Tinggalkan komentar

Sinopsis Buku Perjumpaan Sains dan Agama

Title

 

Perjumpaan Sains dan Agama. Dari Konflik ke Dialog

Introduction

 

John F. Haught (Guru Besar Teologi Universitas Geogetown, AS)

Author

 

Dr. Mohsen Miri (Rektor ICAS, Jakarta)

Publisher

 

Kerjasama CRCS, ICAS dan Mizan

Year

 

2004

Thickness

 

xxvii + 382 Halaman

book-of-sain-agama-2.jpgBagi agama, keberhasilan gilang-gemilang sains di berbagai aspek kehidupan manusia, terutama sejak Renaisans, sekurang-kurangnya menimbulkan tanggapan yang mendua: harapan baru dan juga khawatiran baru.

Agama mungkin bisa mengharapkan sains membersihkan unsur-unsur takhayuli yang menyusup, disadari atau tidak, ke dalam ajaran-ajarannya. Tetapi, agama juga khawatir, kalau-kalau sains akan menyisihkannya, atau malah meniadakannya. Meskipun harapan ini tampaknya tidak terpenuhinya, kecemasannya pun untungnya tidak terlalu mengkhawatirkan.

Pada kenyataannya, agama menjalin hubungan dangan sains dalam pola yag tidak sederhana. Ada spektrum yang cukup luas dalam pandangan tentang hubungan agama-sains: dari ekstrem konflik hingga peleburan total. Dalam Perjumpaan Sains dan Agama , sang pengarang menampilkan empat kubu yang berbeda (: konflik, kontras, kontak, konfirmasi ) di panggung perdebatan.

  • Kubu konflik memandang agama dan sains secara intrinsik berlawanan. Keduanya bertarung untuk saling menyalahkan, bahkan saling meniadakan, dan karena itu tidak mungkin bisa dipertemukan.
  • Lebih lunak dari itu, kubu kontras memandang agama dan sains masing-masing memiliki wilayah kerja sendiri yang otonom, terpisah, dan absah. Meskipun tidak perlu bertemu, keduanya harus saling menghormati integritas masing-masing.
  • Alih-alih menghindarkan pertemuan, kubu kontrak menyarankan agama saling bertukar pandangan dengan sains untuk memperkaya perspektif tentang kenyataan. Akan tetapi, keduanya tidak mesti bermufakan, apalagi meleburkan diri.
  • Bergerak lebih dari itu, kubu konfirmasi menyarankan agama dan sains agar saling mengukuhkan, terutama dalam berbagai pandangan tentang anggapan-anggapan dasar tentang realitas, tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Dalam menunjukkan perdebatan yang seru dan hidup di antara kubu-kubu yang berbeda, Haught menampilkan masing-masing kubu untuk memaparkan argumantasinya dan kritiknya kepada kubu-kubu lain. Dengan cara ini, dia mengajak pembaca untuk melihat lanskap persoalan hubungan sains-agama dalam dimensi-dimensi kemanusiaan yang kaya dan menyeluruh.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.965 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: