1 Komentar

Konflik Ideologi Indonesia- Malaysia, Tinjauan Akar Sastra Melayu

Ulasan Buku:

SASTERA INDONESIA DAN MALAYSIA

PADA AWALNYA BERAKARKAN MELAYU

Judul: Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia
Pengarang: Maman S. Mahayana
Penerbit: Indonesia Tera, Magelang
Tebal: xiv + 302 halaman
Cetakan pertama: April 2001
Pengulas: MARSLI N.O

JIKA diibaratkan dengan hubungan kekeluargaan, kesusasteraan Indonesia dan Malaysia bagaikan saudara kembar, kakak beradik sekandung. Demikian dinyatakan Maman S. Mahayana dalam pengantar bukunya yang mengkhususkan topik kajian sekitar persoalan akar, sistem dan konflik ideologi dalam sastera kedua negara serumpun ini.

Namun demikian, diakui Maman betapa pada akhirnya terjadi semacam pemisahan yang amat ketara sehingga akhirnya di Indonesia kesusasteraan Malaysia laksana kesusasteraan asing, yang lebih asing dari kesusasteraan Inggeris, Belanda, Jepun, China mahupun India. Seolah-olah di pihak Indonesia, kesusasteraan Malaysia itu kurang diambil peduli, sedangkan menurut pengamatan beliau lagi betapa di Malaysia kesusasteraan Indonesia tetap saja dibaca, dikaji dan sejumlah novelnya menjadi teks wajib di sekolah menengah. Sehingga dengan demikian seakan terkesan adanya sikap berat sebelah serta membutakan pandangan dari salah satu pihak terhadap pihak yang lain.

Soalnya kenapakah kesusasteraan kedua negara yang dianggap sebagai saudara kembar, kakak beradik sekandung ini bergeser jauh dari akarnya dan semacam kurang lagi mahu dipedulikan oleh pihak yang satu lagi? Apakah yang menjadi punca atau penyebabnya?

Didorong oleh pertanyaan yang sedemikian inilah Maman S. Mahayan selaku seorang pensyarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok untuk melakukan kajian yang kemudiannya diterbitkan dalam bentuk buku.

Dalam kajiannnya, Maman melihat betapa kesusasteraan Indonesia dan Malaysia pada awalnya dari akar yang sama iaitu bahasa dan tradisinya ialah sastera Melayu. Sama-sama bermoyangkan Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Lantaran inilah juga dapat difahami kenapa Hikayat Raja-raja Pasai, Tuhfat al-Nafis, Sejarah Melayu atau Hikayat Hang Tuah tetap dianggap sebagai karya sastera klasik Melayu milik kedua negara serumpun ini.

Namun demikian terjadi perubahan di mana dari akar yang sama ini terbentuk pula menjadi dua pohon yang berlainan dan karena itu cabang, ranting dan buah kreativitas kesusastraan Indonesia dan Malaysia pada akhirnya menjadi tidak sama.

Dalam keterpisahan itu, Maman turut mengesani betapa kesusasteraan Melayu moden pada awal pertumbuhannya, tidak secara penuh melepaskan diri dari tradisi kesusasteraan lama, tetap menerima dan mengolah pengaruh dari kesusasteraan Indonesia, khususnya di era gerakan pembebasan diri dari kekangan penjajah pada tahun 1950-an.

Dalam kajiannya juga, Maman mengakui menemui beberapa hal lain yang turut mencuri perhatian beliau. Antaranya ialah mengapakah di segi kedudukan serta status sosial sasterawan Indonesia kurang dihargai sedangkan di Malaysia sasterawannya cukup dihormati. Di samping itu juga timbul persoalan lain bagi beliau iaitu kenapa perkembangan kesusasteraan Malaysia agak perlahan jika dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam kesusasteraan Indonesia.

Justeru itulah dalam kajiannya ini, di samping untuk mencari jawapan bagi keterpisahan dari akar yang sama itu, Maman turut memberikan tumpuan terhadap sistem sastera dan termasuk pertautan antara sastera serta isu sosial-politik yang mendominasi karya sastera kedua negara, ideologi, sistem penerbitan dan profesi pengarang, dengan memberikan penumpuan secara khususnya terhadap apa yang berlegar dalam perkembangan kesusasteraan kedua negara serumpun ini sekitar tahun 1950-an.

Menurut pengamatan Maman, punca awal terbentuknya dua pohon yang berbeza dari akar yang sama dalam perkembangan kesusasteraan kedua negara serumpun ini tidak lain berakibat dari kilah dan persekongkolan politik kolonial di antara Inggeris dan Belanda di London pada tahun 1824 yang membahagikan Melaka dan Singapura di bawah taklukan Inggeris sementara wilayah Sumatera kepada Belanda.

Pemisahan di bawah geografis politik ini kian diparahkan lagi begitu terbentuknya Balai Pustaka di Indonesia dengan dasar yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang menyekat kemasukan penerbitan dari luar. Dengan begitu, menjadi kian jelaslah terputusnya keterkaitan sastera moden Indonesia dengan akar tradisi Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.

Bagi Maman, inilah asal mulanya keterpisahan dari akar yang sama tersebut dan dalam situasi yang demikian, kekuatan para penulis asal Sumatera menjadi pudar dan diambil alih oleh para sasterawan dari Jawa, sementara itu, pertautan antara tradisi sastra Melayu dan dinamika sastra modern Malaysia kelihatannya tetap terpelihara.

Namun demikian, di segi sistem, khususnya pertelingkahan ideologi sesama sasterawan di antara kedua negara terlihat adanya keselarian. Jika di Indonesia terjadinya pertelingkahan ideologi kelompok sasterawan Lekra yang menekankan gagasan “realisme sosialis” dengan kelompok sasterawan Manifes Kebudayaan yang menitikberatkan ide “humanisme universal”, di Malaysia pun terjadi hal yang hampir sama di antara para sastrawan Asas 50, yang menyemboyankan gagasan “seni untuk masyarakat” dengan sejumlah sasterawan lainnya yang mengemukakan konsep “seni untuk seni”.

Di Indonesia, kelompok Lekra dengan nama antara lain seperti Sobron Aidit, Agam Wispy dan Pramoedya yang dianggap paling representatif bertembung dengan kelompok Manifes Kebudayaan seperti Taufik Ismail dan teman-teman lainnya. Di Malaysia, pertembungan itu diwakili oleh Asraf yang dianggap penghujat utama dari pihak Asas 50 dengan Hamzah di pihak yang lain.

Menariknya, dari kajiannya Maman mendapati betapa apa yang diperjuangkan oleh kelompok Lekra di Indonesia lebih condong kepada ideologi dan partai berbanding dengan kelompok Manifes Kebudayaan yang berusaha menegakkan kebebasan individu serta kemanusiaan sejagat. Lebih menarik lagi, Maman membuktikan betapa Pramoedya sendiri yang pada mulanya berpandangan betapa kesusasteraan yang dikorbankan untuk politik adalah kesusasteraan propaganda dan belum layak diberikan nama kesusasteraan pada akhirnya turut sama menjadi antek Lekra yang tegar.

Utusan Malaysia, 16 April 2002

 

Profil  Maman S. Mahayana
 
Lahir di Cirebon, 18 Agustus 1957. Menyelesaikan pendidikan di FSUI tahun 1986, 
kemudian mengajar di almamaternya. Tahun 1997 ia merampungkan program pasca  sarjana Universitas Indonesia dalam bidang Ilmu Susastra. Selain mengajar, ia  tercatat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Ia juga menjadi 
redaktur Jurnal cerpen. 
 
Hingga saat ini telah menerbitkan setidaknya 15 buku sastra. Buku kritik 
sastranya yang baru terbit berjudul “Sembilan Jawaban sastra Indonesia: Sebuah 
Orientasi Kritik” (2005). 
 
Ia banyak melakukan penelitian. Penelitiannya yang belum dipublikasikan antara 
lain, “Intervensi Ungkapan-ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), 
“Pencatatatan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon “ (anggota Tim Peneliti, 
LPUI, 1994) dan “Majalah Wanita Awal Abad XX(1908-1928)” (LPUI,200). 
 
Karena berbagai penelitiannya, ia meraih Juara Harapan I Lomba Penelitian Ilmiah 
Bidang Ilmu Budaya, LPUI 1990, Juara Harapan III (1991), dan Juara Harapan I 
(1995). Tahun 2005 mendapat penghargaan sebagai Peneliti Terproduktif di 
lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Tercatat 
juga pada tahun 2004 dan 2005 sebagai nominator penerima Hadiah Sagang, Riau. 
Ia juga sering menjadi juri dalam berbagai lomba kepenulisan nasional.   

 

 

About these ads

One comment on “Konflik Ideologi Indonesia- Malaysia, Tinjauan Akar Sastra Melayu

  1. > Tulisan Arab Melayu (ARMEL) telah dilupakan banyak pihak, khususnya dunia usaha dan dunia kerja. Saat ini anak-anak sekolah SD & SMP di Riau masih mempelajari penulisan tersebut.
    > Menurut kami, ada beberapa pola untuk melestarikan armel, salah satunya lewat siklus ekonomi. Setiap ada kebutuhan pasti ada suplai, rumus ekonomi inilah yang sebaiknya digunakan oleh Pemda untuk melestarikan armel.
    > Sebagai contoh bila administrasi intern perkantoran pemda Riau semuanya menggunakan aksara arab melayu dengan sendirinya akan ada kebutuhan editor arab melayu yang bisa link dengan MS Office dan bisa digunakan disemua bentuk komputer saat ini. Contoh detailnya lagi bila regulator yang dikeluarkan oleh pemda seperti Izin-izin, Akte Kelahiran, KK, KTP, SIM, IMB, SIUP,SITU dan sebagainya diterbitkan dalam aksara melayu dengan sendirinya kita dapat melestarikan aksara tersebut karna dibutuhkan ditingkat dunia kerja.
    > Dengan demikian Armel tidak sebatas untuk dipelajari anak-anak sekolah semata, namun tetap dipergunakan sebagai media komunikasi didunia usaha dan dunia kerja, yang dengan sendirinya akan lestari dan Riau dapat dijadikan pusat pelestarian arab melayu sesuai visi 2020 RIAU.
    > Sebagai langkah awal untuk mendapatkan Editor Arab Melayu secara cuma-cuma dapat menghubungi :
    > 1. Lembaga Adat Melayu Riau dengan Bapak Suwarto hp. 08127638000.
    > 2. IAIN Rianiry Banda Aceh dengan Bapak Cut Azwar hp.08566033901.
    > 3. IAIN Medan/Sumut dengan Bapak Irwan Nasution 08126024032.
    > 4. Balai Bahasa Sumut dengan Bapak Sihombing 08126054470.
    >

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.958 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: