktu dua kecenderungan yang berkonflik dan narasi pendukung mereka ada dalam permainan. Yang pertama adalah kecenderungan garis depan yang, di bawah pengaruh Althusserianisme dan Mazhab Frankfurt, telah melihat praktek para pelopor kebudayaan sebagai kunci campur tangan kaum revolusioner, yang mensubversi peraturan dominan yang padanya hegemoni tergantung. Hal ini, walaupun dapat dipahami, menarik sebagai sebuah ideologi dari praktek kaum inteletual yang terspesialisasi, hanyalah dapat dipertahankan dalam sebuah konteks optimisme politik sayap-kiri dan segera membawa kepada kebuntuan pesimistik dan terisolasi secara sosial yang Mazhab Frankfurt sendiri telah akhiri. Hal ini oleh karena itu tidak mengejutkan bahwa, di bawah pengaruh bersama dari aliran Reagan dan aliran Thatcher yang digabungkan oleh sebuah perluasan deregulasi industri kebudayaan, sebuah krisis dalam pendidikan dan demoralisasi Sayap-Kiri yang merupakan hasilnya, kecenderungan lain menang. Hal ini berdasarkan atas sebuah kritik tentang elitisme dari budaya tinggi, penilaian kultural yang di dasarkan padanya, dan penggunaan repsesifnya dalam sebuah kelas sosial, terkait dengan konsep pengalaman, yang darinya kajian kebudayaan tidak pernah sepenuhnya bebas, dan tentang versi feminisme dan analisis etnisitas yang di dalamnya kategori pengalaman memainkan peranan penting. Hal ini pada akhirnya, membawa, via Zaman Baru dan post-Modernisme, dan disokong oleh oleh sebuah narasi yang dekat dengan apa yang dimiliki oleh Bauman, tapi diadaptasi dari Foucault, kepada sebuah komunitarianisme populis yang di dalamnya hanya peranan yang paling etiolated bagi sebuah kebudayaan organis yang tersisa, sehingga menyaksikan bentuk-bentuk populer dari resitensi.

Perkembangan ini, tentu saja, telah memainkan kepada perkembangan yang lebih umum dari pemikiran post-modernisme. Karya Lyotard: The Post-modern Condition, dianggap asli sebagai sebuah laporan bagi pemerintahan propinsi Quebec di Canada tentang pengaruh seperti itu dari teknologi informasi yang baru terhadap universitas. Adalah analisis Lyotard tentang cara-cara dalam mana penerapan teknologi ini menghancurkan monopoli ilmu pengetahuan dari akademisi Universitas yang membawanya kepada analisis yang lebih luas tentang akhir modernitas. Pada saat yang sama serangan Rorty terhadap fundasi epistemologis dari filsafat post-Cartesian secara radikal menggerogoti basis pengakuan kaum intelektual kritis terhadap pengakuan kebenaran berbasis rasional atau standar-standar universal penilaian kritis. Di dalam sebuah dunia perbedaan kebudayaan yang secara inheren relatifistik, peranan terbaik dari kaum intelektual sekarang dapat diakui, dalam kata-kata Bauman, sebagai penafsir, yang meminyaki roda-roda pertukaran antar-kebudayaan dan saling pemahaman. Dengan kebangkitan neo-aristotelianisme, seorang intelektual dapat mengaku berbicara, yang terbaik, untuk komunitas lokalnya sebagai perwakilan dari sebuah cara hidup (way of life). Dengan telah mengumumkan kematian penulis bahkan yang akan diakui bersama terlalu banyak.

Pendefinisian tentang kaum intelektual yang menyebar luas ini – paling tidak dalam mode amatirnya, kaum intelektual profesional tentu saja berkembang biak tanpa kendala– telah mempunyai empat hasil terkait di dalam kajian media dan kebudayaan. Pertama, hal ini tidak meninggalkan lahan bagi penilaian kritis tentang penampilan media atas dasar kebenaran, keindahan atau hak. Kedua, sementara hal ini mengijinkan agensi ke pemirsa – untuk apa resisten, tapi agensi? – hal ini cenderung, sejak gagasan maksud tujuan penulis dan efeknya adalah diharapkan, tidak untuk mengijinkan hal ini kepada produser kultural, dan maka tidak mempunyai kepentingan dalam mempelajari kaum intelektual, siapakah mereka, apa yang mereka pikir, bagaimana dan mengapa mereka berbuat. Ketiga, karena hal di atas, hal ini tidak menyediakan lahan untuk intervensi kebijakan dalam proses dan pelembagaan produksi kebudayaan, dan cenderung secara meningkat untuk mengungsikan bidang demokrasi perwakilan nasional yang mapan dalam persetujuan identitas politik dan komunitarianisme. Keempat, hal ini meninggalkan sedikit, jika ada, ruang untuk pedagogi (pendidikan), apakah kritis atau tidak.

Konsep intelektual adalah, seperti tempat gudang simbolik yang di atasnya kekuasaan kaum intelektual bersandar, berwajah dua. Di satu sisi, ini dapat menunjuk sebuah kategori sosial objektif, bagaimana pun telah didefinisikan. Tapi di sisi lain, ini masih membawa dengannya dari aslinya sebuah pengertian pembedaan, dalam pengertian Bourdie, yang dapat dimobilisasikan, baik negatif maupun positif di dalam perjuangan kultural dan politik. Dan sifat perjuangan ini dan efek sosial dari penunjukan, akan berbeda dari negara ke negara dan dari periode ke periode sebagai partisipan dan pokok perjuangan ini.

Saya ingin meng-ilustrasikan hal ini dengan menunjukkan bagaimana media di Inggris telah berpartisipasi selama dekade yang lalu dan sebagian dalam sebuah mobilisasi konsep intelektual dan dalam perkembangan praktek-praktek intelektual tertentu. Yang tidak dapat diterangkan hanya dalam pengertian peralihan hubungan kekuasaan antara kaum intelektual tradisional dan intelektual media, tapi sebagai bagian dari sebuah pola yang lebih luas dari perjuangan budaya dan politik. Yang sangat publik dan belum pernah terjadi sebelumnya, penolakan Dons dari Oxford untuk menganugrahi Magareth Thatcher, seorang alumnusnya, sebuah gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 1984, telah dilihat sebagai sebuah simbol oposisi antara kaum intelligentsia akademis tradisional di Inggris dan pemerintahan Thatcher. Pastinya Hasley telah menunjukkan bagaimana proletarianisme progresif dari orang Inggris yang pendidikannya lebih tinggi, itu sendiri bagian dari sebuah kecenderungan internasional yang lebih luas, telah membawa kepada sebuah gerakan yang ditandai kepada politik kiri tentang bagian dari akademik di Inggris. Tapi hal ini telah menjadi bagian dari sebuah cerita politik dan kebudayaan yang lebih luas. Bahwa Thatcherisme tidak pernah sekedar menjadi sebuah pergerakan politik. Ini adalah sebuah kulturkampf (pergerakan budaya). Sentral bagi fundasi ideologis dari proyek politik dari pengikut kanan baru-Thatcher di Inggris adalah sebuah narasi kemerosotan nasional di mana kaum intelektual dicetak dalam sebuah peranan kunci. Cerita yang digambarkan dalam Wiener dan Corelli Barnett, adalah bahwa pendidikan humanistik, yang diabadikan dalam universitas-universitas tua, telah menyebarkan sebuah ethos anti-kewiraswastaan. Menggambarkan tentang tradisi Burkean di dalam konservatifisme Inggris, para pengikut Thatcher juga telah mengaitkan ethos intelektual ini kepada propaganda sosialisme – terlihat sebagai ‘pemerintahan di atas sebuah teori’—yang tujuan penyataan mereka tidak sekedar mengalahkan secara politik, tapi untuk mencerabut akarnya secara budaya. Oleh karena itu serangan mereka terhadap para guru dan akademisi pada umumnya dan terhadap pendidikan yang progresif secara khusus, sebagai kontributor kunci terhadap kegagalan Inggris. (Sebuah analisis rinci wacana media tentang pendidikan dari perspektif ini akan bernilai). Oleh karena itu usaha mereka untuk membawa universitas lebih berada di bawah manajemen seperti bisnis. Maka usaha mereka untuk menghapuskan Dewan Riset Sains Sosial dan merubah namanya menjadi Economic and Social Research Council dengan latar bahwa sosiologi adalah bukan sains tapi adalah propaganda tersembunyi sayap-kiri. Kebijakan ini menolak mengakhiri dengan sebuah pemerintahan yang berpura-pura menentang perencanaan terpusat yang berusaha untuk merencanakan semua riset universitas dari pusat, secara luas menilai tentang kontribusinya bagi penciptaan kesejahteraaan. Oleh karena itu juga serangan konsisten terhadap BBC, terlihat sebagai sebuah tempat utama untuk propaganda/penyebaran pandangan dan sikap intelektual humanistik subversif ini. Dan dukungan pemerintah tidak hanya untuk privatisasi lembaga penyiaran publik, tapi dukungan publiknya, contohnya dengan penganugrahahan simbolik kesatriaan (knighthoods) kepada para editor dan para pemilik tabloid press agresif yang secara antusias menyebarkan pandangan anti-intelektual ini. Sebuah perbendaharaan kata telah memasuki wacana populer. Kaum intelektual kritis telah menjadi ‘kelas obrolan’, whingers, para pemeras tangan [hand-wrigers], (pada akhir yang lebih kuat dari pasar, wankers), yang ketika aktif subversif tidak tersentuh dengan kenyataan ekonomi dan sosial. Pada tempat mereka sebagai wasit (pewewang) dari selera publik dan penilaian tentang keadilan politik, media menempatkan diri mereka sendiri dan sekutu mereka dalam periklanan dan pemasaran, ‘yang mengetahui apa yang diinginkan oleh publik’. Sebagai bagian dari perjuangan politik ini, koran-koran tabloid populer mempromosikan sebuah pendidikan khusus untuk intelektual publik, seperti Norman Stone, yang kemudian menjadi Profesor Sejarah Moderen di Oxford, yang telah memberikan ruang terartur untuk menyerang pandangan progresif dari sebuah posisi populisme yang lebih kuat, di mana saja dia dapat menemukannya. Secara sejajar, sebuah genre baru perbukuan ditambahkan kepada budaya yang memunculkan kecaman menyalahkan. Paul Johnson, seorang mantan intelektual sayap-kiri dan sekarang seringkali menulis kolom di dalam press popular konservatif, dalam The Intellectuals (1988) menunjukkan sebuah rentang kaum intelektual Barat tersohor terhadap kedahsyatan-mengerikan moral kehidupan pribadi mereka, dalam tradisi kritik Burke tentang Rosseau, dan secara ringkas dinayatakan dalam populisme baru, ‘selusin orang yang diambil dari jalan secara acak adalah sekurang-kurangnya seperti menawarkan pandangan inderawi tentang bahan moral dan politik sebagai sebuah irisan silang dari kaum inlligentsia’, rupanya tanpa mengenali bahwa hal ini benar, tentu saja diterapkan pada pandangannya sendiri. John Carey di dalam The Intellectuals and the Masses (1993) menunjukkan intelektual melek-huruf Inggris untuk renungan mereka bagi rakyat dan selera populer. Pointnya bukanlah apakah seseorang atau yang lainnya dari para pengkritik dibenarkan atau tidak (Kritik Carey berbagi banyak feature tentang kritik kajian budaya kiri yang telah mapan dan dibenarkan tentang elitisme para teoritisi kebudayaan massa), tapi penguatan umum oleh media, dalam mendukung sebuah perang salib politik, tentang sebuah budaya populis dari Philistinisme dan tentang sebuah korban dan kecaman yang diarahkan kepada kaum intelektual. Media menangani diri mereka sendiri sebagai secara unik dalam bersentuhan dengan rakyat dan oleh karena itu sebuah gudang standar-standar yang melawan untuk menilai poduksi intelektual dan secara umum, menemukannya kurang. Kampanye anti-intelektual ini memperoleh kekuatan ekstra dari kenyataan bahwa ini sepakat dengan seluruh analisis Kelas Baru dari Kiri Baru dan dengan populisme post-modernist yang berbagi banyak insting anti inteletual ini dan analisis yang sesungguhnya. Kemudian sebuah sumber potensial utama dari oposisi telah dilucuti. Hal ini terlihat sangat jelas dalam sikap ambivalen kaum Kiri Inggris terhadap BBC dan pertahanan pelayanan jasa lembaga penyiaran (broadcasting) publik.

Tujuan mengatakan cerita ini bukanlah sekedar untuk menekankan kekhususan nasional dari perdebatan tentang peranan kaum intelegensia dan peranan Media dalam perdebatan tersebut, tetapi juga untuk menggaris bawahi cara-cara yang di dalamnya perdebatan tersebut bukan sekedar kategori sosiologis tapi tentang isu politik dan kebudayaan yang lebih luas. Di Inggris narasi khusus ini, untuk sebentar, telah menjalankan kursusnya, jika hanya karena, kaum intelektual dan kaum sosialis yang dengannya mereka terkait adalah tidak lagi sebuah korban yang dapat dipercaya untuk melanjutkan kegagalan nasional. Tetapi, tantangan tetap untuk membangun sebuah narasi alternatif yang di dalamnya, tidak dapat dihindarkan saya akan buktikan, sebuah citra dari praktek-praktek intelektual yang akan memainkan sebuah peranan penting.

Satu narasi ini adalah bahwa ruang publik dan, saya pikir, ini adalah bukan kejadian yang diduduki oleh pertanyaan tentang ruang publik, sebuah posisi sentral tentang agenda kajian media. Dalam menghadapi sebuah krisis yang dapat didemonstrasikan dan bentuk dan praktek demokrasi di dalam politik kapitalis Barat dan tentang usaha untuk membangun kembali bentuk-bentuk politik demokratis di dalam bekas negara-negara sosialis, hal ini telah mengambil alih peranan sentral yang sebelumnya ditempati oleh pertanyaan tentang ideologi dominan atau hegemoni. Ruang publik kaum Borjuis secara klasik adalah penciptaan tentang dan lahan bagi kaum intelektual. Proyek generalisasi demokratis terhadap ruang publik adalah sebuah proyek untuk menjadikan setiap orang seorang intelektual. Untuk mempertahankan konsep ruang publik adalah mempertahankan sebuah dunia yang dilindungi bagi pelaksanaan wacana kritis dan sejauh mungkin, wacana kritis ini memegang kekuasaan secara efektif ke dalam pertimbangan, sebuah masyarakat yang secara total diatur oleh nalar-akal. Lebih khusus perluasan umum dari ruang publik, sejajar dengan perluasan umum politik demokratis, memiliki masalah, yang selalu kaum intelektual ktitis keras kepala sebagaimana politisi yang terpilih, dari perwakilan. Di atas latar apakah mereka yang memasuki ruang publik mengakui mewakili setiap nilai-nilai atau kepentingan, selain kepentingannya sendiri? Bukankah mode dari wacana kritis rasional salah menafsirkan dalam cara yang menindas haparan dan keinginan dari kemanusiaan yang menderita dan tereksploitasi, ini mengaku mewakili? Dalam setiap versi yang mungkin dapat direalisasikan. Dari sebuah ruang publik kontemporer pertanyaan ini kemudian dimiliki media massa dan mereka yang bekerja di dalamnya. Struktur dan bentuk apakah yang benar-benar dapat mewakili dan pada saat yang sama membantu perkembangan wacana kritis rasional? Dari sudut pandang inilah mereka yang bekerja di dalam media dianugrahi, apakah mereka memilih peran itu atau tidak, dengan peranan intelligentsia kritis, dan kita dapat dan kita harus memegangnya untuk pertimbangan bagi cara-cara dalam mana mereka memelihara fungsi tersebut.

Hubungan media dan kaum intelektual kembali kepada akar-akar sejarah dari kategori intelektual hubungan yang dekat antara kebangkitannya dan kehadiran percetakan. Kita tidak harus pergi selamanya dengan sebuah padangan determinisme teknologis dari sejarah hubungan antara percetakan dan Pencerahan untuk mengenali kaum intelektual tersebut, sementara mereka mungkin telah lahir dalam mode percakapan dari salon dan kafe-kafe, segera membetuk identitas kolektif mereka dan mendasarkan akses mereka kepada kekuasaan sosial atas peredaran yang selalu meluas dari teks-teks tercetak sebagai pembawa wacana kritis mereka. Tapi sebagai narasi perkembangan dan keruntuhan ruang publik mengakui, sebuah spesialisasi yang makin meningkat dari pekerjaan intelektual membawa kepada sebuah penyimpangan yang bertumbuh dan perjuangan untuk hegemoni intelektual antara sebuah media massa yang bertambah terindustrialisasi dan terkomersialisasi dan kaum intelligentsia tradisional, dengan basisnya dalam pendidikan dan produksi kultural terspesialisasi bagi sebuah elite. Hal ini membawa kepada sebuah rentang problem yang telah menjadi pusat perdebatan tentang peranan poltik dan kultural dari media sejak lama. Di satu sisi, sebagaimana C. Wright Mills katakan ‘sarana komunikasi yang efektif’ yang padanya kaum intelektual tergantung menjadi terambil alih. Hal ini, dalam pandangan Mills, memiliki penolakan politik dan budaya umum yang serius:

Artis dan intelektual yang indipenden adalah di antara beberapa orang yang masih tetap diperlengkapi untuk bertahan dan untuk berjuang melawan stereotyping (peniruan buta) dan akibat kematian dari hal yang hidup secara asli. Persepsi yang segar sekarang melibatkan kapasitas untuk terus membuka topeng dan untuk memukul keras stereotipe pandangan dan intelek yang dengannya komunikasi moderen telah menenggelamkan kita. (Wright Mills 1963: 299)

Hal ini kemudian membawa kepada sebuah resep bagi intevensi kaum intelektual yang Said gambarkan sebagai ‘mempersoalkan citra, narasi resmi, pembenaran dari sirkulasi kekuasaan oleh media massa yang makin bertambah kuat … dengan menyediakan apa yang Mills sebut membuka topeng atau versi alternatif di mana kepada yang terbaik dari kemampuan seseorang berusaha mengatakan kebenaran.’ (Said 1994: 22). Hal ini kemudian membawa tidak hanya kepada sebuah strategi intervensi di dalam media sebagai sebuah intelektual publik tapi juga kepada sebuah strategi paralel dari pendidikan media kritis. Problem dengan strategi ini adalah penutupan akses kepada media untuk intervensi intelektual publik ini, hasil dari perkembangan internal media itu sendiri dan intevensi politik yang jelas dan delegitimasi pendidikan itu sendiri, suatu dominasi hiburan yang disebarkan oleh oleh media konsumeris.

Di sisi yang lain lembaga-lembaga media itu sendiri dan kaum intelektual media mendorong sebuah bagian penting dari legitimasi mereka, khususnya dalam hubungannya dengan politik, dari tradisi intellegensia kritis tersebut dan peranannya dalam di dalam ruang publik yang disimpan di dalam citra dari press bebas dan jurnalis sebagai sebuah mimbar bagi kekuasaan yang dipegang rakyat untuk dipertimbangkan. Maka pada saat ini kita dapat melihat, baik para pemilik media dan pemerintahan memobilisasi ideologi sebuah press bebas dan perjuangan pembuatan peraturan mereka dan perselisihan politik. Bagaimana pun juga sinisnya hal ini disebarkan, ideologi ini menempatkan batasan yang nyata terhadap ruang modal media untuk bermanuver. Pada saat sama, proletarianisasi pekerja media yang makin meningkat di dalam kerajaan media konglomerat glonal dan sebuah pasar tenaga kerja yang meningkat begitu saja menciptakan kondisi-kondisi bagi keretakan potensial di antara para inteletual media itu sendiri seputar peranan mereka yang berbeda apakah sebagai kader profesional dari modal media atau sebagai perwakilan dari Kekuasaan Keempat (the Fourth Estate). Pada saat yang sama, mungkin akan muncul menjadi sebuah perhatian (concern) yang tumbuh di antara publik secara luas tentang standar-standar media – apakah dalam pengertian sex dan kekerasan, atau serangan terhadap privacy, atau peliputan politik, dalam mana secara tersirat media diperhitungkan oleh para pemirsa mereka terhadap standar-standar yang tidak murni berasal dari pasar, tapi yang diturunkan dari para intellegensia kritis dan ruang publik. Untuk mempertahankan kredibilitas yang padanya legitimasi mereka dalam bagian besar terdapat, antara lembaga-lembaga media dan para intelektual media keduanya harus merespon concern ini.

Kita dapat menemukan satu respon tersebut, yang melibatkan sebuah aliansi (persekutuan) antara para akademisi dan jurnalis, di Amerika Serikat, dalam proyek tentang Kehidupan Publik dan Press yang Profesor Rosen, direkturnya, gambarkan dalam sebuah Critical Studies in Mass Communication (Rosen 1994). Ini sangat ironis bahwa Rosen memulai pertimbangannya dari sebuah intervensi mutakhir dalam kehidupan publik oleh Rorty, salah satu pendeta tinggi dari relatifisme post-modern. Rorty mencatat (Rorty 1991) bahwa sebuah ’kepercayaan bahwa demokrasi belum bekerja akhir-kahir ini, bahwa para pemilih awam adalah diperdaya siang dan malam, adalah yang paling universal di antara kita.’ Berarti bagi kita ‘kita orang-orang yang terdidik dengan baik, kaum intelektual’ dan mendesak para intelektual untuk mengasumsikan tanggung jawabnya untuk intevensi publik. Kita secara tertatur mengamati, dia berargumentasi, demokrasi gagal memilih ideal-ideal mereka. Kita mengkritisi mazhab-mazhab dan media terhadap berbagai kegagalan mereka. Tapi, ‘biasanya kita tidak menyalahkan diri sendiri’. ‘Dia ingin mengkritik’, sebagaimana Rosen katakan, ‘kecenderungan di dalam kajian kebudayaan untuk mengakademikan politik, meninggalkan sebuah bahasa publik, memuja secara berlebihan perbedaan, memperlakukan isu-isu tentang rasial, kelas dan gender’ sebagai sebuah mantra uiversal. ‘Press dan keprofesoran’, tulis Rorty ‘adalah bertindak seolah-olah percaya tidak hanya bahwa demokrasi belum bekerja akhir-akhir ini tapi bahwa di sana tidak ada lagi satupun point usaha untuk membuatnya bekerja … dengan mendefenisi kembali cakupan aktifitas profesionalnya sendiri dan hubungan mereka terhadap politik demokrasi untuk melegitimasi keadaan tiadanya harapan, [jurnalis dan juga akademisi yang sama] adalah dalam bahaya terjatuh pada peranan orang luar (outsider) yang sinis – beberapa orang yang selalu tahu, kedalaman sisi dalam, bahwa demokrasi tidak lagi bekerja’ (Rorty 1991: 46, 490). Dalam merespon terhadap perhatian (concern) ini Proyek Kehidupan Publik dan Press adalah berusaha untuk mengembalikan visi tersebut dari intelektual publik yang tertanam di dalam pragmatisme Deweyian. Ini bagian dari sebuah pergerakan yang lebih luas dari perhatian di Amerika Serikat pada keteguhannya melakukan korupsi & kemaksiatan dari proses politik yang di dalamnya media dan para politisi telah terlibat, khususnya dalam pemilihan presiden akhir-akhir ini, dan sebagai contoh, usaha, yang didanai oleh Yayasan Markle, untuk menciptakan televisi non-partisan, peliputan kepentingan publik informasional dari isu-isu kampanye selama pemilihan presiden.

Terbaring di belakang proyek ini, sebagaimana Rosen gambarkan, ini adalah adalah sebuah visi khusus dari publik dan dari hubungan para intelektual dan jurnalis kepada publik tersebut, yang dijabarkan dari Dewey. Sebagaimana James Carey, dikutip oleh Rosen, katakan:

Istilah jurnalisitik yang baik – menjadi semua dan untuk semua, istilah yang tanpanya seluruh usaha gagal untuk membuat pengertian – adalah publik. Sejauh jurnalisme dikebumikan, ini adalah dikebumikan di dalam publik. Sejauh jurnalisme mempunyai satu klien, klien-nya adalah publik … Undang-undang jurnalisme berasal dari dan mengalir dari hubungan press dengan publik. Publik adalah patung berhala (totem) dan jimat keramat, sebuah objek dari ritual penyembahan … Tapi untuk semua mantera ritual dari Publik dalam retorika jurnalisme, tidak satupun begitu mengetahui lagi apakah publik itu, atau di manakah kita mungkin menemukannya, atau bahkan apakah publik ini asih ada. (Carey 1987: 5)

Dia melanjutkan:

Masalah nyata jurnalisme adalah bahwa istilah yang melatari itu – publik – telah melarut, larut sebagiannya oleh jurnalisme. Jurnalisme hanya membuat pengertian dalam hubungan dengan publik dan kehidupan publik. Oleh karena itu, problem mendasar bagi jurnalisme adalah untuk mengangkat kembali publik, untuk membawanya kembali kepada keberadaannya. Bagaimanakan kita akan melakukan hal tersebut? (carey 19897: 14)

Jawaban Rosen dan proyeknya adalah dengan sebuah proses yang memerangi kecenderungan separatis bahwa profesionalisasi kehidupan intelektual disemaikan dan bahwa membawa para jurnalis dan profesor bersama-sama dalam sebuah proyek umum untuk menciptakan apa yang Dewey sebut sebagai ‘sebuah kedudukan intelligent dalam urusan sosial’. Sebagaimana Rosen gambarkan proses ini :

Para profesor masuk ke dalam sebuah persahabatan dengan para jurnalis karena tidak satupun dari kelompok mereka yang beroperasi sendirian, dapat mengalihkan fakta bukti-bukti kepada kebenaran publik. Para sarjana menjadi apa yang Walzer (1988) sebut ‘connected critics’ (kritikus yang terhubung), mengalamatkan diri mereka sendiri (dan intelek mereka) kepada rakyat Amerika, kepada siapa mereka merasakan sebuah kesetiaan alami. Dalam menegosiasikan hubungan persahabatan ini mereka harus memunculkan dari disiplin mereka sendiri untuk menemukan sebuah bahasa bersama yang lazim dengan para reporter dan para editor, yang dalam perjalanan kerjanya harus menemukan bahasa umum (yang lazim) dengan para pembacanya. Melalui proses inilah – kelompok-kelompok menemukan masing-masing melalui dialog publik – bahwa publik dapat menemukan diri sendiri sebagai sebuah prinsip pengebumian (grounding) dari kehidupan politik. Untuk mencapai sebuah identitas publik sebagai seorang sarjana, adalah tidak sederhana ‘menerapkan’ ilmu pengetahuan tingkat tinggi kepada problem-problem sosial, atau untuk menterjemahkan kesarjanaan untuk pemirsa awam. Kehidupan intelek dalam kehidupan publik adalah dengan sendirinya sebuah bentuk pencarian … di sini lalu ‘publik’ pada pekerjaannya dan sebuah masyarakat yang sibuk di mana tidak ada seorang pun dapat memahami/menangkap problem-problem publik yang sesungguhnya. Ilmu pengetahuan menjadi ‘intelligence yang terwujudkan’ atau ‘perwujudan intelligentsia’ (Dewey 1927: 210) tidak semuanya pada satu saat melalui beberapa medium magis dari komunikasi publik, dan tidak semuanya dalam satu tempat, melalui beberapa ruang publik yang merangkul semua, tapi melalui banyak pertemuan dengan publik pada banyak tingkatan, semuanya diatur oleh peraturan dari perjanjian yang menyusun etika publik yang berbagi-bersama dari masyarakat. (Rosen 1994: 368).

Dari posisi ini Rosen menjabarkan apat yang terlihat oleh saya menjadi sebuah antidote (penangkal) yang mengagumkan terhadap kegilaan post-modernisme dalam kalangan akademia dan komersialisme sinis dalam media dalam denisinya tentang peranan para sarjana media kritis sebagai intelektual publik kritis:

‘Layanan Publik’ dalam kajian komunikasi dimulai dengan sebuah tindakan intelektual: pemahaman dari sebuah lingkungan di mana ‘di sana ada ketidakpastian dan kemungkinan-kemungkinan’ dan lalu harapan nyata. Dengan mengambil konsepsi ini, untuk mengatakan, para sarjana publik mewujudkan sebuah tindakan pelayanan publik. Pemahaman akademik mendapatkan mandat (amanah) publiknya ketika ia mengajak yang lainnya sebagai perjuangan mereka untuk sampai pada pemahaman hal itu ‘bekerja’ bagi tujuan mereka. Kajian komunikasi berhasil menjadi kritis ketika, dalam bergabung dengan yang lainnya, itu menunjukkan satu bahasa ‘kita’ yang berbicara kepada nilai-nilau bersama, problem bersama, sebuah warisan bersama. Sebuah pemahaman bersama dari moment historis dan kemungkinannya; di sini ‘bersama (common)’ tidak berarti bersama di dalam sebuah disiplin profesional, tapi berbagi (shared) melintasi perbatasan-perbatasan yang membagi kaum intelek dari kehidupan publik, (Rosen 1994: 369)

Cara-cara melakukan hal ini akan berbeda di antara situasi-situasi kultural. Proyek tentang Kehidupan Publik dan Press adalah jelas ditemukan di dalam sebuah tradisi panjang di Amerika Serikat tentang hubungan press lokal dengan politik komunitarian, dalam sebuah status yang tertanam dalam-dalam dari pragmatisme dan di dalam sebuah lokasi sosial yang khusus dari para jurnalis. Keterlibatan jurnalis dan perusahaan surat-kabar-nya adalah juga jelas dalam bagian yang termotivasi oleh pencarian sebuah peranan baru dan kemudian sebuah basis pasar di dalam pasar-pasar lokal mereka dalam menghadapi kompetisi dari perkembangbiakan media elektronik. Tapi hal ini adalah untuk hal yang diinginkan dan kemungkinan tujuan umum yang saya pikir hal ini sekarang penting untuk menunjuk apa yang Rosen sebut ‘tanggung jawab politik dari intelektual media’.

Sentral terhadap analisis Rosen dan proyek yang didasarkan atasnya adalah sebuah usaha untuk menciptakan sebuah hubungan baru antara media dan intelektual media di satu sisi dan para ahli di sisi lain, yang bukan sekedar sebuah perjuangan yang kompetitif untuk supermasi kultural. Sebagaimana telah kita lihat bersama, dalam diskusi para intelektual, untuk membuat sebuah perbedaan antara para intelektual dan apa yang Satre sebut sebagai ‘teknisi dari ilmu pengetahuan praktis’ atau antara apa yang Said katakan sebagai ‘intelektual amatir dan intelektual profesional’. Figur intelektual profesional berbicara definisi fungsional dari para intelektual dan produksi sejarah melalui pembagian pekerjaan dan kebutuhan terhadap sebuah peningkatan teknologi dan birokrasi dunia moderen, tentang para pekerja spesialis informasi dari berbagai jenis. Dalam dunia di mana terjadi peningkatan fragmentasi sosial dan spesialisasi tersebut, kita semua bergantung kepada para ahli, tapi figur dari para ahli sekarang adalah seorang yang sangat ambivalen dalam kebudayaan kita. Romansa Sains (the romance of science) dan penerapannya untuk penciptaan dunia yang lebih baik telah secara intim terkait dengan legitimasi para intelektual baik dalam peranan kritis mereka maupun dalam peranan teknokratiknya. Sesungguhnya keduanya secara orisional terkait erat. Inilah wacana nalar kritis, atau sebagaimana telah sukses dibuktikan, yang telah memungkinkan dapat memanfaatkan alam dan penerapan rekayasa sosial (sebuah frasa sarat makna) kepada kehidupan manusia yang lebih baik. Di dalam jantung lahan kapitalisme industri paling tidak cukuplah dari janji-janji ini terrealisasi untuk membuat pengakuan yang lebih umum dapat dipercaya dan maka dapat mempertinggi gengsi sosial dari para ahli, khususnya para ilmuwan alam (natural scientis) dan para insinyur. Tentu saja ada dari permulaan satu kritik Romantic yang pararel tentang pandangan ini yang melihat affair-cinta sosial dengan para ilmuwan ini sebagai satu bahaya tawaran (bargain) Faustian. Tapi sebuah kandungan penting dalam kritik post-modern umum terhadap nalar-akal telah menjadi sebuah peralihan yang menyebar luas dalam sikap sosial terhadap para ahli, apakah sebagai sebuah hasil pengrusakan yang dapat didemonstrasikan dan frekuensi (seringnya terjadi) perang di abad dua puluh atau merosotnya kualitas lingkungan. Kritik terhadap dominasi rasionalitas instrumenal dan asosiasi para intelektual profesional dengan rasional tersebut sekarang mempunyai gaung popular yang menyebar luas. Tapi reaksi tersebut adalah, dalam pandangan saya, sangat meragukan. Dan media memainkan dan memperkuat keraguan tersebut dengan cara-cara yang membutuhkan pemeriksaan yang teliti. Dalam perjuangan kekuasaan yang sah antara para profesional media di satu sisi dan intelegensia tradisional di sisi lain, media membutuhkan para ahli (expert), karena otonomi relatif mereka dan sumber-sumber ‘pembedaan’ intelektual mereka terletak di atas dua kaki kembar dari sebuah presentasi (perwakilan) yang diakui objektif dan transparan dari ‘kenyataan’ (maka mereka tidak dapat dianggap bertanggung jawab terhadap ilmu pengetahuan ini – mereka hanya melaporkan) di satu sisi, dan sebuah klaim mewakili publik ketimbang mewakili kebenaran. Tentu saja semua pengakuan para intelektual kritis untuk bebicara atas nama beberapa publik, jika hanya kemanusiaan secara luas, yang sulit dalam sebuah posisi untuk menggugat/memperselisihkan klaim tersebut. Tapi ini adalah bentuk perwakilan dari publik itu yang krusial. Penurunan dari tahta para ahli, termasuk para politisi sebagai para ahli dalam politik, dan cara-cara di mana hubungan mereka kepada publik dan kepada wacana publik sekarang adalah dimediasi, dapat diambil sebagai sebuah proses demokratisasi yang sehat, sebagai kemerosotan perbedaan. Dalam pertimbangan ini media memperkuat ketidakpercayaan publik yang masuk akal terhadap para ahli, dan, sebagai mimbar rakyat, membuka topeng keinginan mereka dan membawa mereka untuk bertanggung jawab. Pertumbuhan apa yang disebut pertunjukan rakyat, seperti yang dilakukan oleh Oprah Winfrey, sebagai sebuah genre televisi utama meng-ilustrasikan, bagaimana pun juga, ambivalensi perkembangan tersebut. Dalam shows tersebut para ahli dipanggil untuk menyumbangkan sebuah diskusi live dengan pemirsa, tentang isu-isu kehidupan publik maupun pribadi. Para ahli tersebut diundang, semuanya menunjukkan bahwa para profesional media dan publik mereka berfikir bahwa mereka mempunyai beberapa pendirian tentang suatu materi. Pandangan-pandangan mereka bagaimana pun juga adalah relevan. Sesungguhnya secara khusus ketika masalah kehidupan pribadi – sexual dan psikologis – menjadi isu, sifat alami dari masalah itu adalah secara meningkat didefiniskan dalam sebuah pembicaraan sains karikatural singkat. Di sisi lain, shows adalah begitu dibangun sebagai secara aktif melawan (menghalangi) diskusi rasional, kritis dan untuk menempatkan pengalaman pribadi dari anggota pemirsa (yang dianggap sebagai perwakilan publik umum, walaupun tidak dalam pengertian terstuktur) pada tingkatan yang sama, atau bahkan di atas analisis yang berdasarkan pengalaman intelektual yang terakumulasi dan pelatihan para ahli. Usaha untuk mengadopsi mode rasional, wacana kritis ditempatkan dan dikecam dengan bentuk sebagai, menurut definisi, keluar dari sentuhan, menara-gading, akademik, atau bahkan mengelak dan mementingkan diri sendiri. Usaha untuk memperluas batasan-batasan wacana publik dalam slogan ‘yang bersifat personal adalah politis’ telah menjadi mempersempit secara radikal perbatasan-perbatasan tersebut dalam penetapan/pengumuman, yang diorkestrasi oleh media, tentang ‘hanya yang bersifat personal adalah politis’. Sebagaimana saya katakan bentuk-bentuk mediasi ini dan hubungan media dengan para ahli yang diakui adalah meragukan, dan contoh-contoh tersebut dapat dibacar secara positif, tapi bahayanya di sini adalah populisme demagogic (penghasut), dan hubungannya dengan pertumbuhan rentang perhatian tentang efek praktek media kontemporer pada pelaksanaan politik demokratis, adalah jelas.

Alternatif kepada sebuah strategi intervensi sebagai para intelektual publik adalah sebuah pedagogi (pendidikan) kritis. Hal ini tidak dengan satu pengertian secara mutual eksklusif. Sebuah pendidikan kritis dengan segera memunculkan pertanyaan tentang ‘kualitas’, maksud saya, standar-standar yang dengannya, kita baik sebagai anggota publik maupun sebagai para sarjana media, dapat menilai penampilan/kinerja para produser kebudayaan. Hal ini memasuki jantung proyek kajian media, penelitian dan pembelaan dalam kebijakan media. Kebanyakan kajian media dan budaya adalah tidak lebih dari, bagaimana pun bergayanya ekspresinya, pengamatan terhadap pemandangan yang lewat. Para sarjana tersebut telah menjadi boulevardist (pengamat jalanan) dari kebudayaan kontemporer. Tapi jika melakukan lebih dari sekedar hal ini, kita harus percaya, dan saya percaya bahwa sebuah proporsi signifikan dari mereka yang mengkaji media dan kebudayaan juga percaya, bahwa media mempunyai beberapa pengaruh dan beberapa ukuran tentang penilaian kritis tentang peranan media dan penampilam/kinerja adalah tidak dapat dihindarkan. Penerapan penilaian kritis tersebut, tentu saja, adalah praktek intelektual. Problemnya adalah legitimasi standar-standar yang di atasnya penilaian didasarkan. Kenyataannya para produser kebudayaan, para pemirsa, dan para pembuat keputusan, membuat penilaian-penilaian tersebut dan bertindak atasnya setiap hari. Hal ini sepertinya bahwa hanya kesadaran-diri teoritis mereka menghambat para sarjana kajian media dan budaya dari memainkan peranan terpantas mereka sebagai intelektual kritis dan bergabung di dalammnya. Penghambatan ini berakar dari aliran yang kuat ini dari teorisasi post-modern tentang para intelektual secara khusus dan proses kebudayaan pada umumnya kepada apa yang telah saya rujuk. Teori-teori epistemologikal dan relativisme budaya telah menggerogoti landasan filosofis dari seorang intelligentsia kritis, sementara teori-teori sosio-historis dai para intelektual sebagai para manipulator penilaian budaya dalam mengejar kepentingan kelas mereka telah memberi bahan bakar kepada impuls (gerak hati) para populis dan komunitarian yang menggali/menggerogoti penilaian tersebut, bahkan di dalam akademi itu sendiri. Problemnya, sebagaimana saya lihat, adalah bahwa hal ini prinsipnya menolak semua klaim kebenaran maupun keindahan, bagaimana pun juga didefinisikan, dan menginngalkan lahan bebas, baik untuk pilihan konsumsi dala sebuah pasar sebagai satu-satunya alat uji nilai atau untuk penerapan tak terhalang dari penilaian kritis dari para produser budaya itu sendiri, tentu saja seringkali atas nama sebuah gagasan pemirsa atau publik, tapi rupanya bukan subjek dari kritik yang sama seperti saudara perempuan dan saudara laki-laki para intelektual di bidang lain dari produksi kebudayaan. Saya akan memeriksa problem ini secara lebih rinci dalam Bab 7.

Kesimpulannya, oleh karena itu, saya berharap akan membuktikan bahwa para intelektual media adalah tidak dapat dibatalkan terpecah (split) antara dua identitas – yaitu para intelektual profesional dan para intelektual amatir. Di satu sisi mereka adalah kader dari sebuah sektor industri yang meluas yang bertanggung jawab terhadap produksi langsung dari akumulasi-surplus komoditi-komoditi, dan untuk melayani, melalui periklanan dan pemasaran, sektor lain dari ekonomi. Pekerjaan mereka menggabungkan dengan pertumbuhan badan pelayanan informasi profesional lain yang melayani permintaan/kebutuhan informasi dari pemerintahan dan perusahaan-perusahaan. Dari perspektif inilah pertanyaan-pertanyaan sebagai untuk status ekonomi para borjuis picik baru ini (apakah profesi-profesi informasi menjadi ter-proletarianisasi, dan jika begitu dengan konsekuensi sosial dan politis apa?) dan sebagai apakah pekerjaan dan status sosial mereka memberi mereka sebuah ideologi yang menyatukan atau perhatian jasa/guna pembagian (disposisi) budaya. Di sisi lain, dalam me-mediasi antara penciptaan ilmu pengetahuan dan publiknya dan antara private (pribadi) dan publik mereka terlibat dalam penciptaan dan sirkulasi makna-makna publik kepada publics, yang sebagiannya mereka ciptakan melalui mode-mode alamat yang mereka pilih. Mereka oleh karena itu tak dapat dihindarkan, bertanggung jawab sebagai, dalam beberapa pengertian, perwakilan intelektual dari ilmu pengetahuan dan publik. Hal ini adalah dari pelaksanaan kekuasaan mereka untuk membuat jaringan (links) tersebut, sehingga identitas mereka dan legitimasi sebagai para intelektual media pada akhir dijabarkan. Hal ini adalah melawan standar-standar tersebut sehingga kita harus menilai, apakah, dan jika begitu bagaimana, mereka melakukan pengkhiatanan terhadap pekerjaan mereka sebagai intelektual amatir yang kewajibannya adalah, dalam kata-kata Satre, untuk mencampuri apa-apa yang tidak menjadi perhatian (concern) mereka.

No Comments yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>