Teknologi Media
March 25, 2008 at 4:52 am | In Falsafah, Hikmah, Islam & Sciences ||
|
Keuntungan teknis tidak pernah terdaftar secara otomatis dalam masyarakat. Mereka membutuhkan penemuan-penemuan yang cerdas yang sama dan penyesuaian politik. Adalah kebiasaan ceroboh mengkaitkan perbaikan-perbaikan mekanis berperan langsung sebagai instrumen kebudayaan dan peradaban, yang meletakkan suatu permintaan terhadap mesin — yang kepadanya hal itu tidak dapat merespon, tak peduli bagaimana teknik yang komplit terdapat pada prosedur objektif ilmiah, hal itu tidak membentuk suatu sistem yang independen, seperti alam semesta eksis — sebagai sebuah unsur dalam kebudayaan manusia dan ini menjanjikan kebaikan atau penderitaan sebagai kelompok sosial yang mengeksploitasi janji kebaikan atau penderitaan. Mesin itu sendiri tidak membuat permintaan dan tidak mengulurkan janji-janji: spirit manusia-lah yang membuat permintaan/kebutuhan dan menjaga janji-janji.
Lewis Mumford, Technic and Civilisation
Di seluruh dunia, teknologi informasi dan komunikasi membangkitkan sebuah revolusi industri yang baru. Ini adalah sebuah revolusi yang berdasarkan informasi. Teknologi itu sendiri adalah ekspresi ilmu pengetahuan manusia. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan kita dapat memproses, menyimpan dan mengambil-ulang dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk apapun yang diambilnya – lisan, tertulis atau visual – tanpa dirintangi oleh jarak, waktu dan volume. Revolusi informasi ini menambah kapasitas baru yang besar terhadap kecerdasan manusia dan membentuk suatu sumber yang mengubah cara kita bekerja bersama dan cara kita hidup bersama.
Laporan Bangemann
Revolusi internet telah menantang model the corporate-titan Jalan tol Infomasi (Information Superhigway). Pertumbuhan jaringan bukanlah suatu kebetulan atau sebuah keisengan, namun merupakan konsekuensi daya yang tak terkekang dari kreatifitas individual. Jika hal itu sebuah ekonomi, hal itu akan menjadi kemenangan pasar bebas atas perencaraan terpusat. Dalam musik, jazz atas Bach. Demokrasi atas kediktatoran.
Christopher Anderson, The Economist, 1 July 1995
Peralatan media baru dan informasi yang akhir-akhir ini diuji-coba atau didiskusikan di seluruh dunia adalah bukti tambahan suatu keseluruhan tahapan baru yang dilewati ekonomi bangsa Barat. Suatu peralihan agung dari kedaulatan produser kepada kedaulatan konsumen mengambil tempat dalam demokrasi Barat, sebuah perubahan yang membawa dalam keretanya sebuah perubahan nilai-nilai dan sistem manajemen ekonomi. Dalam bidang informasi peralatan tersebut adalah teletext, viewdata, kaset dan kabel dan videodisk semuanya sama pas dengan pola yang baru muncul: mereka menyediakan kesempatan bagi para individu untuk melangkah keluar dari penyeragaman massal pemirsa surat kabar, radio dan televisi dan mengambil peran yang lebih aktif dalam proses transmisi ilmu pengetahuan dan hiburan kepada masyarakat.
Smith, Goodbay Gutenburg, 22
Tak seorang pun yang mempelajari media dapat menghindari pertanyaan tentang teknologi. Di dalam problem umum tentang sifat alami dan akibat mediasi sosial kita dapat mengenali tiga jenis mediasi yang berbeda. Ada mediasi oleh agen-agen manusia lain, problem yang dimunculkan modernitas di atas semua oleh pembagian kerja sosial dan yang saya periksa terkait dengan para mediator di Bab 5, dan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan problem yang lebih umum dari perwakilan politik di Bab 8. Yang kedua, ada mediasi oleh sistem perwakilan simbolik, implikasi yang saya periksa di Bab 7. Akhirnya ada mediasi, baik antara manusia dan alam, dan antara manusia itu sendiri, dengan peralatan. Bentuk ketiga mediasi ini telah menjadi fokus sentral tradisi pemikiran sosial yang melihat pekerja (SDM) sebagai karakteristik penentu dari spesies manusia, dan yang melihat perkembangan peralatan tinimbang kemampuan berbicara sebagai pembeda antara binatang dan umat manusia, dan yang lalu menjadi pondasi dari kebudayaan manusia.
Dari perspektif ini, untuk mempelajari sejarah dan konsekuensi sosial perkembangan sistem dan proses komunikasi sosial, saya memanggil media adalah untuk mempelajari perkembangan dan penyebaran teknologi produksi, distribusi dan konsumsi simbol-simbol. Sesungguhnya dalam bahasa sehari-hari, dalam pembagian akademik tentang tenaga kerja, dan dalam pembedaan sektoral antara bisnis, media didefinisikan, dinamai, dan dibedakan satu dari yang lainnya bukan berdasarkan simbol-simbol yang mereka bawa, tetapi berdasarkan letak mereka dalam teknologi produksi dan distribusi. Kemudian kita berbicara dan berfikir tentang media, meneliti media, berinvestasi di dalamnya, mengelola, dan mengatur media dalam pengertian film, rekaman, pers, radio, televisi, dan telekomunikasi. Sebagaimana telah kita lihat ketika memeriksa politik-ekonomi dan pengaturan media di Bab 3, perbedaan antara hal ini meletakkan materi teknologi media. Mereka sebagiannya menjelaskan mengapa medium khusus ini terlihat sebagai sebuah bisnis yang dioperasikan dalam cara yang dilakukannya dan adalah diatur dalam caranya.
Pembebasan dari Alam
Yang menjadi sentral dalam proyek pembebasan modernitas adalah pencarian untuk pembebasan dari rintangan-rintangan yang dipaksakan oleh alam. Umat manusia, sebagai makhluk yang mewujud, secara wajib tertanam di dalam dunia alami. Dan ketertanaman ini mengambil dua bentuk. Di satu sisi umat manusia, untuk kelangsungan hidup fisikalnya adalah tergantung pada interaksi melalui pekerjaan dengan alam dalam pengetian dunia, material-fisikal. Di sisi lain akal manusia dan kesadaran dirinya telah menjadi apa yang kita lihat sebagai insting, dorongan atau gairah-nafsu dari sifat batiniyah kebinatangannya. Kemudian ada dua respon di dalam pemikiran Pencerahan terhadap problem yang dimiliki alam.
Pada awalnya, di Perancis yang luas, dalam fase Pencerahan, yang dikembangkan dari pemikiran teologis, alam dilihat sebagai sangat ramah, sebagai sama-setara dengan kehendak Tuhan, dan manfaat akal adalah untuk memahami alam lahir dan batin sehingga dapat hidup secara harmonis dengan alam. Filsafat alam, atau sains, mengambil tugas theologi dalam menyingkap misteri takdir Tuhan yang dihadirkan oleh alam, ilmu pengetahuan, dan lalu tindakan manusia dalam keserasian (harmoni) dengan alam, telah terhalangi oleh kebodohan dan takhayul – dosa versi baru. Cara berfikir seperti ini kemudian dikembangkan ke dalam tradisi positif dan sains sosial yang diwakili oleh Saint Simon dan Comte yang darinya banyak penelitian kebijakan modern berakar. Inilah cara berfikir tentang alam yang tetap penting ketika memikirkan teknologi, namun dalam suatu pengertian paradoksal. Ini menempatkan versi determinisme teknologis yang melihat teknologi tidak hanya sebagai ekspresi hukum alam, tapi juga sebagai penyempurna yang tak terhindarkan dari nasib manusia, dan lalu melihat perkembangan teknologi yang berlawanan ini sebagai Luddities, dan rintangan konservatif bagi kemajuan umat manusia. Tapi hal ini juga terdapat di balik pemikiran , sebagai contoh dalam gerakan penyelamat lingkungan, banyak orang yang memobilisasi bukti-bukti ilmiah untuk melawan pembangunan/pengembangan teknologi atas dasar bahwa hal ini mengganggu atau menghalangi sesuatu hubungan yang lebih ‘manusiawi’(humane) dan alami antara umat manusia dan lingkungan alaminya dan sifat-sifat batiniahnya (inner natures).
Respon kedua telah melihat pembebasan dari rintangan yang dipaksakan baik oleh alam internal maupun eksternal dengan mengontrol mereka. Kebudayaan manusia dan kebebasan sekarang dilihat sebagai anti-alam. Penerapan akal, sains dan teknologi sebagai produk terbaiknya, sekarang dilihat sebagai rute melarikan diri dari dunia kebutuhan dan menuju ke dunia kebebasan. Bagaimana pun juga, sebagai sebuah kritik terhadap tatanan sosial, ekonomi, dan budaya yang dibangun di atas pondasi revolusi ilmiah dan teknologis ini, apakah dari posisi Romantic atau Dialektika Pencerahan, segera mulai ditunjuk, problemnya adalah bahwa apa yang telah diciptakan itu adalah sebuah alam yang baru. Alam yang baru ini, dalam bagian besar diciptakan dengan menggunakan (mengekang) sains dan teknologi dalam manufaktur-mesin dan lompatan tinggi dalam produktifitas, pembagian kerja yang mendalam, dan perluasan dunia administrasi sosial birokratis yang dihasilkan, telah diletakkan di dalam sebuah tempat sistem dunia baru yang mendominasi manusia dan membatasi kebebasan mereka seefektif alam telah melakukan sebelumnya. Pada saat yang sama alam yang baru ini, jauh dari wujud subjek pandangan investigasi kritis dari penalaran ilmiah, telah dibuat tidak jelas oleh sebuah mitologi baru tentang rasionalisme ilmiah itu sendiri. Inilah inti kritik yang diluncurkan oleh para teoritisi kritis dari Mazhab Frankfurt dan yang menyokong analisis mereka terhadap industri budaya.
Jadi, ada ketegangan dialektikal di dalam wacana filosofis tentang modernitas antara pembebasan dan rintangan, antara agensi dan struktur, antara dunia kehidupan dan dunia sistem, antara manusia dan binatang, budaya dan alam, keraguan dan ilmu pengetahuan, berlanjut dimainkan keluar di atas bidang teknologi. Sebagaimana kita akan memeriksa perdebatan kontemporer tentang teknologi secara umum, dan teknologi media secara khusus, kita perlu mengingat bahwa hal ini adalah hubungan di antara kutub-kutub pemikiran yang merupakan pokoknya.
Determinisme Teknologis dan Masyarakat Informasi
Walaupun ada serangan dari para teoritisi kritis, kaum Romantics dan post-modernist dan dari kecurigaan popular yang tumbuh, sains dan teknologi dan pandangan yang terdeterminasi secara teknologis tentang kemajuan yang terkait dengannya, mempertahankan gengsi yang tinggi dan peredarannya, mungkin secara khusus pada saat ini dalam kaitannya dengan teknologi komunikasi dan informasi, baik pada tingkat popular maupun elite.
Sehingga, sebagaimana telah kita lihat di Bab 2, sebuah pengaruh ekstrem dari cara berfikir tentang sejarah media dan akibat sosialnya dalam pengertian perkembangan yang berturut-turut dari kunci teknologi – penulisan, pencetakan, teknologi informasi – terkait pada sebuah tahapan teori perkembangan masyarakat manusia. Banyak perdebatan kontemporer tentang media memobilisasi sejarah tersebut, dan hanya dapat dipahami sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang teknologi, perkembangan teknologi, dan dunia modern. Perkembangan tentang ekonomi media dan kebijakan atau tentang pengaruh sosial dan kultural dari media adalah pada kenyataannya seringkali berupa perdebatan yang luas tentang teknologi. Apakah perdebatan tersebut berkaitan dengan pengaruh apa yang disebut konvergensi terhadap masa depan industri media dan pengaturannya, atau pertanyaan yang lebih luas lagi tentang watak/sifat-sifat dari apa yang disebut sebagai Masyarakat Informasi, mereka bekerja dengan asumsi-asumsi, sering kali tersirat, tentang bagaimana teknologi menjadi eksistensi dan pengaruhnya, apakah positif atau negatif. Di atas semuanya, pokok yang mendasari perdebatan ini adalah perdebatan seputar determinisme teknologis. Apakah teknologi adalah penggerak utama dalam perubahan sosial, sebuah takdir yang secara sederhana harus diterima dan diadaptasi apakah kita menilai hasilnya positif atau negatif? Contoh dari jenis pemikiran ini adalah menyebar luas. Anda dapat menemukannya baik dalam literatur akademik maupun literatur populer tentang Masyarakat Informasi dan apa yang disebut revolusi informasi dan komunikasi yang mendasari Masyarakat Informasi (sebagai contoh lihatlah Negroponte 1995; Toffler 1980; Bell 1973; dan Castells 1996; untuk kebaikan jika sesuatu dicatat, kritik dari literatur ini lihatlah Webster and Robbins 1986; untuk kritik yang lebih umum terhadap pandangan teknologi komunikasi dan informasi lihatlah Winston 1998). Hal ini dapat ditemukan secara mendalam tertanam di dalam pemikiran regulasi mutakhir dan dalam dokumen kebijakan baik secara nasional di Inggris dan secara internasional. Sebagai contoh dalam dokumen kebijakan dari Laporan Peacock yang mengarahkan ke pengaturan ulang broadcasting di Inggris pada akhir 1980-an, di dalam dokumen dari Oftel tentang pengaruh regulasi konvergensi (Oftel 1995), dan sebagai contoh dalam Laporan Bangemann (European Commission 1994) dan Paper mutakhir EC Green tentang konvergensi (European Commission 1997b). Sesungguhnya saya akan menyarankan bahwa sebuah pengkhidmatan yang penting adalah membaca literatur mutakhir tentang kebijakan media, masa depan industri media dan masyarakat informasi dari sudut pandang (perspektif) ini. Apakah sebuah argumen determinis secara teknologikal diletakkan di depan dan jika ya, dalam bentuk apa?
Karya seni di dalam Zaman Reproduksi Mekanis
Ada satu versi khusus tentang determinisme teknologis, yang secara khusus telah berpengaruh di dalam pemikiran tentang media. Tokoh yang paling tersohor dari posisi ini adalah McLuhan yang terkenal membuktikan bahwa medium adalah pesan – dikatakan bahwa ada efek terang-terangan yang tertanam di dalam sebuah medium yang ada, yang didefinisikan sebagai sistem teknologi khusus untuk komunikasi, apakah lisan, tercetak atau elektronik. Sementara pengembangan McLuhan terhadap thesis ini adalah ekstrim dan sekarang secara luas kehilangan kepercayaan (widely discredited), versi argumentasi ini masih beredar dan mempunyai pengaruh yang kuat. Sungguh salah satu rumusannya, yang pada suatu periode besifat resmi (canonical) dalam kursus kajian media, adalah karya tulis Benyamin: The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1970). Thesis Benyamin, yang diturunkan secara sempurna dari ide Marx tentang pertentangan potensial antara kekuatan dan hubungan-hubungan produksi, adalah bahwa produksi mekanis per se telah mengubah hubungan pemirsa terhadap artefak budaya dalam sebuah cara untuk menghancurkan aura-nya, dan memperkenalkan cara yang lebih saintifik (ilmiah) dalam memandang dunia. Intervensi ini adalah sebuah imbangan berat yang berguna bagi reaksi Romantic, yang terkait dengan gagasan dari keaslian dan genius, berlawanan dengan barang seni yang diproduksi secara teknologis sebagai tidak asli. Tapi Adorno benar dalam kritik aslinya ketika ia menunjukkan bahwa pertama-tama sebuah pembedaan perlu dibuat antara teknologi yang digunakan untuk mereproduksi karya-karya seni yang diciptakan pada kondisi kerajinan tangan pramodern, sebagai contoh sebuah rekaman orkestra simphoni atau buku tercetak dari seorang penulis manuskrip, dan bentuk-bentuk kultural yang mereka sendiri diciptakan secara teknologis sehingga membutuhkan hubungan yang berbeda dari produksi, seperti surat kabar, film, atau program televisi dan bahwa satu pembedaan kedua diperlukan antara teknologi reproduksi dan hubungan-hubungan produksi dan pertukaran yang di dalamnya bentuk kultural dari hubungan pemirsa telah tertanam (Adorno 1977). Sementara Benyamin telah melihat dokumentasi Vertov sebagai masa depan dari sebuah sinema (film layar lebar) yang direproduksi secara mekanis. Adorno menujuk secara lebih realistik kepada aura dari sistem bintang Hollywood. Di dalam tradisi ini, secara samai berpengaruh dalam beberapa lingkaran, Brecht membuktikan (mendemonstrasikan ketidaktahuan teknologisnya) bahwa hal ini adalah sekedar sebuah konspirasi kapitalis sehingga set radio tidak dirancang dan dipasarkan sebagai pesawat penyiaran (transmitting devices) sebagaimana pesawat penerima siaran (receiving devices), tanpa menyadari bahwa dia sedang berbicara tentang telepon, yang telah siap di pasaran, dan bahwa radio sebagai sebuah sarana produksi dan penyebaran kebudayaan adalah sebuah set khusus dari hubungan hierakis yang dimungkinkan oleh teknologi tapi tidak ditentukan. Dalam pengertian ini perbedaan antara teater, medium yang dipilih oleh Brecht, dan juga radio dan film adalah salah satu skala bukan salah satu teknologi. Satu-satunya alasan untuk tetap berdiam di atas argumentasi kuno ini adalah bahwa sebuah romantisisme produktivist yang sama sekarang mengepung hypertext dan jaringan internet (world wide-web) dan menyokong ramalan yang konstan tapi secara konstan menunda kematian buku.
Pembentukan Sosial (Social Shaping)
Dalam merespon penjelasan determinisme sosial tentang peranan dan pengaruh teknologi sebuah rentang pendekatan social shaping telah dibangun. Pendekatan ini dapat dibedakan dalam pengertian tingkatan keumuman pada apa yang mereka operasikan dan aspek teknologi/hubungan masyarakat yang mereka fokuskan. Apa yang menjadi isu adalah apa yang terbentuk, di mana dan dan bagaimana. Dan dalam masing-masing kasus dari sebuah perspektif pembebasan kita juga dapat membedakan pendekatan-pendekatan dalam pengertian derajat transparansinya, dan lalu keinginan intervensi (campur tangan) manusia secara aktual atau potensial dalam proses pembentukan. Hal ini penting sebab untuk membantah determinisme teknologis atas nama pembentukan sosial adalah tidak perlu membuktikan untuk agensi manusiawi yang meningkat. Hal ini hanya dapat menghadirkan sebuah pembalikan dari determinisme teknologis kepada determinisme sosial.
Kita dapat melihat pembalikan tersebut, saya pikir, di dalam versi tersebut dari pembentukan sosial yang terletak pada perlawanan ekstrim dari spektrum masyarakat-teknologi kepada determinisme teknologis. Pendekatan ini, kadang-kadang disuarakan program yang kuat dalam sosiologi sains, berargumentasi bahwa semua sains, dan juga teknologi dibangun di atasnya, adalah seperti agama atau ideologi, hanya serangkaian kepercayaan terhadap apa yang dianggap benar, yang dibangun, dinegosiasikan dan dipertahankan sebagai bagian dari repertoar budaya dari kelompok sosial yang ada. Maka klaim kebenaran dari sains, dan juga gengsi sosial dan kekuasaan, adalah spesifik secara budaya, tapi secara epistemologis sewenang-wenang (berubah-ubah). Ini adalah secara total terbentuk secara sosial (Latour 1987; Wolgar 1996; untuk kritik singkat dari posisi ini, lihat Sokal and Bricmount 1998). Salah satu untaian penting di dalam mazhab ini adalah kaum Feminist yang berargumentasi bahwa versi penalaran/alasan yang mendasari sains Barat sejak era Pencerahan adalah kelelakian (male), sehingga bahwa sains dan teknologi sebagaimana yang sekarang ini dipahami dan dipraktekkan adalah keterlibatan yang tak dapat dihindari dengan hubungan-hubungan kekuasaan patriarchy dan mengabaikan dan menindas kepentingan perempuan (lihat Harding 1991; Calhoun 1995: bab 6 untuk diskusi). Problem pada posisi ini dari sudut pandang saya, adalah bahwa hal ini memecahkan masalah problem emansipasi dengan fiat (sanksi) epistemologis. Hubungan dengan alam tidak lagi menjadi problem, karena alam secara total adalah jinak atau dapat ditundukkan. Karakteristiknya adalah sekedar proyeksi dari kepercayaan-kepercayaan yang dibangun secara sosial. Maka secara ironis pembetukan sosial tidak mempunyai sesuatu untuk dibentuk.
Teknologi atau Teknologis
Sebuah problem dengan versi tertentu dari pembentukan sosial (social shaping) adalah suatu kecenderungan untuk mengambil sebuah pandangan yang sangat umum tentang teknologi sebagai suatu hal atau proses tunggal. Sehingga problemnya adalah berfikir sebagai analisis dari teknologi secara umum atau spesies yang sangat umum dari teknologi seperti teknologi baru media atau teknologi komunikasi dan informasi, yang disingkat menjadi ICT (Information-Communication Technology) sehingga mereka dapat lebih mudah dipikirkan, ditulis dan dibicarakan seolah-olah mereka adalah fenomena tunggal. Hal ini lalu seringkali terkait dengan pandangan yang sangat umum tentang tingkatan sosial di mana pembentukan mengambil tempat seperti itu, sebagai contoh, apakah kapitalisme atau Barat yang terlihat sebagai pembentuk.
Kita perlu memikirkan secara bertentangan untuk mendekonstruksi ide tentang teknologi. pertama kita perlu membedakan, seperti Winston (1998) melakukannya dengan berguna, antara sains yang mendasari dan aktualisasinya di dalam artefak-artefak (benda budaya) dan proses-prosesnya, dan kemudian antara berbagai cara di mana potensi saintifik diwujudkan dalam prototype-prototype (bentuk asli/dasar) yang mungkin digunakan, dari apa yang Winston sebut penemuan, yang potensialitasnya secara aktual diambil dan disebarkan secara sosial. Pembedaan ini mempunyai dua nilai. Pertama mereka membiarkan kita untuk memisahkan pertanyaan kebenaran ilmiah, gengsi dan legitimasi yang melekat pada sains, dari sebuah judgement nilai-nilai dan pengaruh eksploitasi teknologis sains tersebut. Hal ini penting, bagaimanapun juga, untuk menekankan bahwa hal ini tidak mengijinkan kita untuk tidak mempedulikan sains yang mendasarinya. Hal ini, dalam pandangan saya, adalah sebuah kelemahan dari pendekatan pembentukan sosial terhadap teknologi, sebuah kelemahan yang lazim dalam kebanyakan pemikiran alternatif tentang teknologi dan pengaruhnya, di dalam sains sosial pada umumnya, dan di dalam kajian media pada khususnya. Tidak ada keraguan yang diakibatkan tidak sekedar oleh kelemahan latar belakang ilmiah di antara para praktisi, tapi lebih umum kepada sebuah bias anti-upaya ilmiah dan bias anti-teknologi di dalam bidang yang berakar dari sikap yang secara mendalam tertanam di dalam pemikiran paska-Pencerahan (post-Enlightenment) tentang seni dan budaya sebagai sesuatu yang bertentangan nilai dengan sains. Hasilnya adalah yang melihat teknologi sebagai secara total dapat ditundukkan dan maka tidak mengambil serius rintangan yang ditempatkan oleh alam pada tindakan manusia. Mengambil beberapa contoh: Apa yang anda dapat lakukan dengan spektrum radio adalah dalam bagian yang ditentukan (determined) oleh hukum fisika dan karakteristik perambatan dari gelombang radio. Suatu diskusi yang serius tentang kemungkinan sosial dan konsekuensi dari proses perkembangan teknologi berbasis radio perlu ditempatkan di dalam ilmu pengetahuan sepenuhnya tentang apa yang merintangi tempat tersebut dan perkembangan masa depannya. Hal ini tentu saja dapat menjadi sebuah bahan perdebatan yang murni bersifat ilmiah dan engineering. Sementara manfaat aktual adalah ditentukan oleh sebuah konfigurasi khusus kekuasaan politik dan ekonomi, rentang kemungkinannya dan penjualan yang dibuat di anatara mereka, sebagai contoh antara telepon mobil dan broadcasting, adalah tidak terbatas. Sama halnya dengan pemikiran tentang cyberspace. Suatu kegagalan mengambil rintangan teknologi secara serius membawa kepada sebuah bentuk pemikiran idealis di mana cyberspace sebagai kebebasan terbang dari keterbatasan yang ditempatkan pada manfaatnya oleh karakteristik rekayasa (engineering) dari jaringan telekomunikasi dan protokol perangkat lunak (software) yang padanya internet dijalankan. Dan tentang rintangan ekonomi material yang nyata menutupi (memblokade) konfigurasi alternatif dan pola-pola penggunaan. Singkatnya bahaya pendekatan ini terhadap teknologi adalah hal ini membawa kepada sebuah anti-perwujudan idealis yang kemudian mudah berbalik menjadi sebuah paranoid distopian, seperti pandangan utopian (khayalan) tentang pengaruhnya. Setiap pelajar yang serius tentang media, pengaruh masa depan mereka dan perkembangan kebutuhan, oleh karena itu, untuk mengambil secara serius biaya manfaat, pemikiran tujuan akhir dari para insinyur. Sungguh visi yang spesifik dari manfaat teknologis dan perkembangan yang dipikirkan insinyur dapat setiap waktu disukai dan perambatannya hanya dapat dikriktik jika pada awalnya hal itu dipahami.
Peralatan dan Sistem
Pembedaan kedua yang perlu kita buat adalah antara peralatan teknologi yang berdiri sendiri, contohnya sebuah Personal Computer (PC), sebuah walkman Sony, atau sebuah radio penerima, dan sistem teknologis, contohnya sebuah broadcasting atau jaringan (network) telepon. Secara khusus karakteristik penyebaran mereka akan berbeda. Sebuah alat yang berdiri sendiri dapat dibangun dan diluncurkan pada sebuah pasar secara spekulatif. Jika hal ini merespon beberapa kebutuhan manusia, bahkan jika hal ini bukan salah satu yang dipertimbangkan oleh para perancangnya atau perusahaan yang memasarkannya, hal itu dapat didorong sepanjang satu kurva normal penyebaran. Hal ini juga dapat dimodifikasi dalam merespon pola manfaat awal. Hal ini tidak membutuhkan standarisasi dan ada ruang untuk sebuah rentang versi alternatif yang bersaing dari teknologi. Singkatnya, pasar dapat digunakan sebagai bagian dari proses penelitian dan pengembangan. Maka hal ini lebih dapat dipertanggungjawabkan baik untuk suatu analisis pasar klasik dari inovasi dan penyebaran teknologi dan untuk suatu pendekatan pembentukan sosial (social shaping approach). Sistem teknologi, di sisi lain, khususnya sistem jaringan (network) yang bersifat fisikal, membutuhkan sebuah level penyebaran yang lebih tinggi dan lebih jauh dan kemampuan dapat saling dioperasikan (interoperability) dari komponennya untuk beroperasi. Dengan sistem, apakah anda memilikinya atau tidak memilikinya. Mereka lalu menderita secara ekonomis, sebagaimana kita lihat di Bab 3, dari problem ‘ayam-telur’. Sebagai contoh, peluncuran sebuah sistem broadcasting, seperti peluncuran mutakhir dari broadcasting digital, jika hal ini untuk menawarkan sebuah alternatif realistik terhadap sistem mutakhir dari broadcastiong analog, membutuhkan investasi di muka yang besar sekali dan sebuah asumsi bahwa proporsi yang besar dari para pengguna potensial yang secara aktual mengunakannya. Hal ini menjadi subjek karakteristik monopoli alami dan secara umum membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat dari negara untuk membuat resiko dapat diterima. Hal ini juga memiliki level kelembaman (inersia) built-in yang tinggi Sekali orang berinvestasi di dalam sebuah sistem atau standar mereka akan dapat secara cepat tanpa diharapkan berubah kepada sistem lain dengan karakteristik teknis yang berbeda dan bersaing. Inilah mengapa berjanji memperkenalkan televisi high-definition telah menjadi sebuah kegagalan walaupun dengan usaha-usaha politik dan ekonomi level tinggi, dan mengapa, walaupun kegunaan yang bernilai tinggi lainnya bagi kapasitas spektrum, ini hanya akan menjadi mungkin untuk menghapuskan secara bertahap broadcasting analog setelah skala waktu yang panjang. Untuk alasan inilah, ada sedikit ruang pada level sistem untuk pembentukan sosial oleh konsumen. Keputusan teknologi kunci dalam merancang sistem akan wajib diambil sebelum ada konsumen tunggal. Jadi bagaimana keputusan tersebut diambil dan di dalam kekuasaan dan kepentingan apa yang saling berpengaruh, menjadi sebuah pertanyaan krusial.
Tentu saja hubungan antara pesawat yang berdiri sendiri dengan sistem adalah tidak sesederhana itu, ketergantungan pesawat yang berdiri sendiri terhadap dasar sistem terentang di sepanjang suatu spektrum dari minimal kepada ketergantungan yang hampir total. Jadi pesawat, minimum, membutuhkan sistem seperti suplai listrik dan jaringan perawatan atau suatu sistem penjualan eceran (retailing). Hal ini bukanlah sebuah pertanyaan sepele dalam beberapa contoh. Contohnya usaha awal untuk membangun broadcasting pendidikan di negara-negara kurang berkembang (terkebelakang) seringkali didirikan di atas kekurangan suplai listrik dan kekurangan insinyur pemeliharaan yang terlatih untuk menjaga agar perangkat tetap berjalan. Oleh karena itu, penting adanya pengembangan radio yang dapat dihidupkan dengan angin di negara di mana suplai baterai tidak dapat diandalkan. Jadi mengidentifikasi dan menganalisa hubungan ini adalah selalu penting dan adalah sebuah koreksi terhadap proyeksi yang lebih membahagiakan dan cenderung menyederhanakan tentang masa depan yang lebih cerdas dan kecepatan pertumbuhan sistem baru. Contohnya, manfaat internet tergantung dari penetrasi PC. Salah satu hal yang terabaikan dalam usaha untuk meluncurkan televisi high-definition adalah bahwa perangkatnya terlalu besar, dan membutuhkan jarak pandang yang terlalu besar untuk kebanyakan rumah-rumah rakyat. Usaha untuk meluncurkan sebuah kombinasi antara televisi dan telepon menemukan fakta bahwa orang-orang tidak ingin menggunakan telepon pada saat dan tempat yang sama dengan waktu mereka menonton televisi. Usaha untuk mengaitkan televisi digital dengan belanja di internet akan menemui problem yang sama.
Teknologi dan Teknik
Pembedaan lebih lanjut yang perlu dibuat antara teknologi dan teknik: teknologi adalah sebuah teknik yang terwujud dalam sebuah peralatan fisikal, sementara teknik adalah bentuk institusional yang mendasarinya, nilai-nilai budaya, dan keterampilan yang terbangun secara sosial yang merupakan sebuah ekspresi teknologis dan yang di dalamnya teknologi dibangun dan ditempatkan untuk bekerja. Jadi, contohnya, kita dapat membedakan sebuah teknik komunikasi simbolik yang di dalamnya teknologi penulisan –alphabetic, tulisan-tulisan kuno berbentuk baji (cuneiform) atau tulisan berbentuk gambar (ideographic) dikembangkan dan disebarkan. Hal ini penting karena hal ini mengijinkan kita untuk membedakan antara teknologi komunikasi – contohnya transmisi televisi dan penerimaannya — dan keterampilan yang ditemukan dan dipelajari secara sosial, seperti pembuatan program, konstruksi jadwal, periklanan atau keuangan lisensi, pola-pola penafsiran dan konsumsi yang tidak diadakan oleh teknologi itu sendiri. Sebagaimana akan kita lihat, kemungkinan teknologis mungkin tidak tergali atau hasil produksinya sangat berbeda dari yang digambarkan oleh para ‘penemunya’, dan kita tahu bahwa mereka dapat dan berlaku berbeda karena antara formasi sosial yang berbeda; teknologi broadcasting tidak menentukan bentuk-bentuk kelembagaan, baik komesial yang didanai oleh iklan atau broadcasting layanan publik yang didanai secara lisensi. Hal ini penting untuk dua alasan. Pertama karena ketika kita menerima teknologi dari perspektif kekuasaan dan distribusinya, ini mungkin lebih bersifat teknis ketimbang teknologi yang krusial. Untuk mengambil sebuah point yang jelas, penemuan dan penyebaran teknologi penulisan adalah sangat jelas dari zaman penting yang signifikan, sebagaimana yang dibuktikan oleh Innis, untuk skala yang meningkat dari organisasi sosial dan peningkatan yang besar dalam potensial untuk warisan budaya non-organik, warisan budaya antar generasi hal ini dibuat mungkin, tapi hubungan kekuasaan dari teknologi ini dibawa oleh orang yang terpelajar/melek huruf (literacy) dan hubungan peralihan antara mode persuasi di satu sisi dan mode produksi dan pemaksaan (coercion) di sisi lain. Dan susunan hubungan-hubungan ini serta tingkat melek huruf yang tergabung dengannya dibedakan secara signifikan di antara masyarakat yang berbeda. Kedua, hal ini penting, karena dalam perdebatan kontemporer tentang perkembangan dan kontrol apa yang disebut media baru, contohnya berpusat pada moment kehadiran internet, atau tentang transfer teknologi di antara perusahaan-perusahaan dan negara-negara, ini mungkin akan menjadi rintangan terhadap transfer ‘know-how’ (keterampilan praktis), contohnya tingkatan penduduk ahli yang bekerja, yang krusial dan bukan teknologi per se. Dalam pertempuran terakhir seputar masa depan teknologi yang mendasari internet, adalah bukan membuat rute protokol, yang merupakan teknologi yang mendasari internet, yang krusial, walaupun mereka menciptakan ladang pertempuran, tapi model-model yang membedakan, dan lalu peraturan, untuk operasinya. Perseteruan adalah antara teknik libertarian dari bapak pendiri-penemunya dan ‘Californian ideology’ di satu sisi dan norma-norma sektor perusahaan dengan struktur hubungan-hubungan kepemilikan pribadinya, di sisi lain. Yang krusial bagi argumentasi di sini hasil dari pertempuran ini adalah tidak ditentukan oleh sifat teknologi.
Paradigma Tekno-Ekonomi dan Jalan Ketergantungan
Dua pendekatan yang berpengaruh terhadap analisis hubungan antara masyarakat-teknologi yang mengabungkan sebuah kepedulian dengan sistem teknologi dengan sebuah kepedulian terhadap teknik yang di dalamnya mereka tertanam, telah disebut sebagai pendekatan neo-Schumpeterian dan pendekatan ‘jalan ketergantungan’ (‘path dependency’). Kedua pendekatan ini telah secara ekstrim berpengaruh di dalam perdebatan tentang akibat teknologi komunikasi dan informasi dan kebijakan yang tepat untuk meresponnya. Keduanya bertempat di dalam perdebatan yang lebih luas di dalam ilmu ekonomi tentang sifat proses inovasi dan sumber-sumber keunggulan komparatif-kompetitif dari perusahaan, bangsa atau wilayah regional di dalam ekonomi pasar global. Apa yang digarisbawahi oleh kedua pendekatan tersebut adalah bahwa rupanya argumen determinisme teknologis kenyataannya seringkali merupakan argumen tentang proses ekonomi, dari yang Raymond William ungkapkan, teknologi adalah symptomatic (yang memperlihatkan gejala).
Neo-Schumpeterianism
Pendekatan ini dikemukakan oleh oleh karya Freeman, Dosi, Perez dan Soete dan direfleksikan dalam laporan baru-baru ini dari the Kelompok Ahli tentang Masyarakat Informasi (European Commission 1997a). Mereka membuktikan bahwa mode produksi kapitalis adalah dicirikan oleh gelombang panjang pengembangan, dari sekitar lima puluh tahun, masing-masing terkait dengan pengembangan dan penyebaran melalui ekonomi dan masyarakat dari inti paradigma tekno-ekonomi – tenaga uap, tenaga listrik, dan sekarang teknologi komunikasi dan informasi. Masing-masing paradigma bekerja dengan membuat sebuah langkah perubahan dalam potensi produktif ekonomi. Sebagai potensi dari sebuah paradigma yang ada adalah menghabiskan tenaga proses inovasi teknologi yang didorong oleh pencarian kewirausahaan (entrepreneurial search) sumber-sumber baru pertumbuhan, baik teknologi produksi baru maupun produk-produk baru. Tiga aspek pendekatan ini adalah krusial. Pertama, ini adalah persaingan kewirausahaan yang mendorong proses perkembangan teknologi dan penerapannya. Namun yang kedua, ini mengambil periode yang panjang bagi kemajuan paradigma baru untuk menjalankan cara bekerjanya melalui sistem sosial, sejak hal itu harus melawan investasi dalam sistem teknologis yang ada dan rangkaian struktur kelembagaan dan praktek-praktek terpelajar yang tergabung dengan paradigma terdahulu. Jadi, ketiga, masyarakat atau ekonomi mungkin kurang-lebih mampu menyesuaikan diri dengan proses perubahan, sehingga memperoleh keuntungan produktif darinya. Dan proses penyesuaian diri ini rentan terhadap campur tangan kebijakan yang disengaja, apakah dalam kebijakan penelitian dan pengembangan sains, dalam pelatihan keterampilan, dalam restrukturisasi pasar tenaga kerga, dalam hukum pengaturan dan perusahaan, atau dalam kebijakan perpajakan. Dari perspektif ini, contohnya, perubahan di dala struktur industri penyiaran (broadcasting) dan telekomunikasi dan pengaturannya adalah dikendalikan oleh pengaruh luas ekonomi yang terus-menerus dari ICT baik pada produksi maupun konsumsi. Di satu sisi operasi ‘Moore’s Law’ – penggandaan kapasitas mikrochip setiap dua belas bulan – telah dimungkinkan dan penurunan biaya secara massif, menciptakan sebuah pasar untuk sebuah rentang yang meluas sangat besar dari produk dan jasa. Di sisi lain, hal ini telah menciptakan persyaratan keterampilan baru dan pola kerja yang dalam perjalanannya menyumbang kepada pembentukan pola baru konsumsi. Sementara saya pikir, adalah benar untuk mengatakan bahwa mazhab ini, dalam liberalisasi Pencerahan klasik dari alam tradisi, melihat perubahan ini sebagai sangat bermanfaat, ini tidak membuktikan bahwa proses perubahan ini adalah bebas konflik. Perubahan sosial melibatkan kehendak, sekurang-kurangnya dalam pengertian menengah, melibatkan pemenang dan yang kalah. Dalam pengertian kebijakan mungkin ada kurang-lebih keadilan sosial dan cara yang efisien untuk mengelola proses perubahan ini. Argumentasinya kemudian menjadi salah satu terhadap, contohnya, memberikan perintah dari paradigma tekno-ekonomi, apakah ada model alternatif pengaturan broadcasting dan telekomunikasi dan struktur pasar yang sama efisien sementara menawarkan kurang-lebih distribusi sosial yang sama terhadap sumber-sumber dan kekuasaan sosial. Maka teknologi terlihat sebagai menentukan karena pontensi produktifnya yang tipis, tapi teknik dapat, dan bahkan harus, menjadi terbentuk secara sosial. Ada kurang-lebih cara-cara yang transparan, cerdas dan berkeadilan sosial dan pemanfaaatan potenstial sehingga paradigma tekno-ekonomi menjadi tersedia. ( Dosi et al. 1988; Freeman 1996; European Commission 1997a).
Jalan Ketergantungan
Jalan ketergantungan (Path Dependency) adalah sebuah pendekatan yang sangat terkait dengan sistem teknologis dan pembentukan sosial, tapi ia mengoperasikan pada level yang rendah dari generalitas dan berfokus pada sistem teknologis yang berbeda, khususnya dalam bentuk standar-standar teknologis, apakah secara de jure atau de facto, contohnya standar AC/DC bagi arus listrik, MS-DOS computer operating-sistem, atau standar VHS untuk rekaman-video.
Pendekatan jalan-ketergantungan ini, secara khusus telah tergabung dengan karya Paul David dan Brian Arthur (David 1975; Arthur 1994). Ini telah dibangun sebagai sebuah respon terhadap pandangan dominan tentang teknologi dan pengaruh kebijakannya dalam ekonomi. Ini adalah kritik yang kuat yang mengkombinasikan determinisme teknologi dan determinisme ekonomi, yang akhir-akhir ini begitu berpengaruh dalam pemikiran tentang perkembangan media dan yang membuktikan bahwa pasar, jika ditinggalkan bagi dirinya sendiri, akan menghasilkan pemecahan teknologis yang optimal. Bahwa teknologi yang telah lolos ujian pada persaingan pasar adalah apa yang diinginkan orang-orang.
Ekonomi neo-klasik memandang teknologi seperti sebuah kotak hitam, karakteristik spesifik yang tidak relevan. Hal ini telah menghasilkan sesuatu yang berasal dari luar terhadap sistem pasar permintaan dan pasokan (supply and demand). Semua yang perlu diketahui tentang hal ini adalah bahwa sebuah teknologi baru akan disebarkan oleh modal ketika biaya untuk satu output yang ada adalah lebih rendah dari margin daripada biaya mempekerjakan buruh ekstra. Dalam ekonomi yang didorong secara meningkat oleh persaingan teknologis, hal ini terlihat menjadi lebih kurang daripada analisis penyingkapan. Pada saat yang sama pandangan alternatif Hayekian bahwa pasar tidak hanya melayani untuk mendorong inovasi dalam pencarian efisiensi, tapi juga bertindak sebagai satu-satunya mekanisme pencarian efisiensi yang mungkin di antara pemecahan teknologis saingan. Maka bagi Hayek dan para pengikutnya problem yang dihadapi agen-agen ekonomi bukanlah mencapai keputusan rasional yang diperkirakan (hal ini bagi Hayek by definition tidak mungkin karena informasi yang dibutuhkan tidak pernah dapat dikumpulkan – problem yang juga disebut ‘rasionalitas yang terbelenggu’ / bounded rationality). Kebaikan dan fungsi pasar adalah untuk mengambil tanggung jawab ini dari pundak kita dengan mengumpulkan informasi keputusan-keputusan parsial yang diperlukan dari para aktor ekonomi ‘rasional terbelenggu’. Bagi Hayek, kebutuhan kita, dan definisi kita terhadap mereka, mungkin berbeda dan taksiran kita tentang masa depan pasti akan berbeda. Hanya, pasar dapat mengumpulkan ketidakpastian ini menjadi persamaan dari suatu hasil/akibat sosial yang diinginkan. Dari pandangan ini berasal doktrin sentral terhadap kebijakan teknologi dan regulasi komunikasi pada tahun 1980-an, yaitu netralitas teknologis. Para perencana sentral atau pembuat kebijakan, yang telah dibuktikan tidak pernah mempunyai cukup informasi untuk membuat keputusan yang rasional sebagai teknologi terbaik atau jalan pengembangan teknologi. Maka mereka tidak harus berusaha untuk memilih pemenang di antara perusahaan-perusahaan atau cabang-cabang teknologi. Mereka tidak harus mengembalikan juara nasional dalam apa yang dianggap sebagai teknologi strategis, mereka juga tidak harus mengendalikan perkembangan teknologi dengan alat peraturan. Dalam peristiwa yang akan saya buktikan, paling tidak untuk kasus Inggris, netralitas teknologi tersebut terbukti tidak mungkin. Sejak pilihan teknologi harus dibuat, dan sejak kontrol terhadap sistem teknologi kunci tertentu dapat menentukan kekuasaan pasar, paling tidak di atas perjalanan pendek, contohnya, dengan melanjutkan mengalokasikan spektrum manfaat khusus yang berbeda sehingga tidak membiarkan para pengelola broadcasting menggunakan spektrum mereka untuk telepon mobil atau sebaliknya; dengan menghentikan integrasi Brirtis Telecom terhadap jaringan tetapnya dan telepon mobil dan jasa; dengan lebih menyukai pengembangan jaringan kabel dan seterusnya.
Teori jalan ketergantungan memotong semua pendekatan ini. Artikel klasik tentang ini adalah karya Paul David tentang qwerty (1985). Problem yang dimiliki adalah yang terkenal bahwa susunan papan kunci (keyboard) mesin tik qwerty, yang kita semua masih menggunakannya sekarang ini sebagai sebuah interface komputer, adalah bukan yang paling efisien. Keyboard tersebut dikembangkan untuk memecahkan problem khusus dari memencet tombol kunci dalam sebuah rancangan awal khusus. Ada beberapa saingan lain yang kompetitif, yang dapat dibuktikan, adalah sama, jika tidak lebih, efisien pada hari-hari awal pasar mesin tik dan ada usaha sejak, seseorang kembali dengan pertimbangan berat dari investasi Angkatan Laut Amerika dan pelatihan, untuk memperkenalkan sebuah konfigurasi yang lebih efisien. Mereka tidak sukses. Kasus yang sama dapat terlihat dalam persaingan antara arus AC dan DC dalam pasokan listrik, dan dalam bidang media, kemenangan VHS atas Betamax dalam pasar home video recorder. Argumen David, yang didukung oleh teori probabilitas matematika yang komplek dari Arthur, adalah bahwa untuk teknologi tersebut di mana ada sebuah keutungan dalam pembagian (saham) sebuah sistem yang umum adalah satu point dalam penyebaran sebuah teknologi baru, bahkan jika anda memulai dengan sebuah rentang pemecahan masalah teknologis yang sama-sama bagusnya & kompetitif, di mana keputusan spontan dari para pengguna individual terkunci dalam satu teknologi dan mendorong keluar yang lainnya. Sumber keuntungan saham boleh jadi beragam: mereka mungkin keuntungan dari sebuah standar teknis yang umum, contohnya MS DOS; mereka mungkin terkait dengan apa yang disebut eksternalitas jaringan (network externalities), karena dengan sebuah jaringan telepon di mana para pengguna ingin dapat berbicara kepada jumlah maksimum pengguna lain. Dalam kasus qwerty, mereka terkait, paling tidak sebagiannya, dengan keuntungan bagi sekretaris yang hanya membutuhkan pelatihan untuk satu jenis mesin. Pengaruh dari karya Arthur adalah bahwa mereka mungkin secara esensial acak dan tidak dapat diperkirakan. Proses ini adalah ‘jalan-ketergantungan’ dalam tiga pengertian. Pertama, bahwa perbedaan kecil dan kemungkinan acak dalam tahap awal penyebaran akan menentukan masa depan jalan perkembangan. Kedua, bahwa inilah sebuah proses terkunci di dalam: sekali jalan tersebut ditentukan hal ini mungkin jadi sulit, jika tidak mungkin, untuk memecahkannya. Ketiga, bahwa dalam pengertian ekonomi, pengembangan dan penjualan atau penyebaran sistem teknis tersebut memperlihatkan pengembalian yang meningkat. Seluruh teori neo-klasik tentang persaingan pasar yang menghasilkan keseimbangan optimal adalah berdasarkan atas idea, yang sepenuhnya diturunkan dari Malthus dan analisis produksi pertanian, bahwa semua proses produksi ekonomis adalah subjek pengembalian yang menurun. Ada sebuah point di mana hal ini tidak mungkin dan tidak menguntungkan untuk memperbesar produksi. Maka dominasi pasar adalah self-righting, dan monopoli seharusnya menurut definisi jadi tidak efisien. Apa yang Arthur dan David tunjukkan adalah bahwa, paling tidak untuk sistem high-tech tertentu, hal ini bukanlah suatu kasus. Pertama, karena teori monopoli alami klasik, membuktikan bahwa, di bawah kondisi eksternalitas jaringan, satu pemasok tunggal adalah lebih efisien daripada kombinasi dari beberapa pesaing, yaitu ada pengembalian yang meningkat bagi skala ekonomis. Kedua, proses terkunci di dalam (lock-in) membiarkan pemasok dominan, pada satu tahap tertentu dalam perkembangan pasar, tidak hanya untuk membuat keuntungan super tapi untuk investasi ulang mereka dalam perkembangan selanjutnya, sepanjang lintasan teknologis yang disukainya sekarang. Jadi lock-in yang diperkuat selanjutnya. Secara esensial ini adalah penjelasan terhadap dominasi Microsoft dan mengapa hal ini menghadirkan problem tersebut bagi otoritas anti-trust Amerika. Implikasi dari teori jalan ketergantungan adalah (a) bahwa sepanjang rentang teknologis kekuasaan monopoli adalah sepertinya dapat bertahan lestari tanpa campur tangan (intervensi) pengaturan; (b) bahwa hasil (the outcome) adalah bukan, sebagaimana Hayekian akan buktikan, sistem yang secara teknik paling efisien; (c) ada potensi untuk campur tangan publik untuk mengendalikan proses lock-in di dalam arah yang diinginkan ketimbang arah yang tak diinginkan, contohnya untuk menjamin bahwa teknologi nasional anda menang atas sebuah sistem saingan atau bahwa sebuah pemecahan teknis yang lebih baik secara teknologis, sosial, atau ekonomis, lebih disukai. Problemnya, bagaimana pun juga, sebagaimana David secara terus terang akui, adalah karena ke-acak-an (randomness) prosesnya, dan karena, menurut teori Chaos matematik yang mendasarinya, perbedaan yang sangat kecil dari pilihan-pilihan pada tahap awal dapat membuat semua perbedaan terhadap lintasan yang diambil, pilihan dan penentuan waktu intervensi menjadi efek dari sebuah problem yang tak dapat diatasi. Pembuat-kebijakan (pengambil keputusan) publik adalah sepertinya suka terkunci di dalam pemecahan masalah yang ‘salah’ seperti pasar. Akhirnya apa yang jalur analisis ini garis-bawahi adalah, untuk yang lebih baik atau lebih buruk, kelembaman tingkat tinggi yang ada dalam sistem teknis, sebuah point yang secara konstan digarisbawahi oleh Winston, walaupun Winston mendasarkan argumentasinya atas premis-premis yang berbeda. Yaitu bahwa apa yang ia sebut hukum dari penindasan potensi radikal yang menjamin bahwa pemegang kekuasaan sosial yang ada dan perilaku dan kebiasaan sosial menjamin bahwa perkembangan teknologi yang baru adalah menahan dan hanya dikembangkan dalam suatu cara sebagai secara radikal tidak mengerogoti status quo. Anda tentu saja dapat membaca hal ini apakah secara positif atau secara negatif tergantung cara anda memandang alam dan keinginan terhadap perubahan radikal. Dalam kasus Winston, dia menggunakan hal ini sebagai sebuah bukti kuat yang bernilai dan dasar korektif secara historis terhadap pengepungan yang lebih umum terhadap perubahan yang cepat dan radikal yang juga disebut revolusi komunikasi, yang akan membawa kita.
Teknologi Produksi dan Teknologi Konsumsi
Perbedaan antara berbagai pendekatan pembentukan sosial baik yang diturunkan dari sifat pertanyaan yang mereka ajukan atau problem yang mereka tanggapi atau dari level keumuman yang padanya pembentukan dianggap mengambil tempat. Seseorang dapat, secara umum, melihat sebuah penekanan atas kekuatan pembentukan dari para pengguna teknologi sebagai berlawanan dengan para produsernya. Namun kemudian kita dapat membedakan beberapa pendekatan yang berbeda dalam pengertian bagaimana mereka mendefinisikan pemakai dan kegunaan dari teknologi tersebut. Di sini kita kita bisa melihat sebuah pembagian yang luas antara analisis pembentukan sosial yang memfokuskan pada problem umum dari hubungan antara ‘penemuan’ dan produksi sebuah teknologi di satu sisi dan penyebaran sosialnya dan penggunaan secara umum di sisi lain, mereka yang fokus pada teknologi konsumsi dan mereka yang fokus pada teknologi produksi.
Jadi, contoh Winston dan Webster dan Robbin adalah berkenaan dengan meniadakan determinisme teknologis yang diajukan oleh para pembela revolusi komunikasi dan penciptaan yang dianggap benar dari sebuah masyarakat informasi. Di dalam respon Webster dan Robbins menekankan cara-cara dalam mana perkembangan teknologi dan penggunaannya adalah ditentukan oleh struktur umum hubungan kapitalis produksi dan pertukaran dan berfokus pada mempertentangkan kecenderungan yang diakui dalam penempatan tenaga kerja dalam dunia pekerjaan dan organisasi perusahaan, dan dalam waktu senggang dan konsumsi budaya yang dianggap benar disebabkan oleh revolusi teknologis ini. Winston di sisi yang lain, peduli untuk menggali citra perubahan teknis yang cepat dan untuk menunjukkan cara-cara di mana kekuatan kelembaman sosial secara sengaja dimobilisasikan, dalam kasus kekuasaan perusahaan, dan yang tidak sengaja dimobilisasikan dalam kasus pola-pola budaya yang telah tertanam dalam dan berubah pelan-pelan.
Flichy (1995), di sisi lain, adalah lebih peduli untuk menunjukkan hubungan antara perkembangan teknologis yang secara esensial mudah ditundukkan, khususnya sistem, dan pola-pola yang lebih luas dari perkembangan sosial, ekonomi dan budaya yang di dalamnya teknologi menjadi pola yang spesifik dari pengunaan sosial. Khususnya, ia peduli untuk memeriksa cara-cara sistem komunikasi yang dominan terus menerus terbentuk, pertama oleh kebutuhan negara dan militernya, kemudian oleh perkembangan kebutuhan dari modal perusahaan, dan akhirnya oleh pengembagan bentuk-bentuk baru kehidupan pribadi dan aktifitas budaya pribadi, oleh bentuk-bentuk baru kemampuan sosial (sociability). Dalam pendekatan Flicchy terhadap pembentukan sosial ada dua proses berbeda yang terlibat. Yang pertama, pada level perkembangan sebuah teknologi, mungkin melibatkan peralihan antara dua bentuk khayalan sosial, contohnya, dalam perkembangan sebuah sistem broadcasting, dan teknologi yang di atasnya sistem itu berdasar, penerjemahan paradigma teknologis dan organisasional yang dibangun untuk telekomunikasi dan pengiriman pesan di antara orang-orang kepada yang lain, yang diurunkan dari pemikiran tentang hiburan dan keinginan untuk mengijinkan banyak orang berpartisipasi di dalam sebuah peristiwa atau penampilan budaya yang ada.
Jalan dari telegrap tanpa kabel ke radio adalah juga sangat komplek. Para penemu siaran radio (broadcasting) beredar di antara empat ruang (lingkungan) yang berbeda. Mereka datang dari tradisi telegrap tanpa kabel Marconi. Mereka mencari penerima baru dari gelombang Herzian dan menemukannya dalam lampu-lampu thermionic. Mereka juga merupaka bagian dari trend penelitian yang bereksperimen dengan komunikasi bebas. Akhirnya, mereka mandi/berenang dalam sebuah pergerakan sosial, yang beralih ke dalam dari keluarga ke ruang pribadi, dari organisasi hiburan di rumah. Dengan beredar di antara ruang-ruang (lingkungan/spheres) tersebut, mereka mengkaitkan berbagai kontribusi yang berbeda-beda… Siaran radio memerlukan produksi massal pesawat radio penerima dan mensyaratkan keahlian yang dibangun selama masa perang. Bentuk-bentuk komersial harus diberikan kepada kegunaan sosial yang baru. Melalui kombinasi beberapa tradisi – yaitu telekomunikasi, industri massal dan percetakan, sehingga radio akhirnya menemukan landasan ekonomisnya. Tentang perjalanan panjangnya dari Herz ke gelombang NBC adalah dalam pengertian yang sudah tertransfomasikan. Masing-masing tahapan dari pergerakan ini ada sebuah konstribusi baru, sebuah peningkatan. Aktor utama dalam proses ini semuanya telah ‘menangkap’ sebuah inovasi dan mengintegrasikannya ke dalam proyek teknologisnya atau proyek sosialnya sendiri, sampai sebuah sistem yang stabil akhirnya tercapai. Sebuah medium telah lahir; kemudian bentuknya berubah sedikit. (1995: 114)
Dan yang kedua, suatu proses pembelajaran sosial di mana perkembangan dan kebangkitan teknologi komunikasi baik sebagai komoditi dan mode konsumsi, jalan pintas dari sains kepada penemuan lalu ke produksi, ke penyebaran sosial dan penggunaan, melibatkan sebuah proses yang rumit dari upaya interaktif ‘trial and error’ (coba dan gagal), pada setiap tahapannya, pada bagian antara produser teknologi dan penggunanya, sehingga teknologi dan penggunaan sosialnya terlibat dalam proses pembentukan yang saling menguntungkan (mutual shaping).
Teknologi dan Proses Ketenagakerjaan
Salah satu mazhab pembentukan sosial yang penting dibangun dari teori proses perburuhan Marxist. Hal ini telah peduli untuk membantah pandangan bahwa teknologi produksi dapat diterangkan di dalam sebuah model penjelasan yang menekankan manfaat teknologi sebagai pembebas manusia dari keinginan material dan menanggapi permintaan konsumen untuk produk yang lebih baik. Mazhab ini kemudian membaca sejarah perkembangan teknologi sebagai sejarah perjuangan antara pemilik modal dan buruh untuk mengontrol produksi, atau, dalam bentuk revisionis-nya, sebagai sejarah perkembangan dan manajemen ekonomi perusahaan. Di sini, contohnya, menggambarkan tentang karya teoritisi seperti Braverman (1974), isu-isu tentang de-skilling dan hubungan kekuasaan di dalam perusahaan menjadi sentral. Di sini kita peduli dengan isu seperti pengaruh hubungan perburuhan dan kondisi dalam press (persuratkabaran) tentang pengenalan typesetting komputer dan electronic newsroom, dengan pengaruh praktek produksi broadcasting dari digitalisasi dan miniaturisasi dalam peralatan produksi dan penyebaran yang dihasilkan seperti apa yang disebut sebagai multi-skilling. Apakah sebuah proses de-skilling mengambil tempat dan atau apakah hal ini juga terkait dengan sebuah peralihan keseimbangan kekuasaan gender di dalam produksi media adalah sebuah bahan bagi perselisihan dan perdebatan. Point pada isu tersebut adalah sejenis pertanyaan yang kita ajukan tentang pengaruh teknologi dan sejenis dinamika yang dapat kita mantapkan di dalam perkembangannya dan pengenalannya. Satu hal krusial yang keluar dari garis karya ini – sebuah kasus klasik yang dapat ditemukan dalam David Noble (1979) – adalah bahwa perubahan teknologis mungkin tidak dapat melakukan apapun untuk memperbaiki produk atau jasa kepada konsumen akhir, walaupun perlawanan terhadap perubahan ini akan sering menjadi disalahkan oleh manajemen hanya dalam batasan tersebut. Dengan sendirinya, para pekerja konservatif berdiri di jalan sebuah kehidupan yang lebih baik untuk para pengguna. Hal ini, bukan berarti mengatakan bahwa tidak ada rangkaian pemikiran yang kuat tentang teknologi produksi yang berupa khayalan naif atau nostalgia konservatif . Yang terdahulu dapat diketemukan dalam pandangan yang diturunkan dari Bell bahwa teknologi elektronik baru dari produksi memungkinkan sesuatu yang lebih disebarkan (decentred), lingkungan kerja manusia ketika kenyataannya mungkin berupa peningkatan jam kerja, pola pergiliran kerja yang anti-sosial, dan bayaran yang rendah yang telah disaksikan baik dalam broadcasting Inggris dan industri Press atau eksploitasi terbatas dari pekerjaan rumah ketimbang pembebasan visi pedusunan dari telecottage (pondokan jarak jauh). Garis yang lebih revisionis dari argumentasi, melihat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sebuah respon terhadap problem koordinasi di dalam sebuah perusahaan yang besar (Beninger 1986; Mulgan 1991). Kekuatan tradisi ini adalah bahwa hal ini menggarisbawahi cara-cara dalam mana teknologi informasi dan komunikasi dan sistem, contohnya telepon, telah diarahkan bukan oleh permintaan konsumen, tetapi oleh permintaan sektor perusahaan dan bahwa manfaat sosial lainnya telah dikembangkan sebagai hampir tidak sengaja (accidental) by-product dari permintaan ini. Hal ini penting bagi bagaimana kita memikirkan tentang masa depan perkembangan dan perdebatan akses kepada, contohnya, internet. Mengapa kita harus mengharapkannya untuk merespon kebutuhan dari para pengguna domestik individual? Itu adalah mengatakan, sebuah harapan yang tidak beralasan (tak masuk akal) dari teknologi atau sistem teknologi dapat juga membawa kepada sebuah teori konspirasi paranoid ( adalah kapitalist yang jahat atau militer yang menghambat perdamaian atau manfaat sosial dari teknologi ini) atau kepada permintaan yang tak masuk akal (atas nama jasa-layanan universal kita dapat beri (TV) kabel kepada semua rumah tangga dengan pita gelombang yang luas /broadband).
No Comments yet »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.












http://indonesian.irib.ir/



