2 Komentar

Penulis Aceh dan Estika Islam

PENULIS ACEH DAN ESTETIKA ISLAM:

DARI SASTRA MELAYU KE SASTRA INDONESIA

Abdul Hadi W. M.

d6.jpgAda beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita membicarakan perkembangan sastra di Aceh sejak zaman klasik sastra Melayu Aceh hingga kini. Pertama, di daerah ini bahasa yang digunakan dalam penulisan sastra lebih dari satu. Yang paling menonjol digunakan sebagai media penulisan kreatif ialahbahasa Melayu Pasai, kemudian bahasa Aceh, Gayo, Alas, dan Melayu Singkil. Dari perkembangan bahasa Melayu Pasai inilah bahasa Melayu yang sekarang memperoleh bentuknya sehingga kemudian tampil sebagai bahasa intelektual dan sastra yang bermartabat. Dari bahasa ini pulalah bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang ini berakar.

Kedua, kegiatan penulisan sastra di Aceh terkait erat dengan perkembangan agama Islam. Sejak abad ke-13 M, dengan munculnya kerajaan Samudra Pasai (1273-1516 M), kegiatan penulisan sastra mulai berkembang di Aceh sebagai dampak dari kedatangan dan pesatnya perkembangan agama Islam berikut tradisi keterpelajaran dan intelektualnya. Selain menjadi pusat penyebaran agama Islam, negeri ini juga berperan sebagai pusat kebudayaan Melayu menggantikan peranan Sriwijaya yang pada abad itu mengalami kemunduran sebagai imperium dan emporium Hindu Buddhis. Oleh karena itu bukanlah suatu kebetulan apabila perkembangan kesusastraan Melayu di Aceh beriring sejalan dengan perkembangan agama Islam. Ini berlanjut pada zaman-zaman berikutnya, terutama pada masa kejayaan kesultanan Aceh Darussalam (1516-1700 M) dan zaman-zaman berikutnya ketika pusat-pusat kebudayaan Melayu berpindah ke tempat lain seperti Palembang, Johor Riau, Banjarmasin, Deli Langkat, Pontianak, Riau Penyengat, dan lain-lain.

Yang relevan bagi kita dalam perbincangan sekarang ini tentulah kegiatan penulisan dalam bahasa Melayu. Bukan saja karena bahasa ini yang mula-mula digunakan oleh kaum cendekiawan Aceh dalam melahirkan karangan-karangan mereka di bidang keagamaan, keilmuan, dan sastra sampai mencapai puncak keemasannya dalam abad ke-16 dan 17 M. Tetapi juga karena bahasa ini pulalah yang digunakan oleh penulis-penulis modern di Indonesia sejak abad ke-20 dalam pengucapan sastra mereka.

Sastra Melayu dan Islam

Eratnya kaitan perkembangan sastra di Aceh dengan lahirnya tradisi intelektual Islam Melayu dan penyebaran agama ini di kepulauan Nusantara, telah banyak diketahui para sarjana dan tidak pula terjadi secara kebetulan. Banyak faktor historis yang mendukungnya. Sastra Melayu bangkit kembali pada abad ke-13 M setelah mati suri sebagai akibat mundurnya Sriwijaya, pusat kebudayaan Melayu Buddhis yang tenggelam akibat penaklukan kerajaan Hindu Singasari dan Majapahit pada abad ke-13 dan 14 M. Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara yang muncul pada akhir abad ke-13 M, segera tampil ke depan menggantikan peranan Sriwijaya atau Suvarnabhumi sebagai pusat kebudayaan Melayu. Pesatnya perkembangan agama Islam dan lembaga pendidikannya di sini memberikan dampak besar bagi perkembangan kesusastraan.

Sebelumnya, selama beberapa abad, bahasa Melayu telah berperan sebagai lingua franca di kepulauan Nusantara, khususnya di dunia perdagangan. Kesusastraannya tentu saja telah juga berkembang, walaupun naskah-naskah dari abad yang silam itu tidak didapati lagi sekarang ini. Oleh karena itu bukanlah suatu kebetulan apabila bahasa ini dipilih menjadi bahasa pengantar di lembaga pendidikan Islam, dan sekaligus dijadikan bahasa penyebaran agama yang baru berkembang ini. Karena itu bukan suatu kebetulan pula apabila kegiatan penulisan sastra dan kitab keagamaan menggunakan bahasa Melayu sebagai media utamanya. Kegiatan inilah yang mengantarkan tumbuhnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu baru pada abad-abad pertama penyebaran agama Islam di kepulauan Melayu.

Kegiatan awal penulisan sastra di Pasai dimulai dengan penerjemahan dan penyaduran teks-teks sastra Arab dan Persia ke dalam bahasa Melayu. Teks-teks yang diterjemahkan dan disadur meliputi hikayat kepahlawanan (epos), roman, cerita berbingkai dan kisah-kisah keagamaan seperti Hikayat Nabi-nabi (Qisas al-`Anbiya) dan lain sebagainya yang sangat digemari pembaca. Di antara epos Islam yang digemari ialah Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Ragam sastra lain yang banyak disadur ialah cerita-cerita berbingkai seperti Hikayat Seribu Satu Malam, Hikayat Khalilah dan Dimnah, dan Hikayat Bayan Budiman. Dalam perkembangannya, tidak sedikit pula cerita-cerita rakyat atau kisah-kisah lokal yang digubah kembali berdasarkan wawasan estetika baru dan dengan memberikan nuansa keislaman. Pada abad ke-14 M mulai ditulis pula hikayat yang lebih orisinal. Salah satu di antaranya ialah Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis sekitar tahun 1360 M di Pasai, tidak lama setelah negeri itu – bersama-sama Sriwijaya atau Suvarnabhumi – ditaklukkan oleh Majapahit, kerajaan Hindu di Jawa Timur yang sedang bangkit menuju kejayaannya ketika itu.

Pada akhir abad ke-15 M, sebagai dampak dari penaklukan Majapahit atas kerajaan-kerajaan Melayu dan disusul dengan hubungan intensif dunia Melayu dengan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa, hadirnya pengaruh kebudayaan dan kesusastraan Jawa tidak terhindarkan pula. Kurun masa ini dalam sejarah sastra Melayu kerap disebut sebagai Masa Peralihan. Pada masa ini sejumlah epos Hindu dari India dan Jawa diperkenalkan ke dalam kesusastraan Melayu, melalui saluran kesusastraan Jawa. Di tangan penulis Melayu yang telah beragama Islam, kisah-kisah seperti Hikayat Seri Rama, Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Sang Boma, Hikayat Inderaputra, dan siklus Cerita Panji disadur dengan memberi rangka wawasan dan nilai Islam ke dalamnya. Pada saat yang sama muncul pula hikayat-hikayat yang memaparkan kehidupan tokoh-tokoh sejarah lokal seperti Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu. Keduanya ditulis di Johor dan Riau, tidak lama setelah Malaka direbut oleh Portugis pada tahun 1511 M. Di Aceh sendiri, tidak lama setelah baangkitnya kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 dan 17 M, mulai pula ditulis hikayat dengan latar sejarah lokal, Contoh terbaik dari hikayat pahlawan lokal ialah Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Malem Dagang.

Sastra Melayu mulai mengalami masa puncak perkembangannya di Aceh pada paruh ketiga abad ke-16 M di tangan penulis yang juga ahli tasawuf seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jauhari, dan murid-murid mereka yang tinggal di ceh dan pusat-pusat pendidikan Islam lain sperti Barus, Singkil, dan lain-lain. Para sarjana menyebut periode ini sebagai zaman klasik kesusastraan Melayu. Braginsky (1993) malah menyebutnya sebagai zaman ‘kesadaran diri’, dalam arti bahwa penulis-penulis Melayu Aceh telah menemukan jatidirinya secara estetik dan literer. Ketika itu tradisi keterpelajaran Islam telah tumbuh pesat dan bahasa Melayu naik pula martabatnya menjadi bahasa paling prestigius di Nusantara. Ia tidak lagi hanya sekadar lingua franca dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan Islam di kepulauan Melayu, tetapi telah berkembang menjadi bahasa pergaulan utama antar etnik di Nusantara dalam bidang politik, keagamaan, keilmuan dan sastra. Pada masa ini pula Aceh benar-benar menjelma sebagai mercu suar peradaban Islam di Asia Tenggara dan sekaligus teladan bagi perkembangan kreativitas sastra.

Faktor-faktor yang mendorongnya sangat kompleks. Kala itu Aceh bukan saja merupakan pusat perdagangan dan politik regional yang makmur, tetapi telah memiliki banyak lembaga pendidikan Islam yang unggul dari segi sistem dan metode pengajarannya, maupun mutu pelajaran yang diberikan. Sebuah universitas Islam pertama di Nusantara telah didirikan di Aceh pada awal abad ke-16 M dan para pemimpin negeri itu, termasuk sultan, kaum bangsawan, orang kaya, ulama, pemimpin tariqat sufi, para saudagar dan lain-lain memberikan perhatian besar pula terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, dan kesusastraan. Latar belakang inilah yang mendorong lahirnya sejumlah sastrawan, ulama dan cendekiawan terkemuka pada masa itu. Hamzah Fansuri, Bukhari Jauhari, Syamsudin Sumatrani, Abdul Jamal, Hasan Fansuri, Tun Sri Lanang, Nuruddin Raniri, Abdul Rauf Singkili, Jamaludin Tursani, adalah sebagian saja dari contoh sastrawan dan sekaligus ulama terkemuka yang hidup di Aceh dan melahirkan karya-karya mereka di negeri itu.

Perlu dijelaskan di sini bahwa berbeda dengan zaman sebelumnya, pusat kegiatan penulisan sastra pada zaman Islam tidak hanya berada di lingkungan istana dan vihara, tetapi tersebar luas dalam masyarakat. Tiga tempat utama yang menjadi pusat kegiatan penulisan ialah istana, pesantren dan pasar. Masing-masing memiliki kecenderungan sendiri dalam menentukan perkembangan sastra, dan tidak jarang masing-masing bertolak dari wawasan estetika yang berbeda dalam penulisan. Istana sebagai pusat kekuasaan politik melahirkan banyak karya bercorak sejarah, epos, dan roman yang tokoh-tokohnya adalah seorang pangeran atau keturunan raja.

Di antara epos Islam yang paling digemari ialah Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, dan Hikayat Iskandar Zulkarnain. Versi-versi dari hikayat ini yang anekaragam tidak hanya dijumpai dalam sastra berbahasa Melayu, tetapi juga dalam sastra Nusantara lain seperti Sunda, Jawa, Aceh, Madura, Bugis, Sasak, Banjar, Makassar, Minangkabau, Mandailing, Bima, Palembang, dan lain-lain, yang semuanya itu disadur dari sumber-sumber sastra Melayu yang ditulis di Aceh.

Di pesantren ditulis karya-karya yang kental nafas keagamaannya, termasuk syiar-syair tasawuf dan alegori sufi, hikayat para nabi, wali, dan kisah-kisah teladan lain yang tokoh-tokohnya tidak mesti keturunan bangsawan. Sedangkan di psar, yaitu tempat pemukiman para saudagar dan orang kaya, selain ditulis pula karya-karya keagamaan dan epos, juga ditulis karya-karya yang termasuk pelipur lara seperti Hikayat Seribu Satu Malam, Hikayat Bayan Budiman, dan lain-lain. Gambaran yang telah dipaparkan ini menunjukkan bahwa, jauh dari sangkaan sarjana-sarjana modern, kesusastraan Melayu Islam berkembang bukan hanya karena mendapat perlindungan raja-raja dan pangeran. Para ulama, saudagar kaya, pemimpin tariqat sufi atau guru tasawuf, juga tidak jarang muncul sebagai pelindung utama perkembangan kebudayaan, termasuk seni dan sastra. Di antara mereka pula tidak jarang termasuk dalam bagian dari jaringan intelektual dan perdagangan global ketika itu, yang sadar bahwa tanpa ditopang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kreativitas seni, peradaban dan kebudayaan Islam tidak akan tumbuh subur dan berkembang pesat.

Adapun mengenai penulis-penulis yang telah disebutkan itu merupakan pelopor dalam genre-genre yang digeluti. Hamzah Fansuri menciptakan bentuk puisi baru dalam kesusastraan Melayu yang disebut ‘syair’, sajak empat baris dengan pola bunyi akhir AAAA pada setiap barisnya. Syair-syairnya itu merupakan puisi-puisi sufistik yang orisinal dan mendalam, yang belum pernah dilahirkan sebelumnya dalam kesusastraan Melayu. Melalui syairnya dia meletakkan dasar-dasar estetika Melayu Islam yang kokoh, yang memberi pengaruh besar bagi penulisan sastra Melayu sesudahnya. Kecuali itu dia merintis penulisan risalah tasawuf wujudiyah dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab tasawufnya ini pula dipandang sebagai karangan-karangan ilmiah dan sistematis pertama dalam bahasa Melayu.

Penulis lain seperti Bukhari al-Jauhari, dengan karyanya Taj al-Salatin, adalah pelopor penulisan karya bercorak adab. Syamsudin Sumatrani mempelopori tradisi kritik sastra melalui pembahasannya atas syair-syair Hamzah Fansuri (Syuarah Ruba`i Hamzah Fansuri). Dalam pembahasannya itu dia menggunakan metode hermeneutika Islam yang disebut ta’wil. Nuruddin Raniri mempelopori penulisan karya bercorak sejarah dan adab, melalui karya agungnya Bustan al-Salatin. Dalam karangan Bukhari Jauhari dan Nuruddin Raniri yang bercorak adab dan sejarah itu terdapat banyak kisah-kisah yang diselipkan sebagai cara mendedahkan hikmah yang bisa diambil dari peristiwa-peristiwa sejarah.

Kisah-kisah itu pada umumnya disadur dari hikayat-hikayat Arab dan Persia seperti Hikayat Seribu Satu Malam, Bustan dan Gulistan (Sa`di), Jami al-Tawarikh (Sejarah Dunia), Layla wa Majnun, Kusraw wa Shirin, dan lain-lain. Tidak jarang pula kita dapati petikan sajak-sajak penyair Arab dan Persia dijadikan selingan dalam karangan-karangan prosa penulis Aceh itu, khususnya dalam risalah-risalah tasawuf karangan Hamzah Fansuri (Asrar al-`Arifin dan Syarab al-`Asyiqin) dan Syamsudin Sumatrani (Mir`at al-Muhaqqiqin, Nur al-Daqa`iq, dan lain-lain). Sajak-sajak itu disertai terjemahannya dalam bahasa Melayu yang bermutu tinggi, memperlihatkan kegiatan penerjemahan sastra Arab dan Persia juga sangat marak pada masa itu. Di antara penyair Arab dan Persia yang sajak-sajaknya kerap dipetik sebagai rujukan ialah Ibn `Arabi, Fariduddin `Attar, Rumi, Sa`di, `Iraqi, Jami, Ibn Faried, Maghribi, Mahmud Shabistari, dan lain-lain. Sebenarnya puisi penyair Arab dan Persia itu telah dikenal di Aceh pada abad ke-14 dan 15 M, dan terjemahan puisi-puisi mereka dalam bahasa Melayu telah muncul pada awal abad ke-16 M.

Sampai akhir abad ke-17 M, hampir seluruh ragam dan genre sastra Melayu yang dikenal sampai sekarang ini, telah muncul di Aceh sebagai buah dari kreativitas mereka yang berkelanjutan dan berkesinambungan sejak abad ke-15 M. Begitu juga wawasan estetika dan bentuk-bentuk pengucapan sastra seperti syair, pantun, bahasa berirama (teromba), dan lain-lain yang popular hingga sekarang, telah terbentuk pada zaman Aceh. Akan tetapi sangat disayangkan, memasuki abad ke-18 M kesultanan Aceh Darussalam mengalami kemunduran. Sejumlah pusat kebudayaan dan peradaban Islam lain bermunculan di kepulauan Nusantara. Peranan Aceh sendiri sebagai pusat kebudayaan lain lantas digantikan oleh kerajaan Islam lain yang silih berganti bermunculan di kepulauan Melayu seperti Palembang, Johor, Riau Lingga, Banjarmasin, Jambi, Kedah, Langkat, Deli, Pontianak, Riau Penyengat, dan lain-lain.

Sejak masa kemundurannya itu penulis-penulis Aceh lebih senang menulis dalam bahasa daerah mereka masing-masing seperti bahasa Aceh, Gayo, Alas, Melayu dialek Singkil, dan lain-lain. Namun demikian, karya-karya yang mereka tulis tetap merupakan kelanjutan dari yang sebelumnya. Karya-karya mereka ditulis tidak hanya dengan dorongan estetik dan sastra, tetapi juga oleh dorongan keagamaan dan budaya. Tidak jarang syair-syair dan hikayat yang muncul dalam bahasa-bahasa daerah ini merupakan saduran dari syair-syair dan hikayat-hikayat Melayu yang telah muncul sebelumnya di daerah yang sama. Karena itu tidak mengherankan jika dalam hal estetika, serta norma-norma dan konvensi sastra yang berlaku dalam sastra Aceh dan Gayo misalnya, tidak jauh berbeda dengan estetika dan norma-norma sastra yang berlaku dalam sastra Melayu.

Estetika dan Genre

Sastra di mana pun dan kapan pun tidak lahir dari kekosongan. Sebagai wujud dari penuturan erlibnis (pengalaman hidup yang dihayati) seperti dikatakan Wilhelm Dilthey, karya sastra sebenarnya merupakan tanggapan atau penilaian pengarang atas kondisi kemanusiaan dan sosial budaya yang dihadapi masyarakatnya pada zamannya. Dalam membangun tanggapannya itu ia bertolak dari suatu pandangan dunia (Weltanschauung atau worldview) dan sistem nilai tertentu yang tengah bangkit pada zamannya. Weltanschauung penulis-penulis Melayu Aceh pada abad ke-16 dan 17 M, seperti dikatakan M. Naquib al-Attas (1972), dibentuk oleh tafsir terhadap ajaran Islam yang dilakukan ahli-ahli tasawuf atau sufi berkaitan dengan metafisika, etika, dan estetika. Oleh karena bukanlah suatu kebetulan atau dibuat-buat apabila kita harus menghubungkan wawasan sastra atau estetika yang melapisi kesusastraan Melayu pada masa formatifnya di Aceh itu dengan estetika yang dikembangkan para sufi seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Fariduddin `Attar, Jalaluddin Rumi, Abdul Rahman Jami, dan Hmzah Fansuri sendiri.

Kecuali bersandar pada estetika dan teori sastra yang dikemukakan para sufi ini, penulis-penulis Melayu juga berhutang budi pada estetika dan teori penciptaan seni yang dikemukakan para filosof dan teoritikus seni Arab Persia seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Abdul Qahir al-Jurjani. Teori-teori mereka dipelajari melalui pengajaran kesusastraan Arab dan Persia, yang menjadi mata kuliah utama di lembaga pendidikan tinggi Islam kala itu di Aceh. Yang pertama, estetika sufi mempengaruhi terutama penulisan karya yang bercorak sufistik seperti syair-syair tasawuf dan alegori sufi, di samping ragam sastra lain seperti epos (hikayat kepahlawanan) dan roman (kisah petualangan campur percintaan). Sedangkan yang kedua, estetika para filosof yang memadukan pandangan Plato dan Aristoleles, terutama mempengaruhi karangan-karangan bercorak adab, epos, sejarah, dan roman-roman pelipur lara.

Secara ringkas dapat dikatakan di sini bahwa estetika sufi memandang

karya sastra pertama-tama sebagai representasi simbolik dari gagasan dan pengalaman batin. Bagi mereka karya sastra berperan terutama sebagai sarana trasendensi dan penyucian kalbu, sebagai suluk atau kendaraan jiwa dalam melakukan pendakian menuju kebenaran tertinggi. Dimasukkan pula ke dalam estetika ini teori Alam Misal (`alam al-mitsal) dari Ibn `Arabi dan Suhrawardi al-Maqtul, seorang filosof `ishraqiyah (illuminatif) Persia abad ke-12 M yang memandang bahwa ungkaan-ungkapan estetik sastra atau seni berfungsi sebagai misal atau simbol yang mengubungkan antara alam lahir dan alam ketuhanan. Imaji-imaji simbolik (tamtsil) dan metafora (isti`ara) dalam karya sastra memang diambil dari kenyataan di alam lahir, akan tetapi fungsinya untuk menggambarkan pengalaman batin dan gagasan kerohanian pengarangnya. Berdasarkan pandangan ini, Ibn `Arabi mengatakan bahwa pemahaman dan penafsiran terhadap karya sastra merupakan suatu proses yang disebut tajid al-mutsul, pendedahan baru atas simpul-simpul simbolik dari imaginasi.

Untuk memahami konsep sufi tentang estetika ini dan teori simbolik sastranya, kita dapat mengambil contoh Hikayat Burung Pingai dan Syair Perahu. Yang pertama merupakan saduran dari alegori sufi Persia terkenal Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karangan `Attar. Oleh karena itu akan lebih baik jika yang dibahas adalah teks sumbernya. Yang kedua adalah syair tasawuf karangan seorang murid Hamzah Fansuri yang hidup pada abad ke-17 M, yang memaparkan secara simbolik tahap-tahap perjalanan jiwa menuju Yang Hakiki mengikut keyakinan seorang ahli suluk atau pengikut sebuah tariqat sufi. Dalam syair ini tubuh dan jiwa manusia ditamsilkan sebagai perahu dan peralatannya yang melakukan pelayaran menuju Bandar Tauhid.

Dalam Hikayat Burung Pingai, sebagaimana dalam Mantiq al-Tayr pengarang memaparkan tahap-tahap perjalanan keruhanian (suluk) yang ditempuhnya di jalan tasawuf, dan keadaan-keadaan jiwa atau rohani yang dialami selama perjalanan itu dilakukan, secara simbolik dan imaginatif dalam bentuk ungkapan-ungkapan estetik sastra, termasuk kisah-kisah yang dipaparkan secara metaforis. Dalam Mantiq al-Tayr dikisahkan bahwa segala jenis burung dari seluruh dunia berkumpul. Mereka bingung karena kerajaan mereka kehilangan pemimpin. Burung Hudhud, yang merupakan lambang guru keruhanian, tampil ke depan dan mengabarkan bahwa raja mereka Simurgh berada di puncak gunung Qaf. Kawanan burung itu mencari dan menjumpai sang maharaja. Perjalanan yang harus mereka tempuh demikian berat dan sukar. Mereka melalui tujuh wadi atau lembah, yang masing-masing melambangkan tahapan dan keadaan ruhani yang harus ditempuh dan dialami di jalan tasawuf.

Setiap lembah yang dilalui burung-burung itu dijelaskan melalui kisah-kisah menarik. Tujuh lembah itu ialah talab (pencarian), `ishq (cinta), ma`rifa (makrifat), istighna (kepuasan hati), tawhid (kesaksian kalbu tentang keesaan Allah), hayrat (pesona, ketakjuban), faqr (kefakiran), fana’ dan baqa ’ (kefanaan dan kebakaan). Lembah di sini adalah lambang dari tahapan-tahapan keruhanian yang harus dilalui para penempuh suluk. Sedangkan burung-burung yang ribuan itu melambangkan jiwa para salik. Dalam penerbangannya menemui Simurgh, yang sampai di tujuan hanya tiga puluh ekor burung. Dalam bahasa Persia, Si-murgh berarti tiga puluh. Mereka yang mencapai lembah terakhir itu heran, karena yang mereka jumpai adalah hakikat diri mereka sendiri. Dalam Hikayat Burung Pingai, versi Melayu dari alegori ini, cerita diakhiri dengan kutipan hadis, “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhan (yang merupakan asal-usul kejadiannya).”

Melalui Mantiq al-Tayr kita dapat memahami bahwa wawasan estetika sufi bertitik tolak dari keyakinan bahwa suatu karya yang simbolik dan sarat dengan renungan keruhanian, dapat membawa jiwa pembaca melalukan kenaikan spiritual hingga akhirnya memperoleh pencerahan dalam Kebenaran Tertinggi. Tamsil-tamsil penerbangan atau pendakian ke tempat yang tinggi seperti puncak bukit dan gunung, didapati banyak digunakan oleh penulis-penulis alegori sufi Melayu yang lain. Misalnya seperti tampak dalam Hikayat Inderaputra, sebuah alegori sufi yang digubah berdasarkan roman yang lahir sebelum datangnya agama Islam. Episode awal perjalanan Bima mencari air hayat (tirta prawita) dalam Serat Dewa Ruci di Jawa juga menggunakan tamsil-tamsil pendakian ke puncak gunung. Tamsil yang mirip juga digunakan oleh Kuntowijoyo dalam novelnya yang terkenal Khotbah Di Atas Bukit (1976).

Tamsil lain yang paralel dengan itu ialah penyelaman ke dalam lautan untuk mencari air hayat (ma` al-hayat) yang merupakan simbol makrifat dan persatuan mistikal. Misalnya seperti banyak digunakan oleh Hamzah Fansuri dalam syair-syair tasawufnya, yang dapat dirujuk pada bagian-bagian akhir Hikayat Iskandar Zulkarnain yang menceritakan perjalanan Iskandar Agung mencari air hayat atas anjuran Nabi Khaidir yang dijumpai sang raja di pantai tempat pertemuan dua lautan (bahrayn). Tamsil inilah yang dimodifikasi Yasadipura I dalam karangannya Serat Cabolek dalam bagian yang menceritakan penyelaman Bima ke dalam lautan untuk mencari air hayat, yang membuatnya berjumpa dengan Dewa Ruci, guru spiritual yang tidak lain merupakan badan halusnya sendiri.

Dalam Syair Perahu pola pemaparan estetika sufi agak berbeda. Untuk itu saya petik beberapa bagian dari syair tersebut, seperti berikut:

Inilah gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetuli jalan tempat berpindah

Di sanalah i`tqad diperbuli sudah

Wahai muda kenali dirimu

Ialah perahu tamsil tubuhmu

Tiada berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal diammu

Hai muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perauhumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan

La ilaha illa Allah tempat mengintai

Medan yang qadim tempat berdamai

Wujud Allah terlalu bitai

Siang malam jangan bercerai

(Doorenbos 1933:35)

Dari syair ini kita dapat memetik pandangan seperti berikut: (1) Puisi merupakan sarana transendensi atau tempat berpindah ke alam keabadian; (2) karangan yang indah ditulis setelah kalbu pengarang tersucikan, yaitu setelah membentulkan aqidah dan iktikadnya; (3) Karya seni atau puisi yang baik merupakan proyeksi zikir; (4) Keindahan Tuhan dan hakikat Tauhid hanya dapat disaksikan di ‘medan yang qadim’, yaitu di alam keabadian, yang hanya bisa disaksikan melalui perenungan yang dalam (musyahadah); (5) Penyair mengharap pembaca menjadikan puisi sebagai tangga naik menuju hakikat dirinya yang sejati

Kata penulis Syair Perahu, “Wahai muda kenali dirimu/Ialah perahu tamsil tubuhmu”. Tubuh kita, bersama peralatan mental dan keruhaniannya, adalah perahu yang sedang berlayar menuju Bandar Tauhid. Selama pelayaran itu berlangsung, banyak sekali godaan dan bahaya mengancam. Agar selamat dari ancaman bahaya maka peralatan mental kita, seperti iman dan akidah harus diperteguh. Sarana untuk meneguhkan iman ialah makrifat, pengetahuan yang mendalam tentang Tuhan darimana keyakinan yang kokoh dapat ditanam dalam jiwa kita.

Adapun estetika yang diasaskan para filosof peripatetik (mashsha`iya) seperti al-Farabi dan Ibn Sina, tampak penerapannya dalam penulisan karya-karya bercorak adab, sejarah, dan kemasyarakatan. Terutama dalam epos seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanfiyah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Pocut Muhammad, Hikayat Malem Dagang, dan lain-lain. Menurut dua filosof terkemuka itu karya sastra adalah penuturan mimetik atas kenyataan (mutabaqa) yang bersifat imaginatif (mutakhayyil). Karya sastra seperti hikayat atau cerita berbingkai memaparkan kejadian seakan-akan meniru kenyataan, tetapi tidak sepenuhnya demikian, oleh karena sebenarnya bahan-bahan verbal ceritanya yang diambil dari banyak sumber diolah dan dituturkan sedemikian rupa mengikuti gerak imaginasi pengarang. Dengan perkataan lain, bahan-bahan verbal cerita seperti kejadian yang dialami pengarang, legenda, dongeng dan kisah-kisah yang dibaca dari kitab suci al-Qur’an dan cerita rakyat yang hidup dalam masyarakat, diolah dan dipadukan sedemikian rupa melalui proses sturturalisasi dalam imaginasi pengarang.

Dalam estetika dari filosof peripatetik Muslim ini, fungsi simbolik ungkapan estetik tidak terlalu ditekankan. Yang ditekankan adalah faedah atau hikmah, serta dampak psikogis bagi pembacanya seperti rasa takjub, heran, kagum, dan lain sebagainya. Rasa-rasa yang dikemukakan ini dianggap sebagai bagian penting dari penikmatan estetik yang tidak boleh diabaikan dan senantiasa dikaitkan dengan nilai dan fungsi sastra lain, seperti nilai moral dan fungsinya sebagai pengajaran. Contoh terbaik bahwa karya sastra bukan mimesis atau bahwa penulisan karya sastra tidak bertolak dari teori imatitatif dan juga bukan dari teori ekspresi, sebagaimana diyakini sarjana-sarjana modern yang berkutat pada teori Barat, ialah pola narasi yang dijumpai dalam Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Malem Dagang.

Tokoh protagonis dalam Hikayat Amir Hamzah ialah Hamzah, paman Nabi Muhammad yang gugur dalam Perang Uhud ketika kaum Muslimin sudah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Jika berpedoman pada kenyataan sejarah, Hamzah telah wafat sebelum munculnya kekhalifatan Umayyah (662-749 M) dan Abbasiyah (750-1258 M). Juga jika berpedoman pada riwayat hidupnya yang asli, tokoh ini tidak pernah berperang di luar Jazirah Arab. Tetapi dalam hikayat yang asilinya ditulis oleh pengarang Persia abad ke-10 M itu dengan judul Dashtan-i Amer Hamza, dilukiskan sang pahlawan hidup lebih seratus tahun dan melakukan perjuangan melawan kekuasaan raja-raja Arab dan Persia yang zalim di luar tanah Hejaz dan Madinah.

Perang Uhud yang terjadi pada masa awal hijrahnya Nabi ke Madinah, hanya sekadar titik tolak. Selebihnya adalah kisah-kisah yang dirangkai dari berbagai peristiwa sejarah dengan bumbu legenda dan cerita-cerita lain yang berkembang dalam masyarakat Muslim ketika itu. Lebih dari itu yang penting bukan sekadar pemaparan cerita, tetapi pesan moralnya yang merupakan ciri epos Islam yaitu perjuangan melawan kezaliman, ketidakadilan, kelicikan, tipu muslihat, dan lain-lain yang bersifat universal. Perjuangan semacam itu diartikan sebagai perjuangan menegakkan kebenaran yang sangat dianjurkan oleh agama, dan bukan sekadar perang disebabkan fanatisme keagamaan, sebab yang diperangi termasuk penguasa Muslim sendiri sejauh penguasa itu melakukan tindakan yang zalim dan tidak adil kepada rakyat.

Bahan verbal hikayat lain yang tak kalah populer, yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnain, juga demikian. Berbagai peristiwa sejarah yang terjadi pada zaman pra-Islam di negeri Rumawi, Arab, dan Persia, dirangkai dalam sebuah cerita yang tidak sepenuhnya merupakan kesatuan organis sebagaimana diidealkan oleh penulis roman dan novel di Barat. Bahan verbal lain untuk hikayat ini juga diambil dari kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an, khususnya surat al-Kahfi yang memaparkan perjumpaan Nabi Musa a.s. dan Khaidir, dongeng Persia Kuna Kisah Gilgamesh, petualangan dan penaklukan khusraw Persia Darius Yang Agung, dan lain sebagainya.

Pola bercerita seperti itu juga didapati dalam Hikayat Malem Dagang, yang menampilkan kepahlawanan Iskandar Muda – sultan besar Aceh abad ke-17 M – dalam perjuangannya menaklukkan Portugis di Selat Malaka dan ikhtiarnya menundukkan raja Pahang di Semenanjung. Sultan ini terkenal karena memiliki angkatan laut yang tangguh bernama Armada Cakra Donya. Hikayat yang berasal dari abad ke-17 M digubah kembali pada abad ke-19 untuk mengobarkan semangat juang rakyat Aceh yang mulai kendur dalam perang yang menentukan mengusir kolonialisme Belanda. Pengarangnya Teungku Ismail bin Yakub alias Cik Pante Geulima, adalah seorang ulama dan sastrawan terkemuka, serta panglima perang yang berpengalaman. Dia pernah membantu perjuangan Si Singamangaraja dengan membawa tiga ratus laskar Aceh ke tanah Batak. Pada tahun 1904, setahun menjelang berakhirnya Perang Aceh Cik Pante Geulima gugur di medan perang.

Hikayat ini ditulis dalam bentuk syair terdiri dari 2260 bait. Karena dicukil dari peristiwa sejarah, maka tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah juga tokoh historis. Termasuk di dalamnya Sultan Iskandar Muda, Putri Pahang yang merupakan permaisuri sultan, Raja Raden sahabat Iskandar Muda dan Raja si Ujud saudara Raja Raden yang berbuat onar di Aceh. Tokoh lain ialah Jo Pakeh, ulama besar dari Madinah yang mendapat pendidikan militer di Turki, Malem Dagang seorang laksamanad muda yang dinobatkan menjadi panglima perang di Selat Malaka tatkala Aceh berperang dengan Portugis, dan Panglima Pidie.

Walaupun hikayat ini didasarkan atas peristiwa sejarah, terdapat banyak bumbu fiksi di dalamnya. Justru karena digubah menjadi fiksi itulah cerita itu menjadi hidup. Motif yang mendorong penulisannya ternyata juga kompleks. Selain perjuangan menentang kolonial, motif penulisannya dilatari semangat keagamaan dan budaya. Sekalipun demikian pengarang sadar bahwa untuk sebuah karangan yang bermutu, estetika tidak boleh diabaikan.

Ali Hasymi mengemukakan beberapa ciri khas hikayat Aceh, yang sebenarnya merupakan ciri umum epos Islam Nusantara termasuk hikayat-hikayat Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, Minangkabau, Banjar, Madura, dan lain-lain. Ciri khas yang dikemukakan oleh Ali Hasymi (1995) tak lain adalah konvensi-konvensi dan norma-norma sastra yang dijadikan patokan penulis Muslim Nusantara untuk mengaitkan karyanya dengan sejarah Islam. Ciri-ciri itu ialah: (1) Setiap karangan dimulai dengan ucapan Basmalah, disusul dengan pujian kepada Allah dan salawat kepada rasul-Nya Muhamad; (2) Tokoh protagonis yang ditampilkan adalah manusia yang beriman, tawakkal dan taat menjalankan perintah Tuhan, serta berakhlak mulia, pemberani, namun berhati budiman dan memiliki pengetahuan agama yang luas; (3) Khusus untuk epos, tokoh utama sebuah hikayat selalu dikaitkan kepahlawanan pejuang-pejuang Muslim awal yang hidup pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. dan empat khalifah.

Ciri-ciri ini mula-mula tampak dalam hikayat-hikayat kepahlawanan Arab Persia seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Kemudian dalam epos lokal seperti Hikayat Hang Tuah dan Syair Perang Makassar karangan Encik Amin, murid Hamzah Fansuri, yang hidup pada abad ke-17 M. Dua hikayat ini dapat dipandang sebagai epos nasional pertama di Nusantara yang memaparkan perjuangan melawan kolonialisme. Hikayat serupa dalam bahasa Aceh yang sangat terkenal ialah Hikayat Prang Peuringgi , Hikayat Prang Kompeuni (karangan Do Karim akhir abad ke-19 M) dan Hikayat Prang Sabi (karangan Cik Pantee Kulu, juga akhir abad ke-19 M).

Puisi dan Kesadaran Diri

Dalam sejarah sastra Indonesia, kesadaran akan pentingnya individualitas, getaran hati nurani atau pengucapan diri, bukan baru bermula pada abad ke-20 dengan munculnya Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Hamzah Fansuri dan murid-muridnya di Aceh telah mempelopori kesadaran tersebut lebih tiga abad sebelum mereka. Begitu pula gagasan tentang kemerdekaan penyair dalam merombak bahasa demi pengucapan estetik, yang disebut licensia poetica, secara kreatif dan luar biasa telah diterapkan dalam penulisan oleh Hamzah Fansuri dan murid-muridnya.

Kecuali itu karya para penyair Sumatra itu membuka babakan baru sejarah kepenyairan kita dengan puisi-puisi, yang menyajikan pencerahan profetik. Karya-karya mereka otentik sebab didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan pribadi. Pengalaman dan pengetahuan tersebut dicapai melalui upaya intelektual dan spiritual yang disadari. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak kritikus, seperti al-Attas, Brakel dan Braginsky, memandang Hamzah Fansuri sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Melayu, seorang perintis jalan yang melalui karya-karyanya berhasil membawa sastra Melayu memasuki babakan yang universal dan kosmopolitan dalam semangat penciptaan.

Malahan Teuw (1994) tidak tanggung-tanggung menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pemula Puisi Indonesia. Pembaharuan yang dilakukan sang sufi dari Barus itu tiga abad mendahului pembaharuan Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Di antara pembaharuan itu termasuk:

Pertama, kalau penyair-penyair sebelumnya malu-malu membubuhkan namanya dalam karyanya, Hamzah Fansuri tidak segan-segan membubuhkan nama pribadi dan gelar atau takhallusnya dalam setiap akhir karangannya, yaitu bait penutup ikat-ikatan sajaknya. Munculnya Hamzah Fansuri membuat zaman Sahibul Hikayat menjadi masa silam.

Kedua, Hamzah Fansuri memperkenalkan bentuk puisi baru, yaitu Syair, yang kemudian sangat popular. Dari perkataan ‘syair’ itulah perkataan ‘penyair’ berasal, begitu pula istilah-istilah sastra lain seperti sajak, bait dan lain-lain, berasal dari karangan-karangan Hamzah Fansuri. Sebagai bentuk puisi empat (4) baris dengan skema rima AAAA, syair tidak ada dalam kesusastraan Arab dan Persia, dan juga tidak dalam kesusastraan Nusantara sebelumnya. Namun demikian Hamzah dapat mencipta bentuk puisi tersebut disebabkan pengetahuannya yang dalam mengenai puitika Arab dan Persia, serta puitika Melayu yang hidup dalam tradisi sastra lisan.

Ketiga, Hamzah Fansuri sangat kreatif menggunakan bahasa, atau dengan menggunakan istilah Chairil Anwar ‘sangat destruktif’ terhadap bahasa Melayu. Melalui kreativitas sang penyair maka lahirlah bahasa Melayu Baru yang sangat berbeda dari bahasa Melayu lama serta lebih kaya dan bertenaga.Kata-kata dan ungkapan Arab, malahan petikan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis yang sangat bermakna, sengaja dimasukkan dengan bebasnya ke dalam baris sajak-sajaknya. Tidak kurang terdapat 800 kata-kata Arab lepas dijumpai dalam 32 ikat-ikatan syairnya, belum termasuk puluhan ungkapan dan potongan ayat-ayat al-Qur’an yang sangat dalam dan luas maknanya.

Petikan atau potongan ayat-ayat al-Qur`an itu juga berfungsi sebagai unsur estetik dan sekaligus pelita yang menerangi makna keseluruhan sajak. Lagi pula bagi seorang sufi puisi tidak lain ialah tafsir spiritual dan estetis terhadap ayat-ayat al-Qur`an tertentu.

Saya ingin mengutip pernyataan Teeuw: “Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab berlebih-lebihan dan mengganggu. Pembaca yang terbiasa menganggap puisi dapat dinikmati hanya dengan perasaan semata-mata, tanpa perlu berpikir, akan kecewa membaca puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan yang luas di bidang bahasa dan kebudayaan Arab Persia, termasuk pengetahuan tentang Islam dan tasawufnya. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetuan yang diperlukan untuk membaca puisi Hamzah Fansuri bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik: diksi puisinya khas, ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinal, begitu juga tamsil dan imagerinya. Juga ada kreativitas bunyi…”

Pendek kata, menurut Teeuw, Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual dan modern, serta sangat kreatif terhadap bahasa dan intens dalam berekspresi.Bagaimana Hamzah Fansuri membubuhkan namanya dalam bait-bait penutup ikat-ikatan syairnya, dengan bahasa yang kreatif dan intens, dapat diperhatikan melalui contoh berikut:

Hamzah miskin hina dan karam

Bermain mata dengan Rabb al-`Alam

Selamnya sangat terlalu dalam

Seperti mayat sudah tertanam

Hamzah sesat di dalam hutan

Pergi uzlat berbulan-bulan

Akan kiblatnya picik dan jawadan

Itulah lambat mendapat Tuhan

Hamzah miskin orang `uryani

Seperti Ismail jadi qurbani

Bukannya `Ajami lagi Arabi

Nentiasa wasil dengan Yang Baqi

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bayt al-Ka`bah

Di Barus ke Quds terlalu payah

Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Hamzah `uzlat di dalam tubuh

Romanya habis sekalian luruh

Zahir dan batin menjadi suluh

Olehnya itu tiada bermusuh

Dilihat dari sudut pencapaian estetik dan puitikanya, syair-syair Hamzah Fansuri tidak hanya memberi pengaruh besar bagi perkembangan penulis-penulis Melayu pada abad ke-17 – 19 M. Tetapi juga terdapat penyair-penyair modern seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan Sutardji Caalzoum Bachri.

Penutup

Gambaran mengenai perkembangan sastra di Aceh hingga abad ke-18 dan 19 M, terutama yang ditulis dalam bahasa Melayu, telah saya paparkan secara cukup panjang lebar. Tentu saja sangat disayangkan, karena saya tidak memili pengetahuan tentang bahasa-bahasa daerah yang hidup di Aceh seperti bahasa Aceh, Gayo, Alas, dan lain-lain, saya tidak dapat mengulas karya-karya yang ditulis dalam bahasa-bahasa tersebut. Kecuali itu bahan yang ada tentang itu sangat terbatas. Namun melalui buku-buku yang ditulis Ali Hasymi, Melalatoa, L. K. Ara, dan lain-lain saya memperoleh penjelasan yang penting tentang kegiatan penulisan sastra daerah di Aceh yang sebenarnya begitu marak hingga awal abad ke-20 M.

Lebih sedikit lagi pengetahuan saya tentang perkembangan sastra di Aceh yang ditulis dalam bahasa Indonesia pada permulaan bangkitnya kesadaran nasional dalam tahun 1930an hingga zaman kemerdekaan dalam tahun-tahun 1950`an dan 1960’an. Penulis Aceh yang saya ketahui dari periode ini terbatas pada penulis seperti Ali Hasymi, Dada Meuraksa (yang telah menerjemahkan Hikyat Prang Sabi ke dalam bahasa Indonesia), dan Zainuddin, penulis roman Jeumpa Aceh. Karya mereka memberikan suimbangan yang cukup bermakna, walaupun agak tenggelam disebabkan kalah bersaing dengan penulis dari daerah lain yang sangat produktif dan kreatif. Terutama penulis-penulis yang berasal dari ranah Minangkabau, Mandailing, Batak, Sunda, Jawa, Melayu Riau dan Bali.

Sebuah buku penting yang terbit pada tahun 1995 Seulawah: Antologi Sastra Aceh (diselenggarakan oleh L. K. Ara, Taufiq Ismail, dan Hasyim KS) sedikit banyak telah berhasil membuka mata saya bahwa kegiatan sastra penulis-penulis Aceh masih berlanjut dalam empat dasawarsa terakhir abad ke-20. Nama-nama seperti H. S. Ugati, Melalatoa, Rusli A. Malem, L. K. Ara, Maskirbi, dan beberapa lagi saya kira merupakan penulis-penulis penting era 1960an-1990an. Tetapi sayang sebagian dari mereka telah tiada, sedang yang lain telah mulai uzur sehingga tidak bisa diharapkan perkembangan lebih lanjut.

Tetapi sangatlah menggembirakan bahwa dewasa ini kegiatan sastra di Aceh atau di lingkungan penulis asal Aceh mulai menggeliat lagi, sebagaimana di beberapa daerah lain di Indonesia yang dahulunya merupakan daerah yang terpencil dari perkembangan sastra nasional. Nama-nama seperti Fikar W. Eda, Sulaiman Tripa, D. Kemalawati, Mustafa Ismail, Azhari, dan M. Nazir adalah relatif baru, namun cukup menjanjikan dalam membawa kembali Aceh berkiprah lebih aktif dalam dunia kepengarangan di negeri ini dewasa ini dan di masa depan. Beberapa karangan mereka cukup bernas, walaupun masih terlalu menggantungkan diri pada bakat alam.

Di sini saya perlu mengingatkan kekuatiran yang dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah esainya dalam antologi karangannya Isyarat (2007). Menurutnya, disebabkan ketidakseimbangan antara tuntutan estetika dan kebebasan kreatif di satu hal, dengan tuntutan akan popularitas dan keterlibatan dengan ide-ide besar yang lagi naik daun di lain hal, banyak sekali penulis 1960an harus menjadi korban dari eksistensialisme dan proletarianisme. Penulis 1990an di lain banyak yang menjadi korban dari post-modernisme. Kini pada awal alaf ke-3, bukannya tidak mungkin nanti kita menyaksikan korban dari ide-ide besar lain yang sekadar dikunyah dan tidak diresapi secara mendalam dengan wawasan estetika yang selaras. Ide-ide besar yang dimaksud antara lain ialah pluralisme, feminisme, post-kolonialisme, pronvisialisme, daerahisme, funamentalisme keagamaan, neo-liberalisme, multikulturalisme, dan lain sebagainya.

Ini tidak berarti bahwa menggeluti ide-ide besar diharamkan, sebab pengarang-pengarang terdahulu yang berhasil juga menggeluti ide-ide yang juga tidak kalah besar dari ide-ide yang berkembang sekarang. Namun motivasi kepengarangan mereka tidak semata didorong oleh ide-ide besar itu, melainkan terutama didasarkan atas motivasi bersastra dan dorongan estetik yang benar. Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Pramudya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Iwan Simatupang, Luntowijoyo, Danarto, Rendra, Subagio Sastrowardojo, Seno Gumilar Ajidarma, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, dan lain-lain juga bergelut dengan ide-ide besar. Tetapi motivasi bersastra dan dorongan estetik mereka juga besar, mereka tidak jatuh menjadi korban dari ide-ide besar yang mereka yakini benar. Mereka juga tahu bahwa bakat alam tidak cukup, untuk meminjam istilah Subagio Sastrowardojo. Seorang pengarang dalam dirinya harus mengusahakan meningkatkan bobot intelektualnya hingga wawasannya, kalau tidak meluas, ya mendalam.

CATATAN:

Makalah ini disampaikan dalam Seminar “Menelusuri Jejak Sastra di Aceh dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini” dalam rangka kegiatan Piasan Sastra Aceh, di Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, 10 Desember 2007.

Kepustakaan

Abdul Hadi W. M. (2001). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap

Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.

Abdul Hadi W. M. dkk (2003). Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara.

Jakarta: Pusat Bahasa.

Abu Deeb (1979). Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery. Warminster, Wilts: Aris

& Philips Ltd.

Ahmad Jelani Hilmi (1991). “Sejarah Awal Pendidikan Islam di Alam

Melayu”. Jilid 13 Bilangan 12, Desember: 11-15.

Ali Ahmad (1991). Kesusasteraan Melayu Dalam Tasawwur Islam. Pulau Pinang:

Universiti Sains Malaysia.

Ali Ahmad dan Siti Hajar Che’ Man. Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan

Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1996.

al-Attas, M. Naquib (1969). Prelimanary Statement in a General Theory of

Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

————————— (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur:

Universiti Malay Press.

———————— (1991)The Origin of the Malay Sha`ir. Kuala Lumpur:

Dewan Bahasa dan Pustaka.

Azyumardi Azra (1995). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara

Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.

Braginsky, V. I. (1992). “Puisi Sufi Perintis Jalan”. Ceramah di Sudut Penulis

Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 27-8 Oktober.

—————– (1993). “The Emergence of Literary Self Awareness and Its

Role in the Shaping of Classical Malay Literature”. Dalam The System of

Classical Malay Literature. Leiden: KITLV Press, 1993. p. 29-40.

—————- (1994) Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu Klasik. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Brakel, L. F. (1969) . “The Birthplace of Hamza Fansuri”. JMBRAS Vol.42.

Edwar Djamaris (1990). Menggeli Khazanah Sastra Melayu Klasiik. Jakarta: Balai

Pustaka.

Ibrahim Alfian (1999). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat

Dokumentasi dan Informasi Aceh.

Ismail M. Dehiyat (1974) . Avicenna’s Commentary on the ‘Poetics’ of Aristotle.

Leiden: E. J. Brill.

Imam al-Ghazali (1985). Kimia Kebahagiaan. Terj. Tim Mizan. Bandung: Mizan.

Ismail Hamid (1990). Asas-asas Kesusasteraan Islam. Kuala Lumpur: Dewan

Bahasa dan Pustaka.

Lombard, Denys (2006). Kerajaan Aceh: Zaman Iskandar Muda (1607-1636 M). Terj.

Winarsih Arifin. Jakarta: KPG, Forum Jakarta-Paris dan Ecole francaise

d`Extreme-Orient.

L.K. Ara, dkk (1995). Seulawah:Antologi Sastra Aceh. Jakarta: Yayasan Nusantara.

Mahayudin Haji Yahaya (2000). Karya Klasik Melayu Islam. Kuala Lumpur:

Dewan Bahasa dan Pustaka.

Taufik Abdullah (1987). Islam dan Masyarakat. Jakarta: LP3ES.

———————- (2003). “Pemikiran Islam di Nusantara Dalam Perspektif

Sejarah”. Makalah Diskusi Peluncuran Buku Ensiklopedi Tematia Dunia

Islam. Jakarta 5 September 2002.

Zahrah Ibrahim (1986). Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Teeuw A. (1994) . “Hamzah Fansuri, Pemula Puisi Indonesia”. Dalam

Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya, Hal. 44-73.

Windstedt, R. O (1972). A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur:

Oxford University Press.

Biodata Penulis

Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari) lahir di Sumenep, 24 Juni 1946. Penyair dan esais ini telah menerbitkan banyak buku puisi, entolologi esai, karangan ilmiah, dan cerita anak-anak. Memperoleh pendidikan mula-mula di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (jurusan sastra Indonesia) dan Fakultas Filsafat, universitas yang sama. Gelar Ph. D diperoleh dari Universiti Sains Malaysia dengan disertasi Estetika Sastra Sufistik: Kajian Terhadap Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri. Tahun 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, AS. Sejak tahun 1972 telah mengikuti banyak seminar kebudayaan, pertemuan sastrawan, festival puisi, dan simposium pemikiran keagamaan dan filsafat di dalam dan di luar negeri seperti London, Rotterdam, Hamburg, Tokyo, Seoul, Baghdad, Dacca, New Delhi, Teheran, Libya, Baghdad, Istanbul, Manila, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, New York, Paris, Leiden, dan lain sebagainya.

Kini Abdul Hadi W.M. mengajar sejarah kebudayaan, filsafat India, estetika, sastra Islam dan hermeneutika di Universitas Paramadina. Selain itu dia juga mengajar di Program Studi Arab FIB UI, dan ICAS (Islamic College for Advanced Studies) London, cabang Jakarta.

About these ads

2 comments on “Penulis Aceh dan Estika Islam

  1. thx udah masukin link Berita Aktual ke blogroll-nya….
    linkbacknya dah gw masukin…
    keep blogging… :) :)

    klo bisa blognya di daftarin ke Technorati biar makin populer :D :D

  2. sekarang banyak dah dengar tentang kisah kejayaan anak melayu.malaysia boleh.melayu boleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.954 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: